Pengecut yang Ingin Berhenti Bersembunyi

Akbar adalah seorang karyawan kantoran biasa, bekerja sebagai admin penginput data, yang baru saja mengambil izin cuti selama tiga hari. Sejak pagi pukul tujuh, dia sedang mencoba menyortir tumpukan barang yang sudah lama teronggok di lemari. Ini bukan karena dia berniat pindah indekos, melainkan cuma perkara rasa bosan yang sudah mencapai tingkat akut. Entah kegiatannya ini demi menghapus kebosanan atau mengelabui pikiran yang sepi, yang jelas dia ingin izin cutinya sedikit bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Akbar sejak awal sadar bahwa dia izin cuti memang hanya untuk rehat dari rutinitas kerja. Dia tidak merencanakan untuk liburan atau pergi ke suatu tempat. Toh, dia juga sedang bokek. Dia juga tak ada janji kencan bersama pacar, sebab selama 29 tahun hidup ini dia masih perjaka tulen dan belum pernah berpacaran.

Di antara barang-barang rusak dan buku-buku zaman kuliah yang sebagian sudah digerogoti rayap, Akbar melihat sebuah bloknot kecil yang menarik perhatiannya. Sampulnya bergambar perahu animasi yang warnanya sudah memudar—sisa-sisa dari masa SMP. Itu bukanlah buku diari anak remaja sebagaimana anak-anak sepantarannya dulu suka menulis cerita, melainkan sebuah jurnal iseng, wadah dia pernah mencatat mimpi-mimpi tololnya.

Akbar pun membuka bloknot tersebut, dan di halaman pertama itu terdapat tulisan tangan yang jauh dari kata rapi untuk anak SMP. Terdapat kalimat yang dia berikan garis bawah tiga kali, yang semakin ke bawah garisnya kian memendek: “Rencana hidup dalam waktu dekat: Harus lebih berani dari Bagas. Jangan mau dipanggil Akbar Culun lagi.”

Akbar tertawa. Rencana konyol dari dirinya pada masa bocah yang dulu adalah seorang pengecut, dan harus berubah menjadi lebih berani seperti Bagas serta menjadikannya sebagai patokan ukur. Sayangnya, tawa itu seketika langsung sirna sewaktu Akbar sadar bahwa Bagas telah wafat.




Tangan Akbar yang sedang memegang bloknot itu gemetar. Udara di kamar yang pengap tiba-tiba terasa dingin dan membeku. Kematian Bagas, yang terjadi sepuluh tahun lalu, terasa seperti baru saja diumumkan di ambang pintu. Oh bagaimana mungkin, Bagas, anak yang paling berani dan tergolong kuat, malah sudah dipanggil oleh takdir?

Namun, begitulah adanya. Akbar pun kini mau tak mau harus mencari dan membaca ulang fragmen masa lalu yang dulu pernah dia simpan di arsip blognya.

*

Aku tak tahu saat ini ada angin apa yang tiba-tiba membuatku harus mengenang kisah kawan lamaku yang bernama Bagas. Pada masa kecilku yang dungu, ketika segala tetek bengek cinta belum memiliki arti, atau saat isi kepala hanyalah bermain kelereng, sepak bola kampung menggunakan bola plastik dan sandal sebagai gawangnya, serta petak umpet.

Aku berhenti pada frasa “petak umpet”, karena ingatanku langsung melompat begitu saja kepada Bagas. Suatu hari, sekitar 10 tahun silam, sewaktu kami sedang bermain petak umpet bersama kawan-kawan sekaligus tetangga di sekitar rumah, aku dan Bagas tengah bersembunyi di gang sempit yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki.

Kondisi gang yang sempit, gelap, dan bau got sungguh membuat kami tak betah berada di sini. Tapi hanya inilah tempat persembunyian paling oke di area rumah. Aku pun menyuruh Bagas untuk mengintip demi mencari tahu situasi sekarang. Lalu, beberapa detik kemudian, Alfi—yang sialnya kebagian jaga—tiba-tiba melihat ke arah kami.

“Wah, Bayu ngintip di gang kecil. Mampus lu ketahuan!” ujar Alfi berteriak sembari berlari kencang menuju ‘pos jaga’ sambil meneriakkan “Bayu bon!”

Bagas yang semula di sebelahku akhirnya langsung keluar dari tempat persembunyian dan berteriak, “Woi, salah sebut! Gue Bagas bukan Bayu. Terus di sebelah gue si Akbar.” Kalimat barusan lantas disusul lagi dengan teriakan: “Mampus, salah sebut. Kebakaran. Kebakaran. Kebakaran.”

Aku tak tahu bagaimana di daerah lain, tapi di daerahku, pada zaman itu istilah “kebakaran” memang lazim dipakai untuk permainan petak umpet ketika si penjaga salah menyebutkan nama pemain yang bersembunyi.

Aku, yang saat bocah memang tolol dan lupa bahwa arti kebakaran bisa diartikan secara harfiah oleh siapa pun yang mendengarnya, justru ikut-ikutan saja mengucap, “Kebakaran. Kebakaran.”

Seketika itu pula, ibu-ibu yang asyik merumpi di teras depan langsung panik. Mereka menghentikan segala gosip, menunjuk kami berdua. “Serius ada kebakaran? Di mana?” Bahkan, ada ibu-ibu yang sudah menenteng ember dan gayung berisi air, seolah siap menjadi pemadam kebakaran dadakan. Tentu saja, aku dan Bagas kena omel habis-habisan karena kebodohan salah sebut yang berujung salah paham itu.

Begitulah kenanganku terhadap Bagas. Sebuah memori tolol, tapi entah mengapa masih terekam jelas di otakku hingga kini.

Bagas juga memiliki ciri-ciri fisik yang gampang diingat: rambutnya keriting dan acak-acakan karena jarang disisir, badannya tidak bisa dibilang kurus tapi juga jauh dari kata gemuk, atau sebut saja hampir ideal, dan yang paling khas adalah berjidat lebar dan jenong. Setidaknya, itu adalah penampakan terakhirnya yang kuingat.

Kami berteman sejak aku masih kelas empat SD, dan Bagas adalah adik kelasku. Usia kami hanya beda dua tahun, tapi pertemanan kami sungguh akrab. Sayangnya, saat dia masuk SMP, Bagas harus pindah rumah mengikuti kemauan orang tuanya. Sejak itu, kami akhirnya mulai terpisah.

Bagas di mataku pada masa itu adalah definisi keberanian sejati. Kami, sekelompok bocah kampung, sering sekali mencari tumpangan gratis di mobil pikap terbuka—atau sebut saja mengompreng. Bagi kami, mengompreng adalah suatu keahlian yang harus dimiliki seorang laki-laki, atau semacam pencapaian macho yang jauh lebih keren ketimbang naik angkot berdesakan. Kalaupun terpaksa naik angkot, kami memilih bergelantungan di pintunya seakan sedang menantang maut sambil tertawa. Dalam urusan mengompreng, Bagas pasti jadi yang paling depan. Lari secepat kilat, dan hap! Bagas langsung melompat ke belakang bak mobil pikap maupun truk yang masih melaju. Dia tak pernah memikirkan risiko terjatuh maupun kecelakaan.

Bagas juga tipe anak yang senang sekali mencari masalah. Hanya gara-gara ketika bermain sepak bola disikut sedikit oleh tim lawan, dia langsung menarik kaos orang itu dan bersiap untuk baku hantam. Dia tak pernah takut menghadapi lawan, bahkan jika yang dihadapinya adalah anak dari kampung sebelah yang badannya dua kali lebih besar.

Lantas, bagaimana dengan aku? Saat bocah, aku lebih cocok disebut pengecut sejati. Aku lebih suka menghindari perkelahian. Kadang, aku perlu berpikir dulu seribu kali sebelum berkelahi dengan yang lebih besar. Meskipun kalau sudah terdesak emosi, ujung-ujungnya aku pasti ikut gebuk-gebukan juga. Zaman itu memang masa-masa kami yang paling alay, masa ketika kenakalan atau menantang bahaya terasa keren.

Sejauh yang aku ingat, Bagas bahkan tidak segan-segan menghajar kawan sendiri jika candaan itu dirasa kelewat batas. Dia memang tak pandang bulu soal pukul-memukul. Kecuali satu hal: dia tak pernah berani berkelahi denganku. Entah mengapa, dia seolah menaruh rasa hormat pada teman yang lebih tua, terlebih lagi, akulah teman pertamanya ketika dia waktu itu menjadi tetangga baru di lingkungan kami. Jika dia serius, padahal aku yakin Bagas pasti menang telak dalam melawanku.

Setelah dia pindah, aku sempat mendengar kabar burung bahwa Bagas mulai merokok saat SMP, lalu juga mulai terlibat dalam urusan tawuran. Astagfirullah.

Meski demikian, Bagas bukanlah anak yang sungguh nakal dan tanpa kebaikan. Setahuku, dia masih menurut apa perkataan orang tuanya. Masih rajin salat dan mengaji. Bagas bahkan salah satu yang paling pantang meninggalkan kawan ketika mereka sedang kesusahan. Seperti kisah Agus, teman kami, yang suatu hari diincar oleh tiga anak dari sekolah lain. Perkaranya teramat sepele, hanya adu mulut soal nama orang tua.

Jadi, kala Agus sedang dikeroyok di jalanan sepi, Bagas yang kebetulan melintas pun melihatnya. Dia tak peduli kalau harus dua lawan tiga, dan dia langsung lari menuju TKP sembari berteriak layaknya seorang jagoan, “Woi! Kalau berani, mainnya jangan keroyokan dong!” Bagas benar-benar maju menolong Agus, dan berkelahi sampai ketiga pengeroyok itu lari tunggang langgang.

Mendengar Agus mengisahkan momen yang penuh nostalgia itu sungguh membuatku takjub. Coba itu aku, aku pasti akan lari ke mereka dan bilang, “Eh, jangan keroyok Agus ya. Dia temen gue. Maafin temen gue. Damai aja kita.” Bukan perkelahian yang berhenti, justru aku yang ikut babak belur bersama Agus. Aku memang sebegitu culunnya ketika SD.


Jika kau bertanya-tanya, kenapa aku harus menuliskan semua ini? Karena awal April 2015 kemarin, setelah tujuh tahun berpisah dengan Bagas, tepatnya dua minggu sebelum jadwal Ujian Nasional anak SMA akan dilaksanakan, Bagas, sang jagoan yang pemberani dan tak gentar dalam perkelahian, baru saja dikabarkan meninggal.


Pagi itu, sekitar pukul setengah tujuh, aku masih asyik mendekap guling, menikmati hari-hariku sebagai seorang pengangguran (aku baru lulus SMA, belum memutuskan ingin lanjut kuliah atau bekerja). Lalu suara ibuku yang terdengar keras sekaligus panik hinggap di telingaku untuk menyuruhku bangun. Beliau juga menggoyangkan tubuhku.

“Ada apa, Bu? Ganggu orang lagi mimpi indah aja,” ujarku setengah sadar, mataku pun masih enggan terbuka.

“Bagas, Le,” ujar ibuku. “Teman masa kecilmu dulu meninggal.”

Aku terkejut dan langsung melek. Meski masih belum paham Bagas mana yang dimaksud, sehingga aku kembali bertanya, “Bagas siapa?”

Ibuku pun akhirnya memberikan jawaban detail, “Bagas yang dulu waktu SD sering main sama kamu, yang dulu tinggal di samping rumah Arya.”

Barulah aku betul-betul tersentak. Aku duduk tegak di tepi ranjang. Aku kembali bertanya untuk lebih detailnya. Apakah dia sakit? Kecelakaan? Atau kenapa? Ibu lantas menjelaskan apa yang dia dengar dari tetangga: Bagas tewas dikeroyok dan dibacok oleh murid-murid sekolah lain. Motifnya adalah dendam. Katanya, sore itu sepulang sekolah Bagas hendak berangkat mengaji, kemudian dia diberhentikan oleh dua motor yang dinaiki empat orang siswa SMA yang sekolahnya pernah kalah tawuran melawan SMA Bagas. Nasib Bagas begitu apes karena dia tidak membawa senjata apa-apa, sedangkan lawannya menggunakan senjata tajam. Empat lawan satu. Itu jelas mustahil Bagas bisa menang dalam perkelahian.

Aku benar-benar terdiam. Tak sanggup berkata-kata lagi. Bagas setahuku sudah kelas tiga SMA. Sebentar lagi dia akan menghadapi UN, kemudian lulus sekolah. Namun, takdir rupanya lebih dulu menjemputnya.

Meskipun sudah tujuh tahun tak bertemu, berita duka tentang kawan masa kecilku itu sontak membuatku kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku. Segala kenangan pahit dan manis berseliweran di kepalaku. Kenakalan bodoh yang kami lakukan dulu tiba-tiba muncul seperti film yang diputar paksa. Mengompreng pikap ataupun meloncat turun dari bak truk yang masih melaju demi alasan menjadi laki-laki jantan, dikejar-kejar anak kampung sebelah karena kami ketahuan mencoret tembok di wilayah mereka dengan pilox kemudian berakhir lolos, hingga istilah permainan petak umpet yang bikin ibu-ibu di sekitar mengira ada kebakaran sungguhan.

Ya, harus kuakui, engkau memang sudah mati, Gas. Tapi segala kenangan tentangmu tidak akan pernah mati. Kisahmu dan segala kenakalanmu yang berujung heroik itu akan selalu hidup di dalam hati teman-temanmu, termasuk aku.

Selamat jalan, Katon Bagaskara.

19 April 2015.

*


Akbar menutup tulisan blog itu. Di pojok kanan layar menunjukkan tanggal 10 Desember 2025. Sudah sepuluh tahun lebih delapan bulan sejak dia menulis obituari sederhana itu di platform daring. Akbar menatap lagi bloknot lusuh itu. Tinta biru dari tulisan yang dia buat di masa lalu seolah baru mengering.

Selama sepuluh tahun ini, Akbar selalu mencoba hidup lurus saja, dan seolah rencana menjadi lebih berani dari Bagas tak pernah ada. Akbar menjadi orang yang sangat berhati-hati. Dia menghindari tawuran dan segala kenakalan remaja yang mungkin bisa membawanya ke jalan maut. Selepas dewasa, Akbar juga mengambil pekerjaan yang stabil dan minim risiko. Intinya, Akbar selalu memilih jalan yang paling aman.

Ironi terbesarnya adalah ini: Bagas tewas dalam keramaian, dikeroyok dan dibacok ketika hendak berangkat mengaji, tapi pada akhirnya dia mati sendirian dalam ketiadaan dan hampir dilupakan oleh teman masa kecilnya. Sementara Akbar, masih hidup dikelilingi keramaian kantor dan hiruk pikuk kota Jakarta, tapi di hari liburnya, dia pasti memilih bersembunyi dalam kesendirian di kamar indekosnya. Siapa sebetulnya yang berhasil lolos dalam permainan petak umpet ini?

Kematian Bagas dulu terasa seperti akhir yang brutal. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, kematiannya terasa seperti sebuah koma yang sangat panjang dalam hidup Akbar.

Apakah aku harus terus bersembunyi dari takdir? tanya Akbar di dalam hatinya. Barangkali bersembunyi dari takdir adalah semacam hukuman yang lebih senyap dan lebih panjang ketimbang kematian itu sendiri. Kematian Bagas, ujar Akbar, ternyata hanyalah awal dari petak umpetku yang tak berujung. Apakah sudah saatnya si pengecut ini menjadi pemberani?

0 Comments