Saya kerap merasa kalau selama ini baru sedikit sekali membaca karya asing. Mengingat bacaan yang sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini masih sangat terbatas—begitu pula dengan keuangan saya, saya jadi ingin mencari alternatif dengan membaca e-book alias buku-el. Lalu, buku-buku luar negeri yang saya baca selama ini kebanyakan penulisnya adalah seorang laki-laki. Sepertinya saya jarang sekali membaca tulisan perempuan. Yang pernah saya baca dan menempel di kepala palingan hanya J. K. Rowling, Agatha Christie, dan Harper Lee. Untuk menyebutkan lima orang saja, saya masih belum mampu. Culun banget referensinya. Sekitar setahun silam, akhirnya saya berkenalan dengan tulisan Lydia Davis.

Menengok profil singkatnya di Wikipedia, Lydia Davis (lahir 15 Juli 1947) adalah seorang penulis Amerika yang terkenal karena karya-karya sastranya yang sangat singkat, biasanya disebut flash fiction atau fiksi kilat.

sumber: http://criticalflame.org

Berhubung belakangan ini saya juga sedang belajar bahasa Inggris, kayaknya membaca cerita-cerita ringkas Tante Lydia (sok akrab tai) bisa menjadi latihan awal untuk membaca karya asing, sambil sesekali menerjemahkannya. Saya baru sempat menggarap lima cerita yang benar-benar pendek. Itu pun yang sekiranya saya mengerti kisahnya. Ternyata susah juga, ya.

Mengalihbahasakan tidak sekadar memindahkan tulisan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Saya mesti bisa menceritakan ulang sesuai gagasan asli penulisnya. Dalam hal ini tentu saja akan ada bagian yang hilang, misalnya, permainan kata. Coba lihatlah kata cry, dry, dan try (begitu juga dengan kata kerja yang masih berlangsung alias mendapatkan tambahan -ing), saya tidak bisa mengubahnya ke bahasa Indonesia dengan bunyi yang sama semacam itu. Apalagi kalau kemampuan sang penerjemah (baik menulis maupun menguasai bahasa asing) masih payah. Tapi biar bagaimanapun, inilah terjemahan suka-suka hasil keisengan saya. Semoga enggak buruk-buruk amat.


Apa yang Dia Ketahui

Orang-orang tidak tahu apa yang dia ketahui, bahwa dirinya bukan benar-benar seorang wanita tapi seorang pria. Sering kali menjadi pria gemuk, tetapi lebih sering, mungkin, seorang pria tua. Fakta bahwa dia adalah seorang lelaki tua membuatnya kesusahan untuk menjadi seorang wanita muda. Sulit baginya untuk berbicara dengan seorang pemuda, misalnya, meskipun pemuda itu jelas tertarik kepadanya. Dia harus bertanya kepada dirinya sendiri, Mengapa pemuda ini menggoda lelaki tua ini?


Di Rumah yang Terkepung

Di sebuah rumah yang terkepung, tinggal seorang pria dan seorang wanita. Dari tempat mereka meringkuk di dapur, pria dan wanita itu mendengar ledakan kecil. “Angin,” kata wanita itu. “Pemburu,” kata pria itu. “Hujan,” kata wanita itu. “Tentara,” kata pria itu. Wanita itu ingin pulang, tetapi dia sudah di rumah, di tengah-tengah negara di sebuah rumah yang terkepung.


Sebuah Kisah yang Diceritakan oleh Temanku

Salah seorang temanku menceritakan kepadaku sebuah kisah sedih tentang tetangganya. Dia telah memulai surat-menyurat dengan orang asing melalui layanan kencan online. Temannya tinggal ratusan mil jauhnya di North Carolina. Kedua lelaki itu saling bertukar pesan, lalu foto, dan segera mengobrol panjang-lebar. Awalnya secara tertulis dan kemudian melalui telepon. Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak minat yang sama, yang serasi secara emosional dan intelektual, merasa nyaman satu sama lain dan secara fisik tertarik satu sama lain, sejauh yang mereka ketahui di internet.

Minat profesional mereka juga dekat, tetangga temanku bekerja sebagai akuntan, sedangkan teman barunya—yang berada di selatan itu—seorang asisten profesor ekonomi di sebuah perguruan tinggi kecil. Setelah beberapa bulan, hubungan mereka tampak baik dan benar-benar saling jatuh cinta, dan tetangga temanku itu yakin kalau “inilah orangnya”, sebagaimana yang dia katakan. Ketika waktu liburan mulai tiba, dia mengatur jadwal untuk terbang ke selatan selama beberapa hari dan bertemu pacar internetnya.

Pada hari perjalanan, dia menelepon pacarnya dua atau tiga kali untuk berbicara. Kemudian dia terkejut karena tidak menerima jawaban. Di bandara dia juga tidak bertemu dengan pacarnya itu. Setelah menunggu di sana dan menelepon beberapa kali lagi, tetangga temanku meninggalkan bandara dan pergi ke alamat yang pernah diberikan pacarnya. Tidak ada yang menjawab saat dia mengetuk dan menelepon. Setiap kemungkinan terlintas dalam benaknya.

Di sini, beberapa bagian dari ceritanya hilang, tetapi temanku mengatakan kepadaku bahwa apa yang dipelajari tetangganya adalah, pada hari itu, bahkan ketika dia sedang dalam perjalanan ke selatan, pacar internetnya telah meninggal karena serangan jantung sewaktu berbicara dengan dokternya di telepon. Tetangga temanku, setelah mengetahui hal ini baik dari tetangga pria itu ataupun dari polisi, langsung pergi ke kamar mayat setempat. Dia diizinkan melihat pacar internetnya; dan begitulah di sini, berhadap-hadapan dengan seorang lelaki yang sudah mati, bahwa dia pertama kali memandang seseorang yang, dia telah yakini, akan menjadi teman seumur hidupnya.


Ibu

Gadis itu menulis sebuah cerita. “Tapi alangkah lebih baiknya jika kamu menulis sebuah novel,” kata ibunya. Gadis itu membangun rumah boneka. “Tapi betapa jauh lebih baik kalau itu adalah rumah sungguhan,” kata ibunya. Gadis itu membuat bantal kecil untuk ayahnya. “Tapi bukankah selimut akan lebih praktis,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang kecil di taman. “Tapi alangkah lebih bagusnya jika kamu menggali lubang besar,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang besar dan pergi tidur di dalamnya. “Tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu tidur selamanya,” kata ibunya.


Wanita Ketiga Belas

Di sebuah kota yang dihuni oleh dua belas wanita, sebenarnya ada yang ketiga belas. Tidak ada yang mengakui dia tinggal di sana, tak ada surat yang datang untuknya, tidak ada yang berbicara tentangnya, tak ada yang bertanya kepadanya, tidak ada yang menjual roti kepadanya, tidak ada yang membeli sesuatu darinya, tidak ada yang mengembalikan pandangannya, tidak ada yang mengetuk pintu rumahnya; hujan tidak turun kepadanya, matahari tidak pernah menyinari dirinya, siang tidak pernah menyadarinya, malam tidak pernah jatuh untuknya; baginya, minggu-minggu tidak berlalu, tahun-tahun tidak berputar; rumahnya tidak bernomor, kebunnya tidak terawat, jalannya tidak ada yang menginjak, tempat tidurnya tidak ditiduri, makanannya tidak dimakan, pakaiannya tidak dipakai; namun terlepas dari semua ini dia terus tinggal di kota itu tanpa membenci apa yang telah terjadi kepadanya.

--

Sepayah-payahnya saya dalam bahasa Inggris, syukurlah belum pernah menggunakan no father ataupun no what what.
Read More
Ada suatu masa ketika baru banget belajar menulis, saya entah kenapa sering membaca kutipan para penulis. Selain Hemingway (The first draft of anything is shit) dan Pramoedya (Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian—yang justru saya bikin pertentangannya di deskripsi blog), kebanyakan nama mereka sangat asing buat saya, bahkan saya juga tidak mencoba mencari buku-bukunya. Lalu dari sekian banyak petikan itu, ada satu yang selalu berhasil memantik semangat saya hingga saat ini:
A professional writer is an amateur who didn’t quit.” — Richard Bach
Mulanya, saya membuat blog ini hanya untuk jurnal. Mungkin niat itu pun masih belum berubah. Tapi seiring bergulirnya waktu, cara pandang saya sebagai penulis pun perlahan-lahan ikutan bergeser. Saya membutuhkan perkembangan dalam menulis. Saya enggak mau cuma begitu-begitu terus. Saya ingin menyajikan menu yang berbeda-beda di blog ini agar pembaca dapat memilih tulisan sesuai seleranya masing-masing. Sebagaimana bercinta, kita memang membutuhkan variasi gaya saat menulis agar tidak jenuh.



Pada dua tahun terakhir ini, saya pun telah mencoba bereksperimen dengan berbagai jenis tulisan. Memang, sih, tidak semuanya berhasil. Meskipun begitu, seenggaknya saya sudah berani menjajalnya. Kali ini, saya mau menulis ulang puisi kemarin, Aku Memang Tidak tahu Malu, dalam pelbagai bentuk baru.

Narasi 

Ia tiba-tiba merasa tidak ingin menulis puisi lagi ketika membaca ulang semua sajak di blognya. Hal ini terjadi beberapa menit setelah dirinya selesai membaca buku kumpulan puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Entah mengapa membaca karya bagus kerap membuatnya minder. Perasaan membanding-bandingkan pun muncul begitu saja. Kapan kira-kira ia dapat menulis puisi sehebat idolanya itu? Ia lantas berusaha meninjau ulang puisinya sendiri, dan mendapat kesimpulan: puisi-puisinya jelek semua. Para pembaca pun mungkin bingung, apakah harus sedih atau tertawa saat membaca rangkaian kata miliknya itu. Tidak ada satu pun puisinya yang bisa dinilai bagus, lebih-lebih spesial.

Ia semestinya cepat mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak berbakat menulis puisi. Apalagi saat mengingat kumpulan sajak yang ia kirimkan ke media tak ada yang berhasil tembus. Padahal ia juga sudah sempat mengeditnya, lalu mengirimkan ulang ke media lain. Hasilnya ternyata sama saja: penolakan.

Kadang ia jadi suka merenung dan bertanya-tanya, sebetulnya apa yang membuat puisi-puisinya ditolak? Apakah karena terlalu klise? Ataukah karena dirinya bukan siapa-siapa, sehingga pihak media tidak mungkin memuatnya? Sebab baik sajak maupun nama penulisnya sama-sama tidak menjual. Boleh jadi dugaan itu sangat egois karena luapan emosi. Mungkin mereka menolak karena puisi yang ia kirimkan belum memenuhi standarnya. Mungkin juga puisinya terlihat jelas mengekor beberapa penyair. Barangkali nama dan puisi-puisinya bisa bertengger di media lain selain blognya sendiri itu cuma khayalan bodohnya. Ia pun sedih harus menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat.

Tapi orang tolol terkadang memang tidak ada kapoknya. Ia kini malah mencoba melarikan diri dari realitas dengan menciptakan puisi baru. Ketika puisi itu selesai ditulis, rupanya muncul keraguan di dalam dirinya. Sajaknya ini masih sama buruknya dengan karya sebelum-sebelumnya. Ia langsung berniat menghapusnya saat itu juga. Ia pun menekan tombol Ctrl + a.

Kala jari tengahnya hampir menyentuh tombol Backspace, ada sesosok anak kecil—yang gemar bermain-main dan tidak kenal takut—di dalam tubuhnya yang segera mencegahnya. Katanya, menulis sajak itu bentuk mengekspresikan diri, bukan untuk mencari uang. Mengirimkannya ke media itu cuma sebuah keisengan. Jadi kenapa harus sedih ketika ditolak? Lebih baik menulis terus saja. Toh, kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti.

Kebimbangan yang biasa dirasakan oleh orang dewasa itu pun kalah oleh perkataan polos seorang bocah, hasil imajinasinya sendiri. Akhirnya, ia berusaha mengakhiri sajak itu dan menerbitkannya di blog sendiri—sebagaimana lazimnya. Kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia memang pecundang bodoh yang tidak tahu malu.


Dialog 

“Hei, kau kenapa terlihat bersedih?” 

“Karena aku baru menyadari bahwa puisi-puisi buatanku jelek semua.” 

“Siapa yang bilang begitu?” 

“Diriku sendiri.” 

“Jangan terlalu kejam dengan diri sendiri begitu dong. Enggak baik, tahu.” 

“Kenyataannya memang begitu, kok.” 

“Pasti ada penyebabnya, kan?” 

“Iya, aku tadi habis membaca kitab puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Tiba-tiba aku jadi ingin melihat kembali puisi-puisiku sendiri. Ternyata keterlaluan busuknya.” 

“Kau tidak perlu membanding-bandingkan begitu.” 

“Masalahnya, aku pernah mengirimkan puisi-puisiku itu ke media. Aku pun mendapatkan penolakan.”

“Coba lagi ke media lain. Buat lagi puisi lain.” 

“Sudah, hasilnya sama saja. Tak ada yang tembus.” 

“Kira-kira apa yang membuatmu ditolak, ya?” 

“Mungkin karena aku belum punya nama. Jadi, siapa coba yang mau membaca dan menikmati puisi-puisiku itu? Apalagi membayarnya.” 

“Intinya, kau mau menyalahkan selera mereka?” 

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku tadi hanya terbawa emosi. Aku yakin mereka punya standar sendiri untuk memutuskan mana yang layak terbit, mana yang tidak. Atau mungkin juga puisi-puisiku terlihat meniru penyair lain. Bisa dibilang emang karyaku itu yang jelek. Terbit di media lain selain blog sendiri kayaknya cuma mimpi bodohku saja. Nyatanya, tak ada tempat untuk tulisanku.” 

“Terus kau mau berhenti bikin puisi?” 

“Penginnya, sih, gitu. Anehnya, barusan aku malah menciptakan yang baru.”

“Nah, baguslah. Kau berarti tidak menyerah.” 

“Celakanya, puisi baruku itu jelek juga. Aku jadi ingin menghapusnya saja.” 

“Jangan!” 

“Kenapa?” 

“Kau selama ini bikin puisi niatnya untuk apa, sih? Buat cari uang? Menurutku, kau pasti punya niat lebih dari itu. Untuk alternatif ketika bosan menulis esai atau cerpen. Untuk bersenang-senang. Kau mengirimkannya mungkin karena ingin mendapatkan pembaca yang lebih luas. Bukan demi uang semata. Jadi, kumohon jangan berhenti menulis. Lanjutkan saja.” 

“....” 

“Kok diam? Apakah kau malu mengakui puisi barumu?” 

“Enggak, sebab aku memang tidak tahu malu.” 


Haiku 

Habis ditolak 
Malah lebih menggila 
Tak tahu malu 


Blurb 

Selalu ada dua reaksi setiap kali membaca karya bagus: Pertama, terinspirasi untuk bikin yang sama bagusnya atau lebih baik; kedua, akan memilih berhenti menulis karena sadar dengan kemampuan diri. Hal nomor dua itulah yang kini menimpa dirinya. Setelah membaca salah satu buku kumpulan puisi penyair idolanya, ia langsung merasa tak ingin lagi merangkai kata-kata. Konyolnya, kemarahan berlebih terhadap sajak-sajaknya yang keterlaluan jelek itu malah mengubah situasi menjadi 180 derajat. Ia pun menciptakan puisi baru sebagai pelampiasan. Tapi bagaimana kalau puisi itu sama buruknya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? 


Analisis Logika 

Membaca. 
Puisi. 
Karangan idola.
Mengevaluasi sajak-sajak ciptaannya.
Membenci diri sendiri. 
Memori tentang mengirim kumpulan puisinya ke media. 
Penolakan. 
Revisi. 
Kegagalan yang sama. 
Kemarahan dan menciptakan sajak baru. 
Keinginan menghapusnya karena jelek. 
Pencegahan dari dalam diri. 
Imajinasi anak-anak. 
Mencoba berdamai dengan diri sendiri. 
Penyelesaian tulisan dengan rasa malu tak tertahankan. 


Endorsement

Puisinya yang satu ini seperti bentuk kritik terhadap semua sajak ciptaannya. Bagi saya, ada dua jenis penulis: 1) Yang sangat memuja dan memuji kata-katanya sendiri; 2) Yang selalu membenci diri sekaligus hasil tulisannya. Yoga adalah yang nomor dua, tetapi entah kenapa malah berhasil membuat saya menyukai puisi-puisinya. Dia seakan-akan punya sihir tersendiri dalam setiap pemilihan katanya. —Agus Suhana, teman penulis merangkap sampah masyarakat. Dibayar 100.000 untuk komentar begini.

--

Tulisan ini berutang ide kepada buku Exercises in Style, Raymond Queneau.
Read More
Ketika daun jatuh tak ada titik darah. Tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih. -SS, puisi Nada Awal.


Pada Februari yang konon bulan penuh cinta ini, saya jadi ingin kembali mengisi blog akbaryoga dengan puisi. Meskipun puisinya cuma hasil salin-tempel dari blog sebelah (yang mungkin jarang orang tahu), setidaknya kala itu saya menciptakannya dengan segenap dan segelas rasa sayang. Halah. Semoga  sajak-sajak ini dapat meyejukkan hati para pembaca, sebab sebelumnya saya terlalu banyak sinis dan marah-marah. Tanpa berlama-lama lagi, silakan kunyah dan telan tiga sajak berikut ini. Lepehkan jika tidak suka. Dicaci-maki juga boleh, kok.





Maaf

Maafkan aku, Fa.
Seandainya hari bisa kembali mundur,
sebaiknya benang itu tak perlu kutarik dan ulur.
Mungkin hal itu hanya akan merusak suatu alur.

Semestinya sejak dulu aku sadar
akan sorot matamu yang selalu bisa berpendar
di setiap keberanianku memudar.
Namun, hari kemarin tak pantas lagi beredar.

Read More
Semalam ada seseorang yang tidak saya kenal mengirimkan DM (Direct Message) di Twitter. Berikut saya tampilkan pesannya dengan sedikit pengeditan supaya lebih enak dibaca.

sumber: https://pixabay.com/id/bulu-burung-musim-semi-kertas-2505306/


Hai, Yoga! Aku enggak tahu harus manggil kamu apa. Bingung mau pakai “Bang”, “Mas”, atau “Kak”. Menurutku kita masih seumuran (walau lebih tua kamu 1 atau 2 tahun), jadi aku panggil nama aja, ya? Maaf nih kalau aku sok akrab. Tapi gini-gini aku udah baca tulisanmu dari lama. Biarpun cuma silent reader, aku tetep pembaca setia blog kamu, Yog.

Tulisan kamu kenapa berubah jahat gitu? Ngeri aku bacanya. Di tulisan sebelum-sebelumnya kamu juga kayak ngeluh tentang kesedihan, kesepian, dan kematian gitu. Kamu baik-baik, kan? Nulis kayak biasanya lagi dong. Kayak dulu-dulu yang lucu dan ceria gitu.

Eh iya, aku boleh nanya, kan? Simbol K di foto profil Twitter-mu (yang pernah jadi gambar di tulisan Kenyataan atau Kebenaran di Balik Kisah Fiksi) itu artinya apa? Apakah K buat ketikyoga? Kesedihan? Kesepian? Atau kematian?

Aku kok ngerasa kamu akhir-akhir ini setiap menulis kayak lagi menjerit, tapi enggak ada orang yang mau dengerin. Kenapa aku bisa ngomong begini, karena aku juga sering kayak gitu. Setiap kali mau cerita, pasti jarang ada temen yang bisa jadi pendengar. Kalau kamu mau, aku bisa lho jadi tempat curhatmu.

Umm, apa lagi, ya? Udah deh, itu aja. Semoga kamu baik-baik. Jangan marah-marah dan sedih-sedih terus. Hehe. :)


Seusai membaca pesannya, saya langsung mengetik, Ini apa-apaan, sih? Kok ngatur-ngatur? K di situ artinya kont. Saya langsung menghapus kont yang belum selesai itu, lalu menggantinya menjadi kafir. Saya kembali menghapus, dan kata kafir pun berubah menjadi kebencian. Saya enggak tahu mau menambahkan kalimat apa lagi dan menunda mengirimkannya. Akhirnya, saya menghapus semua kalimat itu.

Sekarang sudah pukul setengah enam pagi. Saya belum tidur dari semalam. Begadang selalu membuat pikiran saya kacau. Sepertinya kondisi begini memang kurang baik untuk berkomunikasi. Apalagi dengan orang asing. Saya butuh istirahat. Saya pun menunda membalas DM tersebut. Lebih baik saya tidur. 

Enam jam kemudian saya terbangun. Saya membuka Twitter dan kembali mengecek pesan itu. Kini pikiran saya sudah lebih segar untuk merespons pesannya. 



Hai juga. Iya, bebaslah mau panggil saya apa. Panggil sayang juga boleh

Itu cuma lambang dari tempat saya bekerja dulu. Enggak ada maksud apa-apa. Saya bingung kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu. Ya, meskipun kadang-kadang saya juga suka menganggapnya sebagai sebuah simbol bagi diri sendiri, sih. Terlepas dari makna asli suatu media tempat saya bekerja dulu, K di situ bisa menjadi inisial username saya. Bisa seperti yang kamu tulis; kesedihan, kesepian, atau kematian. Bisa juga berarti keren. Kacamata. Kurus. Kangen. Kamu (sumpah, ini saya enggak lagi gombal. Kata kamu bisa merujuk siapa aja).

Boleh juga kayak slogannya presiden saat ini: Kerja, kerja, kerja. Terus bisa juga karya, konten, kreatif, kritik, keluarga, ketulusan, kebahagiaan, kekayaan, kepercayaan, kekuatan, kejujuran, keadilan, kebaikan, kejahatan, kebencian, kesalahan, kebodohan, kemunafikan, kebohongan, kepalsuan, kiamat, dan masih banyak lagi. Pokoknya, bebaslah mau dianggap apa sama kamu ataupun orang lain.

Alhamdulillah saya baik-baik aja dan enggak butuh teman cerita. Tapi makasih banget buat tawarannya. Kalau soal tulisan yang kamu anggap ngeri itu, saya emang enggak sebaik yang kamu pikir. Saya juga punya sisi jahat. :) 


Sebenarnya saya agak geli mengakhiri pesan itu dengan emoji senyum. Tapi mau gimana lagi, saya merasa perlu membalas senyumannya. Lagian, senyum itu ibadah, kan? Meskipun penempatan senyum setelah kata jahat itu justru bikin saya terlihat kayak psikopat.

Saya entah mengapa masih mengantuk, padahal sudah tidur lumayan lama. Mungkin ini faktor hari Minggu sehingga membuat saya ingin bermalas-malasan saja. Saya pun menaruh ponsel dan berusaha tidur lagi. Tidak sampai sepuluh menit memejamkan mata, ponsel saya berdering. Saya hafal bunyi itu. Notifikasi Twitter. Ketika saya lihat, ternyata itu pesan balasan darinya. Mau dia apa, sih? Saya sudah malas membuka dan memilih mengabaikannya. 

Kala itu juga saya tiba-tiba memikirkan pesan dia sebelumnya. Saya betul-betul tidak mengerti, kenapa dia menilai bahwa tulisan Kumpulan Kalimat Jahanam itu mengerikan? Seram di bagian mananya? Apa karena saya tampak sedang marah-marah saat mengkritisi suatu hal? Apakah tidak boleh memaki hal-hal yang enggak kita sukai? Apa kita mesti terlihat baik melulu? Harus selalu bahagia dan tidak usah menunjukkan kesedihan? Toh, tulisan itu sudah dua atau tiga bulan silam. Itu pun saya telah memolesnya sedikit agar bisa lebih halus. Intinya, kemarahan itu sudah lewat. 

Sementara itu, dia malah meminta saya menuliskan cerita-cerita yang ceria dan lucu baginya. Saya pun ingin bertanya kepadanya, apa benar tulisan-tulisan saya yang dulu itu dapat menghibur dirinya? Apakah kini tulisan saya sudah tidak menyenangkan lagi? Kalaupun dia merasa tulisan-tulisan lama saya kocak, itu berarti sama saja dia mentertawakan kesialan atau kepahitan hidup saya. 

Lantas, apa bedanya dengan yang sekarang? Saya juga masih menuliskan cerita-cerita yang serupa seperti dulu. Hidup saya belum banyak berubah. Hidup yang berengsek dan memble ini masih saya coba tuliskan penderitaannya (terkadang diolah menjadi fiksi), lalu mentertawakannya. Tujuan menulisnya pun tidak jauh berbeda: saya jadikan bahan olok-olok ketika suatu hari nanti membaca ulang ceritanya. Saya memang gemar menyulap derita menjadi cerita. 

Anehnya, kenapa dia protes agar saya menulis kayak dulu, ya? Apa karena saat ini balutan kisahnya berubah lebih gelap?

Namun biar bagaimanapun, saya tetap terharu membaca pesannya. Kenapa dia bisa sepeduli itu dengan saya? Saya pun sedikit merasa bersalah terhadapnya. Lebih-lebih ketika dia telah mengulurkan tangan, tapi saya justru menolak pertolongannya. Saya tahu, saya sudah berbohong tentang diri yang baik-baik maupun tidak butuh teman cerita itu. Tapi saya hanya ingin menutup diri (khususnya dari orang-orang yang belum tentu dapat saya percaya), dan terus meyakinkan diri ini baik-baik saja—secara tidak langsung saya berusaha mendoakan diri sendiri. 

Sejujurnya, keadaan saya memang baik. Walaupun ada hal-hal yang terasa getir dalam hidup, saya telah berupaya membuang segala hal buruk itu dengan menulis. Mengetahui kalau tulisan saya masih jauh lebih busuk daripada hidup yang sedang dijalani, rupanya sungguh ampuh untuk mengurangi beban itu.

Konon, menulis merupakan salah satu terapi yang mudah dan murah. Di blog satunya, saya pun membuat slogan: menulis untuk terapi jiwa. Ya, biarpun pada kenyataannya jiwa saya masih saja penuh kebencian. Boleh jadi kegiatan ini tidak sepenuhnya bisa menyembuhkan saya. Saya tidak begitu peduli. Setidaknya, saya bisa sedikit lebih lega dan bahagia melampiaskan kemarahan dengan menulis—baik itu berbentuk esai, cerpen, atau puisi. Bukan dengan membanting benda-benda, menjotos orang lain, atau memakan harta anak yatim.

Berbicara soal melampiaskan kemarahan dengan menulis, saya jadi teringat wawancara Seno Gumira Ajidarma saat beliau membicarakan Saksi Mata, buku kumpulan cerpennya tentang Timor Timur. Dalam interviu itu, Seno bertanya kepada salah seorang temannya, “Apakah tidak apa alasan saya menulis karena marah?” Lalu temannya menjawab, tidak apa, karena yang penting hasilnya.  

Akhir kata, jika si pengirim pesan betulan rutin membaca tulisan-tulisan saya, kemungkinan dia juga akan membaca tulisan ini. Anggap saja ini balasan pesan dia berikutnya—yang belum sempat terbaca dan telah saya hapus. Saya sudah masa bodoh akan dinilai apa dan bagaimana olehnya, juga pembaca lainnya. Yang penting setelah ini dia bisa paham, bahwa saya memang tidak sebaik kelihatannya. Lagi pula, apa itu baik? Kata itu terdengar seperti suara kentut sehabis bangun tidur setiap kali saya begadang. Mungkin simbol K itu bisa melambangkan kentut. Bisa pula bermaksud kemarahan. Atau paduan keduanya: kentutnya orang marah.

--

PS: Tafsir huruf K dalam tulisan ini hanya gurauan semata dan tidak ada maksud apa-apa dengan simbol asli media itu.
Read More
...yang tadinya mau dijadikan twit berutas, cuma saya terlalu malas mendapatkan respons atau takut viral menimbulkan konflik.

sumber: https://pixabay.com/id/kematian-kegelapan-gelap-hood-164761/


Saya sebisa mungkin memendam kemarahan dan tak ingin menunjukkannya ke khalayak. Cerobohnya, entah mengapa ada satu twit yang bisa-bisanya lolos dan terpublikasi: “Beberapa bloger terlalu takut bilang tulisan temennya sendiri jelek. Pujian-pujian palsu telek wedhus (tahi kambing). *dibajak Holden Caulfield.” 

Efek membaca ulang novel J. D. Salinger, The Catcher in the Rye, saya jadi terpengaruh gaya naratornya, Holden Caulfield—seorang anak muda yang muak dengan kepalsuan. Kala itu saya baru saja jalan-jalan ke blog orang lain. Dari sekian banyak blog yang saya kunjungi itu, mayoritas berbentuk cerita keseharian dan perjalanan. Lalu, saya akhirnya mendapati satu orang yang membuat cerpen. Berhubung saya anaknya jarang menemukan bloger yang senang menulis fiksi, saya jadi memandang blog itu berbeda, dan malah memasang harapan yang tinggi untuk tulisannya. Menurut saya pembukaan cerpennya lumayan asyik, tapi di pertengahan dan menuju akhir cerita penulisnya seperti kehabisan napas. Ceritanya mendadak jelek, mungkin karena terburu-buru dan minim pengeditan.

Biarpun ada rasa gatal ingin komentar ini-itu, saya memilih diam dan berusaha memaklumi. Tulisan saya sendiri juga belum bagus dan terkadang masih suka begitu. Namun, saya jengkel bukan main melihat komentarnya yang penuh pujian. Entah karena sebagian orang malas mengkritik atau itu hanya komentar basa-basi. Yang saya tahu selama ini, mengomentari hal-hal buruk di kolom komentar yang dapat dilihat banyak orang memang kurang etis atau agak gimana gitu. Jika mau memberi masukan, lebih enak disampaikan secara pribadi. Ya, meskipun sejujurnya kadang-kadang jari-jari saya sulit dikontrol dan kelepasan, sih. Baguslah belakangan ini saya bersikeras menahan diri.

Memberikan pujian (sekiranya ada yang bagus) atau mengomentari bagian yang relevan dengan kita, kayaknya akan terasa lebih menyenangkan bagi penulis maupun pembaca. Tapi, bagaimana kalau tulisannya kelewat hancur dan sama sekali tidak ada bagian yang bisa dikomentari, dan kita tetap memberikan komentar dengan terpaksa? Bukankah itu palsu?

Kalau saya ingat-ingat lagi, hal-hal semacam itu kayaknya sering terjadi di kolom komentar blog. Khususnya, pujian-pujian norak yang justru menunjukkan sang pemberi komentar ini masih miskin referensi dalam membaca. Contohnya, saya pernah membaca puisi yang membawa-bawa Tuhan atau agama atau sejenisnya secara terang-terangan. Komentarnya pun otomatis positif semua. Apakah beberapa penulis dan pembaca melihat hal itu bagus, bikin ingat dosa, dan ‘wah sekali’?

Bagi saya, terus terang saja, itu menyedihkan. Diksi di puisinya biasa banget—cuma ketergantungan kata Allah, Rabb, Tuhan, Nya, sujud, tahajud, dst. Formula untuk menggaet pembaca agar mereka bilang bagus, kan, tidak melulu harus menjual agama. Ini mengingatkan saya kepada film-film Indonesia yang menjual air mata. Cara mereka berdagang keterlaluan payah. Mereka mengandalkan kekuatan salah satu tokohnya yang taat beribadah, dan ketika cerita bergulir biasanya tokoh itu mendapatkan cobaan terkena penyakit kanker atau semacamnya. Semua itu dibuat hanya demi bikin penonton menangis, ingat neraka, dan jadi pengin insaf. Seolah-olah tidak ada hal lain yang dapat membangun suasana muram, sehingga penontonnya bisa ikutan bersedih dan berempati. Oleh sebab itu, saya pun jadi menyimpulkan kalau masih banyak orang yang belum memahami mana tulisan bagus, biasa saja, dan jelek.

Eka Kurniawan kira-kira pernah bilang begini dalam salah satu esainya, “Suka dan enggak suka itu masalah selera, tapi bagus dan jelek harus ada ukurannya.” Saya suka tulisan-tulisan Eka Kurniawan. Bisa dibilang tulisan Eka termasuk ke dalam selera bacaan saya. Berhubung Eka sendiri yang mengatakan perihal selera dan ukuran begitu, saya pun jadi harus menilai sekaligus mengakui bahwa di buku kumcer Kumpulan Budak Setan, tulisan Eka biasa banget dan justru yang paling jelek dibandingkan Ugoran Prasad atau Intan Paramaditha (kamu juaranya, Intan!).

Ini baru satu twit yang saya coba kembangkan. Saya masih menyimpan beberapa di draf yang rasanya berat untuk ditampilkan—atau barangkali akan saya hapus saja demi kebaikan. Entah mengapa ada masanya saya bisa jahat sekali di bidang tulis-menulis (dunia yang saya coba benci, padahal jauh di lubuk hati selalu tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa sangat mencintainya). 

Semakin ke sini, seseorang di dalam diri saya selalu menuntut lebih. Meminjam kalimat dari Mas Yusi Avianto di salah satu wawancaranya, saya butuh tulisan yang menantang kepenulisan saya. Saya bingung apakah ini termasuk menutup diri atau bukan, tapi saya mulai memisahkan bacaan-bacaan saat membaca buku maupun blogwalking; mana tulisan yang memang perlu saya baca untuk dipelajari, mana yang bisa buat merenung; mana yang sekadar hiburan atau senang-senang atau mencari informasi, mana yang cuma membuang-buang waktu alias enggak usah dibaca.

Saya sudah bertambah tua, sudah jengah dengan kebohongan-kebohongan semacam itu. Saya tidak ingin lagi terpaksa saat membaca tulisan orang. Dalam setahun terakhir ini, saya membaca (lebih-lebih meninggalkan komentar) ketika saya mau saja, bukan karena tidak enakan dan berharap mereka gantian mengunjungi blog saya.

Satu hal yang paling bikin muak: berulang kali saya melihat tulisan berbayar yang komentarnya diisi oleh orang-orang yang juga mengambil tawaran kerja sama itu. Saya menduga hal itu agar mereka terlihat baik di mata klien. Supaya sama-sama ramai blognya, sehingga klien akan mengajak bekerja sama kembali di kemudian hari. Mungkin itu sah-sah saja dan bukan masalah krusial. Mereka kan menggantungkan pemasukan alias cari duit dari blog. Yang jelas saya heran, kok ada orang yang sampai mengemis minta klik dan komentar, ya? Sekali-dua kali, okelah. Jika lebih dari itu? Sumpah, itu kayak orang yang enggak punya integritas.

Setelah mengetik semua ini, saya sepertinya harus siap dengan segala kemungkinan terburuk: 1) Tidak lagi mendapatkan tawaran kerja sama di blog; 2) Teman-teman dan pengunjung semakin berkurang; 3) Gantian dihina. Ah, peduli setan dengan semua itu. Hahahahanjing.

Tertanda, 

Alter ego jahanam—yang seharusnya kejam saat menyunting tulisan-tulisanmu, bukan malah menggerutu begini, 

Adhityo Yongkuharu

-- 

Berhubung sedang tidak ada kegiatan, saya jadi mengubrak-abrik draf lama. Saya sudah lupa kapan membuat tulisan barusan. Jika dilihat dari tanggal dokumennya sih, enggak lama sehabis bikin twit di pembukaan itu. Sesungguhnya, saya tidak bermaksud menyerang individu atau kelompok mana pun. Saya juga enggak iri sama penghasilan mereka, sebab rezeki sudah ada jalurnya masing-masing. Seandainya ada yang tidak terima dan sakit hati saat membacanya, anggaplah ini sebuah kritik dari saya. Sebagaimana penulis yang konon mendapatkan ide dari keresahan, saya bikin tulisan ini karena resah sama kepalsuan-kepalsuan tahi kambing itu. Saya pun sebenarnya tidak ingin berbuat bengis dan menampilkan tulisan seperti ini (apa untungnya buat saya, sih?), tapi rasanya sayang kalau sampah ini dibuang. Jadi, saya sengaja taruh di blog buat pengingat dan menghancurkan diri sendiri.

Bonus twit yang masih di draf: “Saya sedih melihat tulisan-tulisan berbayar yang dikerjakan secara sembrono. Mereka kerap mendapatkan tawaran kerja sama karena blognya punya DA/PA bagus, serta banyak pengikut di media sosialnya doang kali, ya? Kualitas tulisan mereka sungguh ampas. Cobalah untuk memperbaikinya dan buat tulisan jadi lebih rapi. Enggak usah menyangkal dan menyalahkan tenggat ketika tulisanmu buruk, itu kan sudah konsekuensi dari pekerjaan. Jangan mau duitnya aja, Bangsat!”
Read More
Kamu bebas menganggap apakah tulisan-tulisan di blog ini aslinya berbentuk fiksi atau kenyataan. Sebagaimana gagasan Ronald Barthes yang terkenal di kalangan penulis bahwa pengarang telah mati setelah karyanya dilepas ke media, saya tentu saja tidak mau melarang-larang pembaca menafsirkan setiap cerita yang telah saya buat. Tapi saat ini saya perlu bangkit dari kubur, atau setidaknya saya ingin menempatkan diri sebagai pembaca dan menggugat diri saya sendiri. Khususnya di tulisan sebelumnya: cerpen Aku Ingin Menyusul Kepergian Kakak



Jika pembaca itu sudah mengenal saya secara dekat, dia pasti paham bahwa cerita itu hanyalah fiksi, sebab saya adalah anak pertama. Tidak mungkin saya punya kakak, kan? Kalau kakak-kakak-an mungkin saja, tapi biasanya itu berlaku untuk lawan jenis. Saya perlu hidup kembali karena ingin protes kenapa cerita itu masih berlubang, terlalu buru-buru, dan enggak logis atau kurang bisa diterima kisahnya—seperti yang Wisnu maksud di kolom komentar.

Setelah tulisan itu terpublikasi, saya terkadang masih suka membaca ulang dan membetulkan bagian-bagian yang masih buruk demi bisa tampil lebih menarik. Bedanya, akhir-akhir ini saya sudah malas mengutak-atiknya. Usahakan jangan menyunting apa-apa lagi ketika sudah terbit di blog. Bagi saya, setiap tulisan yang sudah tayang di blog ini adalah sebuah kegagalan. Jadi apa yang sudah gagal, ya biarkan saja begitu. Kalaupun nanti mau direvisi atau dikembangkan, palingan hadir dalam bentuk lain.

Entah sejak kapan saya gemar menggabungkan antara fiksi dan kenyataan. Jika tidak salah ingat kayaknya sehabis membaca esai Mas Sulak, Borges dan Cerita yang Meragukan. Saya menyukai ide itu. Saya pikir mempermainkan pembaca sekaligus diri sendiri (karena saya sendiri suka lupa apakah cerita itu betul-betul pernah terjadi) itu sangatlah menyenangkan. 
Read More
Previous PostOlder Posts Home