Teman Bajingan

22 comments
“Jadi lu merasa puas dengan pujian Rani di tulisan ‘Bagaimana Sebuah Cerpen Dibuat’, Yog?” ujar seorang teman di WhatsApp, enam hari setelah saya menerbitkannya di blog. Semestinya saya nggak perlu menjawab pertanyaan itu, sebab dalam tulisan yang dia maksud itu saya telah mengatakan untuk bersikap biasa saja. Tapi karena hari itu saya sedang luang, saya pun iseng menjawabnya. 

Saya kira setelah membalas pesan itu persoalan bisa langsung selesai. Sayangnya, dugaan saya salah dan justru muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Mulai dari Rani itu sebetulnya imajinasi tolol saya saja, atau di kehidupan nyata benar-benar ada orangnya; hingga kenapa saya berani membagikan cerita personal yang kelam di blog. Sesudah saya memberinya jawaban tentang tokoh Rani itu biarlah menjadi tugas pembaca yang menilai, dia malah sewot dan menyimpulkannya sendiri.

“Ah, bacot! Lu itu paling-paling lagi kesepian, makanya menghadirkan tokoh Rani. Atau nggak, Rani itu sebenarnya ada di kehidupan nyata, tapi lu nggak bisa memilikinya karena dia udah jadi milik orang lain, kan? Hahaha. Mampus!”



Membaca kalimat itu, sungguh saya langsung ingin memblokir kontak bedebah yang satu ini. Namun, saya pun sadar kalau dia sebenarnya nggak salah sama sekali. Saya tadi yang menyuruhnya untuk bebas menilai. Nah, giliran dia bilang begitu, kenapa saya harus marah? Jadilah saya cukup mengabaikan pesan dia.

Baru sebentar saya meletakkan ponsel di pinggiran rak buku, lalu terdengar bunyi notifikasi pesan WhatsApp. Saya tahu itu pasti orang yang sama. Saya pun mendiamkannya saja dan memilih menyalakan laptop untuk main games. Sepuluh menit kemudian, suara yang sama mengusik saya lagi. Awalnya, saya berniat untuk mematikan ponsel atau mengubahnya menjadi mode senyap. Tapi entah kenapa akhirnya saya malah berhenti bermain, lalu mengambil ponsel dan membaca pesannya. 

Lu belum jawab pertanyaan gue tentang tulisan kelam itu. 

Woi, bales! Lu marah, ya? 


Saya sesungguhnya bingung. Tulisan kelam mana, sih, yang dia maksud? Saya nggak terlalu ingat telah menuliskan cerita sedih apa saja di blog ini. Apakah masih membahas tulisan yang sama, karena ada cerita mengenai pikiran bunuh diri? Atau, tulisan pembuka pada bulan Juli yang berjudul Melankolia? Sehabis saya tanyakan, dia merespons keduanya.

Sebetulnya saya sendiri pun heran mengapa tulisan pertama bulan ini malah yang itu. Kayak nggak ada cerita lain aja. Tapi seingat saya, malam itu saya hanya ingin berterima kasih kepada tulisan yang pernah menguatkan diri saya. Dua tahun lalu pada bulan yang sama, saya sedang dalam keadaan suram. Ya, saya mesti mengakui kalau seorang Yoga Akbar pernah depresi dan kehilangan tujuan hidup. Jadi, niat saya menampilkan tulisan itu di blog ialah sebagai pengingat agar saya tidak menyerah lagi akan kehidupan. Lalu kalau ditanya kenapa saya berani bercerita kelam, mungkin bagi saya sekarang ini tulisan tersebut sudah tidak sekelam dulu—saat pertama kali menuliskannya. 

Toh, setiap orang juga bebas dalam mengisi blognya. Mau dia memfokuskan blognya dengan cerita perjalanan dan makanan, curhatan sehari-hari, fiksi (cerpen dan puisi), tutorial SEO, dan mencampuradukkan semua itu juga terserah. Nggak ada larangan sama sekali. Selama orang itu menuliskannya sendiri dan bukan hasil plagiat, menurut saya boleh-boleh saja. Oleh sebab itu, saya pun menjawab kalau itu hak saya.

Berarti lu emang suka menjual kesedihan di tulisan? 

Sesaat membaca pertanyaan itu, saya segera menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan-lahan supaya bisa menjawab pertanyaan itu tanpa emosi. Saya nggak mengerti, kenapa dia bisa berpikir sejauh itu. Lalu saya pun memberikan jawaban, “Coba cek aja di Twitter, apakah saya pernah membagikan tautan tulisan Melankolia itu?” 

Dalam beberapa tulisan yang menurut saya jelek, kurang layak baca, sangat personal, atau 492.817 alasan lainnya; saya tentu tidak mau mempromosikan tulisan itu di media lain. Saya pikir, saya hanya perlu menuliskannya agar hati dan pikiran plong. Tidak berharap dibaca dan dikomentari oleh banyak orang. Saya bahkan pernah di suatu tulisan blog untuk tidak menyediakan kolom komentarnya. Jadi, buat apa saya menjual kesedihan? Saya menulis buat diri sendiri, bukan dijual kepada pembaca. 

Namun, mungkin saja suatu hari kalau idealisme ini luntur saya akan bikin buku yang menjual air mata. Siapa yang tahu dengan kondisi di masa depan? Setiap orang pasti bisa berubah. Intinya, untuk sekarang ini kalau ada yang menyukai curhatan sedih saya itu, saya pikir sudah masuk ke persoalan lainnya. Saya nggak bisa mengontrol pembaca untuk berhenti menyukai atau membenci tulisan-tulisan saya di blog. Itu pilihan mereka. Saya juga membebaskan pembaca berkomentar apa pun. Termasuk ketika saya sedang meladeni teman bajingan yang satu ini.

Oke, gue udah cari di Twitter dan nggak ketemu. Selamat! 

Lalu soal cerpen Surat Bunuh Diri Nolan itu lu merasa udah nulis dengan bagus, Yog? Kalau dari komentar pembaca yang gue lihat, kebanyakan dari mereka pada memuji tulisan lu tuh. Tapi lu sebetulnya sadar nggak, sih, kalau kritikan dalam tulisan itu masih kasar? Lu kayak lagi khotbah. Apakah lu udah lupa sama obrolan kita tentang kalimat dari Linda Christanty dalam sebuah wawancaranya dengan BBC

Saya lalu membalas, “Sudah pasti belum. Saya juga sadar kalau cerpen itu masih jelek dan perlu diperbaiki lagi. Kalimat Linda yang mana? Saya kayaknya lupa.” 

Pokoknya kalimat dia itu punya maksud begini kalau nggak salah: “Semakin canggih orang itu menulis, semakin halus ia menyampaikan kritiknya.” 

Saya pun refleks menertawakan diri sendiri. Ternyata, saya memang belum dapat menulis dengan bagus. Mengiklankan produk dalam tulisan sponsor pun saya masih harus belajar lebih banyak supaya bisa halus dan mengalir saat dibaca. Karena merasa bahagia ketika ada seorang teman yang peduli dengan tulisan saya, maka saya segera membalas pesan dia sebaik mungkin. “Makasih atas kritikannya, Kak. Setelah ini saya akan berusaha menulis yang lebih baik. Apa lagi yang perlu saya perbaiki?”

Awalnya, saya geram dengan kalimat-kalimatnya yang memancing kemarahan itu. Tapi pada akhirnya, dia menunjukkan kepeduliannya terhadap saya. Rasa kesal itu lama-lama pudar dan berubah menjadi kagum. Nggak banyak teman yang jujur dan berani terang-terangan mengkritik karya temannya seperti yang dia lakukan.

Namun, balasan dia selanjutnya justru menyuruh saya untuk berhenti menulis saja biar nggak ada yang perlu diperbaiki. Saya tahu, kritik itu sering sekali kejam dan menyayat hati. Tapi saya betul-betul nggak terima dengan kalimat dia yang satu itu. Padahal, baru saja saya berterima kasih dan bersyukur memiliki teman sepertinya, eh dia mendadak bikin kacau lagi. Bodohnya, saya tidak juga memblokir orang itu dan masih tetap membalas pesannya dengan rileks.

“Kalau saya nggak menulis, saya harus melakukan apa, Kak? Menulis sudah menjadi kebutuhan saya. Lagian, cuma ini kemampuan yang saya punya untuk bertahan hidup. Itu pun saya masih perlu berlatih dan membaca buku lebih banyak lagi.”

Selagi saya menunggu responsnya, tiba-tiba ibu saya masuk ke kamar dan menyerahkan sebuah kertas beserta dua lembar uang seratus ribu. “Yog, tolong belanja ke Warung Bang Agus.” 

Lamunan saya tentang kisah seorang teman yang gemar mengomentari tulisan-tulisan saya itu pun perlahan-lahan buyar. Astagfirullah. Saya jadi harus merangkai imajinasi itu dari awal lagi. Tapi dalam hal ini, saya nggak bisa menyalahkan ibu saya. Lagi pula, nanti potongan-potongan cerita itu masih bisa saya susun ulang. Sepulangnya dari warung, saya langsung membuka Microsoft Word dan menuangkan ide itu sebelum saya benar-benar lupa.

I'm so happy, 'cause today I've found my friends. They're in my head. — Nirvana - Lithium 

--

Gambar saya comot dari Pixabay.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

22 comments

  1. Replies
    1. Saya bingung mau komen apa, Yogs. Hehe. Ngopi yuk?

      Delete
    2. Mayang: Duh, mau ngajak ngopi di mana? Mau mentraktir saya, kah? Tapi saya kurang suka kopi. Es teh leci aja boleh? :p

      Dian: ngopi film?

      Delete
  2. sebenarnya teman yg baik emang temen yg mengkritik kita secara langsung. dan di percakapan watsap ini kayaknya lumayan baik juga. walaupun rada ngeselin. tadinya saya juga pengen nitip buat tampol online temennya, tapi gak jadi karena ternyata dia kagebunshin bapak yoga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((kagebunshin))

      Kalau dikomentarin secara personal via WA atau ketemu langsung gitu, rasanya lebih gimana gitu, ya? Haha.

      Delete
  3. Pasti senang ya punya teman yang bisa mengeritik tulisan kamu, meskipun sedikit menyebalkan. Wkwk. Udah lama gak jalan-jalan baca blog, baru mampir di blog ini lagi. Ternyata masih aktif yaa. Saluut. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Ya, begitulah. Alhamdulillah masih terus ngeblog, kalau nggak nulis nanti saya sakit~

      Delete
  4. Ini kalau real, temen yang lo ceritain di sini cewek bukan sih? Yang biasa jadi editor sekaligus kritikus? Kok gue ngerasa dia ya? Hehehe

    Pernah aja baca tulisan lo yang banyak di-manager-in sama seseorang, yang akhirnya ngebantu lo ngebentuk gaya menulis yang sekarang.

    Anyway, baca post ini campuraduk banget ya. Ada gereget, kesel, haru, emosional pokoknya. Persetan siapa temen bajingan yang lo ceritain ini, initnya gue suka post ini. Sampe mikir-mikir lagi apa ini udah lo atur sedemekian rupa buat nyentil pembaca atau ditulis pure dan ngalir nggak sengaja. Bgst. Makin dipikirin makin bingung gue 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ditanyakan apa jenis kelaminnya, dia cowok. Siapa yang pernah jadi editor sekaligus kritikus? Kayaknya nggak ada dah. Kalau lu menebak dia cewek, mungkin si Uni Dzalika, ya? Dia emang pernah saya anggap sebagai mentor. Dia udah lama nggak komentarin tulisan saya. Seingat saya pas 2015-2016 doang. Ehe.

      Proses menulis saya itu tulis dulu apa yang bikin resah di hati dan kepala. Kalau pembaca merasa ini mengalir, mungkin itu efek setelah disunting. Lagian, saya menuliskannya untuk bermain-main dengan pikiran sendiri. Mempermainkan diri sendiri gitulah. Ya, mungkin akhirnya pembaca merasa tertipu juga. Haha.

      Delete
  5. Tambahan: yang bikin gue bingung adalah "lamunan" dan "merangkai imajinasi". Tapi kalau emang fiktif, ini kerasa real sih. Gokil emang. Udah ada dua postingan seorang Yoga yang bikin gue puyeng sekaligus takjub minggu ini. Hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lamunan dan merangkai imajinasi artinya setau saya sama aja. :D Bingung di bagian mananya? Wah, komentarmu rasanya berlebihan sekali. Tapi biar bagaimanapun, terima kasih sudah takjub~ Hoho.

      Delete
  6. Gue juga bingung mau komen apa. Rileks dulu, ah~

    ReplyDelete
  7. Bener teman kamu, Yog.
    Kritik yang terkesan blak-blakan ucapannya dan seringkali bikin kita tersinggung ... itulah kritikan yang paling jujur.
    Apa adanya dikatakan sesuai penilaiannya.

    Kritik terbaik datang dari orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, selama orang yang mengkritik itu mengerti apa yang dinilainya. Kadang ada juga orang yang kritik sesuatu begini-begitu, padahal masalahnya adalah selera.

      Delete
  8. Eh Mas Yoga tos lagi dong, ku juga punya teman tipe gitu, bawaannya mancing emosi, tp pd akhirnya dia sebenarnya peduli dg tulisan kita, malah lebih dr itu.. Wkwkwk
    Keep spirt yaa!!!

    ReplyDelete
  9. Interpretasi gw soal postingan kali ini adalah
    1. Ini fiksi yg coba dibuat dg tokoh yg masih berputar putar soal lo, si objek yg berupa cerpen bahasan kemaren, dan 1 lagi tokoh tambahan lagi yaitu si pengkritik yg merupakan hasil imajinasi lo sendiri di dalam kepala. Jadi sebenernya yg ngritik ini ya diri lo yg lain yg ga cepet buat tiap berkarya. Artinya, yg gw tangkap,...ni tokoh ga beneran nyata. sehingga, kadang klo yg ga ngeh ngiranya beneran nyata ada orangnya hahaha #e sotau ga gw?

    2. Intinya lo mencoba ngetwist dg materi cerpen yg kira kiranya adalah seputar kritikan, dan sebenernya emang sengaja mau lo buat seperti itu
    Bukan karena lo beneran abis dikritik
    Saelah, cerdas ga gue hahhaa #komen nyebelin abad ini, dah ah bye

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat terakhir yang mengutip lirik lagu itu sebetulnya sudah sangat menjelaskan bahwa teman bajingan ini adanya di dalam kepala. Ehehe. Tapi ya, mungkin pembaca ada yang luput.

      Intinya cerpen ini memang sambungan dari kisah sebelumnya, Mbak. Masih membahas mengenai apa yang saya tulis. Kemarin kalau mau dijadiin satu takut kepanjangan. Terus idenya dipecah jadi dua deh. Soal twist kalau ternyata pengkritiknya ialah orang yang sama itu saya nggak bermaksud buat mengejutkan, sih. Hanya sedang bermain-main dengan pikiran sendiri. Wqwq.

      Delete
  10. Typo kurang ngetik di komen w di atas, lengkapnya
    Jadi sebenernya yg ngritik ini ya diri lo yg lain yg ga cepet berpuas diri tiap lo selese berkarya

    ReplyDelete
  11. Lagi2, aku salah nebak di tulisan akhirnya hahahaa. Kirain beneran ada loh yog temen semenyebalkan ini di kehidupan nyatamu :p. Walopun aku jg hrs mengakui, temen begini ini yg bener. Tega mengkritik tp juga kasih feedback buat kita.

    Dulu, pas kecil sampe kira2 smu, aku juga punya temen imaginary, yg selalu jd temen ngobrol, trutama malam. Orang2nya ganti trus, sesuai moodku saat itu :D. Ntah karena aku gemini, yg terkenal suka menghayal tingkat tinggi, ato krn aku kesepian ga punya banyak teman akrab, makanya butuh temen khayalan yg bikin aku ga sepi2 amat :p. Sedih yaaa. . Hihihihi

    Abisnya aku memang ga gampang utk akrab dgn org lain. Kalo diitung ya yog, temenku dari dunia maya, itu jauuuh lbh banyak drpd temen yg real. Suamiku sampe bilang, aku tuh seperti tinggal di dunia lain terkadang. Temen2 ghoib semua hahahahaa.. Itu istilah dia utk temen2 bloggerku yg sering chat ama aku tp ga pernah ketemu :p. Cm orang2 tertentu sih yg bisa ngerti ini :). Makanya kalo aku tau ada temen yg msh suka menghayal, ato merasa punya temen imaginary sendiri, buatku itu wajar. Krn aku begitu. Tp kyknya utk orang2 yg terlalu supel, kayak suamiku, dia ga bakal ngerti kenapa aku butuh temen khayalan :p. Aku yakin, hanya krn aku istrinya lah, dia ga mencap aku gila hahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pengin punya teman semacam itu, meski pasti nyelekit juga kalau kejadian langsung. Hahaha.

      Kayaknya saya juga termasuk kesepian dan punya temen di dunia nyatanya sedikit, Mbak. Kalau dipikir-pikir hal semacam ini menyedihkan, ya. Tapi bagi saya ada enaknya sebab bisa lahir tokoh-tokoh ketika bikin cerpen.

      Saya ngerti sekali rasanya seperti itu~ Nggak jauh beda soalnya. :) Hahaha. Saya sama sahabat sendiri pun pernah dicap stres atau gila ketika suatu kejadian mendadak saya ketawa. Padahal waktu itu di kepala lagi berisik banget, terus akhirnya dapet ide buat cerita dan emang lucu ketika dibayangin. XD

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.