Cerpen Kejahatan, Roberto Bolaño

Perempuan itu tidur dengan dua lelaki. Sebelumnya dia memiliki kekasih lain dan kini dia punya dua. Begitulah adanya. Mereka enggak mengenal satu sama lain. Yang satu mengatakan dia mencintainya. Yang satunya enggak bilang apa-apa. Dia tak terlalu peduli apa yang mereka katakan. Pernyataan cinta, pernyataan kebencian. Kata-kata. Dia tidur dengan dua pria; begitulah adanya.







Perempuan itu seorang jurnalis. Sekarang dia duduk di bar dekat kantor surat kabar dengan sebuah buku terbuka di depannya, tetapi dia tak bisa membaca. Dia mencoba, tapi tak bisa. Dia teralihkan oleh apa yang terjadi di luar, meski tak ada yang istimewa untuk dilihat. Dia menutup buku itu dan berdiri. Pria di belakang bar melihatnya datang dan tersenyum. Dia bertanya apakah dia berutang kepadanya. Pria itu menyebutkan jumlahnya. Dia membuka dompetnya dan memberikannya uang kertas. Bagaimana jadinya tuh? tanya pria itu. Dia menatap matanya dan berkata: Begitulah. Pria itu bertanya kepadanya apakah dia menginginkan sesuatu yang lebih buat di rumah. Dia menggelengkan kepalanya, Enggak, aku baik-baik aja, terima kasih. Dia berdiri di sana sebentar, menunggu sesuatu. Kemudian hampir tak terdengar ketika dia pergi dan berjalan keluar dari bar.

Perempuan itu kembali dengan tergesa-gesa ke kantor. Saat menunggu lift, dia melihat seorang lelaki muda, sekitar dua puluh lima, mengenakan setelan tua dan dasi yang desainnya membangkitkan minatnya: bagian depan biru langit yang identik kacau karena berlawanan dengan latar belakang hijau berair. Di samping pemuda itu, di lantai, ada sebuah koper berukuran cukup besar. Mereka saling menyapa. Pintu lift terbuka dan keduanya masuk. Setelah mengujinya, lelaki muda itu mengatakan bahwa dia menjual kaus kaki, dan jika si perempuan tertarik dia bisa menawarkan harga yang bagus. Si perempuan bilang bahwa dia tak tertarik dan kemudian dia merasa aneh menemukan penjual kaus kaki di dalam gedung, terutama pada saat sebagian besar kantor tutup. Penjual kaus kaki keluar lebih dulu, di lantai tiga, di sana ada studio arsitek dan kantor firma hukum.

Saat melangkah keluar dari lift, sang lelaki mengangkat tangan kirinya dan menyentuh dahinya dengan ujung jarinya. Hormat, pikirnya, dan tersenyum kepadanya. Saat pintu lift menutup, lelaki itu membalas senyumannya.

Ketika si perempuan kembali ke kantor surat kabar, satu-satunya orang di sana adalah seorang wanita, duduk di kursi di sebelah jendela, merokok. Jurnalis itu pergi ke mejanya, menyalakan komputernya, dan kemudian berjalan ke jendela. Pada titik ini, wanita yang merokok menyadari bahwa dia ada di sana dan menatapnya. Jurnalis itu duduk di ambang jendela dan melihat ke jalan, yang luar biasa membuatnya pusing. Keduanya terdiam selama beberapa detik. Wanita yang merokok bertanya kepada jurnalis apakah dia baik-baik saja. Baik, katanya, aku kembali untuk menyelesaikan artikel tentang Calama. Wanita perokok itu berbalik dan melihat ke luar jendela ke sungai mobil yang mengalir dari pusat kota, lalu setengah menutup matanya dan tertawa. Aku membaca sesuatu tentang itu, katanya. Sial, kata jurnalis itu. Agak lucu, kata wanita yang merokok. Aku tak mengerti, kata si jurnalis. Setelah berpikir sejenak, wanita perokok itu berkata, Sebenarnya, itu tidak lucu sama sekali, dan melihat ke luar jendela ke arah lalu lintas lagi. Lantas jurnalis itu bangkit dan berjalan ke mejanya. Dia memiliki cerita untuk disimpan dan dia akan terlambat. Dia mengambil walkman dari laci dan memakai headphone. Dia mulai bekerja. Tapi setelah beberapa saat dia melepas headphone dan menggeser kursinya. Ada yang aneh dengan semua ini, katanya. Wanita yang merokok menatapnya dan bertanya apa yang dia bicarakan. Tentang wanita di Calama, katanya. Pada saat itu keheningan di kantor surat kabar sangatlah mutlak. Atau begitulah tampaknya. Bahkan dengungan lift pun tidak.

Dia berumur dua puluh tujuh dan dia ditikam dua puluh tujuh kali. Terlalu banyak kebetulan. Mengapa? kata wanita perokok, hal seperti itu terjadi. Banyak luka tusuk, jawab si jurnalis, tapi tanpa banyak tuduhan. Aku pernah melihat hal-hal yang lebih aneh dari itu, kata wanita yang merokok. Setelah hening beberapa saat, dia menambahkan: Dan mungkin itu hanya salah ketik. Bisa jadi, pikir jurnalis itu. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? tanya si wanita perokok. Korban, jawab jurnalis itu. Bisa jadi salah satu dari kita. Wanita yang merokok menatapnya dengan alis terangkat. Bisa jadi aku, kata jurnalis itu. Enggak mungkin — Kau tak seperti dia, kata si wanita perokok. Aku tidur dengan dua lelaki seperti dia, kata si jurnalis. Wanita yang merokok tersenyum dan mengulangi: Tak mungkin. Semua orang menentangnya, dengan satu atau lain cara. Melawan siapa? Korban tentu saja. Wanita perokok itu mengangkat bahunya. Para reporter yang meliput cerita seperti ini tak lebih baik dari para pembunuh. Enggak semuanya, kata wanita yang merokok, ada beberapa yang sangat bagus. Kebanyakan dari mereka adalah pengunjung bar yang tak berguna, gumam si jurnalis. Enggak semuanya, kata si wanita perokok. Dua puluh tujuh tahun, dua puluh tujuh luka tusuk, aku tak yakin. Bagaimanapun, mereka mungkin membuat usia korban bercampur dengan jumlah luka tusuk. Dia memiliki anak berusia sembilan tahun, kata si jurnalis, memegang headphone di tangan kirinya dan membelainya. Wanita yang merokok mematikan rokok di asbak di samping jendela dan berdiri. Ayo pergi, katanya. Tidak, aku akan tinggal sebentar, kata si jurnalis, dan memasang kembali headphone.

Dia mendengarkan Delalande. Punggungnya sakit, tetapi sebaliknya dia merasa baik-baik saja dan dia ingin terus bekerja. Dari sudut matanya dia melihat wanita yang sedang merokok bersandar di atas mejanya dan memasukkan sesuatu ke dalam tas tangannya. Segera dia merasakan tangan rekannya dengan lembut menekan bahunya untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia terus bekerja. Setelah setengah jam dia bangun dan pergi ke arsip surat kabar (yang hampir tak pernah diperiksa lagi) dan saat itulah dia melihat si pria.

Dia berdiri di sana, tepat di luar pintu yang terbuka, tak berani melewati ambang pintu, menatapnya dengan setengah senyum di wajahnya. Dia menahan tangis dan menanyakan apa yang pria itu inginkan. Ini aku, katanya, penjual kaus kaki. Koper itu tergeletak di kakinya. Aku tahu, katanya, aku tak ingin membeli apa pun. Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar, katanya. Dia memeriksanya selama beberapa detik; dia kini tidak takut melainkan marah, dan dia merasa bahwa kehadiran penjaja muda adalah pertanda dari sesuatu yang penting, tetapi sesuatu itu tak dapat dia pahami. Yang dia tahu adalah bahwa itu penting (atau memiliki tingkat kepentingan tertentu) dan bahwa dia tidak lagi takut. Pernahkah kau berada di kantor surat kabar? dia bertanya. Sebenarnya aku belum pernah, ujarnya. Masuklah, katanya. Dia ragu-ragu atau pura-pura ragu lalu dia mengambil koper dan masuk. Apakah kau seorang jurnalis? Dia mengangguk. Dan apa yang kautulis? Dia mengatakan kepadanya bahwa dia sedang menulis artikel tentang pembunuhan. Penjual itu meletakkan kopernya lagi dan pandangannya beralih dari meja ke meja. Bisakah aku memberitahumu sesuatu? Si perempuan menatapnya dan pikirannya kosong. Di lift, kata si lelaki, menurutku kau menderita karena suatu alasan. Aku? dia berkata. Ya, aku pikir kau menderita, meskipun tentu saja aku tak tahu mengapa. Setiap orang menderita, ujar si perempuan, seolah-olah mereka berbicara secara umum. Tak satu pun dari mereka yang duduk. Dia berdiri dengan punggung menghadap pintu. Dia mundur dan berdiri di dekat jendela. Keduanya bergeming sekarang, tegak tegang, menunggu. Tetapi ketika mereka berbicara, suara mereka memiliki nada keakraban yang keliru.

Pembunuhan apa yang sedang kaukerjakan? si lelaki bertanya. Pembunuhan seorang wanita, kata si perempuan. Sang lelaki tersenyum. Dia memiliki senyum yang manis, pikir si perempuan, meskipun itu membuatnya terlihat lebih tua (dia mungkin tidak lebih dari dua puluh lima tahun). Selalu wanita yang terbunuh, kata si lelaki, dan memberi isyarat dengan tangan kanannya dengan cara yang tidak dapat perempuan itu tafsirkan. Seolah-olah si perempuan mendadak terbangun, dia menyadari bahwa dia sendirian di kantor dengan orang asing, pada saat gedung hampir kosong. Sedikit getaran menyapu tubuhnya. Si lelaki memperhatikan, dan mencari tempat untuk duduk, seolah meyakinkannya. Ketika duduk, si lelaki terlihat lebih tinggi. Ceritakan mengenai hal itu, kata si lelaki. Permintaan itu membuat si perempuan kesal. Tunggu sampai masalah terungkap. Tidak, beri tahu aku sekarang, mungkin aku bisa memberi saran, kata si lelaki. Kau ahli dalam bidang ini, bukan? si perempuan berkata. Si lelaki menatapnya tanpa menjawab. Si perempuan menyadari bahwa dia melakukan kesalahan dan mencoba memperbaikinya, tetapi sebelum dia dapat mengatakan apa-apa lagi, si lelaki mengatakan kepadanya bahwa dia bukan ahli pembunuhan. Dan mengapa aku harus memberi tahumu tentang itu? si perempuan berkata. Mungkin kau perlu berbicara dengan seseorang. Kau bisa saja benar, ujar si perempuan. Si lelaki tersenyum lagi. Itu adalah wanita yang cerai dengan suaminya, kata si perempuan. Apakah suaminya yang membunuhnya? Tidak. Suaminya tak ada hubungannya dengan kejahatan itu. Kenapa kau begitu yakin? Karena mereka menangkap pembunuhnya pada hari yang sama, kata si perempuan. Ah, aku paham, kata si lelaki. Dia berumur dua puluh tujuh tahun, dia putus dengan suaminya, kemudian dia punya pacar, dia tinggal bersamanya, seorang pria yang lebih muda, dua puluh empat tahun, kemudian dia berpisah dengan pacar yang ini dan mulai berkencan dengan lelaki lain. Pacar A dan pacar B, ujar si lelaki. Jika kau suka, kata si perempuan, dan tiba-tiba dia merasa kalem, lelah dan kalem, seolah-olah bagian dari perjuangan imajiner (yang aturannya tetap tidak jelas baginya) sudah berakhir dan selesai.

Aku menebak, kata si penjual kaus kaki, bahwa wanita ini aduhai. Ya, dia adalah wanita cantik, dan sangat muda juga. Yah, tidak terlalu muda, kata si lelaki. Jadi menurutmu seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun tidak muda? Ayolah, mari kita bersikap objektif: muda, tentu, tapi tidak terlalu muda, kata si lelaki. Berapakah umurmu? Dua puluh sembilan. Aku menebak dua puluh lima, ujar si perempuan. Tidak, dua puluh sembilan. Si lelaki tidak menanyakan usia si perempuan. Apakah dia bekerja atau dia dihidupi oleh pacarnya? Dia adalah seorang sekretaris. Wanita ini tidak pernah hidup dari siapa pun. Dan dia memiliki seorang putra berusia sembilan tahun. Dan siapa yang membunuhnya, pacar A atau pacar B? si lelaki bertanya. Siapa yang akan kaukatakan? Pacar A, tentu saja. Si perempuan mengangguk. Karena pacarnya cemburu. Ya, kata si perempuan. Tapi apakah menurutmu itu hanya karena dia cemburu? Tidak, kata si perempuan. Ah, jadi begini, kita memiliki teori yang sama, kau dan aku, kata si lelaki. Dia memilih untuk tak menjawab dan menjauh dari jendela. Aku harus menyalakan lampu, kata si lelaki. Tak usah, biarkan saja, kata si perempuan sambil menarik kursi dan duduk. Setelah beberapa saat, si lelaki berkata: Dan itu membuatmu sedih, cerita tentang pembunuhan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, aku kira begitu. Si perempuan menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa. Mungkin kau mengidentifikasi bersama korban? Apakah kau telah menikah? Belum, kata si perempuan, tapi aku sudah cukup memikirkannya. Apakah kau telah menikah? Aku juga belum, kata si lelaki, tapi aku pernah tinggal dengan beberapa wanita. Menurutmu, apakah pria bermasalah dengan wanita yang menyukai seks? si lelaki bertanya. Si perempuan membuang muka: di balik kaca jendela, malam menyelimuti bangunan. Apa yang perempuan itu rasakan adalah semacam klaustrofobia (fobia terhadap ruang sempit dan tertutup). Dia terbunuh karena dia menyukainya, kata jurnalis itu tanpa menatap si lelaki. Si perempuan mendengar si lelaki berkata, Ah, dan nada ah itu berada di antara ironi dan penderitaan. Si korban perempuan biasa bangun pagi, pukul enam seperempat setiap pagi. Dia bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Calama, dia adalah seorang sekretaris, dan cerita di surat kabar mengatakan bahwa kehidupan cintanya adalah sumber konflik yang berkelanjutan. Sumber yang berkelanjutan, ulang si lelaki, betapa puitisnya. Para pria terus jatuh cinta kepadanya, meskipun dia tidak cantik secara termasyhur, kata si perempuan. Kecantikan relatif, kata si lelaki: Ada jenis kecantikan untuk semua orang. Menurutmu? si perempuan bertanya, dan menatapnya lagi, dengan mantap. Ya, benar, kata penjual kaus kaki, semuanya: yang jelek, yang tidak terlalu jelek, berpenampilan biasa-biasa saja, dan cantik. Tetapi hanya karena yang tidak terlalu jelek tampak diinginkan oleh yang jelek, itu tidak membuat mereka cantik. Jadi kau mengerti maksudku, kata si lelaki. Ya, aku mengerti maksudmu, kata si perempuan ironis, tapi aku tidak setuju; kecantikan sama untuk semua orang, seperti keadilan. Keadilan sama untuk semua orang? Jangan membuatku tertawa, kata si lelaki. Setidaknya secara teori. Semuanya berbeda dalam teori, si lelaki mendesah, tapi janganlah berdebat; ceritakan lebih banyak tentang sekretarismu yang terbunuh. Apakah kau melihat tubuhnya? Tubuh? Tidak, aku tidak melihatnya. Aku tidak meliput ceritanya, aku hanya menulis artikel tentang kejahatan tersebut. Jadi kau tidak pergi ke kamar mayat di Calama? Kau tak melihat korban atau berbicara dengan pembunuhnya? Si perempuan menatap si lelaki dan tersenyum misterius. Pembunuhnya, ya, aku berbicara dengannya, kata si perempuan.

Baiklah, setidaknya itu adalah sesuatu, kata si lelaki. Dan? Tidak ada apa-apa, kata si perempuan, kami berbicara, dia mengatakan kepadaku bahwa dia menyesal atas apa yang telah dia lakukan, dia mengatakan bahwa dia tergila-gila pada korban. Nah, kata si lelaki. Mereka bertemu di bandara di Calama; dia adalah seorang penjaga keamanan, dan dia bekerja di sana untuk sementara waktu, sebagai resepsionis. Sebelum mendapatkan pekerjaan di tambang, kata si penjual kaus kaki. Di perusahaan pertambangan, katanya. Hal yang sama, kata si lelaki. Enggak juga. Dan bagaimana dia membunuhnya? si lelaki bertanya. Dengan pisau, kata si perempuan. Dia menikamnya dua puluh tujuh kali. Tidakkah menurutmu itu aneh? Si lelaki melihat ke ujung sepatunya selama beberapa detik. Kemudian si lelaki menatap si perempuan lagi dan berkata, Apa yang menurutku aneh? Fakta bahwa dia berumur dua puluh tujuh dan ditikam dua puluh tujuh kali? Kemudian amarah mencengkeram si perempuan dan dia berkata, Aku berada dalam situasi yang hampir sama, jadi kurasa suatu hari aku akan terbunuh juga. Si perempuan hampir saja mengatakan, Dan kau adalah bajingan menyedihkan yang akan membunuhku, tapi dia memeriksa dirinya sendiri tepat pada waktunya. Dia gemetar. Tapi si lelaki tidak tahu dari tempat dia duduk. Singkatnya: mantannya yang membunuhnya. Pada malam pembunuhan si perempuan tidur dengan pacarnya yang sekarang. Mantannya tahu apa yang sedang terjadi. Si perempuan memberitahu kepada si lelaki dan dia diberitahu oleh orang lain. Kecemburuan sedang melahap si lelaki. Si lelaki mendesak dan mengancam si perempuan. Tapi si perempuan tidak mengindahkannya; dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Si perempuan bertemu pria lain. Mereka tidur bersama. Itulah kunci kejahatannya: dengan menolak memberikan apa pun, si perempuan menandatangani surat kematiannya. Ya, kata penjual kaus kaki, sekarang aku mengerti. Enggak, kau sama sekali tak mengerti.


--

Cerpen Bolaño barusan saya terjemahkan pada Juli 2021. Saya baru ingat bahwa tulisan ini ada di draf blog. Berhubung saya yang sekarang sudah tak terlalu minat dengan dunia kepenulisan (malas membuat tulisan baru, tapi tetap masih ingin mengisi blog minimal sebulan sekali), jadilah draf lawas ini saya tampilkan dengan sedikit suntingan. Semoga hasilnya enggak buruk-buruk amat. Barangkali berkat draf ini saya juga mulai tertantang kembali untuk belajar menerjemahkan cerita.

0 Comments