“Kamu kayak anak kecil deh mainan begituan,” ujar pacar saya—yang kini sudah mantan—ketika saya sedang memotret sebuah Lego di salah satu tempat wisata.



Saya waktu itu sempat ingin berkelakar, “Daripada mainin perasaan kamu.” Tapi, saya segera membuang pikiran konyol itu, lalu meresponsnya dengan tertawa kecil. Tanpa perlu bercanda bilang ingin memainkan perasaannya, toh akhirnya kami putus. 

Terlepas dari hal itu, saya kurang sepakat dengan pernyataannya. Karena menurut saya, mainan Lego tidak hanya untuk anak kecil. Lagi pula beberapa teman saya ada yang mengoleksi mainan itu dan action figure. Saya perhatikan di Instagram pun banyak bapak-bapak yang memiliki konten khusus mainan—yang bisa dicek dengan tagar toyphotography. Bahkan, mainan Lego ini juga ada komunitasnya. 

Intinya, selain untuk mainan anak-anak, Lego ini memang mempunyai beberapa fungsi bagi orang dewasa:


Fotografi 

Mulanya, saya tidak pernah membayangkan akan gemar memfoto mainan dan mengunggahnya ke media sosial, terutama Instagram. Sejak tiga tahunan lalu, tepatnya saat saya sedang berkunjung ke rumah Pakde dan melihat anak bungsunya—yang berusia empat tahun—sedang bermain Lego, tiba-tiba muncul rasa suka terhadap Lego tersebut. Mengetahui kedatangan saya, sepupu saya itu segera mengajak saya ikutan bermain. Sesudah balok-balok itu terpasang dan menjadi sebuah bentuk sesuai imajinasinya, saya pun memotretnya menggunakan ponsel.

Read More
Sebagai seorang pegawai lepas yang gajinya tidak menentu, saya harus sering memutar otak demi bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang pula saya perlu menahan-nahan diri ketika sekadar ingin jajan camilan. Saya pun berkata kepada diri sendiri, “Mending langsung beli makanan pokok biar kenyang. Kalau makanan ringan mah ujung-ujungnya nanti lapar lagi.” Apakah saya terlihat menyedihkan? Oleh sebab itu, rasanya saya perlu mengatur siasat agar tidak terus-terusan begitu. Sehabis merenungi hal itu, lalu terbitlah ide: kenapa saya enggak coba mencetak kaos custom dengan desain sendiri, dan menjualnya?

Melihat beberapa teman yang mulai berani membuka bisnis online shop, saya pikir mewujudkan ide itu asyik juga. Sebelumnya, apakah di antara kamu ada yang senasib dengan saya? Tidak harus pegawai lepas, sih. Intinya, kamu sedang butuh pemasukan tambahan. Barangkali kamu masih kuliah, lalu merasa uang jajanmu kurang. Kiriman dari orang tua entah mengapa tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan kuliahmu.

Menurut saya, ide itu juga boleh kamu coba. Apalagi kalau kamu memiliki minat dalam bidang desain. Kamu pun bisa mendesain banyak kaos dan menjualnya kembali untuk mendapatkan penghasilan tambahan itu. Kita tentu mengerti bahwa kaos digemari banyak orang dan tidak ada batasan usia. Sehingga bisnis jual kaos custom dengan desain-desain yang tidak pasaran pastinya akan sangat diminati. Kamu bisa menyasar pasar anak muda yang tidak ingin terlihat pasaran dalam berbusana. Kamu pun dapat menawarkannya kepada teman-temanmu.

Mungkin setelahnya kamu bakalan bingung menemukan penyedia jasa cetak kaos custom yang dapat kamu percaya. Nah, Porinto adalah pilihan tepat untuk memulai bisnis kaosmu. Berikut ini ada lima alasan mengapa kamu harus memilih menggunakan jasa Porinto untuk cetak kaos custom desainmu sendiri. 


1. Kualitas bahan kaos yang Porinto gunakan 

Salah satu hal terpenting saat memilih kaos adalah kenyamanannya. Sangat percuma kalau desainmu sudah keren, tapi kamu justru salah memilih bahan yang panas dan tidak nyaman. Porinto hanya menyediakan kaos dengan bahan berkualitas tinggi. Kaos Porinto menggunakan bahan Cotton Combed 20s, yang terkenal dengan kenyamanan dan kekuatan bahannya, sehingga dapat membuat kaos kamu awet dan tahan lama. 


2. Kualitas hasil cetak kaos 

Selain bahannya yang bagus dan nyaman, tentunya kualitas hasil cetak kaos desainmu ini mesti yang berkualitas tinggi juga. Kamu pasti menginginkan desainmu tercetak dengan sempurna. Semua warna yang kamu mau kudu terlihat tajam dan akurat. Porinto tentu saja akan menjamin semua permintaan kamu terhadap kualitas hasil print tersebut. 


Read More
Saya sedang latihan menerjemahkan secara suka-suka penggalan cerita di salah satu novel yang saya baca baru-baru ini. Sayangnya, kemampuan bahasa Inggris saya masih amburadul. Untuk itu, saya mohon maaf kalau masih kaku dan banyak kesalahan. Jika kamu ada yang membaca buku ini juga, barangkali bisa membantu saya untuk memperbaiki bagian-bagian yang kurang enak dibaca.

--

Sputnik Sweetheart, Haruki Murakami, halaman 54-56—bagian tentang kepenulisan. 

Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Miu tidak mengizinkan merokok di kantornya dan membenci orang-orang yang merokok di depannya. Jadi setelah memulai pekerjaannya, Sumire memutuskan bahwa itu adalah kesempatan yang bagus untuk berhenti menjadi seorang perokok-Marlboro-dua-bungkus-per-hari, meskipun semuanya tidak berjalan lancar. Setelah satu bulan, seperti beberapa hewan yang bulu ekornya dipotong, dia kehilangan kontrol emosinya pada berbagai hal—yang tidak sangat kuat untuk memulainya. Dan seperti yang kauduga, ia mulai meneleponku sepanjang waktu pada tengah malam. 

“Yang bisa kupikirkan hanyalah merokok. Aku hampir tidak bisa tidur, dan ketika tidur, aku mengalami mimpi buruk. Aku susah buang air besar. Aku tidak bisa membaca, tidak dapat menulis kalimat.” 

“Semua orang mengalami seperti itu ketika mereka mencoba untuk berhenti. Setidaknya, pada awalnya,” kataku. 

“Kau mudah memberikan pendapatmu selama itu tentang orang lain, kan?” bentaknya. “Kau tidak pernah mengisap sebatang rokok dalam hidupmu.” 

“Hei, jika kau tidak bisa memberikan pendapatmu kepada orang lain, dunia akan berubah menjadi tempat yang cukup menakutkan, bukan? Jika kau tidak berpikir demikian, lihat saja apa yang Joseph Stalin lakukan. ” 

Di ujung sana, Sumire bergeming cukup lama. Sebuah keheningan berat bagaikan jiwa yang mati di Front Timur. 

“Halo?” aku bertanya. 

Dia akhirnya mulai berbicara. “Sejujurnya, kupikir itu bukan karena aku berhenti merokok sehingga diriku tidak bisa menulis. Mungkin itu satu alasan, tetapi tidak semuanya. Yang aku maksud, berhenti merokok hanyalah sebuah alasan. Kautahu: ‘Aku berhenti merokok; itu sebabnya aku tidak bisa menulis. Tidak ada yang bisa kulakukan akan hal itu.’” 

“Jelaskan, mengapa kau begitu kesal?” 

“Kurasa,” katanya, tiba-tiba lemah lembut. “Bukan hanya aku tidak bisa menulis. Apa yang betul-betul membuatku kesal adalah aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi dalam menulis itu sendiri. Aku membaca hal-hal yang kutulis belum lama ini, dan itu membosankan. Apa yang bisa kupikirkan? Ini seperti melihat ke seberang ruangan dan terdapat beberapa kaus kaki kotor yang dibuang ke lantai. Aku merasa buruk sekali, menyadari semua waktu dan energi yang telah kusia-siakan.” 

“Ketika itu terjadi, kau harus menelepon seseorang pada pukul tiga pagi dan membangunkannya—secara simbolis tentu saja—dari tidur semiotiknya yang damai.” 

“Katakan padaku,” kata Sumire, “apakah kau pernah merasa bingung mengenai apa yang kaulakukan, seperti tidak benar?” 

“Aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan kebingungan daripada tidak,” jawabku. 

“Apakah kau serius?” 

“Ya.” 

Sumire menyentuhkan kukunya pada gigi depannya, satu dari sekian banyak kebiasaannya ketika dia berpikir. “Aku hampir tidak pernah merasa bingung seperti ini sebelumnya. Bukan berarti aku selalu percaya diri dan yakin dengan bakatku. Aku tidak terlalu gelisah. Aku tahu aku tipe orang yang serampangan dan egois. Tapi aku tidak pernah bingung. Aku mungkin telah membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan, tetapi aku selalu merasa bahwa aku berada di jalan yang benar.” 

“Kau beruntung,” jawabku. “Seperti mantra hujan panjang setelah kau menanam padi.” 

“Mungkin kau benar.” 

“Tapi pada titik ini, semuanya tidak berjalan baik.” 

“Betul. Mereka tidak berjalan semestinya. Terkadang aku merasa sangat ketakutan, seperti semua yang kulakukan hingga saat ini salah. Aku memiliki mimpi-mimpi yang terasa nyata dan terbangun pada tengah malam. Dan untuk sementara ini aku tidak bisa mengetahui apa yang nyata dan apa yang tidak ... Perasaan semacam itu. Apakah kau paham apa yang kukatakan?” 

“Kupikir begitu,” jawabku. 

“Pikiran itu banyak membenturku hari ini, bahwa mungkin hari-hariku menulis novel telah berakhir. Dunia merangkak bersama gadis-gadis bodoh, polos, dan aku hanyalah salah satu dari mereka, dengan sadar diri mengejar mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku harus menutup lid (tutup) piano dan turun dari panggung. Sebelum terlambat.” 

sumber: https://infovisual.info/en/music/piano

Read More
Sudah setahun belakangan ini saya heran dengan sistem pelayanan di warteg dekat rumah. Orang yang duluan dilayani oleh penjualnya itu yang mana, sih? Selama ini yang saya tahu, di tempat makan mana pun, orang yang pertama datang tentu akan mendapat pelayanan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh orang yang datang berikutnya. Dan begitu seterusnya mengikuti antrean. 

Namun, setiap kali saya membeli makanan di warteg itu pada pagi hari dan suasananya sedang ramai, pasti ada saja ibu-ibu yang menyerobot giliran saya. Biasanya, saya akan mengalah jika cuma 2-3 orang. Saya pun kerap kali menghindar berdebat dengan ibu-ibu. Sebab saya tahu, nantinya persoalan akan panjang dan saya bakalan tetap kalah dan salah, meskipun posisi saya itu benar.

Rasanya, saya sudah terlalu sering memaklumi hal itu. Saya tidak ingin bungkam melulu. Saya harus bertindak. Sayangnya, ketika saya sudah melakukan protes kepada penjualnya, “Mbak, maaf nih ya, yang datang kan saya duluan. Kok malah ibu itu yang dilayanin?” Eh, ibu-ibu yang saya maksud itu segera melirik saya sinis, sedangkan penjualnya hanya diam saja dan tetap melayani ibu-ibu tersebut. 

Saya sudah betul-betul bingung, kenapa saya terlalu sering diselak di warteg itu. Saya sadar sih, saya memang hanya membeli sebungkus nasi megono dengan lauk tempe goreng dan telur dadar—yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu. Tapi, apakah di mata penjualnya ini nilai saya jadi lemah, atau lebih-lebih tidak dianggap sebagai pembeli lantaran hal itu? Lalu, apakah ibu-ibu—yang biasanya membeli banyak sayur dan lauk-pauk—itu harus lebih diutamakan? Bukankah dengan segera melayani sesuai antrean (meskipun saya cuma membeli sebungkus nasi) itu justru urusan jadi lebih cepat dan membuat ruangan sedikit lebih longgar?

Anggaplah penjualnya bingung atau lupa atau tidak memperhatikan siapa yang datang lebih dahulu. Mau bagaimana lagi, antrean di warteg memang tidak beraturan karena posisinya memanjang ke samping, bukan ke belakang. Sehingga penjual biasanya akan melayani orang yang dia pilih secara acak, atau yang berada di hadapannya saja. Tapi ketika ada yang memprotes mengenai antrean itu, mengapa penjualnya justru diam saja? Sekalinya menjawab malah mengeluarkan kalimat pamungkas: “Masnya ngalah dong, kasih cewek duluan.”

sumber: https://pixabay.com/id/hewan-bebek-burung-air-menjalankan-2000586/

Yuhu! Penjualnya sungguh bijak sekali. Saya akan ngalah melulu sampai ibu-ibu di antrean itu habis. 

Ayolah, apa gunanya menuntut kesetaraan gender kalau masih menganut paham ladies first saat mengantre? Beberapa perempuan itu sendiri justru masih merasa kaumnya lemah. Namun, saya memberi pengecualian untuk ibu-ibu hamil dan lansia. Masalahnya, keadaan yang terjadi enggak begitu. Nah, apakah mbak-mbak penjual itu takut dengan kemarahan ibu-ibu yang menyelak antrean karena pelayanannya jadi tertunda? Tapi memang ibu-ibu itu yang salah karena mengambil hak orang lain, kan?
Read More
“Masalah lu kok percintaan mulu, ya? Yah elah, kayak enggak ada yang lebih penting gitu?” ujar seorang teman sekitar 5-6 tahun lalu ketika saya selesai curhat.

Saya enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa mengingat hal itu. Namun, menarik juga rasanya kalau saya bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Dulu, mungkin saya sangat sedih ketika sudah memilih teman curhat dan memercayakan dirinya bisa menjadi pendengar yang baik, tapi dia malah berkata seperti itu. Kalau diingat-ingat lagi, mungkin saya juga malu dan kecewa sekali kepadanya. Saya kan cuma pengin cerita dan didengarkan olehnya, bukan diremehkan permasalahannya. Terlepas dari kisah apa yang saya bagikan saat itu. 



Masalahnya, pada waktu itu percintaan memang menjadi persoalan utama saya. Saya mungkin tidak mempunyai keresahan pada lain hal. Kala itu kondisi keuangan saya termasuk cukup baik karena memiliki pekerjaan (meski statusnya masih pegawai kontrak, tapi pemasukan setiap bulan sungguh menyelamatkan dan membuat finansial aman. Tidak seperti saat ini). Keadaan keluarga juga belum kacau.

Waktu itu, saya belum memusingkan persoalan karier. Bagi saya, mempunyai pekerjaan dan penghasilan setiap bulannya itu sudah lebih dari cukup. Saya belum mengerti diri saya ini ingin menjadi apa. Saya belum memiliki cita-cita yang jelas, selain punya rekening sejumlah 10 digit atau lebih dari itu. Padahal, sampai sekarang pun saya enggak tahu harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana selain ikut pesugihan. Mulanya, tentu saya sempat berpikir tolol: asalkan bisa terus bekerja dan menabung, pasti keinginan jadi tajir itu dapat terwujud. 

Tiga tahun belakangan ini, setelah menjalani kehidupan yang naik-turun, saya pun tertawa kencang setiap kali mengingat pemikiran bodoh tersebut. Ternyata enggak semudah itu bekerja, mendapatkan gaji, lalu menabung, dan menjadi kaya raya. 
Read More
Apa yang kauharapkan begitu membuka mata setelah terbangun dari tidur? Apa kau pernah membayangkan seorang lawan jenis berbaring di sampingmu tanpa busana? Kau tersenyum kala mendengarkan desah napasnya yang pelan dan teratur. Lalu, kau perhatikan pula wajahnya yang begitu damai dalam tidurnya itu. Kau tidak ingat mengapa dia bisa-bisanya tidur di sebelahmu. Apa sebelumnya kalian habis melakukan hubungan seks? Untuk kalimat selanjutnya, kau dapat berimajinasi sendiri.

Namun, apakah kau juga pernah membayangkan dirimu ketika terbangun justru langsung disodorkan pertanyaan oleh malaikat di alam kubur, “Man Rabbuka?” Meskipun pertanyaan itu sekarang tampak sepele dan kau yakin dapat menjawabnya, tapi bagaimana jika kau kelak malah bilang begini: “Buka? Buka apa? Buka sitik jos?” Kemudian, malaikat itu segera menghantam kepalamu menggunakan batu hingga kepalamu pecah. Apakah itu mengerikan? Seandainya belum, kau pun bisa mengkhayal yang lebih sadis daripada itu. 

Terlepas dari hal baik dan buruk yang mungkin pernah kau bayangkan itu, sore ini yang pertama kali kaulihat hanyalah tulisan Make Your Move! di kemasan susu. Kotak susu itu berdiri di samping kasurmu dan letaknya sejajar dengan matamu ketika melek. Kau memang gemar tidur miring menghadap kanan (mengikuti sunah Rasulullah), sehingga kau hampir tidak pernah melihat langit-langit kamar setiap kali bangun tidur dan membuka mata.

Lalu kau baru sadar, tadi sebelum mengistirahatkan diri, kau sempat mampir ke warung dan membeli susu itu. Setelahnya, tangan kirimu berusaha meraih kotak susu tersebut. Tapi sayang, jangkauan lenganmu terbatas. Kau pun mesti menggerakkan tubuhmu yang masih malas bergerak itu demi bisa menggapainya. Kotak susu itu sudah sangat ringan, tanda isinya telah kau minum. Kau kemudian duduk dan menggoyang-goyangkan kotak itu. Masih terdengar bunyi air di dalamnya. Ternyata, susu itu belum benar-benar tandas. Sesudah itu, kau membaca kalimat lain di bawahnya: “Tubuh sehat buat aksimu makin dahsyat.” Kau pun menyedot habis sisanya sampai kotak susu itu menghasilkan bunyi yang aduhai. 

Kau membuang kotak susu itu ke tempat sampah di pojokan kamar dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Saat sedang membasuh wajah, kau teringat kembali dengan tulisan di kemasan susu itu. Lalu otakmu menyimpulkan bahwa kau harus membuat pergerakan atau perubahan. Kau tiba-tiba membatin, Masalahnya, apa yang harus kulakukan sekarang? Mengubah bangsa ini menjadi lebih baik?

sumber: https://pixabay.com/id/tangan-dunia-peta-global-bumi-600497/

Read More
Kata Albert Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.”; sedangkan kata Jean Paul Sartre, “Aku berpikir, maka aku ada.” Kalau kata pemilik blog ini, “Aku dikomentari oleh Yose Suparto, maka aku ada.”

https://pixabay.com/id/tinju-kekuatan-kemarahan-air-mata-1148029/


-- 

Ada satu hal yang sebenarnya paling saya benci dari media sosial: FanPage. Suatu hari, ada seorang kawan yang bertanya kepada saya, apakah saya sudah memiliki akun FanPage di Facebook? Karena saya menjawab belum punya, setelah itu dia menyuruh saya untuk bikin. Katanya, kalau buat promosi tulisan blog di FanPage Facebook itu lumayan banget. Penting juga halaman itu buat memasarkan diri kita.

Saya mungkin bisa sepakat dengan pernyataannya itu. Masalahnya, saya bahkan sudah sangat jarang membuka media sosial tersebut. Mungkin dia juga enggak tahu kalau saya sebetulnya kesal sama konsep idola atau menjadi terkenal itu. Ya, entah mengapa FanPage sepertinya ialah hal yang aneh bagi saya. Persoalannya tentu bukan pada FanPage-nya itu, melainkan saya ini siapa? Ngapain saya bikin begituan segala? Saya cuma orang yang kebetulan gemar menulis di blog. Apalagi tiga tahun belakangan ini emang udah telanjur kecanduan menulis. Lalu, saya sudah kelewat bingung apakah masih punya bakat di bidang lain. Sehingga, saya pun merasa hanya blog satu-satunya wadah yang cocok buat diri saya.
Read More
Aku bingung harus bersikap seperti apa ketika hubungan sudah mencapai satu tahun. Aku mungkin membenci perayaan semacam ini. Apakah harus bahagia dan bersyukur sebab bisa bertahan sejauh ini? Namun, kupikir akan lebih penting setelah hari ini. Aku enggak tahu harus memberimu apa. Apa cukup dengan lewat kata-kata tidak jelas seperti ini? Atau, kamu mau ditambah dengan beberapa puisi? Yang terpenting, aku ingin berterima kasih karena kamu masih di sisi.

Mungkin saat ini uangku tidak cukup banyak untuk membelikanmu apa-apa. Maka, aku cuma bisa meracik kata yang entah apa artinya. Tapi yang kutahu, aku selalu merayakan segala macam kesulitan dengan puisi.

Ketika sedang sakit, puisi bisa mengobatiku sedikit-sedikit. Kala ikut lomba dan tidak menang, puisi pun bisa membuatku lebih tenang, juga senang. Dan saat seperti sekarang ini: miskin, puisi bisa menjadikanku lebih yakin. Yakin untuk berusaha dan berjuang lebih keras dari sebelumnya. 

Maaf, kalau aku masih begini-begini saja. Tapi setelah ini, aku ingin memperbaiki semuanya. Dari pertama kita kenal, kamu pun tahu aku sudah banyak gagal. Banyak orang yang melihatku seolah-olah ada cap gagal di kening. Maka, aku pun tertunduk malu. Agar tak ada yang memperhatikan wajah sedih dan murungku. Namun, entah kenapa kamu tidak memperlakukanku begitu dan malah menyambutku. Aku tidak tahu mesti mengungkapkannya bagaimana lagi lewat tulisan di selembar kertas yang hampir habis ini. Tapi rasanya aku masih butuh satu atau dua kalimat untuk menutupnya. 

Jadi, semoga kita bisa lebih kuat dari hari ke hari. Dari hati ke hati. 

Jakarta, 16 September 2017 

-- 

PS: Lagi iseng buka folder tulisan lama, lalu saya menemukan surat—yang awalnya saya tulis tangan di selembar kertas, kemudian menyalinnya ke catatan ponsel—untuk seorang kekasih. Ceritanya surat ini saya gunakan sebagai pengantar, apa maksud saya memberikannya sebuah buku puisi: Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Seandainya dia kurang mengerti isi buku itu, saya hanya berharap dia dapat memahami niat baik saya. Walaupun saya kurang suka dengan perayaan seperti hari jadi begitu, dan sering masa bodoh sampai-sampai pihak perempuannya mungkin akan bertanya, “Kita tanggal jadiannya kapan, sih?”; saya cuma ingin berusaha membuat dia tersenyum—syukur-syukur juga bahagia. 

Buat seseorang yang saya maksud dalam tulisan ini, maaf kalau saya justru menjilat ludah sendiri. Saya gagal menjadi kuat, kemudian memilih pergi. Namun, rasanya kalimat terakhir saya itu bisa memiliki makna lain ketika saya baca lagi sekarang. Meskipun tidak menjadi “kita” lagi, tapi saya yakin masing-masing dari kami tetap bisa menjadi lebih kuat saat sendiri. Mungkin hati kami sama-sama patah, tapi sesudah itu pasti akan sembuh dan terbentuk kembali dalam wujud yang lebih kokoh.




Buat diri saya sekitar satu tahun silam, terima kasih. Karena kamu blog ini jadi ada romansanya lagi. Berengsek!
Read More
Sehabis mencela atau menghina tulisan liputan orang lain yang jelek, aku mendadak kesulitan saat menuliskan laporan. Apakah tulisan buruk itu dapat menular? Sial! Kalau tahu akan begini jadinya, seharusnya aku tidak perlu repot-repot membaca tulisan itu. Lebih-lebih sampai kelar. Keparat!

Problem utama dalam tulisan liputanku itu ialah kepanjangan. Entah mengapa aku malah ngalor-ngidul di awal tulisan. Apa yang kuketik sudah mencapai 600 kata, tapi aku belum menyinggung apa-apa mengenai brand yang mengajakku bekerja sama itu. Berengsek sekali. Akhirnya, sekitar 400 kata pun aku mesti buang (sebetulnya masih aku simpan di file lain) demi kepadatan tulisan. Setelah itu, ada masalah baru yang muncul: aku selalu tidak sreg ketika membaca ulang, apalagi menerbitkannya.



Lantaran mencerca itu, aku pun jadi takut dikata-katai oleh orang lain bahwa tulisanku itu jelek banget. Sebenarnya itu sudah menjadi hukum alam, sih. Apa yang aku perbuat, tentu ada balasannya. Setiap hal, baik maupun buruk, jelas ada konsekuensinya. Ada risiko yang mesti kutanggung, sekalipun hinaan itu hanya kupendam sendiri dan tidak kutunjukkan kepada orang lain.

Namun, aku sebelumnya enggak pernah bermasalah seperti ini sewaktu menuliskan liputan. Dengan alat bantu: rumus 5W+1H, proses menulis sejauh ini selalu lancar. Meskipun ada masalah, palingan cuma sedikit saja. Kini, aku kudu membahas hal yang tidak kupahami sama sekali. Alhasil, aku jadi merasa kalau gaya menulis dan suaraku di dalam tulisan tersebut sangat kurang. Aku sudah melakukan riset lebih dari sepuluh artikel, aku telah membaca tulisan bloger lain yang juga diundang; tapi tetep saja aku enggak mengerti mau membawa tulisan iklan itu ke arah mana.
Read More
Saya tidak dapat mengingat sudah berapa kali saya menjilat ludah sendiri. Mungkin karena begitu banyaknya. Bisa juga sebab saya enggak terlalu peduli akan hal itu. Pola pikir dan selera setiap manusia bisa bergeser. Misalnya, sewaktu SMK saya sempat bilang enggak akan pernah mau mendengarkan dan menyukai lagu-lagu Korea. Tapi sejak adanya Blackpink, saya harus menarik kembali pernyataan itu. Lama-lama saya pun merasa hal itu biasa saja. Itu merupakan sebuah proses. Setiap manusia tentu pernah mengalaminya. Lalu, dari sekian banyak ludah yang telah saya lepeh dan telan kembali, saya pasti selalu mengingat yang satu ini: tidak menulis mesum lagi.

sumber: https://pixabay.com/id/disensor-rahasia-komunikasi-1726364/

Sejak mendekati akhir tahun 2016, tepatnya sehabis membuat cerita es krim spesial (bagi yang pernah membaca tulisan itu, kata spesial mungkin bisa kamu ganti jadi: terkutuk, sialan, bajingan, dan sebagainya), saya mulai merenungi gaya menulis di blog. Apakah saya enggak capek nulis lelucon yang berbau porno melulu? Kemudian, saya pun sampai bikin twit berikut.





Sejak twit tersebut saya buat, saya mulai berjanji kepada diri sendiri untuk mengurangi (kalau perlu menghilangkan) tulisan mesum di blog. Nyatanya? Saya masih saja mengulanginya. Saya kira ke depannya pun bakalan tetap ada. Kenapa saya berani mengatakan akan terus ada? Mungkin karena saya sudah bisa menempatkan porsi yang sesuai dalam tulisan-tulisan saya. Mungkin juga karena sekarang saya telah berdamai dengan diri sendiri. 
Read More
Cerpen terakhir saya latar tempatnya berada di kafe. Hal itu mengingatkan saya terhadap catatan yang pernah saya buat kurang lebih setahun silam. Isinya tentang keresahan kenapa saya terlalu sering menggunakan latar itu dan sejenisnya untuk tulisan-tulisan saya. Saat membaca ulang catatan tersebut, saya pun mendadak kesal dan mungkin muak kepada diri sendiri yang rasanya kadung nyaman menggunakan lokasi-lokasi itu. Berikut saya lampirkan tulisannya—yang sudah dipoles supaya lebih nikmat dibaca.

-- 

Setahun belakangan ini, saya sedang mengevaluasi mengapa tulisan-tulisan saya (terutama fiksi) kerap bertempat di kafe, warung kopi, tempat makan, restoran cepat saji, dan seterusnya. Seakan-akan saya tidak punya latar lain yang bisa menjadi dunia di mana tokoh-tokoh itu hidup. Mungkin karena tempat-tempat tersebutlah yang sering saya datangi. Kita sebagai manusia lazimnya makan sehari tiga kali. Berarti dalam seminggu 21 kali. Oleh sebab itu, sedikitnya saya pasti akan mengunjungi 5-10 tempat makan dalam sepekan. Baik itu makan di tempat maupun dibawa pulang. 

Ide atau inspirasi menulis biasanya datang dari kejadian sekitar. Nah, ketika sedang menanti makanan atau minuman yang disajikan, saya sering memperhatikan orang-orang yang berada di sana. Apa kira-kira alasan mereka datang ke tempat makan itu; apakah soal harga, rasa, suasana, pelayanan, atau hal lain? Saya juga gemar menebak-nebak apa isi kepala mereka masing-masing saat sedang menunggu seperti saya. Kemudian, obrolan apa yang tengah mereka bicarakan hingga wajahnya tampak serius sekali. Kadang-kadang, saya pun mencuri dengar perbincangan mereka—terutama yang mengobrol dengan suara keras. Lalu jika ada dialog dan kejadian yang lucu, aneh, atau ganjil; saya pasti langsung mencatatnya.

sumber: https://pixabay.com/id/restoran-menggoda-beberapa-1807617/

Read More
“Mengarang adalah cara meludahi seseorang dengan santun. Aku ingin sekali meludahi orang-orang sok tahu, kadang aku juga pengin meludahi diriku sendiri. Asyik sekali.” -Sabda Armandio (novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya



-- 

Pada hari Kamis, Kafe Kerubut hampir tutup setengah jam lebih awal, sebab dalam satu jam terakhir tidak ada seorang pengunjung yang datang. Namun, lima belas menit sebelum pukul 22.30, Gegep dan F. Nirmansyah melangkah masuk dan duduk di meja nomor 21. Mereka memilih duduk saling berhadapan agar nanti mengobrolnya lebih enak. Salah seorang pramusaji perempuan langsung menghampiri meja mereka. Dia pun tidak lupa untuk menyapa “selamat malam”, melemparkan senyuman ramah, dan menanyakan mau memesan apa. Tapi kita tentu tidak pernah mengetahui isi hatinya, yang mungkin sangat dongkol karena harus menunda kepulangannya itu.

Ketika Gegep masih membolak-balikkan daftar menu, Nirman sudah menyebutkan mi goreng jumbo dan jus jeruk. Nirman memang sudah rutin datang ke kafe ini, sedangkan Gegep baru pertama kalinya. Lima menit telah berlalu. Wajah pramusaji itu mulai terlihat gelisah, tapi Gegep belum juga memutuskan pilihannya.

“Kayak baca soal Ujian Nasional aja lu. Milih menu gitu doang lama banget,” ujar Nirman. 

“Bacot!” 
Read More
Menilai bagus atau enggaknya sesuatu hal itu tentu bersifat relatif. Misalnya, A punya penilaian bahwa blog saya ini bagus; kemudian B berpendapat bagus banget; sedangkan C merasa biasa saja. Jadi, mereka punya standar masing-masing dalam menentukan nilai itu. Namun, saya pernah membaca dan mendengar pernyataan begini: “Cakep itu relatif, jelek itu absolut.”

Bukankah dalam menilai hal yang jelek juga ada ukurannya lagi? Ada jelek yang masih bisa dimaklumi, ada jelek banget, ada jelek yang keterlaluan, dan seterusnya. Nah, seharusnya jelek juga termasuk relatif, kan? Kenapa justru dibilang absolut?

Sejujurnya, saya masih bingung dalam hal ini. Apakah sesuatu yang relatif bisa menjadi absolut? Hmm, mungkin intinya jelek itu sudah pasti tidak bagus, ya? Atau, karena jelek itu ada kesepakatan bersamanya, lalu sifatnya berubah menjadi mutlak?

Terlepas dari hal itu, saya akan mengulangi pertanyaan yang ada di judul tulisan ini: Yakin blog kamu sudah termasuk bagus?

https://pixabay.com/id/blog-seo-internet-web-pemasaran-793047/

Saya sendiri seandainya ditanya begitu, tentu akan menjawab sudah. Oke, penilaian seperti ini memanglah subjektif. Namun, saya waktu itu pernah riset kecil-kecilan (baca artikel dan diskusi bersama teman-teman bloger) mengenai blog yang bagus itu kayak gimana di mata pembaca. 
Read More
Do you want to sleep with other men?”

What?” 

Do you want to sleep with other men?” 

That’s a strange question.” 

Because ... if you did ... it’d be okay. I’d be okay.” 

Are you being serious? When you say a thing like that, it makes me think you don’t love me anymore.” 

I don’t think I do.”


Dialog barusan saya nukil dari sebuah adegan di film Control (2007). Film biografinya Ian Curtis, vokalis grup musik Joy Division. Percakapan itu juga dimasukkan ke dalam lagu Hypomanie - Lullabye for Ian.

sumber: https://pixabay.com/id/headphone-headset-audio-teknologi-690685/

Harus saya akui, saya belum menonton filmnya. Saya baru mengintip cuplikan-cuplikan cerita yang ada di Youtube. Padahal saya sudah mengubek-ubek internet, tapi tetap saja tidak kunjung ketemu. Sekalinya saya menemukan film itu di salah satu situs streaming, saya pun buru-buru mengunduh filmnya.

Begitu unduhan kelar, saya langsung memutar filmnya. Namun, film yang terputar itu justru film lain entah apa. Kampret, saya tertipu. Mana ukuran filenya 1 GB lebih pula. Balikin kuota aing! Bodohnya, kenapa dari awal enggak saya cek dulu, sih? Saya terlalu nafsu kayaknya. Ah, kunyuk!

Read More
Kosong? Apanya yang kosong? Tulisan ini berisi. Ya, tenang saja. Aku tidak perlu menggunakan trik kuno seperti bloger-bloger kurang kerjaan itu. Kau tahu maksudku, kan? Jika kau belum paham, aku akan menjelaskannya sedikit. Begini: mereka—para bloger yang aku maksud—memberikan judul Kosong di tulisannya sebagaimana yang kaubaca saat ini. Bedanya, mereka benar-benar mengosongkan isinya. Tidak ada satu pun kata di dalamnya setelah kau mengeklik tulisan tersebut.

sumber: https://pixabay.com/id/coder-komputer-meja-tulis-layar-1869306/

Apakah hal itu lucu? Oh, ayolah, humor semacam itu telah usang. Ya, menurutku ide kayak begitu sangatlah norak! Sekali lagi kuulangi, itu betul-betul norak! Kalau sedang nggak punya ide buat bikin tulisan, tolonglah jangan memaksakannya. Buat apa, sih? Menambah jumlah pengunjung? Segitunya amat. Sampah sekali.

Sebelumnya, aku harus mengakui bahwa kalimat yang sedang kaubaca ini sebenarnya juga termasuk sampah. Percisnya, kata-kata ini adalah segala kotoran yang berada di dalam kepalaku dan harus segera dibuang. Maka, kau juga boleh menganggapku sampah. Itu tidak masalah. Penilaianmu tidak akan berpengaruh apa-apa. Setidaknya, sampah yang kutulis ini masih bisa didaur ulang suatu hari. Tidak seperti tulisan kosong keparat itu.

Sudah ada tiga paragraf yang baru saja kaubaca, lalu sekarang kau pun masuk ke paragraf keempat. Ini berarti membuktikan kalau aku tidak membohongimu di tulisan ini. Kau mau meneruskan membacanya? Kuharap kau tidak menyesal. 

Aduh, aku terlalu lama basa-basi, ya? Baiklah, aku akan memulainya. Namun, kau mesti mengetahui fakta ini terlebih dahulu: kisah ini bukanlah milikku, melainkan punyamu. Tugasku hanya menuturkannya. Sungguh, aku tidak bermaksud macam-macam. Aku cuma berusaha mengingatkan memori yang mungkin telah kaulupakan. Apa pun yang terjadi nanti, pokoknya adalah semua tentangmu. Tanamkan di pikiranmu dan ingatlah hal itu baik-baik.

Jika kau sudah tidak sabar, kau hanya perlu bilang: “Aku sudah siap menyimak cerita ini dengan khusyuk.” Ucapkan kalimat barusan. Kau sebenarnya boleh berbicara dalam hati, tapi aku menyarankanmu untuk melafalkannya. Bunyikan dengan lantang. Sampai telingamu mendengar perkataanmu itu dengan jelas dan memahaminya.
Read More
/1/
Bagaimana aku bisa membeli rasa tidak mengantuk,
kalau utang tidur dalam seminggu ini belum dapat kulunasi.
Terlalu banyak cerita yang wajib kubaca,
tapi aku amat sedikit menabung waktu.

sumber: https://pixabay.com/id/bayi-anak-lucu-ayah-keluarga-22194/


/2/
Bagaimana aku bisa menanti kesedihan,
jika setiap manusia berlomba-lomba
untuk mengejar kebahagiaan.
Apakah ketika dia datang,
aku hanya akan duduk berdua dengannya?
Seandainya hal itu betul terjadi,
bisakah kami tetap menjadi makna
dalam dunia yang kejam sekaligus indah ini,
lalu melupakan keberadaan fana.
Read More
“Jadi lu merasa puas dengan pujian Rani di tulisan ‘Bagaimana Sebuah Cerpen Dibuat’, Yog?” ujar seorang teman di WhatsApp, enam hari setelah saya menerbitkannya di blog. Semestinya saya nggak perlu menjawab pertanyaan itu, sebab dalam tulisan yang dia maksud itu saya telah mengatakan untuk bersikap biasa saja. Tapi karena hari itu saya sedang luang, saya pun iseng menjawabnya. 

Saya kira setelah membalas pesan itu persoalan bisa langsung selesai. Sayangnya, dugaan saya salah dan justru muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Mulai dari Rani itu sebetulnya imajinasi tolol saya saja, atau di kehidupan nyata benar-benar ada orangnya; hingga kenapa saya berani membagikan cerita personal yang kelam di blog. Sesudah saya memberinya jawaban tentang tokoh Rani itu biarlah menjadi tugas pembaca yang menilai, dia malah sewot dan menyimpulkannya sendiri.

“Ah, bacot! Lu itu paling-paling lagi kesepian, makanya menghadirkan tokoh Rani. Atau nggak, Rani itu sebenarnya ada di kehidupan nyata, tapi lu nggak bisa memilikinya karena dia udah jadi milik orang lain, kan? Hahaha. Mampus!”


Read More
Aku pernah bertanya kepada Yoga Akbar, pemilik blog ini, mengenai cerpennya yang berjudul: Surat Bunuh Diri Nolan. Sebelumnya, aku telah menebak kalau ia memasukkan pengalaman pribadinya sekitar 20-40% dalam cerita itu. Sayangnya, hal itu tetap tidak dapat memuaskanku. Aku masih betul-betul penasaran, apa saja yang ia lahap sampai bisa kepikiran untuk bikin kisah seperti itu. Jadilah aku mengajaknya bertemu di Stasiun Manggarai, lalu nanti berangkat bersama-sama ke Stasiun Bogor untuk berbincang-bincang tentang tulisannya.

sumber: https://pixabay.com/id/pada-suatu-waktu-penulis-cerita-719174/



“Ish, kamu nih datengnya buru-buru amat. Nggak bisa apa ngaret sedikit aja?” ujarku, begitu aku dan Yoga bertatapan muka di peron jalur 6 Stasiun Manggarai. 

“Ya, kamu bilang, kan, ketemuannya jam sembilan,” kata Yoga. “Masa aku datengnya jam sepuluh? Lagian, santai aja sih, Ran. Aku bawa buku kumpulan cerpen, kok. Jadi tadi nunggunya juga nggak terasa lama.” 

Aku memang yang mengusulkan bertemu pada jam segitu, tapi malah aku sendiri yang sekarang protes kepadanya. Habisnya gimana ya, aku tuh malu sama Yoga yang sudah sampai di sini sejak pukul 08.42, sedangkan aku terlambat 37 menit dari jadwal yang kubuat sendiri. Apalagi ia tampak menyindirku pada kalimat “Masa aku datengnya jam sepuluh?” Meskipun aku yakin ia tidak bermaksud seperti itu. Intinya, aku ini tetap payah sekali. Aku tadi kelamaan berdandan, padahal kami bertemu juga untuk ngobrol-ngobrol biasa. Tidak datang ke acara spesial seperti pernikahan teman atau sedang kencan.

Um, tapi apakah ini bisa disebut kencan? 
Read More
Pertandingan semi final Piala Dunia 2018 antara Inggris dan Kroasia beberapa hari yang lalu, menurut saya betul-betul mencengangkan. Kebanyakan orang, termasuk saya, tentu tidak menduga kalau Kroasia yang akan lolos ke final. Mayoritas teman-teman saya pun mengharapkan Inggris yang kelak akan bertanding melawan Perancis. Terlebih pula pada babak pertama Inggris telah berhasil memimpin satu angka berkat gol tendangan bebas dari Trippier, pemain bernomor punggung 12.

Namun, pada menit ke-68 Kroasia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Setelah itu, gol dari Mandzukic pada babak perpanjangan waktu akhirnya dapat membalikkan keadaan dan membawa kemenangan bagi Kroasia. Dengan berakhirnya pertandingan itu, berarti babak final akan hadir sesaat lagi dan menandakan selesainya Piala Dunia 2018. Entah mengapa saya mendadak sedih ketika semangat menonton pertandingan olahraga itu masih membara, tapi pagelarannya terasa terlalu cepat usai.

Syukurnya, sebentar lagi Asian Games 2018 juga akan dimulai. Ajang itu pun langsung bisa mengobati kesedihan saya. Apalagi tahun 2018 adalah waktu yang spesial bagi bangsa Indonesia, sebab tahun ini Indonesia mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games yang akan diikuti oleh 45 negara. Tepatnya, Asian Games kali ini akan diselenggarakan di kota Jakarta dan Palembang. Jumlah cabang yang dipertandingkan ialah 40 cabang. Lalu, event internasional ini pun akan diikuti oleh sekitar 15.000 atlet dan 7.000 official dari seluruh negara peserta.

sumber: Tim Kamadigital

Antusiasme dan membeludaknya jumlah peserta Asian Games 2018 adalah bentuk kepercayaan yang besar dari negara-negara di Asia terhadap Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, besarnya jumlah peserta tersebut juga mesti diantisipasi dan dikelola dengan apik sehingga Asian Games ini bisa berjalan dengan lancar, sukses, dan berkesan baik.

Read More
Semua berawal ketika kau membuat twit: Mau nonton Ant-Man aja nunggu Senin dulu. Saat itu hari Sabtu dan teman-temanmu sudah banyak yang menonton filmnya. Di Twitter, mereka berpendapat kalau filmnya sangat bagus dan menghibur. Sebetulnya, kala membaca kalimat itu kau langsung ingin pergi ke bioskop, sebab rasa penasaran sudah di ujung tanduk. Namun, sebagai pegawai lepas kau selalu menerapkan sebuah prinsip, “Kalau bisa nonton dengan cara hemat, kenapa harus repot-repot bayar mahal?” 



Pemikiran seperti itu telah tertanam sejak kau menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. Berusaha untuk selalu menonton pada hari biasa supaya lebih murah. Pantang pergi ke bioskop saat hari libur. Ya, kecuali kondisimu pada hari biasa memang sangat sibuk, atau nontonnya bareng pacar yang lagi sayang-sayangnya.

Tapi, keadaanmu kala ini sedang cukup longgar karena proyek kerja lepas itu telah selesai dan belum mendapatkan tawaran kerja baru. Kau sudah putus sekitar empat bulan yang lalu dan sekarang tidak berminat untuk memiliki kekasih. Sehingga, kau bepikir kalau menonton pada hari Senin adalah pilihan yang tepat. Sendirian pun bukanlah masalah bagimu. Tak disangka, tiba-tiba ada seorang kawan yang akhirnya merespons twit itu. Desi Wulandari—yang akrab disapa Eci—bertanya kepadamu tentang promo. Kau dengan jujurnya menjawab bukan, tapi biar murah aja. Percakapan pun terus berlanjut, hingga akhirnya dia menawarkan diri untuk menjadi teman nontonmu. 
Read More
Saya baru saja membuka laptop, lalu berniat merapikan folder tulisan dari tahun 2015 sampai 2018—sekarang. Saya kemudian memisahkan tulisan yang sudah pernah tayang di blog, dengan tulisan yang belum selesai, dan tulisan yang hanya untuk dipendam sendiri. Setelah itu, saya iseng membuka filenya (selain yang telah saya publikasi di akbaryoga), lalu membacanya satu per satu. Entah kenapa saya mulai berharap, barangkali ada beberapa tulisan yang masih layak untuk saya edit atau terbitkan di blog.

Demi menghemat waktu, saya tentu memulainya dari yang terbaru. Barulah kemudian beralih ke yang paling lama. Tulisan pada tahun 2018 kebanyakan berupa cerpen dan puisi. Beberapa cerpen itu baru tertulis 3-6 paragraf. Yang saya tebak hasilnya belum mencapai 50%. Saya lalu memilih untuk segera menutupnya. Nanti saja mengeditnya kalau memang sedang bergairah bikin cerpen, pikir saya.

Tahun 2018 ini, rasanya saya mulai jarang atau memang mengurangi tulisan berbentuk curhat. Tapi, saya ingin isi blog ini seimbang antara curhatan dan fiksi. Jadilah saya mencari tulisan yang berbentuk curhat, sebab blog ini bisa berkembang sampai sekarang dengan bermodalkan hal itu. Lalu saya pindah ke folder tulisan tahun 2017. Ternyata, pada tahun itu juga tidak banyak yang bisa saya edit. Saya juga merasa kurang sreg untuk melanjutkannya. Oleh karena itu, saya pindah lagi ke folder tahun 2016. Hasilnya, saya malah kebingungan dengan tulisan tersebut dan membatin, masa iya gue pernah nulis ginian? Norak amat.

Yang saya baca ialah tulisan tentang cinta. Mungkin kala itu saya sedang masa pendekatan dengan seorang perempuan dan terasa lagi manis-manisnya. Saya pun memaklumi. Tapi lagi-lagi saya memilih menutup tulisan itu. Biarlah saya pendam saja. Mungkin keadaan saya sekarang belum cocok untuk mengedit tulisan romansa. 

Setelah mulai merasa lelah, sebab belum juga ketemu tulisan yang layak saya sunting, saya akhirnya menemukan tulisan berikut ini. Saya sebetulnya malu untuk menampilkannya. Namun, saya pikir tidak ada salahnya, toh itu juga sudah berlalu. Setelah saya pikir-pikir kembali, saya justru sangat ingin berterima kasih akan tulisan yang satu ini.

https://pixabay.com/id/pria-kesepian-taman-malam-gelap-1394395/
Read More
Sepulangnya dari klinik gigi, saya langsung memikirkan beberapa hal hingga sulit tidur. Pertama, upah kerja lepas saya minggu ini langsung habis setengahnya untuk membayar dokter gigi tersebut. Kedua, saya masih harus balik lagi ke sana sekitar 4-5 kali setiap seminggu sekali alias butuh duit banyak. Ketiga, dokter giginya lumayan cantik dan berkacamata pula. Oh, yang terakhir ini jelaslah penting. Sehingga saya nggak gondok-gondok amat akan berkurangnya uang dari dompet. 

Enam jam sebelum saya pulang dari klinik gigi, sekitar pukul tiga sore, saya merasakan nyeri yang begitu hebat akibat gigi berlubang. Saya lalu mengobatinya dengan bawang putih. Caranya dengan menghaluskan bawang putih yang ditumbuk dan ditambah sedikit garam. Setelah itu, saya tempelkan pada gigi yang sakit atau berlubang. Saking lelahnya menahan penderitaan, tiba-tiba saya ketiduran sampai pukul lima sore.

Ketika saya terbangun dari tidur, rasa sakitnya mendadak lenyap. Saya yang merasa takut kalau gigi tersebut besok mungkin akan kambuh, sebab ada kerjaan yang mulainya dari pukul enam pagi hingga malam hari, langung ingin pergi ke dokter gigi saat itu juga. Paling nggak saya ingin konsultasi atau tanya-tanya dahulu, gimana baiknya untuk kondisi gigi saya ini.



Sehabis Magrib saya berniat berangkat, tapi ternyata cuacanya sedang hujan. Lalu saya pun mesti menundanya hingga nanti reda. Karena hujan tak benar-benar berhenti, nekatlah saya berangkat ke klinik gigi dekat rumah gerimis-gerimisan pada pukul tujuh. Saya sudah mencari informasi di internet kalau kliniknya tutup pukul 20.30. Alangkah baiknya saya datang lebih cepat. Mengantisipasi siapa tahu di sana antreannya sudah panjang.

Sesampainya di sana, terdapat tiga orang yang duduk di ruang tunggu. Saya menebak mereka ialah satu keluarga yang terdiri dari kedua orang tua dan satu anak perempuan kisaran SMA. Mungkin anak itu nggak berani datang sendiri, pikir saya. Kemudian, resepsionis menanyakan kepada saya, apakah sebelumnya sudah pernah datang. Saya menjawab ini pertama kalinya. Lalu ia menyuruh saya mengisi data diri di sebuah buku.

Setelah itu saya diberikan pilihan, mau ditangani oleh Dokter Wulan atau Dokter Rani. Awalnya, saya memilih Dokter Wulan karena namanya sama dengan personel WIRDY. Saya berpikir siapa tau nanti bisa memperoleh potongan harga ketika membahas soal nama yang sama itu. Oke, ini bodoh sekali dan nggak mungkin. Tapi setidaknya, dengan nama yang sama itu saya bisa mencoba bersikap lebih santai. Anggap saja memang teman saya yang sedang memeriksanya. Sayangnya, resepsionis itu langsung bilang kalau Dokter Wulan sedang makan dan di daftarnya masih ada satu pasien. Jadilah saya menjawab, “Ya udah, dokter yang satunya aja biar cepet.”
Read More
Saat saya baru saja mengunggah foto makanan di Instagram, sekitar satu menit setelah itu, Rani—salah seorang teman perempuan—memberikan komentar, “Gaaa, lu nggak kangen apa sama gue?” 

Membaca komentarnya itu, jelas saya langsung terkejut. Tapi saya nggak kaget tentang perempuan yang bilang kangen terlebih dahulu kepada laki-laki kayak begitu. Saya justru mendukung sekali kalau perempuan mau bilang duluan. Karena “Masa cewek ngomong duluan, sih?” alias patriarki adalah hal bodoh dan kolot buat saya.

Mungkin saya kelewat percaya diri menebak Rani lagi kangen, sebab tiba-tiba bertanya seperti itu. Namun, saya juga punya hak untuk menganggap pertanyaan itu secara nggak langsung ialah ungkapan hatinya kepada saya, yang ia coba siasati agar tidak terlalu menjurus, kan? Terlepas dari hal itu, saya hanya heran apa hubungannya sebuah makanan dengan perasaan rindu yang ia tanyakan di kolom komentar tersebut. 

Anggaplah ketika itu ia mengomentari foto sosis yang saya unggah. Apa yang dia pikirkan tentang sosis sampai-sampai bertanya perihal kangen? Seingat saya, kami nggak pernah makan sosis bareng. Apalagi untuk sosis yang memiliki konotasi negatif “anu”. Astagfirullah. Pembukaan cerita macam apa ini, sih?

Intinya, saya jadi kepikiran suatu hal: gimana caranya bilang kangen dengan sebuah siasat kayak yang Rani lakukan? 

sumber: https://pixabay.com/id/tangan-persahabatan-teman-teman-2847508/

Sialnya, siapa coba orang yang bisa saya rindukan? Saya lagi nggak punya kekasih. Gebetan juga belum ada karena saya masih males mencarinya. Saya pun bingung sendiri. Tapi sejujurnya, sekarang ini terdapat dua hal yang entah mengapa membuat saya kangen. Pertama, saya sedang rindu momen menulis saat terbangun dari tidur pada pagi hari. Lalu yang kedua, saya kangen menulis dengan tema tertentu bersama teman-teman saya yang tergabung dalam grup WIRDY. Mungkin bisa dibilang hal itu sekaligus perasaan rindu saya terhadap mereka. 
Read More
Kelelahan dan ketakutan karena dikejar-kejar oleh monster mengerikan, singkatnya sebuah mimpi buruk, membuat pemuda itu terbangun dari tidur lelapnya. Saat masih setengah sadar, ia berusaha melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul satu. Ia tidak perlu bingung sekarang siang atau malam. Suara jam yang berdetak dan terdengar begitu jelas pastilah malam hari.

Kala sudah betul-betul bangun, ia berusaha mengingat kenapa dirinya tadi bisa ketiduran. Ia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia mengetikkan empat digit angka untuk membuka kunci ponsel tersebut. Layar sedang menunjukkan sebuah web berisi cerpen yang pengarangnya tidak ia ketahui. Nama itu baru untuknya. Sepertinya ia ketiduran sehabis membaca cerita yang cukup membosankan. Ia pun menaruh kembali ponsel itu di kasur, lalu berjalan ke ruangan depan. 





Di kamar sebelah, ia melihat ayahnya tertidur pulas. Lalu di ruangan depan, ibu beserta adik laki-lakinya juga tidur sama nyenyaknya. Pemuda itu kemudian mengambil cangkir di dapur dan pindah ke meja makan. Ia bermaksud bikin teh manis.

Selagi menuangkan gula ke dalam cangkir yang sudah berisi air panas, ia mencari-cari sendok dalam kegelapan. Ia tidak ingin menyalakan lampu, sebab takut ibunya nanti terjaga. Setelah sendok itu ketemu, ia aduk searah jarum jam sampai cangkir itu berdenting. Dalam keadaaan remang-remang, matanya mencoba untuk memandangi terus pusaran air itu. Ketika putarannya berhenti, ia mengalihkan pandangan ke wajah ibunya.

Tiba-tiba pemuda itu tersenyum. Tak lama sesudah itu, ia masih berdiam diri. Memikirkan beberapa hal dan merenung. Mengapa sampai saat ini, ia masih belum bisa membahagiakan ibunya dan sering merepotkannya? Ibunya sudah berusia lima puluh tahun, sudah tak pantas lagi disebut muda. Suatu hari setiap manusia pasti akan mati. Entah pemuda itu duluan atau ibunya, yang jelas akan tiba waktunya kelak.

Ia langsung membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Ia masih ingin terus hidup sampai mimpinya terwujud dan ibunya dapat menyaksikan kebahagiaan pemuda itu dengan bangga. Lalu pemuda itu akan bilang, “Semua ini berkat doa Ibu. Terima kasih.”

Pemuda itu kini gantian memperhatikan wajah adiknya. Selama ini, ia belum benar-benar menjadi kakak yang baik. Sering sekali bertengkar karena hal sepele. Mungkin banyak hal-hal buruk lainnya yang kurang pantas dilakukan kepada adiknya itu selama hidupnya. Meskipun maksud pemuda itu baik, tapi kalau dipikir ulang sepertinya itu cukup keterlaluan.

Pemuda itu kembali ke kamarnya membawa teh manis hangat. Di jalan menuju kamar, ia melintasi kamar yang terdapat ayahnya. Kini, suara dengkuran terdengar amat nyaring. Kecapekan bekerja pastilah membuat ayahnya mengorok seperti itu.

Selama ini, pemuda itu memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Terutama karena pemuda itu belum mampu membuktikan apa yang dilakukannya selama ini benar. Pemuda itu saat ini betul-betul kebingungan. Jika patokannya adalah uang, ia sadar kalau yang dijalaninya selama ini salah. Namun kalau ditanya soal kebahagiaan, ia sungguhlah bahagia. 

Sayangnya, hidup ini memang membutuhkan uang agar dapat bertahan hidup. Ia sadar, sudah terlalu lama dirinya berjalan di tempat. Sewaktu orang lain berlari, ia masih saja berjalan lambat. Ia mendadak malu sekali pada dirinya.

Pemuda itu masuk ke kamarnya dan duduk di kasurnya agar kesedihan tidak bertambah menyiksanya. Ia pun memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia mulai mengambil cangkir yang tadi diletakkan di meja, percis di samping laptopnya. Ia bermaksud meneguk teh itu pelan-pelan seraya menghirup aroma melati. Sudah tidak terlalu panas, batinnya.

Entah bagaimana, sehabis minum teh yang tidak terlalu manis itu, si pemuda memikirkan kesibukannya akhir-akhir ini. Bangun sebelum subuh dan tidak pernah tidur lagi karena harus pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan makanan, membantu orang tuanya memasak, dan menyiapkan dagangan. Barulah sekitar pukul 9 atau 10 pagi, ia kembali ke kamarnya. Baik untuk menuliskan cerita, membaca buku, atau yang paling sering: mencari info lowongan kerja.

Kala melakukan kegiatan rutinnya, yaitu menggoreng tempe, bakwan, atau donat, ia entah mengapa jadi teringat kejadian buruk sekitar tiga tahunan yang lalu. Ketika sedang menggoreng seperti itu, ia terkenang akan masalah keluarga yang membuat dirinya depresi. Ibunya sempat pergi dari rumah. Lebih tepatnya, orang tuanya hampir bercerai.

Entah ia harus bersedih atau bersyukur dengan keadaannya yang sekarang. Namun yang terpenting, ia saat ini masih bisa terus bersama keluarganya. Mungkin itu sudah lebih dari cukup. Meskipun hubungan di keluarga itu pernah retak dan sepertinya sudah tidak harmonis lagi, tapi ia selalu ingin bersyukur atas apa yang terjadi.

Ia tidak ingin banyak berharap hidupnya akan bergelimang harta atau bagaimana menjadi orang tajir melintir. Masih memiliki keluarga yang utuh adalah harta yang paling berharga untuknya. Ia tidak peduli apa pun perkataan orang lain yang dulu pernah menghina atau mengejek keluarga maupun dirinya. Nilai diri keluarganya bukanlah menurut orang lain. Ia tahu betul akan hal itu. Jadi, sekarang ini ia berusaha sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya. 

Meski penghasilannya masih belum jelas, paling tidak ia bersyukur masih bisa makan setiap hari dan memiliki tempat tinggal. Toh, sampai sekarang ia juga tetap memiliki pekerjaan. Biarpun itu hanya menjadi pekerja lepas atau serabutan yang gajinya tidak menentu. Setidaknya, ia tetap bersyukur karena bisa cari uang sendiri.

Ia sebetulnya sudah berusaha mencari pekerjaan tetap, tapi belum ada jawaban yang sesuai. Mungkin usahanya kemarin-kemarin itu masih kurang. Setidaknya, ia selalu percaya esok hari akan ada titik terang selama dirinya tidak pernah menyerah dan kehilangan harapan.

Memikirkan banyak hal begitu, pemuda ini jadi kehausan. Ia pun meminum habis teh yang sekarang sudah mulai dingin. Pemuda itu pun bingung harus melakukan apa lagi setelah ini. Ia ingin kembali tidur, tapi rasa kantuknya sudah sulit muncul. Sekitar satu jam lagi, ia mesti membangunkan ibunya untuk siap-siap memasak.

Pada waktu luang itulah, pemuda ini duduk di depan laptop dan berniat ingin mengetikkan segala yang ada di pikirannya tadi. Pemuda itu menatap layar putih kosong dengan tatapan kosong. Jika ada orang lain yang melihatnya begitu, orang itu tentu paham kalau pemuda itu sedang menangis. Walaupun tidak ada satu pun air mata yang menetes atau meleleh. 

Terbangun di tengah malam begini, membuat pemuda itu banyak berkontemplasi. Ia menyesali banyak hal yang menyia-nyiakan waktu. Tapi pemuda itu kini juga sudah paham akan satu hal: menyesal dan memikirkan hal seperti itu terkadang percuma. Menyesal tidak akan pernah membawanya ke mana-mana, selain cuma bisa bersembunyi di bawah atap dan mengetik tulisan sembari meratap.

Paling tidak, menulis itu bisa membuatnya lega. Ia berharap energi negatif dalam dirinya segera hilang dan tidak pernah lagi memikirkan hal-hal buruk, termasuk yang terburuk, yakni bunuh diri. Begitu selesai, ternyata tulisannya masih lebih mengerikan daripada keadaan hidupnya. Pemuda itu pun berhenti mengetik. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Sudah saatnya membangunkan ibunya.

--

Cerpen yang tercipta pada tahun 2017 ini terlalu lama saya pendam di draf. Semoga belum usang jika saya tampilkan sekarang. Gambar saya ambil dari Pixabay.
Read More
Aku, Beni, Coki, Dodo, dan Erwin sedang bermain monopoli di rumah Dodo. Kami semua adalah teman sekelas di kelas 3 SDN Kemanggisan 01 Jakarta yang kebetulan rumahnya berdekatan. Kami memang cukup sering memainkan permainan monopoli pada hari libur. Pada hari Sabtu yang cerah ini, yang kedapatan tugas menjaga bank ialah aku, lalu sisanya menjadi pemain biasa. 



Setelah permainan berjalan satu jam, Dodo ialah pemain yang paling menguasai permainan. Ia memiliki dua blok dengan harga termahal. Terusnya, perusahaan air dan listrik pun jadi kepunyaannya. Sedangkan Beni mengalami nasib sebaliknya, ia menjadi pemain yang paling miskin. Kalau si Coki dan Erwin keadaannya biasa-biasa aja.

Kemudian, saat Beni mengambil kartu dana umum, ia malah mendapatkan kartu yang isinya harus membayar pajak kepada bank. Aku pun menerima uang dengan tawa yang meledek kesialan Beni. Ketika itu, aku melihat wajah Beni berubah kesal. Sepertinya ia iri denganku yang cuma bertugas menjaga bank dan nggak perlu jatuh miskin. Padahal, kan, sebetulnya kayak gini bosan juga. Bagusnya Beni nggak menjitak kepalaku seperti yang biasa ia lakukan pas lagi kesal. Mungkin Beni lebih sebal sama Dodo.

Sejak tadi, Beni sering banget mampir ke tanah milik Dodo. Ya, kayak begitulah Dodo bisa menjadi yang paling cepat kaya. Mungkin hari ini Beni lagi sial. Atau kebetulan Dodo yang beruntung karena main di rumahnya.
Read More
Pada suatu malam jahanam di sebuah kedai kopi daerah Jakarta Selatan, Agus—salah seorang teman saya—mendadak jengkel ketika ponselnya kehabisan baterai. Apalagi meja yang kami tempati nggak tersedia stopkontak. Ditambah kami berdua juga lupa membawa charger maupun power bank. Alhasil, keadaan itu membuat wajah Agus semakin tidak sedap dipandang. Lalu saya pun berniat untuk meminjamkan ponsel saya kepadanya. Tapi rupanya mulut Agus jauh lebih lincah dan seakan-akan dapat mendengar suara hati saya, sebab dia tau-tau bilang, “Yog, pinjem hape lu bentar buat buka Instagram.”

sumber: https://pixabay.com/id/sosial-jaringan-sosial-ikon-1834010/


Saya pun memberikannya begitu saja tanpa takut dia akan berbuat macam-macam. Tak lama setelah itu, dia tiba-tiba refleks berkata, “Anjing!” yang dilanjutkan dengan tawa. Sehabis mendengar umpatan dan tawanya itu, saya jadi deg-degan dan berpikir yang bukan-bukan. 

Apa gue ketahuan DM-DM-an sama pacarnya? 
Read More
Hari ini, tanggal 24 Mei 2018, saya berulang tahun. Sejak tahun 2012 (di mana saya berumur 17 tahun), entah mengapa sampai tahun 2017 saya pasti selalu mendapatkan kejutan di hari ulang tahun dalam setiap tahunnya. Biasanya kejutan itu datang dari pacar dan sahabat. Kejutan yang saya dapat dari mereka syukurnya belum pernah dikerjain yang aneh-aneh. Misalnya diceplokin telur busuk, kepala ditaburin tepung seplastik, disiram air got, diikat di tiang listrik. 

“Yah, nggak seru dong kalo belom pernah diceplokin atau dikerjain kayak gitu. Garing dan biasa banget,” ujar salah satu teman saya.

Lalu saya pun merespons, kalau kejutan ulang tahun saya selama ini bisa tetap seru tanpa adanya hal tersebut. Apalagi saat mengingat suatu berita yang mewartakan perayaan ulang tahun dengan telur busuk pernah memakan korban. Jangan sampai perayaan ulang tahun yang seharusnya bersuka-ria malah menjadi bencana dan duka cita.

sumber: Pixabay

Read More
Selain menjadi bulan yang penuh ampunan dan berkah, atau menjadi bulan di mana saat kita berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan. Bagi saya dan keluarga, bulan Ramadan merupakan bulan yang paling membahagiakan dan istimewa. Apalagi kalau bukan karena kebersamaan dengan keluarga? Saat puasa, kami sekeluarga dapat makan bersama di waktu dan tempat yang sama. Terutama pada saat sahur.

sumber: http://necturajuice.com/tips-menu-sahur-sehat/

Jika bulan-bulan lainnya, kami sekeluarga biasanya akan makan masing-masing. Pada saat makan siang, adik saya makan di kantin sekolahnya; lalu saya di warung makan dekat kantor; ibu saya di rumah; dan ayah saya bisa di rumah bisa juga di kantor (tergantung jadwal kerjanya). Makan malam pun biasanya sendiri-sendiri juga. Meski semuanya berada di rumah, waktu makannya pasti berbeda. Terutama saya yang makan lebih larut dari yang lain. Intinya, kami sekeluarga jarang sekali bisa berkumpul untuk makan. Oleh sebab itu, bulan puasa ini menjadi momen penting bagi saya dan keluarga. 

Pada bulan Ramadan, jenis makanan dan minuman yang ada di rumah pun terasa lebih ekstra. Kebetulan ibu saya selalu berdagang takjil (biasanya berupa bihun, lontong isi, tahu isi, bakwan, kolak) di bulan puasa. Sehingga kami sekeluarga tidak perlu repot-repot atau bingung untuk mencari makanan untuk berbuka puasa. Kemudian, soal minuman juga sama. Kalau yang sehari-harinya hanya bisa minum air putih dingin. Terus sekalinya beli sirup paling cuma satu rasa, yakni rasa pisang ambon. Kala bulan Ramadan, stok sirup di rumah pun jadi lebih beragam. Ayah saya bisa membeli hingga 3-4 botol sirup. Pada bulan puasa kelak akan ada tambahan rasa jeruk, melon, dan coco pandan. Ya, mungkin niatnya buat sekalian nanti Lebaran. 

Berbicara mengenai Lebaran, setelah bulan puasa berakhir kita tentunya akan menyambut hari Lebaran. Lazimnya, kita nanti akan mengenakan pakaian baru saat merayakan Idulfitri. Begitu pun dengan keluarga saya. Sejak saya kecil, keluarga saya pasti memiliki kebiasaan membeli baju Lebaran. Memakai baju Lebaran pada Hari Raya Idulfitri seolah sudah menjadi tradisi di keluarga saya. Bahkan saat puasa baru mulai seminggu saja, entah mengapa ibu saya sudah sibuk menanyakan mau beli baju Lebaran di mana. Kalau saya tetap santai-santai saja dan belum ada niat belanja baju Lebaran, ibu saya pasti akan menanyakannya terus. Lalu menawarkan diri untuk membelikan saya. Ya, ibu saya terkadang suka ribet sendiri. Tapi saya sadar, itulah tanda ia sangat peduli kepada anaknya.

Berhubung saat ini sudah zaman digital, belanja pun bisa di mana dan kapan saja. Saya nggak pengin terlalu merepotkan ibu saya. Saya bisa beli baju sendiri di toko online. Akhir-akhir ini, saya memang lebih menyukai belanja online. Lagian, saya nggak pengin capek-capek ke pasar dan berdesak-desakan ketika bulan puasa. Saya agak malas saat melihat orang-orang yang tidak puasa atau membatalkan puasanya di pasar. Yang dengan santainya menyedot es teh manis dalam plastik. Daripada melihat godaan begitu, mending juga belanja dari rumah. Lebih praktis. Tinggal duduk santai, terus buka ponsel atau laptop. Kemudian lihat-lihat koleksi produknya. Setelah ketemu yang sreg, tinggal pilih dan pesan deh.

Namun, belanja online tentunya juga memiliki beberapa risiko. Bisa terjadi penipuan, lalu barang yang dibeli tidak sama dengan yang ada di gambar. Kemudian, semakin mudahnya memilih barang, kita otomatis akan lebih boros karena khilaf. Kita terbawa hawa nafsu saat berbelanja. 

Mengingat akan bulan Ramadan, kita semestinya sadar kalau puasa itu bukan hanya menahan haus dan lapar. Kita juga harus menahan hawa nafsu lainnya. Termasuk nafsu dalam berbelanja. Tapi tenang saja, sebab saya memiliki tips belanja online hemat kebutuhan bulan Ramadan Ekstra di Tokopedia, yaitu:

sumber: Tokopedia


Bandingkan harga setiap toko online di Tokopedia 

Tokopedia memiliki banyak toko online yang berkualitas, sehingga memungkinkan kita untuk membandingkan harga berbagai produk kebutuhan dengan lebih mudah. Karena terdapat ribuan produk dengan berbagai harga siap untuk dibeli, kita cukup mencari produk yang memang dibutuhkan. Lalu untuk menghemat pengeluaran belanja online saat Ramadan, maka pilihlah produk dengan harga yang tepat dan spesifikasi yang pas. 


Pilih produk berkualitas dari kreator lokal 

Untuk membuat Ramadan Ekstra, bukan berarti harus selalu gunakan barang bermerek dengan harga selangit. Tokopedia, e-commerce dengan produk terlengkap memiliki koleksi berbagai produk hasil kreasi kreator lokal maupun brand terkenal dunia. Kita bisa menghemat pengeluaran berbelanja di bulan Ramadan dengan memilih produk kreasi dari kreator lokal yang hadir dengan kualitas bersaing, tapi tetap dengan harga yang lebih miring. 


Cari toko online terdekat

Saat berbelanja online, komponen biaya yang tak boleh terlupakan adalah biaya ongkos kirim (ongkir). Pilihlah toko online yang lokasinya paling dekat dengan lokasi kita untuk mengurangi ongkir berlebihan. Contohnya saya berada di Jakarta. Saya pun akan mengusahakan untuk mencari toko online yang juga di Jakarta. Di Tokopedia, kita dapat mengetahui lokasi toko online secara detail sehingga kita dapat memilih toko online dengan lokasi terbaik. 


Pilih cara pembayaran yang tepat 

Salah satu kemudahan berbelanja online di Tokopedia adalah dalam hal cara pembayaran. Berbagai metode pembayaran dapat kita gunakan mulai dari Saldo Tokopedia, transfer bank, kartu kredit, cicilan, hingga pembayaran melalui minimarket. Memilih metode pembayaran yang sesuai dengan kondisi keuangan tentu dapat menghemat pengeluaran saat berbelanja online.


Pilih metode pengiriman paling efisien 

Dalam melakukan pengiriman barang yang kita beli, Tokopedia memberikan beberapa alternatif pengiriman, mulai dari pengiriman secara konvensional hingga kurir instan melalui jasa transportasi online. Dalam memilih metode pengiriman ini, kita dapat membandingkan biaya ongkos kirim terbaik di antara metode pengiriman yang ada untuk menghemat belanjaan kita. 


Manfaatkan promo dan diskon 

Promo atau diskon memberikan pengaruh yang signifikan untuk menghemat pengeluaran kita dalam berbelanja online. Di bulan Ramadan kali ini, Tokopedia memberikan kesempatan baru bagi pembeli dalam menikmati bulan Ramadan. Dengan rangkaian promo sepanjang bulan Ramadan yang bisa kita gunakan untuk buat Ramadan kali ini makin Ekstra. 

Makin ekstra lagi, katanya masih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih ekstra! Layaknya festival belanja online “Black Friday”. Bagi yang belum tahu, Black Friday bukanlah sembarang hari Jumat. Karena pada hari tersebut, berbagai toko online biasanya akan memberi diskon besar-besaran. Nah, lalu kejutan seperti apa yang bakal terjadi pada bulan Ramadan Ekstra ini jadi lebih spesial, ya?

Kalau saya, sih, menebak Ramadan Ekstra ini sebagaimana bulan puasa yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Setiap berbuat kebaikan, kita akan mendapatkan ganjaran pahala yang dilipatgandakan. Berarti Tokopedia juga akan memberikan promo dan diskon yang dilipatgandakan setiap kali kita membeli produk-produknya. Lalu saya juga berharap kalau ada promo khusus yang berhubungan dengan keluarga.

sumber: tokopedia


Misalnya paket pembelian sirup, paket kue Lebaran, paket baju Lebaran khusus keluarga, dan seterusnya. Ya, pokoknya agar saya bisa menjadikan Ramadan ini sebagai momen penting bersama keluarga dengan lebih ekstra. Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya cara agar Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang ekstra?
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home