“Kenapa blog isinya jadi tulisan iklan mulu, ya?” tanya seorang bloger kepada bloger lainnya. 

Dari keresahan itulah lahir beberapa tulisan blog yang mempermasalahkan para bloger yang mulai berubah haluan menjadi pengiklan. Baik yang hanya promosi di blognya, maupun yang telah merambah ke media sosialnya. Sebenarnya, gue juga pernah meresahkan hal itu. Namun, gue juga nggak bisa protes begitu aja, ketika diri gue masih menjadi bagiannya. Bagi pegawai lepas seperti gue, pemasukan tambahan dari iklan blog begitu lumayan. Jadi, gue pikir protes semacam itu bukanlah solusi buat gue. Nanti gue juga dikatain munafik lagi.

Nah, yang menarik dari permasalahan itu ialah kenapa para bloger kurang kreatif ketika mengiklankan produk dari klien. Yang gue perhatikan dan simak dari tulisan protes itu, tulisan iklan para bloger di blognya itu kurang menarik untuk dibaca. Atau, disebut kurang menarik pun belum pantas? Entahlah, nilai saja sendiri.

Katanya, kebanyakan bloger hanya menyalin press release itu ke dalam blognya tanpa diolah menjadi gayanya sendiri. Lalu cara promosinya dalam tulisan itu juga terlalu kasar. Mereka yang dimaksud itu belum menerapkan soft selling. Gue, sih, langsung tertawa membaca bagian itu. Sebab, yang dituliskan memang benar.

Namun, masih ada kok beberapa bloger yang tulisan liputannya menarik dibaca. Dan, gue sebisa mungkin nggak pengin menertawakan diri sendiri seperti yang dimaksud dalam tulisan protes tersebut. Sejauh ini ketika menulis tulisan yang berbayar, gue pasti berusaha sehalus mungkin dan menggunakan gaya sendiri. Gue sebenarnya juga menyadari kalau tulisan iklan gue itu masih terbilang cemen. Gue butuh belajar lebih banyak lagi. Lagian, gue termasuk orang yang milih-milih dalam menerima tawaran kerja sama.

Ya, setidaknya gue masih memegang idealis. Ketika temanya sesuai, terus harga cocok, barulah gue ambil. Gue nggak mau dibayar terlalu murah untuk hal yang kurang gue suka. Masa gue udah mengorbankan blog yang isinya buat curhat, lalu diisi iklan yang nggak sesuai sama konten blog gue, tapi tetep dibayar murah? Di situlah ada pertimbangan untuk menentukan harga atau menolak tawaran kerja sama.

Beda persoalan kalau gue suka sama tema dan acaranya, bisa masuk gratis dan mendapatkan makanan aja udah seneng. Ketika menuliskan liputan acaranya juga santai dan mengalir karena gue menikmatinya. Kalau temanya nggak sesuai diri gue, barulah itu jadi problem. Nanti ribet pas menuliskannya. Rasa di dalam tulisan itu juga takut nggak dapet.

Maka, sebisa mungkin gue ngambil tawaran kerja sama yang cocok dan halal. Situs judi dan togel pernah tuh menawarkan kerja sama, lalu dengan tegas langsung gue tolak. Jadi meskipun harganya lumayan atau malah tinggi, tapi kalo nggak sreg sama diri gue buat apa? Biarlah dibilang sombong dan milih-milih atau entah apalah itu. Sebab, bagi gue integritas itu penting.

***

Permasalahan soal iklan itu pun pernah gue lempar ke grup WIRDY. Rupanya, mereka juga merasa risih. Kemudian salah satu dari mereka ada yang menjawab, “Mungkin yang protes itu blogwalking-nya kurang jauh.” Berbicara soal blogwalking yang kurang jauh, gue sendiri mulai ngerasa kalau main ke blog orang kayaknya kok itu-itu aja. Kami pun diskusi blog siapa aja yang kira-kira perlu ditambah ke “Daftar Bacaan”.

Gue entah kenapa jadi heran, kenapa keresahan iklan itu malah melebar ke persoalan blogwalking? Terus kami mulai saling curhat satu per satu seputar dunia blog. Sejujurnya, sejak awal tahun 2017, kami kadang bingung mau main ke blog mana lagi. Kami merasa, kok setiap buka “Daftar Bacaan” mulai jarang yang update.

Apalagi sekarang ini, kala jenuh sama tulisan iklan, lalu teman-teman yang biasa cerita keseharian pada ke mana lagi nih? Kami akhirnya menceritakan tentang kerinduan tulisan bloger ini dan itu. Sebelum membahas lebih jauh, terus gue tiba-tiba usul, “Kalau dijadiin proyek tulisan aja gimana?”

Gue menjelaskan untuk bikin rekomendasi blog yang menarik untuk dibaca beserta alasannya. Mereka—personel WIRDY—pun kompak menjawab iya, lalu kami sepakat membuat daftar blog favorit. Awalnya kami cuma pengin bikin daftar 5 blog, tapi ada juga yang bertanya kalau 7 boleh atau nggak? Setelah itu, gue jawab bebaslah, bahkan lebih dari itu pun boleh. Kemudian gue bertanya lagi, kalau ada daftar blog yang sama gimana dong? Jawabannya, anggap saja itu rezeki si bloger. Kami cuma pengin jujur akan kesukaan blog itu. Kalau ada daftar yang sama, berarti selera kami sama.

sumber gambar: Pixabay yang kemudian gue tambahin teks


Jadi, inilah daftar blog yang gue suka:

1. howhaw.com

Sehabis membaca tulisan Haw, respons gue langsung pengin membalik namanya menjadi: “Wah”. Ya, begitu kelar baca tulisannya—yang berbumbu fisika dan bisa-bisanya disangkutpautkan ke hal lain apalagi percintaan itu, entah kenapa pengin bilang, “Wah, anjing! Kok keren, sih?”; “Wah, bangke. Kepikiran aja ini anak buat nulisnya.”; “Wah, dibalik Haw!”

Selain suka dengan tulisan yang fisika, cerita pendek yang dilabeli “fiksingkat” itu juga mantap. Tulisan fiksi Haw sering mengejutkan gue dan bikin kesal bercampur gemas. Contohnya yang ini: Terapi Hipnotis Tidur.


2. keriba-keribo.com

Pernah ngerasa minder buat curhat dan takut nggak ada yang baca? Belajarlah dari Kresnoadi. Setiap kali baca curhatannya yang diracik dengan komedi, gue sering merasa kalau pengin curhat, ya curhat ajalah, Yog. Ngapain kebanyakan mikir segala? Gue belajar untuk mengiklan dengan halus pun dari blog Adi. Dia pernah beberapa kali memenangkan lomba blog berhadiah jutaan dengan gaya berceritanya sendiri. Karena itulah, secara nggak langsung dia telah mengajarkan gue untuk lebih percaya diri dalam curhat ataupun mengikuti lomba.

Terus kalau boleh berpendapat jujur, dari sekian banyak tulisannya yang humor, gue justru paling suka tulisannya yang serius-serius dan bikin termenung. Inilah yang gue maksud: In The Middle of The Night ... and Suddenly Thinking About Life


3. bayurohmantika.com

Setiap membaca tulisan Bayu, gue sering mendapatkan pandangan baru akan sesuatu hal. Tulisan-tulisannya itu juga seolah mengajak gue berpikir ulang tentang dunia menulis. Misalnya, di tulisan yang Menulis Kebutuhan atau Tuntutan?

Bisa dibilang Bayu nggak seperti bloger lain yang mengharuskan dirinya rajin blogwalking biar blognya ramai. Dia main ke blog orang lain pas lagi pengin aja. Yang penting kan bisa tetap menulis. Anggep aja tulisannya nanti nggak ada yang baca. Entah ramai dikunjungi atau nggak, ada yang komentar apa nggak. Bayu sesantai itu dalam ngeblog. Yang gue salut, Bayu selalu memberikan komentar yang panjang dan bukan basa-basi. Tanda kalau dia benar-benar mengapresiasi bloger itu.

Dari tulisan Bayu itu, gue juga belajar untuk nggak usah terlalu dibawa beban dalam berkarya harus begini dan begitu. Bagi Bayu, dia pengin kalau menulis itu karena kebutuhan dia buat menyampaikan keresahannya. Bukan menulis karena tuntutan. Mungkin dia nggak mau dituntut untuk terus konsisten, sedangkan dia sendiri nggak suka sama hasil tulisannya. Bayu seakan-akan mengingatkan gue kalau kualitas itu yang terutama daripada kuantitas. Lalu di akhir tulisan, biasanya Bayu juga menambahkan lagu yang menemaninya menulis. Lumayan, gue jadi dapet referensi musik baru. Makasih, Bay!


4. agrariafolks.wordpress.com

Sebelum gue membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar buatan Mas Dio yang terbit Mei 2017 ini, gue sudah jauh lebih dulu membaca blognya pada tahun 2015. Gue lupa waktu itu mengenal tulisannya dari mana. Kalau nggak salah karena dipromosiin sama Bernard Batubara atau Aan Mansyur. 

Awalnya, sih, gue sempat bingung dan merasa nggak sampai sama tulisan-tulisan absurditas atau surealis yang dia tulis. Namun, saat gue membaca tulisannya yang berjudul Hansen, lama-kelamaan menarik juga untuk diikuti. Tulisan Mas Dio sepertinya cocok untuk pelarian gue dari dunia nyata dan masuk ke dalam dunia absurdnya. Komedi satire dalam cerpennya pun sering bikin gue tertawa seraya mengucapkan kata-kata yang kotor sebagai pujian. Sebab itulah gue memutuskan untuk membeli novel debutnya: Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya dan, akhirnya jadi menyukai gaya berceritanya.

Sayangnya, sekarang dia mulai jarang menyuguhkan cerpen di blognya. Untuk melihat cerpennya yang keren, mau nggak mau gue kudu membuka arsipnya pada tahun 2014-2016.


5. ardiwilda.com

Gue sebetulnya nggak kenal siapa Ardi Wilda—yang biasa disapa Awe di media sosialnya. Gue pun nggak mengikuti akun medsosnya. Gue pertama mengetahuinya itu, waktu nggak sengaja membaca mention-an dia dengan Mas Dio sekitar dua tahun silam. Terus, gue entah kenapa iseng melihat profil Twitter-nya. Karena tercantum alamat blognya, gue pun lanjut membaca blognya. Ternyata, tulisannya bagus!

Tulisan dia itu sering mengajak gue berkontemplasi. Contohnya, Dua Puluh Senti di Atas Bahu. Hal-hal yang sering gue lewatkan di kehidupan sehari-hari, berhasil dia ingatkan untuk gue renungkan. Tentunya dengan teknik bercerita yang ciamik. Gue jadi mendapatkan kesegaran baru setiap main ke blognya. Karena gue nggak kenal, gue pun sadar kalau setiap blogwalking ke blognya selama ini begitu tulus. Gue main hanya ingin baca tanpa perlu berkomentar. Seolah-olah gue telah menyalahi aturan yang dilakukan para bloger untuk bersilaturahmi. Tapi gue nggak peduli. Sampai sekarang, kayaknya gue nggak pernah berkomentar di blognya. Gue jadi pembaca bisu di blognya dan pengin seterusnya begitu.

*

Itulah 5 blog yang menyenangkan sekaligus menyebalkan buat gue. Menyenangkan karena blog mereka isinya bukan iklan seperti yang diresahkan beberapa bloger. Mereka berlima juga menyajikan kesegaran yang berbeda-beda. Unik dengan gayanya masing-masing. Lalu kalau soal menyebalkan, sebab gue jadi nggak bisa keseringan leyeh-leyeh lagi saat luang. Gue nggak bisa terus males-malesan, berdiam diri, dan menunda menulis. Merekalah yang menjadikan gue lebih bersemangat untuk banyak menulis dan membaca lagi. Supaya tulisan gue bisa lebih baik dari waktu ke waktu.

O iya, gue sengaja memasukkan yang seumuran atau umurnya nggak jauh-jauh amat, biar mereka jadi motivasi dan patokan buat gue dalam berkarya. Bahwa, mulailah berkreasi sejak muda. Nggak usah menunda-nunda lagi untuk menciptakan sesuatu. Yuhu!

Nah, kalau kamu siapa nih bloger favoritnya?

--

PS: Tulisan personel WIRDY lainnya menyusul, ya. Nomor dalam daftar itu gue buat secara acak, bukan berdasarkan peringkat. Bukan karena beberapa dari mereka teman gue juga. Ini murni pendapat gue seandainya nggak kenal sama mereka. Kalau gue mau promosiin temen, mending sekalian gue buat daftar personel WIRDY di tulisan ini. Titik dua kurung tutup.

Mungkin ada yang mau ikutan bikin daftar kayak tulisan ini. Ya, silakan. Mari kita ramaikan dunia blog kembali. Kalau cuma protes sama dunia blog mah gampang, tapi menurut gue itu bukanlah solusi. Mending tunjukkan kalau blog isinya nggak cuma iklan aja dengan merekomendasikan blog favoritmu. Halah!
Read More
Novel yang bagus itu seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, gue ingin memberi tahu kalau judulnya sengaja dibikin keliru. Yang betul adalah 24 Jam Bersama Gaspar, sebuah novel karya Sabda Armandio—setelah ini akan gue panggil Mas Dio biar lebih akrab.



Kalau memang ada yang beneran bertanya ke gue tentang novel yang bagus, gue betul-betul nggak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Apalagi setiap orang memiliki selera bacaan yang berbeda-beda.

Namun, kalau orang itu cuma ingin meminta pendapat gue, maka jawabannya: buku yang bagus setidaknya akan membuat gue rela membuang-buang waktu untuk membaca ulang ceritanya. Dan, Mas Dio dengan gaya berceritanya yang asyik itu berhasil membuat gue menamatkan Gaspar dua kali. Itulah alasan kenapa judulnya jadi seperti itu.

Nggak banyak novel yang akhirnya gue baca ulang. Lagian kalau nggak bagus, ngapain repot-repot harus baca ulang? Jadi, gue anggap buku yang bisa memaksa pembacanya untuk membaca ulang, apalagi sampai menandai bagian-bagian yang menarik adalah buku yang bagus.

Seperti yang terlihat di gambar, gue menandai beberapa bagian novelnya dengan post it. Gue memang suka menempelkan post it pada bagian buku tententu untuk kepuasan sendiri. Bagian mana yang gue sukai, yang membuat gue tertawa, dan yang bikin merenung.

Nah, dari salah satu post it yang gue tempelkan itu, dialog pada novel 24 Jam Bersama Gaspar ini rasanya bisa menjawab pertanyaan seperti apa buku yang bagus: “Cuma penulis hebat yang bisa membuat pembacanya anteng, tak peduli berapa pun jumlah halamannya.”
Read More
Ketika gue berumur 12 tahun, gue sempat melihat mikrolet yang di kacanya tertempel tulisan “www.doaibu.com”. Pertama kali membaca itu, gue berpikir sesuatu yang pakai (dot)com, kok, keren sekali. Hingga beberapa hari setelahnya, rasanya gue pengin ikutan bikin. Namun, gue masih belum tahu ingin menggunakan nama apa untuk dijadikan stiker. Mungkin kalau benar jadi dibuat, namanya akan berupa “www.yogamantep.com” atau “www.yogagituloh.com”. 

Saat usia segitu, gue memang nggak tahu apa-apa soal www seperti itu (yang belakangan diketahui adalah domain). Gue cuma berpikir untuk membuat stiker dengan nama www(dot)com begitu, lalu nanti akan ditempelkan di pintu rumah. Jadi kalau ada teman yang main ke rumah gue, dia akan takjub melihat stiker itu.

Gue sejujurnya nggak ngerti, kenapa dulu tuh bisa begitu bodoh atau polosnya. Padahal waktu itu gue sudah mulai main online games di warnet (warung internet). Tapi ya, tetap saja nggak berpikir lebih jauh tentang (dot)com. Pikiran gue masih sebatas untuk keren-kerenan dijadikan stiker. Bisa dibilang kala itu gue masih gagap teknologi.

Hal yang gue inginkan dahulu itu akhirnya terwujud dalam bentuk lain. Angan-angan itu bukan lagi dalam bentuk stiker, melainkan berwujud blog: www.akbaryoga.com yang gue beli di Qwords. Nggak nyangka, ternyata keinginan gue pada usia 12 tahun itu malah menjadi kenyataan yang lebih baik.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, pada Kamis, 24 Agustus 2017 Qwords berulang tahun yang ke-12. Dalam memeriahkan acaranya, Qwords turut mengundang rekan-rekan bloger di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Alhamdulillah gue termasuk bloger yang diundang di acara tersebut. Berhubung domisili gue di Jakarta, maka datanglah gue ke Gedung Cyber 1 lantai 3, di Jalan Kuningan Barat No. 8, Jakarta Selatan.

Read More
“Sebelum acaranya dimulai, gue mau nanya nih. Temen-temen udah pada tahu Brilio, kan?” tanya Mas Josie, selaku MC acara.

Saat gue perhatikan, ada yang menjawab sudah, ada yang diam saja, dan ada yang segera mengetik sesuatu di laptopnya (belakangan diketahui, ia ternyata membuka web Brilio.net). Sepertinya orang itu belum tahu dan mungkin merasa malu karena sudah datang ke acara, tapi nggak ngerti sama sekali akan Brilio itu sendiri.

Sejujurnya, gue sendiri nggak banyak tahu tentang Brilio. Satu-satunya hal yang gue ketahui ialah artikelnya yang sempat gue baca beberapa kali di Line Today. Iya, hanya itu dan gue nggak mencari tahu lebih jauh.

*

Syukurnya, pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017 gue dan teman-teman dari Komunitas ISB mendapatkan undangan untuk main ke kantor Brilio. Kantornya berlokasi di Graha Tirtadi Lt. 3 Jalan Wolter Mongonsidi No. 71, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berkat acara inilah gue bisa mengetahui lebih lanjut tentang Brilio.


Suasana Kantor

Seperti kantor-kantor media kreatif pada umumnya, Brilio pun memiliki tempat kerja yang asyik dan nyaman. Kantornya tidak memiliki papan tulis untuk mencatat proyek yang sedang dikerjakan atau catatan yang lain. Di kantor itu, coretan-coretannya dituliskan di kaca. Lalu, di temboknya terdapat tulisan “create”, yang seolah-olah memengaruhi alam bawah sadar untuk membuat atau menciptakan sesuatu. Lalu, ada sebuah ruangan yang kami tempati di acara itu menggunakan semacam tempat duduk yang unik dan asyik buat leyeh-leyeh, tapi gue nggak tahu apa namanya.



Read More
Setelah menyebar beberapa surat lamaran lewat surel (surat elektronik), baik yang gue dapatkan dari teman maupun JobStreet. Akhirnya, ada satu panggilan wawancara kerja. Namun, lokasinya di Gading Serpong, Tangerang, yang mana cukup jauh dari rumah. 

Kenapa gue ngelamar kerja jauh-jauh banget, ya? Gue pun berusaha mengingat-ingat tentang PT yang menghubungi gue itu, tapi tetep lupa. Entah karena saking banyaknya ngirim lamaran, apa emang gue yang udah mulai frustrasi dan jadi gampang lupa.

Setelah berselancar di internet, gue pun menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Perusahaan yang gue lamar ini, ternyata punya lebih dari satu cabang. Yang gue lamar itu alamat lainnya berada di daerah Kebon Jeruk. Oke, berarti yang di Gading Serpong itu hanya tempat wawancaranya.

Pukul 07.00 gue mulai berangkat dari rumah menuju kantor itu. Interviu yang tertera di surel sebetulnya dimulai pukul 09.00. Kalau yang gue lihat di GPS, perjalanannya sekitar 75-90 menit. Namun, gue sengaja berangkat lebih awal sebab memperkirakan macet dan beberapa hal buruk lainnya. Misalnya ban motor bocor, tersesat, atau terjadi Perang Dunia Ketiga.



Benar saja dugaan gue akan hal itu. Begitu sudah masuk area Serpong, gue nyasar seperti biasanya. Gue mengendarai motor mengikuti petunjuk di papan jalan ke arah Serpong, yang ternyata beda arahnya dengan Gading Serpong—tempat yang gue tuju. Gue mungkin kehilangan fokus saat terjebak macet di Ciledug, suatu daerah sebelum menuju arah Serpong. Mau nggak mau, gue mulai menepi dan mengecek GPS untuk kembali ke jalan yang benar. Jalan yang diridai Allah. Allahu Akbar!

Sesampainya di kawasan yang tertera di GPS, gue mulai bingung lagi. Sebelumnya, kantor yang gue tuju itu alamatnya nggak tercantum di GPS. Jadi, gue memasukkan nama jalan lain yang dekat dengan tempat itu. Nah, berarti perjalanan gue setelah ini nggak bisa lagi memanfaatkan teknologi. Gue harus nanya sama orang.

Demi berjaga-jaga salah bertanya, maka orang yang gue tanya adalah satpam. Sayangnya, ia mengatakan kalau tidak tahu percis alamatnya. Ia malah bilang lokasi yang gue cari itu mungkin dekat dengan ruko-ruko sambil menunjukkan jalannya. Gue pun mengucapkan “terima kasih”, dan melanjutkan pencarian lokasinya ke tempat yang satpam itu maksud.

Setelah 15 menit berselang, gue sudah memasuki area yang banyak rukonya. Lalu gue bertanya ke pejalan kaki yang lewat, seorang pria berkumis yang kira-kira usianya menginjak empat puluhan akhir. Bapak itu kemudian memberi tahu gue kalau nama jalan yang gue tanyakan itu udah benar dan mungkin kantor yang gue cari itu ada di depan. Cuma, Bapak itu memberi tahu gue kalau ruko-ruko yang ada di sini masih baru, sepertinya masih kosong dan belum ada kantor yang beroperasi.

Gue mulai cemas dan membatin, ini yang gue tuju jangan-jangan perusahaan fiktif?
Read More
Beberapa hari yang lalu saat libur kerja, aku memutuskan untuk bertualang. Kamu mungkin tau rasanya bekerja selama 6 hari dalam seminggu dengan semangat yang kurang itu seperti apa. Nah, bagiku itu cukup menjenuhkan. Ketika libur, lalu cuma tidur-tiduran di rumah itu malah menambah rasa bosan. Mungkin mengistirahatkan tubuh itu perlu, tapi jiwaku juga butuh sesuatu yang baru. Yang membuatku kembali menjalani hari dengan penuh kesegaran. Maka, pergilah aku bertualang.


Pertualanganku ini berlangsung selama sebelas jam. Semuanya berawal ketika aku memulai perjalanan dari Stasiun Bekasi dengan tujuan Stasiun Sudimara (Tangerang Selatan) menggunakan kereta listrik (KRL) khusus area Jabodetabek. Sebetulnya aku tidak begitu suka naik kereta, tetapi kalau menggunakan motor rasanya pasti tak sanggup. Perjalanan dari ujung ke ujung dan duduk berjuang melawan macet tentunya bisa membuat pantatku menipis. Dan karena belum memiliki helikopter, maka keretalah yang jadi solusinya.

Mungkin kamu bingung apa tujuanku pergi ke Sudimara. Aku janjian bersama teman-teman bloger: Adibah dan Yoga, untuk berjumpa sembari kulineran di sana. Mereka, sih, enak jaraknya pada dekat. Yoga dari Palmerah cuma 4 stasiun, Adibah apalagi yang tinggal naik angkot.
Read More
Previous PostOlder Posts Home