Pelayanan di Sebuah Warteg dan Persoalan Mengantre

17 comments
Sudah setahun belakangan ini saya heran dengan sistem pelayanan di warteg dekat rumah. Orang yang duluan dilayani oleh penjualnya itu yang mana, sih? Selama ini yang saya tahu, di tempat makan mana pun, orang yang pertama datang tentu akan mendapat pelayanan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh orang yang datang berikutnya. Dan begitu seterusnya mengikuti antrean. 

Namun, setiap kali saya membeli makanan di warteg itu pada pagi hari dan suasananya sedang ramai, pasti ada saja ibu-ibu yang menyerobot giliran saya. Biasanya, saya akan mengalah jika cuma 2-3 orang. Saya pun kerap kali menghindar berdebat dengan ibu-ibu. Sebab saya tahu, nantinya persoalan akan panjang dan saya bakalan tetap kalah dan salah, meskipun posisi saya itu benar.

Rasanya, saya sudah terlalu sering memaklumi hal itu. Saya tidak ingin bungkam melulu. Saya harus bertindak. Sayangnya, ketika saya sudah melakukan protes kepada penjualnya, “Mbak, maaf nih ya, yang datang kan saya duluan. Kok malah ibu itu yang dilayanin?” Eh, ibu-ibu yang saya maksud itu segera melirik saya sinis, sedangkan penjualnya hanya diam saja dan tetap melayani ibu-ibu tersebut. 

Saya sudah betul-betul bingung, kenapa saya terlalu sering diselak di warteg itu. Saya sadar sih, saya memang hanya membeli sebungkus nasi megono dengan lauk tempe goreng dan telur dadar—yang harganya tidak lebih dari sepuluh ribu. Tapi, apakah di mata penjualnya ini nilai saya jadi lemah, atau lebih-lebih tidak dianggap sebagai pembeli lantaran hal itu? Lalu, apakah ibu-ibu—yang biasanya membeli banyak sayur dan lauk-pauk—itu harus lebih diutamakan? Bukankah dengan segera melayani sesuai antrean (meskipun saya cuma membeli sebungkus nasi) itu justru urusan jadi lebih cepat dan membuat ruangan sedikit lebih longgar?

Anggaplah penjualnya bingung atau lupa atau tidak memperhatikan siapa yang datang lebih dahulu. Mau bagaimana lagi, antrean di warteg memang tidak beraturan karena posisinya memanjang ke samping, bukan ke belakang. Sehingga penjual biasanya akan melayani orang yang dia pilih secara acak, atau yang berada di hadapannya saja. Tapi ketika ada yang memprotes mengenai antrean itu, mengapa penjualnya justru diam saja? Sekalinya menjawab malah mengeluarkan kalimat pamungkas: “Masnya ngalah dong, kasih cewek duluan.”

sumber: https://pixabay.com/id/hewan-bebek-burung-air-menjalankan-2000586/

Yuhu! Penjualnya sungguh bijak sekali. Saya akan ngalah melulu sampai ibu-ibu di antrean itu habis. 

Ayolah, apa gunanya menuntut kesetaraan gender kalau masih menganut paham ladies first saat mengantre? Beberapa perempuan itu sendiri justru masih merasa kaumnya lemah. Namun, saya memberi pengecualian untuk ibu-ibu hamil dan lansia. Masalahnya, keadaan yang terjadi enggak begitu. Nah, apakah mbak-mbak penjual itu takut dengan kemarahan ibu-ibu yang menyelak antrean karena pelayanannya jadi tertunda? Tapi memang ibu-ibu itu yang salah karena mengambil hak orang lain, kan?

Intinya, lagi-lagi saya gagal memperjuangkan hak saya. Oke, ini kelihatannya mungkin berlebihan karena saya mempermasalahkan sesuatu yang sepele. Tapi, kalau orang-orang terbiasa merampas hal kecil seperti itu, lalu orang-orang memakluminya, bisa jadi suatu hari mereka juga akan mengambil bagian kita yang lebih besar, kan? Apa kita baru akan protes ketika darah sudah telanjur menetes? 

Lalu, pernah juga ada kejadian lain di warteg tersebut. Waktu itu hanya sedikit orang yang mengantre di sana. Kalau tidak salah ada empat orang pembeli termasuk saya. Setelah satu orang selesai dilayani, berarti antrean kan tinggal tiga. Saat itulah ada ibu-ibu yang baru masuk dan antrean kembali menjadi empat. Anehnya, dia bisa langsung mendapatkan pelayanan. Mereka, penjual dan pembeli yang baru datang, pun malah mengobrol akrab tanpa merasa ada yang salah. Saya kala itu cuek saja, sebab sedang santai dan malas berdebat. Toh, posisi antrean saya juga yang paling terakhir. Tapi kenapa pembeli yang lain pun cuma bisa melongo ketika haknya diambil? Saya sungguh tidak mengerti, mengapa penjualnya masih keliru dalam melayani saat sepi begitu? Saya pun menduga kalau ibu yang baru datang itu ialah teman dari si penjual. Begitu kan gunanya orang dalam? Membuat segala urusan menjadi lebih mudah dan cepat.

Akhirnya, saya pun jadi bertanya-tanya begini: Apakah penjual di warteg itu terbiasa memberi pelayanan terlebih dahulu kepada pembeli yang lebih cerewet untuk menghindari keributan? Atau mendahulukan pembeli yang mereka kenal, tetangganya misal? Atau mengistimewakan pembeli yang telah menjadi pelanggan tetap dan gemar memborong dagangan di warteg itu? 

Saya sungguh enggak bermaksud menilai buruk ibu-ibu di tulisan ini. Saya sendiri tentu memiliki ibu. Ibu saya juga seorang penjual, tepatnya pedagang nasi uduk. Tapi begitulah kejadian yang saya tangkap di warteg itu. Memang kebanyakan ibu-ibu yang berbelanja. Saya jarang menemukan bapak-bapak yang mengantre. Otomatis, saya pun pasti bersinggungan dengan ibu-ibu terus. Karena resah akan hal ini, saya bahkan sampai mewawancara ibu saya tentang pelayanan ini. 

Kesimpulan dari wawancara iseng bersama ibu saya: 

Ibu saya selalu menerapkan sistem siapa yang datang duluan, maka dialah orang yang akan dilayani. Lalu, kala ibu saya bingung dan tidak tahu siapa yang mesti beliau layani karena lupa atau tidak memperhatikan para pembeli yang datang, beliau pasti bertanya, “Tadi siapa yang datang duluan?”

Saya lalu merespons, gimana kalau ada yang ngaku-ngaku gitu dan saling berebut dirinya yang duluan datang? Syukurnya, beliau mengatakan bahwa sejauh ini pembelinya pada jujur dan belum pernah ada keributan semacam itu. 

“Kalau ada pembeli yang buru-buru minta duluan gimana, Bu? Misalnya, dia pakai alasan udah terlambat ngantor atau anaknya mau berangkat sekolah?” 

Lalu ibu saya menjawab, seandainya ada pembeli yang minta diistimewakan begitu, ibu saya menyerahkan keputusan itu kepada pembeli yang tiba gilirannya untuk dilayani. Apakah jatah antrenya boleh diambil yang lain? Jika pembeli itu mengizinkan, barulah ibu saya mulai melayani pembeli yang mungkin sedang buru-buru itu. Nah, berarti telah terjadi kesepakatan dalam hal itu. 

Namun, mengapa saya enggak pernah menemukan hal-hal semacam itu di warteg yang saya maksud ini? Pikiran ini pun lama-lama semakin tidak keruan. Sampai-sampai muncul pertanyaan seperti ini: Apakah penjualnya tahu kalau saya seorang anak dari pedagang nasi uduk dan mungkin dia anggap sebagai saingan? Sehingga dia pun malas melayani saya? Apa saya salah membeli makanan di tempatnya? Toh, saya bayar tunai. Enggak ngutang. Ya, kalau setiap penjual nasi yang menganggap ibu saya saingan berpikir begitu, masa saya harus makan dagangan ibu saya terus? Makan nasi uduk tiga hari berturut-turut saban pagi, pas hari keempat tentu lidah langsung menolak karena bosan. Lagi pula, bukankah rezeki setiap manusia juga sudah diatur oleh Tuhan? Kenapa mesti mencemaskan saingan dengan sikap tolol seperti itu?

Konyolnya, saya mendadak ingat tulisan Pram, “Harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.” Mau tak mau saya mesti membuang pikiran-pikiran buruk tentang warteg itu. Tapi, pikiran sering di luar kendali. Dan, entah mengapa lama-lama saya jadi malas lagi membeli di warteg itu. Saya ingin pindah ke warteg lain saja. Sialnya, cuma warteg itu yang menjual nasi megono di dekat rumah. Saya belum menemukan menu favorit yang murah itu di warteg lain. Seandainya ada, belum tentu juga rasanya akan lebih enak.

Di tengah kegundahan ini, syukurlah pagi tadi ada kejadian yang menentramkan hati dan pikiran saya akan warteg itu. Mulanya, seperti biasa saat mengantre pasti giliran saya akan diselak oleh ibu-ibu. Kali ini tidak hanya 2-3 orang yang menyerobot antrean, tetapi lebih dari itu dan saya pun malas menghitung berapa banyaknya. Saya sudah menyahut berulang kali untuk minta dilayani kepada penjualnya. Tapi, suara saya seolah-olah tidak terdengar olehnya.

Saya telah menunggu lebih dari 20 menit. Kaki mulai pegal dan perut saya semakin keroncongan. Rasa lapar biasanya membuat saya menjadi orang yang lebih menyebalkan. Saya sudah terlalu kesal akan perlakuan semacam ini. Mau sampai kapan budaya menyerobot antrean ini terjadi? Lebih-lebih berlangsung di dekat tempat tinggal saya. Jika setelah ini saya tetap tidak mendapatkan pelayanan, saya akan protes dengan lebih tegas.

“Ibunya beli apa?” tanya penjual itu kepada ibu-ibu di sebelah kanan saya. 

Asu! Penjual ini lagi-lagi tidak menghiraukan saya. Dia benar-benar membuat saya geram. Tapi, ketika saya sudah ingin melayangkan protes, tiba-tiba ibu-ibu yang di sebelah saya itu bilang, “Maaf, Mbak, saya belakangan aja. Mas ini yang datang duluan.”

Ibu-ibu itu lalu tersenyum dan mempersilakan saya memesan. Hati saya mendadak melunak. Saya segera mengucapkan terima kasih kepadanya. Baru kali ini ada yang menghargai proses mengantre di warteg itu. Walaupun penjualnya tampak sebal akan kejadian barusan dan memasang wajah jutek, saya sudah tidak peduli lagi dan segera menyebutkan menu andalan.

Setelah itu saya membayar dengan uang pas, kemudian pamit Duluan, Bu kepada ibu-ibu yang meredamkan amarah saya. Di jalan menuju rumah, saya kembali memikirkan tindakan ibu-ibu itu. Apa ibu-ibu itu betul tidak ingin mengambil hak orang yang sudah duluan mengantre, atau karena telah membaca raut wajah saya yang menunjukkan kemarahan? Terlepas dari hal itu, kini cara pandang saya kepada kebanyakan ibu-ibu menyebalkan di warteg itu pun perlahan bergeser. Lalu, diam-diam saya berdoa sekaligus berharap semoga banyak ibu-ibu seperti beliau yang sadar betapa pentingnya mengantre.

--

Saya sudah mengirimkan tulisan ini ke dua media daring; yang satu mendapat penolakan seminggu setelah saya kirimkan, yang lainnya sudah hampir dua bulan tidak memberikan jawaban alias kayaknya ditolak juga. Setelah saya baca ulang, saya sadar tulisan ini mungkin kurang cocok disebut esai. Belum pantas terbit di media lain—selain blog ini. Lebih-lebih mereka membayar saya untuk menggerutu. Saya pun mengakui ini semacam bentuk kemarahan saya lewat teks yang telah melalui proses penyuntingan (sebab semua tulisan ini sebetulnya bisa disingkat menjadi satu twit: “Di dekat rumah banyak ibu-ibu kayak tai yang enggak bisa antre! Penjualnya juga sialan karena membela yang salah!”). Sialnya, ada bisikan di hati nurani, Masa bloger tulisannya kayak gitu, sih? Enggak menunjukkan punya kecerdasan dan etika (halah, kentut). Saya akhirnya memilih cara lain supaya marah-marahnya bisa lebih halus dan asyik. Kemudian, keresahan perihal mengantre itu pun ditutup dengan sok-sok berkontemplasi.

Sesungguhnya, dari awal saya memang berniat ingin menuliskannya di blog. Tapi berhubung saya lagi butuh uang, saya pikir kirim ke media bukanlah ide yang buruk. Seandainya nanti dimuat, ya semacam iseng-iseng berhadiah gitulah. Mengingat saya sudah malas dan bingung mau kirim ke mana lagi, jadilah saya taruh di sini saja dan langsung salin-tempel, tanpa perlu repot-repot mengedit lagi. Toh, menurut saya marah-marah di blog seperti ini, meskipun pembacanya tidak seberapa, tentu jauh lebih elegan daripada nyinyir di medsos dengan embel-embel A THREADMakan tuh retweet!
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

17 comments

  1. Nasi megono tuh yang gimana sih, Yog? Kayak nasi dikuahin bumbu masakan padang kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw aura blognya gantiii. Sublimasi meditasi. Keceee <3

      Delete
    2. Bukan. Nasi yang dikasih cacahan nangka muda sama parutan kelapa gitu, May. Itu kayaknya udah dari bulan November saya ganti, enggak lama dari bikin tulisan jeda.

      Delete
  2. Gue malah nggak suka sama nasi megono. :))

    Coba aja lain kali bilang lagi atuh ke ibu2nya. Atau langsung hadang depan muka penjualnya, siapa tahu langsung dilayangin. \:p/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selera. Ehe. Seandainya memang bisa semudah ini. Masalahnya, badanku kecil, terus kegeser-geser oleh ibu-ibu itu. XD

      Delete
  3. Bawaan muka Yog. Bukan perihal jelek atau tampan, tapi kalo penjualnya ngeliat muka konsumen sendu atau susah dan dipandnag rendah, ya mereka akan melayani yang terlihat lebih "gahar" "tua" dan cerewet. Di wateg deket kosan saya juga gitu. makanya saya kalo mau belanja ke warteg ya pas kira2 wartegnya sepi. kalo rame ya kucari warteg lain. kubukan pengabdi rasa.

    Karena pas diingetkan pun biasanya yg nyerobot malah galak, penjualnya juga galak, sebaiknya ikhlas dna langsung pula. Kemudian balik lagi bawa pisau, ikutin ibu2 yg nyerobot. Lakuin deh. Sekadar menyayatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, besok-besok saya mesti pasang wajah sangar, gitu? Hm, enaknya. Lidah saya ini menyebalkan. Ketika udah sreg sama rasa itu, suka malas cari yang lain. Udah coba cari warteg lain juga, tapi belum ketemu yang ada nasi megono. :(

      Sayangnya, hal seperti itu cuma bisa terjadi di kepala. :p

      Delete
  4. Wkwkwkwk nyinyir A Thread apa nihhh? Untung gue bukan anak A Thread :p
    Kalau tempat makanan yang ramai pembelinya sama ibu-ibu, pasti akan serobot nyerobot sih yoggg. Ibu-ibu berlomba lomba pingin segera cepat selesai proses beli membeli. Pedagangnya, keteteran dan enggak sempet untuk fokus siapa pembeli pertama. Kalaupun fokus, yah entah gak tau juga kenapa ibu-ibu yang lebih di prioritaskan.

    Sabar selalu yoga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Termasuk nyinyir juga, ya? Wqwq. Lagi jengah, Na.

      Yang saya permasalahkan, kenapa enggak coba tanya ke para pembelinya. Tadi siapa yang datang duluan. Terus ketika ada yang protes, penjualnya malah suka mencari pembenaran, bahkan jawabnya sewot. Enggak mau mengakui kesalahannya atau bilang begini misal, "Oh, maaf ya, Mas. Saya enggak tahu. Masnya nanti setelah ini."

      Takutnya, sih, menyerobot antrean ini jadi kebiasaan. Pembeli yang enggak tahu aturan pun semakin semena-mena. Saya sebelumnya udah melakukan semacam riset kecil-kecilan selama setahun. Perilaku ibu-ibu di warteg itu berubah atau enggak ketika udah ditegur. Syukur banget, masih ada ibu-ibu yang sadar. Itu aja saya sampai coba tanya-tanya ke ibu saya dengan permasalahan yang serupa karena sama-sama penjual. Takutnya ibu saja begitu juga. Syukurlah jawaban ibu saya tidak mengecewakan. :)

      Delete
  5. Sebagai makhluk yang satu ras sama ibu-ibu, saya juga kadang kesel soal ini. Nyerobot antrian dengan mengatasnamakan "maaf saya lagi antar sekolah anak saya takut telat."

    Ingin ku berkata kasar tapi pasti kualat. Kalo menurut saya ini soal etika sih. Jangankan ibu-ibu ya, mbak-mbak yang seharusnya lebih melek etika pun sama. Sering banget kejadian di toilet mall/bioskop, dengan tampang tak berdosa mereka asal nyerobot ketika pintu toilet udah saya buka. " Aduh duh maaf maaf saya kebelet banget udah diujung nih". Nggak menghargai saya yang daritadi ngantri.

    Jir itu mbak mbak pengen banget saya lelepin di lobang closet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalimat "buat anak sekolah dan takut telat" itu sering dijadikan alasan. Padahal, bisa aja itu beli sarapan buat diri sendiri. Seandainya betul pun, kenapa enggak datang lebih pagi?

      Dikira yang pada antre itu enggak kebelet apa, ya? Pernah denger cerita temen cewek, antrean toilet di sana emang sering mengerikan. Wqwq.

      Delete
  6. Sedih ya Yog... Masih banyak orang2 yg ga tau namanya ngantri :(. Pantes sih kalo anak2nya merekapun hobi nyelak ato ga peduli dengan hak org lain. Aku juga sebel ama org2 gini. Prnah di bandara, abis balik dr umroh, duuh itu antrian toilet panjaaaaaaaang. Tp ada 1 ibu2 setengah tua, yg ngeyel mau duluan masuk. Untungnya ada ibu2 temen2 dia yg marahin, bahwa ga boleh nyerobot antrian. Hrs dibelakang dulu. Kalo tuh ibu g mau nasehatin temennya, aku udh siap2 ceramah panjang lebar soalnya wkwkwkkw.. Dia kira, dia doang yg kebelet apa -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena anak-anak sering meniru dari orang tuanya, ya? :) Duh, kayaknya antre di toilet ini lebih sadis. Hahaha.

      Saya pernah ada kejadian lain, sewaktu lagi antre prasmanan di hajatan sepupu saya. Lalu, ada ibu-ibu main menyelak di tengah-tengah antrean yang panjang itu. Awalnya pengin menegur, tapi takut ramai dan merusak suasana pernikahan. Ya udah, saya berusaha sabar. Eh, karena orang lain juga enggak ada yang bereaksi, ibu-ibu itu malah ngajak beberapa temennya. Konyolnya, orang-orang tetep pada memaklumi gitu. Pas saya mau protes, ditahan sama sepupu saya yang lain. :(

      Rasanya dongkol gimana gitu. Itu saya yang sepupunya alias orang dalam seharusnya bisa bersikap begitu juga, kan. Tapi karena saya jengkel dan benci sama orang-orang sejenis itu, ya saya enggak mau standar ganda. Jadi, sejauh ini masih selalu membiasakan diri buat antre. Jangan sampai mengambil hak orang lain.

      Delete
  7. Di Jakarta ada nasi megono juga? Weh-weh, megono mendunia. Hehehe

    Kalau masalah antrian di serobot orang seperti ini, saya belum pernah ngalamin sepertinya. Pol-polan cuma keteledoran sang abang-abang warmindo yang salah nglayanin. Pernah nih, saya dateng dan pesen makan lebih dulu, e yang jadi duluan malah orang yang datengnya setelah saya. Mungkin keselnya hampir sama kaya yang kamu rasain, Yog. Dongkol banget! Syem!

    Andaikan...semua pedagang seperti ibumu, Yog. Woh, damailah kehidupan masyarakat Indonesia pecinta nasi - nasi bungkus club.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru Jakarta mah mungkin banget. Kalau udah sampai ke luar negeri, terutama Amerika dan Inggris, baru boleh bilang mendunia, Mas Wis. :p

      Kalau atas dasar ketelodoran, sepertinya bisa saya maklumi. Ini mereka semua pada sadar kayaknya buat menyerobot antrean. Kayak gitu saya juga pernah beberapa kali. Tapi biasanya karena pesanan saya yang cara masaknya rumit, dan otomatis jadinya lebih lama.

      Enggak mesti ibu saya, sih. Saya hanya berharap orang-orang mulai menegur kebiasaan yang sering jadi pemakluman ini. Penjualnya juga jangan takut dan malah membela yang salah.

      Delete
  8. Gampang supaya gak bingung siapa yg dateng duluan...
    Ada yg jaga di pintu buat mastiin calon pembeli ambil nomor.
    Nomornya tulis sendiri aja trus laminating pake setrika :D
    Hahahah :D Fair kan yak O_O

    Aku kalo disrobot juga kesel sih.
    Biasanya cuma bisa ngedumel dalem ati ._.
    Gak berani negor. Hahah. Duh...
    Menurutku, budaya nyerobot akan tetap ada sampe kita semua jadi kakek nenek buyut selama itu terus mendapatkan toleransi. Aku bukannya menolerir itu, aku takuuut.. hahah. Sometimes I hate myself for being weak, for being so easily intimidated. Nah temenku tuh yg di postku terakhir.. yg rambutnya panjang, dia berani banget kalo soal negor orang nyerobot. Orangnya galak ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi menerapkan metode kayak gitu di warteg kayaknya bakalan susah. Ini lebih ke kesadaran orang-orangnya.

      Iya, selama orang-orang memaklumi dan menyepelekannya mah akan terus ada sampai kiamat. Wqwq. Coba sesekali tegur, Ran. Nanti lega. :) Saya sebetulnya juga malas berdebat ketika menegur orang yang menyelak gitu. Tapi kalau udah kelewatan, masa mau diem aja?

      Galak apa tegas? :p

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.