Nasihat Kurt Vonnegut untuk Penulis Tidak Sabaran

20 comments
Bagaimana jika kau suka menulis, kau ingin menjadi seorang penulis, tetapi kau tidak merasa bahwa ada sesuatu yang cukup monumental telah terjadi kepadamu? Artinya, tentang hal cukup penting yang layak untuk ditulis? Vonnegut memiliki beberapa pendapat tentang hal itu. 

“Kesabaran.”

Seorang perempuan muda yang belajar kepadaku Kepenulisan Kreatif di CCNY tahun lalu, mengaku kepadaku dengan agak malu, seolah-olah hal ini dapat menjadikannya penulis yang benar-benar kreatif, bahwa dia belum pernah menyaksikan orang meninggal. 

Aku meletakkan tanganku di bahunya, dan berkata, “Seseorang harus bersabar.” 



Itu sepenggal nasihat dari Kurt. Ini yang lainnya: 

Ketika kota (Dresden) dihancurkan, aku tidak tahu skala benda itu. Aku tidak memiliki perbandingan kecuali untuk apa yang kulihat di film. Saat aku sampai di rumah (aku adalah seorang penulis sejak berada di Cornell Sun, kecuali sejauh itulah tulisanku), aku berpikir untuk menulis kisah perangku juga. Semua temanku berada di rumah; mereka juga memiliki petualangan yang luar biasa. Aku pergi ke kantor surat kabar, Indianapolis News, dan mencari tahu apa yang mereka miliki tentang Dresden. 

Ada barang yang panjangnya kira-kira setengah inci, yang mengatakan pesawat kami sudah melewati Dresden dan ada dua yang menghilang. Jadi kupikir, ini adalah detail paling kecil dalam Perang Dunia II. Yang lain punya banyak hal untuk ditulis. Aku mengingat rasa iri pada Andy Rooney, yang mencetak pada saat itu; aku tidak mengenalnya, tetapi kupikir dia adalah orang pertama yang menerbitkan kisah perangnya seusai perang; itu dinamai Air Gunner

Sialan, aku tidak pernah mengalami pertualangan yang berkelas seperti itu. Namun, sering kali aku bertemu orang Eropa dan kami akan berbicara tentang perang dan aku akan mengatakan bahwa diriku berada di Dresden; dia heran bahwa aku pernah ke sana, dan dia selalu ingin tahu lebih banyak. Kemudian sebuah buku karya David Irving diterbitkan tentang Dresden, mengatakan hal itu adalah pembantaian terbesar dalam sejarah Eropa. Aku berkata, Ya Tuhan, akhirnya aku melihat sesuatu!

Mungkin kau juga pernah melihat sesuatu. Mungkin apa yang cuma kau saksikan di halaman belakang rumahmu adalah sesuatu. Henry David Thoreau tinggal di Concord, Massachusetts, dan dia mengatakan ini: “Saya telah bepergian dan meninjau secara luas di Concord.” Vonnegut menggunakannya sebagai epigraf untuk kumpulan nonfiksi pertamanya, Wampeters, Foma, and Granfalloons. Dia menjelaskan: 

Kutipan itu mungkin pertama kali menarik perhatianku menurut salah satu guru yang menakjubkan di SMA. Thoreau, kini aku merasakan, menulis dengan suara seorang anak, sebagaimana yang kulakukan. Dan apa yang dia katakan tentang Concord adalah apa yang dirasakan setiap anak, apa dugaan yang mesti dirasakan setiap anak, tentang tempat kelahirannya. Pasti ada hal mengagumkan yang lebih dari cukup dalam seumur hidup, tidak peduli di mana pun anak itu dilahirkan.

Kastil? Indianapolis penuh dengan mereka. 

*

Kau tidak harus mengalami kematian atau kehancuran atau penderitaan untuk menulis. Kau hanya perlu peduli tentang sesuatu. Mungkin yang kau pedulikan itu kebahagiaan. 

Di Workshop Iowa Writers, dalam kelas Ragam Fiksi (kelas sastra wajib yang diarahkan untuk memeriksa fiksi dari sudut pandang seorang penulis, yang terdiri dari sekitar 80 siswa), Kurt mengajarkan cerita Chekhov. Aku tidak ingat namanya. Aku tidak mengerti maksudnya, karena tidak banyak yang terjadi. Seorang gadis remaja jatuh cinta pada bocah lelaki ini dan lelaki itu dan lainnya. Dia menunjuk seekor anjing kecil, seingatku, atau mungkin sesuatu yang lain, dan tertawa. 

Itu saja. Tidak ada konflik, tidak ada titik balik dramatis atau perubahan. Kurt menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kata-kata untuk kegembiraan semata-mata karena telah matang dengan kehidupan, kesegarannya sendiri, bakat akan romansa. Perasaannya yang tidak jelas mentertawakan sesuatu yang tak berbahaya. Itulah yang terjadi dalam cerita. Kebahagiaan mutlaknya dalam kegembiraan gadis itu yang terasa sangat hidup begitu mendorong kesenangan. Pesona Kurt mengajariku bahwa kisah-kisah semacam itu tak perlu dipandang rendah. Mereka layak diceritakan.


-- 

Saya mungkin lagi iseng atau kurang kerjaan atau bingung harus mengisi blog ini dengan tulisan apa, sampai-sampai memutuskan buat menerjemahkan secara serampangan sebagian nasihat dari Kurt Vonnegut untuk penulis tidak sabaran, dan menampilkannya di sini. Saya bisa jadi termasuk salah satu penulis terburu-buru itu. Akhir-akhir ini, setiap kali menulis saya ingin lekas rampung. Jika biasanya saya berusaha membaca ulang dan menyunting rancangan naskah sebanyak tiga kali atau lebih, kini palingan cuma 1-2 kali dan langsung cepat puas.

Tapi itu jelas soal lain. Pada bulan ini, selain tulisan yang sudah terpublikasi, saya telah berhasil menorehkan empat draf mentah cerpen maupun artikel yang malas saya edit dan lanjutkan lagi, sebab tiba-tiba merasa bahwa kisah beserta gagasannya itu hanya begitu-begitu saja, bahkan terlalu remeh. 

Sebuah nasihat baik, walaupun itu terlontar dari mulut orang sinting, bukankah tetap pantas buat diikuti? Kalau yang seperti itu saja layak dicoba, bagaimana dengan nasihat Vonnegut soal kepenulisan barusan? Saya entah mengapa langsung tersindir karena telah meremehkan cerita milik sendiri. Jika dipikir ulang, barangkali kisah yang saya anggap begitu doang bisa tampak keren dan mengandung makna berharga di mata sebagian pembaca, selama saya dapat mengolahnya dengan ciamik. 

Saya lantas menengok tulisan sebelumnya, Peristiwa 6 November. Bagi saya, ide kisah itu pun biasa saja. Cuma mengenai seorang tokoh yang merasa hidupnya sial dan menyedihkan, lalu bisa berubah bahagia lantaran hal sederhana—memenangkan kuis berhadiah buku. Protagonis pun menyimpulkan itu hari baiknya, segera melihat tanggal, dan mencatatnya. Dari situ cerita bergerak menuju kilas balik dan perenungan tentang tanggal tersebut. Yang ternyata malah membuat dirinya sedih dan jengkel. Dia bingung mengapa kondisi hatinya bisa berubah secepat itu, padahal sebelumnya sedang gembira. Apakah porsi kebahagiaan dalam hidupnya itu memang ditakdirkan berumur singkat? Dia pun akhirnya berputus asa lagi. Kala itulah bantuan datang dari arah yang tak terduga. Sebuah klip video aduhai dari seorang kawan yang membuatnya tertawa, bahkan terpingkal-pingkal. Hal itu dalam sekejap dapat memusnahkan kenestapaan hidupnya. 


Saya tak berani menyatakan teks itu bagus. Saya juga tidak mau menjelaskan mana yang fiksi, mana yang nyata. Itu terserah kesimpulan pembaca saja. Yang jelas, saya telah berupaya mengisahkan cerita itu dengan cara lain. Kalau biasanya curahan hati dituturkan dengan sudut pandang orang pertama agar perasaannya teramat kuat (lazimnya pembaca akan mudah membayangkan dirinya sebagai karakter itu), saya sengaja memilih menjaga jarak kepada pembaca—supaya mereka ragu terhadap cerita itu—dengan mengambil sudut pandang orang ketiga yang fokus terhadap satu karakter.

Permainan sudut penceritaan seperti itu mungkin bisa menciptakan kisah-kisah baru yang menyegarkan. Seingat saya, A. S. Laksana pernah menyampaikan dalam buku panduan menulisnya, Creative Writing, tentang latihan memainkan sudut pandang, yakni dengan mengisahkan ulang cerita Cinderella lewat sudut pandang kakak tirinya. Bakal seperti apa jalan ceritanya? Akankah pandangan kita berubah, lalu jadi membenci Cinderella—yang dengan beruntungnya memperoleh bantuan dari Ibu Peri?

Seandainya saya ingin mengambil sudut pandang baru dari cerita kemarin itu, saya pun masih bisa membuat beberapa tulisan lagi. Misalnya, dari sudut pandang Novi, Agia, atau malah buku hadiah kuis—memakai majas personifikasi. Saya bisa mengarang cerita dengan pertanyaan begini: mengapa Novi menetapkan pilihan untuk putus dengan Yoga dan memilih cowok lain?; bagaimana proses Agia menciptakan video itu dan menentukan lagu yang cocok?; bagaimana perasaan kedua buku itu menempati rumah barunya, apakah lebih bahagia di tempat yang sekarang atau tetap berada di rak toko buku? 

Konklusi saya sehabis menerjemahkan artikel di Lithub dan mengetik sampai paragraf ini: berarti seremeh dan seklise apa pun sebuah ide, selama bisa menuturkannya dengan asyik, itu tetaplah layak menjadi cerita dan dibaca orang-orang. 

Dalam tulisan lain (saya sudah lupa tautannya), Vonnegut juga pernah menyampaikan nasihat saat menulis sebuah cerpen: setiap karakter harus menginginkan sesuatu, meskipun itu cuma segelas air putih. Ketika pertama kali membacanya, saya sempat ragu dan mempertanyakan, apakah anjuran itu serius? Saya pikir tujuan si tokoh itu terlalu dangkal jika hanya ingin meminum air putih. Namun begitu saya coba bayangkan lagi, rupanya kisah itu bisa menjadi panjang dan penting saat tokohnya diberikan banyak hambatan.

Protagonis terbangun dalam tidurnya dan merasa sangat kehausan, tetapi persediaan air minum di rumahnya telah habis. Hari sudah kelewat malam, sehingga sewaktu mau pesan air galon lewat abang-abang langganan sudah tidak bisa, atau warung-warung di dekat rumahnya juga sudah tutup. Sewaktu dia ingin meminta air sama tetangga, tentu ada rasa malu dan takutnya mengganggu mereka yang sudah pada tidur. Mau pergi ke toko swalayan 24 jam, jarak tempuhnya yang paling dekat itu sekitar 30 menit. Akankah dia rela keluyuran tengah malam demi segelas air atau memilih tidur lagi? Dan seterusnya, dan sebagainya.

Berkat nasihat-nasihat sejenis itu, saya kini jadi semangat lagi buat melanjutkan draf-draf yang tertunda akibat perasaan cemas maupun takut tulisannya dibilang jelek dan kacangan. Toh, saya sadar kalau menulis di blog ini buat menyenangkan diri sendiri, melarikan diri dari realitas, dan tentu saja sebagai tempat berlatih demi suatu hari bisa terbit di media lain. 

Omong-omong soal media lain, saya masih tak menyangka beberapa cerpen di blog ini dalam rentang 2015-2017, kini bisa termuat di Loop.co.id. Pada masa-masa menggarap cerpen itu, saya memang belum gemar menebarkan teror (mengirimkan esai, cerpen, dan puisi) ke beberapa media. Sebab saya dulu berpikir bahwa tulisan-tulisan saya tak layak mendapatkan tempat selain di blog ini. Pada kemudian hari, ternyata ada pihak yang tertarik dan memberikan harga lumayan. Alhamdulillah. Terlepas bagaimana saya memandangnya hari ini, saya tetap tak bisa mencegah kegembiraan dalam diri ketika melihat respons para pembaca.




Maka sejak itu saya mulai lebih giat membaca dan bikin cerpen supaya bisa menghasilkan tulisan yang lebih bagus, lalu memberanikan diri buat mengirimkannya ke media ataupun ikutan lomba. Meski sejauh ini saya kerap mendapatkan penolakan, tapi secara tak langsung itu justru menguatkan mental saya. Bisa dibilang ada gunanya juga latihan menulis di sini, terus mendapatkan berbagai komentar pembaca—entah berupa pujian ataupun kritikan. Walaupun saya sadar orangnya itu-itu saja, bahkan jumlahnya kian menipis, yang penting tetap ada pembaca yang sudi mengapresiasi tulisan-tulisan saya. Ada satu orang saja yang menyukai ceritanya—selain diri sendiri, saya kira itu sudah lebih dari cukup.

--

Sumber gambar: https://www.theatlantic.com/entertainment/archive/2019/03/why-slaughterhouse-five-resonates-50-years-later/586180/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

20 comments

  1. Kadang gini juga mas, keinginan untuk menghasilkan tulisan yang sempurna akhirnya membuang momentum saat semangat menulis ada. Ada blogger yang bilang ketika ingin menulis, tuangkan saja tak usah menunggu lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yang dianggap bagus setahun lalu aja bisa berubah busuk pada tahun ini. Kesempurnaan enggak tepat buat sebuah tulisan, atau karya seni lain.

      Delete
  2. Kok gue enggak pernah kepikiran lagi buat ngirim tulisan ke media-media kayak yang lo lakuin ya. Ngerasa selalu lebih di blog sendiri aja dan biarin orang lain yang menemukannya. Padahal kan harusnya shout out ya kalau mau cepat berkembang karier di dunia kepenulisan ini. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa gue kepikiran, sebab gue butuh tambahan dana dari penghasilan yang enggak seberapa. Ahaha. Kalau ditolak, baru taruh blog sendiri atau simpan lagi buat cadangan suatu waktu ada lomba terkait atau apalah.

      Mungkin nanti kalau finansial aman juga bakal berhenti mengirim.

      Tapi tetap penasaran juga, kenapa menembus suatu media yang menyediakan honor lumayan dan kuratornya berkredibel, itu sulitnya bukan main.

      Delete
    2. Eh gue baru inget setahun terakhir gue cuma pernah ngirim tiga tulisan sepakbola ke Pandit Football, tiga-tiganya ditolak. Akhirnya gak mau lagi. Awalnya gue taruh di Medium, tapi sekarang akun Medium gue udah gue hapus. Jadi tulisannya ada di laptop gue doang. Wkwk

      Eh gue sempet loh kepikiran kalau mbak-mbak si baju kuning itu lo jadiin satu novel utuh. Premisnya buat gue kuat banget soalnya. Gatau sih kalau elo ya.

      Delete
    3. Eh gue baru sadar kalau balesan komen gue ini selalu dimulai dengan "Eh gue"

      Delete
    4. Tulisan lu jenisnya apa? Artikel atau esai, kah? Coba bikin cerpen tentang sepakbola aja, Man. Kalau esai kayaknya terlalu sulit.

      Sebetulnya tentang Mbak Manis Kemeja Kuning itu udah lagi gue proses buat jadi novelet--karena terlalu pendek kalau novel--berkat bahan-bahan menulis selama satu bulan kemarin. Cuma gue masih terbentur beberapa kesibukan dan rada payah buat menulis romansa, makanya ketunda-tunda. Yah, ketahuan kan proyeknya. Hahaha. Tapi ya, enggak apa-apa. Dari yang udah-udah, biasanya proyekan gue juga mandek. XD

      Delete
    5. Esai. Karena sebelumnya udah ada yang pernah terbit di sana tulisan gue, jadi gue pake formula yang sama buat tulisan gue selanjutnya. Enggak diterima. Belakangan gue tau kalau editornya udah ganti. Pindah ke Box2Box wkwk.

      Gue termasuk yang cukup excited sih kalau ini jadi novel, karena seru aja ngikutin alurnya dan jalan ceritanya unik. Dan tentu saja cukup depresif. Hahaha

      Delete
    6. Idem sama Firman, cerita mbak-mbak baju kuning itu dibikin novel. Gue juga excited!! Cerita yang depresif memang menarik.

      Delete
    7. Tapi proses menuliskan cerita depresifnya harus sedih terus-terusan hingga kisah itu kelar biar menerapkan method writing.

      Anyway, makasih sudah excited. Semoga saya enggak malas buat meneruskannya.

      Delete
  3. Loop tu portal onlain berbasis cerpenkah? Kok gw baru tau ya #mendadak penasaran pingin baca cerpenmu yg dimuat di loop itu, lumayan tuh yog yg ngelike byk...berarti cerpenmu sedikit demi sedikit sudah mnemukan pasar pembacanya

    Gw aja dulu pas jaman SMA obsesi tinggi masuk masukin ke media, tp yang sekelas majalah horison, alias majalah sastra, suka ditolak juga sih sebab kyknya emang blom jago bikin alur yg greget...karena kbanyakan yg dimust di situ aliran surealis...
    E giliran temen sebangku ngirim, cerpen dia dimuat #ku nyeseg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu ragam cerpen di portalnya baru dibentuk bulan ini. Saya penulis edisi pertama alias pembuka. Saya masih menunggu siapa yang bakal ngisi berikutnya. Saya jadi tahu tipe cerpen seperti apa yang lebih disukai pembaca lewat respons itu.

      Kayaknya emang susah menembus yang berbau sastra banget. Perlu yang ngepop gitu. Saya juga belum mampu membuat cerita surealis. Yang realis aja masih medioker.

      Terus mulai bandingin deh cerpen teman sebagus apa sampai bisa dimuat.

      Delete
    2. Sori, salah sebut. Aturan tahun, kok jadi mengetik bulan. Efek ngantuk nih balesin komentar jam 2 malam.

      Delete
  4. aku hrs akui, aku jg tipe yg ga sabaran :). seharusnya stiap kali nulis, ya harusnya aku baca berkali2, bahkan sampai besok harinya. krn mungkin aja setelah lwt beberapa kali, ada yg trasa janggal di tulisan kita kan.

    tp mungkin krn udh capek kerja, dan waktuku menulis cm sabtu minggu, akhirnya tiap ada tulisan baru, aku cm baca 2x, dan lgs publish. ga menunggu besoknya. alhasil, pas dibaca ulang setelah bbrp hari, aku sering ngerasa, kok gini siiih pilihan katanya, kok ada yg berulang yaaa.. hmmm, nyesel dh belakangan :D.

    Tapi krn aku plan utk resign thn depan, jd kepikir yog, mau lbh fokus menulis, belajar fotography dan bikin video juga.. trus mencoba lg kirim tulisan traveling ke media lah :D. walopun kecil utk bisa masuk, tapi aku pgn belajar lg :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kayaknya bakal selalu gitu deh, Mbak, sewaktu dibaca ulang setelah terbit. Ada rasa enggak puas. Takaran saya sih saat membaca ulang dan merasa ada yang kurang, itu bakal dimaklumi. Namun, kalau timbul rasa benci sampai-sampai pengin menghapus, padahal jangka waktu tulisan tayangnya di bawah tiga bulan, berarti emang gagal pas mengedit.

      Wah, ini berusaha mengiyakan anak bungsu mbak yang sempat ditulis di caption IG? Semoga lancar menekuni semua hal itu, Mbak. Sekecil apa pun peluangnya, yang penting kan sudah berusaha kirim dan probabilitasnya enggak nol. :D

      Delete
  5. Wahh, aku juga punya buku Creative Writing nya A.S. Laksana
    Dan iya, satu cerita bisa jadi variatif banget penuturannya tergantung sudut pandang

    #MaafSalfok
    #Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah merasa beruntung pernah membaca buku itu?

      Delete
  6. Dan kejadian hanya membaca ulang 1 atau 2 kali draft tulisan buat blog itu berujung dengan komentar "lah, kok jadinya gini doang, ya?"--setelah tulisan benar-benar tayang di blog. Biasanya kalau saya begitu sih. Apalagi kalau memang sedang dikejar "deadline pribadi" semacam "wah tulisan harus tayang ditanggal ini". Udah, asal langsung publish aja.

    Kalau masalah komentar, itu juga karena faktor kerajinan kita sering-sering BW sama share tulisan ke grup bloger nggak sih, Yog? Karena saya juga mengalimnya. Hahaha, sepi dan itu-itu saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu saya juga sering terjebak tenggat pribadi buat terbit seminggu sekali. Nyatanya, tulisan itu pada maksa. Sekarang berubah jadi sesempetnya dan sebaik-baiknya. Jadi kalau kosong dalam sebulan, ya santai aja selama diri sendiri belum sreg buat menampilkan tulisan itu.

      Sejujurnya, saya udah enggak pernah promosi di grup bloger, Wis. Saya kan enggak gabung komunitas bloger lagi.

      Palingan cuma promosi di Twitter. Yang mana mayoritas pengikutnya bloger-bloger juga. Kurang signifikan entah kenapa buat saya. Akhir-akhir ini malah enggak buka Twitter juga. Semakin melempem yang ada.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.