Pintu yang Terbuka pada Usia 27 Tahun

Pada Ramadan dua bulan silam, sehabis Asar saya iseng ngabuburit dengan menonton ulang film 3 Hari untuk Selamanya di Netflix. Dari berbagai adegan film itu yang sebetulnya ingin saya komentari atau beri kritik atau sok bikin ulasan yang berujung malas dan lupa, ternyata malah ada satu hal yang terus-menerus mengusik kepala saya hingga hari ini dan jadi bikin merenung. Hal itu terkait dialog antara Yusuf dan Ambar tentang usia 27 tahun. Ucapannya kurang lebih begini: “Ketika kamu berumur 27, kamu akan mengambil keputusan penting yang akan mengubah hidupmu. Itu di mana pintu-pintumu akan dibuka atau ditutup oleh Allah.” Tokoh Yusuf lantas memberi contoh tentang Kurt Cobain yang menutup usia pada 27 tahun.
 



Saya merenung dan mengingat-ingat kembali akan sosok diri saya pada usia 27 tahun. Dua tahun silam saya merupakan seorang pekerja lepas yang sudah jarang sekali menerima tawaran kerja dan lebih cocok disebut pengangguran. Saya mungkin tergolong seseorang yang nyaris menyerah pada hidup di usia 27 tahun dan berencana mati muda. Kala itu, tanpa perlu sok mendramatisasi kehidupan, saya memang teramat lelah dengan kondisi hidup yang sungguh memble, dan berharap segera mampus aja.
 
Namun, sebelum tahun 2022 berakhir, tepatnya pada akhir Agustus, suatu kesempatan terbuka di depan mata saya. Salah seorang teman ayah saya menawarkan sebuah pekerjaan. Meski awalnya dia berkata bahwa gajinya belum UMR Jakarta dan jenis pekerjaannya enggak cocok dengan saya, kala itu saya mulai bersikap realistis (mau sampai kapan terus bermimpi menjadi seorang penulis hebat padahal sering dalam kondisi lapar dan bokek?), kemudian benar-benar tak ambil pusing dan langsung mengiyakan saja tawaran tersebut. Singkat cerita, rupanya saya benar-benar diterima kerja.
 
Tiga bulan masa percobaan berlalu begitu saja dan pekerjaan saya ternyata ada beberapa minus di mata atasan. Saya tak menyangka dengan hasil evaluasi ketika saya tiba-tiba dipanggil ke ruangan HRD, dan sungguh terkejut dengan ujaran beliau bahwa apa yang saya kerjakan masih ada kekurangan dan kelirunya. Saya pikir apa yang saya kerjakan selama ini sudah benar. Siapa sangka pada hari-hari menjelang kontrak berakhir, saya justru mendapatkan jotosan yang sangat kuat di hati. Muncul perasaan kecewa dan marah, yang entah kepada siapa harus saya tujukan selain kepada diri sendiri.
 
Saat saya sedang rebahan selepas pulang kerja, pernah terlintas di pikiran bahwa jika di penghujung tahun ini saya kembali mengalami nasib gagal, mungkin memang hidup sudah tak layak lagi buat dijalani. Usia saya akan berhenti pada angka 27.
 
Lalu Desember dan momen penentuan pun tiba. Mulanya, saya kira akan mendengar kabar buruk, tapi ternyata diri saya tetap lebih banyak sisi positifnya di mata beberapa atasan, khususnya tentang diri saya yang disiplin dan selalu datang tepat waktu, hingga konklusinya: kontrak kerja saya masih layak buat diperpanjang. Omong-omong, sampai hari ini saya alhamdulillah masih bekerja di sana dan lumayan ada kenaikan gaji.
 
Lantaran mengenang hal itu, saya pun merasa bahwa pada usia 27 tahun pintu rezeki saya telah dibuka oleh Allah. Saya berusaha berkali-kali dan selalu gagal dalam pencarian kerja sejak usia 24. Saya jatuh-bangun berulang-ulang kali dan tentunya banyak gagasan yang mampir ke kepala buat menyudahi hidup, lantas siapa nyana kalau pintu rezeki itu akhirnya benar-benar terbuka pada umur 27.
 
Memiliki pekerjaan dan pemasukan tetap setiap bulannya (meski bisa dibilang masih jauh dari kata sukses atau tajir) otomatis membuat saya lebih percaya diri. Walaupun masih banyak yang perlu saya benahi dalam hidup, saya berniat buat lebih jujur tentang perasaan saya kepada seorang perempuan manis yang diam-diam memang saya sukai kala saya berumur 27.
 
Bermula dari menjalin kontak dengannya lagi dengan iseng merespons status WhatsApp atau InstaStory yang dia bikin, hingga ketika obrolan semakin berlanjut saya memberanikan diri buat mengajaknya berjumpa. Tawaran itu puji syukur bersambut dengan baik.

Seorang sahibulhikayat pernah berujar bahwa ada kalanya dalam hidup kita belum tentu memperoleh kesempatan kedua. Oleh karena itu, pada pertemuan yang kedua kalinya bersama dia (jelas ada probabilitas kalau kami hanya akan ketemuan sekali dan kembali menjadi orang asing, kan? Lalu kami bisa mengadakan pertemuan yang kedua, yang artinya saya masih mendapatkan kesempatan dong?), saya langsung membuang segala ketakutan yang kelak akan terjadi, saya katakan sejujurnya apa yang saya rasakan di hati, dan akhirnya kata-kata mengalir begitu saja hingga kini kami sudah setahun menjadi sepasang kekasih. Saya pun menganggap sekaligus mengamini bahwa ini termasuk pintu jodoh yang juga dibuka oleh Allah.
 


Saya jelas tak tahu akan bagaimana hidup saya ke depannya nanti. Kalimat itu bukan berarti hidup saya tanpa arah, melainkan saya pernah merencanakan segala gagasan tentang hidup sejak saya kuliah, tapi apa daya yang terjadi saya justru drop out di semester 7, saya pernah kesulitan mendapatkan pekerjaan hingga 3 tahunan, saya pernah patah hati karena diselingkuhi, dan berbagai macam hal lain yang tentunya tak sesuai dengan bayangan awal.
 
Saya paham bahwa apa yang saya tanam belum tentu semuanya berbuah manis. Meski demikian, saya tetap akan berusaha sebaik-baiknya dalam hidup (tentu disertai dengan doa) dan berangkali akan ada pintu-pintu kebaikan yang kembali dibuka oleh Allah.

4 Comments

  1. Alhamdulillah ya, semua mulai membaik di usia 27. Setelah beberapa tahun melewati masa sulit, semoga untuk selanjutnya akan terus lebih baik dari segi karir, percintaan, dan smua hal. Aaamiiinn

    Saya juga baru mau memasuki usia 27 nih, agak deg-degan dan penasaran sebenernya sama apa yang akan terjadi nanti. Tapi biarlah semua jadi rahasia Ilahi, yang penting doa dan harapan smuanya akan baik-baik saja dan lebih baik. Hehe. Mohon bantuannya, Senpai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih, Jacko. Alhamdulillah banget bisa survive setelah usia rawan sekaligus magis itu.

      Asyik, tahun ini 27 tahun ya? Semoga segala pintu yang berhubungan dengan hal baik juga terbuka ya. Aamiin.

      Delete
  2. aku lupa2 ingat keputusan penting apa yg aku ambil pas usia 27.. mungkin keputusan nikah sih, walo pada akhirnya molor jadi usia 29 ;p

    agree lah dengan paragraf terakhir.. sesakit apapun hidup yog, jangan bosen berbuat baik atau melakukan hal2 baik lain.toh kita ga tahu kebaikan mana yg akan dibalas gusti allah nantinya. jadi trus aja kerja sebaik2nya, mungkin gaji ga sesuai, tapi berkah dari Nya bisa jadi dalam bentuk lain. :)

    ikut seneng ama improvement yg kamu lalui... trus, moga2 emang berjodoh ama si mbak sekarang ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini ketika tulisan dibuat, saya juga 29, Mbak. Hahaha. Keputusan buat mengenang masa-masa 27 yang terasa magis.

      Betul, Mbak Fanny. Semoga ada keberkahan dalam wujud lain. Aamiin. Terima kasih.

      Saya sendiri juga perlu buat berterima kasih dengan diri sendiri setelah berhasil melalui masa kelam itu. Sekali lagi, nuhun buat doanya, Mbak. Aamiin.

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.