Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun pertama saya mengalami kesulitan mengakses internet ketika menggunakan laptop. Apakah saya lagi bikin resolusi mengurangi membuka media sosial, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku? Sayangnya bukan. Apakah karena saya mulai bekerja di hutan? Tentu saja tidak mungkin. Menjalani program guru relawan dan mengajar di daerah-daerah pelosok? Maaf, saya belum semulia itu. Lantas apa? Kamu sebenarnya enggak perlu berpikir jauh-jauh, sebab hal ini sangatlah sepele. Apa lagi kalau bukan karena tidak memiliki kuota?

Silakan mengumpat sesukanya.

Tapi sebelum kata anjing, bangsat, berengsek, kampret, kunyuk, setan, sialan, dan sejenisnya itu keluar; saya ingin menjelaskan bahwa ini semata-mata terjadi bukan karena saya bokek—walaupun kenyataannya hampir bisa dibilang begitu. Ini terjadi lantaran pada tanggal 28 Desember 2018, Bolt—provider yang saya gunakan sekitar empat tahunan ini—resmi menutup layanannya. 

sumber PNG Bolt: http://www.chodirin.or.id/ lalu saya modifikasi sesuka hati


Mundur seminggu sebelum Bolt mengumumkan informasi itu, pada malam hari saya sedang menemani Farhan, salah seorang kawan sekaligus tetangga, menyusun skripsi di Kafe Datocar yang lokasinya tidak jauh dari rumah kami. Ketika ia lagi fokus menggarap naskahnya itu, saya terlihat seperti orang tolol yang enggak tahu harus melakukan apa. Seolah-olah ada peraturan tertulis di jidat Farhan: Saya tidak boleh mengajaknya mengobrol. Saya perlu menyibukkan diri sendiri.

Sialnya, saya malah lupa membawa buku bacaan pada malam itu. Jadi satu-satunya penyelamat saya hanyalah ponsel. Baru saja saya ingin internetan, ternyata paketnya malah habis. Syukurlah kafe itu menyediakan Wi-Fi. Sebagaimana Wi-Fi kafe yang banyak pemakainya, kecepatannya pun ala kadarnya. Tidak sampai sepuluh menit saya menaruh kembali ponsel itu ke meja.

Di tengah kebingungan mencari cara supaya enggak jenuh, saya lalu teringat dengan kebiasaan bikin catatan di tempat makan. Akhirnya saya mengambil ponsel itu lagi, membuka aplikasi Notes, dan mulai mengarang cerita.
Read More
“Kamu kayak anak kecil deh mainan begituan,” ujar pacar saya—yang kini sudah mantan—ketika saya sedang memotret sebuah Lego di salah satu tempat wisata.



Saya waktu itu sempat ingin berkelakar, “Daripada mainin perasaan kamu.” Tapi, saya segera membuang pikiran konyol itu, lalu meresponsnya dengan tertawa kecil. Tanpa perlu bercanda bilang ingin memainkan perasaannya, toh akhirnya kami putus. 

Terlepas dari hal itu, saya kurang sepakat dengan pernyataannya. Karena menurut saya, mainan Lego tidak hanya untuk anak kecil. Lagi pula beberapa teman saya ada yang mengoleksi mainan itu dan action figure. Saya perhatikan di Instagram pun banyak bapak-bapak yang memiliki konten khusus mainan—yang bisa dicek dengan tagar toyphotography. Bahkan, mainan Lego ini juga ada komunitasnya. 

Intinya, selain untuk mainan anak-anak, Lego ini memang mempunyai beberapa fungsi bagi orang dewasa:


Fotografi 

Mulanya, saya tidak pernah membayangkan akan gemar memfoto mainan dan mengunggahnya ke media sosial, terutama Instagram. Sejak tiga tahunan lalu, tepatnya saat saya sedang berkunjung ke rumah Pakde dan melihat anak bungsunya—yang berusia empat tahun—sedang bermain Lego, tiba-tiba muncul rasa suka terhadap Lego tersebut. Mengetahui kedatangan saya, sepupu saya itu segera mengajak saya ikutan bermain. Sesudah balok-balok itu terpasang dan menjadi sebuah bentuk sesuai imajinasinya, saya pun memotretnya menggunakan ponsel.

Read More
Sebagai seorang pegawai lepas yang gajinya tidak menentu, saya harus sering memutar otak demi bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang pula saya perlu menahan-nahan diri ketika sekadar ingin jajan camilan. Saya pun berkata kepada diri sendiri, “Mending langsung beli makanan pokok biar kenyang. Kalau makanan ringan mah ujung-ujungnya nanti lapar lagi.” Apakah saya terlihat menyedihkan? Oleh sebab itu, rasanya saya perlu mengatur siasat agar tidak terus-terusan begitu. Sehabis merenungi hal itu, lalu terbitlah ide: kenapa saya enggak coba mencetak kaos custom dengan desain sendiri, dan menjualnya?

Melihat beberapa teman yang mulai berani membuka bisnis online shop, saya pikir mewujudkan ide itu asyik juga. Sebelumnya, apakah di antara kamu ada yang senasib dengan saya? Tidak harus pegawai lepas, sih. Intinya, kamu sedang butuh pemasukan tambahan. Barangkali kamu masih kuliah, lalu merasa uang jajanmu kurang. Kiriman dari orang tua entah mengapa tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan kuliahmu.

Menurut saya, ide itu juga boleh kamu coba. Apalagi kalau kamu memiliki minat dalam bidang desain. Kamu pun bisa mendesain banyak kaos dan menjualnya kembali untuk mendapatkan penghasilan tambahan itu. Kita tentu mengerti bahwa kaos digemari banyak orang dan tidak ada batasan usia. Sehingga bisnis jual kaos custom dengan desain-desain yang tidak pasaran pastinya akan sangat diminati. Kamu bisa menyasar pasar anak muda yang tidak ingin terlihat pasaran dalam berbusana. Kamu pun dapat menawarkannya kepada teman-temanmu.

Mungkin setelahnya kamu bakalan bingung menemukan penyedia jasa cetak kaos custom yang dapat kamu percaya. Nah, Porinto adalah pilihan tepat untuk memulai bisnis kaosmu. Berikut ini ada lima alasan mengapa kamu harus memilih menggunakan jasa Porinto untuk cetak kaos custom desainmu sendiri. 


1. Kualitas bahan kaos yang Porinto gunakan 

Salah satu hal terpenting saat memilih kaos adalah kenyamanannya. Sangat percuma kalau desainmu sudah keren, tapi kamu justru salah memilih bahan yang panas dan tidak nyaman. Porinto hanya menyediakan kaos dengan bahan berkualitas tinggi. Kaos Porinto menggunakan bahan Cotton Combed 20s, yang terkenal dengan kenyamanan dan kekuatan bahannya, sehingga dapat membuat kaos kamu awet dan tahan lama. 


2. Kualitas hasil cetak kaos 

Selain bahannya yang bagus dan nyaman, tentunya kualitas hasil cetak kaos desainmu ini mesti yang berkualitas tinggi juga. Kamu pasti menginginkan desainmu tercetak dengan sempurna. Semua warna yang kamu mau kudu terlihat tajam dan akurat. Porinto tentu saja akan menjamin semua permintaan kamu terhadap kualitas hasil print tersebut. 


Read More
Sebelumnya, saya sedang latihan menerjemahkan secara suka-suka penggalan cerita di salah satu novel yang saya baca baru-baru ini. Sayangnya, kemampuan bahasa Inggris saya masih amburadul. Untuk itu, saya mohon maaf kalau masih kaku dan banyak kesalahan. Jika kamu ada yang membaca buku ini juga, barangkali bisa membantu saya untuk memperbaiki bagian-bagian yang kurang enak dibaca.

--

Sputnik Sweetheart, Haruki Murakami, halaman 54-56—bagian tentang kepenulisan. 

Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Miu tidak mengizinkan merokok di kantornya dan membenci orang-orang yang merokok di depannya. Jadi setelah memulai pekerjaannya, Sumire memutuskan bahwa itu adalah kesempatan yang bagus untuk berhenti menjadi seorang perokok-Marlboro-dua-bungkus-per-hari, meskipun semuanya tidak berjalan lancar. Setelah satu bulan, seperti beberapa hewan yang bulu ekornya dipotong, dia kehilangan kontrol emosinya pada berbagai hal—yang tidak sangat kuat untuk memulainya. Dan seperti yang kauduga, ia mulai meneleponku sepanjang waktu pada tengah malam. 

“Yang bisa kupikirkan hanyalah merokok. Aku hampir tidak bisa tidur, dan ketika tidur, aku mengalami mimpi buruk. Aku susah buang air besar. Aku tidak bisa membaca, tidak dapat menulis kalimat.” 

“Semua orang mengalami seperti itu ketika mereka mencoba untuk berhenti. Setidaknya, pada awalnya,” kataku. 

“Kau mudah memberikan pendapatmu selama itu tentang orang lain, kan?” bentaknya. “Kau tidak pernah mengisap sebatang rokok dalam hidupmu.” 

“Hei, jika kau tidak bisa memberikan pendapatmu kepada orang lain, dunia akan berubah menjadi tempat yang cukup menakutkan, bukan? Jika kau tidak berpikir demikian, lihat saja apa yang Joseph Stalin lakukan. ” 

Di ujung sana, Sumire bergeming cukup lama. Sebuah keheningan berat bagaikan jiwa yang mati di Front Timur. 

“Halo?” aku bertanya. 

Dia akhirnya mulai berbicara. “Sejujurnya, kupikir itu bukan karena aku berhenti merokok sehingga diriku tidak bisa menulis. Mungkin itu satu alasan, tetapi tidak semuanya. Yang aku maksud, berhenti merokok hanyalah sebuah alasan. Kautahu: ‘Aku berhenti merokok; itu sebabnya aku tidak bisa menulis. Tidak ada yang bisa kulakukan akan hal itu.’” 

“Jelaskan, mengapa kau begitu kesal?” 

“Kurasa,” katanya, tiba-tiba lemah lembut. “Bukan hanya aku tidak bisa menulis. Apa yang betul-betul membuatku kesal adalah aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi dalam menulis itu sendiri. Aku membaca hal-hal yang kutulis belum lama ini, dan itu membosankan. Apa yang bisa kupikirkan? Ini seperti melihat ke seberang ruangan dan terdapat beberapa kaus kaki kotor yang dibuang ke lantai. Aku merasa buruk sekali, menyadari semua waktu dan energi yang telah kusia-siakan.” 

“Ketika itu terjadi, kau harus menelepon seseorang pada pukul tiga pagi dan membangunkannya—secara simbolis tentu saja—dari tidur semiotiknya yang damai.” 

“Katakan padaku,” kata Sumire, “apakah kau pernah merasa bingung mengenai apa yang kaulakukan, seperti tidak benar?” 

“Aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan kebingungan daripada tidak,” jawabku. 

“Apakah kau serius?” 

“Ya.” 

Sumire menyentuhkan kukunya pada gigi depannya, satu dari sekian banyak kebiasaannya ketika dia berpikir. “Aku hampir tidak pernah merasa bingung seperti ini sebelumnya. Bukan berarti aku selalu percaya diri dan yakin dengan bakatku. Aku tidak terlalu gelisah. Aku tahu aku tipe orang yang serampangan dan egois. Tapi aku tidak pernah bingung. Aku mungkin telah membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan, tetapi aku selalu merasa bahwa aku berada di jalan yang benar.” 

“Kau beruntung,” jawabku. “Seperti mantra hujan panjang setelah kau menanam padi.” 

“Mungkin kau benar.” 

“Tapi pada titik ini, semuanya tidak berjalan baik.” 

“Betul. Mereka tidak berjalan semestinya. Terkadang aku merasa sangat ketakutan, seperti semua yang kulakukan hingga saat ini salah. Aku memiliki mimpi-mimpi yang terasa nyata dan terbangun pada tengah malam. Dan untuk sementara ini aku tidak bisa mengetahui apa yang nyata dan apa yang tidak ... Perasaan semacam itu. Apakah kau paham apa yang kukatakan?” 

“Kupikir begitu,” jawabku. 

“Pikiran itu banyak membenturku hari ini, bahwa mungkin hari-hariku menulis novel telah berakhir. Dunia merangkak bersama gadis-gadis bodoh, polos, dan aku hanyalah salah satu dari mereka, dengan sadar diri mengejar mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku harus menutup lid (tutup) piano dan turun dari panggung. Sebelum terlambat.” 

sumber: https://infovisual.info/en/music/piano

Read More
Sudah setahun belakangan ini saya heran dengan sistem pelayanan di warteg dekat rumah. Orang yang duluan dilayani oleh penjualnya itu yang mana, sih? Selama ini yang saya tahu, di tempat makan mana pun, orang yang pertama datang tentu akan mendapat pelayanan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh orang yang datang berikutnya. Dan begitu seterusnya mengikuti antrean. 

Namun, setiap kali saya membeli makanan di warteg itu pada pagi hari dan suasananya sedang ramai, pasti ada saja ibu-ibu yang menyerobot giliran saya. Biasanya, saya akan mengalah jika cuma 2-3 orang. Saya pun kerap kali menghindar berdebat dengan ibu-ibu. Sebab saya tahu, nantinya persoalan akan panjang dan saya bakalan tetap kalah dan salah, meskipun posisi saya itu benar.

Rasanya, saya sudah terlalu sering memaklumi hal itu. Saya tidak ingin bungkam melulu. Saya harus bertindak. Sayangnya, ketika saya sudah melakukan protes kepada penjualnya, “Mbak, maaf nih ya, yang datang kan saya duluan. Kok malah ibu itu yang dilayanin?” Eh, ibu-ibu yang saya maksud itu segera melirik saya sinis, sedangkan penjualnya hanya diam saja dan tetap melayani ibu-ibu tersebut. 

Saya sudah betul-betul bingung, kenapa saya terlalu sering diselak di warteg itu. Saya sadar sih, saya memang hanya membeli sebungkus nasi megono dengan lauk tempe goreng dan telur dadar—yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu. Tapi, apakah di mata penjualnya ini nilai saya jadi lemah, atau lebih-lebih tidak dianggap sebagai pembeli lantaran hal itu? Lalu, apakah ibu-ibu—yang biasanya membeli banyak sayur dan lauk-pauk—itu harus lebih diutamakan? Bukankah dengan segera melayani sesuai antrean (meskipun saya cuma membeli sebungkus nasi) itu justru urusan jadi lebih cepat dan membuat ruangan sedikit lebih longgar?

Anggaplah penjualnya bingung atau lupa atau tidak memperhatikan siapa yang datang lebih dahulu. Mau bagaimana lagi, antrean di warteg memang tidak beraturan karena posisinya memanjang ke samping, bukan ke belakang. Sehingga penjual biasanya akan melayani orang yang dia pilih secara acak, atau yang berada di hadapannya saja. Tapi ketika ada yang memprotes mengenai antrean itu, mengapa penjualnya justru diam saja? Sekalinya menjawab malah mengeluarkan kalimat pamungkas: “Masnya ngalah dong, kasih cewek duluan.”

sumber: https://pixabay.com/id/hewan-bebek-burung-air-menjalankan-2000586/

Yuhu! Penjualnya sungguh bijak sekali. Saya akan ngalah melulu sampai ibu-ibu di antrean itu habis. 

Ayolah, apa gunanya menuntut kesetaraan gender kalau masih menganut paham ladies first saat mengantre? Beberapa perempuan itu sendiri justru masih merasa kaumnya lemah. Namun, saya memberi pengecualian untuk ibu-ibu hamil dan lansia. Masalahnya, keadaan yang terjadi enggak begitu. Nah, apakah mbak-mbak penjual itu takut dengan kemarahan ibu-ibu yang menyelak antrean karena pelayanannya jadi tertunda? Tapi memang ibu-ibu itu yang salah karena mengambil hak orang lain, kan?
Read More
Semestinya saya sadar, bahwa menulis secara spontan dapat membuat saya bercerita banyak hal. Suara-suara di kepala saya itu seolah-olah bisa langsung tertulis begitu saja, bahkan kesedihan yang selama ini terpendam juga ikut keluar tanpa perlu menggalinya lebih jauh. Namun, pada akhirnya saya harus menghapus hal-hal lain yang suka keluar seenaknya itu, atau memindahkannya ke dokumen baru—yang kelak saya kumpulkan dalam satu folder bernama: Belum Selesai

Saya memilih fokus untuk mengerjakan tulisan yang sejak awal saya niatkan akan selesai. Biasanya, jenis tulisan ini merupakan keresahan yang mengganggu kepala saya selama berhari-hari atau lebih. Saya tidak bisa menunda-nunda lagi dan harus menggarapnya terlebih dahulu, sebab jika dibiarkan terlalu lama pasti semakin membusuk. Sebisa mungkin saya berusaha menghindari, jangan sampai bagian penting dan rasa dalam tulisan itu lenyap.



Begitu tulisan itu telah selesai, barulah saya bebas melanjutkan ide-ide yang kerap muncul secara tiba-tiba itu. Mau leyeh-leyeh lagi juga terserah, sih. Sialnya, saat saya sedang luang dan kebetulan tidak malas, saya tentu lebih senang membuka folder itu. Lalu, saya membaca satu per satu failnya, sampai saya menemukan tulisan yang mungkin bisa dikembangkan. 

Kebanyakan berkas itu berbentuk ide mentah cerpen yang baru ditulis poin-poinnya. Dari sekian banyak ide itu, akhirnya ada yang berhasil saya selesaikan, lalu saya unggah ke blog ini. Dua tahun belakangan ini, buku-buku yang saya baca memanglah berupa fiksi. Konon, apa yang kita produksi ialah cerminan dari apa yang kita konsumsi. Barangkali itulah yang menyebabkan blog ini berganti atau bertambah fungsinya; dari yang sekadar untuk jurnal alias curhat, lalu jadi tempat latihan membuat cerpen. 

Ketika pertama kali bikin cerpen-cerpen itu, saya sesungguhnya tidak pernah berharap banyak agar pembaca blog ini menyukainya. Saat proses menuliskannya pun, saya hanya berpikir kalau perlu menuangkannya ke sebuah wadah. Saya enggak mau susah tidur karena kisah-kisah itu selalu hadir di kepala, lebih-lebih sampai datang ke alam mimpi dan menghantui saya. Ujung-ujungnya, tidur saya jadi tidak nyenyak atau sedikit-sedikit terbangun. 
Read More
Previous PostOlder Posts Home