Menyuruh Robot Bikin Puisi

Saya pernah menyimak cuitan seorang penyair (yang tak perlu saya sebutkan namanya) sedang mengejek sesama penyair lewat puisi ciptaan mereka sendiri yang telah dimodifikasi oleh bot. Penyair itu seakan-akan berusaha menunjukkan kalau robot bisa bikin puisi yang lebih bagus ketimbang manusia. Pada lain waktu, saya juga sempat melihat seseorang bereksperimen hal yang sama, yakni menyuruh robot bikin puisi. Bedanya, orang yang terakhir ini murni penasaran dan tak ingin menyenggol siapa-siapa. Saya membayangkan dia cuma ingin bertanya: Apakah sesosok robot betul-betul bisa menulis puisi yang sanggup menyentuh perasaannya atau membuatnya takjub? Sialnya, saya justru lupa nama orang itu ataupun menyimpan tautan yang dibagikan olehnya.

 


Kemarin malam, Arif si pemilik blog Kearipan kebetulan memberi tahu saya fakta tentang sebuah artikel hasil eksperimen bot lantaran beberapa jam sebelumnya saya iseng mengoreksi kesalahan di artikel blognya. Percakapan lalu bergeser menjadi informasi terkait situs bot pembuat puisi yang saya tanyakan beserta tulisan naratif ala Hemingway. Berhubung saya sudah tahu yang nomor dua dan kurang selera dengan gaya minimalisnya dalam menulis, fokus saya tentu tersedot pada generator puisi sekalipun saya tak tahu apakah situs ini yang benar-benar saya cari sebelumnya.

Lima menit berselang, tanpa perlu berpikir lebih lanjut, saya segera menguji kehebatan bot itu. Nah, inilah contoh puisi yang ia hasilkan:

Puisi cinta
 
 


Saya sungguh kurang sreg dengan hasilnya, sebab ada beberapa kata ataupun frasa yang saya anggap kurang cocok di puisi itu, sehingga saya bermaksud memodifikasinya sesuka hati ke dalam bahasa Indonesia.

Untuk Buku Manisku
 
mawar itu merah,
violet itu biru,
permen itu manis,
dan begitu juga dirimu.

anggrek berwarna putih,
sedangkan anggrek hantu
itu jenis langka.
garis pembatasku lurus,
dan begitu pun rambutmu.

magnolia tumbuh,
dengan kuncup bagai telur,
bayi-bayi tampak imut
dan begitu pula kakimu.

bunga matahari menjangkau
sampai ke langit,
celana jins berwarna biru,
dan begitu pula matamu.

tumbuhan digitalis
di pagar tanaman,
mengelilingi peternakan.
sore itu hangat,
dan begitu juga lenganmu.

bunga aster itu cantik,
sementara bunga bakung
memiliki gaya.
duniamu magis
begitu juga senyumanmu.

sebuah buku itu indah,
sebagaimana engkau.

*
 
Walaupun saya sadar kalau apa yang saya edit barusan belum tentu lebih menarik, seenggaknya saya merasa cukup puas dengan hasilnya. Saya kemudian mempelajari situs bot itu. Dalam setiap jenis puisi yang mau dibikin, kita bakal diminta oleh sistem untuk memasukkan beberapa kata benda, kata sifat, ataupun kata lain yang menjadi temanya, bahkan disuruh memilih suasana (sedih atau bahagia?) di puisinya. Namun, apa pun kata yang akan saya masukkan di kolom tersebut, entah mengapa hasilnya sangat seragam (yah, namanya juga bot). Ini jelas menunjukkan kalau puisi betul-betul membutuhkan rasa saat menuliskannya maupun menyuntingnya, bukan hanya sekadar mementingkan teknik yang sudah dijadikan pola oleh sistem. Saya akhirnya teringat dengan nasihat Faulkner supaya penulis enggak perlu tertarik sampai sebegitunya dengan suatu teknik, sebab tak ada cara praktis dan mekanis buat menyelesaikan tulisan. Penulis muda yang mengikuti suatu teori itu goblok. Alangkah baiknya belajar dari kesalahan sendiri, sebagaimana yang kita tahu kalau orang-orang bakal belajar dari kesalahan.

Saya tahu adakalanya puisi bikinan robot itu terasa bagus di mata saya. Tapi berapa persen, sih, probabilitasnya? Lalu, seperti yang telah saya lakukan sebelumnya, saya akan selalu mengubah beberapa kata ataupun diksi demi menyesuaikan konteks. Terlebih lagi sewaktu saya sadar jika perbedaan kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia teramat jauh. Larik yang semula tampak indah dan berima dalam bahasa Inggris, begitu diterjemahkan ke bahasa Indonesia hasilnya pasti berubah kacau. Meski demikian, setidaknya saya jadi bisa bersenang-senang dan berkolaborasi dengan robot, hingga menghasilkan berbagai puisi berikut:
 
Puisi kilat
 
siapakah sosok kuning itu?
kupikir aku mengenalnya.
ia cukup nelangsa.
ini benar-benar kisah celaka.

aku melihatnya mengerutkan kening.
ia bagai menangis dalam hening.
setetes demi setetes
jatuhlah cairan bening.

dan ia mulai terisak-isak.
satu-satunya suara lain berteriak
bagai menghancurkan gelombang
dan membangunkan burung-burung.

kuning adalah senyuman,
magis, serta mendalam.

tapi ia punya janji untuk ditepati,
dan hingga saat itu tiba,
ia tak akan pernah tidur.

ia berbaring di tempat tidur
dengan pembuluh tangis.
ia bangkit dari kasurnya yang bengis,
dengan pikiran nestapa di kepala,
ia mengagumi kematian.

menghadapi hari dengan ketakutan
yang tak kunjung usai.


Soneta





Ode untuk Kegagalan


kegagalanku yang konyol,
kau menginspirasiku untuk menulis.
betapa aku benci caramu memeluk,
menjerit, dan membaca,
menyerang pikiranku
sepanjang siang dan malam,
serta selalu bermimpi
tentang gudang kosong.

biarkan aku membandingkanmu
dengan bufet ringan.
kau lebih sibuk dan nokturnal.

angin Mei sepoi-sepoi
memukul penari rahasia
dan musim semi
memiliki kolonel bercahaya tua.

bagaimanakah aku membencimu?
biarkan aku menghitung caranya.
aku benci buku, mata, dan kacamata
milikmu yang terbakar.
memikirkan gejolak matamu,
memenuhi hari-hariku.
kebencianku untukmu
adalah desisan orang dungu.

kini aku harus pergi
dengan hati yang cerah,
sambil mengingat kata-kata
yang tepat saat kita berpisah.


Haiku

 
Bagi yang belum paham apa itu haiku, ia adalah jenis puisi dengan silabel 5-7-5 seperti di bawah ini.
 

Api

olahraga salju
api elegan bernyanyilah
di sebelah gunung
 
 
Hujan

menatap langit
hujan teriak murka
ditipu panas

 
Burung

malam menggigil
membunuh burung terbang
meskipun pilu


Puisi naratif


suatu hari di sebuah toko buku,
aku berjumpa dengan seorang pria
yang menjual puisi,
demi uang yang ingin dia tukar,
tapi aku benar-benar ingin
beberapa botol wiski.

“punya wiski?” tanyaku.
“demi mabuk aku akan
menghabiskan uangku.”
“tak ada wiski di sini!” kata pria itu.
dia sepertinya menganggapku
orang yang cukup lucu.

“kami punya beberapa novel yang indah,
aku akan memberimu harga rendah.”

“aku lebih suka makan gulali.”
pria itu berkedip cepat tiga kali.

pria itu terlihat sangat menyedihkan,
dan sikap anehnya menggelikan.
dia bukanlah apa yang aku sebut sinting,
penghinaan besarnya terasa genting.

seperti orang lain, dia berpikir aku aneh.
ada yang bilang aku agak tampan
tetap saja dia memberiku anggukan sopan,
seolah-olah dia berpikir aku sangat mapan.

jadi, untuk mencari tujuanku semula,
aku memutuskan pergi, tapi sebelum
aku minggat dari toko buku,
pria itu datang berlari
dengan sepenuh hati,
“aku bisa menolongmu,
percayalah kepadaku.”

“puisi, wiski, dan kau akan menemukan
novel, gulali, atau kau bisa mendapatkan
apa pun yang kau mau. sekarang kau
hanya harus membuka pikiranmu,
dan beloklah ke Pasar Magis.

maka, berangkatlah aku
ke Pasar Magis
dalam mencari wiski
yang kudambakan.

angin yang bertiup
di sini menakutkan.
tapi aku merasa hari ini
bisa diselamatkan.

ada kios yang menjual kucing
dan sepatu dalam banyak warna.
bahkan ada kios yang menjual gosip.
orang-orang tersebar dari berbagai niaga.
 
aku disambut oleh seorang wanita gaib,
dia sepertinya berasal dari negeri ajaib.
dan mau tak mau aku berpikir
dia mungkin cukup keren.
aku lantas bertanya-tanya
apakah dia benar-benar kece?

sebelum aku bisa membuka mulutku,
dia menjerit, “untukmu, aku punya
beberapa botol wiski!”
aku menuju ke arahnya, ke selatan,
melewati berbagai novel dan puisi.

0 Comments