Sesampainya Yoga di rumah pada pukul 6 sore, sehabis pergi keluar untuk urusan tak penting, dia melihat bingkisan cokelat yang terbungkus plastik merah tembus pandang di meja laptopnya sesaat memasuki kamar. Tanpa perlu menebak-nebak, dia sudah tahu isi paket itu: dua buah novel. Itu hadiah dari suatu kuis yang dia ikuti satu bulan silam. Dari sekian banyak usaha yang telah dia coba lakukan dalam enam bulan belakangan ini (melamar pekerjaan; mengirimkan puisi, cerpen, dan esainya ke suatu media; ikut sayembara menulis cerpen, lomba mengulas buku, dll.), rupanya yang berbuah manis justru kuis iseng-iseng di Twitter.



Dia mulanya berpikir bahwa tahun ini merupakan tahun terburuknya sepanjang menjalani hidup. Dia juga mulai muak sama hidup lantaran berulang kali mengalami apes dan kegagalan. Namun menjelang tutup tahun begini, ternyata masih ada keberuntungan yang sudi menghampirinya. Cara pandangnya terhadap hidup dan tahun 2019 pun mulai bergeser sedikit. Hari ini sepertinya pantas buat dirayakan, pikirnya. Sekalipun hadiahnya paling-paling hanya senilai seratus ribu, tapi dia tetap ingin sekali mengingat tanggal hari ini. Siapa tahu ke depannya selalu bisa menjadi hari baik baginya. Dia lantas mengecek tanggal di ponselnya: 6 November.

Ketika sebuah hadiah, atau bisa dibilang juga suatu keberuntungan, datang kepadanya pada tanggal tersebut, apakah ada peristiwa penting lain yang terjadi di luaran sana? Dua menit berselang, rasa iseng di dalam dirinya mendadak terbit. Oleh sebab itulah, kini dia mengetik “6 November” di pencarian Google dan mengeklik tautan Wikipedia. 

Ririn Dwi Ariyanti, aktris yang pernah dia idolakan belasan tahun silam, lahir pada 6 November 1985. Pada tahun 1908, Cut Nyak Dhien—Pahlawan Nasional Indonesia asal Aceh yang sosoknya pernah menghiasi uang sepuluh ribu emisi 1998—meninggal dunia. Mundur jauh ke era Kerajaan Hindu-Buddha, pada tahun 1157, Empu Panuluh dan Empu Sedah berhasil merampungkan kitab Kakawin Bharatayuddha (berisikan perang antara Kurawa dan Pandawa) atas perintah Prabu Jayabaya. Pada 2011, Hari Raya Iduladha 1432 Hijriah jatuh pada 6 November. 

Yoga lalu membatin, banyak juga peristiwa menarik pada tanggal itu. Terus, apakah ada hal penting lain yang terjadi dalam hidupnya? Dia pun mencoba menelusuri kejadian-kejadian 6 November dalam sewindu terakhir. 


Sejauh yang dapat Yoga ingat, 6 November merupakan momen penting saat dia sedang mempersiapkan kado maupun kue ulang tahun untuk seseorang yang sekarang ini telah menjadi mantan kekasihnya. Novi Devitasari, pacar yang merangkap teman sekelasnya di kampus, lahir pada 7 November. Pada tahun 2013, Yoga meminta tolong kepada Winda (teman sekelasnya juga) untuk menemaninya mencari kue ulang tahun. Yoga sengaja mengajak Winda sebab dia merupakan teman baik Novi. Selain itu, rumahnya pun termasuk yang paling dekat dengan rumah Novi, sehingga dia juga bisa menitipkan kue itu di kulkas Winda. 

Yoga hanya memiliki uang 150 ribu di dompetnya. Dia bingung, apakah nanti ada kue yang harganya sekitaran segitu—atau kalau bisa di bawah itu? Dia begitu dongkol mengetahui kenyataan bahwa tanggal gajiannya masih sehari lagi. Dia gajian pada tanggal 7 setiap bulannya. Tapi jika tanggal 7 jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, gajian itu akan dipercepat menjadi tanggal 5 atau 6. Sayangnya, pada bulan itu tanggal 7 bukanlah hari libur. Sialan, umpatnya dalam hati. Sebetulnya, sih, dia bisa saja membeli kue ataupun kadonya secara dadakan sepulangnya bekerja. Namun, dia tipe orang yang tidak suka tergesa-gesa dan takutnya kejutan itu malah jadi berantakan. Dia lebih suka dengan hal-hal yang dipersiapkan terlebih dahulu, minimal sehari sebelumnya. 

“Lu tahu toko kue ultah lain yang enak dan harganya seratus ribuan dekat-dekat sini, Win?” ujar Yoga kepada Winda begitu dia gagal mendapatkan kue karena kehabisan di salah satu toko di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. 

“Kalau di dekat-dekat sini setahu gue mah enggak ada lagi, Yog. Adanya di sekitaran Jombang.” 

“Lumayan jauh, ya. Gue enggak tahu jalan pula.” 

“Tenang aja, gue kan tahu.” 

“Tapi nanti kita baliknya kemalaman apa enggak, Win? Ini udah jam sembilan, masalahnya. Gue jadi enggak enak nih ngerepotin lu begini.” 

“Yeh, santai aja kali.” 


Setengah jam setelah itu, Yoga berhasil mendapatkan kue ulang tahun rasa tiramisu seharga 110 ribu, lalu ditambah dengan pisau pemotongnya serta lilin menjadi 120 ribu. Sisa uangnya pun dia belikan bingkai foto ukuran kecil dan biaya cetak foto (foto Novi berdua dengan dirinya). Pada keesokan harinya, acara mengejutkan sang pacar pun sukses besar.



Yoga sudah putus dengan Novi pada setahun berikutnya. Anehnya, dia saat itu masih tetap berusaha memberikan mantannya sebuah kado. Dia baru saja selesai membungkus jaket timnas Spanyol warna merah—warna kesukaan Novi.

Selagi Yoga bingung memikirkan kata-kata sebagai pengantar ucapan ulang tahun, muncul seseorang di dalam dirinya yang mengamuk dan berkata, “Hei, buat apa kamu pusing-pusing menuliskan kalimat indah untuk cewek kayak dia? Ini kamu mau kasih kado aja udah kelewatan begonya, tahu. Ingat, Yog, ingat! Dia telah memilih cowok lain ketimbang dirimu. Eh, kamu sendiri kok masih terus-menerus berharap pengin balikan sama dia. Jangan mengasihani diri sendiri begitulah.” 

Sebenarnya, Yoga membeli jaket itu lantaran Evan (teman kantornya) memintanya buat menemaninya datang ke distro khusus atribut bola. Begitu jam kantor berakhir, Evan bertanya kepada Yoga, apakah nanti sekitar habis Isya dia tidak ada acara ataupun kesibukan? 

“Enggak ada, Van. Kenapa?” ujar Yoga. 

Temenin gue beli jersey di daerah Joglo, yuk! Gue males pergi sendirian.” 

“Oh, ya udah, nanti berkabar aja.” 

“Sip, nanti kita ketemuan di Rawabelong.” 


Evan memilih satu jersey Real Madrid putih beserta jaketnya yang berwarna hijau toska. Ketika sudah siap membayar, Evan menggoda Yoga dengan bilang, “Lu enggak mau beli, Yog? Cuma nemenin gue aja nih?” 

“Jaket MU (Manchester United) gue kan udah ada dua. Jersey malah ada tiga. Itu aja udah jarang gue pake, Van.” 

“Beli buat adek lu atau siapa gitu. Bisa juga kan buat kado. Lu pilih aja tuh yang lagi diskon. Lumayan kan 50%.” 

Mendengar kata kado, Yoga otomatis teringat besok hari ulang tahun mantannya. Dan begitulah akhirnya dia terjebak rayuan Evan dan membeli jaket Spanyol itu.


“Ciyeee, dikasih kado sama mantan. Udahlah, mending kalian balikan lagi,” kata beberapa kawan kuliah Yoga yang melihat Novi sedang membuka bungkusan kado.

Pipi Novi berubah merah sebagaimana warna jaket yang lagi dia coba kenakan, dan Yoga sendiri juga merasa malu bukan main menerima ejekan-ejekan tersebut. Meskipun di dalam hatinya Yoga masih menginginkan hal yang menjadi ledekan teman-temannya itu, atau dengan kata lain: dia tak mau membohongi perasaannya, tapi dia cukup sadar diri akan seseorang yang sudah memilih pergi sebaiknya tak perlu diharapkan untuk kembali lagi. Terlebih lagi Yoga tiba-tiba terkenang kejadian berengsek suatu sore sepulang kuliah, ketika dia melihat Novi sedang memeluk gebetan atau pacar barunya di motor, padahal Yoga dan Novi baru putus sekitar satu minggu. Sudah berapa lama mereka dekat? Jika saja waktu itu kondisinya tidak macet, Yoga ingin sekali menabrak mereka dari belakang. Jadi, daripada balikan sama mantan, kata Yoga dalam hati, mending gue makan tai luwak—tentu dalam bentuk kopi. 


Setan. Setan. Setan. Yoga memaki ingatannya yang bisa-bisanya mengajak dirinya kilas balik tentang Novi. Kenapa dua momen 6 November itu justru berkaitan dengan mantannya yang satu itu? Memang, dari semua mantan baru dialah seseorang yang membuat Yoga merasa lebih dekat dengan keluarga si pacar. Yoga seakan-akan merasa sudah diterima oleh keluarganya, khususnya akrab banget dengan adiknya Novi karena setiap mengapel sering main PlayStation bareng. 

Tapi dari sekian banyak memori pada 6 November, apakah ada hal lain yang tidak bersentuhan sama sekali dengan percintaan?

Yoga mulai teringat akan kejadian konyol satu tahun lalu. Dia lagi sangat frustrasi dengan keadaan baterai laptopnya yang soak kala tengah menggarap proyek kumpulan cerpen. Laptopnya harus selalu dicolok pengecas. Tersenggol sedikit saja kabelnya, pengisi daya itu langsung tidak bekerja dan laptopnya mendadak mati. Lalu, kemarahan pada kondisi laptopnya itu entah mengapa malah berimbas pada penghapusan sebagian cerpen di folder laptopnya. Sebelum menghapus beberapa naskahnya itu, Yoga tengah asyik membaca ulang cerpen-cerpennya dalam rentang 2015-2017. Awalnya sih tidak ada kendala sewaktu dia membuka folder 2017 dan 2016. Tapi begitu dia pindah ke folder 2015, ada lebih dari 5 cerpen yang membuat dirinya melontarkan sumpah serapah saking keterlaluan jeleknya. Setidaknya, dia bersyukur telah menghapus sampah yang tak pantas lagi untuk dibaca ulang, apalagi didaur ulang. Toh, berkat hal itu dirinya bisa lebih fokus memperbaiki gaya menulisnya pada kemudian hari tanpa perlu mengingat-ingat cerita busuk macam apa yang pernah dia ciptakan. 


Ayolah, apa lagi peristiwa 6 November? Masa cuma itu? 

Berhubung ingatannya tak sanggup lagi menggali lebih dalam, dia mencoba memancingnya dengan menyusuri twit-twitnya menggunakan berbagai kata kunci. Tak ada hal menarik dalam pencarian itu. Dia lalu menengok tulisan-tulisan di blognya. Akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah tulisan yang termuat pada 6 November 2015, bertajuk Yang Kedua. Sebuah cerita sedih ketika dia mengenang adik bungsunya yang meninggal dalam kandungan Ibu. 

Walaupun di tulisan itu Yoga tetap memasukkan lelucon dan bisa tersenyum sedikit, tapi kesedihan telanjur menyelimuti dirinya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia merasa gembira karena hadiah berwujud buku. Lalu, mengapa rasa nelangsa bisa mengambil alih dirinya secepat itu? Dia butuh sekali pertolongan. Dia perlu mencari eskapisme. Kala itulah di ponselnya terdapat notifikasi Twitter. Yoga membuka kunci dan melihat ada mention dari Agia Aprilian, kawannya yang tinggal di Bandung. Agia melampirkan sebuah klip. Yoga lantas mengambil earphone, mencolok kabel ke ponsel dan memasang alat pendengar ke kedua kupingnya, kemudian memutarnya.


Sepuluh detik pertama, Yoga langsung terbahak-bahak sembari memukul-mukul kasur. Bahkan sampai video itu berakhir, dia masih cengengesan dan sulit menghentikan tawanya. Yoga lalu mengucapkan terima kasih kepada kawannya. 

Biarpun niat awal Agia mendedikasikan klip video itu mungkin supaya Yoga bisa terhibur dan tak perlu lagi ripuh mengenang memori singkatnya bersama perempuan manis berkemeja kuning (pada bulan Oktober, Yoga mengkhususkan blognya cuma diisi untuk segala hal tentang Mbak Manis Kemeja Kuning), tapi ternyata klip tersebut juga bisa menjadi sebuah pelipur lara dalam kondisi dan situasi apa pun. 

Bisa dibilang pilihan lagu Agia itu juga amatlah unik dan menarik. Lagu lawas itu dulu pernah diputar oleh orang tua Yoga saat dirinya masih bocah dan seolah-olah memiliki nilai istimewa di hatinya. Walaupun dulu dia tak tahu apa arti dari lagu itu, yang penting nadanya terdengar riang gembira. Lagu maupun klip itu pun membuatnya lupa dengan rasa sedih. Kini, dia jadi merasa malu dengan usianya yang kurang cocok lagi disebut muda, tetapi masih saja menjalani persoalan cinta-cintaan sejenis itu, apalagi harus bersedih karenanya. 

Yoga lalu merenung, rupanya bantuan-bantuan dalam hidup bisa datang dari mana saja, bahkan dari arah yang tak terduga. Seraya merebahkan diri di kasur, Yoga menyimpulkan kalau tanggal 6 November sepertinya bisa menjadi tanggal yang baik untuknya pada kemudian hari. Entah apa yang akan terjadi setahun setelahnya. Apakah dia berhasil melupakan sosok perempuan berkemeja kuning itu, atau malah dipertemukan dengannya? Atau bisa jadi dia sudah tak peduli lagi sebab kepincut perempuan lain yang lebih aduhai? 

Sambil tetap menerawang jauh ke depan, mungkinkah itu tanggal perkawinan Yoga kelak? Atau menjadi tanggal saat dirinya memenangkan sayembara menulis? Atau hari di mana dia berhasil menerbitkan sebuah buku? Apa pun itu, semoga 6 November tidak berubah 180 derajat dan menjadi hari paling celaka untuknya.
Read More
Mana aku tahu kalau jadwal acara pernikahan Widya Sari bertepatan dengan agenda Kampanye Putih. Aku tidak berhubungan dengan kegiatan politik itu, tetapi lokasi resepsi pernikahannya yang dekat dengan Senayan tentu akan terkena imbasnya: macet. Apalagi acaranya hari Sabtu pukul 19.00-21.00 WIB yang berarti malam Minggu. Ini mah bakalan padat merayap.



Saat aku coba mengeceknya di Google Maps, dugaanku ternyata benar. Jalur yang akan kulewati nanti hampir semuanya berwarna oranye dan merah. Jarak tempuh yang semestinya hanya 25 menit berubah menjadi 1 jam 4 menit. Tiba-tiba di kepalaku melintas sebuah pikiran, apakah aku tidak perlu datang ke perkawinannya?

Aku mengingat ketika sebulan silam teman kuliahku—yang hampir tiga tahun tidak bertemu—itu mengabarkanku tentang pernikahannya. Baru kali itu ada teman yang mau repot-repot memberikanku pilihan dalam menerima undangan; mau dikirim ke rumah via ojek daring, ketemuan di suatu tempat, atau lewat digital. Dari pengalaman yang sudah-sudah, mayoritas dari mereka biasanya hanya mengirimkan undangannya lewat WhatsApp atau pesan medsos, bahkan ada pula yang cukup menyebar undangan itu ke sebuah grup karena malas atau sibuk.

Berhubung aku sok memahami tentang persiapan menikah yang pasti dibuat pusing akan banyak hal, aku tak mau menambah bebannya. Jadi, aku pun mengatakan kirim via digital sudah cukup. 

Beneran enggak apa nih?” tanya Widya. 

Mungkin ada banyak orang yang enggan datang jika undangan itu tidak ada bentuk fisiknya, sehingga Widya sampai bertanya demikian. Aku menjawab santai aja. Selama aku sehat dan waktuku sedang luang, aku akan berusaha datang.

Kalimat “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”—sebagaimana ucapan di undangan ulang tahun saat aku masih bocah—dari Widya menutup pembicaraan kami. Secara tak langsung dia betulan mengharap kedatanganku. Baiklah, aku siap menerjang kemacetan. 


Gilang Kodimangsu, penulis romansa yang baru menerbitkan satu kumpulan cerpen, Cinta Itu Ketololan Tak Berujung, dan kini memutuskan berhenti menulis lantaran bukunya hanya terjual 29 eksemplar dalam setahun, pernah berujar, “Datang kondangan sendirian dan malam Minggu adalah kombinasi terburuk nomor dua setelah tersesat dan terjebak macet.” 

Bisa kau bayangkan bagaimana aku mengalami keduanya sekaligus? Kenekatanku tetap berangkat kondangan tanpa mengajak partner sebetulnya sudah lumrah. Namun, terjebak macet dan buta arah jelas bikin aku mengutuk kesendirian ini. Memiliki teman seperjalanan yang dapat membantuku melihat aplikasi penunjuk jalan atau buat teman mengobrol jelas lebih menggembirakan. Tapi, walaupun sendirian begini serta banyaknya menit yang terbuang dalam perjalanan, setidaknya untuk pertama kalinya dalam hidup aku jadi punya waktu melimpah memikirkan beberapa hal terkait kondangan. 

Aku tidak mengerti kenapa lampu merah durasinya bisa sampai 120 detik, sedangkan hijau cuma 20 detik—yang bikin aku sampai tiga kali merasakan lampu merah saking kacaunya kondisi lalu lintas. Sehabis memaki keadaan macet sialan ini, aku malah tersadar kalau hal ini masih mending daripada sewaktu kondangan naik kereta komuter. Aku pernah melakukannya dua kali. Ketika kondangan ke Citayam dan Tangerang. 

Aku hanya akan bercerita tentang perjalanan kondangan ke Tangerang yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Jalur kereta dari Stasiun Palmerah menuju Stasiun Tangerang amatlah gila. Dari awal perjalanan, mau tak mau aku sedikit-sedikit kudu transit. Dari Palmerah ke Tanah Abang aku cuma melewati satu stasiun, lalu aku mesti pindah jalur. Dari Tanah Abang ke Duri begitu juga. Barulah nantinya aku bisa menuju stasiun akhir—Tangerang—tanpa perlu pindah-pindah kereta lagi. Meski begitu, tetap saja kereta di jalur ini sangatlah terbatas. Berbeda sekali dengan jalur-jalur menuju stasiun lain yang setiap 15 menit sekali pasti ada jadwal keberangkatan kereta. Jika aku perkirakan, khusus untuk jalur Stasiun Duri ke Stasiun Tangerang para penumpang harus menunggu selama dua kali lipat dari jadwal biasanya.

Sayangnya, sebelum sampai ke tahap itu, aku masih harus menanti kereta di Stasiun Tanah Abang. Lebih-lebih pada waktu sehabis Zuhur yang rasanya menjengkelkan sekali. Orang-orang yang habis berbelanja ke Pasar Tanah Abang selalu berjubel memenuhi stasiun. Hawa gerah dan serangan bau ketiak di tengah kerumunan itu pun seakan-akan membuat neraka pindah ke Bumi. Belum nanti di dalam keretanya yang tambah berdesak-desakan. Kau enggak usah berpikir akan mendapatkan tempat duduk, bisa leluasa bergerak dan terhindar dari penumpang beraroma kecut mungkin rasanya sudah lebih dari cukup.

Akibat momen jahanam dalam perjalanan ke Tangerang itu, aku kini akan berpikir ulang kalau suatu hari nanti bakal pergi kondangan naik kereta komuter lagi. Berangkat dari rumah dengan pakaian rapi dan wangi, terus begitu sampai tujuan aku harus mampir ke masjid terdekat dan menumpang di toiletnya untuk membenahi penampilan sekaligus menyemprotkan parfum. Penderitaan berangkat kondangan sendirian saat naik motor begini malah terasa tidak ada apa-apanya. 


Aku sudah sampai di gedung resepsi pernikahan Widya Sari. Perjalananku rupanya memakan waktu 56 menit. Tidak buruk-buruk amat. Agak percis dengan perkiraan di aplikasi penunjuk jalan itu.

Aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mengeluarkan amplop dari saku kemeja batikku. Selagi aku memasukkan amplop ke dalam kotak yang tersedia, aku jadi terkenang pertanyaan Ivan, salah seorang kawan dekatku: ”Kondangan segini wajar enggak, sih?”

Segini yang Ivan maksud senilai dengan dua paket Panas Mekdi. Aku sebenarnya juga pernah mempertanyakan hal itu. Kala UMR Jakarta semakin bertambah setiap tahunnya, apakah uang segini masih layak sebagai angpau? Dalam tiga tahun terakhir ini aku masih sering mengisi amplop dengan jumlah segitu.

Beberapa dari temanku menjawab itu tergantung lokasi resepsinya. Kalau di rumah mungkin wajar, sedangkan di gedung kayaknya sedikit. Biaya mereka menyewa tempat dan katering itu perlu diperhitungkan. 

“Ah, kalo si Rudi mah enggak apa-apa kayaknya sekalipun itu acaranya di gedung. Dia aja jarang makan setiap kondangan,” ujar Herman (temanku yang lain) saat kami sedang berdiskusi perihal amplop kondangan. 

Pernilaian Herman terhadapku mungkin ada benarnya. Aku nyaris tidak pernah menyantap hidangan utama setiap kali kondangan di gedung. Aku palingan hanya mencicipi dua jenis makanan seperti bakso dan sate ayam (somay buat alternatif jika pilihan barusan tidak ada). Itu saja biasanya sudah cukup mengenyangkanku. Segala hal yang berhubungan dengan kambing jelas bukanlah pilihanku. Aku paling enggak doyan, sehingga tak perlu mengurangi jatah para penikmat daging kambing. 

Omong-omong soal jatah, aku sering tidak mengerti dengan beberapa temanku yang ingin mencoba semua menunya. Selain bakso, sate ayam, dan somay, mereka masih siap menggasak kambing guling, soto betawi, empal gentong, spageti, dan zuppa soup. Belum lagi hidangan penutup seperti buah-buahan, puding, dan es krim. Dari ketiga makanan pencuci mulut itu, palingan aku cuma akan memilih satu, yakni es krim.

Itu semua bukan karena aku tidak doyan makan, tapi kebiasaanku mengisi perut dari rumah sebelum bepergian ini memang sulit hilang. Mulanya, itu cuma buat jaga-jaga seandainya sampai di sana makanannya sudah pada habis. Entah kenapa kebiasaan ini malah terus berlanjut. Sebab aku tak mau kejadian bedebah yang sering terjadi 3-4 tahun silam itu terulang kembali. 

Dulu, sepertinya ada sekitar belasan kali aku kondangan di gedung dan enggak menyantap apa-apa. Akibat telat sampai di lokasi acara, aku hanya meminum air putih. Semua stan makanan sudah dibereskan dan mau tutup. Hidangan utama yang jelas bukan pilihanku pun nyaris tak bersisa. Ke manakah perginya nasi goreng, ayam goreng, gurame saus asam manis, rendang, dan sambal goreng kentang? Di meja makan cuma tersedia nasi putih, kuah sop, dan kerupuk. Baru melihatnya saja langsung enggak sreg, terlebih memakannya. 

Herman yang suatu waktu ikut terkena apes bersamaku pernah bilang, “Malu kalau makan koretan. Mending makan gengsi.”

“Emang kenyang?” tanyaku. 

“Yang penting harga diri tetap terjaga. Kita masih mampu makan di luar, kan?” 

Sepulang kondangan kami lantas segera menghibur diri dengan mampir ke restoran cepat saji terdekat. Maka, sejak momen kampret itu, persiapan mengisi perut dari rumah pun muncul begitu saja. Tak perlu sampai kenyang, yang penting bisa mengganjal lapar kalau nanti kehabisan makanan. 

Selain persoalan makanan, aku juga entah mengapa jarang mengambil suvenirnya. Mungkin karena lupa atau terlalu malas buat membawanya. Kebiasaan memberikan suvenir pada saat tamu baru datang ini lumayan merepotkan buatku. Satu tanganku tentu jadi terpakai untuk memegangnya. Oleh sebab itu, aku memilih buat menitipkannya saja. Nanti pulangnya baru aku ambil. Dan begitulah akhirnya aku bisa sampai terlupa dengan suvenir. Aku sejujurnya lebih suka yang konsepnya diberikan kertas semacam kupon, barulah nanti sewaktu pulang ditukarkan dengan barangnya. Syukurlah perkawinan Widya Sari menerapkan apa yang aku maksud. 

Aku memasukkan kupon itu ke kantong celana belakang seraya bertanya-tanya, apakah nanti aku sempat bertemu seseorang yang kukenal—selain kedua mempelai—di acara pernikahan ini? Aku tak ingin benar-benar sendirian dan merasa terasing di gedung ini. Baguslah pertanyaan itu pun langsung terjawab ketika aku baru berjalan sepuluh langkah. Aku bertemu Lena (teman sekelasku selama semester 1-4) bersama suaminya. Awalnya kami bertukar kabar dan basa-basi sekadarnya, lalu dia otomatis bercerita datang ke sini dengan naik Zrap Car. Berangkat dari Depok habis Asar dan baru tiba Magrib tadi. Perjalanan yang lumayan jauh. Demi menghadiri perkawinan teman baik zaman kuliah, rupanya ada banyak waktu dan biaya yang dia korbankan. Hal itu pun lantas membawaku pada kejadian kondangan-sialan-di-Tangerang-menggunakan-kereta-komuter itu lagi. 


Aku rasa diriku telah banyak mengorbankan waktu, biaya, dan tenaga di perjalanan tersebut. Jarak tempuh yang kutebak setelat-telatnya hanya satu jam setengah, ternyata malah mencapai tiga jam lebih. Menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang dan Duri menghabiskan hampir dua jam. Perjalanan kereta dari Duri ke Tangerang sekitar 45 menit. Sisanya barulah dari stasiun ke lokasi pernikahan. 

Yang aku heran, kenapa aku bisa-bisanya percaya begitu saja dengan informasi dari sang mempelai kalau letak rumahnya dekat dengan Stasiun Tangerang? Jarak ini kan relatif. Apakah enam koma sembilan kilometer itu termasuk dekat?

Dari Stasiun Tangerang aku mesti naik kendaraan lain. Aku bertanya kepada bapak-bapak di sekitaran stasiun tentang alamat itu. Dia memberitahuku supaya naik angkot T 03. Katanya, dari situ sudah dekat. Aku sempat ragu mengingat perkataan temanku sebelumnya. Aku lalu mencoba memastikannya lagi, “Betulan dekat nih, Pak?” 

“Habis turun angkot langsung sampai ke kompleks itu, Dek. Nanti dari pertama naik langsung bilang aja sama abangnya supaya enggak kelewatan.” 

Nada suara bapak itu sungguh mantap. Sorot matanya juga menyiratkan ketegasan. Suatu bukti kalau itu bukan jawaban sembarangan. Kali ini aku mencoba buat percaya. Aku pun naik angkot dan turun di depan gapura bertuliskan “Perumahan Damai Permai”. 

Aku melihat aplikasi peta. Benar ini tempatnya. Yang tidak kusadari adalah RT dan RW-nya. Lokasi acara pernikahan temanku ternyata masih masuk ke dalam lagi. Dari pintu masuk kompleks ini ternyata aku harus jalan kaki lagi sekitar 1,3 km. Efek kelamaan berdiri di kereta membuat kakiku tak sanggup berjalan lebih jauh. Jika tahu begini, kenapa dari awal aku tidak terpikir sedikit pun untuk memilih layanan ojek daring, ya? Celakanya, saat baru ingin membuka aplikasi layanan ojek daring, ponselku sudah sekarat. Bodoh, penglihatanku bisa-bisanya luput untuk mengecek ikon baterai. Empat persen tidak akan cukup buat memesan dan menunggu kedatangan si pengemudi. Aku takut nanti dia akan bingung mencariku jika ponselku mati dan tak bisa lagi dihubungi. Aku tidak ingin merepotkan orang lain atas kecerobohanku sendiri.

Berengsek, kenapa niat baik untuk datang kondangan ke acara teman justru jadi terlalu ribet begini, sih? 

Aku akhirnya tak punya pilihan lain selain memesan ojek pangkalan di dekat situ. Yang lupa aku perhitungkan, abangnya mematok harga kelewat tinggi. Aku berusaha menawar sejago mungkin, tapi hasilnya cuma berkurang 3.000. Bermaksud ingin berangkat kondangan dengan cara hemat, aku malah buntung. Ongkos transportasi pergi-pulang kondangan justru bisa dua kali lipat dari isi amplopku. Luar biasa.

Lantaran kondangan terkutuk itu, aku tiba-tiba jadi ingat nasihat ibuku. Beliau bilang, “Kalau ndak akrab-akrab banget dan lokasinya kejauhan, mending kamu ndak usah datang. Seandainya merasa sungkan, kamu kan masih bisa titip amplop ke teman yang lain.” 

Aku pun jadi memikirkan hal ini: mana sih yang lebih penting antara kehadiran dan isi amplop? 

Tanggal 27 pada enam bulan yang lalu, Aldo—teman sebangku saat SMA yang merangkap sahabat—melangsungkan pernikahannya. Mungkin buat sebagian orang yang sudah menerima gaji pada tanggal 25 itu adalah tanggal muda. Sayangnya, gajianku jatuh pada tanggal 1. Kondisi keuanganku hari itu lagi krisis-krisisnya. Bulan itu pengeluaran entah kenapa sedang banyak-banyaknya. Ayah masuk rumah sakit dua kali, adikku harus bayar darmawisata sekolahnya, dan aku sendiri mesti perpanjang SIM C sekaligus baru saja servis motor ke bengkel. Uang di rekening tersisa 5 digit dan tentu tidak bisa diambil, sedangkan duit di dompet hanya cukup buat makan dan transport sampai tanggal gajian datang.

Sebesar-besarnya aku palingan cuma mampu mengamplopi uang segini yang Ivan katakan tempo itu. Terus aku bercerita kepada Ibu, “Apa ini amplopnya perlu dikasih nama? Aku malu kondangan cuma segini, Bu.” 

Ibuku lalu berkata, “Apa temanmu tahu kondisi keuanganmu, Rud? Melihat kamu datang mungkin sudah lebih dari cukup. Mending kamu doakan aja yang terbaik buat kehidupan mereka kelak. Semoga temanmu bisa mengerti.” 

Aku akhirnya berusaha untuk selalu menulis nama di amplop sekalipun cuma kondangan dalam jumlah segini. Aku juga tak mau memaksakan diri buat selalu datang jika keadaan memang tidak memungkinkan; hujan, sakit, aksesnya sulit, dan bokek. 


“Kau datang sendirian?” tanya Andi, teman kuliahku yang lain, membuyarkan lamunanku tentang hal itu. Lena dan suaminya ternyata sudah tidak berada di dekatku. Sepertinya aku terlalu banyak bengong. Sampai-sampai tidak sadar, sejak kapan mereka lenyap? Tapi, ya sudahlah. Sekarang sudah ada Andi. Aku pun menjawab iya, lalu bertanya balik kepadanya. 

“Enggak, aku datang sama istri dan anakku. Tapi anakku dari tadi nangis terus. Jadi istriku pilih di mobil aja. Takut berisik kalau ikut masuk ke gedung.”

“Kau udah makan, Ndi?” 

Andi menggelengkan kepala dan mengajak aku mengantre bakso. 

Ketika sedang mengantre bakso, aku melihat perempuan berambut ikal di stan seberang. Lalu, kalimat “aku datang sama istri dan anak” terlintas kembali di benakku. Kedua hal itu otomatis mengajakku ke acara perkawinan lainnya. Aku berasa deja vu

Aku lagi mengantre bakso dan melihat seorang perempuan berambut ikal yang wajahnya terasa familiar sedang menyantap somay. Aku mencoba mengingat-ingat dia itu siapa, hingga akhirnya muncul sebuah nama: Selvi. Sepuluh tahun silam dia adalah gebetanku saat kelas satu SMA. Kebanyakan teman SMA-ku kini terlihat aneh semenjak mengenal kosmetik. Tapi dandanan Selvi tampak natural. Kecantikannya tidak memudar sedikit pun. Justru bagiku kian memukau. Ditambah lagi hari itu dia mengenakan dress terusan merangkap rok berwarna merah marun dan flat shoes hitam. Warnanya kontras sekali dengan kulitnya yang putih. Penampilan simpel tapi tetap elegan itu pun membuatku semakin terpesona.

Mungkinkah perjumpaan hari ini adalah sebuah takdir dari Tuhan? Aku kini dipertemukan lagi dengan Selvi setelah terpisah enam tahunan tanpa kabar sedikit pun? Apakah jodoh memang tidak akan ke mana-mana? Baiklah, nanti sekelarnya mengantre aku berniat untuk menyapanya. 

Tangan kiriku sudah memegang semangkuk bakso. Tangan kananku siap untuk mengajak Selvi salaman. Baru saja aku ingin mendekat ke arahnya, datang seorang pria berambut klimis dan bertubuh jangkung bersama seorang bocah kisaran dua tahun. Anak kecil itu berlari menghampiri Selvi.

Selvi pun refleks menaruh piring yang sedang dipegangnya ke meja terdekat dan langsung menggendong anak tersebut. Aku sangat mengerti tatapan itu. Tatapan seorang ibu. Aku tidak jadi meneruskan langkahku. Aku segera memutar balik sambil kilas balik kenanganku bersamanya. Tepatnya, saat sepuluh tahun silam Selvi menolakku begitu kunyatakan cinta.

“Aku udah punya pacar, Rud,” kata Selvi. “Lagian kamu itu udah aku anggap teman baikku dari SMP. Sejujurnya, aku kaget banget kalau kamu punya perasaan sama aku.” 

Aku mengutuk ketololanku akan kenyataan itu. Aku sama sekali tidak tahu dia memiliki kekasih. Kami berteman dari SMP kelas dua karena sekelas, kemudian kelas tiga kami sekelas lagi, dan berlanjut sampai kami masuk SMA yang sama. Aku sempat berpikir bahwa pertemuan kami itu adalah takdir. Namun, hari ini realitas menggampar segala harapan yang dulu pernah kususun itu. Kalimat “Aku udah punya pacar” telah berevolusi menjadi “Aku udah punya suami dan anak.” 

Mampuslah sudah. 


“Rud, maju. Kau bengong aja dari tadi,” ujar Andi. 

Perkataan Andi itu membuatku linglung. Haruskah aku maju? Tapi maju ke mana dan untuk apa? Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Di sekelilingku tidak ada seorang pun. Hanya ada suara Andi dan kegaduhan lain entah berasal dari mana. Aku juga tak bisa menatap ke depan. Di sana sepertinya tak ada apa-apa. Semuanya terlihat gelap. Jika aku melangkah, mungkinkah di depanku ada lubang keterpurukan? Aku takut terjatuh. 

“Maju, Goblok. Kau kenapa sih, Rud? Ini enggak enak sama orang yang ada di belakang kita. Kalau masih enggak mau maju juga, kusiram pakai kuah bakso kau, ya!” 

Bakso? Oh iya, aku sedang mengantre di stan makanan. Aku memperhatikan sekeliling. Aku berada di perkawinan Widya Sari. Tidak ada Selvi. Perempuan yang tadi sempat kulihat sekilas tentu saja orang asing. Oke, aku telah kembali ke masa sekarang. 

Aku sekonyong-konyong jadi berpikir sembari merenung, apakah selama ini aku selalu diam di tempat sembari sesekali menengok ke belakang kayak tadi? Benarkah aku kerap ragu-ragu dalam melangkah dan menentukan pilihan? Aku teramat bingung untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Di ruangan ber-AC ini aku merasa tubuhku berkeringat. Sepertinya aku grogi dan pori-poriku mengeluarkan banyak keringat dingin dalam sekejap kala memikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Antrean selesai. Aku dan Andi mencari tempat duduk di sebelah kanan ruangan. Sial, sudah tidak ada lagi kursi kosong. Kami terpaksa makan sambil berdiri. Andi mulai menyantap bakso itu dengan sangat lahap. Anehnya, bakso yang kukunyah dan kuahnya kok terasa hambar? Aku memang lupa memberikan saus, kecap, dan sambal, tetapi kenapa lidahku seakan-akan mati rasa begini? 

Mengingat kejadian Charlie Brown—tokoh utama dalam komik strip Peanuts garapan Charles M. Schulz—yang memfavoritkan selai kacang dan kehilangan rasanya itu akibat cinta bertepuk sebelah tangan, aku jadi menyimpulkan ini semua pasti karena otakku terlalu banyak mengenang momen buruk saat kondangan sendirian. Barangkali momen malam ini merupakan isyarat bahwa aku butuh mencari partner. Selain sebagai teman kondangan, tentu agar aku punya lawan ataupun kawan bicara yang asyik, terus aku tidak perlu lagi terjebak kenangan masa lalu, atau bahkan aku memang kudu serius dalam memperbaiki persoalan asmaraku yang sebelum-sebelumnya kerap mengalami kegagalan.


April 2019

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/people-couple-man-guy-woman-2595862/
Read More
Di saat rasa cemas datang dan melanda di hati, terbayang senyuman yang kurindukan. –Lagu pembuka film animasi Let's and Go (Tamiya) versi bahasa Indonesia. 



--

Semburat Kuning 




Kau menambahkan warna kuning dalam hidupku yang mulanya cuma hitam dan putih. Kuning mengingatkanku akan warna yang selalu kupilih untuk melukis mentari –yang terapit dua gunung– pada pelajaran menggambar ketika sekolah dasar. Seumpama matahari, apakah artinya kau tak akan mungkin bisa kujangkau sebab dirimu terlalu panas, serta jarak yang memisahkan kita sudah melampaui batas?

Meski mendekatimu itu mustahil, aku tak punya pilihan lain selain tetap menerima sinar ataupun binar matamu dari kejauhan untuk mencerahkan hari-hariku. Apalagi senyumanmu merupakan vitamin D yang bagus untuk tulang-tulangku. Agar aku sanggup memikul nestapa dan penderitaan hidup yang semakin hampa.

Mulanya, kupikir kuning itu buruk dan sangat identik dengan tai. Selain itu, ada gigi kuning, bahkan sakit kuning yang jauh lebih jahanam. Aku tak suka pisang—kulit dan buahnya berwarna kuning. Aku juga benci dengan durian yang sama kuningnya. Aromanya pun mirip pesing dan bikin pusing.

Namun sejak berjumpa denganmu, kuning di benakku tentu mengalami pergeseran makna. Kuning bisa berupa lemon yang mengandung vitamin C. Kuning dapat pula berwujud bunga alamanda, baik nama maupun bentuknya teramat cantik serupa wajahmu.

Kini, warna kuning mulai menjelma sebuah kecupan. Bukan di pipi, apalagi di bibir, melainkan di kening. Kecupan tulus penuh kasih sayang tanpa ada campuran nafsu. Lalu, senyum dan semburat kuningmu pun seakan-akan menjadi momen hening yang ampuh membasmi pening.


Museum Kenangan 




Aku ingin membangun museum kenangan di kepalaku. Nanti museum itu akan kuisi dengan beberapa hal: kemeja kuning, ransel hitam khas perempuan, jaket denim, kacamata berbingkai bulat, gelang karet biru bertuliskan “blogger day”, potret dirimu yang tampak dari belakang, fotomu dari samping yang wajahnya blur, lembaran kertas berisi cerpen maupun puisi yang berkisah tentangmu, senyum manismu, serta air mataku.


Tiket masuk museumnya gratis—khusus buat kamu. Pengunjung lain harus bayar Rp18.022.017. Kenapa mahal sekali? Aku hanya memilih angka spesial, yaitu tanggal pertama kali—atau bisa juga dikatakan terakhir—kita berjumpa. 

Mau bagaimana lagi, itu satu-satunya momen tentangmu yang aku punya. Tapi jika suatu hari kita bersua kembali, aku berjanji akan meralat kalimatnya. Benda-benda di museum itu pun bakal aku tambah lagi dengan semua barang favoritmu.

Aku ingin bertanya, apakah doa itu masih layak untuk orang-orang kurang bersyukur? Sebab aku malu saat merapalkannya. Aku takut harapanku ditertawakan karena meminta sesuatu hal yang sulit (supaya dipertemukan lagi denganmu), padahal aku sendiri sama susahnya setiap kali bertemu dengan Tuhan.

Aku berniat menyusun sajak, tapi yang tercipta justru ocehan sok bijak. Aku ingin mata terpejam, tapi di kegelapan itu malah hadir parasmu yang buram. Bukan kantuk yang kudapat melainkan dada mulai terasa sesak. Karena terus dipaksa masuk oleh barisan rindu yang semakin mendesak. 

Bagaimana cara mengakhiri puisi? Lihat, tanda tanya itu, batas antara yang nyata dan ilusi untuk menemukan afeksi1. 

--

1) Larik terakhir, khususnya di bagian “lihat, tanda tanya itu”, saya modifikasi dari puisi Aan Mansyur berjudul ‘Batas’ pada buku Tidak Ada New York Hari Ini. Bentuk aslinya: Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Read More

--



Sampai hari ini saya mungkin masih memikul beban penyesalan karena tidak berani mengajak berkenalan Mbak Manis Kemeja Kuning. Terlebih lagi sewaktu melihat potongan gambar dari video yang Dian rekam. Kalimat karena momen gak bisa diulang, betul-betul menjotos hati saya hingga terasa sesak.



Paling tidak, jika saya hari itu mencoba menghargai perasaan si pacar dan takut kenalan, saya kan tetap bisa mencari tahu siapa namanya lewat meja registrasi ataupun bertanya sama temannya yang berjilbab itu. Cukup dengan sebuah nama, saya pasti dapat mengakses beberapa hal tentang orang itu lewat penelusuran Google. Meskipun ada sebagian manusia yang menggunakan fitur privasi agar tak dapat ditemukan, minimal di zaman digital seperti ini informasi tentang dia pernah sekolah atau kuliah di mana pasti bakalan ketemu. Lalu, buat orang-orang yang gemar berkata “apalah arti sebuah nama”, mereka mungkin belum paham akan kesulitan menelusuri seseorang cuma karena tidak tahu namanya. Seperti yang tengah saya alami saat ini. 

Saya mulai lelah dengan rasa penyesalan terkutuk itu, lalu mencoba menghibur diri dengan membaca buku digital Essays and Aphorisms, Arthur Schopenhauer. Pada salah satu kepingannya, Schopenhauer menyampaikan sesuatu hal yang seakan-akan mewakilkan perasaan saya saat ini (diterjemahankan secara serampangan): “Kejadian dalam hidup kita serupa gambar mosaik kasar. Mereka tidak efektif dari dekat, dan harus dilihat dari jarak jauh jika ingin tampak indah. Itulah sebabnya untuk mencapai sesuatu keinginan, kita malah menemukan betapa sia-sianya hal tersebut; dan kenapa, meski kita telah menjalani seluruh hidup dengan harapan akan hal-hal yang lebih baik, kita tetap sering menyesali apa yang telah berlalu.” 

Pada suatu malam menjelang tidur, saya pernah berpikir kalau saja hari itu saya berkenalan dengan gadis kemeja kuning dan memilih putus dengan si pacar, mungkinkah kisah percintaan saya hari ini akan terasa lebih manis? Namun, ketika itu saya justru berpikir sebaliknya: apakah kehadiran perempuan manis berkemeja kuning ini adalah suatu godaan buat saya yang sedang dilema—mau putus atau bertahan dengan hubungan beracun?

Entah pilihan saya hari itu tepat atau tidak, seenggaknya setelah Februari berakhir saya dan pacar sedikit-sedikit mulai belajar dari konflik-konflik tersebut. Kami berdua mungkin sama-sama keras kepala, sehingga salah satunya perlu mengalah—khususnya saya yang harus lebih menahan diri supaya tidak mengeluarkan kalimat-kalimat ambigu saat lagi marah karena ketikan saya bakal berantakan. Misalnya, kala saya mengetik, “Udahlah, aku lama-lama capek begini terus!” Maksud saya sebenarnya: Udah dong, Sayang, enggak usah ribut-ribut lagi. Aku tuh betul-betul capek bertengkar cuma karena hal sepele begini; sedangkan dia menafsirkannya bahwa saya sudah lelah sama hubungan itu dan ingin mengajak putus. 

Biarpun saya dan pacar akhirnya putus-putus juga pada caturwulan pertama 2018, intinya kan tetap ada hal-hal manis yang pernah terjadi di antara kami. Saya tak perlu menyesali pilihan kenapa kami memilih bubar jika memang sudah melewati banyak suka-duka bersama selama 1,5 tahun; ataupun mengapa saya enggak putus saja dari Februari 2017 itu, agar bisa berkenalan dengan Mbak Manis Kemeja Kuning, bahkan siapa tau saja menjalin hubungan.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan tentang dia mungkin malah menjadi suatu godaan pada saat saya memiliki pacar, kini ketika saya sudah putus dan tidak terikat hubungan apa pun dengan seseorang dan bisa bebas mencari sosoknya di media sosial, datanglah godaan baru: Tasya—perempuan manis yang mengenakan sweter kuning di Warunk Upnormal. 


“Yog, itu ternyata betulan si Tasya,” ujar Haw begitu dia kembali dari musala sehabis salat Magrib. “Tadi aku dengar temannya manggil dia kayak begitu.” 

Saya masih tak percaya jika belum mendengarnya dari kuping sendiri. Mungkin saja Haw sedang berkelakar sekaligus ingin membuat saya senang bisa dipertemukan dengan orang yang saya kagumi prestasinya di media sosial belakangan ini. Sepuluh menit setelahnya, ketika saya dan Dian menuju musala, kami ternyata bertemu juga dengan seorang gadis—yang diduga mirip Tasya—bersama rombongannya di depan wastafel samping toilet. Mereka lagi asyik becermin dan bercakap-cakap. 

Kami lalu mencopot sepatu di bangku yang tersedia di depan musala. Kala itulah saya tak sengaja menguping kawannya menyebut nama cewek itu dengan panggilan “Sya”. Saya refleks menoleh ke Dian, saya mendapati dia langsung menyengir. Sebuah isyarat kalau saya tidak salah mendengar nama itu. Baiklah, saya kali ini amat yakin bahwa gadis ini bukan lagi mirip dengan Tasya, tapi memang dialah orangnya. Maaf, Haw, saya sempat meragukan kalimatmu dan mengira cuma lagi bercanda. 


Begitu kembali ke meja untuk bergabung lagi bersama kawan-kawan yang lain, mungkin wajah saya sesudah salat Magrib terlihat lebih semringah. Selain karena terbasuh air wudu dan tak sengaja melihat beberapa perempuan berwajah meneduhkan di musala (yang kerap disertai pujian: mukanya adem bener kayak ubin masjid), tentu saya merasa gembira bisa kebetulan bertemu langsung dengan Tasya. Saya pun mulai merenung, mungkinkah pertemuan ini semata-mata kebetulan atau memang ada yang mengatur?

Tapi, lagi-lagi saya memilih tak mau mengajaknya berkenalan. Urusan sama Mbak Manis Kemeja Kuning aja belum rampung, kok sudah belaga menargetkan perempuan baru yang seolah-olah merasa jodohnya. Hal ini pun mengingatkan diri saya pada saat remaja. Saya pernah memarkir motor sebelahan sama cewek yang cantiknya kebangetan serta penampilannya modis di mal Taman Anggrek. Ketika itu saya bisa-bisanya berpikir seraya berharap dialah jodoh saya. Betapa tololnya saya hari itu yang mungkin lagi kekurangan afeksi. Barangkali di luaran sana juga ada cowok-cowok yang berpikiran goblok semacam saya. Contohnya, kalau nomor absensinya di perkuliahan bisa atas dan bawah sama seorang gadis manis, bisa jadi mereka akan menganggap dialah jodohnya. 

Maaf, saya malah melantur. 

Lagi pula, saya dan Tasya baru dua kali bersua secara tidak sengaja. Apa sih yang spesial dari hal itu? Enggak ada, kan? Biasa saja. Kebetulan-kebetulan sejenis itu juga lazim terjadi di dunia nyata. Kalau kami sudah berjumpa sebanyak tiga kali, barulah saya percaya Tuhan telah merancang garis pertemuan itu. Lantas, saya akan berjanji sama diri sendiri bakal menyapanya atau mengajaknya berkenalan. Namun dari kejadian yang sudah-sudah, biasanya setelah janji itu terucap dalam hati, saya enggak akan ketemu lagi sama cewek itu. Jadi, mari lihat saja nantinya bakal bagaimana. 


Berkat video maupun screenshot dari Dian tentang gadis berkemeja kuning yang mulai menumbuhkan sedikit harapan buat saya dan meyakinkan mbaknya benar-benar manis, sepulang dari kafe itu saya kembali mencoba menyusuri sosoknya di media sosial. Saran dari Haw pun saya terapkan buat mencari teman di sebelahnya yang berjilbab itu. Maka, pencarian Mbak Manis Kemeja Kuning secara serius pun dimulai. 


Pencarian pertama, 9 September 2019 

Saya menelusuri ulang tagar acara Blogger Day di Instagram beserta foto-foto yang menandai akun Sun Life Indonesia. Saya memfilternya dengan langsung memilih para perempuan berkerudung. Saya perhatikan secara cermat satu per satu foto tersebut. Sayangnya, tetap tak ada satu pun wajah yang mirip dengan cewek di sebelah gadis berkemeja kuning. Pada saat itu pula, Haw memberi tahu saya tentang foto mbaknya yang terpampang pada akun Sun Life di Twitter. “Yah, yang ini juga kelihatan belakangnya doang, Yog,” katanya. 



Walaupun di foto itu belum terlihat juga wajah manisnya, seenggaknya pencarian ini sedikit-sedikit membuahkan hasil. Saya diam-diam meyakini sembari berdoa bahwa pencarian ini nantinya tidak akan sia-sia. Nanti pas betul-betul luang saya bakal mencarinya kembali. 


Saya tak sanggup menahan godaan buat melihat-lihat foto Tasya di Instagram (saya mulai mengikuti akunnya sejak pulang dari kafe itu). Saya juga tumben banget sampai ikhlas menonton setiap cuplikan-cuplikan hidupnya di InstaStory yang terlalu sering memakai fitur Boomerang. Padahal sebelumnya saya nyaris enggak pernah menonton punya siapa pun, termasuk kawan-kawan sendiri.

Kenapa si Tasya lucu dan manis banget, sih? Gila, begini amat godaan hidup. Saya kan jadi sedikit lupa tentang Mbak Manis Kemeja Kuning itu. Terus, di kepala saya malah muncul sebuah gagasan: Lupakan mbak manis kemeja kuning, mending pilih si sweter kuning yang sosoknya ada di depan mata dan nyata. Mau bagaimana lagi, senyum manis Tasya yang memesona itu sungguhlah racun pikiran. Memang ya, kalau lagi enggak punya pacar kita bisa bebas mengagumi ataupun naksir siapa pun tanpa rasa bersalah. 

Ah, tai, masa iya saya selemah itu? Meskipun ini juga sah-sah saja karena baru ketertarikan pada fisik yang baru sebatas kagum, tapi tolong jangan gampang menyerah dulu, Yog. Perasaan saya untuk mbaknya, biarpun kami cuma punya momen manis sebentar, tentu kenangannya sudah lama melekat di ingatan. Saya pun terbawa pada hari membahagiakan itu. 

Mata kami bertabrakan kala saya dan perempuan berkemeja kuning itu berpapasan di dekat meja registrasi acara Blogger Day. Saya baru saja datang untuk mendaftar sebagai peserta, sedangkan dia kayaknya sudah datang terlebih dahulu dan berjalan menuju toilet. Selama memandanginya, mata saya seakan-akan tak bisa lepas dari parasnya yang manis itu, sampai-sampai tersenyum kikuk. Entah bagaimana, dia justru meresponsnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Ya Tuhan, saya mendapatkan hadiah berupa senyum dari ciptaan-Mu yang aduhai, sehingga langsung merasa suka pada pandangan dan senyuman pertama.

Bicara soal pertama, ini juga baru pencarian pertama, bukan? Artinya masih ada harapan. Saya pun kini kembali meneguhkan hati buat fokus sama mbaknya.

Kalau bisa kuulangi cerita, aku tak akan berada di tempat pertama kita berjumpa. Ku di sini dan mencari. Kau di sana menunggu untuk ditemukan. Untuk ditemukan. 


Pencarian kedua, 12 September 2019 

Berhubung saya tidak tahu namanya, patokan untuk mencari mbaknya tentu bakal keterlaluan sulit jika saya cuma mengandalkan fotonya saat dia mengenakan kemeja kuning, serta temannya yang berjilbab itu dengan baju kembang-kembangnya. Saya pun mencoba menganalisis, kalau dia bukanlah bloger ataupun buzzer dan hanya seorang mahasiswi biasa, kenapa dia rela datang ke acara itu? Hal yang paling masuk akal buat saya: dia ingin menikmati acaranya sebab pengisi acaranya menarik, yakni idberry alias Om Ded (pembuat konten video, khususnya mainan Lego), Arbain Rambey (fotografer), dan Endah n Rhesa (musisi yang tampil sebagai penutup acara). 

Saya pun membuka akun Om Ded, lalu melihat foto-foto yang menandai dirinya. Dari puluhan foto itu, saya akhirnya menemukan satu perempuan berjilbab pada acara Blogger Day. Saya inisiatif mengecek foto-fotonya yang lain. Sialnya, tidak ada satu pun foto lainnya, apalagi yang berdua dengan mbaknya, pada acara itu. Sepertinya saya salah orang. 

Saya lantas beralih ke akun Arbain Rambey. Jumlah orang yang menandai akunnya jelas berkali-kali lipat ketimbang Om Ded. Tapi atas nama rasa suka, saya rela meluangkan waktu buat menjelajahinya. Setelah jempol saya lumayan pegal efek kebanyakan menggulir layar, tibalah saya pada foto-foto acara tersebut. Kebanyakan fotonya bersama bloger yang sebagian saya kenali karena pernah bareng dalam suatu acara lain. Kemudian, saya pun menemukan satu foto gadis manis. Yang setelah saya perbesar, rupanya dia berwajah oriental. Jelas itu bukan mbaknya. Lagian bajunya dia kan merah, bukan kuning. Goblok banget ini si Yoga segala salah fokus dan di-zoom mentang-mentang cewek itu tampangnya lumayan ketika dilihat dari jauh.

Baiklah, dugaan terakhir saya, dia memang penggemar Endah n Rhesa. Tapi saya sudah tak sanggup lagi buat mencarinya hari ini. Saya akhirnya memilih rehat. Lebih baik melanjutkannya besok. 


Pencarian ketiga, 13 September 2019 

Mencari seseorang lewat foto yang menandai akun Arbain Rambey mungkin sudah amat melelahkan bagi saya. Namun, itu jelas belum ada apa-apanya dibandingkan dengan foto-foto di akun Endah n Rhesa yang jauh lebih gila. Instagram saya bahkan sampai macet alias berhenti bekerja dan langsung kembali ke menu utama ponsel, padahal penelusuran saya sudah sampai bulan Mei 2017. Tiga bulan lagi itu Februari, tahu! Tai banteng. Sontoloyo. Sobat gurun. Minyak jelantah. Berak siluman. Asli, saya jengkel bukan main.

Seandainya Instagram juga bisa melakukan pencarian lewat Twitter yang tinggal memasukkan kata kunci, pasti enggak akan sesusah ini. Sudahlah, saya capek buat scroll-scroll dari awal lagi. Kurang kerjaan banget. Mending baca buku yang jelas-jelas bermanfaat daripada melakukan hal bodoh begini.

Lucunya, sembilan jam berselang, saya kembali berusaha menemukan Mbak Manis Kemeja Kuning itu di foto-foto yang menandai Endah n Rhesa. Bagusnya, kali ini saya berhasil sampai ke bulan Februari 2017. Mungkin karena saya mencarinya via iPhone 4—yang mana belum ada fitur InstaStory, Boomerang, Live, dan sebagainya—sehingga terasa lebih enteng. Beberapa perempuan berhijab yang menandai Endah n Rhesa pada acara itu, memotret penampilan konser mereka dari pinggir sebelah kiri di bagian depan. Seingat saya, posisi duduk mbaknya itu di deretan belakang dan agak ke tengah. Jadilah saya menyimpulkan itu bukan teman mbaknya.

Hingga akhirnya, saya mulai menemukan satu foto konser yang dipotret dari tengah. Begitu saya klik pada nama akunnya, perempuan ini tampak manis. Saya membatin, mungkinkah ini mbaknya? Kalau dilihat dari foto profilnya, sih, bisa dibilang cewek ini lumayan mirip. Dia berambut lurus dan panjangnya sebahu lebih sedikit. Saya pun menggulir layar ke bawah. Pada sembilan foto pertama, jantung saya langsung berdebar tidak keruan selama memandangi foto-fotonya yang menampilkan pernikahan.

Anjing, masa iya dia udah menikah? Enggak mungkin, ah. Seingat saya tuh wajah dia pada 2017 masih kayak mahasiswi semester awal atau pertengahan. Setelah dua tahun berlalu sejak acara itu, kemungkinannya palingan sekarang-sekarang ini dia lagi menggarap skripsi atau baru lulus. Apa iya dia lulus kuliah langsung menikah? Please, akun ini bukan mbaknya. Ya Allah, semoga bukan dia. Memang saya akui diri ini kurang taat beribadah, tapi kali ini saja tolonglah kabulkan doa hamba-Mu yang sedang bersedih. Aamiin.

Pada foto-foto berikutnya, saya akhirnya langsung sadar bahwa dia jelas-jelas bukan mbaknya, sebab perempuan ini memiliki tahi lalat di wajah. Di memori saya, paras Mbak Manis Kemeja Kuning tidak ada nodanya sedikit pun. Mukanya betul-betul mulus.

Menengok jam di ponsel yang sudah menandakan hari telah berganti, saya pun menyudahi kegiatan melelahkan itu dan beranjak tidur. Pencarian panjang ini mungkin seakan-akan tidak membuahkan hasil. Tapi buat saya pribadi justru ada. Saya semakin yakin kalau mbaknya masih muda dan belum menikah. Seburuk-buruknya probabilitas, paling-paling dia baru sebatas punya pacar. Lagi pula, saya enggak berniat merebutnya seandainya dia sudah memiliki pacar. Saya hanya ingin memberi tahunya tentang cerita-cerita pencarian goblok ini jika bisa menemukan atau dipertemukan suatu hari nanti. Terlepas dari apa respons dia nantinya (mengira saya aneh, tidak mau mengenal saya lagi, lebih-lebih menuduh saya psikopat, mengumumkan pada khalayak ada orang sinting, atau apalah) saya pokoknya sudah siap dengan kemungkinan paling pahit itu. 


Pencarian terakhir, 26 September 2019 

Bosan dengan pencarian di Instagram yang belum juga ada perkembangan, saya memutuskan pindah ke Twitter. Saya lagi-lagi menelusuri tagar acara itu. Sudah pasti kali ini saya mencarinya dengan lebih teliti. Saya bahkan memperhatikan siapa saja orang-orang yang memencet tombol suka dan retwit di setiap twit dari akun Sun Life Indonesia. Saya pun menemukan seorang perempuan yang postur tubuh dan kurusnya sama sebagaimana mbaknya. Namanya Sandra. Jenis rambutnya juga mirip. Apakah Sandra adalah orangnya? Wajahnya juga oke, sih (enggak jelek). Tapi, saya ragu itu bukan mbaknya karena foto profilnya tampak kurang manis. Dia ternyata juga seorang buzzer saat saya simak dari beberapa twit terakhirnya.

Namun, daripada terus-menerus penasaran, saya akhirnya mengeklik pilihan media, lalu memperhatikan satu per satu fotonya. Saya enggak sreg melihat setiap gayanya saat berfoto. Saya masih ingat betul kalau Mbak Manis Kemeja Kuning tidak seekspresif dan lebay seperti orang ini dalam berfoto. Mbaknya sungguh kalem dan elegan sewaktu saya perhatikan sepanjang acara itu. 

Saya pun terus mencoba meneruskan penelusurannya hingga Februari 2017. Muncul gambar saat dia memotret Endah n Rhesa dari bagian tengah. Saya lagi-lagi berharap Sandra bukanlah orang yang saya cari selama ini. Apakah ini berarti saya mulai kecewa seandainya Mbak Manis Kemeja Kuning ini tidak semanis di ingatan atau jauh dari gambaran saya? Syukurlah ketakutan itu terjawab dengan foto berikut.



Sandra pasti bukanlah orangnya. Buktinya, dia lagi memotret seseorang yang sedang bertanya kepada sang pembicara. Kebetulan sekali mbaknya masuk ke dalam foto itu. Ini tandanya Sandra cuma duduk di sebelah kanan mbaknya. Saya pun tiba-tiba jadi ingin bertanya sama dia, apakah kenal dengan gadis di sebelahnya? Tapi sesaat kemudian, saya mendadak malas dan sudah yakin sekali dia tidak mungkin kenal sama mbaknya. Teman mbaknya hanya perempuan berjilbab itu.

Masalahnya, sampai hari ini saya juga belum mampu menemukan mereka di media sosial. Apakah mereka berdua, mbaknya dan si jilbab, memproteksi semua akun medsosnya? Jika benar begitu, berarti harapan saya itu nihil untuk mencarinya di media sosial. Jadi, saya tak perlu mencarinya lagi sehabis ini. Bisa melihat wajahnya yang dari samping, entah mengapa sudah lebih dari cukup buat saya saat ini. Mungkin mukanya juga tampak biasa saja ketika tidak dilihat dari depan, yang penting saya masih percaya dialah Mbak Manis Kemeja Kuning yang sebulan terakhir ini sering hadir dalam mimpi. Saya pernah bermimpi bertemu dengannya. Dia juga memberi tahu namanya. Berhubung itu cuma bunga tidur, saya tidak memikirkannya lebih lanjut. Saya juga pasti bakal langsung lupa siapa namanya begitu terbangun. Berkat gambaran manis itu, saya kini juga sudah bahagia bisa berjumpa dengannya walaupun cuma di alam mimpi.

Sebetulnya masih ada satu cara lagi, yaitu menggunakan Twitter, please do your magic, dengan kata lain meminta bantuan sama netizen. Siapa tahu twit saya bisa sampai kepada orangnya. Bagusnya, saya bukan tipe manusia yang menghalalkan segala cara demi mencari seseorang. Saya malas merepotkan banyak orang. Saya tak ingin cerita ini tersebar ke khalayak. Biarlah kisah ini cukup diketahui oleh segelintir orang, terutama para teman bloger. Saya pun enggak peduli bakalan dihina, atau diledek, bahkan dianggap mengerikan oleh orang-orang di sekitar saya lantaran mengisahkan hal semacam ini.

Kalaupun kamu berpikiran saya orangnya obsesif, itu adalah hak kamu. Saya tak bisa melarangnya. Setiap orang bebas menilai. Syukurlah, saya sungguh mengerti bahwa diri ini enggak terobsesi sama mbaknya. Perasaan ini masih jenis suka yang wajar. Saya belum segila penggemar K-Pop yang fanatik itu, kok. Saya juga masih punya kesadaran buat menjalani hidup normal. Pencarian mbaknya ini tuh mungkin bagaikan suatu penyesalan telah menjatuhkan sebuah benda—yang bagi saya berharga, lalu berusaha memungutnya kembali. Itu saja. Jika kamu tidak suka dengan cerita ini, tak perlulah membacanya. Ya, sesimpel itu. Toh, saya sudah berjanji pada diri sendiri akan berhenti mencari, mulai mengandalkan doa, dan tawakal. Sekarang, setelah menuliskan segala cerita ini beserta teks-teks pendukung (berupa ocehan tolol, cerpen, dan puisi) yang telah saya jadwalkan selama bulan Oktober, saya akan memasrahkan diri. 

Jika kita bertemu di sudut sesak itu, lihatlah di wajahku dan temukanlah wajahmu. Kutatap ke matamu dan ketemukan mataku. Dan kerumunan melindungimu, mengenakan wajah dan namamu. Kerumunan menjadi batu yang melesat dan menghancurkan. 


Seumpama kami ditakdirkan bertemu kembali pada suatu hari, saya berupaya supaya tidak mengulang kesalahan yang sama, apalagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya mesti berkenalan dan mengobrol lebih banyak, mencari tahu beberapa hal tentang dirinya, mengisahkan cerita-cerita penelusuran saya. Sekalipun dia sudah punya pacar, seperti yang sempat saya tulis di atas, saya tak perlu menyesal pula. Bisa jadi justru nanti sayalah yang sudah menemukan kekasih baru. Setidaknya, tulisan ini akan menjadi sebuah bukti bahwa saya pernah menjadi pengagum rahasianya. 

Mungkin kau tak akan pernah tahu, betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu, ku pertahankan hidup. 

-- 

Kalimat-kalimat yang ditulis dengan miring itu merupakan lirik lagu dari: 

Pee Wee Gaskins – Sebuah Rahasia 
Melancholic Bitch – Noktah pada Kerumunan 
Sheila On Seven – Pemuja Rahasia

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/yellow-wall-girl-woman-people-926728/
Read More
Mungkin sebagian pembaca ada yang bingung tentang Mbak Manis Kemeja Kuning di cerpen saya sebelumnya, Obrolan Mengenai Paras, Tuhan, dan Nonsens yang Menyedihkan. Itu murni keteledoran saya yang luput untuk menuliskan cerita pengantarnya di blog. Saya baru pernah mengisahkannya di media sosial. Jadi, semoga tulisan berikut ini bisa sedikit menjawab pertanyaan itu.

 --

Apa yang pernah terekam di otak, suatu hari pasti bisa muncul lagi ke permukaan, sedalam apa pun saya mengubur kenangan itu. Saya mulai teringat kembali dengan memori Mbak Manis Kemeja Kuning kala sedang mencari seorang gadis (dia saya nilai manis juga karena memiliki lesung pipi di bawah mata) yang saya lihat saat acara bazar buku.



Saya mengeluh kepada Haw, teman yang datang bersama saya ke acara tersebut, tentang ingatan saya pada wajah cewek itu yang mulai samar-samar. Satu jam sebelumnya, ketika saya sedang menuju zona kalaptempat buku-buku yang mendapatkan diskon 50-70%, saya melewati panggung acara dan tak sengaja melihat seorang perempuan yang mengenakan sweter merah di belakang panggung. Dia sedang melihat hasil foto di kamera DSLR yang dipegang oleh kawan di sebelahnya. 

Saya refleks mengucapkan manis banget ya, Allah

“Yang mana, Yog?” ujar Haw. 

Saya pun memberitahunya. Respons Haw: biasa aja, ah. Saya tak mengerti, apakah selera kami dalam menentukan manis atau tidaknya wajah seorang perempuan itu berbeda, atau dia salah melihat orang, atau dia belum benar-benar memperhatikannya dengan jelas? Selesai membeli buku, kami tentu melewati panggung itu lagi, dan kali ini Haw meralat penilaiannya. 

“Betulan manis ternyata, Yog,” katanya. “Kamu cepat, ya, lihat yang bening-bening.” 

Saya tertawa. Saya hanya tak sengaja melihatnya. Kebetulan wajahnya itu juga punya pesona yang bikin saya ingin terus memandanginya. Bukan jenis tampang yang sewaktu saya lihat muncul perkataan di dalam hati, iya, dia cakep, tapi ya udah. Mungkin gadis itu sekilas terlihat sama saja sebagaimana perempuan-perempuan cantik ala selebgram yang mukanya glowing. Tapi jika diperhatikan lebih detail, saya menilai cakepnya itu termasuk natural. Bukan karena riasan wajah. Paras dia itu kayaknya cuma bisa dimiliki oleh perempuan yang sudah cantik sekaligus tajir mampus sejak lahir.

Apakah saat itu saya ada keinginan untuk berkenalan? Oh, tentu. Namun, saya termasuk orang yang sadar diri karena status sosial kami berbeda. Perempuan seperti itu tak akan terjangkau buat saya hari ini. Meski begitu, di dalam diri saya ada suatu perasaan ingin tetap mengaguminya dari jauh. Oleh sebab itulah, di jalan pulang saya dan Haw masih terus membahasnya. Lalu, kami mentertawakan payahnya memori otak buat mengingat wajah cewek itu dengan jelas. Gambaran mukanya mulai blur di ingatan.

“Nanti pas sampai di rumah coba aja cari di Instagram, Yog,” kata Haw. “Siapa tau dia update kegiatannya hari ini.” 

Saya memasukkan kata kunci tentang acara itu di pencarian Instagram. Tak ada satu pun wajah yang cocok dengan ingatan saya. Saya lantas pindah ke Twitter. Hasilnya ternyata sama saja. Karena tidak ketemu juga setelah mencarinya, terbitlah tiga kemungkinan di benak saya: 1) dia bukan tipe orang yang sedikit-sedikit pengin menunjukkan eksistensinya di media sosial; 2) dia lebih suka menampilkan foto secara telat alias latepost; 3) akun dia diproteksi. 

Pada keesokan harinya, ketika saya sudah malas menelusurinya lagi, lucunya Haw justru mengirimkan saya beberapa foto akun Instagram dengan pertanyaan, “Yang ini bukan?” Saat melihatnya tidak muncul kecocokan di otak, sehingga saya menjawab bukan. Tapi dari beberapa foto dan akun yang dia sodorkan, ada satu perempuan yang tak kalah manis (yang belakangan diketahui, kami juga sempat melihatnya di acara bazar buku) dan justru membuat saya terpikat hingga mengetik begini: “Jenis cantiknya mulai sesuai nih di memori. Tapi kok lesung pipinya hilang, ya?” 

Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya sebab perempuan yang sedang kami cari itu bukanlah bagian dari kegiatan acara di panggung seperti cewek aduhai yang tak sengaja kami temukan.

“Susah ya cari orang di medsos tanpa tahu namanya. Mana ingatan akan wajahnya juga samar-samar. Apalagi clue-nya ini cuma dia pakai sweter merah,” tulis saya. 

Setelah mengetik begitu, tiba-tiba di kepala saya muncul memori tentang Mbak Manis Kemeja Kuning yang pernah saya temui dua tahun silam, tepatnya pada 18 Februari 2017 di acara “Blogger Day: Sun Life Future Plan”. Saya baru ingat pernah berjuang keras mencari seseorang di media sosial seperti hari ini dan hasilnya nihil lantaran tidak tahu namanya. Apa yang bisa saya ingat darinya hanyalah dia memakai kemeja kuning, lalu paras dan senyumnya manis. Tapi saya tentu sudah lupa, itu jenis manis yang bagaimana.

Walaupun pencarian sweter merah ini tidak mendapatkan hasil, setidaknya penelusuran kali ini bagi saya masih terasa lebih baik karena saya bisa menemukan banyak cewek yang memamerkan keseruan acara itu dan wajah-wajahnya juga tampak jelas. Berbeda sekali dengan Mbak Manis Kemeja Kuning. Selama dua tahun ini saya tak berhasil mendapatkan satu pun informasi tentangnya selain dia bukanlah seorang bloger. Sebab sewaktu saya menelusuri tagar acaranya di Twitter, tak ada satu pun twit darinya. Minimal kan para bloger ini pasti membuat 1-2 twit tentang acaranya. Saya pun pindah ke Instagram menggunakan tagar yang sama, tetapi hasilnya tidak berubah. 

Jika tak salah ingat, acara itu memang terbagi menjadi dua pengunjung; satu untuk bloger, lainnya buat mahasiswa atau umum. Mungkin dia memang bukan bloger. Dia cuma mahasiswi biasa. Bagi saya sangatlah sulit mencari seseorang yang tidak meninggalkan rekam jejak digital seperti para bloger. Lebih-lebih ketika saya sadar bahwa satu-satunya petunjuk tentangnya hanyalah potretnya yang membelakangi kamera. Apa yang bisa diharapkan dari gambar semacam itu? Akhirnya saya menyerah. 




Kini, saya berusaha mencari Mbak Manis Kemeja Kuning kembali karena terpicu oleh gadis bersweter merah, yang entah mengapa justru memunculkan rasa penyesalan. Kenapa saya menyesali hal yang sudah lewat dua tahun itu? Bisa dibilang karena saya tak bisa membohongi diri bahwa perjumpaan tak sengaja bersamanya itu merupakan momen manis yang rasa-rasanya tak ingin saya lupakan seumur hidup. Buktinya, dia betul-betul masih menetap di ingatan, padahal kejadiannya sudah jauh berlalu. Saya pun jadi mengutuk diri, betapa pengecutnya saya hari itu lantaran tak sanggup mengajaknya berkenalan. Sebab kalau Mbak Manis Kemeja Kuning ini saya masih cukup yakin buat bisa menjangkaunya.


Dua hari kemudian, saya ada kopdar bersama teman-teman bloger di Perpustakaan Nasional. Kami janjian pada pukul satu siang. Berhubung ada kawan bloger yang belum sempat hadir dan katanya juga ada yang ingin menyusul, sedangkan Perpusnas hanya buka sampai pukul empat sore, kami pun memutuskan pindah ke Warunk Upnormal Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Di sana saya malah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang saya bilang memikat saat mencari gadis bersweter merah itu. Untuk memudahkan penceritaan, anggaplah namanya Tasya. 

Mulanya, Haw memanggil saya dan memberi tahu rombongan pengunjung yang baru datang. Kebetulan kami hari itu duduk di dekat pintu masuk. Haw bilang salah satunya mirip sama Tasya. Saya otomatis langsung mengecek ponsel, membuka akun Instagram, dan memandangi fotonya. Memang mirip sih, tapi apakah mungkin semesta langsung mempertemukan begini? 

Melihat Tasya memakai kaos putih yang dilapisi dengan sweter kuning, lagi-lagi memicu saya pada Mbak Manis Berkemeja Kuning. Sebetulnya, ada apa dengan warna kuning dalam hidup saya, sih? Tai, oh tai, mungkinkah ini suatu pertanda Tasya jodoh saya? Oke, itu harapan yang terlalu tolol. Lagi pula, belum tentu itu Tasya yang Haw dan saya temukan di Instagram. 

“Bukan ah, Haw,” ujar saya. “Mirip doang kali.” 

Pikiran saya sudah kadung terusik oleh Mbak Manis Kemeja Kuning dan jadi mau membahasnya kembali. Syukurlah kali ini ada saksi yang juga sempat melihatnya pada dua tahun silam, yakni Dian Hendrianto. 




Pada acara Blogger Day, saya masih ingat dengan jelas kalau duduk di barisan depan sebelah kanan. Di sebelah kiri saya terdapat Reza Andrian, dan di sebelahnya lagi ada si Dian. Saya sesekali mencuri-curi kesempatan untuk menoleh demi bisa memperhatikan Mbak Manis Kemeja Kuning yang duduknya di belakang bagian kiri, percisnya berada di arah jam delapan saya. Saat itulah Reza memergoki tingkah laku saya yang mencurigakan.

“Lagi ngelihatin siapa sih, Bang?” tanya Reza.

“Itu cewek yang pakai kemeja kuning,” ujar saya. 

Tak disangka tiba-tiba muncul sebuah pujian dari mulut seorang jahanam—yang tidak lain tidak bukan adalah Dian: “Manis juga.” 


“Yan, lu masih ingat cewek pas acara Blogger Day di Kokas ini, kan?” ujar saya seraya menunjukkan foto mbaknya yang menghadap ke belakang itu. 

Dian melihat fotonya selama 3-5 detik. Dia mengerutkan dahinya, lantas berkata, “Kayaknya gue punya videonya dah, Yog. Ada di arsip Instagram.” 

“Serius? Coba lihat dong.” 

Dian mengutak-atik ponselnya agak lama, lalu menyodorkan kepada saya sebuah screenshot. 



Meski gambarnya blur, di foto itu dia memang tampak manis sama halnya kayak di memori saya ketika kami berjumpa dua tahun silam. 

“Tolong tampilin lagi dong videonya, Yan. Gue mau tonton,” kata saya. 

“Udah tuh. Udah gue kirim juga SS-nya ke WA lu.” 

Beberapa kawan, termasuk Haw, kemudian ikutan menontonnya. Lalu begitu selesai, Haw memberi komentar, “Kamu enggak coba cari temannya yang berjilbab itu, Yog? Nanti kalau ketemu kan bisa tanya-tanya.”

Anjing, kenapa saya dulu enggak kepikiran sama sekali, ya? Apakah saya terlalu mudah menyerah untuk menemukan seseorang? Sepertinya enggak juga. Mungkin alasan saya dulu tidak mencari tahunya lebih lanjut dan takut mengajaknya berkenalan, sesungguhnya karena saya berpikir tidak etis dengan status hubungan saya. Bisa dikatakan saat itu saya masih punya pacar. Oke, silakan nilai saya bajingan, berengsek, Gemini terkutuk, playboy, softboy, atau apalah makian lainnya. Saya enggak terlalu peduli.

Namun, izinkan saya bercerita beberapa hal tentang hubungan saya dengan si pacar yang membuat saya kepengin berkenalan dengan perempuan lain yang jelita. Ketika itu saya lagi malas-malasnya sama pacar yang berulang kali memberikan omong kosong kepada saya. Dia telah berjanji akan suatu hal, tapi mengingkarinya seenak jidat. Lagi dan lagi. Saya mulai muak dengan permintaan maafnya. Kami bahkan nyaris putus pada akhir Januari karena dia salah paham dengan kalimat saya. 

Januari dan Februari 2017 dapat dikatakan bulan terburuk kami selama pacaran yang usianya baru berjalan 5-6 bulan itu. Apalagi ketika saya mengingat momen terkutuk pada suatu Minggu malam pada awal Februari. Setiap hari Minggu dia punya jadwal mengajar anak-anak dari pagi sampai siang di Bogor. Dia tergabung dalam sebuah komunitas guru relawan. Biasanya, sore sehabis Asar kami menyempatkan diri untuk bertemu sekaligus kencan. Dia pun menyanggupi pada hari itu. Tapi entah kenapa dia tidak ada kabar hingga azan Magrib berkumandang. Saya cemas. Firasat buruk dan pikiran-pikiran aneh pun muncul tanpa bisa saya cegah. 

Sekitar Isya, barulah dia bilang maaf telah membatalkan janji terhadap saya karena enggak enak menolak acara kumpul-kumpul sekalian makan-makan bersama para teman di komunitasnya tersebut. 

“Yoga jangan marah,” tulisnya di WhatsApp. 

“Marah buat apa?”

Awalnya, saya memang cuma membaca pesan-pesannya itu. Saya malas membalas pesannya karena masih ada rasa gondok telah menunggunya sejak sore tanpa kejelasan.

“Marah karena aku enggak ngabarin. Terus tadi aku juga dikasih kado sama temanku. Aku enggak enak buat nolak.” 

“Cowok?” 

“Cowok.” 

“Siapa?” 

Dia menyebutkan sebuah nama. Saya ingat sekali namanya. Itu cowok yang gemar menghujani komentar di beberapa foto Instagram pacar saya. Salah satunya berbunyi begini: “Duh, senyumnya mengajak berumah tangga. *emoji mata love*” 

Seketika membacanya, saya langsung pengin balas komentar tersebut, “Kontol.” Apa dia tahunya kalau pacar saya itu statusnya lajang? Enggak mungkin, ah. Pacar saya pernah memajang foto kami berdua. Itu sudah cukup jelas. Apakah emang cowoknya aja yang kurang ajar? Tidak tahu diri? Tapi pada akhirnya saya cuma bisa menahan diri. Saya malas ribut-ribut selama pacar saya tidak pernah menanggapinya. Pengabaian pun buat saya jauh lebih menyakitkan daripada hinaan. Namun, malam itu, pikiran saya tidak bisa jernih. Siapa yang tahu apa yang terjadi di belakang saya? Saya juga tak pernah tahu seandainya mereka diam-diam rajin bertukar pesan. Itu mungkin saja, bukan? 

Dia lalu mengirimi saya gambar kado dari cowok itu. Sebuah desain foto pacar saya setengah badan yang dibingkai dalam ukuran A3. Desainnya pun lebih bagus daripada bikinan saya. Setan. Saya jengkel banget.

“Terus, kadonya aku balikin apa gimana nih?” tanyanya.

Mendapatkan pertanyaan itu, saya bingung sendiri. Memang agak sulit menjadi orang yang tidak enakan. Mungkin jika saya yang ada di posisinya, saya juga sulit buat menolak pemberian seseorang. Tapi, kenapa seakan-akan dia ini enak-enak saja membatalkan janji sama saya dan telat menghubungi? Rasanya kan kayak enggak dihargai sama sekali. Dia malah bersenang-senang makan bareng dan menerima kado dari cowok lain. Bedebah!

Saya pun merenung. Jika dipikir-pikir ulang soal kado itu, anggaplah saya juga salah karena belum sempat memberikan kado apa pun untuknya selain editan foto yang cuma versi digital, sehingga ada laki-laki lain yang lebih dulu menyuguhkannya hadiah dalam wujud nyata. Jadilah saya menjawab, “Itu hak kamu.” 

Dia lalu berusaha membuat saya percaya kepadanya. Dia malahan bersumpah bahwa tidak menyukai cowok itu sama sekali. Sikapnya biasa saja selayaknya teman. Singkat cerita, kami pun berbaikan. Sayangnya, damai itu hanya berumur singkat. Kami lagi-lagi berantem dan saya juga sulit buat menghapus momen pertengkaran terkutuk Minggu malam itu. 


Saya gembira bukan main saat datang ke acara Blogger Day dan bisa berjumpa dengan kawan-kawan bloger yang dapat menghibur diri dari kondisi hubungan gawat itu. Selama seminggu terakhir kami masih sering bertengkar hebat. Pada hari saya ingin berkenalan dengan Mbak Manis Kemeja Kuning, saya dan pacar bahkan semacam berada di fase saling introspeksi. Mempertanyakan bagaimana hubungan kami selanjutnya, apakah tetap lanjut atau harus berakhir? Orang-orang mungkin menyebutnya dengan istilah break. Saya kala itu sebenarnya masih menyayangi si pacar, tentu saja. Toh, terbukti kami masih bertahan hingga setahun berikutnya. Akhirnya, saya jadi segan buat mengajak Mbak Manis Kemeja Kuning itu berkenalan. Mungkin seakan-akan ada perasaan bersalah di dalam diri. Statusnya masih punya pacar, kok berani-beraninya berkenalan dengan perempuan lain. Barangkali saya juga memercayai sebuah nasihat: sesuatu yang baru dan terlihat lebih menarik, belum tentu lebih baik dari yang telah kita miliki. Jadilah saya membuang gagasan untuk berkenalan. 

Sebelum memutuskan pulang ke rumah sekelarnya acara tersebut, saya dan gadis kemeja kuning itu ternyata masih berjumpa lagi di spot untuk berfoto. Dia percis berada di depan saya saat kami lagi mengantre di salah satu spot. Gila, jarak kami sudah sedekat ini. Parfumnya yang beraroma segar bahkan sampai tercium dengan jelas di hidung saya. Apakah ini tandanya saya memang perlu berkenalan? Jantung saya pun berdebar tidak keruan. Saya terlalu gugup. Tapi saya tak ingin mati menanggung penyesalan hanya karena takut dan tidak sempat mengajaknya berkenalan. Saya harus memberanikan diri. Saya tak mau jadi pecundang.

Saya lantas memejamkan mata sejenak, menghela napas, serta mengembuskannya perlahan-lahan. Sesaat sebelum saya membuka mata, muncul wajah si pacar. Tai anjing. Keberanian saya pun mendadak luntur. Jadi, untuk terakhir kalinya, saya berusaha menyempatkan diri buat memotretnya dari belakang. Saya hanya ingin mengenangnya, bahwa dia bukanlah perempuan khayalan tolol saya. Dia bukan fiksi. Dia itu nyata. Walaupun saya mengerti, sangat mengerti, dia kelak mungkin cuma hidup sebatas di memori saya.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home