Menilai bagus atau enggaknya sesuatu hal itu tentu bersifat relatif. Misalnya, A punya penilaian bahwa blog saya ini bagus; kemudian B berpendapat bagus banget; sedangkan C merasa biasa saja. Jadi, mereka punya standar masing-masing dalam menentukan nilai itu. Namun, saya pernah membaca dan mendengar pernyataan begini: “Cakep itu relatif, jelek itu absolut.”

Bukankah dalam menilai hal yang jelek juga ada ukurannya lagi? Ada jelek yang masih bisa dimaklumi, ada jelek banget, ada jelek yang keterlaluan, dan seterusnya. Nah, seharusnya jelek juga termasuk relatif, kan? Kenapa justru dibilang absolut?

Sejujurnya, saya masih bingung dalam hal ini. Apakah sesuatu yang relatif bisa menjadi absolut? Hmm, mungkin intinya jelek itu sudah pasti tidak bagus, ya? Atau, karena jelek itu ada kesepakatan bersamanya, lalu sifatnya berubah menjadi mutlak?

Terlepas dari hal itu, saya akan mengulangi pertanyaan yang ada di judul tulisan ini: Yakin blog kamu sudah termasuk bagus?

https://pixabay.com/id/blog-seo-internet-web-pemasaran-793047/

Saya sendiri seandainya ditanya begitu, tentu akan menjawab sudah. Oke, penilaian seperti ini memanglah subjektif. Namun, saya waktu itu pernah riset kecil-kecilan (baca artikel dan diskusi bersama teman-teman bloger) mengenai blog yang bagus itu kayak gimana di mata pembaca. 


Tampilan Blog 

Sebelum membaca tulisannya, kita pasti akan melihat tampilan blognya terlebih dahulu. Sebagaimana saat kita melihat seseorang, biasanya kita selalu melihat penampilannya duluan, barulah setelah itu mengenal kepribadiannya. Lalu, saya termasuk orang yang simpel kala menilai tampilan blog. Selama warna latarnya putih dan teksnya hitam, otomatis saya akan membacanya.

Jadi, buat blog yang memiliki warna sebaliknya, latarnya hitam dan teksnya putih; saya akan langsung menutupnya tanpa perlu pertimbangan lagi. Saya pun jadi teringat obrolan bersama Rani di WhatsApp mengenai hal ini. Suatu hari saya pernah merekomendasikan blog si Agus kepadanya. Tapi si Rani langsung membalas, “Males baca blog dia.”

Saya pun bertanya kenapa, padahal blog Agus itu tulisannya bagus. Akhirnya, Rani menjawab, “Sebagus apa pun tulisan dia, kalau background-nya hitam mah aku langsung close tab.” 

“Masa, sih? Tadi pas saya baca putih, Ran. Normal gitu.” 

“Serius? Kemaren-kemaren blog dia nuansanya gelap. Mungkin dia ganti tampilannya baru-baru ini. Ya udah, aku cek dulu coba.”

Intinya, kami memang sepakat untuk langsung menutup blog yang tampilannya semacam itu. Kemudian, demi menguatkan opini tersebut, saya pun mengetik “background blog hitam” di kolom pencarian Twitter. Saya menemukan beberapa keluhan yang seragam. Kesimpulannya: background hitam dan font putih itu bikin mata pembaca sakit. 

Saya sadar, sih, itu persoalan selera setiap pemilik blog. Tapi gimana dengan kenyamanan pembacanya? Takutnya pembaca jadi enggak betah, terus lama-lama malas berkunjung lagi. Lagian, zaman sekarang juga ada fitur mode malam di browser ponsel. Jika pengin baca blog dengan tampilan gelap, kamu tinggal aktifkan mode itu.

Selain berbicara soal tampilan blog yang latarnya putih alias bersih barusan, kita pasti juga pengin membuka blog yang bersih dari iklan. Maksud saya, iklan berbentuk banner yang menutupi tulisan di blog. Jadi setiap kali mau membaca tulisannya, kita mesti mengeklik iklan-iklan tersebut. Saya pikir sah-sah saja mencari pemasukan dari blog. Selama pemiliknya masih mengutamakan kenyamanan pengunjung. Lah, kalau baru buka blog tau-tau malah nongol iklan di layar utama, gimana perasaan pembacanya? Bagi saya, itu menjengkelkan sekali. Padahal, pemiliknya bisa menaruh iklan itu di sidebar, sehingga konten atau tulisannya enggak terhalang iklan.


Loading Blog 

Di zaman digital yang internetnya sudah serba cepat ini, kira-kira masih ada enggak, sih, blog yang terbukanya lama saat kita mengaksesnya? Kalau sudah lebih dari sepuluh detik blog itu masih loading, orang-orang biasanya akan segera menutupnya. Menunggu itu menjenuhkan, Sayang~ (sumpah, ini bukan curhat)

Konon, yang menyebabkan blog lama termuat ialah template dan widget-nya. Soal template, saya yakin di internet sudah banyak bertebaran template gratis yang SEO dan responsif. Kamu bisa memilihnya sesuai selera, lalu tinggal mengeditnya sesuai kebutuhan. Kalau soal widget, gunakan yang penting-penting saja. Seperti: tentang pemilik blog, kolom pencarian, tulisan populer, arsip, label, dan Google Friend Connect

Toh, template hasil unduhan itu lazimnya juga sudah memiliki widget yang pas dan seperlunya. Enggak usah ditambah-tambahi widget animasi yang aneh-aneh. Ya, meskipun saya kudu mengakui bahwa dulu sempat menggunakan widget semacam itu. 

Pada tahun 2013, ketika awal-awal ngeblog, saya pikir animasi kayak begitu keren. Seingat saya, saya pernah menggunakan widget burung Twitter—yang kalau diklik akan mengarahkan pembaca ke alamat Twitter saya. Baguslah saya sadar kalau hal itu justru bikin blog saya berat, lalu pembaca juga jadi kurang fokus. Karena setiap kali pembaca menggulirkan mouse, burung itu akan terbang mencari tempat lain agar tetap terlihat di layar.

sumber: pak4g.com


Lagi pula, niat saya, kan, untuk mempromosikan Twitter supaya diikuti pembaca blog ini. Kenapa saya mesti repot-repot pakai widget begituan? Mending pakai widget Twitter biasa yang langsung memperlihatkan twit-twit saya. Syukurlah sekarang sudah tobat.

Namun, saya rasa widget kayak gitu masih mendinglah. Daripada blog yang ada latar lagunya. Sungguh, itu norak banget. Udah enggak bisa ditoleransi lagi dan pasti langsung saya tutup. Mungkin niatnya si pemilik blog biar pengunjung merasa asyik kala membaca tulisannya. Tapi yang ada malah mengganggu kenyamanan pembaca.


Isi Blog 

Nyawa dari sebuah blog adalah tulisannya. Ya, seperti jargon yang selama ini digaung-gaungkan: konten adalah raja. Tapi tanpa dua hal sebelumnya (tampilan dan loading blog), saya rasa konten itu akan menjadi percuma. Jika dua hal itu sudah terpenuhi, barulah konten layak menjadi raja. 

Dalam urusan menilai tulisan, tentulah kita semua kembali ke selera masing-masing. Namun, kita bisa sepakat mengenai konten yang jelek, yakni tulisan hasil plagiat. Rasanya enggak usah diperdebatkan lagi, sebab tindakan itu memanglah sampah. Selain hal itu, biasanya pembaca akan risih membaca tulisan yang banyak salah ketiknya. Typo itu sangatlah wajar, tapi kalau terlalu banyak mah kebangetan. Berarti menandakan si pemilik blog itu malas untuk membaca ulang dan mengoreksi tulisannya sendiri. Simpelnya gini: kamu pas baca tulisan sendiri aja ogah-ogahan, gimana dengan orang lain? 

Lalu hal menyebalkan lainnya ialah tulisan yang dari pembuka sampai penutup nyambung terus alias enggak ada paragrafnya sama sekali. Jarak yang mepet-mepet itu mana enak dilihat, sih. Ayolah, memang apa susahnya bikin alinea baru? Kan, cuma pencet Enter

Kayaknya itu dulu aja deh yang perlu dibenahi. Persoalan tentang suara penulis atau gaya bercerita, EBI (Ejaan Bahasa Indonesia), sudut pandang yang unik, dan sebagainya itu bisalah menyusul.


Konsisten 

Banyak yang bilang kalau kualitas itu lebih penting daripada kuantitas. Saya pun setuju dengan pernyataan itu. Tapi jika hanya mengandalkan kualitas, menurut saya kok kurang tepat. Semenarik dan sekeren apa pun tulisan itu, tapi jika publikasi tulisannya jarang-jarang, lama-lama pembaca pun akan mengeluh, “Mana nih tulisan barunya?”

Setiap kali main ke blog seseorang, lalu tulisannya masih itu-itu saja, pembaca akhirnya bosan dan meninggalkan blog itu, kan? Sebagaimana para musisi yang tidak membuat lagu baru, perlahan-lahan kariernya pun akan meredup. Begitu juga dengan bloger. Selama tidak ada pembaruan, blognya itu akan tertelan oleh zaman.

Sebetulnya, tidak ada tolok ukur pasti bloger konsisten itu yang seperti apa. Saya sendiri juga merasa belum termasuk konsisten. Jadwal saya ketika membuat tulisan baru masih semrawut. Tapi dari perbincangan yang saya simak, bloger yang konsisten itu normalnya akan update tulisan seminggu sekali. Kalau kamu merasa hal itu berat, kamu bisa menguranginya menjadi dua minggu sekali, atau minimal terdapat 2 tulisan dalam setiap bulannya.

Domain 

Seperti pepatah “Empat sehat lima sempurna”, saya pun bikin daftar ini menjadi lima supaya sempurna. Nah, apakah blog kamu sudah memenuhi empat hal sebelumnya? Jika sudah, baguslah. Itu menandakan blog milikmu sehat. Terus, apakah blog kamu sudah sempurna? 

Tapi mungkin kamu bakal bertanya-tanya, “Emang kalau mau sempurna harus pasang domain?” 

Dulu saya juga sering berpikir demikian. Buat apa coba pasang domain? Niat saya, kan, cuma pengin belajar menulis dan menumpahkan keresahan. Berarti pakai yang gratisan pun sudah cukup. Namun, waktu itu saya pernah mendapat masukan dari seorang kawan bloger. Suatu sore pada tahun 2014, ketika kami sedang mengadakan kopdar, dia tiba-tiba bilang kepada saya, “Blog lu kenapa masih blogspot sih, Yog?”

Saya kemudian menjelaskan kepadanya tentang niat saya bikin blog tersebut. Lalu, dia bilang kalau saya itu rajin menulis, rasanya rugi kalau belum pasang domain. Terus, saya balik bertanya mengenai bloger yang udah pasang domain, tapi enggak nulis-nulis apakah juga termasuk rugi? Akhirnya, dia berpendapat kalau pasang domain itu enggak rugi sama sekali. Dia pun mulai menyebutkan beberapa keuntungan memakai domain: blog akan terlihat lebih profesional atau menandakan pemiliknya serius mengelola blognya; alamat blog lebih mudah diingat, sebab sudah tidak ada embel-embel blogspot atau wordpress; mudah dilirik klien untuk diajak bekerja sama.

“Tapi masang domain itu bukannya mahal?” tanya saya. “Masangnya juga ribet.”

Kalau kamu iseng bertanya kepada sebagian bloger yang belum memakai domain, mungkin jawabannya akan sama seperti saya waktu itu.

Namun, dugaan semacam itu rupanya keliru. Normalnya, harga domain dalam setahun itu kisaran Rp100.000 hingga Rp200.000. Harga itu sudah termasuk murah. Penyedia domain pun sekarang ini sering memberikan promo pada tanggal-tanggal tertentu. Jika kamu masih tetap bingung mencari domain murah, kamu bisa mengecek dan membelinya di Niagahoster.

Kalau urusan memasangnya yang ribet, di web penyedia domain itu pun terdapat panduan untuk mengatur pemasangan domainnya. Seandainya masih belum mengerti juga, kamu toh bisa menghubungi customer service-nya untuk menanyakan persoalan itu. Setelah mengeset pengaturan di blog dan DNS (Domain Name System), beberapa menit kemudian blog kamu pun berubah menjadi .com (bisa juga .net, .id, .org, atau Top Level Domain lainnya yang kamu pilih). Nah, memasang domain itu sebenarnya mudah, bukan? Prosesnya pun menurut saya cepat.


Mungkin penilaian soal kategori blog bagus barusan masih kurang tepat dan bersifat relatif seperti yang saya bahas di awal tulisan. Setidaknya, blog kamu sudah bagus dari kacamata saya—dan kesimpulan beberapa orang berdasarkan riset kecil-kecilan itu. Lalu, apakah blog kamu sudah termasuk bagus? Jika iya, selamat! Kalau belum, kamu bisa langsung memperbaikinya. Tidak ada kata terlambat untuk bikin blogmu jadi lebih baik, kan?