Ada yang tahu Widy?


Kalau pertama kali baca judul yang terlintas di pikiran, atau kalian menebak tulisan ini tentang Widy mantan vokalis Vierra....

Itu salah!

Karena memang bukan.

Jika kalian juga berpikir kalau Widy itu salah satu dari anggota Cagur....

Nah, ini lebih salah. Emang ada ya Widy Cagur?
Wendy woy!

Oke, daripada bermain teka-teki begini, lebih baik gue akan memberi tahu atau bercerita ke kalian.


***
Read More
Hari ini udah Senin lagi.
Gilaaaa. Cepet banget.

Monday! Sumber: INI


Banyak orang yang bilang, “Senin ke Minggu itu rasanya lama banget. Giliran Minggu ke Senin itu cepetnya pake banget-banget. Double banget. Ah, pokoknya pengin buru-buru Sabtu.”

Mereka seperti komplain akan hari Senin.
Nggak adil, sih, menurut gue. Mentang-mentang habis Minggu itu Senin. Dan Senin itu hari di mana orang-orang mengawali hari.

Anehnya, kenapa cuma hari Senin yang dikeluhkesahkan?

Read More
Ada yang tahu istilah out of the box?



Hm... kayaknya kalian semua udah pada tau. Tapi biar bagaimanapun, gue akan mencoba membahasnya dari sudut pandang gue.

Mari kita mulai.

Berpikir out of the box artinya ialah berpikir yang keluar dari kotak. Maksudnya bukan berdiam diri sambil berpikir berjam-jam di dalam sebuah kotak—biasanya kardus atau lemari juga boleh—,terus setelah beberapa jam kemudian akhirnya keluar dari kardus itu karena telah menghasilkan ide-ide kreatif.

Bukaaaan weyyyy. Bukan.

Oke, maaf.

Jadi, maksudnya adalah bagaimana kita berpikir yang keluar dari sebuah kotak. Menjadi tidak seperti biasanya. Memiliki pemikiran yang berbeda seperti kebanyakan orang—in the box.
Orang yang berpikiran in the box tidak suka dengan hal yang aneh-aneh. Mereka lebih suka menjadi pengikut. Males menciptakan sesuatu yang baru. Pokoknya biasa melakukan hal-hal monoton deh.

Nah, out of the box ini sebaliknya dari itu. Bahkan orang-orang out of the box terkadang suka dikatain orang gila.

Read More
Kemarin itu katanya Hari Guru. Bener emang, ya?

Anjir. Udah lama nggak sekolah, gue jadi nggak inget tanggal gini. Biasanya kalo di sekolah, kan, ada upacara gitu. Kemudian setelah upacara nggak perlu belajar. Nah, ini favorit banget buat para siswa-siswi. Biasanya sekolah juga mengadakan perlombaan atau olahraga: guru melawan murid-murid.

Pokoknya di Hari Guru ini, sekolah membebaskan para siswanya untuk melakukan apa saja: murid boleh mainan hape di kelas; murid boleh ngobrol dan ketawa kenceng-kenceng; murid boleh jadi guru.
Oke, yang terakhir kayaknya nggak mungkin.

Karena sudah lama lulus sekolah, gue cuma bisa memeriahkan Hari Guru ini di Twitter dan blog. Namun, kemarin gue nggak sempet nulis apa-apa di blog. Di Twitter juga twit gue nggak jelas. Huft. Barangkali ada yang mau follow, @ketikyoga

***
Read More
Ada yang pernah nemenin ceweknya belanja? (buat cowok-cowok). Kalo bagi yang jomlo, pernah nemenin saudara perempuan atau ibunya belanja? Sedangkan yang cewek, ada yang hobi belanja? Nah, kalo yang cewek nggak suka belanja, pernah nemenin temennya belanja?

Bentar-bentar, emang ada cewek nggak suka belanja?

Oh, ini tidak mungkin. Belanja itu biasanya membuat mood seorang cewek seketika membaik. Bener, nggak? Ngomong-ngomong soal nemenin cewek belanja, gue sendiri pernah melakukan itu. Baik itu bersama nyokap, pacar, ataupun nyokapnya pacar (oke, yang terakhir boong).

***

Gue masih ingat betul, kala itu habis makan di restoran ayam cepat saji sama Pacar karena kelaparan setelah menonton film Captain America. Selanjutnya, ia minta ditemani ke toko jam untuk mengganti baterai jam tangannya. Setelah urusan jam tangan kelar, ia tidak sengaja melihat kerumunan orang-orang dan tulisan diskon 70% pada sebuah toko sepatu.
Read More
Di tulisan Yang Kedua kemarin, saat baru membaca judulnya, mungkin di antara kalian ada yang mencoba menebak-nebak apa isi tulisannya. Entah itu menganggap tulisan tentang gue jadi orang yang kedua (selingkuhan). Atau tentang bunyi Pancasila yang kedua: “kemanusiaan yang adil dan beradab” (ini nggak mungkin, Yog!)  Namun, bukan itu. Maksudnya adalah ulang tahun yang kedua sekaligus kepergian adik gue dua tahun lalu.

Barangkali ada yang belum membacanya. Boleh baca dulu (tetep promosi).

Selain menuliskan cerita, bagian yang paling seru dari ngeblog ialah membaca dan merespons komentar-komentarnya. Lihat tanggapan pembaca yang berbeda-beda itu seru aja. Gue salut kalo ada yang tiba-tiba ikutan curhat di kolom komentar. Mungkin sebagian tulisan gue ada yang mewakili perasaannya. Seneng saat diberikan pujian atau apresiasi, tapi lebih seneng lagi kalo ada yang berani kritik. Sehingga gue tau di mana letak kekurangan tulisan itu. Apalagi kalo ada komentar yang nggak nyambung, itu malah jadi kelucuan tersendiri buat gue.

Namun, saat baca-baca komentar kemarin, gue sendiri bingung mau respons apa. Tumben banget. Jadi misalkan ada yang kecewa sama balesan komentar gue yang singkat-singkat itu, gue minta maaf.  Eniwei, makasih banyak ya, Gaes.

Jujur aja, gue awalnya ragu untuk mem-publish tulisan itu. Penginnya cuma gue simpan di draft untuk dibaca-baca sendiri. Tadinya tulisan itu juga tidak ingin gue tambahkan komedi. Gue biarkan saja mellow. Namun, emang dasarnya gue yang kebiasaan memberi bumbu komedi, maka begitulah tulisan gue.
Read More
Sudah 2 tahun berlalu, semenjak gue kehilangan seorang adik. Enggak. Adik gue nggak nyasar, kok.  Dia juga nggak diculik. Apalagi menghilang saat memakai cincin seperti di film The Lord of The Rings.

Halah.

Baiklah, gue akan memulai cerita ini.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2015, Agus (nama seorang temen yang disamarkan) berulang tahun. Setahun sebelumnya di tanggal yang sama, (21 Oktober 2014) Agus mengajak gue dan teman-teman lainnya untuk makan-makan di sebuah restoran—yang gue lupa namanya.

Tanggal segitu seharusnya lagi hemat-hematnya, tetapi di hari itu gue bisa makan enak. Alhamdulillah. Gue sangat gembira karena bisa makan gratis di saat uang tiris. Mantap!
Sampai akhirnya, di jalan mau pulang, memori di tahun sebelumnya (21 Oktober 2013) mengubah mood gue seketika. Rasa gembira itu kemudian sirna.

Read More
KACAU!

Hari ini gue bangun sekitar pukul 3 sore. Iya, sih, ini emang hari Minggu. Tapi nggak gini juga kelelawar! (karena bosen make kata kampret)
Keseringan ngomong atau nulis kampret, hidup gue malah jadi kayak kampret beneran. Gue kemarin nggak bisa tidur, baru tidur tadi jam 9 pagi. Ini mulai nggak bener. Dua minggu belakangan ini, hidup makin nggak karuan.

Pulang dari Bandung, awalnya gue semangat banget untuk memulai petualangan baru di Jakarta. Namun, setelah gagal dapet kerja lagi, sekarang gue pun sedikit down (sebenernya waktu itu udah sempet keterima, tapi... tar deh gue ceritain di blog).
Nggak terasa banget, udah hampir setahun gue jadi pengangguran. Nanti gue dapet penghargaan apa, ya, kira-kira? Biasanya, kan, kalo anniversary orang-orang dapet hadiah gitu. Halah! (mana ada setahunan jadi pengangguran)

Read More
Di tengah proses mengetik Tulisan Jelek memang beneran terjadi pemadaman listrik. Sumpah, itu bukan alesan gue mengulur-ngulur waktu untuk nggak update blog. Lagi asyik-asyiknya ngetik dan fokus menatap layar, tiba-tiba suasana gelap dan laptop ikutan mati.

“ARGGHHH MATI LAMPU!” kata gue, reflek berteriak.

Gue tahu yang bener itu mati listrik, tapi... ya, gue termasuk orang-orang yang biasanya menyebut mati lampu. Kalian juga kayak gitu, kan?

Begonya, laptop gue pas nggak pake baterai. Jadi, gue memang terbiasa kalo main laptop yang sekiranya lebih dari 2 jam-an pasti copot baterai. Mengingat tulisan yang udah lumayan banyak, gue panik karena belum di-save. Rasanya males kalo harus nulis dari awal lagi. Gue segera memasang baterainya. Saat itu gue memang lupa kalo Ms. Word ada penyimpanan otomatisnya. Norak banget gue kalo lagi panik.
Read More
“Tulisan lu jelek amat,” kata pikiran gue kepada diri gue sendiri.

Belakangan ini, gue semacam terkena gejala di mana tulisan yang gue tulis seperti nggak layak baca. Setiap nulis, biasanya selalu apa yang terlintas di kepala dan bisa ngalir dengan sendirinya. Bahkan, saking asyiknya menulis, gue sering komentar sendiri,

“Panjang amat tulisan gue.”

“Waduh, nggak berasa udah sejam aja.”

“Anjir, nasgor gue sampe dingin kayak di Kutub Utara.” (kayak pernah ke sono aje lu, Yog!)

Iya, terkadang gue ngetik sambil makan. Kalo udah fokus menatap layar jadi lupa kalo niat awalnya pengin makan (pantes lu kurus, Yog!).
Read More
Kalo ditanya “Siapa pahlawan kamu? Dan jasa apa yang telah dilakukannya?”, tanpa ragu gue bakalan jawab: Nyokap.

Iya. Soalnya gue bukan band Wali yang bisa menjawab “Nenekku Pahlawanku”. Terus gue juga bingung misalnya jawab seorang guru. Guru gue, kan, banyak. Kalo cuma satu yang ditulis, nanti takut yang lain iri. Lagian, kata orang-orang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Oleh karena itu, ya gue milih ibu. Seseorang yang memang berjasa dalam hidup gue.

Jasa yang telah diberikan seorang ibu kepada anaknya itu banyak sekali. Gue nggak akan bisa menghitungnya. Kalaupun mau ngitung, sama aja kayak menghitung jumlah pori-pori di tubuh kita (siapa juga mau ngitungin?).
Read More
Ke Jakarta aku akan kembali. Walaupun apa yang akan terjadi.

Kalimat pembuka barusan ialah sebuah potongan lirik lagu Koes Ploes, yang lagunya baru gue denger barusan. Ada yang tau lagunya, nggak? Nggak, ya? Payah. Hahaha.... Sama aja kayak gue. Baru tau sekarang. Tadinya gue iseng ngetik “Kembali ke Jakarta” di Google buat nyari gambar. Eh, malah keluar lagu itu. Bagus nggak keluar gambar cabe-cabean.

Maaf pembukaannya terlalu ngaco.

Yuhuuuu. Gue udah sampe Jakarta lagi nih. Cerita-cerita keseruan di Bandung-nya nanti aja kali, ya?
Selama 4 hari gue menikmati suasana kota Bandung, kini gue pun pulang ke Jakarta dengan pikiran yang segar. Sesegar udara Bandung di pagi hari. Caileh. (ceritanya masih kangen suasana Bandung)
Gue berangkat dari Bandung pada Kamis sekitar jam 9-an malem, dan tiba di Jakarta—rumah gue—pada hari Jumat, pukul 04.40.

Bukannya Bandung nggak begitu jauh, ya?
Read More
Habis baca tulisan Adi, seru juga ya nyeritain beberapa masalah ke dalam bentuk tulisan random dan nggak jelas. Gue juga sebenernya bingung mau bikin tulisan apa. Gue ngerasa semuanya saling tumpuk gitu. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikiran dan bikin nggak fokus.

Makasih, Di. Tulisanmu menginspirasi gue.

Gue juga bakalan nulis yang nggak jelas (kayaknya semua tulisan gue nggak jelas, ya?).

Bodo amatlah.

Langsung aja!
Read More
Lebaran sudah berlalu dari beberapa bulan yang lalu, begitu pun juga bulan Ramadan. Namun, ada sebuah cerita yang belum sempat gue tuliskan. Karena udah kelamaan nggak ditulis, gue hanya bisa menuliskan beberapa hal yang gue ingat saja.

Semua berawal dari gue yang banyak waktu santainya (dibaca: nganggur) sedang membaca artikel dari website Nyunyu. Dari sekian banyak artikel, mata gue langsung tertuju pada judul ‘Quiz Ramadan Part 1’. Sebagai pecinta gratisan, gue pun langsung membaca isi artikelnya.

Ternyata kuisnya hanya menjawab pertanyaan dari menonton video Nyunyu tentang Orang Kaya Baru.

Setelah gue tonton videonya, gue segera memberi komentar. Lalu gue perhatikan, sudah banyak yang ikutan. Gue jadi pesimis untuk menang. Tapi gapapa deh, gue tetep usaha supaya dapet hadiah itu. Kalo ikutan kuis mah yang penting berpartisipasi dulu, kalo menang anggep aja itu bonus. Oiya, hadiahnya berupa kaos dan buku catatan.
Read More
Semalem kalian mimpi apa, Gaes? Ada yang inget?

Kalo gue semalem mimpi... bentar-bentar, semalem gue mimpi apa, ya? Anjir, kok gue malah lupa.

Ya udah, gue mau nginget dulu. Sambil mengingat mimpi gue semalem, gue bakalan nulis beberapa hal tentang mimpi. Tenang aja, bukan mimpi basah, kok. Walaupun tadi pas ngecek ada yang basah-basah gitu.  Oke, itu maksudnya iler ya, bukan “itu yang aneh-aneh”. Kalian ini jangan mikir mesum dulu dong!

Biasanya, banyak cowok jomlo yang berkata, “Mimpi apa gue semalem, bisa duduk sebangku sama cewek cantik kayak gini di metromini?” ketika lagi naik angkot dan bertemu seorang cewek yang mirip artis FTV.
Read More
Sebentar lagi bulan Agustus akan berakhir, tapi sampai saat ini gue masih jadi pengangguran. Lah, malah curhat.

Lupakan kalimat pembuka kampret itu.

Dua jam sebelum tulisan ini gue ketik, gue sedang menonton pertandingan sepak bola antar RT. Pertandingan ini merupakan bagian dari perlombaan memeriahkan acara 17 Agustus-an. Walaupun tanggal 17 sudah lewat, kita tentu saja masih berada dalam euforianya. Masih ada beberapa wilayah yang menyelenggarakan perlombaan.

Ngomong-ngomong, yang barusan gue tonton adalah finalnya. Gue juga kaget, baru pertama kali nonton masa udah langsung final. Ya, selama ini pertandingan dilaksanakan pada hari Sabtu. Di mana hari itu gue kuliah dan nggak sempet nonton. Akhirnya, sekarang gue bisa nonton perlombaan sepak bola itu. Kebetulan RT 003—wilayah gue tinggal—adalah salah satu finalisnya.


Menurut gue, perlombaan sepak bola di daerah gue ini sangat tidak menarik. Iya, karena umurnya dibatasi. Maksimal umurnya adalah 14 tahun. Parah banget. Masa lombanya hanya untuk anak-anak aja. Terus remaja-remaja umur 15 sampai 20-an gimana? Diskriminasi umur nih. Ya habisnya, kan, gue juga pengin ikutan. Lalu kasihan juga kalo ada kakek-kakek bangka yang juga pengin ikutan lomba. Seharusnya kasih kesempatan kepada mereka agar bisa bahagia di akhir hidupnya.

Eh, maaf.

Sayangnya, gue datang terlambat saat menonton. Jadinya, sekitar lapangan sudah dipenuhi oleh para penonton dan gue pun nggak kebagian tempat duduk (padahal emang kagak ada tempat duduknya).
Gue berusaha mencari-cari celah yang kosong agar bisa ikut melihat pertandingannya. Akhirnya, gue menemukan satu tempat—yang belum terlalu ramai—di pojokan dekat tempat corner.

Gue menepuk pundak salah seorang laki-laki, “Udah berapa-berapa?” tanya gue.
“Baru mulai, kok. Masih kosong-kosong,” jawab orang itu.
Thanks.”

FYI, untuk mengatakan angka seharusnya bukan dengan kata “kosong”, tetapi yang benar adalah “nol”. Namun, karena kita sudah terbiasa dengan kata-kata itu dalam keseharian kita. Ya udahlah, anggep aja bener.

Ah, sok editor banget dah gue.

Pada babak pertama, pertandingan terlihat begitu membosankan. Sampai tim lawan berhasil mencetak gol, barulah tim RT 003 menjadi lebih semangat untuk menyamakan kedudukan. Para suporter mulai ricuh. Mulai menghina tim lawan dengan kata-kata kasar. Mereka begitu antusias dan bersemangat untuk mendukung tim RT 003.  Namun, gue sendiri malah tidak bersemangat. Karena ya... gue males aja jadi penonton. Pengin main juga. Pengin jadi pusat perhatian para penonton saat gue berhasil mencetak angka.

Halah. Sadar, Yog... sadar. Inget umur. Efek udah lama nggak pernah main bola gini, nih.

Tim RT 003 sudah berusaha melancarkan serangan, tapi tak ada satu pun gol. Babak pertama pun berakhir. RT 006 berhasil memimpin satu angka.

Sumber gambar: Kaskus

Read More
Pertama-tama, mungkin kalian udah pada tahu apa itu aplikasi bernama Instagram. Sudah banyak juga blog yang membahas ini. Bisa dibilang, kalo gue bahas tentang Instagram sepertinya ketinggalan zaman. Namun, gue akan tetap menuliskannya dengan sudut pandang dan gaya menulis gue.

Asyek. Sok iya banget ini.

Sumber: KLIK


Gue pertama kali bikin akun Instagram—atau yang biasa kita singkat IG—pada tahun 2013. Iya, soalnya baru punya HP Android di tahun itu. Eh, ternyata IG rilis perdana saat 6 Oktober 2010 (gue baru tau tadi pas lihat Wikipedia).

Read More
Tanggal 15, 16, dan 17 Agustus kemarin bisa dibilang sebuah long weekend. Cocok banget buat jalan-jalan.

Sehari sebelum 17-an, gue biasanya seru-seruan atau touring sama temen kantor. Lebih sering, sih, ke Puncak. Namun, tanggal 16 Agustus 2015 kemarin, gue sudah tidak bekerja. Jadi, gue nggak sempet liburan ke mana-mana.

Yelah, pamer amat jadi pengangguran, Yog!

Mungkin di antara kalian sudah baca cerita Sehari Sebelum Merdeka. Nah, gue akan melanjutkan kejadian setelah teleponan sama penipu yang cupu.

*Beberapa jam kemudian*

Sehabis salat Isya, para masyarakat RT 003—tetangga gue—mengadakan sebuah acara di malam 17 Agustus-an.
Gue yang baru banget mandi. Iya, di hari Minggu itu gue mandinya sekitar jam 8 malem. Gue emang males mandi di hari Minggu. Nggak ke mana-mana ini, toh. Lagian kalo gue wangi juga nggak ada yang nyium.
Read More
Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Ya, kalian semua sudah pada tau. Itu memang cuma kalimat pembuka aja. Berarti, sehari sebelum merdeka adalah 16 Agustus (anak SD juga tau kampret).

Di saat orang-orang banyak yang sedang lomba untuk memperingati hari kemerdekaan, gue malah masih ngulet-ngulet di kasur. Mandi? Boro-boro. Karena mandi di hari Minggu itu bisa dikucilkan dari peradaban.

Lagi asyik-asyiknya baca timeline Twitter, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Ini nomor temen gue kali, ya? Mungkin mau ngajak hangout.

“Selamat sore.” Terdengar suara laki-laki.
“Hmm.” Gue mencoba untuk berbicara, tetapi tenggorokan gatel.
“Selamat sore, Pak,” kata orang itu dengan suara agak gugup.
Read More
Saat beranjak tidur dan memejamkan mata, sering kali ada pertanyaan-pertanyaan yang bikin kepala gue kacau. Iya, sebelum nyenyak,  pasti ada berbagai pertanyaan yang sangat mengganggu.
Baiklah. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan gue tuliskan di sini.


sumber gambar : INI

Kenapa kamu akhir-akhir ini menjadi orang yang malas? Kegiatanmu lebih sering diisi dengan tidur dan tidur-tiduran sambil main hape. Saat di pagi hari, kamu hanya melaksanakan kewajibanmu: Subuhan. Setelah itu, malah langsung tidur lagi. Apakah status penggangguran itu membuatmu tambah malas? Jadilah pengangguran yang rajin. Rajin membantu orangtua misalnya. Pagi hari, orangtuamu berdagang, kamu malah tidur. Bukankah di awal-awal menganggur kamu sering membantu. Kenapa sekarang malah malas?

Hey, jawab itu!
Read More
Nanti malam, kan ia jerat rembulan. Disimpan dalam sepi, hingga esok hari.
Lelah berpura-pura, lelah bersandiwara. Esok pagi kan seperti hari ini.

Potongan lirik dari lagu Efek Rumah Kaca atau Pandai Besi barusan bikin gue inget akan suatu hal.



Jadi, gue dulunya adalah laki-laki yang pemalu. Kalo sekarang, tentu sudah terlihat dengan jelas... malu-maluin banget.

Oke-oke, serius.

Sejak SD-SMP, gue paling nggak bisa deket sama cewek. Sama cowok aja, harus yang bener-bener kenal deket. Beneran, gue emang anaknya pemalu banget. Tumbuhan Putri Malu aja kalo nggak sengaja gue sentuh, malah gue yang langsung kabur.

Emaap.

Read More
Seminggu setelah kecelakaan, gue tidak pernah keluar rumah menggunakan motor. Gue jadi lebih sering berjalan kaki. Hingga suatu hari, temen-temen kuliah mengadakan kumpul-kumpul. Karena jenuh di rumah mulu, gue pun memutuskan untuk ikut ke rumah Aldi—salah satu temen kampus. 

Kampretnya, nggak ada satu pun temen yang mau jemput gue.

Gue pun mencoba mengendarai motor. Di gang, gue seperti orang yang baru banget belajar motor. Masih goyang-goyang, kurang seimbang. Begitu di jalan raya, gue lebih berhati-hati. Gue yang biasanya selalu males berada di belakang mobil, tapi di  malam itu, gue malah ragu-ragu untuk menyalip kendaraan yang berada di depan. Pokoknya sangat santai mengendarai motor. Setiap kali ingin mengebut, gue melihat bekas luka yang ada di tangan gue. Seolah-olah luka itu bisa menceritakan setiap tragedi yang pernah gue lalui sebelumnya.

Sesampainya di rumah Aldi, gue menunggu Arif dan Sadam yang entah lagi di mana (mereka berdua juga temen kampus).

Setelah 15 menit menanti, datanglah mereka berdua.

“Lah, lu udah sampe duluan aja.” kata Arif. “Emang udah bisa ngendarain motor?”
Gue tersenyum. “Bisa, mau nggak mau ya gue paksain. Lu habisnya nggak mau jemput gue.”
“Emang lu beneran jatoh, Yog? Jatoh di mana, sih?” tanya Sadam.

Ini kenapa nggak ada yang percaya kalo gue jatuh deh? Ya, Allah.
Read More
“Dam, telepon ibu atau ayah.”
“Nggak ada pulsa gue, Mas,” ujar Sadam.
Ya, Allah.

Gue berusaha mengeluarkan HP di kantung jaket dengan tangan yang masih gemetaran. Gue menelepon ke nomor Bokap, tapi nggak ada jawaban. Lalu  ke nomor Nyokap, “Nomor yang Anda hubungi, tidak menjawab. Silahkan tunggu beberapa saat lagi.”

Di saat kayak gini, orangtua gue malah susah dihubungi. Gue udah kebingungan banget.
Read More
Ada yang tau grup band Sheila On Seven? Band yang biasa dikenal atau disingkat menjadi SO7.
Bagi kalian para penyuka grup band ini, mungkin SO7 sudah tidak asing lagi.
Nah, bagi yang belum tahu, band Sheila On Seven adalah band yang berasal dari Yogyakarta. Untuk lebih jelasnya, bisa baca di Wikipedia.

Males baca, ya?

Ya udah, sebagian gue copy ke sini.

Sheila On 7 adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada 6 Mei 1996. Grup band ini pada awalnya adalah sekumpulan anak-anak sekolah dari beberapa SMA di Yogyakarta. Sheila on Seven (SO7) adalah salah satu grup musik populer Indonesia dengan personel Duta (Akhdiyat Duta Modjo, vokal), Eross (Eross Candra, gitar), Adam (Adam Muhammad Subarkah, bass), serta Brian (Brian Kresna Putro, drum).
Read More
Bismillah.



Sebelumnya, gue ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-12 untuk GagasMedia! Semoga makin kece dan terus oke. Aamiin. Nah, dalam rangka ulang tahun yang ke-12, GagasMedia mengadakan event, yaitu  memberikan "KADO UNTUK BLOGGER".

Oleh karena itu, gue sebagai blogger pun ikut berpartisipasi dalam event ini. Caranya gampang banget, tinggal jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.



Oke, langsung saja. 

1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
Read More
Ketika salat, gue pernah beberapa kali mules. Iya, secara mendadak perut terasa sakit, dan kalo ditahan malah semakin nggak karuan. Mau nggak mau, gue pun mundur dari barisan salat. Hmm, tentu saja untuk kentut. Ya, gue lebih milih batalin salat dan segera kentut daripada tetep salat sambil nahan kentut. Karena itu memang nggak baik, Gaes. Salat kita jadi nggak khusyuk.

Sok alim amat gue. Taik dah.

Emang, sih, malu sama orang di sekitar kalo tau-tau mundur dari barisan salat. Namun, itu lebih baik daripada nahan-nahan kentut, eh malah kentut pas lagi rukuk atau sujud. Nggak lucu aja gitu, misal gue lagi rukuk atau sujud, terus tau-tau bunyi “Preeettt.” Atau “Duuutttt.”

Dan bisa saja orang yang di belakang gue langsung kesal karena dikentutin. Kalo orang itu mendadak marah gimana?
Read More
Setiap tempat selalu punya kenangan tersendiri. Begitu pun cerita tentang tempat yang satu ini: Ragunan.

Ngomong-ngomong soal Ragunan, kalian pasti pernah baca cerita gue dengan seorang pacar—yang sekarang udah mantan. Iya, sekarang udah mantan. Gue perjelas itu. Huwahaha.

Sebenarnya, sudah ada beberapa mantan juga yang pernah gue ajak ke kebun binatang di daerah Jakarta Selatan ini. Sampai pada suatu ketika, temen gue bilang, “Jangan ngajak pacar ke Ragunan lagi, Yog. Nanti ujung-ujungnya putus.”

Iya, temen gue terlalu percaya mitos. Sayangnya, gue enggak percaya. Sampai mantan terakhir yang pernah gue ajak ke Ragunan, gue masih tetep nggak percaya. Lagian, ke Ragunan itu hemat banget buat pacaran. Tiket masuknya aja per orang hanya Rp.4.500,-. Ini mah emang dasar gue aja yang pacaran ngirit.

Oke, abaikan kalimat pembuka di atas. Gue akan bercerita tentang Kumpul Keblog ke-4 bersama teman-teman Jabodetabek. Untuk melihat cerita kopdar sebelumnya, kalian bisa klik label kopdar atau klik INI.
Read More
Minggu, 4 Januari 2015.

Suatu hari di Minggu siang, Agus dan Yoga sedang bermain PES 2013 di kamar Yoga. Tiba-tiba, Agus berkata,  “Gue pengin ganti motor, deh.”
“Lah, kenapa?” tanya Yoga, bingung.
“Gue nggak pede deketin Rani—cewek yang Agus suka—tapi cuma naik motor Sepra X, Yog.”

Mereka berdua mengobrol, tetapi matanya tetap fokus menatap layar laptop.

“Rani yang mana, sih? Emang dia naksir sama cowok harus lihat dari motornya?” tanya Yoga.
Read More
Cerita ini telah diubah dari versi sebelumnya demi menyesuaikan cerpen yang dimuat di Loop.co.id

--

Seperti malam-malam biasanya, jika di rumah sudah kehabisan lauk, Irfan selalu mencari makanan di luar dengan menaiki sepedanya. Lagi asyik menggowes, Irfan melihat nenek-nenek berumur 60 tahunan sedang duduk di pinggiran jalan, percis di dekat pintu masuk sebuah komplek. Tubuh nenek itu lebih kurus darinya. Yang Irfan tidak sangka, ternyata nenek itu tidak cuma duduk, melainkan sedang berjualan es krim.

Irfan yang awalnya tidak kepengin es krim, mendadak muncul hasrat untuk membelinya. “Nek, es krimnya satu,” ujarnya. Nenek itu diam saja. Mungkin pendengarannya sudah kurang baik. “Nek?” Irfan memanggilnya sekali lagi.

Nenek itu pun akhirnya menengok dan bilang, “Ya, mau beli es krim, Dek?”

sumber: Pixabay
 
Raut wajah nenek itu berubah ceria. Irfan otomatis tersenyum, mengangguk, dan menjawab iya. Setelah es krimnya disajikan di mangkuk kecil, Irfan segera menyerahkan selembar uang 20.000. Es krimnya seharga 3.000.

“Nggak ada uang kecil, Dek?” tanya nenek itu.

“Yah, nggak ada.”

Irfan tidak membawa dompet dan itu uang satu-satunya yang ada di kantong celana pendeknya. Ia memaki dirinya dalam hati, bodoh. Kenapa setiap kali gowes malam-malam, ia pasti selalu membawa duit selembar. Ia nggak pernah membawa dompet. Namun, ia kemudian teringat uang di dompetnya yang semakin menipis. Untuk apa pula bawa-bawa dompet?

Saat ini status Irfan adalah pengangguran. Sudah enam bulan ini ia tidak memiliki pemasukan lagi sejak kontrak kerjanya di suatu perusahaan telah habis. Ia belum mendapatkan lagi pekerjaan baru, padahal sudah mencoba melamar ke mana-mana. Entah karena tidak dipanggil sama sekali, gagal saat psikotes, interviu HRD, ataupun wawancara tahap akhir dengan user. Sekalinya ia diterima, gajinya terlalu di bawah standar, bahkan cuma setengah dari nilai yang diberikan tempat bekerjanya dahulu. Ia pun mengikhlaskan pekerjaan itu. Irfan bukannya menolak rezeki, ia hanya ingin mendapatkan bayaran yang layak. Hingga akhirnya, ia memilih berhenti sejenak untuk mengirimkan lamaran.

Terlepas dari keadaannya itu, ia jadi merasa tidak enak sama si nenek penjual es krim. Ia sudah merepotkan beliau. Nenek itu pun berupaya mencari-cari uang di dompet kecilnya. Irfan melihat uangnya lima ratusan, seribuan, dua ribuan, dan lima ribuan. Benar-benar nggak ada sepuluh ribuan, dan lima ribunya cuma satu.

Nenek itu kemudian menyerahkan kembaliannya. Irfan menghitungnya. Kembaliannya kurang dua ribu. Irfan mengucapkan terima kasih dan pura-pura uangnya pas. Irfan tidak tega meminta uang kembalian yang kurang itu. Sebetulnya, di hati Irfan juga terdapat keinginan untuk memberikan semua uangnya kepada nenek itu. Tapi ia sudah telanjur memesan ketoprak seharga 13.000, sebelum melihat si nenek. Ia pun sekarang mulai menuju lokasi tempat ia membeli ketoprak. Mungkin ia bisa membantunya lagi di hari lain.

Ia sangat paham bagaimana susahnya mencari uang. Toh kalau mudah, tidak mungkin ia masih setia menjadi pengangguran. Tapi bagaimana kalau hal itu terjadi karena Irfan yang kurang berusaha dengan maksimal?

Sewaktu ia menemukan seorang nenek-nenek yang sudah renta begitu masih mau berjualan, ia resah memperhatikan masih banyak orang yang lebih muda tapi memiliki mental pengemis. Cukup dengan menengadahkan tangan dan memasang muka tembok dan berjalan dari satu rumah ke rumah lain. Apalagi orang-orang yang beberapa kali pernah ia temui di kopaja, metromini, atau angkutan umum lainnya. Mereka hanya mengandalkan kalimat: “Bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak para penumpang, daripada saya mencuri, lebih baik ... blablaba.”

Masih muda kok bermalas-malasan saja kerjanya. Masih muda hobinya berfoya-foya memakai uang orang tua. Lebih-lebih buat para pejabat yang koruptor, apakah mereka tidak malu dengan nenek ini? Melihat buruknya orang lain memang mudah, Irfan tidak sadar dirinya mungkin juga termasuk pemalas. Ia pun jadi heran dengan dirinya sendiri

Mungkin saja Irfan masih termasuk kurang berusaha dan bersyukur dalam menjalani hidup. Ia terkadang masih mudah putus asa dan banyak leyeh-leyehnya. Sehabis kejadian ini, ia ingin mengubah kebiasaan-kebiasaannya yang suka menunda-nunda waktu itu.

Sehabis membayar ketoprak dan pulang menuju rumah, entah kenapa di pikirannya itu muncul kalimat dari Pidi Baiq di buku Drunken Molen, “Meskipun nenek itu sudah tua, beliau tetap berusaha dan bekerja. Demi bisa membantu meringankan beban pemerintah. Agar para pemerintah nggak perlu repot-repot lagi untuk mikirin nasib orang-orang seperti beliau.”

Ia marah terhadap dirinya. Ia jadi ingin memiliki semangat sebagaimana nenek itu. Jika sudah tua kelak, ia tidak ingin mengharap belas kasihan orang lain. Sekalipun itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya. Ia ingin tetap mandiri. Berarti ketika masih muda begini, ia tidak boleh malas-malasan terus. Ia perlu menyiapkan tabungan untuk jaminan hari tua. Ia besok mesti menyiapkan lamaran dan mencari pekerjaan lagi. Agar ia bisa menyisihkan sebagian gajinya nanti untuk berbagi kepada orang-orang seperti si nenek penjual es krim.

Malam itu Irfan seolah-olah menemukan varian rasa baru dari sebuah es krim. Es krim rasa cinta. Es krim paling enak yang pernah ia makan. Es krim dengan harga murah yang memiliki nilai mahal.
Read More
Bagi kalian yang udah baca tulisan gue yang Menjadi Pengangguran dan Proses Mencari Kerja, tentunya tidak asing lagi dengan status gue sekarang: Pengangguran.

Gue cuma mau curhat lagi aja, karena blog gue ini memang 70% curhatan semua. Temen gue ada yang pernah bilang, “Yog, nggak tau kenapa, gue kalo baca tulisan lu yang curhatan itu selalu keren. Padahal itu hanya curhat biasa, tapi lu bisa keren gitu nulisnya.”
Read More
Huft, malem Minggu.

Gue jadi pengin curhat lewat tulisan. Gue mau curhat tentang kisah konyol yang gue lalui seminggu yang lalu.

Jadi awalnya gini.
Read More
Waktu awal Mei, temen-temen blogger mulai meramaikan grup WA untuk membahas kopdar. Kebetulan gue yang jadi PJ-nya. PJ di sini bukan seperti yang kalian tau: Pajak Jadian. Bukan. PJ itu adalah Penanggung Jawab.

Ini adalah pengalaman pertama gue menjadi PJ di kumpul-kumpul blogger. Kami rencananya bakal kumpul di rumah Kak Lia. Sedihnya, para anggota jarang yang ikut.
Ketika gue pastiin siapa aja yang ikut di grup, mereka semua beralasan macam-macam; ada yang alasan karena banyak tugas kuliah, ada yang alasan karena udah ada acara lain duluan, ada yang alasan karena mencintai itu nggak butuh alasan. Halah. Malah nggak nyambung. Intinya mereka berhalangan hadir untuk kopdar.
Read More
Setelah kalian membaca cerita goblok YANG INI. Kalian pasti nyesel banget. Tapi, ya udahlah. Gue bakalan lanjut bercerita lagi. Jangan pernah kapok bacanya, ya.

Tidur hanya 2 jam membuat mata gue begitu sipit, gue bener-bener ngantuk. Kira-kira setelah salat Subuh, teman-teman gue yang lain menghilang dari kamar, kecuali Debby yang malah tidur lagi.

Gue melihat keadaan di luar, tapi tetep nggak ada mereka. Hanya ada sepupunya Aldi yang sedang duduk sambil ngopi. Gue pun bertanya kepadanya, “Bang, Aldi sama temen-temen yang lain ke mana?”

Read More
Pamulang, 18 April 2015

Sepulang kuliah, gue dan beberapa temen kuliah—yang dulu satu kelas dan sekarang udah beda kelas—sedang duduk-duduk sambil ngobrol di Family Mart.
Di tengah obrolan ngawur, Sadam memotong pembicaraan, “Sabtu depan pokoknya pada ikut, ya.” Teman-teman yang lain langsung menengok ke arah Sadam, kecuali Debby yang masih menunduk menatap layar HP ( dibaca : main Clash Of Clan ).

“Emang rame yang ikut?” tanya gue.
Read More
Avengers Age of Ultron adalah sebuah film keluaran Marvel.



Di film ini nggak ada cerita superhero yang kuat hanya karena minum susu. Nanti bisa-bisa judulnya ganti jadi: Avengers Age of Ultra Milk.
Halah. Pembukaan tulisan yang nggak jelas.

Kayaknya nulis tentang Avengers ini telat, ya? Tapi ya udahlah, nggak ada kata terlambat daripada tidak sama sekali. #SokBijak.

Setelah sekian lama, akhirnya gue nonton ke bioksop lagi. Nggak tau kenapa, gue rela mengeluarkan uang lebih hanya untuk nonton film kesukaan gue: film keluaran Marvel. Padahal, biasanya gue hanya nonton film dari laptop. Entah itu streaming, download, atau barter film sama temen.

Jujur, gue agak kecewa sama film Avengers yang kedua ini. Entah, kayaknya film yang pertama lebih seru dan ngena untuk penonton. Ya, itu menurut gue, nggak tau menurut orang lain. Namanya selera itu pasti beda-beda, kan?
Read More
Setiap orang punya selera masing-masing terhadap banyak hal. Misal dalam makanan, ada beberapa orang yang suka banget sama sea food, ada juga yang nggak suka, bahkan ada yang alergi. Lalu, ada sebagian orang suka banget durian. Sebagian yang lain justru membencinya.  Bagi yang menyukainya pasti bilang, “Wah, enak banget ini buah duren! Kalian harus cobain!”

Bagi yang membencinya (termasuk gue), bakalan bilang, “Wah, enek banget ini duren. Kalian jangan pernah sekalipun nyobain!”

Enak dan enek itu emang beda tipis. Yap. Itulah soal selera.
Read More
Bingung? Sumber : KLIK INI


Aku bingung, murung
Saat ini terluntang lantung
Aku amati pula nasib para tulang punggung
Melawan kerasnya ibu kota
Menikmati kepedihan Jakarta
Read More
Pada tanggal 5 April 2015, tepatnya hari Minggu, gue dan temen-temen blogger janjian untuk kopdar di TIM. TIM bukanlah kepanjangan dari Tempat Istirahat Musafir, tetapi Taman Ismail Marzuki.

Beginilah ceritanya.
Read More
Gue yang sedang ngulet di kasur berusaha untuk tidur lagi. Namun, gue ada janji sama pacar. Yoi. Jarang-jarang  gue pacaran. Yah, namanya juga nasib orang yang memilih pacaran jarak jauh (dibaca : LDR ). Nggak terasa, ngulet di kasur itu bikin gue ketiduran. Yah, namanya juga ketiduran, kan, nggak sadar. Kalo sadar itu namanya menidurkan. Eh, gimana-gimana?

Abaikan kalimat barusan.

Handphone gue tiba-tiba berdering. Gue pun terbangun, lalu pesan itu gue baca perlahan-lahan dengan mata kriyep-kriyep. “Dikit lagi sampe,” kata si pacar di WhatsApp.

Gue yang melihat pesan itu langsung kaget dan berlari ke kamar mandi.

Singkat cerita gue udah mandi dan berpakaian. Gue mau tampil biasa aja. Yang memang style gue biasa aja. Mungkin 'kata biasa' aja bagi orang lain adalah penampilan yang lebih mirip gembel.
Bodo amat. Beginilah gue. Suka syukur, enggak ya udah. Simpel.
Read More
JARAK.

Jarak yang gue maksud bukan nama daun. Nggak tau daun jarak? Coba aja ketik jarak di google images. Nah, begitulah bentuk daun jarak. Tapi jarak yang gue bahas ialah distance.



Bagi sebagian orang, jarak adalah hal yang paling menyebalkan. Apalagi untuk manusia yang memilih hubungan jarak jauh, biasa dikenal dengan sebutan LDR ( Long Distance Relationship )
Read More
Pak Tani memberikan tugas kepada Kancil, Kambing,dan Sapi untuk mencari jeruk ajaib. Pak Tani membutuhkan jeruk ajaib itu untuk mengobati sariawannya yang tidak kunjung sembuh. Malangnya, buah jeruk ajaib hanya tumbuh di kebun milik Bu Tina. Pak Tani dan Bu Tina dahulu adalah tetangga yang berteman sejak balita, dan mereka dulu sering menanam tumbuhan bersama-sama. Tapi sekarang, Bu Tina telah pindah ke Desa Suka Maju, sedangkan Pak Tani masih menetap di Desa Tetap Mundur. Tidak tersisa satu bibit jeruk ajaib pun di rumah Pak Tani. Semuanya sudah dibawa oleh Bu Tina ke desa seberang. Meskipun begitu, sampai sekarang mereka masih berteman baik dan tak jarang kirim-kiriman surat lewat Merpati. 

Jarak antara Desa Suka Maju dan Desa Tetap Mundur memang lumayan jauh. Untuk menuju ke Desa Suka Maju, mereka harus melewati lembah, menyeberangi sungai, dan menerobos hutan. Apalagi di dekat hutan itu ada kawasan yang dihuni oleh Singa Sang Raja Hutan, sehingga Pak Tani tidak bisa pergi sendirian. Pak Tani mau tak mau perlu meminta bantuan kepada Kancil, Kambing, dan Sapi. Konon, sesama hewan diperbolehkan untuk melintas di habitat Singa, sedangkan untuk manusia ada beberapa syarat khusus yang entah apa itu. 

Kancil, Kambing, dan Sapi pun memulai perjalanannya. Mereka bertiga berhasil melewati lembah dengan mudah. Ketika menyeberangi sungai, Kancil, Kambing, dan Sapi agak sedikit kesulitan. Karena di sungai itu hidup beberapa Buaya yang kejam, dan suka memakan hewan-hewan ternak. 

Bagusnya, keberuntungan memihak kepada Kancil, Kambing, dan Sapi. Kebetulan pula ada seorang manusia yang hendak menyeberangi sungai menggunakan perahu. Mereka bertiga pun diperbolehkan menumpang. 

Satu masalah kelar, muncul masalah baru. Kini, Kancil, Kambing, dan Sapi harus menerobos hutan dan melewati habitat Singa. Sebenarnya, di dalam perjanjian hutan setiap hewan boleh melewati wilayahnya itu. Tapi jika Singa itu sedang lapar, terkadang dia akan berbuat licik kepada para hewan. Dia suka memberikan pertanyaan kepada para hewan yang memasuki kawasannya. Kalau jawabannya benar, hewan itu boleh melintas. Jika jawabannya salah, Singa akan memakan hewan itu. 

Mungkin satu-satunya cara ialah dengan berlari kencang. Namun, lari Singa tentu tidaklah lambat. Sejauh ini, belum ada hewan ternak yang mampu lolos dari kejaran Singa. 

Tak disangka, sekali lagi keberuntungan memihak kepada mereka bertiga. Sang Singa sedang tertidur pulas kala mereka memasuki daerah kekuasaannya itu. Mereka pun berhasil melewatinya dengan melangkah pelan-pelan dan selamat. 


Bu Tina terlihat sedang menyapu di halaman rumahnya. 

“Permisi, Bu,” kata mereka bertiga kompak. 

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bu Tina. 

“Kami bertiga sedang melaksanakan tugas, Bu,” ujar Kancil, mewakili yang lain. “Pak Tani mengutus kami datang ke sini untuk meminta buah jeruk ajaib.” 

“Oh, kalian utusan Pak Tani. Apa kabar dia?” 

“Sedang sakit sariawan, Bu. Sudah tiga minggu tidak kunjung sembuh,” celetuk Kambing. 

“Astaghfirullah,” Bu Tina tampak terkejut. “Ya udah, kalau begitu akan saya berikan buah jeruk ajaib itu sebanyak-banyaknya agar Pak Tani bisa cepat sembuh. Nanti tolong sampaikan salam saya kepada Pak Tani, ya,” lanjut Bu Tina. 

“Siap!” jawab mereka bertiga kompak. 

Kancil, Kambing, dan Sapi sudah membawa buah jeruk ajaib itu. Bu Tina membungkus buah jeruk itu di kantong plastik hitam dan mengalunginya di leher mereka. 

Ketika di perjalanan pulang, rupanya Singa sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Ini menjadi sebuah masalah bagi mereka. Mereka bertiga pun sangat ketakutan. Terjadi perundingan siapa yang berani melintas habitat Singa terlebih dahulu. Mereka pun melakukan gambreng. 

Hompimpa alaium gambreng, Pak Tani pake baju rombeng

Nasib malang menimpa si Kancil. Dari mereka bertiga, si Kancil lah yang kalah ketika melakukan undian itu. Untuk itu, si Kancil harus melewati habitat Singa terlebih dahulu. 

sumber gambar: http://cerita-inspirasi.kampung-media.com




“Wah, si Kancil berhasil lewat, Mbing,” kata Sapi, takjub. 

“Iya, dia emang cerdik, sih.” 

“Yaudah, sekarang giliran kamu.” 

“Kamu duluan aja, Pi,” kata Kambing. 

“Aku belum mau mati. Kamu duluan aja,” kata Sapi sambil mendorong Kambing. 

Kambing kalah ukuran badan dan mau tak mau harus mengalah. Kemudian, si Kambing mencoba melewati habitat Singa dengan perasaan cemas. 

“Permisi, Raja, saya mau numpang lewat,” kata Kambing kepada Singa. 

“Boleh, silahkan.” 

Ketika Kambing mulai melangkah, tiba-tiba Sang Singa mengaum. Kambing pun panik. 

“Saya lapar,” ujar Singa. 

“Jangan makan saya, Raja,” kata Kambing memohon. Raut wajahnya begitu pucat. 

“Oke, tapi ada syaratnya. Kamu harus menjawab pertanyaan ini: Menurut kamu, badan saya ini bau atau tidak?” 

Si Kambing pun berpikir sejenak. Kancil itu cerdik. Pasti tadi dia berhasil lewat karena menjawab bohong, batin si Kambing. 

“Tubuh raja begitu wangi. Saya suka sekali dengan aromanya,” teriak Kambing penuh semangat. 

“Kamu pikir saya ini bodoh, ya? Bau badan saya kecut begini dan belum mandi, kok malah dibilang wangi? Kamu sebenarnya mau meledek saya, kan?” ujar Singa penuh emosi. 

Belum sempat Kambing membela dirinya dan meminta maaf, Singa pun menerkam Kambing itu tanpa ragu-ragu. Tamat sudah riwayat Kambing. 

Sapi yang melihat kejadian itu langsung gemetaran dan tidak berani melangkahkan kaki. Tapi berkat kematian Kambing itu, Sapi menjadi tau jawaban yang mungkin benar. Sapi perlahan-lahan mulai mendekati Sang Raja Hutan. 

“Permisi, Paduka, saya hanya ingin lewat dan pulang ke rumah.” 

“Kamu harus jawab pertanyaan saya dahulu,” kata Singa sambil mengunyah Kambing. 

Kalo pertanyaannya berbeda gimana, nih? 

“Apa pertanyaannya, Paduka?” tanya Sapi. 

“Tubuh saya ini bau atau tidak?” 

Ternyata pertanyaan itu tidak berubah. Sapi pun berpikir, tadi si Kambing menjawab bohong lalu dimakan. Berarti kali ini dirinya harus menjawab jujur. Dengan penuh keyakinan, si Sapi langsung menjawab, “Bau banget. Saya aja mau muntah nih, Paduka.” 

Singa sudah melahap kambing hingga habis. Sang Singa langsung murka mendengar perkataan Sapi itu dan menggigit lehernya. Darah mulai mengalir deras dan Sapi tergeletak lemas. Singa pun langsung menggerogoti tubuh Sapi. 

Nasib Sapi sama seperti Kambing. Mereka berdua gagal menjalankan tugas dan mati. 




Kancil sudah berada di rumah Pak Tani. Pak Tani juga sudah memakan buah jeruk ajaib yang dibawa oleh Kancil. Karena Kambing dan Sapi tak kunjung datang, Pak Tani kemudian bertanya kepada Kancil, “Cil, mana kedua temanmu?” 

“Saya juga kurang tahu, Pak,” jawab Kancil, bingung. 

Ketika Kancil dan Pak Tani sedang mengobrol tentang Kambing dan Sapi. Datanglah si Burung memberi kabar. Orang-orang biasanya menyebutnya kabar burung. 

“Tadi saya melihat kalau Kambing dan Sapi telah tewas ketika melintas di habitat Singa. Singa itu memakan mereka berdua dengan lahap.” Burung itu pun langsung pergi tanpa memberikan penjelasan lebih. 

Mendengar kabar itu, Pak Tani dan Kancil terperanjat. Perjalanan mencari obat itu kenapa harus merenggut nyawa temannya? Pak Tani dan Kancil pun mengirimkan doa untuk mereka yang mati. 


“Lalu, bagaimana kamu bisa selamat dari si Singa itu, Cil?” tanya Pak Tani selesai berkabung. 

“Singa itu hanya memberikan pertanyaan sederhana kepada saya, Pak.” 

“Singa itu bertanya apa?” 

Kancil pun menjelaskan pertanyaan tentang bau badan Singa. Pertanyaan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada Kambing dan Sapi. 

“Kamu menjawab apa, kok bisa lolos dari kelicikan Singa itu?” tanya Pak Tani penasaran. 

“Saya cuma bilang, ‘Maaf sebelumnya, Tuan Singa, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Karena hidung saya sedang pilek. Nanti kalau sudah sembuh, saya akan balik lagi dan menjawabnya.’ Singa itu langsung mengizinkan saya lewat.” 

Pak Tani pun tertawa. “Kamu memang cerdik, Cil,” kata Pak Tani memuji. 

Kancil sepertinya mengerti kalau tidak ada satu pun jawaban benar dari pertanyaan Singa itu. Jadi, Kancil harus bisa menipu kelicikannya itu dengan kecerdikannya.
Read More
Punya sifat pelupa itu nggak enak. Susah melupakan kejadian buruk juga nggak enak. Dan dilupakan itu paling nggak enak.

Yang enak itu, malem-malem makan nasi goreng. Gratis lagi. Beeehhh.
Yang enak itu, siang-siang minum es teh manis di bulan puasa.  Enak dengkulmu melocot. Dosa!

Abaikan saja kalimat pembuka barusan.

Entah kenapa, gue mulai kepikiran sama hal ini.

Jadi, ada 3 kata yang sering banget dilupakan. Maksud dilupakan di sini, orang sudah males atau sudah jarang yang mengucapkan kata tersebut.
Langsung saja, check it out!

1.Maaf
Read More
Cerita ini bukan tentang orang yang bakar telepon genggamnya karena frustrasi ditolak gebetan. 

Nggak percaya? Bagus. Percaya ama gue musryik. Emang, sih, ada hubungannya bakar dan telepon. Tapi gue saranin jangan lanjut membaca, nanti nyesel. Ini cuma curhatan nggak jelas doang. Kalo kamu tetep mau baca, silahkan. Gue nggak akan memaksa. Selamat menikmati.

“Kamu malam mingguan ke mana?”
“Nggak ke mana-mana, kamu?” balas si Pacar di SMS.
“Bakar-bakar di rumah temen. Nanti jam 8 sibuk nggak?” tanya gue.
“Dalam rangka apa? Tahun baru udah lewat kayaknya. Jam 8, ya? Nggak tau. Kenapa?”
Read More
"Gus, nanti malem ketemuan, yuk!" Sebuah pesan dari Rani di BBM.
Gue nggak ngerti. Tumben banget Rani ngajak ketemuan. Sebagai mantan yang baik, gue masih menjalin silaturahmi terhadap mantan-mantan gue. Tetapi, Rani adalah tipikal orang yang sulit berteman dengan mantannya. Apalagi waktu itu, gue lah yang memutuskan Rani, dengan keputusan sepihak.


Gue masih bingung harus merespons pesan ini atau tidak. Tetapi, gue tetaplah gue, yang tidak pernah memusuhi mantan.

“Mau ketemuan di mana?” balas gue.

Read More
Karena akhir-akhir ini gue sedang sibuk melamar pekerjaan, dan giat mengikuti tes wawancara kerja. Gue iseng bikin hal-hal tentang melamar dan wawancara kerja. Ternyata banyak juga, ada 69.

Kenapa dengan angka itu? Gue nggak tau kenapa angkanya bisa segitu. Yang kepikiran di otak hanya ini saja. Sumpah, gue nggak semesum itu. Jangan kalian pikir angka 69 itu seperti di bokep-bokep, ya. Nggak ada hubungannya melamar pekerjaan sama sex.

Oke, langsung saja. Cekidot!

1.Siapkan berkas-berkas surat lamaran sehari sebelum melamar kerja.
2.Ingat, surat lamaran kerja. Bukan lamaran nikah.
3.Tidurlah yang cukup agar badan tetap fit.
4.Pasang alarm untuk bangun pagi.
5.Setelah bangun, jangan lupa mandi.
Read More
Sejak gue menulis menjadi pengangguran. Sampai saat ini, gue tetaplah seorang pengangguran. Yoih! Ini keren. Harus diapresiasi. Halah. Nganggur malah bangga. Kacau. Gue memang harus mengakui, kalo proses mencari kerja itu tidaklah sulit. Ini serius. Nggak sulit, kok. Namun, SULIT BUANGEEETTT BANGSYAAATTT.

Gimana nggak sulit banget. Gue yang dibantuin sama temen untuk mengisi lowongan pekerjaan di kantor kliennya aja gagal. Jadi, waktu itu temen gue menginformasikan kepada gue lewat BBM.

“PING!!!”

Gue bales, “Kenapa?”

“Udah dapet kerja?”
Read More
Ternyata oh ternyata, masih banyak orang yang salah dalam pengucapan maupun penulisan.
Gue sendiri juga baru paham beberapa bulan yang lalu. Setelah sedikit mendalami KBBI. Oiya, gue menulis ini nggak ada maksud menggurui, apalagi sok tau. Gue hanya ingin berbagi. Sekali lagi, BERBAGI!

Sebenernya salah adalah sebuah hal yang wajar bagi umat manusia. Karena manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Yang sempurna hanya Tuhan. Eh, ini tulisan gue malah mirip ceramah. Sorry.

Lagipula, kalo tidak berani mencoba dan berbuat salah. Kita tidak tau hal itu benar atau salah, kan?
Misalnya, mencoba untuk selingkuh dan membohongi pacar. Kalo nggak mencobanya, kita nggak pernah tau, kalo selingkuh itu salah. Besok-besok kan jadi tau, kalo selingkuh itu enak. Jadi bisa menambah selingkuhan. Dari 1 selir menjadi 3 selir. Huwahahaha. Bercanda! Maafkan gue.

Yaudah, langsung saja.

1. Seterah.
Read More
Malam Minggu telah berlalu. Nggg... nggak enak nyebutnya. Takut jomlo-jomlo pada histeris. Jadi, lebih baik gue bilangnya Sabtu malam. Oke, setelah melewati Sabtu malam yang panjang. Gue akan mengumumkan pemenang kuis membuat kutipan atau jokes tentang kehilangan pada posting-an gue yang INI. Gue nggak nyangka. Ternyata, banyak juga yang ikutan kuis kecil-kecilan gue. Pecinta gratisan bukan gue doang rupanya. Alhamdulillah gue punya temen. Yuk, berburu gratisan bareng-bareng.

Tapi, ada juga yang tidak ikutan. Mereka hanya memberi komentar. Entah, mungkin karena hadiahnya tidak menarik, sudah kebanyakan pulsa, atau dia itu agen pulsa. Sebenernya, syarat kuis kecil-kecilan itu gampang, sih. Cuma bikin kutipan atau jokes dengan kata ‘kehilangan’. Namun, masih ada beberapa yang bingung membuatnya. Padahal, gue bilang boleh menggunakan kutipan orang lain. Eh, masih ada aja yang kebingungan. Pfffftttt.

Yaudahlah, tanpa basa-basi. Gue akan mengumumkan pemenangnya.
Read More
Dalam agama Islam, ketika bersyukur kita pasti mengucap alhamdulillah. Tandanya kita berterima kasih atas rezeki apa yang kita peroleh. Entah itu berupa uang, hadiah, ataupun jodoh. Sebenarnya, rezeki itu bukan hanya soal uang. Masih diberikan nafas untuk hidup hari ini juga sebenarnya termasuk rezeki. Nikmat sehat itu juga rezeki. Kalo sakit nggak enak, kan? Nah, makanya kesehatan bisa dibilang rezeki. Banyak lagi contoh rezeki yang lainnya. Punya teman-teman yang baik juga bisa dibilang rezeki.

Jadi, biarkan gue mengucap alhamdulillah.

Kenapa dari tadi gue membahas rezeki?

Soalnya, gue baru aja dapat rezeki berupa pulsa dari kuis Nyunyu, dan sebuah kaos dari GA #kontestekateki.
Read More
Kehilangan sesuatu yang berharga rasanya seperti apa, sih?

Sedih yang pasti.
Pengin nangis.
Galau.
Hmm... gitu, ya?
Iya.

Taik banget si Yoga. Nanya sendiri jawab sendiri.

Ini cerita bukan tentang kehilangan pacar, kehilangan harga diri, ataupun kehilangan keperjakaan. 

sumber gambar : hujanpelangi(dot)com


Ngaco abis.

Mau tau tentang kehilangan sesuatu?
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home