Peristiwa 6 November

18 comments
Sesampainya Yoga di rumah pada pukul 6 sore, sehabis pergi keluar untuk urusan tak penting, dia melihat bingkisan cokelat yang terbungkus plastik merah tembus pandang di meja laptopnya sesaat memasuki kamar. Tanpa perlu menebak-nebak, dia sudah tahu isi paket itu: dua buah novel. Itu hadiah dari suatu kuis yang dia ikuti satu bulan silam. Dari sekian banyak usaha yang telah dia coba lakukan dalam enam bulan belakangan ini (melamar pekerjaan; mengirimkan puisi, cerpen, dan esainya ke suatu media; ikut sayembara menulis cerpen, lomba mengulas buku, dll.), rupanya yang berbuah manis justru kuis iseng-iseng di Twitter.



Dia mulanya berpikir bahwa tahun ini merupakan tahun terburuknya sepanjang menjalani hidup. Dia juga mulai muak sama hidup lantaran berulang kali mengalami apes dan kegagalan. Namun menjelang tutup tahun begini, ternyata masih ada keberuntungan yang sudi menghampirinya. Cara pandangnya terhadap hidup dan tahun 2019 pun mulai bergeser sedikit. Hari ini sepertinya pantas buat dirayakan, pikirnya. Sekalipun hadiahnya paling-paling hanya senilai seratus ribu, tapi dia tetap ingin sekali mengingat tanggal hari ini. Siapa tahu ke depannya selalu bisa menjadi hari baik baginya. Dia lantas mengecek tanggal di ponselnya: 6 November.

Ketika sebuah hadiah, atau bisa dibilang juga suatu keberuntungan, datang kepadanya pada tanggal tersebut, apakah ada peristiwa penting lain yang terjadi di luaran sana? Dua menit berselang, rasa iseng di dalam dirinya mendadak terbit. Oleh sebab itulah, kini dia mengetik “6 November” di pencarian Google dan mengeklik tautan Wikipedia. 

Ririn Dwi Ariyanti, aktris yang pernah dia idolakan belasan tahun silam, lahir pada 6 November 1985. Pada tahun 1908, Cut Nyak Dhien—Pahlawan Nasional Indonesia asal Aceh yang sosoknya pernah menghiasi uang sepuluh ribu emisi 1998—meninggal dunia. Mundur jauh ke era Kerajaan Hindu-Buddha, pada tahun 1157, Empu Panuluh dan Empu Sedah berhasil merampungkan kitab Kakawin Bharatayuddha (berisikan perang antara Kurawa dan Pandawa) atas perintah Prabu Jayabaya. Pada 2011, Hari Raya Iduladha 1432 Hijriah jatuh pada 6 November. 

Yoga lalu membatin, banyak juga peristiwa menarik pada tanggal itu. Terus, apakah ada hal penting lain yang terjadi dalam hidupnya? Dia pun mencoba menelusuri kejadian-kejadian 6 November dalam sewindu terakhir. 


Sejauh yang dapat Yoga ingat, 6 November merupakan momen penting saat dia sedang mempersiapkan kado maupun kue ulang tahun untuk seseorang yang sekarang ini telah menjadi mantan kekasihnya. Novi Devitasari, pacar yang merangkap teman sekelasnya di kampus, lahir pada 7 November. Pada tahun 2013, Yoga meminta tolong kepada Winda (teman sekelasnya juga) untuk menemaninya mencari kue ulang tahun. Yoga sengaja mengajak Winda sebab dia merupakan teman baik Novi. Selain itu, rumahnya pun termasuk yang paling dekat dengan rumah Novi, sehingga dia juga bisa menitipkan kue itu di kulkas Winda. 

Yoga hanya memiliki uang 150 ribu di dompetnya. Dia bingung, apakah nanti ada kue yang harganya sekitaran segitu—atau kalau bisa di bawah itu? Dia begitu dongkol mengetahui kenyataan bahwa tanggal gajiannya masih sehari lagi. Dia gajian pada tanggal 7 setiap bulannya. Tapi jika tanggal 7 jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, gajian itu akan dipercepat menjadi tanggal 5 atau 6. Sayangnya, pada bulan itu tanggal 7 bukanlah hari libur. Sialan, umpatnya dalam hati. Sebetulnya, sih, dia bisa saja membeli kue ataupun kadonya secara dadakan sepulangnya bekerja. Namun, dia tipe orang yang tidak suka tergesa-gesa dan takutnya kejutan itu malah jadi berantakan. Dia lebih suka dengan hal-hal yang dipersiapkan terlebih dahulu, minimal sehari sebelumnya. 

“Lu tahu toko kue ultah lain yang enak dan harganya seratus ribuan dekat-dekat sini, Win?” ujar Yoga kepada Winda begitu dia gagal mendapatkan kue karena kehabisan di salah satu toko di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. 

“Kalau di dekat-dekat sini setahu gue mah enggak ada lagi, Yog. Adanya di sekitaran Jombang.” 

“Lumayan jauh, ya. Gue enggak tahu jalan pula.” 

“Tenang aja, gue kan tahu.” 

“Tapi nanti kita baliknya kemalaman apa enggak, Win? Ini udah jam sembilan, masalahnya. Gue jadi enggak enak nih ngerepotin lu begini.” 

“Yeh, santai aja kali.” 


Setengah jam setelah itu, Yoga berhasil mendapatkan kue ulang tahun rasa tiramisu seharga 110 ribu, lalu ditambah dengan pisau pemotongnya serta lilin menjadi 120 ribu. Sisa uangnya pun dia belikan bingkai foto ukuran kecil dan biaya cetak foto (foto Novi berdua dengan dirinya). Pada keesokan harinya, acara mengejutkan sang pacar pun sukses besar.



Yoga sudah putus dengan Novi pada setahun berikutnya. Anehnya, dia saat itu masih tetap berusaha memberikan mantannya sebuah kado. Dia baru saja selesai membungkus jaket timnas Spanyol warna merah—warna kesukaan Novi.

Selagi Yoga bingung memikirkan kata-kata sebagai pengantar ucapan ulang tahun, muncul seseorang di dalam dirinya yang mengamuk dan berkata, “Hei, buat apa kamu pusing-pusing menuliskan kalimat indah untuk cewek kayak dia? Ini kamu mau kasih kado aja udah kelewatan begonya, tahu. Ingat, Yog, ingat! Dia telah memilih cowok lain ketimbang dirimu. Eh, kamu sendiri kok masih terus-menerus berharap pengin balikan sama dia. Jangan mengasihani diri sendiri begitulah.” 

Sebenarnya, Yoga membeli jaket itu lantaran Evan (teman kantornya) memintanya buat menemaninya datang ke distro khusus atribut bola. Begitu jam kantor berakhir, Evan bertanya kepada Yoga, apakah nanti sekitar habis Isya dia tidak ada acara ataupun kesibukan? 

“Enggak ada, Van. Kenapa?” ujar Yoga. 

Temenin gue beli jersey di daerah Joglo, yuk! Gue males pergi sendirian.” 

“Oh, ya udah, nanti berkabar aja.” 

“Sip, nanti kita ketemuan di Rawabelong.” 


Evan memilih satu jersey Real Madrid putih beserta jaketnya yang berwarna hijau toska. Ketika sudah siap membayar, Evan menggoda Yoga dengan bilang, “Lu enggak mau beli, Yog? Cuma nemenin gue aja nih?” 

“Jaket MU (Manchester United) gue kan udah ada dua. Jersey malah ada tiga. Itu aja udah jarang gue pake, Van.” 

“Beli buat adek lu atau siapa gitu. Bisa juga kan buat kado. Lu pilih aja tuh yang lagi diskon. Lumayan kan 50%.” 

Mendengar kata kado, Yoga otomatis teringat besok hari ulang tahun mantannya. Dan begitulah akhirnya dia terjebak rayuan Evan dan membeli jaket Spanyol itu.


“Ciyeee, dikasih kado sama mantan. Udahlah, mending kalian balikan lagi,” kata beberapa kawan kuliah Yoga yang melihat Novi sedang membuka bungkusan kado.

Pipi Novi berubah merah sebagaimana warna jaket yang lagi dia coba kenakan, dan Yoga sendiri juga merasa malu bukan main menerima ejekan-ejekan tersebut. Meskipun di dalam hatinya Yoga masih menginginkan hal yang menjadi ledekan teman-temannya itu, atau dengan kata lain: dia tak mau membohongi perasaannya, tapi dia cukup sadar diri akan seseorang yang sudah memilih pergi sebaiknya tak perlu diharapkan untuk kembali lagi. Terlebih lagi Yoga tiba-tiba terkenang kejadian berengsek suatu sore sepulang kuliah, ketika dia melihat Novi sedang memeluk gebetan atau pacar barunya di motor, padahal Yoga dan Novi baru putus sekitar satu minggu. Sudah berapa lama mereka dekat? Jika saja waktu itu kondisinya tidak macet, Yoga ingin sekali menabrak mereka dari belakang. Jadi, daripada balikan sama mantan, kata Yoga dalam hati, mending gue makan tai luwak—tentu dalam bentuk kopi. 


Setan. Setan. Setan. Yoga memaki ingatannya yang bisa-bisanya mengajak dirinya kilas balik tentang Novi. Kenapa dua momen 6 November itu justru berkaitan dengan mantannya yang satu itu? Memang, dari semua mantan baru dialah seseorang yang membuat Yoga merasa lebih dekat dengan keluarga si pacar. Yoga seakan-akan merasa sudah diterima oleh keluarganya, khususnya akrab banget dengan adiknya Novi karena setiap mengapel sering main PlayStation bareng. 

Tapi dari sekian banyak memori pada 6 November, apakah ada hal lain yang tidak bersentuhan sama sekali dengan percintaan?

Yoga mulai teringat akan kejadian konyol satu tahun lalu. Dia lagi sangat frustrasi dengan keadaan baterai laptopnya yang soak kala tengah menggarap proyek kumpulan cerpen. Laptopnya harus selalu dicolok pengecas. Tersenggol sedikit saja kabelnya, pengisi daya itu langsung tidak bekerja dan laptopnya mendadak mati. Lalu, kemarahan pada kondisi laptopnya itu entah mengapa malah berimbas pada penghapusan sebagian cerpen di folder laptopnya. Sebelum menghapus beberapa naskahnya itu, Yoga tengah asyik membaca ulang cerpen-cerpennya dalam rentang 2015-2017. Awalnya sih tidak ada kendala sewaktu dia membuka folder 2017 dan 2016. Tapi begitu dia pindah ke folder 2015, ada lebih dari 5 cerpen yang membuat dirinya melontarkan sumpah serapah saking keterlaluan jeleknya. Setidaknya, dia bersyukur telah menghapus sampah yang tak pantas lagi untuk dibaca ulang, apalagi didaur ulang. Toh, berkat hal itu dirinya bisa lebih fokus memperbaiki gaya menulisnya pada kemudian hari tanpa perlu mengingat-ingat cerita busuk macam apa yang pernah dia ciptakan. 


Ayolah, apa lagi peristiwa 6 November? Masa cuma itu? 

Berhubung ingatannya tak sanggup lagi menggali lebih dalam, dia mencoba memancingnya dengan menyusuri twit-twitnya menggunakan berbagai kata kunci. Tak ada hal menarik dalam pencarian itu. Dia lalu menengok tulisan-tulisan di blognya. Akhirnya, dia berhasil menemukan sebuah tulisan yang termuat pada 6 November 2015, bertajuk Yang Kedua. Sebuah cerita sedih ketika dia mengenang adik bungsunya yang meninggal dalam kandungan Ibu. 

Walaupun di tulisan itu Yoga tetap memasukkan lelucon dan bisa tersenyum sedikit, tapi kesedihan telanjur menyelimuti dirinya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia merasa gembira karena hadiah berwujud buku. Lalu, mengapa rasa nelangsa bisa mengambil alih dirinya secepat itu? Dia butuh sekali pertolongan. Dia perlu mencari eskapisme. Kala itulah di ponselnya terdapat notifikasi Twitter. Yoga membuka kunci dan melihat ada mention dari Agia Aprilian, kawannya yang tinggal di Bandung. Agia melampirkan sebuah klip. Yoga lantas mengambil earphone, mencolok kabel ke ponsel dan memasang alat pendengar ke kedua kupingnya, kemudian memutarnya.


Sepuluh detik pertama, Yoga langsung terbahak-bahak sembari memukul-mukul kasur. Bahkan sampai video itu berakhir, dia masih cengengesan dan sulit menghentikan tawanya. Yoga lalu mengucapkan terima kasih kepada kawannya. 

Biarpun niat awal Agia mendedikasikan klip video itu mungkin supaya Yoga bisa terhibur dan tak perlu lagi ripuh mengenang memori singkatnya bersama perempuan manis berkemeja kuning (pada bulan Oktober, Yoga mengkhususkan blognya cuma diisi untuk segala hal tentang Mbak Manis Kemeja Kuning), tapi ternyata klip tersebut juga bisa menjadi sebuah pelipur lara dalam kondisi dan situasi apa pun. 

Bisa dibilang pilihan lagu Agia itu juga amatlah unik dan menarik. Lagu lawas itu dulu pernah diputar oleh orang tua Yoga saat dirinya masih bocah dan seolah-olah memiliki nilai istimewa di hatinya. Walaupun dulu dia tak tahu apa arti dari lagu itu, yang penting nadanya terdengar riang gembira. Lagu maupun klip itu pun membuatnya lupa dengan rasa sedih. Kini, dia jadi merasa malu dengan usianya yang kurang cocok lagi disebut muda, tetapi masih saja menjalani persoalan cinta-cintaan sejenis itu, apalagi harus bersedih karenanya. 

Yoga lalu merenung, rupanya bantuan-bantuan dalam hidup bisa datang dari mana saja, bahkan dari arah yang tak terduga. Seraya merebahkan diri di kasur, Yoga menyimpulkan kalau tanggal 6 November sepertinya bisa menjadi tanggal yang baik untuknya pada kemudian hari. Entah apa yang akan terjadi setahun setelahnya. Apakah dia berhasil melupakan sosok perempuan berkemeja kuning itu, atau malah dipertemukan dengannya? Atau bisa jadi dia sudah tak peduli lagi sebab kepincut perempuan lain yang lebih aduhai? 

Sambil tetap menerawang jauh ke depan, mungkinkah itu tanggal perkawinan Yoga kelak? Atau menjadi tanggal saat dirinya memenangkan sayembara menulis? Atau hari di mana dia berhasil menerbitkan sebuah buku? Apa pun itu, semoga 6 November tidak berubah 180 derajat dan menjadi hari paling celaka untuknya.
Previous PostOlder Post Home

18 comments

  1. kalau enggak salah, di blog ini pernah ada resensi 24 jam bersama gaspar. ada rencana meresensi srimenanti atau arapaima?

    oya, tulisan ini jadinya cerpen atau gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum mumpuni buat bikin resensi, itu waktu Gaspar cuma kesan setelah membaca aja. Hasil ulasannya juga jelek begitu. Tapi kapan-kapan mau coba lagi kalau nemu buku yang layak dan memaksa gue buat menulis tentangnya.

      Jika pertanyaannya cuma soal cerpen, itu kisah jelas ditulis dalam bentuk cerpen. Soal kejadian nyata atau ada campuran fiksinya, biar Philip Roth yang menjawab: I write fiction and I'm told it's autobiography, I writeautobiography and I'm told it's fiction, so since I'm so dim and they're so smart, let them decide what it is or it isn't.

      Delete
  2. Oke, Yog, begini ternyata salah satu POV yg pernah kamu ceritakan, tau isi kepalanya tapi hanya satu karakter orangnya saja.

    Cara orang menyikapi keadaan memang berbeda-beda, ya, bahkan saat ngalami nasib baik, dia review ulang hari di tanggal yg sama, mungkin ada kebahagiaan lain dulu yg bisa menyemangati. Boleh juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sudut pandang orang ketiga yang fokus sama satu karakter.

      Huwahaha. Ternyata yang ditemui di masa lalu enggak semuanya baik.

      Delete
  3. Ternyata banyak juga kejadian du satu tanggal ya. Gue cuma ingat 6 November adalah ulang tahun senior gue. Sama tahun 2013 lagi persiaoan diksar ke hutan selama 1 minggu. Hahaha

    Semoga tanggal 6 November selanjutnya jadi hari hari yang baik buat lu yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak jika mau menengok dunia luar, bukan cuma kejadian sendiri, apalagi tahun itu sendiri sudah 2019. Pasti ada peristiwa-peristiwa.

      Aamiin. Makasih.

      Delete
  4. Gara-gara 6 November ingatan jadi kemana-mana ya. Aku suka sekali cerita tentang Novi itu, so sweet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian dia meluk cowok lain pas belum lama putus itu juga so sweet kah, Mbak?

      Delete
  5. Ah, bagian kamu ingin menabrak Novi dan gebetan atau pacar barunya itu, kok aku gregetan juga ya... Aku jadi kamu pasti sudah marah besar tapi aku nggak bisa nabrak sih. Gimana ya? Kenapa sih cewek begitu? Eh, cowok juga sih. Ah...

    Tapi, selamat atas hadiah di twitternya, itu beneran kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaanmu itu intinya kenapa orang selingkuh atau bisa cepat berganti hati? Saya kurang paham soal perasaan manusia yang kompleks, Mbak. Haha.

      Betulan. Tanpa skenario.

      Delete
  6. Hmmm aku tau rasanya abis putus langsung ditinggal kencan seminggu kemudian. PAHAMMM.
    Tapi dibalik aja, yang cowo yang langsung menebar pesona sementara aku disini merasa hina wkwkkwk.

    Eh tapi yog. Salut sama kamu yg meskipun sakit hati tapi masih dewasa dan nggak benci bahkan masih mau ngado. betapa dewasanya kamu.
    Kalo aku mah, udah musuhan terus block block an.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin rasa sayangnya melebihi rasa benci, Da. Jadi perasaan ingin marahnya bisa terkendali.

      Saya emang enggak suka blokir mantan. Malah saya yang biasanya diblokir. Tapi ya itu pilihan tiap orang. Enggak salah juga. Mungkin karena proses saya dalam berdamai atau memaafkan diri sendiri maupun pasangan termasuk cepat.

      Delete
  7. Duh, mantap juga bagian ngasih kado ke mantan itu. Hmmmm. Hmmmm. Gue itu juga kaget lho. Ada obrolan apaan sih sama Agia? Apa emang dia tiba2 random aja gitu ngirim videonya ke lo? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tiba-tiba ngirimin begituan. Spontan aja. Mungkin emang pengin menghibur setelah baca beberapa tulisan di blog soal perempuan berkemeja kuning.

      Delete
  8. Tak kira Jombang - Jawa Timur, Yog. *kejauhan, bambang*

    Karena saya termasuk orang yang menganut paham "tulisan dan ucapan adalah sebuah doa", maka saya mengaminkan untaian kalimat yang ada di paragraf terakhir. Aamiin.

    Ngakak sih, pas lihat video itu muncul di timeline Twitter beberapa waktu lalu. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gila, jauh amat. Ahaha. Tapi baru sadar juga ada beberapa tempat yang namanya sama di kota lain. Kayak Depok bagian Jabodetabek, sama Depok kawasan Yogyakarta.

      Aamiin.

      Hahaha. Perlu lebih banyak video hiburan semacam itu ketika lagi dirundung masalah dan kesedihan.

      Delete
  9. Sungguh, ya, Agia ini. Aku selalu membayangkan dia duet bersama Febri untuk cover lagu Entah Apa yang Merasukimu.

    ReplyDelete
  10. Look. Look. Look how love makes us that stupid. LOL.

    Menurut gue sih, bersedih dan alay karena cinta gak kenal umur, jadi ya semuanya jadi keliatan wajar-wajar aja kalau lagi jatuh cinta atau patah hati meski orang lain melihatnya alay atau norak. Ini gue ngomong apaan sih

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.