Setiap kali menulis, membaca, dan mendengar kata “musik”, pikiran Hendri tidak pernah sama lagi. Ia kini selalu teringat akan sosok perempuan berambut poni kucir kuda plus berkacamata dengan pakaian khas wanita karier yang berjoget diiringi lagu latar “jadi pengin-jadi pengin” dalam sebuah video iklan rokok versi gagal tayang.



Hendri mendapatkan informasi tentang video itu dari Agus—kawan dekat di kantornya—empat hari yang lalu. Semua bermula ketika Hendri tampak cemberut dan tidak beranjak dari kubikel, padahal sudah jam istirahat. Melihat ada yang tidak beres di raut muka temannya itu, Agus pun berinisiatif untuk menghampiri sekaligus menghiburnya. Cara pertama: menawarkan diri buat mentraktir makan siang. Cara kedua: siap mendengarkan permasalahan Hendri.

Seusai menyantap ayam geprek, Hendri bercerita selama 15 menit, diselingi beberapa pertanyaan oleh Agus, dan akhirnya obrolan itu melahirkan kesimpulan bahwa Hendri sedang bernasib sangat sial dan membutuhkan uang buat akhir bulan nanti. 

Read More
Surat elektronik berikut ini adalah kiriman dari Budi Setyadi, sebuah pesan tembusan dari Dimas Junaidi. Meskipun mereka berdua teman saya, tapi saya betul-betul heran akan kelakuannya, sebab baru kali ini kami berkomunikasi via surel. Gila, habis kesambet apa mereka jadi mendadak formal begitu? Biasanya mah kalau ada apa-apa langsung WhatsApp. Yang bikin saya tambah bingung, kenapa Dimas enggak langsung mengirimkannya kepada kami berdua? Sampai-sampai Budi harus meneruskannya ke saya? 

Sehabis saya buka surat itu, barulah saya mengerti apa alasan Budi mengirimkannya. Di kalimat pembuka nama saya langsung disebut oleh Dimas, sehingga saya memutuskan untuk membacanya sampai tuntas. Kampret, ternyata si Dimas sempat-sempatnya mengejek kami, saya dan Budi, lewat tutorial sialan semacam itu. 


-- 

Halo, Budi. 

Kemarin aku habis ketemu dan ngobrol bareng Yoga Akbar sepulang salat Tarawih. Di sela-sela perbincangan kami soal puasa, pekerjaan, buku, musik, film, dan lain-lain, dia sempat menyenggol permasalahanmu. Kata Yoga, kau sedang mengalami insomnia dalam dua bulan terakhir. Benarkah itu, Bud? 

Seandainya betul, aku tak habis pikir denganmu. Kenapa kau repot-repot cerita persoalanmu ke makhluk nokturnal sepertinya, padahal kita sama-sama tahu bahwa pola tidur dia selalu kacau. Sekalipun Yoga bisa menjadi pendengar yang baik, dia tak akan bisa memberikanmu solusi. Aku yakin kau bercerita tentang itu karena butuh pertolongan. Kau ingin memperbaiki hidupmu yang bagai kalong itu, kan? Kau seharusnya bertanya kepadaku. Apa kau tidak yakin dengan kemampuanku mengatasi masalah? Jangankan cuma memberikanmu kiat-kiat supaya cepat tidur pulas, Bud, kubikin kau tak bangun-bangun lagi pun aku sanggup. 

Daripada terlalu lama basa-basi dan ucapanku semakin menyimpang, mending aku langsung menyodorkanmu taktik keren versiku biar kau cepat tidur nyenyak. 

sumber: https://unsplash.com/photos/uy5t-CJuIK4

Read More
Saya menyebutkan film garapan David Fincher: Se7en (1995), The Game (1997), Fight Club (1999); film adaptasi novel Stephen King: Carrie (1976), Misery (1991), The Shawshank Redemption (1994); film animasi: The Land Before Time (1988), Toy Story 1 & 2 (1995 & 1999); dan serial God of Gamblers alias dewa judi. 

“Apa lagi? Masa itu doang, Yog?” ujar Dimas. 



Seandainya permintaan kawan saya buat memberikan daftar tontonan ini tidak tergantung tahun rilisnya—yang sebelum tahun 2000, mungkin saya bisa lebih lancar dan tak perlu berpikir keras begini. Pertama, entah kenapa saya rada sulit menghafal nama, kecuali sesuatu itu emang berkesan sekali bagi saya; kedua, saya juga sering masa bodoh sama tahun rilisnya suatu film. 

Untuk melontarkan judul The Silence of the Lambs (1991), misalnya, saya perlu bertanya terlebih dahulu kepada Dimas, “Yang Hannibal Lecter itu judulnya apaan dah?” Sekalipun film yang saya tonton saat SD ini alur ceritanya masih cukup menempel sampai sekarang, tapi saya jelas lebih mengingat nama tokohnya daripada judul film tersebut.

Lantaran nama tokoh itu, barulah muncul ingatan tentang Rocky (1976), satu-satunya film tentang tinju yang saya tonton, dan Annie Hall (1977), satu-satunya film Woody Allen yang sanggup saya habiskan karena gagal menyelesaikan Manhattan maupun Love and Death dan belum tertarik meneruskannya. 

“Udah?” tanya Dimas. 

Man on the Moon (1999), film komedi yang justru bikin saya sedih, ialah judul terakhir yang bisa saya coba ingat. 

Dimas lantas mempertanyakan, kenapa dari semua itu enggak ada satu pun film Quentin Tarantino. Katanya, sebagai orang yang suka menulis, saya semestinya mencicipi teknik bercerita Tarantino. 

“Emang filmnya kenapa, sih?” tanya saya. 

“Dia tuh jago ngacak-ngacak alur cerita. Coba aja tonton Pulp Fiction.” 

Selain merekomendasikan film Tarantino itu, Dimas sempat salut saat mengomentari saya yang ternyata menonton film adaptasi karya Stephen King. Sayangnya, dia bingung kenapa saya malah belum menonton The Green Mile, padahal menurutnya itu bagus banget. Sayang buat dilewatkan. Saya waktu itu cuma iya-iya aja dan berjanji akan menonton. 

Kini sudah enam bulan berlalu sejak obrolan bersama Dimas. Saya telah berusaha menepati janji, walaupun baru mengikuti sarannya untuk menonton Pulp Fiction menjelang tahun baru 2019. Demi menebus perasaan bersalah yang sebetulnya tidak perlu ini, saya malah berniat bikin daftar tontonan ciamik sebelum tahun 2000 yang saya saksikan enam bulan terakhir ini. 


Pulp Fiction (1994) 

Tiga puluh menit pertama saya menonton film ini, rasanya pengin mengumpat dan berpendapat bahwa filmnya enggak jelas. Menjelang akhir film, tepatnya ketika semua alur cerita bertemu pada satu titik, saya langsung menarik semua kalimat sebelumnya. Anjing (oh, saya tetap mengumpat), ternyata filmnya lucu dan keren banget.

Karakter-karakter di film ini dibuat keluar dari pakem. Bagaimana mungkin seorang penjahat selalu membacakan salah satu potongan ayat Injil sebelum membunuh korbannya. Bos mafia yang seharusnya disegani oleh anak buah dan musuhnya, justru diperlakukan konyol dalam suatu adegan. Gambaran-gambaran tentang mafia yang selama ini kejam seakan-akan langsung runtuh di benak saya. Mengingat bagian yang satu itu pun selalu berhasil bikin saya ngakak. 

Terus, ada adegan yang saya duga akan berakhir di ranjang, tapi nyatanya malah disajikan dengan lebih kacau. Perkiraan-perkiraan saya mengenai adegan selanjutnya kayaknya selalu dipatahkan oleh Tarantino. Mau tak mau, saya pun sepakat sama Dimas soal alur acak yang bisa dipelajari ini. Boleh-boleh aja kok mengerjai penonton selama penggarapannya oke. Membuat cerita juga tidak melulu harus lempeng. Jadi, cobalah bermain-main sama plot.

Saya mau melantur sedikit. Sejujurnya, Pulp Fiction bukanlah film Tarantino yang pertama saya nikmati. Saya mencoba bersikap nakal dengan melanggar aturan Dimas, yakni memilih Kill Bill Vol. 1 & 2 terlebih dahulu—yang rilisnya setelah tahun 2000. Ingatan saya ketika menonton volume pertama mendadak tergali kembali sebab cerita ini terasa tidak asing. Jauh sebelum saya mengerti film, konsep penceritaan, sutradara, dan tetek bengek lainnya; saat SD saya telah berkenalan dengan film Tarantino. Ini berarti film Kill Bill jalan ceritanya lumayan membekas di kepala seorang bocah polos, atau dengan kata lain: kebagusan karyanya tidak luntur. Begitu pula Pulp Fiction yang sudah berusia dua puluhan ini. Keasyikannya tetap tidak termakan usia.


The Green Mile (1999) 

Ada beberapa film dengan latar penjara yang pernah saya tonton, tapi baru Miracle in Cell No. 7 (2013) saja yang berhasil membuat air mata saya menetes. Setelah menyaksikan The Green Mile, rupanya gerimis itu turun juga. Sialan. Mereka sama-sama menyuguhkan keajaiban. Kalau tahu filmnya akan semenakjubkan ini, semestinya saya tidak usah menunda-nunda sejak membaca tulisan Rido Arbain, rekomendasi film dengan latar penjara, pada dua tahun silam. 

Namun sebagaimana perkataan orang-orang: “Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali”, saya sangat bersyukur memiliki kesempatan menonton filmnya. Seandainya saya adalah seorang terpidana mati seperti di The Green Mile, permintaan terakhir saya pastilah menonton ulang film ini. Durasinya yang tiga jam ini pun sama sekali tidak membosankan. Adegan demi adegan tersusun dengan amat ciamik.

Mengingat ini hasil adaptasi karya Stephen King, rasanya saya langsung minder buat baca novel-novelnya. Bukan apa-apa, takutnya saya bakal frustrasi karena kemampuan menulis selama ini tak ada apa-apanya dibandingkan Sang Raja. 


SLC Punk (1998) 

Agia Aprilian—ce’es asal Rancaekek, Bandung—secara enggak langsung pernah merekomendasikan saya film ini. Kala itu, dia ngetwit soal film SLC Punk yang selalu dijagokannya setiap kali ada yang minta referensi, tapi kebanyakan orang pada enggak mau nonton karena keterbatasan subtitle bahasa Indonesia. 

Berhubung sedang luang, saya penasaran (sebagus apa, sih?) dan pengin menjajalnya—sekaligus mengukur kemampuan bahasa Inggris saya. Rupanya saya sanggup mengikuti jalan ceritanya. Ini berarti bahasa Inggris saya enggak buruk-buruk amat. 

Sejauh ini film-film yang mendobrak dinding keempat selalu membuahkan kesan keren buat saya. Contohnya: Annie Hall, High Fidelity, Wolf of Wall Street, dan Deadpool. Nah, SLC Punk ini pun saya akui harus masuk ke dalam daftar itu.

Walaupun rada susah dan kesal mengikuti kecerewetan Stevo—sang protagonis, toh saya tetap terpukau dengan pemikiran-pemikirannya yang cukup relevan. Mungkin karena saya seakan-akan melihat diri saya dulu yang sok memberontak. Syukurnya, saya yang sekarang sudah mengalami perubahan dalam memandang segala sesuatu. Sampai-sampai saya sempat menyimpulkan filmnya begini:

Dia membenci sistem, lalu menjadi punk supaya hidupnya bebas. Selama menjalani kehidupan anarki itu, dia jadi melihat dan mengalami beberapa kejadian kacau sekaligus konyol yang akhirnya bikin dirinya berpikir, bahwa hidup seperti itu juga enggak bebas-bebas banget. Hingga lama-lama membawa dia pada kekosongan. Ujung-ujungnya dia pun mengikuti sistem. 

Bicara soal sistem, ini mengingatkan saya saat Brandy—pasangan kencan buta Stevo—mengkritik dirinya, “Kau berpenampilan seperti itu, rambut mohawk, dicat biru, pakai kaos hitam atau band, bukankah itu terlihat kayak seragam? Itu bukan pemberontakan, itu fesyen. Pemberontakan terjadi di dalam pikiran.” 

Aduh, saya jadi ingin menyapa para kawan yang gemar memakai sweter Anti Social-Social Club. Apa kabar, ya, teman-teman saya dulu yang juga memakai jaket Straight Edge, padahal diam-diam masih merokok dan mabuk-mabukan?
Read More
Brian Hugh Warner alias Marilyn Manson—seorang vokalis grup musik asal Amerika Serikat—memiliki ritual khas sebelum manggung. Salah satunya: memakan permen karet rasa pop corn. Phil Jones, pemain belakang Manchester United, juga punya kebiasaan khusus sebelum bertanding. Jika bermain di kandang, dia akan memakai kaos kaki sebelah kanan terlebih dulu; sedangkan di tandang, dia mengenakan yang sebelah kiri terlebih dulu. 

Ritual semacam itu mungkin hanya sebuah sugesti agar mereka dapat memberikan performa terbaiknya. Saya pun segera menengok diri sendiri. Apakah saya memiliki ritual terkait dengan kegiatan menulis demi terciptanya karya yang bagus? Kayaknya saya setiap pengin nulis mah langsung tulis aja. Hm, atau saya belum engah sama ritual saya sendiri? Baiklah, saya akan coba mengingat-ingatnya.

Sembari memikirkan hal itu, saya lantas teringat akan suatu artikel tentang Asma Nadia, penulis kondang novel religi, yang konon terbiasa berwudu sebelum menulis supaya prosesnya lebih lancar. Lalu ada pula ritual penyair sebelum menciptakan sajak-sajaknya. Agar tidak buntu dalam menyusun diksi, sebagian dari mereka membutuhkan kopi dan rokok sebelum menulis. Salah seorang kawan saya, Diana, juga memiliki kebiasaan serupa. Dia gemar menghirup aroma kertas dari buku-bukunya yang ada di rak. “Buat penyemangat gitu, biar tulisanku bisa sebagus buku yang lagi kucium,” katanya. 


Read More
Ada semacam ketakutan saat ingin mengeklik tautan cerpen saya yang dimuat di Loop. Doni Jaelani alias Dijeh mengirimkan pesan mengenai hal itu kepada saya. Selagi rasa ragu bercampur ngeri menyelimuti saya, mendadak muncul pikiran begini: dari sepuluh teks yang saya kirimkan untuk mereka seleksi, kenapa malah itu yang pertama kali terbit?


sumber:https://pixabay.com/photos/ice-cream-dessert-cold-sweet-50402/

Jauh sebelum saya mendapatkan cap mesum, lebih-lebih lantaran membuat cerpen Es Krim Spesial (yang kini sudah dihapus), saya mengawali tulisan bertema es krim itu dengan kisah renungan sekaligus motivasi yang bertajuk Es Krim Rasa Cinta. Niatnya, sih, cuma untuk menegur atau mengingatkan diri sendiri.

Saya menceritakan pengalaman itu sebelum era twit berutas dan please do your magic yang sering saya jumpai belakangan ini. Bedanya, saya melakukannya tanpa ada tujuan mendapatkan engagement yang berujung mengajak mutualan. Saya juga tidak terang-terangan menyuruh siapa pun untuk membeli dagangan nenek penjual es krim itu. Twitter cuma semacam tempat alternatif untuk menumpahkan ide cerita, sebagai pengganti catatan di ponsel maupun bloknot, sebelum nanti dikembangkan menjadi artikel di blog.

Namun, kisah es krim itu langsung saya salin dari Twitter tanpa perbaikan lagi di blog. Oh, betapa malasnya diri saya dulu. Sebagian yang pernah membacanya, mungkin sudah lupa bahwa cerita itu pernah ada. Hal negatif memang lebih mudah melekat di ingatan, sehingga kisah itu tersingkir dengan sendirinya oleh cerpen vulgar yang konon merusak generasi muda. Cerita tentang nenek penjual es krim itu sekarang hadir kembali dalam bentuk yang lain, dan termuat di media lain selain blog ini.


Pada November 2012, selepas lulus SMK dan baru bekerja sekitar tiga bulanan, saya sedang membaca salah satu buku RD. Efek dari membaca buku yang judulnya bertemakan binatang itu, entah bagaimana memunculkan sebuah keinginan atau boleh juga disebut impian: menjadi seorang penulis—yang suatu hari tulisannya bisa terbit menjadi buku. 

Sebagai seorang penggemar yang ingin mengikuti jejak idolanya, saya memulai langkah awal dengan bikin blog ini. Kala itu sebetulnya saya enggak tahu apa-apa tentang menulis (di pikiran saya dulu, menulis itu cukup dengan mencurahkan isi hati lewat teks), tapi diam-diam berharap bisa menempuh kesuksesan yang sama. Seenggaknya, saya ada kehendak buat belajar menulis.

Sibuk akan pekerjaan bikin saya tidak sempat mengisi blog. Keinginan belajar menulis itu pun menguap terpanggang realita. Hingga suatu sore sepulang ngantor, saya bertemu Julia—seorang kakak kelas di SMK yang pernah saya taksir dan kemudian malah menjadi teman dekat dan ujung-ujungnya menjauh juga—di pusat jajanan dekat rumah. Mulanya kami hanya bertukar kabar, sampai tiba-tiba dia menanyakan kenapa saya enggak pernah ngeblog lagi. Saya memberikan alasan yang sangat klise: pulang kerja capek, bawaannya pengin langsung rebahan, dan enggak sempat buka laptop lagi.

“Kan bisa nulis pas libur, Yog,” katanya. 

Saya meresponsnya dengan tawa. Tidak bermaksud menyetujui maupun membantah. Bakso bakar dan jus alpukat yang dia pesan sudah jadi. Dia pamit duluan, lalu kami berpisah. Saya memikirkan kembali perkataannya. Mengetahui blog saya ternyata memiliki pembaca, hasrat menulis itu pun muncul. Malam itu juga saya akhirnya memutuskan untuk bercerita lagi di blog. 

Jika seseorang malas atau bahkan enggak pernah membaca, ketika menggarap tulisan pasti hasilnya akan jelek dan mentok begitu melulu. Saya tidak tahu apakah pada 2012-2014 sudah punya pemikiran seperti itu. Yang jelas, saya ingin sekali belajar menulis secara sungguh-sungguh pada tahun berikutnya.

Husein, salah seorang kawan kuliah, menyarankan saya untuk ikut komunitas bloger. Saya pun bergabung dengan komunitas KK dan JB. Dari sanalah saya mengenal istilah blogwalking. Berkat jalan-jalan ke beberapa blog anggota komunitas, saya lalu mengenal tata bahasa. Saya juga mendapatkan referensi bacaan dari mereka. Saya lantas membeli buku panduan menulis dan, tentu saja, mencoba menerapkan kiat-kiatnya.


Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya memberanikan diri bikin cerpen. Tahun itu pula terlahir Memfiksikan—sebuah lingkaran kecil untuk belajar menulis fiksi; cerpen, fiksi kilat, dan puisi. Animo bloger bikin buku masih lumayan tinggi pada saat itu. Saya termasuk salah satu yang berusaha mengumpulkan cerita-cerita itu.

Menyunting naskah ialah pekerjaan paling susah buat penulis. Banyak waktu yang terbuang untuk mengedit tulisan itu dibandingkan dengan proses menulisnya sendiri. Mengingat sifat manusia yang tidak ada puasnya, sekalipun sudah sepuluh kali revisi, boleh jadi mereka juga belum sreg untuk menganggapnya selesai dan layak terbit. Biarpun merasa telah memolesnya berulang kali, saya pikir penulis akan menilainya dengan sangat subjektif. Makanya penulis tetap membutuhkan orang lain sebagai editor.

Sementara itu, yang paling gampang tentu menelantarkan naskah. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Saya adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan sosok itu. Saya telah mengumpulkan cerita sejak akhir 2015, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang terhimpun menjadi buku.

Setelah menceburkan diri ke kolam tulis-menulis selama dua tahunan (2015-2017), saya pernah memikirkan ulang: apakah jalan yang saya lalui ini benar? Semakin membaca buku-buku bagus, alih-alih memantik semangat, keberanian untuk bikin buku kumpulan cerita itu justru rontok. Akhirnya, saya hanya memendamnya di diska laptop. Saya pun ingin berhenti menulis. Lebih baik jadi seorang pembaca saja.

Namun, bagaimana kalau menulis itu buat saya bagaikan bernapas? Jika tidak melakukannya, berarti saya akan mati? Baiklah, saya tetap menulis di blog, tapi enggak perlu bikin buku. Konyolnya, suatu hari impian itu datang kembali sehabis membaca kumcer seseorang, lalu tak lama kikis lagi dengan sendirinya. Proses ini terus berulang entah sampai kapan. Hingga lama-lama saya mempersempit keinginan itu. Tulisan saya, apa pun jenisnya, kelak dapat terpampang di media lain—selain blog ini ataupun platform sejenis.

Saya telah mengirimkan tulisan ke beberapa media. Hasilnya nihil. Pada akhirnya, sebagian teks yang ditolak itu saya taruh lagi ke blog ini. Mungkin belum waktunya. Mending belajar lagi. Saya pun memendam keinginan itu.


Pak Agus—salah seorang perwakilan dari Loop—bertanya kepada saya, apakah ada pertanyaan atau hal-hal yang masih kurang jelas saat kami sedang membicarakan perihal kerja sama proyek cerpen. 

“Habis ini berarti saya tinggal bikin cerpen setiap seminggu sekali, ya?” tanya saya. 

“Mas Yoga enggak perlu bikin cerita baru. Cukup setor cerpen yang pernah Mas Yoga buat aja. Pihak kami nanti yang menerbitkannya seminggu sekali.” 

Rupanya terdapat kesalahpahaman di sini. Mengingat pembicaraan sebelumnya hanya via WhatsApp, saya memaklumi ketololan diri sendiri.

Sekitar sebulan silam, tatkala saya sedang menyibukkan diri dengan bacaan gratis di iPusnas, datang sebuah penawaran untuk mewujudkan keinginan yang sempat saya coba kubur itu. Loop membutuhkan penulis cerpen untuk proyek terbaru mereka.

Saya mengirimkan dua tautan cerpen di blog sebagai contoh. Tidak ada komplain. Saya kemudian menyetorkan enam cerpen yang siap tayang sesuai yang mereka minta. Obrolan pun berlanjut hingga membawa saya ke pertemuan ini. 

“Intinya, kami mencari orang yang sudah menulis. Bukan baru mau menulis karena kami ajak,” ujar Pak Agus. 

“Jadi cukup cerpen yang kemarin?” 

“Iya. Memangnya Mas Yoga punya cerpen lain?”


Kesimpulan dari rapat itu, Loop mencari penulis cerpen yang usianya kisaran remaja sampai dewasa muda. Begitu pun dengan target pembacanya. Entah ini keberuntungan atau bukan, umur saya pas banget di batas maksimal persyaratannya. Apalagi domisili saya juga di Jakarta, yang mana satu wilayah dengan kantornya.

Loop berniat agar proyek ini bisa membuat para pembacanya terinspirasi dan ikutan menulis. Singkatnya, dapat melahirkan penulis-penulis baru. Jujur aja, saya sangat minder ketika terpilih dalam proyek ini. Selama ini cerpen-cerpen bikinan saya lebih ke bermain-main dan tidak mengikuti tradisi sebagaimana cerpen yang termuat di koran. Tapi, bukankah ini yang tadinya saya mau? Bisa terbit di media lain? Saya pun mengambil kesempatan itu, apa pun risikonya. Saya bahkan menyanggupi menambah empat cerpen lagi supaya Loop memiliki pilihan dan bisa menyaring mana yang layak.

Sesampainya di rumah, saya baru sadar kalau cerpen di blog itu banyak yang menabrak batas wajar. Kayaknya enggak cocok buat target pembaca. Syukurlah saya masih punya cadangan di laptop. Saya membuka folder Cerpen yang berisi belasan naskah. Saya girang seakan-akan menemukan harta karun. Gila, apa aja yang pernah saya tulis di situ, ya? Saya mengeceknya satu per satu. Saat dibuka, hasilnya malah lebih kacau dari yang ada di blog. Mampuslah.

Mengubek-ubek arsip untuk mencari cerita yang mendingan dan berusaha memolesnya, terkadang lebih melelahkan daripada bikin cerpen baru. Saya menengok lagi setiap fail yang ada di folder lain. Banyak yang belum selesai. Dengan pelbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih sepuluh cerpen dalam rentang 2015-2017.

Saya membayangkan cerpen-cerpen itu dibaca oleh para remaja sampai dewasa muda yang mungkin masih ragu-ragu memamerkan karyanya. Percis kala saya menggarap cerpen-cerpen tersebut. Kira-kira ketika mereka membaca tulisan itu, terbit pemikiran begini: “Oh, kayak gitu termasuk cerpen, ya? Ah, gue mah juga bisa bikin. Malah lebih bagus.”


Saya kerap membaca banyak cerpen yang rilisnya belasan hingga puluhan tahun lalu, tapi anehnya kekerenannya tidak luntur. Saat saya membaca ulang cerpen sendiri, mata langsung mendadak gatal. Seandainya tulisan itu bisa ngomong, ia pasti bakalan menjerit-jerit, “Tolong revisi aku dong, Sayang! Tolong!” Meskipun itu menandakan ada progres dalam perjalanan saya, kecemasan akan kisahnya yang barangkali cuma terasa bagus pada zaman saya menuliskannya, sangatlah mengganggu. 

Itulah alasan saya takut buat membaca ulang cerpen dalam proyek ini, khususnya cerpen es krim yang tertulis pada Juni 2015. Hampir empat tahun telah berlalu. Jelas banyak yang berubah dalam cara pandang saya menilai suatu tulisan. Saya deg-degan bukan main.

Mau tak mau, saya pun memberanikan diri melihat cerpen itu lagi. Opini saya ketika membaca ulang: Awalnya berbentuk autobiografi atau jurnal atau memoar, atau apa pun itu sebutannya, lalu berubah menjadi versi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Saya bingung kenapa nekat membuat keputusan seperti itu, padahal jalan ceritanya sangat singkat. Walaupun mau tetap memakai gagasannya, kayaknya lebih cocok orang pertama yang bertutur. Aduh, mana kritiknya kasar amat. Deskripsinya juga masih kurang. Penilaian ini akan terus berlanjut dan tidak akan ada habisnya. 

Meminjam kalimat Stephen King, “Penulis biasanya menjadi juri terburuk untuk menilai hasil tulisan mereka.” Jadi, seharusnya saya cukup menyerahkan penilaian itu kepada pembaca. Membiarkan diri saya babak belur dihantam berbagai komentar dan kritik. Yang penting sesudahnya luka saya sembuh, mampu memperbaiki diri, dan giat berlatih agar cerpen-cerpen saya berikutnya bisa gantian menjotos hati mereka.
Read More
Jika kamu tidak suka dengan bocoran cerita, saya sarankan langsung keluar saja dari tulisan ini. Pintunya berada di pojok kanan atas yang berwarna merah dan terdapat tanda X. Kalau kadung penasaran, kamu bisa menonton filmnya terlebih dahulu, baru balik lagi ke sini.

— 

sumber: https://www.vogue.com/article/burning-movie-review-lee-chang-dong

Hairunnisa—yang akrab disapa Icha—tampak terkejut ketika mendapati saya menonton film Burning (2018) garapan Lee Chang-dong. Dia pun bertanya lagi untuk memastikan, apakah saya betul menonton filmnya. Mungkin karena dia tahunya saya lebih gembira berhadapan dengan teks daripada visual. Begitu mendengar jawaban “iya”, dia lantas meminta saya menjelaskan tentang film itu. 

Ketika ada seorang perempuan meminta penjelasan kepada saya, entah kenapa memori ini otomatis langsung menerbitkan kalimat salah seorang pacar—yang kini sudah mantan: “Itu cewek mana lagi, Yog, yang kamu panggil ‘Beb’?” 

Dia mengintip ponsel saya sewaktu saya sedang membalas pesan seorang teman. Mungkin dia penasaran. Kok bisa-bisanya saya masih memegang ponsel, padahal sudah berduaan dengan kekasih. Berhubung saya memang tidak berbuat macam-macam, saya pun berusaha menjelaskannya secara santai.

“Ini kamu lagi cemburu?” ujar saya sembari cengengesan. “Itu temenku namanya ‘Beby’. Masa aku panggil dia ‘By’? Aneh, kan? Maaf, kalo aku malah main HP. Aku langsung bales karena menurutku penting. Dia lagi nawarin kerjaan.” 

Untuk mendukung kalimat barusan, saya segera memperlihatkan ponsel yang layarnya menampilkan obrolan itu. Lantas dia hanya melihat sekilas. Tak sampai tiga detik. Mungkin dia malu sendiri karena telah menuduh saya yang bukan-bukan. 

Sekalipun persoalannya berbeda, memberikan penjelasan kepada seorang perempuan itu tidaklah mudah bagi saya. Menjelaskan tentang film ini justru lebih sulit daripada momen salah paham bersama pacar itu. Bukan apa-apa, saya cuma minder berbicara soal film di hadapan pengulas film kesayangan—orang tua, pacarnya, dan WIRDY (sengaja saya senggol biar grup ini tidak hilang dari peredaran).

Sejujurnya, saya masih bingung untuk membahas film tersebut. Kepercayaan diri saya bahkan termasuk rendah dalam mengulas suatu film. Lalu dengan seenak jidat, saya pun melempar tanggung jawab itu kepada Hawadis, salah seorang teman yang juga menonton filmnya. Sehari sebelumnya, kami sempat mengobrol singkat tentang film Burning
Read More
“Kak, menurut aku lebih bagus kalo kaosnya polos. Lebih keren lagi yang warnanya item,” kata Indri di Line sekitar empat tahun silam. Ia mengomentari foto profil saya yang menggunakan kaos ungu bergambar bison yang dilapisi jaket denim tanpa dikancingkan.

Saya pun membalas, “Emang kaos itu kenapa, Ndri?”

“Kayak anak kecil. Haha. Kalo polos, kan, kamu jadi terlihat dewasa.”

Waktu itu Indri adalah adik tingkat di kampus sekaligus gebetan saya. Entah kenapa saya percaya dan manut saja sama omongannya. Walaupun kedekatan kami tidak berlanjut sampai pacaran dan ia belum tentu menganggap saya gebetan (ini penting: ngomong aku-kamu bukan berarti orang itu suka atau punya rasa), seenggaknya saya jadi mendapat sedikit gambaran bahwa ada sebagian perempuan yang sangat menilai penampilan orang-orang di sekitarnya. Saya masih tetap berprinsip untuk berpakaian yang penting nyaman bagi diri sendiri, tapi paling tidak saya belajar dari hal itu. Saya mesti mengubah sedikit penampilan supaya menjadi lebih ciamik ketika mendekati lawan jenis.

Lantaran komentar Indri itu, saya jadi teringat pula dengan ucapan seorang mantan, “Kamu terlihat lebih ganteng pake kaos item polos.” Saya pun merespons dengan cengengesan dan mengamininya dalam hati.

Namun, jauh sebelum perempuan-perempuan itu menilai saya cocok mengenakan kaos hitam polos, saya memang sudah sreg berpenampilan seperti itu sejak SMK. Semua ini berawal dari menyukai band-band hardcore luar negeri, misalnya Alesana, Attack Attack!, dan Asking Alexandria. Saya kerap melihat para personelnya baik di foto maupun video musiknya memakai kaos hitam polos. Sebagaimana para penggemar memuja idolanya, saya lantas mengikuti gaya mereka yang menurut saya keren. 

sumber: https://wallpapercave.com/alesana-wallpapers

Sebelum gandrung mengenakan kaos hitam polos, adakalanya saya pernah bingung di mana membelinya. Kala itu saya cuma tahu baju dalaman yang berwarna putih. Barangkali karena saya sempat menjadi korban majalah anak gaul yang terbiasa membeli kaos di distro. Kaos-kaos yang dijual di sana tentu saja semuanya bergambar atau bertuliskan. Distro tidak menjual kaos polos.
Read More
Silakan baca bagian pertama.

--

“Pada 20 Maret Anda bertemu Sakuma Kyoko di bar karaoke Parpoo yang dekat stasiun, kan?” 

Aku membuntutinya sepanjang hari itu. Dibutuhkan uang untuk membuntuti seseorang. Aku bertaruh CIA dan KGB menghabiskan banyak uang untuk itu. Kau tidak dapat membuntuti orang lain jika kau miskin. 

Setelah dia mengantarkan suami dan anak-anaknya, dia tidur sebentar, seperti yang selalu dia lakukan. Dia adalah burung hantu. Jika dia tidak mendapatkan sedikit tidur tambahan di pagi hari, dia merasa ada yang tidak beres. Aku mendengarnya berbicara tentang hal itu kepada para gadis penata rias di toko kami. 

Aku duduk di ayunan di taman anak-anak dekat kondominiumnya dan menunggunya. Aku merasa benar-benar memburuk. Fuji cocok dengan bunga sakura dan kereta peluru (Shinkansen), taman berjalan baik dengan kemunduran. Tidak ada anak kecil di taman, hanya beberapa orang jompo dan seorang wanita yang membersihkan tanah. Aku senang tidak ada anak kecil. Aku membenci anak-anak. Mereka terlalu imut. Bahkan anak yang benar-benar jelek pun terlihat imut sekali saat dia masih kecil.

Pukul sebelas, Sakuma Kyoko muncul. Hari yang dingin. Dia mengenakan celana kulit hitam ketat dan mantel bulu rubah dan sepatu hak stiletto. Dia pergi ke tempat parkir di bawah kondominium untuk mengambil Audi Quattro merahnya dan pergi bekerja. Kenapa dia selalu menyetir, aku tidak tahu. Padahal akan lebih cepat jika berjalan kaki. Mungkin dia ingin memamerkan Audi-nya. Tidak ada biaya parkir di stasiun. 

Aku berjalan ke gedung stasiun dan sampai di sana sebelum dia. Dia menyarap terlambat di kafetaria di lantai tiga. Dia selalu memesan menu yang sama, jus apel Afrika Selatan dan roti lapis panas dengan salad alfalfa. Aku berdiri di toko buku, di mana aku bisa memperhatikan kafetaria dan melihat majalah. Aku ingin melihat S&M Aficionado tapi terlalu banyak pelanggan, jadi aku cuma membaca Popeye. Di sana ada sebuah artikel berjudul “My First Date,” di mana banyak orang terkenal mengarang semua ini tentang pertama kalinya mereka berkencan dengan seorang gadis. Salah satunya adalah seorang ilustrator yang mengatakan bahwa kencan pertamanya di Taman Inokashira. Seorang pembalap mobil mengatakan di Luxembourg Gardens. Pemilik cabang restoran berkata di Central Park. Ada foto-foto mereka semua yang terlihat tampan dan angkuh. Aku bertanya-tanya mengapa tidak ada setiap orang terkenal yang benar-benar jelek. Mungkin menjadi terkenal membuat kau lebih cakep. Maka kau tidak perlu mencuri uang dari mesin kasir dan bisa pergi ke sekolah tanpa dirisak. Ketika Sakuma Kyoko berjalan keluar kafetaria dan menepuk bibirnya dengan saputangan, aku bertanya-tanya apakah ada cara bagiku untuk menjadi terkenal? 

Sekolah menjahit belum selesai sampai malam hari. Aku menghabiskan sore hari di ruang tamu pachinko dan bioskop. Itu sore yang panjang. 

Dia mengemudikan Audi dan kembali ke kondominiumnya. Lalu dia harus menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Kemudian dia keluar lagi. Dia pergi ke tempat ayam bakar di wisata kuliner jalanan di depan stasiun. Dia bertemu dengan beberapa orang di sana, dua pria dan tiga wanita. Aku pikir mereka sedang merencanakan sebuah pesta sadomasokis. Pria-pria itu tinggi dan berusia sekitar tiga puluhan dan mengenakan jas tiga lapis berwarna abu-abu. Yang wanita mengenakan gaun dan celana panjang dan blus serta sweter dan mantel bulu dan jaket kasmir, dan semuanya sangat cantik.

Bahkan dari seberang jalan di dalam toko mainan tempat aku memeriksa kit model Gundam, aku bisa mencium aroma ayam bakar. Baunya enak. Aku kelaparan. Aku bisa melihat Sakuma Kyoko dan teman-temannya melalui jendela. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku sangat cemburu sampai takut aku akan mulai menangis, jadi kupikir aku harus makan sesuatu. Aku pun membeli sebatang CalorieMate dari mesin penjual otomatis di luar. Aku berpikir tentang iklan di mana Oh Sadaharu mengatakan, Semakin sibuk Anda, Anda akan semakin membutuhkan CalorieMate. Aku tidak bisa membayangkan orang-orang sibuk memakan produk ini.

Enam dari mereka meninggalkan tempat ayam bakar sekitar pukul delapan. Mereka pergi ke sisi jalan dan masuk sebuah bar bernama Parpoo. Kau bisa mendengar daun jendela turun di semua toko di jalan, satu per satu.

Setelah beberapa saat, kulihat ada seseorang yang mendekat di arkade, ternyata Mitsuyo-san, dengan beberapa temannya. Aku mencari tempat untuk bersembunyi. Sebagian besar toko tutup, dan semua arkade menyala. Hanya ada satu tempat untuk dikunjungi: Parpoo. 

Di dalam bar seseorang menyanyikan lagu karaoke. Mama-san (germo) berkata, “Bukankah kau Noriyuki-kun, kemarilah, apa kau sendirian?” Semua orang mengenalku di lingkungan itu karena mamaku ialah kepala asosiasi pedagang lokal. Aku duduk di meja dan memesan jus jeruk. Aku tidak bisa meminum alkohol.

Tiba-tiba Sakuma Kyoko memperhatikanku. Bibirku mulai bergetar. Dia berjalan dengan mata sipit. Rasa gemetar menyebar ke seluruh tubuhku. 

“Bukankah kau anak muda dari apotek?” 

Aku mengangguk. 

“Kau sendirian di sini?” 

Aku mengangguk lagi, suaraku hilang. 

“Apakah kau sering ke sini?” 

Aku menggelengkan kepala. Parfumnya sangat kuat. Celana kulitnya begitu ketat di pinggangnya. Ya Tuhan, kulit itu. Aku tidak bisa menangani kulit. 

“Mau jadi anak nakal malam ini, ya?” 

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menatap matanya. 

“Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?” 

Aku menggelengkan kepalaku lagi. Orang-orang yang bersamanya berkata, Apa yang terjadi, siapakah itu? 

“Ayo, mari kita minum bersama.”

Dia meraih lenganku. Aku hampir terjatuh dari bangku. Aku seperti seseorang yang sedang tidur sambil berjalan. Pikiranku benar-benar kosong. Aku terhuyung-huyung ke mejanya.

“Ini adalah pemuda dari toko tempat aku membeli kosmetikku.” 

Aku berdiri di sana dengan mulut ternganga dan menundukkan kepala kepada semua orang. 

“Biarkan aku memperkenalkan teman-temanku. Ini si anu, dia menjalankan sebuah butik kecil favorit di Kichijoji.” 

Senang bertemu denganmu, kata wanita itu. 

“Dan wanita muda ini bekerja untuknya. Aku kira kau akan memanggilnya peragawati rumahan? Dia bukan hanya seorang pramuniaga, kau lihat, dia terlalu sering memodel pakaian. Bukankah dia manis sekali?”

Gadis itu menyentak dagunya ke arahku dan merengut. Dia hanya ingin aku tidak berada di sana. 

“Dan ini adalah pemilik toko kue di sebelah butik.” 

Wanita ini memberikanku senyuman lebar palsu. Orang-orang di lini bisnisnya selalu tersenyum kepada orang gendut. Ini sesuai dengan pekerjaannya. 

“Dan ini adalah pacar kita — ha-ha! Mereka berdua instruktur di Seibu Sports Center, di mana kita semua belajar ski dan tenis. Dan aerobik.” 

Kedua pria itu adalah yang terburuk. Mereka tinggi dan cokelat dan langsing dan memiliki kaki panjang dan jari-jari panjang yang sensitif. Mereka jauh lebih tampan daripada tokoh-tokoh di Popeye. Mereka menatapku seperti mereka tidak kenal siapa aku, tetapi setidaknya aku gemuk dan jelek, itu cukup bagus untuk membuat mereka tertawa. Oh, lihatlah di mata mereka. Seperti kuda jantan di peternakan sedang menonton babi yang akan disembelih. 

“Apakah kau seorang mahasiswa?” Salah satu dari mereka bertanya. Aku melihat ke bawah dan hanya menggelengkan kepala. Sakuma Kyoko menjawab untukku.

“Dia masih SMA, bukan?” 

“SMA? Kau sangat besar untuk siswa SMA.” Pejantan itu tidak akan membiarkannya berlalu. “Berapa usiamu?” 

Delapan belas, aku berbohong. 

“Kau bercanda, kan? Kau terlihat lebih dari dua puluh tahun.” 

Dia minum Chivas Regal. Tangannya yang bebas ada di pundak Sakuma Kyoko. 

Aku tidak minum, tetapi aku tahu Chivas Regal. Ini adalah kisah menyedihkan. Meskipun Mama adalah putri dari juragan besar tanah, dia benar-benar orang yang pelit. Yang dia tahu hanyalah bekerja, tetapi tahun lalu dia akhirnya pergi ke luar negeri untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia pergi ke Hong Kong dan Singapura. Itu cukup menyedihkan dengan sendirinya, tetapi bagian terburuknya adalah dia membawa pulang tiga botol Chivas Regal untuk diberikan kepada papaku pada hari ulang tahunnya besok. Papa menghabiskan satu botol pada hari yang sama. Keesokan harinya dia dan teman-teman mahyongnya menghabiskan yang satunya, dan yang terakhir dia minum dengan penari telanjang di apartemennya. Itulah yang aku ketahui tentang Chivas Regal. Kedua pejantan itu duduk dengan tangan di bahu para wanita yang wanginya begitu kuat hingga membuatku pusing, dan dengan tenang meminum wiski menyedihkan itu.

“Kau terlihat sangat menyedihkan untuk pemuda tajir,” kata peragawati itu. “Tidak bisakah kau bicara? Mengatakan sesuatu?” Dia seperti gumpalan besar ... kedengkian, ah, kata itu. Aku menundukkan kepalaku dan membungkukkan bahuku. 

“Hei!” katanya. “Ceritakan kepada kami suatu lelucon, jangan cuma satu.”

Kemudian dia tertawa, sangat keras. Mereka semua tertawa. Aku merasa seperti ingin muntah. Jantungku begitu berdebar, dan air mata mengalir di mataku.

“Kau tidak minum?” 

Aku menggelengkan kepala. 

“Kalau begitu, mengapa kau berada di sini? Ada jus jeruk di mesin penjual otomatis di luar.” 

Semua orang tertawa lagi. Itu membuatku marah. Aku akan minum bir, kataku, dan mereka bersorak. Aku minum bir untuk pertama kalinya dalam hidupku. Hal berikutnya yang kuingat adalah memegang mikrofon dan berdiri di depan layar karaoke. Seluruh tubuhku mati rasa, bahkan otakku. Rasanya seperti berada di dalam tengah mimpi, tapi bukan mimpi yang buruk. Aku menyanyikan Wine-Red Heart. Aku menatap tepat ke arah Sakuma Kyoko ketika bernyanyi. Kulihat ekspresinya perlahan berubah. Ketika aku menyelesaikan bait kedua, dia berjalan ke arahku. Sudut matanya lebih sipit dari biasanya, dan pipinya berkedut. Dia mengambil mikrofon dan mematikan musik. Seluruh bar menjadi sunyi.

“Kau, kan,” katanya. 

Aku hanya berdiri di sana dengan mulut menganga. 

“Kaulah yang meneleponku.” 

Aku menutup mulut dengan tangan, tetapi sudah terlambat. Dia menampar wajahku dengan keras. Itu menimbulkan suara gaduh. 

“Kau seharusnya malu dengan dirimu sendiri! Apakah kau tahu apa yang telah kulewati? Aku punya anak kecil di rumah! Aku—Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan? Hal pertama, besok aku akan memberi tahu ibumu! Aku punya rekamannya, aku akan membuat dia mendengarkannya. Apakah kau mengerti?”

Dia meninggalkan bar bersama teman-temannya. Seluruh dunia bergeser di depan mataku. Tiba-tiba semuanya pergi menjauh. Rasanya seperti melihat melalui ujung teleskop yang salah. Aku sendirian. Di sana, di depan mama-san dan semua pelanggan lainnya, aku menangis.

Ketika aku menangis, aku jadi ingat banyak hal. Aku ingat bagaimana sehabis papaku memukuliku, Mama akan menaruh obat luka dan memar, dan bagaimana dia biasa membelikanku barang-barang. Dia membelikanku sepeda dan mainan mobil dan sarung tangan bisbol dan buku bergambar. Dan dia membawaku ke toko buah baru di depan stasiun dan membiarkanku makan semua manisan yang kuinginkan. Aku mulai berteriak, Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! Tolong aku, Ma! dan berlari keluar.

Kata-kata Sakuma Kyoko berputar di dalam kepalaku. 

Besok 

Besok 

Besok aku akan memberi tahu 

akan memberitahu 

akan memberi tahu ibumu 

ibumu 

ibumu 


Aku pulang ke rumah dan berjalan-jalan di halaman untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku pergi ke garasi dan mengambil kunci Inggris berukuran besar yang kami gunakan di truk.

Aku mulai berjalan perlahan dan kembali ke jalan. Aku bertemu dengan seorang polisi yang kukenal sedang naik sepeda, pemuda yang selalu datang ke toko kami untuk membeli tonik rambut Vulcan. 

“Hai! Kau mau pergi ke mana?” 

Ke rumah teman. 

“Apa itu yang kaubawa?” 

Kunci Inggris. 

“Oh, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” 

Temanku mau meminjamnya. 

“Oke, jangan memukul siapa pun dengan benda itu!” 

Kau tidak mengenakan Vulcan-mu? 

“Aku tidak memakainya saat sedang bertugas.” 

Aku tersenyum ketika kami berbicara. 


Itu tidak tepat untuk seorang wanita dengan mata cantik seperti Sakuma Kyoko membuat wanita jelek seperti Mama menangis. Jika aku begitu istimewa, berarti aku bebas untuk memperbaiki hal-hal yang salah. Aku berdiri di pintu kondominium dan membunyikan bel. Suaminya menjawab. Aku memberi tahu namaku kepadanya. Aku berkata, aku datang untuk meminta maaf. Dia memiliki rantai di pintunya, tapi dia menempelkan wajahnya di sela-selanya dan berteriak, Pergi sana, Bangsat! Aku menanamkan kunci Inggris di wajahnya. Aku tak tahu kalau wajahnya begitu lembut. Aku bertanya-tanya, apakah kekuatan superku telah diaktifkan seperti Ultraman? Rantai itu putus juga ketika aku memukulnya. Dia berbaring telungkup di lantai. Aku memukul bagian belakang kepalanya hingga seperti semangka yang hancur. Kedua anak kecil itu menonton dengan sikat gigi di mulut mereka. Kepala mereka bahkan lebih lembut. Kedengarannya seperti menginjak lumpur.


“Berhenti di situ. Ini adalah bagian yang tidak saya mengerti. Mengapa Anda tidak memukul wanita itu juga? Kenapa Anda malah menghancurkan televisi?”

Sakuma Kyoko merangkak di ruang tamu dengan piyama merah muda dengan mulut terbuka, membuat suara cegukan di tenggorokannya. Saat itulah aku mendengar suara itu. Lari, Takahashi! 

Program Pro Baseball News sedang tayang di TV. Mereka menampilkan cuplikan-cuplikan penting dari permainan pramusim antara Carp dan Braves. Kobayakawa mendapat pukulan dan Takahashi Yoshihiko sedang di putaran ketiga. Kala itulah suara itu berteriak, dan ketika aku mendengarnya, aku pun mengerti segalanya. Aku mengerti mengapa orang-orang mengolok-olok diriku dan mengusikku. Itu karena aku gendut dan lambat dan bodoh.

Kembali ke Zaman Batu, kita semua adalah pemburu, tetapi orang-orang sepertiku terlalu kikuk untuk menangkap permainan apa pun, jadi semua orang merisak dan menghindari kami. Zaman Batu berlangsung selama beribu-ribu tahun, jadi kita masih memiliki ingatan di dalamnya. Mereka bilang kita semua sama sekarang, tapi itu tidak benar. Kenangan itu adalah alasan mengapa orang-orang seperti Mama dan aku selalu menjadi sasarannya.

Takahashi tampak berlari begitu indah, itu membuatku merinding. Takahashi, Carl Lewis, John McEnroe, orang-orang seperti itu, membuat kau merasa senang hanya menyaksikan mereka berlari. Itu karena mereka yang dulu memasok semua daging untuk kita. Ingatan itulah yang membuat kita bahagia. Aku mengabaikan Sakuma Kyoko merangkak di lantai yang mencoba melarikan diri, dan menghancurkan televisi. Aku merasa seperti sedang menghancurkan seluruh dunia. 


“Tapi mengapa televisi? Apakah Anda masih menolak untuk menjelaskannya?” 

Mungkin hanya aku yang bisa memahaminya. Aku bertanya-tanya siapa orang yang berteriak, “Lari, Takahashi!” Itu terdengar seperti suara wanita. Sakuma Kyoko tidak dalam kondisi untuk berteriak atau apa pun. Mungkin itu adalah penonton di pertandingan bisbol di TV. Atau mungkin itu aku sendiri, entahlah. Namun, mengapa suara wanita? Mungkin aku lebih membingungkan daripada yang aku sadari....
Read More
Jika tidak sengaja bertemu dengan kawan lama di suatu tempat, kira-kira apa yang akan pertama kali kamu ucapkan? Apakah menanyakan kabarnya (Apa kabar lu? Sehat?), mengomentari fisiknya (Kok lu berubah gendut/kurus gini?), atau memberi pujian terhadap penampilannya (Gila, lama enggak ketemu jadi makin keren nih)? Dari pengalaman saya yang sudah-sudah, pertanyaannya pasti tidak jauh dari hal itu. Mungkin pertanyaan itu cuma basa-basi yang sudah basi.

Belum lama ini, Raka Bagoy, teman masa kecil yang dulu tinggalnya hanya sepuluh langkah dari rumah saya dan kini pindah ke Serpong, berhasil mematahkan stigma itu. Dia justru bertanya, “Kamu lagi seneng dengerin musik apa, Yog?” ketika kami tidak sengaja berjumpa di Stasiun Jurangmangu. Saya awalnya kaget juga ketika bahu ditepuk oleh orang asing dan langsung bertanya begitu. Ini agak menyedihkan memang. Dia bisa langsung mengenali wajah saya, sedangkan saya mengernyitkan dahi sembari berpikir siapa orang ini?

sumber gambar: https://pixabay.com/photos/music-headsets-listening-to-music-3472184/


“Kamu lupa? Aku Raka,” ujarnya. “Temen masa kecilmu dulu.”

“Raka?” tanya saya, seraya berusaha mengingat-ingat semua kawan masa kecil yang jumlahnya bisa dihitung jari.

“Iya, yang dulu ngerusakin mainan Ultraman punyamu. Kepalanya copot karena enggak sengaja aku injek. Terus kamu nangis, dan kamu getok kepalaku pake mainan itu. Akhirnya, aku nangis juga.”

“Ya Allah, Raka. Iya, iya, gue inget. Gue kira tadi tukang hipnotis.”

Kami kemudian tertawa. Entah untuk mentertawakan lelucon saya, atau masa kecil yang konyol itu.
Read More
Oleh Ryu Murakami. Diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Ralph McCarthy.

sumber gambar: https://www.preining.info/blog/2017/02/ryu-murakami-tokyo-decadence/


*

“Setiap kali saya menafsirkan pengakuan Anda, ada satu hal yang saya tidak mengerti: Mengapa Anda tidak membunuh wanita itu?”

Jaksa menanyakan kepadaku tentang ini. Selalu sama, selalu pertanyaan yang sama. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu. Pengacara tua botak—yang ditunjuk pengadilan itu telah menanyakannya seribu kali. Dia bilang jika aku bisa menjelaskannya, hukumanku mungkin lebih ringan. Tapi, tidak ada satu pun yang akan mengerti. Bagaimana mungkin? Aku sendiri saja tidak begitu mengerti. 

“Apa motif Anda untuk tidak membunuhnya? Itu cara yang aneh untuk mengatakannya, saya tahu, tapi ... seandainya Anda bisa mencoba menjelaskannya lagi.”

Aku tidak begitu suka jaksa ini. Entah kenapa. Mungkin dia mengingatkanku kepada pamanku. Pamanku adalah satu-satunya orang yang baik kepadaku. Dia biasa memberiku tumpangan di belakang skuternya ketika dia menjadi seorang penjual deterjen. Itu salah satu kenangan terindahku.

“Baiklah, mari kita mulai dari awal sekali lagi, mengonfirmasi ulang fakta-fakta, dan jika Anda memiliki informasi baru, pastikan untuk memberi tahu kami. Siap?” 
Read More
Saya kerap merasa kalau selama ini baru sedikit sekali membaca karya asing. Mengingat bacaan yang sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini masih sangat terbatas—begitu pula dengan keuangan saya, saya jadi ingin mencari alternatif dengan membaca e-book alias buku-el. Lalu, buku-buku luar negeri yang saya baca selama ini kebanyakan penulisnya adalah seorang laki-laki. Sepertinya saya jarang sekali membaca tulisan perempuan. Yang pernah saya baca dan menempel di kepala palingan hanya J. K. Rowling, Agatha Christie, dan Harper Lee. Untuk menyebutkan lima orang saja, saya masih belum mampu. Culun banget referensinya. Sekitar setahun silam, akhirnya saya berkenalan dengan tulisan Lydia Davis.

Menengok profil singkatnya di Wikipedia, Lydia Davis (lahir 15 Juli 1947) adalah seorang penulis Amerika yang terkenal karena karya-karya sastranya yang sangat singkat, biasanya disebut flash fiction atau fiksi kilat.

sumber: http://criticalflame.org

Berhubung belakangan ini saya juga sedang belajar bahasa Inggris, kayaknya membaca cerita-cerita ringkas Tante Lydia (sok akrab tai) bisa menjadi latihan awal untuk membaca karya asing, sambil sesekali menerjemahkannya. Saya baru sempat menggarap lima cerita yang benar-benar pendek. Itu pun yang sekiranya saya mengerti kisahnya. Ternyata susah juga, ya.

Mengalihbahasakan tidak sekadar memindahkan tulisan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Saya mesti bisa menceritakan ulang sesuai gagasan asli penulisnya. Dalam hal ini tentu saja akan ada bagian yang hilang, misalnya, permainan kata. Coba lihatlah kata cry, dry, dan try (begitu juga dengan kata kerja yang masih berlangsung alias mendapatkan tambahan -ing), saya tidak bisa mengubahnya ke bahasa Indonesia dengan bunyi yang sama semacam itu. Apalagi kalau kemampuan sang penerjemah (baik menulis maupun menguasai bahasa asing) masih payah. Tapi biar bagaimanapun, inilah terjemahan suka-suka hasil keisengan saya. Semoga enggak buruk-buruk amat.


Apa yang Dia Ketahui

Orang-orang tidak tahu apa yang dia ketahui, bahwa dirinya bukan benar-benar seorang wanita tapi seorang pria. Sering kali menjadi pria gemuk, tetapi lebih sering, mungkin, seorang pria tua. Fakta bahwa dia adalah seorang lelaki tua membuatnya kesusahan untuk menjadi seorang wanita muda. Sulit baginya untuk berbicara dengan seorang pemuda, misalnya, meskipun pemuda itu jelas tertarik kepadanya. Dia harus bertanya kepada dirinya sendiri, Mengapa pemuda ini menggoda lelaki tua ini?


Di Rumah yang Terkepung

Di sebuah rumah yang terkepung, tinggal seorang pria dan seorang wanita. Dari tempat mereka meringkuk di dapur, pria dan wanita itu mendengar ledakan kecil. “Angin,” kata wanita itu. “Pemburu,” kata pria itu. “Hujan,” kata wanita itu. “Tentara,” kata pria itu. Wanita itu ingin pulang, tetapi dia sudah di rumah, di tengah-tengah negara di sebuah rumah yang terkepung.


Sebuah Kisah yang Diceritakan oleh Temanku

Salah seorang temanku menceritakan kepadaku sebuah kisah sedih tentang tetangganya. Dia telah memulai surat-menyurat dengan orang asing melalui layanan kencan online. Temannya tinggal ratusan mil jauhnya di North Carolina. Kedua lelaki itu saling bertukar pesan, lalu foto, dan segera mengobrol panjang-lebar. Awalnya secara tertulis dan kemudian melalui telepon. Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak minat yang sama, yang serasi secara emosional dan intelektual, merasa nyaman satu sama lain dan secara fisik tertarik satu sama lain, sejauh yang mereka ketahui di internet.

Minat profesional mereka juga dekat, tetangga temanku bekerja sebagai akuntan, sedangkan teman barunya—yang berada di selatan itu—seorang asisten profesor ekonomi di sebuah perguruan tinggi kecil. Setelah beberapa bulan, hubungan mereka tampak baik dan benar-benar saling jatuh cinta, dan tetangga temanku itu yakin kalau “inilah orangnya”, sebagaimana yang dia katakan. Ketika waktu liburan mulai tiba, dia mengatur jadwal untuk terbang ke selatan selama beberapa hari dan bertemu pacar internetnya.

Pada hari perjalanan, dia menelepon pacarnya dua atau tiga kali untuk berbicara. Kemudian dia terkejut karena tidak menerima jawaban. Di bandara dia juga tidak bertemu dengan pacarnya itu. Setelah menunggu di sana dan menelepon beberapa kali lagi, tetangga temanku meninggalkan bandara dan pergi ke alamat yang pernah diberikan pacarnya. Tidak ada yang menjawab saat dia mengetuk dan menelepon. Setiap kemungkinan terlintas dalam benaknya.

Di sini, beberapa bagian dari ceritanya hilang, tetapi temanku mengatakan kepadaku bahwa apa yang dipelajari tetangganya adalah, pada hari itu, bahkan ketika dia sedang dalam perjalanan ke selatan, pacar internetnya telah meninggal karena serangan jantung sewaktu berbicara dengan dokternya di telepon. Tetangga temanku, setelah mengetahui hal ini baik dari tetangga pria itu ataupun dari polisi, langsung pergi ke kamar mayat setempat. Dia diizinkan melihat pacar internetnya; dan begitulah di sini, berhadap-hadapan dengan seorang lelaki yang sudah mati, bahwa dia pertama kali memandang seseorang yang, dia telah yakini, akan menjadi teman seumur hidupnya.


Ibu

Gadis itu menulis sebuah cerita. “Tapi alangkah lebih baiknya jika kamu menulis sebuah novel,” kata ibunya. Gadis itu membangun rumah boneka. “Tapi betapa jauh lebih baik kalau itu adalah rumah sungguhan,” kata ibunya. Gadis itu membuat bantal kecil untuk ayahnya. “Tapi bukankah selimut akan lebih praktis,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang kecil di taman. “Tapi alangkah lebih bagusnya jika kamu menggali lubang besar,” kata ibunya. Gadis itu menggali lubang besar dan pergi tidur di dalamnya. “Tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu tidur selamanya,” kata ibunya.


Wanita Ketiga Belas

Di sebuah kota yang dihuni oleh dua belas wanita, sebenarnya ada yang ketiga belas. Tidak ada yang mengakui dia tinggal di sana, tak ada surat yang datang untuknya, tidak ada yang berbicara tentangnya, tak ada yang bertanya kepadanya, tidak ada yang menjual roti kepadanya, tidak ada yang membeli sesuatu darinya, tidak ada yang mengembalikan pandangannya, tidak ada yang mengetuk pintu rumahnya; hujan tidak turun kepadanya, matahari tidak pernah menyinari dirinya, siang tidak pernah menyadarinya, malam tidak pernah jatuh untuknya; baginya, minggu-minggu tidak berlalu, tahun-tahun tidak berputar; rumahnya tidak bernomor, kebunnya tidak terawat, jalannya tidak ada yang menginjak, tempat tidurnya tidak ditiduri, makanannya tidak dimakan, pakaiannya tidak dipakai; namun terlepas dari semua ini dia terus tinggal di kota itu tanpa membenci apa yang telah terjadi kepadanya.

--

Sepayah-payahnya saya dalam bahasa Inggris, syukurlah belum pernah menggunakan no father ataupun no what what.
Read More
Ada suatu masa ketika baru banget belajar menulis, saya entah kenapa sering membaca kutipan para penulis. Selain Hemingway (The first draft of anything is shit) dan Pramoedya (Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian—yang justru saya bikin pertentangannya di deskripsi blog), kebanyakan nama mereka sangat asing buat saya, bahkan saya juga tidak mencoba mencari buku-bukunya. Lalu dari sekian banyak petikan itu, ada satu yang selalu berhasil memantik semangat saya hingga saat ini:
A professional writer is an amateur who didn’t quit.” — Richard Bach
Mulanya, saya membuat blog ini hanya untuk jurnal. Mungkin niat itu pun masih belum berubah. Tapi seiring bergulirnya waktu, cara pandang saya sebagai penulis pun perlahan-lahan ikutan bergeser. Saya membutuhkan perkembangan dalam menulis. Saya enggak mau cuma begitu-begitu terus. Saya ingin menyajikan menu yang berbeda-beda di blog ini agar pembaca dapat memilih tulisan sesuai seleranya masing-masing. Sebagaimana bercinta, kita memang membutuhkan variasi gaya saat menulis agar tidak jenuh.



Pada dua tahun terakhir ini, saya pun telah mencoba bereksperimen dengan berbagai jenis tulisan. Memang, sih, tidak semuanya berhasil. Meskipun begitu, seenggaknya saya sudah berani menjajalnya. Kali ini, saya mau menulis ulang puisi kemarin, Aku Memang Tidak tahu Malu, dalam pelbagai bentuk baru.

Narasi 

Ia tiba-tiba merasa tidak ingin menulis puisi lagi ketika membaca ulang semua sajak di blognya. Hal ini terjadi beberapa menit setelah dirinya selesai membaca buku kumpulan puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Entah mengapa membaca karya bagus kerap membuatnya minder. Perasaan membanding-bandingkan pun muncul begitu saja. Kapan kira-kira ia dapat menulis puisi sehebat idolanya itu? Ia lantas berusaha meninjau ulang puisinya sendiri, dan mendapat kesimpulan: puisi-puisinya jelek semua. Para pembaca pun mungkin bingung, apakah harus sedih atau tertawa saat membaca rangkaian kata miliknya itu. Tidak ada satu pun puisinya yang bisa dinilai bagus, lebih-lebih spesial.

Ia semestinya cepat mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak berbakat menulis puisi. Apalagi saat mengingat kumpulan sajak yang ia kirimkan ke media tak ada yang berhasil tembus. Padahal ia juga sudah sempat mengeditnya, lalu mengirimkan ulang ke media lain. Hasilnya ternyata sama saja: penolakan.

Kadang ia jadi suka merenung dan bertanya-tanya, sebetulnya apa yang membuat puisi-puisinya ditolak? Apakah karena terlalu klise? Ataukah karena dirinya bukan siapa-siapa, sehingga pihak media tidak mungkin memuatnya? Sebab baik sajak maupun nama penulisnya sama-sama tidak menjual. Boleh jadi dugaan itu sangat egois karena luapan emosi. Mungkin mereka menolak karena puisi yang ia kirimkan belum memenuhi standarnya. Mungkin juga puisinya terlihat jelas mengekor beberapa penyair. Barangkali nama dan puisi-puisinya bisa bertengger di media lain selain blognya sendiri itu cuma khayalan bodohnya. Ia pun sedih harus menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak lagi mendapatkan tempat.

Tapi orang tolol terkadang memang tidak ada kapoknya. Ia kini malah mencoba melarikan diri dari realitas dengan menciptakan puisi baru. Ketika puisi itu selesai ditulis, rupanya muncul keraguan di dalam dirinya. Sajaknya ini masih sama buruknya dengan karya sebelum-sebelumnya. Ia langsung berniat menghapusnya saat itu juga. Ia pun menekan tombol Ctrl + a.

Kala jari tengahnya hampir menyentuh tombol Backspace, ada sesosok anak kecil—yang gemar bermain-main dan tidak kenal takut—di dalam tubuhnya yang segera mencegahnya. Katanya, menulis sajak itu bentuk mengekspresikan diri, bukan untuk mencari uang. Mengirimkannya ke media itu cuma sebuah keisengan. Jadi kenapa harus sedih ketika ditolak? Lebih baik menulis terus saja. Toh, kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti.

Kebimbangan yang biasa dirasakan oleh orang dewasa itu pun kalah oleh perkataan polos seorang bocah, hasil imajinasinya sendiri. Akhirnya, ia berusaha mengakhiri sajak itu dan menerbitkannya di blog sendiri—sebagaimana lazimnya. Kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia memang pecundang bodoh yang tidak tahu malu.


Dialog 

“Hei, kau kenapa terlihat bersedih?” 

“Karena aku baru menyadari bahwa puisi-puisi buatanku jelek semua.” 

“Siapa yang bilang begitu?” 

“Diriku sendiri.” 

“Jangan terlalu kejam dengan diri sendiri begitu dong. Enggak baik, tahu.” 

“Kenyataannya memang begitu, kok.” 

“Pasti ada penyebabnya, kan?” 

“Iya, aku tadi habis membaca kitab puisi SS, Dan Kematian Makin Akrab. Tiba-tiba aku jadi ingin melihat kembali puisi-puisiku sendiri. Ternyata keterlaluan busuknya.” 

“Kau tidak perlu membanding-bandingkan begitu.” 

“Masalahnya, aku pernah mengirimkan puisi-puisiku itu ke media. Aku pun mendapatkan penolakan.”

“Coba lagi ke media lain. Buat lagi puisi lain.” 

“Sudah, hasilnya sama saja. Tak ada yang tembus.” 

“Kira-kira apa yang membuatmu ditolak, ya?” 

“Mungkin karena aku belum punya nama. Jadi, siapa coba yang mau membaca dan menikmati puisi-puisiku itu? Apalagi membayarnya.” 

“Intinya, kau mau menyalahkan selera mereka?” 

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku tadi hanya terbawa emosi. Aku yakin mereka punya standar sendiri untuk memutuskan mana yang layak terbit, mana yang tidak. Atau mungkin juga puisi-puisiku terlihat meniru penyair lain. Bisa dibilang emang karyaku itu yang jelek. Terbit di media lain selain blog sendiri kayaknya cuma mimpi bodohku saja. Nyatanya, tak ada tempat untuk tulisanku.” 

“Terus kau mau berhenti bikin puisi?” 

“Penginnya, sih, gitu. Anehnya, barusan aku malah menciptakan yang baru.”

“Nah, baguslah. Kau berarti tidak menyerah.” 

“Celakanya, puisi baruku itu jelek juga. Aku jadi ingin menghapusnya saja.” 

“Jangan!” 

“Kenapa?” 

“Kau selama ini bikin puisi niatnya untuk apa, sih? Buat cari uang? Menurutku, kau pasti punya niat lebih dari itu. Untuk alternatif ketika bosan menulis esai atau cerpen. Untuk bersenang-senang. Kau mengirimkannya mungkin karena ingin mendapatkan pembaca yang lebih luas. Bukan demi uang semata. Jadi, kumohon jangan berhenti menulis. Lanjutkan saja.” 

“....” 

“Kok diam? Apakah kau malu mengakui puisi barumu?” 

“Enggak, sebab aku memang tidak tahu malu.” 


Haiku 

Habis ditolak 
Malah lebih menggila 
Tak tahu malu 


Blurb 

Selalu ada dua reaksi setiap kali membaca karya bagus: Pertama, terinspirasi untuk bikin yang sama bagusnya atau lebih baik; kedua, akan memilih berhenti menulis karena sadar dengan kemampuan diri. Hal nomor dua itulah yang kini menimpa dirinya. Setelah membaca salah satu buku kumpulan puisi penyair idolanya, ia langsung merasa tak ingin lagi merangkai kata-kata. Konyolnya, kemarahan berlebih terhadap sajak-sajaknya yang keterlaluan jelek itu malah mengubah situasi menjadi 180 derajat. Ia pun menciptakan puisi baru sebagai pelampiasan. Tapi bagaimana kalau puisi itu sama buruknya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? 


Analisis Logika 

Membaca. 
Puisi. 
Karangan idola.
Mengevaluasi sajak-sajak ciptaannya.
Membenci diri sendiri. 
Memori tentang mengirim kumpulan puisinya ke media. 
Penolakan. 
Revisi. 
Kegagalan yang sama. 
Kemarahan dan menciptakan sajak baru. 
Keinginan menghapusnya karena jelek. 
Pencegahan dari dalam diri. 
Imajinasi anak-anak. 
Mencoba berdamai dengan diri sendiri. 
Penyelesaian tulisan dengan rasa malu tak tertahankan. 


Endorsement

Puisinya yang satu ini seperti bentuk kritik terhadap semua sajak ciptaannya. Bagi saya, ada dua jenis penulis: 1) Yang sangat memuja dan memuji kata-katanya sendiri; 2) Yang selalu membenci diri sekaligus hasil tulisannya. Yoga adalah yang nomor dua, tetapi entah kenapa malah berhasil membuat saya menyukai puisi-puisinya. Dia seakan-akan punya sihir tersendiri dalam setiap pemilihan katanya. —Agus Suhana, teman penulis merangkap sampah masyarakat. Dibayar 100.000 untuk komentar begini.

--

Tulisan ini berutang ide kepada buku Exercises in Style, Raymond Queneau.
Read More
Ketika daun jatuh tak ada titik darah. Tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih. -SS, puisi Nada Awal.


Pada Februari yang konon bulan penuh cinta ini, saya jadi ingin kembali mengisi blog akbaryoga dengan puisi. Meskipun puisinya cuma hasil salin-tempel dari blog sebelah (yang mungkin jarang orang tahu), setidaknya kala itu saya menciptakannya dengan segenap dan segelas rasa sayang. Halah. Semoga  sajak-sajak ini dapat meyejukkan hati para pembaca, sebab sebelumnya saya terlalu banyak sinis dan marah-marah. Tanpa berlama-lama lagi, silakan kunyah dan telan tiga sajak berikut ini. Lepehkan jika tidak suka. Dicaci-maki juga boleh, kok.





Maaf

Maafkan aku, Fa.
Seandainya hari bisa kembali mundur,
sebaiknya benang itu tak perlu kutarik dan ulur.
Mungkin hal itu hanya akan merusak suatu alur.

Semestinya sejak dulu aku sadar
akan sorot matamu yang selalu bisa berpendar
di setiap keberanianku memudar.
Namun, hari kemarin tak pantas lagi beredar.

Read More
Semalam ada seseorang yang tidak saya kenal mengirimkan DM (Direct Message) di Twitter. Berikut saya tampilkan pesannya dengan sedikit pengeditan supaya lebih enak dibaca.

sumber: https://pixabay.com/id/bulu-burung-musim-semi-kertas-2505306/


Hai, Yoga! Aku enggak tahu harus manggil kamu apa. Bingung mau pakai “Bang”, “Mas”, atau “Kak”. Menurutku kita masih seumuran (walau lebih tua kamu 1 atau 2 tahun), jadi aku panggil nama aja, ya? Maaf nih kalau aku sok akrab. Tapi gini-gini aku udah baca tulisanmu dari lama. Biarpun cuma silent reader, aku tetep pembaca setia blog kamu, Yog.

Tulisan kamu kenapa berubah jahat gitu? Ngeri aku bacanya. Di tulisan sebelum-sebelumnya kamu juga kayak ngeluh tentang kesedihan, kesepian, dan kematian gitu. Kamu baik-baik, kan? Nulis kayak biasanya lagi dong. Kayak dulu-dulu yang lucu dan ceria gitu.

Eh iya, aku boleh nanya, kan? Simbol K di foto profil Twitter-mu (yang pernah jadi gambar di tulisan Kenyataan atau Kebenaran di Balik Kisah Fiksi) itu artinya apa? Apakah K buat ketikyoga? Kesedihan? Kesepian? Atau kematian?

Aku kok ngerasa kamu akhir-akhir ini setiap menulis kayak lagi menjerit, tapi enggak ada orang yang mau dengerin. Kenapa aku bisa ngomong begini, karena aku juga sering kayak gitu. Setiap kali mau cerita, pasti jarang ada temen yang bisa jadi pendengar. Kalau kamu mau, aku bisa lho jadi tempat curhatmu.

Umm, apa lagi, ya? Udah deh, itu aja. Semoga kamu baik-baik. Jangan marah-marah dan sedih-sedih terus. Hehe. :)


Seusai membaca pesannya, saya langsung mengetik, Ini apa-apaan, sih? Kok ngatur-ngatur? K di situ artinya kont. Saya langsung menghapus kont yang belum selesai itu, lalu menggantinya menjadi kafir. Saya kembali menghapus, dan kata kafir pun berubah menjadi kebencian. Saya enggak tahu mau menambahkan kalimat apa lagi dan menunda mengirimkannya. Akhirnya, saya menghapus semua kalimat itu.

Sekarang sudah pukul setengah enam pagi. Saya belum tidur dari semalam. Begadang selalu membuat pikiran saya kacau. Sepertinya kondisi begini memang kurang baik untuk berkomunikasi. Apalagi dengan orang asing. Saya butuh istirahat. Saya pun menunda membalas DM tersebut. Lebih baik saya tidur. 

Enam jam kemudian saya terbangun. Saya membuka Twitter dan kembali mengecek pesan itu. Kini pikiran saya sudah lebih segar untuk merespons pesannya. 



Hai juga. Iya, bebaslah mau panggil saya apa. Panggil sayang juga boleh

Itu cuma lambang dari tempat saya bekerja dulu. Enggak ada maksud apa-apa. Saya bingung kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu. Ya, meskipun kadang-kadang saya juga suka menganggapnya sebagai sebuah simbol bagi diri sendiri, sih. Terlepas dari makna asli suatu media tempat saya bekerja dulu, K di situ bisa menjadi inisial username saya. Bisa seperti yang kamu tulis; kesedihan, kesepian, atau kematian. Bisa juga berarti keren. Kacamata. Kurus. Kangen. Kamu (sumpah, ini saya enggak lagi gombal. Kata kamu bisa merujuk siapa aja).

Boleh juga kayak slogannya presiden saat ini: Kerja, kerja, kerja. Terus bisa juga karya, konten, kreatif, kritik, keluarga, ketulusan, kebahagiaan, kekayaan, kepercayaan, kekuatan, kejujuran, keadilan, kebaikan, kejahatan, kebencian, kesalahan, kebodohan, kemunafikan, kebohongan, kepalsuan, kiamat, dan masih banyak lagi. Pokoknya, bebaslah mau dianggap apa sama kamu ataupun orang lain.

Alhamdulillah saya baik-baik aja dan enggak butuh teman cerita. Tapi makasih banget buat tawarannya. Kalau soal tulisan yang kamu anggap ngeri itu, saya emang enggak sebaik yang kamu pikir. Saya juga punya sisi jahat. :) 


Sebenarnya saya agak geli mengakhiri pesan itu dengan emoji senyum. Tapi mau gimana lagi, saya merasa perlu membalas senyumannya. Lagian, senyum itu ibadah, kan? Meskipun penempatan senyum setelah kata jahat itu justru bikin saya terlihat kayak psikopat.

Saya entah mengapa masih mengantuk, padahal sudah tidur lumayan lama. Mungkin ini faktor hari Minggu sehingga membuat saya ingin bermalas-malasan saja. Saya pun menaruh ponsel dan berusaha tidur lagi. Tidak sampai sepuluh menit memejamkan mata, ponsel saya berdering. Saya hafal bunyi itu. Notifikasi Twitter. Ketika saya lihat, ternyata itu pesan balasan darinya. Mau dia apa, sih? Saya sudah malas membuka dan memilih mengabaikannya. 

Kala itu juga saya tiba-tiba memikirkan pesan dia sebelumnya. Saya betul-betul tidak mengerti, kenapa dia menilai bahwa tulisan Kumpulan Kalimat Jahanam itu mengerikan? Seram di bagian mananya? Apa karena saya tampak sedang marah-marah saat mengkritisi suatu hal? Apakah tidak boleh memaki hal-hal yang enggak kita sukai? Apa kita mesti terlihat baik melulu? Harus selalu bahagia dan tidak usah menunjukkan kesedihan? Toh, tulisan itu sudah dua atau tiga bulan silam. Itu pun saya telah memolesnya sedikit agar bisa lebih halus. Intinya, kemarahan itu sudah lewat. 

Sementara itu, dia malah meminta saya menuliskan cerita-cerita yang ceria dan lucu baginya. Saya pun ingin bertanya kepadanya, apa benar tulisan-tulisan saya yang dulu itu dapat menghibur dirinya? Apakah kini tulisan saya sudah tidak menyenangkan lagi? Kalaupun dia merasa tulisan-tulisan lama saya kocak, itu berarti sama saja dia mentertawakan kesialan atau kepahitan hidup saya. 

Lantas, apa bedanya dengan yang sekarang? Saya juga masih menuliskan cerita-cerita yang serupa seperti dulu. Hidup saya belum banyak berubah. Hidup yang berengsek dan memble ini masih saya coba tuliskan penderitaannya (terkadang diolah menjadi fiksi), lalu mentertawakannya. Tujuan menulisnya pun tidak jauh berbeda: saya jadikan bahan olok-olok ketika suatu hari nanti membaca ulang ceritanya. Saya memang gemar menyulap derita menjadi cerita. 

Anehnya, kenapa dia protes agar saya menulis kayak dulu, ya? Apa karena saat ini balutan kisahnya berubah lebih gelap?

Namun biar bagaimanapun, saya tetap terharu membaca pesannya. Kenapa dia bisa sepeduli itu dengan saya? Saya pun sedikit merasa bersalah terhadapnya. Lebih-lebih ketika dia telah mengulurkan tangan, tapi saya justru menolak pertolongannya. Saya tahu, saya sudah berbohong tentang diri yang baik-baik maupun tidak butuh teman cerita itu. Tapi saya hanya ingin menutup diri (khususnya dari orang-orang yang belum tentu dapat saya percaya), dan terus meyakinkan diri ini baik-baik saja—secara tidak langsung saya berusaha mendoakan diri sendiri. 

Sejujurnya, keadaan saya memang baik. Walaupun ada hal-hal yang terasa getir dalam hidup, saya telah berupaya membuang segala hal buruk itu dengan menulis. Mengetahui kalau tulisan saya masih jauh lebih busuk daripada hidup yang sedang dijalani, rupanya sungguh ampuh untuk mengurangi beban itu.

Konon, menulis merupakan salah satu terapi yang mudah dan murah. Di blog satunya, saya pun membuat slogan: menulis untuk terapi jiwa. Ya, biarpun pada kenyataannya jiwa saya masih saja penuh kebencian. Boleh jadi kegiatan ini tidak sepenuhnya bisa menyembuhkan saya. Saya tidak begitu peduli. Setidaknya, saya bisa sedikit lebih lega dan bahagia melampiaskan kemarahan dengan menulis—baik itu berbentuk esai, cerpen, atau puisi. Bukan dengan membanting benda-benda, menjotos orang lain, atau memakan harta anak yatim.

Berbicara soal melampiaskan kemarahan dengan menulis, saya jadi teringat wawancara Seno Gumira Ajidarma saat beliau membicarakan Saksi Mata, buku kumpulan cerpennya tentang Timor Timur. Dalam interviu itu, Seno bertanya kepada salah seorang temannya, “Apakah tidak apa alasan saya menulis karena marah?” Lalu temannya menjawab, tidak apa, karena yang penting hasilnya.  

Akhir kata, jika si pengirim pesan betulan rutin membaca tulisan-tulisan saya, kemungkinan dia juga akan membaca tulisan ini. Anggap saja ini balasan pesan dia berikutnya—yang belum sempat terbaca dan telah saya hapus. Saya sudah masa bodoh akan dinilai apa dan bagaimana olehnya, juga pembaca lainnya. Yang penting setelah ini dia bisa paham, bahwa saya memang tidak sebaik kelihatannya. Lagi pula, apa itu baik? Kata itu terdengar seperti suara kentut sehabis bangun tidur setiap kali saya begadang. Mungkin simbol K itu bisa melambangkan kentut. Bisa pula bermaksud kemarahan. Atau paduan keduanya: kentutnya orang marah.

--

PS: Tafsir huruf K dalam tulisan ini hanya gurauan semata dan tidak ada maksud apa-apa dengan simbol asli media itu.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home