Saat saya baru saja mengunggah foto makanan di Instagram, sekitar satu menit setelah itu, Rani—salah seorang teman perempuan—memberikan komentar, “Gaaa, lu nggak kangen apa sama gue?” 

Membaca komentarnya itu, jelas saya langsung terkejut. Tapi saya nggak kaget tentang perempuan yang bilang kangen terlebih dahulu kepada laki-laki kayak begitu. Saya justru mendukung sekali kalau perempuan mau bilang duluan. Karena “Masa cewek ngomong duluan, sih?” alias patriarki adalah hal bodoh dan kolot buat saya.

Mungkin saya kelewat percaya diri menebak Rani lagi kangen, sebab tiba-tiba bertanya seperti itu. Namun, saya juga punya hak untuk menganggap pertanyaan itu secara nggak langsung ialah ungkapan hatinya kepada saya, yang ia coba siasati agar tidak terlalu menjurus, kan? Terlepas dari hal itu, saya hanya heran apa hubungannya sebuah makanan dengan perasaan rindu yang ia tanyakan di kolom komentar tersebut. 

Anggaplah ketika itu ia mengomentari foto sosis yang saya unggah. Apa yang dia pikirkan tentang sosis sampai-sampai bertanya perihal kangen? Seingat saya, kami nggak pernah makan sosis bareng. Apalagi untuk sosis yang memiliki konotasi negatif “anu”. Astagfirullah. Pembukaan cerita macam apa ini, sih?

Intinya, saya jadi kepikiran suatu hal: gimana caranya bilang kangen dengan sebuah siasat kayak yang Rani lakukan? 

sumber: https://pixabay.com/id/tangan-persahabatan-teman-teman-2847508/

Sialnya, siapa coba orang yang bisa saya rindukan? Saya lagi nggak punya kekasih. Gebetan juga belum ada karena saya masih males mencarinya. Saya pun bingung sendiri. Tapi sejujurnya, sekarang ini terdapat dua hal yang entah mengapa membuat saya kangen. Pertama, saya sedang rindu momen menulis saat terbangun dari tidur pada pagi hari. Lalu yang kedua, saya kangen menulis dengan tema tertentu bersama teman-teman saya yang tergabung dalam grup WIRDY. Mungkin bisa dibilang hal itu sekaligus perasaan rindu saya terhadap mereka. 
Read More
Setelah mendapatkan mimpi buruk, pemuda itu akhirnya terbangun dari tidur lelapnya. Saat masih setengah sadar, ia berusaha melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul satu. Ia tidak perlu bingung sekarang siang atau malam. Suara jam yang berdetak terdengar begitu jelas pastilah malam hari.

Kala sudah betul-betul bangun, ia berusaha mengingat kenapa dirinya tadi bisa ketiduran. Ia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia kemudian mengetikkan empat digit angka untuk membuka kunci ponsel tersebut. Layar sedang menunjukkan sebuah web berisi cerpen yang pengarangnya tidak ia ketahui. Nama itu baru untuknya. Sepertinya ia ketiduran sehabis membaca cerita yang cukup membosankan. Ia pun menaruh kembali ponsel itu di kasur, lalu berjalan ke ruangan depan. 



Di kamar sebelah, ia melihat ayahnya tertidur pulas. Lalu di ruangan depan, ibu beserta adiknya juga tidur sama nyenyaknya. Pemuda itu kemudian mengambil cangkir di meja makan, bermaksud ingin bikin teh.

Selagi menuangkan gula ke dalam cangkir yang sudah berisi air panas, ia mencari-cari sendok dalam kegelapan. Ia tidak ingin menyalakan lampu, sebab takut ibunya nanti terjaga. Setelah sendok itu ketemu, ia aduk searah jarum jam sampai cangkir itu berdenting. Dalam keadaaan remang-remang, matanya mencoba untuk memandangi terus pusaran air itu. Ketika putarannya berhenti, ia mengalihkan pandangan ke wajah ibunya.
Read More
Aku, Beni, Coki, Dodo, dan Erwin sedang bermain monopoli di rumah Dodo. Kami semua adalah teman sekelas di kelas 3 SDN Kemanggisan 01 Jakarta yang kebetulan rumahnya berdekatan. Kami memang cukup sering memainkan permainan monopoli pada hari libur. Pada hari Sabtu yang cerah ini, yang kedapatan tugas menjaga bank ialah aku, lalu sisanya menjadi pemain biasa. 



Setelah permainan berjalan satu jam, Dodo ialah pemain yang paling menguasai permainan. Ia memiliki dua blok dengan harga termahal. Terusnya, perusahaan air dan listrik pun jadi kepunyaannya. Sedangkan Beni mengalami nasib sebaliknya, ia menjadi pemain yang paling miskin. Kalau si Coki dan Erwin keadaannya biasa-biasa aja.

Kemudian, saat Beni mengambil kartu dana umum, ia malah mendapatkan kartu yang isinya harus membayar pajak kepada bank. Aku pun menerima uang dengan tawa yang meledek kesialan Beni. Ketika itu, aku melihat wajah Beni berubah kesal. Sepertinya ia iri denganku yang cuma bertugas menjaga bank dan nggak perlu jatuh miskin. Padahal, kan, sebetulnya kayak gini bosan juga. Bagusnya Beni nggak menjitak kepalaku seperti yang biasa ia lakukan pas lagi kesal. Mungkin Beni lebih sebal sama Dodo.

Sejak tadi, Beni sering banget mampir ke tanah milik Dodo. Ya, kayak begitulah Dodo bisa menjadi yang paling cepat kaya. Mungkin hari ini Beni lagi sial. Atau kebetulan Dodo yang beruntung karena main di rumahnya.
Read More
Pada suatu malam jahanam di sebuah kedai kopi daerah Jakarta Selatan, Agus—salah seorang teman saya—mendadak jengkel ketika ponselnya kehabisan baterai. Apalagi meja yang kami tempati nggak tersedia stopkontak. Ditambah kami berdua juga lupa membawa charger maupun power bank. Alhasil, keadaan itu membuat wajah Agus semakin tidak sedap dipandang. Lalu saya pun berniat untuk meminjamkan ponsel saya kepadanya. Tapi rupanya mulut Agus jauh lebih lincah dan seakan-akan dapat mendengar suara hati saya, sebab dia tau-tau bilang, “Yog, pinjem hape lu bentar buat buka Instagram.”

sumber: https://pixabay.com/id/sosial-jaringan-sosial-ikon-1834010/


Saya pun memberikannya begitu saja tanpa takut dia akan berbuat macam-macam. Tak lama setelah itu, dia tiba-tiba refleks berkata, “Anjing!” yang dilanjutkan dengan tawa. Sehabis mendengar umpatan dan tawanya itu, saya jadi deg-degan dan berpikir yang bukan-bukan. 

Apa gue ketahuan DM-DM-an sama pacarnya? 
Read More
Hari ini, tanggal 24 Mei 2018, saya berulang tahun. Sejak tahun 2012 (di mana saya berumur 17 tahun), entah mengapa sampai tahun 2017 saya pasti selalu mendapatkan kejutan di hari ulang tahun dalam setiap tahunnya. Biasanya kejutan itu datang dari pacar dan sahabat. Kejutan yang saya dapat dari mereka syukurnya belum pernah dikerjain yang aneh-aneh. Misalnya diceplokin telur busuk, kepala ditaburin tepung seplastik, disiram air got, diikat di tiang listrik, dan lain-lain. 

“Yah, nggak seru dong kalo belom pernah diceplokin atau dikerjain kayak gitu. Garing dan biasa banget,” ujar salah satu teman saya. 

Lalu saya pun merespons, kalau kejutan ulang tahun saya selama ini bisa tetap seru tanpa adanya hal tersebut. Apalagi saat mengingat suatu berita yang mewartakan perayaan ulang tahun dengan telur busuk pernah memakan korban. Jangan sampai perayaan ulang tahun yang seharusnya bersuka-ria malah menjadi bencana dan duka cita.

sumber: Pixabay

Read More
Donat

Ketulusan adalah donat
yang rela tak sempurna.

Membiarkan hatinya bolong
demi rasa sederhana.



Katanya, agar kekosongan itu
dapat kauisi dengan kasih-Nya.

/2017

Read More
Selain menjadi bulan yang penuh ampunan dan berkah, atau menjadi bulan di mana saat kita berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan. Bagi saya dan keluarga, bulan Ramadan merupakan bulan yang paling membahagiakan dan istimewa. Apalagi kalau bukan karena kebersamaan dengan keluarga? Saat puasa, kami sekeluarga dapat makan bersama di waktu dan tempat yang sama. Terutama pada saat sahur.

sumber: http://necturajuice.com/tips-menu-sahur-sehat/

Jika bulan-bulan lainnya, kami sekeluarga biasanya akan makan masing-masing. Pada saat makan siang, adik saya makan di kantin sekolahnya; lalu saya di warung makan dekat kantor; ibu saya di rumah; dan ayah saya bisa di rumah bisa juga di kantor (tergantung jadwal kerjanya). Makan malam pun biasanya sendiri-sendiri juga. Meski semuanya berada di rumah, waktu makannya pasti berbeda. Terutama saya yang makan lebih larut dari yang lain. Intinya, kami sekeluarga jarang sekali bisa berkumpul untuk makan. Oleh sebab itu, bulan puasa ini menjadi momen penting bagi saya dan keluarga. 

Pada bulan Ramadan, jenis makanan dan minuman yang ada di rumah pun terasa lebih ekstra. Kebetulan ibu saya selalu berdagang takjil (biasanya berupa bihun, lontong isi, tahu isi, bakwan, kolak) di bulan puasa. Sehingga kami sekeluarga tidak perlu repot-repot atau bingung untuk mencari makanan untuk berbuka puasa. Kemudian, soal minuman juga sama. Kalau yang sehari-harinya hanya bisa minum air putih dingin. Terus sekalinya beli sirup paling cuma satu rasa, yakni rasa pisang ambon. Kala bulan Ramadan, stok sirup di rumah pun jadi lebih beragam. Ayah saya bisa membeli hingga 3-4 botol sirup. Pada bulan puasa kelak akan ada tambahan rasa jeruk, melon, dan coco pandan. Ya, mungkin niatnya buat sekalian nanti Lebaran. 

Berbicara mengenai Lebaran, setelah bulan puasa berakhir kita tentunya akan menyambut hari Lebaran. Lazimnya, kita nanti akan mengenakan pakaian baru saat merayakan Idulfitri. Begitu pun dengan keluarga saya. Sejak saya kecil, keluarga saya pasti memiliki kebiasaan membeli baju Lebaran. Memakai baju Lebaran pada Hari Raya Idulfitri seolah sudah menjadi tradisi di keluarga saya. Bahkan saat puasa baru mulai seminggu saja, entah mengapa ibu saya sudah sibuk menanyakan mau beli baju Lebaran di mana. Kalau saya tetap santai-santai saja dan belum ada niat belanja baju Lebaran, ibu saya pasti akan menanyakannya terus. Lalu menawarkan diri untuk membelikan saya. Ya, ibu saya terkadang suka ribet sendiri. Tapi saya sadar, itulah tanda ia sangat peduli kepada anaknya.

Berhubung saat ini sudah zaman digital, belanja pun bisa di mana dan kapan saja. Saya nggak pengin terlalu merepotkan ibu saya. Saya bisa beli baju sendiri di toko online. Akhir-akhir ini, saya memang lebih menyukai belanja online. Lagian, saya nggak pengin capek-capek ke pasar dan berdesak-desakan ketika bulan puasa. Saya agak malas saat melihat orang-orang yang tidak puasa atau membatalkan puasanya di pasar. Yang dengan santainya menyedot es teh manis dalam plastik. Daripada melihat godaan begitu, mending juga belanja dari rumah. Lebih praktis. Tinggal duduk santai, terus buka ponsel atau laptop. Kemudian lihat-lihat koleksi produknya. Setelah ketemu yang sreg, tinggal pilih dan pesan deh.

Namun, belanja online tentunya juga memiliki beberapa risiko. Bisa terjadi penipuan, lalu barang yang dibeli tidak sama dengan yang ada di gambar. Kemudian, semakin mudahnya memilih barang, kita otomatis akan lebih boros karena khilaf. Kita terbawa hawa nafsu saat berbelanja. 

Mengingat akan bulan Ramadan, kita semestinya sadar kalau puasa itu bukan hanya menahan haus dan lapar. Kita juga harus menahan hawa nafsu lainnya. Termasuk nafsu dalam berbelanja. Tapi tenang saja, sebab saya memiliki tips belanja online hemat kebutuhan bulan Ramadan Ekstra di Tokopedia, yaitu:

sumber: Tokopedia


Bandingkan harga setiap toko online di Tokopedia 

Tokopedia memiliki banyak toko online yang berkualitas, sehingga memungkinkan kita untuk membandingkan harga berbagai produk kebutuhan dengan lebih mudah. Karena terdapat ribuan produk dengan berbagai harga siap untuk dibeli, kita cukup mencari produk yang memang dibutuhkan. Lalu untuk menghemat pengeluaran belanja online saat Ramadan, maka pilihlah produk dengan harga yang tepat dan spesifikasi yang pas. 


Pilih produk berkualitas dari kreator lokal 

Untuk membuat Ramadan Ekstra, bukan berarti harus selalu gunakan barang bermerek dengan harga selangit. Tokopedia, e-commerce dengan produk terlengkap memiliki koleksi berbagai produk hasil kreasi kreator lokal maupun brand terkenal dunia. Kita bisa menghemat pengeluaran berbelanja di bulan Ramadan dengan memilih produk kreasi dari kreator lokal yang hadir dengan kualitas bersaing, tapi tetap dengan harga yang lebih miring. 


Cari toko online terdekat

Saat berbelanja online, komponen biaya yang tak boleh terlupakan adalah biaya ongkos kirim (ongkir). Pilihlah toko online yang lokasinya paling dekat dengan lokasi kita untuk mengurangi ongkir berlebihan. Contohnya saya berada di Jakarta. Saya pun akan mengusahakan untuk mencari toko online yang juga di Jakarta. Di Tokopedia, kita dapat mengetahui lokasi toko online secara detail sehingga kita dapat memilih toko online dengan lokasi terbaik. 


Pilih cara pembayaran yang tepat 

Salah satu kemudahan berbelanja online di Tokopedia adalah dalam hal cara pembayaran. Berbagai metode pembayaran dapat kita gunakan mulai dari Saldo Tokopedia, transfer bank, kartu kredit, cicilan, hingga pembayaran melalui minimarket. Memilih metode pembayaran yang sesuai dengan kondisi keuangan tentu dapat menghemat pengeluaran saat berbelanja online.


Pilih metode pengiriman paling efisien 

Dalam melakukan pengiriman barang yang kita beli, Tokopedia memberikan beberapa alternatif pengiriman, mulai dari pengiriman secara konvensional hingga kurir instan melalui jasa transportasi online. Dalam memilih metode pengiriman ini, kita dapat membandingkan biaya ongkos kirim terbaik di antara metode pengiriman yang ada untuk menghemat belanjaan kita. 


Manfaatkan promo dan diskon 

Promo atau diskon memberikan pengaruh yang signifikan untuk menghemat pengeluaran kita dalam berbelanja online. Di bulan Ramadan kali ini, Tokopedia memberikan kesempatan baru bagi pembeli dalam menikmati bulan Ramadan. Dengan rangkaian promo sepanjang bulan Ramadan yang bisa kita gunakan untuk buat Ramadan kali ini makin Ekstra. 

Makin ekstra lagi, katanya masih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih ekstra! Layaknya festival belanja online “Black Friday”. Bagi yang belum tahu, Black Friday bukanlah sembarang hari Jumat. Karena pada hari tersebut, berbagai toko online biasanya akan memberi diskon besar-besaran. Nah, lalu kejutan seperti apa yang bakal terjadi pada bulan Ramadan Ekstra ini jadi lebih spesial, ya?

Kalau saya, sih, menebak Ramadan Ekstra ini sebagaimana bulan puasa yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Setiap berbuat kebaikan, kita akan mendapatkan ganjaran pahala yang dilipatgandakan. Berarti Tokopedia juga akan memberikan promo dan diskon yang dilipatgandakan setiap kali kita membeli produk-produknya. Lalu saya juga berharap kalau ada promo khusus yang berhubungan dengan keluarga.

sumber: tokopedia


Misalnya paket pembelian sirup, paket kue Lebaran, paket baju Lebaran khusus keluarga, dan seterusnya. Ya, pokoknya agar saya bisa menjadikan Ramadan ini sebagai momen penting bersama keluarga dengan lebih ekstra. Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya cara agar Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang ekstra?
Read More
Saya tahu dan sangat sadar kalau saat ini sudah memasuki bulan Mei. Namun, sajak ini memang awalnya saya tulis pada akhir Februari. Pada bulan yang konon penuh cinta itu. Saya memang payah dalam membuat judul. Oleh sebab itu, jadilah saya bikin judul yang mungkin bagimu tidak ada menarik-menariknya. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menempel di kepala saya setiap kali membaca judul dan sajak yang saya tulis ini:

Seandainya bulan Februari itu telah berakhir, apakah cinta itu juga tidak lagi terasa penuh?



--

Apakah sejak hari itu kita tumbuh menjadi manusia yang berbeda?
Aku dengan segala keluhan yang telah kubakar habis,
hingga lupa cara bercerita dan mengabarkan berita.
Read More
Pada bulan Maret kemarin, Kemkominfo kembali memblokir Tumblr. Selain menggunakan VPN, saya nggak tahu apakah sekarang Tumblr sudah bisa kembali diakses atau tidak. Yang saya tahu, Bolt—provider yang saya gunakan—nggak bisa mengaksesnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti menulis di sana. Berusaha meninggalkan sisi kelam saya. Melupakan cerita gelap apa saja yang pernah saya tumpahkan.



Sejujurnya, saya sedih sekali karena harus meninggalkan media yang menurut saya paling asyik itu. Meskipun saya tahu kalau di sana tulisan saya itu lebih banyak sampahnya daripada di blog ini, setidaknya saya memiliki beberapa alasan untuk selalu mencintai Tumblr ketimbang blog akbaryoga. Inilah daftar alasan saya:

1. Saya sering nggak peduli bagus atau jeleknya tulisan yang saya tampilkan di Tumblr. Padahal tulisannya masih mentah banget atau baru draf satu. Namun, saya memang cuma pengin cerita alias curhat, menuangkan keresahan di kepala, atau latihan bikin puisi. Kapan lagi saya bisa percaya diri bikin puisi tanpa harus takut dibilang doyan galau, puisinya jelek, sok penyair, dan seterusnya itu? Jadi, Tumblr sangat cocok untuk media sementara sebelum saya menyunting dan mengembangkan tulisan tersebut.
Read More
Ketika saya melihat kalender pada bulan Mei, terdapat tiga tanggal merah yang jatuhnya mengakibatkan hari sebelum atau sesudahnya menjadi kejepit. Dalam kondisi seperti itu, biasanya para pekerja kantoran akan merasa tanggung untuk masuk kerja. Akhirnya, beberapa di antara mereka pun memilih mengajukan izin cuti untuk liburan. Begitulah yang terbesit di dalam pikiran saya. Tapi setelah itu terpikir juga hal lainnya, yaitu: “Mau liburan ke mana?”

Mengingat pepatah yang mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma,” saya tiba-tiba jadi teringat pada Bali. Iya, banyak jalan menuju Pulau Dewata. Apalagi kalau dari Jakarta, di mana berbagai sarana transportasi menuju pulau sarat budaya itu begitu mudah, aman, dan nyaman. Mulai dari pakai tiket bus, kereta api, sampai pesawat terbang bisa didapatkan dengan gampang.

Lalu saya pun iseng menyusun rencana liburan musim panas ke Bali. Namun, saya tidak ingin naik pesawat atau kereta api. Sesekali saya mau pakai cara yang anti-mainstream. Alias pakai cara hemat atau ala backpacker. Ya, mungkin inilah saatnya untuk mencoba perjalanan darat, dengan menggunakan bus Antar Kota Antar Provinsi yang lebih memberikan pengalaman. Meskipun saya tahu kalau waktu itu lebih berharga daripada uang. Beberapa teman juga selalu menyarankan untuk naik pesawat agar waktu liburan di tempat wisatanya nanti bisa lebih banyak. Tapi, pengalaman dalam perjalanan itu juga berharga, bukan? Kita pun bisa menuliskan cerita perjalanan ala backpacker itu.


sumber: thejakartapost.com

Lagian, kamu nggak perlu khawatir atau kebingungan bagaimana caranya liburan hemat ke Bali dengan naik bus. Berikut adalah tips mudah untuk backpacking dari Jakarta menuju Bali dengan menggunakan bus.


Read More
Jika nggak mampu menuliskannya dalam bentuk narasi, cobalah tulis dalam bentuk puisi. Begitulah yang saya coba terapkan dari dulu. Ya, kemarinan saya sedang bingung mengisi blog ini dengan narasi. Makanya, dua tulisan terakhir di blog ini berbentuk puisi. Mungkin ada orang lain yang menganggapnya tulisan biasa, tapi seenggaknya bagi saya itu tetaplah puisi.

Buktinya, beberapa komentar yang masuk pada tulisan Aku Ditelan Puisi itu bermacam-macam. Ada banyak makna yang coba mereka mengerti dalam tulisan tersebut. Ada yang mengatakan itu ialah curhatan saya akan rasa putus asa, sendirian, kesepian, kegagalan, kelam, dan gelap. Ada juga yang menebak-nebak kalau saya pengin berhenti menulis puisi. Ada yang mengira saya mau resign jadi bloger dan pindah ke Youtube. Bisa jadi komentar-komentar itu ada benarnya, bisa juga salah. 

Tapi yang saya heran, kenapa nggak ada yang mengaitkannya tentang surat untuk sesuatu hal atau seseorang, tentang patah hati, atau bisa juga tentang putus cinta, ya? Kalau saya yang jadi pembaca, mungkin kata “kau” itu bisa ditujukan untuk teman, mantan kekasih, atau apalah itu. Terus, saya juga pasti berpikir, “puisi” di tulisan itu artinya apa? Apakah “puisi” yang penulis maksud itu dapat diartikan secara harfiah? Bagaimana kalau itu kiasan?

sumber: https://pixabay.com/id/lama-kayu-desktop-model-tahun-3150426/

Lagian, apa tulisan itu betul-betul tentang saya? Bukan tentang keadaan orang lain yang coba saya bayangkan? Kamu bebas memilih kemungkinan-kemungkinan tersebut. Mungkin puisi itu tentang diri saya sendiri. Saya mungkin memilih bersembunyi di belakang kata-kata karena malu untuk jujur. Mungkin juga itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Bisa saja saya habis mendengarkan lagu, membaca buku, menonton film, atau kegiatan lain apa itu, sehingga saya mendapatkan ide untuk menulis puisi. Siapa yang benar-benar tahu kebenarannya?
Read More
Setelah ini aku akan hilang. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, aku ditelan sebuah puisi. Kau tidak perlu lagi melihatku di mana pun. Kau tidak usah lagi membaca omong kosongku. Kau akan terbebas sepenuhnya dari aku, manusia yang hampir memudar.

Aku harap puisi tidak tambah menghancurkanku. Aku pun sebenarnya takut akan kehancuran. Maka, satu-satunya cara agar tidak hancur adalah bertahan hidup dengan harapan. Lalu bagaimana aku bisa kembali kalau puisi sudah telanjur menelanku? Aku tahu, ia belum sempat mengunyahku dan aku hanya perlu mencari cara bagaimana menemukan jalan keluar dari tubuh puisi keparat itu. Dan yang menjadi pertanyaanku: apakah aku sanggup bertahan? Sampai berapa lama?

sumber: Pixabay

Read More
Tentang mati yang menghantuimu.
Tentang mati yang tak bisa lepas 
dari bayang semu.



Tentang mati yang kehadirannya semakin dekat. 
Tentang mati yang terasa jahat.

Tentang mati yang membuat energinya meredup. 
Tentang mati yang takut hidup.

Tentang mati yang tidak lagi bermakna apa-apa. 
Tentang mati yang bingung mencari siapa.

Tentang mati yang menjadi pertanyaan kenapa,
manusia hidup, lalu dijemput maut, lalu dibangkitkan lagi? 
Tentang mati yang menyihirmu abadi. 

/2017

Read More
Julukan “Kecil-Kecil Cabe Rawit” pernah melekat kala saya kelas enam SD. Alasan teman-teman sekelas memanggil saya seperti itu karena tubuh saya yang kecil, tapi sering mendapatkan prestasi di sekolah dari kelas satu. Mungkin seolah-olah saya ini terasa pedas bagi mereka. Saya, sih, cukup bahagia bisa menutupi kekurangan pada fisik saya itu dengan kecerdasan. Tapi entah mengapa ketika itu saya tetap terganggu pada hal negatifnya: “kecil-kecil” alias bertubuh kurus dan pendek.

Saya iri kepada teman-teman lainnya yang pertumbuhannya cepat. Apalagi saya termasuk tiga murid paling pendek di kelas. Saat itulah muncul hasrat untuk bertambah tinggi. Beberapa metode supaya badan bertambah tinggi pun mulai saya coba. Dari yang awalnya rutin minum susu, tapi merasa belum ada perubahan. Lalu mengonsumi minyak ikan, tapi tetap nggak ada perkembangan yang kentara. Kemudian mencoba bermain basket, tetapi wajah saya malah sering disikut teman dan mendadak malas main basket lagi. 

Setelah itu, akhirnya ada salah seorang teman yang menyarankan saya tips paling ampuh, yaitu berenang. Masalahnya, saya nggak tau cara berenang dan takut tenggelam. Terlebih lagi, saya agak trauma karena pernah terpeleset dan tercebur ke dalam empang sewaktu kelas empat SD, saat menemani ayah saya memancing. Tragedi menelan air empang itu telah membuat saya khawatir akan kedalaman air lalu kelelep. Oleh sebab itu, saya jadi nggak berani berenang hingga kelas enam SD.


sumber: galeri pribadi
Read More
Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhidu bau penderitaan
dari tiga kaleng susu beruang yang tandas.
Dari gumpalan tisu penuh air duka.
Dari setiap tetes embun pagi
yang mengalir di tubuh.



Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya bisa kauhirup aroma kesedihan
dari biskuit yang getir di mulut.
Dari semangkuk sayur
tanpa cinta dan air mata.
Dari kipas angin yang dihukum
tidak boleh berputar
sampai seminggu atau mungkin lebih.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Hanya ada bau kesepian dari buku-buku di rak paling atas;
ditaruh paling tinggi, tapi justru paling jarang dibaca.
Dari laptop yang tidak lagi mengetikkan kata,
kalimat, paragraf, dan seterusnya menjadi cerita.
Dari doa yang diam-diam dirapalkan,
semoga dapat menggugurkan dosa.

Tidak tercium wangi kehidupan di kamar ini.
Sejak dulu, pemiliknya malas menggunakan pengharum ruangan.
Katanya, ia bingung aroma apa yang paling cocok
untuk menghidupkan dan menghirup kamar.
Tapi sekarang, ia mulai menyemprotkan wangi puisi.

--

Jakarta, 21 Maret 2018. Gambar dicomot dari Pixabay.
Read More
Cerita sebelumnya: Pesta Netizen

*

“Blogmu yang mana, Bang?” tanya Lukman. 

“Pokoknya yang header-nya gambar otak dan kunci, terus ada tulisan ‘Mengunci Ingatan’ deh,” jawab saya mantap.

Namun, gambar-gambar yang ditampilkan itu ternyata sudah selesai. Hanya ada tiga blog. Nggak ada blog saya di salah satunya. Saya sejujurnya sedikit merasa sedih. Tapi entah mengapa sekaligus merasa begitu lega setelah sadar saya nggak menang. Saya pun refleks tertawa. Mungkin sedang menertawakan nasib ini. 


“Kenapa, Bang?” 

“Blog gue kagak muncul.” 

Ia lalu menepuk pundak kiri saya dua kali dan bilang, “Sabar, Bang. Yang penting jangan nyerah. Suatu hari pasti menang.” 

“Iya, nggak apa-apa.” 

Saya nggak tahu mesti merespons apa selain kalimat itu dan cuma bisa mengamini dalam hati. Pengumuman juara 1-3 pun dibacakan secara dramatis. Saya tetap menyimaknya dengan tenang. Saya tadi merasa lega mungkin karena jantung nggak perlu lagi berdebar nggak keruan. Seenggaknya ini termasuk pencapaian bagi saya, sebab seumur-umur ikut lomba baru kali ini terpilih menjadi finalisnya. Toh, saya juga telah menang melawan diri sendiri. Mengalahkan rasa takut kala mencoba sesuatu.

Jadi, nanti kalau ikut lomba lagi saya bisa lebih santai. Nggak usah terbawa beban seperti yang sudah-sudah kalau saya harus menang. Karena belum bisa memenangkan perlombaan pun ternyata tidak apa-apa. Lalu pengumuman pun berlanjut ke lomba vlog dan film pendek. Para pemenang kemudian diajak foto bersama-sama. 

Sesudah itu, acara berakhir dengan meriah. Kami diberikan kejutan dengan penampilan band Kahitna sebagai penutupan. Saya pun langsung merasa nostalgia. Ya, meskipun saya mesti mengakui jika sudah banyak lupa akan lagu-lagunya. Beberapa orang langsung mengeluarkan ponselnya untuk foto-foto ataupun merekam video. Namun, sebelah kiri saya tidak melakukan itu. Ia menikmati acaranya cukup dengan menyimpannya di dalam otak. Saya kemudian berkata, “Ini mah bukan nonton konser, ya. Nontonin tangan orang-orang.”

Ia lalu tertawa. Menyampaikan pendapatnya kalau momen seperti ini seolah memang sudah wajib untuk direkam, lalu pamerkan ke InstaStory. Apalagi bagi teman-teman sepantarannya. Kala saya bertanya mengapa ia tidak melakukan itu, ia kemudian memberikan jawaban yang sama dalam pikiran saya. Nggak semua hal yang terjadi dalam hidup ini mesti dipertontonkan ke orang banyak. Jika sedikit-sedikit bikin InstaStory, terus di mana letak privasi dan kebahagiaan hakikinya? 

Sehabis kami membicarakan hal sok tahu itu, suasana di panggung semakin memanas. Beberapa orang mulai berdiri dari kursinya dan mendekati panggung. Para vokalis Kahitna juga mengajak para penonton menyanyi bersama. Lukman pun akhirnya pamit untuk bergabung dengan teman-temannya. Jadilah saya duduk sendirian. Nggak tau harus tetap duduk atau ikut bergabung bersama yang lain. Namun, sejujurnya saya ini juga nggak terlalu menyukai jenis musiknya. Tiba-tiba saya merasa asing berada di tempat ini. Saya berniat ingin pulang. Apalagi ketika melihat jam tangan, waktu terasa sudah kemalaman dan saya takut ketinggalan kereta. Saya kemudian bangkit dari tempat duduk dan berjalan meninggalkan area panggung. Di deretan bangku paling belakang, saya melihat Herland dengan temannya sedang asyik ngopi. 

“Lu mau balik?” tanya Herland. “Sertifikat sama uang transport baru bisa diambilnya pas selesai acara.” 

Bangsat. Saya baru ingat kalau para finalis nanti akan mendapatkan sertifikat dari Bank Indonesia. Terus lumayan juga, sih, dapat uang pengganti transport. Lalu akhirnya saya berbohong dan bilang, “Nggak, mau ngambil teh ini.”

Saya kemudian berjalan ke meja prasmanan yang menyediakan kopi dan teh. Kembalinya dari meja itu dengan membawa secangkir teh manis hangat, saya pun duduk di samping temannya Herland. 

“O iya, ini temen gue yang finalis film pendek juga,” kata Herland. 

Kemudian kami berkenalan. Saya kembali menjelaskan kalau saya finalis lomba blog. Ia bertanya, apakah menulis itu hobi saya? Saya pun menceritakan sedikit tentang awal mula menulis dan apa saja isi blog saya. Setelah itu keheningan menyelimuti kami. 

“Kira-kira berapa lagu lagi nih?” tanya saya kepada Herland. 

“Kurang tau juga. Semoga aja ini lagu terakhir.” 

Tebakannya tidak meleset jauh. Lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu sebelum terakhir. Seusai acara, kami bertiga pun bergegas mencari-cari di mana tempat mengambil uang transport dan sertifikatnya. Kami betul-betul dibikin kebingungan hanya demi mendapatkan lembaran kertas bernilai itu. Baik itu sertifikat, maupun rupiahnya (oh, ini mah jelas karena kami cinta rupiah). Apalagi pihak panitianya tidak membalas ketika dihubungi. Setelah keluar masuk gedung dua kali dan sekali bertanya kepada finalis lain, kami akhirnya berhasil menemukan tempat yang dicari-cari. 

Selesai menuliskan nama dan paraf di kertas yang disediakan, saya menerima secarik amplop berisi sejumlah uang yang kira-kira cukuplah untuk makan sebulan. Makan kuaci tapi. Lalu sesudahnya saya pun bermaksud mengambil sertifikat yang sudah dipisah-pisahkan sesuai abjad. 

“Punya saya kok nggak ada ya, Mbak?” tanya saya kepada salah seorang panitia yang mengurusi bagian administrasi ini. 

Ia lalu bertanya siapa nama saya dan mulai membantu mencari-cari sertifikat dengan nama “Yoga”. Bingung karena nama saya tetap nggak ada, Mbak Panitia itu pun menanyakan kepada saya apakah sudah mengirimkan data diri pada bulan Februari? Saya kemudian menjelaskan tentang email yang telat masuk itu. Sehingga saya pun terlambat mengirimkan datanya. 

“Ya udah, ini saya kasih sertifikat yang namanya kosong. Mas tulis aja sendiri namanya. Maaf ya, sebelumnya.” 

“Oh, nggak apa-apa, Mbak. Makasih.” 

Sekali lagi, saya mengucapkan tidak apa-apa. Padahal dalam hati ini saya agak kecewa. Atau mungkin bukan agak lagi, tapi memang kecewa. Cuma, ya sudahlah. Entar di sertifikat, kan, saya bisa mengisi sendiri dengan nama sesukanya: “Yoga Akbar Sholihin (Bloger Ganteng Idaman yang Belum Bisa Memenangkan Lomba. Fak Perlombaan!)” 

Saya terus cengengesan sendiri membayangkan hal itu. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, kayaknya nama itu nggak muat deh. 

Di pintu keluar, saya berpisah dengan Herland dan temannya. Mereka berdua membawa kendaraan pribadi. Saya sendiri kudu berjuang melawan letih dengan naik kereta komuter. Di sepanjang perjalanan, saya tiba-tiba menertawakan nasib konyol ini. Dari yang awalnya mendapatkan pengumuman menjadi finalis lomba yang infonya terlambat. Sehingga data diri yang saya kirim tersebut berakhir dengan sia-sia, sebab tidak ada nama saya di daftar sertifikat itu.

Saya turun di Stasiun Manggarai. Dengan cepat saya segera bertanya kepada salah seorang petugas kereta api, apakah kereta yang melintasi Stasiun Palmerah pada pukul setengah dua belas malam ini masih ada? Ia menjawab kereta pada jam terakhir itu tujuan akhirnya ialah Stasiun Tangerang. Saya nanti bisa turun di Stasiun Tanah Abang. Kalau kereta ke arah Serpong—yang juga melewati Palmerah—sepertinya sudah nggak ada. 

Di stasiun itu, jadilah saya pasrah menunggu kereta terakhir dan nantinya turun di Stasiun Tanah Abang. Saya lalu mencoba menelepon orang rumah untuk menjemput di Tanah Abang. Tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin sudah pada tidur. Kereta terakhir itu pun telah tiba, saya langsung menaikinya.

Begitu keluar dari Stasiun Tanah Abang, saya melihat jam tangan yang jarumnya menunjukkan kalau waktu hampir berganti hari. Keadaan trotoarnya masih cukup ramai. Terdiri dari beberapa pedagang, bapak-bapak nongkrong, dan pelacur. Ada sedikit rasa ngeri ketika berjalan tengah malam sendirian begini. Saya terus memandang ke depan dengan langkah cepat tanpa melirik ke arah mereka. 

Saya terus berjalan sampai ke jalanan yang biasanya dilalui angkot. Saya sudah hampir sepuluh menit menunggu, tapi saya belum juga melihat angkot dari kejauhan. Saya pun memutuskan berjalan kaki lagi. Tak lama setelah itu, saya mulai mendengar suara kendaraan. Saya menoleh. Sesuatu yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Saya lalu naik angkot. Turun di tempat yang sudah cukup dekat dengan rumah, terus berjalan kaki lagi. Sesampainya di rumah, saat saya membuka tas dan ingin mengeluarkan isinya. Saya melihat sertifikat yang sudut-sudutnya terlipat dan lumayan lecek. Ya ampun. Haruskah saya bilang tidak apa-apa kali ini? Saya pun ingin menertawakan nasib lagi.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/mengapa-tanda-tanya-unknown-2028047/
Read More
“Kamu nggak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya.” 

Begitulah kalimat yang tertera di buku tulis SIDU (Sinar Dunia). Sayangnya, walaupun sudah paham betapa pentingnya berani mencoba, saya terkadang tetap saja ketakutan ketika mencoba sesuatu. Terutama dalam mengikuti perlombaan besar. Belum apa-apa saya udah jiper duluan. Mental saya seolah masih belum kuat, atau memang anaknya gampang pesimis. 

Namun pada akhir tahun kemarin hingga awal tahun ini, saya lagi getol-getolnya mencari info perlombaan dan ikut meramaikannya. Saya ingin lebih berani dan nggak mau terus-terusan cemen. Lalu di antara beberapa lomba yang saya ikuti tersebut, saya sangat menunggu pengumuman lomba “Cinta Rupiah” yang digelar oleh Bank Indonesia—yang bekerja sama dengan Netmedia. 



Saat saya mengecek website cintarupiah.id, saya justru baru tahu kalau lombanya diperpanjang. Kemudian saya lihat jumlah peserta yang mengikuti lomba blog itu: kurang lebih berjumlah enam ratus. Waduh, banyak banget. Hadiah untuk juaranya padahal hanya tiga; juara 1 sebanyak 12 juta, juara 2 sebesar 8 juta, dan juara 3 senilai 4 juta. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya belum sekali pun meraih kemenangan dalam lomba besar. Apalagi lomba ini yang pesertanya keterlaluan banyak. Kemungkinan menangnya pasti tipis sekali.
Read More
A proverb said that life is just a game, so we should play it. Yet, we know that every human being is a creator of its game to fulfill their life. Usually, we will play a game when we have a leisure time or even we are in saturated condition. It is known that there are many kinds of game, either traditional game: petak umpet, kelereng, congklak, and gobak sodor; or modern game such as Nintendo, PlayStation, Mobile Game, and Computer Game. I’ve been playing both games since I was elementary school, indeed modern games.

source: Pixabay

At that time, I used to play Mario Bros, a plumber man in Nintendo; Harvest Moon Back to Nature, CTR (Crash Team Racing), Tekken 3 and many more in PlayStation 1. Time by time, with the increase of technology, I have been starting to play a game through my cellphone. Snake and Space Impact for instance, those are the game that I used to play in Nokia 3310. Back then, I just knew that the function of cellphone is just for texting and calling until the rise of cellphone that has been designed to play a game, that was N-Gage. It was a prove that many people like to play a game. 

As time goes by, internet started to dominate and support us to play a game. From mobile game that could be freely download in Waptrick, until games which are really popular now, such as Get Rich, Clash of Clans, Mobile Legends, and so on. So do game that has been been designed for computer. 

Read More
Pada bulan Januari lalu, saya perhatikan banyak yang membuat tulisan “30 Hari Bercerita”. Baik itu ia yang menuliskannya di blog, maupun di caption Instagram. Ketika itu, saya sendiri justru memilih tidak membuka aplikasi Instagram selama sebulan. Alasannya, sih, karena lagi irit kuota dan berusaha mengurangi kegiatan membuka media sosial. Lalu sebagai gantinya, saya juga mesti bikin tiga puluh tulisan. Ya, saya berusaha mencoba menerima tantangan itu.



Bedanya, tulisannya itu saya pendam sendiri saja dan tidak dipublikasikan. Saya sangat sadar kalau diri saya nggak bisa menulis langsung jadi. Entah mengapa, saya memiliki kebiasaan untuk mengendapkannya beberapa lama. Barulah setelah itu saya baca ulang, edit, baca ulang lagi, edit lagi, begitu terus berulang-ulang sampai saya sreg. Bagi saya ini terasa bodoh, sebab untuk betul-betul menarik dibaca pasti memakan banyak waktu dalam menyuntingnya. 

Namun, banyak yang berpendapat kalau mengedit memang jauh lebih lama daripada menulis itu sendiri. Menulis draf awal, kan, yang penting bisa membuang segala kata-kata yang ada di kepala tersebut. Urusan kalimatnya bagus, enak dibaca, dan tersusun rapi belakangan saja. Saya pun sepakat dalam hal ini. Oleh sebab itu, saya nggak pengin terburu-buru menyajikan tulisan yang masih terasa mentah.

Mungkin yang akan jadi pertanyaan ialah, terus di mana tantangannya kalau tulisanmu nggak ditampilkan? Bisa dibilang, saya merasa tertantang karena ingin mengalahkan diri saya sendiri. Bukan sebagai bukti kepada pembaca bahwa saya rajin atau pujian apalah itu. Toh, yang penting saya tetap menulis sehari sekali dalam bulan Januari. Biar diri saya sendiri saja yang tahu. 

Sesudah itu, datanglah persoalan lain, yakni jenis tulisan apa yang ingin saya buat? Kalau terlalu acak dan tidak memiliki tema itu kok kurang menantang. Kalau kayak begitu, ya setiap hari saya juga sudah sering menuliskannya di catatan ponsel atau bloknot. Lalu, terpilihlah salah satu tema: musik. Awalnya, saya memang pengin menuliskan lagu-lagu yang belakangan ini sedang saya sukai. Saya juga mau belajar mengulas. Saya pun telah menyiapkan beberapa daftar lagu untuk ditulis. Sayangnya, ternyata cukup banyak orang yang telah membahas lagu pada hari pertama itu. Saya kemudian membatalkannya begitu saja. Saya merasa cemen banget. Banyak alasan. Sok beda. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Tanggal 1 Januari sudah memasuki waktu malam, tapi saya belum tahu harus mencari tema lain dan dalam keadaan bingung untuk menulis. Syukurnya, pada pukul 23.00 atau menjelang tidur saya kepikiran untuk membuat puisi. Sajak itu cukup pendek dan nggak sampai sepuluh baris. Begitu kelar, tiba-tiba tercetuslah ide untuk bikin puisi dalam sebulan ini. Ya, meskipun sebenarnya saya sempat kepikiran pengin menulis cerpen atau fiksi kilat sehari satu. Tapi pas saya pikir-pikir ulang, sepertinya gagasan itu terlalu berat. Mungkin lain waktu deh. Lagian, dalam urusan menulis saya termasuk orang yang paling kesulitan saat menciptakan puisi ketimbang cerpen. Ini bisa menjadi tantangan sekaligus cara belajar buat saya. Pilihan pun telah ditentukan. Mantap.

Jadilah saya bikin puisi setiap hari. Seminggu pertama lancar banget. Bahkan, tiga puisi awal sempat saya unggah ke blog ini dengan judul Sajak Tahun Baru. Minggu kedua saya mulai tersendat. Bingung rasanya mau bikin puisi apa dan bagaimana biar bagus, sebab biasanya inspirasi untuk menulis sajak datangnya pas saya lagi sedih banget atau terlalu bahagia. Pokoknya dalam keadaan yang nggak wajar. Jika kondisinya lagi biasa-biasa saja, sungguh susah banget taik.

Terus, kebanyakan puisi yang saya buat pasti 1-2 bait aja. Jarang banget saya bisa bikin tiga bait atau lebih. Minggu ketiga saya semakin merangkai kata yang ala kadarnya. Asalkan ada rimanya, saya anggap itu udah bagus. Asli, itu pemikiran yang tolol sekali. Akhirnya, puisi-puisi saya seragam. Kurang eksperimen. Nggak ada perubahan dan terlalu mengandalkan rima. Menulis karena dipaksakan begitu menyebalkan juga, ya.

Sejak merasa jengkel akan puisi tersebut, bukannya berhenti mengikuti tantangannya, saya malah mulai mencari-cari referensi di internet. Entah mengapa saya merasa begitu bodoh atau udah kadung ikutan dan nggak mau menyerah. Sebelumnya, saya telah membaca dan memiliki buku-buku puisi Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, dan Adimas Immanuel. Lalu berkat internet, saya menemukan puisi yang tidak mengandalkan rima. Ada beberapa penyair yang akhirnya saya suka puisi-puisinya. Tapi dari semua itu, saya paling naksir sama puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo. Terutama dua sajak berikut ini. 

DEWA TELAH MATI 

Tak ada dewa di rawa-rawa ini 
Hanya gagak yang mengakak malam hari 
Dan siang terbang mengitari bangkai 
pertapa yang terbunuh dekat kuil. 

Dewa telah mati di tepi-tepi ini 
Hanya ular yang mendesir dekat sumber 
Lalu minum dari mulut 
pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. 

Bumi ini perempuan jalang 
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa 
ke rawa-rawa mesum ini 
dan membunuhnya pagi hari. 


LAHIR SAJAK

Malam yang hamil oleh benihku 
Mencampakkan anak sembilan bulan 
ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu 
membawa dosa pertama di keningnya. 

Tangisnya akan memberitakan 
kelaparan dan rinduku, sakit dan matiku. 
Ciumlah tanah 
yang menerbitkan derita.
Dia  adalah nyawamu. 


Setelah membaca beragam puisi yang tidak melulu ketergantungan akan bunyinya, saya pun dapat lebih luwes menuliskan puisi sampai Januari berakhir. Saya juga nggak menyangka kalau belasan puisi saya itu, kelak saya pilihkan yang terbaik, saya revisi, saya minta tolong kepada teman-teman WIRDY untuk memberikan penilaian, dan saya kirim ke salah satu media. Walaupun sepertinya puisi saya itu ditolak, seenggaknya saya telah berhasil menantang diri saya lebih dari yang saya kira. 

Bermula dari iseng-iseng ikut tantangan “30 Hari Menulis”, eh saya malah punya stok puisi dan ide tulisan. Tulisan saya yang membahas musik itu pun akhirnya saya lanjutkan kembali. Lalu jadilah tulisan Musik sebagai Teman Menulis dan Musik sebagai Teman Membaca. Ada gunanya juga tantangan kayak gitu. Mungkin ke depannya saya pengin menantang diri lagi seperti pada bulan Januari. Apa kira-kira yang akan terjadi nantinya? Melahirkan buku kumpulan cerita barangkali? Siapa yang tahu? Semoga saja nggak malas.

Dan, untuk menutup tulisan ini, lebih baik saya tampilkan dua buah puisi sisaan bulan Januari lalu deh. Itu pun kalau masih pantas disebut puisi. Mau gimana lagi, puisi-puisi terbaiknya (tentu saja penilaian menurut saya sendiri) sudah saya kirimkan ke media itu. Jadi adanya hanya remah-remah begini. 

Kenapa Menulis Puisi? 

“Kenapa kau menulis puisi?” tanyamu, ketika kita sedang berdiskusi. 
Aku pun bergeming cukup lama. 
Hingga akhirnya menjawab, “Aku suka menciptakan rima.” 

“Tapi puisi tak hanya soal itu,” katamu tidak puas. 
“Apa jawabanku harus lebih jelas?” 

Kau mengangguk dan menanti kejujuran
yang keluar dari mulutku. 
Tapi lidahku malah mendadak beku. 

“Kalau kau tidak ingin menjawabnya, tak apa-apa.” 
“Karena puisi bisa mengisi pikiran dan jiwaku yang hampa.”


Di Ujung Lidah 

Di ujung lidahku 
tak akan ada kata yang terucap. 
Ia telah dibawa pergi kuda berpacu. 

Di ujung lidahmu 
tak akan ada makna yang terbaca. 
Ia telah dibungkam oleh penyanyi layar kaca. 

Di ujung lidah kita 
keheningan akhirnya bertemu. 
Menjadi ciuman ganas yang mendangkalkan ilmu. 

--

Gambar saya pinjam dari https://pixabay.com/id/model-tahun-kesedihan-sedih-depresi-2373083/
Read More
—Untuk WIRDY

*

Pukul sembilan pagi, Darma Haryanto baru saja selesai sarapan bubur ayam. Hanya bubur putih polos plus ayam suwir yang dibelikan ibunya setengah jam yang lalu. Tidak seperti bubur ayam biasanya yang ia pesan; yaitu memakai kecap, kuah kuning, cakwe, seledri, bawang goreng, kerupuk, dan lain-lain. Ia mau tidak mau mesti memakan bubur ala kadarnya itu, sebab tubuhnya sedang sakit dan mulutnya terasa sangat pahit. 

Sekitar lima belas menit sesudah meneguk air putih, ia bermaksud untuk tidur lagi agar kesehatannya cepat pulih. Saat ia baru saja berusaha memejamkan mata, masuklah satu pesan WhatsApp di ponselnya. Ia pun segera mengecek pesan itu, yang ternyata dari Nisa Wulandari. Ia ialah salah satu temannya yang kenal dari dunia maya sekitar 2 tahunan lalu dan masih akrab sampai sekarang, bahkan dapat dibilang mereka bersahabat. Pesan itu berupa: “Kamu udah sebulan lebih nggak ngeblog. Aku kangen baca tulisanmu. Keadaanmu baik-baik aja kan, Dar?” 



Darma Haryanto sebetulnya tidak ingin ada yang tahu kalau dalam tiga hari ini dirinya kurang sehat, tapi ia entah mengapa sulit berbohong kepada Nisa Wulandari. Ia selalu teringat akan janji yang pernah Nisa Wulandari bilang: Jangan pernah ada kebohongan di antara kita. Selagi mengingat kalimat omong kosong dalam pertemanan seperti itu, sekonyong-konyong ingin membuatnya muntah. Namun, berkata jujur tentu tidak ada salahnya. Toh, siapa tahu nanti mendapatkan doa dari temannya itu dan bisa membantu kesembuhannya. Oleh karena itu, Darma Haryanto membalas dengan sejujurnya, “Proyek kerjaan lepasku bulan kemarin lagi banyak-banyaknya, Nis. Belum sempet nulis lagi. Terus di akhir proyek aku terlalu kecapekan, jadi sakit deh sekarang.” 

Setelah itu, Nisa Wulandari langsung ceramah betapa pentingnya menjaga kesehatan, jangan lupa minum multivitamin ketika kerjaan sedang padat, istirahat yang cukup, dan seterusnya, dan sebagainya. Mereka pun saling balas-balasan pesan dan berujung Nisa Wulandari akan datang menjenguknya nanti sepulang dari kantor. Darma Haryanto kemudian meletakkan ponselnya ke meja di dekat kasurnya dan kembali untuk beristirahat. 

Pukul tiga sore Darma Haryanto terbangun dari tidur. Ketika sedang sakit begini, ia entah mengapa malas memainkan ponsel. Ia justru bermaksud mengambil salah satu buku yang ada di raknya. Ia sebenarnya bingung ingin membaca buku apa. Jika dalam keadaan lemah begini, untuk membaca yang berat-berat seperti buku filsafat atau esai politik rasanya pasti ia tidak sanggup. Novel-novel sudah semua ia tamatkan. Kumpulan cerpen sedang kurang berminat. Jadilah ia mengambil buku puisi Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja

Darma Haryanto terkagum-kagum dengan puisi yang berjudul “Masa Kecil Langit”, ia lalu membacakannya dengan suara yang dibuat-buat dan penuh gaya. 

“Besok pagi, ketika kau bangun dan menemukan langit di depan jendelamu. Lupakan seluruh jadwal kerja yang menguras jiwamu dan jadilah bunga-bunga. Biarkan ia mewarnaimu. Ajak ia menyusuri jalan menuju masa kecilmu dan biarkan ia pergi ketika kau sudah sampai. Ia tidak tahu membuatmu kehilangan. Ia tidak bisa melupakan jalan menuju tempat tidurmu.” 

Lalu ia tersenyum bermaksud memuji dirinya sendiri. Ia membaca lagi halaman demi halaman, lalu kembali terpikat dengan puisi berjudul “Memimpikan Hari Libur”, terutama di bagian: 

Aku bangun seperti hujan yang pulang ke langit. 
Kepalaku tidak berada di tempat yang tepat. 
Aku berjalan ke kamar mandi bersama potongan-potongan mimpi. 

Mentang-mentang baru bangun tidur, Darma Haryanto berpikir kalau puisi-puisi yang terdapat kata “bangun” begitu cocok untuk menghibur dirinya yang sedang sakit ini. Setelah merasa lebih baik, ia berjalan ke ruang tengah dan melihat masakan ibunya. Ia harus makan agar tubuhnya semakin membaik. Di meja tersedia sayur bening bayam dan tempe goreng. Lalu ia menyiapkan nasi beserta sayur dan lauk. Tidak lupa segelas besar air putih. Kemudian, ia membawa piring dan gelas tersebut ke kamarnya.

Sebelum makan, Darma Haryanto menyalakan laptopnya dan memutar film animasi Gintama. Akhir-akhir ini, ia ketagihan akan anime yang direkomendasikan salah satu teman kerja lepasnya kemarinan itu. Kini, ia menonton film animasi itu sambil makan. Begitu kelar makan, ia tidak langsung menaruh piringnya ke cucian piring. Ia sudah nyaman dengan posisinya dan terhanyut akan tontonan. 


Beberapa jam kemudian, tepat pukul delapan malam, ada yang mengetuk pintu rumah Darma Haryanto dan mengucapkan salam. Darma Haryanto dapat mendengarnya samar-samar. Ia menebak kalau itu suara Nisa Wulandari. Di rumahnya, ia hanya bersama ibunya, Bu Rahayu. Ayahnya belum pulang bekerja, sedangkan adik perempuannya yang SMP katanya lagi mengerjakan tugas kelompok sekolahnya di rumah teman dan pulangnya nanti pukul sembilan. 

Darma Haryanto mendengar ibunya membukakan pintu dan menyuruh masuk. Mempersilakan Nisa Wulandari segera ke kamar saja. Bu Rahayu sudah mengenal Nisa Wulandari, sebab ia memang sudah beberapa kali main ke rumah. Sesampainya di kamar Darma Haryanto, Nisa Wulandari rupanya membawa plastik yang berisi dua kaleng susu beruang dan sebungkus roti tawar. Nisa Wulandari duduk di pinggiran kasurnya. 

“Kamu kenapa segala bawa tentengan, sih? tanya Darma Haryanto. 

“Kamu sendiri kenapa bisa sakit?” balas Nisa Wulandari. 

Keduanya tertawa bersamaan. Awalnya Darma Haryanto menceritakan asal muasal tentang sakitnya itu. Ia dalam sebulan belakangan ini memang sedang mengambil kerjaan lepas untuk menjadi penulis konten dan mengurus admin media sosial salah satu start up di Jakarta Pusat. Ia diminta untuk menggantikan salah satu pegawainya yang lagi fokus mengerjakan tesis. 

Seminggu pertama, sih, betul-betul terasa menyenangkan dan menantang. Tapi hari-hari berikutnya ia berpikir kalau bekerja di tempat semacam itu sungguh membuatnya stres. Ia jadi selalu pulang tengah malam. Masuk pukul 9 pagi, pulangnya bisa pukul 9 atau 10 malam. Pokoknya kalau ada lemburan, ia bisa bekerja 12 jam atau lebih. Sayangnya, hampir setiap hari ia mesti lembur. Lembur atau tidak lembur sudah tidak ada bedanya lagi di kantor tersebut. Seolah kantor itu menyalahi aturan pekerjaan yang mestinya hanya 8 jam bekerja. Mana upah lemburnya juga terlalu murah, bahkan kadang nggak dibayar.

Ide-ide di kepalanya terkuras habis untuk pekerjaan kampret itu dan tidak sempat lagi mengisi blognya sendiri. Lebih-lebih di akhir bulan ini sangat memeras tenaga dan pikirannya. Akhirnya, ia pun tumbang. Menurut penjelasan dokter di salah satu klinik yang ia datangi, dirinya terserang gejala tifus.

Setelah terkena sakit begitu, betapa kesalnya Darma Haryanto dengan pekerjaan yang merangkap-rangkap dan ada tambahan di luar dari tugasnya itu. Awalnya, pekerjaan Darma Haryanto itu hanya bikin lima puluh artikel dalam sebulan dan bantu-bantu brainstorming. Lalu, tiba-tiba atasannya memberikan tugas tambahan untuk memegang salah satu akun media sosial karena karyawan yang bertugas sebagai admin media sosialnya mulai keteteran.

Lebih konyolnya lagi, kadang ia juga mesti membantu desain semenjak atasannya mengecek akun Instagram-nya yang terdapat beberapa gambar desain. Darma Haryanto tentu hanya iseng mendesain untuk pelariannya sewaktu jenuh menulis. Namun, atasannya itu berkata kalau desainnya cukup ciamik. Kala Darma Haryanto berusaha menolak, Pak Bos segera memakai kalimat ampuh yang sulit ditolak, “Hasil desainnya nanti juga bisa untuk portofolio kamu, kan?” 

Berengsek betul. Ia merasa Pak Bos mulai memanfaatkannya. Tapi pekerjaan sudah kadung ia ambil. Seorang Darma Haryanto kudu melakukan pekerjaannya dengan profesional. Sebetulnya, ia agak menyesal juga kalau tahu akan begini jadinya. Jika saja sedang tidak benar-benar butuh uang tambahan saat itu, mungkin tawaran kerja sebulan penuh itu tidak akan ia terima. Toh, ujung-ujungnya sebagian gajinya malah habis untuk berobat, serta membeli susu beruang dan pil cacing. Sama saja menukar kesehatan dengan uang, pikirnya. Baguslah sekarang pekerjaan itu telah selesai dan ia tidak perlu repot-repot masuk kerja dalam keadaan loyo setengah mampus. 

Sehabis Darma Haryanto curhat, mereka berdua pun terus lanjut mengobrol dari ini sampai itu. Sampai-sampai Darma Haryanto mengeluhkan kalau hari ini sudah terlalu banyak tidur-tiduran maupun tidur betulan. Dan, malam ini pasti jadi sulit untuk tidur. Saat itulah, Nisa Wulandari tiba-tiba bilang kalau dirinya dapat membantunya untuk tidur pulas. 

“Gimana caranya, Nis?”

Nisa Wulandari tidak menjawab dan segera memulai metodenya. Ia menyembunyikan tangan kanannya ke balik selimut yang Darma Haryanto kenakan untuk menghangatkan badannya yang menggigil itu. Tangan Nisa Wulandari kemudian masuk ke celana pendek Darma Haryanto, masuk lagi ke celana dalamnya, dan berakhir menemukan sesuatu yang memang ia cari-cari. Setelah itu, Nisa Wulandari mengelus tongkat saktinya. Ia pun mengocoknya perlahan-lahan. 

“Nis, kamu ngapain? Kamu gila, ya! Kalau ibuku tahu gimana?” 

“Ngomongnya jangan kenceng-kenceng, tolol! Lagian tenang aja, sih, ibumu sedang fokus menonton sinetron Jodoh Wasiat Ayah tadi.” 

“Tapi kita nggak wajar melakukan—“ 

“Kamu tapi suka, kan? Ini buktinya tegang,” ujar Nisa Wulandari, lalu menyeringai. “Palingan kamu kalo susah tidur juga biasanya kayak gini dengan tanganmu sendiri. Iya, kan?” 

Darma Haryanto tidak menjawab dan merasa malu. 

“Udah, pokoknya nikmatin aja. Sesekali aku bantuin pakai tanganku. Kamu tiduran aja deh biar semakin rileks.” 

Darma Haryanto pun tiduran sembari menatap wajah Nisa Wulandari yang manis dan menggemaskan itu. Lalu memperhatikan rambut lurus hitamnya yang sebahu. Menurut Darma Haryanto, bentuk wajah Nisa Wulandari sangat cocok dengan rambut seperti itu. Kemudian tatapannya turun lagi ke lehernya yang putih. Lalu turun lagi ke gunung kembarnya. Darma Haryanto pun tau-tau membayangkan hal yang jauh lebih dari ini. Ia benar-benar sadar kalau hal ini tidak benar. Apalagi membayangkan kalau Nisa Wulandari akan berbuat yang lebih gila. 

Darma Haryanto berusaha mengingatkan Nisa Wulandari untuk berhenti, tapi ia sendiri tidak dapat membuang pikiran-pikiran kotornya. Tubuhnya pun sulit sekali menolak kenikmatan itu. Kali ini gantian hatinya berkata, kalau apa yang tengah mereka lakukan saat ini tidak benar. 

“Nis, kenapa kamu jadi kayak gini ke aku? Kita nggak berada dalam cerpen Haruki Murakami, kan?” 

“Kamu kebanyakan baca dan nulis fiksi, Dar. Udah diem aja dan nikmatin.” 

“Tapi kenapa harus kayak gini?” 

“Anggap saja ini bentuk rasa sayangku ke kamu.” 

“Hah?” 

Darma Haryanto jelas tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ia sekali lagi ingin menyudahi perbuatan bodoh ini, tapi semakin lama berahinya juga semakin susah untuk dikendalikan. Akhirnya, cairan itu pun keluar banyak sekali. Nisa Wulandari langsung membersihkan tangannya yang lengket itu dengan mengusapnya ke celana dalam Darma Haryanto. Tubuh Darma Haryanto seketika itu langsung lemas dan Nisa Wulandari pamit pulang. 

“Makasih, ya,” ujar Darma Haryanto lirih. 

Nisa Wulandari cuma tersenyum dan keluar dari kamar Darma Haryanto. Kamar yang penuh dosa. Mata Darma Haryanto kala itu otomatis terpejam, tapi ia masih mendengar suara saat Nisa Wulandari berpamitan pulang kepada ibunya. Setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi dan kesadarannya pun hilang. Ia tidur sangat nyenyak malam itu. 


Darma Haryanto terbangun pukul 05.10 karena alarmnya berbunyi. Bangun-bangun, ia langsung mempertanyakan kejadian semalam. Apakah itu nyata atau mimpi? Namun, ia betul-betul merasa itu bukanlah mimpi. Untuk memastikannya, ia mengecek pesan dari Nisa Wulandari yang dikirimkan pukul tujuh malam. 

“Aku mendadak ada lemburan sampai jam sembilan nih. Mungkin baru sampai tempatmu jam 10 atau setengah 11. Takut kemaleman. Besok aja kali, ya? Maaf banget.” 

Jadi, yang semalam itu mimpi? 

Darma Haryanto sebetulnya tidak akan menyangka kalau hal gila semalam tersebut betul-betul terjadi secara nyata. Ia pun merasa bersyukur. Sejauh ini, ia tidak pernah macam-macam dengan perempuan, kecuali memeluk atau cium pipi. Seraya membuang gambaran kotor di mimpinya, Darma Haryanto lalu mengabari Nisa Wulandari jika lebih baik bertemunya hari Sabtu pagi saja di sebuah taman dekat rumahnya. Hari Jumat ini, ia sudah merasa agak baikan dan tak perlu dijenguk. Ia mulai berani mandi. Ya, meskipun menggunakan air hangat. Lagi pula, ia terpaksa mandi sebab mimpi basah semalam. Hari Jumat ini, ia tidak banyak kegiatan. Setelah Jumatan, ia pun memilih untuk tidur lagi. Pokoknya hari ini mesti fokus beristirahat demi besok semakin pulih dan dapat menepati janji untuk bertemu Nisa Wulandari. 


Keeseokan harinya pada pukul 10 pagi, Darma Haryanto sudah berada di taman tempat mereka janjian untuk berjumpa. Nama taman ini ialah “Taman Gemini”. Entah mengapa nama taman ini bajingan banget, pikirnya. Hanya karena taman ini terbentuknya pada awal bulan Juni, kenapa harus diberikan nama zodiak? Kayak nggak ada nama lain aja. Tapi, apakah sebuah taman juga memiliki zodiak? Kelamaan menunggu seperti ini terkadang membuat pikirannya ngawur. 



Lalu ia duduk di salah satu bangku panjang di taman itu yang dekat dengan pintu masuk. Taman Gemini ini terdapat belasan bangku panjang yang berjumlah antara 16 atau 18. Darma Haryanto sudah lupa jumlah tepatnya. Ia pun sedang malas menghitung ulang. Ia kemudian melupakan persoalan jumlah bangku di taman ini dengan memperhatikan salah satu bagian taman yang memanjakan matanya. Ia memandangi warna hijau, yang sudah pasti adalah rumputnya; kuning, yang merupakan bunga legistrum; dan ungu, entah apa nama bunganya sebab ia memang tidak banyak tahu nama-nama bunga. Ia berpikir, beberapa taman di Jakarta biasanya akan selalu ada bagian taman yang dihias dengan tiga warna itu. Bentuk rumput dan bunganya pun selalu sama. 

Tak lama setelah itu, Nisa Wulandari datang menyapanya dan duduk di sebelah kanannya. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru telur asin. Ia menutupi kaki indahnya dengan celana denim hitam dan sepatu Converse putih. Tercium aroma parfum menyegarkan. Nisa Wulandari pernah berkata kalau wangi parfumnya itu ialah paduan antara bunga anyelir dan lili putih.

“Maaf ya, aku telat datang. Tadi sama ibuku disuruh beres-beres dulu baru boleh pergi.” 

Darma Haryanto hanya terdiam. Nisa Wulandari pun menganggap kalau Darma Haryanto bete kelamaan menunggu. Ia melihat jam tangannya, terlambat 40 menit dari jadwal yang telah mereka sepakati. Ia meminta maaf sekali lagi. Darma Haryanto masih bergeming. Sudah tiga kali meminta maaf dan tidak mendapatkan respons, Nisa Wulandari pun menyerah. Akhirnya, keheningan mulai menyelimuti mereka.

“Aku beneran kaget diriku masih bisa ngerasain sakit,” kata Darma Haryanto membuka percakapan. 

Mendengar kalimat nggak jelas dari mulut temannya itu, Nisa Wulandari langsung kesal. Rasa jengkel karena tadi dicuekin itu juga cukup menambah kemarahannya, lalu ia bilang, “Kamu ini tolol ya, Dar? Semua manusia jelas bisa sakitlah. Emang kamu itu dewa? Malaikat? Sendok? Kertas? Bantal?”

“Guling,” potong Darma Haryanto. 

“Eh, aku tadi juga mau bilang itu!” 

Keduanya pun tertawa bersamaan. Darma Haryanto lalu bercerita kalau dirinya sudah berbulan-bulan sebelumnya tidak pernah sakit. Baru kali ini ia sakit kembali. Cukup parah pula sampai terkena gejala tifus. Kemudian Nisa Wulandari coba mengaitkan hal itu tentang kebiasaan Darma Haryanto yang sebelum-sebelumnya selalu rajin menumpahkan perasaannya ke dalam tulisan. Membuang pikiran-pikirannya dari hal buruk konon bisa menjauhkan dari penyakit. Nisa Wulandari lalu mengutip salah satu artikel yang pernah ia baca, “Menulis itu merupakan terapi jiwa. Segala sakit awalnya berasal dari pikiran kita sendiri. Dengan menulis, pikiran kita bisa jernih. Pikiran dan jiwa yang sehat tentu bikin tubuh tidak gampang terkena penyakit.” 

“Iya, ya. Kalau dipikir-pikir betul juga,” ujar Darma Haryanto. 

“Makanya kamu nulis lagi dong, Dar. Menulis yang memang untuk diri sendiri, bukan nulis untuk pekerjaan.” 

“Aku bingung mulainya, Nis. Udah coba nulis, tapi hasilnya jelek mulu. Mau curhat aja rasanya kaku.” 

“Ya, kayak yang pernah kamu bilang waktu itu aja. Menulis dari keresahanmu.” 

Darma Haryanto lalu menjelaskan tentang dunia blog yang semakin sepi, yang memberikan komentar sedikit, trafik menurun parah, dan seterusnya. Kelamaan menunda untuk menuliskan sesuatu ternyata bikin dirinya sulit memulai kembali.

“Udah tulis aja dulu. Jelek, kan, nanti bisa diedit. Aku akan selalu menjadi pembaca setia tulisanmu. Baik nantinya memberi komentar di blog, japri di WhatsApp, ngomong langsung, maupun cukup membacanya saja.” 

“Kamu kurang kerjaan, Nis.” 

“Aku justru butuh pelarian dari pekerjaanku itu dengan membaca. Aku nggak mungkin, kan, baca buku pas kerja?” 

Darma Haryanto mengangguk. “Iya, lalu?” 

“Aku palingan cuma bisa curi-curi waktu baca satu-dua artikel blog. Dan, biasanya tulisan-tulisanmu di blog itulah yang entah kenapa selalu bisa membuatku rileks lagi dalam bekerja. Tulisanmu menghilangkan jenuh.”

“Kamu berlebihan.”

“Aku sungguh-sungguh memuji tau. Hm, tapi aku ngomong kayak gitu nggak ada maksud apa-apa, ya. Kamu jangan ge’er atau gimana-gimana.” 

Darma Haryanto lalu diam saja. Ia teringat mimpinya pada malam itu dan ingin memberi tahu Nisa Wulandari kalau dirinya sempat mengatakan tentang bentuk rasa sayang yang disampaikan lewat perbuatan kacau itu. Namun setelah ia pikir-pikir lagi, mungkin lebih baik untuk merahasiakannya. Biarkan hal itu tersimpan menjadi mimpi paling indah sekaligus aneh.

Lagian, tidak mungkin Nisa Wulandari suka kepadanya. Karena ia memang hanya sebatas sahabat. Darma Haryanto pun merasa tidak ada perasaan lebih dari itu, sebab kalau dari awal berniat untuk bersahabat, ya pastilah bisa sahabatan. Walaupun beberapa orang suka bilang jika perasaan bisa tumbuh dalam persahabatan. 

Ia pun menyingkirkan pikiran sahabat jadi cinta itu sejauh mungkin, tapi gambaran ketika tangan Nisa Wulandari membuatnya enak dan perkataan “Anggap saja itu bentuk rasa sayangku ke kamu” muncul kembali. Mimpi bajingan itu betul-betul mengganggu pikirannya. 

Cuaca pukul sebelas siang semakin panas, bagusnya tempat mereka duduk dipayungi beberapa pohon palem segitiga. Pohon itu lumayan memberikan hawa sejuk. Tapi Nisa Wulandari mulai mengeluhkan gerah dan mengajak Darma Haryanto membeli es krim. Di dekat tempat mereka duduk memang terdapat beberapa penjual makanan; pedagang mi ayam, pedagang cilok, pedagang otak-otak, dan pedagang es krim. 

Nisa Wulandari memilih es krim Magnum, sedangkan Darma Haryanto es krim dalam cangkir kecil rasa cokelat dan vanila. Mereka kembali duduk di bangku panjang tempat duduknya semula dan menyantap es krim itu. Kemudian Nisa Wulandari bertanya, “Pulang dari taman ini kamu bakalan menulis lagi, Dar?” 

“Mungkin kupikir begitu.” 

“Entah kamu tetep bertahan untuk vakum berapa lama lagi. Tapi aku mau mengingatkan satu hal: meskipun blog lagi sepi, bukankah kamu bisa jadi salah satu yang rajin? Jangan malah ikut-ikutan males.”

“Dibilang aku beneran bingung harus mulai dari mana, Nis.”

“Saat udah lama nggak nulis, mulailah dari tulisan yang sederhana. Yang singkat-singkat saja untuk sebuah permulaan.”

“Eh, kalimatmu barusan seperti twit ...,” kata Darma Haryanto berusaha memikirkan siapa orang yang pernah menulis kalimat sok tahu seperti itu. 

“Hayo, siapa?” 

“Hm, Akbar Yoga Sulaeman, bukan?” 

Nisa Wulandari mengangguk. Mereka berdua kemudian membicarakan si bloger yang terkenal hobi curhat dan cuek cenderung masa bodoh setiap menulis tersebut. Bloger yang berkali-kali ikut lomba, tapi belum juga mendapatkan kemenangan dalam setahun terakhir ini. Bodohnya, ia masih terus menulis dan mempelajari tulisan-tulisan para pemenang lomba itu agar suatu hari juga bisa menang. Ia sudah lama nggak dapet tawaran kerja sama pula, tapi ia tetap gigih ngeblog dengan sepenuh hati karena ngeblog bukan perkara uang. Yang terpenting dirinya puas dan bahagia setiap selesai menulis. Hal itu sudah lebih dari cukup baginya. Akhirnya, Darma Haryanto mendadak merasakan api semangatnya berkobar kembali. Pulang dari taman ini ia tahu harus melakukan apa untuk menjernihkan pikiran.

--

Gambar saya pinjam dari Pixabay.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home