Rencana pindahan rumah ternyata bukan sekadar urusan otot, kardus bekas, dan berbagai hal lain yang bikin ribet. Ia juga merupakan kerja perasaan dan kenangan-kenangan di dalamnya. Aku kini sedang berdiri di depan lemari yang sudah setengah kosong, menarik sebuah gantungan yang tersangkut di barisan paling belakang. Ada sebuah kemeja merah di sana. Bahannya tergolong kaku. Campuran katun dan poliester murahan yang kalau dipakai di siang bolong rasanya seperti berjalan mendekati neraka. Warnanya merah cerah dengan bordiran logo organisasi di dada kiri yang benangnya mulai terurai sedikit. Aku menatapnya terus-menerus, dan seketika bau apek kain itu malah menyeretku kembali pada momen sekitar empat tahun silam, masa di mana segala hal tentang menyudahi hidup terasa masuk akal.
Kala itu, hidupku memang sedang berada di titik nadir. Dompetku lebih sering berisi struk tagihan ketimbang lembaran uang. Nah, kemeja merah di tanganku ini adalah saksi bisu betapa pahitnya menjadi orang yang dipaksa tampil gagah saat isi perut sedang bergejolak. Kenangan itu mendadak menyeruak dan melemparkan memoriku ke sebuah pesan singkat yang dulu membuat jempolku gemetar pada malam hari.
--
—Juli 2022
“Boleh enggak, sih, Mas, kalau dibatalin aja? Atau dikasih ke yang lain, gitu? Kami sekeluarga lagi pada enggak punya duit. Ini aja aku ikut pusing. Duitnya buat bayar ini dan itu dan masih kurang,” ujar seorang tetangga yang masih SMA ketika aku bermaksud menagih pembayaran kemeja lengan panjang, seragam organisasi sosial di lingkungan kami.
Terus terang, saat aku membaca pesan itu hati rasanya langsung remuk, sebab aku paham banget rasanya enggak punya uang dan mesti membayar berbagai tagihan, khususnya dalam enam bulan terakhir. Jika aku punya uang banyak, kala itu juga mungkin aku bakal membalas: “Ya udah, seragamnya simpan aja dan anggap udah lunas. Nanti biayanya aku yang tanggung.” Sialnya, keinginan buat menolong orang lain itu tak mungkin aku lakukan. Karena aku sendiri juga dalam kondisi sulit, yang artinya harus menolong diri sendiri terlebih dahulu.
Sebenarnya harga kemeja itu tergolong murah, hanya seratus ribu sekian. Namun, di situasi krisis seperti ini, uang segitu bahkan bisa untuk memperpanjang hidup selama seminggu alias buat beli makan. Bagiku, pangan jelas lebih diutamakan daripada sandang.
Yang jadi masalahnya adalah, aku benci dengan seorang anggota yang menginisiasi pembuatan seragam ini, lebih-lebih dia justru belum membayarnya sepeser pun (sejauh yang aku tahu, minggu lalu dia juga masih belum bayar). Yang lebih aku tak paham lagi, keputusan kawanku sendiri, Agus, selaku ketua organisasi yang lebih mementingkan pembuatan seragam ini tanpa pernah sekali pun mendengarkan sekaligus memikirkan suara minoritas.
Dari belasan pengurus, akulah satu-satunya yang berani berkata lantang buat menolak pembuatan seragam itu. Alasan utamanya terlalu jujur dan sepele memang, aku lagi bokek. Alasan lain: jika memang ingin tampil seragam, kenapa enggak memilih warna aja? Kami kan bisa tinggal memilih baju, kemeja, kaos, sweter, jaket, atau pakaian apa pun yang berwarna sama, yang telah kami miliki, tanpa harus membeli baru.
Namun, yang akhirnya terjadi: para pengurus katanya wajib bikin, supaya menjadi contoh buat anggotanya. Demi menghargai pertemanan kami, dan seingatku Agus telah berbuat baik dan menolongku berulang kali, aku pun berusaha menyisihkan dana sekalipun keadaannya betulan ketar-ketir.
Sampai hari ini, aku tak pernah tahu siapa aja pengurus yang menombok biaya pembuatan seragam itu, dan menalangi beberapa anggota yang masih menunggak. Aku tak mau ambil pusing. Bahkan setelah melapor terkait ada anggota yang mengeluh tak punya uang, aku juga tak mau repot-repot mencari solusi lagi.
Satu bulan telah berlalu sejak seragam itu dibuat, dan selama itu pula aku pernah mendengar beberapa keluhan dari sesama pengurus. Misalnya, “Kok tiba-tiba berubah warna, sih? Kan tadinya sepakat warna krem atau abu-abu, pas jadi malah warnanya merah ngejreng begitu.”, “Bahannya panas, ya.”, “Ini ujung-ujungnya cuma dipakai 1-2 kali, terus udah menuh-menuhin lemari doang.”, “Sebetulnya gue juga enggak setuju bikin seragam begini. Gaji gue kecil, eh ada aja pengeluaran yang sampai dipaksa begini.”
Sejak awal aku juga sadar bahwa kemeja tersebut bakal jarang terpakai, apalagi tahun depan aku betul-betul memutuskan tak mau terlibat kepengurusan tetek bengek itu lagi. Anehnya, kenapa mereka-mereka yang akhirnya mengeluh ini tak berani mengutarakan pendapatnya sedari awal? Aku benar-benar heran.
Andaikan mereka berani bersuara, aku kira keputusan-keputusan penting dalam suatu organisasi pada akhirnya tak akan menimbulkan penyesalan, sebab hasil mufakat itu murni dari hati mereka masing-masing, bukan karena keterpaksaan. Dan kejadian ini cukup mengajarkanku betapa pentingnya mendengarkan suara minoritas, atau suara orang yang enggak sependapat denganku. Sejauh yang aku tahu, suara minoritas biasanya sungguh penting. Sudut pandang mereka yang berbeda dari mayoritas bisa melahirkan diskusi hingga sampai ke titik temu, yang berakhir win-win solution. Bukan malah mengorbankan minoritas, yang membuat mereka terpaksa mengikuti arus.
Keherananku pun berujung pada satu kesimpulan pahit. Banyak orang lebih memilih menderita dalam diam daripada dianggap berbeda, padahal sebuah keputusan yang lahir dari kepura-puraan hanya akan menyisakan kedongkolan tanpa ujung.
--
Aku refleks meremas lengan kemeja seragam merah itu sejenak. Aku merasakan teksturnya yang kasar dan kaku, persis seperti cara sebagian pengurus organisasi memperlakukan anggotanya. Tanpa ragu, aku menaruhnya lagi ke lemari, membiarkannya berada di ujung dan tertutup pakaian-pakaian lain. Sudah tidak ada lagi yang perlu dibawa, dan aku pun menutup pintu lemari yang hampir kosong.
Aku melangkah keluar kamar dan berpamitan kepada kedua orang tuaku. Selama perjalanan bolak-balik membawa barang-barang dari rumah menuju mobil pikap yang terparkir, aku semakin menyadari bahwa suara yang paling pelan dan berbeda justru seringnya adalah suara paling jujur yang menjaga kemanusiaan kita.
Mendengarkan suara minoritas, suara mereka yang ragu, yang tidak setuju, yang gagasannya berbeda, bukanlah bentuk kelemahan. Justru di sanalah letak keselamatan sebuah kelompok atau organisasi. Sudut pandang yang berbeda seringkali adalah peringatan akan adanya lubang di depan jalan. Jika Agus hanya ingin mendengarkan suara anggota-anggota yang sepakat, dia jelas bukan sedang memimpin organisasi, dia justru sedang membangun menara gading yang fondasinya rapuh. Lagi pula, apa kerennya jadi pemimpin kalau cuma bisa memerintah orang-orang penurut? Itu kan sama aja seperti kepemimpinan otoriter. Jika terjerumus terlalu dalam, lama-lama orang itu pun jadi merasa benar sendiri, dan menurutku sangat menyedihkan. Kondisinya persis seperti pemimpin kita saat ini.

0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.