Dari Eliseo Arancibia kepada Rigoberto Belano
Aku telah menerima empat surat darimu dan aku rasa itu sudah cukup. Jangan mengorek-ngorek penderitaan keluargaku. Jangan menodai ingatan putriku dengan dugaan dan spekulasi yang tak berujung. Tolong, hentikan. Fakta-faktanya jelas, dan aku tak mengerti mengapa aku harus memercayai kecurigaanmu ketimbang laporan polisi. Sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa putriku diambil dari kami di masa mudanya yang mekar, dan sayangnya, begitulah adanya.
Mengenai pengiriman surat-surat Patricia kepadamu, jawabanku adalah tidak. Aku tak tahu surat-surat apa yang kau maksud. Dan andaikan aku tahu, aku khawatir kau bukanlah penerima yang pantas. Ketika waktu telah menjalankan tugas penyembuhannya, aku akan bisa dengan tenang dan sabar mengumpulkan tulisan-tulisan putriku yang tercecer dan menerbitkannya dengan cara yang layak. Aku punya banyak teman editor. Karena itu, aku mohon, janganlah mengangkat dirimu sendiri sebagai pelaksana sastra jika tak ada yang memintamu melakukannya.
Ujung-ujungnya: jangan memanfaatkan hilangnya putriku. Tidak secara politis, dan tidak pula secara sastra. Mengenai hal ini, aku merasa wajib untuk menegaskan. Kau enggak berhak. Patricia memandang rendah hal-hal remeh yang kurasakan dari niatmu. Aku tak perlu memberi tahumu bahwa jika sampai terjadi, aku tidak akan ragu untuk mengambil langkah hukum.
Jika kata-kataku kasar, aku minta maaf. Harap maklum, aku seorang ayah yang patah hati. Kau, di sisi lain, adalah seorang pemuda dan kau harus memikirkan masa depanmu.
Aku lampirkan majalah kami, Chilean Painters Here and Abroad, dengan profil Onésimo Echaurren yang mungkin bisa kau nikmati.
Mimpi
Bertahun-tahun setelah kematian Patricia Arancibia, aku mulai bermimpi tentang kota yang gelap. Seorang anak laki-laki, tujuh belas tahun, berjalan di jalanan yang kosong, diapit oleh gedung-gedung tinggi. Langkahnya panjang, hampir seperti kucing. Aku tak bisa mengatakan mengapa, tetapi aku yakin dia berusia tujuh belas tahun. Aku juga yakin akan keberaniannya. Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam longgar yang berkibar-kibar tertiup angin seperti bendera. Dia mengenakan sepatu kets yang dulunya berwarna putih tetapi dalam mimpi itu warnanya enggak jelas. Dia berambut panjang dan meskipun wajahnya tetap dalam bayangan, aku melihat sekilas mata serigala atau anjing hutan yang gelap. Jalanannya luas, sebagian beraspal, sebagian berbatu, tetapi luas dan kosong. Anak itu berlari kecil, senang masih hidup, senang karena angin hangat mengibaskan pakaiannya. Lantas empat atau lima orang muncul. Mereka semua saling mengenal dan mereka berjalan bersama untuk sementara waktu. Selanjutnya anak itu dan teman-temannya berhenti di sebuah tempat pengamatan. Di bawah mereka terdapat jurang, dan, di kejauhan, siluet bangunan-bangunan lain. Di antara bangunan-bangunan itu berdiri bioskop, yang megah seperti empat katedral dan empat lapangan sepak bola. Diorama. Anak itu dan teman-temannya mengagumi pemandangan yang gelap dan mengeluarkan botol-botol bir serta narkoba dari suatu tempat. Sedikit demi sedikit, gerakan mereka menjadi lebih mengganggu. Mereka memberi isyarat, berdebat. Salah satu dari mereka, gemuk dan mengenakan celana ketat, mencengkeram leher anak itu dan melemparkannya ke tengah jalan. Yang lain tertawa. Kemudian sebuah pisau muncul di tangan anak itu dan dia melangkah ke arah pria gemuk itu. Tidak seorang pun melihat apa pun, tetapi tawa itu membeku. Pria gemuk itu menerima pukulan di perut. Dia bisa merasakan ketegangan di lengan anak itu. Tekad anak itu, diwarnai dengan rasa jijik. Rasa jijik ditaklukkan oleh kekuatan pendorong lengannya. Lalu kekacauan dimulai.
Dari Lola Fontfreda untuk Rigoberto Belano
Aku orang Catalan. Aku seorang ateis. Aku tak percaya hantu. Tapi kemarin Fernando datang kepadaku dalam mimpi. Dia berdiri di samping tempat tidurku dan memintaku untuk merawat anak itu. Dia memintaku untuk memaafkannya karena tidak meninggalkan apa pun untukku. Dia memintaku untuk memaafkannya lantaran tidak mencintaiku. Tidak. Dia memintaku untuk memaafkannya karena mencintaiku lebih sedikit ketimbang dia mencintai buku. Tapi anak itu menebus semua itu, ujarnya, sebab dia mencintainya lebih dari segalanya. Keduanya: Didac dan Eric. Sebenarnya, anak-anak itulah yang dia katakan, yang bisa jadi merujuk pada semua anak di dunia, bukan hanya anak-anaknya sendiri. Lalu dia bangkit dan pergi ke ruangan lain. Aku mengikutinya. Itu adalah kamar rumah sakit. Fernando membuka pakaian dan naik ke salah satu tempat tidur. Tempat tidur lainnya kosong, meskipun seprai kusut dan beberapa dalam kondisi sangat kotor. Aku pergi ke tempat tidur Fernando dan menggenggam tangannya. Kami saling tersenyum. Aku kepanasan, katanya, rasakan dahiku, seberapa tinggi demamku? Seratus tujuh, jawabku. Aku tak tahu mengapa, sebab tak ada cara untuk mengukur suhunya. Kau begitu teliti sampai menakutkan, ujarnya, tetapi sekarang kau harus pergi. Kupikir dia salah mengira aku sebagai wanita Swedia itu. Ketika aku keluar, aku mulai menangis. Kurasa Fernando juga menangis. Dari sini seseorang bisa kembali ke mana saja, katanya, tolong jangan masuk. Aku keluar dan duduk di kursi di aula. Tidak ada perawat atau dokter atau anggota keluarga di mana pun. Tak lama kemudian aku mendengar Fernando menjerit. Jeritannya mengerikan, diikuti siulan, dan aku enggak tahan tapi aku tak bergerak. Fernando menjerit dari lubuk jiwanya, terkadang menusuk dan terkadang serak, seolah-olah tenggorokannya terbakar. Dia tampak meminta air. Dia tampak memanggil ternak. Dia tampak bersiul sebuah lagu. Lalu aku terbangun. Aku gemetar dan basah kuyup oleh keringat. Butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa aku juga menangis. Karena aku tak bisa tidur lagi, aku memutuskan untuk menulis ini. Sekarang kurasa aku harus mengirimkannya kepadamu.

0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.