Hari ini Dinda menikah. Atau mungkin seminggu yang lalu. Aku tidak tahu percisnya. Yang pasti sih hari Sabtu atau Minggu—sebagaimana orang-orang pada umumnya, sebab Senin sampai Jumat waktunya bekerja.

Aku baru saja mendapat kabar mengenai hal itu dari tulisan Dinda di blognya. Dinda sebetulnya bukan siapa-siapa di dalam hidupku. Ia cuma orang asing yang kebetulan kukagumi karena teks-teksnya yang berwarna sedih itu kerap mewakilkan perasaanku. Bisa dibilang Dinda cukup berpengaruh seperti Haruki Murakami dan Kawabata, sehingga beberapa kali tulisanku ikut-ikutan bernuansa muram.



Bagiku, Dinda adalah pelantun kesedihan. Sejak aku mengenal sosoknya dua tahun silam secara tidak sengaja di Twitter, lalu iseng mengunjungi blog yang tercantum di profilnya, ia belum pernah sekali pun membuat corak bahagia di kanvasnya. Baru hari inilah aku dapat membaca kegembiraan di dalam hidupnya. Entah sisi melankolis itu sosok sejatinya, atau hanya citra yang ia rancang buat ditujukan kepada pembaca, aku tak pernah tahu pasti.

Namun, setahuku jarang sekali yang membaca tulisan-tulisan Dinda. Jika tak salah ingat, tidak ada komentar yang meramaikan blognya. Sekalinya ada, paling cuma 1-2 orang. Mungkin ia hampir tak pernah membagikan kesedihannya itu kepada khalayak. Aku tebak palingan cuma kawan-kawan dekat Dinda yang mengetahui bagian rapuhnya itu. Jadi, aku menyimpulkan kenestapaan Dinda memang benar adanya. 

Dinda seakan-akan mengingatkan tentang diriku yang dulu. Jauh sebelum hari ini aku bisa asyik saja membagikan kesedihan dan kesepian hidup, aku gemar bersembunyi di Tumblr agar tak perlu ada satu pun manusia yang dapat melihatku menangis dan menjerit. Berkat tangisan-tangisan Dinda, aku jadi paham bahwa sedih itu hal yang lumrah.

“Bukankah wajar karena dia seorang perempuan? Kamu kan laki-laki, kalau kayak begitu artinya kamu lemah dong?”

Apakah pertanyaan itu harus kujawab? Aku tentu tak mau berdebat soal itu. Lagi pula, menangis hak masing-masing setiap orang, bukan? Selama tangisanku tidak mengganggu indra pendengaranmu, aku akan cuek saja. Seperti saat ini, misalnya, sewaktu aku mendengar berita pernikahannya. Entah mengapa rasanya nelangsa sekali. Kau tahu kenapa aku begini? Karena aku tak punya nyali sedikit pun untuk mengenalnya lebih dekat dari pertama kali aku tahu tentang dirinya. Aku sebetulnya sempat berniat untuk menyapanya, tapi begitu keberanianku telah kukumpulkan buat sekadar menekan tombol “ikuti” di media sosialnya sebagai permulaan, aku justru menemukan fakta bahwa kami berbeda agama.

Anjing, kenapa sih perbedaan semacam ini selalu menjadi persoalan pelik untukku? Sebenarnya untuk apa Tuhan menciptakan perbedaan, jika di lain sisi terdapat larangan menikah beda agama? 

Aku tahu, aku mungkin berpikir kejauhan. Tapi aku sudah telanjur suka dengan untaian kata miliknya. Mungkin mulanya cuma suka sebatas tulisan, tapi bagaimana jika itu berlanjut menjadi suka sama penulisnya? 

Aku pun ingin jujur tentang khayalanku terhadap Dinda: sebelum ia menikah, aku pernah membayangkan kalau suatu hari aku menunjukkan diri kepadanya, lalu mengajaknya berkenalan. Rupanya, ia terharu memiliki pembaca setia. Kami lantas janjian bertemu di suatu tempat. Membicarakan tulisan. Mengomentari hal-hal remeh yang mengusik pikiran. Kami pun berjumpa lagi pada kemudian hari. Kami mulai berbagi kesedihan. Bertukar cerita-cerita sendu. Lalu sepakat untuk bersama. Dan seterusnya, dan seterusnya, hingga kami mendadak ragu buat melangkah lebih jauh lantaran perbedaan agama.

Sesungguhnya aku heran, pantaskah aku bersedih pada hari pernikahannya, hari kebahagiaannya ini? 

Aku pernah mendengar kabar tentang mantanku yang menikah, tapi rasanya biasa saja. Kali ini, ketika Dinda—yang sesungguhnya cuma orang asing—menikah, kok perasaanku malah tidak keruan begini?

Apa kau tak percaya aku bersikap masa bodoh ketika mantanku menikah? Baiklah, akan kuceritakan sedikit. 

Pada suatu malam Minggu, saat aku lagi asyik membaca buku Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love, Farhan mengirimkanku pesan berupa gambar dan pertanyaan. 

“Mantanmu menikah hari ini. Kau diundang?”

“Aku malah baru tahu dari pesanmu itu.”

“Kalaupun diundang, kau mending jangan datang. Nanti kau sedih, terus kayak yang ada di video-video lucu dan viral itu lagi. Pacaran lama untuk jagain jodoh orang.” 

“Ayolah, itu sudah berlalu tujuh tahun lalu. Untuk apa aku harus bersedih, Han? Tanpa harus kau suruh, aku juga tidak mungkin datang seandainya mantanku mengundangku.” 

“Masa sih kau tidak sedih sama sekali? Kenapa kau tak mau datang?” 

“Biasa saja, sungguh. Terakhir kali kami tak sengaja bertemu tiga bulan lalu di pernikahan Meilda (kawanku saat SMA, kawan mantanku juga), aku santai saja melihatnya bersama pacarnya. Justru pacarnya yang kelihatan risih karena harus berjumpa denganku. Sepele sih, sebab aku lagi bokek.” 

“Ya, baguslah. Kau kan jadi bisa memberikan amplop kosong, terus makan sepuasnya. Sekalian balas dendam karena ia pernah menyelingkuhimu dulu.”

“Aku tak sejahat itu, Han. Lagian, buat apa balas dendam? Kemarahanku sudah usang.” 

“Kau betul-betul enggak bersedih sama sekali mengetahui mantanmu menikah?” 

“Aku malah turut berbahagia. Kau kelihatannya senang sekali kalau aku bersedih. Kau kenapa, sih? Lagi butuh hiburan?” 

“Iya nih, aku lagi bertengkar sama pacarku. Nongkrong, yuk! Aku traktir deh.” 

Malam itu akhirnya kami ngopi di Kafe Joni, Bulungan, Jakarta Selatan. Sembari menikmati kopi, Farhan masih saja menggodaku agar bersedih mendengar berita bahagia mantanku itu. Melihat upayanya yang ingin bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, sungguh membuatku kasihan terhadapnya. 


Aneh sekali. Ditinggal nikah sama mantan yang jelas-jelas pernah singgah di hatiku malah tidak menimbulkan rasa sakit maupun sedih secuil pun. Namun, giliran mengetahui kabar Dinda yang tentunya cuma alien atau mitos di dalam hidupku justru bisa sesesak ini. Sampai-sampai memaksa diriku yang awalnya sedang ingin jeda menulis, jadi harus bergumul lagi dengan teks demi membuang segala perasaan busuk ini.

Terima kasih, Dinda, berkatmu aku kembali menorehkan tinta berwarna suram lagi. Membuat mataku yang sedang musim kemarau mendadak menurunkan hujan. Membasahi hati yang lecet. Kau seolah-olah bikin aku kepengin menemukan cinta yang baru. 

Selain berterima kasih, aku juga ingin meminta maaf, Dinda. Aku tentu tak bisa hadir di pernikahanmu. Menjabat tanganmu dan mengucapkan selamat. Siapalah aku ini di matamu? Cuma makhluk tak kasatmata. Kau bahkan tidak mungkin tahu bahwa ada seorang aku yang mengagumi sisi gelapmu. Oleh sebab itu, aku hanya bisa bilang lewat tulisan yang tidak beralamat ini: Selamat berbahagia, wahai Pelantun Kesedihan. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dan memelukmu, lalu biarkan sedihmu itu kutanggung selamanya.
Read More
“Lu sempat merasa enggak, sih, Yog?” tanya Lisa ketika kami dalam perjalanan pulang sehabis wawancara kerja. “Kita sakit tuh sebetulnya firasat kalau bakal kejadian kayak gini?” 

Pertanyaan Lisa itu langsung bikin saya merenung tentang kejadian seminggu yang lalu. Lisa mengajak saya melamar kerja di kantor Rani—salah seorang teman kami—keesokan paginya. Saya merespons belum bisa karena lagi kurang enak badan. Saya mengusulkan beberapa hari lagi, ketika tubuh sudah pulih. Lisa pun sepakat karena dirinya juga masih ingin mempersiapkan CV dan beberapa dokumen lainnya.

Sayangnya, pada hari yang telah dijanjikan, sakit saya malah bertambah parah. Begitu terbangun dari tidur pada pukul 5, saya langsung memberi kabar dan meminta maaf karena membatalkan janji. Saya bermaksud meminta tambahan waktu. Kali itu, saya sungguh-sungguh berjanji: Apa pun yang terjadi nanti, entah sudah sembuh atau belum, saya bakalan siap berangkat. 

Jawaban Lisa sangatlah singkat, “Oh, ya udah.”

Itu tentu bikin saya berpikir, mungkin dia kesal, marah, atau bahkan malas sama tukang ingkar janji. Meski begitu, saya mencoba bersikap cuek. Seenggaknya saya sudah berkata sejujur-jujurnya. 

“Aduh, kayaknya enggak jadi dah, Yog. Hari ini gue diare,” jawab Lisa saat saya bertanya apakah hari ini jadi melamar kerja.

Saya pikir tadinya itu cuma alasan Lisa atau dia ingin balas dendam. Saya pun bilang kalau saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. 

“Gue betulan diare nih dari Subuh. Lu kalau mau tetap berangkat, ya udah enggak usah ke rumah gue. Langsung aja ke kantornya, ngelamar duluan.” 

Masalahnya, saya enggak tahu alamat kantornya Rani. Saya enggak terlalu akrab juga sama dia. Masa iya saya tetap pergi sendirian? Berangkat berdua menurut saya jelas jauh lebih enak. Seandainya nanti tersesat, orang yang membonceng bisa melihat aplikasi peta dan mengarahkan jalan. Sekalipun saya masih bisa berangkat sendirian dan nanti tinggal bertanya sama orang, entah kenapa saya mulai malas melakukan hal-hal yang terlalu nekat. Mau tak mau, saya pun membatalkannya. Saya balik lagi ke rumah.

“Besok aja gimana, Yog? Gue janji deh, kita besok betulan berangkat.” 

Keesokan harinya, kami betul-betul berangkat melamar kerja. Perjalanan kami pada hari itu bisa dibilang terhitung lancar, sekalipun kami sempat terjebak macet dan sedikit nyasar. Sesampainya kami di kantor itu, saya mendapati banyak sekali pelamar kerja yang sudah duduk menunggu. Saya lantas bertanya sama Lisa, “Ini kantornya emang tiap hari buka lowongan atau gimana, Lis?” 

Lisa mengatakan tidak tahu. Lisa lalu meralat ucapannya dengan kata mungkin, sebab perusahaan yang kami lamar ini termasuk outsourcing atau sejenisnya—yang tugasnya menyalurkan ke perusahaan lain seperti Grab, Tokopedia, Bank BNI, dsb. Saya awalnya hanya diajak melamar di bagian admin, penginput data, atau call center. Saya lupa bertanya lebih lanjut.

Sejujurnya, saya belum puas dengan jawaban tersebut. Walaupun tempat ini memang seperti yang dijelaskan Lisa, tapi mengapa jumlah pelamarnya bisa membeludak tidak keruan begini? 

Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika salah seorang HRD—perempuan yang saya tebak usianya 30-an, berambut lurus sebahu—berkata kepada dua puluh pelamar (termasuk saya dan Lisa) di sebuah ruangan, “Coba yang mendapatkan broadcast tentang lowongan kerja mengatasnamakan perusahaan kami, silakan unjuk tangan.”

Tiga belas orang mengangkat tangannya. 

“Itu pesannya hoaks. Jadi kami mohon maaf sama teman-teman semua yang sudah hadir.” 

Ternyata sebagian dari kami ini datang melamar pekerjaan karena mendapatkan pesan berantai tentang lowongan tersebut yang menjanjikan gaji sangat menggiurkan. HRD itu menjelaskan lagi bahwa hari ini mereka sudah menerima banyak sekali calon karyawan lantaran berita hoaks sialan itu. Mungkin prosesnya tidak bisa berjalan sebagaimana biasanya. Hanya cukup menaruh CV dan wawancara singkat saja. Psikotesnya perlu ditunda pada hari lain. 

Akhirnya, interviu saya pada hari itu tak berjalan dengan baik. Kalimat nanti kami hubungi lagi untuk psikotes jika lolos tes wawancara seakan-akan tidak menawarkan harapan sama sekali kepada saya. Saya dan Lisa pulang dengan perasaan jengkel sekaligus kecewa. 

Sebetulnya, saya tidak terlalu kecewa akan hal itu. Saya lebih kecewa karena kejadian berikut ini: 

Ketika saya mulai jenuh menunggu hampir 30 menit karena tidak ada instruksi apa-apa lagi sehabis mengisi data diri di meja registrasi, saya lalu inisiatif bertanya kepada staf keamanan yang berjaga di meja registrasi itu. Saya mengatakan bahwa punya teman yang bekerja di sini.

“Pak, kata teman saya, saya disuruh ketemu Bu Wulan. Saya harus ke ruangan mana, ya?” 

Staf keamanan itu terdiam. Berpikir sekitar sepuluh detik, kemudian malah menyuruh saya tetap ikut menunggu saja bersama para pelamar yang lain. Ternyata menyebut nama orang dalam juga tidak bisa membantu apa-apa. Mungkin karena jabatan Rani hanyalah selevel pegawai biasa. Bukan petinggi. Dan begitulah cerita bergulir hingga saya akhirnya masuk ke ruangan untuk dijelaskan perihal hoaks, wawancara singkat, terus pulang.

Saya pun langsung setuju dengan pernyataan Lisa soal firasat sakit itu. Mungkin saja Tuhan memberi tahu kami: sakit itu ialah tanda-tanda dari-Ku kalau kalian akan gagal. Lebih baik cari jalan lain. 


Frasa jalan lain mengarahkan saya ke sebuah pikiran tentang jalan menulis. Saya merasa sudah lumayan berjalan jauh di jalur ini. Konyolnya, saya belum bikin apa-apa. Penulis macam apa saya ini? Saya mulai mengingat pernah punya keinginan untuk menerbitkan buku kumpulan cerita sekitar tahun 2014-2015. Lalu, saya buang impian itu pada 2016 karena sadar diri betapa payahnya saya dalam urusan tulis-menulis. 

Tahun 2017, kala saya sudah mulai belajar hal-hal baru, khususnya penulisan fiksi, saya gali kembali impian yang terkubur itu. Saya mengumpulkan beberapa tulisan di blog dengan tema “perjalanan”, lalu mengubahnya dalam bentuk cerpen. Namun, proyek itu terhenti pada pertengahan jalan gara-gara charger laptop rusak. Sesudah saya belikan yang baru, semangat saya telah memudar. 

Tahun berikutnya, hasrat mengumpulkan cerita itu datang kembali. Tapi kali ini, saya enggak ingin meneruskan proyek itu. Saya mau menuliskan kisah-kisah baru dengan tema lain yang latarnya di kafe atau warung makan atau restoran cepat saji atau sejenisnya. Ketika cerpen itu baru terkumpul delapan buah, saya kehilangan minat lagi.

Saya pun marah terhadap diri sendiri. Proyek tahun lalu ditunda buat tahun depan. Giliran kalender sudah berganti menjadi tahun baru, saya justru malas melanjutkannya karena muncul ide-ide baru. Eh, ujung-ujungnya saya juga enggak bikin apa-apa sampai akhir tahun. Ulangi aja begitu terus setiap tahun. Anjing! Ya, mungkin ini termasuk keputusan yang tepat. Daripada saya tetap memaksakannya dan hasilnya jelek. Cari-cari alasan emang paling asyik, bukan? 

Tahun 2019 saya tak ingin jadi pecundang lagi. Saya berniat untuk menghasilkan sesuatu pada tahun ini. Tololnya, saya tetap bingung mau menciptakan karya yang seperti apa. Saya hanya mencoba lebih rajin bikin cerpen di blog. Paling tidak, hal itu sudah cukup menghibur saya. Hingga datanglah bulan Juni, tepatnya sehabis Lebaran. Saya merenung, tahun 2019 sudah mencapai setengahnya, tapi saya tetap belum menghasilkan apa-apa. Bagaimana kalau kegagalan ini berulang seperti tahun-tahun sebelumnya? 

Pertanyaan itu langsung memacu semangat saya untuk membuka lagi draf-draf lama. Saya menyelesaikan naskah-naskah yang baru setengah jalan ataupun yang baru tertulis poin-poinnya di memo. Sebagian dari cerpen-cerpen itu akhirnya berhasil rampung, tetapi saya lagi-lagi kehilangan selera untuk mengumpulkannya menjadi buku. 

Sebetulnya apa yang salah dengan diri saya? Apakah saya cemas kalau nanti naskah itu tak ada yang mau menerbitkannya? Apalagi mengenang setiap kali mengirimkan karya ke media daring yang berujung penolakan. Mungkin masih ada penerbit indie jika saya ingin tetap dicetak menjadi buku. Sayangnya, saya tetap butuh modal. Menengok diri saya yang lagi bokek, saya akhirnya membuang gagasan tersebut. Di tengah-tengah perasaan putus asa, lantas muncul pertanyaan: Saya selama ini menulis buat apa, sih? 

Terkadang saya berpikir menulis ini dapat menyembuhkan diri saya. Berkali-kali menulis terbukti ampuh bisa menjadi terapi jiwa. Tapi, di lain waktu entah kenapa justru bikin saya hancur. Konklusi semacam itu kemudian membuat saya menengok tulisan-tulisan yang ada di blog. Saya tentu memilih tulisan yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis maupun bloger. Lalu saya iseng menyuntingnya supaya lebih enak dibaca. 

Saking asyiknya mengurung diri di kamar dalam seminggu dan berkutat di depan laptop, kegiatan iseng-iseng ini justru berubah menjadi serius tanpa saya sadari. Akhirnya, saya berniat mengumpulkanya menjadi sebuah buku kumpulan cerita dalam format digital. Saya ambil benang merahnya: tokoh-tokoh yang mempertanyakan, “Menulis ini sebetulnya menyembuhkan atau justru menghancurkan dirinya? Maka, jadilah sebelas cerita tentang tokoh-tokoh yang bergelut di dunia tulis-menulis.

Setelah buku itu selesai dibuat, kini muncul masalah baru. Saya bingung buku digital itu mau dibagikan gratis atau dijual. Tapi mengingat perkataan Joker, “If you’re good at something, never do it for free,” tentunya saya jadi ingin menghargai diri saya. Toh, buku ini memang perlu saya jual agar bisa menyambung hidup sementara ini sebelum mendapatkan pekerjaan tetap lagi. Barangkali saja banyak yang berminat. Meskipun sebenarnya ada kecemasan di dalam diri, siapa coba yang mau baca cerita-ceritamu, lebih-lebih membelinya, setidaknya saya sekarang ini telah berusaha dan mencoba. Saya sudah berhasil mewujudkan mimpi untuk bikin buku kumpulan cerita. Saya melakukan semua ini karena benar-benar gemar menulis. Lagi pula, saya tahu bahwa rezeki juga sudah diatur. Jadi, saya mah bersikap santai saja. Tapi syukur-syukur, sih, betulan bisa laris manis. Aamiin.

Sekarang saya tinggal memutuskan berapa harga jualnya. Saya tak tahu berapa harga yang pantas untuk karya saya. Buku ini cuma proyek pelarian dari proyek yang sesungguhnya. Apalagi sebagian ceritanya juga sudah pernah tayang di blog.

Jika saya kasih harga 50 ribu, kok takutnya kemahalan. Kalau 20 ribu, merasa terlalu murah. Berhubung saya menyelesaikannya pada bulan Agustus, saya lihat saja tanggalnya yang sampai 31. Ya udah, saya tentukan itu sebagai harganya: Rp31.000

Lalu, sebagai anak Jurusan Pemasaran yang pernah belajar cara promosi, saya ingin memberikan diskon selama bulan Agustus ini menjadi Rp24.524—angka ini merupakan tanggal lahir dan usia saya saat ini. Bagi yang ingin mengunduh Fragmen Penghancur Diri Sendiri secara gratis (versi ini hanya tersedia sedikit cerita), silakan klik gambar buku berikut. Bagi yang ingin memesan versi utuhnya, silakan hubungi: ketikyoga@gmail.com. Terima kasih.


Read More
Ketika sedang pilek lalu ingus telah berwarna hijau, banyak yang bilang itu tandanya sudah mau sembuh. Terus bagaimana kalau saya tidak pilek, melainkan hanya radang tenggorokan dan batuk berdahak—lantas dahaknya yang mulai berubah hijau, apakah pernyataan itu sama saja?

Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar pada malam ketiga saya sakit. Saya tidak banyak tahu ilmu kedokteran dan sedang malas mencari tahunya di internet. Saya hanya ingin segera tidur cepat dan berharap keesokan harinya dapat sembuh, sebab pada hari itu ada wawancara kerja. Saya pun memejamkan mata dan berharap doktrin “pilek berwarna hijau tandanya mau sembuh” yang telah melekat sejak saya SD itu benar adanya.

Nyatanya, bangun-bangun saya justru kliyengan. Suatu efek karena saya mulai terserang pilek. Apalagi ketika menunduk, kepala rasanya sakit sekali. Semestinya saya sadar dari awal, bahwa penyakit batuk dan radang lazimnya selalu sepaket dengan pilek. Kenapa buru-buru amat mau sembuh tanpa harus terserang flu? Lagi pula, saya sakit belum ada satu pekan. Penyakit ini biasanya akan pulih dalam 1-2 minggu.



Kayaknya saya kudu membatalkan janji interviu itu.

“Kamu enggak jadi berangkat, Yog?” tanya ibu saya sewaktu saya lagi mengambil segelas air hangat di dispenser.

“Enggak jadi, Bu. Hari ini aku belum sembuh.”

“Ya udah, tidur lagi sana. Anggap aja itu belum rezekimu. Yang penting kamu sembuh dulu. Nanti baru cari lagi.”

Saya tahu, penyakit ini bagi saya termasuk jenis yang ringan—saya menganggapnya demikian karena dapat sembuh sendiri tanpa bantuan obat-obatan dan dokter. Yang penting saya banyak istirahat dan sering minum air putih hangat biar cepat pulih. Tapi meskipun penyakitnya tampak sepele, saya kali ini sedang tak ingin memaksakan diri. Terakhir kali saya nekat pergi ketika lagi kurang enak badan, saya malah terserempet mobil, terjatuh, dan luka-luka. Sakit yang tadinya ringan bahkan bertambah parah karena ternyata keseleo juga. Jadilah saya kembali ke kamar, rebahan, lalu selimutan.

Selagi sakit begini, saya entah mengapa teringat akan satu paragraf di novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya karangan Sabda Armandio, “Dengan musik, rumah sakit bisa memunculkan gambaran-gambaran elok tentang hidup untuk bisa meningkatkan daya juang para pasien, dan pada akhirnya membuat mereka lekas sembuh. Namun rumah sakit ini sepertinya tidak sepaham denganku. Kematian datang lebih cepat di ruang-ruang tanpa musik.”
Read More
Disforia Pengusik Kenangan

Mengapa wajah-wajah penyesalan terkadang kembali hadir ketika lupa telah selesai menyapu bersih lantai kenangan? Sudahkah ia benar-benar melaksanakan tugasnya?

Aku tak punya bukti apa-apa selain harus menebak-nebak ini semua kesalahan siapa. Apakah ini salah ingatan yang terlalu kejam dan sanggup mengembalikan segala noda yang terhapus itu? Atau ini kesalahan mimpi yang ceroboh dan justru lalai membersihkan sudut-sudut pentingnya, sehingga debu masih tersisa. Sampai-sampai ia dapat menggerakkan massa. Mengajak duri-duri, pecahan beling, serta yang lain supaya berkumpul lagi dan menyentuh wilayah hati. Lantas mulai menusuk, menempel hingga busuk. Membuat diriku penuh luka kutuk.

Mungkin sakit itu sebetulnya sudah sembuh. Namun sebagaimana virus yang pandai mencari celah dalam kondisi lemah, tidak ada jaminan bahwa suatu hari setitik nila bisa mendatangkan kambuh. Seperti yang terjadi malam ini.

/2018


gambar asli diambil dari Pixabay

Read More
“Jangan katakan kau ingin mati.”

“Jangan menyerah pada hidup.” 

Meskipun berbicara hal yang benar, betapa tololnya lagu dengan lirik seperti itu. Sesungguhnya, aku tidak keberatan jika diriku sendiri yang mati. Tapi, aku bakal sedih kalau orang di sekitarku yang mati.

“Aku tak mau itu terjadi,” yang bilang begitu adalah ego. 

Peduli setan dengan hidup orang lain. Membenci seseorang telah menjadi fesyen. Walaupun begitu, kau malah mengatakan, “Mari hidup damai.” Indah sekali, bukan? 

Seseorang tewas di layar yang sedang kaulihat. Lalu seorang yang lain meratapinya dan menyanyikan sebuah lagu. Seorang anak terpengaruh dan berlari sambil menggenggam sebilah pisau. 

Kita dibenci oleh kehidupan itu sendiri. Kita memaksakan nilai dan ego. Dengan mudahnya kita menyebarkan lagu tentang kematian. Kita dengan entengnya mengucapkan ingin mati. Dengan gampangnya meremehkan kehidupan. 



Karena tak punya uang, dalam seharian ini aku pun bermalas-malasan sembari menyanyikan lagu-lagu seperti orang bodoh. Tanpa dapat menemukan arti hidup, aku bernapas dengan kesadaran akan hidupku yang sia-sia. Bolehkah aku mengekspresikan luka ini dengan sepatah kata, “Aku kesepian”? Dengan pikiran angkuh seperti itu, hari ini pun aku terlelap sendirian di kasur. 

Kita yang dulu anak-anak, suatu hari akan tumbuh menjadi remaja. Kita menjadi tua dan suatu hari nanti membusuk tanpa diketahui oleh siapa pun seperti dedaunan layu. Aku mengkhayal tentang situasi fiksi ilmiah. Di mana kita bisa memperoleh tubuh yang abadi dan hidup selamanya tanpa harus mengalami kematian? 

Read More
Dian berteriak meminta saya menepi ketika kami berada di kawasan Tanah Abang. Kala itu saya tengah memikirkan perkataan Haw dua jam sebelumnya, “Kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” Haw tentu tidak menyuruh saya jadian dengan Dian, sebab dia bukan seorang perempuan. Dia laki-laki yang kebetulan namanya uniseks. Toh, saya sangat normal dan tidak memiliki kelainan seksual. Yang Haw maksud adalah perempuan bernama Tania yang sempat saya ceritakan di KFC. 

“Yog, berhenti dulu dah,” ujar Dian. 

Saya masih memacu kendaraan. Dian berteriak sekali lagi. Akhirnya, saya memperlambat kendaraan dan setop di pinggiran Jalan Kebon Sirih. Saya lantas bertanya kenapa dia mendadak menyuruh berhenti.

“Gue mau ke Cileungsi, emang lewat sini?” tanyanya. 

Saya betul-betul enggak tahu di mana letak daerah yang Dian sebutkan itu. Saya mengira Dian masih melewati jalan yang biasanya, arah Pasar Senen, sebagaimana dia dulu tinggal di sekitaran Bekasi. Dian segera mengeluarkan ponsel untuk mengecek aplikasi peta. Dian mengeluhkan salah arah dan betapa jauh tujuannya itu dari tempat kami saat ini. 

Saya bertanya kepada Dian di mana patokannya kalau mau ke arah Cileungsi. Dian menjawab Patung Dirgantara. Namanya tidak asing, tapi saya entah kenapa bisa-bisanya lupa akan hal itu. Saya mencoba mengingat-ingat nama patung tersebut.

“Pancoran, Yog,” kata Dian. “Lu tau?” 

Nah, misteri pun terpecahkan. Patung Dirgantara memang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran.

“Oh, gue tau. Ayo muter balik dulu di depan, Yan.” 

Saya putar balik ke arah Tanah Abang. Saya bermaksud mengantarkan Dian ke kawasan Bundaran Slipi sekalian nanti saya pulang. Dari sana Dian bisa ke arah Semanggi dan tinggal lurus terus sampai Pancoran.

Ketika kami sudah berada di Jalan Jati Baru, Dian tiba-tiba berteriak lagi, “Yog, kok malah tambah jauh, ya? Mending gue lihat maps aja deh.” 

Motor saya tetap melaju. Saya tidak menggubris perkataannya. Dian mengulang kalimatnya, kali ini suaranya terdengar seperti hendak menangis. Saya pun mengingat kesialan Dian hari ini. Ponsel Dian—iPhone 5S—sempat terjatuh hingga layarnya retak ketika kami ketemuan siang tadi. Lalu sekarang saya bikin dia tersesat. Saya mendadak merasa bersalah. Kata “mendadak” kemudian membawa saya ke pertemuan kami hari ini yang juga serba dadakan.


Sekitar sepuluh jam sebelumnya, saat saya sedang siap-siap berangkat Jumatan, Dian mengontak saya—bertanya apakah hari ini saya sibuk. Saya menjawab apa adanya: mau salat Jumat. Dian mengetik tidak jelas. Saya mencoba memahami maksud kalimatnya: mengajak bermain seusai Jumatan. Saya bertanya untuk memastikan maksudnya itu. 

“Iya, gue lagi di Rawamangun,” tulis Dian.

Ngapain? Nemuin Darma?” 

Saya menyebutkan salah seorang kawan yang baru saja pulang menuntut ilmu dari Turki beberapa hari lalu. 

“Habis ngelamar kerja.” 

Saya bilang kepada Dian bahwa jadwal hari ini kosong, nanti saya kasih kabar lagi sesudah Jumatan. Saya jelas berbohong. Sejak pagi saya sudah berniat main ke Blok M untuk mencari buku Gempa Waktu karangan Kurt Vonnegut. Tapi karena urusan itu tidak penting-penting amat, saya memilih menemui kawan bloger yang jarang berjumpa ini. 

Begitu Jumatan kelar, cuaca yang tadinya sangat panas langsung berganti menjadi hujan deras. Saya mengabarkan Dian tentang kondisi di daerah saya. Jawaban Dian ternyata sama: di sini (Rawamangun) juga hujan. Sembari menunggu reda, saya mengontak Haw untuk ikut main. Saya juga menyuruh Dian supaya mengajak teman bloger lainnya.

“Ini niatnya mau main ke mana?” tanya saya. 

“Gue mau makan dulu. Laper. Gampanglah nanti main ke mana laginya.” 

Kami awalnya bingung mau makan di daerah mana. Saya tidak banyak tahu tempat makan di kawasan Rawamangun. Apalagi si Dian. Daripada terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, saya akhirnya menyuruh Dian ke daerah Binus, Jakarta Barat. Saya lumayan tahu tempat makan enak dan terjangkau di dekat rumah. 


“Udah di mana, Yan?” tanya saya. 

Dian menjawab pom bensin dekat Binus. Saya mulanya bertanya apakah itu yang di dekat Batusari, tapi mengingat Dian tidak tahu daerah sini, saya pun mengetik lagi dan menyuruhnya mengirim titik koordinat biar lebih gampang. Dian mengirimkan posisinya di daerah Slipi. 

Saya membatin, pom bensin dekat Binus? Matamu, Yan! 

Namun, daripada energi saya habis cuma untuk memberi tahunya, lebih baik saya segera menuju tempat Dian berada. Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai tujuan. Saya memperhatikan tiap-tiap wajah yang berada di SPBU, tetapi tidak ada satu pun yang berwujud Dian. Apakah kami berbeda pom bensin? Saya kembali bertanya kepada Dian, ada apa di dekat situ. 

“Gedung Citicon.” 

Lah, itu di mana? Seingat saya di dekat pom bensin sini tidak ada gedung-gedung. 

“Itu Pertamina atau Shell, sih?”

“Pertamina.” 

Saya langsung mengecek GPS buat memastikannya. Ternyata saya salah alamat. Saya bingung Dian sekarang berada di mana. Setahu saya, pom bensin di daerah Slipi itu cuma di sini dan di seberangnya. Tapi daripada saya terus bertanya-tanya, mendingan saya mengikuti petunjuk jalan di aplikasi. Saya diarahkan ke sebuah jalan yang entah mengapa justru semakin jauh karena mesti mengikuti jalan di pinggiran tol. Kala itulah saya melihat gedung yang Dian sebutkan tadi. Saya langsung menepi dan mengontak Dian, “Oke, gue tau. Gue puter balik dulu. Anjirlah, seberang gue tol.”

“Si anjir.” 

Saya bingung kenapa Dian bisa-bisanya mengisi bensin di SPBU pinggir tol. Kayak enggak ada tempat lain aja. Untuk putar balik ke tempat Dian, saya kudu menyusuri jalanan ini hingga bertemu pintu keluar tol (tempat memutar arahnya dekat dari situ). Saya melihat kondisi jalanan yang macet. Saya mau tak mau harus mencari jalan lain.

Setelah sekian lama, ini pertama kalinya saya melawan arah lagi di jalan raya demi si Dian Kunyuk agar dia tidak kelamaan menunggu. Saya berhasil menemuinya dalam waktu sembilan menit. Jika tadi saya tetap mengikuti petunjuk jalan, bisa-bisa akan mencapai 20 menit atau lebih. 

Saat kami bersua, hal yang pertama kali Dian ucapkan adalah, “HP gue jatoh, Yog.” 

“Serius lu?”

Dian merogoh kantong celana dan memperlihatkan ponselnya yang layarnya retak. Saya geleng-geleng kepala. Kelakuan manusia satu ini ada-ada saja. Meskipun begitu, entah mengapa ada rasa tidak enak di hati saya, seolah-olah hari itu saya habis berkata “Ah” kepada orang tua sebanyak tiga kali. 

“Tapi masih bisa, kan?” tanya saya. 

“Bisa, kok. Bisa.” 

Kami pun segera menjemput Haw di daerah Tanjung Duren. 


Saya menawarkan kepada Dian dan Haw apakah mau makan steak. Mereka pun manut saja. Sayangnya, begitu sampai di lokasi warung makan itu justru tutup. Di pintunya tertulis informasi: minggu depan baru akan kembali buka. Mungkin pemilik dan pegawainya masih pada mudik. Saya segera memutar otak dan mencari alternatif, yakni ayam bakar. Mereka lagi-lagi menyetujui ajakan saya. 


Saya mengajak Dian, Haw, dan Darma main ke rumah saya. Sesampainya di rumah saya, pintunya malah terkunci. Sepertinya ibu saya sedang pergi keluar. Saya jadi kepikiran akan lelucon yang sempat saya lempar saat berada di warung makan Ayam Bakar Kambal tadi. Saya bilang kepada mereka, bahwa nanti ibu saya akan kaget mendapati seorang Yoga memiliki teman sebanyak ini hingga berujar, “Ya, Allah, ada juga yang mau berteman sama anak saya. Ibu kira temannya Yoga cuma laptop dan buku-buku.”

Kala mendengar kelakar itu, Haw dan Dian tertawa, sedangkan Darma tidak. Kau mungkin berpikir gurauan semacam itu tidak lucu buat seorang Darma atau ada masalah gawat di otaknya, tetapi sungguh bukan itu. Saya pikir Darma hanya kelaparan bercampur cemas, mengapa makanan yang dia pesan lama sekali tersajinya.

Omong-omong, mungkin kau penasaran bagaimana Darma tiba-tiba bisa bergabung bersama kami. Saya tadi sengaja melompati alurnya demi menghindari alur yang monoton. Baiklah, sekarang akan saya ceritakan dari awal. 

Saat saya menunggu kabar dari Dian yang katanya sudah dalam perjalanan ke Binus, saya sedang kontakan bersama Haw. Dalam obrolan itu, si Haw sempat bertanya kepada saya, apakah si Darma ikut? Itulah yang bikin saya mengirimkan Darma pesan, “Dar, si Dian udah ngabarin lu ngajak main?”

Darma bilang tidak ada ajakan dari siapa-siapa, bahkan tidak tahu nomor Dian. Maka, sayalah yang akhirnya mengajak Darma. Karena Darma bilang kebetulan sedang main ke Blok M Square dan tidak ada kesibukan lagi, dia pun menerima ajakan saya. 

“Lu sendirian apa gimana?” tanya saya. 

Jawaban Darma sangatlah mengejutkan: Iya, sendirian. Dengan hati yang hampa. 

Saya jadi tak habis pikir, Darma selama di Turki sebetulnya belajar apaan, sih? Belajar filsafat dan Zen, kah? Sampai-sampai dia salah langkah, lalu terjebak di dalam kekosongan? Singkat cerita, Darma bilang mau cari makan dulu. Nanti ketika sudah sampai di Palmerah dia akan memberi kabar. 

Namun, kenapa kabar dari Darma datang ketika saya baru saja duduk di warung makan bersama Dian dan Haw? Mau tak mau saya jadi menunda menggasak ayam bakar itu dan langsung menjemput Darma di Halte Palmerah.

Darma tidak jauh berbeda dengan perawakannya tiga tahun lalu. Masih tetap kurus. Sesuatu yang tampak berbeda dari dirinya hanyalah bentuk kumisnya. Kini bulu-bulu itu jadi bertambah lebat. Memberikan kesan sangar. Tapi Darma tetaplah seorang Darma. Buktinya, hal yang pertama kali dia ucapkan saat bertemu saya ialah kalimat “mohon maaf lahir dan batin”. 

Setelah penantian panjang, akhirnya paket ayam bakar pesanan Darma tiba di meja. Aromanya sungguh menggandakan rasa laparmu. Tapi rasa senang Darma tidak berlangsung lama, sebab kali ini gantian minumnya, es teh manis, yang tak kunjung sampai. Seraya menunggu minuman itu datang, Darma memuji rasa ayam bakarnya yang mantap. Bumbunya meresap hingga ke dalam. Sangat berbeda dengan ayam bakar yang dia santap di Turki: hambar. Sehambar kisah cintanya mungkin?

Haw meminta Darma bercerita tentang kegiatannya selama di Turki. Darma mengisahkan soal tempat bernaungnya selama di Turki yang tidak jauh berbeda dengan asrama di Rawamangun—tempat tinggalnya selama kuliah dulu. Sistem belajarnya juga mirip pesantren. Dengan kata lain, Darma selama ini mondok di luar negeri. 

Begitu perut kami sudah terisi penuh, saya mengajak mereka main ke rumah saya. Dan begitulah cerita bergulir sampai rumah saya terkunci karena penghuni lainnya sedang pergi entah ke mana.

Syukurlah saya tadi berinisiatif membawa kunci kamar saya—yang letaknya di depan rumah, sehingga sering dianggap rumah tetangga. Saya membuka kunci dan menyuruh mereka masuk ke kamar.

“Enak banget kalo habis pergi-pergi bisa langsung masuk ke kamar, Yog,” kata Haw. 

“Wah, bisa ini mah,” kata Dian. 

Saya sebetulnya mengerti maksud kata bisa yang Dian lontarkan, tapi saya pura-pura tidak paham dan memilih bertanya, “Bisa apaan?” 

“Bisa bawa ceweklah.” 

“Oh, bisa,” kata saya. “Bisa dibunuh gue sama Nyokap.” 

Mereka tertawa. 

Saya jelas tidak sebejat itu. Saya tak pernah punya niat menyelundupkan perempuan ke kamar untuk hal yang bukan-bukan. 

Saya pergi ke ruang tengah untuk mengambil beberapa camilan dan botol minuman. Mereka mulai mencicipinya satu per satu. Lalu Haw mengomentari tulisan rengginang yang tertera di sebuah kaleng wafer. Saya menceritakan makanan itu yang paling cepat habis, padahal puasa baru masuk minggu ketiga. Hidangan yang niatnya buat Lebaran itu justru jadi santapan Ramadan. 



“Tapi aturan enggak usah ditulis begini, Yog,” ujar Dian. “Kalo gini, kan, jadi enggak ada kejutannya lagi.” 

“Itu kerjaan bokap gue,” kata saya. 

Haw mengeluarkan ponsel dan memotretnya. 



Darma memberikan kami oleh-oleh berupa penganan yang ketika dikunyah mirip Yupi. Selain itu, Darma juga membawakan kami gantungan kunci. Ada yang berbentuk masjid, tulisan Turkey, tulisan Istanbul, dan kunci. Darma menyuruh kami mengambil masing-masing satu. Lalu kami bertiga sepakat memilih yang bentuknya kunci. Mungkin diam-diam kami berharap itu adalah kunci surga. 




Selagi mulut kami sibuk mengunyah, kami juga membicarakan teman-teman blog yang vakum. Kami pun memikirkan gimana caranya agar mereka kembali menulis (padahal kami sendiri sama malasnya). Lama-lama obrolan mulai berkelok ke arah gibah—yang tak perlu dikisahkan di sini—tanpa kami sadari. 

Waktu pun semakin bergeser sampai langit menangis sebagaimana siang tadi. Saya mengajak mereka pindah ke ruang tengah karena atap kamar saya bocor. 

Di depan kami lanjut mengobrol. Saking asyiknya berbincang, kami jadi lupa menunaikan salat Asar. Kami pun salat Asar dengan waktu yang mepet, lalu melanjutkan Magrib, dan setelahnya memutuskan pindah ke tempat lain.

Dian mengabarkan Reza, mahasiswa Binus merangkap anak blog yang ngekos di dekat kampus tersebut. Ketika Dian mendapatkan respons positif, dia langsung menelepon Reza, dan memberikan ponselnya kepada saya. Saya bertanya kepada Reza tempat mana yang asyik buat nongkrong serta harganya murah. Reza hanya berdeham, belum juga meluncurkan jawaban. 

Itu mah termasuk mahal, jawab Reza ketika saya menyebutkan sebuah nama kafe. 

“Terus di mana dong?”

“Gue sejujurnya jarang nongkrong sih, Bang,” kata Reza. “Lebih suka di kosan.” 

Saya paham hidup anak kos yang mesti hemat, tapi masa iya tak tahu satu pun tempat yang murah meriah di dekat kampus? Biasanya kan mereka bakal mencoba tempat-tempat semacam itu kala uang kiriman dari orang tua baru tiba. Tapi ketimbang menyalahkan orang lain, bukankah saya lebih baik menengok diri sendiri yang sebetulnya sama parahnya? Sudah dua puluhan tahun hidup di Jakarta Barat, kok masih miskin referensi tempat nongkrong di sekitar sini. Maklum, selama ini saya lebih senang main ke warkop. Es teh manisnya cuma 3.000. Beda dengan kafe-kafe yang harganya pasti lebih dari goceng. 

“KFC aja apa?” tanya saya. Hanya tempat itu yang muncul di benak saya. 

“Oh, ya udah itu aja. Yang di mana nih?”

Saya menjawab di Binus supaya dekat dari tempat Reza dan dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya untuk naik angkot atau ojek daring. 

Meskipun ujung-ujungnya KFC lagi (kami sudah keseringan kopdar di sini), setidaknya saya tahu bahwa kualitas suatu pertemuan tidak dinilai dari tempatnya. Melainkan siapa orangnya dan topik obrolannya. 



Sayangnya, obrolan kami para bloger busuk ini paling-paling tidak jauh dari dunia blog dan tulis-menulis. Darma sempat bilang ingin balik menulis lagi, tapi bingung apa yang hendak diceritakan dan lupa cara menulis. Saya, Dian, dan Haw membicarakan tentang rasa malas mengikuti event bloger, baik itu berbayar maupun tidak.

“Gue lagi cari-cari info lomba blog nih,” kata saya. “Belum ada yang hadiahnya menarik lagi apa, ya?” 

“Gue malah udah males banget sama lomba-lomba gitu, Bang,” ujar Reza. 

“Lu bukannya pernah menang lomba, Za?” tanya Haw. 

“Iya, itu juga ikutnya males-malesan karena disuruh temen.” 

“Anjing, males aja bisa dapet laptop,” kata saya. “Laptop belasan juta lagi.” 

Saya lantas mengisahkan pengalaman lomba yang gagal terus. Sebesar-besarnya hadiah mentok di angka 500 ribu. Ketika sudah girang bukan main karena terpilih sebagai 100 finalis Lomba Blog Bank Indonesia dengan tema Cinta Rupiah, saya tentu berharap bakal meraih juara pertama sebab saat menuliskannya penuh antusias. Namun, itu hanyalah khayalan tolol saya. Nama saya tidak tercantum di antara tiga besar itu.

“Terus terakhir kali ikut lomba akhir tahun lalu, gue juga udah yakin banget menang,” kata saya. “Eh, nyatanya tetep kalah. Sialan, enggak jadi dah dapet duit 10 juta.” 

“Yang penting kan sekarang udah dapet HP,” kata Haw. 

Saya tertawa. Alhamdulillah, belum lama ini saya mendapatkan bayaran menulis berupa ponsel seharga dua jutaan. Keinginan saya sejak lama buat mengganti ponsel iPhone 4 yang sudah usang itu rupanya malah terkabul secara gratis. Saya akhirnya berpendapat bahwa rezeki saya dari menulis memang baru datangnya sekarang. Atau mungkin saya diam-diam telah mengamini sebuah mitos, bahwa saat serius banget mengikuti perlombaan biasanya akan berujung kecewa, sedangkan ketika iseng-iseng bakalan memperoleh hadiahnya. Simpelnya: saya tidak perlu memasang ekspektasi terlalu tinggi. Ikutan semampunya, lalu lupakan atau tak perlu dipikirkan lagi. Nanti kalau menang syukur, kalah biasa saja.

Tak lama, obrolan pun mendadak berenang ke topik pernahkah kita dekat atau bahkan mendapatkan pacar dari blog. Darma dengan gadis Pekanbaru-nya. Haw hanya diam, entah tidak ada atau ingin memendam kisahnya. Saya sedikit menyenggol kisah Dian bersama perempuan berjilbab, tapi dia langsung mengalihkannya ke cerita saya yang teramat banyak mendekati anak-anak di grup bloger ketika masih sok-sok bajingan empat tahunan silam. Saya juga sempat LDR-an sama seorang bloger. Saya bilang, semenjak itu saya kapok dekat sama bloger lagi. Saya malas kalau kisahnya diketahui oleh khalayak. Apalagi sampai jadi bahan ledekan.

“Sekarang mah udah sama Tania kan, Yog?” tanya Dian. 

“Kenapa kalian mikir gue jadian sama dia, sih?” kata saya. 

“Enggak, aku enggak mikir gitu, Yog. Aku mah taunya kalian cuma lagi deket,” ujar Haw. “Tapi kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” 

Saya terkejut ditanya seperti itu. Jika ingatan saya tidak berkhianat, saya belum pernah kepikiran ke arah sana. Saya lantas menceritakan hubungan saya dengan Tania yang sebatas teman dekat. Tidak ada yang spesial. Meskipun saya mesti mengakui bahwa dia memang manis. Di tengah perasaan aneh yang tak terduga lantaran pertanyaan tersebut, Reza bertanya, “Kok gue belum pernah kayak gitu, ya?”

Reza lalu menceritakan dirinya belum pernah sama sekali mendapatkan gebetan dari blog. 

“Belum waktunya kali, Za,” kata saya. “Itu gue juga dulu doang. Zaman umur masih dua puluh.”

“Lah, sekarang gue udah 21.”

“Enggak usah cari anak bloger. Binus banyak yang cantik kok, Za,” ujar saya. 

Mereka tertawa. 

Alur percintaan setiap orang tentu berbeda-beda. Hanya karena kamu seorang bloger, bukan berarti pengin punya pacar yang bloger juga. Saya rasa mencari kekasih yang satu lingkaran itu hanya mempersempit peluang.

“Eh, nanti jam sembilan gue balik, ya,” kata Darma. “Takut enggak kebagian TJ (TransJakarta). 

“Wah, iya. Gue juga harus balik,” kata Dian. 

Saya bertanya kepada Dian apakah dia besok bekerja, dia menjawab iya dengan malu-malu. Sial, saya kira besok Sabtu pada libur. 

Pukul sembilan malam saya pun mengantarkan mereka pulang satu per satu. Saya bonceng tiga bersama Haw dan Reza, sedangkan Dian bersama Darma. Saya menurunkan Reza di dekat indekosnya. Kami berempat kemudian menuju Halte Palmerah untuk mengantar Darma. 

Sesampainya di sana, Darma takut kalau busnya sudah tidak lewat lagi. Saya pun menyarankan Darma naik kereta kalau tujuannya Jurangmangu, sebab komuter masih tersedia sampai pukul 11. Kebetulan juga haltenya sangat berdekatan dengan stasiun. 

Setelah Darma berjalan menuju Stasiun Palmerah, saya bertanya kepada Dian, “Enaknya gimana nih, Yan? Lu mau langsung cabut atau ikut nganterin Haw?” 

Dian memberikan jawaban dengan mengekor motor saya sampai indekos Haw.


Tak tega mengingat semua penderitaan Dian hari ini, saya pun berhenti. Dian menyetop motornya di sebelah saya, lalu berkata, “Udah, Yog, enggak apa-apa. Gue mending lihat maps aja.” 

Mungkin Dian tahu saya terkenal sering nyasar, terus ingin mencari jalan sendiri mengandalkan aplikasi sialan yang terkadang juga bikin tersesat itu. Tapi saya tetap mesti bertanggung jawab akan kesalahan saya.

“Arah lu Pancoran, kan?” ujar saya. “Gue beneran tau. Lu tinggal ikutin gue. Gue juga sekalian balik.”

“Ini di maps malah makin jauh.” 

Saya pun meminta maaf. Saya lalu menjelaskan persoalan jalan pulang ini. Seharusnya tadi sehabis mengantar Darma, Dian langsung saya antarkan ke jalan yang mengarahkan dia pulang. Itu sudah dekat dari Stasiun Palmerah. Tapi akibat keteledoran saya yang tahunya Dian balik ke arah Senen, jadinya malah membuang-buang waktu dan segalanya menjadi fatal. 

“Coba cek di peta, lu pasti nanti ngelewatin Semanggi.” 

Dian memperhatikan ponselnya. 

“O iya, Yog, bener.” 

“Nah, ya udah. Ayo jalan lagi.” 

Tak sampai tujuh menit, saya sudah mengantarkan Dian ke jalan yang saya maksud. Saya menyuruh Dian mendekat dengan gestur tangan. Dian menghampiri motor saya. Tangan saya lalu menunjuk ke sebuah jalan, bermaksud memberitahunya supaya naik ke arah fly over dan bilang setelahnya tinggal lurus terus. Untuk terakhir kalinya, saya meminta maaf lagi.

“Iya, enggak apa-apa. Thank you, Yog.” 

Saya mengucapkan hati-hati, lalu kami berpisah.

Sepuluh menit kemudian saya sudah rebahan di kasur. Saya mengontak Darma dan Haw, mengatakan terima kasih buat hari ini sembari menceritakan problem bersama Dian tadi.

Darma dan Haw membalas, “Semoga selamat tuh anak. Aamiin.” 

Saya mengamininya dalam hati. Saya mulanya berniat ingin langsung tidur karena hari sebelumnya cuma tidur dua jam, tapi entah mengapa muncul rasa bersalah di dalam diri ini. Saya seakan-akan perlu bertanggung jawab akan keselamatan Dian. Saya mau tak mau kudu menunggu satu jam. Estimasi waktu Dian bisa sampai ke indekosnya. Sembari menunggu waktu bergerak, saya terkenang pertanyaan Haw di KFC tadi. 

Kenapa kalian enggak jadian aja, sih? 

Setahu saya, untuk jadian harus sama-sama memiliki rasa, bukan? Saya enggak tahu apakah Tania punya perasaaan terhadap saya. Mengingat kami pernah intens berkomunikasi, kami pernah bertemu beberapa kali, berdiskusi soal film Thailand, saling bertukar kisah, saya pernah memberikannya hadiah remeh beberapa kali, mungkin saja Tania sempat terbawa perasaan. Lantas, bagaimana dengan saya sendiri? Saya jelas tertarik melihat fisiknya. Dia manis seperti yang sudah saya singgung di bagian cerita KFC. Mungkin juga saya sempat naksir kepadanya karena kami cukup nyambung saat mengobrol. Anehnya, saya tak pernah berharap maupun kepikiran untuk pacaran sama dia. Tapi terlepas dari hal itu, apakah perasaan saya pernah lebih jauh dari itu?

Waktu satu jam telah berlalu. Saya mengambil ponsel yang tergeletak di meja laptop, membuka WhatsApp, memilih kontak Dian Hendrianto, dan mengetik, “Udah sampe, Yan?” 

“Udah, Yog. Baru sampe.” 

Baiklah, tugas saya buat memastikan semuanya pulang dengan selamat sudah selesai. Tinggal satu tugas lagi, menjawab pertanyaan Haw. Mau bagaimana lagi, saya sudah kadung memikirkannya sejak tadi. Sebelum memejamkan mata, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya pernah menyayangi Tania?”

Semakin saya memikirkannya, saya justru semakin mengantuk dan jatuh tertidur. Entah itu efek tubuh saya yang memang sudah terlalu letih atau hati saya lagi capek sama urusan cinta-cintaan.
Read More
Previous PostOlder Posts Home