Pengantar Sebelum Mencicipi Es Krim

17 comments
Ada semacam ketakutan saat ingin mengeklik tautan cerpen saya yang dimuat di Loop. Doni Jaelani alias Dijeh mengirimkan pesan mengenai hal itu kepada saya. Selagi rasa ragu bercampur ngeri menyelimuti saya, mendadak muncul pikiran begini: dari sepuluh teks yang saya kirimkan untuk mereka seleksi, kenapa malah itu yang pertama kali terbit?


sumber:https://pixabay.com/photos/ice-cream-dessert-cold-sweet-50402/

Jauh sebelum saya mendapatkan cap mesum, lebih-lebih lantaran membuat cerpen Es Krim Spesial (yang kini sudah dihapus), saya mengawali tulisan bertema es krim itu dengan kisah renungan sekaligus motivasi yang bertajuk Es Krim Rasa Cinta. Niatnya, sih, cuma untuk menegur atau mengingatkan diri sendiri.

Saya menceritakan pengalaman itu sebelum era twit berutas dan please do your magic yang sering saya jumpai belakangan ini. Bedanya, saya melakukannya tanpa ada tujuan mendapatkan engagement yang berujung mengajak mutualan. Saya juga tidak terang-terangan menyuruh siapa pun untuk membeli dagangan nenek penjual es krim itu. Twitter cuma semacam tempat alternatif untuk menumpahkan ide cerita, sebagai pengganti catatan di ponsel maupun bloknot, sebelum nanti dikembangkan menjadi artikel di blog.

Namun, kisah es krim itu langsung saya salin dari Twitter tanpa perbaikan lagi di blog. Oh, betapa malasnya diri saya dulu. Sebagian yang pernah membacanya, mungkin sudah lupa bahwa cerita itu pernah ada. Hal negatif memang lebih mudah melekat di ingatan, sehingga kisah itu tersingkir dengan sendirinya oleh cerpen vulgar yang konon merusak generasi muda. Cerita tentang nenek penjual es krim itu sekarang hadir kembali dalam bentuk yang lain, dan termuat di media lain selain blog ini.


Pada November 2012, selepas lulus SMK dan baru bekerja sekitar tiga bulanan, saya sedang membaca salah satu buku RD. Efek dari membaca buku yang judulnya bertemakan binatang itu, entah bagaimana memunculkan sebuah keinginan atau boleh juga disebut impian: menjadi seorang penulis—yang suatu hari tulisannya bisa terbit menjadi buku. 

Sebagai seorang penggemar yang ingin mengikuti jejak idolanya, saya memulai langkah awal dengan bikin blog ini. Kala itu sebetulnya saya enggak tahu apa-apa tentang menulis (di pikiran saya dulu, menulis itu cukup dengan mencurahkan isi hati lewat teks), tapi diam-diam berharap bisa menempuh kesuksesan yang sama. Seenggaknya, saya ada kehendak buat belajar menulis.

Sibuk akan pekerjaan bikin saya tidak sempat mengisi blog. Keinginan belajar menulis itu pun menguap terpanggang realita. Hingga suatu sore sepulang ngantor, saya bertemu Julia—seorang kakak kelas di SMK yang pernah saya taksir dan kemudian malah menjadi teman dekat dan ujung-ujungnya menjauh juga—di pusat jajanan dekat rumah. Mulanya kami hanya bertukar kabar, sampai tiba-tiba dia menanyakan kenapa saya enggak pernah ngeblog lagi. Saya memberikan alasan yang sangat klise: pulang kerja capek, bawaannya pengin langsung rebahan, dan enggak sempat buka laptop lagi.

“Kan bisa nulis pas libur, Yog,” katanya. 

Saya meresponsnya dengan tawa. Tidak bermaksud menyetujui maupun membantah. Bakso bakar dan jus alpukat yang dia pesan sudah jadi. Dia pamit duluan, lalu kami berpisah. Saya memikirkan kembali perkataannya. Mengetahui blog saya ternyata memiliki pembaca, hasrat menulis itu pun muncul. Malam itu juga saya akhirnya memutuskan untuk bercerita lagi di blog. 

Jika seseorang malas atau bahkan enggak pernah membaca, ketika menggarap tulisan pasti hasilnya akan jelek dan mentok begitu melulu. Saya tidak tahu apakah pada 2012-2014 sudah punya pemikiran seperti itu. Yang jelas, saya ingin sekali belajar menulis secara sungguh-sungguh pada tahun berikutnya.

Husein, salah seorang kawan kuliah, menyarankan saya untuk ikut komunitas bloger. Saya pun bergabung dengan komunitas KK dan JB. Dari sanalah saya mengenal istilah blogwalking. Berkat jalan-jalan ke beberapa blog anggota komunitas, saya lalu mengenal tata bahasa. Saya juga mendapatkan referensi bacaan dari mereka. Saya lantas membeli buku panduan menulis dan, tentu saja, mencoba menerapkan kiat-kiatnya.


Tahun 2015 adalah pertama kalinya saya memberanikan diri bikin cerpen. Tahun itu pula terlahir Memfiksikan—sebuah lingkaran kecil untuk belajar menulis fiksi; cerpen, fiksi kilat, dan puisi. Animo bloger bikin buku masih lumayan tinggi pada saat itu. Saya termasuk salah satu yang berusaha mengumpulkan cerita-cerita itu.

Menyunting naskah ialah pekerjaan paling susah buat penulis. Banyak waktu yang terbuang untuk mengedit tulisan itu dibandingkan dengan proses menulisnya sendiri. Mengingat sifat manusia yang tidak ada puasnya, sekalipun sudah sepuluh kali revisi, boleh jadi mereka juga belum sreg untuk menganggapnya selesai dan layak terbit. Biarpun merasa telah memolesnya berulang kali, saya pikir penulis akan menilainya dengan sangat subjektif. Makanya penulis tetap membutuhkan orang lain sebagai editor.

Sementara itu, yang paling gampang tentu menelantarkan naskah. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Saya adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan sosok itu. Saya telah mengumpulkan cerita sejak akhir 2015, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang terhimpun menjadi buku.

Setelah menceburkan diri ke kolam tulis-menulis selama dua tahunan (2015-2017), saya pernah memikirkan ulang: apakah jalan yang saya lalui ini benar? Semakin membaca buku-buku bagus, alih-alih memantik semangat, keberanian untuk bikin buku kumpulan cerita itu justru rontok. Akhirnya, saya hanya memendamnya di diska laptop. Saya pun ingin berhenti menulis. Lebih baik jadi seorang pembaca saja.

Namun, bagaimana kalau menulis itu buat saya bagaikan bernapas? Jika tidak melakukannya, berarti saya akan mati? Baiklah, saya tetap menulis di blog, tapi enggak perlu bikin buku. Konyolnya, suatu hari impian itu datang kembali sehabis membaca kumcer seseorang, lalu tak lama kikis lagi dengan sendirinya. Proses ini terus berulang entah sampai kapan. Hingga lama-lama saya mempersempit keinginan itu. Tulisan saya, apa pun jenisnya, kelak dapat terpampang di media lain—selain blog ini ataupun platform sejenis.

Saya telah mengirimkan tulisan ke beberapa media. Hasilnya nihil. Pada akhirnya, sebagian teks yang ditolak itu saya taruh lagi ke blog ini. Mungkin belum waktunya. Mending belajar lagi. Saya pun memendam keinginan itu.


Pak Agus—salah seorang perwakilan dari Loop—bertanya kepada saya, apakah ada pertanyaan atau hal-hal yang masih kurang jelas saat kami sedang membicarakan perihal kerja sama proyek cerpen. 

“Habis ini berarti saya tinggal bikin cerpen setiap seminggu sekali, ya?” tanya saya. 

“Mas Yoga enggak perlu bikin cerita baru. Cukup setor cerpen yang pernah Mas Yoga buat aja. Pihak kami nanti yang menerbitkannya seminggu sekali.” 

Rupanya terdapat kesalahpahaman di sini. Mengingat pembicaraan sebelumnya hanya via WhatsApp, saya memaklumi ketololan diri sendiri.

Sekitar sebulan silam, tatkala saya sedang menyibukkan diri dengan bacaan gratis di iPusnas, datang sebuah penawaran untuk mewujudkan keinginan yang sempat saya coba kubur itu. Loop membutuhkan penulis cerpen untuk proyek terbaru mereka.

Saya mengirimkan dua tautan cerpen di blog sebagai contoh. Tidak ada komplain. Saya kemudian menyetorkan enam cerpen yang siap tayang sesuai yang mereka minta. Obrolan pun berlanjut hingga membawa saya ke pertemuan ini. 

“Intinya, kami mencari orang yang sudah menulis. Bukan baru mau menulis karena kami ajak,” ujar Pak Agus. 

“Jadi cukup cerpen yang kemarin?” 

“Iya. Memangnya Mas Yoga punya cerpen lain?”


Kesimpulan dari rapat itu, Loop mencari penulis cerpen yang usianya kisaran remaja sampai dewasa muda. Begitu pun dengan target pembacanya. Entah ini keberuntungan atau bukan, umur saya pas banget di batas maksimal persyaratannya. Apalagi domisili saya juga di Jakarta, yang mana satu wilayah dengan kantornya.

Loop berniat agar proyek ini bisa membuat para pembacanya terinspirasi dan ikutan menulis. Singkatnya, dapat melahirkan penulis-penulis baru. Jujur aja, saya sangat minder ketika terpilih dalam proyek ini. Selama ini cerpen-cerpen bikinan saya lebih ke bermain-main dan tidak mengikuti tradisi sebagaimana cerpen yang termuat di koran. Tapi, bukankah ini yang tadinya saya mau? Bisa terbit di media lain? Saya pun mengambil kesempatan itu, apa pun risikonya. Saya bahkan menyanggupi menambah empat cerpen lagi supaya Loop memiliki pilihan dan bisa menyaring mana yang layak.

Sesampainya di rumah, saya baru sadar kalau cerpen di blog itu banyak yang menabrak batas wajar. Kayaknya enggak cocok buat target pembaca. Syukurlah saya masih punya cadangan di laptop. Saya membuka folder Cerpen yang berisi belasan naskah. Saya girang seakan-akan menemukan harta karun. Gila, apa aja yang pernah saya tulis di situ, ya? Saya mengeceknya satu per satu. Saat dibuka, hasilnya malah lebih kacau dari yang ada di blog. Mampuslah.

Mengubek-ubek arsip untuk mencari cerita yang mendingan dan berusaha memolesnya, terkadang lebih melelahkan daripada bikin cerpen baru. Saya menengok lagi setiap fail yang ada di folder lain. Banyak yang belum selesai. Dengan pelbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih sepuluh cerpen dalam rentang 2015-2017.

Saya membayangkan cerpen-cerpen itu dibaca oleh para remaja sampai dewasa muda yang mungkin masih ragu-ragu memamerkan karyanya. Percis kala saya menggarap cerpen-cerpen tersebut. Kira-kira ketika mereka membaca tulisan itu, terbit pemikiran begini: “Oh, kayak gitu termasuk cerpen, ya? Ah, gue mah juga bisa bikin. Malah lebih bagus.”


Saya kerap membaca banyak cerpen yang rilisnya belasan hingga puluhan tahun lalu, tapi anehnya kekerenannya tidak luntur. Saat saya membaca ulang cerpen sendiri, mata langsung mendadak gatal. Seandainya tulisan itu bisa ngomong, ia pasti bakalan menjerit-jerit, “Tolong revisi aku dong, Sayang! Tolong!” Meskipun itu menandakan ada progres dalam perjalanan saya, kecemasan akan kisahnya yang barangkali cuma terasa bagus pada zaman saya menuliskannya, sangatlah mengganggu. 

Itulah alasan saya takut buat membaca ulang cerpen dalam proyek ini, khususnya cerpen es krim yang tertulis pada Juni 2015. Hampir empat tahun telah berlalu. Jelas banyak yang berubah dalam cara pandang saya menilai suatu tulisan. Saya deg-degan bukan main.

Mau tak mau, saya pun memberanikan diri melihat cerpen itu lagi. Opini saya ketika membaca ulang: Awalnya berbentuk autobiografi atau jurnal atau memoar, atau apa pun itu sebutannya, lalu berubah menjadi versi cerpen dengan sudut pandang orang ketiga. Saya bingung kenapa nekat membuat keputusan seperti itu, padahal jalan ceritanya sangat singkat. Walaupun mau tetap memakai gagasannya, kayaknya lebih cocok orang pertama yang bertutur. Aduh, mana kritiknya kasar amat. Deskripsinya juga masih kurang. Penilaian ini akan terus berlanjut dan tidak akan ada habisnya. 

Meminjam kalimat Stephen King, “Penulis biasanya menjadi juri terburuk untuk menilai hasil tulisan mereka.” Jadi, seharusnya saya cukup menyerahkan penilaian itu kepada pembaca. Membiarkan diri saya babak belur dihantam berbagai komentar dan kritik. Yang penting sesudahnya luka saya sembuh, mampu memperbaiki diri, dan giat berlatih agar cerpen-cerpen saya berikutnya bisa gantian menjotos hati mereka.
Previous PostOlder Post Home

17 comments

  1. Keren! Sukses terus, Yog! Ditunggu cerpen-cerpen lainnya! Itu tayang setiap hari Senin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segala ditunggu. Wqwq. Itu enggak ada cerpen baru, Gip. Cuma tulisan lama di blog yang dipermak sedikit dari versi sebelumnya. Gue kurang tahu juga, sih, soal jadwalnya. Nanti gue coba bagiin lewat Twitter tiap kali rilis.

      Delete
    2. Yah, anggap aja nonton konser musik dengan aransemen. Pasti ada sesuatu yang berbeda, meskipun cuma sedikit.

      Berarti jangan obrak-abrik arsip blog, biar bisa baca langsung versi di Loop 😂😂😂

      Delete
  2. Benar juga memang "penulis adalah juri terburuk unt tulisanya" mungkin. Wkwkwkw

    ReplyDelete
  3. Bagus bagus. Coba kasih tips dong buat temen-temen yang lain, barangkali ada yang ingin mengikuti jejaknya untuk mencoba menulis di media lain juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum bisa kasih kiat-kiat gitu. Saya aja ditolak biasanya. Haha. Kalo Loop ini karena penawaran, kan. Ada temen yang rekomendasiin tulisan saya. Ternyata cocok.

      Sebelumnya mah saya coba-coba gitu. Nulis cerpen, puisi, esai, terus kirim ke beberapa media. Nah, tinggal cari aja web-web yang menampung tulisan kontributor. Usahain yang cocok juga sama gaya tulisannya. Karena bisa jadi ditolak bukan karena jelek, mungkin aja belum sesuai. Bisa juga temanya udah ditulis duluan sama orang lain. Banyak faktornya. Udah gitu saya ngirimnya selalu ke media yang dapat upah. Tentu seleksinya ini lebih ketat.

      Terakhir, jejak tiap orang saya yakin beda-beda, Han. Ada yang sekali kirim langsung dimuat. Ada yang harus gagal dulu. Perlu menyusuri banyak jalan, sih. Sampai bisa menemukannya sendiri. Selamat mencoba! :D

      Delete
  4. Selamat kak Yoga! Akhirnya bisa tembus ke media lain juga tulisannya. x)
    Memang ujian sekali kalau sudah kirim naskah tapi nggak pernah ada kabar. Huhu.
    Terima kasih kak sebelumnya, postingan ini sungguh memantikkan semangat baru ke saya pribadi. Saya juga sepakat banget sama beberapa kalimat di postingan ini.
    Pokoknya terima kasiiiih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, begitulah prosesnya. Hahaha. Makasih ya, Nur. Semoga enggak kapok buat ngirim tulisan dan bisa segera menyusul.

      Delete
  5. Mantap bang! Semoga makin bisa berkembang, syukur-syukur bisa menginspirasi banyak orang.

    Tapi, tapi...

    Saya kayanya lebih suka tulisan yang menembus batas wajar, hiya hiya hiya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sebagai pembaca juga suka, tapi itu tergantung sama mediumnya lagi. Masalahnya, ketika kerja sama dengan orang lain kita bakalan butuh kompromi. Gimana caranya biar simbiosis mutualisme. Tiap media kan ada batasnya masing-masing yang perlu diperhatikan. SARA dan pornografi, misalnya. Enggak bisa memaksakan hal-hal semacam itu masuk.

      Delete
  6. Ternyata cerita awal-awal ngeblognya hampir sama kayak saya. Enggak punya basic nulis dan belajar buat tulisan bagus lewat BW. Tapi kok sekarang semangat BW ku makin menurun, ya. Ya Allah... Awal-awal aktif ngeblog itu rajin banget dulu. Habis sholat subuh BW, nanti misal pas di tempat kerja gabut, BW, malem habis makan BW lagi. Lah sekarang, paling seminggu cuma berapa kali BW doang.

    Kalau kamu 'tumbuh' di era bloger yang banyak nerbitin buku, saya sepertinya tumbuh di jaman bloger yg berburu job dan lomba. Hahaha.

    Barakallah, Yog! Akhirnya ada jalan lain buat mempublikasikan tulisanmu di media yang berbeda. Semoga bisa jadi pintu pembuka buat proyek menulis lainnya.

    Kapan hari itu saya baca cerpennya. *Cerpen apa tweetmu ya, yang ada foto mbah-mbah penjual es krim?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wqwq. Saya dulu juga seharian, bahkan ngasih waktu khusus. Sekarang karena ada kegiatan yang diprioritaskan, jalan-jalan ke blog orang jadi sesempetnya dan pas lagi mau aja.

      Makasih! Semoga pintu-pintu rezekimu di dunia blog kebuka juga, Mas Wis. Aamiin.

      Itu twit berutas yang salah satunya ada tautan ke cerpen di Loop.

      Delete
  7. yang penting jangan berhenti berkarya mas,,,, tetep semangat

    ReplyDelete
  8. aku baca dulu td cerpen eskrim rasa cinta nya :D.itu baguuus lagi yog. pesannya dapet dan kena;) . aku baru tau ttg media Loop ini.

    tp memang bener ya, kalo kita sendiri yg menilai tulisan kita, hasilnya susah utk bisa fair. sering kita anggab ga layak, tp kalo kepedean, dianggab terlalu bgs dan karya org lainnya jelek :D. dulh akh semt heran loh, kenapa penulis buku itu msh butuh editor. kan mrk udh pinter nulis. tp ternyata jd ngerti alasan di baliknya :D

    ReplyDelete
  9. Kejar impian mu nak ! Semangat !

    ReplyDelete
  10. Biar tulisan kita bisa diterina oleh editor harus terus promosi ya mas jadi jangan menyerah kalau sekarang blum diterima tinggal tunggu waktu aja. Trimakasih udh sharing mas

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.