/1/ 

Saya benci dengan kuis yang syaratnya minta ampun banyaknya. Misalnya, wajib mengikuti akun ini dan itu, mengunggah ulang info tentang kuisnya sekaligus mempromosikannya di akun media sosial, menyebut minimal tiga orang teman, serta memakai tagar yang bejibun. Biarpun hal barusan terasa keterlaluan, saya ternyata bisa lebih benci lagi terhadap para peserta yang berusaha menjilat jurinya supaya menjadi pemenang. Untuk persoalan yang kedua, saya sepertinya harus benci sama diri sendiri karena pernah melakukannya.


Suatu hari pada September 2019, saya sempat membaca informasi tentang kuis dengan hadiah menggiurkan yang diadakan oleh iPusnas dan Realme, dan syaratnya hanya tiga: 1) Mengikuti akun si pembuat kuis; 2) Mengunggah foto buku digital yang lagi dibaca di iPusnas ke sebuah situs; 3) Membuat ulasan singkat tentang buku tersebut. Sebagai pencinta gratisan, saya pun berusaha menyelesaikan buku yang sedang saya baca secepat-cepatnya sekalian bikin ulasannya sebanyak 500-an kata. 

Konyolnya, ketika saya menyalin ulasan dari aplikasi Catatan ke kolom komentar yang tersedia, muncul notifikasi eror. Saya mencoba menyegarkan halaman dan mengulang prosesnya, tapi lagi-lagi terdapat pemberitahuan yang sama. Mungkin sistem webnya melarang peserta untuk melakukan salin-tempel. Akhirnya, saya terpaksa mengetik ulang ulasan tersebut, lalu tiba-tiba enggak bisa mengetik satu pun huruf padahal jumlah ketikan saya masih pendek sekali, dan perlahan-lahan mulai mengerti bahwa kolom komentar pada situs itu cuma bisa menampung sebanyak satu paragraf—yang jumlah katanya paling-paling tak lebih dari 50 kata.

Ini sistemnya sungguh bajingan. Terus, buat apa saya bikin ulasan panjang kalau mesti memangkas hampir seluruhnya? Mulanya saya sudah ingin membatalkan rencana untuk ikutan kuis, tapi setelah melihat beberapa komentar peserta lain yang tampak memuji-muji bukunya dan cenderung menjilat, saya entah mengapa jadi ikut-ikutan berkomentar seperti mereka.

Selain masalah komentar yang benar-benar singkat, saya juga baru sadar mengenai kuis yang saya coba ikuti ini sudah dalam tahap hadiah puncaknya: ponsel seharga tiga juta. Berhubung hadiahnya semakin mantap, ketentuan kuisnya bertambah satu lagi, yakni mempromosikannya di InstaStory dan mengajak teman-teman yang lain ikutan. Sejauh ini, saya belum pernah sekali pun bikin cerita di InstaStory. Saya enggak bermaksud sok beda atau kepengin jadi hipster. Saya hanya telanjur malas memakai fitur itu, sebab ponsel saya yang lama belum mendukung penggunaannya. Kini, sehabis berganti ponsel yang sudah bisa menggunakan InstaStory, minat saya pun lenyap begitu saja. Alhasil, saya membiarkan diri ini gugur dalam kuis itu meskipun sudah kadung berkomentar dan mengunggah buku bacaan.

Hari ini saya sangat menyesali keputusan saya pada tempo hari atas komentar yang tampak menjilat. Walaupun sudah yakin tak terhitung sebagai peserta kuis, mestinya saya hapus saja komentarnya agar tak ada yang membaca ulasan tolol itu. Namun, terlepas dari hal-hal yang sudah lewat dan sebaiknya tak perlu disesali lagi, berikut ulasan saya sebelumnya atas sebuah buku di iPusnas. 


/2/ 



Saya tak sepakat dengan judul bukunya, Ernest Hemingway: 17 Cerita Terbaik. Baru sampai sebatas membaca judul dan daftar isinya, saya otomatis langsung membatin begini: Apanya yang terbaik kalau beberapa cerpen penting Hemingway yang terhimpun dalam kumcer Salju Kilimanjaro hanya masuk sedikit banget di buku ini? Tapi, menilai buku hanya dari judul dan daftar isinya jelas termasuk perbuatan tolol. Maka, saya harus menyimpan pertanyaan itu, membaca keseluruhannya terlebih dahulu, barulah memberikan penilaian. 

Berhubung beberapa cerpen yang ada di buku ini pernah saya baca dalam bentuk asli maupun terjemahan lainnya, saya sengaja melewatkannya dan memilih cerita-cerita lain yang belum pernah saya konsumsi saja. Sekelarnya membaca satu cerpen, saya bertanya-tanya mengapa tulisan Hemingway terasa jelek? Mengingat kualitas tulisan dalam sebuah kumpulan cerita yang biasanya tidak seragam (ada yang biasa saja, bagus, dan bagus banget, bahkan jelek), saya mencoba memaklumi dan meneruskan ke cerita selanjutnya. 

Pertanyaan itu lagi-lagi muncul di kepala saya. Apakah sang peraih Nobel Sastra ini juga pernah khilaf memproduksi tulisan jelek dan menghimpunnya ke dalam buku? Bisa jadi. Bisa juga proses alih bahasa yang membuat tulisannya menjadi buruk. Jadi, yang sebenarnya buruk ialah si penerjemah, bukan pengarang aslinya? Saya pun mulai meragukan kualitas penerjemahnya.

Daripada cuma menebak-nebak, bukankah lebih baik saya langsung mencari tahunya? Cara mengetahui hal ini tentu dengan membaca ulang cerpen terjemahan yang pernah saya lahap bentuk aslinya. Kesimpulan saya selepas membaca keseluruhannya: cerpen Hemingway terasa jelek karena proses penerjemahannya buruk banget. Beberapa kata begitu kaku saat dibaca, sehingga agak sulit buat menikmati jalan ceritanya. Apalagi ada banyak ejaan yang keliru seakan-akan tidak ada proses penyuntingan. Apakah penerjemahnya memakai bantuan Google Translate? 

Pertanyaan saya berikutnya, terlepas dari penerjemahannya yang busuk, apakah sang penerjemah juga bertugas sebagai kurator cerpen-cerpennya? Lantas, mengapa cerpen Salju Kilimanjaro dan Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat tidak ikut dimasukkan ke dalam buku ini? Mungkin selera si penerjemah juga patut dipertanyakan.

Tapi yang lebih penting dari itu semua, kenapa tulisan hasil terjemahan yang semrawut ini bisa menjadi sebuah buku dan diperjualbelikan? Sebelum menjadi versi digital yang dapat dinikmati secara gratis di iPusnas, buku-el ini pasti ada bentuk buku fisiknya, kan? Kok bisa sih penerbit mencetak buku dengan terjemahan sekacau itu? Sekalipun saya bukan penggemar Hemingway dan tak ada maksud untuk membelanya, menurut saya menjual buku terjemahan penulis besar yang digarap dengan serampangan merupakan bentuk penghinaan terhadap penulisnya. Rasanya sayang banget kalau sampai ada orang yang berpikiran Hemingway karyanya seampas itu lantaran si penerjemahnya yang tidak kompeten. 


/3/ 

Pada poin kedua, kalimat-kalimat saya atas kritik itu terasa sombong sekali, padahal di tulisan sebelumnya: Neil Gaiman – Orang Lain, kualitas terjemahan saya mungkin juga tak lebih bagus ketimbang si penerjemah buku yang saya ejek seenak jidat itu. Saya sendiri pun mengakui kalau kemampuan saya dalam mengalihbahasakan masih teramat jelek. Meski begitu, tak ada sedikit pun keinginan dalam diri saya buat mengomersialkannya. Niat saya menampilkannya di blog adalah buat berlatih, supaya beberapa pembaca bisa ikutan mengoreksi apa yang keliru dalam terjemahan saya. 

Alasan saya menerbitkan hasil terjemahan kacau yang mestinya bisa ditulis ulang atau diperbaiki lagi sebelum ditampilkan di blog, sebetulnya agar tulisan yang telah dipendam sejak Oktober 2019 ini bisa segera keluar dari draf. Selama ini saya kerap malu menampilkan ulasan-ulasan yang pernah saya tulis—khususnya saat membahas buku. Saya kira opini sok tahu saya ini enggak penting buat dibagikan ke khalayak. Siapa sih yang membutuhkan pendapat saya? Toh, biasanya proses membaca bagi saya juga bersifat pribadi, enggak usah melibatkan orang lain sebagaimana kegiatan merancap. Lebih-lebih saya juga sering minder dengan ulasan-ulasan keren yang pernah saya baca di Goodreads. Setiap kali saya ingin menampilkan ulasan di blog, seseorang di dalam diri saya pasti selalu mempertanyakan hal ini: Kamu sebenarnya sedang mengulas atau menggerutu? 

-- 

PS: Jika tulisan ini pada akhirnya terbit, itu semata-mata karena saya berusaha menepati janji kepada diri sendiri untuk lebih jujur dan cuek dalam menilai sesuatu mulai tahun 2020. Buanglah rasa malu dan tidak enakan dalam diri yang sejatinya cuma menyusahkan dirimu sendiri. Mau sampai kapan coba begitu melulu?

Sumber gambar: https://www.brilio.net/tag/kuis/