“Kak, menurut aku lebih bagus kalo kaosnya polos. Lebih keren lagi yang warnanya item,” kata Indri di Line sekitar empat tahun silam. Ia mengomentari foto profil saya yang menggunakan kaos ungu bergambar bison yang dilapisi jaket denim tanpa dikancingkan.

Saya pun membalas, “Emang kaos itu kenapa, Ndri?”

“Kayak anak kecil. Haha. Kalo polos, kan, kamu jadi terlihat dewasa.”

Waktu itu Indri adalah adik tingkat di kampus sekaligus gebetan saya. Entah kenapa saya percaya dan manut saja sama omongannya. Walaupun kedekatan kami tidak berlanjut sampai pacaran dan ia belum tentu menganggap saya gebetan (ini penting: ngomong aku-kamu bukan berarti orang itu suka atau punya rasa), seenggaknya saya jadi mendapat sedikit gambaran bahwa ada sebagian perempuan yang sangat menilai penampilan orang-orang di sekitarnya. Saya masih tetap berprinsip untuk berpakaian yang penting nyaman bagi diri sendiri, tapi paling tidak saya belajar dari hal itu. Saya mesti mengubah sedikit penampilan supaya menjadi lebih ciamik ketika mendekati lawan jenis.

Lantaran komentar Indri itu, saya jadi teringat pula dengan ucapan seorang mantan, “Kamu terlihat lebih ganteng pake kaos item polos.” Saya pun merespons dengan cengengesan dan mengamininya dalam hati.

Namun, jauh sebelum perempuan-perempuan itu menilai saya cocok mengenakan kaos hitam polos, saya memang sudah sreg berpenampilan seperti itu sejak SMK. Semua ini berawal dari menyukai band-band hardcore luar negeri, misalnya Alesana, Attack Attack!, dan Asking Alexandria. Saya kerap melihat para personelnya baik di foto maupun video musiknya memakai kaos hitam polos. Sebagaimana para penggemar memuja idolanya, saya lantas mengikuti gaya mereka yang menurut saya keren. 

sumber: https://wallpapercave.com/alesana-wallpapers

Sebelum gandrung mengenakan kaos hitam polos, adakalanya saya pernah bingung di mana membelinya. Kala itu saya cuma tahu baju dalaman yang berwarna putih. Barangkali karena saya sempat menjadi korban majalah anak gaul yang terbiasa membeli kaos di distro. Kaos-kaos yang dijual di sana tentu saja semuanya bergambar atau bertuliskan. Distro tidak menjual kaos polos.
Read More
Silakan baca bagian pertama.

--

“Pada 20 Maret Anda bertemu Sakuma Kyoko di bar karaoke Parpoo yang dekat stasiun, kan?” 

Aku membuntutinya sepanjang hari itu. Dibutuhkan uang untuk membuntuti seseorang. Aku bertaruh CIA dan KGB menghabiskan banyak uang untuk itu. Kau tidak dapat membuntuti orang lain jika kau miskin. 

Setelah dia mengantarkan suami dan anak-anaknya, dia tidur sebentar, seperti yang selalu dia lakukan. Dia adalah burung hantu. Jika dia tidak mendapatkan sedikit tidur tambahan di pagi hari, dia merasa ada yang tidak beres. Aku mendengarnya berbicara tentang hal itu kepada para gadis penata rias di toko kami. 

Aku duduk di ayunan di taman anak-anak dekat kondominiumnya dan menunggunya. Aku merasa benar-benar memburuk. Fuji cocok dengan bunga sakura dan kereta peluru (Shinkansen), taman berjalan baik dengan kemunduran. Tidak ada anak kecil di taman, hanya beberapa orang jompo dan seorang wanita yang membersihkan tanah. Aku senang tidak ada anak kecil. Aku membenci anak-anak. Mereka terlalu imut. Bahkan anak yang benar-benar jelek pun terlihat imut sekali saat dia masih kecil.

Pukul sebelas, Sakuma Kyoko muncul. Hari yang dingin. Dia mengenakan celana kulit hitam ketat dan mantel bulu rubah dan sepatu hak stiletto. Dia pergi ke tempat parkir di bawah kondominium untuk mengambil Audi Quattro merahnya dan pergi bekerja. Kenapa dia selalu menyetir, aku tidak tahu. Padahal akan lebih cepat jika berjalan kaki. Mungkin dia ingin memamerkan Audi-nya. Tidak ada biaya parkir di stasiun. 

Aku berjalan ke gedung stasiun dan sampai di sana sebelum dia. Dia menyarap terlambat di kafetaria di lantai tiga. Dia selalu memesan menu yang sama, jus apel Afrika Selatan dan roti lapis panas dengan salad alfalfa. Aku berdiri di toko buku, di mana aku bisa memperhatikan kafetaria dan melihat majalah. Aku ingin melihat S&M Aficionado tapi terlalu banyak pelanggan, jadi aku cuma membaca Popeye. Di sana ada sebuah artikel berjudul “My First Date,” di mana banyak orang terkenal mengarang semua ini tentang pertama kalinya mereka berkencan dengan seorang gadis. Salah satunya adalah seorang ilustrator yang mengatakan bahwa kencan pertamanya di Taman Inokashira. Seorang pembalap mobil mengatakan di Luxembourg Gardens. Pemilik cabang restoran berkata di Central Park. Ada foto-foto mereka semua yang terlihat tampan dan angkuh. Aku bertanya-tanya mengapa tidak ada setiap orang terkenal yang benar-benar jelek. Mungkin menjadi terkenal membuat kau lebih cakep. Maka kau tidak perlu mencuri uang dari mesin kasir dan bisa pergi ke sekolah tanpa dirisak. Ketika Sakuma Kyoko berjalan keluar kafetaria dan menepuk bibirnya dengan saputangan, aku bertanya-tanya apakah ada cara bagiku untuk menjadi terkenal? 

Sekolah menjahit belum selesai sampai malam hari. Aku menghabiskan sore hari di ruang tamu pachinko dan bioskop. Itu sore yang panjang. 

Dia mengemudikan Audi dan kembali ke kondominiumnya. Lalu dia harus menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Kemudian dia keluar lagi. Dia pergi ke tempat ayam bakar di wisata kuliner jalanan di depan stasiun. Dia bertemu dengan beberapa orang di sana, dua pria dan tiga wanita. Aku pikir mereka sedang merencanakan sebuah pesta sadomasokis. Pria-pria itu tinggi dan berusia sekitar tiga puluhan dan mengenakan jas tiga lapis berwarna abu-abu. Yang wanita mengenakan gaun dan celana panjang dan blus serta sweter dan mantel bulu dan jaket kasmir, dan semuanya sangat cantik.

Bahkan dari seberang jalan di dalam toko mainan tempat aku memeriksa kit model Gundam, aku bisa mencium aroma ayam bakar. Baunya enak. Aku kelaparan. Aku bisa melihat Sakuma Kyoko dan teman-temannya melalui jendela. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku sangat cemburu sampai takut aku akan mulai menangis, jadi kupikir aku harus makan sesuatu. Aku pun membeli sebatang CalorieMate dari mesin penjual otomatis di luar. Aku berpikir tentang iklan di mana Oh Sadaharu mengatakan, Semakin sibuk Anda, Anda akan semakin membutuhkan CalorieMate. Aku tidak bisa membayangkan orang-orang sibuk memakan produk ini.

Enam dari mereka meninggalkan tempat ayam bakar sekitar pukul delapan. Mereka pergi ke sisi jalan dan masuk sebuah bar bernama Parpoo. Kau bisa mendengar daun jendela turun di semua toko di jalan, satu per satu.

Setelah beberapa saat, kulihat ada seseorang yang mendekat di arkade, ternyata Mitsuyo-san, dengan beberapa temannya. Aku mencari tempat untuk bersembunyi. Sebagian besar toko tutup, dan semua arkade menyala. Hanya ada satu tempat untuk dikunjungi: Parpoo. 

Di dalam bar seseorang menyanyikan lagu karaoke. Mama-san (germo) berkata, “Bukankah kau Noriyuki-kun, kemarilah, apa kau sendirian?” Semua orang mengenalku di lingkungan itu karena mamaku ialah kepala asosiasi pedagang lokal. Aku duduk di meja dan memesan jus jeruk. Aku tidak bisa meminum alkohol.

Tiba-tiba Sakuma Kyoko memperhatikanku. Bibirku mulai bergetar. Dia berjalan dengan mata sipit. Rasa gemetar menyebar ke seluruh tubuhku. 

“Bukankah kau anak muda dari apotek?” 

Aku mengangguk. 

“Kau sendirian di sini?” 

Aku mengangguk lagi, suaraku hilang. 

“Apakah kau sering ke sini?” 

Aku menggelengkan kepala. Parfumnya sangat kuat. Celana kulitnya begitu ketat di pinggangnya. Ya Tuhan, kulit itu. Aku tidak bisa menangani kulit. 

“Mau jadi anak nakal malam ini, ya?” 

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menatap matanya. 

“Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?” 

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Orang-orang yang bersamanya berkata, Apa yang terjadi, siapakah itu? 

“Ayo, mari kita minum bersama.”

Dia meraih lenganku. Aku hampir terjatuh dari bangku. Aku seperti seseorang yang sedang tidur sambil berjalan. Pikiranku benar-benar kosong. Aku terhuyung-huyung ke mejanya.

“Ini adalah pemuda dari toko tempat aku membeli kosmetikku.” 

Aku berdiri di sana dengan mulut ternganga dan menundukkan kepala kepada semua orang. 

“Biarkan aku memperkenalkan teman-temanku. Ini si anu, dia menjalankan sebuah butik kecil favorit di Kichijoji.” 

Senang bertemu denganmu, kata wanita itu. 

“Dan wanita muda ini bekerja untuknya. Aku kira kau akan memanggilnya peragawati rumahan? Dia bukan hanya seorang pramuniaga, kau lihat, dia terlalu sering memodel pakaian. Bukankah dia manis sekali?”

Gadis itu menyentak dagunya ke arahku dan merengut. Dia hanya ingin aku tidak berada di sana. 

“Dan ini adalah pemilik toko kue di sebelah butik.” 

Wanita ini memberikanku senyuman lebar palsu. Orang-orang di lini bisnisnya selalu tersenyum kepada orang gendut. Ini sesuai dengan pekerjaannya. 

“Dan ini adalah pacar kita — ha-ha! Mereka berdua instruktur di Seibu Sports Center, di mana kita semua belajar ski dan tenis. Dan aerobik.” 

Kedua pria itu adalah yang terburuk. Mereka tinggi dan cokelat dan langsing dan memiliki kaki panjang dan jari-jari panjang yang sensitif. Mereka jauh lebih tampan daripada tokoh-tokoh di Popeye. Mereka menatapku seperti mereka tidak kenal siapa aku, tetapi setidaknya aku gemuk dan jelek, itu cukup bagus untuk membuat mereka tertawa. Oh, lihatlah di mata mereka. Seperti kuda jantan di peternakan sedang menonton babi yang akan disembelih. 

“Apakah kau seorang mahasiswa?” Salah satu dari mereka bertanya. Aku melihat ke bawah dan hanya menggelengkan kepala. Sakuma Kyoko menjawab untukku.

“Dia masih SMA, bukan?” 

“SMA? Kau sangat besar untuk siswa SMA.” Pejantan itu tidak akan membiarkannya berlalu. “Berapa usiamu?” 

Delapan belas, aku berbohong. 

“Kau bercanda, kan? Kau terlihat lebih dari dua puluh tahun.” 

Dia minum Chivas Regal. Tangannya yang bebas ada di pundak Sakuma Kyoko. 

Aku tidak minum, tetapi aku tahu Chivas Regal. Ini adalah kisah menyedihkan. Meskipun Mama adalah putri dari juragan besar tanah, dia benar-benar orang yang pelit. Yang dia tahu hanyalah bekerja, tetapi tahun lalu dia akhirnya pergi ke luar negeri untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia pergi ke Hong Kong dan Singapura. Itu cukup menyedihkan dengan sendirinya, tetapi bagian terburuknya adalah dia membawa pulang tiga botol Chivas Regal untuk diberikan kepada papaku pada hari ulang tahunnya besok. Papa menghabiskan satu botol pada hari yang sama. Keesokan harinya dia dan teman-teman mahyongnya menghabiskan yang satunya, dan yang terakhir dia minum dengan penari telanjang di apartemennya. Itulah yang aku ketahui tentang Chivas Regal. Kedua pejantan itu duduk dengan tangan di bahu para wanita yang wanginya begitu kuat hingga membuatku pusing, dan dengan tenang meminum wiski menyedihkan itu.

“Kau terlihat sangat menyedihkan untuk pemuda tajir,” kata peragawati itu. “Tidak bisakah kau bicara? Mengatakan sesuatu?” Dia seperti gumpalan besar ... kedengkian, ah, kata itu. Aku menundukkan kepalaku dan membungkukkan bahuku. 

“Hei!” katanya. “Ceritakan kepada kami suatu lelucon, jangan cuma satu.”

Kemudian dia tertawa, sangat keras. Mereka semua tertawa. Aku merasa seperti ingin muntah. Jantungku begitu berdebar, dan air mata mengalir di mataku.

“Kau tidak minum?” 

Aku menggelengkan kepala. 

“Kalau begitu, mengapa kau berada di sini? Ada jus jeruk di mesin penjual otomatis di luar.” 

Semua orang tertawa lagi. Itu membuatku marah. Aku akan minum bir, kataku, dan mereka bersorak. Aku minum bir untuk pertama kalinya dalam hidupku. Hal berikutnya yang kuingat adalah memegang mikrofon dan berdiri di depan layar karaoke. Seluruh tubuhku mati rasa, bahkan otakku. Rasanya seperti berada di dalam tengah mimpi, tapi bukan mimpi yang buruk. Aku menyanyikan Wine-Red Heart. Aku menatap tepat ke arah Sakuma Kyoko ketika bernyanyi. Kulihat ekspresinya perlahan berubah. Ketika aku menyelesaikan bait kedua, dia berjalan ke arahku. Sudut matanya lebih sipit dari biasanya, dan pipinya berkedut. Dia mengambil mikrofon dan mematikan musik. Seluruh bar menjadi sunyi.

“Kau, kan,” katanya. 

Aku hanya berdiri di sana dengan mulut menganga. 

“Kaulah yang meneleponku.” 

Aku menutup mulut dengan tangan, tetapi sudah terlambat. Dia menampar wajahku dengan keras. Itu menimbulkan suara gaduh. 

“Kau seharusnya malu dengan dirimu sendiri! Apakah kau tahu apa yang telah kulewati? Aku punya anak kecil di rumah! Aku—Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan? Hal pertama, besok aku akan memberi tahu ibumu! Aku punya rekamannya, aku akan membuat dia mendengarkannya. Apakah kau mengerti?”

Dia meninggalkan bar bersama teman-temannya. Seluruh dunia bergeser di depan mataku. Tiba-tiba semuanya pergi menjauh. Rasanya seperti melihat melalui ujung teleskop yang salah. Aku sendirian. Di sana, di depan mama-san dan semua pelanggan lainnya, aku menangis.

Ketika aku menangis, aku jadi ingat banyak hal. Aku ingat bagaimana sehabis papaku memukuliku, Mama akan menaruh obat luka dan memar, dan bagaimana dia biasa membelikanku barang-barang. Dia membelikanku sepeda dan mainan mobil dan sarung tangan bisbol dan buku bergambar. Dan dia membawaku ke toko buah baru di depan stasiun dan membiarkanku makan semua manisan yang kuinginkan. Aku mulai berteriak, Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! dan berlari keluar.

Kata-kata Sakuma Kyoko berputar di dalam kepalaku. 

Besok 

Besok 

Besok aku akan memberi tahu 

akan memberitahu 

akan memberi tahu ibumu 

ibumu 

ibumu 


Aku pulang ke rumah dan berjalan-jalan di halaman untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pergi ke garasi dan mengambil kunci Inggris berukuran besar yang kami gunakan di truk.

Aku mulai berjalan perlahan dan kembali ke jalan. Aku bertemu dengan seorang polisi yang kukenal sedang naik sepeda, pemuda yang selalu datang ke toko kami untuk membeli tonik rambut Vulcan. 

“Hai! Kau mau pergi ke mana?” 

Ke rumah teman. 

“Apa itu yang kaubawa?” 

Kunci Inggris. 

“Oh, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” 

Temanku mau meminjamnya. 

“Oke, jangan memukul siapa pun dengan benda itu!” 

Kau tidak mengenakan Vulcan-mu? 

“Aku tidak memakainya saat sedang bertugas.” 

Aku tersenyum ketika kami berbicara. 


Itu tidak tepat untuk seorang wanita dengan mata cantik seperti Sakuma Kyoko membuat wanita jelek seperti Mama menangis. Jika aku begitu istimewa, berarti aku bebas untuk memperbaiki hal-hal yang salah. Aku berdiri di pintu kondominium dan membunyikan bel. Suaminya menjawab. Aku memberi tahu namaku kepadanya. Aku berkata, aku datang untuk meminta maaf. Dia memiliki rantai di pintunya, tapi dia menempelkan wajahnya di sela-selanya dan berteriak, Pergi sana, Bangsat! Aku menanamkan kunci Inggris di wajahnya. Aku tak tahu kalau wajahnya begitu lembut. Aku bertanya-tanya, apakah kekuatan superku telah diaktifkan seperti Ultraman? Rantai itu putus juga ketika aku memukulnya. Dia berbaring telungkup di lantai. Aku memukul bagian belakang kepalanya hingga seperti semangka yang hancur. Kedua anak kecil itu menonton dengan sikat gigi di mulut mereka. Kepala mereka bahkan lebih lembut. Kedengarannya seperti menginjak lumpur.


“Berhenti di situ. Ini adalah bagian yang tidak saya mengerti. Mengapa Anda tidak memukul wanita itu juga? Kenapa Anda malah menghancurkan televisi?”

Sakuma Kyoko merangkak di ruang tamu dengan piyama merah muda dengan mulut terbuka, membuat suara cegukan di tenggorokannya. Saat itulah aku mendengar suara itu. Lari, Takahashi! 

Program Pro Baseball News sedang tayang di TV. Mereka menampilkan cuplikan-cuplikan penting dari permainan pramusim antara Carp dan Braves. Kobayakawa mendapat pukulan dan Takahashi Yoshihiko sedang di putaran ketiga. Kala itulah suara itu berteriak, dan ketika aku mendengarnya, aku pun mengerti segalanya. Aku mengerti mengapa orang-orang mengolok-olok diriku dan mengusikku. Itu karena aku gendut dan lambat dan bodoh.

Kembali ke Zaman Batu, kita semua adalah pemburu, tetapi orang-orang sepertiku terlalu kikuk untuk menangkap permainan apa pun, jadi semua orang merisak dan menghindari kami. Zaman Batu berlangsung selama beribu-ribu tahun, jadi kita masih memiliki ingatan di dalamnya. Mereka bilang kita semua sama sekarang, tapi itu tidak benar. Kenangan itu adalah alasan mengapa orang-orang seperti Mama dan aku selalu menjadi sasarannya.

Takahashi tampak berlari begitu indah, itu membuatku merinding. Takahashi, Carl Lewis, John McEnroe, orang-orang seperti itu, membuat kau merasa senang hanya menyaksikan mereka berlari. Itu karena mereka yang dulu memasok semua daging untuk kita. Ingatan itulah yang membuat kita bahagia. Aku mengabaikan Sakuma Kyoko merangkak di lantai yang mencoba melarikan diri, dan menghancurkan televisi. Aku merasa seperti sedang menghancurkan seluruh dunia. 


“Tapi mengapa televisi? Apakah Anda masih menolak untuk menjelaskannya?” 

Mungkin hanya aku yang bisa memahaminya. Aku bertanya-tanya siapa orang yang berteriak, “Lari, Takahashi!” Itu terdengar seperti suara wanita. Sakuma Kyoko tidak dalam kondisi untuk berteriak atau apa pun. Mungkin itu adalah penonton di pertandingan bisbol di TV. Atau mungkin itu aku sendiri, entahlah. Namun, mengapa suara wanita? Mungkin aku lebih membingungkan daripada yang aku sadari....
Read More
Jika tidak sengaja bertemu dengan kawan lama di suatu tempat, kira-kira apa yang akan pertama kali kamu ucapkan? Apakah menanyakan kabarnya (Apa kabar lu? Sehat?), mengomentari fisiknya (Kok lu berubah gendut/kurus gini?), atau memberi pujian terhadap penampilannya (Gila, lama enggak ketemu jadi makin keren nih)? Dari pengalaman saya yang sudah-sudah, pertanyaannya pasti tidak jauh dari hal itu. Mungkin pertanyaan itu cuma basa-basi yang sudah basi.

Belum lama ini, Raka Bagoy, teman masa kecil yang dulu tinggalnya hanya sepuluh langkah dari rumah saya dan kini pindah ke Serpong, berhasil mematahkan stigma itu. Dia justru bertanya, “Kamu lagi seneng dengerin musik apa, Yog?” ketika kami tidak sengaja berjumpa di Stasiun Jurangmangu. Saya awalnya kaget juga ketika bahu ditepuk oleh orang asing dan langsung bertanya begitu. Ini agak menyedihkan memang. Dia bisa langsung mengenali wajah saya, sedangkan saya mengernyitkan dahi sembari berpikir siapa orang ini?

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/music-headsets-listening-to-music-3472184/


“Kamu lupa? Aku Raka,” ujarnya. “Temen masa kecilmu dulu.”

“Raka?” tanya saya, seraya berusaha mengingat-ingat semua kawan masa kecil yang jumlahnya bisa dihitung jari.

“Iya, yang dulu ngerusakin mainan Ultraman punyamu. Kepalanya copot karena enggak sengaja aku injek. Terus kamu nangis, dan kamu getok kepalaku pake mainan itu. Akhirnya, aku nangis juga.”

“Ya Allah, Raka. Iya, iya, gue inget. Gue kira tadi tukang hipnotis.”

Kami kemudian tertawa. Entah untuk mentertawakan lelucon saya, atau masa kecil yang konyol itu.
Read More
Oleh Ryu Murakami. Diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Ralph McCarthy.

sumber gambar: https://www.preining.info/blog/2017/02/ryu-murakami-tokyo-decadence/


*

“Setiap kali saya menafsirkan pengakuan Anda, ada satu hal yang saya tidak mengerti: Mengapa Anda tidak membunuh wanita itu?”

Jaksa menanyakan kepadaku tentang ini. Selalu sama, selalu pertanyaan yang sama. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Pengacara tua botak—yang ditunjuk pengadilan itu telah menanyakannya seribu kali. Dia bilang jika aku bisa menjelaskannya, hukumanku mungkin lebih ringan. Tapi, tidak ada satu pun yang akan mengerti. Bagaimana mungkin? Aku sendiri saja tidak begitu mengerti. 

“Apa motif Anda untuk tidak membunuhnya? Itu cara yang aneh untuk mengatakannya, saya tahu, tapi ... seandainya Anda bisa mencoba menjelaskannya lagi.”

Aku tidak begitu suka jaksa ini. Entah kenapa. Mungkin dia mengingatkanku kepada pamanku. Pamanku adalah satu-satunya orang yang baik kepadaku. Dia biasa memberiku tumpangan di belakang skuternya ketika dia menjadi seorang penjual deterjen. Itu salah satu kenangan terindahku.

“Baiklah, mari kita mulai dari awal sekali lagi, mengonfirmasi ulang fakta-fakta, dan jika Anda memiliki informasi baru, pastikan untuk memberi tahu kami. Siap?” 
Read More
Saya kerap merasa kalau selama ini baru sedikit sekali membaca karya asing. Mengingat bacaan yang sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini masih sangat terbatas—begitu pula dengan keuangan saya, saya jadi ingin mencari alternatif dengan membaca e-book alias buku-el. Lalu, buku-buku luar negeri yang saya baca selama ini kebanyakan penulisnya adalah seorang laki-laki. Sepertinya saya jarang sekali membaca tulisan perempuan. Yang pernah saya baca dan menempel di kepala palingan hanya J. K. Rowling, Agatha Christie, dan Harper Lee. Untuk menyebutkan lima orang saja, saya masih belum mampu. Culun banget referensinya. Sekitar setahun silam, akhirnya saya berkenalan dengan tulisan Lydia Davis.

Menengok profil singkatnya di Wikipedia, Lydia Davis (lahir 15 Juli 1947) adalah seorang penulis Amerika yang terkenal karena karya-karya sastranya yang sangat singkat, biasanya disebut flash fiction atau fiksi kilat.

sumber: http://criticalflame.org

Berhubung belakangan ini saya juga sedang belajar bahasa Inggris, kayaknya membaca cerita-cerita ringkas Tante Lydia (sok akrab tai) bisa menjadi latihan awal untuk membaca karya asing, sambil sesekali menerjemahkannya. Saya baru sempat menggarap lima cerita yang benar-benar pendek. Itu pun yang sekiranya saya mengerti kisahnya. Ternyata susah juga, ya.

Mengalihbahasakan tidak sekadar memindahkan tulisan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Saya mesti bisa menceritakan ulang sesuai gagasan asli penulisnya. Dalam hal ini tentu saja akan ada bagian yang hilang, misalnya, permainan kata. Coba lihatlah kata cry, dry, dan try (begitu juga dengan kata kerja yang masih berlangsung alias mendapatkan tambahan -ing), saya tidak bisa mengubahnya ke bahasa Indonesia dengan bunyi yang sama semacam itu. Apalagi kalau kemampuan sang penerjemah (baik menulis maupun menguasai bahasa asing) masih payah. Tapi biar bagaimanapun, inilah terjemahan suka-suka hasil keisengan saya. Semoga enggak buruk-buruk amat.


Apa yang Dia Ketahui

Orang-orang tidak tahu apa yang dia ketahui, bahwa dirinya bukan benar-benar seorang wanita tapi seorang pria. Sering kali menjadi pria gemuk, tetapi lebih sering, mungkin, seorang pria tua. Fakta bahwa dia adalah seorang lelaki tua membuatnya kesusahan untuk menjadi seorang wanita muda. Sulit baginya untuk berbicara dengan seorang pemuda, misalnya, meskipun pemuda itu jelas tertarik kepadanya. Dia harus bertanya kepada dirinya sendiri, Mengapa pemuda ini menggoda lelaki tua ini?


Di Rumah yang Terkepung

Di sebuah rumah yang terkepung, tinggal seorang pria dan seorang wanita. Dari tempat mereka meringkuk di dapur, pria dan wanita itu mendengar ledakan kecil. “Angin,” kata wanita itu. “Pemburu,” kata pria itu. “Hujan,” kata wanita itu. “Tentara,” kata pria itu. Wanita itu ingin pulang, tetapi dia sudah di rumah, di tengah-tengah negara di sebuah rumah yang terkepung.


Sebuah Kisah yang Diceritakan oleh Temanku

Salah seorang temanku menceritakan kepadaku sebuah kisah sedih tentang tetangganya. Dia telah memulai surat-menyurat dengan orang asing melalui layanan kencan online. Temannya tinggal ratusan mil jauhnya di North Carolina. Kedua lelaki itu saling bertukar pesan, lalu foto, dan segera mengobrol panjang-lebar. Awalnya secara tertulis dan kemudian melalui telepon. Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak minat yang sama, yang serasi secara emosional dan intelektual, merasa nyaman satu sama lain dan secara fisik tertarik satu sama lain, sejauh yang mereka ketahui di internet.

Minat profesional mereka juga dekat, tetangga temanku bekerja sebagai akuntan, sedangkan teman barunya—yang berada di selatan itu—seorang asisten profesor ekonomi di sebuah perguruan tinggi kecil. Setelah beberapa bulan, hubungan mereka tampak baik dan benar-benar saling jatuh cinta, dan tetangga temanku itu yakin kalau “inilah orangnya”, sebagaimana yang dia katakan. Ketika waktu liburan mulai tiba, dia mengatur jadwal untuk terbang ke selatan selama beberapa hari dan bertemu pacar internetnya.

Pada hari perjalanan, dia menelepon pacarnya dua atau tiga kali untuk berbicara. Kemudian dia terkejut karena tidak menerima jawaban. Di bandara dia juga tidak bertemu dengan pacarnya itu. Setelah menunggu di sana dan menelepon beberapa kali lagi, tetangga temanku meninggalkan bandara dan pergi ke alamat yang pernah diberikan pacarnya. Tidak ada yang menjawab saat dia mengetuk dan menelepon. Setiap kemungkinan terlintas dalam benaknya.

Di sini, beberapa bagian dari ceritanya hilang, tetapi temanku mengatakan kepadaku bahwa apa yang dipelajari tetangganya adalah, pada hari itu, bahkan ketika dia sedang dalam perjalanan ke selatan, pacar internetnya telah meninggal karena serangan jantung sewaktu berbicara dengan dokternya di telepon. Tetangga temanku, setelah mengetahui hal ini baik dari tetangga pria itu ataupun dari polisi, langsung pergi ke kamar mayat setempat. Dia diizinkan melihat pacar internetnya; dan begitulah di sini, berhadap-hadapan dengan seorang lelaki yang sudah mati, bahwa dia pertama kali memandang seseorang yang, dia telah yakini, akan menjadi teman seumur hidupnya.


Ibu

Gadis itu menulis sebuah cerita. “Tapi alangkah lebih baiknya jika kamu menulis sebuah novel,” kata ibunya. Gadis itu membangun rumah boneka. “Tapi betapa jauh lebih baik kalau itu adalah rumah sungguhan,” kata ibunya. Gadis itu membuat bantal kecil untuk ayahnya. “Tapi bukankah selimut akan lebih praktis,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang kecil di taman. “Tapi alangkah lebih bagusnya jika kamu menggali lubang besar,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang besar dan pergi tidur di dalamnya. “Tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu tidur selamanya,” kata ibunya.


Wanita Ketiga Belas

Di sebuah kota yang dihuni oleh dua belas wanita, sebenarnya ada yang ketiga belas. Tidak ada yang mengakui dia tinggal di sana, tak ada surat yang datang untuknya, tidak ada yang berbicara tentangnya, tak ada yang bertanya kepadanya, tidak ada yang menjual roti kepadanya, tidak ada yang membeli sesuatu darinya, tidak ada yang mengembalikan pandangannya, tidak ada yang mengetuk pintu rumahnya; hujan tidak turun kepadanya, matahari tidak pernah menyinari dirinya, siang tidak pernah menyadarinya, malam tidak pernah jatuh untuknya; baginya, minggu-minggu tidak berlalu, tahun-tahun tidak berputar; rumahnya tidak bernomor, kebunnya tidak terawat, jalannya tidak ada yang menginjak, tempat tidurnya tidak ditiduri, makanannya tidak dimakan, pakaiannya tidak dipakai; namun terlepas dari semua ini dia terus tinggal di kota itu tanpa membenci apa yang telah terjadi kepadanya.

--

Sepayah-payahnya saya dalam bahasa Inggris, syukurlah belum pernah menggunakan no father ataupun no what what.
Read More
Ada suatu masa ketika baru banget belajar menulis, saya entah kenapa sering membaca kutipan para penulis. Selain Hemingway (The first draft of anything is shit) dan Pramoedya (Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian—yang justru saya bikin pertentangannya di deskripsi blog), kebanyakan nama mereka sangat asing buat saya, bahkan saya juga tidak mencoba mencari buku-bukunya. Lalu dari sekian banyak petikan itu, ada satu yang selalu berhasil memantik semangat saya hingga saat ini:
A professional writer is an amateur who didn’t quit.” — Richard Bach
Mulanya, saya membuat blog ini hanya untuk jurnal. Mungkin niat itu pun masih belum berubah. Tapi seiring bergulirnya waktu, cara pandang saya sebagai penulis pun perlahan-lahan ikutan bergeser. Saya membutuhkan perkembangan dalam menulis. Saya enggak mau cuma begitu-begitu terus. Saya ingin menyajikan menu yang berbeda-beda di blog ini agar pembaca dapat memilih tulisan sesuai seleranya masing-masing. Sebagaimana bercinta, kita memang membutuhkan variasi gaya saat menulis agar tidak jenuh.



Pada dua tahun terakhir ini, saya pun telah mencoba bereksperimen dengan berbagai jenis tulisan. Memang, sih, tidak semuanya berhasil. Meskipun begitu, seenggaknya saya sudah berani menjajalnya. Kali ini, saya mau menulis ulang puisi kemarin, Aku Memang Tidak tahu Malu, dalam pelbagai bentuk baru.

Narasi 

Ia tiba-tiba merasa tidak ingin menulis puisi lagi ketika membaca ulang semua sajak di blognya. Hal ini terjadi beberapa menit setelah dirinya selesai membaca buku kumpulan puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Entah mengapa membaca karya bagus kerap membuatnya minder. Perasaan membanding-bandingkan pun muncul begitu saja. Kapan kira-kira ia dapat menulis puisi sehebat idolanya itu? Ia lantas berusaha meninjau ulang puisinya sendiri, dan mendapat kesimpulan: puisi-puisinya jelek semua. Para pembaca pun mungkin bingung, apakah harus sedih atau tertawa saat membaca rangkaian kata miliknya itu. Tidak ada satu pun puisinya yang bisa dinilai bagus, lebih-lebih spesial.

Ia semestinya cepat mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak berbakat menulis puisi. Apalagi saat mengingat kumpulan sajak yang ia kirimkan ke media tak ada yang berhasil tembus. Padahal ia juga sudah sempat mengeditnya, lalu mengirimkan ulang ke media lain. Hasilnya ternyata sama saja: penolakan.

Kadang ia jadi suka merenung dan bertanya-tanya, sebetulnya apa yang membuat puisi-puisinya ditolak? Apakah karena terlalu klise? Ataukah karena dirinya bukan siapa-siapa, sehingga pihak media tidak mungkin memuatnya? Sebab baik sajak maupun nama penulisnya sama-sama tidak menjual. Boleh jadi dugaan itu sangat egois karena luapan emosi. Mungkin mereka menolak karena puisi yang ia kirimkan belum memenuhi standarnya. Mungkin juga puisinya terlihat jelas mengekor beberapa penyair. Barangkali nama dan puisi-puisinya bisa bertengger di media lain selain blognya sendiri itu cuma khayalan bodohnya. Ia pun sedih harus menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat.

Tapi orang tolol terkadang memang tidak ada kapoknya. Ia kini malah mencoba melarikan diri dari realitas dengan menciptakan puisi baru. Ketika puisi itu selesai ditulis, rupanya muncul keraguan di dalam dirinya. Sajaknya ini masih sama buruknya dengan karya sebelum-sebelumnya. Ia langsung berniat menghapusnya saat itu juga. Ia pun menekan tombol Ctrl + a.

Kala jari tengahnya hampir menyentuh tombol Backspace, ada sesosok anak kecil—yang gemar bermain-main dan tidak kenal takut—di dalam tubuhnya yang segera mencegahnya. Katanya, menulis sajak itu bentuk mengekspresikan diri, bukan untuk mencari uang. Mengirimkannya ke media itu cuma sebuah keisengan. Jadi kenapa harus sedih ketika ditolak? Lebih baik menulis terus saja. Toh, kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti.

Kebimbangan yang biasa dirasakan oleh orang dewasa itu pun kalah oleh perkataan polos seorang bocah, hasil imajinasinya sendiri. Akhirnya, ia berusaha mengakhiri sajak itu dan menerbitkannya di blog sendiri—sebagaimana lazimnya. Kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia memang pecundang bodoh yang tidak tahu malu.


Dialog 

“Hei, kau kenapa terlihat bersedih?” 

“Karena aku baru menyadari bahwa puisi-puisi buatanku jelek semua.” 

“Siapa yang bilang begitu?” 

“Diriku sendiri.” 

“Jangan terlalu kejam dengan diri sendiri begitu dong. Enggak baik, tahu.” 

“Kenyataannya memang begitu, kok.” 

“Pasti ada penyebabnya, kan?” 

“Iya, aku tadi habis membaca kitab puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Tiba-tiba aku jadi ingin melihat kembali puisi-puisiku sendiri. Ternyata keterlaluan busuknya.” 

“Kau tidak perlu membanding-bandingkan begitu.” 

“Masalahnya, aku pernah mengirimkan puisi-puisiku itu ke media. Aku pun mendapatkan penolakan.”

“Coba lagi ke media lain. Buat lagi puisi lain.” 

“Sudah, hasilnya sama saja. Tak ada yang tembus.” 

“Kira-kira apa yang membuatmu ditolak, ya?” 

“Mungkin karena aku belum punya nama. Jadi, siapa coba yang mau membaca dan menikmati puisi-puisiku itu? Apalagi membayarnya.” 

“Intinya, kau mau menyalahkan selera mereka?” 

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku tadi hanya terbawa emosi. Aku yakin mereka punya standar sendiri untuk memutuskan mana yang layak terbit, mana yang tidak. Atau mungkin juga puisi-puisiku terlihat meniru penyair lain. Bisa dibilang emang karyaku itu yang jelek. Terbit di media lain selain blog sendiri kayaknya cuma mimpi bodohku saja. Nyatanya, tak ada tempat untuk tulisanku.” 

“Terus kau mau berhenti bikin puisi?” 

“Penginnya, sih, gitu. Anehnya, barusan aku malah menciptakan yang baru.”

“Nah, baguslah. Kau berarti tidak menyerah.” 

“Celakanya, puisi baruku itu jelek juga. Aku jadi ingin menghapusnya saja.” 

“Jangan!” 

“Kenapa?” 

“Kau selama ini bikin puisi niatnya untuk apa, sih? Buat cari uang? Menurutku, kau pasti punya niat lebih dari itu. Untuk alternatif ketika bosan menulis esai atau cerpen. Untuk bersenang-senang. Kau mengirimkannya mungkin karena ingin mendapatkan pembaca yang lebih luas. Bukan demi uang semata. Jadi, kumohon jangan berhenti menulis. Lanjutkan saja.” 

“....” 

“Kok diam? Apakah kau malu mengakui puisi barumu?” 

“Enggak, sebab aku memang tidak tahu malu.” 


Haiku 

Habis ditolak 
Malah lebih menggila 
Tak tahu malu 


Blurb 

Selalu ada dua reaksi setiap kali membaca karya bagus: Pertama, terinspirasi untuk bikin yang sama bagusnya atau lebih baik; kedua, akan memilih berhenti menulis karena sadar dengan kemampuan diri. Hal nomor dua itulah yang kini menimpa dirinya. Setelah membaca salah satu buku kumpulan puisi penyair idolanya, ia langsung merasa tak ingin lagi merangkai kata-kata. Konyolnya, kemarahan berlebih terhadap sajak-sajaknya yang keterlaluan jelek itu malah mengubah situasi menjadi 180 derajat. Ia pun menciptakan puisi baru sebagai pelampiasan. Tapi bagaimana kalau puisi itu sama buruknya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? 


Analisis Logika 

Membaca. 
Puisi. 
Karangan idola.
Mengevaluasi sajak-sajak ciptaannya.
Membenci diri sendiri. 
Memori tentang mengirim kumpulan puisinya ke media. 
Penolakan. 
Revisi. 
Kegagalan yang sama. 
Kemarahan dan menciptakan sajak baru. 
Keinginan menghapusnya karena jelek. 
Pencegahan dari dalam diri. 
Imajinasi anak-anak. 
Mencoba berdamai dengan diri sendiri. 
Penyelesaian tulisan dengan rasa malu tak tertahankan. 


Endorsement

Puisinya yang satu ini seperti bentuk kritik terhadap semua sajak ciptaannya. Bagi saya, ada dua jenis penulis: 1) Yang sangat memuja dan memuji kata-katanya sendiri; 2) Yang selalu membenci diri sekaligus hasil tulisannya. Yoga adalah yang nomor dua, tetapi entah kenapa malah berhasil membuat saya menyukai puisi-puisinya. Dia seakan-akan punya sihir tersendiri dalam setiap pemilihan katanya. —Agus Suhana, teman penulis merangkap sampah masyarakat. Dibayar 100.000 untuk komentar begini.

--

Tulisan ini berutang ide kepada buku Exercises in Style, Raymond Queneau.
Read More
Ketika daun jatuh tak ada titik darah. Tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih. -SS, puisi Nada Awal.


Pada Februari yang konon bulan penuh cinta ini, saya jadi ingin kembali mengisi blog akbaryoga dengan puisi. Meskipun puisinya cuma hasil salin-tempel dari blog sebelah (yang mungkin jarang orang tahu), setidaknya kala itu saya menciptakannya dengan segenap dan segelas rasa sayang. Halah. Semoga  sajak-sajak ini dapat meyejukkan hati para pembaca, sebab sebelumnya saya terlalu banyak sinis dan marah-marah. Tanpa berlama-lama lagi, silakan kunyah dan telan tiga sajak berikut ini. Lepehkan jika tidak suka. Dicaci-maki juga boleh, kok.





Maaf

Maafkan aku, Fa.
Seandainya hari bisa kembali mundur,
sebaiknya benang itu tak perlu kutarik dan ulur.
Mungkin hal itu hanya akan merusak suatu alur.

Semestinya sejak dulu aku sadar
akan sorot matamu yang selalu bisa berpendar
di setiap keberanianku memudar.
Namun, hari kemarin tak pantas lagi beredar.

Read More
Semalam ada seseorang yang tidak saya kenal mengirimkan DM (Direct Message) di Twitter. Berikut saya tampilkan pesannya dengan sedikit pengeditan supaya lebih enak dibaca.

sumber: https://pixabay.com/id/bulu-burung-musim-semi-kertas-2505306/


Hai, Yoga! Aku enggak tahu harus manggil kamu apa. Bingung mau pakai “Bang”, “Mas”, atau “Kak”. Menurutku kita masih seumuran (walau lebih tua kamu 1 atau 2 tahun), jadi aku panggil nama aja, ya? Maaf nih kalau aku sok akrab. Tapi gini-gini aku udah baca tulisanmu dari lama. Biarpun cuma silent reader, aku tetep pembaca setia blog kamu, Yog.

Tulisan kamu kenapa berubah jahat gitu? Ngeri aku bacanya. Di tulisan sebelum-sebelumnya kamu juga kayak ngeluh tentang kesedihan, kesepian, dan kematian gitu. Kamu baik-baik, kan? Nulis kayak biasanya lagi dong. Kayak dulu-dulu yang lucu dan ceria gitu.

Eh iya, aku boleh nanya, kan? Simbol K di foto profil Twitter-mu (yang pernah jadi gambar di tulisan Kenyataan atau Kebenaran di Balik Kisah Fiksi) itu artinya apa? Apakah K buat ketikyoga? Kesedihan? Kesepian? Atau kematian?

Aku kok ngerasa kamu akhir-akhir ini setiap menulis kayak lagi menjerit, tapi enggak ada orang yang mau dengerin. Kenapa aku bisa ngomong begini, karena aku juga sering kayak gitu. Setiap kali mau cerita, pasti jarang ada temen yang bisa jadi pendengar. Kalau kamu mau, aku bisa lho jadi tempat curhatmu.

Umm, apa lagi, ya? Udah deh, itu aja. Semoga kamu baik-baik. Jangan marah-marah dan sedih-sedih terus. Hehe. :)


Seusai membaca pesannya, saya langsung mengetik, Ini apa-apaan, sih? Kok ngatur-ngatur? K di situ artinya kont. Saya langsung menghapus kont yang belum selesai itu, lalu menggantinya menjadi kafir. Saya kembali menghapus, dan kata kafir pun berubah menjadi kebencian. Saya enggak tahu mau menambahkan kalimat apa lagi dan menunda mengirimkannya. Akhirnya, saya menghapus semua kalimat itu.

Sekarang sudah pukul setengah enam pagi. Saya belum tidur dari semalam. Begadang selalu membuat pikiran saya kacau. Sepertinya kondisi begini memang kurang baik untuk berkomunikasi. Apalagi dengan orang asing. Saya butuh istirahat. Saya pun menunda membalas DM tersebut. Lebih baik saya tidur. 

Enam jam kemudian saya terbangun. Saya membuka Twitter dan kembali mengecek pesan itu. Kini pikiran saya sudah lebih segar untuk merespons pesannya. 



Hai juga. Iya, bebaslah mau panggil saya apa. Panggil sayang juga boleh

Itu cuma lambang dari tempat saya bekerja dulu. Enggak ada maksud apa-apa. Saya bingung kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu. Ya, meskipun kadang-kadang saya juga suka menganggapnya sebagai sebuah simbol bagi diri sendiri, sih. Terlepas dari makna asli suatu media tempat saya bekerja dulu, K di situ bisa menjadi inisial username saya. Bisa seperti yang kamu tulis; kesedihan, kesepian, atau kematian. Bisa juga berarti keren. Kacamata. Kurus. Kangen. Kamu (sumpah, ini saya enggak lagi gombal. Kata kamu bisa merujuk siapa aja).

Boleh juga kayak slogannya presiden saat ini: Kerja, kerja, kerja. Terus bisa juga karya, konten, kreatif, kritik, keluarga, ketulusan, kebahagiaan, kekayaan, kepercayaan, kekuatan, kejujuran, keadilan, kebaikan, kejahatan, kebencian, kesalahan, kebodohan, kemunafikan, kebohongan, kepalsuan, kiamat, dan masih banyak lagi. Pokoknya, bebaslah mau dianggap apa sama kamu ataupun orang lain.

Alhamdulillah saya baik-baik aja dan enggak butuh teman cerita. Tapi makasih banget buat tawarannya. Kalau soal tulisan yang kamu anggap ngeri itu, saya emang enggak sebaik yang kamu pikir. Saya juga punya sisi jahat. :) 


Sebenarnya saya agak geli mengakhiri pesan itu dengan emoji senyum. Tapi mau gimana lagi, saya merasa perlu membalas senyumannya. Lagian, senyum itu ibadah, kan? Meskipun penempatan senyum setelah kata jahat itu justru bikin saya terlihat kayak psikopat.

Saya entah mengapa masih mengantuk, padahal sudah tidur lumayan lama. Mungkin ini faktor hari Minggu sehingga membuat saya ingin bermalas-malasan saja. Saya pun menaruh ponsel dan berusaha tidur lagi. Tidak sampai sepuluh menit memejamkan mata, ponsel saya berdering. Saya hafal bunyi itu. Notifikasi Twitter. Ketika saya lihat, ternyata itu pesan balasan darinya. Mau dia apa, sih? Saya sudah malas membuka dan memilih mengabaikannya. 

Kala itu juga saya tiba-tiba memikirkan pesan dia sebelumnya. Saya betul-betul tidak mengerti, kenapa dia menilai bahwa tulisan Kumpulan Kalimat Jahanam itu mengerikan? Seram di bagian mananya? Apa karena saya tampak sedang marah-marah saat mengkritisi suatu hal? Apakah tidak boleh memaki hal-hal yang enggak kita sukai? Apa kita mesti terlihat baik melulu? Harus selalu bahagia dan tidak usah menunjukkan kesedihan? Toh, tulisan itu sudah dua atau tiga bulan silam. Itu pun saya telah memolesnya sedikit agar bisa lebih halus. Intinya, kemarahan itu sudah lewat. 

Sementara itu, dia malah meminta saya menuliskan cerita-cerita yang ceria dan lucu baginya. Saya pun ingin bertanya kepadanya, apa benar tulisan-tulisan saya yang dulu itu dapat menghibur dirinya? Apakah kini tulisan saya sudah tidak menyenangkan lagi? Kalaupun dia merasa tulisan-tulisan lama saya kocak, itu berarti sama saja dia mentertawakan kesialan atau kepahitan hidup saya. 

Lantas, apa bedanya dengan yang sekarang? Saya juga masih menuliskan cerita-cerita yang serupa seperti dulu. Hidup saya belum banyak berubah. Hidup yang berengsek dan memble ini masih saya coba tuliskan penderitaannya (terkadang diolah menjadi fiksi), lalu mentertawakannya. Tujuan menulisnya pun tidak jauh berbeda: saya jadikan bahan olok-olok ketika suatu hari nanti membaca ulang ceritanya. Saya memang gemar menyulap derita menjadi cerita. 

Anehnya, kenapa dia protes agar saya menulis kayak dulu, ya? Apa karena saat ini balutan kisahnya berubah lebih gelap?

Namun biar bagaimanapun, saya tetap terharu membaca pesannya. Kenapa dia bisa sepeduli itu dengan saya? Saya pun sedikit merasa bersalah terhadapnya. Lebih-lebih ketika dia telah mengulurkan tangan, tapi saya justru menolak pertolongannya. Saya tahu, saya sudah berbohong tentang diri yang baik-baik maupun tidak butuh teman cerita itu. Tapi saya hanya ingin menutup diri (khususnya dari orang-orang yang belum tentu dapat saya percaya), dan terus meyakinkan diri ini baik-baik saja—secara tidak langsung saya berusaha mendoakan diri sendiri. 

Sejujurnya, keadaan saya memang baik. Walaupun ada hal-hal yang terasa getir dalam hidup, saya telah berupaya membuang segala hal buruk itu dengan menulis. Mengetahui kalau tulisan saya masih jauh lebih busuk daripada hidup yang sedang dijalani, rupanya sungguh ampuh untuk mengurangi beban itu.

Konon, menulis merupakan salah satu terapi yang mudah dan murah. Di blog satunya, saya pun membuat slogan: menulis untuk terapi jiwa. Ya, biarpun pada kenyataannya jiwa saya masih saja penuh kebencian. Boleh jadi kegiatan ini tidak sepenuhnya bisa menyembuhkan saya. Saya tidak begitu peduli. Setidaknya, saya bisa sedikit lebih lega dan bahagia melampiaskan kemarahan dengan menulis—baik itu berbentuk esai, cerpen, atau puisi. Bukan dengan membanting benda-benda, menjotos orang lain, atau memakan harta anak yatim.

Berbicara soal melampiaskan kemarahan dengan menulis, saya jadi teringat wawancara Seno Gumira Ajidarma saat beliau membicarakan Saksi Mata, buku kumpulan cerpennya tentang Timor Timur. Dalam interviu itu, Seno bertanya kepada salah seorang temannya, “Apakah tidak apa alasan saya menulis karena marah?” Lalu temannya menjawab, tidak apa, karena yang penting hasilnya.  

Akhir kata, jika si pengirim pesan betulan rutin membaca tulisan-tulisan saya, kemungkinan dia juga akan membaca tulisan ini. Anggap saja ini balasan pesan dia berikutnya—yang belum sempat terbaca dan telah saya hapus. Saya sudah masa bodoh akan dinilai apa dan bagaimana olehnya, juga pembaca lainnya. Yang penting setelah ini dia bisa paham, bahwa saya memang tidak sebaik kelihatannya. Lagi pula, apa itu baik? Kata itu terdengar seperti suara kentut sehabis bangun tidur setiap kali saya begadang. Mungkin simbol K itu bisa melambangkan kentut. Bisa pula bermaksud kemarahan. Atau paduan keduanya: kentutnya orang marah.

--

PS: Tafsir huruf K dalam tulisan ini hanya gurauan semata dan tidak ada maksud apa-apa dengan simbol asli media itu.
Read More
...yang tadinya mau dijadikan twit berutas, cuma saya terlalu malas mendapatkan respons atau takut viral menimbulkan konflik.

sumber: https://pixabay.com/id/kematian-kegelapan-gelap-hood-164761/


Saya sebisa mungkin memendam kemarahan dan tak ingin menunjukkannya ke khalayak. Cerobohnya, entah mengapa ada satu twit yang bisa-bisanya lolos dan terpublikasi: “Beberapa bloger terlalu takut bilang tulisan temennya sendiri jelek. Pujian-pujian palsu telek wedhus (tahi kambing). *dibajak Holden Caulfield.” 

Efek membaca ulang novel J. D. Salinger, The Catcher in the Rye, saya jadi terpengaruh gaya naratornya, Holden Caulfield—seorang anak muda yang muak dengan kepalsuan. Kala itu saya baru saja jalan-jalan ke blog orang lain. Dari sekian banyak blog yang saya kunjungi itu, mayoritas berbentuk cerita keseharian dan perjalanan. Lalu, saya akhirnya mendapati satu orang yang membuat cerpen. Berhubung saya anaknya jarang menemukan bloger yang senang menulis fiksi, saya jadi memandang blog itu berbeda, dan malah memasang harapan yang tinggi untuk tulisannya. Menurut saya pembukaan cerpennya lumayan asyik, tapi di pertengahan dan menuju akhir cerita penulisnya seperti kehabisan napas. Ceritanya mendadak jelek, mungkin karena terburu-buru dan minim pengeditan.

Biarpun ada rasa gatal ingin komentar ini-itu, saya memilih diam dan berusaha memaklumi. Tulisan saya sendiri juga belum bagus dan terkadang masih suka begitu. Namun, saya jengkel bukan main melihat komentarnya yang penuh pujian. Entah karena sebagian orang malas mengkritik atau itu hanya komentar basa-basi. Yang saya tahu selama ini, mengomentari hal-hal buruk di kolom komentar yang dapat dilihat banyak orang memang kurang etis atau agak gimana gitu. Jika mau memberi masukan, lebih enak disampaikan secara pribadi. Ya, meskipun sejujurnya kadang-kadang jari-jari saya sulit dikontrol dan kelepasan, sih. Baguslah belakangan ini saya bersikeras menahan diri.

Memberikan pujian (sekiranya ada yang bagus) atau mengomentari bagian yang relevan dengan kita, kayaknya akan terasa lebih menyenangkan bagi penulis maupun pembaca. Tapi, bagaimana kalau tulisannya kelewat hancur dan sama sekali tidak ada bagian yang bisa dikomentari, dan kita tetap memberikan komentar dengan terpaksa? Bukankah itu palsu?

Kalau saya ingat-ingat lagi, hal-hal semacam itu kayaknya sering terjadi di kolom komentar blog. Khususnya, pujian-pujian norak yang justru menunjukkan sang pemberi komentar ini masih miskin referensi dalam membaca. Contohnya, saya pernah membaca puisi yang membawa-bawa Tuhan atau agama atau sejenisnya secara terang-terangan. Komentarnya pun otomatis positif semua. Apakah beberapa penulis dan pembaca melihat hal itu bagus, bikin ingat dosa, dan ‘wah sekali’?

Bagi saya, terus terang saja, itu menyedihkan. Diksi di puisinya biasa banget—cuma ketergantungan kata Allah, Rabb, Tuhan, Nya, sujud, tahajud, dst. Formula untuk menggaet pembaca agar mereka bilang bagus, kan, tidak melulu harus menjual agama. Ini mengingatkan saya kepada film-film Indonesia yang menjual air mata. Cara mereka berdagang keterlaluan payah. Mereka mengandalkan kekuatan salah satu tokohnya yang taat beribadah, dan ketika cerita bergulir biasanya tokoh itu mendapatkan cobaan terkena penyakit kanker atau semacamnya. Semua itu dibuat hanya demi bikin penonton menangis, ingat neraka, dan jadi pengin insaf. Seolah-olah tidak ada hal lain yang dapat membangun suasana muram, sehingga penontonnya bisa ikutan bersedih dan berempati. Oleh sebab itu, saya pun jadi menyimpulkan kalau masih banyak orang yang belum memahami mana tulisan bagus, biasa saja, dan jelek.

Eka Kurniawan kira-kira pernah bilang begini dalam salah satu esainya, “Suka dan enggak suka itu masalah selera, tapi bagus dan jelek harus ada ukurannya.” Saya suka tulisan-tulisan Eka Kurniawan. Bisa dibilang tulisan Eka termasuk ke dalam selera bacaan saya. Berhubung Eka sendiri yang mengatakan perihal selera dan ukuran begitu, saya pun jadi harus menilai sekaligus mengakui bahwa di buku kumcer Kumpulan Budak Setan, tulisan Eka biasa banget dan justru yang paling jelek dibandingkan Ugoran Prasad atau Intan Paramaditha (kamu juaranya, Intan!).

Ini baru satu twit yang saya coba kembangkan. Saya masih menyimpan beberapa di draf yang rasanya berat untuk ditampilkan—atau barangkali akan saya hapus saja demi kebaikan. Entah mengapa ada masanya saya bisa jahat sekali di bidang tulis-menulis (dunia yang saya coba benci, padahal jauh di lubuk hati selalu tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa sangat mencintainya). 

Semakin ke sini, seseorang di dalam diri saya selalu menuntut lebih. Meminjam kalimat dari Mas Yusi Avianto di salah satu wawancaranya, saya butuh tulisan yang menantang kepenulisan saya. Saya bingung apakah ini termasuk menutup diri atau bukan, tapi saya mulai memisahkan bacaan-bacaan saat membaca buku maupun blogwalking; mana tulisan yang memang perlu saya baca untuk dipelajari, mana yang bisa buat merenung; mana yang sekadar hiburan atau senang-senang atau mencari informasi, mana yang cuma membuang-buang waktu alias enggak usah dibaca.

Saya sudah bertambah tua, sudah jengah dengan kebohongan-kebohongan semacam itu. Saya tidak ingin lagi terpaksa saat membaca tulisan orang. Dalam setahun terakhir ini, saya membaca (lebih-lebih meninggalkan komentar) ketika saya mau saja, bukan karena tidak enakan dan berharap mereka gantian mengunjungi blog saya.

Satu hal yang paling bikin muak: berulang kali saya melihat tulisan berbayar yang komentarnya diisi oleh orang-orang yang juga mengambil tawaran kerja sama itu. Saya menduga hal itu agar mereka terlihat baik di mata klien. Supaya sama-sama ramai blognya, sehingga klien akan mengajak bekerja sama kembali di kemudian hari. Mungkin itu sah-sah saja dan bukan masalah krusial. Mereka kan menggantungkan pemasukan alias cari duit dari blog. Yang jelas saya heran, kok ada orang yang sampai mengemis minta klik dan komentar, ya? Sekali-dua kali, okelah. Jika lebih dari itu? Sumpah, itu kayak orang yang enggak punya integritas.

Setelah mengetik semua ini, saya sepertinya harus siap dengan segala kemungkinan terburuk: 1) Tidak lagi mendapatkan tawaran kerja sama di blog; 2) Teman-teman dan pengunjung semakin berkurang; 3) Gantian dihina. Ah, peduli setan dengan semua itu. Hahahahanjing.

Tertanda, 

Alter ego jahanam—yang seharusnya kejam saat menyunting tulisan-tulisanmu, bukan malah menggerutu begini, 

Adhityo Yongkuharu

-- 

Berhubung sedang tidak ada kegiatan, saya jadi mengubrak-abrik draf lama. Saya sudah lupa kapan membuat tulisan barusan. Jika dilihat dari tanggal dokumennya sih, enggak lama sehabis bikin twit di pembukaan itu. Sesungguhnya, saya tidak bermaksud menyerang individu atau kelompok mana pun. Saya juga enggak iri sama penghasilan mereka, sebab rezeki sudah ada jalurnya masing-masing. Seandainya ada yang tidak terima dan sakit hati saat membacanya, anggaplah ini sebuah kritik dari saya. Sebagaimana penulis yang konon mendapatkan ide dari keresahan, saya bikin tulisan ini karena resah sama kepalsuan-kepalsuan tahi kambing itu. Saya pun sebenarnya tidak ingin berbuat bengis dan menampilkan tulisan seperti ini (apa untungnya buat saya, sih?), tapi rasanya sayang kalau sampah ini dibuang. Jadi, saya sengaja taruh di blog buat pengingat dan menghancurkan diri sendiri.

Bonus twit yang masih di draf: “Saya sedih melihat tulisan-tulisan berbayar yang dikerjakan secara sembrono. Mereka kerap mendapatkan tawaran kerja sama karena blognya punya DA/PA bagus, serta banyak pengikut di media sosialnya doang kali, ya? Kualitas tulisan mereka sungguh ampas. Cobalah untuk memperbaikinya dan buat tulisan jadi lebih rapi. Enggak usah menyangkal dan menyalahkan tenggat ketika tulisanmu buruk, itu kan sudah konsekuensi dari pekerjaan. Jangan mau duitnya aja, Bangsat!”
Read More
Kamu bebas menganggap apakah tulisan-tulisan di blog ini aslinya berbentuk fiksi atau kenyataan. Sebagaimana gagasan Ronald Barthes yang terkenal di kalangan penulis bahwa pengarang telah mati setelah karyanya dilepas ke media, saya tentu saja tidak mau melarang-larang pembaca menafsirkan setiap cerita yang telah saya buat. Tapi saat ini saya perlu bangkit dari kubur, atau setidaknya saya ingin menempatkan diri sebagai pembaca dan menggugat diri saya sendiri. Khususnya di tulisan sebelumnya: cerpen Aku Ingin Menyusul Kepergian Kakak



Jika pembaca itu sudah mengenal saya secara dekat, dia pasti paham bahwa cerita itu hanyalah fiksi, sebab saya adalah anak pertama. Tidak mungkin saya punya kakak, kan? Kalau kakak-kakak-an mungkin saja, tapi biasanya itu berlaku untuk lawan jenis. Saya perlu hidup kembali karena ingin protes kenapa cerita itu masih berlubang, terlalu buru-buru, dan enggak logis atau kurang bisa diterima kisahnya—seperti yang Wisnu maksud di kolom komentar.

Setelah tulisan itu terpublikasi, saya terkadang masih suka membaca ulang dan membetulkan bagian-bagian yang masih buruk demi bisa tampil lebih menarik. Bedanya, akhir-akhir ini saya sudah malas mengutak-atiknya. Usahakan jangan menyunting apa-apa lagi ketika sudah terbit di blog. Bagi saya, setiap tulisan yang sudah tayang di blog ini adalah sebuah kegagalan. Jadi apa yang sudah gagal, ya biarkan saja begitu. Kalaupun nanti mau direvisi atau dikembangkan, palingan hadir dalam bentuk lain.

Entah sejak kapan saya gemar menggabungkan antara fiksi dan kenyataan. Jika tidak salah ingat kayaknya sehabis membaca esai Mas Sulak, Borges dan Cerita yang Meragukan. Saya menyukai ide itu. Saya pikir mempermainkan pembaca sekaligus diri sendiri (karena saya sendiri suka lupa apakah cerita itu betul-betul pernah terjadi) itu sangatlah menyenangkan. 
Read More
Aku masih tidak menyangka bisa mengeluarkan air mata sewaktu mendengar Oki, seorang kakak sekaligus saudara kandungku satu-satunya, termasuk korban yang tewas saat Bus Yanti Grup masuk jurang pada tahun 2009. Sejujurnya, aku tidak dekat dengan kakakku. Usia kami terpaut lumayan jauh, tiga belas tahun. Sebagaimana kakak-beradik laki-laki yang biasanya sering bertengkar, kami malah tidak pernah. Setidaknya, begitulah yang terekam di ingatanku. Lagi pula, aku memang tidak memiliki banyak kenangan bersamanya.

Kakakku meninggalkan rumah atau merantau entah ke mana begitu dirinya lulus SMK pada usia delapan belas. Kakak pun jarang di rumah ketika kami masih tinggal satu atap. Sampai hari kematiannya itu, ia bahkan belum pernah sekali pun kembali ke rumah orang tua dan bertemu aku lagi.

Soal selama ini ia pernah mengirimkan uang kepada orang tua atau tidak, itu bukan urusanku. Aku juga tidak mau menanyakan hal itu kepada Ayah dan Ibu, apalagi bertanya tentang kabar Kakak. Aku bahkan sempat lupa kalau diriku ini punya seorang kakak. Satu-satunya momen singkat yang berkesan dan mampu kugali dari memori itu saat kematiannya hanya ketika aku dulu senang memboncengnya naik sepeda setiap hari Minggu. 

sumber gambar: https://pixabay.com/id/anak-sepeda-bersepeda-abendstimmung-2062707/
Read More
Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun pertama saya mengalami kesulitan mengakses internet ketika menggunakan laptop. Apakah saya lagi bikin resolusi mengurangi membuka media sosial, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku? Sayangnya bukan. Apakah karena saya mulai bekerja di hutan? Tentu saja tidak mungkin. Menjalani program guru relawan dan mengajar di daerah-daerah pelosok? Maaf, saya belum semulia itu. Lantas apa? Kamu sebenarnya enggak perlu berpikir jauh-jauh, sebab hal ini sangatlah sepele. Apa lagi kalau bukan karena tidak memiliki kuota?

Silakan mengumpat sesukanya.

Tapi sebelum kata anjing, bangsat, berengsek, kampret, kunyuk, setan, sialan, dan sejenisnya itu keluar; saya ingin menjelaskan bahwa ini semata-mata terjadi bukan karena saya bokek—walaupun kenyataannya hampir bisa dibilang begitu. Ini terjadi lantaran pada tanggal 28 Desember 2018, Bolt—provider yang saya gunakan sekitar empat tahunan ini—resmi menutup layanannya. 

sumber PNG Bolt: http://www.chodirin.or.id/ lalu saya modifikasi sesuka hati


Mundur seminggu sebelum Bolt mengumumkan informasi itu, pada malam hari saya sedang menemani Farhan, salah seorang kawan sekaligus tetangga, menyusun skripsi di Kafe Datocar yang lokasinya tidak jauh dari rumah kami. Ketika ia lagi fokus menggarap naskahnya itu, saya terlihat seperti orang tolol yang enggak tahu harus melakukan apa. Seolah-olah ada peraturan tertulis di jidat Farhan: Saya tidak boleh mengajaknya mengobrol. Saya perlu menyibukkan diri sendiri.

Sialnya, saya malah lupa membawa buku bacaan pada malam itu. Jadi satu-satunya penyelamat saya hanyalah ponsel. Baru saja saya ingin internetan, ternyata paketnya malah habis. Syukurlah kafe itu menyediakan Wi-Fi. Sebagaimana Wi-Fi kafe yang banyak pemakainya, kecepatannya pun ala kadarnya. Tidak sampai sepuluh menit saya menaruh kembali ponsel itu ke meja.

Di tengah kebingungan mencari cara supaya enggak jenuh, saya lalu teringat dengan kebiasaan bikin catatan di tempat makan. Akhirnya saya mengambil ponsel itu lagi, membuka aplikasi Notes, dan mulai mengarang cerita.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home