Kuis Bertema Film (Bagian Ketiga)

4 comments
Tulisan sebelumnya bisa kamu baca di Bagian Satu dan Bagian Kedua.

--

21. Film yang tidak ada satu pun orang bakal menduga kalau saya menyukainya

Unforgiven (1992). Saya membayangkan beberapa teman spontan bertanya ketika saya menyebut film ini, “Loh, Yoga suka film western kayak gitu?”




Sebetulnya, saya memang kurang suka dengan film western atau yang dipenuhi tembak-tembakan ala koboi. Saya nekat menonton film ini karena sehabis membaca esai Pak Sulak yang menyenggol film tersebut. Di tulisan itu saya baru tahu bahwa Unforgiven memenangkan dua piala Oscar untuk film terbaik dan sutradara terbaik. Seandainya film itu tidak memenangkan apa-apa, kalau Pak Sulak sudah merekomendasikannya dan bilang bagus, saya bakalan rela menontonnya. Bisa dikatakan beliau ialah orang yang saya percayai referensinya. Untuk menjawab mengapa saya menyukai film koboi ini, maka saya akan merangkum sebagian jalan ceritanya.

Kisah film ini dibuka dengan visual yang apik, lalu setelahnya malah berubah menjadi adegan yang sangat keji. Wajah seorang pelacur disayat-sayat pakai belati oleh penyewa jasanya. Apa kira-kira yang bikin cowok bedebah itu tega berbuat jahat kepada si pelacur?

Di Indonesia, seingat saya pernah ada kasus seorang lonte yang dibunuh dan dimutilasi lantaran dia mengatakan ketiak penyewanya bau comberan saat mereka tengah bermain kuda-kudaan. Nah, kalau di dalam film ini, perempuan jalang yang wajahnya dibikin cacat pakai belati oleh koboi—pemakai jasanya—itu lantaran si sundal tertawa ketika melihat burung si penyewa, atau malah berkata, “Tititnya kecil” (saya agak lupa mana yang benar antara kedua itu).

Namun, si koboi rupanya tidak dipenjara oleh sheriff yang bertugas di kota itu. Si koboi cuma disuruh membayar beberapa ekor kuda atas kejahatannya. Tak terima temannya diperlakukan seperti itu dan hukuman yang diberikan kepada koboi berengsek terasa tidak sepadan, para pelacur lain segera mengumpulkan uang untuk hadiah sayembara—bagi siapa pun yang berhasil membunuh koboi jahanam itu. Sayangnya, ada larangan membawa senjata di kota kecil yang ditinggali para pelacur tersebut.

Meski begitu, ada seorang koboi muda yang tetap tertarik, lantas mengajak koboi pensiunan (diperankan oleh Clint Eastwood) yang dulunya disegani setiap orang atas kejahatannya. Konyolnya, koboi pensiunan ini telah berjanji kepada mendiang istrinya untuk tidak mabuk-mabukan dan membunuh lagi. Sesampainya di kota itu, benar saja bahwa si koboi pensiunan justru dihajar habis-habisan dan tampak tidak berdaya. Pelacur yang wajahnya lecet-lecet itu kemudian menolongnya dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

Setelah cerita bergulir, sang koboi pensiunan mendadak terpicu akan sesuatu hal, sehingga dia rela melanggar sumpah kepada istrinya dan mengamuk lagi di kota itu. Akhirnya, dia bisa memperlihatkan wibawanya kembali di penghujung film.

Film Unforgiven secara tak langsung telah mengubah cara pandang saya terhadap film-film western.


22. Film klasik favorit

Saya jarang banget menyaksikan film lawas. Yang paling pertama muncul di kepala ialah The Godfather (1972). Tapi saya kurang sreg memilih film itu sebab beberapa kali mengantuk ketika menontonnya. Jadilah jawaban saya beralih menjadi Breakfast at Tiffany’s (1961). Alasan saya memfavoritkannya karena Holly Golightly (Audrey Hepburn) menjadi daya tarik di film ini. Terus, saya juga suka dengan salah satu tokoh yang berkarier sebagai penulis amatir. Saya punya ketertarikan khusus terhadap karakter yang profesinya penulis.

Biarpun di film ini tokoh Holly termasuk perempuan materialistis (saya agak malas dengan cewek-cewek yang menuhankan materi), dia itu amatlah misterius. Hingga bikin saya penasaran, Holly itu sebenarnya siapa? Apa alasan dia menjadi perempuan seperti itu? Dalam menjalani hidup yang mewah kayak begitu, dia dapat uang dari mana saja? Dan seterusnya, dan sebagainya. Saya mulanya sudah kecewa sekali dengan perangai Holly saat film bergulir di pertengahan cerita menuju akhir. Namun di penutup film, dia sungguh berhasil mengobati sekaligus memuaskan saya.


23. Film dengan trek suara terbaik

Saya perhatikan di pertanyaan ini banyak yang memberikan jawaban: La La Land (2016). Tapi maaf sekali, saya belum sempat menonton film itu. Kurang tertarik juga, sih. Entah kenapa saya bingung bukan main menjawab pertanyaan ini. Sejujurnya, saya memang rada jarang memperhatikan lagu-lagu di sebuah film. Sekalipun saya tahu, palingan satu atau dua lagu saja. Misalnya, saya ingat lagu Nirvana, Come As You Are, di film Captain Marvel (2019) yang sungguh mengejutkan para penonton di bioskop hari itu. Saya lantas terkenang pula dengan film Watchmen (2009). Film DC berdurasi 3,5 jam (panjang-banget-anjir) yang sangat beda dari pahlawan super lainnya ini menampilkan lagu favorit saya: The Sound of Silence dari Simon and Garfunkel pada acara pemakaman salah satu tokohnya. Lalu yang tidak kalah mencengangkan, lagu pengiring adegan seksnya justru Hallelujah karya Leonard Cohen. Kan konyol banget.

Masa iya saya harus memilihnya gara-gara hal itu? Saya pun mencoba berpikir keras seraya mengingat-ingat film yang musiknya asyik. Setelah merenung selama 8 menit 36 detik, maka jawaban saya adalah High Fidelity (2000). Selain karena filmnya berkisah tentang cowok bernama Rob Gordon yang memiliki toko piringan hitam dan, tentu saja, berhubungan dengan musik, saya suka dengan pilihan lagu di dalamnya. Ada musisi keren seperti Bob Dylan, John Wesley, dan Stevie Wonder. Berkat film ini saya juga jadi mengenal nama sekaligus lagu dari The 13th Floor Elevator dan The Velved Underground yang mantap didengar.






24. Film paling enggak favorit

Suicide Squad (2016). Saya terlalu berharap banyak dari film ini. Selama ini kebanyakan film pahlawan super lebih sering dituturkan lewat sudut pandang para pahlawan, lalu penjahatnya dibuat menderita atau kalah di akhir film. Kira-kira, bagaimana kalau hal itu di balik, ya? Saya mendadak jadi ingin tahu sudut pandang para penjahat. Nah, munculnya Suicide Squad ini seolah-olah mengabulkan doa saya. Kisah sekumpulan penjahat kayaknya bakal kebangetan kerennya nih, pikir saya sebelum menonton. Sebagaimana yang sudah saya jawab di tokoh favorit sebuah film, yakni Joker, saya juga rindu dengan karakternya yang bakalan menggila di film ini. Saya juga suka terhadap Margot Robbie yang bakal memerankan Harley Quinn. Ditambah lagi ada Cara Delevingne yang manis sekaligus nakal di mata saya. Pokoknya, imajinasi akan film tersebut sudah tersusun dengan ciamik di kepala saya. Namun begitu film diputar, saya malah jenuh dan mengantuk. Sebetulnya ini film apaan sih, ya Tuhan? Alur cerita enggak jelas. Tokoh antagonis yang buruknya bikin istigfar. Cara Delevingne yang saya duga akan tampil aduhai, justru bikin geli. Apalagi si Joker, buset anehnya kebangetan (aneh dalam artian jelek). Asli, rusaklah film ini.


25. Film yang memberikan kesenangan sekaligus perasaan bersalah

Suatu malam saya bertanya sekalian meminta saran kepada Tania, apakah punya rekomendasi film Thailand yang lucu seperti SuckSeed (2011) dan Pee Mak (2013)? Saya malam itu lagi butuh hiburan dan pengin ketawa karena lagi stres berat soal pekerjaan lepas. Tania lantas menyebutkan beberapa film, dan salah satunya Saranae Siblor (2010). Ternyata jawaban dia ampuh sekali. Saya sampai mengakak tidak keruan sepanjang menonton film ini. Kepala yang tadinya terasa berat karena banyak pikiran bisa mendadak ringan dalam sekejap oleh kegoblokan cerita di film ini.

Lalu, kenapa saya merasa bersalah? Sebab alur ceritanya keterlaluan absurd. Percintaannya juga tidak jelas. Film ini seakan-akan tidak memiliki premis. Selama saya menyaksikannya dari awal hingga film hampir berakhir, saya terus bertanya-tanya, sebetulnya film ini mengisahkan tentang apa selain cuma bisa bikin tertawa? Saranae Siblor mungkin hanya dirancang buat menghibur. Sehingga malah melupakan elemen-elemen penting dalam penceritaan.


26. Film yang paling mengecewakan

Justice League (2017). Dari segi plot saja buat saya sudah mengecewakan banget. Lalu kehadiran Superman bikin pahlawan super lainnya; Batman, Wonder Woman, Aquaman, Flash, serta Cyborg, tampak tidak berguna sama sekali. Apalagi musuh utamanya itu, yang mulanya tampak sangar dan tak terkalahkan, terus mendadak berubah culun di hadapan Superman. Enggak asyik banget. Film ini juga terlalu mengandalkan pesona Wonder Woman untuk menjual filmnya. Seakan-akan dengan melihat kecantikan Gal Gadot, penonton harus dapat memaklumi keburukan yang ada di film tersebut. 


27. Kutipan favorit dari sebuah film

Menurut saya, ada banyak kutipan keren dari setiap film yang pernah saya tonton. Sampai-sampai bikin saya bingung mau memilih yang mana. Tapi sepertinya baru film Fight Club (1999) yang bikin saya rela menjeda filmnya berkali-kali untuk sekadar mencatat perkataan-perkataan tokohnya. Sayangnya, Tyler Durden bilang begini, “The first rule of Fight Club is you don’t talk about Fight Club. The second rule of Fight Club is you DON’T TALK about Fight Club.”

Jadi, saya harus bagaimana? Saya tidak bisa membicarakannya, dong? Lelucon kayak begitu masih lucu atau enggak, sih? Hahaha. Baiklah, saya paling suka yang ini: “You're not your job. You're not how much money you have in the bank. You're not the car you drive. You're not the contents of your wallet. You're not your fvcking khakis. You're the all-singing, all-dancing crap of the world.”


28. Waralaba alias francis film terbaik

Marvel Cinematic Universe. Sepertinya tidak perlu ada penjelasan, ya? Tapi tulisannya nanti jadi pendek banget. Oke, inilah alasan saya memilih MCU: hingga saat ini memang cuma itu jawaban terbaik, sebab saya kurang sreg dengan film waralaba lainnya. Saya belum pernah mengikuti Star Wars dan Game of Thrones. Saya lumayan suka serial Harry Potter, tapi itu skornya jelas masih di bawah MCU. Lalu Fast and Furious, sejak kematian Paul Walker filmya malah jadi aneh banget dan alur ceritanya terlalu memaksakan. Saya pun tidak meneruskannya lagi. The Lord of the Rings bagus sih, tapi bagian keduanya bikin jenuh dan saya sampai ketiduran beberapa kali. X-Men Universe yang termasuk bagian dari Marvel pun tetap tidak bisa mengalahkan kemantapan MCU. Film triloginya bahkan dinilai gagal, makanya sampai harus dibuat ulang alur baru lewat X-Men First Class dan Days of Future Past. Jadi, ya tetap MCU.


29. Film yang dulu pernah suka, tapi sekarang benci

The Twilight Saga. Sebenarnya saat awal tahu film ini saya merasa biasa saja. Sewaktu SMK saya hanya pernah menonton sekali filmnya di televisi secara tidak sengaja, sebab malam itu tidak ada acara TV yang menarik. Lalu, sehabis lulus saya justru naksir seorang perempuan (pernah saya ceritakan di tulisan Es Campur) yang gandrung banget sama film The Twilight Saga. Secara enggak langsung, saya mau belajar menyukai hal-hal yang dia anggap favorit.

Sekarang, setelah tujuh tahun berlalu, saya entah mengapa sungguh membenci serial film itu. Bukan, bukan karena gagal jadian sama perempuan Gemini sialan itu, kemudian jadi ikutan membenci segala hal tentangnya, melainkan karena film percintaan semacam itu kini mulai terasa norak banget buat saya. The Twilight Saga, film tentang kisah cinta segitiga yang paling tai anjing!


30. Film yang setiap orang harus tonton

PK alias Peekay (2014). Lima tahun belakangan ini banyak manusia yang gemar sekali meributkan agama, khususnya di Indonesia. Mungkin sejak dulu sudah ada kericuhan seperti itu. Tapi setelah ada seorang nonmuslim yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, banyak oknum yang segera memanfaatkan momentum itu untuk memberikan bumbu agama dalam persoalan politik. Saya pikir orang-orang seperti mereka harus menonton film yang dibintangi oleh Aamir Khan ini. Saya sendiri sebetulnya sih tidak masalah dengan prinsip masing-masing manusia dalam menentukan pilihannya. Namun, mengapa kebanyakan dari mereka terlihat tidak bisa menghargai perbedaan? Bahkan dalam suatu kasus, mereka seolah-olah ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan hari ini.

Saya jadi tidak habis pikir dengan orang-orang yang berkata ingin melindungi Tuhan, sampai-sampai mengumpulkan banyak umat untuk melakukan aksi bela agama. Potongan adegan berikut ini sepertinya akan menjotos pemikiran mereka yang sempit dan bersumbu pendek.





--

Mungkin 30 jawaban saya atas kuis bertema film ini terlihat memalukan dan sok tahu banget. Apalagi di mata bloger pengulas film yang referensi tontonannya melimpah. Pastilah saya bakal ditertawakan, bahkan di-tai-tai-in. Tapi masa bodohlah dengan hal itu. Saya memang sedang belajar beropini dalam menilai suatu karya. Setidaknya, saya telah mencoba menjawab dan ingin punya takaran yang sesuai diri saya. Kalau perlu suatu hari kelak saya mau bersikap jujur dan berani bilang buruk akan hal yang saya nilai jelek, meskipun itu karya teman sendiri. Saya tak ingin menampilkan kepalsuan maupun kebohongan. Jangan sampai nanti ada orang yang berkata, “Menilai karya orang yang enggak dikenal kok kritis dan pedas banget. Tapi giliran teman sendiri aja ulasannya dibagus-bagusin, padahal aslinya enggak bermutu.” Begitu pula dengan orang yang tidak saya sukai. Kalau memang karyanya bagus, saya akan tetap memujinya tanpa mencampuradukkan perasaan pribadi. Semoga saja tulisan ini bisa jadi pengingat.



Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/admission-coupon-admit-carnival-2974645/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

4 comments

  1. Luar biasa mas Akbar ingatannya nih, bisa mengulas ulang film2 yang udah lama pernah ditonton. Saya cmn tau justice league, itu juga nonton saat di pesawat hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau enggak mau mesti menggali ingatan, Bang. Ada yang susah muncul, ada yang mudah. Nonton di pesawat tuh pakai earphone atau headphone gitu apa enggak, sih? Saya belum pernah naik pesawat.

      Delete
  2. aku belum nonton peekay ni. Hmm, interesting story. Aku coba cari ah...
    Yoga, aku takut kamu dibully haha.. mereka tu galak-galak lho.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tonton, Ran. Bagus itu. Ya, semoga saja tidak ada oknum yang menemukan tulisan ini. Bahaha.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.