Sebelumnya, saya sedang latihan menerjemahkan secara suka-suka penggalan cerita di salah satu novel yang saya baca baru-baru ini. Sayangnya, kemampuan bahasa Inggris saya masih amburadul. Untuk itu, saya mohon maaf kalau masih kaku dan banyak kesalahan. Jika kamu ada yang membaca buku ini juga, barangkali bisa membantu saya untuk memperbaiki bagian-bagian yang kurang enak dibaca.

--

Sputnik Sweetheart, Haruki Murakami, halaman 54-56—bagian tentang kepenulisan. 

Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Philip Gabriel.

Miu tidak mengizinkan merokok di kantornya dan membenci orang-orang yang merokok di depannya. Jadi setelah memulai pekerjaannya, Sumire memutuskan bahwa itu adalah kesempatan yang bagus untuk berhenti menjadi seorang perokok-Marlboro-dua-bungkus-per-hari, meskipun semuanya tidak berjalan lancar. Setelah satu bulan, seperti beberapa hewan yang bulu ekornya dipotong, dia kehilangan kontrol emosinya pada berbagai hal—yang tidak sangat kuat untuk memulainya. Dan seperti yang kauduga, ia mulai meneleponku sepanjang waktu pada tengah malam. 

“Yang bisa kupikirkan hanyalah merokok. Aku hampir tidak bisa tidur, dan ketika tidur, aku mengalami mimpi buruk. Aku susah buang air besar. Aku tidak bisa membaca, tidak dapat menulis kalimat.” 

“Semua orang mengalami seperti itu ketika mereka mencoba untuk berhenti. Setidaknya, pada awalnya,” kataku. 

“Kau mudah memberikan pendapatmu selama itu tentang orang lain, kan?” bentaknya. “Kau tidak pernah mengisap sebatang rokok dalam hidupmu.” 

“Hei, jika kau tidak bisa memberikan pendapatmu kepada orang lain, dunia akan berubah menjadi tempat yang cukup menakutkan, bukan? Jika kau tidak berpikir demikian, lihat saja apa yang Joseph Stalin lakukan. ” 

Di ujung sana, Sumire bergeming cukup lama. Sebuah keheningan berat bagaikan jiwa yang mati di Front Timur. 

“Halo?” aku bertanya. 

Dia akhirnya mulai berbicara. “Sejujurnya, kupikir itu bukan karena aku berhenti merokok sehingga diriku tidak bisa menulis. Mungkin itu satu alasan, tetapi tidak semuanya. Yang aku maksud, berhenti merokok hanyalah sebuah alasan. Kautahu: ‘Aku berhenti merokok; itu sebabnya aku tidak bisa menulis. Tidak ada yang bisa kulakukan akan hal itu.’” 

“Jelaskan, mengapa kau begitu kesal?” 

“Kurasa,” katanya, tiba-tiba lemah lembut. “Bukan hanya aku tidak bisa menulis. Apa yang betul-betul membuatku kesal adalah aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi dalam menulis itu sendiri. Aku membaca hal-hal yang kutulis belum lama ini, dan itu membosankan. Apa yang bisa kupikirkan? Ini seperti melihat ke seberang ruangan dan terdapat beberapa kaus kaki kotor yang dibuang ke lantai. Aku merasa buruk sekali, menyadari semua waktu dan energi yang telah kusia-siakan.” 

“Ketika itu terjadi, kau harus menelepon seseorang pada pukul tiga pagi dan membangunkannya—secara simbolis tentu saja—dari tidur semiotiknya yang damai.” 

“Katakan padaku,” kata Sumire, “apakah kau pernah merasa bingung mengenai apa yang kaulakukan, seperti tidak benar?” 

“Aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan kebingungan daripada tidak,” jawabku. 

“Apakah kau serius?” 

“Ya.” 

Sumire menyentuhkan kukunya pada gigi depannya, satu dari sekian banyak kebiasaannya ketika dia berpikir. “Aku hampir tidak pernah merasa bingung seperti ini sebelumnya. Bukan berarti aku selalu percaya diri dan yakin dengan bakatku. Aku tidak terlalu gelisah. Aku tahu aku tipe orang yang serampangan dan egois. Tapi aku tidak pernah bingung. Aku mungkin telah membuat beberapa kesalahan di sepanjang jalan, tetapi aku selalu merasa bahwa aku berada di jalan yang benar.” 

“Kau beruntung,” jawabku. “Seperti mantra hujan panjang setelah kau menanam padi.” 

“Mungkin kau benar.” 

“Tapi pada titik ini, semuanya tidak berjalan baik.” 

“Betul. Mereka tidak berjalan semestinya. Terkadang aku merasa sangat ketakutan, seperti semua yang kulakukan hingga saat ini salah. Aku memiliki mimpi-mimpi yang terasa nyata dan terbangun pada tengah malam. Dan untuk sementara ini aku tidak bisa mengetahui apa yang nyata dan apa yang tidak ... Perasaan semacam itu. Apakah kau paham apa yang kukatakan?” 

“Kupikir begitu,” jawabku. 

“Pikiran itu banyak membenturku hari ini, bahwa mungkin hari-hariku menulis novel telah berakhir. Dunia merangkak bersama gadis-gadis bodoh, polos, dan aku hanyalah salah satu dari mereka, dengan sadar diri mengejar mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku harus menutup lid (tutup) piano dan turun dari panggung. Sebelum terlambat.” 

sumber: https://infovisual.info/en/music/piano

Read More
Sudah setahun belakangan ini saya heran dengan sistem pelayanan di warteg dekat rumah. Orang yang duluan dilayani oleh penjualnya itu yang mana, sih? Selama ini yang saya tahu, di tempat makan mana pun, orang yang pertama datang tentu akan mendapat pelayanan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh orang yang datang berikutnya. Dan begitu seterusnya mengikuti antrean. 

Namun, setiap kali saya membeli makanan di warteg itu pada pagi hari dan suasananya sedang ramai, pasti ada saja ibu-ibu yang menyerobot giliran saya. Biasanya, saya akan mengalah jika cuma 2-3 orang. Saya pun kerap kali menghindar berdebat dengan ibu-ibu. Sebab saya tahu, nantinya persoalan akan panjang dan saya bakalan tetap kalah dan salah, meskipun posisi saya itu benar.

Rasanya, saya sudah terlalu sering memaklumi hal itu. Saya tidak ingin bungkam melulu. Saya harus bertindak. Sayangnya, ketika saya sudah melakukan protes kepada penjualnya, “Mbak, maaf nih ya, yang datang kan saya duluan. Kok malah ibu itu yang dilayanin?” Eh, ibu-ibu yang saya maksud itu segera melirik saya sinis, sedangkan penjualnya hanya diam saja dan tetap melayani ibu-ibu tersebut. 

Saya sudah betul-betul bingung, kenapa saya terlalu sering diselak di warteg itu. Saya sadar sih, saya memang hanya membeli sebungkus nasi megono dengan lauk tempe goreng dan telur dadar—yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu. Tapi, apakah di mata penjualnya ini nilai saya jadi lemah, atau lebih-lebih tidak dianggap sebagai pembeli lantaran hal itu? Lalu, apakah ibu-ibu—yang biasanya membeli banyak sayur dan lauk-pauk—itu harus lebih diutamakan? Bukankah dengan segera melayani sesuai antrean (meskipun saya cuma membeli sebungkus nasi) itu justru urusan jadi lebih cepat dan membuat ruangan sedikit lebih longgar?

Anggaplah penjualnya bingung atau lupa atau tidak memperhatikan siapa yang datang lebih dahulu. Mau bagaimana lagi, antrean di warteg memang tidak beraturan karena posisinya memanjang ke samping, bukan ke belakang. Sehingga penjual biasanya akan melayani orang yang dia pilih secara acak, atau yang berada di hadapannya saja. Tapi ketika ada yang memprotes mengenai antrean itu, mengapa penjualnya justru diam saja? Sekalinya menjawab malah mengeluarkan kalimat pamungkas: “Masnya ngalah dong, kasih cewek duluan.”

sumber: https://pixabay.com/id/hewan-bebek-burung-air-menjalankan-2000586/

Yuhu! Penjualnya sungguh bijak sekali. Saya akan ngalah melulu sampai ibu-ibu di antrean itu habis. 

Ayolah, apa gunanya menuntut kesetaraan gender kalau masih menganut paham ladies first saat mengantre? Beberapa perempuan itu sendiri justru masih merasa kaumnya lemah. Namun, saya memberi pengecualian untuk ibu-ibu hamil dan lansia. Masalahnya, keadaan yang terjadi enggak begitu. Nah, apakah mbak-mbak penjual itu takut dengan kemarahan ibu-ibu yang menyelak antrean karena pelayanannya jadi tertunda? Tapi memang ibu-ibu itu yang salah karena mengambil hak orang lain, kan?
Read More
Semestinya saya sadar, bahwa menulis secara spontan dapat membuat saya bercerita banyak hal. Suara-suara di kepala saya itu seolah-olah bisa langsung tertulis begitu saja, bahkan kesedihan yang selama ini terpendam juga ikut keluar tanpa perlu menggalinya lebih jauh. Namun, pada akhirnya saya harus menghapus hal-hal lain yang suka keluar seenaknya itu, atau memindahkannya ke dokumen baru—yang kelak saya kumpulkan dalam satu folder bernama: Belum Selesai

Saya memilih fokus untuk mengerjakan tulisan yang sejak awal saya niatkan akan selesai. Biasanya, jenis tulisan ini merupakan keresahan yang mengganggu kepala saya selama berhari-hari atau lebih. Saya tidak bisa menunda-nunda lagi dan harus menggarapnya terlebih dahulu, sebab jika dibiarkan terlalu lama pasti semakin membusuk. Sebisa mungkin saya berusaha menghindari, jangan sampai bagian penting dan rasa dalam tulisan itu lenyap.



Begitu tulisan itu telah selesai, barulah saya bebas melanjutkan ide-ide yang kerap muncul secara tiba-tiba itu. Mau leyeh-leyeh lagi juga terserah, sih. Sialnya, saat saya sedang luang dan kebetulan tidak malas, saya tentu lebih senang membuka folder itu. Lalu, saya membaca satu per satu failnya, sampai saya menemukan tulisan yang mungkin bisa dikembangkan. 

Kebanyakan berkas itu berbentuk ide mentah cerpen yang baru ditulis poin-poinnya. Dari sekian banyak ide itu, akhirnya ada yang berhasil saya selesaikan, lalu saya unggah ke blog ini. Dua tahun belakangan ini, buku-buku yang saya baca memanglah berupa fiksi. Konon, apa yang kita produksi ialah cerminan dari apa yang kita konsumsi. Barangkali itulah yang menyebabkan blog ini berganti atau bertambah fungsinya; dari yang sekadar untuk jurnal alias curhat, lalu jadi tempat latihan membuat cerpen. 

Ketika pertama kali bikin cerpen-cerpen itu, saya sesungguhnya tidak pernah berharap banyak agar pembaca blog ini menyukainya. Saat proses menuliskannya pun, saya hanya berpikir kalau perlu menuangkannya ke sebuah wadah. Saya enggak mau susah tidur karena kisah-kisah itu selalu hadir di kepala, lebih-lebih sampai datang ke alam mimpi dan menghantui saya. Ujung-ujungnya, tidur saya jadi tidak nyenyak atau sedikit-sedikit terbangun. 
Read More
“Masalah lu kok percintaan mulu, ya? Yah elah, kayak enggak ada yang lebih penting gitu?” ujar seorang teman sekitar 5-6 tahun lalu ketika saya selesai curhat.

Saya enggak tahu kenapa tiba-tiba bisa mengingat hal itu. Namun, menarik juga rasanya kalau saya bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Dulu, mungkin saya sangat sedih ketika sudah memilih teman curhat dan memercayakan dirinya bisa menjadi pendengar yang baik, tapi dia malah berkata seperti itu. Kalau diingat-ingat lagi, mungkin saya juga malu dan kecewa sekali kepadanya. Saya kan cuma pengin cerita dan didengarkan olehnya, bukan diremehkan permasalahannya. Terlepas dari kisah apa yang saya bagikan saat itu. 



Masalahnya, pada waktu itu percintaan memang menjadi persoalan utama saya. Saya mungkin tidak mempunyai keresahan pada lain hal. Kala itu kondisi keuangan saya termasuk cukup baik karena memiliki pekerjaan (meski statusnya masih pegawai kontrak, tapi pemasukan setiap bulan sungguh menyelamatkan dan membuat finansial aman. Tidak seperti saat ini). Keadaan keluarga juga belum kacau.

Waktu itu, saya belum memusingkan persoalan karier. Bagi saya, mempunyai pekerjaan dan penghasilan setiap bulannya itu sudah lebih dari cukup. Saya belum mengerti diri saya ini ingin menjadi apa. Saya belum memiliki cita-cita yang jelas, selain punya rekening sejumlah 10 digit atau lebih dari itu. Padahal, sampai sekarang pun saya enggak tahu harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana selain ikut pesugihan. Mulanya, tentu saya sempat berpikir tolol: asalkan bisa terus bekerja dan menabung, pasti keinginan jadi tajir itu dapat terwujud. 

Tiga tahun belakangan ini, setelah menjalani kehidupan yang naik-turun, saya pun tertawa kencang setiap kali mengingat pemikiran bodoh tersebut. Ternyata enggak semudah itu bekerja, mendapatkan gaji, lalu menabung, dan menjadi kaya raya. 
Read More
Apa yang kauharapkan begitu membuka mata setelah terbangun dari tidur? Apa kau pernah membayangkan seorang lawan jenis berbaring di sampingmu tanpa busana? Kau tersenyum kala mendengarkan desah napasnya yang pelan dan teratur. Lalu, kau perhatikan pula wajahnya yang begitu damai dalam tidurnya itu. Kau tidak ingat mengapa dia bisa-bisanya tidur di sebelahmu. Apa sebelumnya kalian habis melakukan hubungan seks? Untuk kalimat selanjutnya, kau dapat berimajinasi sendiri.

Namun, apakah kau juga pernah membayangkan dirimu ketika terbangun justru langsung disodorkan pertanyaan oleh malaikat di alam kubur, “Man Rabbuka?” Meskipun pertanyaan itu sekarang tampak sepele dan kau yakin dapat menjawabnya, tapi bagaimana jika kau kelak malah bilang begini: “Buka? Buka apa? Buka sitik jos?” Kemudian, malaikat itu segera menghantam kepalamu menggunakan batu hingga kepalamu pecah. Apakah itu mengerikan? Seandainya belum, kau pun bisa mengkhayal yang lebih sadis daripada itu. 

Terlepas dari hal baik dan buruk yang mungkin pernah kau bayangkan itu, sore ini yang pertama kali kaulihat hanyalah tulisan Make Your Move! di kemasan susu. Kotak susu itu berdiri di samping kasurmu dan letaknya sejajar dengan matamu ketika melek. Kau memang gemar tidur miring menghadap kanan (mengikuti sunah Rasulullah), sehingga kau hampir tidak pernah melihat langit-langit kamar setiap kali bangun tidur dan membuka mata.

Lalu kau baru sadar, tadi sebelum mengistirahatkan diri, kau sempat mampir ke warung dan membeli susu itu. Setelahnya, tangan kirimu berusaha meraih kotak susu tersebut. Tapi sayang, jangkauan lenganmu terbatas. Kau pun mesti menggerakkan tubuhmu yang masih malas bergerak itu demi bisa menggapainya. Kotak susu itu sudah sangat ringan, tanda isinya telah kau minum. Kau kemudian duduk dan menggoyang-goyangkan kotak itu. Masih terdengar bunyi air di dalamnya. Ternyata, susu itu belum benar-benar tandas. Sesudah itu, kau membaca kalimat lain di bawahnya: “Tubuh sehat buat aksimu makin dahsyat.” Kau pun menyedot habis sisanya sampai kotak susu itu menghasilkan bunyi yang aduhai. 

Kau membuang kotak susu itu ke tempat sampah di pojokan kamar dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Saat sedang membasuh wajah, kau teringat kembali dengan tulisan di kemasan susu itu. Lalu otakmu menyimpulkan bahwa kau harus membuat pergerakan atau perubahan. Kau tiba-tiba membatin, Masalahnya, apa yang harus kulakukan sekarang? Mengubah bangsa ini menjadi lebih baik?

sumber: https://pixabay.com/id/tangan-dunia-peta-global-bumi-600497/

Read More
Kata Albert Camus, “Aku memberontak, maka aku ada.”; sedangkan kata Jean Paul Sartre, “Aku berpikir, maka aku ada.” Kalau kata pemilik blog ini, “Aku dikomentari oleh Yose Suparto, maka aku ada.”

https://pixabay.com/id/tinju-kekuatan-kemarahan-air-mata-1148029/


-- 

Ada satu hal yang sebenarnya paling saya benci dari media sosial: FanPage. Suatu hari, ada seorang kawan yang bertanya kepada saya, apakah saya sudah memiliki akun FanPage di Facebook? Karena saya menjawab belum punya, setelah itu dia menyuruh saya untuk bikin. Katanya, kalau buat promosi tulisan blog di FanPage Facebook itu lumayan banget. Penting juga halaman itu buat memasarkan diri kita.

Saya mungkin bisa sepakat dengan pernyataannya itu. Masalahnya, saya bahkan sudah sangat jarang membuka media sosial tersebut. Mungkin dia juga enggak tahu kalau saya sebetulnya kesal sama konsep idola atau menjadi terkenal itu. Ya, entah mengapa FanPage sepertinya ialah hal yang aneh bagi saya. Persoalannya tentu bukan pada FanPage-nya itu, melainkan saya ini siapa? Ngapain saya bikin begituan segala? Saya cuma orang yang kebetulan gemar menulis di blog. Apalagi tiga tahun belakangan ini emang udah telanjur kecanduan menulis. Lalu, saya sudah kelewat bingung apakah masih punya bakat di bidang lain. Sehingga, saya pun merasa hanya blog satu-satunya wadah yang cocok buat diri saya.
Read More
Previous PostOlder Posts Home