Apa Puisi Ini Cuma Kamuflase?

Aku ingat pertama kali belajar mengenal puisi dari buku pelajaran SD. Terdapat beberapa nama penyair yang tak bisa kuingat lagi namanya ataupun tak kuketahui sosoknya selain Chairil Anwar (khas dengan pose wajah jutek sambil merokok).




Waktu mulai bergeser sehingga puisi mulai identik dengan hujan, kopi, dan senja. Salam hormat untuk mendiang eyang Sapardi, serta Pak Joko Pinurbo.

Barangkali puisi telah menjadi sesuatu yang akrab, tapi aku tak pernah merasa cukup dekat untuk bisa menuliskan tentangnya, dan kini malah terperangkap dalam kata-kata itu sendiri.

Puisi pernah memakan dirinya sendiri dan berharap bisa kenyang, tetapi kita semua tahu bahwa puisi tak akan pernah bisa berwujud nasi atau roti. Akhirnya puisi cuma menjadi tempat persembunyian bagi seluruh kesedihan dan kesepian.

Seandainya aku adalah puisi, aku bisa kau sebut sebagai bedebah yang sedang dalam masa pemulihan. Sesosok bajingan yang berusaha menjadi manusia lebih baik lagi, sekalipun aku tahu bahwa di luar sana mereka masih melihatnya cuma sebagai kamuflase.
 
Internet konon membuat puisi menjadi lebih berani. Tapi terkadang aku tak tahu lagi untuk membedakan mana keberanian dan mana tak tahu malu.

0 Comments