Aku sedang Mengulas Buku atau Menggerutu?

32 comments
/1/ 

Saya benci dengan kuis yang syaratnya minta ampun banyaknya. Misalnya, wajib mengikuti akun ini dan itu, mengunggah ulang info tentang kuisnya sekaligus mempromosikannya di akun media sosial, menyebut minimal tiga orang teman, serta memakai tagar yang bejibun. Biarpun hal barusan terasa keterlaluan, saya ternyata bisa lebih benci lagi terhadap para peserta yang berusaha menjilat jurinya supaya menjadi pemenang. Untuk persoalan yang kedua, saya sepertinya harus benci sama diri sendiri karena pernah melakukannya.


Suatu hari pada September 2019, saya sempat membaca informasi tentang kuis dengan hadiah menggiurkan yang diadakan oleh iPusnas dan Realme, dan syaratnya hanya tiga: 1) Mengikuti akun si pembuat kuis; 2) Mengunggah foto buku digital yang lagi dibaca di iPusnas ke sebuah situs; 3) Membuat ulasan singkat tentang buku tersebut. Sebagai pencinta gratisan, saya pun berusaha menyelesaikan buku yang sedang saya baca secepat-cepatnya sekalian bikin ulasannya sebanyak 500-an kata. 

Konyolnya, ketika saya menyalin ulasan dari aplikasi Catatan ke kolom komentar yang tersedia, muncul notifikasi eror. Saya mencoba menyegarkan halaman dan mengulang prosesnya, tapi lagi-lagi terdapat pemberitahuan yang sama. Mungkin sistem webnya melarang peserta untuk melakukan salin-tempel. Akhirnya, saya terpaksa mengetik ulang ulasan tersebut, lalu tiba-tiba enggak bisa mengetik satu pun huruf padahal jumlah ketikan saya masih pendek sekali, dan perlahan-lahan mulai mengerti bahwa kolom komentar pada situs itu cuma bisa menampung sebanyak satu paragraf—yang jumlah katanya paling-paling tak lebih dari 50 kata.

Ini sistemnya sungguh bajingan. Terus, buat apa saya bikin ulasan panjang kalau mesti memangkas hampir seluruhnya? Mulanya saya sudah ingin membatalkan rencana untuk ikutan kuis, tapi setelah melihat beberapa komentar peserta lain yang tampak memuji-muji bukunya dan cenderung menjilat, saya entah mengapa jadi ikut-ikutan berkomentar seperti mereka.

Selain masalah komentar yang benar-benar singkat, saya juga baru sadar mengenai kuis yang saya coba ikuti ini sudah dalam tahap hadiah puncaknya: ponsel seharga tiga juta. Berhubung hadiahnya semakin mantap, ketentuan kuisnya bertambah satu lagi, yakni mempromosikannya di InstaStory dan mengajak teman-teman yang lain ikutan. Sejauh ini, saya belum pernah sekali pun bikin cerita di InstaStory. Saya enggak bermaksud sok beda atau kepengin jadi hipster. Saya hanya telanjur malas memakai fitur itu, sebab ponsel saya yang lama belum mendukung penggunaannya. Kini, sehabis berganti ponsel yang sudah bisa menggunakan InstaStory, minat saya pun lenyap begitu saja. Alhasil, saya membiarkan diri ini gugur dalam kuis itu meskipun sudah kadung berkomentar dan mengunggah buku bacaan.

Hari ini saya sangat menyesali keputusan saya pada tempo hari atas komentar yang tampak menjilat. Walaupun sudah yakin tak terhitung sebagai peserta kuis, mestinya saya hapus saja komentarnya agar tak ada yang membaca ulasan tolol itu. Namun, terlepas dari hal-hal yang sudah lewat dan sebaiknya tak perlu disesali lagi, berikut ulasan saya sebelumnya atas sebuah buku di iPusnas. 


/2/ 



Saya tak sepakat dengan judul bukunya, Ernest Hemingway: 17 Cerita Terbaik. Baru sampai sebatas membaca judul dan daftar isinya, saya otomatis langsung membatin begini: Apanya yang terbaik kalau beberapa cerpen penting Hemingway yang terhimpun dalam kumcer Salju Kilimanjaro hanya masuk sedikit banget di buku ini? Tapi, menilai buku hanya dari judul dan daftar isinya jelas termasuk perbuatan tolol. Maka, saya harus menyimpan pertanyaan itu, membaca keseluruhannya terlebih dahulu, barulah memberikan penilaian. 

Berhubung beberapa cerpen yang ada di buku ini pernah saya baca dalam bentuk asli maupun terjemahan lainnya, saya sengaja melewatkannya dan memilih cerita-cerita lain yang belum pernah saya konsumsi saja. Sekelarnya membaca satu cerpen, saya bertanya-tanya mengapa tulisan Hemingway terasa jelek? Mengingat kualitas tulisan dalam sebuah kumpulan cerita yang biasanya tidak seragam (ada yang biasa saja, bagus, dan bagus banget, bahkan jelek), saya mencoba memaklumi dan meneruskan ke cerita selanjutnya. 

Pertanyaan itu lagi-lagi muncul di kepala saya. Apakah sang peraih Nobel Sastra ini juga pernah khilaf memproduksi tulisan jelek dan menghimpunnya ke dalam buku? Bisa jadi. Bisa juga proses alih bahasa yang membuat tulisannya menjadi buruk. Jadi, yang sebenarnya buruk ialah si penerjemah, bukan pengarang aslinya? Saya pun mulai meragukan kualitas penerjemahnya.

Daripada cuma menebak-nebak, bukankah lebih baik saya langsung mencari tahunya? Cara mengetahui hal ini tentu dengan membaca ulang cerpen terjemahan yang pernah saya lahap bentuk aslinya. Kesimpulan saya selepas membaca keseluruhannya: cerpen Hemingway terasa jelek karena proses penerjemahannya buruk banget. Beberapa kata begitu kaku saat dibaca, sehingga agak sulit buat menikmati jalan ceritanya. Apalagi ada banyak ejaan yang keliru seakan-akan tidak ada proses penyuntingan. Apakah penerjemahnya memakai bantuan Google Translate? 

Pertanyaan saya berikutnya, terlepas dari penerjemahannya yang busuk, apakah sang penerjemah juga bertugas sebagai kurator cerpen-cerpennya? Lantas, mengapa cerpen Salju Kilimanjaro dan Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat tidak ikut dimasukkan ke dalam buku ini? Mungkin selera si penerjemah juga patut dipertanyakan.

Tapi yang lebih penting dari itu semua, kenapa tulisan hasil terjemahan yang semrawut ini bisa menjadi sebuah buku dan diperjualbelikan? Sebelum menjadi versi digital yang dapat dinikmati secara gratis di iPusnas, buku-el ini pasti ada bentuk buku fisiknya, kan? Kok bisa sih penerbit mencetak buku dengan terjemahan sekacau itu? Sekalipun saya bukan penggemar Hemingway dan tak ada maksud untuk membelanya, menurut saya menjual buku terjemahan penulis besar yang digarap dengan serampangan merupakan bentuk penghinaan terhadap penulisnya. Rasanya sayang banget kalau sampai ada orang yang berpikiran Hemingway karyanya seampas itu lantaran si penerjemahnya yang tidak kompeten. 


/3/ 

Pada poin kedua, kalimat-kalimat saya atas kritik itu terasa sombong sekali, padahal di tulisan sebelumnya: Neil Gaiman – Orang Lain, kualitas terjemahan saya mungkin juga tak lebih bagus ketimbang si penerjemah buku yang saya ejek seenak jidat itu. Saya sendiri pun mengakui kalau kemampuan saya dalam mengalihbahasakan masih teramat jelek. Meski begitu, tak ada sedikit pun keinginan dalam diri saya buat mengomersialkannya. Niat saya menampilkannya di blog adalah buat berlatih, supaya beberapa pembaca bisa ikutan mengoreksi apa yang keliru dalam terjemahan saya. 

Alasan saya menerbitkan hasil terjemahan kacau yang mestinya bisa ditulis ulang atau diperbaiki lagi sebelum ditampilkan di blog, sebetulnya agar tulisan yang telah dipendam sejak Oktober 2019 ini bisa segera keluar dari draf. Selama ini saya kerap malu menampilkan ulasan-ulasan yang pernah saya tulis—khususnya saat membahas buku. Saya kira opini sok tahu saya ini enggak penting buat dibagikan ke khalayak. Siapa sih yang membutuhkan pendapat saya? Toh, biasanya proses membaca bagi saya juga bersifat pribadi, enggak usah melibatkan orang lain sebagaimana kegiatan merancap. Lebih-lebih saya juga sering minder dengan ulasan-ulasan keren yang pernah saya baca di Goodreads. Setiap kali saya ingin menampilkan ulasan di blog, seseorang di dalam diri saya pasti selalu mempertanyakan hal ini: Kamu sebenarnya sedang mengulas atau menggerutu? 

-- 

PS: Jika tulisan ini pada akhirnya terbit, itu semata-mata karena saya berusaha menepati janji kepada diri sendiri untuk lebih jujur dan cuek dalam menilai sesuatu mulai tahun 2020. Buanglah rasa malu dan tidak enakan dalam diri yang sejatinya cuma menyusahkan dirimu sendiri. Mau sampai kapan coba begitu melulu?

Sumber gambar: https://www.brilio.net/tag/kuis/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

32 comments

  1. Dasar penjilat! (Ngomong depan kaca)

    ReplyDelete
  2. Hauahahahahahahha aku ngakak baca reviewmu. :D. Dan sbnrnya ini bikin aku jd penasaran mau baca bukunya Yog. Blm prnh baca karya2 Hemingway. Jd pgn tau buku yg di atas, sekedar ngeliat seampas apa terjemahannya :D.

    Memang pling kesel kalo nemu penterjemah yg ga pinter translate isi buku. Malah jd kliatan kakulah. Padahal pas baca novel aslinya, aku malah LBH bisa nikmatin.

    Kalo kamu mau LBH jujur gini mereview, malah bgs kali Yog. Jd orang2 bisa tau kualitas isi bukunya gmn dan ga sembarangan beli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan dites sendiri, Mbak.

      Makanya belum berani menerjemahkan untuk kepentingan komersial selama kemampuan masih cetek. Saya juga sering kaku (merujuk hasil terjemahan terakhir) dan perlu banyak belajar dalam mengisahkan ulang sebaik versi aslinya.

      Sejujurnya, itu komentar spontan saya pas Oktober 2019, sih. Apa adanya banget. Makanya bingung ketika menemukan komentar orang-orang di kuis itu pada memuji buku yang lagi dibacanya, tapi enggak ada satu pun yang responsnya negatif. Kebetulan buku yang saya baca ini menimbulkan kesan buruk. Tapi sayang, enggak bisa komentar banyak dan terlalu dibatasi. Jadinya ikutan menjilat.

      Delete
  3. Yog, Yog, ikutan giveaway itu saingannya banyak. Kalau kamu memang perlu dan ingin mendapatkan hadiahnya, tidak masalah untuk melakukan segala cara. Termasuk menjilat. Tetapi ingat, tanggung jawab atas hadiahnya yang perlu dipikirkan. Saya termasuk orang yang masih kerap alfa soal tanggung jawab ini. Pernah saya mendapatkan hadiah buku dan sampai sekarang belum saya baca dan belum saya resensi. Ada rasa bersalah padahal di ketentuan giveaway-nya tidak menjelaskan harus diresensi. Tetapi penyesalan itu semacam moralitas baik yang terabaikan saja.

    Jadi, mulai tahun ini ayo bangkit dan keluarkan sisi terbaik kamu. Selama itu tidak melanggar agama, bukan tindak pidana, lepaskan apa yang kamu pikirkan dan kejar sampai batas kemampuan.

    anjritt!!!! Huh, ini saya salah banget, memotivasi orang padahal sendirinya anggota rebahan club-club, heheheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi integritas lebih penting daripada hadiah, Din.

      Belum pernah sih menunda baca buku pemberian seseorang atau menang kuis. Kalau mengulasnya mah emang malas. Lagian enggak ada syarat kudu menulis tentang buku itu.

      Di situasi yang lagi berengsek begini, sejujurnya sulit buat fokus menulis.

      Delete
  4. Dari sepengetahuan saya, kebanyakan memang begitu. Orang-orang kalau ikutan lomba atau giveaway yang syaratnya harus mereview sebuah produk/karya, biasanya ya, menjilat.

    *saya sering sih, walaupun kalah melulu xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memuji produk secara halus sih oke-oke aja sampai enggak kentara lagi menjilat, Wis. Kalau yang kasar kan kelihatan banget berlebihannya. Tapi bisa jadi itu sarkas juga, sih. Haha.

      Delete
  5. Tenangggggg saya juga penjilatt... jadi anda tidak sendirian menjilattt WOWOKWKKOWOWOWKO *apa si mike

    ReplyDelete
  6. iya lo kuisnya ga seberapa hadiahnya syaratnya masya allah
    aku sekarang kok jadi bodo amat ya klo mau ngreview entah film apa buku
    cuma klo buku lebih ke bentuk tulisan lain sih yg masih nyambung sama buku
    enggak pure review

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu banyak syarat, padahal hadiahnya seuprit.

      Delete
  7. Gue pernah baca novel sastra terjemahan. Penulisnya orang Rusia, tapi lupa judulnya. Ada sekitar 300-an halaman, dan terbagi dua bagian. Dan bagian satu, yang sekitar 150-an halaman, gue enggak ngerti satu kalimat pun. Baru mendingan setelah masuk bagian dua. Mungkin penerjemahnya sama. Entahlah. Namun, sebagai penyuka buku terjemahan, gue mengakui memang banyak buku terjemahan yang terjemahannya ampas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal gue niat baca buku terjemahan biar enggak repot-repot mencerna bahasa asing. Eh, ini malah lebih enak baca versi Inggris ketimbamg terjemahan amburadul.

      Delete
  8. Pertama, saya nulis komen yang pendek aja trs error keselnya minta ampun. Jadi sepertinya saya bisa merasakan penderitaan mas Akbar saat ulasannya harus ditulis ulang :D

    Yang kedua, jadi ingat dulu parodi lagu2 barat oleh grup yang suka bikin lagu2 lucu, katanya mereka dah minta ijin pada pemilik lagunya. Trs dijawab bole aja asal jangan ancur banget. Nah kaitan dengan terjemahan buku, untuk jadi parodi aja diminta jgn ancur apalagi buku cerpen yang serius yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditulis ulang pun juga ujungnya dihapus karena karakter terbatas. Hadeh.

      Saya belum pernah dengerin cover lagu yang jelek, sih. Syukurlah kuping saya masih terselamatkan.

      Delete
  9. Emang sih kalo udah kesel, bawaannya dah kesel aja.

    Pernah juga saya ada pengalaman kek bang yoga ini, ikut quiz apa gitu beberapa kali ngetik eh eror, ketik lagi eror. Dan akhirnya saya batal ikut quiz itu. Sekarang kalo liat quiz dengan syarat yg bertele-tele udah skip aja jadinya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Bang. Skip aja. Bikin kuis sendiri kalau perlu biar bisa jadi contoh. :p

      Delete
  10. Lupa kapan terakhir ikutan giveaway. Lupa juga kapan terakhir baca buku terjemahan. Astaga hamba nih hidup ngapaen aja yaelaaaah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Twitter sih saya lihat sibuk kulineran, jalan-jalan, dan tentunya kerja. Haha. Kalau bisa beli sendiri mah enggak usah ikutan give away, Teh. Saya waktu itu berburu kuis kan karena lagi bokek. Haha.

      Delete
  11. Kebanyakan emang gitu sih Mas, kalo mau menang ya banyak-banyak aja menjilat meski itu artinya nggak jujur ama diri sendiri.

    Duh.. ampas banget tuh, udah nerjemahinnya kacau, dikomersialkan pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mending jujur aja sih daripada menang dengan kepalsuan tai kotok.

      Delete
  12. Gue belum berniat membaca buku bahasa inggris sampai hari ini karena merasa otak gue lama prosesnya untuk membaca bahasa inggris, apalagi dalam bentuk buku. Tapi ya kalo baca terjemahan yang kacau juga bikin males sih. Sama kayak lu lah, ujung2nya menggerutu.

    Dan soal ulasan, gue selama mengulas buku kayaknya emang cuma ngasih opini pribadi sih. Bukan kayak bikin ulasan jurnal semasa kuliah yang harus dibandingkan sama jurnal lain sejenis (ini kata dosen gue untuk sebuah ulasan yang benar). Makanya agak malu juga kalo ulasan isinya curhat doang.

    Tapi tujuan gue mengulas kadang supaya nggak lupa sama isi buku. Soalnya gue anaknya gampang lupa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue lumayan sering akhir-akhir ini baca buku terjemahan Inggris. Karena yang tersedia legal dan gratis kebanyakan kan dalam bahasa Inggris. Meski ada iPusnas, buku berbahasa Indonesia yang gue minati masih amat terbatas.

      Ya, ini gue mengulas juga sesuka hati. Tanpa mencantumkan tahun terbit, apa penerbitnya, jumlah halaman, dst.

      Delete
  13. Terlepas dari buku terjemahan, lo kenapa benci sama yang ada di kalimat pertama yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang kebencian gue muncul begitu aja, sih. Jawaban simpelnya malas ribet. Mungkin karena esensi kuis di kepala gue itu berbagi hadiah, tapi kenapa kudu banyak syarat? Belum lagi yang hadiahnya terbilang murah, eh ketentuannya udah kayak berhadiah kulkas.

      Delete
  14. Nah aku paling menghindari adalah ikutan kuis yang syaratnya musti follow banyak banget akun huhu, terus musti ajak ajak teman lainnya buat ikutan juga, colak colek tag teg tag teg gitu, bukannya apa-apa, rasanya rikuh aku, ga enakan, apalagi karena aku sendiri juga kadang bingung dan heran sama teman di medsos terutama ig yang kadang tanpa ba bi bu suka ngetag ikutan kuis sebagai syarat,...like whoooot, kok perasaan jarang interaksi secara personal denganku, tetiba main tag tag hahhahaha (ya cuma bisa mbatin dalam hati aja), kecuali bila dia blogger dan sering interaksi di blog denganku ya aku maklum lah misal di ig ditag, ini pernah ngobrol aja nggak, main samber ngetag hahhahaha (tapi mung nggerutu doang dalam hati sih sebenarnya wakkakaka).

    Kalau soal kualitas penerjemah akhirnya menghilangkan esensi asli sebuah karya penulis yang notabene udah punya nama besar sih bener-bener ya, hahhaha...kasian memang jadi ke penulis aslinya,

    Mending baca aslinya kalau nemu yang begitu mah, ketimbang akhirnya pengen grememeng huahahha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena teman yang lain juga udah pernah di-tag. Jadinya dia mikir buat ganti-gantian. Terus Mbak Nita ikut kebagian deh. Kalau saya sih paling yang udah pernah ketemu dan main bareng, baru berani nge-tag. Hahaha.

      Gremeng ini bahasa Jawa bukan, sih? Kayak ngedumel begitu, kan?

      Delete
  15. Saya juga paling males kalo ikutan kuis atau giveaway yang syaratnya banyak banget. Saya berani ikutan kalo cuma nulis komentar + tag maks 3 orang aja, yang lainnya langsung undur diri haha. Itupun yang ditag paling keluarga sendiri, jarang ngetag temen.

    Masalah buku terjemahan memang agak kaku dan bisa beda penafsiran dan makna pas diubah ke bahasa Indonesia. Jadi lebih nyaman versi aslinya. Meskipun waktu bacanya jadi lebih lama, soalnya masih harus raba-raba, sekalian ajang nambah vocab dan belajar juga sih hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kudu post ulang poster tentang lombanya di Instagram. Kan nanti bisa merusak feed bagi mereka yang bikin foto-fotonya dengan konsep.

      Malah enak bisa sekalian belajar bahasa asing daripada kesal karena terjemahannya buruk.

      Delete
  16. Udah lama gak buka blog haha. Udah ada aja beberapa postingan baru.

    Kalo saya sering jadi korban tag-an temen yg mau menang GA di Instagram.

    Ngomongin buku terjemahan, saya pernah baca beberapa emang ngeselin, banyak yg gak ngerti maksudnya apaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya blog ini berusaha menerbitkan tulisan baru setiap minggunya. Jika ada hal-hal gawat, ya minimal dalam sebulan ada satu deh. Jadi, kalau ditinggal lama pun pasti akan ada tulisan baru. Haha.

      Itulah buruknya menjual buku yang terjemahannya kacau. Bikin pembaca kecewa.

      Delete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.