Pemuda Tengah Malam

Kelelahan dan ketakutan karena dikejar-kejar oleh monster mengerikan, singkatnya sebuah mimpi buruk, membuat pemuda itu terbangun dari tidur lelapnya. Saat masih setengah sadar, ia berusaha melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul satu. Ia tidak perlu bingung sekarang siang atau malam. Suara jam yang berdetak dan terdengar begitu jelas pastilah malam hari.

Kala sudah betul-betul bangun, ia berusaha mengingat kenapa dirinya tadi bisa ketiduran. Ia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia mengetikkan empat digit angka untuk membuka kunci ponsel tersebut. Layar sedang menunjukkan sebuah web berisi cerpen yang pengarangnya tidak ia ketahui. Nama itu baru untuknya. Sepertinya ia ketiduran sehabis membaca cerita yang cukup membosankan. Ia pun menaruh kembali ponsel itu di kasur, lalu berjalan ke ruangan depan. 





Di kamar sebelah, ia melihat ayahnya tertidur pulas. Lalu di ruangan depan, ibu beserta adik laki-lakinya juga tidur sama nyenyaknya. Pemuda itu kemudian mengambil cangkir di dapur dan pindah ke meja makan. Ia bermaksud bikin teh manis.

Selagi menuangkan gula ke dalam cangkir yang sudah berisi air panas, ia mencari-cari sendok dalam kegelapan. Ia tidak ingin menyalakan lampu, sebab takut ibunya nanti terjaga. Setelah sendok itu ketemu, ia aduk searah jarum jam sampai cangkir itu berdenting. Dalam keadaaan remang-remang, matanya mencoba untuk memandangi terus pusaran air itu. Ketika putarannya berhenti, ia mengalihkan pandangan ke wajah ibunya.

Tiba-tiba pemuda itu tersenyum. Tak lama sesudah itu, ia masih berdiam diri. Memikirkan beberapa hal dan merenung. Mengapa sampai saat ini, ia masih belum bisa membahagiakan ibunya dan sering merepotkannya? Ibunya sudah berusia lima puluh tahun, sudah tak pantas lagi disebut muda. Suatu hari setiap manusia pasti akan mati. Entah pemuda itu duluan atau ibunya, yang jelas akan tiba waktunya kelak.

Ia langsung membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Ia masih ingin terus hidup sampai mimpinya terwujud dan ibunya dapat menyaksikan kebahagiaan pemuda itu dengan bangga. Lalu pemuda itu akan bilang, “Semua ini berkat doa Ibu. Terima kasih.”

Pemuda itu kini gantian memperhatikan wajah adiknya. Selama ini, ia belum benar-benar menjadi kakak yang baik. Sering sekali bertengkar karena hal sepele. Mungkin banyak hal-hal buruk lainnya yang kurang pantas dilakukan kepada adiknya itu selama hidupnya. Meskipun maksud pemuda itu baik, tapi kalau dipikir ulang sepertinya itu cukup keterlaluan.

Pemuda itu kembali ke kamarnya membawa teh manis hangat. Di jalan menuju kamar, ia melintasi kamar yang terdapat ayahnya. Kini, suara dengkuran terdengar amat nyaring. Kecapekan bekerja pastilah membuat ayahnya mengorok seperti itu.

Selama ini, pemuda itu memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Terutama karena pemuda itu belum mampu membuktikan apa yang dilakukannya selama ini benar. Pemuda itu saat ini betul-betul kebingungan. Jika patokannya adalah uang, ia sadar kalau yang dijalaninya selama ini salah. Namun kalau ditanya soal kebahagiaan, ia sungguhlah bahagia. 

Sayangnya, hidup ini memang membutuhkan uang agar dapat bertahan hidup. Ia sadar, sudah terlalu lama dirinya berjalan di tempat. Sewaktu orang lain berlari, ia masih saja berjalan lambat. Ia mendadak malu sekali pada dirinya.

Pemuda itu masuk ke kamarnya dan duduk di kasurnya agar kesedihan tidak bertambah menyiksanya. Ia pun memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia mulai mengambil cangkir yang tadi diletakkan di meja, percis di samping laptopnya. Ia bermaksud meneguk teh itu pelan-pelan seraya menghirup aroma melati. Sudah tidak terlalu panas, batinnya.

Entah bagaimana, sehabis minum teh yang tidak terlalu manis itu, si pemuda memikirkan kesibukannya akhir-akhir ini. Bangun sebelum subuh dan tidak pernah tidur lagi karena harus pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan makanan, membantu orang tuanya memasak, dan menyiapkan dagangan. Barulah sekitar pukul 9 atau 10 pagi, ia kembali ke kamarnya. Baik untuk menuliskan cerita, membaca buku, atau yang paling sering: mencari info lowongan kerja.

Kala melakukan kegiatan rutinnya, yaitu menggoreng tempe, bakwan, atau donat, ia entah mengapa jadi teringat kejadian buruk sekitar tiga tahunan yang lalu. Ketika sedang menggoreng seperti itu, ia terkenang akan masalah keluarga yang membuat dirinya depresi. Ibunya sempat pergi dari rumah. Lebih tepatnya, orang tuanya hampir bercerai.

Entah ia harus bersedih atau bersyukur dengan keadaannya yang sekarang. Namun yang terpenting, ia saat ini masih bisa terus bersama keluarganya. Mungkin itu sudah lebih dari cukup. Meskipun hubungan di keluarga itu pernah retak dan sepertinya sudah tidak harmonis lagi, tapi ia selalu ingin bersyukur atas apa yang terjadi.

Ia tidak ingin banyak berharap hidupnya akan bergelimang harta atau bagaimana menjadi orang tajir melintir. Masih memiliki keluarga yang utuh adalah harta yang paling berharga untuknya. Ia tidak peduli apa pun perkataan orang lain yang dulu pernah menghina atau mengejek keluarga maupun dirinya. Nilai diri keluarganya bukanlah menurut orang lain. Ia tahu betul akan hal itu. Jadi, sekarang ini ia berusaha sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya. 

Meski penghasilannya masih belum jelas, paling tidak ia bersyukur masih bisa makan setiap hari dan memiliki tempat tinggal. Toh, sampai sekarang ia juga tetap memiliki pekerjaan. Biarpun itu hanya menjadi pekerja lepas atau serabutan yang gajinya tidak menentu. Setidaknya, ia tetap bersyukur karena bisa cari uang sendiri.

Ia sebetulnya sudah berusaha mencari pekerjaan tetap, tapi belum ada jawaban yang sesuai. Mungkin usahanya kemarin-kemarin itu masih kurang. Setidaknya, ia selalu percaya esok hari akan ada titik terang selama dirinya tidak pernah menyerah dan kehilangan harapan.

Memikirkan banyak hal begitu, pemuda ini jadi kehausan. Ia pun meminum habis teh yang sekarang sudah mulai dingin. Pemuda itu pun bingung harus melakukan apa lagi setelah ini. Ia ingin kembali tidur, tapi rasa kantuknya sudah sulit muncul. Sekitar satu jam lagi, ia mesti membangunkan ibunya untuk siap-siap memasak.

Pada waktu luang itulah, pemuda ini duduk di depan laptop dan berniat ingin mengetikkan segala yang ada di pikirannya tadi. Pemuda itu menatap layar putih kosong dengan tatapan kosong. Jika ada orang lain yang melihatnya begitu, orang itu tentu paham kalau pemuda itu sedang menangis. Walaupun tidak ada satu pun air mata yang menetes atau meleleh. 

Terbangun di tengah malam begini, membuat pemuda itu banyak berkontemplasi. Ia menyesali banyak hal yang menyia-nyiakan waktu. Tapi pemuda itu kini juga sudah paham akan satu hal: menyesal dan memikirkan hal seperti itu terkadang percuma. Menyesal tidak akan pernah membawanya ke mana-mana, selain cuma bisa bersembunyi di bawah atap dan mengetik tulisan sembari meratap.

Paling tidak, menulis itu bisa membuatnya lega. Ia berharap energi negatif dalam dirinya segera hilang dan tidak pernah lagi memikirkan hal-hal buruk, termasuk yang terburuk, yakni bunuh diri. Begitu selesai, ternyata tulisannya masih lebih mengerikan daripada keadaan hidupnya. Pemuda itu pun berhenti mengetik. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Sudah saatnya membangunkan ibunya.

--

Cerpen yang tercipta pada tahun 2017 ini terlalu lama saya pendam di draf. Semoga belum usang jika saya tampilkan sekarang. Gambar saya ambil dari Pixabay.

19 Comments

  1. :')


    #IniCerPeNyat bukan fiksi. dan ketika puasa gini, ibunya akan lebih mengalami lelah. waktu tidurnya dipotong sahur dan kekuatannya di sepanjang siang terpotong puasa yang melipatgandakan tak hanya pahala, namun juga keletihannya. Di rumah, saya sering melihat demikian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal, ibunya nanti pas buka atau sahur juga makannya sedikit. Kenyang duluan karena menghirup aroma masakan. Yang terpenting udah bisa masak buat keluarga. :(

      Delete
  2. Pemuda dalam cerita ini cukup mewakili perasaan gue. Dulu sempat dilema bertahan di tempat kerja atau loncat ke hal yang pengin dilakuin. Dalam beberapa hal, komunikasi gue sama orang rumah juga agak renggang karena tidur di mess, jauh dari rumah, kabar2an lewat hp agak jarang. Yah, emang nggak sesering bertukar kabar sama pacar. Laknat emang.

    Tau lah gue mau komen apa lagi, bisa2 curhat sih kalau gue tuangin di sini semua. Hahaha. Yang jelas, bener kata Haw, perjuangan seorang ibu untuk anaknya itu luar biasa banget. Dan gue sebagai anaknya belum bisa ngasih banyak hal. Sedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pacar > keluarga? :(

      Curhat sendiri di blognya kalau gitu, Ndre. Daripada kolom komentar ini penuh. Wqwq. Hm, jangan menyerah untuk terus bisa membahagiakan beliau. :)

      Delete
  3. Replies
    1. Cewek ke cewek sih nggak masalah. Tapi lo cowok kan? Rangkul bisa kali jangan peluk juga. Insecure gue.

      Delete
    2. Firman: Teletubbies berpelukan~

      Gigip: Lu cemburu, ya? Kemarinan bukannya sempet bilang Mbak Firman? Hadeh.

      Delete
  4. Bangun tengah malam terus bikin teh, saya banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti malam kalau kebangun tolong bikinin saya teh juga dong, Mbak.

      Delete
  5. Cerpennya bagus mas yogaaaa! Memang ya pemuda kalau sudah mulai berumur tapi masih belum punya kerjaan tetap dan melihat orang tua atau keluarganya malah jadi memikirkan hal yang bukan-bukan. Serasa manusia sampah yang gak ada gunanya, tapi takdir masih diharuskan untuk bersyukur karena masih bisa makan dan tidur tenang. Yah begitu lah XD

    Ah masa-masa pemuda yang diceritakan tahun 2017 itu lagi aku rasain sekarang, cuma aku gak pernah bangun jam 1 dan langsung bikin teh ke belakang, justru jam 1 baru mulai siap-siap mau tidur setelah kelelahan mengetik dalam pengerjaan depan layar melulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, manusia sampah. :') Ngerjain skripsi? Semangat! Semoga kelelahan itu kelak terbayar dengan senyuman dan pelukan orang tua yang berbahagia dengan perjuangan anaknya. :)

      Makasih udah bilang cerpen ini bagus, Na~

      Delete
  6. saya pikir tadi akan ada twist. mimpi dalam mimpi. mimpi double layer. hehe

    *ah, saya berpikir terlalu jauh*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan tentang mimpi pernah saya tulis di tulisan berjudul Limbo. :)

      Delete
  7. Dududududu, apa cuma aku gara2 baca tulisan donat sekarang jd pengin donat.. Mas Yoga emg ya, bisa bikin pembaca sambil merasakan alur ceritanya.. *keprok2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ella banyak maunya nih. :p Ah, kamu bisa aja~

      Delete
  8. Yog, kenapa yaaaa, tiap kali aku baca cerpenmu, tokoh utamanya itu selalu kebayang kamu hahahaha. Walopun mungkin bukan yaa, tapi ttp itu yg kebayang :p. Kayaknya kamu nulis dari hati banget jadi kebayang gitu hehehehe :p.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena ada bagian atau unsur dari diri saya yang ikut dimasukkan ke dalam cerita. Iya, saya menulis dengan hati biar sampai juga ke hati pembaca. Ehe. :)

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.