Malam Kelam

3 comments
Malam ini terasa begitu jahat. Malam yang membuatku lupa bahwa masih ada hari esok. Jam tanganku kini menunjukkan pukul 23.40. Mengapa aku saat ini tengah berada di Kafe Joni, Bulungan, Jakarta Selatan? Apa yang membuatku datang ke sini?




“Mau ke mana, oi, buru-buru?” ujar salah seorang lelaki ketika aku sedang mengantre di meja kasir untuk memesan minuman. Saking lamanya menunggu, tanpa sadar aku tadi melamun dan bertanya-tanya kepada diri sendiri. Suara lelaki barusanlah yang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh dan mencari sumber bunyi itu. Terdapat empat orang yang berada di meja yang sedang kupandangi. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua tampak seumuran dan berpenampilan khas anak muda. Sepertinya usia mereka juga tak jauh beda denganku, kisaran 20-25.

Aku tak bisa menebak siapa di antara mereka berdua yang berbicara tadi. Aku justru terfokus pada sepasang kekasih yang beranjak bangun dari kursinya. Sepertinya pasangan inilah yang tadi diledek buru-buru pulang. Si cowok yang bersama ceweknya itu lantas berkata, “Biasalah, malam Jumat.”

Kedua laki-laki yang masih asyik duduk itu pun tertawa keras. Apanya yang lucu, sih? Tidakkah pengunjung lain dapat mendengarnya dan merasa risih?

Agus, kawan yang datang bersamaku, tiba-tiba menyikutku dan berkata pelan di dekat telingaku, “Cowoknya jelas udah enggak tahan tuh, Git, ceweknya montok banget begitu.”

Aku sesungguhnya sudah mengerti apa yang mereka maksud, tapi aku berusaha untuk mengontrol pikiranku agar tidak membayangkan yang aneh-aneh. Sialnya, Agus memperjelas segalanya. Aku jadi ingin muntah.

Bisa dibilang aku datang ke kafe ini hanya ingin melepas stres akan kehidupanku yang belakangan ini terasa bobrok. Siapa tahu dengan menerima ajakan Agus main kemari, aku bisa membicarakan beberapa hal tentang permasalahan hidup yang rumit kepadanya, lalu pulang ke rumah dengan lebih lega. Beban hidupku nanti bisa terbuang sebagiannya lewat percakapan-percakapan pada malam busuk ini.

Selain alasan itu, aku senang dengan suasana kafenya. Kafe ini berada di ruangan terbuka, musik yang diputar terfilter dengan baik dan cocok dengan telingaku, kasir dan baristanya ramah, serta harga minumannya cukup terjangkau. 

Bodohnya, aku lupa dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa datang kapan saja. Pikiranku justru bertambah mumet setelah melihat kehidupan malam di sini. Aku merasa bukan bagian dari mereka.

Pantesan ceweknya mau, Git, ternyata cowoknya bawa BMW, ucap Agus sekelarnya kami memesan minuman dan duduk di meja yang letaknya dekat dengan parkiran. Aku sengaja tak mengindahkan perkataannya. Tapi Agus tetap meneruskan kalimatnya: Ah, coba aja kalau aku yang punya mobil sekeren itu, aku yakin gampang banget dapat cewek kayak dia. Aku bisa dapat empat sekaligus.

Sekalipun itu cuma candaan atau perkataan spontan akibat dari hal-hal yang mungkin kita cemburui, aku tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut temanku. Aku sejak tadi berusaha menghindari pikiran-pikiran buruk. Aku hanya ingin menenteramkan pikiran. Aku tak mau sok tahu dengan kehidupan orang lain yang tidak kukenal. Namun, mengapa secara tak langsung malah muncul penghakiman-penghakiman dari apa yang terlihat oleh mata?

Barangkali temanku merasa bahwa dirinya lebih tampan daripada lelaki yang tadi dia komentari, sehingga bisa mendapatkan perempuan aduhai semacam itu lebih dari satu. Aku benar-benar tak ingin menilai orang lain seperti yang Agus lakukan barusan. Itu bukanlah tugasku. Tapi memiliki hobi aneh dengan menjadi pengamat setiap manusia yang kutemui rasanya sialan juga. Kebiasaan semacam ini tak pernah hilang sejak aku masih bocah.

Aku mengerti bahwa Agus baru saja patah hati empat hari lalu, tak bisa tidur, masih kepikiran mantan pacarnya, makanya dia mengajakku ke sini untuk mencurahkan isi hatinya atau mengelabui kesedihannya. Yang tidak aku habis pikir, Agus merendahkan orang lain yang tak ada kaitannya. Marah itu tentu hal yang wajar. Masalahnya, kalau menjadikan orang lain, bahkan orang asing, sebagai samsak dengan mengejek seperti tadi, kupikir tidaklah tepat. Salurkan kemarahanmu tanpa harus merugikan orang lain. Biarpun aku juga sadar bahwa orang yang dibicarakan Agus itu tak akan mendengar maupun mengetahuinya, tapi bisakah dia menyimpannya sendirian? Jangan membahasnya kepadaku, sebab kepalaku sudah kelewat penuh dengan hal-hal jahanam.

Aku sebenarnya sudah berusaha menyanggupi jika mendengar kisah Agus tentang patah hatinya, atau dia ingin mengutuk mantan pacarnya yang memilih lelaki lain, atau apa punlah yang masih ada sangkut pautnya. Aku tak keberatan sama sekali. Anehnya, baru mendengar celetukan semacam tadi saja aku sudah tak kuat. Apakah ada yang salah dengan diriku pada malam ini?

Vanilla latte atas nama Agus dan Hazelnut latte atas nama Sigit?” ujar seorang pramusaji mengantarkan minuman ke meja kami.

Betul, Kak, kataku sembari mengucapkan terima kasih dan tersenyum.

Aku segera meminumnya sampai berkurang seperempat gelas. Lumayan pahit. Sepahit kenyataan sewaktu mendengar kabar tentang kematian kedua orang tuaku setahun silam dari pihak rumah sakit. Katanya, orang tuaku kecelakaan, lalu saat dibawa ke rumah sakit terdekat dan ingin segera ditindak, keduanya malah terlalu cepat mengembuskan napas terakhirnya. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi untuk menyelamatkan nyawa kedua orang tuaku. Ikhlaskan, ujar pihak rumah sakit itu, sudah jadi takdir Tuhan.

Kesimpulan yang kutangkap bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi: motor yang dinaiki mereka berdua tertabrak oleh mobil BMW yang pengemudinya diduga dalam keadaan teler. Ibu dan ayahku terpental hingga terluka parah. Motornya hancur. Bagian depan mobilnya penyok bukan main.

Masih terekam jelas di memoriku ketika setahun silam, persis jam segini, orang tuaku mengabarkan dan meminta maaf kepadaku lewat telepon karena terpaksa pulang larut sehabis silaturahmi dari rumah kerabat di daerah Lenteng Agung. Aku menjawab tak apa-apa serta bilang hati-hati di jalan. Apesnya, baru sampai kawasan Pasar Minggu mereka malah tertimpa tragedi.

Anjing, sedih banget rasanya mengingat momen yang satu itu. Terus yang lebih membuatku nelangsa tentu si penabrak yang bisa-bisanya menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang. Dia tidak dipenjara karena salah satu keluarganya merupakan anggota dewan. Dia memberikan uang ganti rugi kepadaku sebesar puluhan juta, tapi harga itu jelas tak ada tandingannya dengan nyawa kedua orang tuaku.

Aku teramat bingung, harus kuapakan uang sebanyak itu? Apakah aku perlu menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi bajingan tengik tersebut? Bagusnya, itu cuma sebatas gagasan tolol. Aku langsung teringat kedua orang tuaku ketika mereka pernah diperlakukan semena-mena oleh salah seorang tetangga biadab. Mereka tak pernah mengajarkanku untuk membalas dendam. Sejahat apa pun orang sama kita, kata ayahku, tak ada untungnya membalas perbuatan mereka. Ibuku juga menambahkan, itu cuma kepuasaan sesaat yang akhirnya akan kita sesali sepanjang hayat.

Beberapa bulan selanjutnya, berhubung aku sangat menderita selepas kehilangan orang tua, aku pikir dengan menyumbang sebagian uang itu ke panti asuhan bisa mengobati rasa kehilanganku. Bisa berbagi kebaikan kepada segelintir manusia yang senasib denganku. Ternyata hal-hal semacam itu tak kunjung menghapus rasa sakitnya.

Sialan, aku kudu menyalahkan siapa atas kecelakaan terkutuk itu? Kenapa orang tuaku tak memutuskan menginap saja pada malam itu, sih? Mengapa mereka pergi terlalu cepat, lalu meninggalkanku sebatang kara begini? Aku tak punya adik maupun kakak. Tak ada yang bisa kuajak berbagi kesedihan saat mendengar berita duka itu. Bahkan kerabat yang merasa bertanggung jawab pada peristiwa itu juga cuma peduli pada 40 hari awal. Setelah seratus hari mereka tak muncul lagi dalam acara tahlilan. Begitu pula dengan satu tahunan tadi. Batang hidung mereka tak tampak. Tentu aku tak bisa menyalahkan mereka. Mungkin mereka juga punya kesibukannya masing-masing. Namun, tak adakah satu orang pun yang bisa menghiburku pada malam berengsek ini?

Aku kira Agus tadinya bisa mengerti kondisiku. Dia mengajakku pergi agar bisa membuatku tenang. Dapat membuatku lupa sejenak akan kondisi rumah yang sepi. Rumah yang semula terasa nyaman, lalu kini begitu hampa. Berada di rumah terlalu lama selalu mengingatkanku akan kegembiraan-kegembiraan bersama keluarga. Apa karena aku anak semata wayang, sehingga rumah terasa begitu istimewa untukku? Di tempat itulah orang tuaku selalu mengasihiku dengan kasih sayang terbaiknya. Aku tak tahu, apakah anak yang memiliki adik maupun kakak bisa mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku? Apakah anak emas lainnya juga bernasib sama sepertiku? Entahlah. Aku hanya merasa belum sanggup hidup tanpa orang tua secepat ini. Sebelum aku bisa menikah, memberikan cucu kepada mereka, atau bikin mereka bangga sekaligus bahagia.

Gelagatku sudah menunjukkan betapa malasnya diriku mengomentari pasangan yang tadi. Sayangnya, Agus cuek saja. Dia hanya peduli terhadap masalahnya sendiri. Tanpa bisa membaca bahasa tubuhku, bahwa aku juga sedang berantakan.

Selepas Agus merasa puas memuntahkan unek-uneknya, dia pun mengajakku pulang. Tanpa sempat mempersilakanku gantian bercerita. Kulihat pergelangan tangan kananku. Jam menunjukkan pukul 01.19. Ya sudahlah, hari kian larut. Lebih baik pergi dari tempat ini.

Minuman yang kupesan tadi tidak kuhabiskan, masih tersisa setengah. Tak satu pun masalah dalam hidupku yang akhirnya dapat terucap. Aku tak bisa mengurangi rasa sesak pada rongga dada ini. Kacau, malam ini terasa benar-benar gelap bagiku. Adakah malam yang lebih kelam dari hari ini? Aku tak punya jawaban. Aku belum sanggup menengok masa depan. Sejauh yang kutahu, belum ada kegelapan yang dapat menutupi cahaya. Baru malam ini saja cahaya itu seolah-olah berhenti datang.

Konon semua manusia membutuhkan kegelapan demi menemukan cahaya. Jika memang cahaya itu bernama harapan, aku berharap pasangan yang tadi naik BMW bisa mendengar cacian Agus. Mereka pun murka dan menabrak kami dalam perjalanan pulang. Menghabisi nyawa kami. Aku bahkan tak terlalu peduli jika menjadi korban tabrak lari. Aku justru bisa menyusul kepergian orang tuaku, bukan?

--

Draf cerpen yang terlalu lama dipendam sejak 2018.

Gambar dicomot dari Pixabay.
Previous PostOlder Post Home

3 comments

  1. As always bagus cerpennya yoggg, alurnya enak dibaca. Meresapi aja gitu rasanya sebagai pembaca cerita pendek kayak begini.

    Menghabisi malam dengan nongkrong bersama teman seharusnya sedikit membantu untuk pelipur duka lara isi hati. Tapi kalau benar-benar si tokoh Aku enggak bisa bercerita sedikit isi hati uneg-unegnya ke Agus, ah jadi kasihan rasanya. Mediasi terbaik untuk menenangkan isi batin tuk jadi damai ya dengan diungkapkan, benar begitu bukan yog?

    ReplyDelete
  2. Temanya tetep dark yaaa :). Tapi lama2 aku jd terbiasa baca cerpen2mu yg berbau kesedihan, gloomy, sarkas tapi menarik KK dibaca Yog.

    Dipikir2 malah bagus, kamu jd punya ciri khas :). Baca ini, jd kasian Ama Sigit. Kehilangan ortunya bikin dia bener2 hancur yaaa, walopun udah setahun tapi rasanya dia blm bisa ngelupain sakit kehilangan ortu nya :(.

    ReplyDelete
  3. jangan jangan bmw yang nabrak ortunya sigit adalah pacar si cewek montok iya ga sih yog...apa bmw yang lain?


    gw baru tau aku nya namanya sigit

    dan tetiba gw jadi keingetan daerah bulungan, dulu sering nglayap nyampe sana bingung susah angkutan umum

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.