Lambe

43 comments
“Mengarang adalah cara meludahi seseorang dengan santun. Aku ingin sekali meludahi orang-orang sok tahu, kadang aku juga pengin meludahi diriku sendiri. Asyik sekali.” -Sabda Armandio (novel Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya



-- 

Pada hari Kamis, Kafe Kerubut hampir tutup setengah jam lebih awal, sebab dalam satu jam terakhir tidak ada seorang pengunjung yang datang. Namun, lima belas menit sebelum pukul 22.30, Gegep dan F. Nirmansyah melangkah masuk dan duduk di meja nomor 21. Mereka memilih duduk saling berhadapan agar nanti mengobrolnya lebih enak. Salah seorang pramusaji perempuan langsung menghampiri meja mereka. Dia pun tidak lupa untuk menyapa “selamat malam”, melemparkan senyuman ramah, dan menanyakan mau memesan apa. Tapi kita tentu tidak pernah mengetahui isi hatinya, yang mungkin sangat dongkol karena harus menunda kepulangannya itu.

Ketika Gegep masih membolak-balikkan daftar menu, Nirman sudah menyebutkan mi goreng jumbo dan jus jeruk. Nirman memang sudah rutin datang ke kafe ini, sedangkan Gegep baru pertama kalinya. Lima menit telah berlalu. Wajah pramusaji itu mulai terlihat gelisah, tapi Gegep belum juga memutuskan pilihannya.

“Kayak baca soal Ujian Nasional aja lu. Milih menu gitu doang lama banget,” ujar Nirman. 

“Bacot!” 

Pramusaji itu tampak menahan tawanya karena berusaha menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Akhirnya, Gegep memesan kentang goreng dan iced hazelnut latte. Pramusaji kemudian mengulangi daftar pesanan mereka untuk memastikan. Setelah keduanya mengangguk, pramusaji itu pun meninggalkan mereka dan berjalan ke arah dapur. 



Sembari menunggu pesanan, Nirman lalu menceritakan kepada Gegep tentang Kafe Kerubut ini. Kafe yang buka dari pukul 09.00 hingga 23.00 ini, pada setiap hari Minggu-nya pasti selalu ada acara bloger. Entah itu cuma sekadar diskusi santai maupun seminar blogging. Pengunjung kafe ini pun mayoritas para bloger—sebagaimana mereka berdua.

“Emangnya kafe sekecil ini muat buat nampung orang banyak?” tanya Gegep.

Kafe Kerubut yang ada di bilangan selatan Jakarta ini sebetulnya tidak sekecil yang Gegep tanyakan. Tapi, dikatakan besar pun rasanya masih kurang. Hanya ada 25 meja, yang setiap mejanya terdiri dari 4 kursi. Kalau semua meja dan kursi terisi penuh, berarti kafe ini dapat menampung seratus orang. Posisi meja nomor satu berada di ujung kiri yang dekat dengan area kasir dan dapur, lalu nomor terakhir atau 25 berdekatan dengan pintu masuk/keluar. Letak satu meja ke meja satunya memanglah cukup berdekatan.

“Biasanya ditata lagi meja sama bangku-bangkunya, sih, biar lega dan muat. Terakhir kali gue dateng aja bisa hampir 130 orang yang ikut,” jawab Nirman.

Gegep lalu bercerita kalau dirinya kurang menyukai acara-acara semacam itu. Dia menduga paling-paling pembahasannya seputar SEO dan cari uang lewat blog. Itu sangat membosankan dan bukan dirinya banget. Gegep lebih mengutamakan konten saat ngeblog.

“Ya, bahas kontennya juga ada, Gep,” kata Nirman. “Topiknya ganti-ganti. Coba sesekali lu dateng dulu.” 

Namun, Gegep tetap memegang kuat prinsipnya untuk malas datang ke acara seperti itu. Setelah itu, obrolan tentang blog perlahan-lahan beralih ke topik percintaan dan perempuan. Selagi Gegep mengeluhkan betapa menjenuhkannya ketika menunggu cewek dandan, pesanan mereka mulai diantarkan satu per satu ke meja. Mereka pun segera melahapnya dan memutuskan untuk menunda perbincangan tersebut.

Nirman sudah selesai menggasak makanan itu. Kini, di piringnya hanya tersisa noda bekas bumbu mi goreng yang kecokelatan. Piring itu masih meninggalkan aroma yang membuatnya ingin memesan lagi. Sayangnya, niat itu diurungkan karena dia takut kekenyangan. Lalu, isi minuman dalam gelas itu juga sudah lenyap setengahnya.

Kentang goreng yang ada di piring baru pindah ke perut Gegep sebagian, tapi minuman yang dia pesan telah tandas. Kayaknya Gegep sudah makan sebelum datang ke kafe ini dan cuma kehausan. Lalu, Gegep menyuruh Nirman untuk menghabiskan sisa kentangnya itu. Sewaktu Nirman sedang mencocol kentang goreng ke saus, Gegep menyampaikan keresahannya.

“Dari akhir tahun 2017, gue sempet ngerasa dunia blogging enggak seasyik dulu lagi. Gue juga sempet mikir, mungkin karena blog itu udah ketinggalan zaman. Belakangan ini akhirnya gue sadar, ternyata bukan itu. Tapi, karena gue enggak punya rival. Sekalinya ada bloger yang tulisannya bagus, tapi beda kelas. Jadi enggak ada pemicu. Gue butuh lawan, Man.” 

Nirman masih asyik mengunyah dan hanya mendengarkan kawan bicaranya itu. Merasa tidak ada respons, Gegep melanjutkan perkataannya, “Bloger personal yang main di komedi, yang masih update sampe sekarang, siapa aja yang lo tau, Man?” 

“Hmm.” Nirman mengernyitkan dahinya dan mengingat-ingat siapa bloger yang sedang Gegep maksud itu. Dia ingin menyebut dirinya sendiri, tetapi takut dibilang narsis.

“Eh, gue nanya serius nih. Gue kehabisan saingan buat pemicu. Misal, ‘Anjir, dia bikin itu, gue bikin apaan, ya, buat lebih keren dari dia?’ Lo taulah, gue ngerasa flat kalau main enggak ada lawan gini. Hahaha.”

Selain tawanya sendiri, Gegep juga mendengar suara tawa dari arah belakangnya. Dia pun menengok ke belakang dan mendapati dua orang laki-laki di meja nomor 16 yang duduk bersebelahan. Posisi mereka tidak saling memunggungi, melainkan menghadap punggung Gegep. Kayaknya Gegep sejak tadi tidak menyadari ada orang lain di sekitarnya, kecuali Nirman yang berada di hadapannya.

Mereka berdua (tamu yang mendadak masuk dalam obrolan itu) sudah seperti ayah dan anak. Gegep mengenal salah satunya yang lebih muda. Ebi, sang pemilik kafe. Nirman pernah menceritakan pada suatu hari tentang bloger yang keren, tapi sekarang sudah vakum. Ya, Ebi dulunya juga seorang bloger. Berbeda dengan Gegep dan Nirman yang genre blognya personal dan gado-gado, Ebi memfokuskan tulisannya di bidang kuliner. Saking cintanya terhadap pelbagai jenis makanan dan minuman itulah yang mungkin membuatnya sibuk di Kafe Kerubut ini.

Gegep tidak mengenal laki-laki satunya. Terlihat rambutnya masih hitam dan belum terdapat uban. Jika mau menebak-nebak, usianya paling baru empat puluh tahunan. Namun, wajahnya sudah digerogoti waktu—yang membuatnya tampak seperti umur 50 tahun lebih.

“Mulutmu lancang, anak muda,” ujar Pak Tua. 

Gegep menelan ludah dan begitu tegang. Nirman pun kemudian tertawa melihat ekspresi Gegep yang mulai gugup.

“Aku jadi ingin berbincang-bincang dengan kalian berdua,” kata Pak Tua. “Kalian bisa pindah ke meja ini.”

Merasa tidak enak menolak undangan orang yang lebih tua, Gegep dan Nirman pun sekarang pindah ke meja nomor 16. Nirman duduk berhadapan dengan Ebi, lalu Gegep dengan Pak Tua. Sebelum memulai perbincangan, Gegep dan Nirman memperkenalkan dirinya. Sesudah itu, Ebi akhirnya membuka suara, “Gep, sori nih sebelumnya. Tadi, kan, kamu sempat bilang soal enggak punya saingan dan butuh pemicu. Sekalinya ada yang bagus, tapi beda kelas. Boleh kasih contoh tulisan di blog kamu yang menurutmu paling wow, lucu, humor, atau apa deh itu? Saya ingin baca sebentar.”

“Bentar,” ujar Gegep seraya mengeluarkan ponsel dari kantong celana kirinya. 

Suasana di meja itu mendadak menjadi panas. Seakan-akan pendingin ruangan di kafe ini dimatikan. Lalu kafe berevolusi menjadi sauna. Ketika Gegep berusaha mencari-cari tulisan terbaiknya; pramusaji perempuan (yang tadi mencatat pesanan mereka) beserta satu pramusaji laki-laki yang bertugas di dapur, berbicara kepada Ebi tentang jam kafe yang seharusnya sudah tutup dan meminta izin pulang.

“Oke, kalian boleh pulang duluan,” ujar Ebi. “Nanti piring-piring dan gelas-gelas mereka, biar saya yang bersihkan sekaligus beres-beres.”

Kedua pramusaji itu pun langsung menunjukkan wajah gembira dan sangat berterima kasih. 

“Sebenernya kalau disuruh milih yang paling lucu, susah sih,” kata Gegep. “Kalau disuruh cari yang paling sampah, gampang banget. Tapi ya udahlah, setelah gue inget-inget lagi, gue paling banyak ketawa di tulisan ini.” 

Gegep menyerahkan ponselnya kepada Ebi yang menampilkan salah satu tulisan. “Jokes-nya pendek-pendek dan jeda antar jokes enggak terlalu jauh,” ujar Gegep menambahkan dan begitu percaya diri dengan kualitas tulisannya. 

Sudah tiga menit berlalu, tetapi Ebi belum juga tertawa saat membaca tulisan itu. Beberapa menit kemudian, akhirnya Ebi berkomentar, “Oke, Gep. Saya sudah selesai baca.”

Ebi masih memegang ponsel Gegep. Gegep tampak cemas dan bertanya-tanya, kenapa tulisannya itu tidak mengundang tawa?

“Jika saya boleh jujur, tulisan yang menurutmu paling banyak bikin kamu ketawa itu, justru belum mampu bikin saya demikian,” kata Ebi. “Bukan berarti tulisanmu enggak bagus, ya. Tulisannya cukup bagus dan rapi. Tapi, ya belum lucu di saya. Mungkin di saya doang loh, ya. Enggak tau kalau yang lain.”

Mendengar jawaban itu, Gegep agak kesal dan segera bilang, “Gitu doang komennya? Daripada begitu, kenapa lo enggak ngasih masukan aja, sih?” Gegep lalu tertawa singkat. “Soalnya, kalau cuma ngomongin selera, ya udah, selesai. Apa lagi yang mau dibahas? Selera, kan, enggak bisa diperdebatkan. Tapi, makasih udah luangin waktu buat baca tulisan gue.”

Ebi lalu menyodorkan ponsel Gegep kepada Pak Tua. Namun, Pak Tua itu mengangkat tangannya—memberikan gestur untuk tidak perlu membaca tulisan itu. Mungkin Pak Tua percaya kepada selera Ebi yang cukup matang dalam perihal komedi. Mungkin Ebi tidak tertawa karena jenis “haha-hihi” semacam itu tidak lagi relevan untuk usianya. Lelucon itu mungkin hanya bekerja pada bocah-bocah SMP-SMA. Apalagi bagi Pak Tua yang memang sudah berumur. Sehingga Pak Tua tidak butuh menghabiskan waktu untuk mencari-cari letak lucunya. Akhirnya, Ebi mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.

Setelah itu, keadaan di meja nomor 16 mendadak sunyi. Barulah Pak Tua memecah keheningan itu dengan bertanya kepada Gegep, “Hal yang lucu buatku itu tadi ketika kamu sempat membicarakan blog dan butuh saingan. Sebetulnya, untuk apa kamu mencari saingan?”

“Seperti yang gue bilang, gue butuh pemicu,” jawab Gegep. 

“Baiklah. Seandainya nanti kamu sudah menemukannya, lalu merasa bisa mengalahkannya, setelah itu apa?”

“A-a-a-anu.” Tadi Gegep sempat gugup saat berbicara dengan Pak Tua. Kini dia malah mendadak gagap. 

Pak Tua dan Ebi menunggu kata-kata yang meluncur dari mulut Gegep, tapi sepertinya lidah Gegep kelu.

“Menurutku, kamu enggak perlu repot-repot mencari saingan. Dia sudah ada di dekatmu,” kata Pak Tua itu lagi.

“Si Nirman?” tanya Gegep sambil menoleh ke arah Nirman dengan tatapan merendahkan. “Ah, cupu dia mah.” 

Nirman pun kaget kalau dirinya ikut dibawa-bawa, sebab sejak tadi dia hanya ingin menyimak atau sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Nirman pun sehabis itu masih diam saja sambil memutar-mutar sedotan searah jarum jam di gelas itu, lalu sesekali meminumnya.

“Bukan, melainkan dirimu sendiri,” kata Pak Tua. 

“Hah? Maksud lo gimana, Pak? Bingung gue,” ujar Gegep, meminta penjelasan lebih. 

“Aku justru yang bingung sama maksudmu mencari-cari saingan atau lawan. Kenapa kamu membutuhkan lawan? Padahal, ada pepatah begini: ‘Seribu teman itu terlalu sedikit, satu musuh itu terlalu banyak.’ Lalu, terkadang seorang kawan pun suatu hari bisa menjadi lawan. Begitu juga sebaliknya.”

“Dibilang buat pemicu.” 

Pak Tua lalu menghela napas. 

“Udahlah, Bang. Enggak usah menanggapi dia lagi. Dia masih mencari jati diri,” ujar Ebi. 

Kemudian, Pak Tua itu tawanya meledak. Nirman tertawa kecil. Gegep mukanya berubah masam karena seperti diolok-olok.

“Enggak apa-apa, Bi. Ngobrol sama yang muda itu asyik,” kata Pak Tua. “Aku juga pernah muda. Aku seperti melihat sosokku sendiri pada masa lalu.”

“Terus pertanyaan gue tadi gimana, Pak?” tanya Gegep. “Kok enggak jawab?” 

“Menurutku, selama hidup di dunia ini, lawan yang paling sulit adalah diriku sendiri. Hampir setiap hari aku kalah sama diriku yang lain. Aku harus bertarung dengan rasa malas, nafsu, ego, dan sebagainya.” 

Ebi, Gegep, dan Nirman pun menjadi antusias menyimak pernyataan Pak Tua itu dan menunggu kalimat selanjutnya. 

“Suatu hari aku juga merasa butuh lawan atau saingan agar termotivasi menjadi lebih baik dalam berbagai macam hal yang menarik minatku. Tapi sehabis mengalahkan beberapa orang yang kuanggap rival, aku malah merasa hampa. Aku pun merenung. Sebetulnya, buat apa semua itu kulakukan? Apakah untuk ajang pembuktian diri? Lalu, apakah aku merasa bangga karena bisa lebih baik dari mereka?

“Namun, penilaian bisa lebih tinggi dari mereka itu tentu berasal dari dalam diriku. Bukan dari masyarakat. Itu tentu sangat subjektif. Toh, orang lain banyak yang tetap tidak peduli atas apa yang kuraih. Mungkin justru ada yang membenciku. Kala aku sudah merasa menang karena bisa mengalahkan rival-rivalku, nyatanya aku justru kalah dengan hawa nafsuku sendiri.”

Mendengar jawaban seperti itu, Gegep pun langsung terdiam. Mungkin dia sedang memikirkan ulang keresahannya itu, kemudian sedikit-sedikit mendapatkan pencerahan. Nirman dan Ebi pun cengengesan melihat Gegep yang bengong begitu.

“Apa kamu mengikuti komik atau film animasi Naruto?” tanya Pak tua, membuyarkan lamunan Gegep. “Ada salah satu kutipan menarik yang relevan dalam perbincangan kita ini.” 

Nirman yang sejak tadi membisu, tiba-tiba berkata, “Gue inget ada satu kalimat Naruto yang cocok buat Gegep nih. ‘Aku seharusnya berhenti menulis komedi, sebab itu bukan jalan ninjaku.’ Hehe.” 

“Tai lo, Man,” ujar Gegep. 

Ebi lalu tertawa dan mengucap ‘bangsat’ sebanyak tiga kali sambil memukul-mukul meja.

Pak Tua terlihat menggigit bibirnya. Mungkin tidak etis saat lagi serius dan memunculkan sosok berwibawa seperti tadi, lalu tiba-tiba tertawa dan menunjukkan tampang konyol.

“Aku serius dan tidak sedang berkelakar. Ada kalimat dari Itachi, tokoh fiksi favoritku, yang bagus,” ujar Pak Tua, berusaha membuat suasana yang mulai cair itu menjadi membeku kembali. “Begini bunyinya: ‘Ingatlah, jika kamu menjadi hokage, bukan berarti semua orang akan mengakuimu. Tapi jika semua orang mengakuimu, itulah hokage yang sebenarnya.’ Intinya, aku menangkap maksud Itachi itu bahwa orang hebat enggak usah repot-repot menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain. Biar penilaian-penilaian itu yang menjadi tugas orang lain. Mungkin orang hebat juga enggak butuh penilaian semacam itu. Apalah arti hebat di hadapan manusia, tapi hina di mata Tuhan?” 

“Kalau boleh menambahkan, kita mestinya menerapkan ilmu padi dalam kehidupan ya, Bang,” kata Ebi. 

“Betul. Lagi pula, iblis itu diusir dari surga sama Tuhan karena apa?” tanya Pak Tua. 

Mungkin karena pertanyaan itu retoris, jadi tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang menjawabnya.

“Aduh, sepertinya omonganku semakin malam justru semakin ngawur. Butuh tidur ini. Aku pulang duluan, ya,” ujar Pak Tua, sembari salaman bermaksud pamitan.

Jam dinding digital yang terletak di tengah-tengah kafe sudah menunjukkan pukul 00.07. Akhirnya, diskusi itu selesai begitu hari telah berganti menjadi Jumat. Ebi mulai merapikan piring-piring dan gelas-gelas, kemudian membawanya ke dapur. Gegep dan Nirman pun segera membayar pesanan mereka dan melangkah keluar kafe.


Di parkiran, Gegep dan Nirman berdebat siapa yang harus mengemudikan motor karena sudah sama-sama mengantuk. Akhirnya, mereka melakukan suit untuk menentukan urusan tersebut. Gegep mengeluarkan kelingkingnya, sedangkan Nirman langsung senang karena telunjuknya dapat mengalahkan semut. Gegep kalah, jadi sudi tak sudi kudu mengendarai motor miliknya sendiri itu. Nirman pun membonceng di belakang.

Di tengah perjalanan, yang suasananya sudah agak sepi, Gegep mendadak bergidik karena baru mengingat hari ini ialah malam Jumat Kliwon. Hawa dingin pada dini hari itu juga membuat bulu kuduknya merinding. Gegep pun berencana menginap di indekos Nirman saja daripada pulang ke rumah. Lalu, Gegep juga mengecoh rasa takutnya dengan membuka obrolan, “Nama bapak tadi siapa sih, Man?”



Nirman pun bertanya balik, “Lu lagi pura-pura tolol atau beneran enggak tau?” 

Karena Gegep mengatakan benar-benar tidak tahu, akhirnya Nirman memberi tahu nama Pak Tua itu: Heri Surya.

“Dia emang siapa, sih? Gue baru denger sumpah namanya. Baru lihat juga tadi.”

“Wah, parah lu, Gep. Dia kalau tinggal di Yunani kayaknya udah jadi filsuf. Tapi karena tinggal di Indonesia, dia cuma berakhir jadi pemilik kafe.”

Gegep lalu bertanya apa nama kafe itu dan lokasinya di mana. Nirman pun langsung tertawa mendengar pertanyaan tersebut. Tapi karena Gegep sepertinya bertanya serius, Nirman mulai menjelaskan kalau kafe yang barusan disinggahi mereka itu sebenarnya ialah milik Pak Heri Surya. Ebi itu ditugaskan untuk mengurusinya—seakan-akan kafe itu merupakan miliknya. Pak Heri Surya kayak jadi orang di belakang layar soal kafe itu.

“Dia berarti sering nyampein materi pas acara-acara bloger di kafe itu, Man?” 

“Enggak. Dia kurang suka hal-hal kayak gitu. Tapi kalau lagi diskusi santai, kadang suka ikut nimbrung. Kalau yang udah seminar atau resmi-resmi, setau gue dia kagak pernah dateng. Terus, dia juga penulis buku. Dia enggak pernah pakai nama asli sayangnya, sih.”

“Buku apaan yang dia tulis? Kenapa dia pakai nama pena?” 

“Mungkin biar pembaca itu cukup sebatas suka sama tulisannya aja. Enggak usah sampai suka sama sosok penulisnya. Coba nanti lu cari dan baca sendiri buku yang nama penulisnya ‘Pangeran Jengkol’.”

“Anjir, ternyata masih banyak orang keren yang gue enggak tau.”

“Ya, dunia ini luas, kan? Kalau lu masih mau cari saingan, coba lu perbanyak lagi referensi. Mungkin sebenernya bukan dunia blog yang udah enggak asyik lagi, tapi dunia lu yang berputar di situ-situ aja. Lagian, enggak semua hal mesti lu tau juga kok, Gep.”

“Halah, tadi di sana diem aja. Sekarang baru ngomong yang kayak gini lo, Man. Anjinglah.” 

Nirman tidak menghiraukan ucapan Gegep barusan. Dia lebih memilih untuk membalas pesan pacarnya. Mengabarkan dirinya sudah di jalan pulang dan sebentar lagi bisa teleponan.

By the way, ada yang masih ganggu pikiran gue dari pertama kenal sama lo,” ujar Gegep bermaksud mengajak mengobrol Nirman kembali. “Huruf F di nama lo itu singkatan dari apa, sih?” 

“Lu yakin mau tau?”

Gegep pun berkata iya dengan mantap. Nirman akhirnya membuka rahasia itu, bahwa huruf F dalam namanya tidak berarti apa-apa. Itu bukan nama sebenarnya. Hanya huruf tambahan untuk keren-kerenan semacam nama pena.

“Tapi buat jaga-jaga ketika orang-orang mulai nanya kayak lu sekarang ini, gue udah punya jawaban. F kepanjangan dari Fulan,” kata Nirman.

“Kayak orang meninggal gitu? Nirman bin Fulan?” 

“Ya, pokoknya Fulan tuh sebutan buat orang yang enggak pengin disebutkan nama sebenarnya atau namanya terlupa gitulah.”

“Oh, gue kira F itu fuck.”

Kala itulah Nirman langsung menoyor kepala Gegep sambil berkata, “LAMBE DIJOGO JOK!”

Gegep kemudian terkejut. Motor yang dikemudikannya pun oleng. Karena Gegep tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya mereka berdua pun jatuh tersungkur. Meskipun keduanya tidak terluka parah, tapi mereka berdua sepakat kalau malam itu sungguh absurd sekaligus jahanam.

--

PS: Mungkin adegan dan dialog dalam cerpen ini bisa kamu temukan dalam kejadian nyata. Mengingat kalimat yang sering muncul dalam sinetron atau FTV sebelum cerita dimulai: “Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.”

Namun, saya membuat cerpen ini dengan sengaja dan penuh kesadaran atas hal-hal yang terjadi di sekitar. Saya ingin bermain-main dan belajar merangkai cerita. Oleh sebab itu, segala kritik, saran, cacian, protes, dan apa pun itu, silakan kamu taruh di kolom komentar.

*

Semua gambar dalam tulisan ini saya comot dari Pixabay.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

43 comments

  1. Ini menarik. Gue jadi tau penilaian lo soal yang kemarin. Khususnya dari cara lo nyiptain tokoh Gegep: karakternya, kepribadiannya, pola pikirnya. Dari sini gue jadi tau, ternyata lo ngeliat sosok gue kurang lebihnya kayak gitu ya 😅

    Btw makasih udah mau nyalin kejadian kemarin ke cerpen ini. Gue jadi bisa liat dari kacamata beberapa orang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok namanya mirip orang yg satu ini ya?

      Delete
    2. Cerita diambil dari kacamata yang tampak dari sebuah kejadian. Walaupun terinspirasi dari kisah nyata, tapi tetap tidak ada hubungan lagi antara sebuah fiksi dengan kenyataan itu. Lalu, karakter dalam cerpen punya kehendaknya sendiri. Dia sering tidak mau diatur harus bagaimana bersikap, bagaimana berdialog. Ketika tokoh-tokohnya berbicara dan bertindak, penulis sebisa mungkin mesti berusaha tidak memasukkan unsur dalam dirinya. Ya, meskipun kadang-kadang juga banyak yang khilaf, dan mungkin saya termasuk salah satunya.

      Delete
  2. Kenapa plesetan namanya jadi gegep sih wkwkw jadi keinget perkakas di rumah.

    "Mengarang adalah cara meludahi seseorang dengan santun. Aku ingin sekali meludahi orang-orang sok tahu, kadang aku juga pengin meludahi diriku sendiri. Asyik sekali" kutipannya bagus sih ini.

    Btw kreatif juga lu yog ngulik drama bloger kemarin jadi cerita fiksi wk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gegep itu ada artinya di kamus. Hahaha.

      Keseluruhan novelnya juga bagus. Rasanya pun puas bisa diludahi buku itu dan meludahi diri sendiri. :)

      Keresahan bisa datang dari mana saja~

      Delete
  3. YOGA ASU! HAHAHAHHA

    But, I love the story, Yog.

    Gue jadi pengen cerita. Setiap kali jogging, gue selalu punya target yaitu ngalahin jarak lari gue yang terakhir atau yang terjauh. Kalau belum, gue nggak mau berhenti (kalau emang masih kuat ya). Tapi ada aja orang yang ngatain gue sok, pengen pamer, dll. Padahal gue sedang melawan diri sendiri dan mecahin rekor gue sendiri, bukan mereka. Akhirnya sekarang kalau mau jogging, gue nggak pernah ambil hari Minggu, tapi hari lain yang sepi dan kemungkinan jogging bareng orang-orang yang ngatain gue sok itu, kecil.

    Lah, ini kenapa gue jadi cerita ginian dah wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks!

      Kalaupun enggak bisa ngalahin rekor, seenggaknya beda putaran atau jaraknya jangan sampai jauh dari pas terakhir lari. Gue juga setiap jogging berusaha gitu. Tapi kalau emang udah capek banget, berhenti aja. Takut pingsan kalau maksain. Wahaha.

      Tiba-tiba curhat begitu karena ada bagian tentang melawan diri sendiri, Man. :)

      Delete
  4. Beberapa nama mengingatkan gue dari nama Blogger senior yang sudah ada. Kayak bang F Nirmansyah yang hampir gue baca N Firmansyah. Juga Pangeran Jengkol yang mengingatkan gue dengan Pangeran Wortel a.k.a bang Heru Arya yang sudah lama ngga nongol lagi.

    Diluar dari itu, mengutip kata bang N Firmansyah,"I Love the story." Ini bisa mengusung genre baru cerpen Indonesia: Realita-Fiksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nama tokoh-tokohnya emang asal comot. Tanpa izin pula. :) Tapi biar bagaimanapun, ini cerita fiksi. Orang-orang di kehidupan nyatanya tentu tidak sama dengan yang ditulis.

      Genre semacam apa itu, kah? Wqwq.

      Delete
    2. fak
      gue baru inget ternyata mirip si heru yang pangeran wortel itu
      wk

      Delete
  5. gue kadang malah ga kefikiran tentang hal ini. tentang obrolan yang disampaikan oleh si tokoh gegep ke nirman. soalnya selama ini gue ngerasa paling cupu sih.
    ehe
    untungnya gue udah mulai nyadar sih, bahwa sebenernya musuh abadi ya diri sendiri itu. harus ngalahin ego. jgan pernah merasa puas sama pencapaian saat ini. mau yang lebih dan lebih.

    ceritanya asik kok, Yog.
    malah gue kira ini cerita beneran.
    hahahah

    nah tinggal si Ebi ini nyomot dari nama siapa yak? masih penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama ini saya juga merasa tidak ada apa-apanya di dunia blog. Dunia blog itu masih luas. Masih ada negara-negara lain. Indonesia cuma sebagian kecil, apalagi Jakarta yang pastinya lebih kecil. :(

      Ebi hanyalah tokoh rekaan.

      Delete
  6. Huahahahahaha. Bagian menuju ending bikin ngakak brutal. Hery Surya junjunganku! Btw chemistry antara Gegep dan Fulan Nirmansyah itu cukup lucu. Bagus juga. Bromance-nya kental banget kayak Bucky sama Steve Rogers. Eh tapi aku nggak rela sih kalau mereka disamain sama Bucky dan Steve Rogers. Kayak Michael Cera sama Jonah Hill di Superbad aja deh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Gegep sama Nirman akrab banget. Saya jadi pengin punya temen yang bercandanya bisa kayak gitu.

      Belum nonton film Superbad sayangnya, Cha. Hehe.

      Delete
  7. Emang ada drama apa di blogger? Kudet banget ya saya wkwkwk.

    Quote-quote ditulisan ini bikin diri saya inget kembali kata-kata buat reminder diri. Ya meskipun saat ini bisa komen, "bener juga ya." Tapi palingan ketika kembali ke realitas yang ada, yaaa banyak khilafnya.

    Jangan sotau.
    Jangan sombong.
    Jangan banyak omong.
    Jangan membandingkan.

    Dan segala pesan yang tersirat. Tapi satu hal yang pasti. Kalo saya unfoll seseorang pasti saya blokir dia, biar gak dianggap cuma nambah follower doang. Soalnya ya gitu.

    Ya gitu.

    Ya gitu. Bingung jadinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak ada drama apa-apa, Sep. Haha.

      Yang menuliskan cerita ini mungkin nanti juga bisa khilaf. Tapi jika terjadi seperti itu, saya bisa membaca ulang dan merasa diludahi karangan sendiri. Asyik~ :)

      Bagaimana kalau orang itu enggak berharap follback? Dia cuma pengin lihat apa yang kamu post? Pasti nanti jadi berpikir salahnya di mana. Tapi bisa juga langsung buat akun baru. Haha.

      Delete
  8. Bagus kak ceritanya! Nama tokoh-tokohnya beberapa kok kayak nggak asing dan sering banget kumampirin ke blognya. Tapi nggak taunya, baru ngeh kalau itu diplesetin. :D
    Topiknya entah kenapa ngena banget laaaah. paraaaah~
    Kupikir juga begitu, dulu. Nyari saingan biar semangat. Tapi ya emang bener juga, setelah udah melampaui, kumelupakan satu hal, yaitu 'rasa'. Iya, rasanya tuh kayak 'yaudah', gitu aja. Nggak membekas sama sekali, kayak blas aja hilang. Prosesnya juga nggak bisa dinikmati. Huhu. Padahal prosesnya itu makjleb banget kalau mau dikaji, tapi gara-gara nganggep temen jadi saingan, hilang sudah rasa itu.

    "Kalau lu masih mau cari saingan, coba lu perbanyak lagi referensi. Mungkin sebenernya bukan dunia blog yang udah enggak asyik lagi, tapi dunia lu yang berputar di situ-situ aja."
    Menohok sih ini. Asli. xD

    Terima kasih atas tulisan yang wagelazeh nya, kak. Makin keren coy tulisanyyaaaaa!!
    Makin terpacu buat belajar lagi nih ambo! Mantap! *kasih jempol*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang topik tulisan ini apa, ya? Saya enggak memikirkan topik kayaknya ketika bikin. Wqwqwq. Halah. Sebetulnya, hal-hal semacam itu bisa buat motivasi juga, sih. Mungkin tergantung niatnya aja.

      Terima kasih buat segala pujiannya, Nur. :)

      Delete
  9. Pernah baca percakapan ini di temlen sosmed berlogo burung biru. Wqwqwq....karena penasaran, ya, tak bacalah itu. Dan ternyata ceritanya kurang lebih seperti ini to?

    Kalau saya, niatnya bukan buat nyari saingan biar bisa 'ngalahin' tulisan dari bloger lain. Pengennya sih lebih ke arah "belajar" dari tulisan beberapa 'bloger panutan'. Ya katakanlah ketika baca tulisan cerita dari personal bloger, saya bisa belajar bagaimana menulis curhatan yang baik--dari travel bloger, belajar membuat catatan perjalanan yang menarik--dari blogger pemburu lomba, belajar memilih diksi-diksi apik & bikin infografis yang eyecatching, jadi meskipun beda niche blog, selama tulisan dari blog itu menurut saya bagus, tetep bakal saya baca dan bisa dijadikan referensi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nambahin : Saya terhentak pas baca satu tokoh bernama Pangeran Jengkol *LOL-Dari wortel, kudu jadi jengkol banget ini xD

      Delete
    2. Enggak ada hubungannya cerita di Twitter dengan cerpen ini, Wis. Twit-twit yang ada cuma saya modifikasi sedikit lalu berkembang menjadi cerita, terus mengalir dengan sendirinya.

      Iya, saya juga begitu. Pengin belajar dari segala jenis tulisan. Sejauh ini yang paling sulit saya pelajari adalah cara mengulas sesuatu. Terutama musik dan film. Saya kurang paham soal nada, irama, sinematografi, dan sebagainya. Paling-paling cuma nulis kapan pertama tahu lagu itu, terus sok-sok menerjemahkan maksud dari liriknya. Film pun masih membahas hal-hal seputar penceritaan yang saya tahu aja. Gimana mau mengomentari soal pengambilan gambar yang apik, saya masih cemen. :(

      Sungguh, dia enggak ada hubungannya. Saya bikin suka-suka aja nama tokohnya. XD

      Delete
  10. Gue langsung ketawa pas tau nama dari si bapak tua. Itu kan si itu yak! Awalnya enggak yakin, ah, paling salah orang. Tapi pas tau nama penanya itu, ternyata tebakan gue bener. HAHAHAHAHA

    Ceritanya keren, Bang. Pada beberapa bagian, ceritanya mirip kayak di medsos. Tapi ini dibikin ke dalam versi cerpen dan ditambah dengan bumbu-bumbu FTV atau mungkin sinetron. Gue pernah berada di posisi Gegep, di mana gue merasa bahwa gue lebih baik dari yang lain. Merasa seperti 'gue paling hebat, lho. yang lainnya sampah!' tapi ya makin ke sini makin sadar, kalau itu enggak baik. Baik untuk diri sendiri, maupun pembaca (karena mempengaruhi kualitas cerita yang dibikin). Merasa tertampar juga, sih. Hahaha. Tapi senang membacanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kenapa pada fokus ke nama itu, sih? Hadeh. Namanya magis sekali, kah?

      Intinya, cerpen ini emang udah berbeda dengan yang di medsos, Za. Entah mau ditambah pakai bumbu apa itu. Haha. Terlepas dari soal cerita ini bisa menampar seperti yang tertulis di komentarmu, semoga pembaca betul-betul bisa terhibur. Kasihan kalau ditampar lagian. :(

      Delete
  11. Nah saya bisa larut kalo baca tipe cerita yang seperti ini. Sejak awal saya mikir bahwa ini cerita asli mungkin ya? Karena dari awal sudah ngasih tau setting tempatnya secara jelas dimana. Karena kebanyakan novel atau cerita yang nyantumin lokasi nyata, kemungkinan besar berdasarkan pengalaman asli atau hasil pengamatan si penulis. Putu Wijaya dan NH Dini sebagian besar menampilakn cerita seperti ini.

    Nice story bang, saya sedikit tersadar dan termotivasi. Tersadar untuk tidak sombong dan termotivasi untuk menunjukkan yang terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada yang asli dalam sebuah fiksi. Wqwq. Latar tempatnya cuma imajinasi aja, kok. Biar pembaca bisa sedikit membayangkannya. Nama Kafe Kerubut pun kayaknya enggak ada di Jakarta. Deskripsi mengenai tata letak meja dan kursi itu mungkin saya ambil dari salah satu kafe yang pernah saya kunjungi, lalu edit suka-suka. Ehe.

      Makasih~

      Delete
  12. Terima kasih kembali, sering sering bikin posting ya mas. Semangat dan semoga konsisten mengisi blog anda ini. Isinya variatif dan manarik

    ReplyDelete
  13. Kemaren udah baca
    Sekarang baru nyelesaikan
    Oke you emang dari kemaren sedang getol nulis fiksi based on blogging topic ya, biar keresahan tersalurkan ahseeeg

    Hmmm menarik nih kali ini pake tokoh2 yang sering numpang komen di mari. Pertama gegep, jelas ini si gegep yang sering jadi pertamak en komennya mutu hahahhaha, kedua nirmansyah tinggal dibalik ni kadi f nirmamsyah yang klo komen rameee bikin seru blog hahah, klo ebi...yang ini gue ga tau asli, soalnya kluenya sering nulis kuliner dulu. Masa iya si beby riscka...masi ngawang ni

    Pak tua, i dont know who he is halaaaaah....tapi klo yang bijak2 biasanya howhaw ni uuuuups

    Klo pesan moralnya si dapet, curcolan gegep kadang selaras juga si sama apa yang gue resahkan. Blogspot ga serame dulu. Mau bikin postingan ga ada lawan main kerasa garing. Tapi petuah pa tua juga ngena...terus klo uda ngerasa ada yang diajak kolab, menang menangan konten, abis itu dapet apa? Pembuktian diri...ah biasanya setelahnya emang cuma kerasa hampa yang ada...ah gitu deh ngeblog kadang bikin awkward gajelas pengen ini itu tapi ya akhire begitulah, susah diungkap dengan kata kata mas bruuuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh typo in everywhere, maksud w, gegep si gigip andreas, f nirmansyah n firmansyah...trus ada heru arya juga hahahah

      Delete
    2. Iya juga. Terakhir kali menulis fiksi, bahas tentang tulisan gitu. Temanya masih seputar dunia menulis atau ngeblog. XD Tapi mungkin kebetulan aja karena saya nulisnya di blog. Kalau kirim cerpen semacam ini ke koran atau media lain, mungkin bisa berubah menjadi jagoan kampung yang sedang mencari lawan. Draf sebelumnya itu soalnya. Kemudian berubah. Haha.

      Itu kan Ebi cowok. Masa jadi cewek? :p

      Ya Allah, cerpen ini ada pesan moralnya ternyata, ya? Gimana pembaca yang menyimpulkan deh, Mbak. Saya bagian bercerita aja. Ehe.

      Delete
  14. Oiya tapi kenapa conversation nya si gegep ke pa tua pake bahasa elo gue, wah gasopannnn ahhahahahhaha
    Btw saia kok jadi pengen hazelnut latte en kentang goreng ya, duilehhhhhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang ada juga kok orang yang lebih tua menanggapi santai saat mengobrol pakai bahasa sehari-hari. Tokoh Gegep mungkin juga enggak pengin berjarak sama orang yang lebih tua. Jadi, dia enggak perlu menggunakan percakapan formal. Toh, itu juga bukan diskusi resmi. :D

      Delete
  15. Yog, makasih loh masukannya. Gue jadi inget pesennya Nabi "musuh terbesar itu berasal dari dalam diri sendiri. Dan ini yang lagi gue rasain wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Lia. Saya sepertinya juga sedang merasakannya. :)

      Delete
  16. Ketika sedang meresapi tokoh gegep, lah kamudian komen paling atas ternyata adalah gegep dalam dunia nyata :)

    Well seneng gue, lu masih suka kumpul-kumpul dengan sesama blogger lainnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.

      Saya, kan, enggak ikut kumpul, Vir. Itu bloger-bloger dalam cerita ini pun cuma berkumpul dalam imajinasi.

      Delete
  17. Aku jujurnya pernah ngerasa gini Yog. Ngerasa jenuh, ngerasa dunia blog jd monoton :p. Tapi aku ga berniat cari lawan. Krn aku masih sadarlah, masih kalaaah jauh dr yg lain. Tp dipikir2, kalo disuruh stop nulis mau ato ga , kayaknya ga pengen stop juga :p. Aku ngerasa memang akunya sendiri yg males, yg ga kreatif menciptakan tulisan, yg ga disiplin ama waktu... Makanya ngerasa begini :( ..

    Tapi udh janji dalam hati, kayaknya blog ga akan pernah aku tinggalin. Ini obat stress ku :p, ga kebayang kalo harus berhenti nulis samasekali. Kalo itu sampe kejadian, berarti hobi travelingku juga sudah berakhir..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blog udah jadi rumah lain berarti, Mbak? Mau ditinggal jalan-jalan ke mana pun, baliknya akan tetap ke situ.

      Saya juga belum bisa membayangkan gimana kalau meninggalkan dunia tulis-menulis ini. Blog udah terlalu sering menyelamatkan saya. :)

      Delete
  18. Lambe dijogo Jok!

    Mantap betul convo Twitter bisa jadi cerpen. Gigip bisa mulai drama baru lagi biar rame. Saya dukung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan pembahasannya juga tentang hal yang diresahkan. Jadi sekalian dibikin. Mendukung agar bisa lahir tulisan-tulisan lainnya?

      Delete
  19. Bener bangett tuh kalau mainnya cuma disitu situ aja serasa keknya sepi banget, yang main cuma kita aja atau makin hari makin redup atau tidak adanya kejelasan yang tepat.. Ternyata banyak hal yang belum diketahui diluar sana, memang dunia sangat luas sekali..

    Yang penting sih jadi diri sendiri aja, gak perlu jadi orng lain buat menghibur orang lain.. mau lucu apa gak kalau kontennya menyenangkan untuk dibaca kenapa gak, so.. ak suka sama artikel mu yang ini..., penyampaiannya pas serasa ak kek yang jadi kamera saat kalian memesan makanan kepada pramusajinya dan mengikuti hingga kalian pulang.. Well keren bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagusnya karena internet kita bisa mengakses belahan dunia lain tanpa harus ke situ. Hahaha.

      Iya, terlepas lucu atau enggak, kalau bagus mah bagus aja. Terima kasih, Ndrie. :D

      Delete
  20. Sempat mikir, "kok ini namanya kayak gak asing?"
    Lha ternyata emang bener nama2nya hasil plesetan, hahahh :))
    Tapi seru sih bacanya, hehehe :D
    Jadi kangen ngumpul2 blogger lagi, hhahha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daripada bingung pilih nama tokohnya, ya asal comot aja dari orang-orang di sekitar. :p
      Semoga bisa segera kumpul dengan temen blognya~

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.