Sebulan yang lalu, dalam suatu malam jenuh ketika diriku sedang berselancar di internet, aku menemukan sebuah komentar seorang kenalan, dan dia menuliskan kalimat yang tajam di blog salah satu kawanku: “Tulisan apaan ini, sih? Enggak jelas amat.”
Aku tertegun. Ada semacam kejujuran yang brutal di sana, jenis kejujuran yang biasanya hanya dimiliki oleh kritikus yang tak lagi mengenal takut. Kita (di sini aku merujuk pada siapa saja yang pernah merasa dirinya seorang penulis) sejatinya memang memiliki kengerian terhadap tulisan-tulisan buruk. Aku sendiri kerap membencinya dengan emosi yang meluap-luap, seolah-olah tulisan buruk adalah sejenis kanker stadium akhir yang mematikan.
Namun, mari kita merenung untuk sebentar saja, bahwa enggak semua bloger ingin menjadi penulis hebat. Tidak semua orang ingin menjadi seperti Borges atau BolaƱo atau Gabo (Gabriel Garcia Marquez). Kebanyakan dari mereka hanya ingin memuntahkan kata-kata. Mereka mengisi blog untuk menuangkan isi kepala yang riuh, unek-unek di hati, atau sekadar memindahkan kesedihan ke dalam wadah digital. Dan di sana, di hadapan kejujuran yang rapuh itu, terkadang muncul si pemberi komentar dengan senyum sinisnya, seolah-olah ia adalah penjaga neraka yang siap menghukum para pendosa.
Jujur saja, aku tidak tega sewaktu melihat komentar semacam itu. Terutama karena blog itu milik seorang perempuan yang aku tahu betul hanya ingin curhat. Aku lantas membatin: Jika kamu enggak suka dengan tulisan itu, sesungguhnya kamu bisa menahan diri. Tak perlu meninggalkan komentar.
Tentu saja, kita semua tahu bahwa mulut, atau dalam hal ini ujung jari, lebih tajam daripada pisau atau pedang mana pun. Luka iris di tangan biasanya bisa sembuh dalam 3-7 hari, kemudian kulit akan menutup kembali seperti sedia kala. Nah, bagaimana dengan berbagai kalimat pedas yang sampai melukai lawan bicara? Ia barangkali akan menetap di sana, di sebuah sudut gelap ingatan ataupun di lubuk hati, bahkan akan bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.
Namun, inilah bagian yang paling mengerikan, bagian yang membuatku merasa seperti tokoh utama anime yang menyadari bahwa tangannya sendiri berlumuran darah demi suatu perdamaian dunia. Tanpa perlu membohongi diri, aku sendiri pernah melakukannya. Aku bukanlah malaikat yang luput dari dosa. Aku sempat menjadi bajingan yang sama: menghajar orang secara terbuka, entah lewat komentar sinis atau esai yang kutulis dengan arogan.
Meski banyak yang bilang kalau mengkritik itu sebaiknya disampaikan secara privat agar orang itu tak perlu menanggung malu, tapi ada pula yang berargumen bahwa kritik harus disampaikan dengan gamblang di depan publik agar bisa sekalian menjadi pelajaran bagi khalayak. Aku sendiri sering bingung harus berdiri di pihak yang mana.
Mungkin kejadian baru-baru ini merupakan pengalamanku yang paling konyol. Aku saat itu tengah membaca suatu tulisan blog yang mengisahkan tentang berbagai hal, mulai dari pemikirannya terkait tulisan fiksi hingga ke sebuah berita duka. Biasanya, aku memilih diam atau mengirim doa dalam hati, sebuah tindakan yang jauh lebih aman daripada mengetik kalimat “Turut berduka cita, ya.” yang sering kali terasa hambar dan cuma basa-basi. Maka, kala itu aku pun memutuskan untuk tidak mengucapkan kalimat belasungkawa. Aku memilih untuk mengomentari hal lain. Dan di sanalah, jari-jariku, yang tadinya seekor kucing rumahan manis tiba-tiba berubah menjadi seekor singa kelaparan, justru bisa-bisanya mengetik serampangan. Aku mulai sok tahu tentang penulisan fiksi, lebih tepatnya tentang alasan kenapa fiksi harus masuk akal sementara kenyataan boleh di luar nalar, sebuah argumen yang sebenarnya aku comot dari esai seorang sastrawan ternama.
Dengan mengklik “publikasikan”, aku baru saja mengirimkan seluruh ketololanku ke dunia maya. Aku benar-benar khilaf sampai lupa membaca ulang komentarku sendiri. Aku bisa-bisanya luput bahwa di balik layar itu ada manusia yang mungkin sedang menangis. Aku baru tersadar setelah semuanya terlambat.
Bagusnya, blog itu memiliki sistem moderasi. Komentarku tertahan di sana, seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis di depan pintu pengadilan. Aku hanya bisa berharap pemilik blog itu cukup waras untuk segera menghapus sampah busuk yang kukirimkan. Aku tentu tak bisa mengatur bagaimana dia harus bereaksi. Aku hanya bisa mengontrol diriku sendiri, yang ternyata ini adalah tugas yang jauh lebih sulit daripada diminta menulis sepuluh puisi.
Pada momen menjelang Idulfitri ini, aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada diriku sendiri: Semoga lain kali aku bisa belajar untuk lebih menahan diri. Toh, puasa memang bukan cuma menahan rasa lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri dari nafsu untuk merasa paling paham di kolom komentar orang lain. Jadi, mohon maaf lahir dan batin bagi siapa saja yang pernah tergores oleh ketajaman jempolku yang suka kurang ajar ini. Selamat Lebaran, Kawan-Kawan. Mohon maaf atas segala keberisikan yang tak perlu ini.

0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.