Satu Tahun

11 comments
Aku bingung harus bersikap seperti apa ketika hubungan sudah mencapai satu tahun. Aku mungkin membenci perayaan semacam ini. Apakah harus bahagia dan bersyukur sebab bisa bertahan sejauh ini? Namun, kupikir akan lebih penting setelah hari ini. Aku enggak tahu harus memberimu apa. Apa cukup dengan lewat kata-kata tidak jelas seperti ini? Atau, kamu mau ditambah dengan beberapa puisi? Yang terpenting, aku ingin berterima kasih karena kamu masih di sisi.

Mungkin saat ini uangku tidak cukup banyak untuk membelikanmu apa-apa. Maka, aku cuma bisa meracik kata yang entah apa artinya. Tapi yang kutahu, aku selalu merayakan segala macam kesulitan dengan puisi.

Ketika sedang sakit, puisi bisa mengobatiku sedikit-sedikit. Kala ikut lomba dan tidak menang, puisi pun bisa membuatku lebih tenang, juga senang. Dan saat seperti sekarang ini: miskin, puisi bisa menjadikanku lebih yakin. Yakin untuk berusaha dan berjuang lebih keras dari sebelumnya. 

Maaf, kalau aku masih begini-begini saja. Tapi setelah ini, aku ingin memperbaiki semuanya. Dari pertama kita kenal, kamu pun tahu aku sudah banyak gagal. Banyak orang yang melihatku seolah-olah ada cap gagal di kening. Maka, aku pun tertunduk malu. Agar tak ada yang memperhatikan wajah sedih dan murungku. Namun, entah kenapa kamu tidak memperlakukanku begitu dan malah menyambutku. Aku tidak tahu mesti mengungkapkannya bagaimana lagi lewat tulisan di selembar kertas yang hampir habis ini. Tapi rasanya aku masih butuh satu atau dua kalimat untuk menutupnya. 

Jadi, semoga kita bisa lebih kuat dari hari ke hari. Dari hati ke hati. 

Jakarta, 16 September 2017 

-- 

PS: Lagi iseng buka folder tulisan lama, lalu saya menemukan surat—yang awalnya saya tulis tangan di selembar kertas, kemudian menyalinnya ke catatan ponsel—untuk seorang kekasih. Ceritanya surat ini saya gunakan sebagai pengantar, apa maksud saya memberikannya sebuah buku puisi: Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Seandainya dia kurang mengerti isi buku itu, saya hanya berharap dia dapat memahami niat baik saya. Walaupun saya kurang suka dengan perayaan seperti hari jadi begitu, dan sering masa bodoh sampai-sampai pihak perempuannya mungkin akan bertanya, “Kita tanggal jadiannya kapan, sih?”; saya cuma ingin berusaha membuat dia tersenyum—syukur-syukur juga bahagia. 

Buat seseorang yang saya maksud dalam tulisan ini, maaf kalau saya justru menjilat ludah sendiri. Saya gagal menjadi kuat, kemudian memilih pergi. Namun, rasanya kalimat terakhir saya itu bisa memiliki makna lain ketika saya baca lagi sekarang. Meskipun tidak menjadi “kita” lagi, tapi saya yakin masing-masing dari kami tetap bisa menjadi lebih kuat saat sendiri. Mungkin hati kami sama-sama patah, tapi sesudah itu pasti akan sembuh dan terbentuk kembali dalam wujud yang lebih kokoh.




Buat diri saya sekitar satu tahun silam, terima kasih. Karena kamu blog ini jadi ada romansanya lagi. Berengsek!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

11 comments

  1. padahal seneng nih ada tulisan romansa lagi. gue kira ini cerpen. eh bukan ternyata pak.
    patah hati lagi coba, yog.
    hahaha

    ReplyDelete
  2. Patah hati lagi? Coba lagi bro! HAHAHA

    ReplyDelete
  3. Postingan nostalgia yang bangke banget yakin. Menginspirasi sih, ngubek kenangan pahit, cuma buat nguji masih pahit apa udh manis.

    Bisa juga postingan ini kayak meteran. Kalo 2017 diukur 1 meter, terus kalo sekarang masih 1 meter, kan 🐕 hahahaha. Lanjutkan perjuangannya bro jadi kuat.

    ReplyDelete
  4. satu tahun perayaan bahagia, kini hanya menjadi nostalgia~
    selamat bertualang kembali bung!

    ReplyDelete
  5. Wuuuiiihh bang yogs tulisannya sungguh manis.
    I know what u feel :))

    ReplyDelete
  6. Lebih kyut kalo pake puisi tauk mas. Dari pada yang pake barang-barang mewah atau kencan di resto mehong hehe. Lebih berasa tulus an lewat puisi. Coba terus mas woyo

    ReplyDelete
  7. Obat patah hati adalah jatuh cinta lagi.

    ReplyDelete
  8. Zaman masih anak sekolah, gue pernah ngasih kado tulisan buat pacar. Isinya full tulisan gue. Alasannya sama kayak lo, pengin bahagiain tapi miskin. Huhu.

    Itu waktu SMP. Waktu SMK lebih gila lagi, gue jadi lebih sering ngasih tulisan. Entah udah berapa buku yang gue kasih ke dia. Mulai dari yang isinya curhatan gue tentang hubungan kami, puisi, sampai beberapa kisah galau ketika putus (dikasih pas balikan).

    Hidup penulis miskin! \m/

    ReplyDelete
  9. Wailah kalo orang gagal ada capnya di dahi, saya masih bisa selamet. Soalnya tintanya agak nyaru sama kulit saya haha.

    Asyik, sebuah ungkapan kata untuk seseorang yang dulu pernah singgah di hati. Tapi apakah yang menyebabkan kedua hati tak menetap? Layak ditunggu kelanjutannya wkwk

    ReplyDelete
  10. "Mungkin hati kami sama-sama patah, tapi sesudah itu pasti akan sembuh dan terbentuk kembali dalam wujud yang lebih kokoh."

    Pasti. Aaamiin. Semangat, Yogs. Hidup move on!

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.