Disforia Pengusik Kenangan berisi himpunan sajak Yoga Akbar S. yang ia tulis dalam rentang 2015-2019. Sebagian dari puisi itu pernah tayang di blog ini, WordPress, Tumblr, Twitter, ataupun caption Instagram dengan sedikit perubahan wujud. 



Sebelum kamu mengunduhnya secara gratis dengan mengeklik gambar di atas, kamu boleh menyimak cerita yang tidak perlu dipercaya di bawah ini. 

— 

Vakum menulis bukanlah hal yang baru buat saya. Penyebab utamanya tentu saya sedang bosan dengan dunia kepenulisan, bahkan cenderung muak. Selain itu, rasa malas pasti juga pernah ambil bagian dalam jeda tersebut. Saya sangat mengerti bahwa masalah-masalah itu merupakan faktor internal, maka solusinya jelas ada di dalam diri. Lalu, bagaimana kalau saya terpaksa berhenti menulis karena kondisi lain? 

Misalnya, ketika keadaan laptop saya mulai bermasalah pada akhir 2017. Waktu itu saya berusaha mencari berbagai cara untuk mengumpulkan uang tambahan demi bisa memperbaikinya tanpa harus repot-repot mengutak-atik saldo tabungan—yang jumlahnya tidak seberapa. Saya mesti giat mengambil beberapa pekerjaan lepas yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia kepenulisan. 

Di sela-sela vakum lantaran laptop tidak bisa dipakai sama sekali ataupun sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan itu, saya mendadak kangen menulis. Saya pun mengobati rindu itu dengan menuliskan pikiran-pikiran saya di aplikasi Catatan. Berhubung saya tidak suka mengetik yang panjang-panjang di ponsel, apalagi rawan tipo, saya seringnya hanya menuliskan gagasan dalam bentuk poin-poin atau sajak. 

Saya lalu membaca informasi tentang pemuatan puisi pada salah satu media daring yang honornya senilai dengan jatah makan saya seminggu. Harga itu ternyata juga setara dengan pengecas laptop saya yang rusak. Saya jelas langsung tergiur buat mengirimkan puisi-puisi saya ke media itu. Maka, setiap kali saya sedang senggang, saya mencoba membaca ulang seluruh sajak yang pernah saya tulis di blog, aplikasi Catatan, maupun Tumblr, kemudian menyuntingnya. 

Ada tiga belas puisi yang menurut saya lumayan. Mengingat syarat setiap kali mengirimkan ke media itu minimal lima butir puisi, berarti saya bisa mengirimkannya dua kali. Saya ingin mengetes terlebih dahulu kualitas puisi-puisi saya itu dan tak mau mengirimkannya sekaligus. Jadi, saya menimbang baik-baik mana yang pantas diikutsertakan, mana yang ditunda. Saya akhirnya memilih tujuh buah puisi (tiga terbaik dan sisanya yang biasa saja) sebab berpikir 7 itu adalah angka keberuntungan. 

Saya sangat berharap kalau sajak pilihan saya itu dapat terbit di media lain. Berarti sebelum mengirimkannya, saya harus memolesnya lagi agar hasilnya lebih ciamik. Setelah merasa cukup oke, saya mulai membuka surel, mengetikkan alamat media tersebut, melampirkan failnya, mengucap basmalah sekaligus berdoa, dan segera mengeklik tombol kirim. 

Sialnya, tetap belum ada jawaban dari mereka meskipun tahun telah berganti menjadi 2018. Saya sebetulnya sadar bahwa proses ini baru berjalan 2 minggu, sedangkan batas penentuannya selama 2 bulan. Namun, menunggu lebih dari sebulan bagi saya sangatlah menjengkelkan. Pikiran-pikiran buruk pun mendatangi saya dan melahirkan kesimpulan: tulisan saya ditolak. 

Kenapa saya belum apa-apa sudah pesimis, ya? Saya lantas berusaha memikirkan hal-hal positif seperti; jadwal penayangan rubrik puisi itu kan seminggu sekali dan butuh proses seleksi, mungkin jumlah penulis yang mengirimkannya juga kelewat banyak dan naskah saya masuk di antrean belakangan. Baiklah, saya perlu sedikit lebih rileks. 

Tapi yang namanya kecemasan pasti selalu datang dengan sendirinya tanpa bisa dicegah. Daripada saya semakin gelisah, saya lalu menyiasati hal itu dengan mengirimkan puisi sisanya sembari menanti kabar baik. Terlepas dari urusan puisi, saya akhirnya berhasil menabung sejumlah uang untuk membeli pengecas laptop dan kembali ngeblog. 

Dua bulan telah berlalu sejak pengiriman puisi saya yang pertama. Celakanya, lagi-lagi masih belum ada jawaban dari mereka. Jika begini melulu, barangkali saya tak usah berharap lagi sajak-sajak itu dapat terbit di media lain. Saya yakin kedua kiriman puisi itu bakal masuk ke keranjang sampah. 

Anehnya, saya sudah telanjur penasaran, juga ketagihan akan perasaan berdebar-debar selama menanti kabarnya. Saya terus berupaya mencari media lain yang sejenis, kembali mengirimkannya, dan hasilnya ternyata sama bangsatnya. Beberapa puisi yang mendapatkan penolakan itu akhirnya saya taruh di blog.

Memang dasarnya saya manusia berkepala batu, saya mulai mencoba lagi untuk menyusun sajak-sajak baru. Saya memilah mana yang cocok, kembali mengirimkannya, dan ... tetap tak ada jawaban yang menggembirakan. Proses semacam itu masih terus berulang sampai tahun ini (sebetulnya, masih ada satu media yang saya sasar sekitar dua minggu silam dan sedang masa proses, tetapi saya sudah kadung pesimis setiap kali mengingat penolakan-penolakan sebelumnya), hingga akhirnya saya kian muak, serta berpikir tak ingin menulis puisi lagi.

Mungkinkah sajak-sajak yang saya tulis itu keterlaluan buruk, sehingga tak ada satu pun media yang bersedia memuat dan membayarnya? Apakah semua puisi yang saya ciptakan itu terlalu mudah dipahami, diksinya teramat payah, dan tidak menimbulkan kesan di hati pembaca? Apakah saya tak akan pernah bisa menghasilkan sajak-sajak bagus, lalu mendapatkan tempat seperti para pensyair yang saya kagumi? 

Apa pun itu, yang jelas saya sekarang sudah sadar bahwa puisi memang bukanlah bidang saya. Paling tidak, untuk terakhir kalinya, saya masih bisa menghibur diri sendiri dengan mengeditnya supaya hasilnya lebih kece. Dari total sekitar 70 sajak yang terkumpul, saya berhasil memfilter yang sekiranya layak hingga jumlah finalnya menjadi 38 butir. Saya enggak menyangka, ternyata sisanya masih lumayan banyak meskipun sudah membuang hampir setengahnya. Kala itulah mendadak terbit sebuah gagasan di benak saya: Daripada fail-fail itu hanya terlantar di folder laptop, mendingan saya menghimpunnya menjadi buku digital dan membagikannya gratis sebagai kado tahun baru buat para pembaca blog saya. Untuk menutup tulisan ini sembari merenungi akhir tahun (apakah tahun depan saya masih sanggup mengisi blog ini?), saya cuma mau bilang: Selamat membaca dan bergembira—bisa juga bersedih jika kamu merasa demikian. Selamat tahun baru, wahai kawan-kawan semua. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam dunia kepenulisan saya.

— 

PS: Buku puisi Disforia Pengusik Kenangan tidak saya perjualbelikan karena saya tidak tahu berapa harga yang pantas. Biarlah sajak-sajak itu menjadi tak ternilai buat diri saya. Tapi sekiranya ada yang sudi membayarnya entah dalam bentuk apa pun (saldo rekening, pulsa, buku, atau cukup mendoakan saya sehat sentosa), saya akan dengan senang hati menerimanya. Kamu bisa juga mengapresiasi saya dengan membeli buku kumpulan cerpen Fragmen Penghancur Diri Sendiri.
Read More
Seorang kawan memberi tahu saya lewat kolom komentar Instagram mengenai seorang gadis manis yang pernah saya jumpai di sebuah acara bazar buku (lalu ternyata bisa berjumpa kembali di suatu kafe secara tidak sengaja) sedang berulang tahun. Saya tahu dia lagi bermaksud meledek akan fakta usia gadis itu yang sepantaran dengan adik saya, bahkan di bawahnya.

Terasa aneh bagi saya bisa mengagumi perempuan yang usianya belum menyentuh angka 20. Mungkin karena zaman yang semakin bergeser atau perubahan itu rasanya kian cepat, sampai-sampai saya terlalu sulit percaya dan otomatis merenung, mengapa anak-anak SMA zaman sekarang banyak yang aduhai? Berbeda sekali dengan zaman saya sekolah dulu. Di kelas dan jurusan saya saja tidak ada yang menarik, sehingga saya harus menyukai cewek dari jurusan maupun sekolah lain. Meskipun demikian, saya sudah telanjur kagum (sebelum tahu usianya), lalu akhirnya mengucapkan begini:



Selamat mengulang hari kelahiran, Sya. Semoga sehat sentosa dan bergembira. Orang-orang pernah berkata bahwa seiring bertambahnya usia, lingkaran pertemanan bakal semakin mengecil. Saya tak tahu itu berlaku pada semua orang atau hanya sebagiannya. Untuk berjaga-jaga, sebelum hal itu terjadi, maka nikmatilah waktu sebaik-baiknya bersama mereka. Pertahankan mereka yang menurutmu terbaik dan layak.

Namun, seandainya hari itu akhirnya datang, tepatnya saat kamu merasa sendirian dan butuh seorang kawan untuk mendengarkan ceritamu tapi mereka sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, sebagai None Buku kamu tentu masih bisa berteman dengan buku-buku. Mereka dapat menemanimu dalam situasi apa pun. Meminjam kalimat Ernest Hemingway (seorang penulis peraih Nobel Sastra): There is no friend as loyal as a book.

Salam,


Penggemarmu
Read More
Apa kamu pernah dijotos oleh tulisan sendiri? Jika saya yang mendapatkan pertanyaan itu, tentu jawabannya: lumayan sering. Saat merasakan sedih yang mendalam karena gagal lagi mendapatkan pekerjaan tetap, misalnya, saya justru bisa-bisanya membaca tulisan empat tahun silam tentang  69 kiat melamar dan wawancara kerja yang ngawur. Baru-baru ini, ketika saya lagi pengin berhenti menulis atau berniat vakum dalam jangka waktu yang teramat lama, saya tersadar kalau Hari Ibu bertepatan dengan tanggal dibuatnya blog ini. Kini, blog ini sudah berusia tujuh tahun. Saya lalu iseng mengecek sekaligus membaca ulang, kisah apa saja yang pernah terekam di sini. Pada saat itulah saya malah menemukan cerpen berikut di draf.




--

Rabu, 4 Juli 2018


“Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam ... menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit tulisan malam ini. Mungkin karena kau ... sedang pusing-pusingnya.” 

Kalimat barusan adalah lirik lagu dari grup musik Payung Teduh yang Agus pelesetkan sesuka hatinya. Tepatnya sih dia bermaksud mengubah lirik tersebut agar sesuai dengan keadaanku sekalian meledek. Dalam dua minggu belakangan ini, pikiranku mendadak buntu setiap kali berusaha menulis. Entah itu menulis esai, cerpen, puisi, ulasan, ataupun hanya curahan hati tak penting. 

Aku menceritakan permasalahan itu kepada Agus di sebuah warung kopi di sekitaran kampus Binus Syahdan yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku. Jarak tempuhnya hanya sekitar 10-15 menit jika menggunakan motor. Selain kami berdua, ada delapan orang lainnya yang masih betah di warung kopi ini pada pukul 01.17. Tiga orang bapak-bapak berada di dalam ruangan yang duduknya membelakangi kami sedang asyik menonton pertandingan sepak bola. Aku tidak sempat melihat ke layar kaca dan kurang berminat untuk mengetahui negara mana yang sedang bertanding pada Piala Dunia 2018 ini. Layar televisi di warkop ini agak buram karena antenanya rusak. Memaksakan diri untuk menontonnya jelas bikin mataku sakit. 

Sisanya ialah sekumpulan anak muda yang kutebak baru lulus SMA. Mereka lebih memilih duduk-duduk di luar. Mungkin karena di dalam warkop ini tidak ada kipas anginnya, sehingga mereka merasa gerah dan sumpek. Salah satu di antara mereka kemudian memutar musik di ponselnya. Kala itulah lagu Payung Teduh terdengar. Sebagai manusia yang tingkat kepercayaan dirinya teramat tinggi dan memiliki hobi ikutan bernyanyi setiap kali mendengarkan lagu, Agus pun langsung meledekku dengan lirik di kalimat pembuka tulisan ini. 


Sudah hampir empat jam aku duduk di depan laptop untuk bikin tulisan, tapi aku hanya bisa menuliskan dua ratusan kata. Setiap memasuki paragraf keempat, aku akan membaca ulang tulisan tersebut. Jika terasa buruk sekali, aku segera menghapus semuanya. Masalahnya, kalimat yang telah kutuangkan itu pun masih belum pantas disebut buruk sekali. Adakah kata atau frasa yang tepat sebagai pengganti “buruk sekali”, “jelek banget”, atau “sampah”? Sebagian penulis terkenal suka menyebutnya dengan istilah “jelek saja belum”. Mungkin kalau aku menyuruh orang lain untuk membacanya, dia pasti langsung menyeletuk, “Tulisan opo iki? Asu, elek tenan, Cok!” 

Kenapa komentar orang itu menggunakan bahasa Jawa? Aku betul-betul tidak mengerti karena suara yang muncul di kepalaku seperti itu. Namun, begitulah kira-kira wujud tulisanku. Aku sudah berkutat di depan laptop dari sehabis Isya, tapi tetap saja masih belum sanggup menulis dengan lancar. Padahal biasanya aku cuek sekali dengan draf pertama hingga bisa menghasilkan dua ribuan kata. Yang terpenting segala unek-unek bisa keluar dari hati dan kepalaku tanpa peduli betapa buruk hasilnya. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Aku langsung kepengin menghasilkan tulisan bagus. 

Pukul 23.24, ketika aku sudah frustrasi untuk melanjutkan tulisan, Agus mengontakku, “Masih melek, Yog? Gue laper nih. Di rumah udah enggak ada lauk apa-apa.” Begitu aku membaca pesan itu dan belum sempat membalasnya, Agus segera mengetik lagi, “Ke warkop biasa, yuk.” Pesan Agus bagaikan angin segar buatku. Sepertinya aku memang butuh menghirup udara segar. Aku akhirnya menerima ajakannya itu dengan syarat menggunakan motornya. 

Sesampainya di warkop, Agus segera memesan Indomie Jumbo plus telur dan kornet, sedangkan aku memilih roti bakar dengan selai nanas. Minum kami sama-sama es teh manis. Ketika dia sedang menyantap mi itu, aku mulai mencurahkan isi hatiku, bahkan aku juga sempat berujar kepadanya ingin berhenti bermimpi menjadi seorang penulis. Lebih asyik jadi pembaca saja. Aku tidak ingin lagi repot-repot duduk berjam-jam cuma untuk menghasilkan satu tulisan. Itu pun belum tentu hasilnya bagus. 

Aku awalnya mengira dia tidak mendengarkanku sebab tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya dan tetap fokus melahap makanannya. Tapi begitu mangkuk itu tidak lagi berisi mi, Agus akhirnya bilang, “Lu yakin mau berhenti sekarang?” 

Disodorkan pertanyaan semacam itu, aku sungguh tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Mungkin masih ragu atas apa yang kusampaikan kepadanya. Tanpa menunggu kalimat yang keluar dari mulutku, dia melanjutkan perkataannya, “Udah sekitar tiga tahun lebih lu bergelut di dunia itu, terus sekarang tiba-tiba mau menyerah?” 

Aku menggaruk-garuk kepala belakangku. Masih tidak tahu mesti merespons apa. 

Agus mencerocos dan mengisahkan tentang diriku bahwa setiap kali aku baru menerima upah dari tawaran kerja sama menulis dan punya rezeki berlebih, aku pasti berusaha untuk mentraktirnya di warkop ini. Setiap kali aku ikutan lomba dan mengeluh kepadanya kenapa masih belum juga menjadi pemenangnya, aku kelak bakal bangkit lagi. 

“Pokoknya, lu tuh jadi semangat banget buat menulis lebih bagus biar suatu hari bisa menang, terus akhirnya bisa traktir gue lagi. Tapi kenapa giliran pas otak lagi buntu begini, lu langsung melempem?” 

“Sebelum gue jawab,” ujarku. “Kapan, sih, gue ngejanjiin mau traktir lu kalau menang lomba?” 

“Ya, itu akal-akalan gue doang. Yang penting lu jadi punya tujuan buat menang, kan? Siapa tahu gara-gara niat itu takdir lu mulai berubah.” 

“Tai. Culas banget lu jadi orang. Tapi ya, bolehlah. Asalkan traktirnya di warkop ini.” 

“Gembel! Makan di restoran yang berkelas gitu, kek.” 

“Ya udah, pesennya di warkop sini. Baru nanti numpang makannya di kelas mana bebas deh.” 

“Bercandaan lu basi, Yog!” 

Meski demikian, kami berdua tetap mentertawakannya. Begitu tawa kami reda, salah seorang dari bapak-bapak itu meneriakkan “mampus, pinalti” dan kami berdua spontan menoleh. Kami berdua akhirnya terpaksa mendekat ke arah TV buat mencari tahu tentang pertandingannya. Ternyata Inggris melawan Kolombia. Kane yang menjadi eksekutor dan Inggris memimpin satu angka. 

Kami kembali ke tempat duduk semula. Aku menelan dua potong terakhir roti bakar milikku, lalu menyedot es teh manis hingga tandas. Satu menit berselang, terputarlah lagu dari Payung Teduh. Agus mengejekku dengan suaranya yang sumbang. Bagian terakhir dari lirik yang Agus nyanyikan itu, tepatnya pada kata pusing, membuatku merenung begitu saja. 

Jika tidak menulis dalam jangka waktu yang lama, otomatis kepalaku pasti pusing karena menyimpan banyak beban pikiran. Tapi saat aku sudah berniat ingin menumpahkannya, tentu akan terasa susah dan ujung-ujungnya membuat kepalaku pusing juga. Aku pun jadi serba salah. Lantas, apa yang harus aku lakukan kalau sudah seperti ini? 

Aku mulai mengingat-ingat tentang proses menulisku selama ini. Aku pernah beberapa kali jeda dari dunia tulis-menulis. Tiga bulan adalah rekor terlamaku. Bagaimana aku bisa tahan pada saat itu? Lalu, bagaimana caranya aku bisa memulainya lagi? 

Aku pun terkenang Ibu Almira—salah seorang psikiater yang sempat kudatangi. Dia memberikan nasihat soal masalahku itu bahwa solusinya cuma ada pada diri sendiri. Mau berobat ke mana pun, kamu enggak akan sembuh kalau kamunya sendiri enggak punya tekad buat sehat lagi, katanya. Pesan terakhir yang aku ingat darinya: Cara paling mudah dan murah untuk terapi jiwa ialah dengan menulis jurnal. 

Saat itu aku sempat bertanya, “Bagaimana kalau tulisan saya jelek?” 

“Saya bahkan meminta kamu menulis yang sangat jelek.” 

Aku spontan tersenyum. 

Meskipun perkataan “senyum adalah ibadah” sudah sangat klise, tapi sewaktu Bu Mira yang mengatakan hal itu dan memberi tahu soal senyum yang barusan merupakan pertama kalinya aku tersenyum sejak mendatanginya, entah mengapa menerbitkan rasa nyaman di hati. Apalagi setelahnya dia memuji tentang rona gelap wajahku yang perlahan-lahan berubah cerah. Seketika itu, aku mendadak lupa caranya menghentikan senyuman. 

Apakah kala itu aku betul-betul bikin tulisan yang paling jelek sampai akhirnya dapat kembali menulis? 

Jika ingatan ini tidak berkhianat, sepulangnya dari psikiater aku mulai menjadikan Tumblr sebagai jurnal harianku karena di platform itu nyaris tidak ada pembacanya, sehingga aku tak perlu merasa minder dengan apa yang kutulis. 

Berarti kuncinya memulai tulisan dengan jelek, ya? Apakah anjuran itu tidak keliru? Siapa coba yang sudi membaca tulisan buruk? 

Frasa tulisan buruk membawaku pada perkataan seorang penulis yang sudah kulupa namanya. Intinya, dia bilang begini: Enggak ada yang salah dengan hasil buruk ketika kamu menulis draf pertama. Itu sangat wajar. Orang yang bisa menulis langsung bagus tanpa diedit itu jelas anomali. Jadi kalau kamu bukan termasuk golongan itu, tulis saja seburuk mungkin, baru nantinya kamu edit sampai bagus. 

Baiklah, nanti setibanya di rumah aku akan mencobanya lagi. 

“Gimana? Masih kepikiran buat nyerah, Yog?” ujar Agus. 

Mungkin aku tidak bermaksud menyerah ketika bercerita kepada Agus tadi. Bisa saja lidahku terpeleset dan kalimat yang terlontar justru keinginan berhenti menulis, padahal maksudku yang sebenarnya cuma vakum. Barangkali hari ini kepalaku sudah terlalu lelah berpikir dan butuh tidur. 

“Mungkin lu lagi butuh pelukan, Yog,” ujar Agus seolah-olah dapat membaca isi kepalaku. 

“Pelukan siapa? Pacar udah enggak ada.” 

Agus kemudian merentangkan tangannya dan memberi gestur seakan-akan ingin memelukku. 

“Enggak lucu, tolol!” ujarku sembari memegang gelas bermaksud untuk menyambitnya. 

“Santai dong, Yog. Gue bercanda. Mending juga meluk cewek gue.” 

“Cewek yang mana? Rena atau Sinta?” 

“Anjing!” 

Aku barusan menyebutkan dua nama perempuan yang pernah Agus ajak kenalan lewat Tinder, tapi saat ditemui ternyata cantiknya itu imitasi. Agus telah tertipu wajah mulus efek filter atau editan Photoshop. 

Kami lagi-lagi tertawa. Kali ini suara kami lepas kontrol sampai-sampai salah satu dari bapak-bapak itu tiba-tiba menyuruh kami diam. Suasana untuk melanjutkan obrolan pun menjadi kurang asyik. Kami pun terpaksa memilih pulang. 

Sesampainya di rumah, aku pun menuliskan semua cerita ini. Apa yang Agus bilang tentang butuh pelukan agaknya kurang tepat. Aku hanya butuh kesabaran untuk tidak buru-buru membaca ulang dan menghapusnya ketika tulisanku masih berbentuk draf mentah. Selain itu, aku mungkin juga butuh ketahanan diri saat menyunting tulisan. Aku harus mengingatkan diriku sendiri agar tidak gampang muak ataupun puas sama tulisan sendiri. Sebab cuma bajingan pemalas yang enggak betah mengedit tulisannya sendiri, lalu membiarkan mata dan otak pembacanya menderita. Oh iya, sepertinya masih ada satu lagi, yaitu begundal goblok yang kelewat narsis dan kagum sama tulisannya sendiri, padahal jeleknya minta ampun. Apakah aku termasuk di antara kedua itu? Aku tak tahu. Yang jelas, sih, aku masuk ke kategori manusia tengik pembenci tulisan-tulisannya sendiri. 

PS: Aku tentu tidak menolak jika ada perempuan cantik yang ingin memelukku. 

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/romantic-hug-togetherness-embrace-1934223/
Read More
Burung


Akar pohon itu menyembunyikan
kebohongan pada seekor burung.
Ia biarkan burung bercericau dan meneduh
sampai waktu menjeritkan aduh.

Apakah burung telah siap
jika suatu hari nanti
ranting akan mencengkeramnya?

Mengapa burung itu enggan bertarung?
Mungkinkah mati lebih puitis
daripada terkurung
di dalam sangkar murung?

/2018


Kucing

Kucing di dalam kepalaku
terus mengeong
kala aku menatap layar kosong.



Ia minta diberi makan
tetapi di tubuh kulkasku
tak ada ayam ataupun ikan.

Hanya ada deretan huruf miring
yang menunggu darah puisi kering
dan tersaring.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba,
kucing lapar itu melompat
dan menggigit jemariku hingga putus

Ia memaksaku agar hiatus
sebelum sajakku berevolusi
menjadi bunga lotus.

/2017

--
Sumber gambar:

https://pixabay.com/id/photos/burung-jalak-bali-burung-jajak-bali-4589476/

https://pixabay.com/id/photos/kucing-kecil-anak-kucing-4611189/
Read More
1/

Aku sadar
bahwa tinta-tinta puisi
yang kulukiskan kepadamu
telah memudar
sebelum warna hijaunya
dapat menyentuh garis edar.

2/

Aku pedih
mendengar ocehanmu
yang selalu menerjemah
tangis itu berarti sedih.

Padahal, berulang kali sudah kubilang
air mata bisa menjadi apa saja.
Termasuk sebuah bentuk pengungkapan
atau penguapan bahagia yang mendidih.



3/

Aku hampa
melihat deretan sajak panjang
yang terpampang
pada lembaran daun ketapang.

Puisi itu dikunyah oleh burung-burung
sampai mereka kenyang, lalu terbang
mencengkeram segepok uang.

Sedangkan sajak-sajak pendekku,
adalah limbah yang tak dapat diolah.
Hanya mencemari sungai para penyair mewah.

Lebih pantas dipandangi kaum kelas bawah
kala mereka pulang memikul lelah
seraya membisikkan doa-doa lemah.

/2018

--

Saking muaknya mendapatkan penolakan, pada setahun silam saya pernah nekat menyindir salah satu media yang saya tuju dengan puisi jelek di atas. Sebetulnya saya selalu berusaha untuk sadar diri, bahwa jika ditolak itu tandanya tulisan saya belum cukup bagus. Namun, mengapa pada suatu hari saya menemukan cerpen maupun puisi yang bagi saya jauh lebih buruk, tapi tulisannya tetap diloloskan oleh media itu? Apakah itu karena penulisnya sudah menyandang nama besar? Jadi, seakan-akan redakturnya merasa tidak enak buat menolaknya? Dengan kata lain, menolak naskah seorang penulis yang sudah memiliki banyak karya adalah sebuah penghinaan terhadap penulis tersebut?

Saya mungkin masih pemula, anak kemarin sore, bau kencur, sok tahu, atau sebutan apalah yang cocok dilekatkan pada diri ini, tetapi saya sadar betul kalau menerbitkan karya buruk itu juga bentuk penghinaan terhadap orang yang menyukai dunia tulis-menulis.

Alasan mengapa saya kembali memajang tulisan-tulisan yang pernah mendapatkan penolakan dari suatu media ke blog ini, barangkali agar saya semakin sadar dan memilih berhenti mengirimkan naskah. Mungkin lebih baik saya juga tak usah menulis lagi. Lebih enak membaca saja, lalu mengejek tulisan-tulisan yang menurut saya busuknya keterlaluan. Mungkin sikap ini akan mendatangkan beberapa musuh. Mungkin malah ada yang berterima kasih lantaran memperoleh hiburan. Sebebasnya pembaca saja. Kali ini, saya tak ingin terlalu peduli dengan respons. Yang penting diri saya bisa bergembira.

Terlepas dari hal-hal barusan, sekiranya blog ini ke depannya masih menyuguhkan tulisan-tulisan yang mendapatkan cap jelek saja belum, kalian boleh banget menghina sepuasnya, dan saya tentu akan dengan senang hati menerimanya.
Read More
—Desember 2016



Jika bukan Bang Arif—guru mengajimu sewaktu SD—yang memintamu untuk menjadi panitia acara peringatan maulid, kau tentu sudah mencari-cari alasan untuk menolaknya. Kau sulit mengabaikan permintaan tolong dari seseorang yang kau hormati. Namun, kenapa kau tiba-tiba merasa ingin mengundurkan diri, padahal acaranya tinggal dua hari lagi? Apakah itu karena kau mulai muak mendengar berbagai ocehan Faisal—selaku ketua pelaksana—yang gemar menggurui anggotanya? Khususnya tentang peristiwa rapat semalam.



Setelah rapat berakhir, Faisal menyuruh Vina—yang bertugas sebagai bendahara—melaporkan hasil uang yang kalian dapatkan dari meminta donasi kepada para tetangga setempat. Belum ada satu menit membaca buku laporan keuangan itu, Faisal tiba-tiba melontarkan protes, “Ini serius RT 3 cuma dapat uang sumbangan segini?”

Kau kaget mendengar RT-mu disebut.

“Ini siapa yang bertugas meminta dananya?” katanya lagi.

Vina lantas menengok ke arahmu. Kau dan Kiki—teman yang menemani berkeliling meminta donasi dan merangkap sahabat—pun segera mengangkat tangan kanan.

“Ini kalian udah setor semua uangnya, kan?” tanya Faisal.

“Udah semua, Bang,” katamu. “Itu totalnya 1.460.000, kan?”

“Iya, tapi kok sedikit amat?”

“Memangnya kami harus dapat berapa, Bang?” ujar Kiki. “Apa ada syarat minimalnya?”

“Ya, enggak ada patokan, sih. Cuma kok bedanya lumayan jauh sama RT 1 dan 2. Ini uangnya enggak kalian simpan sebagian, kan?” Faisal berkata begitu sambil tertawa.

Enggak lucu!

Kau dan Kiki sempat merasa malu saat mengetahui jumlah donasi RT lain bisa menyentuh angka dua juta, sedangkan RT-mu satu setengah juta saja belum sampai. Namun, memang itulah kenyataannya. Kau dan Kiki tidak mengambil jatah sedikit pun dari hasil pencarian donasi tersebut. Bahkan, tidak ada pikiran buruk sama sekali saat memegang uang sebanyak itu. Bagi remaja seusiamu yang belum pernah memegang uang dalam jumlah besar, biasanya akan ada bercandaan antarkawan seperti, “Duit segini buat main Playstation bisa sewa berapa jam, ya?” atau “Kalau ini duitnya dibelikan kuota internet, kira-kira bakal dapat berapa GB nih?” Tapi kau sendiri biasa saja dan tidak norak begitu. Kiki pun sama.

Belum sempat kau membela diri atas kalimat yang mungkin cuma kelakar itu, Faisal mulai membuka mulutnya lagi dan seakan-akan sedang menceramahimu beserta Kiki, “Saya enggak bermaksud menuduh kalian. Yang barusan juga cuma bercanda. Tapi saya sebenarnya mau menjelaskan kalau ini uang buat kepentingan bersama. Demi memperingati hari besar Nabi Muhammad. Jangan berani-beraninya kalian mengambil sepeser pun. Sebab Allah Maha Melihat.”

Itu mah anak SD juga tahu, katamu dalam hati.

“Sumpah demi Allah, saya dan Rudi enggak berbuat macam-macam, Bang,” ujar Kiki secara tiba-tiba. Kalimatnya betul-betul mengagetkanmu.

“Iya, Bang. Demi Allah,” katamu ikut-ikutan.

Suasana rapat di pelataran masjid yang mulanya sejuk itu mendadak berubah jadi panas sekali.

Menurutmu, kau dan Kiki sebenarnya tidak perlu bersumpah seperti itu. Kau malas membawa-bawa nama Tuhan untuk urusan salah paham begini. Lagi pula, kau memang tidak berbohong sama sekali. Sejujurnya, kau juga tak sudi memanggilnya “Bang” walaupun usia dia lebih tua tiga tahun darimu. Kau merasa kalian semestinya sepantaran karena Faisal yang sudah berumur 20 dan seorang mahasiswa, tetapi pola pikirnya masih labil sebagaimana anak SMA.

Memang, sejak awal rapat dan pembentukan panitia dia cukup sering mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan terlihat dewasa ketika berbicara di depan para anggota. Tapi kau menebak-nebak kalau dia sebetulnya hanya sok bijak dan doyan mencari muka. Lebih-lebih mencari perhatian di depan Vina. Sebagai sesama lelaki, kau tahu betul bahwa Faisal menyukai Vina dari gelagatnya. Lalu, malam ini sikap bijak dan wibawanya telah lenyap di matamu lantaran dia blunder. Dugaanmu akan kepalsuannya itu pun terbongkar dengan sendirinya.

“Sori, saya enggak bermaksud menuduh dan bikin Rudi maupun Kiki bersumpah kayak begitu. Itu tadi saya hanya bermaksud memberikan sedikit nasihat. Jadi kalimat saya berlaku juga buat RT lain yang bertugas meminta donasi. Bekal buat kalian semua ke depannya.”

Enggak bermaksud menuduh? Lantas yang tadi itu namanya apa? Mendakwa? Jika memang niat awal Faisal itu melemparkan lelucon, semestinya dia juga tidak perlu protes sejak awal kala mengetahui hasil donasi RT 3 yang lebih sedikit ketimbang RT lain. Kau langsung benci setengah mampus dituduh korupsi olehnya. Pengalaman itu rasanya tidak ingin kau lupakan sampai kapan pun.

Bicara soal lupa, kau kemudian jadi terkenang sewaktu menghitung uang hasil donasi itu yang ternyata jumlahnya kurang 30 ribu saat dicocokkan dengan laporan yang tertulis. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau mesti menggantinya dengan uang milikmu. Kau mengambil uang dari dompetmu dan memindahkannya ke buku laporan keuangan sembari membatin, udah berusaha berhemat karena sekolah libur dan enggak dapat jatah jajan, eh malah mesti nombok begini. Asu!

Setelah seluruh uang hasil donasi itu kausetorkan ke bendahara, kau segera merebahkan diri di kasur dan menghibur dirimu dengan mendengarkan lagu-lagu rock di ponselmu menggunakan earphone. Kau pun ikut menyanyikan lagu itu dengan suara sedikit berteriak. Saat itulah kau mendadak tersadar bahwa Kiki sempat salah tulis pada salah satu jumlah uang yang ditulisnya pada buku laporan.

“Rud, itu tadi Pak Nanang cuma menyumbang 20 ribu, terus aku salah tulis jadi gocap,” ujar Kiki. “Gimana dong nih?”

Kau berkata tak masalah. Angkanya tidak perlu dicoret ataupun dihapus pakai tipe-x. Takutnya nanti malah menimbulkan curiga. Lebih baik nanti ketika ada yang menyetor sebesar 50 ribu, barulah ditulis menjadi 20 ribu. Semacam pertukaran untuk menggantikan yang salah tulis itu. Sayangnya, sampai kalian selesai meminta donasi sekaligus menyebarkan undangan (tentang acara peringatan maulid) pada semua rumah di wilayahmu, kau justru terlupa akan kejadian Kiki salah tulis. Begitu mengingatnya lagi sekarang, kau pun mengutuk kebodohanmu yang satu itu.

Tapi hingga jadwal rapat tiba pada malam ini, kau memilih untuk tidak menceritakan bagian tersebut kepada Kiki. Lalu, kini kau bisa-bisanya dituduh menggelapkan uang. Betapa teganya si Faisal keparat itu.

*

Kau teramat jengkel mengingat bagian yang satu itu hingga terlintas di benakmu untuk berhenti dari panitia acara peringatan maulid. Kalau saja malam itu Bang Arif tidak segera datang bermaksud mengecek situasi rapat yang belum usai juga padahal malam semakin larut, kemudian menengahkan permasalahannya, mungkin kau juga sudah menorehkan kebencianmu itu terhadap Faisal dan mengundurkan diri saat itu juga.

Namun, alasan apa yang sekarang bisa kau berikan kepada Faisal ataupun Bang Arif untuk berhenti menjadi panitia? Lagi banyak tugas sekolah? Kau tidak dapat berbohong dengan membawa-bawa perihal sekolah. Dua minggu silam kau habis mengikuti UAS (Ujian Akhir Sekolah) semester ganjil dan setelahnya tidak ada lagi kegiatan belajar-mengajar. Pihak sekolah telah membebaskan murid-muridnya, boleh masuk ataupun tidak, sebab kehadirannya sudah tak dihitung lagi karena sebentar lagi pembagian rapor. Belajar untuk persiapan UN (Ujian Nasional)? Waktunya kurang lebih masih empat bulan lagi. Sebentar lagi pun waktunya liburan sekolah. Bukankah sekarang-sekarang ini adalah masa santai bagi para siswa? Sepertinya tidak ada satu pun alasan yang bisa kau jadikan senjata ampuh. Toh, sekalipun kau kelak berhasil menemukan alasan dan tidak lagi menjadi panitia, bukankah itu berarti kau lepas dari tanggung jawab? Kau sangat tak ingin dianggap sebagai pengecut.

Kau pun berusaha menguatkan diri. Kau mencoba bertahan sebab ada Kiki—kawan baikmu—yang masih tetap ikut serta dalam acara ini. Kau tahu Kiki yang awalnya bersikap biasa saja, akhirnya juga ikutan jengkel dengan sosok Faisal setelah kejadian malam itu. Kau lalu berpikir, jika beban dan kesulitan itu ditanggung bersama pasti akan terasa lebih enteng. 

*

Kau sedang membagi-bagikan kotak—yang berisi tiga macam kudapan dan air mineral gelas—kepada para tamu yang hadir di Masjid Al-Barokah. Acara peringatan maulid itu akhirnya tiba juga setelah kau jenuh dengan jadwal rapat yang nyaris selalu ada pada setiap malam. Meski penutupan acaranya masih sekitar 3 atau 4 jam lagi, kau berkata kepada dirimu sendiri bahwa acaranya sebentar lagi akan selesai. Bersabarlah, Rud.

Begitu selesai membagikan penganan itu, kau menghampiri Kiki, yang sedang menjalankan tugasnya sebagai seksi dokumentasi—memotret para hadirin dan acara yang sebentar lagi akan berlangsung.

“Ini nanti kalau acara maulidnya udah selesai dan sukses, pasti yang dapat pujian dari Bang Arif si Faisal kunyuk,” ujarmu kepadanya dengan setengah berbisik.

Kiki pun berhenti memotret, mengalungkan DSLR-nya, menoleh kepadamu, serta menimpali kalimatmu, “Emang kau juga pengin dapat pujian, Rud? Kalau kerja yang ikhlas, kek.”

“Bukan begitu. Tapi dia tuh enak banget jadi ketua. Kerjanya santai. Bisanya cuma nyuruh-nyuruh anggotanya.”

Dari arah kiri, terdengar seseorang memangil-manggil namamu. Suaranya tidak asing di telingamu. Kau lalu menoleh dan mendapatkan Faisal yang sedang melambaikan tangan.

“Kau sih segala ngomongin dia, Rud. Datang kan tuh orangnya.”

Mau nyuruh apaan lagi sih ini orang?

Kau pun dengan terpaksa menghampirinya.

Faisal ternyata menyuruhmu ikutan mendokumentasikan acara bersama Kiki agar bisa menghasilkan foto yang lebih banyak.

“Kenapa enggak kau sendiri yang memotret, Bang?”

Bukannya menjawab pertanyaan itu, Faisal justru balik bertanya, “Memangnya kau enggak bisa memotret?”

“Kurang jago.”

Akhirnya, Faisal pun menjelaskan bahwa Gani yang bertugas sebagai MC belum juga datang dan entah sedang ke mana karena saat dihubungi nomornya tidak aktif. Barangkali dia melarikan diri, batinmu. Oleh sebab itulah, Faisal kudu menggantikan perannya.

“Kalau kau enggak bersedia, saya cari orang lain lagi nih,” ujarnya.

Tak ingin diremehkan olehnya begitu saja, kau pun menyanggupinya.

Dia kemudian berusaha mengajarkanmu tentang cara mengoperasikan kameranya. Kau sesungguhnya sudah paham tanpa perlu diajari lagi, tetapi rasa isengmu tiba-tiba terbit dan kau penasaran kalimat apa saja yang bakal dia lontarkan.


“Wih, kau disuruh motret juga, Rud?” tanya Kiki begitu kau berjalan mendekatinya.

“Iya, tapi aku enggak sudi pakai kameranya. Tukeran dong, Ki.”

Kiki terkekeh dan geleng-geleng kepala.

Sebelum kalian berpisah untuk menempati spot masing-masing dan menemukan sudut pandang yang berbeda, kau mengisahkan tentang Faisal yang mengajarkanmu cara memotret.

“Konyol juga si Faisal, orang yang pernah menang lomba fotografi di sekolah masih diajarin motret,” ujar Kiki, lalu tertawa.

Kau menempelkan telunjukmu ke bibir dan mengeluarkan bunyi “sssttt”. Sikapmu barusan sangatlah ambigu. Entah itu untuk menyuruh Kiki agar tidak tertawa karena acara maulidnya sudah dimulai atau jangan membahas soal prestasimu di sekolah.


Faisal membuka acaranya dengan salam dan mengajak hadirin membaca Alfatihah, lalu begitu selesai langsung mempersilakan Bang Arif memberikan kata sambutan. Acara sesudahnya pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan selawat Nabi Muhammad saw. Saat momen ini, kau memilih berhenti memotret dan memejamkan mata. Kau bermaksud melupakan aktivitas itu sejenak untuk menikmati suara riuh para hadirin yang sedang melantunkan selawat. Hatimu terasa tenang dibuatnya.

Kau kembali memotret ketika selawatan itu telah beralih menjadi ceramah yang disampaikan oleh K. H. Ishak—ayah dari Bang Arif. Beliau mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat secara ringkas dengan gaya mendongeng. Kau entah mengapa sedih mendengar ulang cerita tentang bagaimana Rasulullah sudah menderita sejak kecil. Dia telah menjadi anak yatim sejak dirinya dilahirkan, lalu pada usia enam tahun tahun juga ditinggal wafat oleh ibunya (Siti Aminah), sehingga harus menjadi yatim piatu. Bahkan dua tahun kemudian, dia mesti kehilangan kakeknya (Abdul Mutholib) pula. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Sebelum acara peringatan maulid ini ditutup, penampilan marawis yang sangat ditunggu-tunggu oleh bocah-bocah SD dan SMP pun semakin memeriahkan acaranya. Kau terharu melihat wajah-wajah gembira para bocah itu, terutama saat mereka ikut menyanyikan lagu Annabi.

Annabi Shallu ‘Alaih
Sholawatullahi’alaih
Wayyana lul barokah
Kulluman sholla ‘alaih

Perpaduan bunyi vokal, marawis, tamtam, dan tamborin itu merdu sekali di kupingmu. Kau pun memotret para pemain marawis tersebut beberapa kali. Kau kemudian mengalihkan pandanganmu dan langsung terkejut dengan pemandangan indah yang spontan membuat matamu berkaca-kaca. Dimas—salah seorang tetanggamu yang baru duduk di kelas dua SD dan telah menjadi anak yatim—sedang bertepuk tangan mengikuti permainan marawis. Kau lantas teringat kembali dengan masa kecil Rasulullah.

Sebelum momen bagus dan langka itu lenyap, kau segera membidik kameramu ke arah Dimas. Kau memperbesar jarak pandang kamera itu hingga hanya menampilkan wajah dan setengah badannya. Kau membuat orang-orang di sekitar Dimas blur. Kau tidak terlalu peduli lagi dengan permainan marawisnya. Biarlah itu menjadi tugas Kiki yang membekukan momennya. Kini, yang terpenting bagimu adalah senyuman dan tepuk tangan Dimas. Kau rasanya ingin mengabadikan momen aduhai itu sebanyak-banyaknya. Sekelarnya memotret, kau mencoba melihat hasil jepretanmu. Air matamu yang sedari tadi berusaha ditahan-tahan itu akhirnya menetes juga.

Dalam kondisi sedih bercampur bahagia begini, kau terkenang pula bagaimana Rasulullah wafat dan kata-kata yang diucapkannya: “Umatku” sebanyak tiga kali. Hatimu rasanya bergetar mengingat bagian itu. Bagaimana mungkin, kau yang berusaha memperingati maulid dan berusaha meneladani sifat-sifatnya itu, tetapi masih sering bersikap egois. Kau kembali mengingat kebencian-kebencianmu terhadap Faisal. Sebetulnya, atas dasar apa kau sangat tidak menyukai sosoknya? Apakah hanya lantaran cemburu karena kau merasa tidak percaya diri saat mendekati Vina? Bisa jadi begitu. Kau kini berusaha untuk tidak menyangkal perasaanmu bahwa kau juga menyukainya. Kau lalu berusaha mencari Vina di antara kerumunan.

Selama satu menit pencarian, kau berhasil menemukannya. Dia terlihat paling muda dan bersinar di antara ibu-ibu dan nenek-nenek. Dia juga manis sekali dan cocok mengenakan jilbab biru dongker, baju muslim warna merah jambu, dan bawahan rok hitam. Kau pun diam-diam memotretnya. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Vina langsung menoleh ke arahmu. Kau memindahkan kamera yang menutupi parasmu, memegangnya sejajar dengan dada, dan tersenyum kepadanya. Vina membalas senyumanmu.


Acara peringatan maulid itu pun rampung juga. Para panitia acara lalu berbagi tugas untuk membersihkan area masjid. Tiga puluh menit berselang, tugas kalian akhirnya sudah betul-betul selesai. Tapi sebelum melangkahkan kaki keluar masjid, kau rupanya masih sempat kena protes oleh Faisal karena tadi yang mengembalikan kamera miliknya bukanlah dirimu, melainkan Kiki. Kau tanpa merasa jengkel—sebagaimana kejadian sebelum-sebelumnya—langsung meminta maaf, memberikan alasan, dan menampilkan senyum terbaikmu.

Di perjalanan pulang menuju ke rumah, Kiki bertanya kepadamu, “Apa, sih, yang membuatmu cengar-cengir begitu, Rud?”

“Enggak ada apa-apa.”

Seandainya di dekatmu saat ini ada cermin, kau rasanya ingin sekali mengaca dan melihat wajahmu sendiri. Kau bertanya-tanya, seperti apa rupamu kala sedang berbahagia?

“Tadi waktu diceramahi si Faisal kau juga tampak santai,” ujar Kiki. “Kau lagi kenapa sih, Rud? Pasti ada yang kau sembunyikan, ya?”

Kali ini, akhirnya kau berani menjawab: “Alasan dan rahasiaku tiba-tiba jadi seperti ini, semua ada di kameramu.”

Saking penasarannya, Kiki langsung menyalakan kameranya dan bermaksud melihat galerinya. Foto apa saja yang telah kaupotret. Kau meneruskan langkahmu dan meninggalkan Kiki yang masih berdiri mematung dan tengah sibuk dengan kameranya itu. Sebelas detik kemudian, kau menoleh ke belakang dan melihat Kiki yang posisinya semakin jauh denganmu. Saat itu pula kau berusaha kilas balik semua momen maulid barusan. Kau pun bersyukur bisa menjadi panitia acara peringatan maulid, sebab kegiatan itu seakan-akan telah menggeser cara pandangmu dalam melihat dunia di sekitarmu.

--

PS: Kurang lebih dua minggu silam ada sayembara menulis cerpen dengan tema maulid atau cinta Rasulullah. Penyelenggara itu berniat menjadikannya buku antologi buat sepuluh cerpen terbaik dengan hadiah senilai dua juta rupiah bagi setiap pemenang. Mengetahui informasi itu, salah seorang penulis medioker (sebetulnya disebut medioker saja belum pantas) yang saldo tabungannya kian menipis lantas nekat mengikuti perlombaannya karena tergiur dengan ganjaran uangnya sekalipun dia tidak menguasai tema. Apalagi dia sebelumnya juga tak pernah menulis dengan tema islami. Namun, dia seakan-akan dapat melihat probabilitas kemenangan yang cukup besar dari sedikitnya respons di unggahan lomba tersebut. Lebih-lebih tenggatnya juga terlalu mepet. Paling-paling yang ikutan tidak sampai 50 orang, pikirnya. Belakangan diketahui, total pesertanya nyaris 400 orang, bahkan para senior yang sudah menerbitkan buku juga tak segan-segan mengikutinya hingga menjadi pemenang.

Siapa coba yang tidak tergoda dengan angka segitu? Walaupun sudah memiliki banyak karya, kalau urusan uang mah tetap hantam terus. Peduli setan membiarkan penulis-penulis pemula berunjuk gigi. Meminjam kalimat Eka Kurniawan, mereka adalah raja-raja kecil yang tak mau turun dari singgasananya. Tapi daripada jengkel dengan pemenangnya, bukankah lebih baik penulis medioker itu becermin? Saking terfokus dengan uang, dia sampai-sampai lupa menghasilkan cerita yang asyik dan segar. Dia berharap memenangkan lomba dengan persiapan yang tidak memadai. Berani-beraninya dia baru mulai mengirimkan tulisan saat empat jam sebelum batas pengumpulan. Itu pun dia sempat merasa bersyukur bisa menyelesaikan tulisannya, lalu akhirnya berpartisipasi. Menggarap cerpen dengan terburu-buru lantaran baru mengetahui informasi itu pada hari terakhir dan bermimpi menjadi pemenangnya adalah setolol-tololnya perbuatan.

Tak usah diragukan lagi betapa bodohnya penulis medioker itu. Dia ingin menang dengan mengandalkan keberuntungan saja. Memang, kadang-kadang hal ini dapat terjadi. Tapi seandainya dia betulan menang dan mendapatkan uangnya, dapat dipastikan dia akan menyesal pada kemudian hari, dan mungkin bunuh diri, karena teramat malu karya bobrok semacam itu mendapatkan tempat.

Penulis medioker itu tadinya ingin menghapus cerpen yang gagal dan tidak layak disebut sebagai karya, tapi kini dia sengaja memajang cerpen sampahnya di blog—ditampilkan apa adanya sebagaimana sewaktu dia mengirimkannya tanpa ada penyuntingan lagi. Dia bermaksud mengingatkan dirinya kelak, jangan sampai besarnya hadiah maupun jumlah uang menjadikannya tumpul sehingga menciptakan yang semacam itu lagi. Sebab cerpen yang bagus dan cerpen yang memenangkan perlombaan itu jelas-jelas dua hal yang berbeda.
Read More
Sesuai janjiku di tulisan sebelumnya, berikut kulampirkan obrolan antara Wawan Kusmondar (W) alias aku sendiri dengan Yoga Akbar (Y). 

-- 



W: Aku kan sempat lihat twitmu yang tampak marah dengan cerpen bertema romansa remaja (menulis bareng teman-teman bloger), terus jadi mempermasalahkan komentar pembaca yang salah fokus dengan bagian mesumnya, hingga berujung diskusi soal kemesuman pada tulisan. Nah, apa sebetulnya yang memicu kemarahanmu, Yog?

Y: Saya sejujurnya udah lupa waktu itu marah karena apa. Bisa jadi mood saya lagi buruk. Tapi kemungkinan besarnya sih saya habis membaca tulisan orang yang keterlaluan bagusnya, lalu mulai membandingkannya dengan tulisan sendiri. Itu penyebab utama saya sering marah sama diri sendiri. Kalau enggak salah, saya habis baca novel Vegetarian, Han Kang. Novel itu lumayan oke, meski bukan favorit saya. Kebetulan di dalam kisah itu ada unsur mesumnya. Saya lantas berpikir bahwa hal kayak begitu sah-sah aja dimasukkan ke dalam cerita dan orang-orang juga dapat menerimanya. Jika novel itu bisa meraih penghargaan dan tandanya banyak pula yang suka dengan bumbu mesum, lalu kenapa ketika saya cuma sedikit memasukkan bagian mesum (cuma tentang adegan pelukan dan merasakan kelembutan payudara), tapi tetap ada yang mempermasalahkannya? 

Saya menduga, sih, kemampuan menulis saya ini yang masih payah buat mengisahkan adegan-adegan menjurus mesum. Saya kayaknya perlu sadar diri juga kalau cerpen-cerpen bikinan saya itu jelek, apalagi cerpen Aljabar. Sumpah, tulisan itu jelek banget. Saya marah sama hasilnya, berharap ada yang kritik, lalu tololnya malah semakin marah karena citra mesum dalam diri yang belum terlepas sepenuhnya di mata sebagian orang. 

W: Sayangnya, aku belum baca novel itu. Jadi enggak bisa komentar apa-apa. Aku cuma mau menebak, palingan di novel itu ada bagian vulgar seperti di buku Eka, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, ya? (sori, referensiku tentang tulisan vulgar baru sebatas itu). Kalau kau berasumsi novel sejenis itu banyak yang menerimanya dan suka, mungkin kau lupa sama fakta ini: apa pun yang kau lakukan (dalam hal ini menulis), toh tetap ada orang-orang yang bakalan enggak suka dan membenci. Bedanya, Eka memilih buat enggak peduli. 

Kau ini selalu keras banget dalam menilai karya sendiri, Yog? Itu cerpen Aljabar buat aku udah lumayan, kok. Kau seenggaknya tuh paham sama apa yang mau disampaikan. Kau cukup bisa membangun narasinya. Bagaimana kau juga bisa membungkus romansanya dengan perlombaan biar enggak cinta-cintaan doang. Tapi ya, masalah cerpenmu itu kepanjangan. Juga ada beberapa lubang yang saat kelar membaca masih menimbulkan pertanyaan di kepala pembaca. Ada bagian-bagian yang kudu dijelaskan lagi. 


Y: Sebetulnya saya enggak lupa sama hal itu. Saya cuma sempat teringat dengan seorang teman (perempuan) yang seakan-akan memasang standar ganda. Dia bisa memuji habis-habisan karya Eka, Agus Noor, Haruki Murakami, atau siapalah yang sudah punya nama dan di dalam tulisannya ada unsur mesum. Sedangkan dia tuh jijik banget sama tulisan saya dan beberapa kawan yang mesumnya cuma sepotong-sepotong atau buat lelucon. Terus, tainya lagi tuh dia menuduh saya menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi—merujuk cerpen Es Krim Spesial yang kini sudah dihapus.

Seakan-akan di matanya dia yang boleh menulis mesum hanyalah penulis-penulis besar atau orang-orang yang sudah menikah. Jika belum kawin dan membuat tulisan vulgar, otomatis telah berhubungan seks di luar pernikahan. Anjing banget, kan? Apa dia lupa sama yang namanya imajinasi? Tapi itu jelas cuma dugaan saya aja karena berburuk sangka sama dia. Kemungkinan yang paling bisa diterima: cara saya menulis masih sangat buruk. Ini buat saya dosa besar bagi seorang penulis. Jangan sampai menyuguhkan tulisan-tulisan busuk. Sekalipun saya tahu ada pula dosa lain—seperti penulis yang meniduri pembacanya, saya mencoba buat enggak terlalu peduli. Berhubung saya juga bukan tipe kayak gitu, saya mending lebih fokus sama dosa menciptakan tulisan buruk. Saya enggak mau terus-menerus berdosa kepada pembaca. Salah satunya: memilih berhenti membuat lelucon maupun cerita mesum jika cara mengemasnya masih payah. 

Berkat diskusi bareng Haw di Twitter itu, saya pun jadi semakin yakin kalau cara menulis saya memang perlu perbaikan. Terutama pada susunan kata dan kalimatnya, seperti diksi “menikmati” yang bikin tokohnya jadi terlihat mesum. Terus terang aja, waktu itu di kepala saya tuh hanya si protagonis terkejut mendapatkan pelukan. Dipeluk pas lagi sedih-sedihnya itu kan buat saya nikmat banget. Bisa menjadi pelipur lara. Nah, kata “menikmatinya” ini mestinya tentang pelukan. Bukan menikmati kelembutan payudara orang yang memeluk. Jika ada pembaca yang salah paham, kayaknya saya gagal mendeskripsikan adegan tersebut. Tapi seandainya sudah tepat, berarti kepala pembaca itu sendiri yang bermasalah. Lagian, saya juga enggak bisa mengatur pembaca mau berpikir dan berkomentar apa akan tulisan saya. 

Buat penulis culun macam saya kan komentar pembaca itu penting banget. Saya masih butuh masukan dan kritik. Tololnya, kadang saya menelan begitu aja komentar yang masuk. Kayak kasus dikomentari tokohnya atau ceritanya yang mesum itu. Lebih-lebih pas tahun 2015-2016 saat sering mendapat ejekan. Padahal kalau saya pikir ulang, ya udahlah kalau dinilai mesum sama orang lain. Mengapa harus repot? Jika kenyataannya diri saya enggak begitu, kenapa saya mesti risih? Orang yang kenal baik sama saya, pasti tahu hal itu cuma citra—yang kini sudah dibuang juga.

Semoga sih ke depannya saya betul-betul bisa bersikap cuek sama perkataan orang-orang yang enggak relevan. 

Iya, saya sadar cerpen itu berlubang. Tapi jika saya tambah lagi kalimatnya buat menjelaskan, pasti bakal semakin panjang. Jadi, tolong jangan bahas cerpen itu lagi, Wan. Saya malu dan malas buat mengingatnya. Soal keras banget menilai—atau tepatnya mengkritik—diri sendiri ini sebenarnya biar nanti ketika saya memperoleh kritik dari orang lain, saya bakal sudah siap dan enggak terpuruk karena muncul pikiran begini: ah, masih lebih jahat komentar saya pada diri sendiri. Ini seolah-olah kayak saya gemar menyakiti diri sendiri atau masokis, ya? 


W: Wah, aku baru sadar kalau cerpen kontroversial itu dihapus (barusan langsung aku cek). Aku pikir sih karena sebelum-sebelumnya kau terbiasa menceritakan keseharian, jadi pembaca otomatis mengira kau menuliskannya berdasarkan pengalaman juga. Jika memang bukan begitu, kau menulis mesum tuh pengaruhnya dari mana? Itu pun jika kau berkenan.

Soal masokis, itu kau sendiri yang bilang, lho. Hahaha. Aku mah cuma bisa mengiyakan saja. Tapi mesti diakui, kau itu termasuk gila dalam menulis. Terlalu jahat sama tulisan sendiri.


Y: Saya coba cerita runut dari awal aja, ya? Kayaknya saya belum pernah menceritakan hal ini ke media apa pun. Dulu waktu kelas 3 SMP, tepatnya pas saya lagi main ke rumah salah satu temen yang anaknya kutu buku banget, saya berkenalan dengan komik hentai gitu. Rumahnya dia mewah banget khas anak orang tajir dan punya dua rak buku gede. Koleksi bacaan dia tuh kebanyakan komik. Nah, di sanalah saya bisa menemukan komik mesum seperti Love Junkies dan Golden Boy. Jadi setiap main ke rumahnya, saya diam-diam membaca komik itu (meski sekarang udah lupa ceritanya kayak apa). Terus, zaman SMK saya juga sempet ikut-ikutan temen baca kisah dewasa di internet. Kalau dua tahun terakhir ini palingan efek baca buku Eka Kurniawan atau Paman Yusi—terkhusus di novel Raden Mandasia bab ‘Rumah Dadu Nyai Manggis’. Mungkin aja pengalaman membaca cerita erotis sejak SMP hingga sekarang, walaupun porsinya sedikit, itu tetap menempel di kepala sehingga ada keinginan dalam diri buat ikutan mengekspresikannya lewat tulisan.

W: Waduh, enggak nyangka seorang Yoga pernah baca komik sejenis itu. Aku baru dengar judulnya (habis ini mau coba cari, ah). Eh iya, bukannya kau pembaca Duo Murakami? Kalau enggak salah kau pernah  bilang terpengaruh Haruki, lalu menerjemahkan cerpen Ryu? Kok kini mereka enggak disebut? Apakah tulisan mereka enggak berpengaruh lagi? Kau lebih suka mana di antara mereka berdua?

Y: Iya, saya membaca buku-buku mereka. Jika pertanyaannya lebih suka yang mana, saya sejujurnya gandrung ke tulisan Ryu. Anehnya, saya justru baru baca empat bukunya—tiga novel (In the Miso Soup, 69, Coin Locker Babies) dan satu kumcernya (Tokyo Decadences). Kalau si Haruki malah dua kali lipatnya. Saya udah baca novelnya: Norwegian Wood, Dunia Kafka, Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Hear the Wind Sing, Sputnik Sweetheart, The Wind-Up Bird Chronicle; terus kumcernya: Blind Willow, Sleeping Woman; dan terakhir nonfiksinya: What I Talk About When I Talk About Running

Mungkin karena saya terlambat dua tahun mengenal Ryu, jadi Haruki mencuri start dalam daftar bacaan saya.

Entah kenapa sekarang ini saya agak bingung kalau ditanya soal pengaruh mesum mereka ke dalam tulisan. Saya malah lebih terpengaruh sama unsur kelam dari tulisan Haruki. Terus gaya berceritanya yang sering bertele-tele itu. Saya yakin ini terpengaruh banget sama Haruki. Soalnya sejak setahun terakhir saya enggak membaca tulisannya lagi, kebiasaan melantur di tulisan saya perlahan-lahan berkurang ketika sedang iseng mengevaluasi beberapa tulisan. Entah kalau di mata pembaca kayak gimana. Biarkan mereka menilainya sendiri. 

Dari tulisan Ryu, saya juga lebih terpengaruh dalam penggalian sisi psikologis tokohnya. Walaupun saya belum mahir menerapkannya alias masih cetek, sih. Saya juga belajar bikin monolog interior lewat tulisan-tulisannya. Jadi, porsi mesum yang berefek ke tulisan saya nyaris enggak ada ketika membaca karya mereka. Mungkin karena saya coba menerapkan ambil baiknya, tinggalkan buruknya. Oke, si Yoga sok iye banget. 


W: Mendinglah itu kau udah baca empat karya Ryu. Aku baru satu: Sup Miso versi terjemahan. Haruki juga baru Norwegian Wood, Dunia Kafka, sama Dengarlah Nyanyian Angin. Pokoknya aku cuma sanggup mencerna yang bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisku buruk banget. Belum berani baca versi selain terjemahan. Lalu, apakah kau pernah baca buku stensilan karya Enny Arrow atau Freddy S.?


Y: Freddy S. pernah sekali, lupa judul yang mana. Enny Arrow kayaknya belum. Saya dulu lebih sering baca komik Tatang S. Cerita dia juga ada beberapa yang menjurus mesum, kan? Seingat saya, sih, sewaktu setannya berwujud Kolor Ijo dan sesosok perempuan sejenis kuntilanak yang suka menjilati darah haid di celana dalam para gadis. Itu kan termasuk vulgar banget buat anak SMP. 

Kalau boleh kasih saran, terserah mau dipakai atau enggak, coba paksa aja baca versi Inggrisnya, Wan. Kemampuan saya juga masih amburadul, bahkan terlalu pasif. Dari keempat elemen linguistik—membaca, mendengarkan, menulis, berbicara; jika harus kasih nilai 1-10 untuk kecakapan bahasa Inggris, saya merasa yang nilainya di atas 6 cuma membaca. Toh, sekalipun pusing duluan saat melihat teks-teksnya, kita masih bisa cek kamus ketika enggak tahu artinya, kan? Seandainya mau yang lebih praktis, pakai Terjemahan Google. Enggak usah malu. Saya sesekali juga masih pakai itu. Namanya buat belajar. Asalkan enggak ketergantungan nantinya. Terus yang lebih penting: selalu baca ulang atau cocokin lagi, mana alih bahasa dari sistem itu yang masih ngawur. 

W: Gila, sampai dikasih saran begini. Makasih banget, Yog. Ini dua pertanyaan terakhirku, apakah kau sempat menyesal telah membangun citra mesum? Untuk ke depannya, kau bakalan tetap memasukkan unsur itu ke dalam tulisan, atau tak mau memakainya lagi?

Y: Rasa sesal tentu ada. Misalnya, dari sekian banyak citra yang dulu bisa saya buat, kenapa harus memilih mesum? Capek sumpah mengecek satu per satu tulisan di blog buat mengembalikannya ke draf atau menghapusnya. Ada rasa berdosa juga menggunakan metode curang buat mencari trafik. Zaman 2015-2016 itu soalnya banyak banget pengunjung tolol yang terjebak dengan kata kunci mesum di blog saya. Hahaha. Saya pun sempat risih sama penilaian pembaca yang lawan jenis. Ini pikiran enggak penting sih, tapi barangkali ada beberapa perempuan manis yang tadinya suka sama tulisan saya, lantas mendadak jijik begitu menemukan bagian mesumnya. Siapa tahu salah satunya ada calon pacar saya, kan? Aduh, lucu amat khayalan menyedihkan ini. Sekarang sih alhamdulillah udah lebih santai. Saya enggak takut lagi dapat cap mesum maupun kehilangan pembaca. 

Gimana ya, tergantung kebutuhan cerita, sih. Saya memang telah berjanji sama diri sendiri buat enggak memakainya secara sembarangan dan berlebihan. Lagian, bahan menulis dan gagasan itu sebetulnya kan melimpah, terus untuk apa saya bikin cerita yang menjurus ke mesum? Namun di satu sisi, jika saya pikir bagian mesum dalam kisah itu penting—saat dihilangkan rasa di dalam tulisannya justru melemah, saya pasti akan tetap menempatkannya sesuai porsi. Apalagi kalau saya udah jago buat menuturkannya. Kalau masalah saya sekarang, kan, bagaimana saya bisa bikin pembaca terangsang tanpa harus membuatnya risih, bosan, dan mual? 

Saya bingung harus kasih referensi apa buatmu selain novel Raden Mandasia garapan Paman Yusi. Bagian Nyai Manggis itu aduhai dan bisa dijadikan contoh. Tapi kayaknya kamu belum baca buku itu. Mengingat kamu juga pembaca Haruki, ada satu hal yang paling berkesan buat saya dari tulisan mesumnya: “Aku mengangkat kaos Sakura lantas memainkan payudaranya yang lembut. Aku meremas putingnya seakan tengah mencari saluran radio. Penisku yang sekeras batu kembali menyentuh bagian belakang pahanya, namun dia tidak bersuara dan nafasnya masih tetap sama. Aku rasa dia pasti tertidur sangat pulas.” 

Sekiranya kamu lupa, adegan mesum itu ada di novel Dunia Kafka. Anjinglah, saat membaca bagian itu saya justru mengakak. Unsur mesumnya secara tak langsung berubah jadi lelucon. Penuturan tokohnya juga sangat natural. Saya perlu belajar lebih banyak buat bikin yang seperti itu. Intinya, saya akan berani menulis mesum lagi jika kemampuan menggarap kisah-kisah keseharian yang remeh sudah di atas standar.

*

Percakapan kami telah berakhir. Aku kini mendapatkan sudut pandang baru seusai berbalas surat dengan Yoga. Apakah kamu juga mulai memandang sosoknya secara berbeda dan muncul rasa suka? Namun, aku yakin hal itu tidak akan berdampak apa-apa baginya. Sebanyak apa pun apresiasi yang kamu hadiahkan kepadanya, aku kira dia akan tetap membenci diri sendiri dan tulisan-tulisannya.

--

Sumber foto: https://pixabay.com/photos/business-internet-browser-inbox-3070472/
Read More
Tulisan berikut ini pertama kali tayang di blog Wawan Kusmondar (salah seorang bloger yang cuma terkenal di kalangannya sendiri), lalu  empat hari silam blognya tahu-tahu dihapus entah karena alasan apa. Saya kemudian meminta izin kepadanya buat menerbitkan ulang di sini. Dia ternyata tidak keberatan, selama saya enggak menyebut akun media sosialnya. Mungkin dengan membaca cerita berikut, kamu bakal sedikit mengerti apa alasan dia menghapus blognya.

--

Bagaimana cara melepaskan citra buruk yang pernah melekat pada dirimu? Pertanyaan itu hinggap di kepalaku ketika aku baru saja menerima surel dari seorang pembaca. Dia bilang, tulisanku masih saja tidak berubah. Selalu ada mesumnya. Dia bahkan sampai berkata: isi kepalaku harus segera dibersihkan pakai penyedot debu saking kotornya. Omong-omong, pengirimnya perempuan berjilbab. Barangkali di matanya itu aku juga merupakan manusia yang penuh dosa sebab gemar bermaksiat lewat tulisan. 

Aku tahan mendapat hinaan bangsat, bajingan, berengsek, biadab, dst., dsb. oleh kawan-kawan yang sudah mengenalku, khususnya yang laki-laki. Saling meledek begitu memang sudah lazim terjadi di antara kaum kami. Namun, jika dinilai buruk oleh perempuan, lebih-lebih dia orang asing, entah mengapa menjadi masalah tersendiri buatku. Sampai-sampai aku jadi kepikiran terus. 



Apakah karena tulisan-tulisanku yang terkesan jahat dan mesum itu membuat para perempuan jadi takut dan jijik mengenalku? Pantas saja dalam setahun terakhir ini tak ada satu pun perempuan yang terlihat ingin mendekatiku. Mungkin merancang citra semacam itu sudah tak cocok lagi di era yang penuh kepalsuan ini. 

Empat tahun silam, aku sungguh ceroboh menciptakan citra diri mesum. Aku tak tahu kenapa dulu berbuat seperti itu. Mungkin di kepalaku saat itu bisa dinilai nakal sangatlah keren. Berdasarkan artikel-artikel yang pernah kubaca, mayoritas cewek konon lebih menyukai cowok bajingan ketimbang yang baik-baik dan culun. 

Dengan merancang sosok bajingan, ditambah lagi aku berzodiak Gemini—yang kerap mendapatkan cap bangsat karena hobi merayu lawan jenis, pada hari-hari itu memang terbukti membuat diriku lebih luwes mendekati beberapa perempuan. Aku tak terlalu peduli dengan penilaian siapa pun yang mencemooh, terutama laki-laki yang tampak iri.

Ketika cewek-cewek itu dengan sendirinya tersadar bahwa aku tak seburuk yang mereka pikirkan sebelumnya, kepercayaan diriku tiba-tiba meningkat drastis. Aku sangat menikmati hal itu. Tuduhan-tuduhan sialan yang tidak sesuai dengan diriku seolah-olah menjadi sebuah kemenangan. Aku pun kian ketagihan menyelipkan lelucon-lelucon mesum di tulisanku. Aku lantas tumbuh menjadi mahasiswa yang terkenal dengan kemesumannya di area kampus, khususnya jurusanku Sastra Indonesia. Yang tidak kusangka, aku sampai mendapat julukan: Wawan Omes—singkatan otak mesum. 

Jika ada seseorang di kampus yang bingung mendeskripsikan aku orangnya seperti apa, alih-alih menggambarkanku bertubuh kurus, rambut ikal gondrong, pakai kacamata, sering mengenakan kemeja flanel, dan ciri lainnya yang melibatkan penampilan, mereka cukup menyebut “Wawan Omes” atau “pokoknya Wawan yang tulisan di blognya mesum”, dan mereka bakalan langsung paham bahwa akulah yang sedang dimaksud. Luar biasa. Ternyata julukan itu bikin aku jadi lebih mudah dikenal orang-orang.

Sayangnya, kebanggaanku terhadap citra mesum itu tak bisa lagi kunikmati dalam dua tahun terakhir. Pada suatu pertengahan 2016, aku mulai tersadar kalau mesum yang cuma citra itu tidak melulu bekerja pada setiap orang. Semua bermula ketika aku dan beberapa bloger Jakarta sedang main ke Bandung, lalu janjian bertemu di Bukit Moko bersama beberapa bloger setempat. Selain bloger, aku juga sempat mengajak Rani, seorang perempuan manis yang kukenal lewat Twitter.

Rani bertanya kepadaku siapa saja yang ikut. Walaupun aku tidak yakin dia bakal mengenal teman-temanku, aku pun menyebutkannya: Agus, Asep, Fasya, Fendi, Ihsan, Ujang, dan diriku sendiri. 

“Ceweknya cuma satu yang ikut?” tanyanya. 

“Iya, sama kamu nanti jadi dua. Kamu boleh ajak teman kamu juga kok, Ran.” 

Pesan itu tidak ada balasan lagi hingga hari keberangkatan. Barulah ketika aku pulang dari sana, dia membalas, “Sori deh, aku enggak jadi ikut. Aku takut kalau cuma satu ceweknya.” 

Aku tak paham dengan jalan pikirannya. Apa yang dia takutkan? Apakah karena ceweknya lebih sedikit daripada cowoknya, terus kami bakal berbuat semena-mena kepada mereka? Lalu kami merasa lebih hebat dari perempuan? Pikiranku tak sekolot itu. Aku lantas menceritakan hal ini kepada Fendi—teman bloger yang paling akrab denganku—saat kami berada di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta. 

“Kau lagian di blog dan Twitter terlalu sering bikin lelucon mesum sih, Wan,” ujar Fendi. “Cewek diajak ketemu sama orang sepertimu, apalagi di pertemuan itu banyak cowoknya, pasti ada rasa takutlah.” 

“Takut kenapa, sih? Aku enggak terlalu paham.” 

“Takut di-gangbang, misalnya.” 

“Anjing! Ngewe satu lawan satu aja belum pernah.”

Tawa Fendi meletus beberapa saat. “Ingat, kita ini lagi di tempat umum. Jaga bicaramu, Wan,” katanya sembari menepuk bahuku. Aku membalas bahwa dialah yang mesti menjaga suara ketawanya. Tawa rombeng itu amat menyakitkan telinga—bagi siapa pun yang mendengarnya. Fendi tak menghiraukan ejekanku dan justru menimpaliku agar diriku tidak terlalu jujur jadi orang. Dia lalu menutup kalimatnya dengan hinaan secara berbisik-bisik: “Jangan-jangan kau juga belum pernah berciuman ya, Wan?”

Tai, dia tampak bahagia sekali menghinaku seperti itu. Mentang-mentang dia tahu tentang diriku yang cuma berani mesum di tulisan, tapi tidak pada kenyataannya ini, sungguhlah menjadi gangguan buatku.

Apa kau tidak percaya kalau mesumku itu cuma citra yang dibuat-buat? Baiklah, akan kuberi tahu rahasia ini. Semua cerita-cerita di blogku yang mengandung unsur mesum itu memang bukan dari pengalamanku sendiri. Aku hanya mempelajarinya lewat buku-buku Duo Murakami (Haruki dan Ryu), Eka Kurniawan, dan Enny Arrow. Aku juga sempat terinspirasi oleh lagu-lagu Kungpow Chicken yang liriknya liar dan vulgar. Sesekali aku pun mencoba membuat deskripsi cerita lewat video bokep Jepang yang pernah kutonton. 

Lalu untuk merespons pernyataan Fendi itu, dalam empat tahun terakhir ini aku mau tak mau mesti mengakui kalau belum pernah lagi melakukannya. Sialan, aku sampai sudah lupa seperti apa rasanya berciuman. Tapi bukan berarti aku tak punya pengalaman soal itu. Bisa dibilang pengalamanku hanyalah sedikit. Setidaknya, saat SMA aku pernah melakukannya dengan pacarku. Alasan kenapa aku belum melakukannya lagi, tentu saja bukan karena tak punya kekasih semenjak lulus SMA. Saat ini aku memang tak punya pacar, tapi satu tahun silam aku masih memilikinya, kok. Dia meninggalkanku dan lebih memilih teman kantornya sebab aku tak kunjung lulus, padahal sudah kuliah 10 semester—dua bulan lagi malah 11.

Penyebab kenapa aku belum lulus: tugas akhirku menganalisis sebuah novel tidak rampung-rampung juga lantaran kerap revisi. Dosen pembimbingku memarahiku habis-habisan karena karya tulis yang kubahas justru terfokus pada adegan panas di novel tersebut. Beliau bilang,  tak usah repot-repot mencari makna di balik bagian itu, padahal kan niatku cuma bertanya, kenapa perempuan sering menjadi objek dalam sebuah cerita? Seakan-akan mereka itu lemah dan tak punya keahlian hebat selain memuaskan lelaki di ranjang. Beliau kembali mengatakan, seharusnya aku memperhatikan latar waktu pada kisah itu. Bahwa zaman dulu memang masih kolot. Urusan perempuan tak lebih dari dapur dan kasur. Dia bahkan menyuruhku untuk ganti novel saja daripada tak ada kemajuan.

Entah sudah berapa banyak aku menghabiskan duit orang tuaku demi tugas akhir biadab itu. Jika semester depan aku tidak lulus juga, mungkin mereka enggan membiayai kuliahku lagi. Gawat.

Bicara soal menghabiskan uang banyak, aku baru sadar diriku juga terlalu banyak menghabiskan waktu untuk meracau tak jelas begini, apalagi membuka banyak rahasiaku kepadamu. Ah, masa bodohlah. Sudah telanjur. Kau boleh mentertawakanku mengenai hal itu, khususnya akan fakta berikut: aku bersikap demikian (tak mau lagi berciuman) karena berusaha menerapkan cinta platonik kepada pacar-pacarku sejak memasuki bangku kuliah. Aku ingin menegaskan kepada diriku sendiri, bahwa tanpa adanya hubungan fisik (selain berpelukan) rasa cintaku terhadap pasangan bisa tetap kuat. Bahkan tidak akan layu sedikit pun jika komunikasi kami berjalan lancar. Makanya aku heran dengan gagasan-gagasan tolol yang bilang supaya pacarnya setia dan tidak pindah ke lain hati, mereka harus melakukan hubungan seks. Jelas-jelas seks itu bagian dari hawa nafsu, sedangkan cinta itu murni dari hati. Masa begitu saja mereka tidak mengerti? 


“Kau lagi melamun jorok ya, Wan?” ujar Fendi mengusik perenunganku. 

“Kau jangan asal bacot, Fen. Aku lagi berpikir, tahu.” 

Mikirin Rani yang enggak mau diajak ketemu?” 

“Bukan. Tapi kalau soal Rani itu, menurutku sih enggak adil kalau diriku ini langsung dinilai buruk cuma karena tulisan. Aku jadi heran dengan perempuan sepertinya.”

“Heran kenapa?” 

“Ya, kenapa dia enggak mau ketemu sama aku karena takut banyak cowoknya? Itu si Fasya buktinya biasa aja sama kita, kan? Toh, kita aslinya juga anak baik-baik. Orang kita niatnya piknik, kok dianggap yang aneh-aneh.”

“Fasya mah beda, Wan. Dia udah biasa berteman sama cowok-cowok. Kalau menurutku malah yang normal tuh memang perlu waspada kayak gebetanmu itu. Kau mungkin memang anaknya enggak aneh-aneh, makanya bisa bilang begitu dengan entengnya. Tapi pada kenyataannya, enggak semua orang yang kita kenal dari dunia maya juga bisa dipercaya.” 

Aku mencoba mencerna kalimat Fendi yang tiba-tiba mencerocos begitu. Belum sempat aku merespons, dia sudah berbicara lagi. 

“Apa kau juga lupa dengan kasus penculikan dan pemerkosaan yang awalnya kenal dari Facebook? Itu akibat dari terlalu percaya sama orang di dunia maya loh, Wan.”

Sial, aku lupa melihat dari sudut pandang lain. Perkataan Fendi ada benarnya juga. Setiap hal tentu ada kemungkinan buruknya.

Tak lama dari kejadian batal berjumpa itu, Rani lalu menghapusku dari daftar mengikuti. Aku mengetahuinya ketika sedang mengecek akunnya, dan tulisan “Mengikuti Anda” telah hilang dari profilnya. Aku pun ikutan menghapus dirinya dalam hidupku.

Aku tak menyangka, ternyata datang juga hari di mana ada seorang perempuan yang dapat mematahkan pemahamanku tentang citra mesum. Sampai-sampai membuatku ingin introspeksi diri.

Jika dipikir-pikir lagi, sebelum bisa bertatap muka dan mengenal baik seseorang, sebagian orang tentu cuma bisa menilai diri orang lain dari apa yang mereka lihat di media sosial dan blognya. Oleh sebab itu, kini aku tak bisa melarang siapa pun untuk menilai atau menghakimi tentang gambaran diriku yang mesum. Itu murni salahku sendiri yang menampilkan citra buruk kepada khalayak.

Maka sejak hari itu, apalagi setelah lelah berkutat dengan revisi dosen pembimbingku, aku tak mau lagi menyulitkan diriku dalam persoalan menulis mesum. Aku perlu mengontrol diriku sewaktu menulis. Bagian mesum cuma boleh dimasukkan buat kebutuhan cerita, bukan lagi untuk gaya-gayaan, terlebih lagi untuk membangun citra. 

Selagi merenung tentang tulisan mesum begini, aku entah kenapa jadi teringat dengan obrolan Yoga Akbar bersama temannya di Twitter sebulan yang lalu. Aku sempat menyimaknya. Mereka waktu itu sedang membahas perihal mesum yang kini menjadi masalahku lagi. Aku jadi sungguh penasaran, kenapa Yoga membela tokoh dalam cerpennya sampai seperti itu? Apakah dia masih takut dinilai bahwa itu cerminan dari dirinya sendiri? Lalu, bagaimana dia memandang dirinya yang dulu sempat membuat citra mesum dan kini memilih untuk melenyapkannya? 

Otomatis muncul gagasan di kepalaku untuk mengirimkan surel kepadanya agar dapat bertanya lebih lanjut soal itu. Di bagian pembuka, aku memperkenalkan diriku sebagai pembaca blognya yang tak pernah meninggalkan komentar. Pada bagian tengah, aku menjelaskan maksud suratku. Aku ceritakan pula bagaimana diriku pernah memiliki persoalan citra mesum sebagaimana dirinya dan berniat berubah. Lalu baru-baru ini ada yang mempermasalahkannya lagi, padahal aku sudah berusaha segigih mungkin untuk melenyapkan unsur buruk tersebut. Aku bahkan bercerita hal tak penting mengenai zodiak kami yang kebetulan sama. Di penutup surat, aku lantas bertanya apakah aku boleh mengajaknya wawancara tentang citra maupun tulisan mesum. 

Satu jam setelahnya, Yoga membalas suratku. 


Hai, Wan, 

Salam kenal, ya. Terima kasih sudah membaca blog saya. Haha, kampret banget ya kalau kita udah berusaha keras mengubah gaya tulisan lama, tapi masih ada beberapa pembaca yang mempermasalahkan kemesumannya itu. Rasanya berat juga dibayang-bayangi keburukan masa lalu. 

Wih, seriusan zodiak kita sama? Kamu Gemini bulan Mei atau Juni? Ah, pokoknya hidup Gemini! 

Wawancara? Saya berasa orang penting aja segala diwawancara. Terasa aneh dengan sebutan itu. Kayaknya lebih enak pakai sebutan ngobrol-ngobrol dibanding wawancara deh, gimana? Saya lagi sensitif juga sih sama kata “wawancara”. Soalnya akhir-akhir ini lagi gagal terus pas cari kerja. Aduh, saya malah curcol. Sori-sori. Ya, intinya boleh kalau kamu mau tanya-tanya perihal itu. Silakan.

Tabik,

Yoga Akbar S. 


Membaca balasan surelnya, aku spontan tertawa. Entah bagian mananya yang lucu. Aku kemudian membaca ulang pesannya dan jadi menyimpulkan bahwa Yoga selalu punya celah buat curhat. Bahkan sama orang asing sepertiku. Apakah hal itu yang membuatku tertawa? Bisa jadi demikian. Meskipun yang jadi curhatannya itu permasalahan umum, tapi mungkin saja dia betulan sensitif dengan kata “wawancara”. Sekarang aku ingin menyiapkan beberapa pertanyaan agar bisa mengobrol dengannya lewat surel. Pada tulisan berikutnya, aku berjanji kepadamu untuk melampirkan percakapan kami. Itu pun jika kamu bersedia membacanya.

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/tombstone-old-grave-stones-cemetery-2254373/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home