—Jakarta, Juli 2018 




Alam bawah sadarnya seakan-akan membuat Arman mengetikkan kalimat dalam bahasa Inggris selepas membaca cerita pendek yang ditulis Sahid, kawan baiknya. “Aku kebangun tengah malam dan baru baca fiksi kilat di blogmu, lalu teringat mimpiku barusan yang buruk banget.” 

Akhir-akhir ini Arman memang sedang berlatih membaca cerpen maupun novel yang berbahasa Inggris. Tapi, apa yang sesungguhnya memicu dia sehingga berkomentar menggunakan bahasa asing, padahal kemampuannya masih sangat pasif dan kisah yang dibacanya kali ini merupakan bahasa Indonesia? 

Merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan temannya, Sahid pun menanggapi, “Kau lagi mabuk ya, Man? Tiba-tiba kirim pesan pas dini hari, sok-sok pakai bahasa Inggris pula.” 

“Aku dalam keadaan sadar. Aku enggak lagi mabuk. Aku hanya sedang marah,” tulisnya dalam bahasa Inggris. “Mimpiku tadi dan ceritamu entah mengapa memicuku akan sesuatu hal. Ada kabar tentang Gina yang perlu kau ketahui.” 

“Maksudmu pakai bahasa Inggris apa, sih? Kau habis mimpi buruk apaan? Kau marah kenapa? Gina kenapa juga? Jangan buat orang panik dan penasaran tengah malam beginilah.” 

Masih tetap menggunakan bahasa Inggris, Arman merespons, “Kau nanti juga akan mengerti mengapa aku menggunakan bahasa Inggris. Soal Gina, sebentar lagi akan kuberi tahu, tapi tolong jangan kasih tahu hal ini ke siapa pun.” 

Sahid menjawab oke. 

“Apa kamu sama Gina masih saling mengikuti di Twitter?” 

Sahid heran mengapa pertanyaan yang sudah jelas itu segala dilontarkan lagi. Jelas-jelas dia merasa masih berkawan baik dengan Gina, tak ada masalah apa pun akhir-akhir ini kecuali mulai jarang bertemu lantaran Gina bilang pekerjaan di kantornya lagi padat dan sering lembur. Namun, atas rasa penasaran yang menggebu-gebu, Sahid pun membuka aplikasi Twitter dan mencari nama Gina Rahmawati.

Hasil pencariannya nihil. Sahid lantas terkejut tak bisa menemukan akun teman baiknya itu. Sahid pun mengecek daftar orang yang dia ikuti. Angkanya berubah. Dari yang semula 222 menjadi 221. Kala itulah Sahid tersadar dan mengetikkan kalimat, “Loh, si Gina tutup akun ya, Man?” 

Arman menjawab iya dan kali ini sudah ketiga kalinya, lalu mengirimkan tautan yang menjelaskan bahwa Gina sebetulnya punya akun Twitter kedua. Akun yang menampilkan sisi gelapnya.

“Waktu akun Gina hilang, aku segera mengecek ke akun itu. Kau bisa baca curahan hati Gina di sana. Kebetulan akunnya enggak diproteksi. Meskipun sekarang jumlah pengikut maupun yang diikutinya nol, dia kayaknya lupa kalau aku sempat tahu akunnya yang itu. Jadi, kuharap kau nanti juga pura-pura enggak tahu sehabis membaca twit-twitnya.”

Akun kedua Gina baru bergabung sekitar enam bulan silam dan twitnya hanya berjumlah 53. Biarpun baru sedikit memuntahkan kata-kata, Sahid langsung menelan ludah begitu membaca twit terakhirnya yang berbunyi: “Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat?” 

Sahid lekas mengeklik twit itu dan membaca utas lengkapnya. 

1. Lagi-lagi aku dikatain lonte sama pacarku. Ah, mungkin lebih tepatnya mantan. Kami baru aja putus kemarin sore gara-gara dia melihat InstaStory aku yang katanya mengenakan pakaian pengundang nafsu. Aku rasa pakaianku masih normal selayaknya mbak-mbak kantoran pada umumnya. 

2. Tapi kenapa dia bilang aku ini ganjen dan mau tebar pesona? Mungkin dianya aja yang nafsuan, ya? Aku enggak paham lagi sama sifat dia. Yang aku tahu, aku sedih banget dihina-hina pacar sendiri terutama soal kata lonte itu. Ya Tuhan, sebinal apa sih memangnya aku? 

3. Aku capek diatur-atur pakaiannya sama dia setiap kali mau keluar rumah, padahal tiap kali aku main ke indekosnya juga palingan disuruh cepat-cepat telanjang. Ternyata aku memang lonte, ya? 

4. Namun, aku kayak begini juga karena dia, sih. Baru sama dia aku sampai berbuat sejauh itu. Aku menyesal banget menerima ajakannya balikan kalau ujung-ujungnya seperti ini lagi. Sudah dua minggu kami putus-nyambung dengan permasalahan yang itu-itu aja. 

5. Aku selalu dilarang main sama teman-teman cowok, sekalipun itu sahabatku sendiri yang sudah akrab sejak SMP. Aku kan jadi enggak enak sama Arman dan Sahid kalau keseringan menolak buat ketemuan. Mana bisa-bisanya aku berbohong lagi sibuk dengan pekerjaan di kantor pula. 

6. Kami berteman sudah sekitar 9 tahun, tapi gara-gara cowok bangsat yang baru aku kenal setahun justru bikin persahabatan kami retak begini. Aku kebangetan banget sama mereka. 

7. Mana selagi aku terkekang begitu, mantanku malah bisa bebas main sama cewek mana pun. Mungkin dia diam-diam juga mengajak cewek itu ke indekosnya. 

8. Tololnya, setiap kali aku cemburu dan ngambek, dia pasti mengancam aku buat putus. Dia licik banget, ya Tuhan. Setelah apa yang dia perbuat sama aku, dia kok bisa-bisanya gampang banget buat pergi? Apa dia lupa ya sama janjinya sewaktu kami pertama kali melakukannya

9. Dia bilang, dia enggak akan pernah meninggalkan aku sampai kapan pun. Bakalan tetap ada dalam suka maupun duka. Janji bakal nikah sama aku. Karena itulah aku percaya dan mau-maunya melepas hal sakral yang sudah aku pertahankan selama 22 tahun hidup di dunia berengsek ini. 

10. Nyatanya, dia sekarang lupa sama janji manis itu. Semuanya cuma omong kosong. Benar ternyata kata kedua sahabatku, kalau mantanku ini sebetulnya bajingan. Awal-awalnya doang baik, setelah dia dapat apa yang dirinya mau, langsung deh berubah banget sifatnya. 

11. Tapi kenapa dulu aku lebih percaya sama mantanku itu ketimbang sahabatku sendiri? Apa aku terlalu dibutakan cinta? Mestinya cinta itu enggak buta, kan? 

12. Aku tiba-tiba teringat lagu Efek Rumah Kaca, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Liriknya menohok banget buatku: “Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. Kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap.” 

13. Kenapa aku baru sadarnya sekarang, sih? Semua itu sudah kadung terjadi. Aku enggak bisa memutarbalikkan waktu. Segelku sudah rusak. 

14. Adakah seseorang yang nanti sudi menerimaku dalam keadaan begini? Aku sejujurnya berusaha percaya bahwa masih ada cowok baik di luaran sana. Tapi untuk saat ini, bagaimana caranya aku sanggup menerimanya? Tolong, ajari aku buat ikhlas. 

15. Setiap kali aku meyakinkan diri kalau aku masih berharga sebagai manusia, aku otomatis teringat ucapan mantanku: “Kamu tuh harusnya merasa beruntung bisa pacaran sama fotografer kayak aku. Kalau kamu enggak kujadikan model foto-fotoku, kamu mah cuma cewek culun yang minderan.” 

16. Sumpah deh, kata-katanya nyelekit banget. Dia pikir dirinya itu ganteng kali? Tampang dekil dan mesum begitu kok banyak lagak. Begonya, kenapa aku pernah sayang sama dia? Sialan! Aku masih belum rela rasanya menyerahkan hal yang berharga bagiku itu ke manusia berengsek kayak dia. 

17. Aku rasanya pengin mati aja setiap kali mengingat dosa itu. Tapi kalau aku memilih mati, bukannya aku semakin berdosa? Ya Tuhan, masih pantaskah aku buat bertobat? 


Tanpa perlu membaca sisa twit Gina, Sahid sudah paham apa yang Arman maksud, bahkan mengerti kenapa dia bisa semarah itu sampai-sampai menggunakan bahasa Inggris untuk mengekspresikan emosinya. Karena saat ini, Sahid pun merasa untuk pertama kalinya dalam hidup bisa kelewat murka sampai tak mampu berkata-kata lagi dalam bahasa Indonesia. Dia hanya bisa melontarkan kata fuck sebanyak tujuh kali dalam pesan tersebut. Itu pertama kalinya juga dia merasa hatinya hancur tak keruan hingga lupa caranya menangis.

--

Sejak di Twitter ramai dengan utas-utas yang menyangkut urusan surga dunia, saya jadi sering berpikir: Kenapa sebagian besar yang menulis ceritanya seolah-olah merasa keren memiliki pengalaman tersebut, bahkan sepertinya juga bangga jika diketahui banyak orang, padahal mereka sebenarnya sedang membongkar aib sendiri? Saya entah mengapa sedih dengan hal semacam itu. Belum lagi terkadang muncul keraguan, apakah kisah itu benar adanya? Bukan karangan fiksi agar ikut-ikutan viral ataupun dicap nakal? Lantas, saya jadi bingung seandainya suatu hari nanti ada korban pelecehan seksual atau pemerkosaan yang bersuara di platform itu. Apakah yang ditulisnya sungguh terjadi? Tidak melebih-lebihkan cerita? Bukan memfitnah demi membalas dendam karena tak terima dengan keputusan sang lelaki?

Saya tak bermaksud menyalahkan pihak perempuan, hanya saja dari beberapa utas yang pernah saya baca itu melahirkan kesimpulan begini: Ketika kedua pihak melakukannya secara sadar dan sama-sama mau, kenapa giliran hubungan itu tak berakhir dengan pacaran dan cukup sebatas teman enak-enak, atau putus, atau apa punlah yang tak berlanjut sesuai kehendaknya, ada perempuan yang mengutuk habis-habisan si lelaki ini? Ingin memberi tahu kepada seluruh dunia kalau cowok yang meninggalkannya itu bajingan paling anjing, penjahat kelamin, manusia termesum sejagat raya, dan seterusnya. Bukankah itu konsekuensi dari pilihan mereka sendiri? Beda urusan jika si perempuan tidak dalam keadaan sadar, dipaksa, diancam, dan sebagainya.

Sebagai lelaki saya juga tak habis pikir, kok bisa ya mereka segampang itu buat celup sana-sini? Apalagi buat yang melakukannya tanpa ada konsen, kenapa bisa setega itu, sih? Mengapa mereka tak mampu mengontrol berahinya sampai-sampai merugikan orang lain? Apakah ini percis dengan apa yang saya baca di novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, bahwa 'kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab' dan 'kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala'?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah lahir sebuah gagasan, bagaimana kalau saya bikin cerita sejenis dengan kondisi yang saya temukan di sekitar? Jadilah cerita yang barusan kamu baca. Angka enam romawi pada judulnya merujuk pada beberapa cerita di kumpulan cerpen David Foster Wallace, Brief Interviews with Hideous Men, yang diberikan angka seperti itu. Saya tak tahu apa maksud dan tujuannya. Kalau saya sendiri sih karena ini versi keenam dari berbagai cerita serupa yang telah saya bikin. Saya kira ini cerita yang paling aman buat dipajang di blog. Lima lainnya terlalu vulgar untuk ditampilkan.

Gambar saya comot dari Pixabay.
Read More
Eskapisme itu berwujud Tsubasa Honda. Ketika hari lagi bobrok-bobroknya, entah mengapa hanya dengan melihat wajah dan senyumnya, beban hidup saya perlahan berkurang.



Saya pertama tahu Tsubasa kalau tidak salah saat sedang menonton dorama Great Teacher Onizuka. Dia memerankan tokoh Urumi Kanzaki. Gadis jenius yang kesepian dan bosan hidup. Sehabis menamatkan dan menilai secara keseluruhan serial itu, sejujurnya saya kurang suka sama penggarapannya, tapi sialnya saya telanjur naksir sama karakter Urumi. Betapa tololnya diri ini terlalu sering jatuh cinta sama tokoh fiksi.

Mulanya, saya kurang suka dengan yang memerankannya. Perempuan berambut terlalu pendek bukanlah tipe yang cocok untuk saya kagumi. Saya benar-benar hanya peduli dengan tokoh Urumi yang kesepian, sebab saya cukup paham akan perasaan bedebah tersebut. Di kepala saya pun muncul lirik lagu Mew - Comforting Sounds: Why don't we share our solitude?

Terlepas dari tokoh fiktif itu, pada momen tertentu saya kian memperhatikannya,  dan ternyata Tsubasa manis juga. Sejak itulah saya iseng mencari tahu tentang dirinya lebih jauh. Saya pun mendapati sosoknya di live action Ao Haru Ride serta Radiation House—yang belakangan ini saya tonton lewat Viu. Seiring bergesernya hari, Tsubasa pun tumbuh menjadi sosok aduhai di mata saya.

Hari ini saya kembali merasa jenuh dan kacau banget sama hidup, sehingga memutuskan buat menghibur diri dengan menggambarnya (lebih cocok disebut bikin coretan, sih) dan membuat kisah fiksi tak penting.



Aku dan Tsubasa sedang duduk di rerumputan sembari memandangi danau di Taman Shikina, Okinawa, Jepang. Aku bilang kepadanya bahwa menatap air di sini sama seperti melihat wajahnya. Selalu bisa membuatku tenang. Dia lalu mengucapkan terima kasih. Meskipun begitu, rasa mengganjal di hati ini masih belum hilang juga. Berengsek betul. Biasalah, persoalan cinta. Sepertinya aku butuh bercerita mengenai masalahku itu kepadanya.

“Aku baru-baru ini sedang merindukan seseorang,” kataku.

Tsubasa terkejut dan tampak curiga kalau aku lagi berusaha menggodanya.

“Tenang saja, bukan kamu, kok. Aku sadar diri.”

Tsubasa tertawa. “Lalu siapa? Temanmu?”

Aku mengangguk dan menyebut sebuah nama—tentu saja dia tak mengenalnya.

“Aku capek memendamnya, Sa. Lantas aku nekat bilang kangen kepadanya di WhatsApp. Aku awalnya tak berharap apa-apa, yang penting hatiku terasa plong. Namun, lama-kelamaan aku semakin rindu dan dia malah menghantuiku di alam mimpi. Mimpi buruk pula. Entah kenapa aku jadi sedih karena rinduku tak terbalas sama sekali. Aku berharap dia membalas pesanku. Kami bisa berjumpa dan asyik mengobrol seperti dulu.”

“Enggak apa-apa, Yog,” ujar Tsubasa. “Hampir semua orang pasti pernah mengalami yang semacam itu. Di film Ao Haru Ride cintaku juga sempat tak berbalas.”

“Tapi pada akhirnya kalian bisa bersama, sedangkan aku tidak!”

Melihat parasnya yang ketakutan bercampur menggemaskan, mungkin dia kaget mendengar suaraku yang meninggi, aku jadi merasa bersalah kepadanya. Aku pun meminta maaf. Dia tersenyum dan bilang tak masalah. Dia juga meminta maaf karena mengambil referensi dari film yang jelas-jelas tak patut buat disamakan dengan realitas.

“Lagian, Yog, kisahmu kan belum sampai akhir,” katanya.

“Menurutku, antara aku dan dia sudah selesai. Jadi, kisahku juga sudah sampai akhir.”

“Hm, kenapa kamu yakin sekali?”

Aku menyebut beberapa alasan yang membuatku yakin; aku pernah berbuat kesalahan terhadapnya, kemungkinan dia sudah punya pacar, seandainya belum pun, dia hanya menginginkan pasangan yang bisa segera menikahinya, perasaanku juga mulai memudar.

Tsubasa melemparkan pertanyaan dari tiap-tiap alasan yang kulontarkan:

1. Apa kesalahanmu itu masuk ke kategori yang tak termaafkan?

2. Kamu pernah melihat dia bersama lelaki lain—baik secara langsung maupun foto?

3. Jadi, dia punya target menikah pada umur sekian, ya? Sekalipun akhirnya kalian bisa bersama, kamu tak sanggup menikahinya dalam waktu dekat?

4. Tahu dari mana perasaanmu memudar? Kalaupun iya, yang bikin perasaanmu rontok bukankah dari ketakutan-ketakutanmu sendiri?

Pertama, jelas kesalahanku masih bisa dimaafkan kalau dari sudut pandangku. Aku ketiduran saat membuat janji untuk bertemu dengannya. Dia sudah menungguku hampir satu jam dan aku baru merespons pesannya. Sudah begitu aku berbohong kepadanya, aku tak bilang ketiduran, tapi aku berkata bahwa ada pekerjaan dadakan yang harus diselesaikan saat itu juga dan tak sempat mengabarinya. Yang aku tahu sih, tak semua orang mudah memaafkan, sekecil apa pun bentuk dosa itu. Kedua, belum pernah sama sekali. Aku hanya menduganya karena perempuan semanis dia mustahil tak ada yang menaksir dan mendekatinya. Ketiga, karena dia lebih tua setahun dariku. Mungkin bagi perempuan usia segitu sudah terlalu tua. Soal menikah, tentu saja. Aku belum siap lahir dan batin. Kamu tahu betul kondisi keuanganku jauh dari kata stabil. Mentalku juga belum kuat buat melangkah ke tahap itu. Keempat, yah, namanya perasaan. Tapi jika kupikir-pikir lagi, logikaku biasanya tumpul ketika benar-benar menyayangi seseorang. Saat aku mulai banyak pertimbangan, aku mulai sadar bahwa aku rupanya enggak sesayang itu sama dia. Bisa jadi aku banyak takutnya karena harapanku kepadanya juga terlalu banyak. Setahuku, cinta itu menguatkan. Terus, mengapa upayaku untuk mendapatkan dan bisa bersamanya lagi begitu lemah? Mungkin yang kemarinan itu cuma obsesi semata.

Tsubasa mengutip kalimat Futaba di anime Ao Haru Ride: Tapi, memang wajar kalau apa yang kita harapkan, sesekali tidak sesuai dengan keinginan, kan? Karena itu, aku akan memulainya dari awal lagi. Kurasa itu pilihan terbaik.

“Maksudku mengutip yang barusan begini, kalau kamu bisa menyebutkan alasan sebanyak itu dan merasa tak ada harapan lagi dengan dia, kamu kan masih bisa memulainya bersama orang baru.”

“Aku memang ingin sekali melupakannya. Mencoba lagi dengan orang baru. Anehnya, semakin aku berusaha menghapusnya dari kepalaku, dia justru muncul pada setiap malam menjelang tidur. Sewaktu aku membuka diri kepada orang baru, kadang-kadang muncul perasaan membandingkan. Sejauh ini belum ada yang semanis dan sebaik si anu. Aku ingin bisa terlepas dari bayang-bayang dirinya yang sungguh menggangguku.”

“Semua butuh proses, kan? Nikmati saja. Nanti gangguannya juga selesai. Sebagaimana saat menggambarku, kamu sering bilang kalau kemampuan dalam menggambar ataupun mendesain itu payah, jadi kamu bikinnya pasti pelan-pelan. Tidak bisa langsung jadi. Tapi, lihatlah sekarang, gambarmu rampung. Begitu pula dengan berakhirnya obrolan bodoh dalam kisah fiksi yang kamu anggap sampah ini.”

Aku belum sempat menanggapi kalimatnya sebab cerita mesti berakhir di paragraf ini. Aku kini sibuk memikirkan bagaimana cara menutupnya. Selembar daun  yang belum kukenali jenisnya terbang di depan wajahku. Angin musim gugur terasa begitu sejuk. Aku menoleh ke arah Tsubasa dan melihat dirinya memejamkan mata seraya menghirup udara segar di taman ini.



Apa yang Tsubasa ucapkan dalam kalimat terakhirnya itu benar. Dia memang benar-benar eskapisme. Dia bisa mengecoh kesepian saya. Mana bisa-bisanya saya membayangkan sedang mengobrol bersamanya dalam bahasa Indonesia dan topiknya tentang cinta. Saya bahkan tak tahu siapa sosok perempuan yang kami bahas dalam cerita itu. Yang saya tahu, dia telah berhasil membuat saya menulis lagi sekaligus bersenang-senang dalam mengisi blog ini.

--

PS: Iseng memodifikasi tulisan satu tahun lalu. Setelah membaca ulang, saya sepertinya paham mengapa akhir-akhir ini sulit membuka diri kepada orang baru, khususnya lawan jenis. Barangkali karena sebagian tulisan itu ada benarnya. Beberapa perempuan yang saya temui menginginkan hubungan yang cepat-cepat menikah, sedangkan protagonis masih payah dalam menjalani hidupnya sendiri. Alasan lainnya, ada gadis manis yang tak bisa saya hapus dari kepala, walaupun saya sadar betul bahwa sosoknya mirip seperti tokoh fiktif alias saya tak akan pernah bisa meraihnya karena berbagai alasan. Yang terpenting dari semua itu sih, hidup tanpa kekasih dalam dua tahun terakhir ini juga tak buruk-buruk amat selama saya dapat mencari eskapisme.
Read More
—Ya Allah, Tsubasa Honda dan Lisa Blackpink  bisa satu frame. Perpaduan yang sungguh aduhai.

—Bisa ya kamu lagi berduaan sama pacar, tapi masih tetap mainan HP dan memuji cewek lain.

—Kamu apaan, sih? Kamu kan tadi makannya belum kelar, sedangkan aku selesai duluan, makanya aku pilih main HP. Masa aku harus ngajak kamu ngobrol? Kalau nanti kamu keselek, gimana? Lagi pula, cewek lain apa? Dia kan termasuk idola. Jangan bilang, ini kamu lagi cemburu?

—Enggak, siapa yang cemburu?

—Ya, baguslah kalau begitu. Toh, mereka enggak akan bisa diraih.

—Seandainya mereka bisa diraih, kamu bakal pilih mereka, kan?

—Ya Allah, pertanyaanmu ngawur. Enggak penting buat dijawab.

—Enggak penting buat dijawab? Atau karena jawabannya sudah jelas? Kamu pasti pilih mereka yang lebih mulus dan cantik.

—Kayaknya ketika kamu lagi memuji idolamu, khususnya oppa-oppa Korea, aku enggak pernah mempermasalahkan mereka sama sekali.

—Alah, bullshit, buktinya kamu pernah tuh meledek si Firsa.

—Tapi aku enggak mempermasalahkan fisik dia, aku cuma mengkritik suara dia yang fals dan tulisannya kurang asyik dibaca.

—Kamu sendiri memangnya bisa nyanyi? Apa tulisanmu sudah cukup bagus?

—Apa aku harus jadi penyanyi dulu untuk membedakan antara suara yang enak didengar dan yang fals? Soal tulisan, kamu sendiri yang pernah memuji begitu.

—Kapan aku pernah memuji tulisanmu lebih baik ketimbang dia?

—Waktu aku pertama kali main ke rumahmu. Aku iseng ambil salah satu buku dia di rak, terus pengin coba baca karena penasaran kenapa kamu bisa sesuka itu sama dia. Ingat?

—Aku rada lupa. Aku bilang apa waktu itu?

—Awalnya aku bilang tulisan dia itu enggak bercerita. Gaya bertuturnya jelek banget. Diksinya maksa untuk puitis. Daripada disebut novel, buku dia lebih cocok dianggap kumpulan kutipan. Saat itu, entah betulan memuji atau khilaf, kamu sempat bilang bahwa tulisanku di blog lebih enak dibaca.

—Mungkin aku khilaf. [suara tawa] Itu yang kamu baca buku pertamanya dia, bukan?

—Aku enggak tahu itu buku keberapa, bahkan enggak peduli. Intinya mah tulisan dia jelek.

—Seingatku memang buku debutnya yang kamu baca waktu itu. Menurut aku wajar sih, namanya juga karya pertama. Pasti banyak kekurangannya. Sebelum menyimpulkan tulisan dia jelek, coba kamu baca buku dia yang lain dulu.

—Ogah.

—Ya, terserah kamu. Seenggaknya sih di mataku dia masih jauh lebih baik ketimbang kamu yang merasa tulisannya oke, tapi nyatanya belum punya karya satu pun.



Pemuda A tiba-tiba terkenang percakapan dua tahun silam bersama mantan pacarnya. Kalimat terakhir dari mantannya itu langsung membuatnya bungkam dan tak mampu berdebat lagi. Kalimat itu pun masih terasa menusuknya hingga saat ini. Sayangnya, dia benar-benar sudah lupa apa kejadian yang terjadi selanjutnya. Apakah dalam perjalanan pulang mereka saling membisu? Apakah mantan pacarnya sempat meminta maaf atas ucapan getirnya tersebut?

Yang masih terekam jelas di memorinya ialah dua bulan setelah percakapan itu: mereka putus. Tentu karena persoalan lain dan tak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan hari itu.

Sampai hari ini pemuda A tak pernah menyesali keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun, malam ini dia justru membayangkan satu hal dan menuliskannya di catatan:

“Jika kita masih bersama, aku pasti sedang mengejek selera bacaanmu yang buruk, sebab bisa-bisanya betah membaca semua buku Firsa Bahari; sedangkan kamu akan gantian membalas bahwa aku pembual paling berisik dan sok asyik yang tak punya keberanian menerbitkan tulisan-tulisannya menjadi sebuah buku.”

--

Gambar diambil dari Pixabay.
Read More
Diterjemahkan sesuka hati dari cerpen Etgar Keret berjudul 'Monkey Say, Monkey Do' yang terhimpun dalam buku The Girl on the Fridge. Gambar saya ambil dari Pixabay.

--



“Pisang,” pintanya.

Aku tidak mau.

“Ayo, Sayang. Tunjukkan kepada pria baik bagaimana kau memakan pisang.” 

Biarkan pria baik yang makan pisang. Aku sudah selesai dengan ini, untuk selamanya.

“Maaf, Dr. Gonen, tapi ini sama sekali tak dapat diterima. Menyeret saya jauh-jauh dari Sydney hanya untuk menyaksikan ia duduk di sana, di kandangnya dengan mata terpejam, mengangkat bahu. Waktu saya sangat berharga, kau tahu, dan saya tidak akan menyia-nyiakannya dengan satu alasan dan la—”

“Maaf, Profesor Strum, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sepertinya ia mungkin kesal dengan semua keributan ini. Ia tak terbiasa dengan orang asing. Jika kau bersedia menunggu di luar selama beberapa menit, aku tahu aku bisa membuatnya merespons.”

Jangan terlalu yakin, Sayang. Jangan terlalu yakin.

“Lima menit,” ujarnya, dan aku mendengarnya berjalan pergi. “Lima menit.” Pintu menutup, dan kunci berputar.

“Tolong, Sayang,” katanya, membelai buluku. “Bicaralah kepada pria itu, tunjukkan kepadanya betapa pintarnya engkau.”

Tangannya menyentuh bolaku sekarang, dan penisku mulai menegang. Tapi aku tidak membuka mataku.

“Sungguh, Sayang,” katanya dan terus membelai. “Lakukan ini untukku. Kalau tidak, mereka akan menutup proyek...”

Hening.

“... lalu kita enggak akan bisa tetap bersama lagi.”

Jadi kami tidak akan bersama. Aku mendapatkan harga diriku, bukan? Belaiannya datang lebih cepat sekarang. Rasanya begitu enak. Tapi aku tidak membuka mataku, tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak memberinya apa pun.

“Lima menit sudah habis, Dr. Gonen,” terdengar suara dari balik pintu yang terkunci. Aku membuka mataku hanya sedikit. Dia memperhatikan, berhenti membelai, dan mendekatkan wajahnya.

“Jika itu yang kau inginkan, itulah yang akan kau dapatkan,” bisiknya. Dia melepas jepit rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Jatuh ke bahunya. Dia mengusap jari-jarinya. Dia wanita yang menarik.

“Ada banyak profesor di sekeliling sini yang menyukai sebuah kesempatan untuk melihat kepalamu terbuka dan melihat ke dalam otakmu,” katanya. “Aku selesai denganmu. Mulai sekarang, kau milik mereka semua.”

“Dr. Gonen,” terdengar suara dari luar lagi, dan ada sentakan pada pegangan pintu yang terkunci.

“Profesor Strum,” bisiknya melalui pintu dan memutar kunci. “Tolong, panggil aku Yael.”

Sebelum dia membuka pintu, dia membuka kancing atas blusnya.

“Yael,” mengulang suara itu dari sisi lain pintu.

Bibirnya bergerak, dengan diam-diam, tapi aku bisa mendengarnya.

“Monyet goblok,” katanya.
Read More
“Kamu kena gangguan psikosomatik?”

Pesan via WhatsApp itu datang dari Firda Susanti setelah saya curhat tentang gejala-gejala yang tengah saya alami. Peristiwa itu terjadi sekitar dua minggu lalu, sewaktu saya merasa cemas yang amat berlebihan. Hampir setiap hari saya pasti bangun tidur dengan kepala berat, kondisi kaos lepek lantaran keringat dingin, sekujur tubuh pegal-pegal, dan sering bermimpi buruk. Saya juga sulit berkonsentrasi saat membaca buku ataupun menulis cerita.



Saya masih belum bisa menjawab pesan Firda, sebab pertanyaan dia tiba-tiba bikin saya merasa deja vu. Sekitar empat tahun silam, saya juga pernah mendapatkan pertanyaan tersebut dari teman yang berkuliah di Jurusan Kedokteran. Saya menerima pertanyaan yang begitu mirip selepas mengobrol bersama Dara Agusti mengenai penyakit yang terasa janggal di tubuh. Kala itu, kepala bagian belakang hingga leher saya suka terasa berat dan sakit, lalu terkadang sampai mual, padahal kondisi tubuh saya sepertinya baik-baik saja.

Saat Dara tahu bahwa saya lagi banyak masalah dan justru memendamnya sendirian, dia bilang itulah yang memicu kesehatan mental saya terganggu. Kepala saya katanya terlalu tegang karena menumpuk banyak beban pikiran. Dia lalu menjelaskan kalau fisik saya mungkin baik-baik saja atau cuma sakit ringan, tapi karena psikisnya bermasalah, saya seolah-olah merasakan tubuh lagi sakit parah.

“Tapi kalau mau lebih pasti, coba langsung periksa ke dokter, Yog,” ujarnya.

Saya akhirnya mengunjungi klinik di dekat rumah dan hasilnya sama percis dengan yang Dara bilang. Tubuh saya sesungguhnya sehat. Sayangnya, pikiran dan mental saya yang sakit ini menimbulkan gejala psikosomatik. Jika tak salah ingat, itulah pertama kalinya saya mengetahui tentang gejala psikosomatik yang bisa membuat tubuh sehat jadi tampak sakit, bahkan memperparah penyakit yang mulanya cuma ringan.

Ketika itu, saya memang lagi stres, terpuruk, dan depresi karena terpicu oleh persoalan-persoalan hidup yang bagi saya teramat krusial. Saya putus asa dan kehilangan harapan sampai-sampai menarik diri dari lingkungan. Sekitar dua bulan lebih saya hanya mengurung diri di kamar, meratapi dan menyesali pilihan hidup, serta berharap bisa mengulang waktu ke momen sebelum segalanya menjadi pelik.


Kondisi empat tahun lalu itu rupanya agak serupa dengan apa yang terjadi belakangan ini. Saya sudah terlalu lama tak keluar rumah dan lebih sering mengurung diri di kamar sejak pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) supaya mencegah penyebaran virus Corona. Meskipun saya hanya berdiam diri di rumah, lalu sekalinya keluar rumah dalam keadaan mendesak selalu mengenakan masker, dan setelahnya langsung mencuci tangan dengan sabun, tetap saja saya masih kesulitan mengurangi rasa cemas di dalam diri.

Setiap kali membaca maupun mendengar berita tentang jumlah pasien Corona yang bertambah—khususnya di Jakarta, saya otomatis merasa takut. Belum lagi ditambah kekhawatiran akan kondisi keuangan yang kian memprihatinkan. Intinya, saya stres akibat kelamaan di rumah dan kurang hiburan. Mungkin hal itulah yang mengakibatkan saya jadi sering bermimpi buruk akhir-akhir ini.

“Jadi kalau habis dari luar rumah terus mendadak batuk atau tenggorokan rasanya enggak enak tuh termasuk psikosomatik, ya? Itu akibat dari rasa cemas yang berlebihan? Soalnya tubuh saya juga langsung normal lagi, sih. Tapi ini betulan wajar kan, Fir? Saya masalahnya juga susah produktif nih.”

“Aku rasa hal itu wajar dalam kondisi pandemi begini, Yog. Siapa sih yang enggak cemas ketika kehidupannya berubah drastis? Soal produktif, menurutku pelan-pelan aja, jangan memaksakan diri. Aku awal-awal juga pernah kayak begitu, kok. Mimpinya sering aneh-aneh. Mungkin enggak separah kamu yang sampai kaosnya lepek karena keringat dingin. Alhamdulillah sih keadaanku sekarang juga membaik.”

Belum sempat saya menanggapinya, dia sudah membalas lagi, “Yang terpenting sih jangan kebanyakan mikirin yang aneh-aneh, supaya kesehatan mental kamu tetap terjaga.”

“Lima hari lalu pikiran saya justru pernah liar banget, Fir. Gara-gara diare (ini kayaknya kebanyakan makan sambal kacang), terus malah jadi melebar ke mana-mana. Mulai dari berasumsi kalau saya keracunan makanan, tifus, sampai ada teman yang bilang itu salah satu gejala Corona.” Di akhir kalimat, saya menambahkan emoji tertawa yang keluar air mata sebanyak tiga buah.

“Eh, seriusan? Terus kamu sempat ke dokter? Sekarang udah sembuh, kan?”

Dalam situasi pandemi begini jelas bikin saya takut untuk datang ke rumah sakit ataupun klinik. Mengingat kondisi tubuh saya yang lagi lemah, seandainya nekat datang bisa-bisa malah terpapar virus lainnya. Maka, saya memilih untuk memperbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi, dan memperbanyak istirahat di rumah demi mencari aman. Syukurlah sekarang juga sudah pulih, kecuali perasaan ganjil setiap bangun tidur.

Mendengar cerita saya barusan, Firda lantas memberi tahu saya tentang Halodoc. Salah satu layanan kesehatan online yang dapat diakses melalui aplikasi maupun web. Mereka menyediakan berbagai artikel mengenai kesehatan dan penyakit. Selain itu, mereka juga menjual aneka obat dan vitamin, terdapat fitur untuk mencari rumah sakit yang ingin dikunjungi dan membuat janji dengan dokter, serta dapat berkonsultasi dengan dokternya (baik itu dokter umum maupun spesialis) hanya lewat chat.



“Berhubung kondisinya lagi pandemi begini, menurutku pelayanan di Halodoc membantu banget, sih,” kata Firda. “Kemarinan aku juga habis tanya-tanya soal keluhanku di sana tuh. Dokternya bilang, mungkin aku kena gejala psikosomatik. Karena aku kan sempat kurang tidur, kecapekan, dan stres. Beliau akhirnya kasih aku beberapa saran seputar kesehatan, dan menyuruh aku konsumsi salah satu vitamin gitu buat membantu pemulihan.”

Saya lalu mengucapkan terima kasih atas informasi itu.

Sebagaimana yang sudah saya ketahui tapi kadang-kadang suka terlupa, Firda menjelaskan ulang tentang kebanyakan penyakit yang bermula dari pikiran. Jika pikiran kita buruk, otomatis kondisi tubuh bakal ikutan memburuk. Kata Firda, belakangan ini dia sebisa mungkin menghindari berita tentang virus, lalu membisukan kata-kata yang terkait dengan wabah di media sosialnya. Dengan begitu, pikirannya mulai jernih kembali. Kalau untuk menyiasati rasa jenuhnya saat berdiam diri di rumah, dia menghibur diri dengan menggambar, menonton film, dan main gim.

“Kayaknya saya perlu menulis jurnal lagi nih biar energi negatifnya pada kebuang. Atau minimal curhat sama orang deh. Hitung-hitung latihan menulis biar bisa lancar lagi cerita di blog.”

“Nah, bisa juga tuh. Cara orang kan beda-beda, jadi sesuaikan aja sama diri kamu.”

Dia menutup pembicaraan itu dengan mendoakan saya, “Pokoknya sehat-sehat terus ya, Yog.” Saya mengamininya dan gantian mendoakannya dalam hati.


Hari ini, saya sudah jauh lebih baik ketimbang dua minggu lalu. Berkat mengobrol sama Firda dan beberapa kawan, kecemasan di dalam diri saya semakin berkurang. Saya tak pernah lagi bermimpi buruk, apalagi terbangun dengan kaos basah yang dipenuhi keringat dingin. Saya juga mulai kembali menulis jurnal di buku catatan. Siapa sangka, kegiatan menulis dan curhat ini masih sangat ampuh sebagai terapi saya dalam menyembuhkan psikis yang lagi kacau. Mudah-mudahan sih saya bisa terus mempertahankan kondisi baik ini. Akhir kata, semoga teman-teman sekalian juga sehat sentosa dan bisa merawat kesehatan mentalnya agar tetap baik-baik aja.

--

Gambar saya ambil dari Pixabay dan Halodoc.
Read More
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam sebuah sayembara menulis yang berujung tak memperoleh satu pun hadiah alias gagal.



--
Kau pertama kali melihat sosok itu secara nyata di kamar indekosmu tepat setelah empat puluh hari kematian kakekmu. Ia berwujud seperti seorang pertapa yang telah berusia ratusan—atau mungkin ribuan—tahun. Ia memelihara jenggot lebat berwarna putih dan panjangnya sampai menutupi leher bagian depan. Ia juga mengenakan pakaian berbentuk jubah, celana, dan sorban serba putih. Melihat penampilannya yang memancarkan aura berbeda, kau menyimpulkan ia bukanlah seorang manusia. Mungkinkah ia sesosok jin? Namun, bagaimana caranya kau kini tiba-tiba dapat melihat makhluk gaib? Sejak kecil hingga kini berusia 23 tahun, seingatmu kau tak pernah sekali pun melihat hantu dan sejenisnya. 

Mulanya, sosok itu cuma mendatangimu lewat mimpi dalam beberapa hari terakhir setiap kali kau ketiduran dan lupa menunaikan salat Isya, sebelum akhirnya ia memperkenalkan diri sebagai sosok yang akan menjagamu. Yang membuatmu heran, mengapa waktu saat kau terbangun itu selalu sama? Setiap pukul 02.15. Jika tak salah ingat, itu adalah waktu kakekmu mengembuskan napas terakhirnya. Kau pun berpikir, apakah semua ini ada hubungannya dengan Kakek? 


Dua hari sebelum kakekmu wafat, percisnya ketika kau sedang istirahat makan siang di kantin kantor, ibumu menelepon dan menyuruhmu balik ke kampung, Ponorogo, Jawa Timur. Ibumu berkata, anak maupun cucu dari kakekmu sudah hadir semuanya, kecuali dirimu seorang. Kau lalu menjelaskan bahwa tidak bisa pulang karena tak mungkin meminta cuti secara dadakan. Lagi pula, jatah cutimu tersisa dua hari lagi. Kau sengaja menyisakannya buat bulan Desember nanti jika ada hal-hal darurat sebelum tahun berganti dan memperoleh jatah cuti baru. 

“Heru, Ibu mohon pulanglah, Nak,” ujar ibumu di telepon dengan suara sendu. “Apakah kamu tak ingin melihat saat-saat terakhir kakekmu?” 

Kau bingung mesti menjawab pertanyaan itu dengan kalimat apa lagi. Kau merasa hubungan dengan kakekmu tidaklah dekat. Kenangan kalian hanya sedikit sewaktu kau masih bocah. Kau bahkan sudah lima tahun tidak kembali ke kampung selepas lulus sekolah dan sibuk bekerja di Jakarta. Seingatmu, terakhir kali kau berjumpa dengan Kakek ialah saat kelas dua SMA, percisnya ketika Mbak Rina—salah satu sepupumu—menikah. Mau tidak mau, kalian harus pulang sekeluarga demi menghadiri pesta perkawinannya. Syukurlah saat itu kau juga sedang liburan sekolah. 

Sesampainya di kampung, kau terkejut mendapati kakekmu yang sudah tak bisa bergerak maupun berbicara. Mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara erangan ataupun geraman sebab terkena penyakit strok. Selama ini kau sudah tahu kabarnya sedang sakit lewat telepon dari pamanmu, tapi tak pernah paham akan detailnya. Rupanya, penyakit itu telah menggerogoti tubuh kakekmu yang mulanya gempal, lantas berubah kurus. 

Sebagai anak sulung dari kakekmu dan juga masih tinggal di rumah yang sama, pamanmu yang selama ini bertugas merawatnya. Dia bilang, kakekmu selama dua bulan terakhir ini cuma bisa berbaring di tempat tidur. Buang air kecil maupun besar di kasur. Mau tak mau, suka tidak suka, dia mesti rela membersihkannya. Kau memuji ketangguhannya dalam hati, sebab kau sendiri tak kuat mencium aroma pesing dan busuk tersebut. Jadi, kau berusaha menjaga jarak dengannya dan memilih memperhatikannya dari kejauhan. 

Sehabis mengenang hal menyedihkan itu, akhirnya kau pun berkata, “Nanti sore aku kabari lagi ya, Bu. Habis ini aku coba izin cuti sama bos. Semoga saja boleh.” 

Ibumu langsung mengucapkan doa semoga nanti dapat kabar baik darimu, mengucapkan terima kasih, dan menutup teleponnya. 


Dengan memberikan alasan bahwa kakekmu sakit parah dan baru saja menerima telepon dari ibumu, kau mendapatkan izin cuti dan diperbolehkan pulang dua jam lebih awal dari jam pulang kantor yang sebenarnya. Begitu tiba di indekos, kau pun segera berbenah. Kau memesan tiket bus ekspres—Pahala Kencana—melalui aplikasi di ponsel, lalu menuju Terminal Kampung Rambutan dengan menaiki ojek daring. Berhubung saat ini belum memasuki jam pulang kantor, kondisi lalu lintas masih termasuk lancar dan kau pun bisa sampai tepat waktu. 

Dari beberapa tempat duduk di bus yang masih kosong, kau bingung mengapa memilih menempati kursi di sebelah kiri bagian agak tengah, percisnya berjarak dua-tiga bangku dari letak roda bagian belakang. Mungkin karena alam bawah sadarmu menerapkan perkataan Agus—salah seorang teman kantor yang gemar naik bus. Posisi duduk di situ katanya nyaman dan bisa menghindari rasa mual. Kalaupun tempat duduk itu penuh, sebisa mungkin jangan duduk di kursi yang pas di bawahnya roda. Kepalamu nanti akan mudah pusing ketika bus terguncang. Kau memang termasuk orang yang gampang mabuk kala naik transportasi umum, kecuali kereta. Tapi, apakah kau betul-betul meyakini omongan Agus tersebut? Apa boleh buat, kau sudah telanjur duduk dan terlalu malas untuk pindah-pindah lagi. 

Tepat pada pukul empat sore bus pun berangkat meninggalkan Jakarta menuju Ponorogo. Selama di perjalanan itu kau lebih banyak tertidur karena sebelumnya telah menenggak dua butir Antimo. Kau memang berjaga-jaga agar tidak mabuk kendaraan meskipun telah menerapkan metode dari Agus. 

Kau sempat terbangun saat matahari menyemburkan semburat oranye dan langit perlahan-lahan berganti gelap. Namun, tak lama matamu langsung terpejam lagi lantaran efek obat yang masih terasa kuat. Kau kemudian kembali mendusin saat langit sudah semakin pekat dan kau merasa udara dari AC itu terlalu dingin bagi tubuhmu, menembus sweter dan kaos yang kaukenakan. Tapi yang sebenarnya terjadi, kau terbangun karena sebuah mimpi aneh. 

Kau bermimpi sedang berlatih pencak silat bersama beberapa kawan yang kau kenal. Pakaian kalian semuanya serba hitam, kecuali guru yang mengajarkannya, yakni seorang kakek-kakek berjubah putih. Kau berlatih tanding dengan salah seorang temanmu, lalu akhirnya terkena pukulan maut darinya hingga terjungkal. Saat kau hendak bangkit, kau terkejut mendapati kakek itu tiba-tiba berada di sebelahmu dan mengatakan, “Sebentar lagi waktunya akan tiba. Kau harus segera menguasai jurus-jurus itu.”

Kau tak ingin memikirkan mimpi tersebut, lebih-lebih menafsirkan apa maksud kalimat kakek itu, dan memilih mengecek arloji di pergelangan tangan kananmu. Waktu menunjukkan pukul 02.15. Tak disangka, bus telah bergerak sekitar 10 jam. Jika mengacu pada estimasi perjalanan yang kau lihat di jadwal bus itu, kau akan tiba di Terminal Seloaji, Ponorogo, sekitar dua jam lagi. 


Begitu tiba di Terminal Seloaji, kau memilih naik ojek menuju rumah kakekmu di Jalan Raya Ngrandu ketimbang meminta jemput salah seorang keluarga. Kau tak enak membangunkan mereka pagi-pagi buta begini. 

Kau memandangi kiri dan kanan jalan. Sudah lama sekali kau tidak melihat pemandangan menyegarkan mata begini. Jarak dari satu rumah ke rumah yang lain betul-betul berjauhan karena dipisahkan oleh kebun ataupun sawah. Sangat berbeda dengan kondisi perumahan di Jakarta yang berdempet-dempetan. Setelah puas memandanginya, kau mengamati peta di ponselmu. Motor yang kau tumpangi saat ini sedang melintas di Jalan Urip Sumoharjo. Tujuanmu masih cukup jauh dan lurus terus hingga Sumoroto, sebelum nantinya belok ke arah Jalan Raya Ngrandu. Berdasarkan petunjuk di peta, jika di depan nanti kau belok kiri, kau akan sampai di Alun-Alun Ponorogo. Itu adalah sebuah tempat yang pernah menjadi momen menggembirakan bersama kakekmu belasan tahun silam. 

Pada suatu sore menjelang bulan Suro, di Alun-Alun Ponorogo terdapat Festival Reog. Kau saat itu sedang liburan sekolah dan diajak pulang kampung oleh orang tuamu. Kakekmu lalu mengajakmu pergi ke sana dengan naik sepeda ontel untuk menyaksikannya. Berhubung kala itu kau masih terlalu kecil, kau tidak banyak mengingat dan kurang paham dengan segala pertunjukan tersebut. Kau saat itu hanya bisa menikmati irama musik yang dihasilkan dari perpaduan suara gendang, kenong, kempul, angklung, dan sompret. Bebunyian itu membuatmu menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. 

Di tengah-tengah acara itu, kau bertanya kepada Kakek, “Topeng sebesar itu beratnya berapa, Kek?” 

Kakekmu menjawab bisa mencapai 50-60 kg. Dua kali lipat dari berat badanmu saat itu. Kau terpukau mendengarnya. Kau bahkan semakin takjub ketika mengetahui topeng reog sebesar itu cara memakainya cukup dengan digigit. Gigimu pun seketika langsung mengilu sewaktu mengenang bagian yang satu itu. 

Kau lalu menelusuri kembali ingatan masa kecilmu bersama Kakek. Sepulang dari Alun-Alun Ponorogo, kakekmu lantas mengajakmu mampir ke Pasar Sumoroto buat menyantap sate gule di warungnya Pak Seno.



Hawa dingin keparat menjelang waktu azan Subuh ini membuat perutmu lapar seketika. Kau pun teringat bahwa belum makan apa-apa sejak menaiki bus. Kau jadi ingin mengisi perutmu dengan sate gule. Apakah rasanya tetap mantap sebagaimana kau menikmatinya ketika bocah? Kau lalu meminta kepada tukang ojek itu nanti singgah dulu di sana. 

Sayangnya, tukang ojek itu langsung menanggapi kalau warungnya baru buka nanti pukul tujuh. Kau mencoba memastikannya dengan mencari informasi tersebut di internet. Ternyata perkataannya benar. Warung itu buka dari pukul 7 pagi sampai pukul 12 malam. 

Sialan, kau mengumpat dalam hati. Entah dapat mendengar suara hatimu atau berusaha mengobati kekecewaanmu, tukang ojek itu menyarankanmu untuk makan di Warung Nasi Tiwol Mbok Kus saja. Katanya, warung itu buka selama 24 jam. Kau pun langsung mengiyakannya dan mengajak dia makan bersama. Pendek cerita, kau sudah kenyang dan tiba di rumah kakekmu. 

Merasa lelah dalam perjalanan dan tak puas tidur dalam posisi duduk selama di bus, tentu membuatmu ingin lekas-lekas merebahkan diri ke kasur. Namun, kau kini mesti menyalami orang tua maupun saudara-saudaramu di ruang tengah yang sedang duduk-duduk menyarap pisang goreng dan minum kopi ataupun teh. Baguslah tidak semua orang berada di sana. Kau jadi tak perlu banyak berbasa-basi.

Kakekmu masih tertidur sangat pulas di kamarnya saat kau tengok. Beberapa sepupumu sepertinya juga belum bangun atau malas beranjak dari kamar yang pintunya tertutup. Kau kemudian masuk ke kamar orang tuamu dan mendapati adikmu yang juga masih terlelap. Kau pun kini rebahan di sampingnya. 

Kau ketiduran selama tiga jam, lalu terbangun saat mendengar suara orang-orang membaca surah Yasin. Kau terkejut dengan hal itu. Apakah ini memang sudah tanda-tanda kakekmu sebentar lagi akan meninggal? Kau lalu mendatangi kamar kakekmu. Sebagian keluargamu—termasuk kedua orang tuamu—sedang duduk memegang buku Yasin dan merapalkan ayat-ayat. Mereka membacanya secara berganti-gantian. Proses itu berlangsung terus-menerus hingga jeda makan siang. Sesudahnya, pembacaan surah Yasin berlanjut kembali hingga hari berubah malam dan kian pekat. Pada pukul 12 malam, napas kakekmu sudah semakin berat. 

Sejak tadi kau memilih tidak ikutan membaca Yasin karena kemampuan mengajimu masih kurang lancar. Kau cuma bisa memperhatikan kakekmu dari dekat pintu. Saat kau menatap wajah kakekmu, mata kalian akhirnya bertemu. Sorot matanya sangatlah dingin dan menusukmu tajam. Matanya itu seakan-akan berkata kepadamu: Kemarilah cucuku. 

Kau terlalu takut untuk menghampirinya. Dia pun tiba-tiba menggeram keras. Beberapa orang di sekitarnya, termasuk ibumu, terperanjat. Sadar bahwa kau yang menyebabkan kakekmu mengerang seperti itu, ibumu lalu menyuruhmu untuk berada di samping Kakek. Kau tak punya pilihan lain selain mendekatinya dan duduk di samping tempat tidurnya. 

Dari jarak sedekat itu, bau pesing dan kecut tentu saja langsung meninju-ninju hidungmu. Tapi, kau saat ini seperti bisa mencium sesuatu yang lain. Seolah-olah kau dapat menghirup aroma kematian. Apakah kematiannya memang sudah dekat? 

Ini pertama kalinya kau menyaksikan proses sakratulmaut. Kakekmu mulai megap-megap. Kau tak kuat melihatnya seperti itu sehingga memilih untuk menunduk. Saat itulah sekonyong-konyong tangan kiri kakekmu dapat bergerak, lalu mengusap-usap rambutmu. Kau jelas kaget kakekmu bisa tiba-tiba bergerak, padahal sebelum-sebelumnya cuma mampu menggeram. Beberapa orang di ruangan itu juga sama terkejutnya sampai mengucapkan astagfirullah berulang-ulang kali. Selepas hal itu terjadi, kakekmu tersenyum dan tampak lega. Kini desah napasnya mulai semakin jarang. Sekitar satu setengah jam kemudian, tepatnya pada pukul 02.15, kakekmu mengembuskan napas terakhirnya. 


Apakah ketika tangan kakekmu mengusap-usap rambutmu pada saat-saat terakhirnya itu adalah proses mentransfer energi atau semacam kekuatan gaib? Dia memberikanmu sebuah warisan berupa jin pelindung berwujud kakek pertapa? Tapi, apa yang membuatmu dipilih olehnya? Dari tiga orang anak dan tujuh orang cucu, mengapa harus dirimu yang memperolehnya? Tak ingin menebak-nebak, kau lalu memutuskan memberanikan diri untuk bertanya kepada sosok kakek pertapa itu. Dia membenarkan segala asumsimu sebelumnya. 

“Tapi, kenapa aku yang dipilih oleh kakek?” ujarmu. 

“Bukan dia yang memilihmu, melainkan aku.” 

“Bagaimana mungkin? Sejak kapan kau memilihku?” 

Kakek itu tertawa. “Karena kau telah berhasil melewati ujiannya.” 

“Ujian apa?” 

Kakek pertapa itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia lantas memberi tahu jawaban itu lewat sebuah perjalanan gaib yang menyerupai sebuah mimpi. 

Ada suatu kejadian saat kau kelas 2 SMA, sepulangnya dari kampung begitu mengetahui kakekmu sakit strok, yang sempat terlupa olehmu. Begitu merapikan barang-barang dan mengeluarkan pakaian kotor, di dalam tas ibumu tahu-tahu terdapat salah satu keris berwarna emas milik kakekmu. Kalian sekeluarga bingung mengapa keris tersebut bisa berada di sana. Walaupun kalian memahami kalau Kakek mengoleksi banyak keris, lantas siapa yang menaruhnya ke dalam situ ketika dia sendiri tak dapat menggerakkan tubuhnya? Jika tak salah ingat, berbagai benda pusaka milik kakekmu telah tersimpan rapi di ruangan khususnya. Sudah lama sekali tak pernah diutak-atik, kecuali untuk dibersihkan dan dimandikan kembang tujuh rupa oleh pamanmu setiap malam satu Suro. Apakah keris itu pamanmu yang menaruhnya, atau bisa pindah sendiri dari tempatnya semula? 

Ibumu pun segera menelepon pamanmu buat mengonfirmasikan hal itu. Pamanmu menjawab tak tahu apa-apa. Ibumu tak punya pilihan lain selain menyimpannya di lemari pakaian paling atas. 

Empat jam kemudian, bibimu yang tinggal di Bogor menelepon. Dia mengatakan hal yang sama bahwa di tasnya terdapat sebuah keris berwarna emas. Mulanya, kalian tak ingin berpikir yang aneh-aneh. Tapi begitu selama satu minggu ayah dan adikmu tiba-tiba demam, lalu ibumu juga merasa ada tanda-tanda mau sakit, ibumu menyimpulkan kalau keris itulah penyebabnya. Ibumu terus menelepon ke bibimu, yang rupanya juga mengalami hal ganjil. Mereka sekeluarga mengalami demam dan diare. Rupanya kondisi mereka jauh lebih buruk daripada keluargamu. Saat itulah ibumu berniat mengembalikan keris itu ke kampung pada keesokan harinya. Anehnya, keris itu tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Begitu pula ketika ibumu bertanya kepada bibimu. 

“Saat itu, hanya kaulah yang tidak terpengaruh oleh keris itu,” ujar si kakek pertapa sembari mengelus-elus jenggotnya.

Kau baru ingat. Kala itu tubuhmu memang baik-baik saja, bahkan merasa sangat sehat. 

“Kau tidak sakit sebagaimana keluargamu. Sejak itu, kau sudah dipilih olehku,” katanya lagi. 

Kau tak mampu berkata-kata. 


Kau terbangun dengan kaos lepek karena keringat dingin. Kau membatin, sial, aku mimpi buruk lagi. Kau menoleh ke arah jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 02.15. Kau pun bertanya-tanya, hal ganjil itu kenapa terjadi lagi? Kau mengalihkan pandanganmu ke sekitar dan mendapati sosok kakek pertapa itu di pojokan kamar indekosmu. Jadi, semua itu benar adanya? Kakek pertapa itu bukanlah mimpi belaka? Maka, mulai malam itu, kau betul-betul membenci kakekmu yang memberikan kekuatannya lewat usapan di kepala. Kau lantas merenung, seandainya saat itu aku tidak datang menjenguk Kakek di saat-saat terakhirnya, apakah aku tidak perlu mendapatkan perlindungan dari sesosok kakek pertapa? Namun, bagaimana kalau kau memang ditakdirkan untuk menerima warisan itu? Saking lelahnya memikirkan hal yang sulit dipahami oleh nalar, kau pun berusaha tidur lagi dan berharap semua yang terjadi hanyalah ilusi.


2019

--

Gambar diambil dari: https://pixabay.com/photos/man-child-baby-grandfather-grandpa-3552247/
https://tongseng-dan-sate-gule-kambing-ponorogo.business.site/
Read More
Previous PostOlder Posts Home