Pertanyaan Haw di tulisan Pertemuan Dadakan: “Kenapa kalian enggak jadian aja, sih?” yang gagal saya jawab karena ketiduran, entah mengapa beberapa hari kemudian justru kembali mengusik saya. Jika saya jawab sekarang, saya sangat yakin kalau tidak mencintai Tania. Jadi, untuk apa jadian? Dalam sepengetahuan saya, saat ini dia juga telah memiliki pasangan. Saya melihatnya biasa saja. Tak ada sedikit pun rasa cemburu atau kesal. Apalagi menyesal. Terus, bagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya?

Kala pertama kami kenal pada 2016, saya sudah memiliki seorang pacar. Tahun berikutnya saya juga masih bertahan dengan pasangan. Meskipun saya tak pernah tahu bagaimana perasaan Tania ketika itu, seingat saya hubungan kami betul-betul sebatas teman bercerita yang sesekali nongkrong bareng. Kalau dia sampai sempat suka terhadap saya (ini hanya spekulasi, bukan kepedean), berarti saya emang berengsek. Bisa-bisanya bikin cewek lain naksir, padahal saya telah menjaga hati perempuan lainnya. Dengan kata lain: saya secara tak langsung menyakiti perasaan Tania. 

Singkat cerita, hubungan saya dengan si pacar pupus pada awal 2018. Hubungan saya dengan Tania juga sudah renggang sejak pertengahan 2017. Kami tidak pernah kontakan lagi. Hingga suatu hari, saya tiba-tiba merindukan Tania. Saya kangen bisa bertukar cerita lagi dengannya. Mungkin karena saya kesepian. Tak ada lagi pacar yang biasanya mendengarkan keseharian saya sebab baru putus sebulan lalu. Mungkin juga saya memang rindu sama seorang kawan yang sudah lama tidak berkomunikasi maupun berjumpa. Sampai-sampai perasaan kangen itu pun terbawa ke dalam mimpi saya. 



Lantaran mimpi itu, saya lalu terinspirasi menuliskan cerpen yang bentuknya semacam surat buat Tania. Saya tak berharap apa-apa saat menuliskannya. Saya cuma pengin meminta maaf sekalian berterima kasih kepadanya. Dengan mengucap basmalah, saya lantas mengirimkan tulisan tersebut sehabis salat Subuh. Saya pun agak deg-degan. Bagaimana kalau Tania mengabaikan surat itu? Bagaimana jika dia marah dirinya di dalam cerita itu ditulis seenak jidat oleh saya? Saya lalu mematikan ponsel karena cemas dengan pikiran-pikiran tolol saya sendiri.

Saya baru mengecek pesan itu lagi pada siang hari. Pesan saya rupanya belum terbaca. Bahkan hingga malam datang pesan saya juga masih belum dibaca olehnya. Saya pun berpikir, apa dia sudah menghapus aplikasi Line? Ya udahlah, seenggaknya saya telah berusaha menjalin tali silaturahmi. 

Sewaktu saya sudah tak memikirkannya lagi, ternyata besok siang surat saya malah mendapatkan respons yang lumayan baik. Dia berterima kasih dan kami kembali bertukar kabar. Biarpun interaksi kami hanya bertahan seminggu dan setelahnya benar-benar menjauh, beginilah isi surat saya ketika memulai obrolan dengan Tania pada setahun silam:


Tania, Mimpi Itu dari Mana Datangnya? 


Sekitar habis Magrib, saya menelepon kamu lewat Line. Dalam hitungan detik, kamu mengangkatnya. Saya mengucapkan salam, lalu kamu menjawabnya dan bertanya, “Kenapa, Yog?” 

“Aku kangen.” 

Saya enggak tahu kenapa langsung bilang begitu. Kamu pun terdiam. Hanya ada desah napas terdengar. Saya kemudian bingung mau berkata apa lagi. Akhirnya, saya menghela napas, mengembuskannya perlahan, dan mulai berbicara, “Maaf, aku baru bilang sekarang, Tan. Habisnya, aku merasa bingung buat ngomongnya. Aku pernah beberapa kali mimpiin kamu. Awalnya, tentu aku merasa senang, tapi setelahnya aku jadi sedih. Aku malah terbangun di kasur. Pertemuan kita itu cuma ilusi. Alasan kenapa aku saat ini langsung meneleponmu, sebab tadi sore mimpi itu terjadi lagi.” 

Umm, kamu baik-baik aja, kan?” 

Saya enggak tahu kudu jawab apa. Saya mungkin sedang heran dengan diri sendiri. Lalu, saya memilih bungkam. Sesudah itu, kamu bertanya lagi, “Yog? Kok diam aja?” 

“Aku baik, kok. Aku mau bilang itu doang. Sori ganggu ya, Tan.” 

“Ih, Yoga kok ngomongnya begitu banget. Kayak sama siapa aja deh. Terus kalau kangen, kamu sekarang mau ketemu?” 

Saya tertawa dan meminta maaf atas kata-kata itu. “Boleh, Tan. Kamu sendiri gimana? Mau?” 

Umm, mau-mau aja. Tapi aku masih ada kuliah sampai jam delapan, Yog. Kalau nanti dosennya lagi malas mengajar, mungkin enggak sampai satu jam bakal selesai. Kamu nanti bisa jemput aku di kampus?” 

“Bisa, Tan. Nanti aku tunggu kamu di Lawson samping kampus berarti, ya?” 

“Oke.” 


Kala itu, pukul sembilan malam, kamu mengajak saya ke suatu tempat makan yang belum pernah saya kunjungi maupun ketahui namanya di daerah Joglo. Setiap malam Minggu jalanan di sekitaran kampusmu, Resa Unggul, sungguh padat merayap. Karena itulah kita terjebak macet nyaris satu jam di perjalanan menuju warung makan yang kini saya lupa namanya. Saya juga sudah betul-betul lupa menu yang kita pesan malam itu. Yang bisa saya ingat: sambil menunggu pesanan siap disajikan, kita bertukar cerita. Kamu cuma bilang kabarmu baik dan tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Kamu seperti biasa lebih banyak mendengarkan cerita saya. Saya pun berpikir bahwa kamu memang pendengar yang baik. 

Lalu, saya mulai menceritakan segala kesedihan yang sempat kamu tanyakan di telepon, apakah saya baik-baik saja. Kisah saya mungkin tidak jauh berbeda dengan pertemuan terakhir kita yang sudah lama itu. Masih tentang pekerjaan menulis yang membuat saya risau. Apakah saya bisa hidup dari situ? Setiap kali melamar kerja di bidang yang saya sukai, gajinya sering tidak cocok. Terus, tulisan-tulisan yang saya coba kirimkan ke media, sampai sekarang ini masih berujung penolakan. Lama-lama, saya lupakan saja impian bekerja sesuai minat. Saya pun mencoba hidup realistis. Kini saya bekerja serabutan apa saja, yang penting halal. Yang penting saya masih bisa dapat uang dan tetap hidup. Kemudian, kamu bertanya mengapa saya enggak cari pekerjaan tetap. Saya katakan sudah, tetapi saat saya melamar pekerjaan tetap yang tidak ada hubungannya dengan dunia kreatif, terutama tulis-menulis, lagi-lagi saya gagal. Saya sendiri sudah lupa berapa kali kegagalan itu mendatangi saya. Saya sampai bingung sendiri apa yang salah dengan diri saya. 

Tapi inti dari semua cerita itu, saya merasa malu. Khususnya kepada keluarga dan teman-teman dekat. Saya belum bisa jadi orang yang berguna bagi mereka. Saya akhirnya menyalahkan diri sendiri. Boleh jadi usaha dan doa saya kurang maksimal. Lantaran hal itu, saya pernah beberapa kali menutup diri. Menarik diri dari dunia. Memikirkan lebih baik saya lenyap saja. Toh, tanpa kehadiran saya semua juga terasa sama. Dunia akan tetap berjalan sebagaimana mestinya tanpa seorang Yoga. 

“Kok kamu ngomongnya gitu, Yog?” katamu. “Yang penting, kan, kamu masih tetap berusaha. Umm, coba lagi dong. Jangan gampang menyerah.” 

Kalimat itu mungkin biasa saja kedengarannya. Klise juga. Namun, bibir saya tiba-tiba mengembang. 

Pramusaji mulai mengantarkan pesanan kita satu per satu ke meja. Wanginya bikin kita tidak fokus mengobrol. 

“Ya udah, ngobrolnya mending nanti lagi, Yog. Kita makan dulu, yuk! Aku laper banget,” katamu, lalu tersenyum dan tertawa kecil. 

Kita pun menghentikan pembicaraan itu dan menyantapnya. Selagi menikmati makanan itu, saya berkata dalam hati, ternyata saya masih memiliki teman curhat. Selama ini saya sering menahan diri untuk bercerita. Sebaik-baik menulis yang dapat membuat saya lega, saya ini kan seorang manusia. Makhluk sosial. Membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk dalam persoalan yang terlihat remeh ini. Lagi pula, selain berdoa dan mengeluh kepada Tuhan—hablun minallah, kan kita memang perlu hablun minannas. 

Bersambung... 

-- 

Tulisan barusan termuat di dalam buku Fragmen Penghancur Diri Sendiri—baik versi gratis maupun berbayar. Jika kamu ingin membaca kelanjutan kisahnya, silakan unduh dengan gratis di: Kumcer Fragmen ataupun memesan versi utuhnya lewat ketikyoga@gmail.com.

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/feather-write-communicate-3237961/