Kehilangan sesuatu yang berharga itu identik dengan sebuah penyesalan. Kau mungkin bosan mendengar kalimat seperti itu, tapi begitulah adanya. Sehabis kehilangan, kita biasanya akan merenungi sesuatu itu saat masih ada. Mengapa kita tidak bisa menjaga ataupun merawatnya dengan baik?  Namun, kehilangan sesuatu yang berharga tidak melulu tentang seseorang. Kehilangan bisa soal benda, ingatan, atau keperjakaan.

Seperti apa yang sedang dialami oleh Yoga saat ini. Dari beberapa hal di atas, Yoga baru saja mengalami kehilangan. Mungkin kau akan menebak kalau ia kehilangan keperjakaan, tapi sayangnya bukan itu. Ia kehilangan sebuah benda. Benda itu bukan ponsel canggih yang harganya mahal, ataupun dompet—berisi uang dan kartu-kartu penting. Benda itu cuma sebuah bloknot. Sebuah buku catatan yang telah menemaninya selama beberapa tahun. Bloknot itu ia beli sekitar 3 tahunan yang lalu dan sekarang tentu saja sudah banyak berisi tulisan. Buku sejenis itu memang masih dapat ia beli di pasar atau toko. Tapi isi di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga baginya. Yang tidak mungkin bisa ia beli di mana pun.

Sejelek apa pun tulisan tangannya maupun apa yang telah tertulis di bloknot itu, Yoga tetap menghargainya. Isi buku itu ialah rekam jejak dalam hidupnya yang sangat berarti. Ia tidak rela kalau sampai ada yang menemukannya dan membacanya tanpa izin. Lebih-lebih kalau buku itu dibuang, bukan dikembalikan. Apalagi kalau sampai dijadikan bungkus gorengan.

Awalnya, ia tidak tau bloknotnya itu hilang. Kala sedang ingin melanjutkan sebuah cerpen, yang draf awalnya sudah sempat tertulis beberapa paragraf di buku catatannya, barulah ia sadar kalau bloknot itu tidak ada di dalam tasnya. Kini, Yoga jadi kebingungan dan stres sendiri. Ia sudah membongkar tasnya lebih dari sekali, tetapi bloknot itu tetap tidak ditemukan. Ia pun telah mencari-cari di seluruh isi kamarnya; rak buku, lemari, dan kolong tempat tidur. Namun, bloknot itu belum juga ia dapatkan. Bloknot itu lenyap seolah ingin mempermainkannya.



Anjing! umpatnya dalam hati.

Seingatnya, hari ini ia tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam tas. Kalaupun tadi ia sempat keluarkan, pasti akan dimasukkan kembali begitu rampung menulis atau mencatat suatu ide. Setelah yakin kalau hari ini ia tidak membuka-buka tasnya, ia mulai mengingat hari kemarin.

Read More
Seperti Pulau Dewata Bali, Pulau Lombok juga kaya akan wisata alamnya. Meskipun didominasi oleh pantai, setiap pantai menawarkan panorama alam yang unik dan berbeda. Seperti 7 tempat wisata berikut yang pasti akan membuat liburan kamu di Lombok semakin tak terlupakan.

1. Gili Sudak

Kawasan Lombok paling terkenal dengan destinasi Gili Trawangan atau Gili Meno. Bagi yang sudah sering ke Lombok, menikmati keindahan alamnya pasti terasa biasa. Kamu perlu mendapatkan pengalaman baru yang menakjubkan di Gili Sudak. Bagaikan pulau milik pribadi, Gili Sudak masih belum banyak dikunjungi para wisatawan. Pantainya berpasir putih, dengan air laut yang tenang dan jernih. Selain itu, Gili Sudak juga menawarkan pemandangan bawah laut yang memukau, cocok nih bagi kamu yang gemar menyelam.


2. Gunung Rinjani


(sumber gambar: trekkingrinjani.com)

Mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia pasti akan memberikan pengalaman seru tak terlupakan. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung favorit para pendaki karena memiliki pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Dari puncaknya, kamu bisa melihat indahnya danau kawah Segara Anak.


3. Pantai Senggigi

Kabarnya, Pantai Senggigi disebut sebagai surganya pariwisata oleh para wisatawan. Sebab, pantai ini memiliki air yang sangat jernih dan bermacam biota laut yang cantik. Di dekatnya, terdapat dua destinasi wisata lainnya, yaitu Batu Bolong dan Batu Layar. Pantai Senggigi biasanya digunakan sebagai lokasi transit wisatawan sebelum menuju ke Trio Gili. Tak heran ada banyak hotel murah di Lombok di sekitar destinasi ini.
Read More
Catatan 6 Juni 2017. Puisi ini diambil dari bloknot milik Hehe Darmansyah.

--


Bukan Fiksi


Kau tak pernah gengsi saat memulai komunikasi.
Itukah caramu agar kita dapat berinteraksi?
Bagiku, kau adalah puisi. Terhitung sudah banyak frekuensi.
Dan kuyakin, kita bukan fiksi. Karena waktu telah menjadi saksi.
(2015)


Read More
“Nggak terasa Lebaran tinggal 29 hari lagi.”

Lelucon kuno semacam itu ternyata masih gue temuin di Twitter ataupun status Facebook pada saat puasa hari pertama. Ya, waktu itu memang relatif. Kadang terasa begitu lama, kadang juga cepet banget. Seperti sekarang misalnya, perasaan kemarin gue baru baca kalimat soal Lebaran itu kala awal Ramadan. Eh, hari ini telah memasuki puasa minggu kedua. Anjir, beneran nggak terasa, ya. Gue jadi pengin ikutan bikin status, nggak terasa Lebaran tinggal.... Halah!

Masjid di deket rumah yang tadinya penuh banget, bahkan sampai ke halaman dan jalanan. Pada minggu kedua ini sudah mulai berkurang. Gimana nanti, ya pas minggu ketiga dan terakhir? Biasanya masjid akan semakin sepi. Terutama ibu-ibu yang sibuk membikin kue ataupun belanja baju Lebaran. Bukannya gue bermaksud menggeneralisasi kaum perempuan. Gue bisa bilang begitu, sebab nyokap gue adalah contoh yang nyata. Tadi sepulang salat Tarawih, beliau tiba-tiba masuk ke kamar gue dan bertanya, “Kamu mau nitip baju Lebaran nggak, Yog? Besok Ibu kayaknya mau ke Tanah Abang.”

Ya, Allah... ini masih minggu kedua, beliau udah repot mikirin baju Lebaran. Akhirnya, gue pun iseng meledek kenapa buru-buru amat mau Lebaran. Beliau kemudian menjelaskan kepada gue kalau nanti-nanti takut pasarnya bertambah ramai dan padat. Gue pun hanya mendengarkan sambil manggut-manggut. 

“Ya udah, terus kamu jadinya mau nitip nggak nih?”

“Nggak usah deh, Bu.”

Setelah gue jawab begitu, Nyokap keluar kamar.

***

Sehabis berbicara tentang baju Lebaran, entah kenapa gue jadi melamunkan hal itu. Sebetulnya gue masih bingung, kenapa harus disebut sebagai baju Lebaran, sih?

Karena begitu penasaran, gue pun berselancar di internet dan menemukan sedikit informasi. Jadi, di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, dijelaskan kalau tradisi memakai baju baru ketika Lebaran sudah turun-temurun sejak tahun 1596. Ketika menyambut Hari Raya, mayoritas penduduk Kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru. Nah, maka baju baru yang dipakai saat Idulfitri itu akhirnya dinamakan baju Lebaran.

Namun, pada masa itu baju Lebarannya ialah hasil menjahit sendiri. Masih jarang masyarakat yang membeli. Sangat berbeda sekali dengan gue yang dari kecil sudah terbiasa membeli baju Lebaran. Lebih tepatnya, tradisi keluarga gue memang beli bajunya cuma pas Hari Raya Idulfitri. Gue pun semakin tenggelam dan mengenang jauh ke masa silam.

Read More
“Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa.”

Kalimat itu adalah twit milik Agus Purnomo—salah satu teman sekelasku sewaktu kuliah dulu. Kubaca twit itu berulang-ulang kali. Sampai pengulangan yang kelima, aku berhenti membaca dan berpikir, apa arti sebenarnya dari BDSM?

Aku dulu sempat mendengar singkatan itu, tapi karena merasa tidak berfaedah, aku melupakannya begitu saja. Sebelum mencari tahu arti BDSM, aku mengontak Salsabila dan Canda Winarto di WhatsApp. Aku menanyakan mereka sudah sampai mana, sebab aku mulai jengah menunggu di kafe seorang diri seperti ini. Syukurnya, kafe ini menyetel musik Maher Zain yang cukup menenangkan hati.

O iya, mereka berdua juga merupakan teman kuliahku, sama seperti Agus. Rencananya kami bertiga akan reunian dan janjian di Kalisbeng Cafe untuk buka puasa bersama. Momen seperti bulan Ramadan ini memang cocok untuk silaturahmi dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa.

Aku sebenarnya sudah hafal kebiasaan mereka yang sering telat kalau setiap janjian. Kami janjian pukul 16.00, tapi sudah 20 menit berlalu, mereka belum nongol juga. Kadang aku pun jadi sebal sendiri dengan diriku yang terbiasa datang tepat waktu. Karena tidak memiliki games apa pun di ponsel, maka kala sedang bosan begini, hiburanku satu-satunya adalah Twitter.

Sayangnya, sejak ada fitur “In case you missed it”, timeline mulai jadi menyebalkan. Aku merasa tidak butuh-butuh amat fitur seperti itu. Aku tidak begitu peduli soal twit-twit yang terlewat olehku. Termasuk twit Agus 22 jam lalu tentang BDSM itu, yang bisa-bisanya terbaca olehku.

Karena sudah telanjur membaca twit itu dan penasaran soal BDSM, aku pun segera mencari tahu artinya di mesin pencarian. Kuketik “arti BDSM”, lalu muncul hasil Wikipedia bahasa Indonesia di paling atas. Aku segera mengekliknya.

Sial! Ternyata arti BDSM itu mengandung unsur pornografi. Syukur saja aku tidak sampai membuka Google Image. Bisa-bisa pahala puasaku berkurang, atau mungkin malah batal. Aku jadi bingung, kenapa beberapa orang suka banget melesetin istilah mesum seperti itu? Ah, tapi kalau Agus mah memang mesum dan norak!

Merasa jengkel setelah mengetahui tentang BDSM, aku menutup web itu dan menaruh ponselku ke meja. Seketika itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.

“Udah lama, Heh? Sorry, macet banget tadi.”

Tanpa menoleh, aku sudah mengenali suara itu. Suara milik Canda. Ia pun memilih duduk di hadapanku.

“Taik, ah! Ngaret mulu.”

Ia hanya menyengir mendengar keluhanku. Penampilan Canda tidak banyak berubah. Ia masih berambut gondrong sebahu seperti terakhir kali kami berjumpa pada saat wisuda, sekitar 8 bulan yang lalu. Katanya, sih, ia pengin berambut gondrong biar kayak seniman. Padahal sebutan gembel lebih pantas untuknya.
Read More
Setiap bloger biasanya akan bingung kalau ditanya, “Apa momen terbaikmu kala ngeblog?”

sumber: Pixabay (kemudian diedit sesuai kebutuhan)

Gue sendiri masih bingung dan merenungkan apa momen terbaik itu. Biasanya para bloger akan menjawab tentang pencapaian-pencapaian mereka selama ngeblog. Baik itu blognya yang dibukukan penerbit mayor, menang lomba ngeblog berhadiah uang atau produk senilai jutaan, atau bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sedangkan, gue sendiri nggak pernah mendapatkan semua itu.

Tulisan di blog gue nggak pernah dijadikan buku. Belum ada penerbit yang nawarin, sih. Halah. Lagian, tulisan di blog ini, kan, kebanyakan curhatan nggak jelas. Parahnya lagi banyak yang menyerempet ke hal-hal pornografi. Jadi, menerbitkan buku dari blog itu belumlah bisa tercapai.

Lalu ketika mengikuti lomba blog, gue seperti terbiasa dengan yang namanya kekalahan. Gue sudah berusaha menulis dengan maksimal, tapi tetap saja berbuah sia-sia. Syukurnya, gue nggak pernah kenal lelah ataupun menyerah. Hingga akhirnya, pada suatu hari gue sempat merasakan juara kedua ketika mengulas karya Haris Firmansyah. Meskipun itu hanya sebatas give away atau kuis kecil-kecilan dari temen bloger, setidaknya gue bisa dikatakan menjadi pemenang. Atau mungkin jatah menang gue memang baru sampai level give away, bukan untuk lomba besar berhadiah jutaan.

Kemudian, soal traveling gratis ke luar negeri apalagi. Gue belum pernah melangkahkan kaki untuk keluar dari Pulau Jawa ini. Kayaknya diundang jalan-jalan gratis juga masih sebatas area Jabodetabek deh. Gue masih cemen untuk mencapai hal itu. Haha.

Terus apa dong pencapaian gue, ya? Sebenarnya kalau berbicara soal pencapaian gue saat ngeblog, itu mah banyak banget. Pertama kali mendapatkan job review, bagi gue itu termasuk pencapaian. Ada tulisan yang muncul di halaman pertama Google, itu juga sebuah pencapaian. Bisa punya grup kecil—bernama WIRDY—untuk berbagi tentang ngeblog atau kepenulisan (bahkan biasanya juga berbagi suka maupun duka), dan ternyata kami juga bisa membuat e-book, itu pun merupakan pencapaian. Terus gue juga pernah mendapatkan pacar dari blog... eh, apakah hal itu bisa disebut pencapaian? MUAHAHA YEKALI WOY!

Namun, itu semua bukanlah momen terbaik saat ngeblog. Momen terbaik gue ngeblog justru awalnya terjadi pada saat blog gue nggak ada tulisan baru lagi. Hmm, jadi waktu itu gue sempat vakum ngeblog sekitar 3 bulanan. Kala itu, gue banyak banget mengalami masalah dalam hidup. Gue entah kenapa bisa berpikir kalau penderitaan dalam hidup itu seolah-olah nggak ada habisnya. Yang bodohnya lagi, semangat hidup mulai meredup, hilang arah dan tujuan, dan pupus harapan.

Read More
Previous PostOlder Posts Home