Terinfeksi oleh Afeksi

8 comments
—Buat AI
 
--
 
“Tumben. Hahaha. Sontak tersenyum aku,” tulisnya di WhatsApp.
 
Aku juga langsung tersenyum saat membaca pesan itu.
 
 

 
*
 
Subuh telah berlalu dan aku masih belum bisa memejamkan mata sejak semalam. Suasana hati begitu risau karena tak sengaja membaca berita yang kacau tentang pemerintahan, dan otomatis membuatku semakin pesimis memandang hari esok. Walaupun biasanya juga sering terjadi hal semacam ini, kali ini aku hawanya ingin lebih marah-marah. Aku teramat jengkel memulai hari dengan situasi seperti ini. Tapi apanya yang memulai hari ketika diriku belum terlelap sama sekali? Masalahnya, jika aku tidur dengan pikiran buruk tentu bisa melahirkan mimpi buruk. Mimpi itu bagiku mestinya bisa jadi tempat pelarian terbaik dari kenyataan yang menyedihkan. Jadi, aku enggak mau kenyataan dan bunga tidur sama busuknya. Aku ingin memperbaiki suasana pikiran maupun hati terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan diri.
 
Mengapa hari ini sangatlah berbeda ketimbang kemarin? Aku kemarin bisa tidur sebelum pukul satu, bangun sekitar pukul lima. Biarpun tak sampai lima jam, aku betulan bisa nyenyak dan itu terasa cukup. Apalagi keadaan setelahnya, aku justru bisa berjumpa dengan seseorang yang belakangan ini membuat hari-hariku lebih bergembira. Lebih banyak tersenyum.
 
Demi bisa mengobati perasaan runyam, saat ini di kepalaku hanya bisa memutar sebuah adegan film:
 
Seorang lelaki sedang duduk memandangi layar laptop di kamarnya. Semenit kemudian terdengar suara seorang gadis yang memanggil dengan kata, “Oi!” percis di depan pintu kamar sang lelaki yang dibiarkan terbuka sebagian. Kamar lelaki ini letaknya mirip seperti kamar indekos yang langsung terhubung keluar atau jalanan.
 
Lelaki itu pun menoleh, mendapati wajah sang gadis yang tersenyum manis. Dia terpana saat memandangnya. Gadis itu rupanya juga mengajak adik perempuannya yang masih balita dan menggemaskan. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan segera memberikan sebuah kantung plastik berisi tiga buah yoghurt kepadanya. Gadis itu menitip lewat WhatsApp saat sang lelaki bilang sedang berbelanja ke minimarket 15 menit silam.
 
Sang gadis memberikan selembar uang dan mengucapkan terima kasih seraya tersenyum. Lagi-lagi senyumnya membuat lelaki itu salah tingkah. Ketika lelaki itu menyerahkan duit kembaliannya, dia ingin bilang sesuatu, tapi lidahnya kaku. Saking terpukaunya oleh senyuman perempuan manis di hadapannya, lelaki itu merasa wajahnya memalukan sekali untuk dilihat dan benar-benar tampak tolol. Meskipun adegan ini sangat memalukan baginya, tapi saat itu juga dia berharap waktu bisa berhenti. 
 
Dia sadar waktu tak mungkin berhenti. Paling tidak dia masih bisa mengamini teori relativitas Einstein bahwa kejadian yang cuma sebentar itu bisa berjalan begitu lambat. Dia ingin momen itu tidak lekas berakhir.
 
*
 
Di kepalaku terus memutar ulang film tersebut. Mungkin itu adegan klise, tapi bagiku merupakan film terbaik yang pernah kutonton sepanjang 2020, tepatnya selama pandemi.
 
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Tertera nama seorang gadis yang menjadi tokoh dalam film di kepalaku barusan. Aku mengucapkan selamat pagi kepadanya, dan dia merespons seperti yang tertulis di kalimat pembuka tulisan ini. 
 
Aku spontan mengoceh tidak jelas membahas berita yang membuat pagiku benar-benar buruk. Itu tentu kesalahan fatal karena aku seharusnya tidak mengajak orang lain terlibat. Bukankah lebih baik merongseng sendirian? Jangan libatkan dia dalam kekacauan pikiranmu, pikirku. Biarkan dia menjalani harinya dengan tenang. Aku pun meminta maaf kepadanya.
 
Aku tak tahu apakah hari-hariku ke depannya bisa bertambah buruk, tapi mumpung masih sempat aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada dia yang telah menyuguhkanku senyuman manis. Senyuman yang menegaskan bahwa duniaku masih baik-baik aja, sekalipun di luar sana terjadi huru-hara.
 
Dia bilang ingin mencari sarapan dan menawarkanku mau apa. Aku yang setengah sadar karena belum tidur dengan tololnya menjawab begini: Mau apa? Mau disenyumin kamu lagi, gitu? Boleh?
 
Dia mengirimkan stiker peluk dan tertawa. Aku menyuruhnya segera mencari sarapan, bukan malah membalas pesanku melulu, serta mengucapkan hati-hati di jalan.
 
Setengah jam berlalu dan dia tiba-tiba mengirim pesan, “Jangan tidur dulu ya, aku mau kasih kamu sesuatu.”
 
Aku sejujurnya bingung, apa maksud dari pesannya itu. Aku lantas mendadak panik dan langsung bergegas ke toilet buat mencuci muka. Aku entah kenapa malu jika harus berjumpa dengan wajah kusut karena pikiran butek dan belum tidur.
 
Terdengar ketukan pintu di kamarku beberapa kali. Tak lama terdengar pula bunyi notifikasi di ponsel. Apakah dia sungguh-sungguh ingin memberikanku sesuatu?
 
Aku membuka pintu kamar dan mendapati sosoknya. Dari jarak sedekat ini, dia terlihat semakin lucu dan manis. Apakah seperti ini sudut pandang orang yang sedang kasmaran? Yang jelas, diriku lagi-lagi kayak orang bego yang enggak mampu mengucapkan kalimat bagus, sebab yang keluar dari mulutku cuma, “Hah? Apaan?”. Ucapan itu sepertinya terlontar dibarengi oleh ekspresi mukaku yang tolol dan kebingungan. Dan dia buru-buru pergi tanpa menungguku berbicara lebih lama. Aku malu sekali karena telat bilang terima kasih. Aku juga mengutuk diri sendiri kenapa mendadak jadi sekikuk ini, padahal sebelumnya mulutku bisa lebih luwes saat mengajaknya pergi.
 
Kenapa seseorang yang dalam kesehariannya terbiasa menyusun kata, tapi bisa menjadi goblok dalam sekejap saat berhadapan dengan perempuan jelita? Apakah karena selama pandemi ini aku nyaris tak pernah mengobrol dengan lawan jenis? Apakah karena aku sudah terlalu lama menutup diri, tak ingin membiarkan perempuan mengenalku lebih dekat? Aku sungguh tak tahu. Mungkin sekarang aku akhirnya mengerti, mengapa Jamrud bisa-bisanya bikin lirik seperti ini: “Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara. Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini. Jam dinding pun tertawa, karena ku hanya diam dan membisu. Ingin kumaki diriku sendiri. Yang tak berkutik di depanmu.”
 
Lirik itu pasti tercipta dari sebuah pengalaman. Pengalaman yang mungkin serupa dengan apa yang barusan terjadi padaku.
 
Notifikasi di ponselku terdengar kembali. Dia bilang, siapa tau apa yang dia berikan barusan itu dapat mengobati perasaanku. Aku pun sampai lupa mengecek bingkisan yang dia kasih tadi. Kala aku mendapati segelas es krim McFlurry Oreo, aku refleks mengetik: Ini es krim rasa cinta?
 
 

 
Aku lalu menikmati es krim sembari mengingat-ingat bentuk parasnya yang manis dan membuatku terpukau. Setelah es krim itu habis, aku mengambil segelas air putih, meminumnya hingga tandas, dan tanpa sadar mengetik: Kira-kira, apakah ada kata, frasa, atau kalimat yang lebih baik buat menggambarkan betapa berterima kasihnya aku buat pagi ini selain “aku sayang kamu”?
 
Dia menyuruhku segera tidur dan mengucapkan selamat beristirahat. Aku lagi-lagi bilang terima kasih, sebab aku masih kaget dengan caranya yang bisa membuatku bahagia dalam sekejap.
 
Apa yang barusan terjadi ini bukan mimpi, kan? Dia membawakanku es krim buat menghibur kondisi hatiku yang buruk ini betul-betul kenyataan? Biasanya orang enggak mau bangun dari mimpi, sedangkan kali ini aku rasanya tak mau bermimpi karena kenyataan terlalu indah.
 
Mungkin aku benar-benar terkejut atas hal menggembirakan yang baru saja kualami. Bicara soal terkejut, aku pernah mengetik “terkejut” dengan tipo menjadi “terjekut” ketika membalas pesannya seminggu yang lalu. Dia pun meledekku beberapa kali menggunakan diksi itu. Konyol sekali. Aku yang akrab dengan dunia tulis-menulis dan terbiasa mengoreksi naskah langsung merasa tolol banget lantaran bisa-bisanya salah ketik semacam itu. Bagaimana mau jadi editor ataupun penulis jika akhir-akhir ini saat bertukar pesan sama dia justru keseringan tipo?
 
Namun, aku sepertinya enggak keberatan kalau sering salah ketik, apalagi tampak bodoh di depan dia. Aku enggak perlu jadi sosok penulis ataupun pencerita saat bersama dia, kan? Aku juga enggak harus tampil dewasa dan berwibawa. Kadang-kadang aku malah bisa menempatkan diri sejenak menjadi seseorang yang masih seumuran dengannya. Menjadi mahasiswa kembali.
 
Adakalanya terdapat sosok di dalam diriku yang juga ingin menjadi remaja lagi. Remaja yang baru mengenal kasmaran dan melupakan bahwa diriku pernah patah hati sehebat-hebatnya, sampai takut memulai hubungan baru. Aku jadi ingin terus mempertahankan secuil sisi kanak-kanak di dalam diri. Agar aku bisa tetap jadi seorang bocah yang disuguhkan es krim dan dengan gampangnya merasa bahagia. Syukur-syukur aku bisa menjadi anak kecil dalam novel Ziggy Z. yang mengartikan masa depan sebagai minggu depan, bukan dunia yang miskin kesempatan. Serta menjadi anak kecil yang bisa percaya tanpa takut kecewa, yang bisa menyayangi tanpa takut dikhianati.
 
Barangkali kalimat-kalimatku barusan sangatlah berlebihan. Lagi pula itu cuma dikasih es krim McFlurry Oreo kan, kenapa bisa-bisanya aku langsung luluh? Tapi tak apa-apa. Karena sepanjang masa pagebluk ini aku memang keseringan bersedih, sedangkan kini aku justru bisa bahagia dengan hal yang teramat receh. Aku sepertinya belum pernah sebahagia ini pada 2020. Mungkin juga es krim itu secara tak langsung mengingatkanku tentang filosofi hidup tentangnya: “Nikmatilah sebelum meleleh.” Jadi, sementara ini aku ingin menghabiskan rasa manisnya, menikmati hidup sebaik-baiknya, tanpa merasa terlalu cemas lagi. Walaupun jauh di dalam diri ini aku begitu paham, bahwa di depan sana pasti ada kesedihan yang telah menantiku kembali.
 
Berhubung aku kerap takut mendoakan kebahagiaanku sendiri, bahkan aku lupa kapan terakhir kali berdoa demi kebaikanku, sebab terkadang percuma atau tak terkabul.  Kenyataan yang kejam itu hampir tak pernah berjalan sesuai niat dan kehendakku. Setidaknya, kali ini saja izinkan aku berdoa untuk perempuan yang menyuguhkanku es krim dan membuat pagiku menjadi manis: Semoga kebaikan yang telah kamu berikan kepadaku selalu menjadi hal baik bagi dirimu sendiri ke depannya. Aamiin.

Akhir kata, terima kasih sudah membuat pagiku yang mulanya gundah menjadi indah.

--


Gambar saya ambil dari anime The Tatami Galaxy.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

8 comments

  1. Aduh penutupannya, I can't handle this, takut diabetes, terlalu manis!!
    Tapi nih, saat penyampaian "tak pernah mendoakan diri sendiri", aku kayak berkaca, soalnya aku udah jarang mendoakan diriku. Hahaha..
    Lebih enak mendoakan orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa begitu, ya? Hahaha. Rasanya mendoakan orang lain tuh ringan sekali, giliran buat diri sendiri berat. XD

      Delete
  2. Wuisssh bikin ngiri aaja sih ah...
    Andai aku juga dikirimin eskrim...
    pasti hari-hariku juga indah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak usah iri, itu tertera kisahnya fiksi, kan? :p

      Delete
  3. Isshhhhh so sweeeet banget bacanya :D. Memang ya Yog, perhatian kecil seperti itu aja, kdg bisa sangat berarti dan make a day untuk si penerima :). Apalagi dalam bentuk eskrim yg dingin dan manis. Mendinginkan hari dan hati ;) ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Justru perhatian kecil semacam itu bisa jadi spesial. Kadang malah yang berlebihan itu juga enggak baik.

      Delete
  4. Gak kuat bacanya. Yoga kalau punya pacar kayaknya antara jadi romantis banget, atau psiko abis. Kan itu beda-beda tipis ya. Hahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sialan. Ahaha. Tapi gue kayaknya kalau sayang memang sampai mendalam gitu. Bahkan yang sebentar aja kalau betulan menyentuh perasaan pasti sulit terlupakan.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.