Novel yang bagus itu seperti apa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, gue ingin memberi tahu kalau judulnya sengaja dibikin keliru. Yang betul adalah 24 Jam Bersama Gaspar, sebuah novel karya Sabda Armandio—setelah ini akan gue panggil Mas Dio biar terasa lebih akrab.



Kalau memang ada yang beneran bertanya ke gue tentang novel yang bagus, gue betul-betul nggak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Apalagi setiap orang memiliki selera bacaan yang berbeda-beda.

Namun, kalau orang itu cuma ingin meminta pendapat gue, maka jawabannya: Novel yang bagus setidaknya akan membuat gue rela membuang-buang waktu untuk membaca ulang ceritanya. Nah, Mas Dio dengan gaya berceritanya yang asyik itu ternyata berhasil membuat gue menamatkan kisah Gaspar dua kali. Itulah alasan kenapa judulnya dibikin seperti ini.

Nggak banyak novel yang akhirnya gue baca ulang. Lagian kalau nggak bagus, ngapain repot-repot harus baca ulang? Jadi, gue anggap novel yang bisa memaksa pembacanya untuk membaca ulang, apalagi sampai menandai bagian-bagian yang menarik adalah novel yang bagus.

Seperti yang terlihat di gambar, gue menandai beberapa bagian novelnya dengan post it. Gue memang suka menempelkan post it pada bagian buku tertentu untuk kepuasan tersendiri. Bagian mana yang gue sukai, yang membuat gue tertawa, dan yang bikin merenung.

Dari salah satu post it yang gue tempelkan itu, terdapat dialog pada novel 24 Jam Bersama Gaspar yang rasanya bisa menjawab pertanyaan seperti apa novel yang bagus: “Cuma penulis hebat yang bisa membuat pembacanya anteng, tak peduli berapa pun jumlah halamannya.”

Bolehkah gue katakan kalau Mas Dio termasuk penulis hebat? Sebab gue beneran dibuat anteng untuk mengikuti alurnya. Sebelumnya, alur novel ini dibagi menjadi dua bagian; yang pertama seperti novel pada umumnya yang diceritakan lewat narasi, deskripsi, dialog, dst.; sedangkan yang kedua berformat wawancara, antara seorang polisi dan seorang nenek-nenek cerewet.

Gue pernah beberapa kali membaca novel detektif, tapi Gaspar merupakan sesuatu yang berbeda dari cerita-cerita detektif yang pernah gue baca. Rasanya kepala gue malah segar, bukannya pusing seperti membaca novel detektif pada umumnya. Mas Dio seolah mendobrak sistem akan suatu cerita detektif. Oleh karena itu, kisah Gaspar jadi sungguh baru dan unik buat gue. Karena keunikannya ini, menurut gue Gaspar memang layak menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2016.

Entah kenapa, gue begitu menikmati jalan ceritanya tanpa memikirkan dan menebak-nebak kisah akhirnya. Lalu ketika sampai di halaman terakhir, gue masih nggak percaya kalau bukunya sudah selesai dibaca. Rasanya masih butuh beberapa lembar lagi. Namun, cerita sudah berakhir dan tidak ada penjelasan lebih.

Kenapa kisah akhirnya itu masih meninggalkan pertanyaan buat gue? Apakah ini sengaja dirancang agar pembaca bebas menjawabnya dalam hati masing-masing? Sepertinya, sih, begitu. Berarti novel ini adalah sebuah cerita detektif, di mana pembaca yang menjadi detektifnya. Setelah sampai di bagian akhir, gue dibuat berpikir untuk menyimpulkan potongan-potongan cerita yang terdiri dari 8 bab dan 224 halaman itu.

Setelah mencerna baik-baik dan membaca ulang kalimat demi kalimat di akhir cerita, barulah gue mulai engah apa yang terjadi. Dan akhirnya, Gaspar membuat gue berpikir ulang apa itu baik dan jahat. Banyak hal jahat yang sering nggak gue sadari sebelumnya. Seperti yang kita tahu, orang-orang sering melakukan kejahatan demi kebaikan. Mereka ini sering mencari pembenaran atas apa yang telah dilakukannya. Gue kemudian menutup buku tersebut sambil berpikir ulang beberapa hal tentang baik dan jahat. Ditambah lagi ada sebuah nasihat pada kata pengantar buku ini:

Ingat, Sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.
Saat lagi asyik merenung sambil memegang novel itu, gue melihat tulisan di sampul belakangnya: Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam. 

Gue baru menyadari satu hal: kali ini gue langsung membaca novel tanpa membaca blurb-nya. O iya, jadi di cerita ini Gaspar memang merampok toko emas untuk mendapatkan kotak hitam. Gaspar berencana melakukan kejahatan, yakni merampok selama 24 jam. Untuk membantu niat jahatnya itu, ia pun mengajak 5 orang yang dipilih secara suka-suka. Karena tokohnya yang tidak terlalu banyak, gue merasa novel ini cocok menggunakan sudut pandang orang pertama: aku. Gue jadi bisa fokus sama tokoh utama, terus tokoh lainnya pun terasa hidup.

Namun, Gaspar sungguh berbeda dengan kisah Robin Hood atau Ken Arok—yang merampok orang-orang kaya sekaligus serakah, lalu membagikannya ke orang miskin atas nama kebaikan. Gaspar sadar betul perbuatannya itu sebuah kejahatan. Pokoknya, kalau jahat mah jahat saja. Nggak usah bawa-bawa nama kebaikan segala. Di novel ini, Mas Dio lewat tokohnya Gaspar menyuguhkan sarkasme yang pas tentang pemakluman dan pembenaran sebuah kejahatan.

Jadi, bagi gue hal yang paling dekat dengan keseharian akan hal tersebut adalah berbohong demi kebaikan. Sedihnya, gue sendiri pun pernah melakukan hal seperti itu. Sewaktu masih kelas 1 SMK, ketika sekolah libur karena ruangannya dipakai ujian kelas 3, gue sering pamit berangkat sekolah demi bisa mendapatkan uang jajan. Gue menghabiskan uang jajan itu untuk bermain online games di warnet. Kala itu, gue menganggap apa yang telah gue lakukan itu benar. Gue pun menyangkal dengan kalimat, “Hm, daripada waktunya sekolah, tapi malah bolos? Mendingan libur, terus masuk. Berarti gue rajin banget, kan?”

Mungkin kalian juga pernah melakukan hal semacam itu saat masih sekolah, atau diam-diam menambah harga buku paket atau LKS sebab uang jajan yang diberikan orang tua terasa kurang, atau bisa juga ketika ingin pergi liburan ke suatu tempat tapi tidak mendapatkan izin dari orang tua, lalu demi bisa pergi akhirnya harus berbohong—yang katanya demi kebaikan. Kebaikan siapa?

Berbohong seperti itu bukannya juga termasuk kejahatan? Meskipun itu hal yang remeh, tetap aja dosa, kan? Jadi, aneh juga dipikir-pikir kalau ada kebohongan yang dilakukan demi kebaikan. Lucu sekali mengingat gue pernah berbohong demi kebaikan, padahal itu kebaikan bagi diri sendiri. Kesinisan dan kalimat satirenya Mas Dio pun berhasil membuat gue menertawakan hal-hal macam begini.

Sebelum mengakhiri tulisan nggak jelas ini, kemarinan temen gue sempat berkomentar tentang novel Gaspar, “Ini tulisan Armandio kayak minta dipahami banget. Dia asyik sendiri berimajinasi.”

Gue pun tersenyum akan responsnya. Pendapat dia itu betul sekali. Namun, di sisi lain gue mengingat potongan lirik lagu Efek Rumah Kaca – Pasar Bisa Diciptakan.

Kami hanya akan mencipta segala apa yang kami cinta. Bahagia~

Menurut gue, Mas Dio itu menulis emang bersenang-senang buat dirinya sendiri. Kayaknya dia nggak berusaha memikat pembaca, tapi berengseknya hal seperti itu yang malah jadi pemikat. Setidaknya, itulah yang gue rasakan.

Berarti bisa dibilang Mas Dio betul-betul mencipta segala apa yang dia cinta. Bukankah konyol kalau menulis untuk kesenangan pembacanya, tapi penulisnya sendiri nggak bahagia? Toh, setiap tulisan juga ada pembacanya masing-masing, kan? Setiap orang bebas menjawab buku yang bagus itu seperti apa dan bagaimana. Nggak perlulah memaksakan selera. Bagus untuk gue, belum tentu bagus untuk orang lain. Begitu pun sebaliknya.

*

Sebenarnya gue takut mengulas sebuah buku. Entah kenapa pasti ada rasa cemas kalau bagusnya itu nanti malah dirusak oleh gue yang sok tahu ini. Gue juga nggak bisa me-review seperti para kritikus buku. Jadi, ya beginilah tulisan gue kalau membicarakan buku. Gue malas bercerita banyak akan kisah di dalamnya. Apalagi nanti ada yang komentar kalau gue spoiler. Maaf kalau tulisan ini lebih cocok disebut curhatan. Yang penting gue senang saat menulis ulasannya. Peduli setan dengan standar mengulas buku.

--

PS: Temen gue, Robby Haryanto, sedang mengadakan give away tentang buku, untuk ikutan bisa dicek di: Mau ngeblog dapet buku?