/1/ 

Saya benci dengan kuis yang syaratnya minta ampun banyaknya. Misalnya, wajib mengikuti akun ini dan itu, mengunggah ulang info tentang kuisnya sekaligus mempromosikannya di akun media sosial, menyebut minimal tiga orang teman, serta memakai tagar yang bejibun. Biarpun hal barusan terasa keterlaluan, saya ternyata bisa lebih benci lagi terhadap para peserta yang berusaha menjilat jurinya supaya menjadi pemenang. Untuk persoalan yang kedua, saya sepertinya harus benci sama diri sendiri karena pernah melakukannya.


Suatu hari pada September 2019, saya sempat membaca informasi tentang kuis dengan hadiah menggiurkan yang diadakan oleh iPusnas dan Realme, dan syaratnya hanya tiga: 1) Mengikuti akun si pembuat kuis; 2) Mengunggah foto buku digital yang lagi dibaca di iPusnas ke sebuah situs; 3) Membuat ulasan singkat tentang buku tersebut. Sebagai pencinta gratisan, saya pun berusaha menyelesaikan buku yang sedang saya baca secepat-cepatnya sekalian bikin ulasannya sebanyak 500-an kata. 

Konyolnya, ketika saya menyalin ulasan dari aplikasi Catatan ke kolom komentar yang tersedia, muncul notifikasi eror. Saya mencoba menyegarkan halaman dan mengulang prosesnya, tapi lagi-lagi terdapat pemberitahuan yang sama. Mungkin sistem webnya melarang peserta untuk melakukan salin-tempel. Akhirnya, saya terpaksa mengetik ulang ulasan tersebut, lalu tiba-tiba enggak bisa mengetik satu pun huruf padahal jumlah ketikan saya masih pendek sekali, dan perlahan-lahan mulai mengerti bahwa kolom komentar pada situs itu cuma bisa menampung sebanyak satu paragraf—yang jumlah katanya paling-paling tak lebih dari 50 kata.

Ini sistemnya sungguh bajingan. Terus, buat apa saya bikin ulasan panjang kalau mesti memangkas hampir seluruhnya? Mulanya saya sudah ingin membatalkan rencana untuk ikutan kuis, tapi setelah melihat beberapa komentar peserta lain yang tampak memuji-muji bukunya dan cenderung menjilat, saya entah mengapa jadi ikut-ikutan berkomentar seperti mereka.

Selain masalah komentar yang benar-benar singkat, saya juga baru sadar mengenai kuis yang saya coba ikuti ini sudah dalam tahap hadiah puncaknya: ponsel seharga tiga juta. Berhubung hadiahnya semakin mantap, ketentuan kuisnya bertambah satu lagi, yakni mempromosikannya di InstaStory dan mengajak teman-teman yang lain ikutan. Sejauh ini, saya belum pernah sekali pun bikin cerita di InstaStory. Saya enggak bermaksud sok beda atau kepengin jadi hipster. Saya hanya telanjur malas memakai fitur itu, sebab ponsel saya yang lama belum mendukung penggunaannya. Kini, sehabis berganti ponsel yang sudah bisa menggunakan InstaStory, minat saya pun lenyap begitu saja. Alhasil, saya membiarkan diri ini gugur dalam kuis itu meskipun sudah kadung berkomentar dan mengunggah buku bacaan.

Hari ini saya sangat menyesali keputusan saya pada tempo hari atas komentar yang tampak menjilat. Walaupun sudah yakin tak terhitung sebagai peserta kuis, mestinya saya hapus saja komentarnya agar tak ada yang membaca ulasan tolol itu. Namun, terlepas dari hal-hal yang sudah lewat dan sebaiknya tak perlu disesali lagi, berikut ulasan saya sebelumnya atas sebuah buku di iPusnas. 


/2/ 



Saya tak sepakat dengan judul bukunya, Ernest Hemingway: 17 Cerita Terbaik. Baru sampai sebatas membaca judul dan daftar isinya, saya otomatis langsung membatin begini: Apanya yang terbaik kalau beberapa cerpen penting Hemingway yang terhimpun dalam kumcer Salju Kilimanjaro hanya masuk sedikit banget di buku ini? Tapi, menilai buku hanya dari judul dan daftar isinya jelas termasuk perbuatan tolol. Maka, saya harus menyimpan pertanyaan itu, membaca keseluruhannya terlebih dahulu, barulah memberikan penilaian. 

Berhubung beberapa cerpen yang ada di buku ini pernah saya baca dalam bentuk asli maupun terjemahan lainnya, saya sengaja melewatkannya dan memilih cerita-cerita lain yang belum pernah saya konsumsi saja. Sekelarnya membaca satu cerpen, saya bertanya-tanya mengapa tulisan Hemingway terasa jelek? Mengingat kualitas tulisan dalam sebuah kumpulan cerita yang biasanya tidak seragam (ada yang biasa saja, bagus, dan bagus banget, bahkan jelek), saya mencoba memaklumi dan meneruskan ke cerita selanjutnya. 

Pertanyaan itu lagi-lagi muncul di kepala saya. Apakah sang peraih Nobel Sastra ini juga pernah khilaf memproduksi tulisan jelek dan menghimpunnya ke dalam buku? Bisa jadi. Bisa juga proses alih bahasa yang membuat tulisannya menjadi buruk. Jadi, yang sebenarnya buruk ialah si penerjemah, bukan pengarang aslinya? Saya pun mulai meragukan kualitas penerjemahnya.

Daripada cuma menebak-nebak, bukankah lebih baik saya langsung mencari tahunya? Cara mengetahui hal ini tentu dengan membaca ulang cerpen terjemahan yang pernah saya lahap bentuk aslinya. Kesimpulan saya selepas membaca keseluruhannya: cerpen Hemingway terasa jelek karena proses penerjemahannya buruk banget. Beberapa kata begitu kaku saat dibaca, sehingga agak sulit buat menikmati jalan ceritanya. Apalagi ada banyak ejaan yang keliru seakan-akan tidak ada proses penyuntingan. Apakah penerjemahnya memakai bantuan Google Translate? 

Pertanyaan saya berikutnya, terlepas dari penerjemahannya yang busuk, apakah sang penerjemah juga bertugas sebagai kurator cerpen-cerpennya? Lantas, mengapa cerpen Salju Kilimanjaro dan Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat tidak ikut dimasukkan ke dalam buku ini? Mungkin selera si penerjemah juga patut dipertanyakan.

Tapi yang lebih penting dari itu semua, kenapa tulisan hasil terjemahan yang semrawut ini bisa menjadi sebuah buku dan diperjualbelikan? Sebelum menjadi versi digital yang dapat dinikmati secara gratis di iPusnas, buku-el ini pasti ada bentuk buku fisiknya, kan? Kok bisa sih penerbit mencetak buku dengan terjemahan sekacau itu? Sekalipun saya bukan penggemar Hemingway dan tak ada maksud untuk membelanya, menurut saya menjual buku terjemahan penulis besar yang digarap dengan serampangan merupakan bentuk penghinaan terhadap penulisnya. Rasanya sayang banget kalau sampai ada orang yang berpikiran Hemingway karyanya seampas itu lantaran si penerjemahnya yang tidak kompeten. 


/3/ 

Pada poin kedua, kalimat-kalimat saya atas kritik itu terasa sombong sekali, padahal di tulisan sebelumnya: Neil Gaiman – Orang Lain, kualitas terjemahan saya mungkin juga tak lebih bagus ketimbang si penerjemah buku yang saya ejek seenak jidat itu. Saya sendiri pun mengakui kalau kemampuan saya dalam mengalihbahasakan masih teramat jelek. Meski begitu, tak ada sedikit pun keinginan dalam diri saya buat mengomersialkannya. Niat saya menampilkannya di blog adalah buat berlatih, supaya beberapa pembaca bisa ikutan mengoreksi apa yang keliru dalam terjemahan saya. 

Alasan saya menerbitkan hasil terjemahan kacau yang mestinya bisa ditulis ulang atau diperbaiki lagi sebelum ditampilkan di blog, sebetulnya agar tulisan yang telah dipendam sejak Oktober 2019 ini bisa segera keluar dari draf. Selama ini saya kerap malu menampilkan ulasan-ulasan yang pernah saya tulis—khususnya saat membahas buku. Saya kira opini sok tahu saya ini enggak penting buat dibagikan ke khalayak. Siapa sih yang membutuhkan pendapat saya? Toh, biasanya proses membaca bagi saya juga bersifat pribadi, enggak usah melibatkan orang lain sebagaimana kegiatan merancap. Lebih-lebih saya juga sering minder dengan ulasan-ulasan keren yang pernah saya baca di Goodreads. Setiap kali saya ingin menampilkan ulasan di blog, seseorang di dalam diri saya pasti selalu mempertanyakan hal ini: Kamu sebenarnya sedang mengulas atau menggerutu? 

-- 

PS: Jika tulisan ini pada akhirnya terbit, itu semata-mata karena saya berusaha menepati janji kepada diri sendiri untuk lebih jujur dan cuek dalam menilai sesuatu mulai tahun 2020. Buanglah rasa malu dan tidak enakan dalam diri yang sejatinya cuma menyusahkan dirimu sendiri. Mau sampai kapan coba begitu melulu?

Sumber gambar: https://www.brilio.net/tag/kuis/
Read More
Belakangan ini saya lagi sensitif sekali sama urusan romansa dan jadi ingin terus-terusan membahasnya di blog. Saya heran apa yang sebetulnya memicu saya menjadi seperti ini. Yang saya tahu, rasanya sungguh memprihatinkan kala orang-orang sedang ramai membicarakan wabah Corona, tetapi saya sendiri selalu gagal untuk angkat bicara mengenai hal itu ataupun topik lain di luar percintaan. Mungkin ada yang tidak beres dengan kepala saya. Jadi, untuk menyiasati kebuntuan itu, saya pun iseng menerjemahkan cerpen Neil Gaiman yang berjudul Other People dari buku kumcernya: Fragile Things. Kamu bisa membaca versi aslinya di sini. Jika nanti dalam proses membaca ada padanan yang menurutmu kurang tepat, silakan dikoreksi di kolom komentar. 

-- 

Orang Lain





“Waktu di sini tidak menentu,” kata iblis itu. 

Dia tahu itu merupakan sesosok iblis seketika dia melihatnya. Dia memahaminya, sebagaimana dia mengetahui tempat ini adalah Neraka. Tidak ada siapa-siapa selain mereka. 

Ruangan itu panjang, dan iblis itu menunggu di dekat tungku yang berasap. Banyak benda tergantung di dinding batu kelabu, dari jenis yang tidak bijak atau meyakinkan untuk memeriksanya terlalu dekat. Langit-langitnya rendah, lantainya berilusi aneh. 

“Mendekatlah,” kata iblis, dan dia menurutinya. 

Iblis itu teramat kurus dan telanjang. Terdapat bekas luka yang sangat dalam, dan tampaknya telah dikuliti pada suatu waktu di masa yang sangat lampau. Tidak ada telinga, tidak ada kelamin. Bibirnya tipis dan asketis, dan mata iblisnya: mereka telah melihat terlalu banyak dan pergi terlalu jauh, dan di bawah tatapannya ia merasa kurang penting ketimbang seekor lalat. 

“Apa yang terjadi sekarang?” tanyanya. 

“Sekarang,” kata iblis itu, dengan suara yang tidak membawa penderitaan, ketidaksenangan, hanya kepasrahan yang mengerikan, “kamu akan disiksa.” 

“Untuk berapa lama?” 

Tapi iblis itu menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab. Ia berjalan perlahan di sepanjang dinding, mengamati salah satu perangkat yang tergantung di sana, lalu yang lain. Di ujung jauh dinding, di dekat pintu yang tertutup, ada seekor kucing berekor sembilan yang terbuat dari kawat yang berjumbai. Iblis itu menurunkannya dengan tiga jari pada salah satu tangannya, dan berjalan kembali, membawanya dengan takzim. Ia menempatkan kawat ke tungku, dan menatapnya ketika kawat tersebut mulai memanas. 

“Itu kejam.” 

“Iya.” 

Ujung ekor kucing itu memancarkan warna oranye yang padam. 

Ketika iblis itu mengangkat lengannya untuk memberikan hantaman pertama, ia berkata, “Pada saatnya nanti kamu akan mengingat momen ini dengan sukacita.” 

“Kau pembohong.” 

“Tidak,” kata iblis itu. “Bagian selanjutnya,” jelasnya, sesaat sebelum kucing itu jatuh, “lebih buruk.” 

Kemudian, taring kucing mendarat di punggung lelaki itu dengan dentuman dan desisan, merobek-robek pakaian mahalnya, membakar serta mengoyak dan mencabik-cabik saat mereka menghantamnya, dan, bukan untuk terakhir kalinya di tempat itu, dia berteriak. 

Ada dua ratus sebelas peralatan di dinding ruangan itu, dan pada waktunya dia akan mengalaminya satu per satu. 

Ketika akhirnya Lazarene’s Daughter, yang dia kenal dengan akrab, telah dibersihkan dan digantikan di dinding dalam urutan dua ratus sebelas, lantas melalui bibir yang rusak, dia tersentak, “Sekarang apa?” 

“Sekarang,” kata iblis itu, “rasa sakit yang sebenarnya dimulai.” 

Itu benar. 

Semua yang pernah dia lakukan lebih baik dibiarkan tak terselesaikan. Setiap kebohongan yang dia katakan—diceritakan kepada dirinya sendiri, atau dikisahkan kepada orang lain. Setiap luka kecil, dan semua luka besar. Masing-masing ditarik keluar darinya, detail demi detail, inci demi inci. Iblis itu melepaskan pembungkus kelupaan, melepaskan semuanya menjadi kebenaran, dan itu lebih menyakitkan dari apa pun. 

“Katakan apa yang kamu pikirkan saat dia berjalan keluar pintu,” kata iblis itu. 

“Aku pikir hatiku hancur.” 

“Tidak,” kata iblis itu, tanpa kebencian, “kau tidak hancur.” Ia menatapnya dengan mata tanpa ekspresi, dan ia dipaksa untuk memalingkan muka. 

“Kupikir, sekarang dia tidak akan pernah tahu bahwa aku tidur dengan kakak perempuannya.” 

Iblis itu mencabut nyawanya, momen demi momen, dari yang instan ke instan mengerikan. Itu bertahan seratus tahun, mungkin, atau seribu—mereka memiliki semua waktu di sana, di ruangan kelabu itu—dan pada akhirnya ia menyadari bahwa iblis itu benar. Penyiksaan fisik lebih ramah. 

Dan itu berakhir. 

Dan setelah hal itu berakhir, dimulailah lagi. Ada pengetahuan diri di sana yang belum dia miliki pertama kali, yang entah bagaimana memperburuk segalanya. 

Sekarang, ketika dia berbicara, dia membenci dirinya sendiri. Tidak ada kebohongan, tidak ada pengelakan, tidak ada ruang untuk apa pun kecuali rasa sakit dan kemarahan. 

Dia berbicara. Dia tidak lagi menangis. Dan ketika dia selesai, seribu tahun kemudian, dia berdoa agar iblis itu sekarang bakal pergi ke dinding, dan menurunkan pisau pengulitan, atau pencekik pir, atau sekrup. 

“Lagi,” kata iblis itu. 

Dia mulai menjerit. Dia menjerit lama sekali. 

“Lagi,” kata iblis itu, ketika dia selesai, seolah-olah tidak ada yang dikatakan. 

Rasanya seperti mengupas bawang. Kali ini sepanjang hidupnya dia belajar tentang konsekuensi. Dia mempelajari hasil dari hal-hal yang telah dia lakukan; hal-hal yang dia buta saat melakukannya; cara dia telah menyakiti dunia; kerusakan yang dia lakukan pada orang-orang yang tidak pernah dia kenal, atau temui, atau hadapi. Itu adalah pelajaran yang paling sulit. 

“Lagi,” kata iblis itu, seribu tahun kemudian. 

Dia meringkuk di lantai, di samping tungku, berayun lembut, matanya terpejam, dan dia menceritakan kisah hidupnya, mengalaminya kembali seperti yang diceritakannya, dari lahir hingga mati, tidak mengubah apa-apa, tidak meninggalkan apa pun, menghadapi segalanya. Dia membuka hatinya. 

Setelah selesai, dia duduk di sana, mata terpejam, menunggu suara itu berkata, “Lagi,” tetapi tidak ada yang mengatakannya. Dia membuka matanya. 

Perlahan, dia berdiri. Dia sendirian. 

Di ujung ruangan, ada sebuah pintu, dan ketika dia memperhatikannya, pintu itu terbuka. 

Seorang pria melangkah melewati pintu. Ada teror di wajah pria itu, dan arogansi, dan kebanggaan. Pria itu, yang mengenakan pakaian mahal, mengambil beberapa langkah ragu-ragu ke dalam ruangan, dan kemudian berhenti. 

Ketika dia melihat pria itu, dia mengerti. 

“Waktu di sini tidak menentu,” katanya kepada pendatang baru.

--

PS: Saya bingung sama Lazarene's Daughter alias anak perempuan Lazarene yang dimaksud dalam cerita ini. Apakah itu merujuk ke seseorang atau peralatan penyiksaan di neraka? Saya pun tak punya pilihan lain selain berselancar di internet, dan hasil pencarian tersebut mengantarkan saya pada situs berikut: http://neilgaimanboard.com/. Kesimpulan saya, cerpen itu merujuk ke kisah Lazarus, terus Lazarene’s Daughter merupakan alat penyiksaan seperti gambar di bawah ini yang aslinya bernama Scavenger’s Daughter.



Sumber gambar: https://medium.com/@renandayafi/neil-gaiman-dari-mana-kamu-mendapat-ide-terjemah-2633d955ee5f

https://www.thecoolist.com/medieval-torture-devices/the-scavengers-daughter-medieval-torture-device/
Read More
Banyak orang yang berpendapat bahwa pacar pertama sangat sulit dilupakan. Saya kurang setuju dengan pernyataan itu. Saya mungkin bukan bagian dari orang kebanyakan, atau barangkali pengalaman pertama saya memang tak pantas disebut pacaran. Usia hubungan kami, saya dan pacar pertama, kurang lebih hanya seminggu. Tapi jika saya mengingat kisah romansa Lukman—teman kuliah saya—yang senang memamerkan mantannya berjumlah 20 lebih tiap kali membahas topik percintaan, lalu dia tetap menganggap mereka semua mantannya sekalipun di antara daftar itu ada yang cuma pacaran selama dua hari, apa boleh buat saya tetap menghitung “dia” dalam cerita berikut ini sebagai pacar pertama. Menelusuri jejak dari masa yang sangat lampau sekaligus menuliskannya sepertinya bakalan asyik. Siapa tahu di dalam proses itu saya juga bisa menggugat diri sendiri. 


Delapan bulan sebelum saya mengenal Jessica, saya juga pernah langsung terpikat dengan foto seorang gadis dan berharap bisa menjadi pacarnya. Payah betul kayaknya diri saya dulu, kok bisa-bisanya mudah naksir perempuan cuma gara-gara fotonya—yang sebetulnya bisa diedit sedemikian rupa agar terlihat menarik. Biarpun kalimat barusan bikin saya tampak gampangan, sejujurnya sih tetap harus ada interaksi di antara kami yang bisa menguatkan perasaan suka itu hingga saya berniat menjadikannya seorang pacar. Buktinya, sebelum mengetahui paras Jessica, saya dan dia sudah rutin mengobrol di permainan virtual. Kami merasa cocok dengan topik obrolan, dan tentunya memiliki ketertarikan yang sama pada gim.

Nah, saya kira begitu pula yang terjadi dengan Amalia, pacar pertama saya. Tanpa adanya komunikasi dari dinding ke dinding Facebook maupun kolom percakapan, tak mungkin saya bisa berpacaran dengannya.


Pada masanya (dalam kasus saya terjadi pada rentang 2009-2012), status Facebook “berpacaran dengan ....” menjadi hal yang teramat penting dalam lingkup pergaulan saya. Status lajang seakan-akan menjadi kehinaan buat seorang manusia pada waktu itu. Saya pun sering mendengar ujaran tentang hidup yang terasa kurang lengkap tanpa kehadiran sosok pasangan. 

Saya sudah lulus SMP dan mulai melanjutkan pendidikan ke tingkat SMK, tapi belum pernah sekali pun berpacaran. Meskipun saya sudah bisa merasakan jatuh hati sama lawan jenis, saya tetap tak tahu pacaran itu sebenarnya seperti apa dan bagaimana selain mengetahuinya lewat buku maupun film. Saya tak mau sok tahu sebelum benar-benar mengalaminya sendiri. Atas dasar itu, saya jadi cukup iri dengan kawan-kawan yang telah memiliki pacar sejak SMP, bahkan SD.

Mungkin teman SD saya terlalu cepat akil balig, atau memang dasarnya saya yang kecepatan sekolah (saya masuk SD pada usia 5 tahunan). Ini serius. Jadi, izinkan saya melantur membicarakan tentang sekolah dasar terlebih dahulu, tepatnya zaman saya masih bau kencur, sebelum menceritakan pengalaman pertama pacaran.

Sebelum ada peraturan mengenai usia minimal masuk SD mesti berumur 7 tahun, pada waktu silam beberapa pihak sekolah melonggarkan syarat tersebut. Meski begitu, tak mudah mencari sekolah yang mau menerima bocah usia 5 tahun sebagai siswanya. Sebagian sekolah yang saya dan Ayah datangi mengharuskan calon muridnya telah menempuh pendidikan TK, baru bisa masuk SD. Sebagian yang lain tidak memiliki aturan semacam itu, tapi yang penting anaknya sudah berumur 6 tahun. Lagi-lagi kami gagal mendaftar. Ketika saya datang ke SD terakhir di area Palmerah dan sudah berputus asa kudu menunggu satu tahun lagi buat masuk sekolah, rupanya guru yang mengurusi bagian administrasi mengizinkan saya sekolah dengan syarat bisa lolos dalam tes calistung. Saya pun resmi masuk SD dengan usia 5 pada tahun 2000. Alhasil, mayoritas kawan SD saya kelahiran tahun 1992-1994, sedangkan saya 1995 sendirian. 

Seingat saya, dulu zaman kelas 3 SD saya pernah mencium pipi teman sekelas. Apakah saat itu saya sudah paham hal-hal semacam itu? Tentu saja belum. Itu murni kepolosan saya yang lagi dikerjai oleh Feri, teman sebangku saya. Dia bilang, “Kalau lu berani cium pipi si Lita, nanti gue kasih 1.000.”

Pada jam pulang sekolah, ketika murid-murid sedang ramai di sekitar meja guru sedang mencari buku tulisnya yang baru saja diberi ponten sekalian cium tangan untuk pamit pulang, bibir saya langsung mendarat begitu saja di pipi Lita. Lita menoleh ke arah saya dan memegang pipi kirinya seraya mengusap-usapnya dengan tangan kiri. Tak ada yang melihat peristiwa bajingan itu selain saya, Lita, dan Feri, padahal saya melakukannya di tengah kerumunan. Anehnya, satu kelas jadi tahu momen itu pada keesokan harinya. Saya pun di-“cie-cie”-in oleh satu kelas. Entah Feri atau Lita yang mengadu kepada mereka, yang jelas Feri sungguh keparat. Bagus saja Lita tidak melapor kepada guru. Tapi lantaran kejadian biadab itu, Lita jadi mengira saya suka kepadanya. Saya sendiri boro-boro mengerti soal rasa suka, saya cuma butuh duit 1.000 buat main PlayStation sepulang sekolah di rental tanpa memikirkan konsekuensi atas perbuatan tolol itu. 

Selain Lita, pada kelas lima saya juga punya pengalaman ditembak oleh teman sekelas bernama Nurlaila di bangku kantin. Dia dan teman sebangkunya menyeret saya ketika guru sedang pamit ke toilet. Nurlaila merupakan murid pindahan sewaktu saya kelas empat. Saya tak tahu apa alasan dia menyukai saya. Barangkali karena tahu dari teman-teman bahwa saya termasuk siswa yang berprestasi. Saya pernah ikut tes cerdas cermat, mewakilkan sekolah buat olimpiade IPA, dan menduduki peringkat satu melulu dari kelas 1-4 (kelas 5 dan 6 saya peringkat dua). 

Seketika teman sebangkunya balik ke kelas, Nurlaila pun mengungkapkan perasaannya. Tololnya, saya malah plonga-plongo dan berkata, “Jadi lu ngajak ke sini cuma mau bilang gitu doang? Kenapa enggak di kelas aja tadi? Makasih udah suka sama gue. Ya udah, gue mau ke kelas lagi.” 

“Terus kita gimana?” 

“Gue enggak ngerti,” kata saya lalu berjalan menuju kelas. Saya betul-betul masih polos banget. 

Selepas kejadian itu, saya sudah lupa bagaimana sikap Nurlaila terhadap saya. Yang masih melekat di memori saya, dia pindah sekolah lagi pada kenaikan kelas enam. Apakah Nurlaila malas satu kelas dengan cowok yang pintar dalam pelajaran tapi goblok dalam urusan cinta ini? Saya tak tahu. Yang saya tahu, kepindahan Nurlaila itu mengingatkan saya pada tokoh Misaki dalam kartun Kapten Tsubasa

Saya mungkin baru paham tentang rasa suka begitu lulus SD. Tepatnya saat saya sedang cap tiga jari, lalu berpapasan dengan salah seorang siswi dari sekolah lain yang berada satu gedung dengan sekolah saya. Selama saya mencelupkan telunjuk, jari tengah, dan jari manis ke botol tinta ungu, saya terbayang-bayang lagi wajah cewek tadi. Saya pun membatin, jadi, beginikah rasanya naksir perempuan? Walaupun saya juga masih kurang yakin apakah itu betulan rasa suka, intinya sih saya agak menyesal karena merasa telat dan tak bisa mengungkapkan ketertarikan saya sebagaimana yang dilakukan Nurlaila kepada saya dulu. Kenapa kami baru dipertemukan setelah lulus SD? Saya tak tahu namanya, tak tahu dia bakal melanjutkan ke SMP mana. Sekiranya saya tahu kan saya bisa memilih sekolah yang sama, bertemu lagi dengannya, melihat wajahnya kembali, serta mengenalnya secara akrab. Apakah yang seperti itu termasuk perasaan suka?


Agustus 2009

Pertanyaan mengenai rasa suka itu saya simpan selama tiga tahunan. Selama SMP saya juga terpaksa memendam perasaan saya kepada beberapa perempuan yang saya sukai (biasanya yang saya anggap baik, pintar, dan cantik). Mengingat saya bersekolah di SMP rintisan bertaraf internasional alias RSBI, di mana kondisi mayoritas muridnya anak-anak orang tajir, sedangkan saya sendiri hanya siswa yang menerima beasiswa kurang mampu, saya jelas merasa minder. Jangankan bisa berpacaran, bisa berkawan akrab sama cewek saja rasanya mustahil.

Bagusnya, keminderan itu perlahan-lahan mengikis begitu saya masuk SMK. Mungkin karena beberapa teman sekelas mengetahui saya lulusan SMP favorit, makanya mereka memandangi saya secara berbeda seolah-olah saya berada di kasta yang lebih tinggi. Saya pun mengambil kesempatan itu dan menjadikannya amunisi untuk menambah kepercayaan diri. Kalaupun pada akhirnya mereka tahu saya bukan anak orang kaya, setidaknya pandangan mereka bahwa saya cerdas itu sudah lebih dari cukup. Pada masa sekolah saya tentu bisa menggaet lawan jenis lewat kecerdasan saya.

Niat buat menemukan pacar di SMK langsung pupus begitu saja sewaktu saya menyadari wajah perempuan di sekolah saya, khususnya teman sekelas, terasa jomplang dengan siswi-siswi SMP saya dulu. Tak ada satu pun yang mendapatkan nilai delapan di mata saya, baik secara fisik ataupun perilaku. Pelarian dari rasa kecewa itu bikin saya jadi sering main warnet saban pulang sekolah. Berkat Facebook saya bisa cuci mata dengan melihat tampang-tampang teman SMP yang pernah saya taksir. Namun, saya masih kesulitan menyingkirkan perasaan rendah diri di hadapan mereka. Meskipun saya tak perlu berbicara langsung, saya tetap tak berani mengajak mereka mengobrol di kolom percakapan. Paling-paling saya berusaha memudarkan ketakutan itu dengan mengobrol bersama teman sekelas untuk menanyakan kabar dan kini masuk ke SMA/SMK mana. 

Kala itulah terdapat notifikasi dari seorang perempuan yang menulis sesuatu di dinding Facebook saya, “Makasih udah add. Siapa di sana?” Saat saya kunjungi profilnya, wajahnya sih tampak biasa saja, tapi begitu saya mengetahui bahwa dia juga bersekolah di SMP yang sama dengan saya, otomatis saya masih memiliki kesempatan supaya punya pacar yang cakep. Apa lagi jawabannya kalau bukan mendekati adik kelas?

Saya mulai melihat daftar teman dari Facebook salah seorang adik kelas yang saya kenal—karena dulu pernah sebangku ketika UTS. Selama masa ujian, sekolah membuat sistem yang mengatur para siswa duduk bersebelahan dengan adik atau kakak kelasnya demi mengurangi kecurangan. Saat UTS pada kelas 9, saya sempat berbagi kelas dengan murid-murid kelas 7, dan begitulah saya bisa mengenal mereka.

Saya mengirimkan permintaan pertemanan kepada mereka yang fotonya terlihat jelita. Dari belasan perempuan yang menanggapi, Amalia termasuk salah satunya. Kisah kami pun bermula dari pertanyaan Lia di kolom percakapan, “Foto profil kamu kenapa ganteng banget, sih?” 

Sebelum hidung saya mulai kembang-kempis, saya melihat ulang foto profil yang jelas-jelas bukan diri saya. Saya membalasnya dengan tertawa dan emoji menjulurkan lidah. 

“Kenapa kok foto profilnya Harry Potter?” tanyanya lagi. 



Dulu, saya memang kurang percaya diri dengan menampilkan wajah sendiri. Lagian, saat itu saya juga enggak punya ponsel yang berkamera. Ponsel saya masih Esia Ngoceh seharga 199 ribu. Itu pun hadiah dari undian minuman bersoda dengan menebus seharga 50 ribu yang konon buat bayar pajaknya. Alasan saya memilih Harry Potter sebagai foto profil, sebab Talitha—salah seorang cewek yang saya taksir zaman SMP—sangat menyukai tokoh tersebut. Ya, sesederhana itu. Setelah gagal mencari perhatian Talitha, saya justru bisa membuat perempuan lain penasaran akan tampang saya. 

Biarpun saya baru menonton Harry Potter 1-3 di televisi, topik tentang Harry Potter ternyata bisa membuka peluang dan mengakrabkan saya kepada Lia yang belakangan diketahui juga suka terhadap tokoh fiksi tentang dunia sihir itu. Obrolan pun bergulir ke topik SMP kami, lalu dia mulai mencari tahu diri saya yang mana. Apakah kami pernah berjumpa selama di sekolah? Saya bilang, saya pernah 2-3 kali melihatnya jika memperhatikan foto-fotonya di Facebook, sedangkan Lia merasa masih buta mengenai sosok saya yang sok misterius. Saya lantas menjelaskan bahwa dulu pernah satu kelas dengan Maura—gadis imut yang bagi teman-teman sekelas saya bagaikan bibit unggul yang kelak tumbuh menjadi pohon berbuah manis, atau dengan kata lain, pria-pria bajingan ini ingin sekali memetiknya saat sudah matang. 

“Wooo, giliran yang cakep aja ingetnya cepet.” 

Saya lagi-lagi cuma tertawa dan memberikan emoji lidah melet. 

“Gue pas ujian sempet sebelahan sama ruangan Maura tau, tapi kok gue enggak inget lu yang mana ya, Kak?” 

Lia kemudian menyebutkan dua nama teman sekelas saya yang tampan. Lebih-lebih bilang kalau dirinya masih mengingat tampang mereka sampai hari ini. Saya pun gantian meledeknya, lalu memberi tahu bahwa saya sering berkumpul di depan kelas pada momen tak ada guru atau ke kantin bareng mereka. 

“Mereka kan tinggi-tinggi tuh, nah di antara itu gue yang paling kurus dan pendek.” 

“Oh, yang itu. Kayaknya gue tau deh meski masih samar-samar.” 


Februari 2020




Saat saya menelusuri rekam jejak di Facebook pada 2010 buat mencari tahu kiriman dari Jessica ataupun status norak tentangnya, saya justru kelewatan hingga tahun 2009 dan menemukan obrolan-obrolan saya bersama Lia. Mulai dari Lia meminta saya buat mengisahkan ulang masa SMP, percisnya pas lagi UTS dan momen saya pernah melihatnya di sekolah ataupun ketika dia menempati kelas saya; hingga ke obrolan enggak jelas yang bisa-bisanya terarsipkan di pesan Facebook. 



“Yaudeh, di chat aje, jgn pesan.” 

Saya harus berpikir keras untuk memahami maksud kalimat yang saya kirimkan pada sepuluh tahun silam itu. Memang apa bedanya, sih? Saya pun mencoba memeras isi otak. Jika ingatan ini tak berkhianat, ketika pengguna Facebook memasuki akunnya lewat laptop atau komputer atau memakai aplikasi e-buddy di ponsel, teks-teks pada kolom percakapan yang dikirimkan lewat perangkat barusan bakalan lenyap setelah penggunanya keluar. Sementara itu, kalau sang penerima pesan keburu off atau ada gangguan jaringan, otomatis kiriman itu bakal pindah ke kotak masuk, bukan lagi di kotak percakapan. 

Saya bersyukur tak banyak rekam jejak yang tertinggal di Facebook. Tapi saya jengkel sekali dengan jejak-jejak ingatan yang datang sesukanya. Terutama tentang diri saya yang bersikap sok keren di mata Lia. Misalnya, saya membual rajin belanja kaos di distro, padahal hanya mampu belinya setiap menjelang Lebaran; saya sering buka Facebook karena main di warnet, tapi suatu hari bilangnya pakai laptop Ayah (pada masa itu keluarga saya mana mampu membelinya); saat mendengar Lia sudah berpacaran lebih dari tiga kali, saya ikutan mengaku punya mantan dua. 

Kebohongan itu semata-mata saya lakukan berdasarkan saran dari Firman, teman main gim di warnet. “Lu jangan jujur-jujur amat apa, Yog, kalau pas lagi PDKT,” ujarnya. “Bokis sedikit mah enggak apa-apa. Cewek lagian bakal malas sama cowok yang main warnet melulu. Sesekali ngaku aja jadi anak rumahan. Terus cewek juga suka yang berpengalaman. Masa iya lu mau bilang belum pernah pacaran kalau ditanya punya mantan berapa? Kaburlah dia yang ada.” 



Kebohongan yang sedikit-sedikit saya tuturkan itu akhirnya berhasil membuat saya dan Lia jadian. Sepertinya pesan dari Lia yang berupa “cie-cie” itu merupakan tanggal jadian kami. Sedangkan kiriman dari Lia ke dinding saya yang minta dibuatkan gambar kalau tak salah adalah bentuk ungkapan perasaan suka. Dulu, Facebook memiliki fitur buat menggambar sebagaimana aplikasi Paint, jadi kami bisa bikin coret-coretan untuk dikirimkan ke pengguna lain. Berhubung saya payah dalam menggambar, saya akhirnya menuliskan nama dia dengan gaya ala-ala grafiti. 



Status pada gambar di atas kayaknya saat saya putus dengannya. Saya sudah tak ingat dulu putusnya karena alasan apa. Yang jelas bukan alasan mau fokus belajar. Pada bagian “sama, gue jg bingung”, saya hanya menanggapi status Lia yang berupa, “Bingung.” Mungkin dia bingung, kenapa baru pendekatan selama seminggu lebih langsung buru-buru pacaran, bahkan tanpa mengetahui sosok saya dengan jelas. Mungkin juga dia bingung sehabis mengetahui sosok asli saya yang jauh dari perkiraannya. Kok gue bisa pacaran sama orang jelek, sih? Apa gue minta putus aja, ya? Bisa jadi dia juga bingung, kenapa ada lulusan SMP favorit yang ponselnya masih Esia Ngoceh. Yang ketikan SMS-nya kudu singkat-singkat biar irit karena tarifnya Rp1 per karakter. Jangan-jangan dia orang kere? Enggak level dong, ah. Apa pun itu, saya mulai menghitung waktu dari tanggal 8 sampai 16 Agustus yang berarti kami hanya pacaran selama delapan hari.

Konyolnya, Lia kembali menghubungi saya seminggu pascaputus. Apakah dia kangen mengobrol di Facebook dan SMS-an sama saya? Entahlah. Bodohnya, saya masih meresponsnya dan kami kembali bertukar cerita. Saya malahan juga memberikan Lia nomor baru saya. Jadi, empat hari selepas kami memilih bubar, saya mencoba membongkar celengan kemudian membeli ponsel baru yang GSM. Saya memilih Sony Ericsson S302 seharga 900 ribu (tabungan saya 750 ribu, lalu orang tua menambahkan sisanya). Mengetahui saya memiliki HP baru, Lia tentu langsung meledek saya dengan “cie-cie” yang agak menyebalkan tapi suka bikin gemas itu. Mumpung sudah sama-sama GSM dan kartunya sama pula, Lia pun mencoba menelepon saya. Katanya, dia penasaran dengan suara saya. 



Saya betul-betul sudah lupa sampai kapan kedekatan itu terjalin. Terakhir komunikasi sepertinya Lebaran pada tahun 2009 (sepertinya jatuh pada September). Itu pun sebatas mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Salah satu di antara kami enggak ada yang berinisiatif untuk mengajak balikan. Selama berpacaran kami bahkan belum berjumpa sama sekali, mungkin sampai hari ini. 


Oktober 2018 

Seorang perempuan berkacamata dan berjilbab kelabu menoleh dan memandangi wajah saya selama tujuh detik, kemudian segera memalingkan muka sambil berjalan menjauh begitu saya perhatikan balik. Saya terus melihat punggungnya sampai wujudnya tampak kecil dan tak terlihat lagi. 

“Kamu lagi ngelihatin siapa, Yog?” tanya Hawadis, teman bloger yang sedang keluyuran bareng saya untuk bertemu dengan Juwita—bloger asal Solo yang sedang berkunjung ke Jakarta. 

Kami bertiga sedang menunggu salah seorang pengendara ojek daring yang siap mengambil pesanan Juwita di depan Stasiun Jakarta Kota. Kami bertiga sama-sama heran, dari puluhan pengemudi ojek yang terlihat di sekitar kami, mengapa tak ada satu pun yang berminat menerima order Juwita? Apalagi kami telah menunggu lebih dari setengah jam. Apakah tujuan Juwita itu termasuk jauh dan rawan macet pada jam pulang kerja begini sehingga mereka malas, atau banyak juga orang yang memakai layanan ojek daring di stasiun? 

Dua jam sebelumnya, kami baru saja main ke acara bazar buku di kawasan Kota Tua, percisnya di Gedung Tjipta Niaga. Sebetulnya tak ada alasan khusus kami main ke tempat itu. Berhubung kami sama-sama bingung mau kopi darat di mana dan kebetulan ada bazar buku, Juwita bilang tak ada salahnya ketemu sembari berburu buku diskonan. Sebagai pencinta buku murah, saya kira usul Juwita bukanlah ide buruk. Toh, Hawadis juga bilang oke. 

“Yog? Itu siapa dah? Ngelihatin cewek kok sampai segitunya?” tanya Hawadis lagi, yang kini membuyarkan pikiran saya.

“Sori, Haw. Habisnya cewek tadi kayak mantan gue.” 

“Ya Allah, kayaknya hampir di setiap tempat yang pas kita datengin bareng, kamu selalu kayak ngelihat mantanmu. Ini udah yang ketiga kalinya, lho. Waktu itu di Senayan, terus TIM (Taman Ismail Marzuki), sekarang Kota Tua. Kamu masih terbayang-bayang mereka apa?” 

Saya refleks menyengir. 

Dua kejadian sebelumnya memang cuma sekilas mirip wajahnya. Mengingat waktu itu saya baru putus dalam rentang tiga bulan, mungkin betul waktu itu saya masih terbayang oleh mantan yang terakhir, lalu satunya lagi karena saya enggak akan pernah bisa lupa wajah seseorang yang telah mengkhianati saya tanpa rasa berdosa. Tapi yang satu ini, saya berasumsi kuat itu betulan mantan. Bukan lagi cuma mirip sekilas.

“Emang yang tadi itu mirip siapa, sih? Juleha lagi?” Haw menyebut nama mantan terakhir saya karena penampilan dia juga berjilbab dan berkacamata. 

“Bukan kok, ada lagi mantan yang lain.” 

“Mantan pacarmu ada berapa, sih?” 

“Sedikit. Enggak sampai sepuluh, tapi lebih dari lima.” 

“Lebih dari lima itu termasuk banyak, ya!” 

Saya tertawa. Saya tak peduli angka itu termasuk banyak atau sedikit. Saya menjawab di dalam hati begini: Masalahnya, yang barusan saya lihat itu pacar pertama. Tak jadi soal ada berapa banyak mantan saya sekarang. Tanpa ada dia yang pertama, pacar kedua, ketiga, dan seterusnya tak akan pernah ada, sebab saya masihlah seorang pengecut yang sering menghindar untuk mengutarakan isi hati. 

Namun, kenapa mantan pertama saya memakai kacamata dan berjilbab? Setahu saya, dulu penampilannya tak seperti itu. Saya masih ingat dengan jelas foto profilnya yang berambut sebahu dengan memperlihatkan senyumnya secara malu-malu. Saya bahkan masih ingat dengan jelas tembok yang menjadi latar fotonya bercat merah saga. Selagi saya berusaha menelusuri jejak-jejak ingatan itu, anjinglah, saya baru sadar waktu telah bergulir selama sembilan tahun sejak kami putus. Perbedaan penampilan seperti itu tentu bukan hal yang pantas dipertanyakan. Yang perlu dipertanyakan adalah kemungkinan lainnya, yakni saya salah orang. Berdasarkan riset yang pernah saya baca dalam suatu artikel, setiap manusia memiliki tujuh kembaran. Jadi, ada kemungkinan itu bukanlah mantan saya. Anggaplah saya juga salah lihat seperti dugaan Hawadis lantaran terbayang-bayang masa lalu. Kalau saya enggak menyapa dan memastikannya langsung, bisa jadi memang salah orang. 

Dua puluh menit sebelum azan Magrib, Juwita akhirnya berhasil mendapatkan tukang ojek daring yang telah dia tunggu-tunggu sampai wajahnya tampak kusam karena terpapar debu jalanan. Saya lalu berjalan ke parkiran motor buat mengantar Hawadis ke indekosnya sekalian pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah, saya penasaran dengan apa yang sempat saya lihat di dekat Stasiun Jakarta Kota. Benarkah Amalia kini berjilbab dan berkacamata? Saya membuka Twitter dan mengetik namanya di pencarian. Tidak ketemu. Saya mencoba menggantinya dengan nama user dan ternyata saya diblokir. Loh, salah saya apa? Sepertinya kami enggak pernah ribut-ribut lagi semenjak putus. Akhirnya, saya menduga kalau ini ulah mantan saya yang lain, yang pada kemudian hari menyelingkuhi saya, sebab dia sempat meminta saya buat bertukar kata sandi akun-akun media sosial. Saya kira dia telah mengirimi mantan saya pesan yang bukan-bukan. Mungkin juga Jessica menghilang dari Facebook ketika saya cari kemarinan itu lantaran tindakan si iblis berlidah licin ini, yang mengatasnamakan kecemburuan buat bersikap semena-mena kepada dua pacar saya sebelum dia.

Masa bodohlah soal kelakuan mantan yang satu itu, yang terpenting saya masih bisa melihat foto Lia, dan dia betulan memakai jilbab serta berkacamata. Berarti yang tadi memperhatikan saya betulan dia? Apakah dia diam-diam pernah mencari tahu tentang diri saya? Saya lantas berganti ke akun Twitter satu lagi (bekas akun parodi) untuk melihat foto Lia lainnya demi hasil yang lebih akurat. Apesnya, akun dia diproteksi. Akun Instagram pun demikian. Maka, jalan satu-satunya adalah Facebook. Saya berharap Lia tidak memblokir saya di sana. 

Jawaban saya benar. Yang saya lihat tadi benar-benar Lia jika penampilannya berubah seperti saat ini. Tapi mengingat zaman sekarang sudah banyak perempuan berjilbab dan berkacamata yang sekilas tampak seragam, probabilitas saya salah melihat tentu saja masih ada. Masalahnya, saya yakin tidak salah orang. Saya pun spontan ingin mengiriminya pesan buat memastikan kebenarannya. Saya berusaha memilih kalimat sebaik-baiknya. Dimulai dengan basa-basi menanyakan kabar, mendoakannya semoga dalam keadaan baik, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga ke permasalahan utamanya, yaitu mempertanyakan tentang pertemuan tidak sengaja tadi. Sesaat sebelum menekan tombol kirim, saya langsung menutup peramban tersebut.

Seandainya perempuan tadi betulan Lia, ya terus kenapa dan buat apa? Saya pikir, adakalanya saya cukup membiarkan apa yang telah berlalu tanpa perlu mengusiknya lagi. Keadaan dia di foto-foto yang saya lihat sudah terlihat baik, sangat baik. Saya tak mau kehadiran seseorang dari masa yang sangat lampau, apalagi tiba-tiba mengirimkan pesan semacam itu, bakalan merusak hari-hari dia ke depannya. Toh, nasihat ini juga berlaku buat diri sendiri. Semakin saya mencari tahu hal-hal yang sudah terlewat, khususnya tentang orang yang pernah bersama pada masa lalu, bisa-bisa akan menimbulkan sakit. Jadi, lebih baik saya hentikan sekarang juga. Sudah cukuplah saya mabuk kenangan. 

Jika masih belum puas, saya cukup menuliskan semua memori-memori kilas balik ini seakan-akan sedang mencoba membuang kesedihan di dalam diri supaya batin terasa lebih plong. Agar saya berhenti menoleh ke belakang yang sekilas tampak begitu menggembirakan, tapi sebetulnya bikin saya terjebak dan payah dalam menikmati kehidupan hari ini. Maka, dengan berakhirnya tiga cerita amburadul ini, saya harap diri saya dapat berjalan ke depan dengan langkah yang lebih ringan. Seringan kelakuan penulis medioker yang gemar menelantarkan draf-draf tulisannya di folder laptop.

--

Sumber gambar HP: https://www.gsmarena.com/sony_ericsson_s302-pictures-2429.php
Read More
Perasaan bersalah karena pernah menghina teman sekelas—yang kini telah tiada—semakin menerbangkan ingatan saya jauh ke masa lampau. Lima bulan sebelum melontarkan makian enggak punya otak, ternyata saya juga pernah mencemooh pacar sendiri dengan sebutan alay. Memang, lagi-lagi ini hanya kesalahan remeh, tapi entah mengapa saya berusaha menelusuri mantan saya itu dan pengin meminta maaf kepadanya. Habis bagaimana, ya? Saya rasa dia pacar tercantik yang pernah saya miliki sejauh ini. Rasa penasaran buat mencari tahu kabar tentangnya muncul secara spontan. 

Selain cantik, bagi saya dia juga teramat berbeda. Ya, kami berbeda agama. Walaupun saya sudah tak ingat apakah dia beragama Kristen, Katolik, Hindu, atau Buddha, yang jelas di ingatan saya masih menempel bahwa dia beretnis Cina. Tapi bukan hal semacam itulah yang sebenarnya meninggalkan kesan di hati saya. Perasaan cinta itu muncul karena pertemuan kami di dunia maya yang justru berubah jadi kenyataan. Hal yang akhir-akhir ini sering saya hindari rupanya memiliki nilai istimewa bagi seorang Yoga pada masa lalu. 



Di layar tampak seorang karakter perempuan berprofesi penyihir yang bernama Kagome sedang kewalahan melawan Raja Monyet (bos dari monster berlevel 60) di Lembah Naga, suatu tempat tersembunyi pada permainan virtual Soul Savior. Di Lembah Naga itu sebetulnya juga terdapat karakter bernama Spectre13 yang sedang saya mainkan. Tapi berhubung karakter saya seorang ninja yang memiliki jurus menghilang, Kagome tidak menyadari keberadaan karakter tersebut. 

Mengalahkan monster yang berlevel sama di permainan ini, lebih-lebih ia merupakan bos, memang terlalu sulit jika dilakukan sendirian. Para karakter di gim mesti bekerja sama untuk mengeroyok monster supaya mereka lebih cepat mati. Maka, saya pun berinisiatif menolongnya menggunakan jurus-jurus cakaran sekalian mengetes teknik spesial yang baru saja saya dapatkan. 

Jenis jurus yang dimiliki setiap karakter tentu berbeda-beda berdasarkan profesi masing-masing. Kebanyakan teknik penyihir bisa dilakukan dari jarak yang agak jauh, sedangkan ninja harus dari jarak dekat. Semakin dekat jarak serangnya, luka yang diterima musuh akan semakin besar. Meski begitu, daya serangnya tetap memiliki kekuatan yang hampir seragam. Yang membedakan serangannya tergantung berapa kali senjata itu berhasil ditempa. Lalu, karakter yang belum menjalankan misi-misi khusus di level 60 tidak akan pernah bisa membuka jurus baru. Bagi karakter yang sudah menuntaskan misi khusus tersebut, setiap kali naik tujuh level ia akan mendapatkan jurus spesial—yang serangannya jelas lebih kuat. 




Setelah saya dan Kagome menyerang Raja Monyet secara bertubi-tubi, akhirnya ia mati dan keluarlah barang langka: Segel Raja Monyet. Barang-barang yang terjatuh dari monster selepas mereka tewas otomatis akan terambil oleh karakter yang paling banyak menghajar musuh. Berhubung level Spectre13 berada sembilan level di atas Kagome, berarti sayalah yang memperoleh Segel Raja Monyet itu. 

“Yah, bukan aku yang dapat,” katanya. 

“Ini ambil aja,” ujar Spectre13 melempar barang itu dari kotak peralatannya. 

“Wah, makasih banget. Berarti habis ini aku tinggal cari sembilan lagi.” 

“Loh, ini misi kamu lagi membunuh si monyet atau baru mengumpulkan segel-segelnya, sih? Kalau masih mencari segel, kenapa enggak beli di pasar aja? Banyak kok yang jual.” 

“Aku enggak punya duit sebanyak itu.” 

Entah atas dasar kasihan atau memang berhati baik, saya pun membelikan Kagome sisa segel yang dia butuhkan, dan setelahnya juga ikut menemaninya menumpas 20 Raja Monyet—misi berikutnya. 

Sejujurnya, saat itu saya sudah sadar bahwa banyak lelaki bajingan yang memainkan karakter perempuan buat menipu para cowok polos. Lantas, mengapa saya tetap menolongnya? Apakah saya juga termasuk cowok lugu? Bisa jadi. Bagusnya, keluguan saya bisa berbuah manis sebab orang yang memainkan karakter itu seorang perempuan tulen. Dari mana saya tahu? 

Dia menambahkan saya sebagai teman di permainan itu agar sewaktu online status kami sama-sama terlihat dan bisa saling berkirim pesan. Dua minggu setelah saya menolongnya, saya masih rutin mengobrol di kolom pesan yang tersedia serta membasmi monster bersama Kagome. Singkatnya, kami menjadi dekat sampai-sampai berani menanyakan hal yang pribadi seperti nama panggilan asli, umur, sekolah, kelas, dan domisili. 

“Aku boleh minta Facebook kamu?” tanya Jessica (nama aslinya) begitu mengetahui saya main warnet di dekat Binus. 

“Facebook kamu aja sini, nanti aku yang add.” 

Jessica ternyata tidak memakai nama asli di Facebook. Dia menggunakan nama Cina yang sulit sekali dihafal maupun dilafalkan buat seorang remaja. Contohnya, Xiǎo Yù Quó (saya betulan sudah lupa, jadi ini cuma contoh asal). Saya tak punya pilihan lain selain memberikan nama lengkap saya. Masalahnya, memberikan Facebook saya kepada orang asing yang mulanya cuma kenal dari gim mirip seperti sedang berjudi. Probabilitas kalau Jessica jelek atau malahan seorang penipu sama saja seperti kekalahan. Saat remaja saya sangat benci kalah. Alhamdulillah, ketakutan itu terbayar oleh parasnya yang imut dan bikin saya berkata dalam hati, Cakep banget ya Allah, gue pengin jadi pacarnya

Doa iseng itu bisa-bisanya terkabul pada tiga hari kemudian. Ini bermula dari ledekan Jessica, “Kamu kok di foto kelihatan pendek, ya?” Saya pun menyebutkan tinggi badan saya yang ketika itu palingan cuma menyentuh 163 cm. Dia membalas saya dengan emoji tertawa. “Masa tinggi kamu kalah sama cewek? Aku aja 165.” 

“Aku enggak percaya. Coba buktiin langsung dong.” 

“Ini kamu lagi ngajakin aku ketemuan?” 

Mampus. Mampus. Mampus. Ketika itu saya enggak bisa menjawab pertanyaannya dengan cepat. Saya takut kalau mengadakan pertemuan justru akan merusak kedekatan kami yang sebelumnya telah terjalin dengan baik. Atau dengan kata lain, saya takut sikap Jessica bakalan berubah setelah melihat saya secara langsung. 

“Kok enggak jawab? Kalau kamu emang mau ketemu, nanti hari Jumat sepulang sekolah kita main bareng di warnet Emporium Syahdan aja, gimana?” 

Sembari mengenang pertemuan kami hari itu, yang belakangan diketahui menjadi perjumpaan pertama dan terakhir kami, saya malah jadi ingin menulis surat untuk Jessica. 


Ucapan kamu ternyata benar bahwa kamu lebih tinggi daripada saya, Jes. Anehnya, kamu enggak merasa malu punya pacar yang lebih pendek. Tak ada sedikit pun keberatan darimu. Ketakutan saya terhadapmu yang mungkin akan merasa jijik atau benci kala kita berjumpa itu cuma sebatas rasa cemas berlebihan. Karena yang kamu pedulikan katanya saya orangnya baik, terlepas dari bagaimana penampilan saya. Apa kamu masih ingat pakaian apa yang saya kenakan pada hari itu? Kaos Skater merah bergambar dingdong dan celana denim biru muda. Jika boleh jujur, itu satu-satunya pakaian terbaik yang saya miliki. Saya enggak kepengin mendapatkan impresi buruk darimu saat pertemuan pertama. Sementara itu, kamu sendiri justru cuma memakai kaos kuning pucat bergambar panda yang sablonnya sudah memudar dan celana pendek cokelat. Penampilan yang sederhana sekali. 

Biarpun sederhana, celana pendek di atas lutut yang kamu pakai itu membuat kaki mulusmu terlihat panjang sekali, Jes. Saya pun jadi minder dan ingin protes, mengapa dari dulu sampai sekarang saya tidak memiliki tubuh yang tinggi? Setidaknya, saya mencoba bersyukur bisa bertambah tinggi sejak hari itu. Terakhir kali saya mengukur tinggi badan saat lagi tes penerimaan kerja—yang pada akhirnya gagal—kalau tidak salah angkanya menyentuh 168 cm. Berdasarkan teori tentang perempuan yang pertumbuhannya lebih cepat ketimbang laki-laki, lalu setelahnya mulai melambat dan akhirnya terbalap, sepertinya saya sekarang lebih tinggi daripada kamu atau mungkin sejajar. Tapi, masa bodohlah dengan tinggi badan. Persetan pula dengan penampilan. 

Bicara soal penampilan, karaktermu di permainan itu hanya mengenakan pakaian, aksesoris, senjata, dan peralatan lain yang bisa didapatkan secara gratis dari gimnya. Berbeda dengan saya yang masih cukup modal untuk membeli voucer senilai 100-200 ribu. Itu pun saya harus menabung uang jajan sekolah selama sebulan. 

Kamu sempat bilang, baru kali itu ada orang yang rela menolongmu membasmi monster tanpa menaruh curiga, bahkan mau berteman tanpa pandang bulu. Selama bermain gim itu dari level 1-60, konon kamu sering dicap hode (sebutan buat cowok yang memainkan karakter cewek) oleh orang-orang di gim. Seingat saya, kamu pun sempat berujar begini: “Aku sedih kenapa orang-orang yang levelnya tinggi cuma mau berteman sama yang segolongan. Terus mereka juga suka memandang rendah orang yang levelnya payah, apalagi yang bajunya gratisan kayak aku.” Intinya, kamu saat itu bingung mengapa permainan yang harusnya dirancang untuk bersenang-senang, malah berubah menjadi ajang pamer yang mungkin bisa menerbitkan kesedihan bagi para pemula. 

Kamu yang terlihat biasa-biasa saja cenderung miskin di gim, sebetulnya anak orang tajir kan, Jes? Saya masih ingat dengan jelas bahwa setiap kali saya lagi kehabisan pulsa dan tak bisa membalas SMS-mu, kamu langsung menelepon saya atau membelikan saya pulsa demi bisa tetap berkomunikasi. Kenapa kamu berbuat sejauh itu? Sebenarnya kita masih bisa bersua kembali di warnet seperti sebelumnya kan, Jes? 

Sialnya, kondisimu yang sudah kelas 3 SMP itu menghalanginya. Orang tuamu memperhatikanmu dengan amat ketat. Mereka menyuruhmu fokus belajar dan melarangmu keluyuran agar memperoleh nilai tinggi dalam Ujian Nasional yang tinggal sebulan lagi, sehingga nanti kamu bisa masuk ke SMA favorit sekaligus membahagiakan orang tua. Walaupun demikian, kamu masih tetap mencuri-curi waktu buat menyalakan komputer dan memainkan gim itu demi bisa bertemu dengan saya di dunia maya. Katamu, berburu monster bersama di gim sudah mewakilkan pertemuan kita. Kamu sungguh baik, Jes. Kebaikan saya di gim sebelumnya pun rasanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan balasanmu yang berkali-kali lipat. Apalagi balasan saya selanjutnya malah menghina ketikanmu di SMS yang mendadak alay. 

Mulanya ketikan kamu normal dan tampak wajar, terus mengapa teks yang tadinya normal itu tiba-tiba kamu padukan dengan angka dan huruf kapital yang berada di tengah, Jes? Mungkin kamu hanya bercanda atau mencoba ikut-ikutan tren yang mungkin pada saat itu terlihat keren. Bodohnya, lantaran perkara remeh itu justru menjadikan sikap saya yang hangat kepadamu itu berubah dingin. Mungkin dulu saya merasa malu ketika diejek teman sekelas karena ketahuan punya pacar yang alay. Mau bagaimana lagi, sejak bersekolah di SMP favorit hingga menduduki tingkat SMK, di kepala saya telah terpatri bahwa alay itu merupakan suatu kehinaan. Sampai-sampai statusnya lebih buruk dari para bajingan tengik yang gemar meledek nama orang tua. 

Sadar bahwa perkataan sekaligus hinaan saya tidak mempan buat menyadarkanmu tentang teks yang bikin mata sakit itu, saya akhirnya mencari-cari alasan buat menyudahi hubungan kita yang baru berjalan dalam hitungan minggu—tidak sampai sebulan. Perbedaan agama merupakan alasan paling manjur yang bisa saya pilih. Lalu, kenapa kamu juga menerimanya begitu saja? Apa kamu berusaha sok tegar saat itu? Atau orang tuamu sebetulnya melarangmu pacaran dan lebih baik mementingkan UN? Saya tak tahu kesedihan apa yang kamu tanggung dulu, Jes. Saya cuma bisa meminta maaf. 

Saya yang sekarang pun masih tak habis pikir dengan keputusan diri saya dulu. Rasanya goblok banget alasan itu dilempar oleh anak remaja SMK kelas satu. Saat itu kan saya pasti belum memusingkan perkara rumit hubungan ke depannya bakal bagaimana. Akankah salah satunya mengalah dan rela pindah agama atas nama cinta? Tak mungkin gagasan semacam itu ada di kepala remaja belasan tahun. 

Terlepas dari urusan itu, apa kamu masih mengingat hal lucu setelah kita putus, Jes? 

Satu setengah bulan berikutnya, tepatnya ketika kamu sudah beres mengikuti UN dan lagi menikmati liburan sekolah, kita kembali bertemu di dunia virtual sewaktu sedang berburu monster di Menara Kegelapan. Kita sama-sama sudah meraih level 80-an. Pertahanan dan serangan monsternya semakin kuat. Demi bisa menaikkan level karakter itu rasanya sangat sulit, mungkin butuh 7 jam membasmi monster secara nonstop supaya bisa naik satu level.

Saya tak tahu apa saja yang telah kamu lewatkan setelah kita putus. Kalau saya sendiri sudah jarang memainkan gim itu. Saya hanya memainkannya ketika ada sisa uang saku dan kebetulan lagi jenuh main PlayStation di rumah. Makanya saya cukup terkejut melihat wujud karaktermu yang berubah keren. Kira-kira karakter kamu telah menghabiskan voucer di gim lebih banyak dari kepunyaan saya. 

Kala itulah kamu berusaha menyapa saya dan saya canggung bukan main. Meskipun malu, saya mau tak mau harus merespons panggilanmu, “Hai juga, Kagome.” Kamu kemudian mengirimi saya pesan yang tidak bisa dilihat karakter lainnya, “Kenapa kamu hapus aku dari daftar pertemanan, Yog? Putus hubungan bukan berarti berhenti berteman di game, kan?” 

“Maaf, Jes. Kayaknya waktu itu aku salah hapus,” ujar saya berbohong. 

Muncul permintaan pertemanan darimu yang tak bisa saya tolak. Kamu pun bercerita kini sudah bisa berteman akrab dengan karakter lain, bahkan juga lagi dekat sama cowok lain. Membaca pesanmu itu, saya langsung cemburu banget, Jes. Kok bisa ya, saya melepas begitu saja perempuan selucu kamu? Memang, sih, pacaran bukan hanya melihat dari fisiknya, tapi saya bilang begitu karena kamu benar-benar perempuan yang baik. 

Apa kamu masih ingat kebaikanmu yang lain? Sehabis kita bertukar cerita, kamu masih memberikan saya hadiah aksesoris di gim berbentuk kacamata renang yang jika dinominalkan seharga 30 ribu. Kamu bilang, kamu bingung mau menggunakan uang sisa belanja di gim itu buat apa lagi, sebab pakaian dan aksesorismu sudah terasa lengkap. Saat kelas satu SMK, uang 30 ribu merupakan uang jajan saya dalam tiga hari. Biarpun kamu orang tajir, saya pikir uang segitu juga penting buat kebutuhanmu sendiri. Kenapa kamu malah memberikannya kepada saya secara cuma-cuma? Saya ini kan mantan yang enggak tahu diuntung, Jes. Untuk apa kamu masih berbuat baik kepada saya? Apa karena saya ini pacar pertama kamu? Sumpah, kebaikan hatimu dulu itu bikin saya semakin menyesal ketika mengingatnya lagi sekarang. 

Tapi yang lebih saya sesali saat ini adalah, kenapa saya enggak punya satu pun foto bareng kamu? Bahkan sekadar foto karakter kita lagi berduaan di permainan virtual itu pun enggak ada sama sekali. Terus, kenapa saya juga selalu gagal melacak namamu? Nama yang kamu berikan kepada saya hari itu sungguh nama asli, kan?

Awalnya, saya mencari namamu di daftar pertemanan Facebook, lalu tak ada hasil. Mungkin kamu telah menghapus saya dari daftar pertemanan atau kamu menutup akunmu. Apa pun itu, saya tak ingin cepat menyerah. Saya mencoba mencarimu di Twitter dan Instagram, tapi hasilnya tetap nihil. Saya kembali mengetik namamu di Google dan tak ada satu pun petunjuk tentangmu. Baiklah, kali ini saya terpaksa memilih pasrah. 

Sewaktu melakukan perbuatan yang tampak dungu dan sia-sia ini, saya sungguh enggak bermaksud mengusik kehidupanmu, apalagi memilih kembali—cinta beda agama terasa mustahil buat saya hari ini. Saya cuma pengin tahu kabarmu sekarang ini bagaimana. Saya sih berusaha mendoakan yang baik-baik buatmu. Sebagaimana tujuan awal saya menulis surat, saya ingin mengucapkan permintaan maaf atas kalimat saya pada jauh-jauh hari, yakni bilang kamu alay. Selain itu, saya juga sungguh ingin berterima kasih kepadamu. Berkat kamu yang mau menerima saya apa adanya, saya jadi punya pengalaman memiliki pacar yang kelas sosialnya berbeda. Lebih-lebih kamu sudah mewarnai masa remaja saya yang mungkin terasa monoton. 

Waktu telah bergeser sekitar sembilan tahunan sejak hari itu. Mengingat dulu saya ternyata pernah memiliki kepercayaan diri yang tinggi karena berani memacari orang tajir, bahkan mengejekmu alay, Jes, mungkin sekarang nasib maupun problem kehidupan sedang gantian meledek saya. Setiap kali saya sedang memandangi diri di cermin, saya kerap merasa orang seperti saya yang banyak gagalnya ini akan kesulitan buat menjalin hubungan dengan orang berkelas sepertimu lagi, Jes. Jangankan menjadi pacar, berteman saja saya kadang merasa sungkan. 

Kemarinan saya sempat melakukan pendekatan kepada salah seorang gadis manis dari golongan atas sepertimu, Jes. Belum apa-apa saya sudah merasa gagal begitu mendengar ucapan-ucapan jahat kawannya yang bikin saya minder, dan entah mengapa membuat saya malas mencoba cari pasangan lagi sebelum kondisi membaik. Terlebih saat mendapati perangai gadis itu yang perubahannya kentara jelas (mungkin dia termakan omongan teman-temannya). Seolah-olah fakta itu langsung mengempiskan rasa percaya diri saya. Jadi, apakah orang-orang dari golongan atas memang tak akan pernah terjangkau lagi buat diri saya, Jes? 

Berhubung kamu enggak mungkin membaca surat ini, Jes, izinkan saya menutupnya dengan membayangkan kamu memberi jawaban begini buat menghibur diri: “Masih ada kemungkinannya, kok. Lewat kebaikan dan ketulusanmu kayak di game dulu itu pasti suatu hari bisa menjangkau orang yang kamu suka. Bukan berarti aku menyuruh kamu cari pacar dari game lagi kayak masa remaja, tapi kamu pasti paham sama apa yang aku maksud. Apa perlu aku jelasin lagi? Sewaktu kamu menolongku mengalahkan Raja Monyet, kamu enggak ada niat lain selain membantu aku, kan? Kamu enggak berpikir aku itu aslinya cewek atau cowok, enggak peduli apakah ada manfaat dari menolong orang asing di game. Lagian, kalau kamu merasa enggak bisa menjangkaunya karena faktor ekonomi, bukannya kamu masih bisa memperbaiki kondisi finansialmu? Bangkit dari kegagalan-kegagalanmu? Selama kamu belum menyerah, pasti masih ada jalan, kan? Jadi, jangan gampang minder begitu, Mantanku Sayang.”

--

Gambar saya ambil dari: https://pixabay.com/photos/children-win-success-video-game-593313/
Read More
Bagi sebagian orang, derasnya hujan pada malam hari bisa bikin tidur mereka lebih nyenyak. Sewaktu kondisi begitu, tak jarang saya menemukan ujaran-ujaran di Facebook atau Twitter sejenis ini: “Cuacanya asyik buat tidur dan kelonan.” Saya akui munculnya hawa dingin alami tanpa perlu menyalakan kipas angin atau AC memang bikin tidur terasa lebih nikmat. Beberapa tahun silam saya juga sempat menjadi bagian dari mereka yang bisa tertidur pulas itu—hanya saja baru bisa kelonan sama guling.

Malangnya, dua bulan belakangan ini saya enggak bisa lagi merasakan kenikmatan tersebut. Selain karena atap rumah yang bocor percis di atas kasur (sebetulnya sudah pernah ditambal, tapi belum sampai dua bulan langsung bocor lagi), saya kini juga selalu waswas akan banjir yang masuk ke rumah. Saya tak mau kejadian kasur lepek akibat kebanjiran pada awal tahun itu terulang kembali. Jika momen keparat itu terjadi sekitar habis Subuh, enam hari lalu saya bahkan harus terbangun pada pukul dua sebab banjir datang lebih awal. Sepertinya waktu banjir memang sulit diprediksi. 

Bisa dibilang saya cukup beruntung pada hari itu. Adik saya yang kebetulan lagi begadang langsung membangunkan semua orang di rumah. Jadi, saya pun masih keburu buat memindahkan kasur yang tadinya tergeletak di lantai ke atas bangku plastik yang berjejer. Keberuntungan semacam itu tentu tak bisa datang berkali-kali. Ada saatnya salah satu dari keluarga kami (meski pilihannya paling-paling cuma saya dan Adik) mesti bersiaga kala kondisi hujan keterlaluan lebat. Tanpa perlu menunggu kapan datangnya hari itu, keesokan harinya saya langsung terpaksa begadang karena hujan kembali turun pada waktu dini hari.

Maka, setiap 10-15 menit sekali saya perlu mengintip dari jendela kamar untuk memperhatikan kondisi air got yang mungkin telah meluap serta membanjiri jalanan. Satu jam berselang sejak bergantinya hari, mata saya terasa berat banget seakan-akan ada tangan setan yang berusaha menurunkan kelopak mata saya. Sialan! Saya sungguh pengin tidur, tapi kenapa tumben-tumbennya adik saya juga sudah pulas pada jam segini? Mau tak mau saya kudu menjaga kesadaran. 

Pukul setengah dua hujan mulai reda, lalu saya akhirnya bisa memejamkan mata. Konyolnya, tak sampai lima menit hujan mendadak deras lagi. Saya spontan melontarkan makian dengan berteriak. Sepuluh menit berikutnya hujan berubah menjadi gerimis, tapi tak lama setelah itu polanya berulang kayak semula. Saya bagaikan sedang dipermainkan oleh hujan. Baiklah, sepertinya saya memang tak punya pilihan lain selain melek hingga pagi.

Pada saat saya bersiaga dan ingin mengusir kecemasan akan air butek yang memasuki rumah, entah mengapa saya mencoba mengalihkan pikiran itu dengan membuka Facebook. Terdapat puluhan notifikasi yang saya lihat sekilas berupa informasi kawan yang sedang berulang tahun, undangan memainkan sebuah gim, dan penjelasan tentang teman-teman yang selamat dari banjir kemarin. Di sebelah ikon notifikasi, ada pula satu pesan masuk yang setelah dibuka langsung menumbuhkan kebencian terhadap diri sendiri lantaran menemukan dosa masa silam. Dosa itu kemudian membuat saya menelusuri jejak-jejak dari masa yang sangat lampau. Dari banyaknya keburukan pada masa silam yang saya jelajahi selama dua jam di Facebook, saya pun merangkum tiga kisah yang nantinya saya ceritakan satu per satu di blog ini. Kamu boleh menikmatinya sebagai cerita fiksi, atau memercayainya bahwa kisah itu benar-benar terjadi.




Tempat yang Layak 

Pesan yang saya buka sebetulnya sudah telanjur dihapus oleh Siska—sang pengirim merangkap teman sekelas saat SMK. Namun, jejak yang tertinggal itu justru mengantarkan saya ke percakapan-percakapan jahanam pada 9-10 tahun silam. Selama membacanya, saya pikir diri saya merupakan seorang pemberang. Bukti paling dekat bisa saya temukan ketika membaca ulang twit ataupun tulisan tentang banjir. Lalu, kebencian saya terhadap seorang bloger munafik (yang berniat mencari pengikut banyak demi memenuhi syarat menjadi buzzer, tapi bisa-bisanya bersembunyi di balik frasa ‘mencari teman’) pun masih terekam jelas di blog ini. 

Saat mencoba membaca ulang tulisan-tulisan tersebut, mungkin kemarahan saya terasa lebih elegan dan dapat dimaklumi karena sudah berusaha menyusun kalimat sebaik-baiknya. Tapi, bagaimana jika saya membaca ulang tulisan diri saya sepuluh tahun yang lalu? Yang ada hanyalah rasa malu sekaligus jijik. Mengapa jari-jari saya bisa-bisanya dengan enteng menghina teman sekelas tolol dan enggak punya otak gara-gara dia keliru mengetik “yes, we can” menjadi “yes weekend”, padahal itu cuma persoalan sepele?

Sejauh yang mampu saya ingat, nilai mata pelajaran Bahasa Inggris saya pada hari itu bisa dibilang sangat memuaskan. Saya juga masih terkenang akan kejadian langka sehabis Ujian Tengah Semester, ketika guru kami memberi tahu bahwa nilai ulangan kami sekelas nyaris remedial semua, kecuali dua siswa. Guru itu pun sampai memberikan dua murid tersebut uang 5.000 rupiah sebagai apresiasi karena merasa salut. Saya termasuk salah satu dari dua orang itu. 

Apakah hal semacam itu langsung bisa membuktikan kalau diri saya ini cerdas, apalagi bisa semena-mena mengejek para murid yang remedial? Pertanyaan tolol barusan tentu tak perlu saya jawab. Pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dulu buktinya tak bisa menjadikan diri saya yang sekarang ini mahir dalam menggunakannya. Kemampuan saya masih teramat pasif, bahkan bisa dibilang amburadul.

Terlepas dari urusan bahasa Inggris, sebetulnya kala itu saya tidak menghina mereka semua. Saya hanya mencaci satu orang teman yang bernama Wawan karena kami memiliki masalah pribadi. Saya sudah lupa mengenai masalahnya, tapi yang jelas hari itu saya mencari celah buat melawan dia lewat olok-olok atas kekeliruannya mengetik kalimat. Keributan di pesan grup Facebook yang sempat menghebohkan kelas kami itu pun membuat saya merenung, apakah mayoritas remaja tak mampu mengontrol jari-jarinya dalam bertutur via teks?

“Yang enggak punya otak tuh sebenarnya lu, Yog,” ujar Ajeng yang mungkin mencoba membela kekasihnya itu. “Kalimat-kalimat lu tuh kayak orang yang enggak pernah sekolah.”

Saya masih menanggapi kalimat-kalimatnya beberapa kali dan balas menghina, hingga akhirnya saya sadar kenapa malah berdebat sama perempuan. “Mana nih si Wawan? Bukannya nongol, malah minta dibela sama ceweknya,” tulis saya. Wawan tidak muncul di percakapan itu lagi setelah dirinya salah mengetik. Apakah saya berhasil mempermalukan Wawan di hadapan teman-teman sekelas atau dia hanya berusaha menahan diri supaya tidak bertengkar lewat teks? Saya masih tidak tahu sampai sekarang (sebetulnya saya juga sudah lupa kalau saja enggak membaca pesan itu lagi). Yang saya tahu, pada hari itu saya justru mempermalukan diri sendiri.

Sekilas permasalahan barusan tidaklah berarti apa-apa bagi diri saya sekarang. Itu cuma ketololan remaja berusia 15 tahun yang emosinya begitu meluap-luap. Sayangnya, kenyataan bahwa Ajeng telah meninggal dunia enam tahunan silam bikin dada seorang remaja 15 tahun itu—yang kini telah bertumbuh menjadi lelaki berumur seperempat abad—sesak bukan main. Ajeng harus mati muda akibat tertabrak metromini yang melaju secara ugal-ugalan. Setiap kali mengingat tragedi itu, kesedihan dan kemarahan otomatis bekerja dalam diri saya. Sumpah, saya masih enggak rela teman sekelas saya dibunuh oleh supir metromini biadab, sampai-sampai tulang rusuknya menembus keluar.

Mengingat saya sendiri juga pernah jahat kepada Ajeng, kayaknya saya juga enggak pantas buat mengutuk supir itu. Mungkin kesalahan itu sudah dimaafkan dari jauh-jauh hari oleh Ajeng. Namun, sehabis membaca obrolan-obrolan laknat yang akhirnya saya hapus karena tak kuat menahan malu dan tangisan, mengapa perasaan bersalah dalam diri ini juga tak kunjung lenyap? 

Apakah karena dia telah pergi dari dunia ini, sehingga saya tidak bisa meminta maaf ulang kepadanya? Lagian, kenapa hal sepele akan kesalahan dalam bahasa Inggris dulu itu bikin saya lepas kendali? Daftar pertanyaan ini bisa terus bertambah jika saya tidak menghentikannya. Apa pun yang pernah terjadi kemarin, saya jelas tak bisa memutar waktu buat memperbaikinya. Saya hanya bisa berdamai dengan diri sendiri dan berusaha memaafkan kesalahan yang pernah saya perbuat. 

Sebagaimana orang-orang beriman melantunkan doa untuk orang meninggal agar kelak mereka mendapatkan tempat yang layak, saya pun ikut berharap supaya Ajeng bisa memperoleh sebuah tempat yang bersih dan terang—selayaknya judul cerpen Hemingway. Selepas membaca surah Alfatihah sembari mendoakannya, saya diam-diam juga berharap Ajeng telah memaafkan dosa saya saat remaja.

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/grave-sky-cross-old-stone-heaven-674443/
Read More
“Biarkan cahayaku berpijar sampai nanti. Darah di nadiku mengalir deras karenamu. Racun yang di tubuhku terhapus karena napasmu. Cahaya, cahaya, berpijarlah untuk selamanya. Ingin ku rasa ini... selamanya.” —Zat Kimia, Feromon 

-- 

Saya berencana mengisahkan ulang cerita anime Kimetsu no Yaiba episode 11-14 secara suka-suka. Bagi yang belum pernah mengikuti kisahnya dan takut enggak paham, kamu boleh menutup halaman ini. Tapi tunggu sebentar, bukankah tak baik memilih berhenti sebelum mencobanya sama sekali? Jadi, semoga kamu bisa tetap menikmati dongeng berikut ini. Seandainya nanti kamu merasa jenuh atau kecewa atau tidak puas dengan tulisan saya, berarti saya telah gagal menceritakan ulang sebaik versi anime maupun komiknya, dan kamu tentu saja boleh mengejek saya di kolom komentar. Saya mungkin juga telah gagal sebagai seorang pencerita. Menyadur sebuah kisah ternyata tidak semudah kelihatannya. Lagian, kapan sih proses menulis bisa terasa gampang?

-- 



Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku. Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku, suatu hadiah sehabis menolong sesosok iblis perempuan. Kegilaan ini bermula dari sebuah kecupan di pipi kananku, suatu hadiah sehabis menolong sesosok iblis perempuan berjenis langka yang bernama Nezuko.
Read More
Seusai menonton enam film pendek bertema romansa di Youtube, Farhan bertanya kepadaku, “Kapan terakhir kali kau menangis karena cewek?” Biarpun nenek, ibu, dan tante juga termasuk perempuan, tapi kayaknya maksud Farhan bukan menyangkut anggota keluarga semacam itu. Ini pasti berurusan dengan gebetan atau kekasih. Maka, pertanyaan itu tentu tak bisa kujawab dengan lekas. Aku perlu mengecek satu per satu laci kenangan di dalam kepala terlebih dahulu.



Sebelumnya, Farhan sering memuji memori otakku yang sanggup menggali kenangan-kenangan lawas dalam waktu singkat. Ketika kami sedang membicarakan kenangan masa kecil, misalnya, aku sudah membagikan enam cerita, sedangkan Farhan baru dua. Dalam waktu kurang dari 30 detik selepas aku berkisah bagaimana dulu dia pernah menangis kejer lantaran gagal melulu mengalahkan Oxide dalam gim CTR (Crash Team Racing) di Playstation, aku menambahkan dia juga pernah menangis seperti itu saat melempar mainan Crush Gear milik kawannya, menirukan aksi para karakternya di televisi. Hasilnya: tentu saja mainan itu langsung rusak dan akhirnya disuruh ganti rugi.

Farhan pun mengakak, tidak menyangkal sama sekali, dan berkata, “Kalau kau enggak cerita, Bar, aku pasti sudah lupa pernah segoblok itu zaman bocah. Daya ingatmu luar biasa, ya.”

Sayangnya, kali ini aku betul-betul gagal mempertahankan kehebatan daya ingat yang sempat Farhan ucapkan. Barangkali pujian itu terlalu berlebihan. Mungkin juga karena pikiranku bekerja secara otomatis untuk mengunci rapat hal-hal yang menyakitkan—yang dulu ingin sekali kulupakan.

Berhubung aku tak ingin membuatnya menunggu, aku hanya bisa merespons singkat: lupa. Farhan tidak terima dengan jawaban tersebut, bilang kalau aku berpura-pura sebab malu menunjukkan sisi melankolis, dan tetap memprovokasiku supaya terus menggali ingatan sampai ke akar-akarnya.

Aku mencoba meyakinkannya bahwa sekarang ini kepalaku sedang tidak berfungsi dengan baik karena mulai mengantuk, lalu balik bertanya kenapa dia tiba-tiba mempertanyakan hal itu. Farhan bercerita mengenai dua bulan silam habis ketahuan selingkuh oleh pacarnya.

Aku sangat terkejut begitu mendengarnya. Jika ingatan ini tak berdusta, seminggu yang lalu aku sempat melihat mereka mengunggah cerita di Instagram sedang berkencan di sebuah kafe. Aku kira hubungan mereka yang telah berjalan tiga tahunan itu juga baik-baik saja tanpa kendala dalam belakangan ini, sebab mereka tak pernah lagi mencurahkan persoalan itu ke media sosial.

Sampai tiga bulan silam, setahuku mereka masih gemar saling sindir jika sedang bertengkar. Contohnya, sewaktu Farhan ada reuni bersama kawan SMP-nya, Nadia—pacarnya—dengan konyolnya bikin twit begini lantaran teringat Farhan saat masa sekolah dulu sempat jadian dengan teman sekelasnya: “Asyik ya yang lagi nostalgia sama mantan. Sampai lupa kasih kabar.”

Farhan lantas membalas, “Enak banget jadi manusia yang suka menuduh-nuduh sembarangan tanpa ada bukti, padahal orang yang dimaksud juga enggak datang ke reunian. Udah jelas-jelas salah, enggak mau minta maaf pula. Kocak.”

Entah kini mereka sudah bertambah dewasa dan sadar betapa tololnya hal itu sehingga malu buat memamerkan problem hubungannya lagi, atau mereka sama-sama lupa kata sandi akun Twitter-nya. Tanpa perlu menebak-nebak, aku akhirnya bertanya kepadanya, “Terus kalian sempat putus atau gimana, Han?”

“Putus tiga hari doang, terus balikan.”

Dalam keadaan sama-sama rebahan beranjak tidur, Farhan kemudian mengisahkan kepadaku kronologi kejadiannya secara berantakan. Mungkin karena dia sudah mengantuk atau memang tak pandai bercerita. Beginilah kisahnya setelah kususun ulang dengan versi lebih ringkas:

Merasa jengkel dengan tuduhan pacarnya yang kian lama bikin jenuh, lebih-lebih tak mau meminta maaf atas prasangka buruk itu, Farhan jadi kepikiran untuk memasang aplikasi Tinder di ponselnya buat menghibur diri sekaligus mencari teman bercerita. Satu jam berselang, dia akhirnya berteman dengan seorang perempuan bernama Indira dan mulai mengobrol. Mulanya niat Farhan hanya iseng mencari pelarian sejenak dengan berbincang-bincang via aplikasi bersama perempuan lain (karena sedang jeda komunikasi sama pacarnya) tanpa ada niat bertemu langsung. Namun, begitu Indira tiba-tiba memancing Farhan dengan bilang lagi butuh teman nonton film Joker sebab malas menonton bioskop sendirian, keisengan itu berubah jadi hal yang tak terduga.

Penampilan Indira saat perjumpaan hari itu mirip sebagaimana potret dari samping yang dia pajang di Tinder: berparas khas Arab dengan hidung mancung, berambut lurus sepunggung, warna kulit kuning langsat, dan bertubuh montok berisi. Intinya, tak ada satu pun kepalsuan dalam foto tersebut kalau dibandingkan dengan sosok aslinya. Melihat perempuan seaduhai itu, Farhan pun seolah-olah lupa akan fakta bahwa dia telah memiliki kekasih.

Sepulangnya menonton bioskop di mal Taman Anggrek, mereka melanjutkan agenda hari itu dengan makan sore di warung Sambal Super area Tanjung Duren. Dari sanalah perselingkuhan itu dimulai. Memang, Farhan dan Indira belum pernah bersua kembali, apalagi melakukan hal yang bukan-bukan, hingga Nadia berhasil mengetahui perbuatan biadab mereka. Tapi banyaknya rekam jejak digital, yakni obrolan mesra via teks, telepon, dan panggilan video yang lupa Farhan hapus, sangatlah membuat Nadia murka. Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan sekalipun tak ada sentuhan fisik.

Saat hari pertama ketahuan selingkuh, pada Minggu siang yang cerah—yang niatnya untuk berkencan lalu mendadak berubah menjadi momen berengsek, Farhan jelas langsung meminta maaf kepada Nadia. Tidak lupa dia menghapus bukti-bukti yang Nadia temukan, memblokir kontak Indira, serta memberi penjelasan tentang hubungan mereka yang belum terlalu jauh. Tapi sebagaimana orang-orang yang amarahnya sedang di puncak, Nadia tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Dia hanya ingin menyebutkan daftar binatang yang lazimnya digunakan untuk memaki, lalu meminta putus.

Pada keesokan harinya, Farhan tetap berusaha menghubungi Nadia, meminta maaf semampunya, dan mengajak rujuk kembali. Tak ada satu pun respons. Farhan sangat frustrasi akan sikap Nadia yang mengabaikannya. Hingga hari ketiga, sepulangnya dari kantor, Farhan nekat mampir ke indekos Nadia.

Begitu dibukakan pintu oleh Nadia, Farhan langsung memeluknya, berlutut, sampai akhirnya menangis di pangkuan Nadia. Dengan terisak-isak, Farhan mengaku itu pertama kalinya dalam seumur hidup dia khilaf selingkuh selama berpacaran. Dia berjanji enggak akan mengulanginya lagi, berupaya mengubah sifat-sifat buruk lainnya, serta mencoba lebih mengerti Nadia. Nadia pun luluh dengan permintaan maaf tulus Farhan. Sepertinya dia terkejut dengan sisi lain Farhan yang bisa secengeng itu demi cinta. Sampai-sampai air mata yang Farhan jatuhkan itu kalau dikumpulkan mungkin bisa memenuhi sepatu pantofel ukuran 39.

Sejak Farhan menangis di pangkuan Nadia, hubungan mereka semakin lama membaik. Mereka juga mulai introspeksi satu sama lain, khususnya persoalan mengeluh di Twitter seperti sebelum-sebelumnya yang tampak norak.


“Pantas baru dua minggu selingkuh kau langsung ketahuan sama Nadia, Han,” ujarku. “Kau ternyata masih pemula.”

“Anjing!” kata Farhan sembari menoyor kepalaku. “Emang kau sendiri udah ahli, Bar?”

“Sori ya, aku mah enggak pernah ada niat kayak begitu.”

“Kau bahkan udah enggak niat punya pacar, kan?”

Kini, gantian aku yang menyikut kepalanya.

“Gantian dong, Bar, mana ceritamu pas nangis karena cewek?”

“Sabar, Han, ini dari tadi juga sambil diingat-ingat.”


Aku sungguh lupa kapan terakhir kali menangisi perempuan. Maksudku, menangis yang betul-betul keluar cairan. Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang mengaku kalau mereka menangis tanpa keluar air mata, kan? Konon itu rasa sedihnya sudah sangat mendalam. Nah, seingatku, setiap kali aku dan pacarku memilih bubar pasti dadaku terasa sesak dan hatiku juga bakal menjerit-jerit. Itu termasuk menangis tanpa keluar air mata, kah? Aku sebenarnya juga ingin menumpahkan air mata, sialnya tak ada setetes pun yang terjatuh, bahkan berkaca-kaca juga tidak. Aneh sekali.

Namun, sehabis mendengar kisah Farhan yang sampai mengorbankan harga dirinya dengan menangis di hadapan pacarnya itu, pecahan-pecahan memori jahanam di kepalaku mulai muncul kembali. Mulutku otomatis mengucapkan, “Han, aku mulai ingat nih.”

Tak ada tanggapan darinya. Cuma terdengar bunyi orang bergumam. Aku menoleh ke kiri. Farhan sudah memejamkan matanya. Sialan, tadi minta gantian cerita, eh giliran aku telah mengingatnya justru dia tertidur pulas.

Meski begitu, aku sudah tidak kaget lagi, sih. Setiap kali menginap di rumah Farhan aku biasanya juga ditinggal tidur seperti ini. Masalahnya, gara-gara berusaha menjawab pertanyaan bedebahnya itu, rasa kantukku lenyap seketika dan tak bisa ikutan nyenyak. Aku juga tak tahu mesti menceritakan kenangan ini kepada siapa. Apakah aku mesti merenunginya sendirian?

Aku lalu mengambil ponsel yang tergeletak di dekat paha kananku. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.17. Aku mengecek aplikasi WhatsApp, kemudian membuka kontak Anisa Oktaviani. Di situ muncul percakapan terakhir kami sebulan yang lalu sedang membahas film Pyaar Ka Punchnama (2011).

Itu film yang beberapa bulan lalu Anisa rekomendasikan di Twitter, terus aku iseng menontonnya. Omong-omong, aku dan Anisa baru berkenalan secara digital. Awalnya kami cuma mengobrol lewat media sosial, barulah setahun berikutnya saling bertukar nomor telepon. Kami belum pernah sekali pun kopi darat, padahal sudah berteman selama empat tahunan. Mau bagaimana lagi, aku tinggal di Jakarta, sedangkan dia di Samarinda. Biarpun begitu, kami termasuk kawan yang akrab, khususnya saat membicarakan film dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi.

Jika dibandingkan dengan Anisa, wawasanku dalam perfilman terbilang cetek. Kira-kira 3 berbanding 8. Film-film yang dia tonton dan menjadi kesukaannya jarang sekali kuketahui, sedangkan yang menjadi favoritku kebanyakan juga menjadi idola sejuta umat—dengan kata lain: pasaran. Terus terang saja, mungkin karena selera kami berbeda atau aku kurang cocok dengan seleranya. Aku yang lebih menyukai anime ini memang terlalu pemilih dalam soal tontonan lain. Banyak genre yang aku benci. Misalnya, aku pantang menonton horor dan thriller yang terlalu sadis. Aku juga kurang suka dengan film yang garis besarnya mengisahkan percintaan tanpa ada bumbu lain. Apalagi film yang berasal dari India. Banyak nyanyi dan joget-jogetnya. Asli, bagian itu bagiku sungguh membuang-buang waktu.

Namun, rekomendasi Anisa kali itu entah mengapa malah cocok dan terasa relevan denganku. Dulu, nasibku dalam menjalin hubungan dengan perempuan juga pernah setragis di film. Lima tahun silam, tepatnya sewaktu aku berusia 19, aku betul-betul lelah dengan sifat Nova—pacarku saat itu. Makanya, aku mengakak pada sebuah adegan di film Pyaar Ka Punchnama, ketika Rajat mencerocos selama lima menit hanya buat mengeluh soal perempuan kepada kawannya.



Aku juga sempat melakukan hal itu. Aku mengisahkan permasalahanku kepada Farhan ataupun sebaliknya. Aku muak harus sering-sering mengabari pacarku saat jam kerja. Apalagi aku ini tipe orang yang membuka ponsel cuma pas jam istirahat atau sewaktu pekerjaanku telah rampung. Jika pekerjaan masih menumpuk, aku malas menyentuh gawai itu, bahkan memilih mematikannya. Aku cukup paham sih kenapa Nova ingin sekali kontakan denganku. Dia bekerja sebagai resepsionis di salah satu radio kawasan Jakarta Barat. Kalau tamunya lagi sepi, dia tentu merasa jenuh bukan main. Tapi, bukan berarti dia harus ketergantungan terus denganku. Dia kan bisa cari cara lain buat menghibur diri. Baik itu dengan mendengarkan lagu, membaca buku, atau menonton film di ponselnya.

Nova bilang, aku ini kurang perhatian maupun pengertian, padahal menurutku dialah yang begitu. Sampai akhirnya, hal itu menjadi satu dari sekian banyak alasan Nova untuk menyudahi hubungan kami pada kemudian hari.

Berbeda dengan Farhan yang reunian bersama teman SMP-nya lalu dituduh-tuduh oleh pacarnya sedang bernostagia dengan mantan, padahal nyatanya tidak sama sekali; kejadian reunian teman SMP yang Nova ikuti justru membuat dia dekat dan jadi sering berkomunikasi sama salah satu cowok bernama Agung. Berhubung Agung seorang fotografer lepas, dia memiliki waktu yang lebih fleksibel ketimbang aku yang penginput data dan mesti mengetik sembari menatap layar komputer terus-menerus.

Kekosongan Nova yang tak bisa aku isi karena kesibukan, akhirnya tergantikan oleh kehadiran Agung. Aku pun mulai cemburu, meminta penjelasan dari Nova, dan memintanya buat menjaga sikap. Tapi Nova selalu menyangkal hal itu. Dia bilang tak ada hubungan apa-apa. Percakapannya biasa saja selayaknya teman lama yang lagi bertukar kabar. Aku merasa dongkol tidak keruan. Sialnya, aku masih sayang sekali kepadanya. Aku tak mampu mengakhiri hubungan yang sudah berjalan setahun ini.

Hingga akhirnya, pada suatu malam selepas azan Isya, dialah yang berhasil melontarkan kalimat putus terlebih dahulu, “Kayaknya aku udah enggak bisa sama kamu lagi, Bar. Kamu tuh emosian banget setiap cemburu enggak jelas begini. Aku capek kita berantem melulu setiap hari. Mungkin kita emang udah enggak cocok. Mendingan jadi teman lagi kayak dulu.”

Kala aku membaca pesan itu, terdengar bunyi petir kencang sekali. Kebetulan cuacanya memang lagi hujan deras. Aku berusaha meminta maaf, mencari apa penyebabnya, lalu terburu-buru menyebut nama Agung dalam urusan itu.

“Apaan sih pakai bawa-bawa dia? Ini tuh tentang kita. Dia enggak ada hubungannya sama sekali. Kamu kalau salah tuh ngaku aja kek, jangan malah cari-cari kambing hitam.”

Aku meminta maaf lagi. Tak ada balasan. Aku kemudian meneleponnya. Tetap tak ada respons. Nova lalu mengirim pesan bahwa tak mau mengangkat teleponku dengan alasan takut tersambar petir.

Sehabis salat Isya dan berdoa, aku pun nekat pergi ke rumah Nova.


Sepuluh detik setelah pintu rumahnya kuketuk dan mengucapkan salam, ibunya Nova membukakan pintu. Beliau bertanya ada masalah apa sehingga bersikeras menerobos hujan lebat begini.

“Ada salah paham yang harus dibicarakan langsung sama Nova, Bu.”

“Memangnya enggak bisa lain waktu?”

Mendengar perkataannya, aku langsung bergeming dan merasa tolol. Betul juga. Kenapa tiba-tiba aku datang ke sini cuma untuk membicarakan masalah? Bukankah kondisi cuaca juga sama sekali tidak mendukung? Mana tadi di perjalanan aku mengebut pula. Syukurlah tidak terjadi kecelakaan.

“Ya udah, mari masuk,” ujar beliau sembari mempersilakanku duduk. “Ibu panggilkan dulu ya si Nova.”


“Kamu betul-betul gila ya, Bar?” kata Nova begitu keluar kamar dan duduk di sebelahku. “Aku tuh paling enggak suka sama cowok yang nekat dan berpikiran pendek kayak kamu.”

“Maaf, Nov, tapi menurutku cuma ini caranya biar hubungan kita tetap bertahan.”

“Justru karena kamu begini, aku semakin yakin buat putus.”

“Loh, kenapa? Aku bikin salah apa lagi?”

Nova memberi tahuku tentang status BlackBerry Messenger ibuku: “Ya Allah, hujan deras begini anakku malah kelayapan. Semoga dia baik-baik aja. Aamiin.” Tak cukup dengan status, Nova juga memperlihatkan pesan ibuku, “Nova, memangnya si Barry punya salah apa sampai kamu enggak mau maafin dia?”

Anjing, kenapa orang tua jadi ikut campur masalah begini, sih? Setan. Iblis. Dedemit. Jurik. Kenapa ibuku segala membuat status norak semacam itu? Kenapa pula mereka berteman di BBM?

Ah, aku ingat. Ini semua lantaran Nova yang kurang percaya denganku, sehingga enam bulan lalu dia meminta kontak ibuku. Agar dia bisa memastikan kalimatku bukanlah dusta. Misalnya, sewaktu aku pamit pergi ke suatu tempat, Nova juga akan bertanya kepada ibuku supaya lebih yakin.

Rasanya kurang patut jika aku menyalahkan ibuku dalam kondisi kacau ini. Mungkin dengan nekat datang ke rumah Nova begini aku juga sudah melakukan kesalahan fatal terhadap ibuku. Aku telah membuat ibuku cemas. Aku masih ingat dengan jelas percakapan tadi di rumah ketika sedang memakai jas hujan dan pamit pergi.

“Kamu mau ke mana hujan-hujan begini, Bar?”

Aku menjelaskan ingin ke rumah Nova buat meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahanku.

“Tanggung jawab apa? Kamu ngehamilin Nova?”

Aku terkejut dengan pertanyaan barusan. Sepertinya aku salah bicara.

“Bar, betul kamu ngehamilin dia?”

“Astagfirullah. Enggak, Bu. Kenapa berpikiran sejauh itu? Ciuman aja aku belum pernah. Ini cuma ada salah paham. Pokoknya masalah anak muda deh.”

Ibuku akhirnya dapat bernapas dengan lega dan mengizinkanku pergi. Tapi setelah aku menutup pintu, aku mendengar beliau berkata, “Kayak enggak ada hari lain aja.”

Di dalam hati, aku teramat menyesal dan meminta maaf kepada ibuku. Aku kini juga hanya bisa meminta maaf kepada Nova akan status BBM ataupun pesan ibuku. Dia memilih tetap membisu. Momen beku tanpa suara yang bikin enggak nyaman ini akhirnya menyelimuti kami.

Keheningan itu kemudian pecah ketika ibunya Nova menyuguhkanku teh manis hangat di meja yang terletak di hadapanku. Beliau menyuruhku untuk segera meminumnya. Selagi aku menyeruput teh itu, beliau menasihati kami berdua agar membicarakannya baik-baik sebelum mengambil keputusan, lalu kembali ke kamarnya.

Aku lagi-lagi meminta maaf dan berusaha mempertahankan hubungan kami. Nova tetap tak peduli dengan perkataanku.

“Jawab dong, Yang.”

“Enggak usah panggil aku ‘yang-yang’ lagi. Aku betulan capek sama kamu, Bar. Aku pengin sendiri aja.”

“Ini bukan alasan kamu karena ada orang lain, kan?

“Terserah kamu mau ngomong apa deh, Bar.”

Aku tak punya pilihan lain selain meminta maaf lagi.


Di film Pyaar Ka Punchnama, ada seorang cowok yang menangis di pangkuan ceweknya karena tidak kuat lagi dengan sikapnya yang kian menjengkelkan. Kenapa cewek itu bisa-bisanya bercerita habis begituan sama cowok lain, apalagi sampai menjelaskan betapa nikmatnya indehoi? Tidak terima akan fakta itu, maka sang cowok pun memohon-mohon kepada si cewek untuk bilang bahwa yang barusan dikatakannya hanyalah kebohongan semata. Tak ada pria lain selain dirinya.



Aku tak habis pikir dengan bagian yang satu ini. Apakah itu karena saking cintanya si cowok sampai dia rela mengorbankan harga dirinya, padahal jelas-jelas sudah dipermainkan sedemikian rupa sama si cewek? Berbeda dengan di film, kisah Farhan yang menangis di pangkuan pacarnya sebab dia telah berkhianat tentu masih terasa wajar buatku.

Terlepas akan hal-hal barusan, pada hari itu aku juga sempat meletakkan kepalaku di pangkuan Nova seperti yang Farhan lakukan ataupun tokoh pria di film itu. Aku mengulang permintaan maafku sampai tiga kali sembari memohon-mohon supaya tidak putus, tetapi tak kunjung mendapatkan titik terang dari hubungan yang sudah di ujung tanduk ini. Seketika itu aku ingin sekali menangis di pangkuannya. Sayangnya, aku tak ingin mempermalukan diri lebih dari ini atau bermaksud menyelamatkan harga diri, jadi kutahan air mataku sekuat mungkin.

Saat itu aku malah teringat kembali dengan status BBM ibuku. Mungkin menjalin komunikasi dengan orang tua pacar itu ada baiknya. Berhubung niat Nova bukan untuk mengakrabkan diri, melainkan krisis kepercayaan terhadapku, aku pikir punya pacar yang overprotektif dan curigaan seperti dia sangatlah merepotkan dan melelahkan. Bisa jadi putus dengannya bukanlah ide buruk.

Jadi, aku pun langsung menegakkan kepalaku, menatap matanya, dan bilang dengan mantap, “Oke, Nov, aku udah paham sekarang. Berarti mulai malam ini kita putus.”

Giliran aku memutuskannya, dia langsung menghinaku dengan “anjing”, “bajingan”, serta “cowok bangsat”.

Aku tak peduli lagi. Aku tak ingin menyesali keputusanku yang sudah bulat itu. Maka, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman, lalu berterima kasih kepadanya. Baik karena telah menemani hari-hariku maupun atas kebaikan yang dia dan keluarganya berikan selama ini. Aku menutup kalimatku dengan menitip salam kepada ibunya.

Walaupun kondisi di luar masih hujan gerimis, aku sudah tak ada keperluan lagi di rumah Nova. Berlama-lama di sini cuma akan menimbulkan nestapa. Toh, malam juga sudah semakin larut. Aku pun memilih pulang tanpa mengenakan jas hujan. Jadi begitu keluar dari area kompleks rumahnya, aku langsung memacu motor secepat mungkin. Kebetulan suasana jalan raya juga lagi sepi-sepinya. Tak ada mobil melintas di jalur yang kulalui. Hanya ada 2-3 motor yang terlihat di depanku. Ketika itulah tangis yang kutahan-tahan sejak tadi mulai luber begitu saja. Aku menangisi hubungan yang baru saja berakhir seraya kilas balik masa-masa membahagiakan yang pernah kami lewati bersama. Sesudah hatiku terasa lebih plong, aku memaki sekencang-kencangnya, “Cinta tai kotok.”


Satu minggu setelahnya, tai kotok itu tak sengaja terinjak olehku alias sewaktu aku lagi main ke rumah kawan di kawasan Bintaro, aku melihat Nova boncengan naik motor bersama seorang cowok. Yang tidak lain tidak bukan adalah Agung. Nova memeluknya dengan erat seakan-akan tak ingin kehilangannya.

Aku pun berkata lirih, “Katanya waktu itu pengin sendiri, Nov? Kok sekarang berdua? Dasar cewek bajingan!”


Saat mengenang memori sialan itu, gerimis turun begitu saja di sudut mataku. Dadaku sesak tidak keruan. Rasanya seperti menancapkan pisau yang baru diasah ke luka lama yang sudah sembuh. Biarpun menyakitkan, menangis tengah malam menjelang tidur begini terasa nikmat sekali.

“Bar, kau kenapa nangis?”

Aku terkejut Farhan tiba-tiba terbangun. Bangsat, momen begini sungguh bikin malu. Bisa-bisanya aku kepergok lagi meneteskan air mata. Ayo, segera cari alasan, Bar. Lekaslah berpikir. Dengan satu tarikan napas, lalu mengembuskannya perlahan-lahan, aku akhirnya menjawab, “Aku barusan mimpi ibuku meninggal.”

“Ya, Allah.”

“Aku belum siap kehilangan ibuku, Han.”

Farhan menasihatiku bahwa itu cuma bunga tidur. Enggak perlu dipikirkan lebih jauh. Aku mengangguk dan mengelap air mataku. Farhan lantas bangkit dari posisi rebahnya, berjalan ke dapur, dan mengambilkanku segelas air putih. Aku meminumnya hingga tandas. Dia pun menyuruhku tidur lagi, serta jangan lupa berdoa. Aku langsung memejamkan mata saat itu juga.

Malam itu harga diriku berhasil terselamatkan dengan kebohongan tolol semacam itu. Dalam keadaan mata terpejam, aku tersenyum berusaha menahan tawa karena rasanya ingin mengakak sampai mampus.

--

Gambar saya ambil dari: https://pixabay.com/photos/people-man-guy-cry-tears-groom-2566201/
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home