Dalam seminggu terakhir, hidup saya di dunia maya sepertinya ada saja masalahnya. Sebetulnya sih karena keteledoran saya sendiri yang sulit menahan diri untuk tidak bacot. Jika waktu itu saya memilih kalem, pastilah kondisinya akan jauh berbeda. Tapi jagung telah menjadi popcorn dan meletup-letup. Saya bisa apa selain menghabiskannya atau menyuguhkannya kepada para penonton? 

Setelah merasa puas membuang segala energi negatif di dalam diri, saya pun mulai berniat untuk rehat sejenak atau semacam berpuasa membuka media sosial. Namun, niat baik tidak melulu berjalan dengan baik. Mau tak mau saya perlu kembali berisik untuk meluapkan emosi sehabis terpicu oleh sesuatu.



Hal ini bermula saat saya baru pulang salat Jumat, lalu mengecek ponsel. Terdapat pesan di Instagram dari seorang perempuan yang menyapa saya dengan salam khas muslim. Begitu saya menjawabnya, dia langsung bertanya soal diri saya, khususnya mengenai akun Facebook. 

Saya katakan bahwa akun Facebook saya cuma satu: facebook.com/yogayr. Dia membalas sempat menemukan akun lain yang memakai foto saya. Kami lantas membahas tentang akun palsu—yang dengan jahanamnya lagi-lagi menggunakan foto saya seenak udel. Saya pun memberi sedikit nasihat supaya lebih berhati-hati di internet. Jangan sampai mudah dibohongi oleh orang asing di dunia maya. Rupanya, dia melapor begitu lantaran sudah tertipu. Saya jelas terkejut. Berikut saya lampirkan bukti sebagian percakapan kami dan profil Instagram si pemalsu.







Foto nomor 5 dipotret ketika saya berada di Alive Museum Ancol, Jakarta, sedangkan nomor 6 sewaktu saya main ke Candi Ratu Boko, Yogyakarta. Keduanya pernah saya publikasi di Instagram. Anehnya, dia memakai foto profil yang belum pernah saya pasang di akun media sosial mana pun. Terus, dia dapat dari mana foto itu? Saya pun mengubrak-abrik arsip di otak dan berhasil menemukan potongan memori akan foto tersebut. Bisa-bisanya dia mencuri foto saya dari tulisan Dian Hendrianto sewaktu kami lagi mengadakan kopdar bloger di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Ini kan berarti dia tidak hanya menelusuri tentang saya, tapi juga akun teman-teman saya. Bedebah betul manusia di balik akun itu.


Pada masanya, sekitar 2015-2016, tulisan saya di blog yang berjudul “Pose Cowok Foto” sempat masuk ke halaman satu Google. Di dalam tulisan itu terdapat belasan foto saya dengan berbagai gaya. Kala pertama kali tercetus ide konyol itu, saya tak punya niat apa-apa selain buat iseng dan seru-seruan. Lalu yang akhirnya terjadi, ternyata foto saya digunakan oleh beberapa oknum. Ada yang berpura-pura menjadi saya; ada yang memakai nama lain, tetapi fotonya wajah saya (menurut beberapa sumber, dia menggunakan akunnya buat menggoda cewek-cewek); mungkin ada juga yang menjadi buzzer politik. Omong-omong soal merayu cewek, saya mendadak terkenang pernah juga membahas hal ini dengan perempuan lain, salah satu pembaca blog saya.





Mulanya saya mencoba bersikap biasa saja dengan persoalan itu selama tidak merugikan diri saya. Tapi begitu saya sudah menerima tiga laporan (melalui surel, pesan Facebook, dan Twitter) tentang pencurian foto ini, lama-kelamaan muncul pikiran-pikiran buruk akan penyalahgunaan foto tersebut. Saya sudah muak, kelewat jengkel, dan berusaha menelusuri semua akun Facebook yang memakai nama saya, kemudian melaporkannya pada sistem. Syukurlah sejak hari itu tidak ada lagi pengaduan dari orang lain. Saya akhirnya bisa merasa tenang.

Demi mengantisipasi agar kejadian bedebah semacam itu tidak terulang kembali, saya pun mulai mengurangi foto diri di Instagram. Saya menyiasatinya dengan menyuguhkan foto pemandangan, makanan, mainan, dan sesekali desain amatiran. Saya berharap sekaligus berdoa supaya tidak ada yang tertipu lagi. 



Hingga datanglah hari Jumat silam, ketika perempuan itu mengadu kepada saya. Saya tak habis pikir, kenapa masih ada yang tertipu lagi dengan kepalsuan tolol kayak begitu? Lebih-lebih dia telah berkomunikasi selama kurang-lebih tiga tahun. Apakah beberapa manusia digital ini lupa untuk berhati-hati di internet? Apakah sebelumnya tidak kepikiran buat memverifikasinya? Apakah masih banyak yang belum paham tentang fitur “telusuri Google untuk gambar”?

Kesimpulan saya dari kejadian hari itu: Sepertinya karena diri saya enggak terkenal, sehingga tidak banyak yang tahu apakah seorang Yoga Akbar S. ini ada di muka bumi. Artinya, para oknum yang bersembunyi di balik wajah orang lain untuk menggaet lawan jenis itu tidak melulu berdasarkan fisiknya yang cakep. Misalnya, saya sendiri sudah sadar diri kalau kurang ganteng—hal ini tertulis dengan jelas di kolom About Me: “Seorang bloger. Tadinya mau jadi playboy, tapi masih kurang ganteng. Kalau bloger enggak ada syarat ganteng.” Namun, kenapa foto paras saya yang apa adanya itu masih saja dipakai berulang-ulang kali? Ini kan berarti faktor saya yang kurang terkenal, sehingga ada sebagian manusia yang memanfaatkannya demi suatu tujuan entah apalah itu. Atau bisa jadi ada orang yang diam-diam membenci saya, lalu tega melakukan perbuatan pengecut semacam itu agar citra diri saya yang pernah bajingan ini semakin memburuk.

Jadi, jika suatu hari ada oknum—entah siapa pun itu—yang memakai wajah saya sebagai foto profilnya lagi, bisa dipastikan orang-orang juga tidak akan sadar bahwa itu akun gadungan. Intinya, jangan mudah percaya dengan yang kita temukan di internet sebelum benar-benar membuktikannya. Lalu buat siapa pun yang pernah menjadi korban atas pemalsuan identitas menggunakan nama maupun foto saya ini, saya cuma bisa memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kejadian busuk ini tidak terjadi lagi.

--

PS: Mulai hari ini, saya membenci foto-foto diri yang termuat di halaman pertama Google. Memang, sih, satu tulisan itu bisa menyumbang trafik terbanyak, yakni 150.000 penayangan lebih, tapi kalau pada akhirnya justru merugikan diri saya mah buat apa? Lagi pula, saya tidak memasang adsense, saya juga tidak kepengin menjadi pesohor. Maka, angka-angka laknat itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Seandainya kamu ingin menyumbangkan ide untuk menghapus tulisan itu karena saya tidak memedulikan trafik, saya akan menjelaskan kalau gagasan goblok itu sudah sejak lama menempel di kepala. Tapi apa yang sudah tertanam di internet pasti akan sulit, bahkan mustahil menghilang. Daripada saya melenyapkannya, bukankah lebih baik saya mempertahankannya sebab itu bisa menjadi sumber utama alias bukti bahwa sayalah pemilik asli foto-foto tersebut?

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/security-protection-anti-virus-265130/
Read More
“Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” –Uzumaki Nagato 

--

Saya berniat menahan diri untuk tidak sering-sering membuka Twitter dan berkicau mulai 1 September 2019. Daripada banyak bacot, saya pikir lebih asyik memperbanyak baca buku. Sayangnya, novel yang sedang saya baca—Seribu Burung Bangau, karangan Yasunari Kawabata—itu kisahnya justru mengharukan. Saya perlu mengalihkan kesedihan dengan mencari hiburan di Twitter. Biasanya di sana terdapat video-video lucu. Belum ada satu menit menyimak lini masa, bukannya terhibur saya malah jengkel bukan main. Saya terpicu oleh sebuah utas yang pernyataan-pernyataannya tampak tolol, sehingga saya menyempatkan diri untuk membalas opininya. Sikap bergeming saya yang sudah berjalan lima hari itu pun akhirnya gagal pada hari keenam. 



Kesimpulan dari utas itu begini: 

1. Ada seorang bloger bernama Sobat Gurun bertanya, apakah bisa sesama bloger saling mendukung dengan cara saling mengikuti media sosial meskipun tidak saling mengenal, juga belum pernah bertemu? 

2. Tapi pada kalimat berikutnya, dia sendiri justru meragukannya. Lalu, dia dengan cerobohnya juga menilai para bloger ternama enggak akan mau mengikuti balik bloger pemula karena mereka sudah punya banyak pengikut, sudah memiliki banyak tulisan di blognya, dan namanya terkenal di lingkungan bloger. 

3. Sobat Gurun bahkan juga berasumsi bahwa para bloger senior—khususnya yang telah memiliki banyak prestasi—alergi sama bloger yang baru mengenal dunia blog.

4. Ketika Sobat Gurun mendapatkan jawaban dari beberapa bloger tentang saling mengikuti medsos yang tergantung dari konten dan minat masing-masing, dia tampak begitu kecewa sebab tadinya mengira anak bloger tuh asyik semua.

5. Dia tidak setuju dengan pertemanan yang pilih-pilih. 

Kelima poin itu pun bisa dibuat lebih simpel lagi: Sobat Gurun ingin punya banyak teman bloger (dalam konteks pertemanan yang saling mengikuti media sosial), apalagi kalau bisa akrab sama bloger senior yang sudah terkenal.

Lantaran hal itu, saya langsung berspekulasi bahwa ia sebenarnya kepengin mencari pengikut sebanyak-banyaknya dengan tujuan menjadi buzzer atau bloger yang mendapatkan bayaran dari mengiklan di blog maupun medsos. Biasanya kan untuk menjadi buzzer membutuhkan syarat minimal pengikut—harus menyentuh angka 1.000, misalnya. Jadilah saya menjawab pernyataan dia tersebut: 

Bisalah, Sob. Beberapa teman bloger saya hari ini, pas zaman 2014-2016 rata-rata belum pernah ketemu langsung. Sebelum follow di medsos, kami saling mendukung dengan meramaikan kolom komentar. Kami gantian blogwalking (dengan tulus, bukan cari trafik). Jadi, enggak ada masalah soal pemula.

Sekarang pertanyaannya, kau cari followers buat apa? Menggenapkan syarat minimal menjadi buzzer? Live twit? Mengiklankan produk? Kalau itu tujuannya, biasanya saya malas banget buat mengikuti balik akunnya.

Beberapa kawan saya kini ada yang memilih jalan itu. Saya tidak keberatan. Karena sebelumnya sudah bertemu dan kenal. Saya mencoba menghargai pilihannya. Lalu, jika itu orang asing dan yang saya dapatkan di medsosnya hanya iklan, iklan, dan iklan. Interaksi juga tidak ada. Terus buat apa? 

Hitungan hari telah berganti menjadi minggu sejak saya melempar kalimat itu, tapi Sobat Gurun belum juga merespons pertanyaan saya. Mungkin tuduhan saya itu ada benarnya. 

Saya sih masih tak habis pikir dengan Sobat Gurun yang bisa-bisanya berpendapat bahwa anak bloger itu asyik semua. Dia sepertinya belum tahu kalau beberapa bloger pada tukang gibah. Namanya hidup kan punya dua sisi. Ada yang baik, ada yang kayak tai. Nah, saya termasuk bagian buruknya. Setidaknya, saya masih berusaha jadi tai yang nantinya bisa diolah jadi pupuk kompos. Entah kapan bermanfaatnya, yang penting saya masih mau berproses menjadi lebih baik.

Saya juga tak tahu apakah Sobat Gurun itu termasuk anak baru yang bermain Twitter atau baru hijrah dari Facebook (saya tak ingin repot-repot menyelidikinya), sebab kebanyakan orang sudah tahu bahwa Twitter itu fungsinya buat mengikuti akun-akun yang menarik minat kita. Bukan mengikuti akun teman sebagaimana Facebook yang membutuhkan persetujuan dan akhirnya menjadi mutual. Jadi, jika ada seorang teman yang mengikuti akun saya, lalu saya tidak tertarik dengan isi medsosnya, kemungkinan besar tidak akan saya ikuti balik. Seandainya ada rasa tidak enakan, palingan saya tekan “follow”, terus langsung pilih “mute”. Bagi saya, hal itu sah-sah saja. Lagian, kita memang punya hak buat memilih teman, bukan?


Poin kelima dari pernyataan Sobat Gurun ini masih lucu sekali. Setiap manusia berhak mau memilih makan pakai lauk apa, membaca buku jenis apa, menonton film genre apa, kuliah di mana, kerja di mana, pacaran sama siapa, menikah sama siapa, dan sebagainya. Begitu juga dengan memilih teman, Sob. Kalaupun dikasih uang satu juta, saya tetap enggak akan pernah mau berteman sama Sobat Gurun. Kalau seratus miliar mungkin saya baru mau, tapi itu jelas pengandaian yang tidak mungkin. Intinya, saya tetap tidak sudi berkawan dengannya.

Dari kalimatnya yang terlihat sangat ingin adanya saling mengikuti akun sesama bloger, saya pikir dia sungguh-sungguh berusaha memaksakan standarnya itu kepada semua bloger. 

Saya jadi ingin bercerita sedikit kepadanya. Saya sudah ngeblog dari 2012 (pertama kali bikin), terus mulai aktif 2015, tapi sampai hari ini pengikut saya di medsos masih segitu-segitu aja. Tidak ada yang mencapai seribu. Mungkin karena saya tidak mengikuti balik mereka, terus sebagian dari mereka akhirnya menekan kembali tombol unfollow. Mungkin juga karena saya akhir-akhir ini sungguh sinis dan menyebalkan. Toh, saya memang tak berharap punya banyak teman ketika bermain medsos. 

Sobat Gurun kemudian memberikan alasan bahwa mengikuti akun medsos sesama bloger itu merupakan bentuk dukungan. Oh, ayolah, kau tak usah mengucapkan kalimat munafik kayak begitu. Kau membutuhkan banyak pengikut buat syarat menjadi buzzer, kan? Kau kan tahu zaman sekarang sudah banyak penjual followers, keluarkan modal sedikit apa susahnya, sih? Atau kau tidak suka dengan kepalsuan semacam itu? Lantas, teman-teman yang hanya sekadar angka tanpa interaksi itu bukankah juga bentuk kepalsuan? 

Namun, jika niatmu itu benar-benar ingin saling mendukung sesama bloger, saya pikir kau ialah manusia yang begitu mulia sekaligus goblok. Saya dan beberapa kawan sepertinya tak butuh dukunganmu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan atau saling support—kata Sobat Gurun itu, alhamdulillah saya sejauh ini bisa tetap mendukung diri sendiri. Apalah artinya didukung orang lain, Sob, kalau dirimu sendiri itu pada dasarnya makhluk pemalas? Tapi tenang saja, saya juga termasuk pemalas, kok. Makanya hobinya cuma leyeh-leyeh membaca buku sembari sesekali menulis di blog buat menghibur diri sendiri.

Mulanya saya berpikir masalah tentang Sobat Gurun itu sudah kelar sehabis banyak bloger yang tidak sependapat dengannya. Nyatanya, dia justru mempertegas gagasan bodohnya tersebut lewat tulisan blog bertajuk “Bloger: Fenomena Berteman Sebatas Konten.” Lalu, Teh Fasya, teman bloger yang tidak setuju dengan opini Sobat Gurun, membuat antitesisnya: Berteman (Tidak) Sebatas Konten. Sepertinya apa yang Fasya sampaikan sudah cukup mewakilkan saya. Saya tak perlu membahasnya lebih jauh. Saya palingan hanya menambahkan sedikit. 

Wahai Sobat Gurun, sebelum kau menerbitkan tulisan di blog, tolong jangan malas menyunting. Cek kembali susunan kalimatnya. Baru baca paragraf pertamanya saja saya sudah mual bukan main lantaran kebanyakan tertawa. Dia menyuguhkan kalimat supaya pembacanya lapangan dada dan berpikiran terbuka. Lapangan dada itu apa? Saya tahunya lapangan sepak bola, lapangan basket, atau lapangan pekerjaan. Oh, apa maksudmu itu berlapang dada? Tapi, boleh jadi diksi lapangan dada itu memang ada. Kemampuan kosakata saya mungkin yang keterlaluan payah. 

Saya lantas kembali mengakak membaca kalimat berikut ini: “Yang membuat aku bingung, sejak kapan anak bloger membuat dan menyebarkan konten negatif, porno dan ujar kebencian? (saya langsung salin tempel dari blognya tanpa memperbaiki kalimatnya). 

Sepertinya Sobat Gurun memang belum menjelajahi dunia blog terlalu jauh. Dia pasti tak tahu, pada masanya—sekitar 2015-2016—saya pernah mengisi blog ini dengan kejahatan yang dia sebutkan (pembaca lama blog saya pasti tahu saya lumayan sering menghadirkan cerita mesum). Syukurlah saya sekarang sudah berhijrah. Toh, selain hal mesum, gesekan-gesekan di dunia blog juga lumayan banyak. Masa sih dia belum pernah menemukan tulisan bloger yang lagi menyindir bloger lain—bahkan komunitas lain? Seandainya belum, tulisan Fasya tadi bisa menjadi contoh. Teks-teks yang saya susun dengan penuh kebencian ini juga bisa menjadi bukti. 

Yang paling menggelikan dari kalimat Sobat Gurun sepertinya yang ini: 



Kenapa sih kau terlalu memaksa bloger buat saling meretwit, Sob? Sepenting itukah sebuah engagement? Sejauh yang saya tahu tentang tetek bengek ngeblog itu begini: Jika tulisanmu bagus, orang-orang bakal mencarinya. Menunggu-nunggu kapan terbit tulisan baru. Mereka pun rela berkunjung balik lagi dan lagi. Kalau memaksa dan mengemis retwit mah kayak orang yang enggak memiliki integritas.

Sebetulnya saya sudah tidak tega menjotos sobat gurun dengan kalimat-kalimat sinis semacam ini. Apalagi hantaman bloger lain di media sosial sudah cukup bikin dirinya bonyok. Tapi untuk terakhir kalinya, saya sangat ingin berkata kepadanya—meminjam jurus maut yang saya pelajari dari seseorang di bagian penerbitan: “Tulisanmu masuk kategori jelek aja belum.” Dengan kata lain, masih di bawahnya jelek. Sori ralat, di bawahnya-bawahnya-bawahnya jelek. 


Saya mencoba melupakan persoalan Sobat Gurun dengan mengejek diri sendiri lewat gambar ini. 


Caption: Baru sadar kalau foto profil saya tuh illuminati. Bisa pas gitu kaosnya terlipat menjadi mata satu. Hmm. 

Agia tiba-tiba mengingatkan saya untuk berhati-hati karena foto itu rentan menjadi bahan meme. Saya pun meresponsnya tidak apa-apa, asalkan tidak semenyedihkan meme Dian Hendrianto.



Rupanya, sikap tidak keberatan saya tersebut langsung menjadi bahan iseng Agia seperti berikut. 



Saya otomatis terbahak-bahak. Baru sadar bahwa posisi foto saya dan Sobat Gurun itu sama-sama menengok ke samping dan bisa dibikin saling bertatapan. Mungkin Agia—yang seolah-olah menjadi wasit di antara saya dan Sobat Gurun—tampak bosan dan gemas melihat Sobat Gurun cuma terdiam menerima pukulan-pukulan saya tanpa adanya serangan balasan. 

Saya tidak akan ambil pusing dengan diamnya itu. Saya justru dapat belajar sesuatu hal dari bergemingnya Sobat Gurun—yang entah tak mampu memukul balik atau memang tidak suka memperkeruh suasana: Adakalanya kita lebih baik diam daripada memperdebatkan gagasan yang jelas-jelas berseberangan.

Hingga nanti hari kiamat datang, mungkin Sobat Gurun akan terus berpikir bahwa setiap bloger bisa saling mendukung satu sama lain, sedangkan saya juga berpegang teguh dengan keyakinan Pain alias Uzumaki Nagato, “Selama masih ada manusia, benci juga akan tetap ada.” Dan saya benci orang yang gagasannya setolol itu.


Mumpung jiwa iseng dan hasrat bacot saya lagi menggebu-gebu, saya akhirnya gantian bikin meme buat Agia yang foto aibnya pernah tersebar. Inspirasi meme ini saya ambil dari situs rujukan: Agia, asisten dosen termuda di UIN Bandung




Ini sebuah kehormatan bagi saya bisa membalas meme Agia—si tukang mengejek paling asyik. Meski begitu, saya cuma berharap bercandaan-bercandaan itu tidak pernah melukai hati kawan-kawan saya. Sebagaimana saya tertawa ketika diledek, walaupun saya tahu sensitivitas setiap manusia itu berbeda-beda, saya hanya ingin mereka juga bersikap demikian. 

Sebab terakhir kali saya berkata sesuatu hal seenak jidat kepada penulis koplak-koplak itu, dirinya sempat marah terhadap saya. Entah kemarahannya itu masih berlanjut atau enggak, saya tak peduli. Saya sih berprinsip, ketika kau berani memarodikan dan meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas. Perang meme itu buat saya bagaikan saling mengejek antarteman di tongkrongan suatu warkop. Tapi ketika ada yang tampak sakit hati, ya udah. Biasanya beberapa teman akan mencoba mengerti, terus dia enggak akan disenggol-senggol lagi. 


Berbicara soal mengejek, sewaktu menjelang tengah malam—masih pada hari yang sama ketika lini masa saya dan beberapa kawan dipenuhi topik Sobat Gurun, ternyata ada seseorang yang diam-diam membicarakan kesinisan antarbloger tersebut. 





Saya tahu tentang hal itu agak terlambat. Jika seorang kawan tidak mengirimkan screenshot dengan pertanyaan, “Twit dia tuh buat kita, ya?”, mungkin saya juga tidak akan pernah mengetahuinya. 

Saya tadinya tidak ingin kepedean. Tapi ketika coba menganalisis twitnya yang hanya berbeda empat menit, lalu gaya ngetwitnya yang dibumbui “wkwkwkwk” (biar terkesan lucu, padahal tidak sama sekali) juga serupa, bisa disimpulkan itu tertuju buat saya dan beberapa kawan. Apakah ada bloger lain yang sinis? Setahu saya, cuma kami yang sinisnya kelewatan terhadap Sobat Gurun. 

Saya mulanya juga sempat merasa malu jika keributan itu menjadi bahan tertawaan orang di sekitar. Namun, karena saya anaknya kurang peduli dengan komentar orang lain, saya cuek saja setiap kali mengetwit—baik itu buat mengeluh, bercerita tentang kesibukan dalam sehari, ataupun membahas persoalan cinta; saya akhirnya merenung dan menyimpulkan: bukankah itu asyik buat kalian, khususnya Iqbal (orang yang bikin twit itu), bisa mendapatkan hiburan secara gratis? Karena ada orang-orang yang perlu membayar ratusan ribu terlebih dahulu buat menonton Stand Up Comedy demi mencari suatu hiburan.

Lagi pula, kenapa dia seakan-akan kaget dan baru tahu hal semacam itu, ya? Sejak dulu masalah di dunia bloger yang sejenis kan sepertinya sudah cukup banyak. Jika ada silang pendapat, terus berdebat, dan bahkan musuhan, itu lazim terjadi. Sama kayak di dunia tulis-menulis, saling kritik, saling ejek. Idrus pun pernah mengomentari Pramoedya Ananta Toer: “Pram, kamu itu tidak menulis. Kamu berak!” 

Kalau dia memang merasa lucu ketika melihat bloger sinis dengan bloger lainnya, lantas kenapa dia ujung-ujungnya ikutan sinis? Mana di kalimatnya itu dia menggeneralisasi satu lingkaran pula. Saya sih cuma membayangkan kalau dia betulan enggak suka sama pertemanan kami (atau lingkaran siapalah yang dimaksud), lalu menyenggol begitu, nanti bakalan ada yang gantian membalas, “Kau pikir dirimu asyik, hah? Becerminlah. Apakah ngatain ‘SJW tai’ itu enggak sok rebel?” 

Seandainya hal ini termasuk salah paham, saya tetap akan memegang prinsip yang sempat saya katakan di atas, “Ketika kau berani meledek seseorang atau sesuatu hal, kau juga harus siap dibalas—entah oleh siapa pun itu.”

Saya pun menganalogikan kejadian tersebut begini: 

Saya dan beberapa kawan lagi asyik membaca buku di sebuah taman. Lalu saya mendengar ada seseorang berteriak di dekat situ. Berhubung saya memakai earphone, saya tidak mendengar dengan jelas kalimatnya ataupun siapa yang mengeluarkan suara. Agus, kawan yang duduk di sebelah saya, pun memberi tahu saya sembari menunjuk orangnya, “Dia tadi teriak, ‘Lucu melihat orang-orang baca buku di taman’, terus dia juga mengejek kita sok kutu buku, Yog.” 

“Dia emang bermaksud mengejek kita atau orang lain, Gus?” tanya saya. 

“Mungkin emang buat kita. Ini perlu kita balas atau didiamkan aja?” 

Saya malas berkeliling taman untuk memastikan siapa orang yang dia ledek itu. Saya tadinya juga sudah ingin menahan diri, tapi entah mengapa mendadak terkenang ucapan Gaspar di akhir bab satu novel 24 Jam Bersama Gaspar—versi modifikasi, “Kalau kau menjadi temanku, aku siap untuk mengejek semua musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menusukku dari belakang alias berkhianat.” Dan begitulah kisah bergulir hingga saya gantian mengejeknya. 

Jika ada seseorang yang melihat perseteruan kami kemudian berkomentar, “Sesama cowok kok bisanya adu bacot. Langsung ketemuan dan baku hantam dong.” Saya akan menjawab, maaf ya, cara kekerasan seperti itu buat saya sudah kuno. Apakah itu jawaban dari seorang manusia yang bisanya cuma cari-cari alasan? Baiklah, saya akan mengaku bahwa diri ini payah dalam bertarung. Fisik saya tidak mumpuni buat berkelahi. Saya bahkan sudah lupa rasanya memukul orang—terakhir kali bertengkar fisik sudah 8-9 tahun silam saat SMK. Saya memang tak suka perkelahian semacam itu. Sebagai seorang bloger, senjata saya adalah tulisan. Jadi, saya pikir sebuah tulisan mestinya juga dibalas dengan tulisan. Gagasan dibalas dengan gagasan. Esai dibalas dengan esai. Kritik dibalas dengan kritik. Ejekan dibalas dengan ejekan. Maka, sesudah ini siapa pun boleh menyerang saya dengan kalimat-kalimat keji seandainya ada yang tidak terima atau keberatan dengan tulisan ini.

Namun, sekalipun saya bebas mengutarakan apa saja di dalam tulisan, sebisa mungkin saya berusaha agar tidak menghina fisik seseorang. Saya memilih menyerang pemikirannya yang sok tahu itu dengan argumen saya yang tak kalah sotoy

Saya sampai hari ini masih heran dengan kalimat-kalimat yang gemar menyerang lingkaran orang lain semacam itu. Selama situasinya berada di tempat umum (dalam artian platform di dunia maya), kau kan bisa pindah ke tempat lain jika tidak menyukainya. Kau pun bisa berhenti melihat atau mendengarnya. Dia yang risih, kok jadi kami yang repot dan disuruh diam. Maka, buat Iqbal atau siapa pun yang tidak suka dengan lingkaran orang lain, bahkan bisa juga untuk mengingatkan diri sendiri, saya rasanya ingin meminjam kalimat dari Yasu di film animasi Nana, “Jika kau punya banyak waktu luang buat merusak kebun orang lain, cobalah tanam bunga di kebun milikmu sendiri.”


Waktu itu saya pernah berharap agar dunia blog dapat ramai lagi. Tapi yang jelas bukan dengan drama tai kuda semacam ini. Saya tak tahu kenapa belakangan ini begitu berisik di dunia maya. Mungkin jiwa sinis saya sedang meluap-luapnya. Kalau kau tidak menyukai setiap twit dan caption saya, berhentilah mengikuti akun media sosial saya. Jika tidak suka juga dengan tulisan-tulisan saya, kau juga tidak perlu membaca blog ini. Seandainya sikap songong yang seperti ini membuat saya tidak memiliki teman lagi, saya akan berusaha menerimanya. Lirik Aku Adalah Aku dari ThirteenJkt berikut ini sepertinya mewakilkan diri saya: “Maafkan aku bila terkesan sombong, tapi aku bahagia hidup tanpa pembohong. Maafkan aku bila merendahkan mereka.” 

Saya palingan setelah ini akan kembali berkawan dengan buku-buku saja sebab, mengutip novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya garapan Sabda Armandio, buku enggak akan menyakiti pembaca seperti manusia menyakiti manusia lain.

--

PS: Kalimat asli Gaspar di dalam novelnya, “Kalau kau menjadi temanku, aku tak segan-segan menghancurkan hidup musuh-musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan: jangan pernah menyentuhku dari belakang.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/animal-forest-wood-bird-wild-birds-4365856/
Read More
Pilihlah salah satu menu puisi berikut ini yang sesuai dengan seleramu. Jika tidak ada satu pun yang membuatmu suka, kamu bisa membuat menu sendiri di kotak yang tersedia.


Membuat Donat di Tubuhmu 



Pecahkan empat butir telur, buanglah tangisannya, dan masukkan mata cerahnya ke dalam hatimu. Ambil dua genggam pasir manis, lalu campurkan dengan segelas penuh penderitaan. Aduk searah jarum jam, kemudian minumlah.

Tuang seplastik terigu ke dalam baskom, juga bubuk ragi sebelum datangnya pagi. Muntahkan semua air yang tadi kauminum. Biarkan segalanya tercampur dan bawalah ke dapur. Diamkan selama lima menit. Jika sudah, balurkan di sekujur tubuhmu. Tidurlah, bermimpilah. Biarkan dirimu menjadi adonan. Jika sudah terbangun dari nyenyak, seraplah pengetahuan yang banyak. Dengan bekal itu, kau perlahan-lahan dapat menjalani kehidupan sembari belajar lebih luas lagi.

Kejamnya kenyataan dan takdir hidup akan membanting tubuhmu itu sampai teksturnya pas. Kedengarannya memang bengis, tapi kau mesti kuat dan tak perlu sering-sering menangis. Nanti dengan sendirinya karaktermu akan mengembang.

Seraya menunggu tubuhmu mekar, kau dapat memanaskan bakat dengan semangatmu itu. Gorenglah dengan sedikit amarahmu hingga kecokelatan dan matang. Tapi sebelum sampai ke titik itu, mungkin kau akan terjatuh dan gagal berkali-kali. Tak apa, begitulah proses bekerja. Jika sudah puas menikmatinya, angkat dirimu dari keterpurukan, lalu tiriskan segala kesedihan. Setelahnya kau bisa menambahkan butiran salju atau meses atau apa pun sesuai selera. Kini, tubuh donatmu pun sudah tampak istimewa.

/2017 


Wedang 



Ketika aku berkunjung ke rumahmu, 
kau menyuguhkanku secangkir wedang. 

Sebagai tanda terima kasih, 
aku pun membuatkanmu puisi 
sambil menunggu panasnya surut. 

Tapi saat wedang itu ingin kuminum, 
ada seekor lalat yang asyik berenang. 
Lantas, keluarlah bangsat dari dalam mulut. 

/2017


Tidak Enak 




Tidur adalah kepingan yang kutabung di dalam kaleng-kaleng biskuit. Ketika nanti kubuka, isinya tidak akan memberikan apa dan siapa yang kurapalkan dalam doa. Namun, garing dan pahitnya itu ternyata masih dapat kukunyah. Hingga tidak enak pun telah menjadi rasa mewah di lidah.

/2017


Masakan Ayah




Sejak kematian Ibu
Ayah memiliki peran yang banyak
Terutama dalam tugas memasak.

Ayah mulai belajar merebus sepiring cinta
Menggoreng sepotong gembira
Menumis seikat bahagia
Untuk dirinya, aku, dan adikku.

Tapi, Ayah selalu punya resep sendiri
Misalnya, sayur asem menjadi manis
Sayur gudeg menjadi asin
Ikan asin berubah pahit.

Suatu hari, tetanggaku pernah bertanya:
“Apakah ayahmu tidak mau kawin lagi
untuk mengisi hatinya yang kosong?”

Ah, tetanggaku sepertinya memang tidak tahu
Bahwa Ayah sudah sering berbulan madu
dengan masakan-masakan gosong
ketika dirinya sedang bengong.


/2017


Air Senyum



Jari-jari tanganku masih menempel aroma tubuhmu:
Bumbu khas nasi padang yang kubeli tadi siang.

Kuhirup dalam-dalam sebagaimana oksigen
Yang kupuja menjelang petang.

Bagaimana aku selalu mengingat
Sekumpulan udara yang telah tercampur
Dengan keringat para pekerja
Yang letih menangkap bintang.

Mereka ingin selalu bersinar
Tapi kilaunya justru meredup
pada malam hari.

Hanya tersisa puing-puing luka
Yang ia bawa pulang dengan tangan terbuka.

Niatnya untuk diberikan kepada anak dan istri
Tapi setiap hari di apartemen itu
Tak ada seorang pun yang menyambutnya.

Cuma ada cangkir bergambar muka
Yang berisi air senyum duka dan murka.

/2018

--

Sumber gambar:

https://pixabay.com/photos/donut-american-doughnuts-pastries-3448210/
https://pixabay.com/photos/ginger-ginger-tea-hot-drink-drink-3966502/
https://pixabay.com/photos/cookies-baked-goods-fresh-chocolate-1372607/
https://pixabay.com/photos/meat-wood-burned-spare-ribs-own-2231339/

https://www.tokopedia.com/gtainone/cangkir-ajaib-cangkir-suhu-2-warna-magic-mug-motif-senyum-y-03
Read More
Tulisan sebelumnya bisa kamu baca di Bagian Satu dan Bagian Kedua.

--

21. Film yang tidak ada satu pun orang bakal menduga kalau saya menyukainya

Unforgiven (1992). Saya membayangkan beberapa teman spontan bertanya ketika saya menyebut film ini, “Loh, Yoga suka film western kayak gitu?”




Sebetulnya, saya memang kurang suka dengan film western atau yang dipenuhi tembak-tembakan ala koboi. Saya nekat menonton film ini karena sehabis membaca esai Pak Sulak yang menyenggol film tersebut. Di tulisan itu saya baru tahu bahwa Unforgiven memenangkan dua piala Oscar untuk film terbaik dan sutradara terbaik. Seandainya film itu tidak memenangkan apa-apa, kalau Pak Sulak sudah merekomendasikannya dan bilang bagus, saya bakalan rela menontonnya. Bisa dikatakan beliau ialah orang yang saya percayai referensinya. Untuk menjawab mengapa saya menyukai film koboi ini, maka saya akan merangkum sebagian jalan ceritanya.

Kisah film ini dibuka dengan visual yang apik, lalu setelahnya malah berubah menjadi adegan yang sangat keji. Wajah seorang pelacur disayat-sayat pakai belati oleh penyewa jasanya. Apa kira-kira yang bikin cowok bedebah itu tega berbuat jahat kepada si pelacur?

Di Indonesia, seingat saya pernah ada kasus seorang lonte yang dibunuh dan dimutilasi lantaran dia mengatakan ketiak penyewanya bau comberan saat mereka tengah bermain kuda-kudaan. Nah, kalau di dalam film ini, perempuan jalang yang wajahnya dibikin cacat pakai belati oleh koboi—pemakai jasanya—itu lantaran si sundal tertawa ketika melihat burung si penyewa, atau malah berkata, “Tititnya kecil” (saya agak lupa mana yang benar antara kedua itu).

Namun, si koboi rupanya tidak dipenjara oleh sheriff yang bertugas di kota itu. Si koboi cuma disuruh membayar beberapa ekor kuda atas kejahatannya. Tak terima temannya diperlakukan seperti itu dan hukuman yang diberikan kepada koboi berengsek terasa tidak sepadan, para pelacur lain segera mengumpulkan uang untuk hadiah sayembara—bagi siapa pun yang berhasil membunuh koboi jahanam itu. Sayangnya, ada larangan membawa senjata di kota kecil yang ditinggali para pelacur tersebut.

Meski begitu, ada seorang koboi muda yang tetap tertarik, lantas mengajak koboi pensiunan (diperankan oleh Clint Eastwood) yang dulunya disegani setiap orang atas kejahatannya. Konyolnya, koboi pensiunan ini telah berjanji kepada mendiang istrinya untuk tidak mabuk-mabukan dan membunuh lagi. Sesampainya di kota itu, benar saja bahwa si koboi pensiunan justru dihajar habis-habisan dan tampak tidak berdaya. Pelacur yang wajahnya lecet-lecet itu kemudian menolongnya dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

Setelah cerita bergulir, sang koboi pensiunan mendadak terpicu akan sesuatu hal, sehingga dia rela melanggar sumpah kepada istrinya dan mengamuk lagi di kota itu. Akhirnya, dia bisa memperlihatkan wibawanya kembali di penghujung film.

Film Unforgiven secara tak langsung telah mengubah cara pandang saya terhadap film-film western.


22. Film klasik favorit

Saya jarang banget menyaksikan film lawas. Yang paling pertama muncul di kepala ialah The Godfather (1972). Tapi saya kurang sreg memilih film itu sebab beberapa kali mengantuk ketika menontonnya. Jadilah jawaban saya beralih menjadi Breakfast at Tiffany’s (1961). Alasan saya memfavoritkannya karena Holly Golightly (Audrey Hepburn) menjadi daya tarik di film ini. Terus, saya juga suka dengan salah satu tokoh yang berkarier sebagai penulis amatir. Saya punya ketertarikan khusus terhadap karakter yang profesinya penulis.

Biarpun di film ini tokoh Holly termasuk perempuan materialistis (saya agak malas dengan cewek-cewek yang menuhankan materi), dia itu amatlah misterius. Hingga bikin saya penasaran, Holly itu sebenarnya siapa? Apa alasan dia menjadi perempuan seperti itu? Dalam menjalani hidup yang mewah kayak begitu, dia dapat uang dari mana saja? Dan seterusnya, dan sebagainya. Saya mulanya sudah kecewa sekali dengan perangai Holly saat film bergulir di pertengahan cerita menuju akhir. Namun di penutup film, dia sungguh berhasil mengobati sekaligus memuaskan saya.


23. Film dengan trek suara terbaik

Saya perhatikan di pertanyaan ini banyak yang memberikan jawaban: La La Land (2016). Tapi maaf sekali, saya belum sempat menonton film itu. Kurang tertarik juga, sih. Entah kenapa saya bingung bukan main menjawab pertanyaan ini. Sejujurnya, saya memang rada jarang memperhatikan lagu-lagu di sebuah film. Sekalipun saya tahu, palingan satu atau dua lagu saja. Misalnya, saya ingat lagu Nirvana, Come As You Are, di film Captain Marvel (2019) yang sungguh mengejutkan para penonton di bioskop hari itu. Saya lantas terkenang pula dengan film Watchmen (2009). Film DC berdurasi 3,5 jam (panjang-banget-anjir) yang sangat beda dari pahlawan super lainnya ini menampilkan lagu favorit saya: The Sound of Silence dari Simon and Garfunkel pada acara pemakaman salah satu tokohnya. Lalu yang tidak kalah mencengangkan, lagu pengiring adegan seksnya justru Hallelujah karya Leonard Cohen. Kan konyol banget.

Masa iya saya harus memilihnya gara-gara hal itu? Saya pun mencoba berpikir keras seraya mengingat-ingat film yang musiknya asyik. Setelah merenung selama 8 menit 36 detik, maka jawaban saya adalah High Fidelity (2000). Selain karena filmnya berkisah tentang cowok bernama Rob Gordon yang memiliki toko piringan hitam dan, tentu saja, berhubungan dengan musik, saya suka dengan pilihan lagu di dalamnya. Ada musisi keren seperti Bob Dylan, John Wesley, dan Stevie Wonder. Berkat film ini saya juga jadi mengenal nama sekaligus lagu dari The 13th Floor Elevator dan The Velved Underground yang mantap didengar.






24. Film paling enggak favorit

Suicide Squad (2016). Saya terlalu berharap banyak dari film ini. Selama ini kebanyakan film pahlawan super lebih sering dituturkan lewat sudut pandang para pahlawan, lalu penjahatnya dibuat menderita atau kalah di akhir film. Kira-kira, bagaimana kalau hal itu di balik, ya? Saya mendadak jadi ingin tahu sudut pandang para penjahat. Nah, munculnya Suicide Squad ini seolah-olah mengabulkan doa saya. Kisah sekumpulan penjahat kayaknya bakal kebangetan kerennya nih, pikir saya sebelum menonton. Sebagaimana yang sudah saya jawab di tokoh favorit sebuah film, yakni Joker, saya juga rindu dengan karakternya yang bakalan menggila di film ini. Saya juga suka terhadap Margot Robbie yang bakal memerankan Harley Quinn. Ditambah lagi ada Cara Delevingne yang manis sekaligus nakal di mata saya. Pokoknya, imajinasi akan film tersebut sudah tersusun dengan ciamik di kepala saya. Namun begitu film diputar, saya malah jenuh dan mengantuk. Sebetulnya ini film apaan sih, ya Tuhan? Alur cerita enggak jelas. Tokoh antagonis yang buruknya bikin istigfar. Cara Delevingne yang saya duga akan tampil aduhai, justru bikin geli. Apalagi si Joker, buset anehnya kebangetan (aneh dalam artian jelek). Asli, rusaklah film ini.


25. Film yang memberikan kesenangan sekaligus perasaan bersalah

Suatu malam saya bertanya sekalian meminta saran kepada Tania, apakah punya rekomendasi film Thailand yang lucu seperti SuckSeed (2011) dan Pee Mak (2013)? Saya malam itu lagi butuh hiburan dan pengin ketawa karena lagi stres berat soal pekerjaan lepas. Tania lantas menyebutkan beberapa film, dan salah satunya Saranae Siblor (2010). Ternyata jawaban dia ampuh sekali. Saya sampai mengakak tidak keruan sepanjang menonton film ini. Kepala yang tadinya terasa berat karena banyak pikiran bisa mendadak ringan dalam sekejap oleh kegoblokan cerita di film ini.

Lalu, kenapa saya merasa bersalah? Sebab alur ceritanya keterlaluan absurd. Percintaannya juga tidak jelas. Film ini seakan-akan tidak memiliki premis. Selama saya menyaksikannya dari awal hingga film hampir berakhir, saya terus bertanya-tanya, sebetulnya film ini mengisahkan tentang apa selain cuma bisa bikin tertawa? Saranae Siblor mungkin hanya dirancang buat menghibur. Sehingga malah melupakan elemen-elemen penting dalam penceritaan.


26. Film yang paling mengecewakan

Justice League (2017). Dari segi plot saja buat saya sudah mengecewakan banget. Lalu kehadiran Superman bikin pahlawan super lainnya; Batman, Wonder Woman, Aquaman, Flash, serta Cyborg, tampak tidak berguna sama sekali. Apalagi musuh utamanya itu, yang mulanya tampak sangar dan tak terkalahkan, terus mendadak berubah culun di hadapan Superman. Enggak asyik banget. Film ini juga terlalu mengandalkan pesona Wonder Woman untuk menjual filmnya. Seakan-akan dengan melihat kecantikan Gal Gadot, penonton harus dapat memaklumi keburukan yang ada di film tersebut. 


27. Kutipan favorit dari sebuah film

Menurut saya, ada banyak kutipan keren dari setiap film yang pernah saya tonton. Sampai-sampai bikin saya bingung mau memilih yang mana. Tapi sepertinya baru film Fight Club (1999) yang bikin saya rela menjeda filmnya berkali-kali untuk sekadar mencatat perkataan-perkataan tokohnya. Sayangnya, Tyler Durden bilang begini, “The first rule of Fight Club is you don’t talk about Fight Club. The second rule of Fight Club is you DON’T TALK about Fight Club.”

Jadi, saya harus bagaimana? Saya tidak bisa membicarakannya, dong? Lelucon kayak begitu masih lucu atau enggak, sih? Hahaha. Baiklah, saya paling suka yang ini: “You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fvcking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world.”


28. Waralaba alias francis film terbaik

Marvel Cinematic Universe. Sepertinya tidak perlu ada penjelasan, ya? Tapi tulisannya nanti jadi pendek banget. Oke, inilah alasan saya memilih MCU: hingga saat ini memang cuma itu jawaban terbaik, sebab saya kurang sreg dengan film waralaba lainnya. Saya belum pernah mengikuti Star Wars dan Game of Thrones. Saya lumayan suka serial Harry Potter, tapi itu skornya jelas masih di bawah MCU. Lalu Fast and Furious, sejak kematian Paul Walker filmya malah jadi aneh banget dan alur ceritanya terlalu memaksakan. Saya pun tidak meneruskannya lagi. The Lord of the Rings bagus sih, tapi bagian keduanya bikin jenuh dan saya sampai ketiduran beberapa kali. X-Men Universe yang termasuk bagian dari Marvel pun tetap tidak bisa mengalahkan kemantapan MCU. Film triloginya bahkan dinilai gagal, makanya sampai harus dibuat ulang alur baru lewat X-Men First Class dan Days of Future Past. Jadi, ya tetap MCU.


29. Film yang dulu pernah suka, tapi sekarang benci

The Twilight Saga. Sebenarnya saat awal tahu film ini saya merasa biasa saja. Sewaktu SMK saya hanya pernah menonton sekali filmnya di televisi secara tidak sengaja, sebab malam itu tidak ada acara TV yang menarik. Lalu, sehabis lulus saya justru naksir seorang perempuan (pernah saya ceritakan di tulisan Es Campur) yang gandrung banget sama film The Twilight Saga. Secara enggak langsung, saya mau belajar menyukai hal-hal yang dia anggap favorit.

Sekarang, setelah tujuh tahun berlalu, saya entah mengapa sungguh membenci serial film itu. Bukan, bukan karena gagal jadian sama perempuan Gemini sialan itu, kemudian jadi ikutan membenci segala hal tentangnya, melainkan karena film percintaan semacam itu kini mulai terasa norak banget buat saya. The Twilight Saga, film tentang kisah cinta segitiga yang paling tai anjing!


30. Film yang setiap orang harus tonton

PK alias Peekay (2014). Lima tahun belakangan ini banyak manusia yang gemar sekali meributkan agama, khususnya di Indonesia. Mungkin sejak dulu sudah ada kericuhan seperti itu. Tapi setelah ada seorang nonmuslim yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, banyak oknum yang segera memanfaatkan momentum itu untuk memberikan bumbu agama dalam persoalan politik. Saya pikir orang-orang seperti mereka harus menonton film yang dibintangi oleh Aamir Khan ini. Saya sendiri sebetulnya sih tidak masalah dengan prinsip masing-masing manusia dalam menentukan pilihannya. Namun, mengapa kebanyakan dari mereka terlihat tidak bisa menghargai perbedaan? Bahkan dalam suatu kasus, mereka seolah-olah ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan hari ini.

Saya jadi tidak habis pikir dengan orang-orang yang berkata ingin melindungi Tuhan, sampai-sampai mengumpulkan banyak umat untuk melakukan aksi bela agama. Potongan adegan berikut ini sepertinya akan menjotos pemikiran mereka yang sempit dan bersumbu pendek.





--

Mungkin 30 jawaban saya atas kuis bertema film ini terlihat memalukan dan sok tahu banget. Apalagi di mata bloger pengulas film yang referensi tontonannya melimpah. Pastilah saya bakal ditertawakan, bahkan di-tai-tai-in. Tapi masa bodohlah dengan hal itu. Saya memang sedang belajar beropini dalam menilai suatu karya. Setidaknya, saya telah mencoba menjawab dan ingin punya takaran yang sesuai diri saya. Kalau perlu suatu hari kelak saya mau bersikap jujur dan berani bilang buruk akan hal yang saya nilai jelek, meskipun itu karya teman sendiri. Saya tak ingin menampilkan kepalsuan maupun kebohongan. Jangan sampai nanti ada orang yang berkata, “Menilai karya orang yang enggak dikenal kok kritis dan pedas banget. Tapi giliran teman sendiri aja ulasannya dibagus-bagusin, padahal aslinya enggak bermutu.” Begitu pula dengan orang yang tidak saya sukai. Kalau memang karyanya bagus, saya akan tetap memujinya tanpa mencampuradukkan perasaan pribadi. Semoga saja tulisan ini bisa jadi pengingat.



Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/admission-coupon-admit-carnival-2974645/
Read More
Sebelum melanjutkan membaca, alangkah lebih baiknya lihat dulu tulisan Bagian Satu.

--

11. Film kesukaan zaman bocah 

Oh, jelas Kungfu Hustle (2004). Saya masih ingat banget pertama kali menonton filmnya bareng Ibu ketika habis salat Isya di bioskop Trans TV. Tapi berhubung waktu itu saya masih SD, pukul sembilan saya malah ketiduran dan tidak menontonnya sampai tuntas. Paginya, sebelum berangkat sekolah, saya sampai harus bertanya kepada Ibu, bagaimana akhir filmnya? 

Si kakek kodok akhirnya kalah, jawab ibu saya. Stephen Chow jadi jago kungfu. 

Saya merasa tak puas diceritakan kayak begitu. Dua atau tiga tahun kemudian pertanyaan itu akhirnya mendapatkan jawaban yang lebih terang sewaktu saya berhasil menyaksikannya sendiri. Selain lucu dan asyik, Kungfu Hustle itu sungguh berkesan dan punya nilai sentimenal kala saya masih bocah, sebab akan selalu menjadi memori indah bersama Ibu. Kami semacam punya ritual rutin menonton bareng film tersebut ketika kebetulan lagi tayang di televisi.




12. Film kesukaan zaman remaja 

Usia 17 tahun masih pantas dianggap remaja, kan? Saya punya dua versi, yakni lokal dan asing. 

Indonesia: Serigala Terakhir (2009). Kawan-kawan saya di rumah pun sampai berebutan siapa yang pantas menjadi tokoh Jarot (Vino G. Bastian). Filmnya memang terasa bajinganjing (kombinasi kata bajingan dan anjing untuk memuji) bagi saya dan teman-teman sepantaran saat itu. Film itu menumbuhkan rasa berani di dalam darah kami. Kami pengin menjadi jagoan yang tidak kenal rasa takut. Kami pun sampai membentuk sebuah kelompok atau geng, bukti bahwa kami benar-benar ingin menjadi serigala terakhir seperti mereka. Jika mau membandingkan dengan tokoh-tokoh di Ganteng-Ganteng Serigala ataupun Ganteng-Ganteng Swag, pastilah Serigala Terakhir tidak akan terjangkau buat mereka. GGS malah cuma terlihat seperti sekumpulan sampah. 

Film luar: Scott Pilgrim vs. The World (2010). Di mata saya saat remaja, film ini entah kenapa keterlaluan kerennya. Mungkin karena bercerita tentang perjuangan cinta yang apik dan memesona. Demi bisa mendapatkan seorang cewek bernama Ramona Flowers yang setiap hari warna rambutnya selalu berganti-ganti, sang protagonis—Scott Pilgrim (Michael Sera) harus bertarung dan mengalahkan mantan-mantan Ramona terlebih dahulu. Lalu, ada beberapa orang yang mengatakan kalau film yang diadaptasi dari buku atau komik itu biasanya jelek. Terkadang saya memang cukup sepakat, tapi tidak untuk film ini. Film ini buat saya sangat berhasil. Selain bagian bertarungnya yang keren sekaligus konyol, saya menyukai bagian konsernya yang menyuguhkan musik-musik asyik. Visualnya pun tak kalah hebat. Ada adegan-adegan yang diberikan efek animasi, mungin bermaksud agar tidak menghilangkan aura komiknya.


13. Film animasi kesukaan 

Saya enggak akan jawab film-film Pixar seperti serial Toy Story, Zootopia, Ratatouille, Up, Inside Out, dst. Itu sudah terlalu biasa, Sayangku. Saya dengan berani akan membusungkan dada sembari menjawab keras-keras: Friends (2011) 



Saya waktu itu menonton filmnya di televisi. Tanpa perlu harus menonton ulang filmnya, saya masih ingat dan bakal berani bertaruh kalau air mata saya akan menetes ketika disodorkan cerita semantap itu. Sebuah pulau monster yang takut dirusak oleh manusia, pada suatu hari justru kedatangan seorang manusia, tepatnya bocah. Beberapa monster takut dengan anak itu karena mereka berpikir kelak akan menimbulkan bencana. Mereka berniat ingin melenyapkannya. Anak kecil yang tidak memiliki dosa apakah pantas dibunuh? Syukurlah di pulau itu ada juga monster yang memiliki sisi baik. Walaupun ini rada mengingatkan saya pada film Monster, Inc., saya tetap lebih cocok sama Friends


14. Film pertama yang ditonton di bioskop 

Sumpah, saya sudah lupa dan kemampuan menggali memori ini terlalu payah untuk menentukan keakuratannya. Saya sebetulnya masih ingat dengan jelas pertama kali pergi ke bioskop itu zaman SMP buat menonton film horor, tapi saya tak tahu percis film yang mana. Apakah itu Pocong (entah seri yang mana), Kuntilanak (ini juga ada serinya), atau Terowongan Casablanca? Bisa jadi di antara ketiga itu ada yang benar. Tapi, takutnya ingatan saya ini justru berkhianat sebab cuma nonton di DVD rumah teman bareng-bareng, sehingga dulu terasa seperti lagi di bioskop. 

Daripada pertanyaan ini tak terjawab, lebih baik saya menyuguhkan jawaban yang lebih pasti saat saya ke bioskop sewaktu baru lulus SMK tahun 2012. Saya tentu masih ingat, bahkan saya juga menyimpan karcis masuknya.



Saya menonton Perahu Kertas bersama pacar dan seorang kawan—yang juga mengajak pacarnya. Kami bisa dibilang lagi double date. Di antara kami, hanya saya yang tahu tentang Perahu Kertas lantaran pernah membaca novelnya. Kalau teman saya katanya ingin menonton film itu supaya bisa melihat kecantikan Maudy Ayunda. Saya akui, dulu saya juga sempat menggemari sosoknya. Tapi setelah menyaksikan film ini, kemudian kecewa sebab Maudy tidak cocok memerankan Kugy, saya mendadak jengkel terhadapnya. 


15. Film terbaik yang ditonton tahun lalu 

Jika saya menjawab Avengers: Infinity War, apakah terlalu biasa? Sejujurnya, pada 2018 saya jarang banget main ke bioskop. Sekalinya datang ke sana, pasti film yang saya pilih adalah pahlawan super, khususnya keluaran Marvel. Film Avengers: Infinity War jelas termasuk favorit saya dan amat berkesan pada tahun itu. Tapi begitu saya ingat film Marvel lainnya, Ant-Man and the Wasp, saya pikir film itu memiliki nilai lebih di hati saya. Lebih-lebih saya juga sempat menorehkan kenangannya di tulisan: Hari Senin, Bioskop, dan Film Semut


16. Aktor favorit 

Tadinya di kepala saya sudah muncul dua nama: Leonardo DiCaprio dan Keanu Reeves. Saya bingung harus memilih siapa di antara mereka berdua. Lucunya, saya tiba-tiba mengingat perjuangan Christian Bale di film The Machinist (2004) yang rela jadi kurus banget, lalu berubah kekar lagi di Batman Begins (2005), entah kenapa saya langsung berubah pikiran dan jadi memilihnya. Apalagi sejauh ini saya paling suka Bruce Wayne versi Bale. Saya juga menyukai perannya di film The Prestige (2006). 



17. Aktris favorit 

Saya sempat malas berpikir jauh-jauh dan spontan ingin menjawab pasangannya Christian Bale di film The Dark Knight Rises (2012), siapa lagi kalau bukan Anne Hathaway—sang pemeran Cat Woman? Di film itu gaya dia asyik banget. Ditambah lagi Mbak Anne wajahnya juga awet muda banget, ya Allah. Siapa sih yang enggak pengin mengidolakannya? Mungkin ada, tapi palingan jumlahnya hanya sedikit (oke, saya sok tahu). 

Namun, seperti yang sudah saya tulis di jawaban nomor 9, aktris idola saya tentu saja Mary Elizabeth Winstead.




Wendy, protagonis dalam film Final Destination 3 yang saya tonton saat SMP, bisa dibilang merupakan seseorang yang membuat saya mengerti lebih jauh apa itu perasaan suka. Secara tak langsung dia mungkin cinta pertama saya—bolehkan jatuh cinta lewat pandangan pertama di layar kaca? Jika pernyataan maupun pertanyaan barusan tampak aneh, anggaplah itu pertama kalinya saya sangat mengidolakan seorang tokoh. 

Paras Wendy mempunyai pesona yang sulit untuk ditolak. Saya ingin terus memandanginya berlama-lama. Tapi karena saya saat itu belum terlalu akrab dengan internet, saya tak punya inisiatif untuk mencari tahunya lebih lanjut. Setiap kali ke warnet pikiran saya cuma buat main online games.

Hingga suatu hari saya kembali melihatnya di televisi, tepatnya di film Sky High. Saya awalnya tidak sadar dengan Gwen—antagonis yang menyamar dalam film itu—ternyata orang yang sama dengan tokoh Wendy. Di Sky High, dia jelas lebih muda dan aduhai. Mendadak terbit sebuah gagasan: saya pengin punya pacar seperti dia (kenapa saya dulu enggak tahu diri, ya?). 

Beberapa tahun setelah hari itu, saya lulus SMK dan menonton film Scott Pilgrim vs. the World. Saya jelas mengenali Ramona Flowers. Dia perempuan yang saya taksir sedari SMP. Dia adalah Wendy dan Gwen. Meski dia semakin tua, pesonanya tetap tidak luntur di mata saya. Menjadi-jadi malah. Akhirnya, saya mulai mencari tahu nama dan usianya: Mary Elizabeth Winstead, lahir tahun 1984. Gawat, saya suka sama perempuan yang usianya terpaut sebelas tahun. 

Namun, hingga hari ini yang ada di kepala saya tentang Mary ialah tiga tokoh fiksi tersebut. Kala dia baru berusia 21, 22, dan 26—berarti dia termasuk seumuran dengan saya hari ini. Kesimpulan dari penjelasan barusan: sepertinya saya hanya mencintai karakter fiksi dari dirinya. Bukan sosok aslinya. Meskipun begitu, saya tetap ingin berterima kasih kepadanya sebab sudah menjadi perempuan yang memikat hati saya. Menghibur lewat perannya di film-film. 


18. Film yang dinilai berlebihan 

Annie Hall (1977). Apa bagusnya film ini, sih? Serius, saya masih bingung. Beberapa orang bilang bahwa idolanya Raditya Dika ini filmnya bagus-bagus, terutama film yang ini. Tapi ketika saya menontonnya, kok malah merasa Woody Allen banyak bacot. Menurut saya, jauh lebih keren monolognya Deadpool. Berhubung saya takut dinilai sok tahu, terus tampak memberikan jawaban bloon, serta belum terlalu paham mengenai film, lebih-lebih baru ini doang film Woody yang saya tonton sampai habis, lebih baik saya ganti saja.

Amazing Spider-Man, khususnya yang kedua (2012 dan 2014). Filmnya tidak seluar biasa judulnya. Andrew Garfield kayak tai. Sok iye. Waktu baru awal-awal tayang, beberapa teman—terutama yang cewek-cewek—bilang film ini bagus banget dan menyuruh saya buru-buru menonton. Kala saya coba tonton, ah, biasa aja. Saya masih lebih sreg sama Spider-Man versi Tobey Maguire. Mungkin karakter Peter Parker yang diperankan oleh Andrew ini menawarkan kebaruan dan kesegaran dengan aksi tengilnya. Tapi itu cuma awalnya saja. Setelah di film kedua, buat saya dia enggak banget. Plotnya terasa kurang seru. Apalagi musuh-musuhnya juga kelihatan terlalu payah. Karakter musuhnya enggak ada satu pun yang terasa kuat. Berbeda sekali dengan Green Goblin di Spider-Man, lalu Doctor Octavius di Spider-Man 2, dan Sandman di Spider-Man 3. Mereka semua memiliki tempat di hati saya. Satu-satunya bagian yang saya sukai dari film Amazing Spider-Man 2 palingan saat detik-detik tewasnya Gwen Stacy (Emma Stone). 


19. Film yang diremehkan 

SLC Punk (1998). Dari semua kawan, baru Son Agia yang tahu film ini dan bahkan jadi favoritnya, lalu merekomendasikannya kepada saya. Filmnya sudah sempat saya jelaskan di tulisan tontonan ciamik. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini rasanya bukan jawaban diri sendiri. Baiklah, saya memilih versi saya: Wind River (2017).

Waktu itu, saya cuma iseng mencari tahu apa saja filmnya Elizabeth Olsen karena mulai naksir dia sehabis mengikuti sepak terjangnya di Marvel Cinematic Universe. Setelah dikecewakan oleh Oldboy versi remake (mending enggak perlu dibikin ulang, jelek banget, saya cuma sedikit terhibur karena bisa melihat Olsen telanjang), saya mencoba mengobati kekecewaan dengan memilih Wind River tanpa mencari tahu lebih lanjut atau membaca ulasan tentangnya.

Bagaimana kalau Hawkeye (Jeremy Renner) dan Scarlet Witch dipertemukan ke dalam cerita lain? Apa yang bisa mereka lakukan di kota bersalju ketika ditugaskan untuk mencari tahu pelaku kejahatan tanpa harus menggunakan kekuatan supernya sebagaimana mereka di serial Marvel? 

Penampilan mereka tetaplah memukau buat saya. Tempo filmnya mungkin rada lambat, tapi tetap asyik mengikuti alur demi alur untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan atas suatu tragedi kematian seorang gadis saat badai salju.

Saya pun suka kutipan menjelang akhir filmnya: “Luck don’t live out here. Luck lives in the city. It don’t live out here. Out here, you survive or you surrender. Period. That’s determined by your strength and by your spirit. Wolves don’t kill unlucky deer. They kill the weak ones.” 


20. Karakter favorit di sebuah film 

Sampai sejauh ini kayaknya masih Joker dari film The Dark Knight (2008). Joker mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang berkelas atau punya nilai jual lewat kutipannya, “If you’re good at something, never do it for free.” Misalnya, jika kamu bagus dalam melakukan sesuatu hal, terus diminta tolong sama kawanmu, apakah kamu rela dibayar gratis atas waktumu yang sudah terpakai itu? Anggaplah kemampuanmu itu di bidang desain. Mungkin ini juga bakal kelihatan pamrih, tapi kalau dia enggak memberikan imbalan sepeser pun dan banyak protesnya, kan rasanya anjing banget.

Joker seolah-olah memberikan petuah: jangan mau dimanfaatkan seenaknya sama orang lain, lebih-lebih teman sendiri yang tak tahu diuntung. Katanya kawan baik, kok minta harga teman? Atau lebih parah dari itu, minta gratisan. Sekalinya bersedia membayar, dia sanggupnya bayar pakai eksposur. Ayolah, coba hargai para seniman yang mencari uang di bidang kreatif, khususnya yang pekerja lepas dan penghasilannya tidak menentu. Bayar mereka dengan harga yang pantas apa salahnya, sih? Jika emang mau kasih eksposur sekalian mengiklankan, seharusnya itu menjadi bonus karena kamu puas dengan hasil karyanya. Bukan malah jadi alat pembayaran utama.

Lalu saya juga menyukai perkataan, Why so serious? Mantra dari Joker ini telah berulang kali menyelamatkan hidup saya yang sungguh bedebah. Apa kamu pernah merasa kalau kehidupanmu itu sering dipenuhi akan kesialan dan kegagalan yang seakan-akan tiada habisnya? Saya pernah beberapa kali merasa begitu. Kemudian saya merenung, mungkin saja Tuhan lagi mengajak saya bercanda. Tertawakan saja masalahmu itu, Yog. Meskipun kamu merasa enggak taat-taat amat beribadah, siapa tahu kelak di akhirat bakalan dikasih hadiah surga. Hahaha. Nanti bisa asyik-asyik sama 72 bidadari kalau kata para ustaz. Oke, itu saya bercanda. Seenggaknya saya jadi teringat sama salah satu ayat di Alquran yang mengatakan, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

--

Nukilan dari kitab Alquran itu saya ambil dari surah Al-'Ankabut ayat 64.

Sumber gambar:

aoicorner.blogspot.com

https://pixabay.com/photos/night-camera-photographer-photo-1927265/
Read More
Di Twitter, saya memperhatikan Agia, Firman, dan Justin yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang film. Saya sering melihat beberapa orang memainkan kuis semacam itu untuk mengisi waktu dan mungkin telah menjadi ajang tahunan dengan berbagai macam tema; dari mulai film, buku, musik, anime—bahkan yang lebih spesifik seperti One Piece. Kalau saya perhatikan lebih mendalam, pertanyaan-pertanyaan itu juga tidak banyak berubah setiap tahunnya. Hanya pengulangan-pengulangan dari pertanyaan yang sudah ada. Entah itu ada sedikit dimodifikasi, atau malah cuma diubah urutan pertanyaannya.

Meskipun demikian, saya pernah ikutan sekali pada dua tahun silam dengan tema buku. Tapi, pada kemudian hari saya hapus karena malu dengan jawaban-jawaban yang tampak miskin referensi. Setahun yang lalu saya juga sempat ingin mengikuti kuis tentang film. Sayangnya, saya sangat minder sebab belum banyak menonton film dan takut merasa payah dalam menjawabnya. Saya berpikir, nanti sajalah kalau rujukannya sudah mendingan.

Tahun ini, saya mulai mencoba lebih banyak menonton film. Referensi saya kayaknya tidak terlalu culun lagi. Saya pun jadi pengin ikutan seperti kawan-kawan di Twitter. Tapi, saya rada malas jika jawaban tersebut harus dibatasi dengan jumlah karakter. Saya mau menjawab sesukanya. Tak ingin singkat-singkat. Maka, tercetuslah ide untuk menjawabnya di media yang lebih asyik. Lumayan juga buat menambah jumlah tulisan di blog.




Baiklah, sudah cukup basa-basinya. Lebih baik saya langsung menjawab 30 pertanyaan tentang film berikut ini:




1. Film favorit 

Inception (2010). Film yang bercerita soal menanamkan gagasan di kepala orang lain lewat mimpi bertingkat itu cukup melekat di benak saya. Bagi seorang penulis, hal itu sama seperti menyisipkan ide kepada pembaca. Saya jadi berpikir lebih jauh tentang gagasan. Bagaimana cara menawarkan hasil pemikiran saya ini kepada orang lain tanpa mereka sadari? Lebih-lebih tanpa harus menggurui maupun berkhotbah. Orang-orang jelas tidak suka diberikan nasihat, apalagi diceramahi. Jadi, saya perlu mencari cara yang dapat menghibur ataupun menggembirakan mereka. Sebagaimana jalan cerita filmnya yang merancang sebuah kisah di dalam mimpi, berarti jawabannya bisa dilakukan dengan mendongeng. A. S. Laksana kurang lebihnya pernah berkata begini tentang hal itu: ”Karena setiap orang menyukai cerita, tidak ada orang yang menolak cerita. Cerita bisa disampaikan secara akrab seperti kawan dekat. Saat berjumpa dengan kawan, kita bukan berbagi teori. Cerita tidak mengancam pikiran. Teori atau ideologi akan membuat orang waspada, sedangkan cerita tidak. Teknik bercerita yang bagus itulah yang kita perlukan. Saya memperlakukan pembaca sebagai teman dekat. Saya mengajak mereka bermain-main dengan dunia rekaan yang saya tawarkan.” 


2. Film yang terakhir ditonton 

Di bioskop: Avengers: Endgame (2019). Film penutup seri Marvel Cinematic Universe yang memukau, bahkan ciamiknya melebihi harapan saya. 

Di situs ilegal: The Graduate (1967). Film yang membuat Tom Hansen kecil (tokoh di film 500 Days of Summer) salah menafsirkan penutup ceritanya itu, entah kenapa bikin saya penasaran. Apalagi kemarinan saat 10 tahunan film itu, ada banyak komentar yang mengacu ke film The Graduate. Saya pernah membaca sedikit tentang novel The Graduate karya Charles Webb dari buku kiat menulis A. S. Laksana, Creative Writing. Pak Sulak menjelaskan bagaimana bikin dialog yang bagus dengan mencontoh suatu adegan di novel itu. 

Berhubung saya belum memiliki novelnya dan tidak tahu versi terjemahannya sudah tersedia atau belum, lantas terbitlah keinginan saya untuk belajar dari filmnya saja. Saya juga sekalian ingin mencoba menikmati film-film lawas. 

Kisah dibuka dengan adegan protagonis merasa tidak nyaman ketika harus bertemu dengan banyak orang di acara perayaan kelulusan yang digelar oleh orang tuanya, lalu diberondong dengan peluru-peluru pertanyaan mematikan. Orang yang baru lulus biasanya akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari keluarga, para kerabat, teman, dan tetangga: “IPK-nya berapa?”, “Habis lulus mau lanjut ke mana?”, “Mau kuliah lagi, kerja, atau menikah?”, “Eh iya, pasanganmu mana? Kok enggak datang di acara perayaan ini?”, dst., dsb. 

Cerita tentang kebingungan orang yang berada di fase baru lulus ini rupanya bergerak ke arah yang tak terduga. Protagonis bukannya merencanakan maupun mempersiapkan sesuatu untuk masa depannya, tapi justru mengisi kekosongannya dengan tindakan-tindakan tolol. Kisah cinta di film ini terasa goblok banget buat saya. Namun, bukankah dalam persoalan cinta kita memang sulit untuk mengendalikan logika? Pokoknya, film romansa komedi ini cukup menghibur. 


3. Film aksi favorit 

Kill Bill 1 dan 2 (2003 dan 2004). Film ini jelas kudu ditonton sepaket. Cerita balas dendam yang dikisahkan secara aduhai. Alur kisahnya pun bagi saya begitu asyik untuk belajar menyusun cerita. Ditambah lagi ada kejutan di akhir film yang terasa bajingan betul.


4. Film horor favorit 

Lagi-lagi harus sepaket. Insidious 1 dan 2 (2010 dan 2013). Saya jadi ingin bercerita sedikit, kenapa memfavoritkan film ini. Semua bermula ketika saya sedang main ke indekos Agus—salah satu teman kantor. Selain saya, tentu ada kawan lain yang datang, Indra dan Fahmi. Kami berempat pun bermain PES dari habis Magrib sampai pukul sembilan. Setelah bosan dengan permainan bola itu, Agus mengusulkan menonton film yang ada di laptop saya. Pilihan di laptop saya amatlah sedikit. Lalu, pilihannya jatuh ke film Insidious. Saya waktu itu dikasih fail filmnya oleh Indra. Saya belum sempat menontonnya. Karena tak suka film horor, Fahmi kemudian memilih pulang. Lagi pula besok juga harus bekerja. Dia sulit bangun pagi.

Sebetulnya, horor juga bukanlah genre yang saya minati. Saya terkadang juga membencinya, sebab kerap terbawa hingga ke alam mimpi. Film horor pasti bikin tidur saya kurang nyenyak karena sedikit-sedikit terbangun lantaran mimpi buruk. Tapi, mau tak mau saya harus menontonnya sebab itu laptop milik saya. 

Pada pertengahan film, saya ketakutan bukan main, bahkan mendadak tidak berani pulang ke rumah nantinya. Seusai menonton, rupanya saya betulan takut balik ke rumah. Saya berpikir untuk menginap saja. Apalagi saat menjelang tengah malam, saya tiba-tiba kebelet pipis dan sampai minta ditemani salah satu dari mereka untuk menunggu di depan toilet. Bangsat, rasanya saya pengecut betul mengingat kejadian itu. Saya pun berpikir bahwa film itu benar-benar seram dan berhasil bikin saya takluk.


“Yang, nonton Insidious 2, yuk!” ujar si pacar sewaktu saya sedang mengapelinya. 

Tak ingin terlihat lemah dan memberikan alasan-alasan yang kayaknya bakalan ditertawakan, saya lalu refleks menyetujuinya. Ketika saya mulai sadar akan menghadapi hal jahanam, saya pun menyugesti diri supaya berani menonton filmnya. Jangan sampai terlihat ketakutan di depan pacar. Saya harus bisa melindunginya. Menunjukkan sikap berwibawa. 

Ternyata, saya bisa menonton filmnya tanpa sekali pun menutup mata. Sesungguhnya ada adegan-adegan yang terasa bikin jantung copot, tapi saya bisa mengatasinya. Bukannya takut saat menonton film itu, saya malah merasa senang karena beberapa kali dipeluk sama pacar. Ia membenamkan wajahnya di badan saya. Saya tak menyangka bisa meredakan ketakutannya dengan mengusap-usap rambutnya seraya berkata, “Udah enggak ada setannya kok, Yang. Ayo lihat layar lagi.” Hari itu saya pasti telah menjadi sosok yang keren di matanya. 


5. Film drama favorit 

The Shawshank Redemption (1994). Karya tulis Stephen King yang diadaptasi ke film ini mengajarkan saya tentang harapan yang mesti tetap menyala dalam segala kondisi. Kisah pertemanan antara Andy Dufresne (Tim Robbins) dan Ellis Redding alias Red (Morgan Freeman) juga bikin hati saya hangat.


6. Film komedi favorit 

Man On the Moon (1999). Jika kamu bertanya apakah film ini lucu banget dan bikin rahang pegal karena keseringan tertawa, tentu saja tidak. Film ini justru lebih banyak membuat saya berpikir dan merenung tentang komedi itu sendiri. Andy Kaufman (Jim Carrey) selalu berusaha keluar dari pakem dan mendobrak pasar. Misalnya, membacakan novel The Great Gatsby dari awal sampai tamat. Penonton pun kesal dan marah, melemparinya dengan benda-benda, tapi ia tetap tak peduli. Mungkin kita mulanya akan berpikir, apaan dah ini orang enggak jelas. Namun setelah mencoba mengerti, pasti timbul pertanyaan semacam ini: Bukankah Andy berhasil mengerjai penonton atas tindakannya tersebut? Itu jelas lucu sekali. 

Andy selalu punya cara untuk menghibur penontonnya dengan ide-ide gilanya. Selain dengan membacakan novel sampai penontonnya jengkel, ia juga melakukan impersonasi pada beberapa tokoh, lalu rela patah tulang melawan pegulat profesional, serta bikin saluran TV pada program komedi situasi menjadi eror, hingga penonton berpikir TV mereka rusak. 

Pada suatu momen, ternyata Andy terkena kanker paru-paru. Ia berobat ke mana-mana, bahkan ke pengobatan tradisional di suatu negara terpencil yang konon ampuh mengobati segala macam penyakit. Ketika diperiksa dan ditangani oleh tabibnya, Andy mendadak tertawa. Saya awalnya bingung, loh, si Andy kenapa? Apanya yang lucu? Apakah udah berobat ke situ enggak bisa sembuh juga? Lantas saya paham bahwa kematian menjadi komedi tersendiri bagi Andy. Kelar menonton film ini, saya jadi teringat kutipan Charlie Chaplin, “What a sad business, is being funny.” 


7. Film yang bikin bahagia 

God of Gambler 2 (1990). Setiap kali menonton ulang film sekuel Dewa Judi yang menggabungkan aktor Hongkong ternama, Stephen Chow dan Andy Lau, pasti selalu membuat saya bahagia. Belum pernah sekali pun saya merasa jenuh akan tingkah konyol mereka. Dalam beberapa menit sekali, saya sering tertawa lepas. Beban hidup, kesepian, dan kesedihan yang sempat mengganggu keseharian saya, seakan-akan lenyap dalam sekejap saat saya terlarut ke dalam film ini.


8. Film yang bikin sedih 

The Green Mile (1999). Saya sempat menuliskan sedikit tentang film itu di Tontonan Ciamik Sebelum Tahun 2000


9. Film yang jalan ceritanya menempel atau hafal di luar kepala 

Final Destination 3 (2006). Dari kelima filmnya, saya paling menyukai yang ketiga. Hal-hal mengerikan, bagi saya, mudah sekali buat diingat dan bahkan kerap terbawa hingga mimpi. Memori tentang siapa saja yang mati, bagaimana cara tewasnya, beserta urutannya pun sungguh menempel di otak saya. Lalu, mungkin juga karena saya termasuk sering menonton ulang film ini demi bisa melihat Mary Elizabeth Winstead, aktris kesayangan saya—yang akan terjawab dengan lebih rinci di pertanyaan nomor 17, tulisan bagian kedua.


10. Sutradara favorit 

Siapa lagi kalau bukan Christopher Nolan? Jawaban ini cukup klise, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Saya bingung kalau harus menyebut nama lain. Saya sempat kepikiran nama Quentin Tarantino sebab baru-baru ini mengaguminya dan banyak belajar dari plot filmnya yang nonlinear. Namun menurut saya, itu belum cukup memuaskan karena beberapa pertimbangan. Mungkin saya juga suka sama Gaspar Noe dengan teknik psikedeliknya yang gila itu. Sayangnya, film dia yang saya tonton baru tiga, lalu yang saya betul-betul suka justru cuma satu. Mau menjawab Wong Kar Wai, entah kenapa saya cuma terpikat sama visualnya, pengambilan gambarnya, dan simbol-simbol di dalam film itu. Bagi saya, alur cerita dan tokoh-tokoh di filmnya masih terasa kurang. Kalau David Fincher, oke sih, tapi entah kenapa semuanya bakal kembali ke Nolan karena cuma film garapan dia yang paling banyak saya tonton (dan rela menonton ulang) ketimbang yang lain.

--

Berhubung saya takut tulisan ini bakal kepanjangan, maka pertanyaan selanjutnya akan dijawab di tulisan lain. Biar bacanya lebih enak, nanti saya jadikan tiga bagian. Toh, saya memang perlu menerapkan perkataan filsuf asal Bengkalis, “Butuh tiga part untuk menjelaskan itu semua.” Ini benar-benar ide cemerlang untuk menambah jumlah tulisan di blog.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/question-mark-question-symbol-463497/
Read More
Previous PostOlder Posts Home