Setahun Setelah Peluncuran

15 comments
Mestinya tulisan ini sudah saya terbitkan sejak Agustus agar momennya pas dengan setahun peluncuran buku digital Fragmen Penghancur Diri Sendiri. Tapi atas dasar malu sekaligus minder, saya pun baru berani menampilkannya sekarang. Lagian, buat apa sih merayakan satu tahunan segala? Kayak bukunya penting aja. Jelas-jelas itu cuma produk gagal dari seorang penulis gagal. Meski demikian, bagi saya tak ada salahnya merayakan kegagalan. Kita semua pasti pernah gagal dalam suatu hal, bukan? Saya tinggal menerima kenyataan itu, lantas berdamai dengan diri sendiri. Barangkali merayakan kegagalan tidak seburuk yang saya pikirkan sebelumnya. Daripada saya terlalu banyak bacot di awal tulisan, lebih baik langsung saya suguhkan saja nonsens demi nonsens dalam mengenang momen satu tahunan menerbitkan buku digital ini.




Memulai tanpa banyak berharap dan menentukan tema

Sejak awal tahun 2019, saya ingin sekali menghadiahkan diri sendiri saat nanti berulang tahun yang ke-24. Saya bermaksud membuat kado berupa buku kumpulan cerita yang saya tulis sendiri. Berhubung saya sempat punya mimpi untuk menerbitkan buku (baik itu digital maupun cetak) sebelum saya meninggal, saya kira itu bisa menjadi hadiah yang sungguh berkesan. Sayangnya, niat itu tak bisa berjalan lancar karena saya gemar menunda-nunda. Selain itu, saya juga sempat terlibat proyek cerpen bersama Loop pada Februari. Meskipun hanya memilah 10 cerita terbaik dari seluruh cerpen yang pernah saya tulis di blog, siapa sangka tak semudah kelihatannya dan cukup memakan waktu lama. Penyebabnya: sebagian cerpen saya kisahnya termasuk vulgar. Jadi, saya merasa kurang pantas untuk dibaca anak SMP hingga mahasiswa (target pasar mereka rentang usia 13-23). Toh, mereka pastinya memiliki aturan-aturan pula, seperti jenis cerpen apa yang memenuhi kriteria dan aman dikonsumsi. Maka, kerja sama itu baru benar-benar selesai—hingga saya menerima bayarannya—pada pertengahan April. 

Setidaknya, masih ada waktu sebulan lagi buat mengerjakan tulisan yang diniatkan sebagai kado kepada diri sendiri itu. Saya akhirnya berhasil menyunting lima cerpen sampai Mei datang. Saya ternyata enggak buruk-buruk amat dalam memulai proyek. Namun, jika saya mengacu pada buku-buku kumpulan cerpen yang pernah saya beli dan baca itu lazimnya berjumlah belasan cerita, berarti sedikitnya saya mesti mengumpulkan 6-10 tulisan lagi. Tersisa tiga minggu lagi sebelum hari ulang tahun saya tiba. Apakah saya mampu merampungkannya? Seandainya saya benar-benar fokus, pikir saya, sepertinya saya bisa mengumpulkan 2-3 tulisan dalam setiap minggunya. Baiklah, saya kudu lebih semangat. 

Niat baik tak selalu berjalan dengan baik. Bukankah saya sudah paham betul akan persoalan tersebut? Ide cemerlang ini pun kembali terhalang ketika saya tersadar bahwa bulan Mei itu bertepatan dengan puasa Ramadan. Sepertinya momen ini lebih cocok untuk fokus beribadah dan bermuhasabah, bukan malah menyelesaikan proyek tulisan, apalagi sampai memaksakan begadang. Mau tak mau, proyek itu mesti saya tunda hingga seminggu setelah Lebaran. 

Begitu hari Lebaran datang, saya justru merenung: Apa tema untuk cerpen-cerpen yang ingin saya kumpulkan ini? Mungkin banyak penulis yang membuat buku kumcer tanpa repot-repot memilih tema. Mereka hanya menyortir mana kisah yang menurutnya paling baik dan asyik dibaca. Namun bagi saya pribadi, pasti lebih menarik kalau ada benang merahnya. Akhirnya, niat untuk mengumpulkan cerpen-cerpen itu lenyap seketika. Saya sepertinya perlu mengonsepkannya terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh. Saya tak ingin terburu-buru dalam menciptakan karya. Toh, sudah telat juga untuk memberikan kado ulang tahun. 

Sembari menemukan gagasan untuk proyek buku dan mengisi waktu luang, saya pun menulis berbagai macam cerpen untuk ditaruh di blog. Hitung-hitung latihan menggali ide. Sejak 2018, saya memang memfokuskan blog sebagai tempat berlatih menulis fiksi. Nah, dari sekian banyak tulisan di blog yang pernah saya hasilkan, saya lantas tersadar dengan cerpen bikinan saya yang tokoh-tokohnya dominan berkecimpung di bidang tulis-menulis. Apa saya pilih tema ini aja kali, ya? 

Harus saya akui, saya memang kerap mencampuradukkan kehidupan pribadi dengan bumbu fiksi. Maka jadilah tulisan yang mayoritasnya seputar keresahan-keresahan dalam hidup saya, khususnya kepenulisan. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap cerita-cerita saya itu nyata semua, bahkan unsur mesumnya. Terlebih lagi penuturan ini semakin kuat sebab saya gemar menggunakan sudut pandang orang pertama dan kedua daripada orang ketiga. Walaupun rasanya konyol banget, sih, ketika kisah fiksi dianggap benar-benar terjadi. Selama membuat cerpen di blog ini saya padahal cuma mengambil secuil dari setiap kejadian yang saya alami. Saya lebih banyak memperhatikan orang-orang di sekitar. Saya curi pengalaman mereka, dan saya jadikan seolah-olah kisah itu milik saya. Sisanya saya serahkan pada imajinasi dan biarkan cerita bergulir dengan sendirinya. 

Jika tak salah ingat, sewaktu saya masih awal-awal belajar menulis cerpen, saya pernah membaca beberapa esai tentang pandangan penulis dalam menciptakan karyanya. Jadi, di mata para penulis—yang menurut saya sok paling benar ini, konon tema tulisan yang berhubungan dengan dunia di sekitarnya itu pastilah menjemukan. Tanda penulisnya payah atau malas riset atau terlalu banyak melihat ke dalam. Mereka bilang, seharusnya penulis bisa keluar dari zona nyamannya ataupun memberikan jarak terhadap kehidupan pribadinya. Bagi mereka, yang semacam itu namanya curhat, bukan cerpen. Cerpen itu sebaiknya bisa mengkritisi sesuatu hal. Atau bisa juga dikatakan seolah-olah dalam sebuah cerpen harus ada pesan moralnya. 

Tai, ah. Apakah karena opini sok tahu itu makanya kini banyak cerpen maupun novel dengan tema-tema politik dan kritik sosial? Coba aja lihat berapa banyak buku fiksi Indonesia dengan tema yang mengangkat peristiwa G30S/PKI dan tragedi 98? Terlalu sering diulang-ulang, kan? 

“Kenapa beberapa penulis yang memiliki gagasan besar dalam bukunya sering memperoleh penghargaan, tapi kalau dilihat dengan jelas akan tampak sekali kecakapan menulisnya yang kurang memadai?” ujar penulis favorit saya. 

Bisa dibilang mereka dipuji-puji setinggi langit dan menang penghargaan cuma karena berani mengangkat tema yang berat. Tapi kalau mau diukur atau dinilai dari seluruh aspek kepenulisan, kemampuan menulisnya belum pantas disebut bagus. Mereka mungkin mengerjakannya dengan payah karena sejak awal sudah keberatan tema. Tanpa bekal yang memadai, novel maupun cerpen yang menceritakan sejarah akan tampak seperti berita atau reportase. 

Lagian, kenapa sih kebanyakan penulis ingin sekali mengkritisi peristiwa-peristiwa sosial? Apa seorang penulis harus selalu menyampaikan kebenaran dan diwajibkan berkhotbah? Memangnya salah ya kalau mengisahkan kehidupan pribadi yang tampak remeh? 

Pertanyaan-pertanyaan itu pun membawa saya ke sebuah gagasan untuk mengkritik diri sendiri, sebab saya sendiri rupanya termasuk sok tahu dalam urusan tulis-menulis. Alhasil, saya mulai berpikir, kayaknya sah-sah aja jika seorang penulis membicarakan tentang kepenulisan dan dunia di sekitarnya. Selama digarap dengan terampil, tulisan sepele tentang seorang tokoh yang pergi ke warung untuk membeli camilan pun bisa jadi sangat bagus daripada membicarakan ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya yang dikerjakan secara sembrono. Jadi, tulisan dengan tema apa pun, selama ditangani oleh orang yang tepat, pastilah hasilnya akan ciamik dan enak dibaca. 

Lantaran pemikiran semacam itulah saya akhirnya berani mengumpulkan sebelas cerita kehidupan para penulis yang bertanya tentang faedah dari menulis. Betulkah menulis itu dapat menyembuhkan? Bukan malah menghancurkan dirimu sendiri? 

Terlepas dari buku itu pada kemudian hari mungkin akan saya sesali, setidaknya saya telah berani memulai. Saya sudah mencoba menciptakan sesuatu yang memang sejak lama saya inginkan. Semakin saya membaca buku-buku bagus, yang ada saya malah bertambah minder jika terus-terusan menunda bikin kumcer itu. Kenapa saya takut memulai? Kenapa bukan dari dulu? Kenapa baru sekarang? Semua itu karena saya takut menghasilkan tulisan jelek. Saya lama-lama akhirnya mulai mengakui bahwa diri ini termasuk perfeksionis seperti yang tertera di sebuah artikel tentang manusia bergolongan darah O dan zodiak Gemini yang pernah saya baca. 

Saat keraguan saya kembali menyerang, bagusnya tiba-tiba muncul pemikiran begini: “Kamu mau menunggu sampai kapan? Bagaimana kalau kamu keburu mati sebelum menyelesaikan buku itu karena keseringan berpikir ‘nanti aja’?” dan “Kalaupun kamu kelak berhasil menghasilkan karya pertama yang menurutmu sangat bagus, bukankah itu akan menjadi beban tersendiri? Kamu justru jadi takut menghasilkan karya kedua dan seterusnya gara-gara minder sama karya sebelumnya, kan? Jika karya pertamamu terdapat bagian buruknya, itu tandanya kamu bisa memperbaikinya di proyek berikutnya agar lebih baik dari pendahulunya. Maka, mulailah dengan segera tanpa banyak berpikir dan berharap.” 

Dengan modal bismillah, saya pun berhasil menyelesaikannya dan mulai memberitahukan sekalian promosi kalau saya baru saja membuat buku digital pada awal Agustus 2019. Saat memutuskan untuk menjualnya, saya tidak banyak berharap bakal ada ribuan orang yang membelinya. Saya bisa menyelesaikannya aja sudah gembira bukan kepalang. 


Sebulan setelah peluncuran 

Ternyata ada beberapa teman yang sudi mengunduh versi gratisnya. Lalu, pada hari berikutnya ada yang membelinya juga. Saya bahkan kaget ketika ada segelintir orang yang nyaris tidak pernah komentar di blog tiba-tiba menghubungi saya untuk membeli buku digital tersebut. Saya semakin tak menyangka setiap pagi dalam seminggu pertama selalu ada yang membelinya. Ini berarti mirip sama pedagang-pedagang di luaran sana. Entah itu jual makanan, pakaian, ataupun jasa. Yang penting produknya ada terlebih dahulu, barulah pembeli berdatangan. Kalau tak ada barang ataupun jasa yang ditawarkan, siapa coba yang mau beli? 

Namun, ini semua betul-betul di luar dugaan saya. Rupanya masih ada orang-orang yang berusaha mendukung saya di bidang ini dengan membeli apa yang telah saya ciptakan. Mereka tidak cuma memberikan apresiasi di kolom komentar, melainkan ada juga yang memberikan bukti secara nyata dengan membayar lebih mahal dari harga jualnya. Saya lantas berharap semoga mereka bisa menikmati kisah-kisahnya. Entah itu terhibur, ikut merenung, atau justru terbawa perasaan sedihnya dan merasa terwakilkan. Pokoknya, mereka bisa menikmati ataupun menghikmati tulisan saya. Syukur-syukur saya malah dapat saran dan kritikan untuk menciptakan yang lebih keren. 

Sementara itu, jika saya melihat sisi negatifnya (tentu saya perlu berjaga-jaga akan hal ini), saya akan berusaha untuk bisa kuat dan tahan dalam menerima cacian tersebut. Sekiranya nanti mereka kurang menyukai isi cerita itu karena berharap terlalu tinggi atau jenis bukunya bukan seleranya, semoga tidak sampai menyesal telah mengeluarkan uangnya. Apalagi kalau mereka sampai berkata, “Mendingan saya beli makanan deh ketimbang buku sampah itu.” 

Apa pun yang kelak terjadi, saya cuma mau mengucapkan terima kasih buat orang-orang yang sudah bersedia membelinya. Terima kasih juga buat diri sendiri yang telah berhasil memulai. Terima kasih sudah berani dan mengalahkan sisi lain dirimu sendiri yang terlalu pengecut itu. 


Satu semester setelah peluncuran 

Sejak bulan ketiga sudah tak ada yang membelinya. Total pembelinya cuma belasan orang, tak sampai dua puluh. Apakah saya sedih? Lumayan. Meski saya tak berharap banyak, saya pikir seminimalnya ada 50 orang yang bersedia membelinya. Ini setengah dari 50 aja enggak kesampaian. Ya Tuhan, saya jadi ingin memaki sekaligus mentertawakan diri sendiri kalau begini jadinya. Anjinglah, ini betul-betul lucu banget. 

Sudah enam bulan berlalu dan tak ada satu pun komentar atas buku tersebut. Apakah mereka sungkan untuk memberikan penilaian kepada karya saya? Apakah mereka telah membacanya sampai habis? Apakah mereka cukup sebatas membelinya dan baru baca sebagian—atau malah belum sama sekali? Terus, apakah ada yang terpaksa membelinya hanya karena kami berteman dan merasa tidak enakan? 

Apa pun itu, saya bisa memakluminya, sih. Memang sulit dalam mengomentari karya kawan sendiri. Pasti ada rasa cemas dan takut seandainya kita mengkritik dan berkomentar buruk, kemudian hubungan pertemanan itu berubah retak. Yang jelas, saya bukan orang yang dengan gampang memutuskan pertemanan cuma gara-gara tulisannya diejek. Saya termasuk santai. Saya enggak antikritik. 

Sejujurnya, saya juga tak masalah dengan mereka yang tidak membelinya. Saya tak mau mereka mengeluarkan uang karena ada desakan “sesama teman harus saling mendukung dong”. Enggaklah, kamu tak perlu merogoh kocek jika tak ada keinginan membeli dan membaca. Kita masih bisa tetap berteman seperti biasanya. 


Setahun setelah peluncuran dan ulasan pertama 

Memasuki bulan kesembilan sehabis meluncurkan buku kompilasi cerpen yang diterbitkan secara digital tanpa ada rilisan fisik, akhirnya ada salah seorang calon pembeli baru yang berminat. Anehnya, saya malah membalas, “Ini betulan minat beli? Dulu waktu menjualnya saya lagi khilaf, lho. Sebagian juga udah tayang di blog. Saya bikin ini semacam rasa frustrasi aja karena beberapa cerpen saya ditolak media, makanya dijual sendiri.”

“Aku enggak mau baca yang di blog. Ribet buka-buka arsip. Maunya yang udah berbentuk rapi. Pokoknya, aku betulan mau beli.”

Mata saya pun berkaca-kaca membaca respons itu. 

Empat hari kemudian, dia mengirimi saya pesan lagi beserta tangkapan layar: “Aku udah sampai sini bacanya. Boleh diulas, Yog?” 

“Boleh banget. Komentar sebebasnya. Enggak perlu sungkan.” 

Teman saya itu pun memberikan ulasan singkat, semacam kesan selepas dia menamatkan karya saya. Sesungguhnya, saya tak tahu apakah penilaiannya itu teramat subjektif sebab dia mengenal saya, atau murni jujur tanpa peduli kami teman ataupun bukan. Terlepas dari preferensinya dalam menilai, beginilah komentar dia terhadap buku Fragmen Penghancur Diri Sendiri

“Mengenai buku kumcermu, aku sebetulnya suka sama pembawaanmu yang ekspresif. Emosinya kelihatan semua. Tapi jadi menular ke aku, Yog. Di bagian cerpen pertama, agak platonis. Aku belum menangkap alur yang ‘Yoga banget’. Barulah setelah masuk ke cerpen kedua, aku mulai mengerti teknik penulisanmu, struktur, dan substansi. Untuk karya ‘indie’, aku akui kumcer ini berani dan bernyali.” 




Setelahnya dia sempat bilang, nanti bakal berusaha mengulas secara lengkap di blognya—seandainya memang jadi dibuat. Saya lantas meminta kepadanya supaya cantumkan juga bagian-bagian buruk maupun yang enggak dia sukai biar lebih adil. Saya cukup sadar diri bahwa tulisan-tulisan saya di buku itu masih banyak minusnya, jauh dari penilaian ‘bagus banget’. Semoga sih kelak ada pembeli lain yang ikutan berkomentar. Biarpun saya tak mau berharap banyak, tapi dengan adanya apresiasi semacam ini otomatis bikin saya ingin membuat yang lebih baik dan syukur-syukur terlepas dari bayang-bayang buku sebelumnya. Itu pun kalau saya masih keras kepala memilih jalan nestapa ini, apalagi cenderung nekat mencari pemasukan lewat menulis.

--

Gambar saya comot dari: https://pixabay.com/id/photos/kindle-kertas-putih-buku-perangkat-785695/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

15 comments

  1. Masih dijual nggak bukunya, mas Yoga? Hehehehe. Eniho, selamat satu tahun untuk buku digital yang mas buat. Semoga akan ada buku-buku digital lainnya lahir dari tangan mas 😁 kalau bukunya masih dijual, saya mau beli buat hadiah ke teman bloggers yang suka baca ~ 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meskipun saya minder, masih tetap dijual kok, Mbak. Silakan hubungi surel saya.

      Makasih ya, Mbak. Aamiin.

      Delete
    2. Okay, mas. Thank you infonya 😄

      Delete
  2. Saya sama Mayang sempat ngobrolin buku itu, sedikit. Mayang bilang auranya kayak Allan Poe, saya bilang auranya kayak Dostoyevsky. Tapi intinya, saya sepakat sama Mayang bahwa untuk karya indie, kumcer itu berani dan bernyali. 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya kejauhan kalau bilang auranya mirip Dostoyevsky. Gue aja baru baca tiga karyanya. Beliau mah jago banget mengulik sisi gelap manusia. Gue belum sehebat itu. Ahaha. Tapi, gue akui memang ada pengaruhnya. Lebih tepatnya secara enggak langsung, karena Haruki kan kiblatnya Dostoyevsky banget. Kala menggarap kumcer itu gue masih getol baca Murakami. Ehe.


      Nuhun, Gip.

      Delete
  3. Memang kalo mencampuradukkan kehidupan pribadi dengan bumbu fiksi itu kadang bikin bingung pembaca, tapi saya yang sudah beberapa kali baca cerpenmu udah gak aneh lagi sih, atau dengan kata lain saya menganggapnya "sekalian curhat" aja sih.. :D

    Seneng rasanya ada sebagian orang di sekitar yang emang bisa/sudi atau mengerti soal bagaimana cara mengulas, seperti yang Mayang lakukan. Jujur, ini bukan bidang saya pak. Contohnya; bahkan untuk sekedar pertanyaan sederhana dari cewek aja saya cenderung gak bisa jawab atau bahkan bisa dibilang "apaansih.." haha

    Apaansih?

    Btw, selamat setahun, terus berkarya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, boleh jadi suatu hari nanti pemikiran ini akan bergeser. Gue bakal jaga jarak dari cerita personal.

      Jawab pertanyaan cewek kalau persoalan suruh pilih barang bagusan ini atau itu kayaknya jebakan deh. Apa pun yang gue jawab kemungkinan besar salah. Ahaha.

      Yoo, nuhun. Semoga minimal bisa terus mengisi blog ini.

      Delete
  4. Saya termasuk orang yang tidak setuju bahwa cerpen harus memuat pesan sosial ataupun moral. Selain membebani, saya rasa rumah ibadah adalah tempat yang tepat

    ReplyDelete
    Replies
    1. *tempat yang lebih tepat, maksudnya

      Delete
    2. Hm, jika tak salah ingat, di pelajaran Bahasa Indonesia zaman saya SD-SMP tuh pengertian cerpen dan novel kayaknya bawa-bawa pesan moral atau nasihat gitu. Sejak bocah sudah diajari bahwa bikin cerita kudu ada pesan moralnya. Bahkan jadi pertanyaan di suatu soal: apa pesan moral dari kisah di atas? Hahaha.

      Delete
    3. Dulu, saya tidak masalah dengan ini. Semakin banyak membaca, setiap dengar pertanyaan yang menyangkut pesan moral rasanya jadi pengen walkout saja. Pas kuliah, ada satu mata kuliah yang mengharuskan membedah isi novel dengan pisau strukturalisme. Didalamnya terdapat rumusan masalah mencari amanat. Kalau bukan tugas, mungkin kolom itu akan saya kosongkan

      Delete
  5. Firstly, selamat satu tahun peluncuran bukunya.

    Saya nggak tahu apa-apa soal kepenulisan,cerpen atau puisi, jadi udah bisa bikin buku sendiri menurut saya keren sih. Baca ini jadi tambah minder, karena di umur segini saya masih nggak bisa ngapa-ngapain, boro-boro mau bikin buku sendiri, isss kok jadi curhat sih.

    Eh, tapi kalau kata orang-orang bikin buku sendiri itu sama dengan melahirkan bayi nggak sih? Kalau iya berarti umur bayimu udah setahun lho ini 😀😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ada perbedaan besar antara berhasil bikin buku sendiri dengan bikin buku bagus. Semua orang kini bisa menerbitkan bukunya sendiri selama punya uang di beberapa penerbitan indie. Bedanya dengan penerbitan mayor atau indie khusus yang menyeleksi naskah para penulis, mereka jelas ada banyak pertimbangan. Apakah buku yang mau diterbitkan itu sudah sesuai dengan target pasarnya (buat remaja sampai dewasa muda, misal) kualitas tulisannya mencapai standar minimal, serta ada peluang laku di pasaran.

      Tujuan tiap orang menulis sesungguhnya beda-beda, Sov. Saya enggak tahu apakah kamu sejak pertama kali menulis ingin jadi penulis atau sekadar ingin menumpahkan keresahan di blog. Minder sih sah-sah aja.

      Namun, agak kurang tepat jika merasa mindernya sama saya. Siapalah saya? Saya bahkan gagal mewujudkan mimpi.

      Sejak SMP saya sebetulnya punya cita-cita jadi komikus, efek dari hobi baca komik. Tapi karena kemampuan gambarnya buruk banget, impian itu lenyap.

      Seiring waktu berjalan, SMK tepatnya, keinginan saya mulai bergeser. Hobi dari membaca itu menumbuhkan ambisi bahwa saya juga mau jadi penulis yang gantian cerita-ceritanya dibaca. Makanya saya ada niat bikin buku. Akhir tahun 2012 mulai berkenalan sama blog dan belajar menulis, 2015 memutuskan menekuninya dan menenggelamkan diri di dunia kepenulisan ini sekalian membuat naskah memoar untuk buku kumpulan cerita. Sialnya, saya tak tahu bahwa enggak semudah itu menembus penerbit maupun media lainnya. Alternatif menerbitkan sendiri sebetulnya ada, tapi uang saya pas-pasan. Enggak mau memaksakan diri.

      Mimpi saya baru benar-benar terwujud 2019. Telat 4 tahun. Itu pun bentuknya buku digital dan hasilnya jauh dari bayangan awal.

      Saya tak terlalu peduli dengan analogi buku adalah anak. Tapi biar bagaimanapun dia telah lahir dari buah pikiran dan olah batin saya. Akan saya coba menyayanginya sekalipun terkadang benci juga.

      Delete
  6. Wah keren Mas Yoga.. Berhasil mengumpulkan niat dan tenaga buat menyelesaikan buku ini aja udah keren banget 😎 Jangan salah loh mas, karya pertama penulis itu bisa jadi suatu saat yg akan dicari2 orang. Jadi ga usah dibilang produk gagal. Hehehe.. Karena suatu saat ketika udah terkenal, orang akan penasaran dg karya pertama orang itu, sekedar ingin tau bagaimana orang itu telah berkembang menjadi lbh baik dg melihat kekurangan2nya yg lama.
    Semangat semoga suatu saatu bisa menelurkan karya lagi ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah bilang keren.

      Iya, mungkin pembaca bakal mencari-carinya. Tapi penulis itu sendiri biasanya malu banget sama karya pertamanya. Meski begitu, ia tetap punya tempat spesial di hati penulisnya. Tanpa ada karya pertama, dia mungkin tak bisa menjadi sosok yang sekarang.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.