Saya sedang tengkurap di kasur sambil menonton konser Asian Kung-Fu Generation di Youtube ketika terdengar teriakan “banjir” berulang-ulang kali dari luar rumah. Saya lekas mengintip dari jendela kamar dan mendapati air di selokan sudah luber. Pada Senin (21/09) malam, kira-kira sehabis Isya, saya benar-benar merasa tak siap untuk menghadapi banjir karena di rumah hanya ada saya dan Adik—yang apesnya sudah terlelap lantaran kemarinnya tidak tidur seharian hingga siang tadi. Ayah saya masih bekerja, sedangkan Ibu ada urusan di rumah temannya.
 
 

 
Sewaktu air cokelat itu perlahan-lahan mulai masuk ke rumah dan saya juga sudah kewalahan memindahkan barang-barang di ruangan depan ke tempat yang lebih tinggi, saya akhirnya membangunkan adik saya. Masa bodohlah dengan dia habis begadang. Saya sangat membutuhkan bantuan.
 
“Emangnya Ibu ke mana sih, Mas?” ujarnya memprotes.
 
Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, pintu depan terbuka dan sosok beliau muncul. Saya menyuruhnya coba tanyakan sendiri. Adik saya merongseng, kenapa hujan-hujan malah kelayapan? Saya ikut menambahkan, sudah tahu lagi pandemi dan masa PSBB jangan keluyuran seenaknya.
 
“Ya Allah, tadi kan perginya belum hujan,” katanya sembari mengangkat karpet dan menaruhnya di atas lemari. “Lagian Ibu cuma habis dari rumahnya Bu Tuti.”
 
Biarpun saya tahu Bu Tuti masih satu RT dengan kami, tetap aja saya berkata mending tak usah keluar rumah kalau bukan perkara penting. Beliau pun menjelaskan kepada kami bahwa niatnya ke sana hanya untuk keperluan mengantar dokumen penting, lalu sekalian mengobrol sebentar. Saat kepengin pulang rupanya hujan mulai turun, sehingga Bu Tuti menyarankan buat menunda kepulangannya. Lebih baik melanjutkan perbincangan.
 
“Tadi Ibu kira hujan biasa doang. Enggak banjir. Makanya Ibu pikir sekalian pulangnya nanti aja biar reda dulu. Syukur tadi ada yang teriak ‘banjir-banjir’, terus Ibu langsung buru-buru pulang deh.”
 
Kenapa kami masih sempat-sempatnya ribut saat sedang menggotong perabotan, ya? Entahlah. Lantas, bukankah berkat ada teriakan bocah itu akhirnya saya juga bisa menyadari kondisi air yang meluap? Jika saya masih asyik menonton konser di Youtube, pastilah barang-barang di depan bakal terendam semua. Baiklah, terima kasih wahai gerombolan anak kecil yang memberikan informasi tentang banjir. Lebih baik saya sudahi kemarahan bodoh yang membuang-buang energi ini.
 
Selepas urusan memindahkan barang-barang selesai dan banjir pun telah masuk ke kamar saya, seorang kawan mengirimkan sebuah tautan di salah satu grup WhatsApp tentang banjir kiriman dari Bendung Katulampa, Bogor. Pantas aja hujannya baru sebentar kok bisa banjir secepat ini. 
 
Sehabis menerbitkan Sebuah Kisah Banjir, Keluhan, dan Abreaksi yang Harus Muncul pada Februari silam, saya sudah kehilangan minat buat mengeluhkan air bah lagi. Jelas tak akan menarik kalau isi tulisannya lebih banyak menggerutu. Namun, lantaran banjir ini saya jadi teringat akan tulisan yang sempat saya tulis pada Maret lalu. Efek rumah kebanjiran pada hari itu ternyata membuat saya mengisahkan benda-benda yang bernilai sentimental.
 
PlayStation 2 dan Memory Card 8 MB 
 
 

 
Saya pikir benda keramat ini sudah dijual oleh adik saya karena tak pernah melihatnya lagi dalam waktu 7 tahun. Jika bukan karena banjir kemarin dan terpaksa membongkar kardus di bagian lemari paling bawah, sepertinya keberadaan PlayStation 2 beserta MC-nya bakalan tetap menjadi misteri.
 
Sejak saya mulai kuliah dan memiliki laptop pada 2013, saya sudah malas main PS lagi. Apakah karena kehadiran perangkat baru itu bikin saya lupa sama benda lawas, atau permainan-permainan di laptop tampak lebih mengasyikkan ketimbang PS? Saya kurang tahu jawaban tepatnya. Yang jelas, begitu melihatnya lagi sekarang, saya mendadak kangen memainkan gim Harvest Moon: A Wonderful Life Special Edition, Bully, Sengoku Basara 2, Mortal Kombat: Shaolin Monks, SmackDown Here Comes the Pain, One Piece: Grand Adventure, The Warriors, Tekken 5, dan Tony Hawk’s Underground 2
 
Sayangnya, kedua stik beserta kabel-kabelnya sudah lenyap entah ke mana. Adik saya bilang sih sudah putus digigit tikus, kemudian dia buang. “Lagian optiknya juga rusak, Mas,” katanya lagi. Saya kira cukup dengan membeli stik dan kabel-kabelnya saja sudah bisa main lagi. Tapi setelah mengetahui fakta akan kondisinya yang tidak bisa lagi membaca kaset, saya mau tak mau juga perlu memasang flash disk ataupun hard disk demi bisa memainkannya. Rencana buat bernostalgia itu pun musnah dalam sekejap.
 
Meski demikian, paling tidak saya sudah cukup gembira bisa menyentuh benda ini lagi. Kenangan-kenangan saat asyik bermain gim bersama adik dan teman sekolah pun muncul begitu saja di benak saya. Bahkan ingatan sewaktu memutuskan membeli PlayStation 2 ini juga ikut-ikutan mengambil tempat. Sewaktu Lebaran 2010, saya iseng mengusulkan kepada Adik untuk patungan beli PS dari sebagian uang amplop hasil keliling. Uang tabungan saya dan duit amplop dia kalau ditotal bisa menyentuh 800 ribu, lalu nanti sisanya tinggal minta tambahan sama orang tua.
 
Ibu saya tumben sekali pada hari itu berbaik hati dalam perkara beginian, padahal biasanya suka memarahi kami jika uangnya habis buat main PS di rental. Beliau bilang, “Daripada kalian duitnya habis buat main PS di rental atau main warnet, ya mending punya sendiri dan main di rumah.”
 
Mantap.
 
Mengingat zaman SMK dulu saya pernah dimusuhi oleh tetangga sendiri dan jumlah kawannya cuma sedikit, saya jadi ingin berterima kasih sama perangkat yang pada masanya telah menyelamatkan saya dari rasa kesepian. Walaupun tak punya sahabat baik pada masa itu, saya mungkin telah menganggap PlayStation 2 menjadi sohib yang menemani saya dalam suka dan duka. Misalnya, kalau saya lagi jengkel sekali dengan orang-orang yang suka merisak saya, saya tinggal memainkan gim Bully atau GTA atau The Warriors, lalu melampiaskan kemarahan dengan menjotos ataupun menembak orang-orang di permainan tersebut. Tampak tolol dan pengecut sekali, bukan? Syukurlah saya tak kelewat goblok buat menerapkannya di dunia nyata.
 
 
Kulkas 
 
Berbeda dengan benda sebelumnya yang jelas-jelas memiliki makna, kulkas semestinya tidak memiliki nilai spesial. Namun, saya ingin mencoba mengisahkan barang yang awalnya tampak remeh ini bisa berubah menjadi cukup berarti bagi diri saya.
 
 

 
“Kok tumben airnya kurang dingin, Mbak? Minumannya baru pada masuk, ya?” ujar salah seorang pembeli kepada ibu saya.
 
Saya mendengar komentar tersebut dari kamar dengan perasaan janggal. Sebagai orang yang bertugas memasukkan aneka minuman ke dalam kulkas pada siang harinya, sementara sekarang sudah menjelang waktu Isya, saya menduga ada yang tak beres dengan kulkasnya jika pembeli sampai komplain demikian. Berhubung kulkas itu telah terendam dua kali saat banjir tahun baru dan 18 Januari, barangkali kurang dinginnya minuman yang ada di kulkas merupakan tanda-tanda mau rusak.
 
Saya mengingat ucapan tukang servis kulkas pada tempo hari yang sempat bilang bahwa kulkasnya tak perlu diperbaiki. Yang penting jangan dinyalakan dulu selama sepuluh hari, tunggu sampai benar-benar kering. Apakah dia betul-betul berbaik hati ketika memberikan saran agar kami tak perlu buru-buru mengeluarkan uang, atau sesungguhnya lagi malas menyervis pada musim hujan yang rawan banjir ini? Tapi, bukankah tukang servis seharusnya gembira jika banyak orang yang meminta jasanya? Siapa sih orang yang enggak suka duit?
 
Apa pun alasan tukang servis mengatakan hal itu, kini ibu saya sudah tak berminat menyervisnya dan justru ada pikiran untuk menjualnya saja lantaran Ayah kerap mengeluh soal iuran listrik per bulan yang melonjak naik sejak kami berjualan minuman dingin.
 
Ide menjual minuman dingin ini sebetulnya datang secara dadakan. Sebulan sebelum bulan Ramadan 2019, ada salah seorang tetangga yang terlilit utang sampai-sampai terpaksa menjual perabotan-perabotan di rumahnya, lalu menawarkan boks pendingin (freezer) kepada ibu saya. Dia memberikan harga yang terbilang murah untuk barang seken. Tak tega melihat paras tetangganya yang muram dan memohon-mohon, ibu saya pun lekas membelinya dan menaruhnya di pojokan rumah.
 
Saya dan Ayah baru sempat bertanya mengenai barangnya dan belum memprotes tindakannya itu, tapi ibu saya langsung melempar gagasannya, “Nanti bulan puasa kita mulai jualan es batu.”
 
“Cuma sebulan doang jualannya, Bu?” tanya saya.
 
“Ya, sampai seterusnya kalau bisa. Nah, kamu nanti sama Sadam (adik saya) yang ngisi air ke plastik. Keuntungannya nanti dibagi juga ke kalian deh.”
 
Meskipun status saya saat ini masih pekerja lepas yang lebih banyak waktu santainya serta membutuhkan pemasukan tambahan, saya tetap tak tertarik dengan tawaran itu. Berapa sih keuntungan menjual es batu? Lebih-lebih ayah saya pun berkata, “Duit dari keuntungannya aja nih saya jamin enggak akan bisa buat bayar listrik.”
 
“Belum apa-apa kok udah ngomong begitu.”
 
Tahu kalau sebentar lagi akan terjadi perdebatan sengit, saya langsung pindah ke kamar.
 
Alih-alih menjual es batu, kami jadinya malah menjual minuman dingin, sebab ibu saya lagi-lagi menolong tetangga lain yang datang ke rumah seminggu setelah membeli boks pendingin. Tetangga itu mulanya cuma iseng berkomentar tentang benda baru ketika sedang mampir ke rumah kami, lalu begitu mendengar cerita ibu saya tentang membantu tetangga dan ide menjual es batu, si tetangga ini dengan mantapnya ikutan menawarkan kulkas bekas yang sudah tak terpakai dengan iming-iming harga murah dan bayarnya pun boleh dicicil.
 
“Lumayan banget sih keuntungan dari jualan minuman pas saya masih buka warung, Mbak,” ujarnya.
 
Ibu saya tergiur begitu saja bagaikan anak kecil yang membeli ciki karena di dalamnya ada hadiah tazos. Sepertinya ibu saya mudah sekali kasihan sama orang yang jago memasang tampang melas. Saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan beliau ini merupakan tipe-tipe manusia yang gampang dikibuli. 
 
Pada suatu malam sepulangnya dari bekerja, ayah saya mendadak kesal melihat kehadiran kulkas baru yang konon mau dipakai jualan minuman ini. Perdebatan pun kembali terjadi. Saya lagi-lagi kabur ke kamar dan menyetel musik dengan volume kencang menggunakan penyuara kuping agar tak mendengar keributan itu.
 
Pendek cerita, seminggu sebelum bulan puasa kami mulai mengisi kulkas dengan air putih botolan, teh gelas maupun botol, minuman rasa jeruk, minuman bersoda, dan susu. Ibu telah membuat kesepakatan dengan Ayah bahwa akan ikut membayar 100-200 ribu buat tambahan iuran listrik bulanan sekiranya betulan melonjak naik.
 
Air putih botolan dingin adalah minuman yang paling banyak diminati dan cepat ludes, sehingga saya mesti ke agen saban 2-3 hari sekali. Saya sudah tak memikirkan keuntungannya yang bakal dibagi dengan diri saya. Bisa ikut meminum minuman yang tersedia ketika lagi kepengin pun sudah lebih dari cukup. Saya diam-diam juga berharap agar uang penjualannya memang bisa untuk bayar listrik yang sudah pasti naik, kalau perlu sekalian memperoleh keuntungan besar.
 
Terus, bagaimana dengan nasib boks pendinginnya? Ujung-ujungnya barang keparat tersebut dijual lagi ke tetangga lain yang lebih niat berdagang es batu serta es krim. Nah, yang saya tak habis pikir, mengapa harga jualnya sudah turun 150 ribu sekalipun kami belum pernah menggunakannya? Jika dia memang berniat berjualan, bukan cuma ide iseng sebagaimana yang muncul di kepala ibu saya, kenapa enggak dari awal dia saja yang menolong tetangga yang terlilit utang itu? Uang segitu kan lumayan juga buat kami. Keluarga kami selalu berusaha merasa berkecukupan, tetapi saya tahu betul bahwa kondisi kami masih jauh sekali dari kata tajir. Ibu saya semestinya lebih bisa menahan diri untuk melihat situasi.
 
Kembali ke persoalan kulkas yang menunjukkan tanda-tanda rusak, selain suhunya jadi kurang dingin, kini tepat di bawah lemari pendingin itu mulai banyak genangan. Ada kebocoran entah di bagian mananya pada kulkas itu. Sampai-sampai kami kudu mengepel beberapa jam sekali ataupun meletakkan kain gombal supaya bisa menyerap airnya.
 
Semenjak Maret datang, kulkas itu sudah tak beroperasi lagi. Ia hanya menjadi pajangan di sudut halaman rumah. Mungkin setelah terendam banjir untuk yang ketiga kalinya pada 23 Februari, benda itu kehabisan daya tahan dan tak lagi mampu mengeluarkan hawa dinginnya. 
 
Sebagai orang yang rutin membeli minuman ke agen, hingga mulai terbiasa menghirup aroma tubuh para kuli pekerja keras yang mengangkat beban berat dan upahnya tak seberapa, lalu memasukkan minuman-minuman itu ke kulkas sekaligus menatanya dengan rapi, serta melayani berbagai macam pembeli, entah kenapa timbul kesedihan di dalam diri sewaktu sadar bahwa kegiatan yang sudah saya jalani hampir setahun ini terpaksa dihentikan. Tapi mau bagaimana lagi, selepas enam bulan berdagang, khususnya begitu memasuki musim penghujan, daya jualnya memang mulai berkurang. Saya yang tadinya terbiasa membeli air putih botolan ke agen sebanyak tiga kali dalam seminggu, kini cuma seminggu sekali. Itu pun lebih sering diminum sendiri oleh adik saya untuk bikin sirup.
 
Belum lagi sejak kami menerapkan kalau kulkas itu tak perlu dikunci pada malam hari karena beberapa pembeli adalah manusia-manusia yang hobi begadang. Saya sih mencoba percaya sama mereka yang mengambil produknya duluan, kemudian membayarnya belakangan sesuai dengan jumlah minuman yang mereka konsumsi. Namun, itu tak menutup kemungkinan adanya pembeli gelap alias pencuri, kan? Terbukti waktu itu saya baru mengisinya pada siang hari, dan keesokan paginya beberapa minuman berkurang, sedangkan uang yang masuk hanya sedikit.
 
Terlepas dari kenyataan mereka lupa membayar ataupun yang dengan sengaja mengambilnya diam-diam, intinya kami tetaplah rugi. Apalagi Ayah juga mulai mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Kalau udah enggak menghasilkan keuntungan, buat apa maksain diri tetap jualan?” Hal itulah yang meyakinkan ibu saya untuk tidak menyervisnya dan berhenti berdagang minuman dingin. Hilangnya kegiatan belanja ke agen dan menyusun aneka minuman ke dalam kulkas itu seolah-olah bikin diri saya habis kena pecat tanpa pesangon.
 
 
Rak Buku 
 
Saat lagi asyik rebahan seraya merenung pada waktu menjelang tidur, saya terkejut mendengar bunyi buku-buku yang ambruk dari rak di sebelah kanan saya. Saya mendapati kayu pada rak yang posisinya nomor dua dari bawah terlepas dari pasaknya. Begitu mau saya coba pasang kembali, rupanya lubang pada kayu itu sudah jebol. Efek terendam banjir pada awal tahun itu kayaknya bikin kayunya jadi lapuk. Saya masih tak percaya kalau rak ini harus kehilangan salah satu bagiannya. Saya spontan mengutuk banjir yang bikin rak buku saya jadi cacat.
 
 


 
Sewaktu saya berumur 22 tahun, ibu saya memberikan kado berupa rak buku yang tengah saya maksud. Semua bermula ketika saya sedang menemaninya ke Carrefour daerah Permata Hijau untuk belanja bulanan. Ketika semua produk yang pengin dibeli sudah masuk tas keranjang, ibu saya tiba-tiba bertanya, “Kamu katanya mau beli rak buku, Yog?”
 
“Kerjaan yang waktu itu belum dibayar, Bu.”
 
Sejak mengambil beberapa tawaran kerja lepas pada Mei 2017, saya memang bermaksud menggunakan salah satu bayarannya yang bernilai 300 ribu untuk dibelikan rak buku setelah invois itu cair. Sialnya, bayaran yang datang terlebih dahulu justru berbentuk voucer belanja di salah satu toko daring. Bayaran yang saya tunggu-tunggu dalam bentuk uang masih tak jelas kapan ditransfernya. Jadilah saya terpaksa menunda hasrat buat membeli rak buku.
 
“Enggak usah nunggu dibayar, beli aja sekarang mumpung kita di sini.”
 
“Entar aja. Toh, tabunganku di rekening juga enggak seberapa.”
 
Ibu pun bilang mau membelikan saya rak buku tersebut. Tentu saja aneh saat saya mendengarnya. Bukannya gengsi atau ada hal lain, tapi saya memang tak suka meminta hal-hal yang saya inginkan kepada siapa pun. Saya lebih senang membayar pakai uang pribadi. Apalagi sejak usia 17 juga sudah terbiasa bekerja dan mencari uang sendiri.
 
“Anggap aja hadiah ulang tahun kamu. Kamu kan anaknya enggak pernah minta apa-apa. Sesekali biar Ibu beliin.”
 
Sejak kecil saya nyaris tak pernah mendapatkan kado ulang tahun dari orang tua. Mereka hanya sempat membuat syukuran kecil-kecilan dengan memasak nasi kuning, lalu mengantarkannya kepada tetangga. Kadonya palingan berbentuk sepatu atau tas baru buat sekolah. Itu pun kalau tak salah waktu saya masih SMP. Selebihnya tak pernah.
 
Sekali-sekalinya saya mengadakan syukuran atas kemauan sendiri saat saya menginjak usia 19. Saya menyisihkan sebagian gaji dan memberikannya kepada Ibu, bermaksud meminta tolong supaya dibuatkan berbagai macam makanan. Saya berniat mengundang 20 teman kantor yang paling akrab ke rumah saya untuk makan-makan sebagai pengganti mentraktir mereka di restoran. Tujuannya agar lebih hemat dan seandainya ada makanan lebih bisa diantarkan ke tetangga.
 
Namun sejak usia 20-an, saya perlahan-lahan benci dengan perayaan ulang tahun semacam itu. Tak ada lagi traktir-traktir pada hari kelahiran dan merayakannya bareng teman. Saya lebih suka menikmatinya dengan kesendirian, lalu muhasabah diri.
 
Oleh sebab itulah, saya merasa aneh ketika ibu saya ingin memberikan kado ulang tahun. Ibu saya tetap mengotot mau membelikan sekalipun saya sudah bilang tak usah. Ditambah lagi saya juga rada takut menolak pemberiannya itu justru kelak melukai hatinya. Jadi, saya tak ada pilihan lain selain menerimanya. Sebagaimana tujuan awal saya yang kepengin rak buku seharga 300 ribu, kami pun membeli yang kisaran segitu.
 
Sayangnya, rak buku 340 ribu yang umurnya baru berjalan tiga tahun itu kini mulai cacat akibat terendam banjir. Kayunya termasuk lemah terhadap air, kemudian lapuk. Kado ulang tahun saya telah rusak. Sialan, sedih juga ternyata melihat kondisi rak buku malang itu.
 
Saya memandangi dua puluhan buku yang sementara ini saya letakkan di kasur dengan berpikir: kalau rak bukunya jebol, lantas buku-buku ini mau taruh di mana lagi? Kala itulah muncul gagasan untuk memfilter buku-buku yang sepertinya sudah tidak dibaca lagi. Satu jam berselang, saya akhirnya berhasil memisahkan buku-buku berikut ini dan berniat menjualnya dengan harga (yang semoga) terjangkau.
 
 
Paket Sastra
 
 

 
Ayah, Andrea Hirata (kondisi kertasnya agak buruk, menguning atau kecokelatan alias berjamur) 25.000; Maryam, Okky Madasary (novel sastra tentang kaum agama minoritas yang menang Kusala tahun 2012): 27.000; Sri Menanti, Joko Pinurbo (kondisi hampir seperti baru): 29.000; Cerita buat Para Kekasih, Agus Noor (sampul lawas dan masih segel): 30.000. Beli sepaket harganya jadi Rp105.000.
 
 
Paket Hemat 
 
 
Adriana, Fajar Nugros: 17.000; Digitalove, antologi kumcer: 16.000; Spora, Alkadri. 15.000. Sepaket harganya Rp40.000.
 
 
Paket Haris Firmansyah
 
 

 
Wrecking Eleven, 3 Koplak Mengejar Cinta, Date Note, Good Hobby vs Bad Habit, Nyengir Ketupat. Tidak dijual satuan. Sepaketnya Rp65.000.
 
 
Paket Ratih Kumala
 

 
Tabula Rasa (novel) dan Bastian dan Jamur Ajaib (kumcer) seharga 45.000. Tambahan The Black Cat, Edgar Allan Poe, 36.000. Membelinya sekaligus menjadi Rp75.000.
 
 
Paket Bukune
 
 

 
Nina van Coupen, Alex Gunawan: 14.000; Martabak Asam Manis, Fico Fachriza: 16.000; Rasa Cinta, antologi kumcer: 18.000; Rebound Love, Satria Ramadhan: 19.000; Keset Kusut, Arie Je: 22.000. Beli sepaket jadi Rp85.000.

Paket Gagasmedia
 
 
 
Romeo Gadungan, Tirta Prayuda 20.000; Bintang Bunting, Valiant Budi: 20.000; Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu, Winna Efendi: 20.000. Beli sepaket jadi Rp55.000.
 
Untuk pemesanan silakan hubungi surel saya: ketikyoga@gmail.com. Harga itu belum termasuk ongkos kirim.

-- 
 
Pembaruan: buku yang dicoret berarti sudah laku.

 
PS: Pertimbangan harga saya buat berdasarkan tahun rilis maupun kapan belinya, ketebalan dan kondisi buku, serta nilai sentimental. Terkadang miris juga kalau dipikir-pikir ataupun diingat, bahwa mayoritas buku itu saya beli di atas 50 ribu, dan kini dijual tak sampai setengahnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga kepepet dan butuh uang. Sekiranya di antara kamu ada yang pernah merasa memberikan beberapa buku dalam daftar itu kepada saya, terus kecewa begitu mengetahui saya menjualnya, saya cuma bisa meminta maaf. Alasan mengapa saya menjualnya mungkin bisa kamu temukan di kisah Menghargai Pemberian yang pernah saya tulis pada 2017 dan diterbitkan ulang oleh Loop pada 2019.
 
Orang yang membeli buku paketan akan lebih diprioritaskan. Seumpama kamu cuma tertarik 1-2 buku di paket-paket itu, saya akan menunggunya selama tiga hari. Jika memang tak ada yang berminat membeli paketan dalam jangka waktu itu, barulah saya jual secara satuan. Terima kasih.


Sumber gambar boks pendingin:

https://www.pricebook.co.id/article/market_issue/2018/08/14/8719/freezer-es-terbaik-dan-termurah

Read More
“Jika bulan tersenyum, ia akan menyerupaimu. Kamu meninggalkan kesan yang sama. Sesuatu yang indah, tetapi menghancurkan. Kalian berdua adalah peminjam cahaya yang dahsyat.”



Aku mengirimkan kalimat itu di WhatsApp dua menit lalu ke kontakmu, Gina Maharani. Kamu pun segera membalas: Apa maksudmu, Bajingan?

Kukatakan sejujurnya bahwa itu cuma potongan puisi Sylvia Plath yang aku terjemahkan sesukanya. Tak ada niat apa pun, apalagi maksud jahat. Cuma keisengan belaka.

“Alah, tai. Kamu sebenarnya ingin mengejekku, kan?”

“Apakah di matamu aku ini cuma manusia yang gemar mengejek?”

“Iya, dan satu hal lagi: tukang bohong.”

“Contohnya?”

“Ya ampun, kamu sudah lupa sama pertemuan terakhir kita?”

Tentu saja aku masih ingat. Pada suatu malam di penghujung 2019 yang gerimis itu, aku bermaksud menyampaikan keinginanku untuk berhenti menulis puisi ketika berjumpa denganmu di restoran cepat saji. Satu jam sebelumnya, pada pukul 20.30, kamu mengajakku pergi merayakan malam tahun baru. Saat kujawab malas dan ingin menyendiri di indekos, kamu langsung merayuku.

“Ayolah, Gus, aku cuma lagi kepengin makan burger dan es krim Mekdi. Kita enggak perlu konvoi atau keluyuran tak jelas kayak kebanyakan orang. Nanti aku yang traktir deh.”

“Ajak aja temanmu yang lain, Ran.”

“Mereka pergi bersama pacarnya masing-masing.”

Aku pun meledekmu: kalau begitu ajak aja pacarmu. Kamu menimpalinya, pacar yang mana, sih? Tai, ah.

Lima buah emoji tertawa yang mengeluarkan air mata segera kukirimkan, lalu kamu membalas sebuah emoji tai berwarna cokelat yang memiliki wajah.

“Kumohon, kali ini saja turuti keinginanku,” tulismu. “Temani aku makan. Aku enggak mau pergi sendirian. Aku benar-benar kesepian dan butuh teman mengobrol.”

Mulanya aku ingin sekali membalas “Terus kenapa harus aku?”, tapi teks itu pun segera kuhapus dan berganti menjadi “Tunggu depan gerbang kosmu 15 menit lagi.”

Dan begitulah kita menghabiskan malam dengan berbagai macam obrolan. Mulai dari film, musik, pekerjaan, kecemasan hidup, krisis kehidupan pada usia seperempat abad, rencana masa depan, percintaan, dan—seperti yang telah kubilang di awal—tentang keinginanku berhenti menulis puisi.

“Apa kamu masih ingat percakapan kita di kosanmu dua minggu yang lalu?” tanyamu. “Kamu bilang, aku tidak akan menulis puisi lagi setelah kamu ditolak untuk yang kedua-belas kalinya. Nyatanya, lima hari lalu kamu bikin puisi lagi dan masih ngotot mengirimkannya.”

“Tapi, kali ini kamu bisa pegang kata-kataku. Aku sungguh berhenti di angka tiga belas.”

Lalu kamu tertawa. “Kamu sudah mengatakannya berulang-ulang kali, Gus, tapi itu semua kebohongan semata. Aku capek dengarnya.”

*

“Sejak hari itu aku belum menulis puisi lagi, tahu,” tulisku.

“Nah, yang barusan itu bukan puisi?”

”Itu kan puisi orang lain.”

“Bagiku sama aja. Kamu itu pembohong.”

Memang, apa yang kamu bilang itu ada benarnya, Ran, bahkan tulisan ini pun juga sebuah kebohongan. Modal untuk menulis fiksi adalah menjadi tukang kibul. Setidaknya, aku berbohong menggunakan bentuk yang memang sudah diketahui oleh banyak orang. Bukan kebohongan bernama janji. Hanya kamu dan Tuhan yang tahu, apakah janji itu betul-betul ada atau sekadar kepalsuan demi membalas dendam akan kesalahan yang pernah kulakukan: aku telah membuatmu jatuh cinta, padahal saat itu aku belum bisa melupakan perempuan lain. Ditambah lagi aku terus berpura-pura tolol sampai hari ini. Memungkiri kenyataan bahwa kamu menyukaiku.

Tapi, buat apa melibatkan Tuhan dalam urusan sepele seperti ini? Aku menyakitimu dan kamu menyakitiku—meskipun ada kemungkinan kita sebenarnya sakit oleh harapan sendiri. Kita menghabiskan waktu untuk saling menghancurkan. Kita akan terus membohongi diri sampai salah satu dari kita menyerah, lalu berkata jujur bahwa aku mencintaimu.


Januari 2020


--

Gambar hanya pemanis.

Dua paragraf terakhir di cerita barusan saya ambil dari Fragmen Penghancur Diri Sendiri. Saya ingin sekali menulis cerita romansa yang asyik, tetapi kenapa jatuhnya norak melulu, ya? Kenapa menulis cinta-cintaan ini buat saya sulit banget, ya Allah? Sama susahnya seperti mendapatkan afeksi di kenyataan. Sama sukarnya sebagaimana pengin hidup tajir dari pekerjaan menulis.

Read More
Apakah kamu pernah mendengar tentang biji chia? Atau setidaknya pernah melihat biji selasih? Bagi kamu yang belum pernah melihat maupun mendengar kedua biji-bijian tersebut, saya akan mendeskripsikan sedikit tentang keduanya. Biji chia dan biji selasih sama-sama berbentuk hitam dan memiliki bentuk butiran yang sangat kecil, mungkin ukurannya juga sama dengan biji wijen. Bedanya, jika wijen berwarna coklat kekuningan, biji chia dan biji selasih berwarna kehitaman. Biji chia butirannya kaya akan omega 3, sedangkan selasih mengandung mineral yang beragam.

Walaupun biji chia dan selasih memiliki tampilan yang cukup mirip, ternyata keduanya kalau diperhatikan cukup berbeda. Biji chia berwarna hitam pekat, lalu biji selasih agak keabu-abuan. Ketika dimasukkan ke dalam air, biji selasih akan memiliki cangkang fiber tebal berwarna putih sedangkan biji chia memiliki cangkang fiber berwarna putih yang lebih tipis.

Keduanya dikonsumsi dengan cara dicampurkan dengan cairan. Biji selasih lebih akrab ditemui di Indonesia dibanding biji chia, sebab biji chia berasal dari Meksiko. Biji chia sendiri memiliki keunggulan yang cukup fantastis untuk jenis biji-bijian. Sering menjadi rujukan untuk kesehatan otak dan sel-sel dalam tubuh.




Manfaat Biji Chia Butiran yang Kaya akan Omega 3

Mengonsumsi biji chia tentu saja dapat memberikan beragam manfaat. Selain omega 3, terdapat pula kebaikan vitamin B3, B2, B1, kalium, serat, dan protein.

Seandainya kamu tertarik buat mencobanya, kamu bisa membeli produk Chia Shot dari Nutify Indonesia secara online di web resminya, yakni gonutify.com. Di dalam web ini, sangat lengkap kebutuhan informasi produk Nutify. Tentang manfaatnya, cara mengonsumsinya, dan juga nilai gizinya. Saat membuka webnya, selain biji chia terdapat juga camilan sehat lain seperti kacang almond, kacang mede, dan masih banyak lainnya.


Chia Shot, Produk Biji Chia dari Nutify

Chia Shot sebagai salah satu produk camilan sehat dari Nutify memiliki dua varian. Nah, menurut saya pribadi, Nutify sangat kreatif dengan menghadirkan dua varian ini. Sangat menjawab kebutuhan konsumen yang beragam. Kita tahu bahwa keinginan setiap pribadi pastilah berbeda-beda.

 
1. Chia Shot Original

 
Varian pertama dari Chia Shot adalah original dengan bungkus warna merah. Chia Shot milik Nutify ini dijual per dus. Satu dusnya berisikan 10 pcs. Menariknya, dalam kemasannya telah terdapat nilai gizi, komposisi, dan saran penyajian. Jadi, dalam posisi belakang Chia Shot ini terdapat informasi bahwa biji chia dapat dikonsumsi satu bungkus dalam sekali penyajiannya.
 
Dalam satu saset Chia Shot berisikan 39 kkal kalori setara dengan 2%, lemak 2,6 g atau sebesar 4%, Omega 3 1205 mg atau setara 80%, protein 1,7 g setara dengan 3%, karbohidrat 2,2 g sebesar 1%, fiber 1 g setara dengan 3.8%, serta 0,4 mg sodium atau setara 0%. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa memang biji chia ini dominan mengandung Omega 3.

Seperti yang telah saya bahas sebelumnya, Omega 3 ini baik untuk kesehatan otak dan saraf. Baik untuk sel, bebas dari masalah kolesterol, pusing, dan mual. Tentu saja pasien dengan hipertensi, masalah jantung, masalah kolesterol, dan masalah saraf sangat dianjurkan mengkonsumsi biji chia.

Hadirnya Chia Shot ini menurut saya teramat membantu kita dalam mengukur konsumsi biji chia per harinya. Jadi, kita akan terhindar dari lupa ketika harus mengonsumsinya. Chia Shot dengan kemasan yang kecil dan mudah digenggam membuatnya sangat praktis dan efisien untuk dibawa ke mana saja.

Cara mengonsumsi produk ini pun juga beragam. Dengan Chia Shot original kamu dapat mencampurnya ke dalam puding, milkshake, kue, dan es krim.


2. Chia Shot Coconut and Lemon


 
Selain varian original, terdapat varian kedua, yaitu Chia Shot Coconut and Lemon, berwarna hijau. Chia Shot jenis ini juga dijual per boks berisi 10 pcs. Dengan harga sedikit lebih mahal dari yang original, varian Coconut and Lemon dapat menjawab kebutuhan praktismu. Penambahan lemon dalam Chia Shot ini juga menambah kebaikan untuk nilai gizinya, karena menambah kebaikan vitamin C dan juga antioksidan bagi tubuh. Sangat baik untuk kekebalan imun tubuh.

Dalam mengonsumsi varian Chia Shot Coconut and Lemon kamu tidak perlu menambahkan rasa lain. Produk ini telah mengandung air kelapa bubuk dan lemon kering—yang tentu saja sudah menyegarkan hanya dengan menambahkan air mineral. Bisa kamu konsumsi ketika sedang berolahraga ataupun saat beraktivitas di kantor.

Chia Shot dari Nutify ini juga mendapatkan sertifikat halal dari MUI dan sertifikat BPOM. Jadi, produk ini pasti layak dan aman untuk dikonsumsi. Cara penyimpanannya pun mudah, cukup dengan suhu ruangan. Intinya, produknya bisa tetap aman sekalipun tidak disimpan di dalam tempat sejuk seperti lemari pendingin.
 
 
Nah, apakah di antara teman-teman ada yang pernah mencoba mengonsumsi biji chia? Menurutmu, bagaimana manfaatnya bagi kesehatan tubuh, dan bagaimana pula pendapatmu dengan kehadiran produk Chia Shot? Kamu bisa berbagi di kolom komentar.
Read More
Perusahaan selalu membuka berbagai jenis posisi dalam setiap tahunnya untuk para fresh graduate. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, ternyata jabatan management trainee masih menjadi yang terfavorit bagi mereka yang baru lulus. Adanya jenjang karir yang jelas dan gaji yang menarik tentu membuat para fresh graduate berlomba-lomba untuk mengincar posisi management trainee di perusahaan ternama. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi HRD untuk menemukan talenta dan bakat terbaik dari fresh graduate tersebut.




Proses rekrutmen secara manual sangatlah memakan waktu dan sering memecah fokus staf HRD. Akibatnya, HRD kerap kali luput dan melewatkan kandidat-kandidat terbaik. Namun dengan adanya bantuan aplikasi HR, kesulitan dalam proses rekrutmen itu pun akan menghilang dan terasa lebih mudah.


Sekilas Mengenai Aplikasi HR dalam Rekrutmen 

Aplikasi HR mampu mengotomatisasi dan mendigitalkan proses rekrutmen manual yang lama itu menjadi lebih cepat. Dengan mendigitalkan proses perekrutan, perusahaan akan lebih gampang untuk menemukan karyawan yang memenuhi syarat dari seluruh kota, atau bahkan di seluruh dunia. Cara ini membuat perusahaan mampu menarik kumpulan kandidat yang lebih luas sehingga perusahaan dapat menemukan bakat terbaik. Dengan membuat kebutuhan perekrutan dan informasi perusahaan secara transparan, calon karyawan bisa dengan mudah memahami semua yang harus mereka ketahui dan perlukan untuk menjadi bagian dari perusahaan.


Rekrutmen Management Trainee ala Aplikasi HR 

Aplikasi HR sangat membantu dalam perekrutan di berbagai macam posisi. Begitu pula dalam rekrutmen management trainee. Setelah aplikasi dan resume dikirimkan oleh kandidat, informasi tersebut kemudian dapat dengan mudah ditinjau secara bersamaan oleh semua manajer dan staf HRD terkait. Hal ini dapat membantu mempercepat proses perekrutan, karena informasi itu tak perlu lagi diteruskan ke seluruh perusahaan secara manual. Setelah meninjau resume-resume yang masuk, maka manajerial bisa lebih siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Aplikasi HR juga dapat memudahkan manajer untuk berkomunikasi satu sama lain mengenai pertanyaan dan kondisi kandidat sebelum wawancara dijadwalkan.

Selama bekerja, management trainee juga akan dilatih untuk menempati jenjang karir menjadi seorang manajer. Dibutuhkan pula berbagai macam modul untuk menggampangkan pembelajaran seorang management trainee. Perjalanan dalam pembelajaran ini bisa sederhana atau kompleks, tergantung bagaimana kemampuan karyawan itu sendiri. Terlepas dari hal itu, sudah menjadi kewajiban bagi HRD untuk mempersiapkan pembelajaran yang efektif agar management trainee memiliki kemampuan yang terampil.

Modul learning pada aplikasi HR membuat pembelajaran dapat dilakukan menjadi transparan. Pembelajaran yang transparan akan menghadirkan jalur pengembangan potensi bagi tiap karyawan dengan kelas pelatihan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan. Dengan begitu, perusahaan pun bisa lebih memanfaatkan bakat management trainee terbaik sekaligus meningkatkan keterlibatan dan kepuasan dalam bekerja. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi HRD dalam menemukan kandidat terbaiknya, LinovHR pun hadir sebagai kunci utama dalam kesuksesan rekrutmen management trainee.

Jadi, dengan menggunakan aplikasi HR dari LinovHR, maka perusahaan akan lebih mudah dalam mendapatkan management trainee terbaik yang akan membangun perusahaan menjadi perusahaan unggulan di antara para kompetitor. Menjadi perusahaan unggulan adalah mimpi bagi semua perusahaan, bukan? Untuk lebih lengkapnya mengenai kemudahan dan kepraktisan dalam rekrutmen, kamu bisa segera menghubungi tim layanan LinovHR. 


Apakah di antara teman-teman ada yang punya pengalaman dalam mengikuti perekrutan management trainee? Kamu boleh berbagi cerita di kolom komentar.
Read More
Mestinya tulisan ini sudah saya terbitkan sejak Agustus agar momennya pas dengan setahun peluncuran buku digital Fragmen Penghancur Diri Sendiri. Tapi atas dasar malu sekaligus minder, saya pun baru berani menampilkannya sekarang. Lagian, buat apa sih merayakan satu tahunan segala? Kayak bukunya penting aja. Jelas-jelas itu cuma produk gagal dari seorang penulis gagal. Meski demikian, bagi saya tak ada salahnya merayakan kegagalan. Kita semua pasti pernah gagal dalam suatu hal, bukan? Saya tinggal menerima kenyataan itu, lantas berdamai dengan diri sendiri. Barangkali merayakan kegagalan tidak seburuk yang saya pikirkan sebelumnya. Daripada saya terlalu banyak bacot di awal tulisan, lebih baik langsung saya suguhkan saja nonsens demi nonsens dalam mengenang momen satu tahunan menerbitkan buku digital ini.




Memulai tanpa banyak berharap dan menentukan tema

Sejak awal tahun 2019, saya ingin sekali menghadiahkan diri sendiri saat nanti berulang tahun yang ke-24. Saya bermaksud membuat kado berupa buku kumpulan cerita yang saya tulis sendiri. Berhubung saya sempat punya mimpi untuk menerbitkan buku (baik itu digital maupun cetak) sebelum saya meninggal, saya kira itu bisa menjadi hadiah yang sungguh berkesan. Sayangnya, niat itu tak bisa berjalan lancar karena saya gemar menunda-nunda. Selain itu, saya juga sempat terlibat proyek cerpen bersama Loop pada Februari. Meskipun hanya memilah 10 cerita terbaik dari seluruh cerpen yang pernah saya tulis di blog, siapa sangka tak semudah kelihatannya dan cukup memakan waktu lama. Penyebabnya: sebagian cerpen saya kisahnya termasuk vulgar. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk dibaca anak SMP hingga mahasiswa (target pasar mereka rentang usia 13-23). Toh, mereka pastinya memiliki aturan-aturan pula, seperti jenis cerpen apa yang memenuhi kriteria dan aman dikonsumsi. Maka, kerja sama itu baru benar-benar selesai—hingga saya menerima bayarannya—pada pertengahan April. 

Setidaknya, masih ada waktu sebulan lagi buat mengerjakan tulisan yang diniatkan sebagai kado kepada diri sendiri itu. Saya akhirnya berhasil menyunting lima cerpen sampai Mei datang. Saya ternyata enggak buruk-buruk amat dalam memulai proyek. Namun, jika saya mengacu pada buku-buku kumpulan cerpen yang pernah saya beli dan baca itu lazimnya berjumlah belasan cerita, berarti sedikitnya saya mesti mengumpulkan 6-10 tulisan lagi. Tersisa tiga minggu lagi sebelum hari ulang tahun saya tiba. Apakah saya mampu merampungkannya? Seandainya saya benar-benar fokus, pikir saya, sepertinya saya bisa mengumpulkan 2-3 tulisan dalam setiap minggunya. Baiklah, saya kudu lebih semangat. 

Niat baik tak selalu berjalan dengan baik. Bukankah saya sudah paham betul akan persoalan tersebut? Ide cemerlang ini pun kembali terhalang ketika saya tersadar bahwa bulan Mei itu bertepatan dengan puasa Ramadan. Sepertinya momen ini lebih cocok untuk fokus beribadah dan bermuhasabah, bukan malah menyelesaikan proyek tulisan, apalagi sampai memaksakan begadang. Mau tak mau, proyek itu mesti saya tunda hingga seminggu setelah Lebaran. 

Begitu hari Lebaran datang, saya justru merenung: Apa tema untuk cerpen-cerpen yang ingin saya kumpulkan ini? Mungkin banyak penulis yang membuat buku kumcer tanpa repot-repot memilih tema. Mereka hanya menyortir mana kisah yang menurutnya paling baik dan asyik dibaca. Namun bagi saya pribadi, pasti lebih menarik kalau ada benang merahnya. Akhirnya, niat untuk mengumpulkan cerpen-cerpen itu lenyap seketika. Saya sepertinya perlu mengonsepkannya terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh. Saya tak ingin terburu-buru dalam menciptakan karya. Toh, sudah telat juga untuk memberikan kado ulang tahun. 

Sembari menemukan gagasan untuk proyek buku dan mengisi waktu luang, saya pun menulis berbagai macam cerpen untuk ditaruh di blog. Hitung-hitung latihan menggali ide. Sejak 2018, saya memang memfokuskan blog sebagai tempat berlatih menulis fiksi. Nah, dari sekian banyak tulisan di blog yang pernah saya hasilkan, saya lantas tersadar dengan cerpen bikinan saya yang tokoh-tokohnya dominan berkecimpung di bidang tulis-menulis. Apa saya pilih tema ini aja kali, ya? 

Harus saya akui, saya memang kerap mencampuradukkan kehidupan pribadi dengan bumbu fiksi. Maka jadilah tulisan yang mayoritasnya seputar keresahan-keresahan dalam hidup saya, khususnya kepenulisan. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap cerita-cerita saya itu nyata semua, bahkan unsur mesumnya. Terlebih lagi penuturan ini semakin kuat sebab saya gemar menggunakan sudut pandang orang pertama dan kedua daripada orang ketiga. Walaupun rasanya konyol banget, sih, ketika kisah fiksi dianggap benar-benar terjadi. Selama membuat cerpen di blog ini saya padahal cuma mengambil secuil dari setiap kejadian yang saya alami. Saya lebih banyak memperhatikan orang-orang di sekitar. Saya curi pengalaman mereka, dan saya jadikan seolah-olah kisah itu milik saya. Sisanya saya serahkan pada imajinasi dan biarkan cerita bergulir dengan sendirinya. 

Jika tak salah ingat, sewaktu saya masih awal-awal belajar menulis cerpen, saya pernah membaca beberapa esai tentang pandangan penulis dalam menciptakan karyanya. Jadi, di mata para penulis—yang menurut saya sok paling benar ini, konon tema tulisan yang berhubungan dengan dunia di sekitarnya itu pastilah menjemukan. Tanda penulisnya payah atau malas riset atau terlalu banyak melihat ke dalam. Mereka bilang, seharusnya penulis bisa keluar dari zona nyamannya ataupun memberikan jarak terhadap kehidupan pribadinya. Bagi mereka, yang semacam itu namanya curhat, bukan cerpen. Cerpen itu sebaiknya bisa mengkritisi sesuatu hal. Atau bisa juga dikatakan seolah-olah dalam sebuah cerpen harus ada pesan moralnya. 

Tai, ah. Apakah karena opini sok tahu itu makanya kini banyak cerpen maupun novel dengan tema-tema politik dan kritik sosial? Coba aja lihat berapa banyak buku fiksi Indonesia dengan tema yang mengangkat peristiwa G30S/PKI dan tragedi 98? Terlalu sering diulang-ulang, kan? 

“Kenapa beberapa penulis yang memiliki gagasan besar dalam bukunya sering memperoleh penghargaan, tapi kalau dilihat dengan jelas akan tampak sekali kecakapan menulisnya yang kurang memadai?” ujar penulis favorit saya. 

Bisa dibilang mereka dipuji-puji setinggi langit dan menang penghargaan cuma karena berani mengangkat tema yang berat. Tapi kalau mau diukur atau dinilai dari seluruh aspek kepenulisan, kemampuan menulisnya belum pantas disebut bagus. Mereka mungkin mengerjakannya dengan payah karena sejak awal sudah keberatan tema. Tanpa bekal yang memadai, novel maupun cerpen yang menceritakan sejarah akan tampak seperti berita atau reportase. 

Lagian, kenapa sih kebanyakan penulis ingin sekali mengkritisi peristiwa-peristiwa sosial? Apa seorang penulis harus selalu menyampaikan kebenaran dan diwajibkan berkhotbah? Memangnya salah ya kalau mengisahkan kehidupan pribadi yang tampak remeh? 

Pertanyaan-pertanyaan itu pun membawa saya ke sebuah gagasan untuk mengkritik diri sendiri, sebab saya sendiri rupanya termasuk sok tahu dalam urusan tulis-menulis. Alhasil, saya mulai berpikir, kayaknya sah-sah aja jika seorang penulis membicarakan tentang kepenulisan dan dunia di sekitarnya. Selama digarap dengan terampil, tulisan sepele tentang seorang tokoh yang pergi ke warung untuk membeli camilan pun bisa jadi sangat bagus daripada membicarakan ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya yang dikerjakan secara sembrono. Jadi, tulisan dengan tema apa pun, selama ditangani oleh orang yang tepat, pastilah hasilnya akan ciamik dan enak dibaca. 

Lantaran pemikiran semacam itulah saya akhirnya berani mengumpulkan sebelas cerita kehidupan para penulis yang bertanya tentang faedah dari menulis. Betulkah menulis itu dapat menyembuhkan? Bukan malah menghancurkan dirimu sendiri? 

Terlepas dari buku itu pada kemudian hari mungkin akan saya sesali, setidaknya saya telah berani memulai. Saya sudah mencoba menciptakan sesuatu yang memang sejak lama saya inginkan. Semakin saya membaca buku-buku bagus, yang ada saya malah bertambah minder jika terus-terusan menunda bikin kumcer itu. Kenapa saya takut memulai? Kenapa bukan dari dulu? Kenapa baru sekarang? Semua itu karena saya takut menghasilkan tulisan jelek. Saya lama-lama akhirnya mulai mengakui bahwa diri ini termasuk perfeksionis seperti yang tertera di sebuah artikel tentang manusia bergolongan darah O dan zodiak Gemini yang pernah saya baca. 

Saat keraguan saya kembali menyerang, bagusnya tiba-tiba muncul pemikiran begini: “Kamu mau menunggu sampai kapan? Bagaimana kalau kamu keburu mati sebelum menyelesaikan buku itu karena keseringan berpikir ‘nanti aja’?” dan “Kalaupun kamu kelak berhasil menghasilkan karya pertama yang menurutmu sangat bagus, bukankah itu akan menjadi beban tersendiri? Kamu justru jadi takut menghasilkan karya kedua dan seterusnya gara-gara minder sama karya sebelumnya, kan? Jika karya pertamamu terdapat bagian buruknya, itu tandanya kamu bisa memperbaikinya di proyek berikutnya agar lebih baik dari pendahulunya. Maka, mulailah dengan segera tanpa banyak berpikir dan berharap.” 

Dengan modal bismillah, saya pun berhasil menyelesaikannya dan mulai memberitahukan sekalian promosi kalau saya baru saja membuat buku digital pada awal Agustus 2019. Saat memutuskan untuk menjualnya, saya tidak banyak berharap bakal ada ribuan orang yang membelinya. Saya bisa menyelesaikannya aja sudah gembira bukan kepalang. 


Sebulan setelah peluncuran 

Ternyata ada beberapa teman yang sudi mengunduh versi gratisnya. Lalu, pada hari berikutnya ada yang membelinya juga. Saya bahkan kaget ketika ada segelintir orang yang nyaris tidak pernah komentar di blog tiba-tiba menghubungi saya untuk membeli buku digital tersebut. Saya semakin tak menyangka setiap pagi dalam seminggu pertama selalu ada yang membelinya. Ini berarti mirip sama pedagang-pedagang di luaran sana. Entah itu jual makanan, pakaian, ataupun jasa. Yang penting produknya ada terlebih dahulu, barulah pembeli berdatangan. Kalau tak ada barang ataupun jasa yang ditawarkan, siapa coba yang mau beli? 

Namun, ini semua betul-betul di luar dugaan saya. Rupanya masih ada orang-orang yang berusaha mendukung saya di bidang ini dengan membeli apa yang telah saya ciptakan. Mereka tidak cuma memberikan apresiasi di kolom komentar, melainkan ada juga yang memberikan bukti secara nyata dengan membayar lebih mahal dari harga jualnya. Saya lantas berharap semoga mereka bisa menikmati kisah-kisahnya. Entah itu terhibur, ikut merenung, atau justru terbawa perasaan sedihnya dan merasa terwakilkan. Pokoknya, mereka bisa menikmati ataupun menghikmati tulisan saya. Syukur-syukur saya malah dapat saran dan kritikan untuk menciptakan yang lebih keren. 

Sementara itu, jika saya melihat sisi negatifnya (tentu saya perlu berjaga-jaga akan hal ini), saya akan berusaha untuk bisa kuat dan tahan dalam menerima cacian tersebut. Sekiranya nanti mereka kurang menyukai isi cerita itu karena berharap terlalu tinggi atau jenis bukunya bukan seleranya, semoga tidak sampai menyesal telah mengeluarkan uangnya. Apalagi kalau mereka sampai berkata, “Mendingan saya beli makanan deh ketimbang buku sampah itu.” 

Apa pun yang kelak terjadi, saya cuma mau mengucapkan terima kasih buat orang-orang yang sudah bersedia membelinya. Terima kasih juga buat diri sendiri yang telah berhasil memulai. Terima kasih sudah berani dan mengalahkan sisi lain dirimu sendiri yang terlalu pengecut itu. 


Satu semester setelah peluncuran 

Sejak bulan ketiga sudah tak ada yang membelinya. Total pembelinya cuma belasan orang, tak sampai dua puluh. Apakah saya sedih? Lumayan. Meski saya tak berharap banyak, saya pikir seminimalnya ada 50 orang yang bersedia membelinya. Ini setengah dari 50 aja enggak kesampaian. Ya Tuhan, saya jadi ingin memaki sekaligus mentertawakan diri sendiri kalau begini jadinya. Anjinglah, ini betul-betul lucu banget. 

Sudah enam bulan berlalu dan tak ada satu pun komentar atas buku tersebut. Apakah mereka sungkan untuk memberikan penilaian kepada karya saya? Apakah mereka telah membacanya sampai habis? Apakah mereka cukup sebatas membelinya dan baru baca sebagian—atau malah belum sama sekali? Terus, apakah ada yang terpaksa membelinya hanya karena kami berteman dan merasa tidak enakan? 

Apa pun itu, saya bisa memakluminya, sih. Memang sulit dalam mengomentari karya kawan sendiri. Pasti ada rasa cemas dan takut seandainya kita mengkritik dan berkomentar buruk, kemudian hubungan pertemanan itu berubah retak. Yang jelas, saya bukan orang yang dengan gampang memutuskan pertemanan cuma gara-gara tulisannya diejek. Saya termasuk santai. Saya enggak antikritik. 

Sejujurnya, saya juga tak masalah dengan mereka yang tidak membelinya. Saya tak mau mereka mengeluarkan uang karena ada desakan “sesama teman harus saling mendukung dong”. Enggaklah, kamu tak perlu merogoh kocek jika tak ada keinginan membeli dan membaca. Kita masih bisa tetap berteman seperti biasanya. 


Setahun setelah peluncuran dan ulasan pertama 

Memasuki bulan kesembilan sehabis meluncurkan buku kompilasi cerpen yang diterbitkan secara digital tanpa ada rilisan fisik, akhirnya ada salah seorang calon pembeli baru yang berminat. Anehnya, saya malah membalas, “Ini betulan minat beli? Dulu waktu menjualnya saya lagi khilaf, lho. Sebagian juga udah tayang di blog. Saya bikin ini semacam rasa frustrasi aja karena beberapa cerpen saya ditolak media, makanya dijual sendiri.”

“Aku enggak mau baca yang di blog. Ribet buka-buka arsip. Maunya yang udah berbentuk rapi. Pokoknya, aku betulan mau beli.”

Mata saya pun berkaca-kaca membaca respons itu. 

Empat hari kemudian, dia mengirimi saya pesan lagi beserta tangkapan layar: “Aku udah sampai sini bacanya. Boleh diulas, Yog?” 

“Boleh banget. Komentar sebebasnya. Enggak perlu sungkan.” 

Teman saya itu pun memberikan ulasan singkat, semacam kesan selepas dia menamatkan karya saya. Sesungguhnya, saya tak tahu apakah penilaiannya itu teramat subjektif sebab dia mengenal saya, atau murni jujur tanpa peduli kami teman ataupun bukan. Terlepas dari preferensinya dalam menilai, beginilah komentar dia terhadap buku Fragmen Penghancur Diri Sendiri

“Mengenai buku kumcermu, aku sebetulnya suka sama pembawaanmu yang ekspresif. Emosinya kelihatan semua. Tapi jadi menular ke aku, Yog. Di bagian cerpen pertama, agak platonis. Aku belum menangkap alur yang ‘Yoga banget’. Barulah setelah masuk ke cerpen kedua, aku mulai mengerti teknik penulisanmu, struktur, dan substansi. Untuk karya ‘indie’, aku akui kumcer ini berani dan bernyali.” 




Setelahnya dia sempat bilang, nanti bakal berusaha mengulas secara lengkap di blognya—seandainya memang jadi dibuat. Saya lantas meminta kepadanya supaya cantumkan juga bagian-bagian buruk maupun yang enggak dia sukai biar lebih adil. Saya cukup sadar diri bahwa tulisan-tulisan saya di buku itu masih banyak minusnya, jauh dari penilaian ‘bagus banget’. Semoga sih kelak ada pembeli lain yang ikutan berkomentar. Biarpun saya tak mau berharap banyak, tapi dengan adanya apresiasi semacam ini otomatis bikin saya ingin membuat yang lebih baik dan syukur-syukur terlepas dari bayang-bayang buku sebelumnya. Itu pun kalau saya masih keras kepala memilih jalan nestapa ini, apalagi cenderung nekat mencari pemasukan lewat menulis.

--

Gambar saya comot dari: https://pixabay.com/id/photos/kindle-kertas-putih-buku-perangkat-785695/
Read More
Rendam dan dinginkan kepalamu di kolam berwarna langit itu, Sayangku. Jangan kau sunggi lagi nerakanya. Kau manusia, bukan malaikat, iblis, ataupun Tuhan. Kasihan gagasanmu yang suci itu kalau terus-menerus terbakar oleh dosa, lalu berjatuhan. Menyisakan abu. Tertiup angin. Kehilangan ingin. Tak ada arti. —Potongan puisi saya yang berjudul “Katalis”, terhimpun dalam buku Disforia Pengusik Kenangan.

--

Saya harap ini terakhir kalinya saya mengeluhkan kesedihan karena ada beberapa oknum yang memakai foto-foto saya sebagai foto profil mereka. Di blog ini, saya telah membahasnya sebanyak tiga kali; Tulisan Populer, Vakum, dan Hati-Hati di Internet. Untuk dua yang pertama, saya masih bisa menyikapinya dengan santai dan menjadikannya komedi, sedangkan yang terakhir saya sudah kelewat muak dan murka. Saya sudah tak tahu buat menyebut perasaan saya kali ini seperti apa. Yang jelas, hati saya remuk dan kondisi mental yang belakangan ini mulai membaik mendadak berantakan lagi. 

Kamu bebas menyebut saya lebay, hiperbola, mendramatisir, atau sejenisnya. Silakan aja. Namun, saya betul-betul berharap, semoga di antara pembaca blog ini tak ada yang mengalami kejadian serupa. Karena ketika foto dirimu disalahgunakan berulang-ulang kali ini rasanya sungguh bajingan anjing. 



Kabar duka ini berawal dari sebuah pesan di Instagram dari seorang cowok pada kemarin malam sebelum saya beranjak tidur. Dia menanyakan tentang nama asli saya. Atas dasar bingung dan curiga, tentu saya bertanya balik ada keperluan apa. Saya pun ketiduran setelahnya. Begitu terbangun, saya kembali membaca pesan yang masuk pada pagi harinya sehabis Subuhan: “Apa bener ini Made?” 

“Bukan, saya Yoga.”

“Benar? Soalnya ada yang bernama I Made merugikan saudari saya, dan berwajah persis seperti Anda.”




Dia mengirimkan foto dan kembali memastikan apakah itu benar bukan saya, bahkan meminta kirimkan foto KTP demi membuktikan identitas. 

Ya Allah, buat apa saya repot-repot membuktikan diri bahwa saya benar-benar seorang manusia bernama Yoga Akbar? Akun Instagram saya pun tertera jelas nama asli. Jadilah saya klarifikasi hal tersebut sembari mengirimkan tautan blog saya yang pernah membahas pencurian identitas ini lagi. Tapi biar bagaimanapun, saya tetap mengucapkan permintaan maaf sebagai berikut: Mas, sebelumnya saya mohon maaf. Saya sangat sedih jika ada yang dirugikan atau ditipu menggunakan foto saya. Wajah saya sering dipakai berulang kali oleh orang lain entah siapa. Saya juga dirugikan berkali-kali, padahal saya tak ingin merugikan orang lain. 

Saya mendadak mau nangis saat mengetikkan kalimat itu. Saya jadi berpikir, memangnya saya punya salah apaan, sih? Kok sampai terjadi lagi dan lagi. Saya kali ini cuma mau hidup tenang tanpa mengusik orang lain. 

Sampai saya membuat tulisan ini, saya masih belum tahu jenis kerugian apa yang diterima oleh si korban. Apakah itu berbentuk uang atau hal lain? Sang pelapor belum kunjung membalas pesan saya. Saya lagi-lagi hanya bisa meminta maaf dan berduka kepadanya karena saudarinya telah dirugikan gara-gara foto saya. Sekalipun saya sendiri termasuk korban atas tindakan keparat itu. 

Sumpah, saya capek banget dapat laporan begini hampir setiap tahun. Mana kali ini kelihatannya sangat serius, sebab si pelapor sempat bilang ingin menyeret kasus ini ke ranah hukum.

Saya sih jelas enggak takut karena tak merasa bersalah, dan betulan tak tahu atas permasalahan yang terjadi. Saya pun bisa membuktikannya lewat bukti-bukti. Misalnya, foto yang digunakan si Made juga pernah dipakai oleh oknum bernama Aryoga Dinan Rajasa. Mentang-mentang ada nama ‘Yoga’-nya, terus dia bisa semena-mena menggunakan wajah saya sebagai topeng? Kurang ajar! 



Yang menjadi pertanyaan saya lagi, apakah para korban benar-benar belum melek internet? Masih terlalu lugu? Entahlah. Saya sih berusaha banget untuk tidak menyalahkan korban. Biar bagaimanapun mereka telah dirugikan oleh manusia-manusia jahanam tersebut. Tapi, kali ini saya berharap kepada siapa pun yang membaca tulisan ini agar lebih berhati-hati di internet.

Jika waktu itu Dinan Rajasa mencantumkan domisili di Surabaya, lalu kali ini si Made di Bandar Lampung, sementara saya sendiri tinggal di Jakarta, saya pikir itu sudah jadi bukti yang kuat bahwa mereka mencuri foto saya. Perhatikan juga informasi lain tentang akun tersebut seperti riwayat sekolah, kuliah, dan pekerjaan. Mana mungkin saya sekolah di Las Vegas, kuliah di Universitas Indonesia, serta menjadi marketing di Pertamina. Saya enggak setajir itu. 

Hawa ingin menangis pun tiba-tiba pergi sewaktu saya membaca kebohongan yang keterlaluan tololnya. Meski begitu, saya juga tak bisa tertawa. Aneh sekali. Mungkin kondisi hati ini telanjur dibikin hancur lebur oleh kabar terkutuk. 

Saya berniat memulai hari dengan baik kok malah jadi berantakan begini, sih? Ya Tuhan, saya betulan mau nangis ketika mengetahui ada manusia yang berbuat jahat di dunia maya pakai foto-foto saya. Izinkan saya meneteskan air mata supaya lega. Sialnya, cairan bening ini tetap tak kunjung mengucur. Apakah saking nelangsanya, sehingga tangisan tak mau keluar? 

Yang bikin saya semakin sedih lagi ialah foto sampul si pencuri identitas yang menggunakan foto saya zaman bocah. Anak itu wajahnya masih polos. Belum tahu apa-apa tentang kejahatan, dosa, apalagi penderitaan hidup. Jangan rusak senyuman manisnya. Jangan jadikan dia sebagai tameng dalam berbuat jahat. Kontol asu! Saya betulan enggak terima!

Kenapa para penipu tai ini begitu niat dalam melancarkan aksinya? Kenapa kalian, wahai para pencuri identitas, mengubek-ubek foto Instagram saya dengan niat sekeji itu? Saya punya salah apa, sih? 

Sejak pagi sampai sekarang saya terus merenung, apakah saya memiliki kesalahan fatal sama seseorang hingga dapat balasan semacam ini? Oke, saya akui diri ini terkadang suka kelewat batas dalam mengkritik tulisan orang lain. Tapi, saya harap mereka bisa gantian membalas tindakan itu dengan mengejek balik tulisan-tulisan saya di blog. Kritik dibalas kritik, ejekan dibalas ejekan. Biar adil. Jangan menyerang dengan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan menulis, atau memfitnah, lebih-lebih memakai identitas saya buat merugikan orang lain. 

Apakah ada orang-orang yang dendam terhadap saya? Sekiranya ada, kamu tak perlu libatkan orang lain. Selesaikan langsung urusan itu sama saya. Kalau mulut atau kata-kata saya pernah melukai hatimu, silakan gantian hina saya sepuasnya. Saya tak akan keberatan. Namun, saya minta jangan pernah bawa-bawa orang tua, khususnya ibu saya. Umur saya sudah masuk kategori dewasa, saya akan berusaha bertanggung jawab sepenuhnya akan kesalahan diri sendiri. Seandainya itu memang ada. 

Saya sungguh tak ingin menuduh siapa-siapa atas kejadian yang sedang saya ceritakan. Saya pikir palingan ini juga orang asing atau oknum yang kebetulan menggunakan foto saya. Itu konsekuensi dari keteledoran saya yang bisa-bisanya memamerkan banyak potret diri di blog. Lucunya, pikiran saya terlalu liar untuk terus menerka-nerka sekaligus menyalahkan diri sendiri.

Berhubung peristiwa ini lagi-lagi korbannya perempuan, saya pun bertanya kepada diri sendiri: apakah saya pernah menjahati seorang perempuan? Apakah hal ini bentuk dari karma? Seingat saya, saya tak pernah melecehkan perempuan ataupun bertindak macam-macam dalam enam tahun terakhir—ini batas kemampuan saya mengingat. Toh, sekitar 2012-2014 saya lebih sering jadi korban sakit hati oleh perempuan (diselingkuhi, misal), makanya tak mau menggali kenangan lebih jauh. Pada tahun berikutnya hingga saya terakhir pacaran, apakah ada salah satu mantan saya yang teramat sakit hati, sampai-sampai menyumpahi saya hidup sial dan menderita? Saya tak tahu. Saya harap, sih, enggak ada. Biarpun saya pernah memutuskan hubungan secara sepihak (alasannya: saya tak mau berpura-pura ataupun membohongi diri bahwa perasaan sayang saya kepadanya itu memudar, kemudian lenyap), saya percaya mereka baik-baik. Selepas benar-benar putus pun saya tak ada sedikit pun niat untuk mengusik mereka, lalu berusaha mendoakan mereka yang baik-baik. Semoga ini memang bukan karma, melainkan hanya nasib apes lantaran saya mengunggah banyak foto diri di blog. 

Berbicara soal karma, apakah para pelaku kejahatan itu tak pernah kepikiran dan takut sama hukum alam, ya? Bagaimana jika mereka suatu hari gantian dibalas yang lebih parah? Bagaimana kalau saya mengutuk mereka? Doa orang teraniya itu konon terkabul, kan? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan barusan itu, terkadang saya ingin tahu, apa orang-orang kayak mereka tuh bisa tenang dalam menjalani hidupnya? Saya yang berusaha hidup normal tanpa punya maksud dan keinginan berbuat jahat aja sering terkena gangguan kecemasan. Bagaimana dengan mereka? Apakah enggak memiliki perasaan bersalah? Daftar pertanyaan ini bisa terus bertambah dan mungkin tak akan ada habisnya. Rumit banget ternyata untuk memahami hal-hal jahat atau kenapa manusia melakukan kejahatan. 

Saya tak mau mengklaim diri ini termasuk manusia baik, juga sadar diri bukanlah orang jahat, tapi anehnya salah seorang teman cewek yang berdomisili di luar Jabodetabek (saya lupa letak percisnya) pernah bilang bahwa saya “jahat banget” cuma karena saya tak bisa menemuinya kala dia sedang bertandang kemari. Saya kebetulan lagi sibuk-sibuknya sama urusan kantor yang tak bisa ditinggal, sehingga kerja pagi dan pulang terlalu malam, lalu dia sudah keburu balik ke tempat asalnya. Apakah hal itu termasuk jahat? Bisa jadi. Dari sudut pandangnya dia mungkin menganggap saya hanya cari-cari alasan. Hm, bukankah yang jahat sebetulnya dia karena sudah menuduh? 

Sepertinya semua manusia punya sisi jahat, ya? Tingkatannya aja yang berbeda-beda. Ada yang jahatnya cukup terjadi sebatas di kepala atau imajinasinya, ada pula yang melakukannya secara nyata. Ada yang berbuat jahat sebab tabiatnya memang buruk, ada juga yang terpaksa atau dalam keadaan terdesak. 

Membaca atau menonton berita kejahatan selalu bikin saya sedih, marah, jengkel, dan putus asa. Saya merasa frustrasi karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi, lebih-lebih menghentikan, kejahatan di dunia ini. Emosi semacam itu dinamakan: kuebiko. Terus, bagaimana jika saya yang sewaktu-waktu menjadi korban kejahatan itu? Silakan bayangkan sendiri.

Waktu itu, saat benar-benar kurang kerjaan, saya sempat mencari-cari artikel terkait hal jahat, lalu menemukan esai A. S. Laksana tentang otak manusia penjahat. Katanya, ada bagian otak yang bernama amigdala. Bagian ini berperan dalam merespons emosi (marah, takut, sedih, dan sejenisnya). Intinya, manusia yang volume amigdalanya kecil bisa tiga kali lebih kasar, agresif, dan psikopat dibandingkan manusia normal. Orang-orang itu hampir tak punya rasa takut, sulit berempati sama orang lain, serta tak mengenal belas kasihan.

Saya tiba-tiba terkenang dengan suatu adegan di komik Black Clover, ketika salah satu ksatria sihir mempertanyakan kenapa kelompok penjahat melakukan hal-hal berbahaya? Nacht—wakil kapten dari grup Banteng Hitam yang memiliki iblis di dalam dirinya—pun menjawab begini: “Tak ada alasan untuk mengerti mereka. Para bajingan yang menyakiti orang lain karena kehendaknya sendiri, tak akan memiliki rasa kepedulian selama diri mereka baik-baik aja, serta tak punya rasa bersalah atas perbuatan mereka. Kejahatan di luar akal sehat, aku paling membenci mereka. Bahkan, jika Tuhan dan iblis mengampuni mereka, aku sendiri tak akan pernah.”





Saya merasa terwakilkan oleh jawaban Nacht. Bedanya, saya masih berupaya buat memaafkan kejahatan-kejahatan yang pernah menimpa diri saya maupun orang-orang terdekat. Meskipun saya tak berani menjamin untuk bisa melupakan kebiadaban kalian yang menjahati saya. Sampai kapan pun. Sampai kita bertemu di neraka.

--

Tambahan: Saya enggak pernah—dan berusaha tak akan pernah—menggunakan aplikasi kencan daring semacam Tinder, OkCupid, dan sejenisnya. Seandainya ada yang menggunakan nama maupun foto saya, itu jelas bukan diri saya. Jadi, jangan mudah terkecoh dan berhati-hatilah di internet.

Gambar pembuka saya comot dari Pixabay, sedangkan komik itu saya screenshoot dari https://read-blackclovermanga.com/manga/black-clover-chapter-263/
Read More
Tulisan berikut ini sangatlah tidak penting bagi pembaca. Ini hanya catatan personal yang saya tulis khusus demi mengenang masa-masa kegembiraan bermain gim—yang sebelumnya sempat saya bahas di Takut Mati dan Penyelamat Jiwa. Pendek kata, saya cuma ingin bernostalgia. 

-- 



Bermula dari keisengan merapikan fail-fail di laptop, saya menemukan salah satu folder bernama User Data yang setelah dibuka isinya berupa foto-foto dalam suatu permainan. Entah itu foto yang saya screenshot dengan sengaja ataupun yang tersimpan otomatis dari sistemnya. Kenangan di kepala pun muncul satu per satu setiap kali saya memandangi gambar-gambar tersebut. Hal ini mirip sebagaimana saya sedang membuka album foto lawas yang penuh debu dan kusam. Sekalipun saya tahu ini bukan potret diri zaman saya bocah maupun sosok orang tua yang masih muda, apalagi gambarnya juga tidak dipotret menggunakan Kodak yang pastinya bernilai sentimental, tetap saja ada perasaan terharu bercampur gembira kala melihat sesuatu yang dulu sangat akrab dan kini berubah asing.

Mayoritas foto ini sebetulnya cuma berbentuk transaksi dalam gim yang terekam otomatis agar nantinya bisa dilaporkan seumpama terjadi penipuan. Meskipun begitu, memori saya ternyata masih sanggup mengingat kejadian-kejadian ketika membaca potongan percakapan dan nama karakter di gambar itu. Saya lantas memilah beberapa foto untuk diceritakan sesukanya. Tanpa berbasa-basi lebih lama lagi, inilah omong kosong saya yang tak perlu dipercaya. 


Teman akrab pertama dalam berburu monster

Memainkan online games dan mengalahkan monsternya sendirian bagi saya tak ada bedanya dengan main offline games. Apa yang membuat perburuan monster terasa asyik? Bagi saya sendiri tentu karena bisa mengalahkannya bersama-sama dalam satu kelompok—dalam gim biasanya disebut party, maksimal 6 orang. Ketika level karakter tak kunjung naik dan rasa jenuh mulai menyergap (kerap dirasakan oleh pemain level 100 ke atas), kita bisa berinteraksi dengan pemain lain untuk mengusir kebosanan itu. 

Sialnya, jika kau benar-benar memulainya dari awal, pastilah terasa sulit menemukan kelompok berburu. Permainan yang saya maksud ini memang terasa menjengkelkan bagi seorang pemula. Selain keadaan karaktermu yang kere, daftar jurus yang dapat dipakai buat membasmi monster masih sedikit sekali, lalu daya serangnya payah, serta pertahanan pun lemah. Namun, berdasarkan pengalaman saya bermain, kebanyakan pemain di bawah level 100 lebih senang membayar level tinggi untuk menolong mereka dalam menaikkan level (dalam bahasa gim: minta GB alias game boosting). Bukankah pemula itu semestinya tak punya cukup uang buat membayar level tinggi? Tentu saja. Tapi selalu ada jalan lain dalam setiap permasalahan bagi mereka yang memiliki banyak harta di dunia nyata. Manusia sejenis ini bisa menukar uang sungguhan dengan duit di permainan. Mirip dengan sistem politik, bukan? Selama ada uang, naik level mah gampang banget. 

Lantas, bagaimana dengan nasib para pemain yang tidak memakai cara itu? Sudah jelas tertatih-tatih seperti saya. Sedari level 1-40 saya benar-benar membasmi monster sendirian (meski tak jadi masalah karena masih tergolong mudah). Setelah mencapai level 60-80, yang harusnya mulai berburu secara berkelompok, saya tetap jarang menemukan pemain lainnya. Jika nekat melawan monster sendirian pada rentang level tersebut, kira-kira membutuhkan waktu satu jam nonstop baru bisa naik level. 

Mengapa gim itu seakan-akan tampak sepi? Bukankah servernya internasional? Karena sebagian pemain lebih senang membasmi monster pada jam-jam tertentu, khususnya saat ada bonus EXP. Jadi, setiap Senin-Kamis pada jam yang telah ditentukan terdapat momen istimewa, yaitu bonus EXP berlipat ganda selama 4 jam. Sedangkan Jumat-Minggu waktu spesialnya selama 5 jam dan bonusnya 3 kali lipat. 

Bisa dibilang sebagian besar permainan itu saya nikmati sendirian dari level 1-80. Saya sih berusaha tidak memusingkannya, sebab saya bermain gim buat menghilangkan beban berat di kepala, bukan malah menambah mumet. Berhubung saya juga sudah pernah memainkannya sejak SMP dan tahu celah-celahnya, saya jelas bisa bersikap santai. Saya memiliki berbagai cara supaya cepat menaikkan level tanpa harus merogoh kocek. Seperti melewatkan misi-misi tak penting, lalu lebih memfokuskan diri ke misi yang berpengaruh ke dalam cerita permainan itu. 

Kala sedang menjalankan misi level 81 itulah saya akhirnya bisa bertemu dengan Kelso, kawan pertama saya. Dia bertanya apakah saya punya sejumlah shuriken—barang yang diperoleh sehabis membunuh Ninja Terkutuk. Saya kebetulan memilikinya. 

“Gue kurang 16 lagi nih. Punya lu boleh dibeli?” ujarnya. 

“Ya ampun, segala beli. Ambil aja nih.” 

Dia lantas mengucapkan terima kasih dan menambahkan saya ke daftar teman. 



Pada level 81-100 kami akhirnya rutin berburu monster bersama. Sayangnya, kebersamaan itu berumur terlalu singkat. Setelah Kelso mencapai level 101, dia perlahan-lahan meninggalkan saya. Dari yang awalnya perbedaan itu masih sebatas 1-2 level, lalu berubah belasan level, hingga puluhan level. Meski begitu, Kelso masih sering berinteraksi dengan saya. Baik itu sebatas bertukar barang untuk suatu misi, membantu saya mengalahkan bos para monster, ataupun seremeh menyemangati saya agar lekas menyamakan levelnya.

Tai, dia pikir gampang apa? Saya kan enggak seniat itu dalam bermain gim. Tujuan saya memainkannya cuma buat melarikan diri dari kenyataan. Simpelnya: mengusir pikiran-pikiran jahat di kepala sekalian mencari teman mengobrol. Toh, tak lama setelah itu saya pun terpaksa vakum lantaran mulai merasa sembuh dari depresi. Saya kembali melanjutkan hidup dengan sibuk bekerja. 

Pada suatu hari Minggu sekitar 1,5 tahun kemudian, tepatnya ketika saya ingin bernostalgia memainkan gim itu lagi, saya mendapati nama Kelso yang sudah mencapai level mentok: 180. Kurang ajar. Itu anak kayaknya punya banyak waktu luang dan rajin bermain. Sayang, semenjak itu saya belum melihat dia online lagi sampai di penghujung 2018. Mungkinkah dia juga mulai sibuk di kehidupan nyata? Anggap saja demikian. Entah di mana dia berada sekarang, saya cuma mau berterima kasih sebab telah menjadi kawan pertama saya di gim. 


Sok kenal sok dekat akan membuatmu malu setengah mampus 



Setelah merasa akrab dengan Kelso, saya sempat sok kenal sama seseorang di gim gara-gara nama karakternya HawHaw. Haw merujuk kepada nama Hawadis, salah satu kawan bloger. Saya memulai percakapan dengan bertanya, “Haw, kamu orang Indonesia?” menggunakan bahasa Inggris. Selepas dia menjawab “iya”, saya langsung bertanya lebih lanjut tentang orang Kalimantan dan dia lagi-lagi menjawab benar. Biarpun karakter HawHaw di gim itu perempuan, saya yakin dia aslinya seorang lelaki dan mencoba memastikannya dengan bertanya lagi. 

“Iya, aku aslinya cowok. Apakah kamu kenal aku?” tanyanya. 

“Kamu bloger dari Pontianak, kah?” 

“Bloger? Apa itu?” 

Saya bilang, tolong jangan pura-pura goblok ataupun berbohong. 

“Tapi, aku betulan enggak tahu apa itu bloger.” 

Saya menyebutkan beberapa nama bloger lainnya. 

“Aku enggak kenal mereka. Lagian, aku asalnya Banjarmasin, Bro.” 

Saat membaca kata ‘bro’, saya langsung sadar bahwa Haw sepertinya tak pernah memakai sapaan itu kepada saya. 

“Ya, Allah. Maaf ya, saya salah orang.” 

Dia pun meledek saya dengan emoji melet dan “wkwkwk”. Anjing, rasa malu itu masih terasa sampai sekarang. Enggak lagi-lagi deh saya sok akrab kayak begitu. Konyolnya, berkat sifat SKSD itu setelahnya kami justru berkawan baik di gim. Sampai-sampai dia rela menjual murah beberapa barang khusus buat saya.


Memenangkan hadiah dari GM 

Keberuntungan itu datang ketika kondisi finansial saya di gim lagi hancur-hancurnya. Uang saya tinggal 4 juta. Sekere-kerenya pemain, level 100-an itu seminimalnya memiliki uang senilai 20 juta untuk membeli obat pengisi darah maupun mana—energi untuk mengeluarkan jurus-jurus. Siapa sangka, dalam keadaan bokek itu tiba-tiba sang GM (Game Master) mengadakan kuis buat para pemain. Jenis kuisnya adalah tebak-tebakan OX. Jadi, sang GM mengumpulkan beberapa pemain ke dalam suatu ruangan yang terdapat dua altar. Satu altar memiliki simbol O, dan yang lainnya X. GM itu nantinya membuat pernyataan yang harus dijawab dengan benar atau salah. Contohnya, GM melemparkan pernyataan: “Simbol unsur kimia emas adalah G”. Para pemain tinggal berdiri di salah satu altar itu antara O dan X sembari menunggu jawabannya muncul yang dihitung mundur selama 10 detik. Bagi pemain yang salah menebak otomatis akan mati, yang benar akan dibiarkan hidup, hingga akhirnya menyisakan satu pemain. 

Walaupun kemampuan bahasa Inggris saya saat itu jauh dari kata “mendingan”, saya jelas tahu pernyataan itu keliru, sebab simbol yang benar adalah “Au”. Lucunya, masih banyak yang salah. Kira-kira ada belasan peserta yang gugur di soal pertama. 

Singkat cerita, sehabis GM melemparkan 6 pernyataan, saya menjadi satu-satunya pemain yang tidak mati. Apakah saya cerdas? Oh, sama sekali bukan. Ada dua soal yang tidak saya ketahui, dan salah satunya saya jawab dengan mengikuti suara terbanyak. Namun, mengikuti suara terbanyak belum tentu membawamu pada kebenaran. Karena pada pernyataan terakhir itulah saya menjadi satu-satunya yang bertahan berkat suara minoritas. 

Seingat saya, pada soal terakhir itu pemain yang tersisa tinggal empat—termasuk saya. Soal yang diberikan oleh GM adalah bidang matematika dan saya belum sempat menghitung. Pokoknya, ada satu pemain yang segera berpindah ke altar sebelah kala waktu tersisa tinggal 3 detik (mungkin dia mampu menghitung cepat), dan pemain lainnya mengikuti. Saya yang sudah kehabisan waktu tentu tak bisa pindah dari altar sebelumnya.

Hal yang tak terduga, jawaban saya itulah yang tepat. Mungkinkah ini suatu kemujuran karena karakter saya bernama TakutMati? Anggap saja begitu. Yang terpenting, berkat kuis itu saya jadi memperoleh guci spesial yang harga jualnya senilai 2 miliar di gim, sedangkan di realitas 200 ribu. Alhamdulillah. 



Menolong teman yang kesusahan 

Setelah mencapai level 90-an, saya pun berhasil mendapatkan segelintir teman. Selain Kelso dan Haw dan beberapa teman lain yang saya lupa namanya, saya ternyata bisa memperoleh teman perempuan yang kebenarannya telah terbukti. Dia sempat memberi tahu saya akun Instagram-nya, dan begitu saya cek itu ternyata benar-benar akun asli. Dia merupakan gadis berparas oriental asal Medan yang bernama Wina. 

Kalau sebelumnya saya hampir tak pernah membuka diri tentang permasalahan hidup di gim itu, entah mengapa saya bisa dengan gampangnya mengeluarkan unek-unek kepada Wina. Apakah curhat sama lawan jenis itu terasa lebih menyenangkan? Mungkin. Apakah saya naksir Wina? Oh, ayolah, pada usia 20 itu saya bukan lagi cowok yang dengan entengnya menaksir lawan jenis sebelum adanya perjumpaan secara langsung. Saya akui Wina memang pendengar yang baik. Tapi, hubungan kami jelas sebatas teman berburu monster di gim sambil sesekali curhat. Sebab, pikir saya kala itu, Wina adalah orang asing. 

Saya kebetulan saja sedang membutuhkan seorang pendengar yang tidak mengenal saya secara personal. Karena terakhir kali saya bercerita sama seorang sahabat di kampus, jawaban yang saya peroleh justru terasa jahanam. Alih-alih membuat saya lega, yang ada cuma penghakiman begini dan begitu. Itulah yang bikin saya kian depresi dan menutup diri dari orang-orang di sekitar. Dengan kata lain, posisi Wina saat itu betulan cocok banget sebagai pendengar. Lagi pula, usia dia juga dua tahun lebih tua daripada saya. Dia sudah lebih banyak menelan getirnya kehidupan. Secara tak langsung sifat seorang kakak pun muncul dalam dirinya. Ya Allah, Wina ini baiknya kebangetan, padahal saya bukan siapa-siapa. 

Atas kebaikan Wina itulah saya rela gantian menolongnya setiap kali dia membutuhkan bantuan di gim. Ya, sekalipun bantuan itu tampak remeh. Omong-omong, apakah pertolongan di gim itu ikut dihitung sebagai pahala? Terlepas dari pertanyaan goblok itu, pada level 99-100 Wina meminta bantuan saya buat membasmi monster Pohon Terbakar. Saya sendiri sudah level 102, terbebas dari area Menara Kegelapan—tempat berburu bagi level 81-100. Monster yang mesti kami lawan ini memiliki kekuatan refleksi. Jadi, setiap kali saya menyerang monster itu, ia bakalan mengembalikan serangan saya sebanyak 30 persen. Baru dua kali terkena serangan balik aja itu karakter saya pasti langsung tewas. Bukankah kalau mati bisa hidup lagi? Iya, tapi setiap kali karakternya koit EXP akan berkurang sebanyak 2 persen. Kami pun tak punya pilihan lain dan terpaksa menggunakan pet (hewan peliharaan) untuk menambah pertahanan sekaligus sebagai penerima serangan monster itu. 

Celakanya, harga makanan hewan ini termasuk mahal sekali. Dalam satu jam, kira-kira karakter level 99-100 ini harus menghabiskan 20 juta cuma buat membeli seribu pakan hewan. Baguslah Wina begitu pengertian ketika saya jelaskan kondisi lagi bokek, lalu dia bersedia membagi sebagian stok makanan hewan miliknya. 



Kenapa dia baik banget, ya? Apakah karena Wina telah terpikat sama foto-foto saya di Instagram? Oke, ini sepertinya saya kepedean. Belakangan diketahui, Wina juga sudah punya pacar. Baguslah saya sejak awal enggak gampang naksir. Terasa konyol jika kami jadian karena sebuah permainan. 


Memberikan baju gratis 

Vakum selama 1,5 tahun membuat permainan itu terasa asing sekali buat saya. Teman-teman yang dulu saya kenal baik sudah mencapai level 150 ke atas, sedangkan saya masih bertahan di level 120 ke bawah. Saya seakan-akan tak punya teman berburu lagi. Saya pun iseng bikin karakter baru. Jika sebelumnya profesi saya adalah ninja, kali ini saya mengetes profesi penyihir dengan nama karakter sinestesia. Nama itu saya ambil dari album terbaru Efek Rumah Kaca. 

Saya berhasil mencapai level 100-an dalam waktu dua minggu. Pada suatu momen saat lagi berburu monster, salah satu teman saya mendadak mengeluh, “Gila, sakit banget ini serangan monsternya.” 

Saya pun menimpali, “Memangnya kamu enggak isi VIT (vitalitas, status karakter yang menambahkan jumlah darah dan pertahanan)?” 

“Udah isi, kok. Tapi ini rasanya sakit karena baju yang aku pakai masih level 20.” 

Beberapa anggota di grup berburu itu termasuk saya lantas mengetik “hahaha” ataupun “wkwkwk”. 

“Kocak. Bukannya beli deh di pasar,” ujar yang lain. 

“Masalahnya, di pasar enggak ada yang jual.” 

Saya mengecek kotak peralatan dan mendapati baju perempuan yang sesuai profesinya. Saya pun mengetik, “Aku ada nih, tapi baju level 90. Mau?” 

“Mau banget.” 

Kami segera teleportasi ke kota terdekat menggunakan gulungan ajaib dan bertransaksi di sana. 

“Berapa harganya?” 


Ketika saya ingin menyebut nominalnya, saya spontan teringat dengan kebaikan Wina dulu. Lagian, saya juga tidak membutuhkan baju itu. Sudah waktunya saya gantian berbuat baik sama orang lain. Pertemanan saya bersama Kelso pun berawal dari memberikan barang secara cuma-cuma. Jadilah saya gratiskan saja. Dia pun langsung girang bukan main selepas menerima baju tersebut dengan mengetik, “Aku terharu banget masih banyak orang baik di game ini.” Kebahagiaan itu ternyata sederhana sekali. 


Iseng main karakter perempuan 

Saya lagi-lagi membuat karakter baru demi bisa mencoba profesi lainnya. Bedanya, kali ini saya memilih jenis kelamin perempuan. Apakah saya punya niat menipu cowok-cowok lugu? Enggak sama sekali. Ini murni siasat mengatasi kemiskinan, sebab saya habis dikasih tahu sama salah seorang kawan bahwa barang-barang karakter perempuan harganya jauh lebih murah ketimbang laki-laki. Kalau di kehidupan nyata, konon barang-barang cewek yang justru mahal banget, ya? 

Percobaan karakter cewek pertama saya terasa gagal total karena salah menaikkan status maupun jurus. Nama tokohnya juga terasa enggak banget. Itu nama gebetan yang gagal saya jadikan pacar di cerita Es Campur. Meski demikian, karakter gagal itu sempat menerima enam boks senjata gratisan dari salah seorang kenalan. Entah karena saya disangka cewek, atau sebagaimana ujaran pemuka agama: “sebuah kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat kebaikan”. 


Mencoba jurus baru dan mengalahkan Dokebi 



Karakter cewek kedua saya bisa dikatakan berhasil. Terbukti saya rela menekuninya hingga mencapai level 137. Potret berikut adalah karakter saya lagi menjajal jurus terbaru (kemampuan yang baru bisa didapatkan setelah karakternya mencapai level 136) dan iseng mengalahkan Dokebi Raksasa seorang diri. Sekalipun cara terbaik membunuhnya adalah dengan berkelompok, saya hanya ingin mengetes seberapa jagokah saya dalam memainkan gim ini. Saya diberikan waktu 30 menit untuk bisa menumpas Buto Biru itu, dan saya berhasil ketika waktu baru berjalan 9 menit. Terlalu gampang rupanya. 


Level 150-an dan membeli sub pet 


Saya kira ini pencapaian terbesar saya dalam memainkan gim. Setelah karakter TakutMati berhenti di level 149 lantaran saya lupa kata sandinya, akhirnya level tertinggi yang bisa saya tempuh adalah 154. Nama karakter cewek itu sengaja saya rahasiakan supaya tak ada yang mengenalinya. 

Kebanyakan barang di gim itu pun saya dapatkan dengan mengumpulkan uang sendiri (hasil membasmi monster, berdagang, menang lotre, dan sebagainya) tanpa harus membeli voucer. Beberapa peralatan khusus, begitu pula pet dan sub pet, yang mestinya dibeli pakai uang asli pun cukup saya bayar dengan duit di gim. Tanda bahwa keuangan saya di permainan itu meningkat secara signifikan ketimbang karakter-karakter sebelumnya. 


Penutup

Selain hal-hal baik dan membahagiakan barusan, dalam suatu permainan saya juga pernah bersinggungan dengan bagian buruknya. Misalnya, saya berjumpa dengan manusia sialan yang gemar mengemis. Mereka tak mau berusaha sendiri terlebih dahulu. Sedikit-sedikit minta uang dan belas kasihan kepada karakter lain yang levelnya dia anggap jauh lebih tinggi. Padahal kan enggak semua level tinggi punya banyak uang. Ada pula yang pura-pura miskin dan hobi pinjam uang, tapi berengseknya enggak pernah dikembalikan sampai hari ini. Sampai penampilan karakternya tampak mencolok, yang sangat menjelaskan betapa tajirnya dia. Ataukah hidup berfoya-foyanya itu hasil mengutang?



Ah, masa bodohlah. Itu kan cuma gim. Biarpun saya bilang begitu, saya tahu betul bahwa kejadian-kejadian yang saya alami dan ceritakan di permainan virtual barusan ternyata sebagian besarnya juga bisa kita temukan di kehidupan nyata.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home