Sebuah Sejarah Kehidupan Pascaindustri yang Terkondensasi Secara Radikal 


Ketika mereka diperkenalkan, sang lelaki membuat lelucon, berharap bisa disukai. Sang perempuan tertawa sangat keras, berharap bisa disukai. Mereka masing-masing lantas pulang sendirian, menatap lurus ke depan, dengan corak yang sama pada wajah mereka.

Pria yang memperkenalkan mereka tidak terlalu menyukai keduanya, meskipun ia bertindak seolah-olah menyukainya, merasa cemas selayaknya harus menjaga hubungan baik pada setiap saat. Lagi pula, orang-orang tak pernah tahu, apa yang sekarang dia lakukan, apa yang sekarang dia lakukan.



Contoh Lain dari Kebodohan pada Batas-Batas Tertentu (XI)


Seperti dalam semua mimpi lain, aku bersama seseorang yang kukenal tetapi tak tahu bagaimana aku bisa mengenalnya, dan sekarang orang ini tiba-tiba menunjukkan kepadaku bahwa diriku buta. Buta secara harfiah, tak dapat melihat, dan sejenisnya. Atau di hadapan orang inilah aku tiba-tiba menyadari bahwa diriku buta.

Apa yang terjadi ketika aku menyadari hal ini ialah aku menjadi sedih. Ini membuatku sangat nelangsa bahwa diriku buta. Orang itu entah bagaimana tahu betapa sedihnya aku dan memperingatkanku bahwa menangis akan menyakiti mataku dan membuat kebutaannya menjadi lebih buruk, tetapi aku tidak dapat menahannya.

Aku duduk dan mulai menangis teramat keras. Aku terbangun, menangis di tempat tidur, dan aku meraung sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sama sekali atau berbuat sesuatu atau apa pun. Ini membuatku menangis kejer. Pacarku terbangun, khawatir, serta bertanya ada apa, dan semenit kemudian, bahkan sebelum kami sama-sama cukup sadar bahwa diriku tadi hanya sedang bermimpi, dan aku terbangun dan tidak benar-benar buta serta aku menangis tanpa alasan, lalu menceritakan kepada pacarku tentang mimpi itu dan mendapatkan masukannya.

Kemudian sepanjang hari di tempat kerja, aku jadi sangat sadar akan penglihatan dan mataku serta betapa bagusnya bisa melihat warna-warni dan paras orang-orang dan mengetahui persis di mana aku berada, dan betapa rapuhnya itu semua. Mekanisme mata manusia dan kemampuannya untuk melihat, betapa mudahnya bisa lenyap. Bagaimana aku selalu melihat orang-orang buta di sekitar dengan tongkat dan wajahnya yang tampak aneh. Aku selalu menganggap mereka menarik. Menghabiskan beberapa detik untuk melihatnya dan tak pernah berpikir bahwa mereka ada hubungannya denganku atau mataku, dan bagaimana itu benar-benar cuma kebetulan-kebetulan yang bisa kulihat alih-alih menjadi salah satu dari orang-orang buta yang kulihat di kereta bawah tanah.

Sepanjang hari di tempat kerja, aku merasa hancur lagi setiap kali hal ini menyerangku, dan bersiap-siap untuk mewek, dan aku hanya berusaha menahan diri agar tak menangis karena kubikel yang rendah dan bagaimana kalau semua orang nanti bisa melihatku dan akan peduli.

Sepanjang hari setelah mimpi itu menjadi begini dan benar-benar melelahkan sekali. Pacarku akan bilang betapa itu menguras emosi, dan aku keluar lebih awal dan pulang ke rumah. Aku sangat lelah dan mengantuk, aku hampir tidak bisa membuka mata, dan ketika aku sampai di rumah aku langsung masuk dan merangkak di tempat tidur pada jam 4:00 sore dan nyaris pingsan.

--




Dua cerpen barusan saya terjemahkan dari buku Brief Interviews with Hideous Men karya David Foster Wallace. Dia merupakan penulis asal Amerika Serikat kelahiran 21 Februari 1962 yang telah menerbitkan novel, cerita pendek, dan buku kumpulan esai. Karya-karyanya: Infinite Jest, Girl with Curious Hair, Consider the Lobster.

Saya kira, hanya sedikit sekali teman saya yang mengetahui tentang penulis ini. Bisa dibilang saya sendiri juga baru mendengar namanya dalam tiga tahun terakhir. Saya bahkan baru tahu setahun silam bahwa David meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya. 

Sejujurnya, saya punya ketertarikan khusus pada penulis-penulis yang menempuh jalan sunyi itu. Pengakuan barusan bukan berarti saya bakal mengekor tindakan mereka. Sebisa mungkin jangan. Memang, saya akui sempat ada pikiran-pikiran ke arah sana, tapi ya seperti yang kalian tahu, alhamdulillah saya bisa menyelamatkan diri sampai hari ini.

Saya hanya kepikiran, kenapa mereka memilih opsi bunuh diri? Apakah tak ada jalan lain? Bisa jadi keputusan itu lahir karena mereka telah mencoba setiap jalan yang tersedia, tetapi berujung pada kebuntuan dan kehampaan. Sedikit-sedikit saya mungkin bisa memahaminya.

Sewaktu tengah malam begini, saya pernah berada pada situasi tak bisa tidur dan pikiran terus bekerja memikirkan hal-hal yang bikin cemas atau takut, dan di antaranya akan muncul pertanyaan semacam ini:

“Sebenarnya saya hidup buat apa, atau apa sih tujuan saya menjalani hidup?”

“Apakah selama ini saya sudah berguna bagi orang-orang di sekitar?”

“Adakah ada seseorang yang merasa kalau kehadiran saya itu penting dalam hidupnya?”

“Seandainya tak ada lagi yang membutuhkan saya, kemudian saya memilih lenyap, apakah saat itu baru ada seseorang yang merasa kehilangan dan mencari saya?”

“Mengapa saya berulang kali gagal dan menderita? Kapan saya bisa berhasil mewujudkan mimpi?”

Itu sesungguhnya cuma contoh sepele, sebab saat depresi betul-betul menyerang, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup maupun mati akan semakin rumit dan bagaikan tak ada habisnya.

Terkadang, ketika saya menuliskan topik sensitif semacam ini, saya diliputi ketakutan akan pandangan orang-orang di sekitar. Apakah saya lapar perhatian, cengeng, lebay, atau apa pun itu. Saya sendiri pun suka enggak paham mengapa saya menuliskannya. Sejauh yang saya ketahui, para penulis bikin tulisan tertentu untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Biarpun tak kepengin mengeklaim diri sendiri sebagai penulis, mungkin saya pun demikian. Saya hanya ingin lega saat menuliskan hal-hal yang bikin resah dan kalut.

Lagian, dari apa yang telah saya perhatikan, ternyata kebanyakan penulis itu kehidupannya lebih sering menyedihkan dan menderita, makanya mereka melarikan diri dengan membuat cerita fiksi demi bisa menyenangkan diri sendiri. Orhan Pamuk, penulis asal Turki yang meraih Nobel Sastra pada 2006, sempat membuat pengakuan begini: Saya menulis bukan untuk menceritakan sebuah kisah, tetapi untuk menciptakan sebuah kisah. Saya menulis karena sulit merasa bahagia. Saya menulis karena saya ingin merasa bahagia.

Mungkin saya terus bercerita juga untuk menggembirakan diri sendiri. Lebih tepatnya malah sudah tergambarkan lewat deskripsi atau tagline blog ini: Menulis bukan untuk abadi, tapi hanya siasat mengecoh kesepian.

Bicara soal kesepian, kenapa manusia bisa merasakannya? Apakah karena tak punya teman berbagi? Namun jika benar begitu, kenapa sewaktu saya masih punya kekasih, kok kesepian itu bisa tetap mendatangi saya? Jadi, kalau disimpulkan: mungkin ada saat-saat di mana saya tak bisa berbagi perasaan dalam diri itu kepada orang lain. Sekalipun sudah bercerita, mereka terkadang tidak mendengarkan, memahami, apalagi berempati. Sehingga cara yang bisa saya lakukan untuk menumpahkan segala kegelisahan itu cuma lewat menulis.

Saat menuliskan ocehan ini, terus terang saja kondisi saya dalam keadaan baik. Sekarang justru jauh lebih baik ketimbang Mei-September yang sempat depresi karena berbagai hal. Tapi, saya kira ke depannya saya bisa saja merasakan keganjilan itu lagi. Sampai kapan pun saya mungkin tak pernah bisa mengerti kenapa perasaan-perasaan terkutuk itu masih terus-menerus datang kembali. Saya juga tak yakin apakah menulis bisa selalu menjadi metode ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini.

Setidaknya, hari ini saya jadi teringat dengan kegiatan dua hari silam, sewaktu saya mendengarkan ulang seluruh album Peterpan. Dari sekian banyak lagu itu, saya terfokus dengan lagu 2 DSD. Dari SD saya sering mempertanyakan apa arti atau singkatan lagu tersebut. Konon itu lagu yang belum sempat diberikan judul, karena DSD sebenarnya cuma singkatan dari Direct Stream Digital, sebuah format pada kaset. Ada pula yang mengatakan 2 Dalam Satu Dunia. Setiap orang jelas bebas membuat kepanjangan sendiri dari singkatan itu. Saya sendiri pun pernah menyebut 2 Derita Saat Depresi. Karena lagu itu seolah-olah telah menjadi mantra bagi saya dalam meringankan beban depresi, khususnya di lirik berikut: rasa ini takkan terobati, tetapi mati takkan mengobati. Berarti secara tak langsung menulis cerita dan mendengarkan sekaligus menyanyikan lagu itu dapat memperpanjang usia saya.


--

Gambar saya ambil dari: theatlantic.com.

Read More
Manusia Gagal

Mengapa manusia gagal saat dipotret tetap tersenyum, bukan memamerkan wajah lesu, atau memonyongkan bibir seperti meneriakkan kata asu, percis sedetik sebelum kamera siap menembak.

Apakah senyuman manusia gagal bisa dihitung sebagai ibadah selama satu bulan penuh, sebab bibir yang cemberut akan dianggap membunuh?

Manusia gagal sering bugil dan menggigil, sehingga perlu meminjam wajah sekaligus pakaian manusia lain yang lebih gagah. Ketika ditanya untuk apa, jawabnya agar bisa bekerja lebih gigih. 

Tapi, apa pun pekerjaan yang dimiliki manusia gagal hasilnya selalu lebih pegal ketimbang manusia lain. Tak ada gunanya kerja keras, jika hanya cukup untuk beli beras. Manusia gagal sesekali ingin makan ayam, tapi yang ia dapatkan justru tambahan huruf b di awal: bayam.

Apalah arti slogan kerja-kerja-kerja, sebab itu hanya anagram dari kejar-kejar-kejar, dan di sisi lain kaya raya selalu berhasil kabur. Maka, mimpi menjadi orang tajir dan sukses haruslah dikubur. Jadi, apa yang sebenarnya ia kejar? Mungkin manusia gagal memang tidak pernah kerja, melainkan dikerjai.

Sebagian manusia gagal memilih jalan hidup dengan membegal. Tak ada lagi bedanya legal dan ilegal, karena lapar terus menjegal. Manusia gagal benci melihat tanggal. Tak ada angka 1 atau 25 atau berapa pun yang biasanya menjadi hari gajian di kalendernya. Manusia gagal juga tak pernah memiliki tempat tinggal, sebab satu-satunya rumah adalah meninggal.

/2020


Masa Depan Suram

—Kepada NT, WS, VJ, SN, IA, KA

Mendengarkan lagu adalah permainan yang menarik. Seseorang yang pernah kaucintai atau mencintaimu terkadang akan muncul saat membaca lirik.

Di lagu yang kaudengarkan, masa depan konon adalah milikmu*. Tapi semakin kaunikmati dan resapi lebih jauh lagi, masa depan meminta untuk diulang. 

Munculnya angka baru semestinya melahirkan masa depan baru. Melukiskan langit berwarna biru. Tapi biru tidak melulu bermakna terang, tenang, ataupun senang, ia bisa juga berarti lebam. Biru yang baru adalah tangisan haru menderu. Seperti biru pada wajahmu yang terlalu sering dipukul oleh kesedihan dan kesepian sejak memutuskan pergi meninggalkannya. 

Kau memilih hidup sebagai penjahat yang gemar membuatnya menunggu dan menangis. Kau memang pencuri hati yang paling bengis. Kau adalah penipu ulung yang tega membohongi diri sendiri. Kau mengaku cinta tapi takut menerbitkan derita. Apa yang sebetulnya bikin kau risau? Ia tidak menggenggam pisau, apalagi punya niat untuk menusukmu dari belakang. Ia amat menyukaimu seburuk-buruknya kondisi. Ia dengan murah hati menawarkan afeksi.




“Sebab cinta tidak benar-benar buta,” ujar seseorang dalam dirimu. “Pada akhirnya, waktu akan menyembuhkan mata itu, dan ia akan sanggup lagi melihat harta.”

Memutuskan bersama berarti mewujudkan masa depan suram. Lagi pula, apa itu masa depan? Masa depan adalah kacamata yang lensanya sangat buram. Sekeras apa pun kau membersihkannya, noda itu akan terus ada. Kau lelaki rabun yang diberikan ciuman dan melihatnya sebagai ancaman.

Kau hidup menderita dan terus-menerus dihantui kenangan muram. Bagai luka yang saban hari ditaburi garam. Seperti prajurit yang pergi berperang tanpa membawa perisai. Seperti penulis medioker yang membuat esai namun tak pernah selesai.

/2020

*) Terinspirasi setelah mendengarkan dan membaca lirik lagu Toe - The Latest Number.




PS: Perempuan yang memakai baju merah di video itu sekilas mirip sama seseorang yang pernah saya sayang. Mana di akhir video dia nangis pula. Tai. Sungguh tai. Mata saya jadi ikutan basah karena perasaan bersalah dalam diri masih tak kunjung lenyap. Saya harap sajak itu bisa menjadi permintaan maaf kepada siapa pun yang pernah saya bikin terluka atau sakit hati, khususnya inisial-inisial yang tertera di puisi.

Gambar dicomot dari anime Noragami.

Read More
Ada masanya kisah curhat tak terlihat penting, tetapi ia bisa menyelamatkan penulisnya dari hal-hal genting. Ada masanya suatu cerpen tak layak baca, tetapi anehnya ia masih dicari-cari sebagian pembaca. Ada masanya sebuah novel tidak laku, tetapi ia berupaya menawarkan kesegaran akan sejarah yang kaku. Ada masanya puisi tidak lagi bermakna, tetapi penyair merasa hidupnya sedikit lebih berguna.

Saya menemukan paragraf tolol barusan di memo ponsel lawas saya: iPhone 4. Saya tak tahu apa maksud dan tujuan saat menuliskannya. Mungkin itu cara saya menyemangati diri sendiri supaya terus menulis sekalipun banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup. Berhubung akhir-akhir ini hidup saya tampaknya tak berfaedah bagi siapa pun, bahkan diri sendiri, saya ingin menampilkan beberapa sajak yang juga tersimpan di ponsel lawas tersebut demi mengamini tulisan sendiri: merayakan puisi agar hidup sedikit lebih berguna.

Saya betul-betul lupa kalau pernah menuliskan sajak-sajak ampas berikut. Itu pun jika masih cocok disebut sebagai sajak. Tapi biar bagaimanapun, itu merupakan proses belajar saya. Belajar mempermalukan diri sendiri.





Macet Pulang Kerja

Hari ini aku ingin menjelma macet pulang kerja agar bisa menemani tubuhmu yang letih. Aku cuma ingin mencuri sedikit waktumu, sebelum besok kau akan melupakanku dan menuai rindu sepanjang hari bersama kekasih.

Noda kusam di paras. Aroma kecut kerja keras. Energi yang terkuras. Keluhan memelas. Aku sangat menyayangi bagian-bagianmu yang ganjil itu. Sebab hanya itulah fragmen yang tak mungkin menjadi menu favorit kekasihmu.

/2018


Lukisan Muram

Tubuhmu tercipta dari matahari dan awan
Tanganmu membentangkan sayap burung
Yang menetaskan sehelai bulu ke dalam lautan
Gemercik airnya menuliskan surat bunuh diri
dan mengirimkannya kepada kehidupan

/2017


Mengobati Kesepian

Sepanjang malam suaranya terdengar lagi
Dan dinginnya kembali memeluk
Kesepian ini sungguh hujan yang gigih

Jadikanlah aku basah
Bukan karena tangis
Melainkan mencuci dosa
Di bawah pancuran air keran

/2018


Tangisan Terakhir

Setelah ribuan malam aku terjebak dalam kesadaran tanpa makna, maka akan kuberikan kepadamu sebuah hadiah: tangisan terakhir. Maukah kau menerima dan mencoba memahaminya? Jika bersedia, dengarkan semua nonsens ini, sebagaimana saat kau memakai earphone dan memutar lagu-lagu band indie di Spotify.

Tangisan terakhir adalah saat air mataku mengalir di pipiku, kemudian terjatuh ke pipimu. Tangisan terakhir adalah cicit burung kenari yang muak dengan kehidupan di dalam sangkar meskipun ia terus menari. Tangisan terakhir adalah puisi pincang yang berusaha berdiri tegak tanpa bantuan sahabat sejatinya: rima. Tangisan terakhir adalah seorang calon penulis yang tak mampu menerbitkan buku. Ia malah menggubit ke arah kamera, seperti para peserta uji nyali tak kuasa menahan takut dan terkena efek jera. Tangisan terakhir adalah jawaban “bingung” yang kaulontarkan sebab gagal mengerti semua racauan ini. Adakalanya tangisan terakhir memang tak dapat didengarkan oleh para bajingan yang miskin empati.

/2018


Ledakan di Gramedia

Pada Minggu sore, kau mengajakku ke Gramedia. Seperti biasa, aku langsung berjalan menuju rak novel, sedangkan kau ke rak puisi.

Saat aku sedang asyik membaca sebuah novel yang sampulnya telah terbuka, tiba-tiba kau datang menghampiriku. Kulihat kau membawa dua buah buku. Aku pun bertanya kepadamu, “Itu apa?”

Kau tersenyum dan menjawab, “Kumpulan sajak yang perlu kaubayar.”

Mendengar jawabanmu, aku terkejut dan novel yang sedang kubaca itu pun refleks terjatuh. Seketika buku itu menyentuh lantai, terdengar ledakan yang sungguh dahsyat. Toko buku itu tidak hancur, tapi itu suara dompetku yang pecah berkeping-keping

/2017


Haiku Insomnia


1/
Punggung yang remuk
Pesta panggung kecamuk
Mata mengamuk

2/
Kantuk terusir
Lebur ditelan pasir
Tergigit vampir

3/

Subuh menunggu
Sesak dan terbelenggu
Ditikam waktu

/2018


Kangen Itu Norak

: VJ

Kala kita berkunjung ke kedai kopi, aku bilang ke pelayan itu untuk memesan senyum dan tawamu. Tapi, menu yang tersisa hanyalah tangismu. Karena sudah telanjur haus, dengan terpaksa kita tetap membelinya. Sambil menunggu tangismu reda, aku menuliskan beberapa baris puisi untukmu:

Biarkan aku sesekali norak dengan membunuh jarak. Suara serak bukan halangan untuk bercerak. Sakit adalah corak yang memaksaku terus bergerak.

Aku tak butuh dokter, diagnosis, serta obat yang bikin jemu. Aku hanya ingin sosokmu, senyumanmu, beli susu jahe di Pasar Kemayoran denganmu, hinaan “begitu aja sakit, lemah” yang kuanggap jamu, atau singkatnya cara ampuh yang bisa menyembuhkan kangen: bertemu.

/2017

--

Gambar diambil dari Pixabay.

Read More
Surat buat Teman Masa Kecil yang Tidak Pernah Terkirim


Tidak selamanya terang itu indah, katamu pada suatu hari di dalam mimpiku. Bertahun-tahun setelah kau tiada, akhirnya aku sepakat. Bagaimana cahaya kerap menjadi bahaya untukku. Membunuh jam tidurku berulang kali.

Maka demi terpejamnya mata, selalu kumatikan sinar satu-satunya di kamar. Cara ini kadang suka gagal, sebab masih terdengar detak jam dinding yang membisingkan. Kau tahu, Kawan, polusi suara memang bajingan. Selain berisik, jam itu juga gemar mengancamku dengan berbagai pertanyaan.

“Apa kau ingat sudah berapa lama menunda-nunda janji kepada diri sendiri?”

“Apa kesalahanmu tiga tahun silam itu sudah termaafkan? Kenapa masih menyisakan penyesalan yang seakan-akan tak ada hentinya?”

“Kapan, ya, kira-kira kau berpikir menjadi manusia tak berguna, lalu meyakinkan diri tak ada jalan keluar selain lenyap, dan memilih menyerah lagi?”

“Ingat teman masa kecilmu yang pergi dengan cepat? Kenapa kau pernah punya pemikiran untuk bertukar tempat? Apakah agar tidak usah menjalani lika-liku dewasa yang suka bikin mengumpat?”

Lantaran kejahatannya itu, aku ingin menjadi polisi sebentar saja demi bisa segera mengokang pistol dan menembak Waktu tanpa perlu takut masuk penjara atau merasa berdosa.

Jika Waktu mati, seharusnya tidak ada lagi yang bisa mengusik. Sampai aku mulai memahami kenyataan, bahwa isi kepalaku adalah alat pemutar musik yang tak pernah berhenti berbisik dan berdesik.

Seandainya aku dapat tertidur nanti, dapatkah kita bertemu lagi, Kawan? Mungkin aku kangen, mungkin juga aku kesepian dan butuh teman mengobrol sekalipun itu semua ilusi. Namun, aku cuma ingin bertanya, apakah kau di sana pernah merindukan terang? Aku tak tahu apa-apa tentang kubur selain kegelapan dan siksaannya dari Komik Siksa Neraka yang pernah kita beli di abang tukang mainan, lalu membacanya bersama-sama.

Tanpa harus merasakan dikubur, aku sepertinya sudah terbiasa dengan gelap dan siksaan di simulasi neraka yang bernama kehidupan ini. Apakah kalimatku barusan terdengar berlebihan, Kawan? Mungkin kau di sana akan mentertawakanku. Tak apa. Pikiran-pikiranku memang suka sedungu itu.

Omong-omong soal hidup yang bagaikan neraka, aku pernah membaca kalimat dari cerpen seseorang: “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup*.”

Kupikir, pernyataan itu ada benarnya. Kadang-kadang, di kepalaku terbayang pula cara-cara mati yang aduhai. Anehnya, entah kenapa aku masih belum ingin mampus. Ini bukan soal aku belum merasakan kawin, mau mencicipi apa itu sukses, atau takut dengan pertanggungjawaban di akhirat.

Aku hanya ingin terus membaca buku hingga pertanyaan-pertanyaan yang kucari selama ini bisa kutemukan jawabannya. Aku juga mau menuangkan suara-suara di dalam kepala ini seraya membuktikan, apakah gagasanku itu senasib dengan minyak dan gas bumi, atau justru tak terhingga. Atau malah aku cuma pengin mendongeng, sebagaimana surat tolol dan tak penting yang sedang kutujukan kepadamu saat ini. Aku tetap menuliskannya, Kawan, sekalipun aku tahu bahwa teks ini tak akan pernah terkirim.

Salam,

Wahyu Nugraha

(seseorang yang mengaku teman baikmu saat kau masih hidup)

*




Dongeng Setelah Tidur


Teman masa kecil itu menyampaikan balasan pesan kepada Wahyu lewat sebuah mimpi.

Sore itu selepas salat Asar dari masjid, Wahyu mengunjungi makam adik perempuannya yang meninggal saat masih bayi. Entah bagaimana kuburan itu bisa bersebelahan dengan tempat peristirahatan teman masa kecilnya. Wahyu menyiramkan air mawar dan menaburkan bunga di kedua kuburan itu. Wahyu membacakan surah Alfatihah dalam hati, lalu dia menatap batu nisan sambil meracau. Kalimat yang dia lontarkan itu terdengar seakan-akan sedang mendeklamasikan sebuah puisi.

Tidak selamanya terang itu indah....

Begitu kelar mengoceh tidak jelas, dia pulang ke indekosnya, berwudu, dan melanjutkan aktivitas sebagaimana biasanya—makan sore, sembahyang Magrib dan Isya, membaca buku, mendengarkan musik sampai larut malam, hingga terlelap.

*

Wahyu melihat anak kecil berusia tujuh tahun yang lagi asyik bermain robot-robotan di teras rumahnya.

“Sini, Kak, ikut main,” ujar bocah itu.

Wahyu mendekat dan kaget kala memperhatikan salah satu mainan itu, tepatnya Ultraman yang kepalanya copot. Wahyu mengenali mainan tersebut. Dia pun menerka-nerka, apakah anak kecil di hadapannya itu merupakan dirinya sendiri? Tapi jika diingat-ingat dan diperhatikan dengan jelas, mengapa tidak mirip? Siapakah sebenarnya bocah itu?

“Maaf ya, mainan kamu rusak,” kata si bocah.

Cairan bening berjatuhan dari mata ke pipi Wahyu. Dia akhirnya mengingat semuanya. Seorang bocah di hadapannya itu adalah Fajar, teman masa kecilnya yang sudah meninggal dua puluh tahun silam. Wahyu ingin mengucapkan sesuatu, tapi mulutnya tak mau terbuka.

Fajar menghapus embun di muka Wahyu kemudian berbicara, “Aku sudah membaca suratmu. Terima kasih.”

Tangan kanan Fajar menggenggam tangan kiri Wahyu—bermaksud mengajaknya ke suatu tempat. Wahyu pun manut saja. Rupanya Fajar membawa Wahyu ke tempat pemakaman umum, percisnya kuburan Fajar.

Fajar lantas duduk dan bercerita begini:

Di dalam sini tidak benar-benar gelap. Ada kiriman-kiriman doa, khususnya beberapa hari sebelum Ramadan, yang bikin tempat ini menjadi terang. Apakah salah satunya darimu? Kuharap sih begitu. Itu berarti kamu masih ingat sama aku.

Apa kamu yakin pernah kepikiran untuk bertukar posisi denganku? Aku kasih tahu kamu nih, ya. Tak ada yang bisa kamu lakukan di sini, wahai temanku, selain tidur sambil mengingat masa-masa hidup yang cuma sebentar itu. Aku sering memikirkan ini, apakah mati muda itu baik untukku?

Kalau tak salah ingat, usiaku di alam ini jauh lebih lama daripada yang kuhabiskan di duniamu. Melihat kamu yang sudah sebesar ini, kutebak waktu telah bergerak dua kali lipat dari usiaku atau malah lebih. Sebentar sekali, ya, saat menghabiskan hari-hari bersamamu yang cuma dua tahunan itu.

Tapi biar bagaimanapun, aku senang karena hidupku penuh dengan memori-memori indah. Aku jadi menyimpulkan kalau mati muda itu ada bagusnya. Apalagi setelah mendengar keluhanmu di surat itu.

Sepertinya aku sedikit mengerti apa yang terjadi dengan kehidupanmu lewat kalimat-kalimat itu. Tidak lagi menjadi anak kecil itu membosankan, ya? Kamu tidak bisa main-main kayak dulu. Umur bertambah, tanggung jawab juga ikut membesar. Mungkin aku memang perlu bersyukur dengan takdir ini. Aku tak perlu menyesal ketika merasa salah langkah. Aku malah bingung, adakah kehidupanku yang pantas disesali?

Satu-satunya hal yang tak bisa aku mengerti dan pantas kutangisi adalah kenapa waktu hidupku sebentar sekali, sampai-sampai aku belum sempat meminta maaf kepadamu soal merusak mainan Ultraman itu.

Kamu sepertinya marah sekali sama aku. Kamu pukul kepalaku pakai robot Ultraman itu, kamu nangis, terus lari ke rumah. Kamu ingat kalau aku juga nangis, kan? Aku lupa apakah saat itu menangis karena kepalaku yang sakit, atau malah hatiku. Pokoknya, aku sedih sekali hari itu.

Dua hari sejak kejadian itu, aku mau ngajak kamu main sepulang sekolah sekalian meminta maaf. Waktu aku samper, ibumu bilang kamu lagi tidur. Aku kira itu kamu lagi janjian sama ibumu karena masih marah dan enggak mau ngomong sama aku lagi.

Aku terus ingat perkataan guru agama di sekolah. Katanya, tidak boleh memutus hubungan atau berhenti bertegur sapa lebih dari tiga hari. Akhirnya, aku coba lagi besok deh. Aku yakin kamu pasti memaafkanku. Kita bakal main bareng-bareng lagi.

Namun, kesokan harinya aku malah sakit sampai harus dibawa ke rumah sakit. Tubuhku demam. Saat aku tak sadarkan diri atau tertidur, aku bermimpi ketemu seseorang yang mirip ibuku di sebuah taman penuh bunga.

Bapak pernah bilang, Ibu meninggal sewaktu aku umur dua tahun. Aku mungkin belum mampu mengingat banyak hal ketika itu, tapi wajah seseorang yang paling banyak kulihat dari masih bayi pasti tak akan pernah terlupa. Perempuan cantik di taman itu pasti Ibu. Tebakanku benar saat aku mendekatinya.

Karena aku tumbuh tanpa sosok ibu, aku kangen sekali sama kehadirannya. Jadi aku langsung lari dan mau peluk Ibu. Ibu berjongkok dan merentangkan tangannya. Aku pun tiduran di pangkuan Ibu. Dia mengusap-usap kepalaku. Nyaman sekali.

Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Ibu mengitiki perutku sampai aku kegelian bukan main. Aku tertawa sampai menangis. Ibu juga mendongengiku banyak cerita. Sampai aku gantian cerita sedang bermusuhan denganmu. Ibu lalu bertanya, “Kamu mau pulang atau tetap main sama Ibu?”

Aku tak ingat menjawab apa, yang aku tahu dua hari kemudian orang-orang menguburkanku di sini.

Seandainya aku gantian bertanya begitu, kamu mau jawab apa, Teman?

Sebelum memberikan jawaban, aku sejujurnya senang kamu masih hidup. Kuharap kamu bisa segera menemukan kebahagiaanmu di sana. Apa pun bentuknya. Kalau kamu sedih lagi, kamu boleh mengeluh maupun bercerita kepadaku. Apa pun alasan yang bikin kamu bertahan sampai sekarang, aku suka sama ide mendongeng itu. Jadi, aku berharap kamu bisa meneruskan mengolah kalimat-kalimat yang kamu nilai tolol itu. Misalnya, mengisahkan ulang mimpi ini.

Ah, itu semacam bujukan dariku agar menyuruhmu pulang, ya? Aku tidak bermaksud mengusir, aku cuma mengingatkan bahwa masih ada hal-hal baik dari kehidupan. Meski kamu memandangnya seburuk apa pun itu, tapi hidup masih layak kamu jalani. Saat hari-harimu terasa gelap atau berat karena memikul neraka di pundak, selalu kenanglah kebersamaan kita yang belum memiliki beban. Berlari kencang tanpa takut terjatuh. Kalaupun kamu jatuh dan terluka, aku akan selalu ada untuk mengulurkan tangan. Membantumu bangkit.

Tapi kalau kamu masih betah di sini, silakan saja. Tak ada yang melarang. Aku hanya takut kamu lupa jalan pulang dan tak bisa kembali lagi. Itu semua pilihanmu.

*

Wahyu terbangun. Semuanya terlihat gelap. Apa yang terjadi, pikirnya, apakah sedang ada pemadaman listrik? Dia mencium aroma tanah. Dia meraba-raba segala yang ada di sekitarnya. Benar, itu tanah. Ada pula tujuh papan miring–penyangga yang biasa digunakan agar jenazah tidak terkena reruntuhan tanah. Dia segera sadar dirinya sedang tertidur di dalam makam. Wahyu refleks menjerit seraya menangis.

“Aku belum mau mati! Masih ada banyak janji yang belum kupenuhi. Aku tak mau pergi meninggalkan utang.”

Wahyu terbangun kembali dengan kaos basah kuyup. Dia terkejut bukan main atas apa yang barusan terjadi. Saking paniknya, suara napasnya yang terengah-engah itu terdengar sangat jelas.

Dia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Gelap juga, tapi dia masih mampu melihat. Rak buku, laptop, ponsel, kipas angin, tembok, serta jam dinding. Wahyu mengenali tempat ini, yakni kamar indekosnya. Dia pun menyalakan lampu sambil bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi lagi? Mengapa ada mimpi di dalam mimpi?

Wahyu berjalan ke sudut ruangan, mendekati galon yang terpasang alat pompa, mengambil gelas, dan mengisinya dengan air putih. Begitu dahaganya hilang, dia pun kembali ke kasur.

Wahyu segera mengambil ponselnya, kemudian membuka memo sambil mengingat-ingat semua kejadian di dalam mimpi itu sebelum hilang digerogoti lupa.


Mei 2019


*)Nukilan cerpen 'Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu' di buku Bakat Menggonggong, karya Dea Anugrah.

Gambar dicomot dari Pixabay

Read More

Apa alasan kamu ikut sayembara puisi ini? Begitulah pertanyaan yang muncul saat saya mengisi formulir pendaftaran suatu perlombaan menulis puisi. Saya pun kira-kira menjawab begini:

Jujur aja alasannya sangat realistis. Kondisi pandemi cukup menyulitkan saya untuk memperoleh uang, sehingga saya tergiur dengan hadiah sayembaranya. Selain itu, saya ingin mengingkari janji (saya memutuskan berhenti bikin puisi pada akhir 2019), sebab saya tak bisa membohongi diri lebih lama lagi bahwa menulis puisi terkadang dapat menghibur diri pada situasi sulit. Saya juga ingin menantang diri lagi dengan ikut lomba di bidang kepenulisan. Sejak awal tahun saya belum mencoba hal-hal yang seru. Saya kira sayembara kali ini layak diikuti dan bisa menjadi langkah pertama saya untuk lebih berani mengikuti berbagai perlombaan ke depannya.

Lama enggak menulis puisi tentu bikin diri saya kaku saat menyusun diksi. Susah ya rupanya kembali ke suatu jalan yang pernah saya tinggalkan. Biar bagaimanapun, saya akhirnya berhasil membuat sebuah puisi untuk diikutsertakan dalam lomba itu. Berhubung masih dalam proses penjurian, saya belum bisa menampilkannya sekarang.

Terus terang, saya juga tak banyak berharap akan lomba itu sekalipun memang tergoda banget akan hadiahnya. Siapa sih yang enggak mau duit 1-3 juta dengan bermodalkan bikin satu puisi? Masalahnya, bikin sajak yang aduhai keren dan bisa memenangkan sayembara bukanlah perkara remeh. Saingannya pasti banyak. Saya yakin di luaran sana orang-orang juga menciptakan puisi yang keterlaluan bagusnya. Sementara saya sendiri, baru ikutan pada hari terakhir lantaran telat tahu info tersebut. Saya juga begitu minder dengan apa yang saya tulis. Apakah yang semacam itu masih pantas disebut puisi? Mari kita lihat saja nanti pengumumannya pada November. Apakah kelak ada hal baik sebagaimana yang pernah terjadi dan tertulis di Peristiwa 6 November tahun lalu? Semoga saja. Aamiin.

Terlepas dari hal itu, berhubung saya sudah mengingkari janji pada diri sendiri, saya barusan berusaha membuat puisi lagi. Anehnya, 15 menit berselang memeras ide-ide di kepala dan memandangi layar putih, tak ada satu larik pun yang tertulis. Saya tak bisa lagi menumpahkan perasaan saya lewat puisi. Kacau. Kayaknya kemampuan saya merangkai diksi betulan sudah luntur. Mungkinkah karena saya juga tak membaca buku-buku kumpulan puisi lagi sepanjang 2020? Kira-kira sudah sembilan bulan lamanya.


II

Saya lantas mencoba membuka buku puisi Sylvia Plath yang waktu awal tahun sempat saya coba baca tapi belum rampung, dan memilih salah satu sajaknya secara acak. Setelahnya, seperti yang kamu ketahui, saya iseng menerjemahkannya sebebas mungkin (boleh juga disebut memodifikasi). Maka, inilah hasilnya:




Lorelei

Ini bukan malam untuk tenggelam: Bulan purnama, sungai menghitam di bawah kemilau cermin yang lembut, kabut air biru yang menyelimuti penyamaran demi penyamaran seperti jala ikan. Meskipun nelayan sedang tidur, menara kastil besar menggandakan diri di dalam gelas. Semuanya hening.

Namun, bentuk-bentuk ini melayang ke arahku, mengganggu parasku yang tenang. Dari titik nadir mereka bangkit, anggota tubuh mereka penuh dengan kesempurnaan, rambutnya lebih tebal dari pahatan marmer. Mereka menyanyikan tentang dunia yang lebih lengkap dan jernih daripada yang semestinya. Saudara perempuanku sekalian, lagumu menanggung beban yang terlalu berat untuk didengarkan oleh telinga yang mengular dan mengulir.

Di sini, di negara yang dikendalikan dengan baik, di bawah penguasa yang bijak. Terganggu oleh harmoni yang melampaui tatanan duniawi, suaramu terkepung. Kau menginap di terumbu karang mimpi buruk, menjanjikan perlindungan yang pasti; pada siang hari, kau turun dari perbatasan, dari serambi, juga dari jendela tinggi.

Keheninganmu lebih buruk dari lagumu yang menjengkelkan. Dari sumber panggilan hatimu—kemabukan yang sangat mendalam. O sungai, aku membayangkan hanyut jauh di dalam aliran perakmu, dewi perdamaian yang agung itu. Batu, batu, bawalah aku ke sana.


III

Saya tak paham apa makna puisi itu. Saya pun iseng mencari kata kunci “Lorelei”, hingga akhirnya menemukan suatu jawaban. Saya bermaksud menjelaskan sedikit tentangnya dengan mengolahnya dari berbagai sumber. Jadi, Lorelei adalah batu tulis curam setinggi 132 meter di tepi kanan Sungai Rhine di Rhine Tengah, Sankt Goarshausen, Jerman. Pada sekitar abad pertengahan konon banyak kapal Jerman yang suka berlayar melintasi sungai itu. Sialnya, arus yang tenang justru sering kali menghanyutkan. Membuat para nakhoda yang kurang waspada dan sedikit pengalaman menjadi lengah. 

Lorelei menjadi sebuah dongeng pada abad pertengahan yang telah melegenda. Berkisah saat kapal-kapal berlayar memasuki kawasan Sankt Goarhausen di Rhineland-Pfalz, di atas bebatuan itu ada sesosok nimfa atau siren—berwujud seorang gadis cantik yang sedang duduk sembari menyisir rambutnya yang berwarna keemasan. Gadis itu menyanyikan lagu yang bercerita tentang kerinduannya kepada sang pujaan hati. Ia duduk di atas batu itu demi menunggu kekasihnya yang telah lama pergi dan tak kunjung kembali. Nah, bagi siapa pun yang mendengar nyanyiannya itu bakalan terhipnotis atau terperangkap dalam sihir. Para pelaut itu tentunya langsung mengalami nasib buruk, yakni kapalnya akan menabrak batu-batuan berbahaya, atau dengan kata lain: kematian.

Setelah saya tahu rujukan atau referensinya, puisi itu ternyata bikin saya merasa nelangsa. Sylvia sialan! Jago banget bikin orang sedih. Tapi, kapan sih puisinya Sylvia enggak bernuansa muram?


IV

Ketika mengetahui Sylvia menciptakan puisi dari suatu mitologi, saya jadi teringat dengan puisi bikinan sendiri yang bertajuk Medusa. Kala itu saya habis membaca kisah Medusa di internet, terus entah kenapa terbit perasaan simpati maupun empati terhadapnya. Saya ingin memeluknya, bersedia menemani dirinya yang dipenjara dan dijauhi semua makhluk lantaran kutukannya itu. Saya tak takut menjadi batu. Saya rela memejamkan mata demi bisa bersamanya. Berada di sampingnya. Khayalan barusan sungguh tolol, bukan?

Di lain sisi, pada kenyataan yang dijalani, pada akhir 2018 saya juga sempat naksir sama seorang gadis manis yang pernah memuji tulisan saya. Kami pun berkenalan, membicarakan beberapa hal. Saya baru mengobrol lewat pesan di media sosial dan sebatas melihat wajahnya lewat foto, kemudian bisa-bisanya muncul rasa suka. Terasa aneh sebetulnya menyukai seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi menurut saya, dia memang menggemaskan. Kenapa sih jarak sialan ini segala memisahkan kami?

Sadar bahwa saya pernah gagal menjalani hubungan LDR, saya sesungguhnya tak mau nekat lagi buat mencobanya. Itu pun kalau dia juga suka sama saya. Lagi pula, dia tak mungkin bisa saya raih karena perbedaan agama yang menghalangi kami. Saya pun perlahan-lahan menjauhinya.

Pendek cerita, sekitar Juni 2019, dia datang ke Jakarta. Saya mengetahuinya karena dia memamerkan cerita sehabis naik MRT via InstaStory. Saat mengetahui hal itu, saya tak berani mengontak maupun menemuinya. Saya takut perasaan suka yang dulu pernah saya bunuh dengan paksa itu datang kembali. Sekitar seminggu kemudian, saya memberanikan diri untuk mengomentari salah satu fotonya di tempat rekreasi Jakarta, lalu jujur memuji dia manis sekali pada hari itu. Tak sampai lima menit, komentar saya hilang. Dia menghapusnya.

Saya tak terlalu ingat apa lagi yang terjadi selepas itu. Barusan saya mencoba mengetikkan username dia, tapi hasilnya nihil. Saya mengecek di daftar pengikut maupun mengikuti juga tak ada. Saya sepertinya diblokir sama dia. Memangnya saya punya salah apa, ya? Apakah karena dulu terlalu pengecut dan tiba-tiba menghilang? Apakah saya telah salah bersikap? Apakah saya ini bego? Entahlah. Yang saya tahu, kisah cinta saya kalau direnungkan kok rasanya suram banget, ya Allah.

--

Tadinya tulisan ini ingin saya beri judul: Lelaki Menyedihkan yang Tak Bisa Lagi Menulis Puisi dan Gadis yang Bersenandung Sambil Menunggu Kekasihnya Pulang, sayangnya enggak jadi karena kepanjangan.

Sumber gambar: https://irma2204.livejournal.com/200315.html
Read More
Saya sedang tengkurap di kasur sambil menonton konser Asian Kung-Fu Generation di Youtube ketika terdengar teriakan “banjir” berulang-ulang kali dari luar rumah. Saya lekas mengintip dari jendela kamar dan mendapati air di selokan sudah luber. Pada Senin (21/09) malam, kira-kira sehabis Isya, saya benar-benar merasa tak siap untuk menghadapi banjir karena di rumah hanya ada saya dan Adik—yang apesnya sudah terlelap lantaran kemarinnya tidak tidur seharian hingga siang tadi. Ayah saya masih bekerja, sedangkan Ibu ada urusan di rumah temannya.
 
 

 
Sewaktu air cokelat itu perlahan-lahan mulai masuk ke rumah dan saya juga sudah kewalahan memindahkan barang-barang di ruangan depan ke tempat yang lebih tinggi, saya akhirnya membangunkan adik saya. Masa bodohlah dengan dia habis begadang. Saya sangat membutuhkan bantuan.
 
“Emangnya Ibu ke mana sih, Mas?” ujarnya memprotes.
 
Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, pintu depan terbuka dan sosok beliau muncul. Saya menyuruhnya coba tanyakan sendiri. Adik saya merongseng, kenapa hujan-hujan malah kelayapan? Saya ikut menambahkan, sudah tahu lagi pandemi dan masa PSBB jangan keluyuran seenaknya.
 
“Ya Allah, tadi kan perginya belum hujan,” katanya sembari mengangkat karpet dan menaruhnya di atas lemari. “Lagian Ibu cuma habis dari rumahnya Bu Tuti.”
 
Biarpun saya tahu Bu Tuti masih satu RT dengan kami, tetap aja saya berkata mending tak usah keluar rumah kalau bukan perkara penting. Beliau pun menjelaskan kepada kami bahwa niatnya ke sana hanya untuk keperluan mengantar dokumen penting, lalu sekalian mengobrol sebentar. Saat kepengin pulang rupanya hujan mulai turun, sehingga Bu Tuti menyarankan buat menunda kepulangannya. Lebih baik melanjutkan perbincangan.
 
“Tadi Ibu kira hujan biasa doang. Enggak banjir. Makanya Ibu pikir sekalian pulangnya nanti aja biar reda dulu. Syukur tadi ada yang teriak ‘banjir-banjir’, terus Ibu langsung buru-buru pulang deh.”
 
Kenapa kami masih sempat-sempatnya ribut saat sedang menggotong perabotan, ya? Entahlah. Lantas, bukankah berkat ada teriakan bocah itu akhirnya saya juga bisa menyadari kondisi air yang meluap? Jika saya masih asyik menonton konser di Youtube, pastilah barang-barang di depan bakal terendam semua. Baiklah, terima kasih wahai gerombolan anak kecil yang memberikan informasi tentang banjir. Lebih baik saya sudahi kemarahan bodoh yang membuang-buang energi ini.
 
Selepas urusan memindahkan barang-barang selesai dan banjir pun telah masuk ke kamar saya, seorang kawan mengirimkan sebuah tautan di salah satu grup WhatsApp tentang banjir kiriman dari Bendung Katulampa, Bogor. Pantas aja hujannya baru sebentar kok bisa banjir secepat ini. 
 
Sehabis menerbitkan Sebuah Kisah Banjir, Keluhan, dan Abreaksi yang Harus Muncul pada Februari silam, saya sudah kehilangan minat buat mengeluhkan air bah lagi. Jelas tak akan menarik kalau isi tulisannya lebih banyak menggerutu. Namun, lantaran banjir ini saya jadi teringat akan tulisan yang sempat saya tulis pada Maret lalu. Efek rumah kebanjiran pada hari itu ternyata membuat saya mengisahkan benda-benda yang bernilai sentimental.
 
PlayStation 2 dan Memory Card 8 MB 
 
 

 
Saya pikir benda keramat ini sudah dijual oleh adik saya karena tak pernah melihatnya lagi dalam waktu 7 tahun. Jika bukan karena banjir kemarin dan terpaksa membongkar kardus di bagian lemari paling bawah, sepertinya keberadaan PlayStation 2 beserta MC-nya bakalan tetap menjadi misteri.
 
Sejak saya mulai kuliah dan memiliki laptop pada 2013, saya sudah malas main PS lagi. Apakah karena kehadiran perangkat baru itu bikin saya lupa sama benda lawas, atau permainan-permainan di laptop tampak lebih mengasyikkan ketimbang PS? Saya kurang tahu jawaban tepatnya. Yang jelas, begitu melihatnya lagi sekarang, saya mendadak kangen memainkan gim Harvest Moon: A Wonderful Life Special Edition, Bully, Sengoku Basara 2, Mortal Kombat: Shaolin Monks, SmackDown Here Comes the Pain, One Piece: Grand Adventure, The Warriors, Tekken 5, dan Tony Hawk’s Underground 2
 
Sayangnya, kedua stik beserta kabel-kabelnya sudah lenyap entah ke mana. Adik saya bilang sih sudah putus digigit tikus, kemudian dia buang. “Lagian optiknya juga rusak, Mas,” katanya lagi. Saya kira cukup dengan membeli stik dan kabel-kabelnya saja sudah bisa main lagi. Tapi setelah mengetahui fakta akan kondisinya yang tidak bisa lagi membaca kaset, saya mau tak mau juga perlu memasang flash disk ataupun hard disk demi bisa memainkannya. Rencana buat bernostalgia itu pun musnah dalam sekejap.
 
Meski demikian, paling tidak saya sudah cukup gembira bisa menyentuh benda ini lagi. Kenangan-kenangan saat asyik bermain gim bersama adik dan teman sekolah pun muncul begitu saja di benak saya. Bahkan ingatan sewaktu memutuskan membeli PlayStation 2 ini juga ikut-ikutan mengambil tempat. Sewaktu Lebaran 2010, saya iseng mengusulkan kepada Adik untuk patungan beli PS dari sebagian uang amplop hasil keliling. Uang tabungan saya dan duit amplop dia kalau ditotal bisa menyentuh 800 ribu, lalu nanti sisanya tinggal minta tambahan sama orang tua.
 
Ibu saya tumben sekali pada hari itu berbaik hati dalam perkara beginian, padahal biasanya suka memarahi kami jika uangnya habis buat main PS di rental. Beliau bilang, “Daripada kalian duitnya habis buat main PS di rental atau main warnet, ya mending punya sendiri dan main di rumah.”
 
Mantap.
 
Mengingat zaman SMK dulu saya pernah dimusuhi oleh tetangga sendiri dan jumlah kawannya cuma sedikit, saya jadi ingin berterima kasih sama perangkat yang pada masanya telah menyelamatkan saya dari rasa kesepian. Walaupun tak punya sahabat baik pada masa itu, saya mungkin telah menganggap PlayStation 2 menjadi sohib yang menemani saya dalam suka dan duka. Misalnya, kalau saya lagi jengkel sekali dengan orang-orang yang suka merisak saya, saya tinggal memainkan gim Bully atau GTA atau The Warriors, lalu melampiaskan kemarahan dengan menjotos ataupun menembak orang-orang di permainan tersebut. Tampak tolol dan pengecut sekali, bukan? Syukurlah saya tak kelewat goblok buat menerapkannya di dunia nyata.
 
 
Kulkas 
 
Berbeda dengan benda sebelumnya yang jelas-jelas memiliki makna, kulkas semestinya tidak memiliki nilai spesial. Namun, saya ingin mencoba mengisahkan barang yang awalnya tampak remeh ini bisa berubah menjadi cukup berarti bagi diri saya.
 
 

 
“Kok tumben airnya kurang dingin, Mbak? Minumannya baru pada masuk, ya?” ujar salah seorang pembeli kepada ibu saya.
 
Saya mendengar komentar tersebut dari kamar dengan perasaan janggal. Sebagai orang yang bertugas memasukkan aneka minuman ke dalam kulkas pada siang harinya, sementara sekarang sudah menjelang waktu Isya, saya menduga ada yang tak beres dengan kulkasnya jika pembeli sampai komplain demikian. Berhubung kulkas itu telah terendam dua kali saat banjir tahun baru dan 18 Januari, barangkali kurang dinginnya minuman yang ada di kulkas merupakan tanda-tanda mau rusak.
 
Saya mengingat ucapan tukang servis kulkas pada tempo hari yang sempat bilang bahwa kulkasnya tak perlu diperbaiki. Yang penting jangan dinyalakan dulu selama sepuluh hari, tunggu sampai benar-benar kering. Apakah dia betul-betul berbaik hati ketika memberikan saran agar kami tak perlu buru-buru mengeluarkan uang, atau sesungguhnya lagi malas menyervis pada musim hujan yang rawan banjir ini? Tapi, bukankah tukang servis seharusnya gembira jika banyak orang yang meminta jasanya? Siapa sih orang yang enggak suka duit?
 
Apa pun alasan tukang servis mengatakan hal itu, kini ibu saya sudah tak berminat menyervisnya dan justru ada pikiran untuk menjualnya saja lantaran Ayah kerap mengeluh soal iuran listrik per bulan yang melonjak naik sejak kami berjualan minuman dingin.
 
Ide menjual minuman dingin ini sebetulnya datang secara dadakan. Sebulan sebelum bulan Ramadan 2019, ada salah seorang tetangga yang terlilit utang sampai-sampai terpaksa menjual perabotan-perabotan di rumahnya, lalu menawarkan boks pendingin (freezer) kepada ibu saya. Dia memberikan harga yang terbilang murah untuk barang seken. Tak tega melihat paras tetangganya yang muram dan memohon-mohon, ibu saya pun lekas membelinya dan menaruhnya di pojokan rumah.
 
Saya dan Ayah baru sempat bertanya mengenai barangnya dan belum memprotes tindakannya itu, tapi ibu saya langsung melempar gagasannya, “Nanti bulan puasa kita mulai jualan es batu.”
 
“Cuma sebulan doang jualannya, Bu?” tanya saya.
 
“Ya, sampai seterusnya kalau bisa. Nah, kamu nanti sama Sadam (adik saya) yang ngisi air ke plastik. Keuntungannya nanti dibagi juga ke kalian deh.”
 
Meskipun status saya saat ini masih pekerja lepas yang lebih banyak waktu santainya serta membutuhkan pemasukan tambahan, saya tetap tak tertarik dengan tawaran itu. Berapa sih keuntungan menjual es batu? Lebih-lebih ayah saya pun berkata, “Duit dari keuntungannya aja nih saya jamin enggak akan bisa buat bayar listrik.”
 
“Belum apa-apa kok udah ngomong begitu.”
 
Tahu kalau sebentar lagi akan terjadi perdebatan sengit, saya langsung pindah ke kamar.
 
Alih-alih menjual es batu, kami jadinya malah menjual minuman dingin, sebab ibu saya lagi-lagi menolong tetangga lain yang datang ke rumah seminggu setelah membeli boks pendingin. Tetangga itu mulanya cuma iseng berkomentar tentang benda baru ketika sedang mampir ke rumah kami, lalu begitu mendengar cerita ibu saya tentang membantu tetangga dan ide menjual es batu, si tetangga ini dengan mantapnya ikutan menawarkan kulkas bekas yang sudah tak terpakai dengan iming-iming harga murah dan bayarnya pun boleh dicicil.
 
“Lumayan banget sih keuntungan dari jualan minuman pas saya masih buka warung, Mbak,” ujarnya.
 
Ibu saya tergiur begitu saja bagaikan anak kecil yang membeli ciki karena di dalamnya ada hadiah tazos. Sepertinya ibu saya mudah sekali kasihan sama orang yang jago memasang tampang melas. Saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan beliau ini merupakan tipe-tipe manusia yang gampang dikibuli. 
 
Pada suatu malam sepulangnya dari bekerja, ayah saya mendadak kesal melihat kehadiran kulkas baru yang konon mau dipakai jualan minuman ini. Perdebatan pun kembali terjadi. Saya lagi-lagi kabur ke kamar dan menyetel musik dengan volume kencang menggunakan penyuara kuping agar tak mendengar keributan itu.
 
Pendek cerita, seminggu sebelum bulan puasa kami mulai mengisi kulkas dengan air putih botolan, teh gelas maupun botol, minuman rasa jeruk, minuman bersoda, dan susu. Ibu telah membuat kesepakatan dengan Ayah bahwa akan ikut membayar 100-200 ribu buat tambahan iuran listrik bulanan sekiranya betulan melonjak naik.
 
Air putih botolan dingin adalah minuman yang paling banyak diminati dan cepat ludes, sehingga saya mesti ke agen saban 2-3 hari sekali. Saya sudah tak memikirkan keuntungannya yang bakal dibagi dengan diri saya. Bisa ikut meminum minuman yang tersedia ketika lagi kepengin pun sudah lebih dari cukup. Saya diam-diam juga berharap agar uang penjualannya memang bisa untuk bayar listrik yang sudah pasti naik, kalau perlu sekalian memperoleh keuntungan besar.
 
Terus, bagaimana dengan nasib boks pendinginnya? Ujung-ujungnya barang keparat tersebut dijual lagi ke tetangga lain yang lebih niat berdagang es batu serta es krim. Nah, yang saya tak habis pikir, mengapa harga jualnya sudah turun 150 ribu sekalipun kami belum pernah menggunakannya? Jika dia memang berniat berjualan, bukan cuma ide iseng sebagaimana yang muncul di kepala ibu saya, kenapa enggak dari awal dia saja yang menolong tetangga yang terlilit utang itu? Uang segitu kan lumayan juga buat kami. Keluarga kami selalu berusaha merasa berkecukupan, tetapi saya tahu betul bahwa kondisi kami masih jauh sekali dari kata tajir. Ibu saya semestinya lebih bisa menahan diri untuk melihat situasi.
 
Kembali ke persoalan kulkas yang menunjukkan tanda-tanda rusak, selain suhunya jadi kurang dingin, kini tepat di bawah lemari pendingin itu mulai banyak genangan. Ada kebocoran entah di bagian mananya pada kulkas itu. Sampai-sampai kami kudu mengepel beberapa jam sekali ataupun meletakkan kain gombal supaya bisa menyerap airnya.
 
Semenjak Maret datang, kulkas itu sudah tak beroperasi lagi. Ia hanya menjadi pajangan di sudut halaman rumah. Mungkin setelah terendam banjir untuk yang ketiga kalinya pada 23 Februari, benda itu kehabisan daya tahan dan tak lagi mampu mengeluarkan hawa dinginnya. 
 
Sebagai orang yang rutin membeli minuman ke agen, hingga mulai terbiasa menghirup aroma tubuh para kuli pekerja keras yang mengangkat beban berat dan upahnya tak seberapa, lalu memasukkan minuman-minuman itu ke kulkas sekaligus menatanya dengan rapi, serta melayani berbagai macam pembeli, entah kenapa timbul kesedihan di dalam diri sewaktu sadar bahwa kegiatan yang sudah saya jalani hampir setahun ini terpaksa dihentikan. Tapi mau bagaimana lagi, selepas enam bulan berdagang, khususnya begitu memasuki musim penghujan, daya jualnya memang mulai berkurang. Saya yang tadinya terbiasa membeli air putih botolan ke agen sebanyak tiga kali dalam seminggu, kini cuma seminggu sekali. Itu pun lebih sering diminum sendiri oleh adik saya untuk bikin sirup.
 
Belum lagi sejak kami menerapkan kalau kulkas itu tak perlu dikunci pada malam hari karena beberapa pembeli adalah manusia-manusia yang hobi begadang. Saya sih mencoba percaya sama mereka yang mengambil produknya duluan, kemudian membayarnya belakangan sesuai dengan jumlah minuman yang mereka konsumsi. Namun, itu tak menutup kemungkinan adanya pembeli gelap alias pencuri, kan? Terbukti waktu itu saya baru mengisinya pada siang hari, dan keesokan paginya beberapa minuman berkurang, sedangkan uang yang masuk hanya sedikit.
 
Terlepas dari kenyataan mereka lupa membayar ataupun yang dengan sengaja mengambilnya diam-diam, intinya kami tetaplah rugi. Apalagi Ayah juga mulai mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Kalau udah enggak menghasilkan keuntungan, buat apa maksain diri tetap jualan?” Hal itulah yang meyakinkan ibu saya untuk tidak menyervisnya dan berhenti berdagang minuman dingin. Hilangnya kegiatan belanja ke agen dan menyusun aneka minuman ke dalam kulkas itu seolah-olah bikin diri saya habis kena pecat tanpa pesangon.
 
 
Rak Buku 
 
Saat lagi asyik rebahan seraya merenung pada waktu menjelang tidur, saya terkejut mendengar bunyi buku-buku yang ambruk dari rak di sebelah kanan saya. Saya mendapati kayu pada rak yang posisinya nomor dua dari bawah terlepas dari pasaknya. Begitu mau saya coba pasang kembali, rupanya lubang pada kayu itu sudah jebol. Efek terendam banjir pada awal tahun itu kayaknya bikin kayunya jadi lapuk. Saya masih tak percaya kalau rak ini harus kehilangan salah satu bagiannya. Saya spontan mengutuk banjir yang bikin rak buku saya jadi cacat.
 
 


 
Sewaktu saya berumur 22 tahun, ibu saya memberikan kado berupa rak buku yang tengah saya maksud. Semua bermula ketika saya sedang menemaninya ke Carrefour daerah Permata Hijau untuk belanja bulanan. Ketika semua produk yang pengin dibeli sudah masuk tas keranjang, ibu saya tiba-tiba bertanya, “Kamu katanya mau beli rak buku, Yog?”
 
“Kerjaan yang waktu itu belum dibayar, Bu.”
 
Sejak mengambil beberapa tawaran kerja lepas pada Mei 2017, saya memang bermaksud menggunakan salah satu bayarannya yang bernilai 300 ribu untuk dibelikan rak buku setelah invois itu cair. Sialnya, bayaran yang datang terlebih dahulu justru berbentuk voucer belanja di salah satu toko daring. Bayaran yang saya tunggu-tunggu dalam bentuk uang masih tak jelas kapan ditransfernya. Jadilah saya terpaksa menunda hasrat buat membeli rak buku.
 
“Enggak usah nunggu dibayar, beli aja sekarang mumpung kita di sini.”
 
“Entar aja. Toh, tabunganku di rekening juga enggak seberapa.”
 
Ibu pun bilang mau membelikan saya rak buku tersebut. Tentu saja aneh saat saya mendengarnya. Bukannya gengsi atau ada hal lain, tapi saya memang tak suka meminta hal-hal yang saya inginkan kepada siapa pun. Saya lebih senang membayar pakai uang pribadi. Apalagi sejak usia 17 juga sudah terbiasa bekerja dan mencari uang sendiri.
 
“Anggap aja hadiah ulang tahun kamu. Kamu kan anaknya enggak pernah minta apa-apa. Sesekali biar Ibu beliin.”
 
Sejak kecil saya nyaris tak pernah mendapatkan kado ulang tahun dari orang tua. Mereka hanya sempat membuat syukuran kecil-kecilan dengan memasak nasi kuning, lalu mengantarkannya kepada tetangga. Kadonya palingan berbentuk sepatu atau tas baru buat sekolah. Itu pun kalau tak salah waktu saya masih SMP. Selebihnya tak pernah.
 
Sekali-sekalinya saya mengadakan syukuran atas kemauan sendiri saat saya menginjak usia 19. Saya menyisihkan sebagian gaji dan memberikannya kepada Ibu, bermaksud meminta tolong supaya dibuatkan berbagai macam makanan. Saya berniat mengundang 20 teman kantor yang paling akrab ke rumah saya untuk makan-makan sebagai pengganti mentraktir mereka di restoran. Tujuannya agar lebih hemat dan seandainya ada makanan lebih bisa diantarkan ke tetangga.
 
Namun sejak usia 20-an, saya perlahan-lahan benci dengan perayaan ulang tahun semacam itu. Tak ada lagi traktir-traktir pada hari kelahiran dan merayakannya bareng teman. Saya lebih suka menikmatinya dengan kesendirian, lalu muhasabah diri.
 
Oleh sebab itulah, saya merasa aneh ketika ibu saya ingin memberikan kado ulang tahun. Ibu saya tetap mengotot mau membelikan sekalipun saya sudah bilang tak usah. Ditambah lagi saya juga rada takut menolak pemberiannya itu justru kelak melukai hatinya. Jadi, saya tak ada pilihan lain selain menerimanya. Sebagaimana tujuan awal saya yang kepengin rak buku seharga 300 ribu, kami pun membeli yang kisaran segitu.
 
Sayangnya, rak buku 340 ribu yang umurnya baru berjalan tiga tahun itu kini mulai cacat akibat terendam banjir. Kayunya termasuk lemah terhadap air, kemudian lapuk. Kado ulang tahun saya telah rusak. Sialan, sedih juga ternyata melihat kondisi rak buku malang itu.
 
Saya memandangi dua puluhan buku yang sementara ini saya letakkan di kasur dengan berpikir: kalau rak bukunya jebol, lantas buku-buku ini mau taruh di mana lagi? Kala itulah muncul gagasan untuk memfilter buku-buku yang sepertinya sudah tidak dibaca lagi. Satu jam berselang, saya akhirnya berhasil memisahkan buku-buku berikut ini dan berniat menjualnya dengan harga (yang semoga) terjangkau.
 
 
Paket Sastra
 
 

 
Ayah, Andrea Hirata (kondisi kertasnya agak buruk, menguning atau kecokelatan alias berjamur) 25.000; Maryam, Okky Madasary (novel sastra tentang kaum agama minoritas yang menang Kusala tahun 2012): 27.000; Sri Menanti, Joko Pinurbo (kondisi hampir seperti baru): 29.000; Cerita buat Para Kekasih, Agus Noor (sampul lawas dan masih segel): 30.000. Beli sepaket harganya jadi Rp105.000.
 
 
Paket Hemat 
 
 
Adriana, Fajar Nugros: 17.000; Digitalove, antologi kumcer: 16.000; Spora, Alkadri. 15.000. Sepaket harganya Rp40.000.
 
 
Paket Haris Firmansyah
 
 

 
Wrecking Eleven, 3 Koplak Mengejar Cinta, Date Note, Good Hobby vs Bad Habit, Nyengir Ketupat. Tidak dijual satuan. Sepaketnya Rp65.000.
 
 
Paket Ratih Kumala
 

 
Tabula Rasa (novel) dan Bastian dan Jamur Ajaib (kumcer) seharga 45.000. Tambahan The Black Cat, Edgar Allan Poe, 36.000. Membelinya sekaligus menjadi Rp75.000.
 
 
Paket Bukune
 
 

 
Nina van Coupen, Alex Gunawan: 14.000; Martabak Asam Manis, Fico Fachriza: 16.000; Rasa Cinta, antologi kumcer: 18.000; Rebound Love, Satria Ramadhan: 19.000; Keset Kusut, Arie Je: 22.000. Beli sepaket jadi Rp85.000.

Paket Gagasmedia
 
 
 
Romeo Gadungan, Tirta Prayuda 20.000; Bintang Bunting, Valiant Budi: 20.000; Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu, Winna Efendi: 20.000. Beli sepaket jadi Rp55.000.
 
Untuk pemesanan silakan hubungi surel saya: ketikyoga@gmail.com. Harga itu belum termasuk ongkos kirim.

-- 
 
Pembaruan: buku yang dicoret berarti sudah laku.

 
PS: Pertimbangan harga saya buat berdasarkan tahun rilis maupun kapan belinya, ketebalan dan kondisi buku, serta nilai sentimental. Terkadang miris juga kalau dipikir-pikir ataupun diingat, bahwa mayoritas buku itu saya beli di atas 50 ribu, dan kini dijual tak sampai setengahnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga kepepet dan butuh uang. Sekiranya di antara kamu ada yang pernah merasa memberikan beberapa buku dalam daftar itu kepada saya, terus kecewa begitu mengetahui saya menjualnya, saya cuma bisa meminta maaf. Alasan mengapa saya menjualnya mungkin bisa kamu temukan di kisah Menghargai Pemberian yang pernah saya tulis pada 2017 dan diterbitkan ulang oleh Loop pada 2019.
 
Orang yang membeli buku paketan akan lebih diprioritaskan. Seumpama kamu cuma tertarik 1-2 buku di paket-paket itu, saya akan menunggunya selama tiga hari. Jika memang tak ada yang berminat membeli paketan dalam jangka waktu itu, barulah saya jual secara satuan. Terima kasih.


Sumber gambar boks pendingin:

https://www.pricebook.co.id/article/market_issue/2018/08/14/8719/freezer-es-terbaik-dan-termurah

Read More
Previous PostOlder Posts Home