Energi gue untuk menulis dan mengisi blog ini seolah-olah akan habis. Percis berbarengan dengan domain akbaryoga.com yang mesti diperpanjang beberapa hari lagi. Kalau mengingat setahun yang lalu, maka judul blog ini berarti belum bernama “Mengunci Ingatan”. Gue pun jadi mikir, kenapa blog ini gue namain begitu, ya?

Gue sebetulnya sudah agak lupa kenapa bisa memilih nama itu. Namun, karena ingatan itu sudah terkunci di dalam kepala ini (asyek). Oleh karena itu, gue akan mencoba untuk mengingatnya kembali. Awalnya, sih, gue lagi cari-cari nama bagus buat domain yang baru. Dulu, banyak orang yang ngeluh soal nama “yoggaas” yang katanya sulit untuk dihafal maupun dilafalkan. Beberapa orang susah mengingat huruf apa saja yang ganda. 

Keresahan itulah yang membuat gue mulai kepikiran dengan ganti domain baru. Jadi kayaknya kalau ganti domain itu juga bisa sekalian menyenangkan hati pembaca. Ya, pembaca mungkin akan merasa kalau pendapatnya didengarkan. Mereka jadi lebih nyaman deh main ke blog ini. Tentu saja kenyamanan pembaca merupakan tanggung jawab pemilik blog. Meskipun nggak semua pendapat harus didengar, tapi sepertinya mengubah domain dan branding blog ini gue cukup setuju. Dan rasanya memang perlu. 

Namun, mengubah domain dan sebuah branding tidak bisa semudah itu. Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan secara matang. Harus siap dengan trafik yang nanti turun drastis, mau nggak mau kudu beradaptasi dengan hal baru dan meninggalkan yang lama itu, dan terlebih lagi soal menentukan nama yang rasanya susah-susah gampang. Kalau gak salah sampai berminggu-minggu kepala gue mumet cuma karena menentukan nama yang cocok untuk domain dan judul blog ini.
Read More
Setiap orang memiliki alasan tersendiri saat ikut CFD (Car Free Day) pada hari Minggu. Sayangnya, dua bulan belakangan ini gue malah belum menemukan alasan yang tepat untuk mengikutinya. Justru, adanya alasan-alasan untuk nggak ikut. Tentu saja karena cuaca sering hujan. Sekalinya nggak hujan, hawa dingin itu membuat gue memilih untuk selimutan (meski gue gak punya selimut dan hanya menggunakan sarung Wadimor) dan tidur lagi.

Sampai suatu hari, gue iseng melihat-lihat galeri foto dari tahun 2012-2015. Ada beberapa foto yang menampilkan seorang cowok memakai jaket merah klub bola Manchester United, bercelana pendek hitam, dan sedang menaiki sepeda fixie putih. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri gue sendiri. 



Gue masih saja memandangi foto itu. Gue mendadak rindu sama momen itu. Kalau gak salah foto itu diambil sekitar tahun 2014. Zaman gue masih bekerja di Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, masih berambut pendek, dan tentunya masih rajin CFD-an di hari Minggu—minimal sebulan 2 kali. Sekarang, semuanya tak lagi sama. Kerjaan belum jelas karena gue masih seorang freelancer, rambut gondrong udah kayak preman (meski kalo jadi preman betulan, gue pasti yang malah dipalak karena nggak ada serem-seremnya), dan hampir nggak pernah olahraga atau ikut CFD.

Akhirnya untuk menjawab rasa kangen itu, hal sederhana yang bisa gue lakukan ada dua: 1) cukur rambut; 2) ikut CFD. Sebab, cari kerjaan tetap itu tidaklah mudah. Tetap menganggur itu baru gampang.
Read More
Berita hoax semakin merajalela. Nyokap gue pun menjadi salah satu korbannya. Pada suatu Minggu malam, ketika gue sedang lapar dan menengok meja makan yang ternyata lauknya sudah habis, Nyokap yang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba bilang, “Yog, jangan makan mi goreng sama samyang. Mengandung minyak babi.”

“Kata siapa?” tanya gue sok penasaran.

“Ini barusan Ibu dapet beritanya dari WA.”

“Wah, kebetulan banget Yoga mau makan mi goreng nih.”

Setelah ngomong begitu, gue beneran ke warung untuk beli Indomie Goreng. Iya, gue emang anak durhaka. Nyokap bermaksud nasihatin anaknya, tapi gue cuek gitu aja. Barulah setelah itu gue menjelaskan kepada Nyokap kalau jangan gampang percaya sama berita-berita semacam itu.

Sebetulnya jangan gampang percaya nggak hanya soal berita. Sama temen yang lama gak kontekan, tapi tiba-tiba ngabarin dan ngajak ketemu juga bisa. Sebab, pas ada temen yang kayak gitu, dia menghubungi gue bukan karena kangen. Ternyata malah ngajakin gue ikut MLM, atau nawarin asuransi, atau minjem duit, atau bisa juga kombinasi ketiganya.

Berbicara mengenai rasa tidak percaya ini, gue jadi inget beberapa hari yang lalu sehabis menonton ulang film Captain America: The Winter Soldier (2014). Di awal film, Steve Rogers atau Captain America (Chris Evans) bertugas untuk menyelamatkan para agen SHIELD yang disandera. Namun begitu tugasnya selesai, ia malah melihat Natasha alias Black Widow (Scarlett Johansson) memiliki misi lain, yaitu menyalin data-data SHIELD. Setelah itu, Steve mulai nggak percaya sama apa yang dilakukannya itu. Kenapa ada misi lainnya di balik sebuah misi? Merasa ada yang disembunyikan, maka Steve langsung protes kepada Nick Fury (Samuel L. Jackson) di kantor pusat.
Read More
Lepaskanlah apa yang kaurasa. Jingga menyala warna langitnya. Saat senja, saat senja... memanjakan kita. (Fourtwnty - Diskusi Senja).

sumber: Pixabay

--

Seusai acara Indomie Goreng Kuah, gue merasa males banget untuk langsung balik ke rumah. Ada beberapa pertanyaan yang terus mengganjal di hati selama perjalanan menuju stasiun. Apa iya gue bakal begini terus?

Begini yang gue maksud adalah sebuah keresahan akan pekerjaan yang cuma menjadi seorang pegawai lepas—biasanya disebut freelancer biar terdengar lebih keren. Sore itu, hidup gue rasanya terombang-ambing.

Memikirkan gimana masa depan gue nanti yang nggak ada pemasukan tetap setahunan lebih ini. Sejujurnya, gue udah capek banget nganggur. Gue pikir, freelancer itu sebenarnya sama aja kayak nganggur. Dapat uangnya nggak tentu. Apalagi kalau bayaran dari klien sering telat. Lalu, sekalinya dapat upah yang dibayar mingguan, duitnya entah ke mana. Tau-tau habis dan nggak ada yang bisa disisihkan. Miris sekali kalau setiap gajian selalu numpang lewat gitu. Gue kangen rasanya memiliki tabungan 8 digit angka. Beli ini-itu nggak perlu mikir lagi.
Read More
Kebanyakan orang berpendapat, kalo musik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Tanpa adanya musik, hidup akan terasa kurang berwarna. Nggak perlu dimungkiri lagi, musik memang menemani kita dalam keadaan apa pun. Baik suka maupun duka.

Di kala terjebak macet, kita biasanya akan mendengarkan musik agar nggak bete sepanjang perjalanan. Lagu-lagu bergenre rock, hardcore dan apa pun itu yang dapat menumbuhkan semangat biasanya akan diputar. Kemudian sewaktu sedang galau misalnya, kita juga akan mendengarkan musik. Lazimnya, kita akan mendengarkan musik sendu. Memasang telinga baik-baik saat mendengarkan nada-nadanya yang minor, lalu meresapi liriknya yang puitis dan melankolis. Bahkan, nggak jarang kita ikutan bernyanyi agar perasaan sedih itu dapat tersalurkan. Mellow abis.

Katanya, sih, lirik itu merupakan bagian yang cukup penting dalam sebuah lagu. Lirik adalah sebuah ekspresi seseorang mengenai suatu hal yang ingin disampaikannya. Celakanya, masih banyak lagu yang memiliki lirik terlalu panjang dan ribet. Sehingga kita malah kesulitan untuk menghafalnya. Padahal lirik yang singkat itu biasanya lebih mudah dimengerti.

sumber gambar asli: pixabay, kemudian gue tambahin teks

Berbicara soal lirik singkat, belakangan ini gue lagi suka dengerin lagu Barasuara – “Hagia”. Alasan gue sering mendengarkan lagu itu karena sebuah keresahan berbau SARA. Sumpah, gue nggak ngerti aja gitu sama orang-orang belakangan ini yang meributkan agama melulu. Nah, lagu “Hagia” ini rasanya telah menjawab kegelisahan gue di setiap ada seorang atau sekelompok yang merasa agamanya paling benar. 

Read More
Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan membaca tulisan sendiri beberapa tahun ke belakang. Saat membacanya, perasaan gue pun otomatis menjadi campur aduk. Kalau baca tulisan 2012-2013, tentu saja bikin ngakak dan jijik sendiri karena tulisannya masih kacau dan membuat gue bergumam, “Ya Allah, ini beneran gue yang nulis?”. Merasa nggak percaya kalau tulisan gue saat ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan tulisan pada tahun itu.

Lalu, ketika membaca tulisan tahun 2014, gue merasa kalau gaya gue sok-sok motivator yang sangat berusaha memberikan nasihat kepada pembacanya. Mirisnya, pada tahun itu sedikit banget dan jarang yang komen di blog gue. Alias cuma segelintir manusia yang baca. Terus itu gue ngasih nasihat ke siapa dong? Bangkai curut!

Pada tahun 2015, gue mulai terpengaruh dan belajar untuk menulis komedi. Ya, meskipun komedi-komedi di tulisan gue itu kayaknya garing banget. Sekalipun lucu, palingan yang jokes mesum. Sampai-sampai gue malah jadi keterusan untuk memakai cara itu. Gue merasa nggak kreatif sama sekali. Berniat menghibur orang, tapi caranya kok gitu-gitu aja? Menyedihkan.

Barulah pada tahun 2016, terutama setelah mengganti nama domain dan blog menjadi: akbaryoga(com) - Mengunci Ingatan. Gue mulai menulis apa aja yang memang ada di kepala. Yang penting keresahan dan pesan gue dapat tersampaikan. Kalau ada bumbu komedi yang bisa gue selipkan di tulisan itu syukur, nggak ada juga gak jadi masalah. Toh, nggak semua orang butuh tulisan lucu. Bisa aja dia lebih butuh tutorial. Tutorial menulis lucu dengan estetika yang diremehkan, misalnya.

sumber asli: pixabay yang kemudian ditambahin teks olehku
Read More
Previous PostOlder Posts Home