Tulisan sebelumnya bisa kamu baca di Bagian Satu dan Bagian Kedua.

--

21. Film yang tidak ada satu pun orang bakal menduga kalau saya menyukainya

Unforgiven (1992). Saya membayangkan beberapa teman spontan bertanya ketika saya menyebut film ini, “Loh, Yoga suka film western kayak gitu?”




Sebetulnya, saya memang kurang suka dengan film western atau yang dipenuhi tembak-tembakan ala koboi. Saya nekat menonton film ini karena sehabis membaca esai Pak Sulak yang menyenggol film tersebut. Di tulisan itu saya baru tahu bahwa Unforgiven memenangkan dua piala Oscar untuk film terbaik dan sutradara terbaik. Seandainya film itu tidak memenangkan apa-apa, kalau Pak Sulak sudah merekomendasikannya dan bilang bagus, saya bakalan rela menontonnya. Bisa dikatakan beliau ialah orang yang saya percayai referensinya. Untuk menjawab mengapa saya menyukai film koboi ini, maka saya akan merangkum sebagian jalan ceritanya.

Kisah film ini dibuka dengan visual yang apik, lalu setelahnya malah berubah menjadi adegan yang sangat keji. Wajah seorang pelacur disayat-sayat pakai belati oleh penyewa jasanya. Apa kira-kira yang bikin cowok bedebah itu tega berbuat jahat kepada si pelacur?

Di Indonesia, seingat saya pernah ada kasus seorang lonte yang dibunuh dan dimutilasi lantaran dia mengatakan ketiak penyewanya bau comberan saat mereka tengah bermain kuda-kudaan. Nah, kalau di dalam film ini, perempuan jalang yang wajahnya dibikin cacat pakai belati oleh koboi—pemakai jasanya—itu lantaran si sundal tertawa ketika melihat burung si penyewa, atau malah berkata, “Tititnya kecil” (saya agak lupa mana yang benar antara kedua itu).

Namun, si koboi rupanya tidak dipenjara oleh sheriff yang bertugas di kota itu. Si koboi cuma disuruh membayar beberapa ekor kuda atas kejahatannya. Tak terima temannya diperlakukan seperti itu dan hukuman yang diberikan kepada koboi berengsek terasa tidak sepadan, para pelacur lain segera mengumpulkan uang untuk hadiah sayembara—bagi siapa pun yang berhasil membunuh koboi jahanam itu. Sayangnya, ada larangan membawa senjata di kota kecil yang ditinggali para pelacur tersebut.

Meski begitu, ada seorang koboi muda yang tetap tertarik, lantas mengajak koboi pensiunan (diperankan oleh Clint Eastwood) yang dulunya disegani setiap orang atas kejahatannya. Konyolnya, koboi pensiunan ini telah berjanji kepada mendiang istrinya untuk tidak mabuk-mabukan dan membunuh lagi. Sesampainya di kota itu, benar saja bahwa si koboi pensiunan justru dihajar habis-habisan dan tampak tidak berdaya. Pelacur yang wajahnya lecet-lecet itu kemudian menolongnya dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

Setelah cerita bergulir, sang koboi pensiunan mendadak terpicu akan sesuatu hal, sehingga dia rela melanggar sumpah kepada istrinya dan mengamuk lagi di kota itu. Akhirnya, dia bisa memperlihatkan wibawanya kembali di penghujung film.

Film Unforgiven secara tak langsung telah mengubah cara pandang saya terhadap film-film western.


22. Film klasik favorit

Saya jarang banget menyaksikan film lawas. Yang paling pertama muncul di kepala ialah The Godfather (1972). Tapi saya kurang sreg memilih film itu sebab beberapa kali mengantuk ketika menontonnya. Jadilah jawaban saya beralih menjadi Breakfast at Tiffany’s (1961). Alasan saya memfavoritkannya karena Holly Golightly (Audrey Hepburn) menjadi daya tarik di film ini. Terus, saya juga suka dengan salah satu tokoh yang berkarier sebagai penulis amatir. Saya punya ketertarikan khusus terhadap karakter yang profesinya penulis.

Biarpun di film ini tokoh Holly termasuk perempuan materialistis (saya agak malas dengan cewek-cewek yang menuhankan materi), dia itu amatlah misterius. Hingga bikin saya penasaran, Holly itu sebenarnya siapa? Apa alasan dia menjadi perempuan seperti itu? Dalam menjalani hidup yang mewah kayak begitu, dia dapat uang dari mana saja? Dan seterusnya, dan sebagainya. Saya mulanya sudah kecewa sekali dengan perangai Holly saat film bergulir di pertengahan cerita menuju akhir. Namun di penutup film, dia sungguh berhasil mengobati sekaligus memuaskan saya.


23. Film dengan trek suara terbaik

Saya perhatikan di pertanyaan ini banyak yang memberikan jawaban: La La Land (2016). Tapi maaf sekali, saya belum sempat menonton film itu. Kurang tertarik juga, sih. Entah kenapa saya bingung bukan main menjawab pertanyaan ini. Sejujurnya, saya memang rada jarang memperhatikan lagu-lagu di sebuah film. Sekalipun saya tahu, palingan satu atau dua lagu saja. Misalnya, saya ingat lagu Nirvana, Come As You Are, di film Captain Marvel (2019) yang sungguh mengejutkan para penonton di bioskop hari itu. Saya lantas terkenang pula dengan film Watchmen (2009). Film DC berdurasi 3,5 jam (panjang-banget-anjir) yang sangat beda dari pahlawan super lainnya ini menampilkan lagu favorit saya: The Sound of Silence dari Simon and Garfunkel pada acara pemakaman salah satu tokohnya. Lalu yang tidak kalah mencengangkan, lagu pengiring adegan seksnya justru Hallelujah karya Leonard Cohen. Kan konyol banget.

Masa iya saya harus memilihnya gara-gara hal itu? Saya pun mencoba berpikir keras seraya mengingat-ingat film yang musiknya asyik. Setelah merenung selama 8 menit 36 detik, maka jawaban saya adalah High Fidelity (2000). Selain karena filmnya berkisah tentang cowok bernama Rob Gordon yang memiliki toko piringan hitam dan, tentu saja, berhubungan dengan musik, saya suka dengan pilihan lagu di dalamnya. Ada musisi keren seperti Bob Dylan, John Wesley, dan Stevie Wonder. Berkat film ini saya juga jadi mengenal nama sekaligus lagu dari The 13th Floor Elevator dan The Velved Underground yang mantap didengar.






24. Film paling enggak favorit

Suicide Squad (2016). Saya terlalu berharap banyak dari film ini. Selama ini kebanyakan film pahlawan super lebih sering dituturkan lewat sudut pandang para pahlawan, lalu penjahatnya dibuat menderita atau kalah di akhir film. Kira-kira, bagaimana kalau hal itu di balik, ya? Saya mendadak jadi ingin tahu sudut pandang para penjahat. Nah, munculnya Suicide Squad ini seolah-olah mengabulkan doa saya. Kisah sekumpulan penjahat kayaknya bakal kebangetan kerennya nih, pikir saya sebelum menonton. Sebagaimana yang sudah saya jawab di tokoh favorit sebuah film, yakni Joker, saya juga rindu dengan karakternya yang bakalan menggila di film ini. Saya juga suka terhadap Margot Robbie yang bakal memerankan Harley Quinn. Ditambah lagi ada Cara Delevingne yang manis sekaligus nakal di mata saya. Pokoknya, imajinasi akan film tersebut sudah tersusun dengan ciamik di kepala saya. Namun begitu film diputar, saya malah jenuh dan mengantuk. Sebetulnya ini film apaan sih, ya Tuhan? Alur cerita enggak jelas. Tokoh antagonis yang buruknya bikin istigfar. Cara Delevingne yang saya duga akan tampil aduhai, justru bikin geli. Apalagi si Joker, buset anehnya kebangetan (aneh dalam artian jelek). Asli, rusaklah film ini.


25. Film yang memberikan kesenangan sekaligus perasaan bersalah

Suatu malam saya bertanya sekalian meminta saran kepada Tania, apakah punya rekomendasi film Thailand yang lucu seperti SuckSeed (2011) dan Pee Mak (2013)? Saya malam itu lagi butuh hiburan dan pengin ketawa karena lagi stres berat soal pekerjaan lepas. Tania lantas menyebutkan beberapa film, dan salah satunya Saranae Siblor (2010). Ternyata jawaban dia ampuh sekali. Saya sampai mengakak tidak keruan sepanjang menonton film ini. Kepala yang tadinya terasa berat karena banyak pikiran bisa mendadak ringan dalam sekejap oleh kegoblokan cerita di film ini.

Lalu, kenapa saya merasa bersalah? Sebab alur ceritanya keterlaluan absurd. Percintaannya juga tidak jelas. Film ini seakan-akan tidak memiliki premis. Selama saya menyaksikannya dari awal hingga film hampir berakhir, saya terus bertanya-tanya, sebetulnya film ini mengisahkan tentang apa selain cuma bisa bikin tertawa? Saranae Siblor mungkin hanya dirancang buat menghibur. Sehingga malah melupakan elemen-elemen penting dalam penceritaan.


26. Film yang paling mengecewakan

Justice League (2017). Dari segi plot saja buat saya sudah mengecewakan banget. Lalu kehadiran Superman bikin pahlawan super lainnya; Batman, Wonder Woman, Aquaman, Flash, serta Cyborg, tampak tidak berguna sama sekali. Apalagi musuh utamanya itu, yang mulanya tampak sangar dan tak terkalahkan, terus mendadak berubah culun di hadapan Superman. Enggak asyik banget. Film ini juga terlalu mengandalkan pesona Wonder Woman untuk menjual filmnya. Seakan-akan dengan melihat kecantikan Gal Gadot, penonton harus dapat memaklumi keburukan yang ada di film tersebut. 


27. Kutipan favorit dari sebuah film

Menurut saya, ada banyak kutipan keren dari setiap film yang pernah saya tonton. Sampai-sampai bikin saya bingung mau memilih yang mana. Tapi sepertinya baru film Fight Club (1999) yang bikin saya rela menjeda filmnya berkali-kali untuk sekadar mencatat perkataan-perkataan tokohnya. Sayangnya, Tyler Durden bilang begini, “The first rule of Fight Club is you don’t talk about Fight Club. The second rule of Fight Club is you DON’T TALK about Fight Club.”

Jadi, saya harus bagaimana? Saya tidak bisa membicarakannya, dong? Lelucon kayak begitu masih lucu atau enggak, sih? Hahaha. Baiklah, saya paling suka yang ini: “You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fvcking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world.”


28. Waralaba alias francis film terbaik

Marvel Cinematic Universe. Sepertinya tidak perlu ada penjelasan, ya? Tapi tulisannya nanti jadi pendek banget. Oke, inilah alasan saya memilih MCU: hingga saat ini memang cuma itu jawaban terbaik, sebab saya kurang sreg dengan film waralaba lainnya. Saya belum pernah mengikuti Star Wars dan Game of Thrones. Saya lumayan suka serial Harry Potter, tapi itu skornya jelas masih di bawah MCU. Lalu Fast and Furious, sejak kematian Paul Walker filmya malah jadi aneh banget dan alur ceritanya terlalu memaksakan. Saya pun tidak meneruskannya lagi. The Lord of the Rings bagus sih, tapi bagian keduanya bikin jenuh dan saya sampai ketiduran beberapa kali. X-Men Universe yang termasuk bagian dari Marvel pun tetap tidak bisa mengalahkan kemantapan MCU. Film triloginya bahkan dinilai gagal, makanya sampai harus dibuat ulang alur baru lewat X-Men First Class dan Days of Future Past. Jadi, ya tetap MCU.


29. Film yang dulu pernah suka, tapi sekarang benci

The Twilight Saga. Sebenarnya saat awal tahu film ini saya merasa biasa saja. Sewaktu SMK saya hanya pernah menonton sekali filmnya di televisi secara tidak sengaja, sebab malam itu tidak ada acara TV yang menarik. Lalu, sehabis lulus saya justru naksir seorang perempuan (pernah saya ceritakan di tulisan Es Campur) yang gandrung banget sama film The Twilight Saga. Secara enggak langsung, saya mau belajar menyukai hal-hal yang dia anggap favorit.

Sekarang, setelah tujuh tahun berlalu, saya entah mengapa sungguh membenci serial film itu. Bukan, bukan karena gagal jadian sama perempuan Gemini sialan itu, kemudian jadi ikutan membenci segala hal tentangnya, melainkan karena film percintaan semacam itu kini mulai terasa norak banget buat saya. The Twilight Saga, film tentang kisah cinta segitiga yang paling tai anjing!


30. Film yang setiap orang harus tonton

PK alias Peekay (2014). Lima tahun belakangan ini banyak manusia yang gemar sekali meributkan agama, khususnya di Indonesia. Mungkin sejak dulu sudah ada kericuhan seperti itu. Tapi setelah ada seorang nonmuslim yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, banyak oknum yang segera memanfaatkan momentum itu untuk memberikan bumbu agama dalam persoalan politik. Saya pikir orang-orang seperti mereka harus menonton film yang dibintangi oleh Aamir Khan ini. Saya sendiri sebetulnya sih tidak masalah dengan prinsip masing-masing manusia dalam menentukan pilihannya. Namun, mengapa kebanyakan dari mereka terlihat tidak bisa menghargai perbedaan? Bahkan dalam suatu kasus, mereka seolah-olah ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan hari ini.

Saya jadi tidak habis pikir dengan orang-orang yang berkata ingin melindungi Tuhan, sampai-sampai mengumpulkan banyak umat untuk melakukan aksi bela agama. Potongan adegan berikut ini sepertinya akan menjotos pemikiran mereka yang sempit dan bersumbu pendek.





--

Mungkin 30 jawaban saya atas kuis bertema film ini terlihat memalukan dan sok tahu banget. Apalagi di mata bloger pengulas film yang referensi tontonannya melimpah. Pastilah saya bakal ditertawakan, bahkan di-tai-tai-in. Tapi masa bodohlah dengan hal itu. Saya memang sedang belajar beropini dalam menilai suatu karya. Setidaknya, saya telah mencoba menjawab dan ingin punya takaran yang sesuai diri saya. Kalau perlu suatu hari kelak saya mau bersikap jujur dan berani bilang buruk akan hal yang saya nilai jelek, meskipun itu karya teman sendiri. Saya tak ingin menampilkan kepalsuan maupun kebohongan. Jangan sampai nanti ada orang yang berkata, “Menilai karya orang yang enggak dikenal kok kritis dan pedas banget. Tapi giliran teman sendiri aja ulasannya dibagus-bagusin, padahal aslinya enggak bermutu.” Begitu pula dengan orang yang tidak saya sukai. Kalau memang karyanya bagus, saya akan tetap memujinya tanpa mencampuradukkan perasaan pribadi. Semoga saja tulisan ini bisa jadi pengingat.



Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/admission-coupon-admit-carnival-2974645/
Read More
Sebelum melanjutkan membaca, alangkah lebih baiknya lihat dulu tulisan Bagian Satu.

--

11. Film kesukaan zaman bocah 

Oh, jelas Kungfu Hustle (2004). Saya masih ingat banget pertama kali menonton filmnya bareng Ibu ketika habis salat Isya di bioskop Trans TV. Tapi berhubung waktu itu saya masih SD, pukul sembilan saya malah ketiduran dan tidak menontonnya sampai tuntas. Paginya, sebelum berangkat sekolah, saya sampai harus bertanya kepada Ibu, bagaimana akhir filmnya? 

Si kakek kodok akhirnya kalah, jawab ibu saya. Stephen Chow jadi jago kungfu. 

Saya merasa tak puas diceritakan kayak begitu. Dua atau tiga tahun kemudian pertanyaan itu akhirnya mendapatkan jawaban yang lebih terang sewaktu saya berhasil menyaksikannya sendiri. Selain lucu dan asyik, Kungfu Hustle itu sungguh berkesan dan punya nilai sentimenal kala saya masih bocah, sebab akan selalu menjadi memori indah bersama Ibu. Kami semacam punya ritual rutin menonton bareng film tersebut ketika kebetulan lagi tayang di televisi.




12. Film kesukaan zaman remaja 

Usia 17 tahun masih pantas dianggap remaja, kan? Saya punya dua versi, yakni lokal dan asing. 

Indonesia: Serigala Terakhir (2009). Kawan-kawan saya di rumah pun sampai berebutan siapa yang pantas menjadi tokoh Jarot (Vino G. Bastian). Filmnya memang terasa bajinganjing (kombinasi kata bajingan dan anjing untuk memuji) bagi saya dan teman-teman sepantaran saat itu. Film itu menumbuhkan rasa berani di dalam darah kami. Kami pengin menjadi jagoan yang tidak kenal rasa takut. Kami pun sampai membentuk sebuah kelompok atau geng, bukti bahwa kami benar-benar ingin menjadi serigala terakhir seperti mereka. Jika mau membandingkan dengan tokoh-tokoh di Ganteng-Ganteng Serigala ataupun Ganteng-Ganteng Swag, pastilah Serigala Terakhir tidak akan terjangkau buat mereka. GGS malah cuma terlihat seperti sekumpulan sampah. 

Film luar: Scott Pilgrim vs. The World (2010). Di mata saya saat remaja, film ini entah kenapa keterlaluan kerennya. Mungkin karena bercerita tentang perjuangan cinta yang apik dan memesona. Demi bisa mendapatkan seorang cewek bernama Ramona Flowers yang setiap hari warna rambutnya selalu berganti-ganti, sang protagonis—Scott Pilgrim (Michael Sera) harus bertarung dan mengalahkan mantan-mantan Ramona terlebih dahulu. Lalu, ada beberapa orang yang mengatakan kalau film yang diadaptasi dari buku atau komik itu biasanya jelek. Terkadang saya memang cukup sepakat, tapi tidak untuk film ini. Film ini buat saya sangat berhasil. Selain bagian bertarungnya yang keren sekaligus konyol, saya menyukai bagian konsernya yang menyuguhkan musik-musik asyik. Visualnya pun tak kalah hebat. Ada adegan-adegan yang diberikan efek animasi, mungin bermaksud agar tidak menghilangkan aura komiknya.


13. Film animasi kesukaan 

Saya enggak akan jawab film-film Pixar seperti serial Toy Story, Zootopia, Ratatouille, Up, Inside Out, dst. Itu sudah terlalu biasa, Sayangku. Saya dengan berani akan membusungkan dada sembari menjawab keras-keras: Friends (2011) 



Saya waktu itu menonton filmnya di televisi. Tanpa perlu harus menonton ulang filmnya, saya masih ingat dan bakal berani bertaruh kalau air mata saya akan menetes ketika disodorkan cerita semantap itu. Sebuah pulau monster yang takut dirusak oleh manusia, pada suatu hari justru kedatangan seorang manusia, tepatnya bocah. Beberapa monster takut dengan anak itu karena mereka berpikir kelak akan menimbulkan bencana. Mereka berniat ingin melenyapkannya. Anak kecil yang tidak memiliki dosa apakah pantas dibunuh? Syukurlah di pulau itu ada juga monster yang memiliki sisi baik. Walaupun ini rada mengingatkan saya pada film Monster, Inc., saya tetap lebih cocok sama Friends


14. Film pertama yang ditonton di bioskop 

Sumpah, saya sudah lupa dan kemampuan menggali memori ini terlalu payah untuk menentukan keakuratannya. Saya sebetulnya masih ingat dengan jelas pertama kali pergi ke bioskop itu zaman SMP buat menonton film horor, tapi saya tak tahu percis film yang mana. Apakah itu Pocong (entah seri yang mana), Kuntilanak (ini juga ada serinya), atau Terowongan Casablanca? Bisa jadi di antara ketiga itu ada yang benar. Tapi, takutnya ingatan saya ini justru berkhianat sebab cuma nonton di DVD rumah teman bareng-bareng, sehingga dulu terasa seperti lagi di bioskop. 

Daripada pertanyaan ini tak terjawab, lebih baik saya menyuguhkan jawaban yang lebih pasti saat saya ke bioskop sewaktu baru lulus SMK tahun 2012. Saya tentu masih ingat, bahkan saya juga menyimpan karcis masuknya.



Saya menonton Perahu Kertas bersama pacar dan seorang kawan—yang juga mengajak pacarnya. Kami bisa dibilang lagi double date. Di antara kami, hanya saya yang tahu tentang Perahu Kertas lantaran pernah membaca novelnya. Kalau teman saya katanya ingin menonton film itu supaya bisa melihat kecantikan Maudy Ayunda. Saya akui, dulu saya juga sempat menggemari sosoknya. Tapi setelah menyaksikan film ini, kemudian kecewa sebab Maudy tidak cocok memerankan Kugy, saya mendadak jengkel terhadapnya. 


15. Film terbaik yang ditonton tahun lalu 

Jika saya menjawab Avengers: Infinity War, apakah terlalu biasa? Sejujurnya, pada 2018 saya jarang banget main ke bioskop. Sekalinya datang ke sana, pasti film yang saya pilih adalah pahlawan super, khususnya keluaran Marvel. Film Avengers: Infinity War jelas termasuk favorit saya dan amat berkesan pada tahun itu. Tapi begitu saya ingat film Marvel lainnya, Ant-Man and the Wasp, saya pikir film itu memiliki nilai lebih di hati saya. Lebih-lebih saya juga sempat menorehkan kenangannya di tulisan: Hari Senin, Bioskop, dan Film Semut


16. Aktor favorit 

Tadinya di kepala saya sudah muncul dua nama: Leonardo DiCaprio dan Keanu Reeves. Saya bingung harus memilih siapa di antara mereka berdua. Lucunya, saya tiba-tiba mengingat perjuangan Christian Bale di film The Machinist (2004) yang rela jadi kurus banget, lalu berubah kekar lagi di Batman Begins (2005), entah kenapa saya langsung berubah pikiran dan jadi memilihnya. Apalagi sejauh ini saya paling suka Bruce Wayne versi Bale. Saya juga menyukai perannya di film The Prestige (2006). 



17. Aktris favorit 

Saya sempat malas berpikir jauh-jauh dan spontan ingin menjawab pasangannya Christian Bale di film The Dark Knight Rises (2012), siapa lagi kalau bukan Anne Hathaway—sang pemeran Cat Woman? Di film itu gaya dia asyik banget. Ditambah lagi Mbak Anne wajahnya juga awet muda banget, ya Allah. Siapa sih yang enggak pengin mengidolakannya? Mungkin ada, tapi palingan jumlahnya hanya sedikit (oke, saya sok tahu). 

Namun, seperti yang sudah saya tulis di jawaban nomor 9, aktris idola saya tentu saja Mary Elizabeth Winstead.




Wendy, protagonis dalam film Final Destination 3 yang saya tonton saat SMP, bisa dibilang merupakan seseorang yang membuat saya mengerti lebih jauh apa itu perasaan suka. Secara tak langsung dia mungkin cinta pertama saya—bolehkan jatuh cinta lewat pandangan pertama di layar kaca? Jika pernyataan maupun pertanyaan barusan tampak aneh, anggaplah itu pertama kalinya saya sangat mengidolakan seorang tokoh. 

Paras Wendy mempunyai pesona yang sulit untuk ditolak. Saya ingin terus memandanginya berlama-lama. Tapi karena saya saat itu belum terlalu akrab dengan internet, saya tak punya inisiatif untuk mencari tahunya lebih lanjut. Setiap kali ke warnet pikiran saya cuma buat main online games.

Hingga suatu hari saya kembali melihatnya di televisi, tepatnya di film Sky High. Saya awalnya tidak sadar dengan Gwen—antagonis yang menyamar dalam film itu—ternyata orang yang sama dengan tokoh Wendy. Di Sky High, dia jelas lebih muda dan aduhai. Mendadak terbit sebuah gagasan: saya pengin punya pacar seperti dia (kenapa saya dulu enggak tahu diri, ya?). 

Beberapa tahun setelah hari itu, saya lulus SMK dan menonton film Scott Pilgrim vs. the World. Saya jelas mengenali Ramona Flowers. Dia perempuan yang saya taksir sedari SMP. Dia adalah Wendy dan Gwen. Meski dia semakin tua, pesonanya tetap tidak luntur di mata saya. Menjadi-jadi malah. Akhirnya, saya mulai mencari tahu nama dan usianya: Mary Elizabeth Winstead, lahir tahun 1984. Gawat, saya suka sama perempuan yang usianya terpaut sebelas tahun. 

Namun, hingga hari ini yang ada di kepala saya tentang Mary ialah tiga tokoh fiksi tersebut. Kala dia baru berusia 21, 22, dan 26—berarti dia termasuk seumuran dengan saya hari ini. Kesimpulan dari penjelasan barusan: sepertinya saya hanya mencintai karakter fiksi dari dirinya. Bukan sosok aslinya. Meskipun begitu, saya tetap ingin berterima kasih kepadanya sebab sudah menjadi perempuan yang memikat hati saya. Menghibur lewat perannya di film-film. 


18. Film yang dinilai berlebihan 

Annie Hall (1977). Apa bagusnya film ini, sih? Serius, saya masih bingung. Beberapa orang bilang bahwa idolanya Raditya Dika ini filmnya bagus-bagus, terutama film yang ini. Tapi ketika saya menontonnya, kok malah merasa Woody Allen banyak bacot. Menurut saya, jauh lebih keren monolognya Deadpool. Berhubung saya takut dinilai sok tahu, terus tampak memberikan jawaban bloon, serta belum terlalu paham mengenai film, lebih-lebih baru ini doang film Woody yang saya tonton sampai habis, lebih baik saya ganti saja.

Amazing Spider-Man, khususnya yang kedua (2012 dan 2014). Filmnya tidak seluar biasa judulnya. Andrew Garfield kayak tai. Sok iye. Waktu baru awal-awal tayang, beberapa teman—terutama yang cewek-cewek—bilang film ini bagus banget dan menyuruh saya buru-buru menonton. Kala saya coba tonton, ah, biasa aja. Saya masih lebih sreg sama Spider-Man versi Tobey Maguire. Mungkin karakter Peter Parker yang diperankan oleh Andrew ini menawarkan kebaruan dan kesegaran dengan aksi tengilnya. Tapi itu cuma awalnya saja. Setelah di film kedua, buat saya dia enggak banget. Plotnya terasa kurang seru. Apalagi musuh-musuhnya juga kelihatan terlalu payah. Karakter musuhnya enggak ada satu pun yang terasa kuat. Berbeda sekali dengan Green Goblin di Spider-Man, lalu Doctor Octavius di Spider-Man 2, dan Sandman di Spider-Man 3. Mereka semua memiliki tempat di hati saya. Satu-satunya bagian yang saya sukai dari film Amazing Spider-Man 2 palingan saat detik-detik tewasnya Gwen Stacy (Emma Stone). 


19. Film yang diremehkan 

SLC Punk (1998). Dari semua kawan, baru Son Agia yang tahu film ini dan bahkan jadi favoritnya, lalu merekomendasikannya kepada saya. Filmnya sudah sempat saya jelaskan di tulisan tontonan ciamik. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini rasanya bukan jawaban diri sendiri. Baiklah, saya memilih versi saya: Wind River (2017).

Waktu itu, saya cuma iseng mencari tahu apa saja filmnya Elizabeth Olsen karena mulai naksir dia sehabis mengikuti sepak terjangnya di Marvel Cinematic Universe. Setelah dikecewakan oleh Oldboy versi remake (mending enggak perlu dibikin ulang, jelek banget, saya cuma sedikit terhibur karena bisa melihat Olsen telanjang), saya mencoba mengobati kekecewaan dengan memilih Wind River tanpa mencari tahu lebih lanjut atau membaca ulasan tentangnya.

Bagaimana kalau Hawkeye (Jeremy Renner) dan Scarlet Witch dipertemukan ke dalam cerita lain? Apa yang bisa mereka lakukan di kota bersalju ketika ditugaskan untuk mencari tahu pelaku kejahatan tanpa harus menggunakan kekuatan supernya sebagaimana mereka di serial Marvel? 

Penampilan mereka tetaplah memukau buat saya. Tempo filmnya mungkin rada lambat, tapi tetap asyik mengikuti alur demi alur untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan atas suatu tragedi kematian seorang gadis saat badai salju.

Saya pun suka kutipan menjelang akhir filmnya: “Luck don’t live out here. Luck lives in the city. It don’t live out here. Out here, you survive or you surrender. Period. That’s determined by your strength and by your spirit. Wolves don’t kill unlucky deer. They kill the weak ones.” 


20. Karakter favorit di sebuah film 

Sampai sejauh ini kayaknya masih Joker dari film The Dark Knight (2008). Joker mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang berkelas atau punya nilai jual lewat kutipannya, “If you’re good at something, never do it for free.” Misalnya, jika kamu bagus dalam melakukan sesuatu hal, terus diminta tolong sama kawanmu, apakah kamu rela dibayar gratis atas waktumu yang sudah terpakai itu? Anggaplah kemampuanmu itu di bidang desain. Mungkin ini juga bakal kelihatan pamrih, tapi kalau dia enggak memberikan imbalan sepeser pun dan banyak protesnya, kan rasanya anjing banget.

Joker seolah-olah memberikan petuah: jangan mau dimanfaatkan seenaknya sama orang lain, lebih-lebih teman sendiri yang tak tahu diuntung. Katanya kawan baik, kok minta harga teman? Atau lebih parah dari itu, minta gratisan. Sekalinya bersedia membayar, dia sanggupnya bayar pakai eksposur. Ayolah, coba hargai para seniman yang mencari uang di bidang kreatif, khususnya yang pekerja lepas dan penghasilannya tidak menentu. Bayar mereka dengan harga yang pantas apa salahnya, sih? Jika emang mau kasih eksposur sekalian mengiklankan, seharusnya itu menjadi bonus karena kamu puas dengan hasil karyanya. Bukan malah jadi alat pembayaran utama.

Lalu saya juga menyukai perkataan, Why so serious? Mantra dari Joker ini telah berulang kali menyelamatkan hidup saya yang sungguh bedebah. Apa kamu pernah merasa kalau kehidupanmu itu sering dipenuhi akan kesialan dan kegagalan yang seakan-akan tiada habisnya? Saya pernah beberapa kali merasa begitu. Kemudian saya merenung, mungkin saja Tuhan lagi mengajak saya bercanda. Tertawakan saja masalahmu itu, Yog. Meskipun kamu merasa enggak taat-taat amat beribadah, siapa tahu kelak di akhirat bakalan dikasih hadiah surga. Hahaha. Nanti bisa asyik-asyik sama 72 bidadari kalau kata para ustaz. Oke, itu saya bercanda. Seenggaknya saya jadi teringat sama salah satu ayat di Alquran yang mengatakan, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

--

Nukilan dari kitab Alquran itu saya ambil dari surah Al-'Ankabut ayat 64.

Sumber gambar:

aoicorner.blogspot.com

https://pixabay.com/photos/night-camera-photographer-photo-1927265/
Read More
Di Twitter, saya memperhatikan Agia, Firman, dan Justin yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang film. Saya sering melihat beberapa orang memainkan kuis semacam itu untuk mengisi waktu dan mungkin telah menjadi ajang tahunan dengan berbagai macam tema; dari mulai film, buku, musik, anime—bahkan yang lebih spesifik seperti One Piece. Kalau saya perhatikan lebih mendalam, pertanyaan-pertanyaan itu juga tidak banyak berubah setiap tahunnya. Hanya pengulangan-pengulangan dari pertanyaan yang sudah ada. Entah itu ada sedikit dimodifikasi, atau malah cuma diubah urutan pertanyaannya.

Meskipun demikian, saya pernah ikutan sekali pada dua tahun silam dengan tema buku. Tapi, pada kemudian hari saya hapus karena malu dengan jawaban-jawaban yang tampak miskin referensi. Setahun yang lalu saya juga sempat ingin mengikuti kuis tentang film. Sayangnya, saya sangat minder sebab belum banyak menonton film dan takut merasa payah dalam menjawabnya. Saya berpikir, nanti sajalah kalau rujukannya sudah mendingan.

Tahun ini, saya mulai mencoba lebih banyak menonton film. Referensi saya kayaknya tidak terlalu culun lagi. Saya pun jadi pengin ikutan seperti kawan-kawan di Twitter. Tapi, saya rada malas jika jawaban tersebut harus dibatasi dengan jumlah karakter. Saya mau menjawab sesukanya. Tak ingin singkat-singkat. Maka, tercetuslah ide untuk menjawabnya di media yang lebih asyik. Lumayan juga buat menambah jumlah tulisan di blog.




Baiklah, sudah cukup basa-basinya. Lebih baik saya langsung menjawab 30 pertanyaan tentang film berikut ini:




1. Film favorit 

Inception (2010). Film yang bercerita soal menanamkan gagasan di kepala orang lain lewat mimpi bertingkat itu cukup melekat di benak saya. Bagi seorang penulis, hal itu sama seperti menyisipkan ide kepada pembaca. Saya jadi berpikir lebih jauh tentang gagasan. Bagaimana cara menawarkan hasil pemikiran saya ini kepada orang lain tanpa mereka sadari? Lebih-lebih tanpa harus menggurui maupun berkhotbah. Orang-orang jelas tidak suka diberikan nasihat, apalagi diceramahi. Jadi, saya perlu mencari cara yang dapat menghibur ataupun menggembirakan mereka. Sebagaimana jalan cerita filmnya yang merancang sebuah kisah di dalam mimpi, berarti jawabannya bisa dilakukan dengan mendongeng. A. S. Laksana kurang lebihnya pernah berkata begini tentang hal itu: ”Karena setiap orang menyukai cerita, tidak ada orang yang menolak cerita. Cerita bisa disampaikan secara akrab seperti kawan dekat. Saat berjumpa dengan kawan, kita bukan berbagi teori. Cerita tidak mengancam pikiran. Teori atau ideologi akan membuat orang waspada, sedangkan cerita tidak. Teknik bercerita yang bagus itulah yang kita perlukan. Saya memperlakukan pembaca sebagai teman dekat. Saya mengajak mereka bermain-main dengan dunia rekaan yang saya tawarkan.” 


2. Film yang terakhir ditonton 

Di bioskop: Avengers: Endgame (2019). Film penutup seri Marvel Cinematic Universe yang memukau, bahkan ciamiknya melebihi harapan saya. 

Di situs ilegal: The Graduate (1967). Film yang membuat Tom Hansen kecil (tokoh di film 500 Days of Summer) salah menafsirkan penutup ceritanya itu, entah kenapa bikin saya penasaran. Apalagi kemarinan saat 10 tahunan film itu, ada banyak komentar yang mengacu ke film The Graduate. Saya pernah membaca sedikit tentang novel The Graduate karya Charles Webb dari buku kiat menulis A. S. Laksana, Creative Writing. Pak Sulak menjelaskan bagaimana bikin dialog yang bagus dengan mencontoh suatu adegan di novel itu. 

Berhubung saya belum memiliki novelnya dan tidak tahu versi terjemahannya sudah tersedia atau belum, lantas terbitlah keinginan saya untuk belajar dari filmnya saja. Saya juga sekalian ingin mencoba menikmati film-film lawas. 

Kisah dibuka dengan adegan protagonis merasa tidak nyaman ketika harus bertemu dengan banyak orang di acara perayaan kelulusan yang digelar oleh orang tuanya, lalu diberondong dengan peluru-peluru pertanyaan mematikan. Orang yang baru lulus biasanya akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari keluarga, para kerabat, teman, dan tetangga: “IPK-nya berapa?”, “Habis lulus mau lanjut ke mana?”, “Mau kuliah lagi, kerja, atau menikah?”, “Eh iya, pasanganmu mana? Kok enggak datang di acara perayaan ini?”, dst., dsb. 

Cerita tentang kebingungan orang yang berada di fase baru lulus ini rupanya bergerak ke arah yang tak terduga. Protagonis bukannya merencanakan maupun mempersiapkan sesuatu untuk masa depannya, tapi justru mengisi kekosongannya dengan tindakan-tindakan tolol. Kisah cinta di film ini terasa goblok banget buat saya. Namun, bukankah dalam persoalan cinta kita memang sulit untuk mengendalikan logika? Pokoknya, film romansa komedi ini cukup menghibur. 


3. Film aksi favorit 

Kill Bill 1 dan 2 (2003 dan 2004). Film ini jelas kudu ditonton sepaket. Cerita balas dendam yang dikisahkan secara aduhai. Alur kisahnya pun bagi saya begitu asyik untuk belajar menyusun cerita. Ditambah lagi ada kejutan di akhir film yang terasa bajingan betul.


4. Film horor favorit 

Lagi-lagi harus sepaket. Insidious 1 dan 2 (2010 dan 2013). Saya jadi ingin bercerita sedikit, kenapa memfavoritkan film ini. Semua bermula ketika saya sedang main ke indekos Agus—salah satu teman kantor. Selain saya, tentu ada kawan lain yang datang, Indra dan Fahmi. Kami berempat pun bermain PES dari habis Magrib sampai pukul sembilan. Setelah bosan dengan permainan bola itu, Agus mengusulkan menonton film yang ada di laptop saya. Pilihan di laptop saya amatlah sedikit. Lalu, pilihannya jatuh ke film Insidious. Saya waktu itu dikasih fail filmnya oleh Indra. Saya belum sempat menontonnya. Karena tak suka film horor, Fahmi kemudian memilih pulang. Lagi pula besok juga harus bekerja. Dia sulit bangun pagi.

Sebetulnya, horor juga bukanlah genre yang saya minati. Saya terkadang juga membencinya, sebab kerap terbawa hingga ke alam mimpi. Film horor pasti bikin tidur saya kurang nyenyak karena sedikit-sedikit terbangun lantaran mimpi buruk. Tapi, mau tak mau saya harus menontonnya sebab itu laptop milik saya. 

Pada pertengahan film, saya ketakutan bukan main, bahkan mendadak tidak berani pulang ke rumah nantinya. Seusai menonton, rupanya saya betulan takut balik ke rumah. Saya berpikir untuk menginap saja. Apalagi saat menjelang tengah malam, saya tiba-tiba kebelet pipis dan sampai minta ditemani salah satu dari mereka untuk menunggu di depan toilet. Bangsat, rasanya saya pengecut betul mengingat kejadian itu. Saya pun berpikir bahwa film itu benar-benar seram dan berhasil bikin saya takluk.


“Yang, nonton Insidious 2, yuk!” ujar si pacar sewaktu saya sedang mengapelinya. 

Tak ingin terlihat lemah dan memberikan alasan-alasan yang kayaknya bakalan ditertawakan, saya lalu refleks menyetujuinya. Ketika saya mulai sadar akan menghadapi hal jahanam, saya pun menyugesti diri supaya berani menonton filmnya. Jangan sampai terlihat ketakutan di depan pacar. Saya harus bisa melindunginya. Menunjukkan sikap berwibawa. 

Ternyata, saya bisa menonton filmnya tanpa sekali pun menutup mata. Sesungguhnya ada adegan-adegan yang terasa bikin jantung copot, tapi saya bisa mengatasinya. Bukannya takut saat menonton film itu, saya malah merasa senang karena beberapa kali dipeluk sama pacar. Ia membenamkan wajahnya di badan saya. Saya tak menyangka bisa meredakan ketakutannya dengan mengusap-usap rambutnya seraya berkata, “Udah enggak ada setannya kok, Yang. Ayo lihat layar lagi.” Hari itu saya pasti telah menjadi sosok yang keren di matanya. 


5. Film drama favorit 

The Shawshank Redemption (1994). Karya tulis Stephen King yang diadaptasi ke film ini mengajarkan saya tentang harapan yang mesti tetap menyala dalam segala kondisi. Kisah pertemanan antara Andy Dufresne (Tim Robbins) dan Ellis Redding alias Red (Morgan Freeman) juga bikin hati saya hangat.


6. Film komedi favorit 

Man On the Moon (1999). Jika kamu bertanya apakah film ini lucu banget dan bikin rahang pegal karena keseringan tertawa, tentu saja tidak. Film ini justru lebih banyak membuat saya berpikir dan merenung tentang komedi itu sendiri. Andy Kaufman (Jim Carrey) selalu berusaha keluar dari pakem dan mendobrak pasar. Misalnya, membacakan novel The Great Gatsby dari awal sampai tamat. Penonton pun kesal dan marah, melemparinya dengan benda-benda, tapi ia tetap tak peduli. Mungkin kita mulanya akan berpikir, apaan dah ini orang enggak jelas. Namun setelah mencoba mengerti, pasti timbul pertanyaan semacam ini: Bukankah Andy berhasil mengerjai penonton atas tindakannya tersebut? Itu jelas lucu sekali. 

Andy selalu punya cara untuk menghibur penontonnya dengan ide-ide gilanya. Selain dengan membacakan novel sampai penontonnya jengkel, ia juga melakukan impersonasi pada beberapa tokoh, lalu rela patah tulang melawan pegulat profesional, serta bikin saluran TV pada program komedi situasi menjadi eror, hingga penonton berpikir TV mereka rusak. 

Pada suatu momen, ternyata Andy terkena kanker paru-paru. Ia berobat ke mana-mana, bahkan ke pengobatan tradisional di suatu negara terpencil yang konon ampuh mengobati segala macam penyakit. Ketika diperiksa dan ditangani oleh tabibnya, Andy mendadak tertawa. Saya awalnya bingung, loh, si Andy kenapa? Apanya yang lucu? Apakah udah berobat ke situ enggak bisa sembuh juga? Lantas saya paham bahwa kematian menjadi komedi tersendiri bagi Andy. Kelar menonton film ini, saya jadi teringat kutipan Charlie Chaplin, “What a sad business, is being funny.” 


7. Film yang bikin bahagia 

God of Gambler 2 (1990). Setiap kali menonton ulang film sekuel Dewa Judi yang menggabungkan aktor Hongkong ternama, Stephen Chow dan Andy Lau, pasti selalu membuat saya bahagia. Belum pernah sekali pun saya merasa jenuh akan tingkah konyol mereka. Dalam beberapa menit sekali, saya sering tertawa lepas. Beban hidup, kesepian, dan kesedihan yang sempat mengganggu keseharian saya, seakan-akan lenyap dalam sekejap saat saya terlarut ke dalam film ini.


8. Film yang bikin sedih 

The Green Mile (1999). Saya sempat menuliskan sedikit tentang film itu di Tontonan Ciamik Sebelum Tahun 2000


9. Film yang jalan ceritanya menempel atau hafal di luar kepala 

Final Destination 3 (2006). Dari kelima filmnya, saya paling menyukai yang ketiga. Hal-hal mengerikan, bagi saya, mudah sekali buat diingat dan bahkan kerap terbawa hingga mimpi. Memori tentang siapa saja yang mati, bagaimana cara tewasnya, beserta urutannya pun sungguh menempel di otak saya. Lalu, mungkin juga karena saya termasuk sering menonton ulang film ini demi bisa melihat Mary Elizabeth Winstead, aktris kesayangan saya—yang akan terjawab dengan lebih rinci di pertanyaan nomor 17, tulisan bagian kedua.


10. Sutradara favorit 

Siapa lagi kalau bukan Christopher Nolan? Jawaban ini cukup klise, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Saya bingung kalau harus menyebut nama lain. Saya sempat kepikiran nama Quentin Tarantino sebab baru-baru ini mengaguminya dan banyak belajar dari plot filmnya yang nonlinear. Namun menurut saya, itu belum cukup memuaskan karena beberapa pertimbangan. Mungkin saya juga suka sama Gaspar Noe dengan teknik psikedeliknya yang gila itu. Sayangnya, film dia yang saya tonton baru tiga, lalu yang saya betul-betul suka justru cuma satu. Mau menjawab Wong Kar Wai, entah kenapa saya cuma terpikat sama visualnya, pengambilan gambarnya, dan simbol-simbol di dalam film itu. Bagi saya, alur cerita dan tokoh-tokoh di filmnya masih terasa kurang. Kalau David Fincher, oke sih, tapi entah kenapa semuanya bakal kembali ke Nolan karena cuma film garapan dia yang paling banyak saya tonton (dan rela menonton ulang) ketimbang yang lain.

--

Berhubung saya takut tulisan ini bakal kepanjangan, maka pertanyaan selanjutnya akan dijawab di tulisan lain. Biar bacanya lebih enak, nanti saya jadikan tiga bagian. Toh, saya memang perlu menerapkan perkataan filsuf asal Bengkalis, “Butuh tiga part untuk menjelaskan itu semua.” Ini benar-benar ide cemerlang untuk menambah jumlah tulisan di blog.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/question-mark-question-symbol-463497/
Read More
Pertanyaan Haw di tulisan Pertemuan Dadakan: “Kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” yang gagal saya jawab karena ketiduran, entah mengapa beberapa hari kemudian justru kembali mengusik saya. Jika saya jawab sekarang, saya sangat yakin kalau tidak mencintai Tania. Jadi, untuk apa jadian? Dalam sepengetahuan saya, saat ini dia juga telah memiliki pasangan. Saya melihatnya biasa saja. Tak ada sedikit pun rasa cemburu atau kesal. Apalagi menyesal. Terus, bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya?

Kala pertama kami kenal pada 2016, saya sudah memiliki seorang pacar. Tahun berikutnya saya juga masih bertahan dengan pasangan. Meskipun saya tak pernah tahu bagaimana perasaan Tania ketika itu, seingat saya hubungan kami betul-betul sebatas teman bercerita yang sesekali nongkrong bareng. Kalau dia sampai sempat suka terhadap saya (ini hanya spekulasi, bukan kepedean), berarti saya emang berengsek. Bisa-bisanya bikin cewek lain naksir, padahal saya telah menjaga hati perempuan lainnya. Dengan kata lain: saya secara tak langsung menyakiti perasaan Tania. 

Singkat cerita, hubungan saya dengan si pacar pupus pada awal 2018. Hubungan saya dengan Tania juga sudah renggang sejak pertengahan 2017. Kami tidak pernah kontakan lagi. Hingga suatu hari, saya tiba-tiba merindukan Tania. Saya kangen bisa bertukar cerita lagi dengannya. Mungkin karena saya kesepian. Tak ada lagi pacar yang biasanya mendengarkan keseharian saya sebab baru putus sebulan lalu. Mungkin juga saya memang rindu sama seorang kawan yang sudah lama tidak berkomunikasi maupun berjumpa. Sampai-sampai perasaan kangen itu pun terbawa ke dalam mimpi saya. 



Lantaran mimpi itu, saya lalu terinspirasi menuliskan cerpen yang bentuknya semacam surat buat Tania. Saya tak berharap apa-apa saat menuliskannya. Saya cuma pengin meminta maaf sekalian berterima kasih kepadanya. Dengan mengucap basmalah, saya lantas mengirimkan tulisan tersebut sehabis salat Subuh. Saya pun agak deg-degan. Bagaimana kalau Tania mengabaikan surat itu? Bagaimana jika dia marah dirinya di dalam cerita itu ditulis seenak jidat oleh saya? Saya lalu mematikan ponsel karena cemas dengan pikiran-pikiran tolol saya sendiri.
Read More
Hari ini Dinda menikah. Atau mungkin seminggu yang lalu. Aku tidak tahu percisnya. Yang pasti sih hari Sabtu atau Minggu—sebagaimana orang-orang pada umumnya, sebab Senin sampai Jumat waktunya bekerja.

Aku baru saja mendapat kabar mengenai hal itu dari tulisan Dinda di blognya. Dinda sebetulnya bukan siapa-siapa di dalam hidupku. Ia cuma orang asing yang kebetulan kukagumi karena teks-teksnya yang berwarna sedih itu kerap mewakilkan perasaanku. Bisa dibilang Dinda cukup berpengaruh seperti Haruki Murakami dan Kawabata, sehingga beberapa kali tulisanku ikut-ikutan bernuansa muram.



Bagiku, Dinda adalah pelantun kesedihan. Sejak aku mengenal sosoknya dua tahun silam secara tidak sengaja di Twitter, lalu iseng mengunjungi blog yang tercantum di profilnya, ia belum pernah sekali pun membuat corak bahagia di kanvasnya. Baru hari inilah aku dapat membaca kegembiraan di dalam hidupnya. Entah sisi melankolis itu sosok sejatinya, atau hanya citra yang ia rancang buat ditujukan kepada pembaca, aku tak pernah tahu pasti.

Namun, setahuku jarang sekali yang membaca tulisan-tulisan Dinda. Jika tak salah ingat, tidak ada komentar yang meramaikan blognya. Sekalinya ada, paling cuma 1-2 orang. Mungkin ia hampir tak pernah membagikan kesedihannya itu kepada khalayak. Aku tebak palingan cuma kawan-kawan dekat Dinda yang mengetahui bagian rapuhnya itu. Jadi, aku menyimpulkan kenestapaan Dinda memang benar adanya. 

Dinda seakan-akan mengingatkan tentang diriku yang dulu. Jauh sebelum hari ini aku bisa asyik saja membagikan kesedihan dan kesepian hidup, aku gemar bersembunyi di Tumblr agar tak perlu ada satu pun manusia yang dapat melihatku menangis dan menjerit. Berkat tangisan-tangisan Dinda, aku jadi paham bahwa sedih itu hal yang lumrah.

“Bukankah wajar karena dia seorang perempuan? Kamu kan laki-laki, kalau kayak begitu artinya kamu lemah dong?”

Apakah pertanyaan itu harus kujawab? Aku tentu tak mau berdebat soal itu. Lagi pula, menangis hak masing-masing setiap orang, bukan? Selama tangisanku tidak mengganggu indra pendengaranmu, aku akan cuek saja. Seperti saat ini, misalnya, sewaktu aku mendengar berita pernikahannya. Entah mengapa rasanya nelangsa sekali. Kau tahu kenapa aku begini? Karena aku tak punya nyali sedikit pun untuk mengenalnya lebih dekat dari pertama kali aku tahu tentang dirinya. Aku sebetulnya sempat berniat untuk menyapanya, tapi begitu keberanianku telah kukumpulkan buat sekadar menekan tombol “ikuti” di media sosialnya sebagai permulaan, aku justru menemukan fakta bahwa kami berbeda agama.

Anjing, kenapa sih perbedaan semacam ini selalu menjadi persoalan pelik untukku? Sebenarnya untuk apa Tuhan menciptakan perbedaan, jika di lain sisi terdapat larangan menikah beda agama? 

Aku tahu, aku mungkin berpikir kejauhan. Tapi aku sudah telanjur suka dengan untaian kata miliknya. Mungkin mulanya cuma suka sebatas tulisan, tapi bagaimana jika itu berlanjut menjadi suka sama penulisnya? 

Aku pun ingin jujur tentang khayalanku terhadap Dinda: sebelum ia menikah, aku pernah membayangkan kalau suatu hari aku menunjukkan diri kepadanya, lalu mengajaknya berkenalan. Rupanya, ia terharu memiliki pembaca setia. Kami lantas janjian bertemu di suatu tempat. Membicarakan tulisan. Mengomentari hal-hal remeh yang mengusik pikiran. Kami pun berjumpa lagi pada kemudian hari. Kami mulai berbagi kesedihan. Bertukar cerita-cerita sendu. Lalu sepakat untuk bersama. Dan seterusnya, dan seterusnya, hingga kami mendadak ragu buat melangkah lebih jauh lantaran perbedaan agama.

Sesungguhnya aku heran, pantaskah aku bersedih pada hari pernikahannya, hari kebahagiaannya ini? 

Aku pernah mendengar kabar tentang mantanku yang menikah, tapi rasanya biasa saja. Kali ini, ketika Dinda—yang sesungguhnya cuma orang asing—menikah, kok perasaanku malah tidak keruan begini?

Apa kau tak percaya aku bersikap masa bodoh ketika mantanku menikah? Baiklah, akan kuceritakan sedikit. 

Pada suatu malam Minggu, saat aku lagi asyik membaca buku Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love, Farhan mengirimkanku pesan berupa gambar dan pertanyaan. 

“Mantanmu menikah hari ini. Kau diundang?”

“Aku malah baru tahu dari pesanmu itu.”

“Kalaupun diundang, kau mending jangan datang. Nanti kau sedih, terus kayak yang ada di video-video lucu dan viral itu lagi. Pacaran lama untuk jagain jodoh orang.” 

“Ayolah, itu sudah berlalu tujuh tahun lalu. Untuk apa aku harus bersedih, Han? Tanpa harus kau suruh, aku juga tidak mungkin datang seandainya mantanku mengundangku.” 

“Masa sih kau tidak sedih sama sekali? Kenapa kau tak mau datang?” 

“Biasa saja, sungguh. Terakhir kali kami tak sengaja bertemu tiga bulan lalu di pernikahan Meilda (kawanku saat SMA, kawan mantanku juga), aku santai saja melihatnya bersama pacarnya. Justru pacarnya yang kelihatan risih karena harus berjumpa denganku. Sepele sih, sebab aku lagi bokek.” 

“Ya, baguslah. Kau kan jadi bisa memberikan amplop kosong, terus makan sepuasnya. Sekalian balas dendam karena ia pernah menyelingkuhimu dulu.”

“Aku tak sejahat itu, Han. Lagian, buat apa balas dendam? Kemarahanku sudah usang.” 

“Kau betul-betul enggak bersedih sama sekali mengetahui mantanmu menikah?” 

“Aku malah turut berbahagia. Kau kelihatannya senang sekali kalau aku bersedih. Kau kenapa, sih? Lagi butuh hiburan?” 

“Iya nih, aku lagi bertengkar sama pacarku. Nongkrong, yuk! Aku traktir deh.” 

Malam itu akhirnya kami ngopi di Kafe Joni, Bulungan, Jakarta Selatan. Sembari menikmati kopi, Farhan masih saja menggodaku agar bersedih mendengar berita bahagia mantanku itu. Melihat upayanya yang ingin bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, sungguh membuatku kasihan terhadapnya. 


Aneh sekali. Ditinggal nikah sama mantan yang jelas-jelas pernah singgah di hatiku malah tidak menimbulkan rasa sakit maupun sedih secuil pun. Namun, giliran mengetahui kabar Dinda yang tentunya cuma alien atau mitos di dalam hidupku justru bisa sesesak ini. Sampai-sampai memaksa diriku yang awalnya sedang ingin jeda menulis, jadi harus bergumul lagi dengan teks demi membuang segala perasaan busuk ini.

Terima kasih, Dinda, berkatmu aku kembali menorehkan tinta berwarna suram lagi. Membuat mataku yang sedang musim kemarau mendadak menurunkan hujan. Membasahi hati yang lecet. Kau seolah-olah bikin aku kepengin menemukan cinta yang baru. 

Selain berterima kasih, aku juga ingin meminta maaf, Dinda. Aku tentu tak bisa hadir di pernikahanmu. Menjabat tanganmu dan mengucapkan selamat. Siapalah aku ini di matamu? Cuma makhluk tak kasatmata. Kau bahkan tidak mungkin tahu bahwa ada seorang aku yang mengagumi sisi gelapmu. Oleh sebab itu, aku hanya bisa bilang lewat tulisan yang tidak beralamat ini: Selamat berbahagia, wahai Pelantun Kesedihan. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dan memelukmu, lalu biarkan sedihmu itu kutanggung selamanya.
Read More
“Lu sempat merasa enggak, sih, Yog?” tanya Lisa ketika kami dalam perjalanan pulang sehabis wawancara kerja. “Kita sakit tuh sebetulnya firasat kalau bakal kejadian kayak gini?” 

Pertanyaan Lisa itu langsung bikin saya merenung tentang kejadian seminggu yang lalu. Lisa mengajak saya melamar kerja di kantor Rani—salah seorang teman kami—keesokan paginya. Saya merespons belum bisa karena lagi kurang enak badan. Saya mengusulkan beberapa hari lagi, ketika tubuh sudah pulih. Lisa pun sepakat karena dirinya juga masih ingin mempersiapkan CV dan beberapa dokumen lainnya.

Sayangnya, pada hari yang telah dijanjikan, sakit saya malah bertambah parah. Begitu terbangun dari tidur pada pukul 5, saya langsung memberi kabar dan meminta maaf karena membatalkan janji. Saya bermaksud meminta tambahan waktu. Kali itu, saya sungguh-sungguh berjanji: Apa pun yang terjadi nanti, entah sudah sembuh atau belum, saya bakalan siap berangkat. 

Jawaban Lisa sangatlah singkat, “Oh, ya udah.”

Itu tentu bikin saya berpikir, mungkin dia kesal, marah, atau bahkan malas sama tukang ingkar janji. Meski begitu, saya mencoba bersikap cuek. Seenggaknya saya sudah berkata sejujur-jujurnya. 

“Aduh, kayaknya enggak jadi dah, Yog. Hari ini gue diare,” jawab Lisa saat saya bertanya apakah hari ini jadi melamar kerja.

Saya pikir tadinya itu cuma alasan Lisa atau dia ingin balas dendam. Saya pun bilang kalau saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. 

“Gue betulan diare nih dari Subuh. Lu kalau mau tetap berangkat, ya udah enggak usah ke rumah gue. Langsung aja ke kantornya, ngelamar duluan.” 

Masalahnya, saya enggak tahu alamat kantornya Rani. Saya enggak terlalu akrab juga sama dia. Masa iya saya tetap pergi sendirian? Berangkat berdua menurut saya jelas jauh lebih enak. Seandainya nanti tersesat, orang yang membonceng bisa melihat aplikasi peta dan mengarahkan jalan. Sekalipun saya masih bisa berangkat sendirian dan nanti tinggal bertanya sama orang, entah kenapa saya mulai malas melakukan hal-hal yang terlalu nekat. Mau tak mau, saya pun membatalkannya. Saya balik lagi ke rumah.

“Besok aja gimana, Yog? Gue janji deh, kita besok betulan berangkat.” 

Keesokan harinya, kami betul-betul berangkat melamar kerja. Perjalanan kami pada hari itu bisa dibilang terhitung lancar, sekalipun kami sempat terjebak macet dan sedikit nyasar. Sesampainya kami di kantor itu, saya mendapati banyak sekali pelamar kerja yang sudah duduk menunggu. Saya lantas bertanya sama Lisa, “Ini kantornya emang tiap hari buka lowongan atau gimana, Lis?” 

Lisa mengatakan tidak tahu. Lisa lalu meralat ucapannya dengan kata mungkin, sebab perusahaan yang kami lamar ini termasuk outsourcing atau sejenisnya—yang tugasnya menyalurkan ke perusahaan lain seperti Grab, Tokopedia, Bank BNI, dsb. Saya awalnya hanya diajak melamar di bagian admin, penginput data, atau call center. Saya lupa bertanya lebih lanjut.

Sejujurnya, saya belum puas dengan jawaban tersebut. Walaupun tempat ini memang seperti yang dijelaskan Lisa, tapi mengapa jumlah pelamarnya bisa membeludak tidak keruan begini? 

Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika salah seorang HRD—perempuan yang saya tebak usianya 30-an, berambut lurus sebahu—berkata kepada dua puluh pelamar (termasuk saya dan Lisa) di sebuah ruangan, “Coba yang mendapatkan broadcast tentang lowongan kerja mengatasnamakan perusahaan kami, silakan unjuk tangan.”

Tiga belas orang mengangkat tangannya. 

“Itu pesannya hoaks. Jadi kami mohon maaf sama teman-teman semua yang sudah hadir.” 

Ternyata sebagian dari kami ini datang melamar pekerjaan karena mendapatkan pesan berantai tentang lowongan tersebut yang menjanjikan gaji sangat menggiurkan. HRD itu menjelaskan lagi bahwa hari ini mereka sudah menerima banyak sekali calon karyawan lantaran berita hoaks sialan itu. Mungkin prosesnya tidak bisa berjalan sebagaimana biasanya. Hanya cukup menaruh CV dan wawancara singkat saja. Psikotesnya perlu ditunda pada hari lain. 

Akhirnya, interviu saya pada hari itu tak berjalan dengan baik. Kalimat nanti kami hubungi lagi untuk psikotes jika lolos tes wawancara seakan-akan tidak menawarkan harapan sama sekali kepada saya. Saya dan Lisa pulang dengan perasaan jengkel sekaligus kecewa. 

Sebetulnya, saya tidak terlalu kecewa akan hal itu. Saya lebih kecewa karena kejadian berikut ini: 

Ketika saya mulai jenuh menunggu hampir 30 menit karena tidak ada instruksi apa-apa lagi sehabis mengisi data diri di meja registrasi, saya lalu inisiatif bertanya kepada staf keamanan yang berjaga di meja registrasi itu. Saya mengatakan bahwa punya teman yang bekerja di sini.

“Pak, kata teman saya, saya disuruh ketemu Bu Wulan. Saya harus ke ruangan mana, ya?” 

Staf keamanan itu terdiam. Berpikir sekitar sepuluh detik, kemudian malah menyuruh saya tetap ikut menunggu saja bersama para pelamar yang lain. Ternyata menyebut nama orang dalam juga tidak bisa membantu apa-apa. Mungkin karena jabatan Rani hanyalah selevel pegawai biasa. Bukan petinggi. Dan begitulah cerita bergulir hingga saya akhirnya masuk ke ruangan untuk dijelaskan perihal hoaks, wawancara singkat, terus pulang.

Saya pun langsung setuju dengan pernyataan Lisa soal firasat sakit itu. Mungkin saja Tuhan memberi tahu kami: sakit itu ialah tanda-tanda dari-Ku kalau kalian akan gagal. Lebih baik cari jalan lain. 


Frasa jalan lain mengarahkan saya ke sebuah pikiran tentang jalan menulis. Saya merasa sudah lumayan berjalan jauh di jalur ini. Konyolnya, saya belum bikin apa-apa. Penulis macam apa saya ini? Saya mulai mengingat pernah punya keinginan untuk menerbitkan buku kumpulan cerita sekitar tahun 2014-2015. Lalu, saya buang impian itu pada 2016 karena sadar diri betapa payahnya saya dalam urusan tulis-menulis. 

Tahun 2017, kala saya sudah mulai belajar hal-hal baru, khususnya penulisan fiksi, saya gali kembali impian yang terkubur itu. Saya mengumpulkan beberapa tulisan di blog dengan tema “perjalanan”, lalu mengubahnya dalam bentuk cerpen. Namun, proyek itu terhenti pada pertengahan jalan gara-gara charger laptop rusak. Sesudah saya belikan yang baru, semangat saya telah memudar. 

Tahun berikutnya, hasrat mengumpulkan cerita itu datang kembali. Tapi kali ini, saya enggak ingin meneruskan proyek itu. Saya mau menuliskan kisah-kisah baru dengan tema lain yang latarnya di kafe atau warung makan atau restoran cepat saji atau sejenisnya. Ketika cerpen itu baru terkumpul delapan buah, saya kehilangan minat lagi.

Saya pun marah terhadap diri sendiri. Proyek tahun lalu ditunda buat tahun depan. Giliran kalender sudah berganti menjadi tahun baru, saya justru malas melanjutkannya karena muncul ide-ide baru. Eh, ujung-ujungnya saya juga enggak bikin apa-apa sampai akhir tahun. Ulangi aja begitu terus setiap tahun. Anjing! Ya, mungkin ini termasuk keputusan yang tepat. Daripada saya tetap memaksakannya dan hasilnya jelek. Cari-cari alasan emang paling asyik, bukan? 

Tahun 2019 saya tak ingin jadi pecundang lagi. Saya berniat untuk menghasilkan sesuatu pada tahun ini. Tololnya, saya tetap bingung mau menciptakan karya yang seperti apa. Saya hanya mencoba lebih rajin bikin cerpen di blog. Paling tidak, hal itu sudah cukup menghibur saya. Hingga datanglah bulan Juni, tepatnya sehabis Lebaran. Saya merenung, tahun 2019 sudah mencapai setengahnya, tapi saya tetap belum menghasilkan apa-apa. Bagaimana kalau kegagalan ini berulang seperti tahun-tahun sebelumnya? 

Pertanyaan itu langsung memacu semangat saya untuk membuka lagi draf-draf lama. Saya menyelesaikan naskah-naskah yang baru setengah jalan ataupun yang baru tertulis poin-poinnya di memo. Sebagian dari cerpen-cerpen itu akhirnya berhasil rampung, tetapi saya lagi-lagi kehilangan selera untuk mengumpulkannya menjadi buku. 

Sebetulnya apa yang salah dengan diri saya? Apakah saya cemas kalau nanti naskah itu tak ada yang mau menerbitkannya? Apalagi mengenang setiap kali mengirimkan karya ke media daring yang berujung penolakan. Mungkin masih ada penerbit indie jika saya ingin tetap dicetak menjadi buku. Sayangnya, saya tetap butuh modal. Menengok diri saya yang lagi bokek, saya akhirnya membuang gagasan tersebut. Di tengah-tengah perasaan putus asa, lantas muncul pertanyaan: Saya selama ini menulis buat apa, sih? 

Terkadang saya berpikir menulis ini dapat menyembuhkan diri saya. Berkali-kali menulis terbukti ampuh bisa menjadi terapi jiwa. Tapi, di lain waktu entah kenapa justru bikin saya hancur. Konklusi semacam itu kemudian membuat saya menengok tulisan-tulisan yang ada di blog. Saya tentu memilih tulisan yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis maupun bloger. Lalu saya iseng menyuntingnya supaya lebih enak dibaca. 

Saking asyiknya mengurung diri di kamar dalam seminggu dan berkutat di depan laptop, kegiatan iseng-iseng ini justru berubah menjadi serius tanpa saya sadari. Akhirnya, saya berniat mengumpulkanya menjadi sebuah buku kumpulan cerita dalam format digital. Saya ambil benang merahnya: tokoh-tokoh yang mempertanyakan, “Menulis ini sebetulnya menyembuhkan atau justru menghancurkan dirinya? Maka, jadilah sebelas cerita tentang tokoh-tokoh yang bergelut di dunia tulis-menulis.

Setelah buku itu selesai dibuat, kini muncul masalah baru. Saya bingung buku digital itu mau dibagikan gratis atau dijual. Tapi mengingat perkataan Joker, “If you’re good at something, never do it for free,” tentunya saya jadi ingin menghargai diri saya. Toh, buku ini memang perlu saya jual agar bisa menyambung hidup sementara ini sebelum mendapatkan pekerjaan tetap lagi. Barangkali saja banyak yang berminat. Meskipun sebenarnya ada kecemasan di dalam diri, siapa coba yang mau baca cerita-ceritamu, lebih-lebih membelinya, setidaknya saya sekarang ini telah berusaha dan mencoba. Saya sudah berhasil mewujudkan mimpi untuk bikin buku kumpulan cerita. Saya melakukan semua ini karena benar-benar gemar menulis. Lagi pula, saya tahu bahwa rezeki juga sudah diatur. Jadi, saya mah bersikap santai saja. Tapi syukur-syukur, sih, betulan bisa laris manis. Aamiin.

Sekarang saya tinggal memutuskan berapa harga jualnya. Saya tak tahu berapa harga yang pantas untuk karya saya. Buku ini cuma proyek pelarian dari proyek yang sesungguhnya. Apalagi sebagian ceritanya juga sudah pernah tayang di blog.

Jika saya kasih harga 50 ribu, kok takutnya kemahalan. Kalau 20 ribu, merasa terlalu murah. Berhubung saya menyelesaikannya pada bulan Agustus, saya lihat saja tanggalnya yang sampai 31. Ya udah, saya tentukan itu sebagai harganya: Rp31.000

Lalu, sebagai anak Jurusan Pemasaran yang pernah belajar cara promosi, saya ingin memberikan diskon selama bulan Agustus ini menjadi Rp24.524—angka ini merupakan tanggal lahir dan usia saya saat ini. Bagi yang ingin mengunduh Fragmen Penghancur Diri Sendiri secara gratis (versi ini hanya tersedia sedikit cerita), silakan klik gambar buku berikut. Bagi yang ingin memesan versi utuhnya, silakan hubungi: ketikyoga@gmail.com. Terima kasih.


Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home