Mainan Lego Tidak Hanya untuk Anak Kecil

41 comments
“Kamu kayak anak kecil deh mainan begituan,” ujar pacar saya—yang kini sudah mantan—ketika saya sedang memotret sebuah Lego di salah satu tempat wisata.



Saya waktu itu sempat ingin berkelakar, “Daripada mainin perasaan kamu.” Tapi, saya segera membuang pikiran konyol itu, lalu meresponsnya dengan tertawa kecil. Tanpa perlu bercanda bilang ingin memainkan perasaannya, toh akhirnya kami putus. 

Terlepas dari hal itu, saya kurang sepakat dengan pernyataannya. Karena menurut saya, mainan Lego tidak hanya untuk anak kecil. Lagi pula beberapa teman saya ada yang mengoleksi mainan itu dan action figure. Saya perhatikan di Instagram pun banyak bapak-bapak yang memiliki konten khusus mainan—yang bisa dicek dengan tagar toyphotography. Bahkan, mainan Lego ini juga ada komunitasnya. 

Intinya, selain untuk mainan anak-anak, Lego ini memang mempunyai beberapa fungsi bagi orang dewasa:


Fotografi 

Mulanya, saya tidak pernah membayangkan akan gemar memfoto mainan dan mengunggahnya ke media sosial, terutama Instagram. Sejak tiga tahunan lalu, tepatnya saat saya sedang berkunjung ke rumah Pakde dan melihat anak bungsunya—yang berusia empat tahun—sedang bermain Lego, tiba-tiba muncul rasa suka terhadap Lego tersebut. Mengetahui kedatangan saya, sepupu saya itu segera mengajak saya ikutan bermain. Sesudah balok-balok itu terpasang dan menjadi sebuah bentuk sesuai imajinasinya, saya pun memotretnya menggunakan ponsel.

Saya meminjam salah satu karakter Lego yang dia miliki untuk difoto. Niatnya waktu itu saya pengin latihan mengambil gambar supaya fokus pada sebuah objek, sehingga belakangnya blur. 



“Yang itu buat Kak Yoga aja, biar nanti bisa foto-foto di rumah,” ujarnya. 

“Jangan. Itu kan punya kamu. Aku cuma pinjam sebentar.” 

“Enggak apa-apa, kan punya aku udah banyak,” katanya lagi, kali ini sambil tertawa dan menunjukkan gigi depannya yang ompong.

Wajahnya terlihat begitu menggemaskan. Saya pun refleks mengusap-usap rambutnya seraya bilang, “Nanti Kak Yoga bisa beli sendiri, kok.” Saya mengembalikan mainan itu pada tempatnya. 

Begitu sampai di rumah dan saya membuka tas untuk mengeluarkan bingkisan dari Bude (titipan buat ibu saya), saya malah menemukan dua buah karakter Lego. Rupanya sepupu saya diam-diam telah memasukkan mainan miliknya itu, bermaksud memberikannya kepada saya. Saya terharu sekali. Apa boleh buat. Saya mau tidak mau hanya bisa menerimanya. Sehabis itu, mulailah saya gemar memfoto mainan. Saya pun mencari karakter lain dan membelinya. Berhubung saya bukan maniak Lego, saya sementara ini baru bisa membeli mainan Lego yang satuan untuk menambah-nambah koleksi. Masih sayang uangnya jika langsung membeli yang satu set. Apalagi yang edisi khusus.


Stop Motion 

Membicarakan fotografi, tentu juga ada kaitannya dengan videografi. Selain untuk foto-foto, mainan Lego ini pun dapat dibikin menjadi video stop motion. Sayangnya, alat saya baru sebatas ponsel. Jumlah mainan saya juga masih terbatas. Oleh karena itu, saya belum bisa membuatnya. Sejauh ini, saya baru bisa menikmati video-video orang lain di Youtube. Salah satu favorit saya adalah saluran FK Films.




Melatih Imajinasi dan Mengonsepkan Cerita 

Setiap kali membaca, mendengar, dan menuliskan kata “imajinasi”, saya pasti teringat kutipan Albert Einstein, “Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world.” 

Pemikiran tentang imajinasi itu mengingatkan saya pula akan kisah di novel Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, karya Sabda Armandio. Ada bagian di mana si protagonis berbicara dengan kawannya mengenai perempuan. Temannya ini sedang ketakutan kalau perempuan yang disukainya itu bakalan mengubah dirinya. Mungkin rasanya sama seperti takut menjadi dewasa. Ketika itulah dia menyimpulkan sendiri, bahwa di dalam tubuh seorang laki-laki ada anak kecil yang mempunyai hutan imajinasi. Perempuan yang baik akan menjaga atau merawatnya. Bukan malah menebanginya.

Saya mendadak merasa gembira dianggap anak kecil oleh mantan yang sempat dibahas di kalimat pembuka, sebab itu menandakan kalau saya tetap memelihara sisi kanak-kanak di dalam tubuh ini. Mainan-mainan itu memang kerap mengingatkan saya kepada masa kecil. Seorang bocah yang berani dan spontan. Tidak seperti orang dewasa yang penuh pertimbangan dalam memilih maupun melakukan sesuatu. Mainan Lego itu pun seolah-olah dapat memancing ide-ide saya keluar dan langsung mengeksekusinya, tanpa takut hasilnya kelak akan gimana-gimana.

Sebelum memotret mainan itu, saya perlu mengatur posisinya agar nanti gambarnya bagus. Saya juga tidak mau sembarangan memotret. Entah mengapa saya senang membayangkan apa yang ingin saya kisahkan lewat gambar itu. Kebetulan saya punya hobi menulis, sehingga memotret mainan begini pun termasuk satu dari sekian banyak cara berlatih mengonsepkan cerita. Contohnya, saya telah menghasilkan foto-foto berikut ini. 


1. Foto Bertiga



Seusai berfoto, orang yang selfie protes akan foto wajahnya yang tidak jelas. Dia minta ulang atau yang memegang ponsel itu jangan dirinya. Gantian yang lain. Tapi, orang berkumis—yang berada di tengah—menimpali, bahwa enggak perlu diulang karena dianya terlihat cakep. Si Kura-Kura Ninja alias Donatello pun langsung meledeknya, “Percuma fotonya cakep, kau itu berada di tengah dan bakal mati duluan.”

Si Kumis tidak terima dengan pernyataan itu, lalu bilang, “Hari gini masih percaya mitos!”

Saya termasuk orang yang kurang suka selfie. Sialnya, kadang ketika kumpul bersama teman-teman, pasti adakalanya saya bertugas yang memegang ponsel untuk selfie bareng mereka. Apalagi kalau fotonya sama teman-teman yang cewek, biasanya mereka akan memberikan alasan begini: Udah lu aja. Lu kan kurusterus pipi lu tirus. Kalo gue yang selfie nanti pipi semua. Kala itulah, muka saya malah blur saat melihat hasil fotonya. Mungkin muka saya terlalu dekat dengan kameranya. Berkat pengalaman itu, saya menggabungkan ide tentang selfie ini dengan mitos foto bertiga, di mana orang yang berada di tengah konon akan meninggal duluan.


2. Tanpa Wajah



Awalnya saya cuma iseng-iseng memutar bagian kepala agar wajahnya tidak perlu terlihat. Tanpa diduga justru muncul ide yang sedikitnya punya dua interpretasi: bisa dinilai sebagai orang yang enggak punya muka alias tidak tahu malu; bisa pula orang yang sedang mencari muka supaya mendapatkan pujian dari orang lain.


3. Pencurian Kendaraan



Sebuah peristiwa pencurian. Ada seseorang yang mencuri kendaraan Donatello. Si Kura-Kura Ninja ini sudah sempat mengejarnya, tapi penjahatnya berhasil lolos. Wajah pelakunya saya buat agar tidak terlihat jelas dan terkesan misterius.


4. Pencurian Kendaraan Bagian Dua



Beberapa hari setelah peristiwa pencurian kendaraan itu, Donatello menemukan kendaraan miliknya beserta sang pencuri di suatu tempat. Donatello pun berhasil merebut kembali kendaraannya itu dan menghajar Si Penjahat hingga terjatuh. Sayangnya, Si Penjahat dengan sigap segera berpegangan pada tongkat milik Donatello.


Investasi 

Mainan Lego ini pada dasarnya ialah untuk hiburan dan hobi, tapi ternyata banyak juga yang menjadikannya sebuah investasi. Berdasarkan berita yang diwartakan oleh DW (Deutsche Welle), dalam 15 tahun terakhir ini permainan Lego memiliki kenaikan 12 persen setiap tahunnya. Lazimnya, harga-harga Lego yang melonjak ini bertemakan film. Seperti Star Wars, Marvel, DC, Harry Potter, Toy Story, dan sebagainya. 

Jika kamu betul-betul ingin berinvestasi, maka carilah Lego edisi khusus dan terbatas itu. Misalnya, sewaktu perusahaan Lego berulang tahun, mereka cuma memproduksi satu karakter Lego khusus berjumlah 5.000 buah, yaitu Mr. Gold. Bagian serunya, produk Mr. Gold ini dimasukkan ke dalam satu seri kemasan Lego yang isinya terdiri dari 60 jenis. Sehingga pada saat diluncurkan banyak orang yang berlomba-lomba mencari Lego langka tersebut. Konon, harga awalnya hanya Rp40.000, kini sudah mencapai belasan juta.

Sebagaimana barang antik yang semakin tua dan langka jenisnya, maka akan semakin dicari dan, tentu saja, harganya bakalan sangat mahal. Sekali produk itu dikeluarkan, biasanya tidak akan diproduksi ulang pada kemudian hari. Jadi, dengan modal awal yang cuma 50-100 ribu, di masa depan nanti barangkali salah satu koleksi Lego edisi terbatas kamu itu bisa seharga jutaan. Bahkan para kolektor mungkin berani memberi angka puluhan juta. 


Nah, itulah fungsi Lego selain untuk mainan anak-anak, lantas kamu termasuk yang mana?
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

41 comments

  1. Oh, gue tau nih maling motornya Donatello siapa. Si Michael Angelo.

    ReplyDelete
  2. Gue juga suka sih mainan2 beginian, tapi bukan lego. Lebih ke die cast, dye cast, daycast (?) pokoknya yang replika mobil2an. Seneng banget ngebeli dan bikin itu jadi kayak adegan di perkotaan, tapi terus ilang-ilangan karena gak bener nyimpennya, terus mutusin buat nyimpen di kotaknya--gak dibuka sama sekali. Tapi malah sayang. Akhirnya gue hibahin semuanya ke tetangga. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, die cast, ya. Itu keren juga, sih. Temen gue ada yang ngoleksi begituan. Mana koleksinya kendaraan-kendaraan Indonesia kayak Kopaja sama Metromini. SPBU-nya pun ada. :D

      Iya, sayang banget kalau cuma ditaruh dan enggak dimainin sama sekali. Btw, Adi baik euy. :3

      Delete
    2. Nah iya die cast namanya. Gue juga ada tuh. Sampe mobil pengaduk semen juga punyaa. Hahahaa. :p

      Delete
  3. Eh... demi apa??? Aku juga suka Lego minifig... aku punya lumayan banyak. Dan aku selalu simpan di tempat tersembunyi haha, yah soalnya kalo keliatan ponakan bisa dimainin... aku takut ilang. Itu investasi juga. Nanti beberapa tahun ke depan beberapa karakter akan sulit dicari dan bisa dijual berkali-kali lipat atau bahkan jutaan. Hahah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Ran mainan Lego juga~ Hm, koleksimu pasti lebih banyak dari punya saya. Haha. Di rumah saya mah udah enggak ada anak kecil lagi. Jadi santai aja pas mainan dan foto-foto. Ehe.

      Saya belum kepikiran buat jual, sih. Enggak langka juga karakternya. XD

      Delete
  4. Kakak aku (cowok) suka lego juga. Tapi kalau ponakan dateng, dia umpetin legonya, takut rusak katanya -_____-

    ReplyDelete
  5. Sampe sekarang saya juga masih main lego kok. Lego Batman sama Lego Indiana Jones, di PS. Sama aja kan ?

    ReplyDelete
  6. sepakat jika maenan Lego emang bkan hanya untuk anak kcil, terbkti sampe sekarang koleksi Lgo saya sudah hampir sepuluh Almari....maklum saya kan penjual Lego

    ReplyDelete
  7. gila ah, lama gak main kesini, rumah lo udah banyak direhab

    sampai seperempat abad, belum pernah megang lego model kaya Kura-kura Ninja atau yang model karakter gitu :( paling ya lego model balok dengan beragama ukuran yag buat mainan keponakan.
    kalau Lego model gitu, harganya ikutan terus naik gak? hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma tampilan aja, Tom. Tulisannya masih belum banyak berubah. :( Kurang tahu saya soal itu. Jarang merhatiin harga mainan. Intinya seperti yang udah saya tulis berdasarkan berita itu sih, yang naik kebanyakan bertema film.

      Delete
  8. Belum sempet keracunan lego, soalnya kalo beli satu takut gak ada temennya, udah gitu dulu kan pas masih bocah ada temen yang punya lego asli, nanya harganya bikin kaget hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli dua langsung buat permulaan, setelahnya baru deh tambah satu per satu. Wqwq. Emang lumayan harganya, Sep.

      Delete
  9. wkwkwk lucu jg udh bapak bapak suka lego, itu mainan keponakan ku pak, film nya pun dia suka banget

    ReplyDelete
  10. Soal struktur penulisan, aku ada beberapa masukan buat kamu, cees. Menurutku ini lumayan penting. Ntar kita whatsappan lagi deh.

    ReplyDelete
  11. Mainan lego juga banyak di pake yutuber buat menghiasi meja dan bikin vlog, dan itu sangat bermanfaat. Sukses Mas buat lombanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lumayan bisa buat pernak-pernik. Terima kasih, Mas. :D

      Delete
  12. suamiku koleksi yog.dulukan dia tinggalnya di jerman, naaah, di sana itu harga lego gilaaak murahnya. pas aku ksana, kyk speechless gitu liat hrganya cm euro 10 an ... pantesan koleksi suami banyak banget, sampe yg lego teknik dia masih ada. katanya mau diwarisin ke anak bungsu :p . di indonesia dia jrg beli krn hrgny bikin nangis hahahaha. dan aku emoh ngizinin dia beli gituan kalo di jkt :p. kec diskon gede

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalau punya anak laki-laki kan bapaknya bisa sekalian nostalgia mainan itu. Bisa juga buat jadi alasan kenapa masih demen mengoleksi. :D

      Delete
  13. Daripada mainin perasaan kamu... Eaaaaa... Hahahaha.. Saya juga suka kalau diajak ponakan mainan legonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya udah lama banget enggak baca kata "eaaa". Sekarang ada lagi. Hahaha.

      Delete
  14. Dulu pengin banget koleksi lego tapi aku sadar harganya. Hiks. Pernah ketahuan ibu juga malah disuruh jual lagi, Yogs. Karena aku nggak mau, sama ibu malah dikasih ke anak tetangga. Habis itu nggak pernah beli lagi. Wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga pernah dimarahi sama Ibu. Mainan begituan buat apa, udah gede. Ketika saya jelaskan mainan bukan cuma untuk anak kecil dan bisa buat foto-foto, akhirnya beliau mengerti. Selama belinya pakai duit sendiri mah pasti boleh-boleh aja. Wqwq.

      Delete
    2. Biasanya kalau udah keluar jurus pamungkas "pakai duit sendiri", ibu akan paham. Tapi ibuku adalah spesies yang "lebih baik investasi anggrek atau tupperware daripada mainan". Jadi aku bisa apa :(

      Delete
  15. Wah, untung udah putus, mas. Eh, maaf. Karena kalo pasangan kita enggak memahami kalau Lego atau apapun saja koleksi dan hobi kita, maka hidup serasa #meh banget. Hehe

    Btw, saya sedang mencari karakter Lego yang pegang kamera. Udah muter-muter di Bukalapak sama marketplace lain belum ketemu. Terakhir saya cari juga di marketplace Cina, tak ketemu juga.
    Kalo ada yang mau melepas, kabar-kabari mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja, enggak usah minta maaf. Wahaha. Intinya, seperti yang udah tertulis itu. Perempuan yang baik bisa merawat hutan imajinasi di dalam tubuh laki-laki. :D

      Kayaknya itu mesti beli satu set sama printilannya deh. Nanti deh kalau nemu, ya. Masalahnya, saya enggak ikut komunitasnya, Mas. Jarang mencari tahu juga, sih. Ini demen mainannya sendirian. Ahaha.

      Delete
  16. Iya nih sampe sekarang juga saya sering banget mainan lego, tapi koleksi lego saya sendiri gak di tempat saya tinggal saat ini tapi di rumah keluarga.. Kadang jadi objek foto dan lain sebagainya, seru aja sih serasa epic gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aturan bawa beberapa, Mas. Tiga atau empat biji, lumayan pas foto-foto bisa buat mengusir bosan. Hahaha.

      Delete
  17. Story board nya menarik!
    Yang nggak ada wajah tuh, kind of deep.

    Nah kalau sudah foto memfoto gini, naik tingkat ke video lah bang.
    Habis itu jadi youtuber, wkwkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang paling asal tadinya. Setelah difoto justru muncul tafsir.

      Udah pernah coba stop motion sama timelapse. Kurang tertarik sejujurnya bikin-bikin video. Itu kudu pelan-pelan dan sabar banget. Kayaknya tetap sebatas foto-foto aja pakai ponsel. Youtuber? Makasih deh, saya akan jadi bloger aja. Wqwq.

      Delete
  18. Lego, memang photogenic.
    Dan belakangnya jadi blurgenic. Hihihi

    Aku pengen beli lego juga jadinya, buat properti foto bukan investasi :p

    Btw temen ku juga ada yang suka sama lego, tiap dia ultah suka ngasih kode ketemen temennya kalau lagi pengen lego seri terbatas gitu. Tapi sebagai temen yang baik, kita tidak peka wkwkwkw
    Karena patungan bersepuluh juga masih mahal hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli gih, Da. Beliin aku juga boleh. :p

      Wakakak. Itu beli yang satu set edisi apa emang? Masa masih sepuluh orang tetep mahal?

      Delete
  19. Udah lama ga mampir kesini lagi, headernya makin tmbah keren aja yog! 👏👏👏

    Bdw, sepupu kmu baik bnget Yog, mainannya smpe diselipi gitu, sya jdi gemes sndiri, hahaha. Knapa dikasih ya, dia emng ga suka mainan kyak gitu kali 😂

    Ada banyak cara sih buat merawat anak kecil didalam tubuh seorang pria. Salah satunya ya bener, dengan mainan. Tpi yg saya syangkan mlah bnyak laki2 yg mrawatnya dengan mempermainkan hati wanita. Benar kata hatimu Yog. Mendingan mainin Lego daripada mainin hati perempuan.

    Oiya, foto2 Lego kmu dsini bgus2 loh Yog. Knapa jarang di post di Instagram?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nuhun, Rey.

      Saya juga enggak tahu kenapa dikasih diam-diam gitu. Namanya bocah, masih polos. Bahaha.

      Setiap kali ingin mempermainkan hati wanita, seharusnya para cowok bisa membayangkan wajah ibunya. Ehehe.

      Banyak yang udah saya post, Rey. Kebetulan kamu lagi enggak lihat kali.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.