Di rumah kami, hantu bukanlah subjek film horor yang butuh efek suara menegangkan. Mereka saat ini lebih mirip kerabat jauh yang tahu diri: hanya izin menumpang dan tak mau ikut campur urusan rumah tangga. Namun, itu adalah pemikiranku dalam 5 tahun terakhir, karena pada masanya, mereka gemar sekali cari perhatian.
Jika ingatanku tak berkhianat, kejadian terakhir kali yang aku ingat perkara hantu ini saat tahun 2018 atau 2019 selepas azan Magrib. Aku sedang melakukan ritual paling khusyuk di abad ini: senderan di tembok kamar sambil menggulir layar ponsel. Pintu sengaja kubuka sedikit, dan menciptakan celah intip ke arah kamar orang tuaku. Di sana, aku melihat sekelebat kain putih bergerak-gerak. Ah, mukena. Logikaku yang malas segera menyimpulkan itu Ibu sedang salat. Mungkin beliau baru saja rehat sejenak setelah dua jam mencuci pakaian.
Jadi, aku hanya kembali fokus dengan ponselku. Kala sedang asyik-asyiknya menonton video lucu di internet, ibuku lantas masuk ke kamarku sambil membawa sajadah.
“Lah, ngapain salat lagi, Bu? Tadi bukannya sudah salat di kamar sebelah?” ujarku.
Ibu menoleh, menatapku dengan jenis tatapan yang biasanya diberikan kepada orang yang baru saja mengaku melihat UFO. “Kapan Ibu salat? Ibu baru selesai bilas cucian.”
“Tapi tadi kayaknya ada yang salat di sebelah.”
“Oh,” Ibu menyahut datar. “Itu paling si Kakek. Dia penunggu rumah ini.”
Lalu Ibu mulai takbiratul-ihram. Selesai. Diskusi ditutup terlalu cepat. Aku cuma bisa bilang “Oh” juga. Tak ada teriakan, tak ada aksi lari keluar rumah sambil ketakutan.
Di rumah kami ini, kalau kamu melihat sosok putih salat di kamar orang tuaku, itu bukanlah hal yang perlu dibawa panik, sebab itu cuma tanda bahwa hantu di sini ternyata lebih saleh daripada penghuninya. Oleh karena itulah, aku yang sejak tadi menunda salat Magrib, merasa sangat malu, lantas segera mengambil wudu dan salat.
Pengalamanku terkait hantu ini sebenarnya sudah dimulai sejak aku kelas dua SD. Waktu itu, aku bertugas menjaga Sadam, adikku yang masih balita, karena Ibu mau mandi sore. Kami sedang asyik bercanda, atau lebih tepatnya, aku sedang mengerjainya. Tak lama, tiba-tiba Sadam menangis dengan volume yang bisa terdengar hingga ke tetangga sebelah, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.
Aku minta maaf atas keusilanku. Tapi tangisnya justru semakin keras. Ketika tangan Sadam menunjuk-nunjuk, saat itulah aku refleks menoleh ke pojokan kamar. Rupanya ada sesosok putih yang tengah berdiri. Aku sempat mengira itu Ibu yang sudah selesai mandi dan lanjut salat Magrib. Tapi dari arah kamar mandi, suara air yang mengguyur lantai masih terdengar begitu jelas. Oke, enggak mungkin ibuku bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Mengingat empat hari sebelumnya Sadam sempat berpapasan dengan hantu bungkus alias pocong di samping rumah, aku pun memahami situasinya. Aku segera mengambil bantal untuk menutupi mukaku, lantas menjerit dan memanggil ibuku.
Sejujurnya, ingatanku saat ini akan rupa pocong itu benar-benar sudah kabur. Apakah ia tidak punya hidung? Apakah wajahnya hancur? Aku jelas tak ingin memaksakan diri untuk berimajinasi soal wajahnya. Biarlah ia tetap menjadi misteri, seperti janji-janji kampanye pejabat kita.
Puncak dari keisengan hantu di rumahku terjadi saat aku duduk di bangku SMP, sekitar tahun 2008—2009. Saat itu, rumah kami masih dihuni Nenek sang pemilik rumah, adik ipar nenekku dari garis Ayah. Suatu malam, sekitar jam sepuluh, aku baru saja mau memejamkan mata dan entah kenapa kasurku mulai bergoyang. Awalnya cuma seperti getaran ponsel, lama-lama jadi seperti berada di atas kapal yang dihantam oleh badai. Aku spontan melompat, lari ke ruang depan, dan berteriak, “Gempa. Gempa. Gempa.”
Nenek yang sedang tidur di kamar sebelah seketika terbangun, langsung menyumpahiku ini-itu, dan bilang jantungnya nyaris copot. Ayahku, yang sedang khusyuk menonton televisi, juga ikut menimpali dengan ketus, “Mimpi buruk doang kamu palingan itu. Gempa dari mana, sih?”
Aku pun kembali ke kamar dengan harga diri yang terluka. Begitu aku rebahan dan memejamkan mata selama 5 menit, kasur itu kembali bergoyang lagi. Oke, ini bukan gempa bumi, ini gempa kecil akibat ulah si hantu. Tapi karena rasa kantukku jauh lebih besar daripada rasa takut, aku hanya mengucap pelan, “Tolong ya, goyangannya jangan kencang-kencang, aku ngantuk. Aku mau sekolah besok.” Dan ajaibnya, aku benar-benar tertidur pulas.
Besoknya, aku tak punya pilihan selain mengungsi ke ruangan depan. Kamarku kini akhirnya jadi semacam tempat untuk ajang keberanian bagi keluargaku.
Ibu dan Sadam yang awalnya sempat mengejekku saja, dua hari kemudian ikut panik terbirit-birit dengan alasan yang sama: kasurnya goyang melulu, rasanya ngeri. Ayahku, sebagai kepala rumah tangga, yang awalnya cuek dengan gangguan itu, akhirnya menyerah seminggu kemudian. Beliau keluar kamar dengan wajah kecut, mengakui kalau kasurnya memang punya kehendak bebas untuk bergoyang-goyang.
Kami sempat mau mengosongkan kamar itu saja, tapi tetangga yang sempat mendengarkan cerita kami lekas berkomentar, “Kamar kosong malah jadi sarang bagi hantu. Mereka bakal makin betah.”
Akhirnya, kami memilih jalur negosiasi: kami tetap tidur di sana secara bergiliran. Lama-lama, kami justru jadi terbiasa. Goyangan itu pun semakin lama menghilang. Ya, barangkali si hantu sadar kalau guncangannya tidak lagi bikin kami takut, melainkan malah membuat kami tidur lebih nyenyak.
Memasuki masa SMK pada tahun 2011, aku tak tahu apakah hantu itu berganti sosok atau sikapnya mulai berubah. Yang jelas, jika tadinya dia usil entah untuk alasan apa, sekarang menjadi sosok yang gemar mengingatkan ibadah. Aku menyimpulkan begini karena aku pernah terbangun pada jam dua pagi dan melihat sesosok pria masuk ke kamarku yang sengaja dibiarkan tak terkunci. Aku pikir, itu Ayah mau salat Tahajud sebagaimana biasanya, jadi aku segera tidur lagi. Tapi setelah aku konfirmasi keesokan harinya, ternyata Ayah bilang semalam tidur pulas di kamarnya sendiri, dan baru bangun saat azan Subuh. Aku pun merinding.
Beberapa hari kemudian, ayahku gantian bertanya, “Yog, kamu semalam bangunin Ayah sekitar jam 1, ya? Ayah ngerasa kaki Ayah ditepuk-tepuk.”
Aku menggeleng. Ayahku pun manggut-manggut dan berkata, “Mungkin diingetin karena belum salat Isya. Baguslah, hantu di sini sepertinya jin Muslim.” Aku cuma bisa melongo.
Di film-film horor yang pernah kutonton, hantu penghuni rumah itu biasanya bikin orang kesurupan atau ada adegan berdarah-darah, tapi entah mengapa hantu di rumahku malah jadi asisten pribadi untuk urusan mengingatkan ibadah. Ini satir yang luar biasa: ketika hantu lebih peduli pada kewajiban agamamu ketimbang dirimu sendiri.
Pada tahun 2012, Nenek pemilik rumah meninggal, dan setahun kemudian adik bungsuku yang masih bayi menyusul. Selepas menghadapi kematian dua tahun berturut-turut, aku merasa hawa di rumah jadi semakin berbeda. Orang tuaku merombak kamar Nenek dan mereka membiarkannya kosong. Ayah dan Ibu lebih senang tidur di kamarnya yang dekat dengan kamar mandi. Sadam lebih suka tidur di ruangan depan dengan menggelar karpet. Aku? Aku mau tak mau tetap bertahan di kamarku.
Berhubung kamar sebelah bekas Nenek masih dibiarkan kosong (yang bertahun-tahun kemudian barulah menjadi kamar orang tuaku), aku merasa terkadang pintu kamarku suka bergeser sendiri seolah-olah terdorong angin. Terkadang ada juga sekelebat putih melintas dari arah kamar mandi menuju dapur. Ya, semua itu bakal terlihat jika aku membiarkan pintu kamarku terbuka lebar.
Dulu, aku benar-benar sangat ketakutan. Tapi sekarang, aku lebih senang kalau menganggap mereka hanya ingin permisi dan numpang lewat.
Karena kita terlalu sibuk mengurusi yang “tampak”, mereka yang “tak tampak” ini kayak tersisihkan begitu saja. Padahal hantu, seperti makhluk hidup lainnya, juga punya habitat. Di pohon, hutan, sungai, laut, gunung, dan tempat-tempat lain. Sayangnya, manusia sering merusak semua tempat itu. Jangankan “mereka” yang tak terlihat, coba bagaimana nasib para hewan dan tumbuhan ketika habitatnya itu rusak?
Kita hidup di dunia yang sudah terlalu penuh dengan manusia-manusia laknat yang gemar merusak habitat makhluk lain. Pohon ditebang, sungai diuruk, laut dicemari. Kalau hewan-hewan saja sudah bingung mau tinggal di mana, bagaimana dengan para hantu? Wajar saja, kan, jika mereka mengungsi ke rumah-rumah warga? Jadi, kalau kita saja tidak bisa menghargai mereka yang “tampak”, bagaimana kita bisa menghargai mereka yang “tidak tampak”?
--
Draf mentahnya ditulis pada 2018-2019.


0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.