—Hasil modifikasi tulisan Oktober 2019 yang isinya cocok dengan keadaan saya pada akhir Juli kemarin.

--



Dua bulan terakhir ini saya lagi senang-senangnya mendengarkan Nasadira menyanyikan sajak Chairil Anwar (saya kurang suka dengan sebutan musikalisasi puisi), Selamat Tinggal. Suara Sky, sang vokalis, terasa aduhai di telinga saya. Dari semua liriknya, saya sungguh menyukai bagian ini:

Kudengar seru-menderu
dalam hatiku.
Apa hanya angin lalu?

Lagu itu pula,
menggelepar
tengah malam buta.


Saya enggak tahu apa makna yang tersirat dalam puisi tersebut, tapi saya mencoba menafsirkan sesukanya bahwa itu tentang suasana hati yang rasanya ingin menjerit sekencang-kencangnya ketika lagi dirundung banyak problem. Kemudian muncul juga bunyi-bunyi berisik lain di kepala pada tengah malam sewaktu saya ingin memejamkan mata dan merehatkan tubuh, yang akhirnya malah bikin susah tidur sebab pikiran saya kian berkelana ke sana-kemari.

Seperti tiga hari belakangan ini, setiap malam saya selalu heran dengan diri sendiri. Kenapa suasana hati dan pikiran buruk ini begitu mengacaukan keseharian sampai-sampai saya tak berminat menjalani hidup? Saya enggan berjumpa dengan manusia lain. Saya pun malas membuka media sosial dan blog, apalagi menorehkan keresahan di sana. Saya bagaikan sedang menarik diri dari dunia nyata maupun maya.

Kala masalah hidup datang, saya memang mulai berusaha mengontrol diri untuk tidak memperlihatkannya. Untuk tidak memberi tahu siapa-siapa. Terlebih lagi agar tidak meminta bantuan, karena setiap orang tentu memiliki masalahnya masing-masing, dan saya tak ingin menambah beban mereka.

Mungkin pada akhirnya saya tetap butuh bercerita karena tak sanggup menyimpannya sendirian. Masalahnya, saya tak tahu harus memercayai siapa akhir-akhir ini. Orang-orang yang saya anggap dekat dan berasa di sekitar justru yang paling memicu stres dan depresi. Sialnya lagi, pandemi ini terus memaksa saya untuk lebih baik di rumah saja. Betapa sulitnya keluyuran tanpa merasa cemas. Terasa riskan juga jika saya nekat berjumpa dengan kawan baik yang rumahnya jauh.

Kalau begitu, sementara ini mending kau cerita saja kepada temanmu yang jauh itu lewat WhatsApp atau telepon, pikir saya.

Memang, ada sebagian teman yang saya kenal lewat media sosial atau blog lalu pernah bertemu dan sebenarnya dapat dipercaya. Tapi di era digital yang serba screenshot dan terasa berengsek ini tentu membuat saya tetap khawatir. Mereka kan juga punya kesibukan masing-masing. Lagi pula, saya benar-benar ingin bercerita secara langsung saja.

Jadi, ketika saya sungguh tak kuat lagi memendamnya sendirian, pilihan saya satu-satunya hanya menulis di blog lain yang jarang pengunjungnya. Itu pun saya tak berharap ada yang membacanya. Saya cuma kepengin lega. Saya ingin kenestapaan ini lekas berlalu.

Yang saya bingung dari semua ini, apakah saat lagi ada masalah gawat kita memang sulit buat tampak baik-baik saja? Mungkin di dunia nyata saya mampu. Tak akan ada yang tahu bagaimana saya menyembunyikan kesedihan dalam diri ini. Sementara itu, saya pasti butuh pelarian ke dunia maya atau mencari eskapisme. Lalu, begitu saya mengingat perkataan seseorang (entah siapa, saya lupa), bahwa curhat tentang masalah atau bersedih di dunia maya bisa-bisa cuma jadi tertawaan netizen, kadang-kadang kok sialan juga, ya?

Meskipun selama ini saya kurang peduli bakal mendapatkan respons apa pun dari apa yang telah saya tulis atau curahkan, toh itu sudah menjadi konsekuensi, tapi kali ini saya betul-betul memikirkannya. Khususnya akhir-akhir ini saya jadi kian kepikiran karena terlalu banyak membuang air mata lewat tulisan. Menyiasatinya dalam bentuk fiksi juga terlihat percuma. Seakan-akan nasib malang tiap karakternya itu selalu menunjukkan betapa sedih atau kesepiannya diri saya.

Enggak perlu mengelak kalau semakin ke sini saya mulai merasa kesepian. Saya rasanya sudah kehilangan semua kawan yang sebelumnya bisa diajak berbagi. Dan yang lebih bajingan daripada itu, saya bagaikan melihat dunia dari ujung teleskop yang salah. Saya sendirian. Tak punya siapa-siapa lagi.

Sejak tak punya lagi tempat khusus buat berbagi cerita (seorang pacar maupun sahabat), saya pun selalu menjadikan blog seperti kawan sejati yang tak pernah meninggalkan saya. Namun, saya lama-lama merenung sekaligus membayangkan ia capek mendengarkan segala limbah ataupun omong kosong yang keluar dari hati dan pikiran saya. Seandainya ia makhluk hidup, mungkinkah ia muak? Bagaimana jika ia juga tak sanggup lagi menampung keluh kesah ini, kemudian pergi meninggalkan saya?

Saya kayaknya harus lebih menahan diri lagi. Sebenarnya sih bagus banyak menghasilkan teks dan jadi terlihat rajin, tapi paling enggak jangan terlalu sering menunjukkan sisi muramnya. Ada masanya saya perlu mengerem. Berikan batasan waktu sebagaimana minum obat dengan anjuran dokter. Biar saya enggak overdosis.

Tapi, mampukah saya bersikap baik-baik saja, padahal sedang kenapa-kenapa? Apakah ini tandanya saya sudah ketergantungan? Saya merasa sakau dan kacau jika belum membuang kesedihan itu lewat tulisan? Kalau saya tidak lagi mencari pelarian lewat menulis, adakah metode lain yang seampuh terapi jiwa ini? Lantas, bagaimana caranya bisa terlihat normal di dunia nyata maupun maya sewaktu dirimu sangat butuh tempat persembunyian untuk menutupi nelangsa? Memakai topeng senyum sebagaimana manusia digital yang semakin terbiasa dengan kepalsuan? Saya sudah malas berpura-pura. Saya tak ingin membohongi diri, lebih-lebih menyiksa diri, lebih dari ini.

Entahlah. Persetan dengan kesedihan! Persetan dengan gangguan kecemasan! Corona tai anjing. Pemerintah konyol (huruf 'Y' dan 'T' ini bersebelahan, hampir saja tipo).

Saya saat ini sih hanya ingin memodifikasi lirik Selamat Tinggal itu. Dari “Aku berkaca bukan untuk mereka. Ini muka penuh luka. Siapa punya?” menjadi “Aku menulis bukan untuk mereka. Blog ini penuh duka. Siapa peduli?”

Setidaknya, jika sementara ini cuma menulis yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkan diri, saya berarti tinggal bersikap masa bodoh dengan cap “cengeng”, “lemah”, “payah”, “cari perhatian”, dan sebagainya. Toh, seandainya tulisan itu terpublikasi di blog ataupun media sosial, itu tandanya kesedihan saya telah berlalu. Saya menerbitkannya hanya buat pengingat bahwa perasaan terasing dan terdampar ini pernah saya lalui sebelumnya, supaya pada kemudian hari saya tidak kaget lagi. Bisa dibilang itu juga proses saya dalam berdamai dengan diri sendiri.

Bagaimana perasaanmu sewaktu tidak mengenali dirimu sendiri? Tepatnya seperti yang terukir pada penutup sajak Chairil, Segala menebal, segala mengental. Segala tak ku kenal. Selamat tinggal.

Berhubung saya sendiri baru saja mengalaminya, saya kala itu benar-benar ketakutan. Apakah saya memang pecundang tolol yang gampang berputus asa saat dihantam kepahitan hidup? Saya betul-betul tak tahu. Saya mendadak benci sama manusia. Saya muak dengan segalanya. Saya cuma bisa mengutuk kondisi busuk ini sembari menyalahkan keadaan.

Setelahnya, saya pun malu dan benci kepada diri sendiri. Masa sih saya pernah semengerikan dan sejahanam itu? Saya berharap semoga sosok yang tidak saya kenal dalam diri itu merupakan Yoga versi teramat buruk. Jadi, saya kini dapat mengucapkan selamat tinggal kepadanya demi menuju karakter yang, mungkin bagi orang lain masih amburadul, tapi sesungguhnya telah ber-evolusi, lebih baik.

--

Gambar saya comot dari: https://pixabay.com/id/photos/perpisahan-3258939/
Read More
Disalin dari halaman terakhir jurnal harian milik Agil Febrian.



--

Belakangan ini aku berada di kondisi mental yang gawat banget. Efek dari batin yang menderita berlebihan selama pandemi, sering kali di kepalaku terlintas pikiran lebih baik mampus aja ketimbang hidup dalam rasa cemas yang tak berujung ini. Aku pun mulai memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan diri.

Dari sekian banyak pikiran yang keterlaluan buruk itu, aku entah mengapa jadi teringat dengan salah satu kepingan buku kumpulan esai dan aforisme karya Arthur Schopenhauer yang membahas tentang bunuh diri. Aku lantas iseng menerjemahkan secara asal dan mencoba menulis ulangnya, sehingga beginilah kira-kira yang dia coba sampaikan:

Secara umum akan ditemukan situasi di mana teror kehidupan datang untuk melebihi teror kematian seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, teror kematian menawarkan perlawanan yang cukup besar: mereka berdiri tegap bagaikan seorang penjaga di pintu gerbang.

Mungkin tak ada satu pun manusia yang ingin menyudahi hidupnya sendiri jika tujuannya murni negatif, untuk menghentikan eksistensinya secara tiba-tiba. Meski begitu, ada suatu hal positif di dalamnya juga: penghancuran tubuh. Ini merupakan suatu pencegahan, sebab tubuh adalah bentuk fenomenal dari keinginan untuk hidup.

Perlawanan dengan penjaga itu bagaikan sebuah peraturan, bagaimanapun, tidak sesulit kelihatannya bagi kita jika sudi menengoknya dari kejauhan: alasannya adalah pertentangan antara penderitaan batin dan fisik. Karena ketika kita berada dalam rasa sakit fisik yang hebat atau kronis, kita tidak lagi peduli dengan semua masalah lain; yang kita khawatirkan cuma pulih. 

Dengan cara yang sama, penderitaan batin yang hebat membuat kita tidak dapat merasakan kesakitan fisik; kita malah membencinya. Memang, jika itu harus melebihi yang lainnya pasti akan menjadi gangguan berguna, suatu interval dalam penderitaan batin. Inilah yang membuat bunuh diri terasa lebih mudah: karena rasa sakit fisik yang terkait dengannya telah kehilangan semua signifikansi di mata seseorang yang mengalami penderitaan batin yang berlebihan.

*

Pandanganku pribadi dalam tulisan itu, mengapa ada sebagian manusia yang berpikir lebih baik mati aja ketimbang meneruskan hidup, sebab dia berpikir ataupun merasa kalau bunuh diri itu sakitnya paling cuma sebentar, setelahnya dia bisa tenang selamanya. Dia tak perlu lagi merasakan gangguan kecemasan, tak perlu takut menghadapi masa depan yang sekilas tampak suram, tak perlu memikirkan keadaan negaranya yang bobrok, tak usah melihat kejahatan-kejahatan di seluruh dunia ini, dan tentunya dapat terbebas dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.

Jika ada seseorang yang hidupnya terlalu sering dirundung kesialan, bukankah dia mulai berpikir bahwa hidup tak lagi layak untuk dijalani? Apakah seandainya dia mencoba bertahan, pada kemudian hari keadaannya itu bisa berubah lebih baik? Bagaimana kalau di depan sana yang menantinya adalah keburukan belaka? Lantas, hidup gunanya buat apa lagi?

Namun, sebagai orang yang sejak kecil mendapat didikan agama tentang bunuh diri itu dosa, kita hidup enggak cuma di dunia ini (masih ada akhirat), apa pun yang kita perbuat di sini bakal dipertanggungjawabkan kelak; tentu ada suatu pencegahan dari dalam diriku.

Sebagaimana yang sering diucapkan oleh orang-orang taat beragama maupun yang tercantum di kitab suci, kita ini mesti percaya sama Tuhan bahwa Dia tak akan membebani seseorang, melainkan yang sesuai dengan kesanggupannya.

Nah, yang menjadi pertanyaanku, anggaplah orang itu telah berusaha sanggup dan sekuat mungkin, husnuzan kepada Tuhan, menemukan alasan untuk bertahan; sedangkan di sisi lain, bagaimana kalau orang-orang di sekitarnya yang justru menambah beban itu? Mereka-mereka ini, termasuk keluarganya sendiri, kurang paham sama kesehatan mental? Bukannya membuat si penderita lebih baik, cukup dengan mendengarkan permasalahannya tanpa menghakimi, melainkan memberikan ujaran-ujaran ataupun khotbah-khotbah sampah yang justru memperparah penderitaannya? Bagaimana kalau dia jadi semakin membenci dirinya sendiri? Dia pun sulit percaya lagi sama orang lain. Dunia terasa sangat jahat baginya. Tak ada yang membutuhkannya lagi.

Padahal, jauh di lubuk hatinya, dia hanya ingin hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Dia juga ingin kehadirannya diterima selayaknya manusia lain. Tidak dipandang sebagai sampah atau manusia gagal yang tak berguna. Sampai-sampai batinnya menjerit. Sehingga dia harus mengurung diri demi memulihkan segala sakit (meliputi fisik, pikiran, dan hati) pada dirinya itu.

Lalu, dalam kesendiriannya itu dia akhirnya bisa menangis demi batinnya terasa lebih plong. Hingga dia berhenti menangis. Sialnya, rasa terkutuk dalam dirinya itu masih belum lenyap juga. Sampai dia mulai menangis lagi. Sampai dia berhenti menangis karena kelewat lelah dan ketiduran.

Setelah terbangun, dia merasa sedikit bersyukur sama Tuhan yang alangkah hebatnya menciptakan alam mimpi. Semacam dunia paralel yang memberikannya pelarian sementara. Meskipun teramat singkat, dia di sana disuguhkan kegembiraan yang nyaris mustahil bisa diperoleh di kenyataan. Yang seakan-akan membuatnya percaya bahwa hidup masih pantas dijalani. 

Walaupun dia cenderung pesimis lantaran membaca tulisan Schopenhauer, tak ingin banyak berharap tentang ini dan itu, barangkali suatu hari kelak kebahagiaan di dalam mimpinya itu berpindah ke dunia yang baginya terasa jahanam ini.

Aku sesungguhnya sedang menulis tentang apa dan siapa? Apakah ini fiksi atau nyata? Apakah tentang orang lain atau diriku sendiri? Apakah ini catatan bunuh diri, jurnal harian untuk menyembuhkan diri, atau semacam curahan hati orang nelangsa cenderung depresi yang kerap dianggap sepele?

Apa pun itu, aku ingin saat ini ada seorang perempuan berparas manis yang bisa memeluk dan menenangkanku seraya berkata, “Aku tahu bertambahnya umur itu sering menjengkelkan. Apalagi jika hidupmu pada usia 27 ini masih terasa memble. Namun, aku berharap dengan kehadiranku di sini, aku bisa sedikit mengubah cara pandangmu dalam melihat dunia, lalu kamu bersedia menjalani hidup lebih lama lagi.”
Read More
Bermula dari seseorang di Twitter yang bikin utas tentang mengeset ulang budaya Indonesia dengan menampilkan berbagai video lawas—di antaranya terdapat iklan Tory Cheese Cracker dan permen Milkita, video hoaks manusia yang dikutuk jadi ikan pari, video lip sync Sinta dan Jojo, serta Briptu Norman, dan acara MTV musik; saya pun terpicu untuk menonton salah satu klip video yang dia bagikan, yakni Project Pop – Bukan Superstar.

Berhubung durasi maksimal video di Twitter hanya 2 menit 20 detik, saya tentu harus melihat keseluruhan klip video tersebut di Youtube. Selama menontonnya, saya baru sadar sudah lama sekali tidak mendengarkan musik Project Pop. Mungkin banyaknya referensi musik dari luar negeri telah membuat saya lupa dengan lagu-lagu di negara sendiri. Sekalinya mendengarkan, paling-paling tak jauh dari Efek Rumah Kaca, The Trees and The Wild, Jirapah, Melancholic Bitch, dan My Violaine Morning. 

Jadilah saat itu juga saya spontan mendengarkan seluruh lagu Project Pop yang terdapat di Youtube. Dari daftar lagu yang saya nikmati itu, ternyata ada beberapa lagu yang sewaktu didengarkan malah memunculkan kisah-kisah masa lalu. Meskipun saya sadar banyak cerita tak penting karena sebagian besarnya adalah memori tolol dari masa SMP, saya tetap ingin menuliskannya satu per satu.





Bukan Superstar 



Yang pertama kali muncul di kepala adalah serial komedi Abdel dan Temon Bukan Superstar. Jika tak salah ingat, acara ini tayang pada saat saya kelas dua SMP (2008). Tokoh Temon yang sering sekali menjadi bahan tertawaan dan bernasib apes seakan-akan tak jauh berbeda dengan kondisi saya kala itu. Kalau Temon kerap diledek karena giginya yang tonggos dan kurang ganteng, sementara saya lantaran bertubuh paling pendek dan kurus di kelas. Beberapa teman sekelas gemar berkata kepada saya: ada anak SD nyasar dan belum pantas masuk SMP. Lalu, setiap kali upacara pastilah saya yang berdiri paling depan. Belum lagi kadang-kadang teman yang di belakang suka menjaili saya dengan menyentil kuping atau menarik (semacam menjambak dengan agak pelan) beberapa helai rambut yang tidak tertutup topi. 

Setiap kali saya ingin membalas perlakuan mereka, ada rasa takut yang selalu menghalanginya. Ini semua karena saya tak pernah bisa lupa dengan kejadian jahanam saat kelas satu. Jadi, suatu kali saya pernah muak banget ditindas (biasanya ditoyor kepala) dan berusaha melawan salah seorang teman sekelas yang hobi mengusik. Dia terkejut mendapati saya yang gantian memukul kepalanya, kemudian tiba-tiba mengancam saya, “Awas lu nanti sepulang sekolah!” 

Saya tak ambil pusing ancaman tersebut dan berniat pulang sekolah seperti biasanya tanpa harus kabur. Lagi pula hari itu jadwal saya piket. Tak mungkin dia rela menunggu saya cuma buat membalas hal remeh, yang memang sepantasnya dibalas karena dia jahil duluan. Singkat cerita, sekelarnya piket dan saya ingin menuruni tangga (kelas saya berada di lantai 3), tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menjinjing kerah seragam saya hingga kaki saya tidak menapak tanah. Saya juga tak bisa melihat sosoknya. Dia segera membawa saya ke depan toilet cowok. Di sana, ada teman sekelas yang tadi mengancam saya. Saya pun langsung mengerti apa yang bakal terjadi. 

Saya sudah tak begitu ingat apa saja yang terjadi hari itu selain kepala saya ditempeleng terus-menerus sampai rasanya pengin nangis (saya menahan air mata sebisa mungkin karena tak ingin dipecundangi lebih dari ini). Orang yang menjinjing saya adalah kakak kelas yang tubuhnya tinggi dan besar. Saya tak akan bisa menang melawannya. Saya cuma bisa pasrah. Hari itu, saya akhirnya belajar satu hal, bahwa dengan sejumlah uang siswa tajir bisa membayar kakak kelasnya untuk merundung seseorang yang kere dan lemah seperti saya.

Selain perisakan, saya memang tak akan pernah bisa membuang rasa minder ketika berada di antara mereka—kalangan elite. Ada beberapa pertemanan di sana yang termasuk pilih-pilih berdasarkan kasta. Dari uang saku sekolah saja kami berbeda jauh. Saya dapat jatah dari orang tua sehari 7.000, sedangkan beberapa dari mereka tujuh kali lipatnya alias 50 ribu. Dengan kondisi itu, saya terpaksa menutup diri. Mungkin karena itulah teman akrab saya hanya segelintir.

Lirik “tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa” amatlah mewakilkan perasaan saya selama bersekolah di sana. Meski begitu, lirik lanjutannya “kuingin engkau mencintaiku apa adanya” secara tak langsung menjadi harapan saya yang terkabul pada kelas tiga. Setelah kenaikan kelas, saya merasa kondisinya mulai berubah perlahan-lahan. Perundungan terhadap saya menurun drastis. Mental saya juga sudah ditempa jadi lebih kuat untuk selalu melawan para penindas itu. Sebagian teman yang awalnya meremehkan (mereka tak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi tatapan dan ucapannya tampak selalu mengejek) pun mulai menghargai saya yang ternyata bisa berprestasi—sewaktu Try Out persiapan UN saya masuk ke kelas favorit tiga kali berturut-turut. Mungkin nilai-nilai saya akhirnya mampu membungkam mereka. Mungkin mereka juga mulai bisa mencintai keadaan saya dan mau berteman tanpa memandang kelas sosial.

Ku bukan superstar, kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal. Ku bukan bangsawan, ku bukan priayi. Aku hanyalah orang yang ingin dicintai. 


Pacarku Superstar 



Barangkali ini kisah lanjutan dari lagu Bukan Superstar. Bedanya, ini tentang menaksir perempuan, tepatnya seorang kakak kelas. Berhubung keadaan saya ketika SMP sudah tergambar jelas dari kisah sebelumnya, maka lirik “hanya tak mudah bagi diriku untuk ikuti gaya hidupnya. Semua orang suka padanya, berat rasanya” benar-benar cocok buat saya yang bisa-bisanya menaksir cewek manis, pintar, dan kaya—yang jelas-jelas jadi primadona sekolah. 

Walaupun saat itu saya belum memiliki Facebook untuk bisa memperhatikan kehidupannya dari jauh (biasanya para penggemar mencari tahu kabar idolanya lewat internet), tapi cukup dengan tak sengaja melihat dia sepulang sekolah dijemput menggunakan mobil sedan sudah bisa menjelaskan segalanya. Saya tak punya pilihan lain selain sadar diri.

Mengenang terlalu banyak momen nelangsa zaman SMP rasanya kurang patut bagi diri saya sekarang. Seakan-akan saya ini seorang retrofili. Jadi, alangkah baiknya saya mengingat hal-hal yang belum lama terjadi saja tentang menggemari sesosok idola. Tapi, idola yang saya maksud bukan seperti Tsubasa Honda, Lalisa Manoban, Charita Utami, Mary Elizabeth Winstead, dan sebagainya. Dia ini termasuk orang biasa yang sesungguhnya masih bisa saya raih. 

Dia berada jauh di sana, dan aku di rumah... memandang kagum pada dirinya dalam InstaStory

Sekitar sembilan bulan silam saya pernah rutin menonton InstaStory seorang gadis aduhai. Tak perlu munafik kalau saya mengaguminya berdasarkan parasnya yang jelita. Namun, saya terpesona karena dia juga berprestasi di bidang kesukaan saya. Siapa sangka kekaguman itu semakin bertumbuh sejak dia mengucapkan terima kasih atas kalimat dukungan saya pada hari dia terpilih sebagai None Jakarta. Lebih-lebih kami kebetulan juga pernah berjumpa dua kali di suatu kafe.

Persoalannya, saya sering merasa kurang percaya diri sewaktu mendekati gadis yang kelas sosialnya berbeda. Biarpun keadaan saya sudah lebih baik dari zaman SMP, tapi tetap saja tampak jelas perbedaan di antara kami. Anggaplah dia ketika memesan menu di kafe tidak perlu berpikir lama dan fokus saja dengan makanan ataupun minuman yang ingin disantap; sedangkan saya mesti menyesuaikan isi dompet, belum lagi nanti ada momen di mana saya perlu menghitung PPN, membandingkan dengan makanan pinggiran jalan, dan seterusnya.

Selain itu, saya menduga usia kami terpaut agak jauh. Dia kira-kira seumuran dengan adik saya—beda lima tahun. Hingga akhirnya asumsi itu bertambah jelas sewaktu salah seorang kawan memberi tahu saya kayaknya dia baru lulus SMA. Saya kala itu, sih, sempat merasa cuek sama umurnya, bahkan pernah nekat mengucapkan selamat ulang tahun via pesan salah satu media sosial.

Jika hari itu dia membalas pesan saya, diam-diam saya berjanji kepada diri sendiri supaya tidak minder-minder lagi ke depannya. Peduli setan dengan rentang usia yang beda jauh, Farsya manisnya memukau dan saya suka. Yang terpenting dia juga sudah 17 tahun ke atas. Ini hal yang normal, kan?

Sialnya, dia tidak membalas ucapan saya. Mungkin balasan “terima kasih” pada hari kemenangannya itu cuma basa-basi. Kalau direnungkan, ternyata kejadian ini terasa lebih bangsat ketimbang kisah saya ketika SMP yang langsung mundur seribu langkah sebelum berjuang. Saya harusnya mafhum, memang enggak mungkin seorang biasa bisa mendekati seorang superstar. Baguslah saya telah berhenti mengaguminya sejak 2020. Terus, mengapa saya menuliskan cerita ini? Oh, tentu hanya untuk mengenang kegagalan diri sendiri yang menakjubkan. 


Dangdut is the Music of My Country 



Siapa tidak mengakui perbedaan, tidak pernah diajari di sekolahan. Semua orang macam-macam diciptakan, cakep atau jelek semua punya perasaan

Kalau ngaku ngerti tentang persatuan, mengapa adu domba mudah dilakukan? Kenapa semua mudah hilang kesabaran? Kenapa semua mudah diprovokasikan? 

Lirik barusan terasa cocok bagi para pengguna Twitter yang doyan ribut-ribut. Apalagi ingatan saya menolak lupa mengenai mbak-mbak yang merasa cakep dan seenak jidat mengejek lawan debatnya, “Mending lu diem, jelek.” Apakah dia kehabisan cara buat memenangkan perdebatan, sampai-sampai harus menghina fisik lawannya? Memiliki paras cantik dan punya pengikut banyak (khususnya para cowok yang selalu membelanya) seolah-olah membuatnya berkuasa di dunia maya. 

Tapi, masa bodohlah soal itu, saya mending lebih fokus dengan lirik yang ini: Apakah yang dapat menyatukan kita? Salah satunya dengan musik. Dangdut is the music of my country

Saat lirik itu dinyanyikan, saya lantas terkenang masa SMP lainnya, tepatnya ketika saya dan beberapa teman di rumah bisa menonton konser Project Pop secara langsung dan gratis untuk pertama kalinya di Lapangan Pasir, Senayan.

Berawal dari ketidaksengajaan kami sehabis joging pagi di Gelora Bung Karno, Bayu—salah satu kawan saya—mengajak kami ke Lapangan Pasir untuk melihat orang-orang yang lagi main sepak bola. Sebelum direnovasi seperti sekarang, dulu di area Senayan terdapat empat lapangan (dua untuk voli, dua untuk sepak bola) yang beralaskan pasir, sehingga kami dan mungkin beberapa masyarakat menyebutnya Lapangan Pasir.

Di tengah perjalanan, saya seperti mendengar salah satu lagu Project Pop dan bertanya kepada kawan yang lain apakah mereka juga mendengarnya. Alih-alih menjawab, salah satu teman saya malah berteriak, “Eh, ada panggung noh di Lapangan Pasir!” seraya berlari menuju ke sana. Sadar bahwa ada konser yang tengah berlangsung, kami semua pun bergegas menghampiri area panggung, lalu setibanya di sana segera ikutan bernyanyi dan joget bersama. 

Berbeda dengan kawan di sekolah, teman-teman di rumah yang merangkap tetangga bisa dibilang sangat mengasyikkan. Ini bukan berarti tak ada kata-kataan di antara kami, melainkan saling mencela merupakan hal yang wajar bagi kami. Karena kami melakukannya sebagai tanda keakraban. Bukan ada perasaan ingin berkuasa sebagaimana yang terjadi di SMP saya. Sekalipun ada tetangga yang tergolong tajir, rasanya pun tak ada sekat yang memisahkan pertemanan kami. Susah maupun senang tetap kami lewati bersama. Misalnya, saat kami habis main bola di Senayan dan terlalu letih untuk berjalan kaki, mestinya kan kami naik angkot di Palmerah, terus turun di dekat rumah. Tapi yang akhirnya terjadi: kami mencegat mobil pikap dan memilih mengompreng. Sebab kami sadar kalau ada beberapa kawan yang uangnya tak cukup buat membayar ongkosnya maupun yang benar-benar kehabisan uang. 

Lantas, bagaimana dengan teman yang punya duit lebih? Kenapa dia tidak mengongkosi teman yang lain? Saya tak tahu apakah kami dulu setolol itu, lebih senang mengompreng karena gratis dan terasa menantang, atau alasan entah apa. Namun, seingat saya si orang tajir itulah yang kelak menggunakan uangnya buat mentraktir kami es teh dan Chuba balado. Itulah masa-masa menyenangkan yang tak akan pernah bisa luput dari ingatan. Masa di mana hari ini kami bertengkar, lalu besok tiba-tiba sudah baikan lagi.

-- 

Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More

Kau berada di sebuah kafe di Cikini. Kau hanya memesan segelas es teh leci dan roti bakar cokelat. Kau harus membayar seharga lima puluh ribu untuk dua menu tersebut. Kau bingung, mengapa harga minuman itu bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding makanan yang kaupesan? Harga semua menu di kafe ini terlalu mewah bagimu. Jika kau ingin membandingkannya dengan warkop favoritmu, semahal-mahalnya tak lebih dari setengah harga yang kaubayar saat ini.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, uang lima puluh ribu itu sudah termasuk pajaknya. Bisa dibilang kau juga menyewa pemakaian satu gelas, satu sedotan, satu sendok, satu garpu, serta satu piring. Tanpa harus repot-repot mencucinya. Ditambah lagi penggunaan satu meja dan dua bangku kecil yang saat ini kautempati.

Selain itu, kau dapat menikmati internet gratis karena sang pramusaji sempat memberikanmu potongan kertas kecil yang bertuliskan kata sandi wifi. Kau juga dapat berlama-lama di sini. Masih ada sembilan jam lagi sebelum kafe ini tutup. Ada pendingin ruangan yang membuatmu tidak kegerahan. Terdapat sinar putih lampu yang menerangi setiap sudut ruangan, sehingga kau bisa melihat dengan jelas perempuan manis berambut sebahu yang memakai kacamata berbingkai bulat, yang duduknya tak jauh darimu.



Apakah harga lima puluh ribu itu sebanding dengan semua yang kau peroleh? Khususnya tentang kesempatanmu mengajak gadis jelita itu berkenalan dan mengobrol, sampai-sampai pada tiga jam berikutnya kau berhasil mendapatkan kontaknya? 

--

PS: Foto di atas hanya contoh dari latihan saya menggambar pakai aplikasi AutoDesk. Bukan potret perempuan di cerita fiksi yang terburu-buru dibikin ini.
Read More
Kawan saya, Hawadis, memilih rehat membuka Twitter karena muak dengan keributannya dan baru saja membuat tulisan tentang hal itu. Sebagai pengguna aplikasi berlogo burung biru yang termasuk aktif, saya pun cukup sering berada di posisinya. Saya juga sempat menuliskan keluhan-keluhan hingga menjadi utas—yang tiba-tiba saya batalkan dan lebih baik memendamnya di catatan, sebab berpikir kalau ujaran saya tak penting buat dibaca oleh khalayak. Saat mengingat blog ini belum ada tulisan baru lagi, saya kira tak ada salahnya buat membongkar catatan itu, kemudian mengeditnya demi menyesuaikan pembahasan kali ini. Jadi, inilah hasil penyuntingan dari twit-twit tak penting saya.



Setiap kali menemukan orang ribut-ribut di Twitter, di dalam benak saya tak jarang muncul pertanyaan begini: kenapa sih hal yang diributkan kok itu-itu melulu? Tiga hal yang kerap saya temukan dalam perdebatan: 1) cara makan bubur diaduk dan tidak diaduk; 2) boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal bagi orang Islam; 3) tetek bengek pernikahan. 

Untuk yang pertama, mungkin itu lucu-lucuan semata, sedangkan yang kedua kembali ke pilihan tiap individu, dan pada bagian yang terakhir inilah Haw mempermasalahkan mengapa hal pribadi semacam itu diperdebatkan secara umum di Twitter, padahal kan prinsip atau pilihan mereka itu juga enggak akan berdampak sama orang banyak (sebenarnya ini mirip seperti nomor dua). Sewaktu membaca bagian itu, saya jadi sadar bahwa perdebatan mengenai pernikahan ini memang selalu diulang-ulang setiap tahunnya. Sejak 2016 hingga saat ini, dalam setiap tahunnya entah mengapa saya pasti menemukan perdebatan tersebut. 

Yang pertama kali muncul kala saya menggali ingatan di kepala ialah tentang menikah dengan anggaran kecil. Mulanya, ada salah seorang perempuan yang terpicu oleh biaya pernikahan murah di bawah dua juta ala orang-orang penyuka taaruf. Dia yang mungkin termasuk golongan kelas menengah ke atas langsung tak sudi kalau diajak menikah hanya dengan modal segitu. Dia berujar bahwa orang tuanya telah membiayai hidup dan pendidikannya sampai sarjana, masa iya nanti resepsi pernikahannya kayak acara selamatan atau tahlilan? Intinya, enggak level dong, ah. 

Dia lantas mentertawakan, mengutuk, serta memberi kuliah singkat jika mau menikah tuh harus mapan terlebih dahulu. Seperti sudah punya rumah sendiri, gaji minimal sekian, memiliki perencanaan keuangan buat masa depan, dst. Mayoritas pengikutnya tentu sepakat dan ikut-ikutan mengejek pilihan orang yang menikah dengan biaya ala kadarnya itu. 

Pertanyaan saya: setelah itu apa? Apakah setiap orang harus mengikuti standarnya? Berhenti membuat rencana pernikahan dengan biaya seminimal mungkin? Bukankah pada akhirnya akan tetap ada pasangan-pasangan yang menikah berdasarkan prinsipnya masing-masing? Masih tetap ada yang nekat menikah walaupun sadar kondisinya kere tapi sudah telanjur cinta? Terlepas dari mereka nantinya bercerai atau bagaimana, ya itu persoalan lain, kan? 

Lagi pula, setahu saya sih orang-orang yang mereka cerca pilihan menikahnya itu punya target tersendiri. Yang mereka sasar jelas bukan mbak-mbak kelas menengah ataupun perempuan lain yang tak sependapat dengan golongannya. Anehnya, mengapa hal semacam ini bisa terulang lagi dan lagi sebagaimana proses deja vu? Dugaan saya: barangkali karena ada beberapa orang yang ingin pernyataannya mendapatkan validasi dari netizen di Twitter. Mendapatkan banyak retwit mungkin menjadi suatu kenikmatan tersendiri.

Pertanyaan saya selanjutnya: mengapa orang-orang tersebut justru memuja-muja pilihan Suhay Salim yang menikah tanpa menggelar resepsi? Apakah karena Suhay seorang pesohor yang ujaran maupun tindakannya sudah pasti benar dan pantas dicontoh? Bukankah itu jadinya standar ganda? Jika memang tujuan Suhay adalah mengalihkan anggaran resepsi yang besar itu dipakai untuk berbulan madu ataupun biaya kehidupan pada hari esok, lalu netizen bisa sepakat; tapi kenapa kalau mas-mas berjenggot penyuka taaruf yang mengeluarkan opini itu pandangan mereka jadi berbeda, bahkan mencaci maki? 

Mungkin kabar-kabar yang pernah beredar dan masuk ke telinga kita tentang mereka itu buruk, sebab di antara mereka ada yang punya kegemaran mengoleksi istri sampai empat alias berpoligami, sehingga memunculkan asumsi kalau anggaran pernikahan minim dari mereka itu tentu saja suatu bukti bahwa mereka miskin. Tapi, apakah mereka sudah melihat keadaan pria-pria itu secara langsung? Toh, siapa yang tahu isi hati setiap manusia? Bisa jadi memang ada yang niatnya adalah ibadah, lalu memegang teguh prinsip “apa yang berlebihan itu tidak baik”, jadi tak perlu memboroskan biaya resepsi. Uangnya juga mereka tabung buat biaya-biaya tak terduga pada masa mendatang? Walaupun kelas sosial mereka berbeda, tapi bukankah tujuannya itu tak jauh berbeda seperti pendapat si Suhay? 

Jika memang masalah utamanya adalah stigma buruk tentang poligami, bisa juga kan si penganut prinsip “apa yang berlebihan itu tidak baik” sama berlakunya dalam dia mencari pasangan? Satu istri sudah cukup, banyak-banyak malah nanti tak bisa bersikap adil dan bikin repot. Berhubung saya benci banget dengan sikap menggeneralisasi, saya jelas tak mau ikutan menyamaratakan mereka. Memang, saya akui ada orang-orang bobrok semacam itu—yang punya istri lebih dari satu dan tujuannya jelas mengacu pada hawa nafsu—di sekitaran saya. Namun, salah satu abangnya teman saya yang sudah mapan dan berusia 40-an (konon usia ini masa puber kedua dan lagi genit-genitnya sama daun muda) masih tetap beristri satu. Bagi saya, itu sudah cukup membuktikan bahwa masih ada kok beberapa orang yang menerapkan taaruf dan ke depannya tidak neko-neko. 

Sayangnya, kita terlalu cepat dan mudah menilai. Memandang buruk manusia yang gagasannya berseberangan tanpa mau melihat sudut pandang lain. Sekalipun itu jatuhnya urusan pribadi dan hak mereka, pokoknya mah hantam terus karena yang benar cuma golongan kami. Konyolnya, apa yang barusan saya tulis ini menunjukkan bahwa saya juga tergolong manusia berstandar ganda.

Seingat saya, saya waktu itu sempat meledek kaum “Indonesia Tanpa Pacaran”. Saya yang membenci keributan, ternyata pernah menjadi seseorang yang bikin kegaduhan pula di Twitter. Saya pun tak akan pernah lupa dengan kicauan-kicauan saya yang mengejek para bloger penggemar arisan blog (saling gantian berkunjung dan berkomentar basa-basi) yang penuh kepalsuan itu, yang mencari pengikut bukan buat berteman melainkan menggenapkan syarat menjadi buzzer—minimalnya memiliki 1.000 pengikut. Ini masih terekam jelas jejak digitalnya di tulisan: Burung Berkicau

Meskipun begitu, saya kini bisa lebih mengontrol diri sejak tulisan itu diterbitkan. Hawa kebencian dan sifat sinis di dalam diri saya perlahan-lahan berkurang. Saya rupanya jadi lebih kalem sewaktu melihat twit yang opininya kelewat tolol. Saya enggak gampang terpicu lagi seperti sebelumnya. Selama mereka enggak merugikan orang lain, ya udahlah, buat apa ikutan ribut? Apa untungnya buat saya? Seandainya saya sudah bersikap masa bodoh, tapi twit-twit yang enggak saya sukai itu masih tetap nongol di lini masa, saya juga tinggal pilih bisukan atau blokir. Selesai, kan? Enggak usah buang-buang energi terlalu banyak di platform itu. Seumpama saya benar-benar kepengin meracau, ya mendingan diolah jadi tulisan blog yang lebih rapi dan tampak elegan.

Demi mengingatkan diri sendiri pada kemudian hari untuk bersikap lebih santai ketika menemukan pertikaian, saya akan menjadikan lirik lagu Digimon versi bahasa Indonesia sebagai mantra pengingat: “Hal yang bukan urusanmu, lebih baik lupakan saja. Tidak ada waktu untuk bermain-main.”

--

Gambar saya ambil dari jualo.com
Read More
—Jakarta, Juli 2018 




Alam bawah sadarnya seakan-akan membuat Arman mengetikkan kalimat dalam bahasa Inggris selepas membaca cerita pendek yang ditulis Sahid, kawan baiknya. “Aku kebangun tengah malam dan baru baca fiksi kilat di blogmu, lalu teringat mimpiku barusan yang buruk banget.” 

Akhir-akhir ini Arman memang sedang berlatih membaca cerpen maupun novel yang berbahasa Inggris. Tapi, apa yang sesungguhnya memicu dia sehingga berkomentar menggunakan bahasa asing, padahal kemampuannya masih sangat pasif dan kisah yang dibacanya kali ini merupakan bahasa Indonesia? 

Merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan temannya, Sahid pun menanggapi, “Kau lagi mabuk ya, Man? Tiba-tiba kirim pesan pas dini hari, sok-sok pakai bahasa Inggris pula.” 

“Aku dalam keadaan sadar. Aku enggak lagi mabuk. Aku hanya sedang marah,” tulisnya dalam bahasa Inggris. “Mimpiku tadi dan ceritamu entah mengapa memicuku akan sesuatu hal. Ada kabar tentang Gina yang perlu kau ketahui.” 

“Maksudmu pakai bahasa Inggris apa, sih? Kau habis mimpi buruk apaan? Kau marah kenapa? Gina kenapa juga? Jangan buat orang panik dan penasaran tengah malam beginilah.” 

Masih tetap menggunakan bahasa Inggris, Arman merespons, “Kau nanti juga akan mengerti mengapa aku menggunakan bahasa Inggris. Soal Gina, sebentar lagi akan kuberi tahu, tapi tolong jangan kasih tahu hal ini ke siapa pun.” 

Sahid menjawab oke. 

“Apa kamu sama Gina masih saling mengikuti di Twitter?” 

Sahid heran mengapa pertanyaan yang sudah jelas itu segala dilontarkan lagi. Jelas-jelas dia merasa masih berkawan baik dengan Gina, tak ada masalah apa pun akhir-akhir ini kecuali mulai jarang bertemu lantaran Gina bilang pekerjaan di kantornya lagi padat dan sering lembur. Namun, atas rasa penasaran yang menggebu-gebu, Sahid pun membuka aplikasi Twitter dan mencari nama Gina Rahmawati.

Hasil pencariannya nihil. Sahid lantas terkejut tak bisa menemukan akun teman baiknya itu. Sahid pun mengecek daftar orang yang dia ikuti. Angkanya berubah. Dari yang semula 222 menjadi 221. Kala itulah Sahid tersadar dan mengetikkan kalimat, “Loh, si Gina tutup akun ya, Man?” 

Arman menjawab iya dan kali ini sudah ketiga kalinya, lalu mengirimkan tautan yang menjelaskan bahwa Gina sebetulnya punya akun Twitter kedua. Akun yang menampilkan sisi gelapnya.

“Waktu akun Gina hilang, aku segera mengecek ke akun itu. Kau bisa baca curahan hati Gina di sana. Kebetulan akunnya enggak diproteksi. Meskipun sekarang jumlah pengikut maupun yang diikutinya nol, dia kayaknya lupa kalau aku sempat tahu akunnya yang itu. Jadi, kuharap kau nanti juga pura-pura enggak tahu sehabis membaca twit-twitnya.”

Akun kedua Gina baru bergabung sekitar enam bulan silam dan twitnya hanya berjumlah 53. Biarpun baru sedikit memuntahkan kata-kata, Sahid langsung menelan ludah begitu membaca twit terakhirnya yang berbunyi: “Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat?” 

Sahid lekas mengeklik twit itu dan membaca utas lengkapnya. 

1. Lagi-lagi aku dikatain lonte sama pacarku. Ah, mungkin lebih tepatnya mantan. Kami baru aja putus kemarin sore gara-gara dia melihat InstaStory aku yang katanya mengenakan pakaian pengundang nafsu. Aku rasa pakaianku masih normal selayaknya mbak-mbak kantoran pada umumnya. 

2. Tapi kenapa dia bilang aku ini ganjen dan mau tebar pesona? Mungkin dianya aja yang nafsuan, ya? Aku enggak paham lagi sama sifat dia. Yang aku tahu, aku sedih banget dihina-hina pacar sendiri terutama soal kata lonte itu. Ya Tuhan, sebinal apa sih memangnya aku? 

3. Aku capek diatur-atur pakaiannya sama dia setiap kali mau keluar rumah, padahal tiap kali aku main ke indekosnya juga palingan disuruh cepat-cepat telanjang. Ternyata aku memang lonte, ya? 

4. Namun, aku kayak begini juga karena dia, sih. Baru sama dia aku sampai berbuat sejauh itu. Aku menyesal banget menerima ajakannya balikan kalau ujung-ujungnya seperti ini lagi. Sudah dua minggu kami putus-nyambung dengan permasalahan yang itu-itu aja. 

5. Aku selalu dilarang main sama teman-teman cowok, sekalipun itu sahabatku sendiri yang sudah akrab sejak SMP. Aku kan jadi enggak enak sama Arman dan Sahid kalau keseringan menolak buat ketemuan. Mana bisa-bisanya aku berbohong lagi sibuk dengan pekerjaan di kantor pula. 

6. Kami berteman sudah sekitar 9 tahun, tapi gara-gara cowok bangsat yang baru aku kenal setahun justru bikin persahabatan kami retak begini. Aku kebangetan banget sama mereka. 

7. Mana selagi aku terkekang begitu, mantanku malah bisa bebas main sama cewek mana pun. Mungkin dia diam-diam juga mengajak cewek itu ke indekosnya. 

8. Tololnya, setiap kali aku cemburu dan ngambek, dia pasti mengancam aku buat putus. Dia licik banget, ya Tuhan. Setelah apa yang dia perbuat sama aku, dia kok bisa-bisanya gampang banget buat pergi? Apa dia lupa ya sama janjinya sewaktu kami pertama kali melakukannya

9. Dia bilang, dia enggak akan pernah meninggalkan aku sampai kapan pun. Bakalan tetap ada dalam suka maupun duka. Janji bakal nikah sama aku. Karena itulah aku percaya dan mau-maunya melepas hal sakral yang sudah aku pertahankan selama 22 tahun hidup di dunia berengsek ini. 

10. Nyatanya, dia sekarang lupa sama janji manis itu. Semuanya cuma omong kosong. Benar ternyata kata kedua sahabatku, kalau mantanku ini sebetulnya bajingan. Awal-awalnya doang baik, setelah dia dapat apa yang dirinya mau, langsung deh berubah banget sifatnya. 

11. Tapi kenapa dulu aku lebih percaya sama mantanku itu ketimbang sahabatku sendiri? Apa aku terlalu dibutakan cinta? Mestinya cinta itu enggak buta, kan? 

12. Aku tiba-tiba teringat lagu Efek Rumah Kaca, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Liriknya menohok banget buatku: “Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. Kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap.” 

13. Kenapa aku baru sadarnya sekarang, sih? Semua itu sudah kadung terjadi. Aku enggak bisa memutarbalikkan waktu. Segelku sudah rusak. 

14. Adakah seseorang yang nanti sudi menerimaku dalam keadaan begini? Aku sejujurnya berusaha percaya bahwa masih ada cowok baik di luaran sana. Tapi untuk saat ini, bagaimana caranya aku sanggup menerimanya? Tolong, ajari aku buat ikhlas. 

15. Setiap kali aku meyakinkan diri kalau aku masih berharga sebagai manusia, aku otomatis teringat ucapan mantanku: “Kamu tuh harusnya merasa beruntung bisa pacaran sama fotografer kayak aku. Kalau kamu enggak kujadikan model foto-fotoku, kamu mah cuma cewek culun yang minderan.” 

16. Sumpah deh, kata-katanya nyelekit banget. Dia pikir dirinya itu ganteng kali? Tampang dekil dan mesum begitu kok banyak lagak. Begonya, kenapa aku pernah sayang sama dia? Sialan! Aku masih belum rela rasanya menyerahkan hal yang berharga bagiku itu ke manusia berengsek kayak dia. 

17. Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat? 


Tanpa perlu membaca sisa twit Gina, Sahid sudah paham apa yang Arman maksud, bahkan mengerti kenapa dia bisa semarah itu sampai-sampai menggunakan bahasa Inggris untuk mengekspresikan emosinya. Karena saat ini, Sahid pun merasa untuk pertama kalinya dalam hidup bisa kelewat murka sampai tak mampu berkata-kata lagi dalam bahasa Indonesia. Dia hanya bisa melontarkan kata fuck sebanyak tujuh kali dalam pesan tersebut. Itu pertama kalinya juga dia merasa hatinya hancur tak keruan hingga lupa caranya menangis.

--

Sejak di Twitter ramai dengan utas-utas yang menyangkut urusan surga dunia, saya jadi sering berpikir: Kenapa sebagian besar yang menulis ceritanya seolah-olah merasa keren memiliki pengalaman tersebut, bahkan sepertinya juga bangga jika diketahui banyak orang, padahal mereka sebenarnya sedang membongkar aib sendiri? Saya entah mengapa sedih dengan hal semacam itu. Belum lagi terkadang muncul keraguan, apakah kisah itu benar adanya? Bukan karangan fiksi agar ikut-ikutan viral ataupun dicap nakal? Lantas, saya jadi bingung seandainya suatu hari nanti ada korban pelecehan seksual atau pemerkosaan yang bersuara di platform itu. Apakah yang ditulisnya sungguh terjadi? Tidak melebih-lebihkan cerita? Bukan memfitnah demi membalas dendam karena tak terima dengan keputusan sang lelaki?

Saya tak bermaksud menyalahkan pihak perempuan, hanya saja dari beberapa utas yang pernah saya baca itu melahirkan kesimpulan begini: Ketika kedua pihak melakukannya secara sadar dan sama-sama mau, kenapa giliran hubungan itu tak berakhir dengan pacaran dan cukup sebatas teman enak-enak, atau putus, atau apa punlah yang tak berlanjut sesuai kehendaknya, ada perempuan yang mengutuk habis-habisan si lelaki ini? Ingin memberi tahu kepada seluruh dunia kalau cowok yang meninggalkannya itu bajingan paling anjing, penjahat kelamin, manusia termesum sejagat raya, dan seterusnya. Bukankah itu konsekuensi dari pilihan mereka sendiri? Beda urusan jika si perempuan tidak dalam keadaan sadar, dipaksa, diancam, dan sebagainya.

Sebagai lelaki saya juga tak habis pikir, kok bisa ya mereka segampang itu buat celup sana-sini? Apalagi buat yang melakukannya tanpa ada konsen, kenapa bisa setega itu, sih? Mengapa mereka tak mampu mengontrol berahinya sampai-sampai merugikan orang lain? Apakah ini percis dengan apa yang saya baca di novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, bahwa 'kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab' dan 'kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala'?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah lahir sebuah gagasan, bagaimana kalau saya bikin cerita sejenis dengan kondisi yang saya temukan di sekitar? Jadilah cerita yang barusan kamu baca. Angka enam romawi pada judulnya merujuk pada beberapa cerita di kumpulan cerpen David Foster Wallace, Brief Interviews with Hideous Men, yang diberikan angka seperti itu. Saya tak tahu apa maksud dan tujuannya. Kalau saya sendiri sih karena ini versi keenam dari berbagai cerita serupa yang telah saya bikin. Saya kira ini cerita yang paling aman buat dipajang di blog. Lima lainnya terlalu vulgar untuk ditampilkan.

Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More
Eskapisme itu berwujud Tsubasa Honda. Ketika hari lagi bobrok-bobroknya, entah mengapa hanya dengan melihat wajah dan senyumnya, beban hidup saya perlahan berkurang.



Saya pertama tahu Tsubasa kalau tidak salah saat sedang menonton dorama Great Teacher Onizuka. Dia memerankan tokoh Urumi Kanzaki. Gadis jenius yang kesepian dan bosan hidup. Sehabis menamatkan dan menilai secara keseluruhan serial itu, sejujurnya saya kurang suka sama penggarapannya, tapi sialnya saya telanjur naksir sama karakter Urumi. Betapa tololnya diri ini terlalu sering jatuh cinta sama tokoh fiksi.

Mulanya, saya kurang suka dengan yang memerankannya. Perempuan berambut terlalu pendek bukanlah tipe yang cocok untuk saya kagumi. Saya benar-benar hanya peduli dengan tokoh Urumi yang kesepian, sebab saya cukup paham akan perasaan bedebah tersebut. Di kepala saya pun muncul lirik lagu Mew - Comforting Sounds: Why don't we share our solitude?

Terlepas dari tokoh fiktif itu, pada momen tertentu saya kian memperhatikannya,  dan ternyata Tsubasa manis juga. Sejak itulah saya iseng mencari tahu tentang dirinya lebih jauh. Saya pun mendapati sosoknya di live action Ao Haru Ride serta Radiation House—yang belakangan ini saya tonton lewat Viu. Seiring bergesernya hari, Tsubasa pun tumbuh menjadi sosok aduhai di mata saya.

Hari ini saya kembali merasa jenuh dan kacau banget sama hidup, sehingga memutuskan buat menghibur diri dengan menggambarnya (lebih cocok disebut bikin coretan, sih) dan membuat kisah fiksi tak penting.



Aku dan Tsubasa sedang duduk di rerumputan sembari memandangi danau di Taman Shikina, Okinawa, Jepang. Aku bilang kepadanya bahwa menatap air di sini sama seperti melihat wajahnya. Selalu bisa membuatku tenang. Dia lalu mengucapkan terima kasih. Meskipun begitu, rasa mengganjal di hati ini masih belum hilang juga. Berengsek betul. Biasalah, persoalan cinta. Sepertinya aku butuh bercerita mengenai masalahku itu kepadanya.

“Aku baru-baru ini sedang merindukan seseorang,” kataku.

Tsubasa terkejut dan tampak curiga kalau aku lagi berusaha menggodanya.

“Tenang saja, bukan kamu, kok. Aku sadar diri.”

Tsubasa tertawa. “Lalu siapa? Temanmu?”

Aku mengangguk dan menyebut sebuah nama—tentu saja dia tak mengenalnya.

“Aku capek memendamnya, Sa. Lantas aku nekat bilang kangen kepadanya di WhatsApp. Aku awalnya tak berharap apa-apa, yang penting hatiku terasa plong. Namun, lama-kelamaan aku semakin rindu dan dia malah menghantuiku di alam mimpi. Mimpi buruk pula. Entah kenapa aku jadi sedih karena rinduku tak terbalas sama sekali. Aku berharap dia membalas pesanku. Kami bisa berjumpa dan asyik mengobrol seperti dulu.”

“Enggak apa-apa, Yog,” ujar Tsubasa. “Hampir semua orang pasti pernah mengalami yang semacam itu. Di film Ao Haru Ride cintaku juga sempat tak berbalas.”

“Tapi pada akhirnya kalian bisa bersama, sedangkan aku tidak!”

Melihat parasnya yang ketakutan bercampur menggemaskan, mungkin dia kaget mendengar suaraku yang meninggi, aku jadi merasa bersalah kepadanya. Aku pun meminta maaf. Dia tersenyum dan bilang tak masalah. Dia juga meminta maaf karena mengambil referensi dari film yang jelas-jelas tak patut buat disamakan dengan realitas.

“Lagian, Yog, kisahmu kan belum sampai akhir,” katanya.

“Menurutku, antara aku dan dia sudah selesai. Jadi, kisahku juga sudah sampai akhir.”

“Hm, kenapa kamu yakin sekali?”

Aku menyebut beberapa alasan yang membuatku yakin; aku pernah berbuat kesalahan terhadapnya, kemungkinan dia sudah punya pacar, seandainya belum pun, dia hanya menginginkan pasangan yang bisa segera menikahinya, perasaanku juga mulai memudar.

Tsubasa melemparkan pertanyaan dari tiap-tiap alasan yang kulontarkan:

1. Apa kesalahanmu itu masuk ke kategori yang tak termaafkan?

2. Kamu pernah melihat dia bersama lelaki lain—baik secara langsung maupun foto?

3. Jadi, dia punya target menikah pada umur sekian, ya? Sekalipun akhirnya kalian bisa bersama, kamu tak sanggup menikahinya dalam waktu dekat?

4. Tahu dari mana perasaanmu memudar? Kalaupun iya, yang bikin perasaanmu rontok bukankah dari ketakutan-ketakutanmu sendiri?

Pertama, jelas kesalahanku masih bisa dimaafkan kalau dari sudut pandangku. Aku ketiduran saat membuat janji untuk bertemu dengannya. Dia sudah menungguku hampir satu jam dan aku baru merespons pesannya. Sudah begitu aku berbohong kepadanya, aku tak bilang ketiduran, tapi aku berkata bahwa ada pekerjaan dadakan yang harus diselesaikan saat itu juga dan tak sempat mengabarinya. Yang aku tahu sih, tak semua orang mudah memaafkan, sekecil apa pun bentuk dosa itu. Kedua, belum pernah sama sekali. Aku hanya menduganya karena perempuan semanis dia mustahil tak ada yang menaksir dan mendekatinya. Ketiga, karena dia lebih tua setahun dariku. Mungkin bagi perempuan usia segitu sudah terlalu tua. Soal menikah, tentu saja. Aku belum siap lahir dan batin. Kamu tahu betul kondisi keuanganku jauh dari kata stabil. Mentalku juga belum kuat buat melangkah ke tahap itu. Keempat, yah, namanya perasaan. Tapi jika kupikir-pikir lagi, logikaku biasanya tumpul ketika benar-benar menyayangi seseorang. Saat aku mulai banyak pertimbangan, aku mulai sadar bahwa aku rupanya enggak sesayang itu sama dia. Bisa jadi aku banyak takutnya karena harapanku kepadanya juga terlalu banyak. Setahuku, cinta itu menguatkan. Terus, mengapa upayaku untuk mendapatkan dan bisa bersamanya lagi begitu lemah? Mungkin yang kemarinan itu cuma obsesi semata.

Tsubasa mengutip kalimat Futaba di anime Ao Haru Ride: Tapi, memang wajar kalau apa yang kita harapkan, sesekali tidak sesuai dengan keinginan, kan? Karena itu, aku akan memulainya dari awal lagi. Kurasa itu pilihan terbaik.

“Maksudku mengutip yang barusan begini, kalau kamu bisa menyebutkan alasan sebanyak itu dan merasa tak ada harapan lagi dengan dia, kamu kan masih bisa memulainya bersama orang baru.”

“Aku memang ingin sekali melupakannya. Mencoba lagi dengan orang baru. Anehnya, semakin aku berusaha menghapusnya dari kepalaku, dia justru muncul pada setiap malam menjelang tidur. Sewaktu aku membuka diri kepada orang baru, kadang-kadang muncul perasaan membandingkan. Sejauh ini belum ada yang semanis dan sebaik si anu. Aku ingin bisa terlepas dari bayang-bayang dirinya yang sungguh menggangguku.”

“Semua butuh proses, kan? Nikmati saja. Nanti gangguannya juga selesai. Sebagaimana saat menggambarku, kamu sering bilang kalau kemampuan dalam menggambar ataupun mendesain itu payah, jadi kamu bikinnya pasti pelan-pelan. Tidak bisa langsung jadi. Tapi, lihatlah sekarang, gambarmu rampung. Begitu pula dengan berakhirnya obrolan bodoh dalam kisah fiksi yang kamu anggap sampah ini.”

Aku belum sempat menanggapi kalimatnya sebab cerita mesti berakhir di paragraf ini. Aku kini sibuk memikirkan bagaimana cara menutupnya. Selembar daun  yang belum kukenali jenisnya terbang di depan wajahku. Angin musim gugur terasa begitu sejuk. Aku menoleh ke arah Tsubasa dan melihat dirinya memejamkan mata seraya menghirup udara segar di taman ini.



Apa yang Tsubasa ucapkan dalam kalimat terakhirnya itu benar. Dia memang benar-benar eskapisme. Dia bisa mengecoh kesepian saya. Mana bisa-bisanya saya membayangkan sedang mengobrol bersamanya dalam bahasa Indonesia dan topiknya tentang cinta. Saya bahkan tak tahu siapa sosok perempuan yang kami bahas dalam cerita itu. Yang saya tahu, dia telah berhasil membuat saya menulis lagi sekaligus bersenang-senang dalam mengisi blog ini.

--

PS: Iseng memodifikasi tulisan satu tahun lalu. Setelah membaca ulang, saya sepertinya paham mengapa akhir-akhir ini sulit membuka diri kepada orang baru, khususnya lawan jenis. Barangkali karena sebagian tulisan itu ada benarnya. Beberapa perempuan yang saya temui menginginkan hubungan yang cepat-cepat menikah, sedangkan protagonis masih payah dalam menjalani hidupnya sendiri. Alasan lainnya, ada gadis manis yang tak bisa saya hapus dari kepala, walaupun saya sadar betul bahwa sosoknya mirip seperti tokoh fiktif alias saya tak akan pernah bisa meraihnya karena berbagai alasan. Yang terpenting dari semua itu sih, hidup tanpa kekasih dalam dua tahun terakhir ini juga tak buruk-buruk amat selama saya dapat mencari eskapisme.
Read More
—Ya Allah, Tsubasa Honda dan Lisa Blackpink  bisa satu frame. Perpaduan yang sungguh aduhai.

—Bisa ya kamu lagi berduaan sama pacar, tapi masih tetap mainan HP dan memuji cewek lain.

—Kamu apaan, sih? Kamu kan tadi makannya belum kelar, sedangkan aku selesai duluan, makanya aku pilih main HP. Masa aku harus ngajak kamu ngobrol? Kalau nanti kamu keselek, gimana? Lagi pula, cewek lain apa? Dia kan termasuk idola. Jangan bilang, ini kamu lagi cemburu?

—Enggak, siapa yang cemburu?

—Ya, baguslah kalau begitu. Toh, mereka enggak akan bisa diraih.

—Seandainya mereka bisa diraih, kamu bakal pilih mereka, kan?

—Ya Allah, pertanyaanmu ngawur. Enggak penting buat dijawab.

—Enggak penting buat dijawab? Atau karena jawabannya sudah jelas? Kamu pasti pilih mereka yang lebih mulus dan cantik.

—Kayaknya ketika kamu lagi memuji idolamu, khususnya oppa-oppa Korea, aku enggak pernah mempermasalahkan mereka sama sekali.

—Alah, bullshit, buktinya kamu pernah tuh meledek si Firsa.

—Tapi aku enggak mempermasalahkan fisik dia, aku cuma mengkritik suara dia yang fals dan tulisannya kurang asyik dibaca.

—Kamu sendiri memangnya bisa nyanyi? Apa tulisanmu sudah cukup bagus?

—Apa aku harus jadi penyanyi dulu untuk membedakan antara suara yang enak didengar dan yang fals? Soal tulisan, kamu sendiri yang pernah memuji begitu.

—Kapan aku pernah memuji tulisanmu lebih baik ketimbang dia?

—Waktu aku pertama kali main ke rumahmu. Aku iseng ambil salah satu buku dia di rak, terus pengin coba baca karena penasaran kenapa kamu bisa sesuka itu sama dia. Ingat?

—Aku rada lupa. Aku bilang apa waktu itu?

—Awalnya aku bilang tulisan dia itu enggak bercerita. Gaya bertuturnya jelek banget. Diksinya maksa untuk puitis. Daripada disebut novel, buku dia lebih cocok dianggap kumpulan kutipan. Saat itu, entah betulan memuji atau khilaf, kamu sempat bilang bahwa tulisanku di blog lebih enak dibaca.

—Mungkin aku khilaf. [suara tawa] Itu yang kamu baca buku pertamanya dia, bukan?

—Aku enggak tahu itu buku keberapa, bahkan enggak peduli. Intinya mah tulisan dia jelek.

—Seingatku memang buku debutnya yang kamu baca waktu itu. Menurut aku wajar sih, namanya juga karya pertama. Pasti banyak kekurangannya. Sebelum menyimpulkan tulisan dia jelek, coba kamu baca buku dia yang lain dulu.

—Ogah.

—Ya, terserah kamu. Seenggaknya sih di mataku dia masih jauh lebih baik ketimbang kamu yang merasa tulisannya oke, tapi nyatanya belum punya karya satu pun.



Pemuda A tiba-tiba terkenang percakapan dua tahun silam bersama mantan pacarnya. Kalimat terakhir dari mantannya itu langsung membuatnya bungkam dan tak mampu berdebat lagi. Kalimat itu pun masih terasa menusuknya hingga saat ini. Sayangnya, dia benar-benar sudah lupa apa kejadian yang terjadi selanjutnya. Apakah dalam perjalanan pulang mereka saling membisu? Apakah mantan pacarnya sempat meminta maaf atas ucapan getirnya tersebut?

Yang masih terekam jelas di memorinya ialah dua bulan setelah percakapan itu: mereka putus. Tentu karena persoalan lain dan tak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan hari itu.

Sampai hari ini pemuda A tak pernah menyesali keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun, malam ini dia justru membayangkan satu hal dan menuliskannya di catatan:

“Jika kita masih bersama, aku pasti sedang mengejek selera bacaanmu yang buruk, sebab bisa-bisanya betah membaca semua buku Firsa Bahari; sedangkan kamu akan gantian membalas bahwa aku pembual paling berisik dan sok asyik yang tak punya keberanian menerbitkan tulisan-tulisannya menjadi sebuah buku.”

--

Gambar diambil dari Pixabay.
Read More
Diterjemahkan sesuka hati dari cerpen Etgar Keret berjudul 'Monkey Say, Monkey Do' yang terhimpun dalam buku The Girl on the Fridge. Gambar saya ambil dari Pixabay.

--



“Pisang,” pintanya.

Aku tidak mau.

“Ayo, Sayang. Tunjukkan kepada pria baik bagaimana kau memakan pisang.” 

Biarkan pria baik yang makan pisang. Aku sudah selesai dengan ini, untuk selamanya.

“Maaf, Dr. Gonen, tapi ini sama sekali tak dapat diterima. Menyeret saya jauh-jauh dari Sydney hanya untuk menyaksikan ia duduk di sana, di kandangnya dengan mata terpejam, mengangkat bahu. Waktu saya sangat berharga, kau tahu, dan saya tidak akan menyia-nyiakannya dengan satu alasan dan la—”

“Maaf, Profesor Strum, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sepertinya ia mungkin kesal dengan semua keributan ini. Ia tak terbiasa dengan orang asing. Jika kau bersedia menunggu di luar selama beberapa menit, aku tahu aku bisa membuatnya merespons.”

Jangan terlalu yakin, Sayang. Jangan terlalu yakin.

“Lima menit,” ujarnya, dan aku mendengarnya berjalan pergi. “Lima menit.” Pintu menutup, dan kunci berputar.

“Tolong, Sayang,” katanya, membelai buluku. “Bicaralah kepada pria itu, tunjukkan kepadanya betapa pintarnya engkau.”

Tangannya menyentuh bolaku sekarang, dan penisku mulai menegang. Tapi aku tidak membuka mataku.

“Sungguh, Sayang,” katanya dan terus membelai. “Lakukan ini untukku. Kalau tidak, mereka akan menutup proyek...”

Hening.

“... lalu kita enggak akan bisa tetap bersama lagi.”

Jadi kami tidak akan bersama. Aku mendapatkan harga diriku, bukan? Belaiannya datang lebih cepat sekarang. Rasanya begitu enak. Tapi aku tidak membuka mataku, tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak memberinya apa pun.

“Lima menit sudah habis, Dr. Gonen,” terdengar suara dari balik pintu yang terkunci. Aku membuka mataku hanya sedikit. Dia memperhatikan, berhenti membelai, dan mendekatkan wajahnya.

“Jika itu yang kau inginkan, itulah yang akan kau dapatkan,” bisiknya. Dia melepas jepit rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Jatuh ke bahunya. Dia mengusap jari-jarinya. Dia wanita yang menarik.

“Ada banyak profesor di sekeliling sini yang menyukai sebuah kesempatan untuk melihat kepalamu terbuka dan melihat ke dalam otakmu,” katanya. “Aku selesai denganmu. Mulai sekarang, kau milik mereka semua.”

“Dr. Gonen,” terdengar suara dari luar lagi, dan ada sentakan pada pegangan pintu yang terkunci.

“Profesor Strum,” bisiknya melalui pintu dan memutar kunci. “Tolong, panggil aku Yael.”

Sebelum dia membuka pintu, dia membuka kancing atas blusnya.

“Yael,” mengulang suara itu dari sisi lain pintu.

Bibirnya bergerak, dengan diam-diam, tapi aku bisa mendengarnya.

“Monyet goblok,” katanya.
Read More
“Kamu kena gangguan psikosomatik?”

Pesan via WhatsApp itu datang dari Firda Susanti setelah saya curhat tentang gejala-gejala yang tengah saya alami. Peristiwa itu terjadi sekitar dua minggu lalu, sewaktu saya merasa cemas yang amat berlebihan. Hampir setiap hari saya pasti bangun tidur dengan kepala berat, kondisi kaos lepek lantaran keringat dingin, sekujur tubuh pegal-pegal, dan sering bermimpi buruk. Saya juga sulit berkonsentrasi saat membaca buku ataupun menulis cerita.



Saya masih belum bisa menjawab pesan Firda, sebab pertanyaan dia tiba-tiba bikin saya merasa deja vu. Sekitar empat tahun silam, saya juga pernah mendapatkan pertanyaan tersebut dari teman yang berkuliah di Jurusan Kedokteran. Saya menerima pertanyaan yang begitu mirip selepas mengobrol bersama Dara Agusti mengenai penyakit yang terasa janggal di tubuh. Kala itu, kepala bagian belakang hingga leher saya suka terasa berat dan sakit, lalu terkadang sampai mual, padahal kondisi tubuh saya sepertinya baik-baik saja.

Saat Dara tahu bahwa saya lagi banyak masalah dan justru memendamnya sendirian, dia bilang itulah yang memicu kesehatan mental saya terganggu. Kepala saya katanya terlalu tegang karena menumpuk banyak beban pikiran. Dia lalu menjelaskan kalau fisik saya mungkin baik-baik saja atau cuma sakit ringan, tapi karena psikisnya bermasalah, saya seolah-olah merasakan tubuh lagi sakit parah.

“Tapi kalau mau lebih pasti, coba langsung periksa ke dokter, Yog,” ujarnya.

Saya akhirnya mengunjungi klinik di dekat rumah dan hasilnya sama percis dengan yang Dara bilang. Tubuh saya sesungguhnya sehat. Sayangnya, pikiran dan mental saya yang sakit ini menimbulkan gejala psikosomatik. Jika tak salah ingat, itulah pertama kalinya saya mengetahui tentang gejala psikosomatik yang bisa membuat tubuh sehat jadi tampak sakit, bahkan memperparah penyakit yang mulanya cuma ringan.

Ketika itu, saya memang lagi stres, terpuruk, dan depresi karena terpicu oleh persoalan-persoalan hidup yang bagi saya teramat krusial. Saya putus asa dan kehilangan harapan sampai-sampai menarik diri dari lingkungan. Sekitar dua bulan lebih saya hanya mengurung diri di kamar, meratapi dan menyesali pilihan hidup, serta berharap bisa mengulang waktu ke momen sebelum segalanya menjadi pelik.


Kondisi empat tahun lalu itu rupanya agak serupa dengan apa yang terjadi belakangan ini. Saya sudah terlalu lama tak keluar rumah dan lebih sering mengurung diri di kamar sejak pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) supaya mencegah penyebaran virus Corona. Meskipun saya hanya berdiam diri di rumah, lalu sekalinya keluar rumah dalam keadaan mendesak selalu mengenakan masker, dan setelahnya langsung mencuci tangan dengan sabun, tetap saja saya masih kesulitan mengurangi rasa cemas di dalam diri.

Setiap kali membaca maupun mendengar berita tentang jumlah pasien Corona yang bertambah—khususnya di Jakarta, saya otomatis merasa takut. Belum lagi ditambah kekhawatiran akan kondisi keuangan yang kian memprihatinkan. Intinya, saya stres akibat kelamaan di rumah dan kurang hiburan. Mungkin hal itulah yang mengakibatkan saya jadi sering bermimpi buruk akhir-akhir ini.

“Jadi kalau habis dari luar rumah terus mendadak batuk atau tenggorokan rasanya enggak enak tuh termasuk psikosomatik, ya? Itu akibat dari rasa cemas yang berlebihan? Soalnya tubuh saya juga langsung normal lagi, sih. Tapi ini betulan wajar kan, Fir? Saya masalahnya juga susah produktif nih.”

“Aku rasa hal itu wajar dalam kondisi pandemi begini, Yog. Siapa sih yang enggak cemas ketika kehidupannya berubah drastis? Soal produktif, menurutku pelan-pelan aja, jangan memaksakan diri. Aku awal-awal juga pernah kayak begitu, kok. Mimpinya sering aneh-aneh. Mungkin enggak separah kamu yang sampai kaosnya lepek karena keringat dingin. Alhamdulillah sih keadaanku sekarang juga membaik.”

Belum sempat saya menanggapinya, dia sudah membalas lagi, “Yang terpenting sih jangan kebanyakan mikirin yang aneh-aneh, supaya kesehatan mental kamu tetap terjaga.”

“Lima hari lalu pikiran saya justru pernah liar banget, Fir. Gara-gara diare (ini kayaknya kebanyakan makan sambal kacang), terus malah jadi melebar ke mana-mana. Mulai dari berasumsi kalau saya keracunan makanan, tifus, sampai ada teman yang bilang itu salah satu gejala Corona.” Di akhir kalimat, saya menambahkan emoji tertawa yang keluar air mata sebanyak tiga buah.

“Eh, seriusan? Terus kamu sempat ke dokter? Sekarang udah sembuh, kan?”

Dalam situasi pandemi begini jelas bikin saya takut untuk datang ke rumah sakit ataupun klinik. Mengingat kondisi tubuh saya yang lagi lemah, seandainya nekat datang bisa-bisa malah terpapar virus lainnya. Maka, saya memilih untuk memperbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi, dan memperbanyak istirahat di rumah demi mencari aman. Syukurlah sekarang juga sudah pulih, kecuali perasaan ganjil setiap bangun tidur.

Mendengar cerita saya barusan, Firda lantas memberi tahu saya tentang Halodoc. Salah satu layanan kesehatan online yang dapat diakses melalui aplikasi maupun web. Mereka menyediakan berbagai artikel mengenai kesehatan dan penyakit. Selain itu, mereka juga menjual aneka obat dan vitamin, terdapat fitur untuk mencari rumah sakit yang ingin dikunjungi dan membuat janji dengan dokter, serta dapat berkonsultasi dengan dokternya (baik itu dokter umum maupun spesialis) hanya lewat chat.



“Berhubung kondisinya lagi pandemi begini, menurutku pelayanan di Halodoc membantu banget, sih,” kata Firda. “Kemarinan aku juga habis tanya-tanya soal keluhanku di sana tuh. Dokternya bilang, mungkin aku kena gejala psikosomatik. Karena aku kan sempat kurang tidur, kecapekan, dan stres. Beliau akhirnya kasih aku beberapa saran seputar kesehatan, dan menyuruh aku konsumsi salah satu vitamin gitu buat membantu pemulihan.”

Saya lalu mengucapkan terima kasih atas informasi itu.

Sebagaimana yang sudah saya ketahui tapi kadang-kadang suka terlupa, Firda menjelaskan ulang tentang kebanyakan penyakit yang bermula dari pikiran. Jika pikiran kita buruk, otomatis kondisi tubuh bakal ikutan memburuk. Kata Firda, belakangan ini dia sebisa mungkin menghindari berita tentang virus, lalu membisukan kata-kata yang terkait dengan wabah di media sosialnya. Dengan begitu, pikirannya mulai jernih kembali. Kalau untuk menyiasati rasa jenuhnya saat berdiam diri di rumah, dia menghibur diri dengan menggambar, menonton film, dan main gim.

“Kayaknya saya perlu menulis jurnal lagi nih biar energi negatifnya pada kebuang. Atau minimal curhat sama orang deh. Hitung-hitung latihan menulis biar bisa lancar lagi cerita di blog.”

“Nah, bisa juga tuh. Cara orang kan beda-beda, jadi sesuaikan aja sama diri kamu.”

Dia menutup pembicaraan itu dengan mendoakan saya, “Pokoknya sehat-sehat terus ya, Yog.” Saya mengamininya dan gantian mendoakannya dalam hati.


Hari ini, saya sudah jauh lebih baik ketimbang dua minggu lalu. Berkat mengobrol sama Firda dan beberapa kawan, kecemasan di dalam diri saya semakin berkurang. Saya tak pernah lagi bermimpi buruk, apalagi terbangun dengan kaos basah yang dipenuhi keringat dingin. Saya juga mulai kembali menulis jurnal di buku catatan. Siapa sangka, kegiatan menulis dan curhat ini masih sangat ampuh sebagai terapi saya dalam menyembuhkan psikis yang lagi kacau. Mudah-mudahan sih saya bisa terus mempertahankan kondisi baik ini. Akhir kata, semoga teman-teman sekalian juga sehat sentosa dan bisa merawat kesehatan mentalnya agar tetap baik-baik aja.

--

Gambar saya ambil dari Pixabay dan Halodoc.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home