Kosong

25 comments
Kosong? Apanya yang kosong? Tulisan ini berisi. Ya, tenang saja. Aku tidak perlu menggunakan trik kuno seperti bloger-bloger kurang kerjaan itu. Kau tahu maksudku, kan? Jika kau belum paham, aku akan menjelaskannya sedikit. Begini: mereka—para bloger yang aku maksud—memberikan judul Kosong di tulisannya sebagaimana yang kaubaca saat ini. Bedanya, mereka benar-benar mengosongkan isinya. Tidak ada satu pun kata di dalamnya setelah kau mengeklik tulisan tersebut.

sumber: https://pixabay.com/id/coder-komputer-meja-tulis-layar-1869306/

Apakah hal itu lucu? Oh, ayolah, humor semacam itu telah usang. Ya, menurutku ide kayak begitu sangatlah norak! Sekali lagi kuulangi, itu betul-betul norak! Kalau sedang nggak punya ide buat bikin tulisan, tolonglah jangan memaksakannya. Buat apa, sih? Menambah jumlah pengunjung? Segitunya amat. Sampah sekali.

Sebelumnya, aku harus mengakui bahwa kalimat yang sedang kaubaca ini sebenarnya juga termasuk sampah. Percisnya, kata-kata ini adalah segala kotoran yang berada di dalam kepalaku dan harus segera dibuang. Maka, kau juga boleh menganggapku sampah. Itu tidak masalah. Penilaianmu tidak akan berpengaruh apa-apa. Setidaknya, sampah yang kutulis ini masih bisa didaur ulang suatu hari. Tidak seperti tulisan kosong keparat itu.

Sudah ada tiga paragraf yang baru saja kaubaca, lalu sekarang kau pun masuk ke paragraf keempat. Ini berarti membuktikan kalau aku tidak membohongimu di tulisan ini. Kau mau meneruskan membacanya? Kuharap kau tidak menyesal. 

Aduh, aku terlalu lama basa-basi, ya? Baiklah, aku akan memulainya. Namun, kau mesti mengetahui fakta ini terlebih dahulu: kisah ini bukanlah milikku, melainkan punyamu. Tugasku hanya menuturkannya. Sungguh, aku tidak bermaksud macam-macam. Aku cuma berusaha mengingatkan memori yang mungkin telah kaulupakan. Apa pun yang terjadi nanti, pokoknya adalah semua tentangmu. Tanamkan di pikiranmu dan ingatlah hal itu baik-baik.

Jika kau sudah tidak sabar, kau hanya perlu bilang: “Aku sudah siap menyimak cerita ini dengan khusyuk.” Ucapkan kalimat barusan. Kau sebenarnya boleh berbicara dalam hati, tapi aku menyarankanmu untuk melafalkannya. Bunyikan dengan lantang. Sampai telingamu mendengar perkataanmu itu dengan jelas dan memahaminya.


Segala kekosongan ini berawal dari pertanyaan salah seorang temanmu di suatu grup WhatsApp, “Blog Agus kenapa tulisannya nggak bisa dikomentarin, ya?” Grup itu bernama: “Paguyuban Belajar Menulis”. Satu-satunya grup yang tidak pernah kaulewatkan obrolannya. Bahkan, kau juga tidak pernah kepikiran untuk mengaktifkan mode mute di grup itu. Karena penasaran, kau kemudian membuka tautan yang sedang dimaksud itu.

Tulisan Agus bercerita tentang kematian orang tua salah satu sahabatnya. Ibu dari kawannya itu selalu bersikap ramah setiap kali Agus bertamu. Belakangan diketahui, ibunya Agus ternyata juga berteman baik dengan si mendiang ini. Persahabatan Agus dengan sohibnya itu seperti turun-temurun dan takdir mungkin memang mempersatukan mereka. Agus pun entah mengapa merasa bagaikan kehilangan ibu kandungnya. Selanjutnya, Agus jadi membicarakan kematian yang bisa datang kapan saja. Intinya, tulisan itu mengajak pembaca berkontemplasi.

Menurutmu, pilihan Agus menutup komentar di tulisannya itu sudah tepat. Kau pun sesungguhnya sangat mengerti, bahwa tidak semua hal perlu dikomentari. Seandainya kolom komentar itu tersedia, kau bahkan nggak tahu harus berkomentar apa mengenai kematian tersebut. Seusai membaca tulisan itu, tiba-tiba ada perasaan sesak di dadamu. Kau bingung mengapa rasa sedih bisa menularimu dengan cepatnya, padahal sebelumnya kau habis tertawa terbahak-bahak menonton video lucu di Youtube. Pergantian suasana hati ini betul-betul membuatmu tidak nyaman. Kau pun jadi ikut merenung dan tidak bisa tidur.

Setahun yang lalu kau pernah mengalami kejadian yang hampir mirip dengan cerita Agus. Hal yang membedakannya, orang tua yang meninggal itu ialah ibunya Rani. Rani adalah mantan kekasihmu. Walaupun hubungan percintaan kalian berakhir, silaturahmi mesti tetap berjalan dengan baik. Kau pun rutin mengikuti tahlilan dari hari pertama sampai hari ketujuh. Lalu dilanjutkan pula dengan 40 dan 100 harian. Sesibuk apa pun dirimu, kau selalu berusaha menyempatkan diri untuk datang dan tidak pernah absen.

Lantaran membaca tulisan Agus, kenangan itu pun langsung menghantam kepalamu malam ini. Kau jadi teringat wajah dan senyuman ibunya Rani setiap kali menyambutmu di rumahnya. Kau juga ingat teh hangat yang beliau sajikan, manisnya bisa selalu pas di lidahmu. Kemudian, hal yang paling tidak bisa kaulupakan: beliau memercayakan anaknya akan baik-baik saja ketika pergi bersamamu. Sayangnya, suatu hari kau malah membuat Rani kecewa dan akhirnya kalian putus. Meskipun demikian, beliau tidak pernah menyalahkanmu. Mungkin belum jodoh, ujarnya. Kalau jodoh juga nanti balik lagi.

Kau pun betul-betul merindukan segala kebaikan beliau—yang sudah seperti ibu kandungmu. Ya, mungkin karena kau dulu pernah berharap bisa menjadi satu keluarga. Pelupuk matamu mulai panas. Tak lama setelah itu akhirnya gerimis turun dan jatuh ke pipimu. Kau sudah tidak mencintai Rani, tentu saja. Tapi karena tidak bisa tidur malam ini, kau pun berniat untuk menuliskan kisah tentang Rani dan ibunya. Kau bermaksud mengabadikan momen yang pernah terjadi dalam bentuk tulisan. Sayangnya, sudah 20 menit berlalu perangkat lunak pengolah kata itu masih saja kosong. Sebetulnya, kau tidak lagi bingung untuk mengawali ceritanya dari mana. Namun, kau jadi berpikir yang tidak-tidak tentang semua ini.

Apakah selama ini, setiap kali menulis, aku sedang mengelabui kematian? Apakah aku juga sebenarnya takut dilupakan kala sudah meninggal? Oleh sebab itu, aku pun memilih untuk menulis supaya bisa abadi seperti yang penulis-penulis terdahulu katakan. Apa betul aku menulis agar suaraku tidak hilang dari sejarah? 

Terlepas dari semua itu, kau memang ingin ada orang-orang yang bisa terus mengingatmu jika suatu hari kelak dirimu meninggalkan dunia yang fana ini. Lalu kau juga berharap supaya mereka mengenang segala kebaikanmu, bukan malah sebaliknya. Meskipun kau sadar diri kalau dirimu itu masih jauh dari kata baik. Setidaknya, kau hanya ingin meninggalkan kenangan di hati pembacamu, bahwa dulu pernah ada seorang penulis yang tulisannya dapat menghibur mereka. Cerita-ceritanya bisa membuat pikiran mereka segar lagi dan sedikit lebih baik dalam menjalani hari. 

Kau nggak pengin menjadi terkenal. Atau, memiliki banyak penggemar pun ogah. Kau menganggap pembacamu itu sama saja derajatnya denganmu. Kau memang tidak lebih baik dari mereka. Tepatnya, kau sepakat dengan kalimat Etgar Keret dalam esainya, “Penulis bukanlah nabi yang berdiri di gerbang; dia hanya pendosa lainnya yang punya kesadaran lebih tajam dan menggunakan bahasa sedikit lebih tepat untuk mendeskripsikan realitas yang tak terbayangkan di dunia kita.” 

Lagi pula, mungkin kau merasa alergi dengan popularitas. Ketenaran itu fana. Kau cuma mau apa yang kautulis itu bisa ada faedahnya bagi orang lain. Itu saja rasanya sudah cukup. Kau selalu menempelkan nasihat ini di kepalamu: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Entahlah tulisanmu selama ini dapat bermanfaat atau tidak bagi orang lain. Namun, kau mungkin sudah berusaha untuk menghibur, mengajak merenung, atau hanya sekadar memberikan informasi bagi orang lain. Bukankah itu juga termasuk manfaat?

Buktinya, kau pernah mendapatkan beberapa terima kasih dari pembacamu di kolom komentar. Katanya, tulisanmu itu bisa menginspirasi mereka. Lalu, kau juga pernah memperoleh komentar, “Anjir, tulisannya kocak banget! Wkwkwk.” Kau pun pernah menerima email khusus dari pembaca yang benar-benar mengapresiasi tulisanmu. Bahkan, ada yang terang-terangan mengatakan begini, “Nice artikel, Gan! Tulisannya bermanfaat banget. Jangan lupa kunjungan balik, ya.”

Kau entah mengapa jadi merasa gembira, sebab bisa sedikit berguna bagi sesama. Celakanya, kebahagiaan yang lagi kaurasakan itu justru memudar kembali karena rasa hampa segera menyergapmu. Sekarang sudah pukul dua dini hari. Waktu di mana orang-orang sedang tidur nyenyak, tapi kau malah seperti satpam kompleks yang masih terjaga. Tapi kemudian kau berpikir, mungkin satpam kompleks jauh lebih baik darimu, sebab mereka menjaga keamanan di lingkungannya. Sekalipun itu sudah menjadi tugasnya dan dia mendapatkan bayaran, tetapi manfaatnya memang jelas bagi orang-orang yang tinggal di kompleks itu.

Sedangkan kau hanya duduk di depan laptop. Berdiam diri menatap layar putih kosong, dan cuma ada garis yang berkedip-kedip. Kalau dipikir-pikir, kegiatan ini sangat tidak berguna sama sekali bagi orang lain. Justru merugikan dirimu sendiri. Kata seorang penyanyi dangdut, begadang itu tiada artinya. Kau pun tahu kalau begadang itu memang nggak baik untuk kesehatan.

Tapi kau sadar kalau hal ini juga masih ada sisi baiknya. Toh, kau belum tidur karena sedang merenung. Terkadang, momen seperti ini bisa asyik bagimu. Pikiranmu dapat pergi jauh sekali. Baik itu ke belakang maupun ke depan. Bagimu otak sudah semacam teknologi bernama mesin waktu. Tadi kau sudah berada di masa lalu ketika mengenang ibunya Rani. Kini, kau pun memulai perjalananmu ke masa depan.

Apakah impianku menjadi seorang penulis itu kelak dapat terwujud? Apakah aku sudah bisa disebut seorang penulis, walaupun belum pernah menerbitkan novel atau buku kumpulan cerita? Lalu, apa patokan seseorang bisa disebut penulis? Apakah harus menelurkan minimal satu buku? Apakah menulis di blog secara konsisten saja belum cukup?

Lalu muncul juga apa-apa yang lain—yang kau rasa pertanyaan itu tidak akan pernah ada habisnya. Saking banyaknya pertanyaan yang datang, kepalamu tidak cukup untuk menampungnya dan mendadak pening. Kemudian, kau merasa kosong saat menatap masa depan. Segalanya masih terlihat gelap. Kau nggak tahu sebenarnya sedang memikirkan apa sejak tadi. Sampai-sampai kau jadi ingin berteriak, “Pertanyaan dan perenungan kayak begini sebetulnya untuk apa, sih? Aku capek, ya, Tuhan.”

Kau kemudian memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam seraya menghitung angka dari 1-10. Tapi baru sampai angka 8 kau sudah tidak kuat menahannya lagi. Kau pun mengembuskannya perlahan-lahan. Ketika merem begini, kau membayangkan hal-hal indah yang sekiranya dapat membuatmu tersenyum bahagia dan bersyukur.

Kau sedang menandatangani sebuah buku di salah satu kedai kopi di Jakarta. Namamu tercantum sebagai penulisnya. Orang yang meminta tanda tanganmu itu ialah kekasihmu. Entah mengapa dia juga ikut mengantre seperti orang-orang lainnya yang datang. Kau masih merasa canggung dengan keadaan ini. Padahal, sekarang adalah peluncuran buku kumpulan cerpen keduamu yang diterbitkan oleh salah satu penerbit indie. Karena hal ini bukan pertama kalinya buatmu, seharusnya kau bisa sedikit lebih rileks. Tapi kau tetap saja tidak berubah. Acara ini pun masih sama seperti saat perayaan buku kumcer debutmu. Hanya berbentuk syukuran kecil-kecilan. Kau mengundang kawan-kawan dekat sekaligus pembaca blogmu untuk mengobrol santai dan tertawa-tawa sambil menyantap hidangan yang tersedia di meja.

Hal itu tentu membuatmu merasa agak baikan. Setelah itu, kau pelan-pelan membuka matamu. Namun, imajinasimu barusan tetap tidak mengubah kenyataan bahwa layar di laptopmu masih kosong. Kau membatin, Anjing! Proses menulis memang selalu menyakitkan.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

25 comments

  1. So deep. Lo terlalu keren, Yog. Cukup untuk mewakili beberapa orang yang enggan mengakui isi kepala dan hatinya.

    ReplyDelete
  2. Sip. Yoga terlalu keren. Yoga keterlaluan. Gara gara yoga kita jadi terbawa arus. Gara gara yoga kita jadi terbawa angan. Ah sikonnya memang sedang meresah ditambah baca postingan ini semakin dalam pula resahannya. Cukup. Segala apa-apa yang ditanya selalu muncul begini-begini saja. Tolong, ini bukan nikmat rasanya. Tapi tulisan ini memang benar sempurna sekali. Top!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kesempurnaan itu hanya milik Allah~

      Delete
  3. Tailah. Saya bahkan smpe kebawa dengan alurnya. Pmilihan POV nya cerdas Yog. Sya gak tau apakah pmbaca yg bukan blogger atau orang yg jarang mnulis akan tetap merasa tulisan ini Kren. Diksi2nya ramah visual skali. Jadi gampang ngebangun imajinasinya. Mungkin krna relate dengan angan2 orang yg pngen jdi pnulis kali ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya penilaian 'kan beda-beda, Rey. Mau keren atau nggak juga bukan masalah. Haha.

      Delete
  4. Membatin 'Anjing!' dan menuliskannya saja rasanya kok sopan. hahaha! apalagi dibubuhi dengan penutup: proses menulis itu menyakitkan. Tulisanmu ini semacam dibawa mengalir dari hulu ke hilir, diaduk-aduk pun oleh perasan-perasaan tapi tetap runut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi Ivan Lanin pernah bikin twit begini: "Kata itu netral. Tafsir manusia membuatnya memihak."

      Urusan sopan atau nggaknya itu mah terserah pembaca. Ehe.

      Delete
  5. Wuoooahhh keren bangett, dari awal baca dari atas sampe bawah gak ngebosenin banget... Saya seendiri serasa ikut kedalam cerita tersebut, serasa km bercerita langsung didepan ku dengan duduk santai di depan meja dengan segelas kopi susu yang hangat. Lanjutkan ceritanya jangan bersambung.. ak kasih notify me nih :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya, tidak semua cerita bisa dipaksakan untuk bersambung. Ada kisah yang memang cukup berhenti sampai di situ.

      Delete
  6. Nggak cuma nulis sih sepertinya. Semua proses yang hasil akhirnya membuahkan sebuah karya kayaknya memang seperti itu, Yog. MENYAKITKAN! Belum lagi kalau karya yang udah kita hasilkan, kemudian kita share ke khalayak. Kadang feedback yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, beberapa proses memang menyakitkan, Wis. Namun, konteks dalam tulisan ini, ya menulis itu sendiri. :)

      Delete
  7. Well, gue harus berkomentar sedikit beda dari yang udah ada di atas. I mean, gue juga mengakui tulisan lo bagus (sempat emosi sih kok pembukaannya gini amat, kalo beneran kosong, gua gampar lo pas ketemu nanti!). Satu hal yang selalu gue ingin bilang dari dulu (tapi lupa mulu) adalah tulisan lo harusnya bisa dibikin lebih pendek. Banyak kata yang harusnya bisa dihilangin aja. Dari 500 kata, misalnya, bisa dipangkas jadi 300-400 kata aja. Do you get my point?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sama Agia juga udah beberapa kali dikomentarin begitu, Man. Dari dulu kesalahan gue itu kurang efektif. Sayangnya, setiap kali baca ulang dan mengubah sudut pandang jadi editor, ada rasa nggak tega menghapusnya. Rasanya butuh orang lain buat jadi editor. Hahaha.

      Delete
  8. anjir mas yoga
    ini gak ada hubungan sama kardus kosong kan
    eh oke gak mau bahas politik

    buat kosong jadi berisi emang berat
    banget
    sampe habis berapa kata ini wkwkw

    ReplyDelete
  9. Dah, bikin buku dah lah. Atau gak jadi editor gue, naskah dari 5 tahun lalu masih belum ke pegang nih, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naskah sendiri aja terbengkalai, gimana megang naskah orang? Huhu. :')

      Delete
  10. Ya ampun, Yog ..., artikelmu ini ..., mewakili pemikiran dan angan-angan banyak isi kepala penulis blog.
    ' apakah seseorang disebut sebagai penulis, hanya setelah menerbitkan minimal sebuah buku ? '.

    Aku juga yakin,
    Pertanyaan seperti itu pasti sering melintas di kepala para blogger dan orang sekitar yang meragukan kemampuan menulis sebuah artikel blog dengan mengatakan apakah apakah itu layak disebut sebagai penulis.

    Diluar itu semua ..., kita tetap sebisa mungkin terus bersemangat menuliskan artikel yang banyak bermanfaat buat orang.

    Nice post 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, itu emang pemikiran si "kau"--entah siapa pun itu penulis blognya. Saya cuma menuturkan cerita atau sebagai narator. Haha.

      Delete
  11. Replies
    1. Maksudmu buat pos baru? Nulis mah tetap nulis. Cuma nggak ada yang sreg buat dibagikan. Wqwq.

      Delete
  12. Wah, itu dari memoarnya Etgar Keret yang Seven Good Years bukan sih? Soalnya gue cuman nemu dia yang itu. Padahal langsung bikin nge-fans. Tapi harus beli ebook. Lo ada yang lain kah? Anyway, bagus cerpennya! Emang bener nih sekarang udah nyastra. Muahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dari buku yang itu, Di. Tepatnya di bab "Hanya Pendosa yang Lain". Saya pernah baca cerpen (baik versi Inggris/terjemahan) yang di internet palingan.

      Soal nyastra atau nggaknya gue kagak tau. Pokoknya, nulis aja~ Wqwq.

      Delete
  13. Bahkan lagi kosong juga bisa sepanjang ini ya isi postingannya =___=

    Juarak

    Legend emang beda

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.