Disforia Pengusik Kenangan berisi himpunan sajak Yoga Akbar S. yang ia tulis dalam rentang 2015-2019. Sebagian dari puisi itu pernah tayang di blog ini, WordPress, Tumblr, Twitter, ataupun caption Instagram dengan sedikit perubahan wujud. 



Sebelum kamu mengunduhnya secara gratis dengan mengeklik gambar di atas, kamu boleh menyimak cerita yang tidak perlu dipercaya di bawah ini. 

— 

Vakum menulis bukanlah hal yang baru buat saya. Penyebab utamanya tentu saya sedang bosan dengan dunia kepenulisan, bahkan cenderung muak. Selain itu, rasa malas pasti juga pernah ambil bagian dalam jeda tersebut. Saya sangat mengerti bahwa masalah-masalah itu merupakan faktor internal, maka solusinya jelas ada di dalam diri. Lalu, bagaimana kalau saya terpaksa berhenti menulis karena kondisi lain? 

Misalnya, ketika keadaan laptop saya mulai bermasalah pada akhir 2017. Waktu itu saya berusaha mencari berbagai cara untuk mengumpulkan uang tambahan demi bisa memperbaikinya tanpa harus repot-repot mengutak-atik saldo tabungan—yang jumlahnya tidak seberapa. Saya mesti giat mengambil beberapa pekerjaan lepas yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia kepenulisan. 

Di sela-sela vakum lantaran laptop tidak bisa dipakai sama sekali ataupun sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan itu, saya mendadak kangen menulis. Saya pun mengobati rindu itu dengan menuliskan pikiran-pikiran saya di aplikasi Catatan. Berhubung saya tidak suka mengetik yang panjang-panjang di ponsel, apalagi rawan tipo, saya seringnya hanya menuliskan gagasan dalam bentuk poin-poin atau sajak. 

Saya lalu membaca informasi tentang pemuatan puisi pada salah satu media daring yang honornya senilai dengan jatah makan saya seminggu. Harga itu ternyata juga setara dengan pengecas laptop saya yang rusak. Saya jelas langsung tergiur buat mengirimkan puisi-puisi saya ke media itu. Maka, setiap kali saya sedang senggang, saya mencoba membaca ulang seluruh sajak yang pernah saya tulis di blog, aplikasi Catatan, maupun Tumblr, kemudian menyuntingnya. 

Ada tiga belas puisi yang menurut saya lumayan. Mengingat syarat setiap kali mengirimkan ke media itu minimal lima butir puisi, berarti saya bisa mengirimkannya dua kali. Saya ingin mengetes terlebih dahulu kualitas puisi-puisi saya itu dan tak mau mengirimkannya sekaligus. Jadi, saya menimbang baik-baik mana yang pantas diikutsertakan, mana yang ditunda. Saya akhirnya memilih tujuh buah puisi (tiga terbaik dan sisanya yang biasa saja) sebab berpikir 7 itu adalah angka keberuntungan. 

Saya sangat berharap kalau sajak pilihan saya itu dapat terbit di media lain. Berarti sebelum mengirimkannya, saya harus memolesnya lagi agar hasilnya lebih ciamik. Setelah merasa cukup oke, saya mulai membuka surel, mengetikkan alamat media tersebut, melampirkan failnya, mengucap basmalah sekaligus berdoa, dan segera mengeklik tombol kirim. 

Sialnya, tetap belum ada jawaban dari mereka meskipun tahun telah berganti menjadi 2018. Saya sebetulnya sadar bahwa proses ini baru berjalan 2 minggu, sedangkan batas penentuannya selama 2 bulan. Namun, menunggu lebih dari sebulan bagi saya sangatlah menjengkelkan. Pikiran-pikiran buruk pun mendatangi saya dan melahirkan kesimpulan: tulisan saya ditolak. 

Kenapa saya belum apa-apa sudah pesimis, ya? Saya lantas berusaha memikirkan hal-hal positif seperti; jadwal penayangan rubrik puisi itu kan seminggu sekali dan butuh proses seleksi, mungkin jumlah penulis yang mengirimkannya juga kelewat banyak dan naskah saya masuk di antrean belakangan. Baiklah, saya perlu sedikit lebih rileks. 

Tapi yang namanya kecemasan pasti selalu datang dengan sendirinya tanpa bisa dicegah. Daripada saya semakin gelisah, saya lalu menyiasati hal itu dengan mengirimkan puisi sisanya sembari menanti kabar baik. Terlepas dari urusan puisi, saya akhirnya berhasil menabung sejumlah uang untuk membeli pengecas laptop dan kembali ngeblog. 

Dua bulan telah berlalu sejak pengiriman puisi saya yang pertama. Celakanya, lagi-lagi masih belum ada jawaban dari mereka. Jika begini melulu, barangkali saya tak usah berharap lagi sajak-sajak itu dapat terbit di media lain. Saya yakin kedua kiriman puisi itu bakal masuk ke keranjang sampah. 

Anehnya, saya sudah telanjur penasaran, juga ketagihan akan perasaan berdebar-debar selama menanti kabarnya. Saya terus berupaya mencari media lain yang sejenis, kembali mengirimkannya, dan hasilnya ternyata sama bangsatnya. Beberapa puisi yang mendapatkan penolakan itu akhirnya saya taruh di blog.

Memang dasarnya saya manusia berkepala batu, saya mulai mencoba lagi untuk menyusun sajak-sajak baru. Saya memilah mana yang cocok, kembali mengirimkannya, dan ... tetap tak ada jawaban yang menggembirakan. Proses semacam itu masih terus berulang sampai tahun ini (sebetulnya, masih ada satu media yang saya sasar sekitar dua minggu silam dan sedang masa proses, tetapi saya sudah kadung pesimis setiap kali mengingat penolakan-penolakan sebelumnya), hingga akhirnya saya kian muak, serta berpikir tak ingin menulis puisi lagi.

Mungkinkah sajak-sajak yang saya tulis itu keterlaluan buruk, sehingga tak ada satu pun media yang bersedia memuat dan membayarnya? Apakah semua puisi yang saya ciptakan itu terlalu mudah dipahami, diksinya teramat payah, dan tidak menimbulkan kesan di hati pembaca? Apakah saya tak akan pernah bisa menghasilkan sajak-sajak bagus, lalu mendapatkan tempat seperti para pensyair yang saya kagumi? 

Apa pun itu, yang jelas saya sekarang sudah sadar bahwa puisi memang bukanlah bidang saya. Paling tidak, untuk terakhir kalinya, saya masih bisa menghibur diri sendiri dengan mengeditnya supaya hasilnya lebih kece. Dari total sekitar 70 sajak yang terkumpul, saya berhasil memfilter yang sekiranya layak hingga jumlah finalnya menjadi 38 butir. Saya enggak menyangka, ternyata sisanya masih lumayan banyak meskipun sudah membuang hampir setengahnya. Kala itulah mendadak terbit sebuah gagasan di benak saya: Daripada fail-fail itu hanya terlantar di folder laptop, mendingan saya menghimpunnya menjadi buku digital dan membagikannya gratis sebagai kado tahun baru buat para pembaca blog saya. Untuk menutup tulisan ini sembari merenungi akhir tahun (apakah tahun depan saya masih sanggup mengisi blog ini?), saya cuma mau bilang: Selamat membaca dan bergembira—bisa juga bersedih jika kamu merasa demikian. Selamat tahun baru, wahai kawan-kawan semua. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam dunia kepenulisan saya.

— 

PS: Buku puisi Disforia Pengusik Kenangan tidak saya perjualbelikan karena saya tidak tahu berapa harga yang pantas. Biarlah sajak-sajak itu menjadi tak ternilai buat diri saya. Tapi sekiranya ada yang sudi membayarnya entah dalam bentuk apa pun (saldo rekening, pulsa, buku, atau cukup mendoakan saya sehat sentosa), saya akan dengan senang hati menerimanya. Kamu bisa juga mengapresiasi saya dengan membeli buku kumpulan cerpen Fragmen Penghancur Diri Sendiri.
Read More
Seorang kawan memberi tahu saya lewat kolom komentar Instagram mengenai seorang gadis manis yang pernah saya jumpai di sebuah acara bazar buku (lalu ternyata bisa berjumpa kembali di suatu kafe secara tidak sengaja) sedang berulang tahun. Saya tahu dia lagi bermaksud meledek akan fakta usia gadis itu yang sepantaran dengan adik saya, bahkan di bawahnya.

Terasa aneh bagi saya bisa mengagumi perempuan yang usianya belum menyentuh angka 20. Mungkin karena zaman yang semakin bergeser atau perubahan itu rasanya kian cepat, sampai-sampai saya terlalu sulit percaya dan otomatis merenung, mengapa anak-anak SMA zaman sekarang banyak yang aduhai? Berbeda sekali dengan zaman saya sekolah dulu. Di kelas dan jurusan saya saja tidak ada yang menarik, sehingga saya harus menyukai cewek dari jurusan maupun sekolah lain. Meskipun demikian, saya sudah telanjur kagum (sebelum tahu usianya), lalu akhirnya mengucapkan begini:



Selamat mengulang hari kelahiran, Sya. Semoga sehat sentosa dan bergembira. Orang-orang pernah berkata bahwa seiring bertambahnya usia, lingkaran pertemanan bakal semakin mengecil. Saya tak tahu itu berlaku pada semua orang atau hanya sebagiannya. Untuk berjaga-jaga, sebelum hal itu terjadi, maka nikmatilah waktu sebaik-baiknya bersama mereka. Pertahankan mereka yang menurutmu terbaik dan layak.

Namun, seandainya hari itu akhirnya datang, tepatnya saat kamu merasa sendirian dan butuh seorang kawan untuk mendengarkan ceritamu tapi mereka sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, sebagai None Buku kamu tentu masih bisa berteman dengan buku-buku. Mereka dapat menemanimu dalam situasi apa pun. Meminjam kalimat Ernest Hemingway (seorang penulis peraih Nobel Sastra): There is no friend as loyal as a book.

Salam,


Penggemarmu
Read More
Apa kamu pernah dijotos oleh tulisan sendiri? Jika saya yang mendapatkan pertanyaan itu, tentu jawabannya: lumayan sering. Saat merasakan sedih yang mendalam karena gagal lagi mendapatkan pekerjaan tetap, misalnya, saya justru bisa-bisanya membaca tulisan empat tahun silam tentang  69 kiat melamar dan wawancara kerja yang ngawur. Baru-baru ini, ketika saya lagi pengin berhenti menulis atau berniat vakum dalam jangka waktu yang teramat lama, saya tersadar kalau Hari Ibu bertepatan dengan tanggal dibuatnya blog ini. Kini, blog ini sudah berusia tujuh tahun. Saya lalu iseng mengecek sekaligus membaca ulang, kisah apa saja yang pernah terekam di sini. Pada saat itulah saya malah menemukan cerpen berikut di draf.




--

Rabu, 4 Juli 2018


“Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam ... menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit tulisan malam ini. Mungkin karena kau ... sedang pusing-pusingnya.” 

Kalimat barusan adalah lirik lagu dari grup musik Payung Teduh yang Agus pelesetkan sesuka hatinya. Tepatnya sih dia bermaksud mengubah lirik tersebut agar sesuai dengan keadaanku sekalian meledek. Dalam dua minggu belakangan ini, pikiranku mendadak buntu setiap kali berusaha menulis. Entah itu menulis esai, cerpen, puisi, ulasan, ataupun hanya curahan hati tak penting. 

Aku menceritakan permasalahan itu kepada Agus di sebuah warung kopi di sekitaran kampus Binus Syahdan yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku. Jarak tempuhnya hanya sekitar 10-15 menit jika menggunakan motor. Selain kami berdua, ada delapan orang lainnya yang masih betah di warung kopi ini pada pukul 01.17. Tiga orang bapak-bapak berada di dalam ruangan yang duduknya membelakangi kami sedang asyik menonton pertandingan sepak bola. Aku tidak sempat melihat ke layar kaca dan kurang berminat untuk mengetahui negara mana yang sedang bertanding pada Piala Dunia 2018 ini. Layar televisi di warkop ini agak buram karena antenanya rusak. Memaksakan diri untuk menontonnya jelas bikin mataku sakit. 

Sisanya ialah sekumpulan anak muda yang kutebak baru lulus SMA. Mereka lebih memilih duduk-duduk di luar. Mungkin karena di dalam warkop ini tidak ada kipas anginnya, sehingga mereka merasa gerah dan sumpek. Salah satu di antara mereka kemudian memutar musik di ponselnya. Kala itulah lagu Payung Teduh terdengar. Sebagai manusia yang tingkat kepercayaan dirinya teramat tinggi dan memiliki hobi ikutan bernyanyi setiap kali mendengarkan lagu, Agus pun langsung meledekku dengan lirik di kalimat pembuka tulisan ini. 


Sudah hampir empat jam aku duduk di depan laptop untuk bikin tulisan, tapi aku hanya bisa menuliskan dua ratusan kata. Setiap memasuki paragraf keempat, aku akan membaca ulang tulisan tersebut. Jika terasa buruk sekali, aku segera menghapus semuanya. Masalahnya, kalimat yang telah kutuangkan itu pun masih belum pantas disebut buruk sekali. Adakah kata atau frasa yang tepat sebagai pengganti “buruk sekali”, “jelek banget”, atau “sampah”? Sebagian penulis terkenal suka menyebutnya dengan istilah “jelek saja belum”. Mungkin kalau aku menyuruh orang lain untuk membacanya, dia pasti langsung menyeletuk, “Tulisan opo iki? Asu, elek tenan, Cok!” 

Kenapa komentar orang itu menggunakan bahasa Jawa? Aku betul-betul tidak mengerti karena suara yang muncul di kepalaku seperti itu. Namun, begitulah kira-kira wujud tulisanku. Aku sudah berkutat di depan laptop dari sehabis Isya, tapi tetap saja masih belum sanggup menulis dengan lancar. Padahal biasanya aku cuek sekali dengan draf pertama hingga bisa menghasilkan dua ribuan kata. Yang terpenting segala unek-unek bisa keluar dari hati dan kepalaku tanpa peduli betapa buruk hasilnya. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Aku langsung kepengin menghasilkan tulisan bagus. 

Pukul 23.24, ketika aku sudah frustrasi untuk melanjutkan tulisan, Agus mengontakku, “Masih melek, Yog? Gue laper nih. Di rumah udah enggak ada lauk apa-apa.” Begitu aku membaca pesan itu dan belum sempat membalasnya, Agus segera mengetik lagi, “Ke warkop biasa, yuk.” Pesan Agus bagaikan angin segar buatku. Sepertinya aku memang butuh menghirup udara segar. Aku akhirnya menerima ajakannya itu dengan syarat menggunakan motornya. 

Sesampainya di warkop, Agus segera memesan Indomie Jumbo plus telur dan kornet, sedangkan aku memilih roti bakar dengan selai nanas. Minum kami sama-sama es teh manis. Ketika dia sedang menyantap mi itu, aku mulai mencurahkan isi hatiku, bahkan aku juga sempat berujar kepadanya ingin berhenti bermimpi menjadi seorang penulis. Lebih asyik jadi pembaca saja. Aku tidak ingin lagi repot-repot duduk berjam-jam cuma untuk menghasilkan satu tulisan. Itu pun belum tentu hasilnya bagus. 

Aku awalnya mengira dia tidak mendengarkanku sebab tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya dan tetap fokus melahap makanannya. Tapi begitu mangkuk itu tidak lagi berisi mi, Agus akhirnya bilang, “Lu yakin mau berhenti sekarang?” 

Disodorkan pertanyaan semacam itu, aku sungguh tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Mungkin masih ragu atas apa yang kusampaikan kepadanya. Tanpa menunggu kalimat yang keluar dari mulutku, dia melanjutkan perkataannya, “Udah sekitar tiga tahun lebih lu bergelut di dunia itu, terus sekarang tiba-tiba mau menyerah?” 

Aku menggaruk-garuk kepala belakangku. Masih tidak tahu mesti merespons apa. 

Agus mencerocos dan mengisahkan tentang diriku bahwa setiap kali aku baru menerima upah dari tawaran kerja sama menulis dan punya rezeki berlebih, aku pasti berusaha untuk mentraktirnya di warkop ini. Setiap kali aku ikutan lomba dan mengeluh kepadanya kenapa masih belum juga menjadi pemenangnya, aku kelak bakal bangkit lagi. 

“Pokoknya, lu tuh jadi semangat banget buat menulis lebih bagus biar suatu hari bisa menang, terus akhirnya bisa traktir gue lagi. Tapi kenapa giliran pas otak lagi buntu begini, lu langsung melempem?” 

“Sebelum gue jawab,” ujarku. “Kapan, sih, gue ngejanjiin mau traktir lu kalau menang lomba?” 

“Ya, itu akal-akalan gue doang. Yang penting lu jadi punya tujuan buat menang, kan? Siapa tahu gara-gara niat itu takdir lu mulai berubah.” 

“Tai. Culas banget lu jadi orang. Tapi ya, bolehlah. Asalkan traktirnya di warkop ini.” 

“Gembel! Makan di restoran yang berkelas gitu, kek.” 

“Ya udah, pesennya di warkop sini. Baru nanti numpang makannya di kelas mana bebas deh.” 

“Bercandaan lu basi, Yog!” 

Meski demikian, kami berdua tetap mentertawakannya. Begitu tawa kami reda, salah seorang dari bapak-bapak itu meneriakkan “mampus, pinalti” dan kami berdua spontan menoleh. Kami berdua akhirnya terpaksa mendekat ke arah TV buat mencari tahu tentang pertandingannya. Ternyata Inggris melawan Kolombia. Kane yang menjadi eksekutor dan Inggris memimpin satu angka. 

Kami kembali ke tempat duduk semula. Aku menelan dua potong terakhir roti bakar milikku, lalu menyedot es teh manis hingga tandas. Satu menit berselang, terputarlah lagu dari Payung Teduh. Agus mengejekku dengan suaranya yang sumbang. Bagian terakhir dari lirik yang Agus nyanyikan itu, tepatnya pada kata pusing, membuatku merenung begitu saja. 

Jika tidak menulis dalam jangka waktu yang lama, otomatis kepalaku pasti pusing karena menyimpan banyak beban pikiran. Tapi saat aku sudah berniat ingin menumpahkannya, tentu akan terasa susah dan ujung-ujungnya membuat kepalaku pusing juga. Aku pun jadi serba salah. Lantas, apa yang harus aku lakukan kalau sudah seperti ini? 

Aku mulai mengingat-ingat tentang proses menulisku selama ini. Aku pernah beberapa kali jeda dari dunia tulis-menulis. Tiga bulan adalah rekor terlamaku. Bagaimana aku bisa tahan pada saat itu? Lalu, bagaimana caranya aku bisa memulainya lagi? 

Aku pun terkenang Ibu Almira—salah seorang psikiater yang sempat kudatangi. Dia memberikan nasihat soal masalahku itu bahwa solusinya cuma ada pada diri sendiri. Mau berobat ke mana pun, kamu enggak akan sembuh kalau kamunya sendiri enggak punya tekad buat sehat lagi, katanya. Pesan terakhir yang aku ingat darinya: Cara paling mudah dan murah untuk terapi jiwa ialah dengan menulis jurnal. 

Saat itu aku sempat bertanya, “Bagaimana kalau tulisan saya jelek?” 

“Saya bahkan meminta kamu menulis yang sangat jelek.” 

Aku spontan tersenyum. 

Meskipun perkataan “senyum adalah ibadah” sudah sangat klise, tapi sewaktu Bu Mira yang mengatakan hal itu dan memberi tahu soal senyum yang barusan merupakan pertama kalinya aku tersenyum sejak mendatanginya, entah mengapa menerbitkan rasa nyaman di hati. Apalagi setelahnya dia memuji tentang rona gelap wajahku yang perlahan-lahan berubah cerah. Seketika itu, aku mendadak lupa caranya menghentikan senyuman. 

Apakah kala itu aku betul-betul bikin tulisan yang paling jelek sampai akhirnya dapat kembali menulis? 

Jika ingatan ini tidak berkhianat, sepulangnya dari psikiater aku mulai menjadikan Tumblr sebagai jurnal harianku karena di platform itu nyaris tidak ada pembacanya, sehingga aku tak perlu merasa minder dengan apa yang kutulis. 

Berarti kuncinya memulai tulisan dengan jelek, ya? Apakah anjuran itu tidak keliru? Siapa coba yang sudi membaca tulisan buruk? 

Frasa tulisan buruk membawaku pada perkataan seorang penulis yang sudah kulupa namanya. Intinya, dia bilang begini: Enggak ada yang salah dengan hasil buruk ketika kamu menulis draf pertama. Itu sangat wajar. Orang yang bisa menulis langsung bagus tanpa diedit itu jelas anomali. Jadi kalau kamu bukan termasuk golongan itu, tulis saja seburuk mungkin, baru nantinya kamu edit sampai bagus. 

Baiklah, nanti setibanya di rumah aku akan mencobanya lagi. 

“Gimana? Masih kepikiran buat nyerah, Yog?” ujar Agus. 

Mungkin aku tidak bermaksud menyerah ketika bercerita kepada Agus tadi. Bisa saja lidahku terpeleset dan kalimat yang terlontar justru keinginan berhenti menulis, padahal maksudku yang sebenarnya cuma vakum. Barangkali hari ini kepalaku sudah terlalu lelah berpikir dan butuh tidur. 

“Mungkin lu lagi butuh pelukan, Yog,” ujar Agus seolah-olah dapat membaca isi kepalaku. 

“Pelukan siapa? Pacar udah enggak ada.” 

Agus kemudian merentangkan tangannya dan memberi gestur seakan-akan ingin memelukku. 

“Enggak lucu, tolol!” ujarku sembari memegang gelas bermaksud untuk menyambitnya. 

“Santai dong, Yog. Gue bercanda. Mending juga meluk cewek gue.” 

“Cewek yang mana? Rena atau Sinta?” 

“Anjing!” 

Aku barusan menyebutkan dua nama perempuan yang pernah Agus ajak kenalan lewat Tinder, tapi saat ditemui ternyata cantiknya itu imitasi. Agus telah tertipu wajah mulus efek filter atau editan Photoshop. 

Kami lagi-lagi tertawa. Kali ini suara kami lepas kontrol sampai-sampai salah satu dari bapak-bapak itu tiba-tiba menyuruh kami diam. Suasana untuk melanjutkan obrolan pun menjadi kurang asyik. Kami pun terpaksa memilih pulang. 

Sesampainya di rumah, aku pun menuliskan semua cerita ini. Apa yang Agus bilang tentang butuh pelukan agaknya kurang tepat. Aku hanya butuh kesabaran untuk tidak buru-buru membaca ulang dan menghapusnya ketika tulisanku masih berbentuk draf mentah. Selain itu, aku mungkin juga butuh ketahanan diri saat menyunting tulisan. Aku harus mengingatkan diriku sendiri agar tidak gampang muak ataupun puas sama tulisan sendiri. Sebab cuma bajingan pemalas yang enggak betah mengedit tulisannya sendiri, lalu membiarkan mata dan otak pembacanya menderita. Oh iya, sepertinya masih ada satu lagi, yaitu begundal goblok yang kelewat narsis dan kagum sama tulisannya sendiri, padahal jeleknya minta ampun. Apakah aku termasuk di antara kedua itu? Aku tak tahu. Yang jelas, sih, aku masuk ke kategori manusia tengik pembenci tulisan-tulisannya sendiri. 

PS: Aku tentu tidak menolak jika ada perempuan cantik yang ingin memelukku. 

--

Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/romantic-hug-togetherness-embrace-1934223/
Read More
Burung


Akar pohon itu menyembunyikan
kebohongan pada seekor burung.
Ia biarkan burung bercericau dan meneduh
sampai waktu menjeritkan aduh.

Apakah burung telah siap
jika suatu hari nanti
ranting akan mencengkeramnya?

Mengapa burung itu enggan bertarung?
Mungkinkah mati lebih puitis
daripada terkurung
di dalam sangkar murung?

/2018


Kucing

Kucing di dalam kepalaku
terus mengeong
kala aku menatap layar kosong.



Ia minta diberi makan
tetapi di tubuh kulkasku
tak ada ayam ataupun ikan.

Hanya ada deretan huruf miring
yang menunggu darah puisi kering
dan tersaring.

Lalu dengan gerakan tiba-tiba,
kucing lapar itu melompat
dan menggigit jemariku hingga putus

Ia memaksaku agar hiatus
sebelum sajakku berevolusi
menjadi bunga lotus.

/2017

--
Sumber gambar:

https://pixabay.com/id/photos/burung-jalak-bali-burung-jajak-bali-4589476/

https://pixabay.com/id/photos/kucing-kecil-anak-kucing-4611189/
Read More
1/

Aku sadar
bahwa tinta-tinta puisi
yang kulukiskan kepadamu
telah memudar
sebelum warna hijaunya
dapat menyentuh garis edar.

2/

Aku pedih
mendengar ocehanmu
yang selalu menerjemah
tangis itu berarti sedih.

Padahal, berulang kali sudah kubilang
air mata bisa menjadi apa saja.
Termasuk sebuah bentuk pengungkapan
atau penguapan bahagia yang mendidih.



3/

Aku hampa
melihat deretan sajak panjang
yang terpampang
pada lembaran daun ketapang.

Puisi itu dikunyah oleh burung-burung
sampai mereka kenyang, lalu terbang
mencengkeram segepok uang.

Sedangkan sajak-sajak pendekku,
adalah limbah yang tak dapat diolah.
Hanya mencemari sungai para penyair mewah.

Lebih pantas dipandangi kaum kelas bawah
kala mereka pulang memikul lelah
seraya membisikkan doa-doa lemah.

/2018

--

Saking muaknya mendapatkan penolakan, pada setahun silam saya pernah nekat menyindir salah satu media yang saya tuju dengan puisi jelek di atas. Sebetulnya saya selalu berusaha untuk sadar diri, bahwa jika ditolak itu tandanya tulisan saya belum cukup bagus. Namun, mengapa pada suatu hari saya menemukan cerpen maupun puisi yang bagi saya jauh lebih buruk, tapi tulisannya tetap diloloskan oleh media itu? Apakah itu karena penulisnya sudah menyandang nama besar? Jadi, seakan-akan redakturnya merasa tidak enak buat menolaknya? Dengan kata lain, menolak naskah seorang penulis yang sudah memiliki banyak karya adalah sebuah penghinaan terhadap penulis tersebut?

Saya mungkin masih pemula, anak kemarin sore, bau kencur, sok tahu, atau sebutan apalah yang cocok dilekatkan pada diri ini, tetapi saya sadar betul kalau menerbitkan karya buruk itu juga bentuk penghinaan terhadap orang yang menyukai dunia tulis-menulis.

Alasan mengapa saya kembali memajang tulisan-tulisan yang pernah mendapatkan penolakan dari suatu media ke blog ini, barangkali agar saya semakin sadar dan memilih berhenti mengirimkan naskah. Mungkin lebih baik saya juga tak usah menulis lagi. Lebih enak membaca saja, lalu mengejek tulisan-tulisan yang menurut saya busuknya keterlaluan. Mungkin sikap ini akan mendatangkan beberapa musuh. Mungkin malah ada yang berterima kasih lantaran memperoleh hiburan. Sebebasnya pembaca saja. Kali ini, saya tak ingin terlalu peduli dengan respons. Yang penting diri saya bisa bergembira.

Terlepas dari hal-hal barusan, sekiranya blog ini ke depannya masih menyuguhkan tulisan-tulisan yang mendapatkan cap jelek saja belum, kalian boleh banget menghina sepuasnya, dan saya tentu akan dengan senang hati menerimanya.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home