Yakin Blog Kamu Sudah Termasuk Bagus?

50 comments
Menilai bagus atau enggaknya sesuatu hal itu tentu bersifat relatif. Misalnya, A punya penilaian bahwa blog saya ini bagus; kemudian B berpendapat bagus banget; sedangkan C merasa biasa saja. Jadi, mereka punya standar masing-masing dalam menentukan nilai itu. Namun, saya pernah membaca dan mendengar pernyataan begini: “Cakep itu relatif, jelek itu absolut.”

Bukankah dalam menilai hal yang jelek juga ada ukurannya lagi? Ada jelek yang masih bisa dimaklumi, ada jelek banget, ada jelek yang keterlaluan, dan seterusnya. Nah, seharusnya jelek juga termasuk relatif, kan? Kenapa justru dibilang absolut?

Sejujurnya, saya masih bingung dalam hal ini. Apakah sesuatu yang relatif bisa menjadi absolut? Hmm, mungkin intinya jelek itu sudah pasti tidak bagus, ya? Atau, karena jelek itu ada kesepakatan bersamanya, lalu sifatnya berubah menjadi mutlak?

Terlepas dari hal itu, saya akan mengulangi pertanyaan yang ada di judul tulisan ini: Yakin blog kamu sudah termasuk bagus?

https://pixabay.com/id/blog-seo-internet-web-pemasaran-793047/

Saya sendiri seandainya ditanya begitu, tentu akan menjawab sudah. Oke, penilaian seperti ini memanglah subjektif. Namun, saya waktu itu pernah riset kecil-kecilan (baca artikel dan diskusi bersama teman-teman bloger) mengenai blog yang bagus itu kayak gimana di mata pembaca. 


Tampilan Blog 

Sebelum membaca tulisannya, kita pasti akan melihat tampilan blognya terlebih dahulu. Sebagaimana saat kita melihat seseorang, biasanya kita selalu melihat penampilannya duluan, barulah setelah itu mengenal kepribadiannya. Lalu, saya termasuk orang yang simpel kala menilai tampilan blog. Selama warna latarnya putih dan teksnya hitam, otomatis saya akan membacanya.

Jadi, buat blog yang memiliki warna sebaliknya, latarnya hitam dan teksnya putih; saya akan langsung menutupnya tanpa perlu pertimbangan lagi. Saya pun jadi teringat obrolan bersama Rani di WhatsApp mengenai hal ini. Suatu hari saya pernah merekomendasikan blog si Agus kepadanya. Tapi si Rani langsung membalas, “Males baca blog dia.”

Saya pun bertanya kenapa, padahal blog Agus itu tulisannya bagus. Akhirnya, Rani menjawab, “Sebagus apa pun tulisan dia, kalau background-nya hitam mah aku langsung close tab.” 

“Masa, sih? Tadi pas saya baca putih, Ran. Normal gitu.” 

“Serius? Kemaren-kemaren blog dia nuansanya gelap. Mungkin dia ganti tampilannya baru-baru ini. Ya udah, aku cek dulu coba.”

Intinya, kami memang sepakat untuk langsung menutup blog yang tampilannya semacam itu. Kemudian, demi menguatkan opini tersebut, saya pun mengetik “background blog hitam” di kolom pencarian Twitter. Saya menemukan beberapa keluhan yang seragam. Kesimpulannya: background hitam dan font putih itu bikin mata pembaca sakit. 

Saya sadar, sih, itu persoalan selera setiap pemilik blog. Tapi gimana dengan kenyamanan pembacanya? Takutnya pembaca jadi enggak betah, terus lama-lama malas berkunjung lagi. Lagian, zaman sekarang juga ada fitur mode malam di browser ponsel. Jika pengin baca blog dengan tampilan gelap, kamu tinggal aktifkan mode itu.

Selain berbicara soal tampilan blog yang latarnya putih alias bersih barusan, kita pasti juga pengin membuka blog yang bersih dari iklan. Maksud saya, iklan berbentuk banner yang menutupi tulisan di blog. Jadi setiap kali mau membaca tulisannya, kita mesti mengeklik iklan-iklan tersebut. Saya pikir sah-sah saja mencari pemasukan dari blog. Selama pemiliknya masih mengutamakan kenyamanan pengunjung. Lah, kalau baru buka blog tau-tau malah nongol iklan di layar utama, gimana perasaan pembacanya? Bagi saya, itu menjengkelkan sekali. Padahal, pemiliknya bisa menaruh iklan itu di sidebar, sehingga konten atau tulisannya enggak terhalang iklan.


Loading Blog 

Di zaman digital yang internetnya sudah serba cepat ini, kira-kira masih ada enggak, sih, blog yang terbukanya lama saat kita mengaksesnya? Kalau sudah lebih dari sepuluh detik blog itu masih loading, orang-orang biasanya akan segera menutupnya. Menunggu itu menjenuhkan, Sayang~ (sumpah, ini bukan curhat)

Konon, yang menyebabkan blog lama termuat ialah template dan widget-nya. Soal template, saya yakin di internet sudah banyak bertebaran template gratis yang SEO dan responsif. Kamu bisa memilihnya sesuai selera, lalu tinggal mengeditnya sesuai kebutuhan. Kalau soal widget, gunakan yang penting-penting saja. Seperti: tentang pemilik blog, kolom pencarian, tulisan populer, arsip, label, dan Google Friend Connect

Toh, template hasil unduhan itu lazimnya juga sudah memiliki widget yang pas dan seperlunya. Enggak usah ditambah-tambahi widget animasi yang aneh-aneh. Ya, meskipun saya kudu mengakui bahwa dulu sempat menggunakan widget semacam itu. 

Pada tahun 2013, ketika awal-awal ngeblog, saya pikir animasi kayak begitu keren. Seingat saya, saya pernah menggunakan widget burung Twitter—yang kalau diklik akan mengarahkan pembaca ke alamat Twitter saya. Baguslah saya sadar kalau hal itu justru bikin blog saya berat, lalu pembaca juga jadi kurang fokus. Karena setiap kali pembaca menggulirkan mouse, burung itu akan terbang mencari tempat lain agar tetap terlihat di layar.

sumber: pak4g.com


Lagi pula, niat saya, kan, untuk mempromosikan Twitter supaya diikuti pembaca blog ini. Kenapa saya mesti repot-repot pakai widget begituan? Mending pakai widget Twitter biasa yang langsung memperlihatkan twit-twit saya. Syukurlah sekarang sudah tobat.

Namun, saya rasa widget kayak gitu masih mendinglah. Daripada blog yang ada latar lagunya. Sungguh, itu norak banget. Udah enggak bisa ditoleransi lagi dan pasti langsung saya tutup. Mungkin niatnya si pemilik blog biar pengunjung merasa asyik kala membaca tulisannya. Tapi yang ada malah mengganggu kenyamanan pembaca.


Isi Blog 

Nyawa dari sebuah blog adalah tulisannya. Ya, seperti jargon yang selama ini digaung-gaungkan: konten adalah raja. Tapi tanpa dua hal sebelumnya (tampilan dan loading blog), saya rasa konten itu akan menjadi percuma. Jika dua hal itu sudah terpenuhi, barulah konten layak menjadi raja. 

Dalam urusan menilai tulisan, tentulah kita semua kembali ke selera masing-masing. Namun, kita bisa sepakat mengenai konten yang jelek, yakni tulisan hasil plagiat. Rasanya enggak usah diperdebatkan lagi, sebab tindakan itu memanglah sampah. Selain hal itu, biasanya pembaca akan risih membaca tulisan yang banyak salah ketiknya. Typo itu sangatlah wajar, tapi kalau terlalu banyak mah kebangetan. Berarti menandakan si pemilik blog itu malas untuk membaca ulang dan mengoreksi tulisannya sendiri. Simpelnya gini: kamu pas baca tulisan sendiri aja ogah-ogahan, gimana dengan orang lain? 

Lalu hal menyebalkan lainnya ialah tulisan yang dari pembuka sampai penutup nyambung terus alias enggak ada paragrafnya sama sekali. Jarak yang mepet-mepet itu mana enak dilihat, sih. Ayolah, memang apa susahnya bikin alinea baru? Kan, cuma pencet Enter

Kayaknya itu dulu aja deh yang perlu dibenahi. Persoalan tentang suara penulis atau gaya bercerita, EBI (Ejaan Bahasa Indonesia), sudut pandang yang unik, dan sebagainya itu bisalah menyusul.


Konsisten 

Banyak yang bilang kalau kualitas itu lebih penting daripada kuantitas. Saya pun setuju dengan pernyataan itu. Tapi jika hanya mengandalkan kualitas, menurut saya kok kurang tepat. Semenarik dan sekeren apa pun tulisan itu, tapi jika publikasi tulisannya jarang-jarang, lama-lama pembaca pun akan mengeluh, “Mana nih tulisan barunya?”

Setiap kali main ke blog seseorang, lalu tulisannya masih itu-itu saja, pembaca akhirnya bosan dan meninggalkan blog itu, kan? Sebagaimana para musisi yang tidak membuat lagu baru, perlahan-lahan kariernya pun akan meredup. Begitu juga dengan bloger. Selama tidak ada pembaruan, blognya itu akan tertelan oleh zaman.

Sebetulnya, tidak ada tolok ukur pasti bloger konsisten itu yang seperti apa. Saya sendiri juga merasa belum termasuk konsisten. Jadwal saya ketika membuat tulisan baru masih semrawut. Tapi dari perbincangan yang saya simak, bloger yang konsisten itu normalnya akan update tulisan seminggu sekali. Kalau kamu merasa hal itu berat, kamu bisa menguranginya menjadi dua minggu sekali, atau minimal terdapat 2 tulisan dalam setiap bulannya.

Domain 

Seperti pepatah “Empat sehat lima sempurna”, saya pun bikin daftar ini menjadi lima supaya sempurna. Nah, apakah blog kamu sudah memenuhi empat hal sebelumnya? Jika sudah, baguslah. Itu menandakan blog milikmu sehat. Terus, apakah blog kamu sudah sempurna? 

Tapi mungkin kamu bakal bertanya-tanya, “Emang kalau mau sempurna harus pasang domain?” 

Dulu saya juga sering berpikir demikian. Buat apa coba pasang domain? Niat saya, kan, cuma pengin belajar menulis dan menumpahkan keresahan. Berarti pakai yang gratisan pun sudah cukup. Namun, waktu itu saya pernah mendapat masukan dari seorang kawan bloger. Suatu sore pada tahun 2014, ketika kami sedang mengadakan kopdar, dia tiba-tiba bilang kepada saya, “Blog lu kenapa masih blogspot sih, Yog?”

Saya kemudian menjelaskan kepadanya tentang niat saya bikin blog tersebut. Lalu, dia bilang kalau saya itu rajin menulis, rasanya rugi kalau belum pasang domain. Terus, saya balik bertanya mengenai bloger yang udah pasang domain, tapi enggak nulis-nulis apakah juga termasuk rugi? Akhirnya, dia berpendapat kalau pasang domain itu enggak rugi sama sekali. Dia pun mulai menyebutkan beberapa keuntungan memakai domain: blog akan terlihat lebih profesional atau menandakan pemiliknya serius mengelola blognya; alamat blog lebih mudah diingat, sebab sudah tidak ada embel-embel blogspot atau wordpress; mudah dilirik klien untuk diajak bekerja sama.

“Tapi masang domain itu bukannya mahal?” tanya saya. “Masangnya juga ribet.”

Kalau kamu iseng bertanya kepada sebagian bloger yang belum memakai domain, mungkin jawabannya akan sama seperti saya waktu itu.

Namun, dugaan semacam itu rupanya keliru. Normalnya, harga domain dalam setahun itu kisaran Rp100.000 hingga Rp200.000. Harga itu sudah termasuk murah. Penyedia domain pun sekarang ini sering memberikan promo pada tanggal-tanggal tertentu. Jika kamu masih tetap bingung mencari domain murah, kamu bisa mengecek dan membelinya di Niagahoster.

Kalau urusan memasangnya yang ribet, di web penyedia domain itu pun terdapat panduan untuk mengatur pemasangan domainnya. Seandainya masih belum mengerti juga, kamu toh bisa menghubungi customer service-nya untuk menanyakan persoalan itu. Setelah mengeset pengaturan di blog dan DNS (Domain Name System), beberapa menit kemudian blog kamu pun berubah menjadi .com (bisa juga .net, .id, .org, atau Top Level Domain lainnya yang kamu pilih). Nah, memasang domain itu sebenarnya mudah, bukan? Prosesnya pun menurut saya cepat.


Mungkin penilaian soal kategori blog bagus barusan masih kurang tepat dan bersifat relatif seperti yang saya bahas di awal tulisan. Setidaknya, blog kamu sudah bagus dari kacamata saya—dan kesimpulan beberapa orang berdasarkan riset kecil-kecilan itu. Lalu, apakah blog kamu sudah termasuk bagus? Jika iya, selamat! Kalau belum, kamu bisa langsung memperbaikinya. Tidak ada kata terlambat untuk bikin blogmu jadi lebih baik, kan?
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

50 comments

  1. Sama seperti opinimu, Yog.
    Aku juga suka tampilan blog yang terlihat clean backgroundnya karena mata jadi ngga cepet lelah bacanya.

    Yang kedua, aku juga ngga suka membaca karya hasil plagiat.
    Penulisan artikel dengan hasil karya sendiri dan punya gaya ciri penulisan tersendiri jauh lebih enak dibaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, saya mendapat tambahan suara mengenai tampilan blog yang bersih~

      Delete
  2. Duh penilaian blog bagus ya? Lupa kalo blog buku saya udah ditinggalin lama banget. Eit, tapi soal blog yang bersih, saya setuju. Ditambah, kualitas tulisan. Argggh, saya suka males mampir lagi kalau tulisannya biasa aja. Kalau tulisannya bagus, saya suka mampir lagi walau cuma buat baca ulang tulisan-tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeblog lagi dong, Din! Tulis ulasan buku kumcer fiksi gitu. Biar saya dapet referensi baru. Ehehe. :D

      Yang sekarang biasa aja, mungkin suatu hari nanti bisa jadi luar biasa~ :)

      Delete
  3. kalo emang orangnya sengaja bikin tema backgroundnya warna hitam dan tulisannya putih, agar menjadi pembeda dari blog lain gimana tuh, yog? tapi emang tetep males baca juga sih.
    ehe

    kayaknya yang bikin loading blog lama juga pengaruh dari slide bar gitu, bener ga? gue pernah masang, dan kenyataannya berat banget buat dibuka sih jadinya. tapi ada juga yang masang slide bar dan loadingnya ga lama, itu berarti kayaknya guenya aja sih yg ga paham caranya kali ya. ini gue berasa ngomong sendiri dah.
    tapi sejauh ini, gue pasti selalu masang widget semut di blog sih. biar beda aja. dan bikin orang-orang ga fokus. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, itu terserah pemilik blognya. Tapi pengunjung juga punya hak buat males baca, kan? Kayak yang lu tuliskan itu.

      Belum pernah pasang yang pakai slide, sih. Tapi mungkin itu juga berpengaruh.

      Semut tapi masih mendinglah, kecil di pojokan. Si Adis juga pake gituan kalo nggak salah. Kalau burung Twitter di layar utama. Wqwq.

      Delete
  4. anjay aku pernah semua, burung twitter, lagu. dulu bisa buat pamer, "nih liat, blog aku ada burungnya. ada lagunya."
    yang diajak ngobrol malah kagum, "wah keren, gimana caranya."
    berasa friendster wqwq

    tinggal konsisten sama domain aja nih :(
    seringnya kalau terpaksa ngepost (terpaksa ya Allah), habis iru ditinggal pergi alias gak dibuka lagi

    blogwalking tida termasuk dalam list nih? soalnya aku udah jarang bangat BW huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada zamannya itu keren mungkin. Sekarang mah alay. XD

      Kadang saya juga gitu, sih. Habis buat tulisan baru, bisa kagak buka blog seminggu lebih. Baca komentarnya dari email. Sayangnya, sekarang blogspot ada perubahan. Komentar nggak pernah masuk lagi ke email. :')

      Blogwalking menurut saya lebih ke penggunanya. Enggak memengaruhi nilai dari blog itu.

      Delete
  5. Hmmmm menarik ni, mw komen panjang ah hahaha

    Pertama, mw jawab pertanyaan di judul
    Apakah blog aku udah bagus pa engga? Yg bisa nilai tentu aja orang yang mampir, tp klo aku sendiri sih masi ngerasa nyaman buat bulak balik baca blog sendiri baik itu tulisan lama ato baru yg nenandakan untuk standar pribadi sih buatku masih oke2 aja haha, ga tau klo orang lain punya pendapat beda.

    Trus ngomenin point pointnya, mnurut aku yg bagus dari sebuah blog itu justru :

    Pertama itu konten. Aku termasuk ga masalah si klo tampilan templatenya warna warni sekalipun, klo ga masi gratisan, ato kliatan sederhanaaa bgt, tp asal tulisannya bagus mah bagus aja, tetep menarik buat kubaca wkwk...
    Tapi Aku kdg suka sebel klo liat blog uda bagus2 templatenya sederhana, e kpn hari mlh diganti dg yg lebih berat dan klo dibuka pke tampilan hp ato tab jd pingin ngomel karena risih liat sesuatu yg mencong2 ngratain rata atas bawah kanan kirinya haha...(blog aku sendiri, masi ada PR ni karena headernya agak mencong ke satu sisi, lantaran bingung ngotak atik settingannya haduuuh). Akhirnya pasrah aja, berharap masi ada yg baca walo aku sering nulis curhatan, pengalaman sehari-hari, ato review apa, even ga dibayar

    Klo wigdet yg ngarahkeun ke sosmed justru aku anaknya males nambahin haha, gatau terlampau super ansos kali y w, jd yg mmpir kadang kupikir pentingan dia baca atau syukurnya komen tulisanku di blog aja tanpa perlu beramah tamah ato tau pribadiku secara detail di sosmed

    Konsisten juga penting. Banget. Kualitas yes itu setuju, penting. Tapi kdg suka gemes klo uda suka ma blog orang tp ga update2....soalnya baca blog secara random itu kdg bisa buat hiburan sih....

    Domain, ini ni yg galau mulu. Pingin ngedomainin yp ya gitu pesti inget tar klo uda mninggal ga mau ngrepotin orang buat ngurusin balik ke blogspot ato nerusin, huhu
    Tp sometimes tergoda duit dari review yg masih menganakemaskan domain tld sih, kzl huh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya, balik lagi ke soal relatif itu.

      Tapi kalau latarnya hitam sungguh kasihan mata pembacanya, Mbak. Yang teksnya putih aja sakit, kan. Kadang ada latar hitam, teks abu-abu. Nyaru gitu. :(

      Awalnya maksud saya pakai widget Twitter tuh biar pengunjung bisa tetap lihat tulisan saya dalam bentuk pendeknya, ketika belum ada tulisan baru. :D

      Kadang saya juga sedih, ketika beberapa blog kesukaan malah vakum nulis. :( Selain buat hiburan, kita juga bisa termotivasi nulis bagus.

      Saya akhirnya nggak terlalu mikirin saat meninggal, terus blog nggak bisa diakses lagi itu. Fokus aja yang sekarang deh. Hahahaha. Iya, sekarang diutamakan yang TLD untuk urusan kerja sama. Semoga setelah ini nggak bimbang lagi mau pasang domainnya~ :)

      Delete
  6. Oya satu lg, sebenere wlo kdg aku ngelewatin post2 yu yg blom sku komen tp aku tetep mampir loh, soalnya uda biasa gitu haha safari blog temen jd semacam hiburan
    Tp kdg aku gemes klo ngliat liwat tab itu kn niatku langsung baca postingan, tp settingan tampilannya licin euy kdg jari ini tiap buka blog ini selalu kegiring dulu di laman menu blog u yg tentang saya wkwkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mantengin blog ini. Hoho. :D Kalau dari ponsel, pas skrol-skrol gitu laman blog saya emang kadang kepencet. Saya sendiri pun pernah. Ahaha.

      Delete
  7. Pernah waktu itu mampir ke blog yang background-nya hitam, gue paksain baca tulisannya sampe akhir. Pas kelar, mata gue langung pengen resign rasanya.

    Btw yang paling penting banget malah menurut gue adalah konsisten. Karena dengan nulis konsisten, kita akan banyak belajar bagaimana bikin blog yang baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah gue setuju sama penggemar Liverpool satu ini.

      Delete
    2. Doni: Pas pindah ke blog lainnya apalagi tuh. Mata langsung berbayang-bayang. :(
      Karena sangat penting, makanya itu yang paling susah diterapkan ya, Jeh? :)

      Firman: Nah, gitu dong pendukung MU sama Liverpool saling sepakat. :p

      Delete
  8. Pas ganti domain supaya keliatan pro, saat saya berkaca malah tetep aja nggak konsisten nulis. Sedihnya di situ sih. Malah banyak yang masih blogspot tapi viewsnya sampe 3jt. Salut.

    Btw, yang bener itu bloger/blogger?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi pro itu bukan dari tampilan dari sikap. Domain itu cuma "topeng" doang kan. Jadi pro atau nggak balik lagi ke user. Dan oh, konsistensi nggak bikin viral. Tergantung apa yang lo kejar. Popularitas atau ngasah skill? Kalau mau populer fokus ke konten. Kalau ngasah skill fokus ke konsistensi. Kalau mau jadi populer dan punya skill, harus konsisten bikin konten yang berkualitas.

      Bloger bahasa Indonesia, blogger bahasa Inggris. Keduanya bener.

      Delete
    2. Soal bloger/blogger, sudah dibantu jawab tuh.

      Terus kalau domain, ya seperti yang sudah dikomentarin sama Gigip juga. Domain itu hanya topeng alias bikin "terlihat" profesional. Kan itu luarnya aja. Kayak rumah. Dari luar tentu bagus, tapi dalemnya kita enggak tahu kalau belum masuk. Supaya tahu, ya kudu baca dulu tulisannya. Saya sepakat sama yang disampaikan Gigip. Mbak Onixtin mengejar apa? Semua kembali ke pemilik blognya lagi. Namun, siapa, sih, yang enggak seneng kalau blognya ramai? Haha.

      Tapi saya sendiri, sih, udah ikhlas aja sama trafik. Widget total pengunjung itu pun saya hapus dari kapan tahu dari sidebar blog ini. Takutnya, kalau ada yang berkunjung ke blog ini dan melihat angka itu malah sensitif. Terutama bloger yang jumlah trafiknya jauh lebih sedikit, dia bisa aja jadi merasa kecil. (halah, kayak trafikmu banyak aja, Yog!) XD

      Delete
  9. Iyasih, Yog. Background blog yang warnanya hitam kadang bikin gak betah berlama-lama, apalagi kalau ada tambahan widget yang kamu sebutin di atas, jadi keinget sama tampilang blogku beberapa tahun silam, ada burung twitter gitu, ada kolam ikan, ada salju, dan ada lagu. Lengkap! Untung sekarang udah sadar kalau semua itu nirfaedah, jadi udah gak dipake lagi. Huekekek.

    Nah, kalau konsisten itu sampai sekarang masih susah, aku sendiri juga merasa belum termasuk konsisten. Rajin buka blog tapi updet blognya yang gak rajin. wkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kolam ikan yang kayak gimana tuh? Saya lupa tampilannya atau belum pernah lihat. Wahaha.

      Semoga pelan-pelan bisa bertambah rajin, Nov. Aamiin. :)

      Delete
  10. Gue sih nggak masalah sama blog latar hitam. Selama background dan font punya warna kontra (latar gelap font terang, latar terang font gelap). Gue malah lebih kesel sama blog yang kebanyakan javascript. Tapi sama yang pake font unyu-unyu juga kesel sih. Susah bacanya. Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gokil. Mata lu kuat juga ngelihat latar hitam.

      Font-font unyu yang gimana tuh? Belum pernah lihat selama blogwalking. Yang kayak font-font di BlackBerry kali, ya? Pernah lihat SS orang di Twitter juga ada yang font-nya alay banget. XD

      Delete
  11. Kalau tampilan kayaknya udah gak perlu diperdebatkan lagi nggak sih. bg putih font item atau abu-abu tua itu udah jadi pakem. gak bias dilawan dengan argument "tergantung selera pemilik blog".

    Terus kalo 'konten adalah raja' itu juga bener, tapi konsistensi juga penting itu juga bener. Bener semua sih, ahh lulus dah lu Yog, nggak bakal remedial mah kalo gini caranya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha. Karena kalau dilawan akan kalah dengan rasa risihnya pembaca yang pergi dari blog itu?

      Berasa balik ke zaman sekolah gue baca kata "remedial", San. XD

      Delete
  12. Belom pernah nemu bloger yang pakai background hitam kayaknya. Tapi kalau website ecek-ecek buat download mp3 apa film gratisan gitu, sering.

    Wah, ngena banget kalau pas nemu tulisan yang mbahas konsistensi nulis di blog. Awal-awal hijrah ke TLD dulu, aku juga punya target buat publish 4 blogpost dalam sebulan (ya, katakanlah 1 tulisan per minggu) tapi makin kesini malah makin buyar target itu. Kadang cuma muncul 2 atau 1 tulisan aja per bulannya. Itupun banyakan tulisan buat lomba, bukan "pure--murni" tulisan curhatan / jalan-jalan.

    Dulu pas belum pindah TLD, lihat blog berself domain, berasa keren gitu. Tapi sekarang pas udah punya sendiri, ya, biasa aja. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blog yang tulisannya khusus lirik-lirik lagu juga sering, Wis.

      Kembali lagi ke pemilik blognya, sih. Tulisan buat lomba pun kalau ditulis sepenuh hati, tentu akan enak dibaca.

      Delete
  13. yang paling penting sih isi konten harus konsisten dan tidak melenceng dari tema yang sudah ditentukan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, bisa juga. Banyak yang awalnya bahas "ini", terus tau-tau bahas "itu", ya? Mungkin buat nambah-nambah jumlah kata. :p

      Delete
  14. Agak membingungkan sih soal tampilan blog hitam dengan latar tulisan putih ini. Dulu Saya pernah baca alkitab desain grafis di gramed. Katanya, dengan background hitam tulisan gelap, itu bisa membuat audience lebih fokus.

    Ga percaya? Coba aja liat slide presentasinya Steve Jobs deh. Pasti gitu semua.

    Cuma herannya, begitu diaplikasikan ke dunia blogging kok malah bikin sakit mata ya? wkwkwk. Pernah nyobain sih beberapa waktu lalu. Tapi akhirnya ga lanjut, karena saya jadi sedih tiap kali liat blog sendiri :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan di slide presentasi itu karena sedikit dan poin-poin aja, jadinya kita bisa fokus. Kalau tulisan di blog biasanya panjang-panjang. Saat melihat teks yang banyak seperti itu, mata pun jadi berbayang-bayang. CMIIW~

      Delete
  15. Blog yang ada lagunya sih emang juara bikin orang kesel. Pernah suatu hari lagi asik blogwalking, kesasar di blog yang tiba-tiba ada lagunya. Padahal ngekliknya di "open in new tab" langsung dong kaget, itu suara darimanaaa. T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalau lagi di tempat umum dan enggak pakai earphone, tau-tau keputer musik yang jelek, kan, langsung malu. Dikira selera musiknya gimana-gimana. Padahal, itu dari blog orang. Huhu. :(

      Delete
  16. Kalo saya sih asal dia penampilannya sopan, saya suka
    Apalagi kalo yg pandai menutupi auratnya sendiri
    Enggak ragu2 saya buat jadiin dia istri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah kayak film Her aja. Kenapa Niki mau punya istri sebuah blog? :(

      Delete
  17. Sama sebenarnya pendapat saya. Saya lebih mengutamakan tampilan blog dulu. Itu yang pertama kali saya lihat. Saya lebih suka blog dengan tampilan sederhana tapi tetap menarik. Terutama background putih tulisan hitam. Tata susunan blognya rapi juga buat saya betah nongkrong di blog itu hehe

    Masalah loading sih saya masih bisa nunggu kalopun itu blog atau jenis bacaan favourite saya. Tapi kalau semisal banyak iklan atau tampilan yang mengganggu saya langsung close tab meskipun itu blog yang saya sukai bacaannya.

    Kalau isi benar memang, nyawa blog ada pada isi yang di dukung dengan tampilan blog yang sesuai dengan konten. Gak lucu aja blognya bahas review tempat wisata backgroundya hello kitty, tapi sekarang hal semacam itu sudah jarang saya temui. kalau isi tampilan dll sudah bagus, tinggal ningkatin komitmen. Mau serius gak di blog dah gitu aja. Sebenarnya ide selalu ada, tinggal eksekusinya bagaimana

    Untuk domain? haha saya masih blogger baru yang baru di bilang aktif tahun belakangan ini jadi saya harus komitmen dulu baru mau masang domain, apalagi blog saya bukan tipe bacaan kebanyakan orang hehe

    Salam bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin gambar Hello Kitty itu cuma pengin menunjukkan sisi lembut penulisnya. Ya, meskipun itu emang timpang banget, sih. :)

      Apa pun jenis tulisannya--yang lu bilang bukan tipe bacaan kebanyakan orang, menurut saya setiap bacaan pasti selalu ada pembacanya sendiri, Yu. Santai aja. Ehe.

      Salam dibalik malas~

      Delete
  18. Sependapat, Mas. Dan bener sih widget twitter terbang gitu bikin berat. Aku juga pernah tuh awal-awal segala widget di pasang, musik lah, burung terbang lah..haha

    Aku pernah deh nemuin blog yang backgrounnya hitam gitu. Udah gitu tulisannya warna hijau nyala lagi..he
    Aku sendiri simple aja, selagi aku sebagai pemilik blog membacanya nyaman, aku rasa yang berkunjung juga ikut nyaman. Begitu juga sebaliknya.

    Lama tak main kesini..
    Gimana kabarnya, Mas Yoga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah baca itu, apakah matamu baik-baik saja, Mas Andi? Semoga apa yang nyaman buat diri sendiri, juga bisa bikin betah para pembaca. Kalau nyaman buat pemilik rumah, tapi tamunya males kan gimana gitu. Misalnya, merasa nyaman dengan latar belakang hitam--seperti yang sudah saya tulis itu. :p

      Alhamdulillah baik~

      Delete
  19. bener, pop up yang kebangetan itu langsung kututup aja
    mana tulisan dikit banget iklannya bejibun
    ampun

    yah terserah yang punya blog juga sih tapi klo jadi pembacanya mending ke blog lain

    klo konten emang reltif, tapi entah kenapa aku paling males kalau blog yang penggunaan kata depan dan awalan sering kebalik. Mana yang disambung, mana yang dipisah. Gak tau ya kebiasaan koreksi kerjaan soal anak-anak jadi agak rewel masalah ini, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Cari duit gitu amat~

      Yap, penggunaan "di" sebagai preposisi dan prefiks yang sering salah itu, emang suka bikin gatel buat mengoreksi. :)

      Delete
  20. Huahahahahahaha. Background yang hitam sih aku nggak pernah kayaknya, tapi kalau yang berwarna gitu pernah dan itu bikin sakit mata pas bacanya. Burung-burung Twitter juga pernah. Terus.... dulu waktu masih sekolah aku pernah pakein blogku lagu, lagunya Taylor Swift lebih tepatnya. Dari situ aku tau kalau ada yang buka blogku di kelas, dan aku tau ternyata orang yang aku pernah ghibahin di blog buka blogku. Wkakaka. Ada hikmahnya tapi banyak malunya sih karena itu norak.

    Blogku belum termasuk bagus sih, Yogs. Masih banyak typo (kayaknya anak Samarinda punya ciri khas kalau nulis blog suka typo dah huhu). Terus nggak konsisten. Konten juga gitu-gitu aja. Semoga deh blogku bisa lebih baik dengan postingan-postingan yang sebisa mungkin enak dibaca. Joko Anwar pernah, "Skenario adalah tulang punggung dari sebuah film," mungkin itu juga berlaku di blog. Konten adalah tulang punggung dari sebuah blog. Yuhuuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, terus pas ketahuan gitu apakah berantem? Hm, nama dia emang enggak disensor atau gimana, Cha?

      Blog ini juga beberapa kali ada salah ketiknya. Terutama kalau ngetiknya malam hari dan minim mengedit. Tapi begitu nemu kesalahannya saat baca ulang, saya langsung buru-buru benerin. Wqwq.

      Aamiin~

      Boleh juga tambahan kalimat dari Joko Anwar. Ehe. Ya gimana, tulisan emang udah jadi bagian utamanya. Karena setelah pembaca tertarik dengan tampilan dan kecepatan loading blog, yang kita jual itu pasti tulisannya. Kalau ternyata enggak cocok dengan selera atau merasa produknya buruk, ya pembeli pasti malas beli lagi.

      Delete
    2. Nggak disebutin sih namanya, Yogs. Pake nama samaran Mawar-Melati kalau nggak salah. Itu lho, kayaknya aku pernah cerita soal itu, yang aku nulis review Yes or No tapi sebenarnya itu curcol soal punya teman sekelas yang lesbian, terus aku dilabrak sama mereka. Huhuhu.

      Delete
    3. Oh, yang itu. Iya, saya inget sekarang. Syukur belum pernah ada yang protes ketika saya menceritakan sesuatu kisah di blog. Mungkin karena saya menyiasatinya dengan fiksi. Hahaha.

      Delete
  21. Setuju. Paling enggak suka sama blog yang background sama warna fontnya ngaco. Ngebacanya bikin sakit mata. Tapi masih ada lho bloger kayak gitu, yang tampilan blognya ngaco padahal tulisannya bagus. Heran, apa dia enggak mikirin nasib pembacanya, ya? Padahal udah banyak, lho, template gratisan yang siap pakai. :')

    Kalo soal blog dengan widget-widget aneh kayak animasi burung, lagu, untungnya gue belum pernah pakai begituan pas awal awal ngeblog. Mungkin karena waktu itu udah mulai ada kemajuan kali ya. Maksudnya, bukan kayak blog yang lahir sekitar di bawah tahun 2010 gitu. Soalnya pas awal-awal gue ngeblog di tahun 2012, gue udah pake template responsive yang tinggal di download.

    Kalau bicara soal blog yang bagus itu seperti apa, buat gue, adalah blog yang nyaman dan enak dibaca lewat perangkat apapun dan designnya konsisten. Habis itu baru kontennya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entahlah. Nanti coba mau tanya sama yang blognya begitu seandainya menemukannya.

      Dulu saya masih pakai template dari blogspot. Belum paham kalau bisa unduh template gratisan siap pakai itu. Wahaha.

      Beberapa orang malah suka ganti-ganti template setiap beberapa tahun supaya memberikan warna yang beda. Kadang ada juga yang bilang biar nulisnya semangat karena desain enggak monoton lagi. Kalau saya mungkin enggak ganti-ganti template karena udah sreg sama yang ini dan males ngotak-ngatik kalau pakai yang baru.

      Delete
  22. Kalo tampilan blog orang lain, biasanya aku ga bakal banyak komplain, sepanjang isi tulisannya bagus :p. Mau layar hitam ato apapun, kalo tulisan masih bisa kebaca, aku biasanya ttp baca sampai habis. Tapiiiii, kalo isi tulisan ga runut, terlalu berat, ga faedah, bhaabhaay :p. Tapi yg paling keinget nih, aku pernah baca blog (lupa punya siapa), isinya sbnrnya baguus, tapiiiiii ya allah itu ukuran tulisan pake size semut apa yaaak wkwkwkwkww... Trus spasi rapat, paragraf nya jauh jauh. Aku lgs nyerah yog :p. Mataku minus parah soalnya.

    Konsisten nih yg aku blm bisa :(. Kdg ga mood nulis krn pusing ama kantor :p. Alasan banget sih memang.. Moga kedepannya lbh bisa ngatur waktu supaya blog ttp konsisten diupdate

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang hurufnya kekecilan juga ganggu tuh. :( Masa harus diperbesar mulu dengan pencet ctrl sambil menggulirkan mouse?

      Kalau soal itu biasanya saya menyiasatinya dengan menjadwalkan tulisan. Pas lagi banyak waktu luang buat nulis, saya bikin semaksimal mungkin. Ya, sekiranya 2-3 tulisan. Ketika udah sibuk bisa berguna deh. Jadi, saya akan usahakan enggak langsung ditampilkan semuanya di blog. Kasih jadwal tulisan itu setiap seminggu sekali. Hehe.

      Delete
  23. Betul banget tampilan emang sangat berpengaruh. Saya pun suka kesel kalo baca blog yg kanan kiri atas bawah tengah isinya penuh iklan.

    ReplyDelete
  24. Kalau menurut mas, blog ku udah bagus belum?

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.