Suatu kali dalam hidupnya yang jauh dari kata sejahtera, Raka Bagoy pernah berusaha mencermati hal-hal positif dari segala sesuatu yang menimpanya. Begitu pun mensyukuri apa yang dia miliki. Kala itu, kehidupannya dalam sekejap terasa seratus kali lipat lebih baik. Seberapa pun kacaunya perekonomian, semua tak jadi masalah lagi. Mau bagaimana lagi, toh krisis ini memang menyerang berbagai pihak. Setidaknya, dia masih bisa makan berkecukupan sampai akhir tahun nanti jika melakukan penghematan seketat-ketatnya. Tak apa untuk sementara ini lebih mengencangkan ikat pinggang, siapa tahu pada kemudian hari akan muncul kesempatan baik selama dia terus bertahan. 




Tak ada sedikit pun dia tergoda dengan kondisi di luaran sana; teriakan “paket” dari kurir beserta bunyi ketukan dari salah satu pintu tetangganya, suara desahan sepasang kekasih yang indehoi dari kamar sebelah kanan tiap malam Minggu, senyuman manis anak gadis sang induk semangnya, serta foto-foto makanan maupun liburan yang dipamerkan di Instagram.

Hiburannya selama tidak keluar ruangan tentu mendengarkan musik asyik via Youtube seperti biasanya, supaya dirinya dapat merasakan apa itu karunia Tuhan. Salah satu lagu itu bagaikan menerbangkan ingatannya kembali ke masa bocah saat ibunya pernah mengajaknya tamasya ke Taman Mini Indonesia Indah, lalu dia gembira bukan main pada hari itu sebab bisa merasakan sensasi unik sewaktu naik kereta gantung. Lagu lain membawanya pada masa remaja, persisnya kala dia pertama kali bisa bergandengan tangan bersama pacar. Ada pula lagu lain yang menyeretnya jauh ke dunia fiksi. Dia menjadi protagonis dalam anime Parasyte, yang mulai berpikir bahwa beberapa manusia bisa lebih jahat ketimbang monster ataupun iblis. Namun, dia sendiri tetap bisa menjadi seorang manusia yang perlahan-lahan memahami sekaligus peduli pada makhluk-makhluk lain di sekitarnya. Agar dia bisa menerapkan falsafah memanusiakan sesama manusia.



Pokoknya, semua lagu yang Raka dengarkan itu terasa sangat oke. Tak ada racun-racun negatif yang menyerangnya. Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai rileks dalam menikmati hidup. Akan tetapi, semuanya buyar begitu saja dalam seketika lantaran tetangga sebelah kirinya tiba-tiba memutar lagu Hindie - Secukupnya dengan pengeras suara dan volume maksimal.

Persetan, tak ada satu pun yang perlu Raka syukuri dari kehidupan bajingan anjing semacam ini. Menganggur, orang tua bercerai, kini kudu tinggal di indekos kumuh dan murah dengan sisa tabungan, apalagi mesti bersebelahan dengan manusia sialan yang selera musiknya buruk. Lebih baik aku mendengar bunyi desahan orang ngewe, pikirnya. Dia pun bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin hidup bisa terasa cukup? Keinginan manusia terus menumpuk setiap harinya, bukan?

Raka semakin mengeluh betapa hidup terasa sia-sia kalau menjadikan lagu jelek semacam itu sebagai terapi dan penyembuhan diri. Apakah tetangganya itu tak mampu menemukan cara lain? Jika memang suatu lagu bisa menenteramkan hati dan pikiran, paling tidak, tolonglah pilih lagu yang benar-benar ciamik. Seolah-olah tak ada lagu lain yang lebih bagus di dunia ini untuk menghibur diri. Andaikan orang itu sudah tak bisa terselamatkan lagi, pikir Raka, maka pakailah earphone. Jangan bunuh para tetanggamu dengan menulari sisi rapuhmu lewat lagu-lagu sendu yang amburadul.

Raka menjeritkan asu, tetapi musik masih tetap dimainkan. Raka pun beristigfar seratus kali. Upaya terakhir yang bisa Raka lakukan: menempelkan kertas bertuliskan “Hindie tai, berhentilah kau mendengarkan lagu mereka pakai speaker” di depan pintu tetangganya yang bedebah itu. Seandainya cara itu masih gagal juga, barangkali sudah saatnya Raka pergi dari indekos dan kembali ke rumah orang tuanya. Adakalanya keluh kesah, omelan, dan khotbah dari mulut orang tua masih jauh lebih asyik didengar daripada kupingnya harus dijejali lagu-lagu busuk.

--

Sebagian kisah hidup Raka Bagoy dan pandangannya tentang musik dapat dilihat di: Musik Asyik.

Gambar dicomot dari Pixabay serta SS anime, lalu dimodifikasi menjadi hitam putih serta penambahan teks.

Read More
Malam ini terasa begitu jahat. Malam yang membuatku lupa bahwa masih ada hari esok. Jam tanganku kini menunjukkan pukul 23.40. Mengapa aku saat ini tengah berada di Kafe Joni, Bulungan, Jakarta Selatan? Apa yang membuatku datang ke sini?




“Mau ke mana, oi, buru-buru?” ujar salah seorang lelaki ketika aku sedang mengantre di meja kasir untuk memesan minuman. Saking lamanya menunggu, tanpa sadar aku tadi melamun dan bertanya-tanya kepada diri sendiri. Suara lelaki barusanlah yang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh dan mencari sumber bunyi itu. Terdapat empat orang yang berada di meja yang sedang kupandangi. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua tampak seumuran dan berpenampilan khas anak muda. Sepertinya usia mereka juga tak jauh beda denganku, kisaran 20-25.

Aku tak bisa menebak siapa di antara mereka berdua yang berbicara tadi. Aku justru terfokus pada sepasang kekasih yang beranjak bangun dari kursinya. Sepertinya pasangan inilah yang tadi diledek buru-buru pulang. Si cowok yang bersama ceweknya itu lantas berkata, “Biasalah, malam Jumat.”

Kedua laki-laki yang masih asyik duduk itu pun tertawa keras. Apanya yang lucu, sih? Tidakkah pengunjung lain dapat mendengarnya dan merasa risih?

Agus, kawan yang datang bersamaku, tiba-tiba menyikutku dan berkata pelan di dekat telingaku, “Cowoknya jelas udah enggak tahan tuh, Git, ceweknya montok banget begitu.”

Aku sesungguhnya sudah mengerti apa yang mereka maksud, tapi aku berusaha untuk mengontrol pikiranku agar tidak membayangkan yang aneh-aneh. Sialnya, Agus memperjelas segalanya. Aku jadi ingin muntah.

Bisa dibilang aku datang ke kafe ini hanya ingin melepas stres akan kehidupanku yang belakangan ini terasa bobrok. Siapa tahu dengan menerima ajakan Agus main kemari, aku bisa membicarakan beberapa hal tentang permasalahan hidup yang rumit kepadanya, lalu pulang ke rumah dengan lebih lega. Beban hidupku nanti bisa terbuang sebagiannya lewat percakapan-percakapan pada malam busuk ini.

Selain alasan itu, aku senang dengan suasana kafenya. Kafe ini berada di ruangan terbuka, musik yang diputar terfilter dengan baik dan cocok dengan telingaku, kasir dan baristanya ramah, serta harga minumannya cukup terjangkau. 

Bodohnya, aku lupa dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa datang kapan saja. Pikiranku justru bertambah mumet setelah melihat kehidupan malam di sini. Aku merasa bukan bagian dari mereka.

Pantesan ceweknya mau, Git, ternyata cowoknya bawa BMW, ucap Agus sekelarnya kami memesan minuman dan duduk di meja yang letaknya dekat dengan parkiran. Aku sengaja tak mengindahkan perkataannya. Tapi Agus tetap meneruskan kalimatnya: Ah, coba aja kalau aku yang punya mobil sekeren itu, aku yakin gampang banget dapat cewek kayak dia. Aku bisa dapat empat sekaligus.

Sekalipun itu cuma candaan atau perkataan spontan akibat dari hal-hal yang mungkin kita cemburui, aku tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut temanku. Aku sejak tadi berusaha menghindari pikiran-pikiran buruk. Aku hanya ingin menenteramkan pikiran. Aku tak mau sok tahu dengan kehidupan orang lain yang tidak kukenal. Namun, mengapa secara tak langsung malah muncul penghakiman-penghakiman dari apa yang terlihat oleh mata?

Barangkali temanku merasa bahwa dirinya lebih tampan daripada lelaki yang tadi dia komentari, sehingga bisa mendapatkan perempuan aduhai semacam itu lebih dari satu. Aku benar-benar tak ingin menilai orang lain seperti yang Agus lakukan barusan. Itu bukanlah tugasku. Tapi memiliki hobi aneh dengan menjadi pengamat setiap manusia yang kutemui rasanya sialan juga. Kebiasaan semacam ini tak pernah hilang sejak aku masih bocah.

Aku mengerti bahwa Agus baru saja patah hati empat hari lalu, tak bisa tidur, masih kepikiran mantan pacarnya, makanya dia mengajakku ke sini untuk mencurahkan isi hatinya atau mengelabui kesedihannya. Yang tidak aku habis pikir, Agus merendahkan orang lain yang tak ada kaitannya. Marah itu tentu hal yang wajar. Masalahnya, kalau menjadikan orang lain, bahkan orang asing, sebagai samsak dengan mengejek seperti tadi, kupikir tidaklah tepat. Salurkan kemarahanmu tanpa harus merugikan orang lain. Biarpun aku juga sadar bahwa orang yang dibicarakan Agus itu tak akan mendengar maupun mengetahuinya, tapi bisakah dia menyimpannya sendirian? Jangan membahasnya kepadaku, sebab kepalaku sudah kelewat penuh dengan hal-hal jahanam.

Aku sebenarnya sudah berusaha menyanggupi jika mendengar kisah Agus tentang patah hatinya, atau dia ingin mengutuk mantan pacarnya yang memilih lelaki lain, atau apa punlah yang masih ada sangkut pautnya. Aku tak keberatan sama sekali. Anehnya, baru mendengar celetukan semacam tadi saja aku sudah tak kuat. Apakah ada yang salah dengan diriku pada malam ini?

Vanilla latte atas nama Agus dan Hazelnut latte atas nama Sigit?” ujar seorang pramusaji mengantarkan minuman ke meja kami.

Betul, Kak, kataku sembari mengucapkan terima kasih dan tersenyum.

Aku segera meminumnya sampai berkurang seperempat gelas. Lumayan pahit. Sepahit kenyataan sewaktu mendengar kabar tentang kematian kedua orang tuaku setahun silam dari pihak rumah sakit. Katanya, orang tuaku kecelakaan, lalu saat dibawa ke rumah sakit terdekat dan ingin segera ditindak, keduanya malah terlalu cepat mengembuskan napas terakhirnya. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi untuk menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku. Ikhlaskan, ujar pihak rumah sakit itu, sudah jadi takdir Tuhan.

Kesimpulan yang kutangkap bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi: motor yang dinaiki mereka berdua tertabrak oleh mobil BMW yang pengemudinya diduga dalam keadaan teler. Ibu dan ayahku terpental hingga terluka parah. Motornya hancur. Bagian depan mobilnya penyok bukan main.

Masih terekam jelas di memoriku ketika setahun silam, persis jam segini, orang tuaku mengabarkan dan meminta maaf kepadaku lewat telepon karena terpaksa pulang larut sehabis silaturahmi dari rumah kerabat di daerah Lenteng Agung. Aku menjawab tak apa-apa serta bilang hati-hati di jalan. Apesnya, baru sampai kawasan Pasar Minggu mereka malah tertimpa tragedi.

Anjing, sedih banget rasanya mengingat momen yang satu itu. Terus yang lebih membuatku nelangsa tentu si penabrak yang bisa-bisanya menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang. Dia tidak dipenjara karena salah satu keluarganya merupakan anggota dewan. Dia memberikan uang ganti rugi kepadaku sebesar puluhan juta, tapi harga itu jelas tak ada tandingannya dengan nyawa kedua orang tuaku.

Aku teramat bingung, harus kuapakan uang sebanyak itu? Apakah aku perlu menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi bajingan tengik tersebut? Bagusnya, itu cuma sebatas gagasan tolol. Aku langsung teringat kedua orang tuaku ketika mereka pernah diperlakukan semena-mena oleh salah seorang tetangga biadab. Mereka tak pernah mengajarkanku untuk membalas dendam. Sejahat apa pun orang sama kita, kata ayahku, tak ada untungnya membalas perbuatan mereka. Ibuku juga menambahkan, itu cuma kepuasaan sesaat yang akhirnya akan kita sesali sepanjang hayat.

Beberapa bulan selanjutnya, berhubung aku sangat menderita selepas kehilangan orang tua, aku pikir dengan menyumbang sebagian uang itu ke panti asuhan bisa mengobati rasa kehilanganku. Bisa berbagi kebaikan kepada segelintir manusia yang senasib denganku. Ternyata hal-hal semacam itu tak kunjung menghapus rasa sakitnya.

Sialan, aku kudu menyalahkan siapa atas kecelakaan terkutuk itu? Kenapa orang tuaku tak memutuskan menginap saja pada malam itu, sih? Mengapa mereka pergi terlalu cepat, lalu meninggalkanku sebatang kara begini? Aku tak punya adik maupun kakak. Tak ada yang bisa kuajak berbagi kesedihan saat mendengar berita duka itu. Bahkan kerabat yang merasa bertanggung jawab pada peristiwa itu juga cuma peduli pada 40 hari awal. Setelah seratus hari mereka tak muncul lagi dalam acara tahlilan. Begitu pula dengan satu tahunan tadi. Batang hidung mereka tak tampak. Tentu aku tak bisa menyalahkan mereka. Mungkin mereka juga punya kesibukannya masing-masing. Namun, tak adakah satu orang pun yang bisa menghiburku pada malam berengsek ini?

Aku kira Agus tadinya bisa mengerti kondisiku. Dia mengajakku pergi agar bisa membuatku tenang. Dapat membuatku lupa sejenak akan kondisi rumah yang sepi. Rumah yang semula terasa nyaman, lalu kini begitu hampa. Berada di rumah terlalu lama selalu mengingatkanku akan kegembiraan-kegembiraan bersama keluarga. Apa karena aku anak semata wayang, sehingga rumah terasa begitu istimewa untukku? Di tempat itulah orang tuaku selalu mengasihiku dengan kasih sayang terbaiknya. Aku tak tahu, apakah anak yang memiliki adik maupun kakak bisa mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku? Apakah anak emas lainnya juga bernasib sama sepertiku? Entahlah. Aku hanya merasa belum sanggup hidup tanpa orang tua secepat ini. Sebelum aku bisa menikah, memberikan cucu kepada mereka, atau bikin mereka bangga sekaligus bahagia.

Gelagatku sudah menunjukkan betapa malasnya diriku mengomentari pasangan yang tadi. Sayangnya, Agus cuek saja. Dia hanya peduli terhadap masalahnya sendiri. Tanpa bisa membaca bahasa tubuhku, bahwa aku juga sedang berantakan.

Selepas Agus merasa puas memuntahkan unek-uneknya, dia pun mengajakku pulang. Tanpa sempat mempersilakanku gantian bercerita. Kulihat pergelangan tangan kananku. Jam menunjukkan pukul 01.19. Ya sudahlah, hari kian larut. Lebih baik pergi dari tempat ini.

Minuman yang kupesan tadi tidak kuhabiskan, masih tersisa setengah. Tak satu pun masalah dalam hidupku yang akhirnya dapat terucap. Aku tak bisa mengurangi rasa sesak pada rongga dada ini. Kacau, malam ini terasa benar-benar gelap bagiku. Adakah malam yang lebih kelam dari hari ini? Aku tak punya jawaban. Aku belum sanggup menengok masa depan. Sejauh yang kutahu, belum ada kegelapan yang dapat menutupi cahaya. Baru malam ini saja cahaya itu seolah-olah berhenti datang.

Konon semua manusia membutuhkan kegelapan demi menemukan cahaya. Jika memang cahaya itu bernama harapan, aku berharap pasangan yang tadi naik BMW bisa mendengar cacian Agus. Mereka pun murka dan menabrak kami dalam perjalanan pulang. Menghabisi nyawa kami. Aku bahkan tak terlalu peduli jika menjadi korban tabrak lari. Aku justru bisa menyusul kepergian orang tuaku, bukan?

--

Draf cerpen yang terlalu lama dipendam sejak 2018.

Gambar dicomot dari Pixabay.
Read More

Catatan 10 November 2018. Disalin dari buku harian Novita Andini, Berjuang dengan Rendah Hati.

--



Aku habis membaca ulang novel The Catcher in the Rye, karya J. D. Salinger, dan menemukan kalimat bagus berikut: “Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu.”


Setahun yang lalu berarti aku belum pantas disebut dewasa, sebab aku terlalu idealis dan bisa dibilang bersedia mati untuk menggapai satu hal: bekerja di bidang tulis-menulis atau menghasilkan pemasukan utama dari sana.

Sekarang ini aku sebetulnya juga masih belum tahu apakah sudah pantas disebut dewasa atau belum. Usiaku sudah 23 tahun, tapi aku masih saja tinggal bersama orang tuaku. Menyusahkan mereka. Belum lagi aku termasuk jarang membantu membayar tagihan air maupun listrik. Aku ini terbiasa menggunakan penghasilanku untuk kebutuhan pribadi saja.

Namun, jika patokan dewasanya hanya berdasarkan kalimat bagus di novel itu, aku kini tentu sudah bisa dikatakan demikian. Aku telah berdamai dengan diri sendiri. Sudah mencoba bersikap realistis saja jadi manusia. Aku berusaha untuk bekerja apa pun yang dapat menghasilkan uang. Lagi pula, diam-diam di dalam diriku itu masih ada impian yang tetap terjaga agar suatu hari nanti dapat mencapainya.

Sebelumnya sih aku sudah pernah berjanji kepada diri sendiri buat bekerja di mana saja, asalkan itu tak berhubungan dengan akuntansi, asuransi, bank, pajak, staf keuangan, dan sejenisnya. Jujur saja, aku termasuk payah dalam menangani angka-angka. Tapi sialnya, sewaktu aku sudah coba melamar ke beberapa bidang lain selain tulis-menulis dan pengecualian barusan, aku masih saja gagal.

Terakhir kali aku mencoba melamar sebagai resepsionis hotel pun tak diterima. Rasanya ditolak mentah-mentah, padahal seleksinya belum sampai proses wawancara. Setelah mengirimkan surat lamaran lewat email, mulanya para calon karyawan disuruh datang ke perusahaan untuk interviu, lalu disuruh menunggu di sebuah ruangan, hingga nama-nama mereka disebutkan buat pindah ke ruangan lainnya, sedangkan nama yang tak dipanggil dipersilakan pulang. Namaku, Novita Andini, tak diucapkan oleh staf HRD itu. Aku disuruh pulang tanpa pernah diberikan penjelasan. Tapi aku sadar diri, aku kurang cantik alias pas-pasan, bahkan barangkali jelek.

Biarpun aku tahu bahwa diriku ini kurang tinggi dan menarik buat dipandang, tapi kan aku masih bisa memakai sepatu hak tinggi dan merias diri secara maksimal demi menyiasati kekuranganku itu. Toh, aku masih bisa berkomunikasi dan melayani tamu dengan baik. Aku mampu membuktikannya. Naasnya, aku tak diberi kesempatan buat wawancara dan mempraktikkan bagaimana ramahnya diriku dalam melayani tamu.

Mengapa syarat menjadi resepsionis harus berparas cantik, sih? Apakah si pengunjung hotel akan batal menginap seumpama dia menemukan resepsionis yang kecantikannya tak memenuhi standar? Sebetulnya apa yang dijual oleh sebuah hotel? Mereka itu ingin memesan kamar beserta fasilitas pendukungnya, kan? Yang dibutuhkan tentu pelayanan dan kenyamanan saat menginap. Apakah ada hal lainnya? Atau jangan-jangan ada pelayanan hotel khusus, yang mana resepsionisnya bisa sekalian dipesan? Entahlah.

Lantaran pengalaman buruk itu pun aku bersedia mengambil kerjaan apa saja tanpa gengsi. Menurutku memang tidak ada yang salah dengan suatu pekerjaan, selama itu halal dan tidak merugikan orang lain. Aku tak malu bekerja sebagai pencuci piring di suatu rumah makan. Aku tak keberatan juga menjadi petugas kebersihan. Aku bahkan tak perlu malu dipanggil pekerja serabutan. Kalau enggak begitu, aku mau memperoleh pemasukan dari mana?

Apa aku harus mengemis? Aku merasa jauh lebih baik melonte. Meskipun hal itu pada akhirnya juga tak akan sudi kulakukan. Aku tahu bahwa mengemis dan melonte itu sama-sama mengorbankan harga diri demi uang. Namun, melonte itu termasuk bekerja yang memerlukan banyak usaha dan risikonya. Dosa, dipandang rendah sesama manusia, tertular penyakit kelamin, digerebek polisi biadab yang ujung-ujungnya minta jatah jika ingin bebas, dan seterusnya. Pekerjaan melacur itu enggak gampang. Tak seenak kelihatannya atau dipikir kebanyakan orang kalau kerjanya cuma mengangkang. Aku pernah mendengar cerita dari salah satu temanku yang menjadi pelacur, katanya ada situasi di mana dia kudu memuaskan berahi pelanggan dengan permintaan yang aneh-aneh. Disuruh goyang striptis dulu, misalnya. Belum lagi jika pelanggan itu bau badannya kayak comberan. Ingin protes dan menghina, itu berarti kehilangan uang. Siap-siap dimarahi oleh muncikarinya.

Aku rasa beberapa lonte mungkin sadar dengan apa yang dilakukannya itu salah, tetapi mungkin mereka sudah terjebak di dunianya. Atau justru mereka sudah kelewat bingung harus bekerja apa lagi demi sesuap nasi karena saat melakukan pekerjaan normal sebagai pramuniaga atau pramusaji juga tetap dilecehkan pembeli berengsek, terkadang juga rekan kerja sendiri, bahkan atasan.

Kasus terperangkapnya lonte dalam dunia gelapnya itu sesungguhnya mirip denganku yang juga terjebak di dunia tulis-menulis ini. Aku tahu jadi penulis di Indonesia benar-benar menyusahkan. Apalagi untuk bisa hidup dari sana. Terlebih lagi aku ini perempuan. Jangankan bisa menjadikannya profesi, dalam hal sebatas ingin belajar menulis lewat kelas menulis sama senior saja malah digoda oleh mereka—para penulis lelaki sialan.

Tapi aku tentunya saat ini sudah punya cara tersendiri untuk menyiasatinya. Aku tak perlu belajar kepada senior. Aku bisa belajar lewat buku-buku bacaan. Lalu, dengan rendah hati aku juga bisa mendapatkan uang dari kerjaan lain apa pun itu, tanpa harus meninggalkan dunia tulis-menulis yang berulang kali telah menyelamatkanku dari gangguan kecemasan. Seperti sekarang ini, saat aku terlalu khawatir harus cari kerja apa lagi, kudu dapat uang dari mana lagi, aku bisa merasa sedikit lebih baik dengan menuliskan keresahan-keresahan tersebut di jurnal busuk ini. Aku harap suatu hari diriku bisa menulis novel ciamik dan memenangkan sayembara. Mendapatkan sorotan dari banyak pembaca. Syukur-syukur penjualan karyaku juga bisa membiayai hidupku kelak. Aamiin.

Semoga doa tadi tidak terdengar menyedihkan. Tapi tak apalah berharap semacam itu. Tak akan ada yang tahu selain aku dan Tuhan.

--

Gambar dicomot dari: https://pixabay.com/id/photos/menulis-orang-dokumen-kertas-828911/
Read More
Tempat pulang paling damai, katamu, berada di pelukan maupun pangkuan ibu. Kebanyakan lelaki berusaha untuk sepakat sekaligus mengamininya. Mereka malu menunjukkan sisi rapuh di samping kekasih, tetapi ingin selalu dimanja dan rela bermuram durja di hadapan ibu yang penuh welas asih.
 
Namun, aku ini tampaknya seorang minoritas. Aku kerap berada di rumah, tapi tak pernah merasa pulang. Tak ada pelukan maupun pangkuan dari ibuku. Ibu telah berubah abu. Ibu sudah hangus dilahap api cemburu dan meninggalkanku bersama ayah payah yang gemar melontarkan sajak-sajak jahanam. Tempat ini tak pantas lagi disebut rumah, lebih cocok bernama neraka versi murah.
 
Dunia maya konon bisa menjadi tempat melarikan diri. Siapa pun bebas meracau atau berkicau demi melenyapkan kacau dari dalam diri. Tapi, manusia-manusia digital itu tanpa sadar justru menyakiti kau, aku, atau siapa pun. Mereka berlomba-lomba mencari seseorang yang lebih menderita. Mereka hobi berdusta setiap bercerita demi angka-angka, sebab impresi terbanyak akan menjadi juara. Tapi aku tak butuh gelar juara. Aku cuma memerlukan pelipur lara. Jadi, kubunuh jaringan internet dan lekas kembali ke dunia nyata.
 
Lantas, bagaimana aku bisa menemukan tempat pulang paling damai jika kehidupan dalam setiap harinya selalu bertambah ramai? Aku mendengar tangisan bayi yang baru lahir—ia bagaikan terkejut melihat dunia yang tak senyaman rahim ibu. Kudengar suara klakson kendaraan bersahut-sahutan pada jam pergi/pulang kerja, jeritan hutan yang dibakar, pidato palsu para pejabat, ujaran kebencian pendukungnya, keluhan rakyat miskin, nada-nada lagu cengeng, raungan gosip tetangga. Semua perpaduan itu sungguh mengusik. Bahkan bunyi sialan itu masih terdengar kala aku sedang sendiri: berasal dari isi kepalaku yang sangat berisik.
 
Suatu waktu, ketika keheningan akhirnya bisa kutemukan, tiba-tiba kesepian mulai berbisik di telingaku: bunuhlah diri. Apakah tempat pulang paling damai bisa dicapai dengan menjemput maut? Shakespeare bilang setelah mati cuma sunyi. Sialnya, aku ini orang yang kenyi. Aku juga masih ingin bernyanyi. Barangkali yang kubutuhkan hanya tempat bersembunyi. Lagi pula, kematian adalah kepastian. Buat apa terburu-buru dan mempercepat mati yang datangnya pasti, sebab santai juga bagian dari hidup yang diberikan oleh Gusti.
 
Damai, jika kata itu kurenungkan kadang terdengar seperti desah para perempuan aduhai yang kutonton di film-film dewasa asal Jepang. Sebuah ruang menghibur diri yang kauanggap menyimpang. 
 
Tempat pulang paling damai untukku mungkin berada di hati setiap insan yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Mereka jujur dan tak banyak bacot. Saat kumasuki kamarnya, mereka lebih sering membisu. Mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk melukis atau menulis. Mempertanyakan angan dan ingin sambil sesekali menangis. Segelas air mata yang mereka suguhkan telah menjadi minuman favoritku. Rasanya menyegarkan dan dingin. Bagai menyelam ke dalam diri sendiri. Mengingatkanku pada tangisan sendiri yang kini stoknya sudah habis. Aku selalu bergembira tiap singgah di hati yang patah. Aku bisa numpang tidur-tiduran di ranjang puisi seraya membaca buku-buku fiksi tanpa perlu peduli ada apa di luar sana.
 
/2020
 
--
 
 

 
Ada salah satu paragraf yang saya ambil dan modifikasi dari tulisan dua tahunan lalu. Saya bingung kenapa memakainya kembali di tulisan ini. Mungkin karena perasaan itu cukup mewakilkan. Masalahnya, mewakilkan saya pada masa kapan? Karena ketika saya membaca ulang tulisan itu, saya tidak merasa untaian-untaian kata tersebut menggambarkan perasaan saya. Apakah itu untuk diri saya yang lain? Seseorang di dalam diri yang pernah memiliki trauma dan kesedihan mendalam? Entahlah.
 
Saya tak tahu apakah yang barusan itu termasuk puisi atau prosa, tapi saya pernah nekat mengirimkannya ke sebuah sayembara. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana saya akan jengkel, ingin protes, bahkan murka sewaktu tulisan-tulisan saya itu tak muncul di daftar juara atau nominasi pemenang atau 10-100 besar, kali ini saya merasa biasa saja. Sangat kalem. Barangkali saya sudah terbiasa dengan kegagalan. Sudah tak mengharapkan apa-apa dalam hidup. Saya cuma mau bikin tulisan ketika lagi kepengin menulis tanpa ada beban dan keterpaksaan, lalu sesekali mengikutinya dalam perlombaan yang menarik minat, dan teramat cuek sama hasilnya. Saya mungkin juga tak keberatan lagi jika ada yang menghina tulisan saya. Sebagaimana judul yang saya buat secara spontan itu, saat ini saya hanya ingin mencari tempat pulang paling damai. Tahukah kamu di mana tempat itu?
 
Gambar diambil dari: https://pixabay.com/id/photos/alam-pegunungan-switzerland-1547302/
Read More
—Buat AI
 
--
 
“Tumben. Hahaha. Sontak tersenyum aku,” tulisnya di WhatsApp.
 
Aku juga langsung tersenyum saat membaca pesan itu.
 
 

 
*
 
Subuh telah berlalu dan aku masih belum bisa memejamkan mata sejak semalam. Suasana hati begitu risau karena tak sengaja membaca berita yang kacau tentang pemerintahan, dan otomatis membuatku semakin pesimis memandang hari esok. Walaupun biasanya juga sering terjadi hal semacam ini, kali ini aku hawanya ingin lebih marah-marah. Aku teramat jengkel memulai hari dengan situasi seperti ini. Tapi apanya yang memulai hari ketika diriku belum terlelap sama sekali? Masalahnya, jika aku tidur dengan pikiran buruk tentu bisa melahirkan mimpi buruk. Mimpi itu bagiku mestinya bisa jadi tempat pelarian terbaik dari kenyataan yang menyedihkan. Jadi, aku enggak mau kenyataan dan bunga tidur sama busuknya. Aku ingin memperbaiki suasana pikiran maupun hati terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan diri.
 
Mengapa hari ini sangatlah berbeda ketimbang kemarin? Aku kemarin bisa tidur sebelum pukul satu, bangun sekitar pukul lima. Biarpun tak sampai lima jam, aku betulan bisa nyenyak dan itu terasa cukup. Apalagi keadaan setelahnya, aku justru bisa berjumpa dengan seseorang yang belakangan ini membuat hari-hariku lebih bergembira. Lebih banyak tersenyum.
 
Demi bisa mengobati perasaan runyam, saat ini di kepalaku hanya bisa memutar sebuah adegan film:
 
Seorang lelaki sedang duduk memandangi layar laptop di kamarnya. Semenit kemudian terdengar suara seorang gadis yang memanggil dengan kata, “Oi!” percis di depan pintu kamar sang lelaki yang dibiarkan terbuka sebagian. Kamar lelaki ini letaknya mirip seperti kamar indekos yang langsung terhubung keluar atau jalanan.
 
Lelaki itu pun menoleh, mendapati wajah sang gadis yang tersenyum manis. Dia terpana saat memandangnya. Gadis itu rupanya juga mengajak adik perempuannya yang masih balita dan menggemaskan. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan segera memberikan sebuah kantung plastik berisi tiga buah yoghurt kepadanya. Gadis itu menitip lewat WhatsApp saat sang lelaki bilang sedang berbelanja ke minimarket 15 menit silam.
 
Sang gadis memberikan selembar uang dan mengucapkan terima kasih seraya tersenyum. Lagi-lagi senyumnya membuat lelaki itu salah tingkah. Ketika lelaki itu menyerahkan duit kembaliannya, dia ingin bilang sesuatu, tapi lidahnya kaku. Saking terpukaunya oleh senyuman perempuan manis di hadapannya, lelaki itu merasa wajahnya memalukan sekali untuk dilihat dan benar-benar tampak tolol. Meskipun adegan ini sangat memalukan baginya, tapi saat itu juga dia berharap waktu bisa berhenti. 
 
Dia sadar waktu tak mungkin berhenti. Paling tidak dia masih bisa mengamini teori relativitas Einstein bahwa kejadian yang cuma sebentar itu bisa berjalan begitu lambat. Dia ingin momen itu tidak lekas berakhir.
 
*
 
Di kepalaku terus memutar ulang film tersebut. Mungkin itu adegan klise, tapi bagiku merupakan film terbaik yang pernah kutonton sepanjang 2020, tepatnya selama pandemi.
 
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Tertera nama seorang gadis yang menjadi tokoh dalam film di kepalaku barusan. Aku mengucapkan selamat pagi kepadanya, dan dia merespons seperti yang tertulis di kalimat pembuka tulisan ini. 
 
Aku spontan mengoceh tidak jelas membahas berita yang membuat pagiku benar-benar buruk. Itu tentu kesalahan fatal karena aku seharusnya tidak mengajak orang lain terlibat. Bukankah lebih baik merongseng sendirian? Jangan libatkan dia dalam kekacauan pikiranmu, pikirku. Biarkan dia menjalani harinya dengan tenang. Aku pun meminta maaf kepadanya.
 
Aku tak tahu apakah hari-hariku ke depannya bisa bertambah buruk, tapi mumpung masih sempat aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada dia yang telah menyuguhkanku senyuman manis. Senyuman yang menegaskan bahwa duniaku masih baik-baik aja, sekalipun di luar sana terjadi huru-hara.
 
Dia bilang ingin mencari sarapan dan menawarkanku mau apa. Aku yang setengah sadar karena belum tidur dengan tololnya menjawab begini: Mau apa? Mau disenyumin kamu lagi, gitu? Boleh?
 
Dia mengirimkan stiker peluk dan tertawa. Aku menyuruhnya segera mencari sarapan, bukan malah membalas pesanku melulu, serta mengucapkan hati-hati di jalan.
 
Setengah jam berlalu dan dia tiba-tiba mengirim pesan, “Jangan tidur dulu ya, aku mau kasih kamu sesuatu.”
 
Aku sejujurnya bingung, apa maksud dari pesannya itu. Aku lantas mendadak panik dan langsung bergegas ke toilet buat mencuci muka. Aku entah kenapa malu jika harus berjumpa dengan wajah kusut karena pikiran butek dan belum tidur.
 
Terdengar ketukan pintu di kamarku beberapa kali. Tak lama terdengar pula bunyi notifikasi di ponsel. Apakah dia sungguh-sungguh ingin memberikanku sesuatu?
 
Aku membuka pintu kamar dan mendapati sosoknya. Dari jarak sedekat ini, dia terlihat semakin lucu dan manis. Apakah seperti ini sudut pandang orang yang sedang kasmaran? Yang jelas, diriku lagi-lagi kayak orang bego yang enggak mampu mengucapkan kalimat bagus, sebab yang keluar dari mulutku cuma, “Hah? Apaan?”. Ucapan itu sepertinya terlontar dibarengi oleh ekspresi mukaku yang tolol dan kebingungan. Dan dia buru-buru pergi tanpa menungguku berbicara lebih lama. Aku malu sekali karena telat bilang terima kasih. Aku juga mengutuk diri sendiri kenapa mendadak jadi sekikuk ini, padahal sebelumnya mulutku bisa lebih luwes saat mengajaknya pergi.
 
Kenapa seseorang yang dalam kesehariannya terbiasa menyusun kata, tapi bisa menjadi goblok dalam sekejap saat berhadapan dengan perempuan jelita? Apakah karena selama pandemi ini aku nyaris tak pernah mengobrol dengan lawan jenis? Apakah karena aku sudah terlalu lama menutup diri, tak ingin membiarkan perempuan mengenalku lebih dekat? Aku sungguh tak tahu. Mungkin sekarang aku akhirnya mengerti, mengapa Jamrud bisa-bisanya bikin lirik seperti ini: “Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara. Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini. Jam dinding pun tertawa, karena ku hanya diam dan membisu. Ingin kumaki diriku sendiri. Yang tak berkutik di depanmu.”
 
Lirik itu pasti tercipta dari sebuah pengalaman. Pengalaman yang mungkin serupa dengan apa yang barusan terjadi padaku.
 
Notifikasi di ponselku terdengar kembali. Dia bilang, siapa tau apa yang dia berikan barusan itu dapat mengobati perasaanku. Aku pun sampai lupa mengecek bingkisan yang dia kasih tadi. Kala aku mendapati segelas es krim McFlurry Oreo, aku refleks mengetik: Ini es krim rasa cinta?
 
 

 
Aku lalu menikmati es krim sembari mengingat-ingat bentuk parasnya yang manis dan membuatku terpukau. Setelah es krim itu habis, aku mengambil segelas air putih, meminumnya hingga tandas, dan tanpa sadar mengetik: Kira-kira, apakah ada kata, frasa, atau kalimat yang lebih baik buat menggambarkan betapa berterima kasihnya aku buat pagi ini selain “aku sayang kamu”?
 
Dia menyuruhku segera tidur dan mengucapkan selamat beristirahat. Aku lagi-lagi bilang terima kasih, sebab aku masih kaget dengan caranya yang bisa membuatku bahagia dalam sekejap.
 
Apa yang barusan terjadi ini bukan mimpi, kan? Dia membawakanku es krim buat menghibur kondisi hatiku yang buruk ini betul-betul kenyataan? Biasanya orang enggak mau bangun dari mimpi, sedangkan kali ini aku rasanya tak mau bermimpi karena kenyataan terlalu indah.
 
Mungkin aku benar-benar terkejut atas hal menggembirakan yang baru saja kualami. Bicara soal terkejut, aku pernah mengetik “terkejut” dengan tipo menjadi “terjekut” ketika membalas pesannya seminggu yang lalu. Dia pun meledekku beberapa kali menggunakan diksi itu. Konyol sekali. Aku yang akrab dengan dunia tulis-menulis dan terbiasa mengoreksi naskah langsung merasa tolol banget lantaran bisa-bisanya salah ketik semacam itu. Bagaimana mau jadi editor ataupun penulis jika akhir-akhir ini saat bertukar pesan sama dia justru keseringan tipo?
 
Namun, aku sepertinya enggak keberatan kalau sering salah ketik, apalagi tampak bodoh di depan dia. Aku enggak perlu jadi sosok penulis ataupun pencerita saat bersama dia, kan? Aku juga enggak harus tampil dewasa dan berwibawa. Kadang-kadang aku malah bisa menempatkan diri sejenak menjadi seseorang yang masih seumuran dengannya. Menjadi mahasiswa kembali.
 
Adakalanya terdapat sosok di dalam diriku yang juga ingin menjadi remaja lagi. Remaja yang baru mengenal kasmaran dan melupakan bahwa diriku pernah patah hati sehebat-hebatnya, sampai takut memulai hubungan baru. Aku jadi ingin terus mempertahankan secuil sisi kanak-kanak di dalam diri. Agar aku bisa tetap jadi seorang bocah yang disuguhkan es krim dan dengan gampangnya merasa bahagia. Syukur-syukur aku bisa menjadi anak kecil dalam novel Ziggy Z. yang mengartikan masa depan sebagai minggu depan, bukan dunia yang miskin kesempatan. Serta menjadi anak kecil yang bisa percaya tanpa takut kecewa, yang bisa menyayangi tanpa takut dikhianati.
 
Barangkali kalimat-kalimatku barusan sangatlah berlebihan. Lagi pula itu cuma dikasih es krim McFlurry Oreo kan, kenapa bisa-bisanya aku langsung luluh? Tapi tak apa-apa. Karena sepanjang masa pagebluk ini aku memang keseringan bersedih, sedangkan kini aku justru bisa bahagia dengan hal yang teramat receh. Aku sepertinya belum pernah sebahagia ini pada 2020. Mungkin juga es krim itu secara tak langsung mengingatkanku tentang filosofi hidup tentangnya: “Nikmatilah sebelum meleleh.” Jadi, sementara ini aku ingin menghabiskan rasa manisnya, menikmati hidup sebaik-baiknya, tanpa merasa terlalu cemas lagi. Walaupun jauh di dalam diri ini aku begitu paham, bahwa di depan sana pasti ada kesedihan yang telah menantiku kembali.
 
Berhubung aku kerap takut mendoakan kebahagiaanku sendiri, bahkan aku lupa kapan terakhir kali berdoa demi kebaikanku, sebab terkadang percuma atau tak terkabul.  Kenyataan yang kejam itu hampir tak pernah berjalan sesuai niat dan kehendakku. Setidaknya, kali ini saja izinkan aku berdoa untuk perempuan yang menyuguhkanku es krim dan membuat pagiku menjadi manis: Semoga kebaikan yang telah kamu berikan kepadaku selalu menjadi hal baik bagi dirimu sendiri ke depannya. Aamiin.

Akhir kata, terima kasih sudah membuat pagiku yang mulanya gundah menjadi indah.

--


Gambar saya ambil dari anime The Tatami Galaxy.
Read More
Sebuah Sejarah Kehidupan Pascaindustri yang Terkondensasi Secara Radikal 


Ketika mereka diperkenalkan, sang lelaki membuat lelucon, berharap bisa disukai. Sang perempuan tertawa sangat keras, berharap bisa disukai. Mereka masing-masing lantas pulang sendirian, menatap lurus ke depan, dengan corak yang sama pada wajah mereka.

Pria yang memperkenalkan mereka tidak terlalu menyukai keduanya, meskipun ia bertindak seolah-olah menyukainya, merasa cemas selayaknya harus menjaga hubungan baik pada setiap saat. Lagi pula, orang-orang tak pernah tahu, apa yang sekarang dia lakukan, apa yang sekarang dia lakukan.



Contoh Lain dari Kebodohan pada Batas-Batas Tertentu (XI)


Seperti dalam semua mimpi lain, aku bersama seseorang yang kukenal tetapi tak tahu bagaimana aku bisa mengenalnya, dan sekarang orang ini tiba-tiba menunjukkan kepadaku bahwa diriku buta. Buta secara harfiah, tak dapat melihat, dan sejenisnya. Atau di hadapan orang inilah aku tiba-tiba menyadari bahwa diriku buta.

Apa yang terjadi ketika aku menyadari hal ini ialah aku menjadi sedih. Ini membuatku sangat nelangsa bahwa diriku buta. Orang itu entah bagaimana tahu betapa sedihnya aku dan memperingatkanku bahwa menangis akan menyakiti mataku dan membuat kebutaannya menjadi lebih buruk, tetapi aku tidak dapat menahannya.

Aku duduk dan mulai menangis teramat keras. Aku terbangun, menangis di tempat tidur, dan aku meraung sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sama sekali atau berbuat sesuatu atau apa pun. Ini membuatku menangis kejer. Pacarku terbangun, khawatir, serta bertanya ada apa, dan semenit kemudian, bahkan sebelum kami sama-sama cukup sadar bahwa diriku tadi hanya sedang bermimpi, dan aku terbangun dan tidak benar-benar buta serta aku menangis tanpa alasan, lalu menceritakan kepada pacarku tentang mimpi itu dan mendapatkan masukannya.

Kemudian sepanjang hari di tempat kerja, aku jadi sangat sadar akan penglihatan dan mataku serta betapa bagusnya bisa melihat warna-warni dan paras orang-orang dan mengetahui persis di mana aku berada, dan betapa rapuhnya itu semua. Mekanisme mata manusia dan kemampuannya untuk melihat, betapa mudahnya bisa lenyap. Bagaimana aku selalu melihat orang-orang buta di sekitar dengan tongkat dan wajahnya yang tampak aneh. Aku selalu menganggap mereka menarik. Menghabiskan beberapa detik untuk melihatnya dan tak pernah berpikir bahwa mereka ada hubungannya denganku atau mataku, dan bagaimana itu benar-benar cuma kebetulan-kebetulan yang bisa kulihat alih-alih menjadi salah satu dari orang-orang buta yang kulihat di kereta bawah tanah.

Sepanjang hari di tempat kerja, aku merasa hancur lagi setiap kali hal ini menyerangku, dan bersiap-siap untuk mewek, dan aku hanya berusaha menahan diri agar tak menangis karena kubikel yang rendah dan bagaimana kalau semua orang nanti bisa melihatku dan akan peduli.

Sepanjang hari setelah mimpi itu menjadi begini dan benar-benar melelahkan sekali. Pacarku akan bilang betapa itu menguras emosi, dan aku keluar lebih awal dan pulang ke rumah. Aku sangat lelah dan mengantuk, aku hampir tidak bisa membuka mata, dan ketika aku sampai di rumah aku langsung masuk dan merangkak di tempat tidur pada jam 4:00 sore dan nyaris pingsan.

--




Dua cerpen barusan saya terjemahkan dari buku Brief Interviews with Hideous Men karya David Foster Wallace. Dia merupakan penulis asal Amerika Serikat kelahiran 21 Februari 1962 yang telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan buku kumpulan esai. Karya-karyanya: Infinite Jest, Girl with Curious Hair, Consider the Lobster.

Saya kira, hanya sedikit sekali teman saya yang mengetahui tentang penulis ini. Bisa dibilang saya sendiri juga baru mendengar namanya dalam tiga tahun terakhir. Saya bahkan baru tahu setahun silam bahwa David meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya. 

Sejujurnya, saya punya ketertarikan khusus pada penulis-penulis yang menempuh jalan sunyi itu. Pengakuan barusan bukan berarti saya bakal mengekor tindakan mereka. Sebisa mungkin jangan. Memang, saya akui sempat ada pikiran-pikiran ke arah sana, tapi ya seperti yang kalian tahu, alhamdulillah saya bisa menyelamatkan diri sampai hari ini.

Saya hanya kepikiran, kenapa mereka memilih opsi bunuh diri? Apakah tak ada jalan lain? Bisa jadi keputusan itu lahir karena mereka telah mencoba setiap jalan yang tersedia, tetapi berujung pada kebuntuan dan kehampaan. Sedikit-sedikit saya mungkin bisa memahaminya.

Sewaktu tengah malam begini, saya pernah berada pada situasi tak bisa tidur dan pikiran terus bekerja memikirkan hal-hal yang bikin cemas atau takut, dan di antaranya akan muncul pertanyaan semacam ini:

“Sebenarnya saya hidup buat apa, atau apa sih tujuan saya menjalani hidup?”

“Apakah selama ini saya sudah berguna bagi orang-orang di sekitar?”

“Adakah ada seseorang yang merasa kalau kehadiran saya itu penting dalam hidupnya?”

“Seandainya tak ada lagi yang membutuhkan saya, kemudian saya memilih lenyap, apakah saat itu baru ada seseorang yang merasa kehilangan dan mencari saya?”

“Mengapa saya berulang kali gagal dan menderita? Kapan saya bisa berhasil mewujudkan mimpi?”

Itu sesungguhnya cuma contoh sepele, sebab saat depresi betul-betul menyerang, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup maupun mati akan semakin rumit dan bagaikan tak ada habisnya.

Terkadang, ketika saya menuliskan topik sensitif semacam ini, saya diliputi ketakutan akan pandangan orang-orang di sekitar. Apakah saya lapar perhatian, cengeng, lebay, atau apa pun itu. Saya sendiri pun suka enggak paham mengapa saya menuliskannya. Sejauh yang saya ketahui, para penulis bikin tulisan tertentu untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Biarpun tak kepengin mengeklaim diri sendiri sebagai penulis, mungkin saya pun demikian. Saya hanya ingin lega saat menuliskan hal-hal yang bikin resah dan kalut.

Lagian, dari apa yang telah saya perhatikan, ternyata kebanyakan penulis itu kehidupannya lebih sering menyedihkan dan menderita, makanya mereka melarikan diri dengan membuat cerita fiksi demi bisa menyenangkan diri sendiri. Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra pada 2006, sempat membuat pengakuan begini: Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia.

Mungkin saya terus bercerita juga untuk menggembirakan diri sendiri. Lebih tepatnya malah sudah tergambarkan lewat deskripsi atau tagline blog ini: Menulis bukan untuk abadi, tapi hanya siasat mengecoh kesepian.

Bicara soal kesepian, kenapa manusia bisa merasakannya? Apakah karena tak punya teman berbagi? Namun jika benar begitu, kenapa sewaktu saya masih punya kekasih, kok kesepian itu bisa tetap mendatangi saya? Jadi, kalau disimpulkan: mungkin ada saat-saat di mana saya tak bisa berbagi perasaan dalam diri itu kepada orang lain. Sekalipun sudah bercerita, mereka terkadang tidak mendengarkan, memahami, apalagi berempati. Sehingga cara yang bisa saya lakukan untuk menumpahkan segala kegelisahan itu cuma lewat menulis.

Saat menuliskan ocehan ini, terus terang saja kondisi saya dalam keadaan baik. Sekarang justru jauh lebih baik ketimbang Mei-September yang sempat depresi karena berbagai hal. Tapi, saya kira ke depannya saya bisa saja merasakan keganjilan itu lagi. Sampai kapan pun saya mungkin tak pernah bisa mengerti kenapa perasaan-perasaan terkutuk itu masih terus-menerus datang kembali. Saya juga tak yakin apakah menulis bisa selalu menjadi metode ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini.

Setidaknya, hari ini saya jadi teringat dengan kegiatan dua hari silam, sewaktu saya mendengarkan ulang seluruh album Peterpan. Dari sekian banyak lagu itu, saya terfokus dengan lagu 2 DSD. Dari SD saya sering mempertanyakan apa arti atau singkatan lagu tersebut. Konon itu lagu yang belum sempat diberikan judul, karena DSD sebenarnya cuma singkatan dari Direct Stream Digital, sebuah format pada kaset. Ada pula yang mengatakan 2 Dalam Satu Dunia. Setiap orang jelas bebas membuat kepanjangan sendiri dari singkatan itu. Saya sendiri pun pernah menyebut 2 Derita Saat Depresi. Karena lagu itu seolah-olah telah menjadi mantra bagi saya dalam meringankan beban depresi, khususnya di lirik berikut: rasa ini takkan terobati, tetapi mati takkan mengobati. Berarti secara tak langsung menulis cerita dan mendengarkan sekaligus menyanyikan lagu itu dapat memperpanjang usia saya.


--

Gambar saya ambil dari: theatlantic.com.

Read More
Previous PostOlder Posts Home