“Jangan katakan kau ingin mati.”

“Jangan menyerah pada hidup.” 

Meskipun berbicara hal yang benar, betapa tololnya lagu dengan lirik seperti itu. Sesungguhnya, aku tidak keberatan jika diriku sendiri yang mati. Tapi, aku bakal sedih kalau orang di sekitarku yang mati.

“Aku tak mau itu terjadi,” yang bilang begitu adalah ego. 

Peduli setan dengan hidup orang lain. Membenci seseorang telah menjadi fesyen. Walaupun begitu, kau malah mengatakan, “Mari hidup damai.” Indah sekali, bukan? 

Seseorang tewas di layar yang sedang kaulihat. Lalu seorang yang lain meratapinya dan menyanyikan sebuah lagu. Seorang anak terpengaruh dan berlari sambil menggenggam sebilah pisau. 

Kita dibenci oleh kehidupan itu sendiri. Kita memaksakan nilai dan ego. Dengan mudahnya kita menyebarkan lagu tentang kematian. Kita dengan entengnya mengucapkan ingin mati. Dengan gampangnya meremehkan kehidupan. 



Karena tak punya uang, dalam seharian ini aku pun bermalas-malasan sembari menyanyikan lagu-lagu seperti orang bodoh. Tanpa dapat menemukan arti hidup, aku bernapas dengan kesadaran akan hidupku yang sia-sia. Bolehkah aku mengekspresikan luka ini dengan sepatah kata, “Aku kesepian”? Dengan pikiran angkuh seperti itu, hari ini pun aku terlelap sendirian di kasur. 

Kita yang dulu anak-anak, suatu hari akan tumbuh menjadi remaja. Kita menjadi tua dan suatu hari nanti membusuk tanpa diketahui oleh siapa pun seperti dedaunan layu. Aku mengkhayal tentang situasi fiksi ilmiah. Di mana kita bisa memperoleh tubuh yang abadi dan hidup selamanya tanpa harus mengalami kematian? 

Read More
Dian berteriak meminta saya menepi ketika kami berada di kawasan Tanah Abang. Kala itu saya tengah memikirkan perkataan Haw dua jam sebelumnya, “Kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” Haw tentu tidak menyuruh saya jadian dengan Dian, sebab dia bukan seorang perempuan. Dia laki-laki yang kebetulan namanya uniseks. Toh, saya sangat normal dan tidak memiliki kelainan seksual. Yang Haw maksud adalah perempuan bernama Tania yang sempat saya ceritakan di KFC. 

“Yog, berhenti dulu dah,” ujar Dian. 

Saya masih memacu kendaraan. Dian berteriak sekali lagi. Akhirnya, saya memperlambat kendaraan dan setop di pinggiran Jalan Kebon Sirih. Saya lantas bertanya kenapa dia mendadak menyuruh berhenti.

“Gue mau ke Cileungsi, emang lewat sini?” tanyanya. 

Saya betul-betul enggak tahu di mana letak daerah yang Dian sebutkan itu. Saya mengira Dian masih melewati jalan yang biasanya, arah Pasar Senen, sebagaimana dia dulu tinggal di sekitaran Bekasi. Dian segera mengeluarkan ponsel untuk mengecek aplikasi peta. Dian mengeluhkan salah arah dan betapa jauh tujuannya itu dari tempat kami saat ini. 

Saya bertanya kepada Dian di mana patokannya kalau mau ke arah Cileungsi. Dian menjawab Patung Dirgantara. Namanya tidak asing, tapi saya entah kenapa bisa-bisanya lupa akan hal itu. Saya mencoba mengingat-ingat nama patung tersebut.

“Pancoran, Yog,” kata Dian. “Lu tau?” 

Nah, misteri pun terpecahkan. Patung Dirgantara memang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran.

“Oh, gue tau. Ayo muter balik dulu di depan, Yan.” 

Saya putar balik ke arah Tanah Abang. Saya bermaksud mengantarkan Dian ke kawasan Bundaran Slipi sekalian nanti saya pulang. Dari sana Dian bisa ke arah Semanggi dan tinggal lurus terus sampai Pancoran.

Ketika kami sudah berada di Jalan Jati Baru, Dian tiba-tiba berteriak lagi, “Yog, kok malah tambah jauh, ya? Mending gue lihat maps aja deh.” 

Motor saya tetap melaju. Saya tidak menggubris perkataannya. Dian mengulang kalimatnya, kali ini suaranya terdengar seperti hendak menangis. Saya pun mengingat kesialan Dian hari ini. Ponsel Dian—iPhone 5S—sempat terjatuh hingga layarnya retak ketika kami ketemuan siang tadi. Lalu sekarang saya bikin dia tersesat. Saya mendadak merasa bersalah. Kata “mendadak” kemudian membawa saya ke pertemuan kami hari ini yang juga serba dadakan.


Sekitar sepuluh jam sebelumnya, saat saya sedang siap-siap berangkat Jumatan, Dian mengontak saya—bertanya apakah hari ini saya sibuk. Saya menjawab apa adanya: mau salat Jumat. Dian mengetik tidak jelas. Saya mencoba memahami maksud kalimatnya: mengajak bermain seusai Jumatan. Saya bertanya untuk memastikan maksudnya itu. 

“Iya, gue lagi di Rawamangun,” tulis Dian.

Ngapain? Nemuin Darma?” 

Saya menyebutkan salah seorang kawan yang baru saja pulang menuntut ilmu dari Turki beberapa hari lalu. 

“Habis ngelamar kerja.” 

Saya bilang kepada Dian bahwa jadwal hari ini kosong, nanti saya kasih kabar lagi sesudah Jumatan. Saya jelas berbohong. Sejak pagi saya sudah berniat main ke Blok M untuk mencari buku Gempa Waktu karangan Kurt Vonnegut. Tapi karena urusan itu tidak penting-penting amat, saya memilih menemui kawan bloger yang jarang berjumpa ini. 

Begitu Jumatan kelar, cuaca yang tadinya sangat panas langsung berganti menjadi hujan deras. Saya mengabarkan Dian tentang kondisi di daerah saya. Jawaban Dian ternyata sama: di sini (Rawamangun) juga hujan. Sembari menunggu reda, saya mengontak Haw untuk ikut main. Saya juga menyuruh Dian supaya mengajak teman bloger lainnya.

“Ini niatnya mau main ke mana?” tanya saya. 

“Gue mau makan dulu. Laper. Gampanglah nanti main ke mana laginya.” 

Kami awalnya bingung mau makan di daerah mana. Saya tidak banyak tahu tempat makan di kawasan Rawamangun. Apalagi si Dian. Daripada terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, saya akhirnya menyuruh Dian ke daerah Binus, Jakarta Barat. Saya lumayan tahu tempat makan enak dan terjangkau di dekat rumah. 


“Udah di mana, Yan?” tanya saya. 

Dian menjawab pom bensin dekat Binus. Saya mulanya bertanya apakah itu yang di dekat Batusari, tapi mengingat Dian tidak tahu daerah sini, saya pun mengetik lagi dan menyuruhnya mengirim titik koordinat biar lebih gampang. Dian mengirimkan posisinya di daerah Slipi. 

Saya membatin, pom bensin dekat Binus? Matamu, Yan! 

Namun, daripada energi saya habis cuma untuk memberi tahunya, lebih baik saya segera menuju tempat Dian berada. Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai tujuan. Saya memperhatikan tiap-tiap wajah yang berada di SPBU, tetapi tidak ada satu pun yang berwujud Dian. Apakah kami berbeda pom bensin? Saya kembali bertanya kepada Dian, ada apa di dekat situ. 

“Gedung Citicon.” 

Lah, itu di mana? Seingat saya di dekat pom bensin sini tidak ada gedung-gedung. 

“Itu Pertamina atau Shell, sih?”

“Pertamina.” 

Saya langsung mengecek GPS buat memastikannya. Ternyata saya salah alamat. Saya bingung Dian sekarang berada di mana. Setahu saya, pom bensin di daerah Slipi itu cuma di sini dan di seberangnya. Tapi daripada saya terus bertanya-tanya, mendingan saya mengikuti petunjuk jalan di aplikasi. Saya diarahkan ke sebuah jalan yang entah mengapa justru semakin jauh karena mesti mengikuti jalan di pinggiran tol. Kala itulah saya melihat gedung yang Dian sebutkan tadi. Saya langsung menepi dan mengontak Dian, “Oke, gue tau. Gue puter balik dulu. Anjirlah, seberang gue tol.”

“Si anjir.” 

Saya bingung kenapa Dian bisa-bisanya mengisi bensin di SPBU pinggir tol. Kayak enggak ada tempat lain aja. Untuk putar balik ke tempat Dian, saya kudu menyusuri jalanan ini hingga bertemu pintu keluar tol (tempat memutar arahnya dekat dari situ). Saya melihat kondisi jalanan yang macet. Saya mau tak mau harus mencari jalan lain.

Setelah sekian lama, ini pertama kalinya saya melawan arah lagi di jalan raya demi si Dian Kunyuk agar dia tidak kelamaan menunggu. Saya berhasil menemuinya dalam waktu sembilan menit. Jika tadi saya tetap mengikuti petunjuk jalan, bisa-bisa akan mencapai 20 menit atau lebih. 

Saat kami bersua, hal yang pertama kali Dian ucapkan adalah, “HP gue jatoh, Yog.” 

“Serius lu?”

Dian merogoh kantong celana dan memperlihatkan ponselnya yang layarnya retak. Saya geleng-geleng kepala. Kelakuan manusia satu ini ada-ada saja. Meskipun begitu, entah mengapa ada rasa tidak enak di hati saya, seolah-olah hari itu saya habis berkata “Ah” kepada orang tua sebanyak tiga kali. 

“Tapi masih bisa, kan?” tanya saya. 

“Bisa, kok. Bisa.” 

Kami pun segera menjemput Haw di daerah Tanjung Duren. 


Saya menawarkan kepada Dian dan Haw apakah mau makan steak. Mereka pun manut saja. Sayangnya, begitu sampai di lokasi warung makan itu justru tutup. Di pintunya tertulis informasi: minggu depan baru akan kembali buka. Mungkin pemilik dan pegawainya masih pada mudik. Saya segera memutar otak dan mencari alternatif, yakni ayam bakar. Mereka lagi-lagi menyetujui ajakan saya. 


Saya mengajak Dian, Haw, dan Darma main ke rumah saya. Sesampainya di rumah saya, pintunya malah terkunci. Sepertinya ibu saya sedang pergi keluar. Saya jadi kepikiran akan lelucon yang sempat saya lempar saat berada di warung makan Ayam Bakar Kambal tadi. Saya bilang kepada mereka, bahwa nanti ibu saya akan kaget mendapati seorang Yoga memiliki teman sebanyak ini hingga berujar, “Ya, Allah, ada juga yang mau berteman sama anak saya. Ibu kira temannya Yoga cuma laptop dan buku-buku.”

Kala mendengar kelakar itu, Haw dan Dian tertawa, sedangkan Darma tidak. Kau mungkin berpikir gurauan semacam itu tidak lucu buat seorang Darma atau ada masalah gawat di otaknya, tetapi sungguh bukan itu. Saya pikir Darma hanya kelaparan bercampur cemas, mengapa makanan yang dia pesan lama sekali tersajinya.

Omong-omong, mungkin kau penasaran bagaimana Darma tiba-tiba bisa bergabung bersama kami. Saya tadi sengaja melompati alurnya demi menghindari alur yang monoton. Baiklah, sekarang akan saya ceritakan dari awal. 

Saat saya menunggu kabar dari Dian yang katanya sudah dalam perjalanan ke Binus, saya sedang kontakan bersama Haw. Dalam obrolan itu, si Haw sempat bertanya kepada saya, apakah si Darma ikut? Itulah yang bikin saya mengirimkan Darma pesan, “Dar, si Dian udah ngabarin lu ngajak main?”

Darma bilang tidak ada ajakan dari siapa-siapa, bahkan tidak tahu nomor Dian. Maka, sayalah yang akhirnya mengajak Darma. Karena Darma bilang kebetulan sedang main ke Blok M Square dan tidak ada kesibukan lagi, dia pun menerima ajakan saya. 

“Lu sendirian apa gimana?” tanya saya. 

Jawaban Darma sangatlah mengejutkan: Iya, sendirian. Dengan hati yang hampa. 

Saya jadi tak habis pikir, Darma selama di Turki sebetulnya belajar apaan, sih? Belajar filsafat dan Zen, kah? Sampai-sampai dia salah langkah, lalu terjebak di dalam kekosongan? Singkat cerita, Darma bilang mau cari makan dulu. Nanti ketika sudah sampai di Palmerah dia akan memberi kabar. 

Namun, kenapa kabar dari Darma datang ketika saya baru saja duduk di warung makan bersama Dian dan Haw? Mau tak mau saya jadi menunda menggasak ayam bakar itu dan langsung menjemput Darma di Halte Palmerah.

Darma tidak jauh berbeda dengan perawakannya tiga tahun lalu. Masih tetap kurus. Sesuatu yang tampak berbeda dari dirinya hanyalah bentuk kumisnya. Kini bulu-bulu itu jadi bertambah lebat. Memberikan kesan sangar. Tapi Darma tetaplah seorang Darma. Buktinya, hal yang pertama kali dia ucapkan saat bertemu saya ialah kalimat “mohon maaf lahir dan batin”. 

Setelah penantian panjang, akhirnya paket ayam bakar pesanan Darma tiba di meja. Aromanya sungguh menggandakan rasa laparmu. Tapi rasa senang Darma tidak berlangsung lama, sebab kali ini gantian minumnya, es teh manis, yang tak kunjung sampai. Seraya menunggu minuman itu datang, Darma memuji rasa ayam bakarnya yang mantap. Bumbunya meresap hingga ke dalam. Sangat berbeda dengan ayam bakar yang dia santap di Turki: hambar. Sehambar kisah cintanya mungkin?

Haw meminta Darma bercerita tentang kegiatannya selama di Turki. Darma mengisahkan soal tempat bernaungnya selama di Turki yang tidak jauh berbeda dengan asrama di Rawamangun—tempat tinggalnya selama kuliah dulu. Sistem belajarnya juga mirip pesantren. Dengan kata lain, Darma selama ini mondok di luar negeri. 

Begitu perut kami sudah terisi penuh, saya mengajak mereka main ke rumah saya. Dan begitulah cerita bergulir sampai rumah saya terkunci karena penghuni lainnya sedang pergi entah ke mana.

Syukurlah saya tadi berinisiatif membawa kunci kamar saya—yang letaknya di depan rumah, sehingga sering dianggap rumah tetangga. Saya membuka kunci dan menyuruh mereka masuk ke kamar.

“Enak banget kalo habis pergi-pergi bisa langsung masuk ke kamar, Yog,” kata Haw. 

“Wah, bisa ini mah,” kata Dian. 

Saya sebetulnya mengerti maksud kata bisa yang Dian lontarkan, tapi saya pura-pura tidak paham dan memilih bertanya, “Bisa apaan?” 

“Bisa bawa ceweklah.” 

“Oh, bisa,” kata saya. “Bisa dibunuh gue sama Nyokap.” 

Mereka tertawa. 

Saya jelas tidak sebejat itu. Saya tak pernah punya niat menyelundupkan perempuan ke kamar untuk hal yang bukan-bukan. 

Saya pergi ke ruang tengah untuk mengambil beberapa camilan dan botol minuman. Mereka mulai mencicipinya satu per satu. Lalu Haw mengomentari tulisan rengginang yang tertera di sebuah kaleng wafer. Saya menceritakan makanan itu yang paling cepat habis, padahal puasa baru masuk minggu ketiga. Hidangan yang niatnya buat Lebaran itu justru jadi santapan Ramadan. 



“Tapi aturan enggak usah ditulis begini, Yog,” ujar Dian. “Kalo gini, kan, jadi enggak ada kejutannya lagi.” 

“Itu kerjaan bokap gue,” kata saya. 

Haw mengeluarkan ponsel dan memotretnya. 



Darma memberikan kami oleh-oleh berupa penganan yang ketika dikunyah mirip Yupi. Selain itu, Darma juga membawakan kami gantungan kunci. Ada yang berbentuk masjid, tulisan Turkey, tulisan Istanbul, dan kunci. Darma menyuruh kami mengambil masing-masing satu. Lalu kami bertiga sepakat memilih yang bentuknya kunci. Mungkin diam-diam kami berharap itu adalah kunci surga. 




Selagi mulut kami sibuk mengunyah, kami juga membicarakan teman-teman blog yang vakum. Kami pun memikirkan gimana caranya agar mereka kembali menulis (padahal kami sendiri sama malasnya). Lama-lama obrolan mulai berkelok ke arah gibah—yang tak perlu dikisahkan di sini—tanpa kami sadari. 

Waktu pun semakin bergeser sampai langit menangis sebagaimana siang tadi. Saya mengajak mereka pindah ke ruang tengah karena atap kamar saya bocor. 

Di depan kami lanjut mengobrol. Saking asyiknya berbincang, kami jadi lupa menunaikan salat Asar. Kami pun salat Asar dengan waktu yang mepet, lalu melanjutkan Magrib, dan setelahnya memutuskan pindah ke tempat lain.

Dian mengabarkan Reza, mahasiswa Binus merangkap anak blog yang ngekos di dekat kampus tersebut. Ketika Dian mendapatkan respons positif, dia langsung menelepon Reza, dan memberikan ponselnya kepada saya. Saya bertanya kepada Reza tempat mana yang asyik buat nongkrong serta harganya murah. Reza hanya berdeham, belum juga meluncurkan jawaban. 

Itu mah termasuk mahal, jawab Reza ketika saya menyebutkan sebuah nama kafe. 

“Terus di mana dong?”

“Gue sejujurnya jarang nongkrong sih, Bang,” kata Reza. “Lebih suka di kosan.” 

Saya paham hidup anak kos yang mesti hemat, tapi masa iya tak tahu satu pun tempat yang murah meriah di dekat kampus? Biasanya kan mereka bakal mencoba tempat-tempat semacam itu kala uang kiriman dari orang tua baru tiba. Tapi ketimbang menyalahkan orang lain, bukankah saya lebih baik menengok diri sendiri yang sebetulnya sama parahnya? Sudah dua puluhan tahun hidup di Jakarta Barat, kok masih miskin referensi tempat nongkrong di sekitar sini. Maklum, selama ini saya lebih senang main ke warkop. Es teh manisnya cuma 3.000. Beda dengan kafe-kafe yang harganya pasti lebih dari goceng. 

“KFC aja apa?” tanya saya. Hanya tempat itu yang muncul di benak saya. 

“Oh, ya udah itu aja. Yang di mana nih?”

Saya menjawab di Binus supaya dekat dari tempat Reza dan dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya untuk naik angkot atau ojek daring. 

Meskipun ujung-ujungnya KFC lagi (kami sudah keseringan kopdar di sini), setidaknya saya tahu bahwa kualitas suatu pertemuan tidak dinilai dari tempatnya. Melainkan siapa orangnya dan topik obrolannya. 



Sayangnya, obrolan kami para bloger busuk ini paling-paling tidak jauh dari dunia blog dan tulis-menulis. Darma sempat bilang ingin balik menulis lagi, tapi bingung apa yang hendak diceritakan dan lupa cara menulis. Saya, Dian, dan Haw membicarakan tentang rasa malas mengikuti event bloger, baik itu berbayar maupun tidak.

“Gue lagi cari-cari info lomba blog nih,” kata saya. “Belum ada yang hadiahnya menarik lagi apa, ya?” 

“Gue malah udah males banget sama lomba-lomba gitu, Bang,” ujar Reza. 

“Lu bukannya pernah menang lomba, Za?” tanya Haw. 

“Iya, itu juga ikutnya males-malesan karena disuruh temen.” 

“Anjing, males aja bisa dapet laptop,” kata saya. “Laptop belasan juta lagi.” 

Saya lantas mengisahkan pengalaman lomba yang gagal terus. Sebesar-besarnya hadiah mentok di angka 500 ribu. Ketika sudah girang bukan main karena terpilih sebagai 100 finalis Lomba Blog Bank Indonesia dengan tema Cinta Rupiah, saya tentu berharap bakal meraih juara pertama sebab saat menuliskannya penuh antusias. Namun, itu hanyalah khayalan tolol saya. Nama saya tidak tercantum di antara tiga besar itu.

“Terus terakhir kali ikut lomba akhir tahun lalu, gue juga udah yakin banget menang,” kata saya. “Eh, nyatanya tetep kalah. Sialan, enggak jadi dah dapet duit 10 juta.” 

“Yang penting kan sekarang udah dapet HP,” kata Haw. 

Saya tertawa. Alhamdulillah, belum lama ini saya mendapatkan bayaran menulis berupa ponsel seharga dua jutaan. Keinginan saya sejak lama buat mengganti ponsel iPhone 4 yang sudah usang itu rupanya malah terkabul secara gratis. Saya akhirnya berpendapat bahwa rezeki saya dari menulis memang baru datangnya sekarang. Atau mungkin saya diam-diam telah mengamini sebuah mitos, bahwa saat serius banget mengikuti perlombaan biasanya akan berujung kecewa, sedangkan ketika iseng-iseng bakalan memperoleh hadiahnya. Simpelnya: saya tidak perlu memasang ekspektasi terlalu tinggi. Ikutan semampunya, lalu lupakan atau tak perlu dipikirkan lagi. Nanti kalau menang syukur, kalah biasa saja.

Tak lama, obrolan pun mendadak berenang ke topik pernahkah kita dekat atau bahkan mendapatkan pacar dari blog. Darma dengan gadis Pekanbaru-nya. Haw hanya diam, entah tidak ada atau ingin memendam kisahnya. Saya sedikit menyenggol kisah Dian bersama perempuan berjilbab, tapi dia langsung mengalihkannya ke cerita saya yang teramat banyak mendekati anak-anak di grup bloger ketika masih sok-sok bajingan empat tahunan silam. Saya juga sempat LDR-an sama seorang bloger. Saya bilang, semenjak itu saya kapok dekat sama bloger lagi. Saya malas kalau kisahnya diketahui oleh khalayak. Apalagi sampai jadi bahan ledekan.

“Sekarang mah udah sama Tania kan, Yog?” tanya Dian. 

“Kenapa kalian mikir gue jadian sama dia, sih?” kata saya. 

“Enggak, aku enggak mikir gitu, Yog. Aku mah taunya kalian cuma lagi deket,” ujar Haw. “Tapi kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” 

Saya terkejut ditanya seperti itu. Jika ingatan saya tidak berkhianat, saya belum pernah kepikiran ke arah sana. Saya lantas menceritakan hubungan saya dengan Tania yang sebatas teman dekat. Tidak ada yang spesial. Meskipun saya mesti mengakui bahwa dia memang manis. Di tengah perasaan aneh yang tak terduga lantaran pertanyaan tersebut, Reza bertanya, “Kok gue belum pernah kayak gitu, ya?”

Reza lalu menceritakan dirinya belum pernah sama sekali mendapatkan gebetan dari blog. 

“Belum waktunya kali, Za,” kata saya. “Itu gue juga dulu doang. Zaman umur masih dua puluh.”

“Lah, sekarang gue udah 21.”

“Enggak usah cari anak bloger. Binus banyak yang cantik kok, Za,” ujar saya. 

Mereka tertawa. 

Alur percintaan setiap orang tentu berbeda-beda. Hanya karena kamu seorang bloger, bukan berarti pengin punya pacar yang bloger juga. Saya rasa mencari kekasih yang satu lingkaran itu hanya mempersempit peluang.

“Eh, nanti jam sembilan gue balik, ya,” kata Darma. “Takut enggak kebagian TJ (TransJakarta). 

“Wah, iya. Gue juga harus balik,” kata Dian. 

Saya bertanya kepada Dian apakah dia besok bekerja, dia menjawab iya dengan malu-malu. Sial, saya kira besok Sabtu pada libur. 

Pukul sembilan malam saya pun mengantarkan mereka pulang satu per satu. Saya bonceng tiga bersama Haw dan Reza, sedangkan Dian bersama Darma. Saya menurunkan Reza di dekat indekosnya. Kami berempat kemudian menuju Halte Palmerah untuk mengantar Darma. 

Sesampainya di sana, Darma takut kalau busnya sudah tidak lewat lagi. Saya pun menyarankan Darma naik kereta kalau tujuannya Jurangmangu, sebab komuter masih tersedia sampai pukul 11. Kebetulan juga haltenya sangat berdekatan dengan stasiun. 

Setelah Darma berjalan menuju Stasiun Palmerah, saya bertanya kepada Dian, “Enaknya gimana nih, Yan? Lu mau langsung cabut atau ikut nganterin Haw?” 

Dian memberikan jawaban dengan mengekor motor saya sampai indekos Haw.


Tak tega mengingat semua penderitaan Dian hari ini, saya pun berhenti. Dian menyetop motornya di sebelah saya, lalu berkata, “Udah, Yog, enggak apa-apa. Gue mending lihat maps aja.” 

Mungkin Dian tahu saya terkenal sering nyasar, terus ingin mencari jalan sendiri mengandalkan aplikasi sialan yang terkadang juga bikin tersesat itu. Tapi saya tetap mesti bertanggung jawab akan kesalahan saya.

“Arah lu Pancoran, kan?” ujar saya. “Gue beneran tau. Lu tinggal ikutin gue. Gue juga sekalian balik.”

“Ini di maps malah makin jauh.” 

Saya pun meminta maaf. Saya lalu menjelaskan persoalan jalan pulang ini. Seharusnya tadi sehabis mengantar Darma, Dian langsung saya antarkan ke jalan yang mengarahkan dia pulang. Itu sudah dekat dari Stasiun Palmerah. Tapi akibat keteledoran saya yang tahunya Dian balik ke arah Senen, jadinya malah membuang-buang waktu dan segalanya menjadi fatal. 

“Coba cek di peta, lu pasti nanti ngelewatin Semanggi.” 

Dian memperhatikan ponselnya. 

“O iya, Yog, bener.” 

“Nah, ya udah. Ayo jalan lagi.” 

Tak sampai tujuh menit, saya sudah mengantarkan Dian ke jalan yang saya maksud. Saya menyuruh Dian mendekat dengan gestur tangan. Dian menghampiri motor saya. Tangan saya lalu menunjuk ke sebuah jalan, bermaksud memberitahunya supaya naik ke arah fly over dan bilang setelahnya tinggal lurus terus. Untuk terakhir kalinya, saya meminta maaf lagi.

“Iya, enggak apa-apa. Thank you, Yog.” 

Saya mengucapkan hati-hati, lalu kami berpisah.

Sepuluh menit kemudian saya sudah rebahan di kasur. Saya mengontak Darma dan Haw, mengatakan terima kasih buat hari ini sembari menceritakan problem bersama Dian tadi.

Darma dan Haw membalas, “Semoga selamat tuh anak. Aamiin.” 

Saya mengamininya dalam hati. Saya mulanya berniat ingin langsung tidur karena hari sebelumnya cuma tidur dua jam, tapi entah mengapa muncul rasa bersalah di dalam diri ini. Saya seakan-akan perlu bertanggung jawab akan keselamatan Dian. Saya mau tak mau kudu menunggu satu jam. Estimasi waktu Dian bisa sampai ke indekosnya. Sembari menunggu waktu bergerak, saya terkenang pertanyaan Haw di KFC tadi. 

Kenapa kalian enggak jadian aja, sih? 

Setahu saya, untuk jadian harus sama-sama memiliki rasa, bukan? Saya enggak tahu apakah Tania punya perasaaan terhadap saya. Mengingat kami pernah intens berkomunikasi, kami pernah bertemu beberapa kali, berdiskusi soal film Thailand, saling bertukar kisah, saya pernah memberikannya hadiah remeh beberapa kali, mungkin saja Tania sempat terbawa perasaan. Lantas, bagaimana dengan saya sendiri? Saya jelas tertarik melihat fisiknya. Dia manis seperti yang sudah saya singgung di bagian cerita KFC. Mungkin juga saya sempat naksir kepadanya karena kami cukup nyambung saat mengobrol. Anehnya, saya tak pernah berharap maupun kepikiran untuk pacaran sama dia. Tapi terlepas dari hal itu, apakah perasaan saya pernah lebih jauh dari itu?

Waktu satu jam telah berlalu. Saya mengambil ponsel yang tergeletak di meja laptop, membuka WhatsApp, memilih kontak Dian Hendrianto, dan mengetik, “Udah sampe, Yan?” 

“Udah, Yog. Baru sampe.” 

Baiklah, tugas saya buat memastikan semuanya pulang dengan selamat sudah selesai. Tinggal satu tugas lagi, menjawab pertanyaan Haw. Mau bagaimana lagi, saya sudah kadung memikirkannya sejak tadi. Sebelum memejamkan mata, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya pernah menyayangi Tania?”

Semakin saya memikirkannya, saya justru semakin mengantuk dan jatuh tertidur. Entah itu efek tubuh saya yang memang sudah terlalu letih atau hati saya lagi capek sama urusan cinta-cintaan.
Read More
Saya mendusin karena ingin buang air kecil. Saat menengok ke arah jam dinding, awalnya saya mengira sudah ganti hari, ternyata masih pukul 23.20. Begitu saya keluar dari toilet dan ingin kembali ke kamar, saya mendengar suara berisik dari kamar Dio Kurniawan, anak pertama saya. Saya pun penasaran, lalu mengetuk pintu kamarnya. “Dio belum tidur?” 

“Belum, Yah, kan besok libur.” 

Besok bukannya masih hari Rabu? Ah, saya baru ingat. Siang tadi saya habis menemui Pak Bambang, guru BP (Bimbingan Penyuluhan) di sekolah Dio. Anak itu bikin ulah lagi, sehingga pihak sekolah harus menskorsnya. 


Ini ketiga kalinya saya mendapat panggilan dari guru BP atas kelakukan Dio di sekolah. Pertama, dia belakangan ini sering pergi ke kantin saat jam pelajaran berlangsung; kedua, dia ketahuan merokok di toilet guru; kali ini, dia menulis kalimat “Apa gunanya sekolah jika tidak bisa menjamin masa depanmu?” di papan tulis kelasnya. 

Selama di ruang BP, Dio terlihat risih mendengarkan khotbah Pak Bambang. Saya sebetulnya juga sama malasnya, bahkan saya ingin berkata, “Banyak bacot kau, Anjing!” Namun, kenyataan adalah sesuatu yang mencegah saya melakukan perbuatan itu. Bisa-bisa saya ikut kena damprat, lalu Pak Bambang akan membuat konklusi: Tabiat bapak dan anak sama busuknya.

“Saya tahu Dio sebenarnya anak yang cerdas,” ujar Pak Bambang. 

Saya melirik Dio. Dia tampak biasa saja mendengar pernyataan itu. 

“Saya perhatikan Dio itu dari kelas satu anaknya kalem dan sopan. Tapi kenapa belakangan ini dia mendadak badung, Pak? Saya benar-benar tak menyangka.” 

Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, Dio tiba-tiba bilang, “Saya boleh izin ke toilet, Pak? Kebelet banget.” 

Pak Bambang mempersilakannya. 

Begitu Dio keluar ruangan, saya bercerita soal kematian ibunya Dio alias istri saya sekitar dua bulan lalu. Mungkin Pak Bambang lupa atau tidak mengetahui informasi itu. Saya menjelaskan barangkali itu yang menjadi penyebab, mengapa Dio melakukan hal-hal yang tidak biasanya. Dio nakal karena ingin mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. 

Pak Bambang mengucapkan maaf dan belasungkawa kepada saya. 

“Saya berharap Pak Bambang bisa memaklumi kondisi hati Dio yang sedang tidak stabil.” 

Sudah sepuluh menit berselang, Dio tidak kembali lagi ke ruangan. 

Pak Bambang meneruskan khotbahnya. Katanya, meskipun demikian, bukan berarti Dio bebas berbuat seenaknya. Saya harus lebih memperhatikan Dio. Memberikan kasih sayang berlebih untuk menggantikan cinta yang berkurang dari sosok ibunya—yang telah tiada. 

Dibandingkan dengan ceramahnya, sejujurnya saya lebih terganggu dengan penampilan Pak Bambang. Saya selalu berusaha menahan tawa setiap kali melihat model rambutnya yang belah tengah itu. Apalagi mengingat usianya yang kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada saya (usia saya 43), dia jelas tidak cocok tampil tanpa kumis. Saya penasaran, apakah dia berpikir kalau mencukur kumis itu dapat membuat dirinya tampak lebih muda? Tampak tolol sepertinya lebih tepat. 

Pak Bambang akhirnya menutup perbincangan hari itu dengan bilang begini, “Sebentar lagi kan mau UN, Pak. Lulus tinggal hitungan bulan, terus persiapan masuk SMA. Tolong nanti di rumah anaknya benar-benar dikasih tahu dan dinasihati, ya. Kalau Dio terus-terusan seperti itu, kami bisa mengambil tindakan untuk mengeluarkan anak Bapak dari sekolah. Untuk langkah awal dan menegaskan perkataan saya ini tidak main-main, saya akan menskors Dio selama tiga hari. Semoga keputusan itu tepat dan dapat mengubah perilaku Dio.” 

Saya mengiyakan ucapan guru BP itu dan meminta maaf lagi atas perbuatan Dio, lalu pulang. 

sumber: https://pixabay.com/photos/silhouette-father-and-son-sundown-1082129/
Read More
Mencari menu sarapan pada minggu pertama Lebaran sama susahnya seperti menggemukkan badan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan oleh Yogi Pratama. Selama dua puluh lima tahun hidup di dunia, tak pernah sekali pun ia masuk ke dalam kategori tubuh ideal. Berat badannya belum pernah menyentuh angka 50 kg. Empat puluh delapan adalah hasil tertinggi yang pernah ia raih. Itu pun Yogi masih kurang 10 kg lagi untuk terlepas dari penilaian kurus—berdasarkan rumus menghitung berat badan ideal yang pernah ia baca di sebuah artikel. 

Membuka kisah dengan membahas berat badan mungkin membuat sebagian orang sensitif. Apalagi kalau bagian itu tidak ada hubungannya dengan alur cerita. Tapi, memang hanya hal itu yang selalu terlintas saat aku memikirkan makanan. Ketika paragraf ini kuketik, barulah aku menemukan perbandingan yang lebih cocok. Seharusnya aku tadi membandingkan kesulitannya itu dengan memilih kalimat pembuka. Pendapatku cukup benar, bukan? Seandainya menuliskan kalimat pembuka yang memikat itu mudah, aku pasti tak perlu bertele-tele begini. 

Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya aku sudahi omong kosong barusan dan segera melanjutkan cerpen busuk ini. 



Pada hari ketiga setelah Lebaran, Yogi mulai bosan menyantap ketupat dan opor ayam, rendang, bakso, serta mi instan. Ia ingin menu lainnya. Sialnya, semua penjual makanan di dekat rumahnya masih pada mudik. Kini, ia jadi repot dan kebingungan harus mencari sarapan ke mana. 

Yogi sudah berjalan kaki lima belas menit dari rumahnya ke arah Pasar Palmerah, tapi belum juga menemukan seorang pedagang makanan yang menggugah selera. Ia sebetulnya tadi sempat berpapasan dengan tukang bubur ayam. Sayangnya, ia berpikiran itu makanan buat orang sakit. Lagi pula bubur juga tidak bikin kenyang, pikirnya, nanti dua jam kemudian bakal lapar lagi. Yogi melihat tukang kembang tahu dan soto mi di seberang jalan, tetapi ia tak menyukainya. Ia memang terlalu pemilih dalam urusan makanan. Sambil terus melangkahkan kaki, ia bertanya sekaligus mengeluh, kenapa tak ada satu pun penjual nasi uduk? 
Read More
“Sebelum cahaya berubah bencana, ia hanya api kecil di sudut ruang keluarga.” –Melancholic Bitch, Cahaya, Harga 

--

Puasa tinggal dua hari lagi. Kebanyakan orang sudah malas sahur, termasuk keluarga Pak Agus. Meskipun demikian, bukan berarti mereka tak mau menyantap makanan sama sekali. Mereka tetap ingin mengisi perut sekalipun buat beranjak dari kasur saja ogah-ogahan. Sayangnya, pikiran dan ucapan buruk bisa menjadi doa yang terkabulkan. Seperti yang terjadi hari ini, misalnya. 


Kakak baru benar-benar bangun dari tidur pada pukul empat pagi, padahal sekitar 15 menit sebelumnya Ibu telah meneriaki para anggota keluarga dari dapur. Dengan mata masih sepet, Kakak mengambil piring, membuka pengukus nasi, dan bermaksud menciduk nasi ke piring. Matanya langsung melotot ketika nasi yang dia lihat masih berwujud beras dan air. Kakak menggeser pandangannya ke lampu alat penanak nasi yang tidak menyala. 

“Lah, ini tempat nasi dari tadi enggak dicolok?” kata Kakak setengah berteriak. 

Ibu menyahut dari dapur, “Kok bisa? Tadi yang masak si Adik.” 

Sembari menggoreng tempe, Ibu memarahi Adik habis-habisan. Ibu lalu menjelaskan hal-hal yang telah mereka ketahui tentang menanak nasi: sebelum ditinggal pergi tuh lampunya diperhatikan lagi, sudah menyala atau belum; tombol juga jangan lupa dipencet. 

Adik berteriak dari kamarnya, “Tadi lampunya udah nyala, kok. Sebelumnya emang susah, enggak mau nyala. Aku coba utak-atik, eh bisa. Ya udah, aku tinggal ke kamar.” 

Kakak memperhatikan colokan yang menancap ke stopkontak. Kabelnya menyambung. Dia akhirnya sadar, jika kabel yang berada di pengukus nasilah yang bermasalah. Kabel itu hanya menempel, tapi tidak benar-benar tercolok. 

“Mungkin kabelnya udah kendor, terus ada yang nyenggol kali,” ujar Adik. Dia tak mau disalahkan begitu saja. 

Pertanyaannya, siapa yang menyenggol? 

Bapak masih tidur dan baru terbangun ketika mendengar keributan yang terjadi. Kakak berada di ruang tengah belum lama ini. Lalu, apakah pelakunya Ibu? Mengingat Ibu yang dari tadi sibuk di dapur, kayaknya bukan juga. 

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/korean-cuisine-food-shrimp-1991580/

Ibu membawa masakan yang sudah matang ke meja makan di ruang tengah satu per satu. Terong balado, tempe goreng, dan udang goreng tepung. Aromanya sangat mengusik hidung Kakak dan Bapak.
Read More
Setiap kali menulis, membaca, dan mendengar kata “musik”, pikiran Hendri tidak pernah sama lagi. Ia kini selalu teringat akan sosok perempuan berambut poni kucir kuda plus berkacamata dengan pakaian khas wanita karier yang berjoget diiringi lagu latar “jadi pengin-jadi pengin” dalam sebuah video iklan rokok versi gagal tayang.



Hendri mendapatkan informasi tentang video itu dari Agus—kawan dekat di kantornya—empat hari yang lalu. Semua bermula ketika Hendri tampak cemberut dan tidak beranjak dari kubikel, padahal sudah jam istirahat. Melihat ada yang tidak beres di raut muka temannya itu, Agus pun berinisiatif untuk menghampiri sekaligus menghiburnya. Cara pertama: menawarkan diri buat mentraktir makan siang. Cara kedua: siap mendengarkan permasalahan Hendri.

Seusai menyantap ayam geprek, Hendri bercerita selama 15 menit, diselingi beberapa pertanyaan oleh Agus, dan akhirnya obrolan itu melahirkan kesimpulan bahwa Hendri sedang bernasib sangat sial dan membutuhkan uang buat akhir bulan nanti. 

Read More
Surat elektronik berikut ini adalah kiriman dari Budi Setyadi, sebuah pesan tembusan dari Dimas Junaidi. Meskipun mereka berdua teman saya, tapi saya betul-betul heran akan kelakuannya, sebab baru kali ini kami berkomunikasi via surel. Gila, habis kesambet apa mereka jadi mendadak formal begitu? Biasanya mah kalau ada apa-apa langsung WhatsApp. Yang bikin saya tambah bingung, kenapa Dimas enggak langsung mengirimkannya kepada kami berdua? Sampai-sampai Budi harus meneruskannya ke saya? 

Sehabis saya buka surat itu, barulah saya mengerti apa alasan Budi mengirimkannya. Di kalimat pembuka nama saya langsung disebut oleh Dimas, sehingga saya memutuskan untuk membacanya sampai tuntas. Kampret, ternyata si Dimas sempat-sempatnya mengejek kami, saya dan Budi, lewat tutorial sialan semacam itu. 


-- 

Halo, Budi. 

Kemarin aku habis ketemu dan ngobrol bareng Yoga Akbar sepulang salat Tarawih. Di sela-sela perbincangan kami soal puasa, pekerjaan, buku, musik, film, dan lain-lain, dia sempat menyenggol permasalahanmu. Kata Yoga, kau sedang mengalami insomnia dalam dua bulan terakhir. Benarkah itu, Bud? 

Seandainya betul, aku tak habis pikir denganmu. Kenapa kau repot-repot cerita persoalanmu ke makhluk nokturnal sepertinya, padahal kita sama-sama tahu bahwa pola tidur dia selalu kacau. Sekalipun Yoga bisa menjadi pendengar yang baik, dia tak akan bisa memberikanmu solusi. Aku yakin kau bercerita tentang itu karena butuh pertolongan. Kau ingin memperbaiki hidupmu yang bagai kalong itu, kan? Kau seharusnya bertanya kepadaku. Apa kau tidak yakin dengan kemampuanku mengatasi masalah? Jangankan cuma memberikanmu kiat-kiat supaya cepat tidur pulas, Bud, kubikin kau tak bangun-bangun lagi pun aku sanggup. 

Daripada terlalu lama basa-basi dan ucapanku semakin menyimpang, mending aku langsung menyodorkanmu taktik keren versiku biar kau cepat tidur nyenyak. 

sumber: https://unsplash.com/photos/uy5t-CJuIK4

Read More
Saya menyebutkan film garapan David Fincher: Se7en (1995), The Game (1997), Fight Club (1999); film adaptasi novel Stephen King: Carrie (1976), Misery (1991), The Shawshank Redemption (1994); film animasi: The Land Before Time (1988), Toy Story 1 & 2 (1995 & 1999); dan serial God of Gamblers alias dewa judi. 

“Apa lagi? Masa itu doang, Yog?” ujar Dimas. 



Seandainya permintaan kawan saya buat memberikan daftar tontonan ini tidak tergantung tahun rilisnya—yang sebelum tahun 2000, mungkin saya bisa lebih lancar dan tak perlu berpikir keras begini. Pertama, entah kenapa saya rada sulit menghafal nama, kecuali sesuatu itu emang berkesan sekali bagi saya; kedua, saya juga sering masa bodoh sama tahun rilisnya suatu film. 

Untuk melontarkan judul The Silence of the Lambs (1991), misalnya, saya perlu bertanya terlebih dahulu kepada Dimas, “Yang Hannibal Lecter itu judulnya apaan dah?” Sekalipun film yang saya tonton saat SD ini alur ceritanya masih cukup menempel sampai sekarang, tapi saya jelas lebih mengingat nama tokohnya daripada judul film tersebut.

Lantaran nama tokoh itu, barulah muncul ingatan tentang Rocky (1976), satu-satunya film tentang tinju yang saya tonton, dan Annie Hall (1977), satu-satunya film Woody Allen yang sanggup saya habiskan karena gagal menyelesaikan Manhattan maupun Love and Death dan belum tertarik meneruskannya. 

“Udah?” tanya Dimas. 

Man on the Moon (1999), film komedi yang justru bikin saya sedih, ialah judul terakhir yang bisa saya coba ingat. 

Dimas lantas mempertanyakan, kenapa dari semua itu enggak ada satu pun film Quentin Tarantino. Katanya, sebagai orang yang suka menulis, saya semestinya mencicipi teknik bercerita Tarantino. 

“Emang filmnya kenapa, sih?” tanya saya. 

“Dia tuh jago ngacak-ngacak alur cerita. Coba aja tonton Pulp Fiction.” 

Selain merekomendasikan film Tarantino itu, Dimas sempat salut saat mengomentari saya yang ternyata menonton film adaptasi karya Stephen King. Sayangnya, dia bingung kenapa saya malah belum menonton The Green Mile, padahal menurutnya itu bagus banget. Sayang buat dilewatkan. Saya waktu itu cuma iya-iya aja dan berjanji akan menonton. 

Kini sudah enam bulan berlalu sejak obrolan bersama Dimas. Saya telah berusaha menepati janji, walaupun baru mengikuti sarannya untuk menonton Pulp Fiction menjelang tahun baru 2019. Demi menebus perasaan bersalah yang sebetulnya tidak perlu ini, saya malah berniat bikin daftar tontonan ciamik sebelum tahun 2000 yang saya saksikan enam bulan terakhir ini. 


Pulp Fiction (1994) 

Tiga puluh menit pertama saya menonton film ini, rasanya pengin mengumpat dan berpendapat bahwa filmnya enggak jelas. Menjelang akhir film, tepatnya ketika semua alur cerita bertemu pada satu titik, saya langsung menarik semua kalimat sebelumnya. Anjing (oh, saya tetap mengumpat), ternyata filmnya lucu dan keren banget.

Karakter-karakter di film ini dibuat keluar dari pakem. Bagaimana mungkin seorang penjahat selalu membacakan salah satu potongan ayat Injil sebelum membunuh korbannya. Bos mafia yang seharusnya disegani oleh anak buah dan musuhnya, justru diperlakukan konyol dalam suatu adegan. Gambaran-gambaran tentang mafia yang selama ini kejam seakan-akan langsung runtuh di benak saya. Mengingat bagian yang satu itu pun selalu berhasil bikin saya ngakak. 

Terus, ada adegan yang saya duga akan berakhir di ranjang, tapi nyatanya malah disajikan dengan lebih kacau. Perkiraan-perkiraan saya mengenai adegan selanjutnya kayaknya selalu dipatahkan oleh Tarantino. Mau tak mau, saya pun sepakat sama Dimas soal alur acak yang bisa dipelajari ini. Boleh-boleh aja kok mengerjai penonton selama penggarapannya oke. Membuat cerita juga tidak melulu harus lempeng. Jadi, cobalah bermain-main sama plot.

Saya mau melantur sedikit. Sejujurnya, Pulp Fiction bukanlah film Tarantino yang pertama saya nikmati. Saya mencoba bersikap nakal dengan melanggar aturan Dimas, yakni memilih Kill Bill Vol. 1 & 2 terlebih dahulu—yang rilisnya setelah tahun 2000. Ingatan saya ketika menonton volume pertama mendadak tergali kembali sebab cerita ini terasa tidak asing. Jauh sebelum saya mengerti film, konsep penceritaan, sutradara, dan tetek bengek lainnya; saat SD saya telah berkenalan dengan film Tarantino. Ini berarti film Kill Bill jalan ceritanya lumayan membekas di kepala seorang bocah polos, atau dengan kata lain: kebagusan karyanya tidak luntur. Begitu pula Pulp Fiction yang sudah berusia dua puluhan ini. Keasyikannya tetap tidak termakan usia.


The Green Mile (1999) 

Ada beberapa film dengan latar penjara yang pernah saya tonton, tapi baru Miracle in Cell No. 7 (2013) saja yang berhasil membuat air mata saya menetes. Setelah menyaksikan The Green Mile, rupanya gerimis itu turun juga. Sialan. Mereka sama-sama menyuguhkan keajaiban. Kalau tahu filmnya akan semenakjubkan ini, semestinya saya tidak usah menunda-nunda sejak membaca tulisan Rido Arbain, rekomendasi film dengan latar penjara, pada dua tahun silam. 

Namun sebagaimana perkataan orang-orang: “Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali”, saya sangat bersyukur memiliki kesempatan menonton filmnya. Seandainya saya adalah seorang terpidana mati seperti di The Green Mile, permintaan terakhir saya pastilah menonton ulang film ini. Durasinya yang tiga jam ini pun sama sekali tidak membosankan. Adegan demi adegan tersusun dengan amat ciamik.

Mengingat ini hasil adaptasi karya Stephen King, rasanya saya langsung minder buat baca novel-novelnya. Bukan apa-apa, takutnya saya bakal frustrasi karena kemampuan menulis selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Sang Raja. 


SLC Punk (1998) 

Agia Aprilian—ce’es asal Rancaekek, Bandung—secara enggak langsung pernah merekomendasikan saya film ini. Kala itu, dia ngetwit soal film SLC Punk yang selalu dijagokannya setiap kali ada yang minta referensi, tapi kebanyakan orang pada enggak mau nonton karena keterbatasan subtitle bahasa Indonesia. 

Berhubung sedang luang, saya penasaran (sebagus apa, sih?) dan pengin menjajalnya—sekaligus mengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Rupanya saya sanggup mengikuti jalan ceritanya. Ini berarti bahasa Inggris saya enggak buruk-buruk amat. 

Sejauh ini film-film yang mendobrak dinding keempat selalu membuahkan kesan keren buat saya. Contohnya: Annie Hall, High Fidelity, Wolf of Wall Street, dan Deadpool. Nah, SLC Punk ini pun saya akui harus masuk ke dalam daftar itu.

Walaupun rada susah dan kesal mengikuti kecerewetan Stevo—sang protagonis, toh saya tetap terpukau dengan pemikiran-pemikirannya yang cukup relevan. Mungkin karena saya seakan-akan melihat diri saya dulu yang sok memberontak. Syukurnya, saya yang sekarang sudah mengalami perubahan dalam memandang segala sesuatu. Sampai-sampai saya sempat menyimpulkan filmnya begini:

Dia membenci sistem, lalu menjadi punk supaya hidupnya bebas. Selama menjalani kehidupan anarki itu, dia jadi melihat dan mengalami beberapa kejadian kacau sekaligus konyol yang akhirnya bikin dirinya berpikir, bahwa hidup seperti itu juga enggak bebas-bebas banget. Hingga lama-lama membawa dia pada kekosongan. Ujung-ujungnya dia pun mengikuti sistem. 

Bicara soal sistem, ini mengingatkan saya saat Brandy—pasangan kencan buta Stevo—mengkritik dirinya, “Kau berpenampilan seperti itu, rambut mohawk, dicat biru, pakai kaos hitam atau band, bukankah itu terlihat kayak seragam? Itu bukan pemberontakan, itu fesyen. Pemberontakan terjadi di dalam pikiran.” 

Aduh, saya jadi ingin menyapa para kawan yang gemar memakai sweter Anti Social-Social Club. Apa kabar, ya, teman-teman saya dulu yang juga memakai jaket Straight Edge, padahal diam-diam masih merokok dan mabuk-mabukan?
Read More
Brian Hugh Warner alias Marilyn Manson—seorang vokalis grup musik asal Amerika Serikat—memiliki ritual khas sebelum manggung. Salah satunya: memakan permen karet rasa pop corn. Phil Jones, pemain belakang Manchester United, juga punya kebiasaan khusus sebelum bertanding. Jika bermain di kandang, dia akan memakai kaos kaki sebelah kanan terlebih dulu; sedangkan di tandang, dia mengenakan yang sebelah kiri terlebih dulu. 

Ritual semacam itu mungkin hanya sebuah sugesti agar mereka dapat memberikan performa terbaiknya. Saya pun segera menengok diri sendiri. Apakah saya memiliki ritual terkait dengan kegiatan menulis demi terciptanya karya yang bagus? Kayaknya saya setiap pengin nulis mah langsung tulis aja. Hm, atau saya belum engah sama ritual saya sendiri? Baiklah, saya akan coba mengingat-ingatnya.

Sembari memikirkan hal itu, saya lantas teringat akan suatu artikel tentang Asma Nadia, penulis kondang novel religi, yang konon terbiasa berwudu sebelum menulis supaya prosesnya lebih lancar. Lalu ada pula ritual penyair sebelum menciptakan sajak-sajaknya. Agar tidak buntu dalam menyusun diksi, sebagian dari mereka membutuhkan kopi dan rokok sebelum menulis. Salah seorang kawan saya, Diana, juga memiliki kebiasaan serupa. Dia gemar menghirup aroma kertas dari buku-bukunya yang ada di rak. “Buat penyemangat gitu, biar tulisanku bisa sebagus buku yang lagi kucium,” katanya. 


Read More
Ada semacam ketakutan saat ingin mengeklik tautan cerpen saya yang dimuat di Loop. Doni Jaelani alias Dijeh mengirimkan pesan mengenai hal itu kepada saya. Selagi rasa ragu bercampur ngeri menyelimuti saya, mendadak muncul pikiran begini: dari sepuluh teks yang saya kirimkan untuk mereka seleksi, kenapa malah itu yang pertama kali terbit?


sumber:https://pixabay.com/photos/ice-cream-dessert-cold-sweet-50402/

Jauh sebelum saya mendapatkan cap mesum, lebih-lebih lantaran membuat cerpen Es Krim Spesial (yang kini sudah dihapus), saya mengawali tulisan bertema es krim itu dengan kisah renungan sekaligus motivasi yang bertajuk Es Krim Rasa Cinta. Niatnya, sih, cuma untuk menegur atau mengingatkan diri sendiri.

Saya menceritakan pengalaman itu sebelum era twit berutas dan please do your magic yang sering saya jumpai belakangan ini. Bedanya, saya melakukannya tanpa ada tujuan mendapatkan engagement yang berujung mengajak mutualan. Saya juga tidak terang-terangan menyuruh siapa pun untuk membeli dagangan nenek penjual es krim itu. Twitter cuma semacam tempat alternatif untuk menumpahkan ide cerita, sebagai pengganti catatan di ponsel maupun bloknot, sebelum nanti dikembangkan menjadi artikel di blog.

Namun, kisah es krim itu langsung saya salin dari Twitter tanpa perbaikan lagi di blog. Oh, betapa malasnya diri saya dulu. Sebagian yang pernah membacanya, mungkin sudah lupa bahwa cerita itu pernah ada. Hal negatif memang lebih mudah melekat di ingatan, sehingga kisah itu tersingkir dengan sendirinya oleh cerpen vulgar yang konon merusak generasi muda. Cerita tentang nenek penjual es krim itu sekarang hadir kembali dalam bentuk yang lain, dan termuat di media lain selain blog ini.


Pada November 2012, selepas lulus SMK dan baru bekerja sekitar tiga bulanan, saya sedang membaca salah satu buku RD. Efek dari membaca buku yang judulnya bertemakan binatang itu, entah bagaimana memunculkan sebuah keinginan atau boleh juga disebut impian: menjadi seorang penulis—yang suatu hari tulisannya bisa terbit menjadi buku. 

Sebagai seorang penggemar yang ingin mengikuti jejak idolanya, saya memulai langkah awal dengan bikin blog ini. Kala itu sebetulnya saya enggak tahu apa-apa tentang menulis (di pikiran saya dulu, menulis itu cukup dengan mencurahkan isi hati lewat teks), tapi diam-diam berharap bisa menempuh kesuksesan yang sama. Seenggaknya, saya ada kehendak buat belajar menulis.

Sibuk akan pekerjaan bikin saya tidak sempat mengisi blog. Keinginan belajar menulis itu pun menguap terpanggang realita. Hingga suatu sore sepulang ngantor, saya bertemu Julia—seorang kakak kelas di SMK yang pernah saya taksir dan kemudian malah menjadi teman dekat dan ujung-ujungnya menjauh juga—di pusat jajanan dekat rumah. Mulanya kami hanya bertukar kabar, sampai tiba-tiba dia menanyakan kenapa saya enggak pernah ngeblog lagi. Saya memberikan alasan yang sangat klise: pulang kerja capek, bawaannya pengin langsung rebahan, dan enggak sempat buka laptop lagi.

“Kan bisa nulis pas libur, Yog,” katanya. 

Saya meresponsnya dengan tawa. Tidak bermaksud menyetujui maupun membantah. Bakso bakar dan jus alpukat yang dia pesan sudah jadi. Dia pamit duluan, lalu kami berpisah. Saya memikirkan kembali perkataannya. Mengetahui blog saya ternyata memiliki pembaca, hasrat menulis itu pun muncul. Malam itu juga saya akhirnya memutuskan untuk bercerita lagi di blog. 

Jika seseorang malas atau bahkan enggak pernah membaca, ketika menggarap tulisan pasti hasilnya akan jelek dan mentok begitu melulu. Saya tidak tahu apakah pada 2012-2014 sudah punya pemikiran seperti itu. Yang jelas, saya ingin sekali belajar menulis secara sungguh-sungguh pada tahun berikutnya.

Husein, salah seorang kawan kuliah, menyarankan saya untuk ikut komunitas bloger. Saya pun bergabung dengan komunitas KK dan JB. Dari sanalah saya mengenal istilah blogwalking. Berkat jalan-jalan ke beberapa blog anggota komunitas, saya lalu mengenal tata bahasa. Saya juga mendapatkan referensi bacaan dari mereka. Saya lantas membeli buku panduan menulis dan, tentu saja, mencoba menerapkan kiat-kiatnya.


Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya memberanikan diri bikin cerpen. Tahun itu pula terlahir Memfiksikan—sebuah lingkaran kecil untuk belajar menulis fiksi; cerpen, fiksi kilat, dan puisi. Animo bloger bikin buku masih lumayan tinggi pada saat itu. Saya termasuk salah satu yang berusaha mengumpulkan cerita-cerita itu.

Menyunting naskah ialah pekerjaan paling susah buat penulis. Banyak waktu yang terbuang untuk mengedit tulisan itu dibandingkan dengan proses menulisnya sendiri. Mengingat sifat manusia yang tidak ada puasnya, sekalipun sudah sepuluh kali revisi, boleh jadi mereka juga belum sreg untuk menganggapnya selesai dan layak terbit. Biarpun merasa telah memolesnya berulang kali, saya pikir penulis akan menilainya dengan sangat subjektif. Makanya penulis tetap membutuhkan orang lain sebagai editor.

Sementara itu, yang paling gampang tentu menelantarkan naskah. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Saya adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan sosok itu. Saya telah mengumpulkan cerita sejak akhir 2015, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang terhimpun menjadi buku.

Setelah menceburkan diri ke kolam tulis-menulis selama dua tahunan (2015-2017), saya pernah memikirkan ulang: apakah jalan yang saya lalui ini benar? Semakin membaca buku-buku bagus, alih-alih memantik semangat, keberanian untuk bikin buku kumpulan cerita itu justru rontok. Akhirnya, saya hanya memendamnya di diska laptop. Saya pun ingin berhenti menulis. Lebih baik jadi seorang pembaca saja.

Namun, bagaimana kalau menulis itu buat saya bagaikan bernapas? Jika tidak melakukannya, berarti saya akan mati? Baiklah, saya tetap menulis di blog, tapi enggak perlu bikin buku. Konyolnya, suatu hari impian itu datang kembali sehabis membaca kumcer seseorang, lalu tak lama kikis lagi dengan sendirinya. Proses ini terus berulang entah sampai kapan. Hingga lama-lama saya mempersempit keinginan itu. Tulisan saya, apa pun jenisnya, kelak dapat terpampang di media lain—selain blog ini ataupun platform sejenis.

Saya telah mengirimkan tulisan ke beberapa media. Hasilnya nihil. Pada akhirnya, sebagian teks yang ditolak itu saya taruh lagi ke blog ini. Mungkin belum waktunya. Mending belajar lagi. Saya pun memendam keinginan itu.


Pak Agus—salah seorang perwakilan dari Loop—bertanya kepada saya, apakah ada pertanyaan atau hal-hal yang masih kurang jelas saat kami sedang membicarakan perihal kerja sama proyek cerpen. 

“Habis ini berarti saya tinggal bikin cerpen setiap seminggu sekali, ya?” tanya saya. 

“Mas Yoga enggak perlu bikin cerita baru. Cukup setor cerpen yang pernah Mas Yoga buat aja. Pihak kami nanti yang menerbitkannya seminggu sekali.” 

Rupanya terdapat kesalahpahaman di sini. Mengingat pembicaraan sebelumnya hanya via WhatsApp, saya memaklumi ketololan diri sendiri.

Sekitar sebulan silam, tatkala saya sedang menyibukkan diri dengan bacaan gratis di iPusnas, datang sebuah penawaran untuk mewujudkan keinginan yang sempat saya coba kubur itu. Loop membutuhkan penulis cerpen untuk proyek terbaru mereka.

Saya mengirimkan dua tautan cerpen di blog sebagai contoh. Tidak ada komplain. Saya kemudian menyetorkan enam cerpen yang siap tayang sesuai yang mereka minta. Obrolan pun berlanjut hingga membawa saya ke pertemuan ini. 

“Intinya, kami mencari orang yang sudah menulis. Bukan baru mau menulis karena kami ajak,” ujar Pak Agus. 

“Jadi cukup cerpen yang kemarin?” 

“Iya. Memangnya Mas Yoga punya cerpen lain?”


Kesimpulan dari rapat itu, Loop mencari penulis cerpen yang usianya kisaran remaja sampai dewasa muda. Begitu pun dengan target pembacanya. Entah ini keberuntungan atau bukan, umur saya pas banget di batas maksimal persyaratannya. Apalagi domisili saya juga di Jakarta, yang mana satu wilayah dengan kantornya.

Loop berniat agar proyek ini bisa membuat para pembacanya terinspirasi dan ikutan menulis. Singkatnya, dapat melahirkan penulis-penulis baru. Jujur aja, saya sangat minder ketika terpilih dalam proyek ini. Selama ini cerpen-cerpen bikinan saya lebih ke bermain-main dan tidak mengikuti tradisi sebagaimana cerpen yang termuat di koran. Tapi, bukankah ini yang tadinya saya mau? Bisa terbit di media lain? Saya pun mengambil kesempatan itu, apa pun risikonya. Saya bahkan menyanggupi menambah empat cerpen lagi supaya Loop memiliki pilihan dan bisa menyaring mana yang layak.

Sesampainya di rumah, saya baru sadar kalau cerpen di blog itu banyak yang menabrak batas wajar. Kayaknya enggak cocok buat target pembaca. Syukurlah saya masih punya cadangan di laptop. Saya membuka folder Cerpen yang berisi belasan naskah. Saya girang seakan-akan menemukan harta karun. Gila, apa aja yang pernah saya tulis di situ, ya? Saya mengeceknya satu per satu. Saat dibuka, hasilnya malah lebih kacau dari yang ada di blog. Mampuslah.

Mengubek-ubek arsip untuk mencari cerita yang mendingan dan berusaha memolesnya, terkadang lebih melelahkan daripada bikin cerpen baru. Saya menengok lagi setiap fail yang ada di folder lain. Banyak yang belum selesai. Dengan pelbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih sepuluh cerpen dalam rentang 2015-2017.

Saya membayangkan cerpen-cerpen itu dibaca oleh para remaja sampai dewasa muda yang mungkin masih ragu-ragu memamerkan karyanya. Percis kala saya menggarap cerpen-cerpen tersebut. Kira-kira ketika mereka membaca tulisan itu, terbit pemikiran begini: “Oh, kayak gitu termasuk cerpen, ya? Ah, gue mah juga bisa bikin. Malah lebih bagus.”


Saya kerap membaca banyak cerpen yang rilisnya belasan hingga puluhan tahun lalu, tapi anehnya kekerenannya tidak luntur. Saat saya membaca ulang cerpen sendiri, mata langsung mendadak gatal. Seandainya tulisan itu bisa ngomong, ia pasti bakalan menjerit-jerit, “Tolong revisi aku dong, Sayang! Tolong!” Meskipun itu menandakan ada progres dalam perjalanan saya, kecemasan akan kisahnya yang barangkali cuma terasa bagus pada zaman saya menuliskannya, sangatlah mengganggu. 

Itulah alasan saya takut buat membaca ulang cerpen dalam proyek ini, khususnya cerpen es krim yang tertulis pada Juni 2015. Hampir empat tahun telah berlalu. Jelas banyak yang berubah dalam cara pandang saya menilai suatu tulisan. Saya deg-degan bukan main.

Mau tak mau, saya pun memberanikan diri melihat cerpen itu lagi. Opini saya ketika membaca ulang: Awalnya berbentuk autobiografi atau jurnal atau memoar, atau apa pun itu sebutannya, lalu berubah menjadi versi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Saya bingung kenapa nekat membuat keputusan seperti itu, padahal jalan ceritanya sangat singkat. Walaupun mau tetap memakai gagasannya, kayaknya lebih cocok orang pertama yang bertutur. Aduh, mana kritiknya kasar amat. Deskripsinya juga masih kurang. Penilaian ini akan terus berlanjut dan tidak akan ada habisnya. 

Meminjam kalimat Stephen King, “Penulis biasanya menjadi juri terburuk untuk menilai hasil tulisan mereka.” Jadi, seharusnya saya cukup menyerahkan penilaian itu kepada pembaca. Membiarkan diri saya babak belur dihantam berbagai komentar dan kritik. Yang penting sesudahnya luka saya sembuh, mampu memperbaiki diri, dan giat berlatih agar cerpen-cerpen saya berikutnya bisa gantian menjotos hati mereka.
Read More
Jika kamu tidak suka dengan bocoran cerita, saya sarankan langsung keluar saja dari tulisan ini. Pintunya berada di pojok kanan atas yang berwarna merah dan terdapat tanda X. Kalau kadung penasaran, kamu bisa menonton filmnya terlebih dahulu, baru balik lagi ke sini.

— 

sumber: https://www.vogue.com/article/burning-movie-review-lee-chang-dong

Hairunnisa—yang akrab disapa Icha—tampak terkejut ketika mendapati saya menonton film Burning (2018) garapan Lee Chang-dong. Dia pun bertanya lagi untuk memastikan, apakah saya betul menonton filmnya. Mungkin karena dia tahunya saya lebih gembira berhadapan dengan teks daripada visual. Begitu mendengar jawaban “iya”, dia lantas meminta saya menjelaskan tentang film itu. 

Ketika ada seorang perempuan meminta penjelasan kepada saya, entah kenapa memori ini otomatis langsung menerbitkan kalimat salah seorang pacar—yang kini sudah mantan: “Itu cewek mana lagi, Yog, yang kamu panggil ‘Beb’?” 

Dia mengintip ponsel saya sewaktu saya sedang membalas pesan seorang teman. Mungkin dia penasaran. Kok bisa-bisanya saya masih memegang ponsel, padahal sudah berduaan dengan kekasih. Berhubung saya memang tidak berbuat macam-macam, saya pun berusaha menjelaskannya secara santai.

“Ini kamu lagi cemburu?” ujar saya sembari cengengesan. “Itu temenku namanya ‘Beby’. Masa aku panggil dia ‘By’? Aneh, kan? Maaf, kalo aku malah main HP. Aku langsung bales karena menurutku penting. Dia lagi nawarin kerjaan.” 

Untuk mendukung kalimat barusan, saya segera memperlihatkan ponsel yang layarnya menampilkan obrolan itu. Lantas dia hanya melihat sekilas. Tak sampai tiga detik. Mungkin dia malu sendiri karena telah menuduh saya yang bukan-bukan. 

Sekalipun persoalannya berbeda, memberikan penjelasan kepada seorang perempuan itu tidaklah mudah bagi saya. Menjelaskan tentang film ini justru lebih sulit daripada momen salah paham bersama pacar itu. Bukan apa-apa, saya cuma minder berbicara soal film di hadapan pengulas film kesayangan—orang tua, pacarnya, dan WIRDY (sengaja saya senggol biar grup ini tidak hilang dari peredaran).

Sejujurnya, saya masih bingung untuk membahas film tersebut. Kepercayaan diri saya bahkan termasuk rendah dalam mengulas suatu film. Lalu dengan seenak jidat, saya pun melempar tanggung jawab itu kepada Hawadis, salah seorang teman yang juga menonton filmnya. Sehari sebelumnya, kami sempat mengobrol singkat tentang film Burning
Read More
“Kak, menurut aku lebih bagus kalo kaosnya polos. Lebih keren lagi yang warnanya item,” kata Indri di Line sekitar empat tahun silam. Ia mengomentari foto profil saya yang menggunakan kaos ungu bergambar bison yang dilapisi jaket denim tanpa dikancingkan.

Saya pun membalas, “Emang kaos itu kenapa, Ndri?”

“Kayak anak kecil. Haha. Kalo polos, kan, kamu jadi terlihat dewasa.”

Waktu itu Indri adalah adik tingkat di kampus sekaligus gebetan saya. Entah kenapa saya percaya dan manut saja sama omongannya. Walaupun kedekatan kami tidak berlanjut sampai pacaran dan ia belum tentu menganggap saya gebetan (ini penting: ngomong aku-kamu bukan berarti orang itu suka atau punya rasa), seenggaknya saya jadi mendapat sedikit gambaran bahwa ada sebagian perempuan yang sangat menilai penampilan orang-orang di sekitarnya. Saya masih tetap berprinsip untuk berpakaian yang penting nyaman bagi diri sendiri, tapi paling tidak saya belajar dari hal itu. Saya mesti mengubah sedikit penampilan supaya menjadi lebih ciamik ketika mendekati lawan jenis.

Lantaran komentar Indri itu, saya jadi teringat pula dengan ucapan seorang mantan, “Kamu terlihat lebih ganteng pake kaos item polos.” Saya pun merespons dengan cengengesan dan mengamininya dalam hati.

Namun, jauh sebelum perempuan-perempuan itu menilai saya cocok mengenakan kaos hitam polos, saya memang sudah sreg berpenampilan seperti itu sejak SMK. Semua ini berawal dari menyukai band-band hardcore luar negeri, misalnya Alesana, Attack Attack!, dan Asking Alexandria. Saya kerap melihat para personelnya baik di foto maupun video musiknya memakai kaos hitam polos. Sebagaimana para penggemar memuja idolanya, saya lantas mengikuti gaya mereka yang menurut saya keren. 

sumber: https://wallpapercave.com/alesana-wallpapers

Sebelum gandrung mengenakan kaos hitam polos, adakalanya saya pernah bingung di mana membelinya. Kala itu saya cuma tahu baju dalaman yang berwarna putih. Barangkali karena saya sempat menjadi korban majalah anak gaul yang terbiasa membeli kaos di distro. Kaos-kaos yang dijual di sana tentu saja semuanya bergambar atau bertuliskan. Distro tidak menjual kaos polos.
Read More
Silakan baca bagian pertama.

--

“Pada 20 Maret Anda bertemu Sakuma Kyoko di bar karaoke Parpoo yang dekat stasiun, kan?” 

Aku membuntutinya sepanjang hari itu. Dibutuhkan uang untuk membuntuti seseorang. Aku bertaruh CIA dan KGB menghabiskan banyak uang untuk itu. Kau tidak dapat membuntuti orang lain jika kau miskin. 

Setelah dia mengantarkan suami dan anak-anaknya, dia tidur sebentar, seperti yang selalu dia lakukan. Dia adalah burung hantu. Jika dia tidak mendapatkan sedikit tidur tambahan di pagi hari, dia merasa ada yang tidak beres. Aku mendengarnya berbicara tentang hal itu kepada para gadis penata rias di toko kami. 

Aku duduk di ayunan di taman anak-anak dekat kondominiumnya dan menunggunya. Aku merasa benar-benar memburuk. Fuji cocok dengan bunga sakura dan kereta peluru (Shinkansen), taman berjalan baik dengan kemunduran. Tidak ada anak kecil di taman, hanya beberapa orang jompo dan seorang wanita yang membersihkan tanah. Aku senang tidak ada anak kecil. Aku membenci anak-anak. Mereka terlalu imut. Bahkan anak yang benar-benar jelek pun terlihat imut sekali saat dia masih kecil.

Pukul sebelas, Sakuma Kyoko muncul. Hari yang dingin. Dia mengenakan celana kulit hitam ketat dan mantel bulu rubah dan sepatu hak stiletto. Dia pergi ke tempat parkir di bawah kondominium untuk mengambil Audi Quattro merahnya dan pergi bekerja. Kenapa dia selalu menyetir, aku tidak tahu. Padahal akan lebih cepat jika berjalan kaki. Mungkin dia ingin memamerkan Audi-nya. Tidak ada biaya parkir di stasiun. 

Aku berjalan ke gedung stasiun dan sampai di sana sebelum dia. Dia menyarap terlambat di kafetaria di lantai tiga. Dia selalu memesan menu yang sama, jus apel Afrika Selatan dan roti lapis panas dengan salad alfalfa. Aku berdiri di toko buku, di mana aku bisa memperhatikan kafetaria dan melihat majalah. Aku ingin melihat S&M Aficionado tapi terlalu banyak pelanggan, jadi aku cuma membaca Popeye. Di sana ada sebuah artikel berjudul “My First Date,” di mana banyak orang terkenal mengarang semua ini tentang pertama kalinya mereka berkencan dengan seorang gadis. Salah satunya adalah seorang ilustrator yang mengatakan bahwa kencan pertamanya di Taman Inokashira. Seorang pembalap mobil mengatakan di Luxembourg Gardens. Pemilik cabang restoran berkata di Central Park. Ada foto-foto mereka semua yang terlihat tampan dan angkuh. Aku bertanya-tanya mengapa tidak ada setiap orang terkenal yang benar-benar jelek. Mungkin menjadi terkenal membuat kau lebih cakep. Maka kau tidak perlu mencuri uang dari mesin kasir dan bisa pergi ke sekolah tanpa dirisak. Ketika Sakuma Kyoko berjalan keluar kafetaria dan menepuk bibirnya dengan saputangan, aku bertanya-tanya apakah ada cara bagiku untuk menjadi terkenal? 

Sekolah menjahit belum selesai sampai malam hari. Aku menghabiskan sore hari di ruang tamu pachinko dan bioskop. Itu sore yang panjang. 

Dia mengemudikan Audi dan kembali ke kondominiumnya. Lalu dia harus menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Kemudian dia keluar lagi. Dia pergi ke tempat ayam bakar di wisata kuliner jalanan di depan stasiun. Dia bertemu dengan beberapa orang di sana, dua pria dan tiga wanita. Aku pikir mereka sedang merencanakan sebuah pesta sadomasokis. Pria-pria itu tinggi dan berusia sekitar tiga puluhan dan mengenakan jas tiga lapis berwarna abu-abu. Yang wanita mengenakan gaun dan celana panjang dan blus serta sweter dan mantel bulu dan jaket kasmir, dan semuanya sangat cantik.

Bahkan dari seberang jalan di dalam toko mainan tempat aku memeriksa kit model Gundam, aku bisa mencium aroma ayam bakar. Baunya enak. Aku kelaparan. Aku bisa melihat Sakuma Kyoko dan teman-temannya melalui jendela. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku sangat cemburu sampai takut aku akan mulai menangis, jadi kupikir aku harus makan sesuatu. Aku pun membeli sebatang CalorieMate dari mesin penjual otomatis di luar. Aku berpikir tentang iklan di mana Oh Sadaharu mengatakan, Semakin sibuk Anda, Anda akan semakin membutuhkan CalorieMate. Aku tidak bisa membayangkan orang-orang sibuk memakan produk ini.

Enam dari mereka meninggalkan tempat ayam bakar sekitar pukul delapan. Mereka pergi ke sisi jalan dan masuk sebuah bar bernama Parpoo. Kau bisa mendengar daun jendela turun di semua toko di jalan, satu per satu.

Setelah beberapa saat, kulihat ada seseorang yang mendekat di arkade, ternyata Mitsuyo-san, dengan beberapa temannya. Aku mencari tempat untuk bersembunyi. Sebagian besar toko tutup, dan semua arkade menyala. Hanya ada satu tempat untuk dikunjungi: Parpoo. 

Di dalam bar seseorang menyanyikan lagu karaoke. Mama-san (germo) berkata, “Bukankah kau Noriyuki-kun, kemarilah, apa kau sendirian?” Semua orang mengenalku di lingkungan itu karena mamaku ialah kepala asosiasi pedagang lokal. Aku duduk di meja dan memesan jus jeruk. Aku tidak bisa meminum alkohol.

Tiba-tiba Sakuma Kyoko memperhatikanku. Bibirku mulai bergetar. Dia berjalan dengan mata sipit. Rasa gemetar menyebar ke seluruh tubuhku. 

“Bukankah kau anak muda dari apotek?” 

Aku mengangguk. 

“Kau sendirian di sini?” 

Aku mengangguk lagi, suaraku hilang. 

“Apakah kau sering ke sini?” 

Aku menggelengkan kepala. Parfumnya sangat kuat. Celana kulitnya begitu ketat di pinggangnya. Ya Tuhan, kulit itu. Aku tidak bisa menangani kulit. 

“Mau jadi anak nakal malam ini, ya?” 

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menatap matanya. 

“Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?” 

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Orang-orang yang bersamanya berkata, Apa yang terjadi, siapakah itu? 

“Ayo, mari kita minum bersama.”

Dia meraih lenganku. Aku hampir terjatuh dari bangku. Aku seperti seseorang yang sedang tidur sambil berjalan. Pikiranku benar-benar kosong. Aku terhuyung-huyung ke mejanya.

“Ini adalah pemuda dari toko tempat aku membeli kosmetikku.” 

Aku berdiri di sana dengan mulut ternganga dan menundukkan kepala kepada semua orang. 

“Biarkan aku memperkenalkan teman-temanku. Ini si anu, dia menjalankan sebuah butik kecil favorit di Kichijoji.” 

Senang bertemu denganmu, kata wanita itu. 

“Dan wanita muda ini bekerja untuknya. Aku kira kau akan memanggilnya peragawati rumahan? Dia bukan hanya seorang pramuniaga, kau lihat, dia terlalu sering memodel pakaian. Bukankah dia manis sekali?”

Gadis itu menyentak dagunya ke arahku dan merengut. Dia hanya ingin aku tidak berada di sana. 

“Dan ini adalah pemilik toko kue di sebelah butik.” 

Wanita ini memberikanku senyuman lebar palsu. Orang-orang di lini bisnisnya selalu tersenyum kepada orang gendut. Ini sesuai dengan pekerjaannya. 

“Dan ini adalah pacar kita — ha-ha! Mereka berdua instruktur di Seibu Sports Center, di mana kita semua belajar ski dan tenis. Dan aerobik.” 

Kedua pria itu adalah yang terburuk. Mereka tinggi dan cokelat dan langsing dan memiliki kaki panjang dan jari-jari panjang yang sensitif. Mereka jauh lebih tampan daripada tokoh-tokoh di Popeye. Mereka menatapku seperti mereka tidak kenal siapa aku, tetapi setidaknya aku gemuk dan jelek, itu cukup bagus untuk membuat mereka tertawa. Oh, lihatlah di mata mereka. Seperti kuda jantan di peternakan sedang menonton babi yang akan disembelih. 

“Apakah kau seorang mahasiswa?” Salah satu dari mereka bertanya. Aku melihat ke bawah dan hanya menggelengkan kepala. Sakuma Kyoko menjawab untukku.

“Dia masih SMA, bukan?” 

“SMA? Kau sangat besar untuk siswa SMA.” Pejantan itu tidak akan membiarkannya berlalu. “Berapa usiamu?” 

Delapan belas, aku berbohong. 

“Kau bercanda, kan? Kau terlihat lebih dari dua puluh tahun.” 

Dia minum Chivas Regal. Tangannya yang bebas ada di pundak Sakuma Kyoko. 

Aku tidak minum, tetapi aku tahu Chivas Regal. Ini adalah kisah menyedihkan. Meskipun Mama adalah putri dari juragan besar tanah, dia benar-benar orang yang pelit. Yang dia tahu hanyalah bekerja, tetapi tahun lalu dia akhirnya pergi ke luar negeri untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia pergi ke Hong Kong dan Singapura. Itu cukup menyedihkan dengan sendirinya, tetapi bagian terburuknya adalah dia membawa pulang tiga botol Chivas Regal untuk diberikan kepada papaku pada hari ulang tahunnya besok. Papa menghabiskan satu botol pada hari yang sama. Keesokan harinya dia dan teman-teman mahyongnya menghabiskan yang satunya, dan yang terakhir dia minum dengan penari telanjang di apartemennya. Itulah yang aku ketahui tentang Chivas Regal. Kedua pejantan itu duduk dengan tangan di bahu para wanita yang wanginya begitu kuat hingga membuatku pusing, dan dengan tenang meminum wiski menyedihkan itu.

“Kau terlihat sangat menyedihkan untuk pemuda tajir,” kata peragawati itu. “Tidak bisakah kau bicara? Mengatakan sesuatu?” Dia seperti gumpalan besar ... kedengkian, ah, kata itu. Aku menundukkan kepalaku dan membungkukkan bahuku. 

“Hei!” katanya. “Ceritakan kepada kami suatu lelucon, jangan cuma satu.”

Kemudian dia tertawa, sangat keras. Mereka semua tertawa. Aku merasa seperti ingin muntah. Jantungku begitu berdebar, dan air mata mengalir di mataku.

“Kau tidak minum?” 

Aku menggelengkan kepala. 

“Kalau begitu, mengapa kau berada di sini? Ada jus jeruk di mesin penjual otomatis di luar.” 

Semua orang tertawa lagi. Itu membuatku marah. Aku akan minum bir, kataku, dan mereka bersorak. Aku minum bir untuk pertama kalinya dalam hidupku. Hal berikutnya yang kuingat adalah memegang mikrofon dan berdiri di depan layar karaoke. Seluruh tubuhku mati rasa, bahkan otakku. Rasanya seperti berada di dalam tengah mimpi, tapi bukan mimpi yang buruk. Aku menyanyikan Wine-Red Heart. Aku menatap tepat ke arah Sakuma Kyoko ketika bernyanyi. Kulihat ekspresinya perlahan berubah. Ketika aku menyelesaikan bait kedua, dia berjalan ke arahku. Sudut matanya lebih sipit dari biasanya, dan pipinya berkedut. Dia mengambil mikrofon dan mematikan musik. Seluruh bar menjadi sunyi.

“Kau, kan,” katanya. 

Aku hanya berdiri di sana dengan mulut menganga. 

“Kaulah yang meneleponku.” 

Aku menutup mulut dengan tangan, tetapi sudah terlambat. Dia menampar wajahku dengan keras. Itu menimbulkan suara gaduh. 

“Kau seharusnya malu dengan dirimu sendiri! Apakah kau tahu apa yang telah kulewati? Aku punya anak kecil di rumah! Aku—Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan? Hal pertama, besok aku akan memberi tahu ibumu! Aku punya rekamannya, aku akan membuat dia mendengarkannya. Apakah kau mengerti?”

Dia meninggalkan bar bersama teman-temannya. Seluruh dunia bergeser di depan mataku. Tiba-tiba semuanya pergi menjauh. Rasanya seperti melihat melalui ujung teleskop yang salah. Aku sendirian. Di sana, di depan mama-san dan semua pelanggan lainnya, aku menangis.

Ketika aku menangis, aku jadi ingat banyak hal. Aku ingat bagaimana sehabis papaku memukuliku, Mama akan menaruh obat luka dan memar, dan bagaimana dia biasa membelikanku barang-barang. Dia membelikanku sepeda dan mainan mobil dan sarung tangan bisbol dan buku bergambar. Dan dia membawaku ke toko buah baru di depan stasiun dan membiarkanku makan semua manisan yang kuinginkan. Aku mulai berteriak, Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! dan berlari keluar.

Kata-kata Sakuma Kyoko berputar di dalam kepalaku. 

Besok 

Besok 

Besok aku akan memberi tahu 

akan memberitahu 

akan memberi tahu ibumu 

ibumu 

ibumu 


Aku pulang ke rumah dan berjalan-jalan di halaman untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pergi ke garasi dan mengambil kunci Inggris berukuran besar yang kami gunakan di truk.

Aku mulai berjalan perlahan dan kembali ke jalan. Aku bertemu dengan seorang polisi yang kukenal sedang naik sepeda, pemuda yang selalu datang ke toko kami untuk membeli tonik rambut Vulcan. 

“Hai! Kau mau pergi ke mana?” 

Ke rumah teman. 

“Apa itu yang kaubawa?” 

Kunci Inggris. 

“Oh, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” 

Temanku mau meminjamnya. 

“Oke, jangan memukul siapa pun dengan benda itu!” 

Kau tidak mengenakan Vulcan-mu? 

“Aku tidak memakainya saat sedang bertugas.” 

Aku tersenyum ketika kami berbicara. 


Itu tidak tepat untuk seorang wanita dengan mata cantik seperti Sakuma Kyoko membuat wanita jelek seperti Mama menangis. Jika aku begitu istimewa, berarti aku bebas untuk memperbaiki hal-hal yang salah. Aku berdiri di pintu kondominium dan membunyikan bel. Suaminya menjawab. Aku memberi tahu namaku kepadanya. Aku berkata, aku datang untuk meminta maaf. Dia memiliki rantai di pintunya, tapi dia menempelkan wajahnya di sela-selanya dan berteriak, Pergi sana, Bangsat! Aku menanamkan kunci Inggris di wajahnya. Aku tak tahu kalau wajahnya begitu lembut. Aku bertanya-tanya, apakah kekuatan superku telah diaktifkan seperti Ultraman? Rantai itu putus juga ketika aku memukulnya. Dia berbaring telungkup di lantai. Aku memukul bagian belakang kepalanya hingga seperti semangka yang hancur. Kedua anak kecil itu menonton dengan sikat gigi di mulut mereka. Kepala mereka bahkan lebih lembut. Kedengarannya seperti menginjak lumpur.


“Berhenti di situ. Ini adalah bagian yang tidak saya mengerti. Mengapa Anda tidak memukul wanita itu juga? Kenapa Anda malah menghancurkan televisi?”

Sakuma Kyoko merangkak di ruang tamu dengan piyama merah muda dengan mulut terbuka, membuat suara cegukan di tenggorokannya. Saat itulah aku mendengar suara itu. Lari, Takahashi! 

Program Pro Baseball News sedang tayang di TV. Mereka menampilkan cuplikan-cuplikan penting dari permainan pramusim antara Carp dan Braves. Kobayakawa mendapat pukulan dan Takahashi Yoshihiko sedang di putaran ketiga. Kala itulah suara itu berteriak, dan ketika aku mendengarnya, aku pun mengerti segalanya. Aku mengerti mengapa orang-orang mengolok-olok diriku dan mengusikku. Itu karena aku gendut dan lambat dan bodoh.

Kembali ke Zaman Batu, kita semua adalah pemburu, tetapi orang-orang sepertiku terlalu kikuk untuk menangkap permainan apa pun, jadi semua orang merisak dan menghindari kami. Zaman Batu berlangsung selama beribu-ribu tahun, jadi kita masih memiliki ingatan di dalamnya. Mereka bilang kita semua sama sekarang, tapi itu tidak benar. Kenangan itu adalah alasan mengapa orang-orang seperti Mama dan aku selalu menjadi sasarannya.

Takahashi tampak berlari begitu indah, itu membuatku merinding. Takahashi, Carl Lewis, John McEnroe, orang-orang seperti itu, membuat kau merasa senang hanya menyaksikan mereka berlari. Itu karena mereka yang dulu memasok semua daging untuk kita. Ingatan itulah yang membuat kita bahagia. Aku mengabaikan Sakuma Kyoko merangkak di lantai yang mencoba melarikan diri, dan menghancurkan televisi. Aku merasa seperti sedang menghancurkan seluruh dunia. 


“Tapi mengapa televisi? Apakah Anda masih menolak untuk menjelaskannya?” 

Mungkin hanya aku yang bisa memahaminya. Aku bertanya-tanya siapa orang yang berteriak, “Lari, Takahashi!” Itu terdengar seperti suara wanita. Sakuma Kyoko tidak dalam kondisi untuk berteriak atau apa pun. Mungkin itu adalah penonton di pertandingan bisbol di TV. Atau mungkin itu aku sendiri, entahlah. Namun, mengapa suara wanita? Mungkin aku lebih membingungkan daripada yang aku sadari....
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home