Ada semacam ketakutan saat ingin mengeklik tautan cerpen saya yang dimuat di Loop. Doni Jaelani alias Dijeh mengirimkan pesan mengenai hal itu kepada saya. Selagi rasa ragu bercampur ngeri menyelimuti saya, mendadak muncul pikiran begini: dari sepuluh teks yang saya kirimkan untuk mereka seleksi, kenapa malah itu yang pertama kali terbit?


sumber:https://pixabay.com/photos/ice-cream-dessert-cold-sweet-50402/

Jauh sebelum saya mendapatkan cap mesum, lebih-lebih lantaran membuat cerpen Es Krim Spesial (yang kini sudah dihapus), saya mengawali tulisan bertema es krim itu dengan kisah renungan sekaligus motivasi yang bertajuk Es Krim Rasa Cinta. Niatnya, sih, cuma untuk menegur atau mengingatkan diri sendiri.

Saya menceritakan pengalaman itu sebelum era twit berutas dan please do your magic yang sering saya jumpai belakangan ini. Bedanya, saya melakukannya tanpa ada tujuan mendapatkan engagement yang berujung mengajak mutualan. Saya juga tidak terang-terangan menyuruh siapa pun untuk membeli dagangan nenek penjual es krim itu. Twitter cuma semacam tempat alternatif untuk menumpahkan ide cerita, sebagai pengganti catatan di ponsel maupun bloknot, sebelum nanti dikembangkan menjadi artikel di blog.

Namun, kisah es krim itu langsung saya salin dari Twitter tanpa perbaikan lagi di blog. Oh, betapa malasnya diri saya dulu. Sebagian yang pernah membacanya, mungkin sudah lupa bahwa cerita itu pernah ada. Hal negatif memang lebih mudah melekat di ingatan, sehingga kisah itu tersingkir dengan sendirinya oleh cerpen vulgar yang konon merusak generasi muda. Cerita tentang nenek penjual es krim itu sekarang hadir kembali dalam bentuk yang lain, dan termuat di media lain selain blog ini.


Pada November 2012, selepas lulus SMK dan baru bekerja sekitar tiga bulanan, saya sedang membaca salah satu buku RD. Efek dari membaca buku yang judulnya bertemakan binatang itu, entah bagaimana memunculkan sebuah keinginan atau boleh juga disebut impian: menjadi seorang penulis—yang suatu hari tulisannya bisa terbit menjadi buku. 

Sebagai seorang penggemar yang ingin mengikuti jejak idolanya, saya memulai langkah awal dengan bikin blog ini. Kala itu sebetulnya saya enggak tahu apa-apa tentang menulis (di pikiran saya dulu, menulis itu cukup dengan mencurahkan isi hati lewat teks), tapi diam-diam berharap bisa menempuh kesuksesan yang sama. Seenggaknya, saya ada kehendak buat belajar menulis.

Sibuk akan pekerjaan bikin saya tidak sempat mengisi blog. Keinginan belajar menulis itu pun menguap terpanggang realita. Hingga suatu sore sepulang ngantor, saya bertemu Julia—seorang kakak kelas di SMK yang pernah saya taksir dan kemudian malah menjadi teman dekat dan ujung-ujungnya menjauh juga—di pusat jajanan dekat rumah. Mulanya kami hanya bertukar kabar, sampai tiba-tiba dia menanyakan kenapa saya enggak pernah ngeblog lagi. Saya memberikan alasan yang sangat klise: pulang kerja capek, bawaannya pengin langsung rebahan, dan enggak sempat buka laptop lagi.

“Kan bisa nulis pas libur, Yog,” katanya. 

Saya meresponsnya dengan tawa. Tidak bermaksud menyetujui maupun membantah. Bakso bakar dan jus alpukat yang dia pesan sudah jadi. Dia pamit duluan, lalu kami berpisah. Saya memikirkan kembali perkataannya. Mengetahui blog saya ternyata memiliki pembaca, hasrat menulis itu pun muncul. Malam itu juga saya akhirnya memutuskan untuk bercerita lagi di blog. 

Jika seseorang malas atau bahkan enggak pernah membaca, ketika menggarap tulisan pasti hasilnya akan jelek dan mentok begitu melulu. Saya tidak tahu apakah pada 2012-2014 sudah punya pemikiran seperti itu. Yang jelas, saya ingin sekali belajar menulis secara sungguh-sungguh pada tahun berikutnya.

Husein, salah seorang kawan kuliah, menyarankan saya untuk ikut komunitas bloger. Saya pun bergabung dengan komunitas KK dan JB. Dari sanalah saya mengenal istilah blogwalking. Berkat jalan-jalan ke beberapa blog anggota komunitas, saya lalu mengenal tata bahasa. Saya juga mendapatkan referensi bacaan dari mereka. Saya lantas membeli buku panduan menulis dan, tentu saja, mencoba menerapkan kiat-kiatnya.


Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya memberanikan diri bikin cerpen. Tahun itu pula terlahir Memfiksikan—sebuah lingkaran kecil untuk belajar menulis fiksi; cerpen, fiksi kilat, dan puisi. Animo bloger bikin buku masih lumayan tinggi pada saat itu. Saya termasuk salah satu yang berusaha mengumpulkan cerita-cerita itu.

Menyunting naskah ialah pekerjaan paling susah buat penulis. Banyak waktu yang terbuang untuk mengedit tulisan itu dibandingkan dengan proses menulisnya sendiri. Mengingat sifat manusia yang tidak ada puasnya, sekalipun sudah sepuluh kali revisi, boleh jadi mereka juga belum sreg untuk menganggapnya selesai dan layak terbit. Biarpun merasa telah memolesnya berulang kali, saya pikir penulis akan menilainya dengan sangat subjektif. Makanya penulis tetap membutuhkan orang lain sebagai editor.

Sementara itu, yang paling gampang tentu menelantarkan naskah. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Saya adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan sosok itu. Saya telah mengumpulkan cerita sejak akhir 2015, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang terhimpun menjadi buku.

Setelah menceburkan diri ke kolam tulis-menulis selama dua tahunan (2015-2017), saya pernah memikirkan ulang: apakah jalan yang saya lalui ini benar? Semakin membaca buku-buku bagus, alih-alih memantik semangat, keberanian untuk bikin buku kumpulan cerita itu justru rontok. Akhirnya, saya hanya memendamnya di diska laptop. Saya pun ingin berhenti menulis. Lebih baik jadi seorang pembaca saja.

Namun, bagaimana kalau menulis itu buat saya bagaikan bernapas? Jika tidak melakukannya, berarti saya akan mati? Baiklah, saya tetap menulis di blog, tapi enggak perlu bikin buku. Konyolnya, suatu hari impian itu datang kembali sehabis membaca kumcer seseorang, lalu tak lama kikis lagi dengan sendirinya. Proses ini terus berulang entah sampai kapan. Hingga lama-lama saya mempersempit keinginan itu. Tulisan saya, apa pun jenisnya, kelak dapat terpampang di media lain—selain blog ini ataupun platform sejenis.

Saya telah mengirimkan tulisan ke beberapa media. Hasilnya nihil. Pada akhirnya, sebagian teks yang ditolak itu saya taruh lagi ke blog ini. Mungkin belum waktunya. Mending belajar lagi. Saya pun memendam keinginan itu.


Pak Agus—salah seorang perwakilan dari Loop—bertanya kepada saya, apakah ada pertanyaan atau hal-hal yang masih kurang jelas saat kami sedang membicarakan perihal kerja sama proyek cerpen. 

“Habis ini berarti saya tinggal bikin cerpen setiap seminggu sekali, ya?” tanya saya. 

“Mas Yoga enggak perlu bikin cerita baru. Cukup setor cerpen yang pernah Mas Yoga buat aja. Pihak kami nanti yang menerbitkannya seminggu sekali.” 

Rupanya terdapat kesalahpahaman di sini. Mengingat pembicaraan sebelumnya hanya via WhatsApp, saya memaklumi ketololan diri sendiri.

Sekitar sebulan silam, tatkala saya sedang menyibukkan diri dengan bacaan gratis di iPusnas, datang sebuah penawaran untuk mewujudkan keinginan yang sempat saya coba kubur itu. Loop membutuhkan penulis cerpen untuk proyek terbaru mereka.

Saya mengirimkan dua tautan cerpen di blog sebagai contoh. Tidak ada komplain. Saya kemudian menyetorkan enam cerpen yang siap tayang sesuai yang mereka minta. Obrolan pun berlanjut hingga membawa saya ke pertemuan ini. 

“Intinya, kami mencari orang yang sudah menulis. Bukan baru mau menulis karena kami ajak,” ujar Pak Agus. 

“Jadi cukup cerpen yang kemarin?” 

“Iya. Memangnya Mas Yoga punya cerpen lain?”


Kesimpulan dari rapat itu, Loop mencari penulis cerpen yang usianya kisaran remaja sampai dewasa muda. Begitu pun dengan target pembacanya. Entah ini keberuntungan atau bukan, umur saya pas banget di batas maksimal persyaratannya. Apalagi domisili saya juga di Jakarta, yang mana satu wilayah dengan kantornya.

Loop berniat agar proyek ini bisa membuat para pembacanya terinspirasi dan ikutan menulis. Singkatnya, dapat melahirkan penulis-penulis baru. Jujur aja, saya sangat minder ketika terpilih dalam proyek ini. Selama ini cerpen-cerpen bikinan saya lebih ke bermain-main dan tidak mengikuti tradisi sebagaimana cerpen yang termuat di koran. Tapi, bukankah ini yang tadinya saya mau? Bisa terbit di media lain? Saya pun mengambil kesempatan itu, apa pun risikonya. Saya bahkan menyanggupi menambah empat cerpen lagi supaya Loop memiliki pilihan dan bisa menyaring mana yang layak.

Sesampainya di rumah, saya baru sadar kalau cerpen di blog itu banyak yang menabrak batas wajar. Kayaknya enggak cocok buat target pembaca. Syukurlah saya masih punya cadangan di laptop. Saya membuka folder Cerpen yang berisi belasan naskah. Saya girang seakan-akan menemukan harta karun. Gila, apa aja yang pernah saya tulis di situ, ya? Saya mengeceknya satu per satu. Saat dibuka, hasilnya malah lebih kacau dari yang ada di blog. Mampuslah.

Mengubek-ubek arsip untuk mencari cerita yang mendingan dan berusaha memolesnya, terkadang lebih melelahkan daripada bikin cerpen baru. Saya menengok lagi setiap fail yang ada di folder lain. Banyak yang belum selesai. Dengan pelbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih sepuluh cerpen dalam rentang 2015-2017.

Saya membayangkan cerpen-cerpen itu dibaca oleh para remaja sampai dewasa muda yang mungkin masih ragu-ragu memamerkan karyanya. Percis kala saya menggarap cerpen-cerpen tersebut. Kira-kira ketika mereka membaca tulisan itu, terbit pemikiran begini: “Oh, kayak gitu termasuk cerpen, ya? Ah, gue mah juga bisa bikin. Malah lebih bagus.”


Saya kerap membaca banyak cerpen yang rilisnya belasan hingga puluhan tahun lalu, tapi anehnya kekerenannya tidak luntur. Saat saya membaca ulang cerpen sendiri, mata langsung mendadak gatal. Seandainya tulisan itu bisa ngomong, ia pasti bakalan menjerit-jerit, “Tolong revisi aku dong, Sayang! Tolong!” Meskipun itu menandakan ada progres dalam perjalanan saya, kecemasan akan kisahnya yang barangkali cuma terasa bagus pada zaman saya menuliskannya, sangatlah mengganggu. 

Itulah alasan saya takut buat membaca ulang cerpen dalam proyek ini, khususnya cerpen es krim yang tertulis pada Juni 2015. Hampir empat tahun telah berlalu. Jelas banyak yang berubah dalam cara pandang saya menilai suatu tulisan. Saya deg-degan bukan main.

Mau tak mau, saya pun memberanikan diri melihat cerpen itu lagi. Opini saya ketika membaca ulang: Awalnya berbentuk autobiografi atau jurnal atau memoar, atau apa pun itu sebutannya, lalu berubah menjadi versi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Saya bingung kenapa nekat membuat keputusan seperti itu, padahal jalan ceritanya sangat singkat. Walaupun mau tetap memakai gagasannya, kayaknya lebih cocok orang pertama yang bertutur. Aduh, mana kritiknya kasar amat. Deskripsinya juga masih kurang. Penilaian ini akan terus berlanjut dan tidak akan ada habisnya. 

Meminjam kalimat Stephen King, “Penulis biasanya menjadi juri terburuk untuk menilai hasil tulisan mereka.” Jadi, seharusnya saya cukup menyerahkan penilaian itu kepada pembaca. Membiarkan diri saya babak belur dihantam berbagai komentar dan kritik. Yang penting sesudahnya luka saya sembuh, mampu memperbaiki diri, dan giat berlatih agar cerpen-cerpen saya berikutnya bisa gantian menjotos hati mereka.
Read More
Jika kamu tidak suka dengan bocoran cerita, saya sarankan langsung keluar saja dari tulisan ini. Pintunya berada di pojok kanan atas yang berwarna merah dan terdapat tanda X. Kalau kadung penasaran, kamu bisa menonton filmnya terlebih dahulu, baru balik lagi ke sini.

— 

sumber: https://www.vogue.com/article/burning-movie-review-lee-chang-dong

Hairunnisa—yang akrab disapa Icha—tampak terkejut ketika mendapati saya menonton film Burning (2018) garapan Lee Chang-dong. Dia pun bertanya lagi untuk memastikan, apakah saya betul menonton filmnya. Mungkin karena dia tahunya saya lebih gembira berhadapan dengan teks daripada visual. Begitu mendengar jawaban “iya”, dia lantas meminta saya menjelaskan tentang film itu. 

Ketika ada seorang perempuan meminta penjelasan kepada saya, entah kenapa memori ini otomatis langsung menerbitkan kalimat salah seorang pacar—yang kini sudah mantan: “Itu cewek mana lagi, Yog, yang kamu panggil ‘Beb’?” 

Dia mengintip ponsel saya sewaktu saya sedang membalas pesan seorang teman. Mungkin dia penasaran. Kok bisa-bisanya saya masih memegang ponsel, padahal sudah berduaan dengan kekasih. Berhubung saya memang tidak berbuat macam-macam, saya pun berusaha menjelaskannya secara santai.

“Ini kamu lagi cemburu?” ujar saya sembari cengengesan. “Itu temenku namanya ‘Beby’. Masa aku panggil dia ‘By’? Aneh, kan? Maaf, kalo aku malah main HP. Aku langsung bales karena menurutku penting. Dia lagi nawarin kerjaan.” 

Untuk mendukung kalimat barusan, saya segera memperlihatkan ponsel yang layarnya menampilkan obrolan itu. Lantas dia hanya melihat sekilas. Tak sampai tiga detik. Mungkin dia malu sendiri karena telah menuduh saya yang bukan-bukan. 

Sekalipun persoalannya berbeda, memberikan penjelasan kepada seorang perempuan itu tidaklah mudah bagi saya. Menjelaskan tentang film ini justru lebih sulit daripada momen salah paham bersama pacar itu. Bukan apa-apa, saya cuma minder berbicara soal film di hadapan pengulas film kesayangan—orang tua, pacarnya, dan WIRDY (sengaja saya senggol biar grup ini tidak hilang dari peredaran).

Sejujurnya, saya masih bingung untuk membahas film tersebut. Kepercayaan diri saya bahkan termasuk rendah dalam mengulas suatu film. Lalu dengan seenak jidat, saya pun melempar tanggung jawab itu kepada Hawadis, salah seorang teman yang juga menonton filmnya. Sehari sebelumnya, kami sempat mengobrol singkat tentang film Burning
Read More
“Kak, menurut aku lebih bagus kalo kaosnya polos. Lebih keren lagi yang warnanya item,” kata Indri di Line sekitar empat tahun silam. Ia mengomentari foto profil saya yang menggunakan kaos ungu bergambar bison yang dilapisi jaket denim tanpa dikancingkan.

Saya pun membalas, “Emang kaos itu kenapa, Ndri?”

“Kayak anak kecil. Haha. Kalo polos, kan, kamu jadi terlihat dewasa.”

Waktu itu Indri adalah adik tingkat di kampus sekaligus gebetan saya. Entah kenapa saya percaya dan manut saja sama omongannya. Walaupun kedekatan kami tidak berlanjut sampai pacaran dan ia belum tentu menganggap saya gebetan (ini penting: ngomong aku-kamu bukan berarti orang itu suka atau punya rasa), seenggaknya saya jadi mendapat sedikit gambaran bahwa ada sebagian perempuan yang sangat menilai penampilan orang-orang di sekitarnya. Saya masih tetap berprinsip untuk berpakaian yang penting nyaman bagi diri sendiri, tapi paling tidak saya belajar dari hal itu. Saya mesti mengubah sedikit penampilan supaya menjadi lebih ciamik ketika mendekati lawan jenis.

Lantaran komentar Indri itu, saya jadi teringat pula dengan ucapan seorang mantan, “Kamu terlihat lebih ganteng pake kaos item polos.” Saya pun merespons dengan cengengesan dan mengamininya dalam hati.

Namun, jauh sebelum perempuan-perempuan itu menilai saya cocok mengenakan kaos hitam polos, saya memang sudah sreg berpenampilan seperti itu sejak SMK. Semua ini berawal dari menyukai band-band hardcore luar negeri, misalnya Alesana, Attack Attack!, dan Asking Alexandria. Saya kerap melihat para personelnya baik di foto maupun video musiknya memakai kaos hitam polos. Sebagaimana para penggemar memuja idolanya, saya lantas mengikuti gaya mereka yang menurut saya keren. 

sumber: https://wallpapercave.com/alesana-wallpapers

Sebelum gandrung mengenakan kaos hitam polos, adakalanya saya pernah bingung di mana membelinya. Kala itu saya cuma tahu baju dalaman yang berwarna putih. Barangkali karena saya sempat menjadi korban majalah anak gaul yang terbiasa membeli kaos di distro. Kaos-kaos yang dijual di sana tentu saja semuanya bergambar atau bertuliskan. Distro tidak menjual kaos polos.
Read More
Silakan baca bagian pertama.

--

“Pada 20 Maret Anda bertemu Sakuma Kyoko di bar karaoke Parpoo yang dekat stasiun, kan?” 

Aku membuntutinya sepanjang hari itu. Dibutuhkan uang untuk membuntuti seseorang. Aku bertaruh CIA dan KGB menghabiskan banyak uang untuk itu. Kau tidak dapat membuntuti orang lain jika kau miskin. 

Setelah dia mengantarkan suami dan anak-anaknya, dia tidur sebentar, seperti yang selalu dia lakukan. Dia adalah burung hantu. Jika dia tidak mendapatkan sedikit tidur tambahan di pagi hari, dia merasa ada yang tidak beres. Aku mendengarnya berbicara tentang hal itu kepada para gadis penata rias di toko kami. 

Aku duduk di ayunan di taman anak-anak dekat kondominiumnya dan menunggunya. Aku merasa benar-benar memburuk. Fuji cocok dengan bunga sakura dan kereta peluru (Shinkansen), taman berjalan baik dengan kemunduran. Tidak ada anak kecil di taman, hanya beberapa orang jompo dan seorang wanita yang membersihkan tanah. Aku senang tidak ada anak kecil. Aku membenci anak-anak. Mereka terlalu imut. Bahkan anak yang benar-benar jelek pun terlihat imut sekali saat dia masih kecil.

Pukul sebelas, Sakuma Kyoko muncul. Hari yang dingin. Dia mengenakan celana kulit hitam ketat dan mantel bulu rubah dan sepatu hak stiletto. Dia pergi ke tempat parkir di bawah kondominium untuk mengambil Audi Quattro merahnya dan pergi bekerja. Kenapa dia selalu menyetir, aku tidak tahu. Padahal akan lebih cepat jika berjalan kaki. Mungkin dia ingin memamerkan Audi-nya. Tidak ada biaya parkir di stasiun. 

Aku berjalan ke gedung stasiun dan sampai di sana sebelum dia. Dia menyarap terlambat di kafetaria di lantai tiga. Dia selalu memesan menu yang sama, jus apel Afrika Selatan dan roti lapis panas dengan salad alfalfa. Aku berdiri di toko buku, di mana aku bisa memperhatikan kafetaria dan melihat majalah. Aku ingin melihat S&M Aficionado tapi terlalu banyak pelanggan, jadi aku cuma membaca Popeye. Di sana ada sebuah artikel berjudul “My First Date,” di mana banyak orang terkenal mengarang semua ini tentang pertama kalinya mereka berkencan dengan seorang gadis. Salah satunya adalah seorang ilustrator yang mengatakan bahwa kencan pertamanya di Taman Inokashira. Seorang pembalap mobil mengatakan di Luxembourg Gardens. Pemilik cabang restoran berkata di Central Park. Ada foto-foto mereka semua yang terlihat tampan dan angkuh. Aku bertanya-tanya mengapa tidak ada setiap orang terkenal yang benar-benar jelek. Mungkin menjadi terkenal membuat kau lebih cakep. Maka kau tidak perlu mencuri uang dari mesin kasir dan bisa pergi ke sekolah tanpa dirisak. Ketika Sakuma Kyoko berjalan keluar kafetaria dan menepuk bibirnya dengan saputangan, aku bertanya-tanya apakah ada cara bagiku untuk menjadi terkenal? 

Sekolah menjahit belum selesai sampai malam hari. Aku menghabiskan sore hari di ruang tamu pachinko dan bioskop. Itu sore yang panjang. 

Dia mengemudikan Audi dan kembali ke kondominiumnya. Lalu dia harus menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Kemudian dia keluar lagi. Dia pergi ke tempat ayam bakar di wisata kuliner jalanan di depan stasiun. Dia bertemu dengan beberapa orang di sana, dua pria dan tiga wanita. Aku pikir mereka sedang merencanakan sebuah pesta sadomasokis. Pria-pria itu tinggi dan berusia sekitar tiga puluhan dan mengenakan jas tiga lapis berwarna abu-abu. Yang wanita mengenakan gaun dan celana panjang dan blus serta sweter dan mantel bulu dan jaket kasmir, dan semuanya sangat cantik.

Bahkan dari seberang jalan di dalam toko mainan tempat aku memeriksa kit model Gundam, aku bisa mencium aroma ayam bakar. Baunya enak. Aku kelaparan. Aku bisa melihat Sakuma Kyoko dan teman-temannya melalui jendela. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku sangat cemburu sampai takut aku akan mulai menangis, jadi kupikir aku harus makan sesuatu. Aku pun membeli sebatang CalorieMate dari mesin penjual otomatis di luar. Aku berpikir tentang iklan di mana Oh Sadaharu mengatakan, Semakin sibuk Anda, Anda akan semakin membutuhkan CalorieMate. Aku tidak bisa membayangkan orang-orang sibuk memakan produk ini.

Enam dari mereka meninggalkan tempat ayam bakar sekitar pukul delapan. Mereka pergi ke sisi jalan dan masuk sebuah bar bernama Parpoo. Kau bisa mendengar daun jendela turun di semua toko di jalan, satu per satu.

Setelah beberapa saat, kulihat ada seseorang yang mendekat di arkade, ternyata Mitsuyo-san, dengan beberapa temannya. Aku mencari tempat untuk bersembunyi. Sebagian besar toko tutup, dan semua arkade menyala. Hanya ada satu tempat untuk dikunjungi: Parpoo. 

Di dalam bar seseorang menyanyikan lagu karaoke. Mama-san (germo) berkata, “Bukankah kau Noriyuki-kun, kemarilah, apa kau sendirian?” Semua orang mengenalku di lingkungan itu karena mamaku ialah kepala asosiasi pedagang lokal. Aku duduk di meja dan memesan jus jeruk. Aku tidak bisa meminum alkohol.

Tiba-tiba Sakuma Kyoko memperhatikanku. Bibirku mulai bergetar. Dia berjalan dengan mata sipit. Rasa gemetar menyebar ke seluruh tubuhku. 

“Bukankah kau anak muda dari apotek?” 

Aku mengangguk. 

“Kau sendirian di sini?” 

Aku mengangguk lagi, suaraku hilang. 

“Apakah kau sering ke sini?” 

Aku menggelengkan kepala. Parfumnya sangat kuat. Celana kulitnya begitu ketat di pinggangnya. Ya Tuhan, kulit itu. Aku tidak bisa menangani kulit. 

“Mau jadi anak nakal malam ini, ya?” 

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menatap matanya. 

“Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?” 

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Orang-orang yang bersamanya berkata, Apa yang terjadi, siapakah itu? 

“Ayo, mari kita minum bersama.”

Dia meraih lenganku. Aku hampir terjatuh dari bangku. Aku seperti seseorang yang sedang tidur sambil berjalan. Pikiranku benar-benar kosong. Aku terhuyung-huyung ke mejanya.

“Ini adalah pemuda dari toko tempat aku membeli kosmetikku.” 

Aku berdiri di sana dengan mulut ternganga dan menundukkan kepala kepada semua orang. 

“Biarkan aku memperkenalkan teman-temanku. Ini si anu, dia menjalankan sebuah butik kecil favorit di Kichijoji.” 

Senang bertemu denganmu, kata wanita itu. 

“Dan wanita muda ini bekerja untuknya. Aku kira kau akan memanggilnya peragawati rumahan? Dia bukan hanya seorang pramuniaga, kau lihat, dia terlalu sering memodel pakaian. Bukankah dia manis sekali?”

Gadis itu menyentak dagunya ke arahku dan merengut. Dia hanya ingin aku tidak berada di sana. 

“Dan ini adalah pemilik toko kue di sebelah butik.” 

Wanita ini memberikanku senyuman lebar palsu. Orang-orang di lini bisnisnya selalu tersenyum kepada orang gendut. Ini sesuai dengan pekerjaannya. 

“Dan ini adalah pacar kita — ha-ha! Mereka berdua instruktur di Seibu Sports Center, di mana kita semua belajar ski dan tenis. Dan aerobik.” 

Kedua pria itu adalah yang terburuk. Mereka tinggi dan cokelat dan langsing dan memiliki kaki panjang dan jari-jari panjang yang sensitif. Mereka jauh lebih tampan daripada tokoh-tokoh di Popeye. Mereka menatapku seperti mereka tidak kenal siapa aku, tetapi setidaknya aku gemuk dan jelek, itu cukup bagus untuk membuat mereka tertawa. Oh, lihatlah di mata mereka. Seperti kuda jantan di peternakan sedang menonton babi yang akan disembelih. 

“Apakah kau seorang mahasiswa?” Salah satu dari mereka bertanya. Aku melihat ke bawah dan hanya menggelengkan kepala. Sakuma Kyoko menjawab untukku.

“Dia masih SMA, bukan?” 

“SMA? Kau sangat besar untuk siswa SMA.” Pejantan itu tidak akan membiarkannya berlalu. “Berapa usiamu?” 

Delapan belas, aku berbohong. 

“Kau bercanda, kan? Kau terlihat lebih dari dua puluh tahun.” 

Dia minum Chivas Regal. Tangannya yang bebas ada di pundak Sakuma Kyoko. 

Aku tidak minum, tetapi aku tahu Chivas Regal. Ini adalah kisah menyedihkan. Meskipun Mama adalah putri dari juragan besar tanah, dia benar-benar orang yang pelit. Yang dia tahu hanyalah bekerja, tetapi tahun lalu dia akhirnya pergi ke luar negeri untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia pergi ke Hong Kong dan Singapura. Itu cukup menyedihkan dengan sendirinya, tetapi bagian terburuknya adalah dia membawa pulang tiga botol Chivas Regal untuk diberikan kepada papaku pada hari ulang tahunnya besok. Papa menghabiskan satu botol pada hari yang sama. Keesokan harinya dia dan teman-teman mahyongnya menghabiskan yang satunya, dan yang terakhir dia minum dengan penari telanjang di apartemennya. Itulah yang aku ketahui tentang Chivas Regal. Kedua pejantan itu duduk dengan tangan di bahu para wanita yang wanginya begitu kuat hingga membuatku pusing, dan dengan tenang meminum wiski menyedihkan itu.

“Kau terlihat sangat menyedihkan untuk pemuda tajir,” kata peragawati itu. “Tidak bisakah kau bicara? Mengatakan sesuatu?” Dia seperti gumpalan besar ... kedengkian, ah, kata itu. Aku menundukkan kepalaku dan membungkukkan bahuku. 

“Hei!” katanya. “Ceritakan kepada kami suatu lelucon, jangan cuma satu.”

Kemudian dia tertawa, sangat keras. Mereka semua tertawa. Aku merasa seperti ingin muntah. Jantungku begitu berdebar, dan air mata mengalir di mataku.

“Kau tidak minum?” 

Aku menggelengkan kepala. 

“Kalau begitu, mengapa kau berada di sini? Ada jus jeruk di mesin penjual otomatis di luar.” 

Semua orang tertawa lagi. Itu membuatku marah. Aku akan minum bir, kataku, dan mereka bersorak. Aku minum bir untuk pertama kalinya dalam hidupku. Hal berikutnya yang kuingat adalah memegang mikrofon dan berdiri di depan layar karaoke. Seluruh tubuhku mati rasa, bahkan otakku. Rasanya seperti berada di dalam tengah mimpi, tapi bukan mimpi yang buruk. Aku menyanyikan Wine-Red Heart. Aku menatap tepat ke arah Sakuma Kyoko ketika bernyanyi. Kulihat ekspresinya perlahan berubah. Ketika aku menyelesaikan bait kedua, dia berjalan ke arahku. Sudut matanya lebih sipit dari biasanya, dan pipinya berkedut. Dia mengambil mikrofon dan mematikan musik. Seluruh bar menjadi sunyi.

“Kau, kan,” katanya. 

Aku hanya berdiri di sana dengan mulut menganga. 

“Kaulah yang meneleponku.” 

Aku menutup mulut dengan tangan, tetapi sudah terlambat. Dia menampar wajahku dengan keras. Itu menimbulkan suara gaduh. 

“Kau seharusnya malu dengan dirimu sendiri! Apakah kau tahu apa yang telah kulewati? Aku punya anak kecil di rumah! Aku—Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan? Hal pertama, besok aku akan memberi tahu ibumu! Aku punya rekamannya, aku akan membuat dia mendengarkannya. Apakah kau mengerti?”

Dia meninggalkan bar bersama teman-temannya. Seluruh dunia bergeser di depan mataku. Tiba-tiba semuanya pergi menjauh. Rasanya seperti melihat melalui ujung teleskop yang salah. Aku sendirian. Di sana, di depan mama-san dan semua pelanggan lainnya, aku menangis.

Ketika aku menangis, aku jadi ingat banyak hal. Aku ingat bagaimana sehabis papaku memukuliku, Mama akan menaruh obat luka dan memar, dan bagaimana dia biasa membelikanku barang-barang. Dia membelikanku sepeda dan mainan mobil dan sarung tangan bisbol dan buku bergambar. Dan dia membawaku ke toko buah baru di depan stasiun dan membiarkanku makan semua manisan yang kuinginkan. Aku mulai berteriak, Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! dan berlari keluar.

Kata-kata Sakuma Kyoko berputar di dalam kepalaku. 

Besok 

Besok 

Besok aku akan memberi tahu 

akan memberitahu 

akan memberi tahu ibumu 

ibumu 

ibumu 


Aku pulang ke rumah dan berjalan-jalan di halaman untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pergi ke garasi dan mengambil kunci Inggris berukuran besar yang kami gunakan di truk.

Aku mulai berjalan perlahan dan kembali ke jalan. Aku bertemu dengan seorang polisi yang kukenal sedang naik sepeda, pemuda yang selalu datang ke toko kami untuk membeli tonik rambut Vulcan. 

“Hai! Kau mau pergi ke mana?” 

Ke rumah teman. 

“Apa itu yang kaubawa?” 

Kunci Inggris. 

“Oh, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” 

Temanku mau meminjamnya. 

“Oke, jangan memukul siapa pun dengan benda itu!” 

Kau tidak mengenakan Vulcan-mu? 

“Aku tidak memakainya saat sedang bertugas.” 

Aku tersenyum ketika kami berbicara. 


Itu tidak tepat untuk seorang wanita dengan mata cantik seperti Sakuma Kyoko membuat wanita jelek seperti Mama menangis. Jika aku begitu istimewa, berarti aku bebas untuk memperbaiki hal-hal yang salah. Aku berdiri di pintu kondominium dan membunyikan bel. Suaminya menjawab. Aku memberi tahu namaku kepadanya. Aku berkata, aku datang untuk meminta maaf. Dia memiliki rantai di pintunya, tapi dia menempelkan wajahnya di sela-selanya dan berteriak, Pergi sana, Bangsat! Aku menanamkan kunci Inggris di wajahnya. Aku tak tahu kalau wajahnya begitu lembut. Aku bertanya-tanya, apakah kekuatan superku telah diaktifkan seperti Ultraman? Rantai itu putus juga ketika aku memukulnya. Dia berbaring telungkup di lantai. Aku memukul bagian belakang kepalanya hingga seperti semangka yang hancur. Kedua anak kecil itu menonton dengan sikat gigi di mulut mereka. Kepala mereka bahkan lebih lembut. Kedengarannya seperti menginjak lumpur.


“Berhenti di situ. Ini adalah bagian yang tidak saya mengerti. Mengapa Anda tidak memukul wanita itu juga? Kenapa Anda malah menghancurkan televisi?”

Sakuma Kyoko merangkak di ruang tamu dengan piyama merah muda dengan mulut terbuka, membuat suara cegukan di tenggorokannya. Saat itulah aku mendengar suara itu. Lari, Takahashi! 

Program Pro Baseball News sedang tayang di TV. Mereka menampilkan cuplikan-cuplikan penting dari permainan pramusim antara Carp dan Braves. Kobayakawa mendapat pukulan dan Takahashi Yoshihiko sedang di putaran ketiga. Kala itulah suara itu berteriak, dan ketika aku mendengarnya, aku pun mengerti segalanya. Aku mengerti mengapa orang-orang mengolok-olok diriku dan mengusikku. Itu karena aku gendut dan lambat dan bodoh.

Kembali ke Zaman Batu, kita semua adalah pemburu, tetapi orang-orang sepertiku terlalu kikuk untuk menangkap permainan apa pun, jadi semua orang merisak dan menghindari kami. Zaman Batu berlangsung selama beribu-ribu tahun, jadi kita masih memiliki ingatan di dalamnya. Mereka bilang kita semua sama sekarang, tapi itu tidak benar. Kenangan itu adalah alasan mengapa orang-orang seperti Mama dan aku selalu menjadi sasarannya.

Takahashi tampak berlari begitu indah, itu membuatku merinding. Takahashi, Carl Lewis, John McEnroe, orang-orang seperti itu, membuat kau merasa senang hanya menyaksikan mereka berlari. Itu karena mereka yang dulu memasok semua daging untuk kita. Ingatan itulah yang membuat kita bahagia. Aku mengabaikan Sakuma Kyoko merangkak di lantai yang mencoba melarikan diri, dan menghancurkan televisi. Aku merasa seperti sedang menghancurkan seluruh dunia. 


“Tapi mengapa televisi? Apakah Anda masih menolak untuk menjelaskannya?” 

Mungkin hanya aku yang bisa memahaminya. Aku bertanya-tanya siapa orang yang berteriak, “Lari, Takahashi!” Itu terdengar seperti suara wanita. Sakuma Kyoko tidak dalam kondisi untuk berteriak atau apa pun. Mungkin itu adalah penonton di pertandingan bisbol di TV. Atau mungkin itu aku sendiri, entahlah. Namun, mengapa suara wanita? Mungkin aku lebih membingungkan daripada yang aku sadari....
Read More
Jika tidak sengaja bertemu dengan kawan lama di suatu tempat, kira-kira apa yang akan pertama kali kamu ucapkan? Apakah menanyakan kabarnya (Apa kabar lu? Sehat?), mengomentari fisiknya (Kok lu berubah gendut/kurus gini?), atau memberi pujian terhadap penampilannya (Gila, lama enggak ketemu jadi makin keren nih)? Dari pengalaman saya yang sudah-sudah, pertanyaannya pasti tidak jauh dari hal itu. Mungkin pertanyaan itu cuma basa-basi yang sudah basi.

Belum lama ini, Raka Bagoy, teman masa kecil yang dulu tinggalnya hanya sepuluh langkah dari rumah saya dan kini pindah ke Serpong, berhasil mematahkan stigma itu. Dia justru bertanya, “Kamu lagi seneng dengerin musik apa, Yog?” ketika kami tidak sengaja berjumpa di Stasiun Jurangmangu. Saya awalnya kaget juga ketika bahu ditepuk oleh orang asing dan langsung bertanya begitu. Ini agak menyedihkan memang. Dia bisa langsung mengenali wajah saya, sedangkan saya mengernyitkan dahi sembari berpikir siapa orang ini?

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/music-headsets-listening-to-music-3472184/


“Kamu lupa? Aku Raka,” ujarnya. “Temen masa kecilmu dulu.”

“Raka?” tanya saya, seraya berusaha mengingat-ingat semua kawan masa kecil yang jumlahnya bisa dihitung jari.

“Iya, yang dulu ngerusakin mainan Ultraman punyamu. Kepalanya copot karena enggak sengaja aku injek. Terus kamu nangis, dan kamu getok kepalaku pake mainan itu. Akhirnya, aku nangis juga.”

“Ya Allah, Raka. Iya, iya, gue inget. Gue kira tadi tukang hipnotis.”

Kami kemudian tertawa. Entah untuk mentertawakan lelucon saya, atau masa kecil yang konyol itu.
Read More
Oleh Ryu Murakami. Diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Ralph McCarthy.

sumber gambar: https://www.preining.info/blog/2017/02/ryu-murakami-tokyo-decadence/


*

“Setiap kali saya menafsirkan pengakuan Anda, ada satu hal yang saya tidak mengerti: Mengapa Anda tidak membunuh wanita itu?”

Jaksa menanyakan kepadaku tentang ini. Selalu sama, selalu pertanyaan yang sama. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Pengacara tua botak—yang ditunjuk pengadilan itu telah menanyakannya seribu kali. Dia bilang jika aku bisa menjelaskannya, hukumanku mungkin lebih ringan. Tapi, tidak ada satu pun yang akan mengerti. Bagaimana mungkin? Aku sendiri saja tidak begitu mengerti. 

“Apa motif Anda untuk tidak membunuhnya? Itu cara yang aneh untuk mengatakannya, saya tahu, tapi ... seandainya Anda bisa mencoba menjelaskannya lagi.”

Aku tidak begitu suka jaksa ini. Entah kenapa. Mungkin dia mengingatkanku kepada pamanku. Pamanku adalah satu-satunya orang yang baik kepadaku. Dia biasa memberiku tumpangan di belakang skuternya ketika dia menjadi seorang penjual deterjen. Itu salah satu kenangan terindahku.

“Baiklah, mari kita mulai dari awal sekali lagi, mengonfirmasi ulang fakta-fakta, dan jika Anda memiliki informasi baru, pastikan untuk memberi tahu kami. Siap?” 
Read More
Previous PostOlder Posts Home