“Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.” Kalimat itu bisa kamu baca percis di bawah kolom komentar pada blog saya. Sebelumnya, kalau tidak salah ingat, saya menulis: “Jangan lupa memberikan komentar setelah membaca tulisan ini. Karena sebuah komentar bisa memotivasi bloger untuk lebih giat lagi menulis.”

Pixabay

Entah apa alasan saya mengubahnya beberapa bulan silam itu. Kalimat itu akan terlihat songong dan seolah saya tidak membutuhkan komentar di blog ini. Namun, bukan itu maksud saya. Saya tidak sesombong itu. Saya hanya merasa sebal ketika membaca komentar basa-basi di blog ini. Saya tidak perlu menjelaskan atau mencontohkan seperti apa komentar tersebut, kan? Yang jelas, salah satu teman bloger pernah curhat sekaligus bertanya kepada saya, “Kenapa masih banyak bloger yang komentar kayak baca judulnya aja, ya?”

Saya hanya tertawa dan tidak menjawabnya. Sejujurnya, saya pernah menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Sayangnya, setelah itu saya berpikiran kalau diri saya ini terlalu jahat kalau menduga beberapa orang yang komentar di blog itu tidak membaca tulisan saya. Lagian, saya tidak punya bukti apa-apa. Saya tau dari mana kalau mereka nggak baca? Suuzan dong saya? Ya, walaupun setelahnya saya akan tetap jahat karena mengeluh, “Ini orang komentar cuma biar blognya dikunjungi balik apa?”


Kalau diingat-ingat lagi, ternyata saya memang suka menerka sebuah komentar yang tampak basa-basi. Saya sebetulnya tidak ingin menghakimi orang yang berkomentar. Tapi setelah memperhatikan beberapa bloger yang memilih untuk memberikan moderasi komentar di blognya, saya pikir kami memiliki satu keresahan yang sama: malas atau kesal kala membaca komentar yang nggak penting dan basa-basi. 

Mungkin kemarin-kemarin saya resah sekali akan hal ini. Bahkan, beberapa kali menjadi ide tulisan blog yang isinya menyindir atau mengkritik mereka—para bloger yang komentar basa-basi tanpa membaca isi tulisan. Lalu sejak saya mengganti kalimat di bawah kolom komentar, saya tidak pernah memusingkannya kembali. Saya sekarang bersikap lebih cuek, sebab orang-orang seperti itu rasanya tidak akan punah. Begitu haus akan trafik. Peduli setan dengan baca tulisan blog, apalagi yang panjang-panjang. Yang penting udah komentar, pasti bloger itu gantian blogwalking. Ehehe.

Baru dalam pikiran saja, saya sudah merasa jijik. Seram juga membayangkan kalau saya punya pikiran sejahat itu. Setidaknya, itu jahat buat saya (kalau apa yang Rangga lakukan, baru itu jahat buat Cinta). Saya pun tidak ingin mencobanya. Lebih baik tidak usah berkomentar kalau niatnya cuma mengejar trafik. Omong-omong, tulisan saya sialan juga, ya. Saya sama jahatnya kalau mengomentari sifat jelek beberapa bloger itu. Membicarakan atau menuliskan tentang hal yang buruk memang mudah sekali. Sudah berapa paragraf yang saya tulis demi memancing ide-ide keluar, tapi hanya berisi keluhan. Kacau! Saya tidak mau terus-menerus meracau. Tulisan ini perlu diarahkan ke yang lebih benar dan bermanfaat buat pembaca (saya kurang yakin kala mengetik ini).

Jadi, awalnya saya hanya kepikiran suatu ide tentang berkomentar. Sehabis membaca tulisan Bayu Rohmantika: Asyiknya Mengomentari Adegan Dalam Sebuah Film, saya merasa punya versi sendiri, yaitu asyiknya mengomentari tulisan blog seseorang. Lucunya, saya malah berkomentar mengenai komentar para bloger yang tidak saya sukai seperti paragraf-paragraf sebelumnya. Saya sendiri termasuk orang yang hobi berkomentar di blog orang lain. Namun, saya berkomentar bukan untuk basa-basi. Saya memilih berkomentar seusai membaca tulisan blog orang lain karena memang ada sebuah keinginan.

Nah, dalam tulisannya itu, Bayu menuliskan kalau tidak ada komentar selama menonton berbagai adegan dalam sebuah film itu justru tanda bahaya. Bisa jadi filmnya membosankan dan membuat penonton tertidur. Jika saya mengaitkan ke dalam sebuah tulisan di blog yang sepi atau malah tidak ada komentar, maka saya pun sepakat dan tidak sepakat. Sepakat karena bisa jadi tulisan itu terlalu jelek. Jadi sebelum membacanya sampai habis, saya langsung menutup web itu. Boro-boro menuliskan komentar. Lalu saya bisa juga tidak sepakat, sebab bagaimana nasib para silent reader? Lagi pula setelah membaca tulisan Bayu sampai habis itu, saya pun nggak tahu harus berkomentar apa. Mungkin saking bagusnya.

Selesai membaca tulisannya, saya entah mengapa teringat diri saya sendiri. Saya pernah menegur orang tua saya yang mengomentari acara televisi. Baik ibu saya yang heboh sendiri ketika menyaksikan adegan kejahatan di sebuah sinetron, maupun ayah saya yang teriak-teriak kala menonton sepak bola atau bulu tangkis atau tinju. Mungkin saya memandang hal itu salah karena takut mengganggu tetangga.

Namun, apa yang Bayu tuliskan ada benarnya. Saya telah mengganggu kenikmatan orang tua saya. Siapa pun bebas berkomentar untuk menikmati apa yang dia tonton atau baca. Baik itu komentar yang berupa pujian, makian, kritikan, ataupun cuma komentar kurang penting. Sayangnya, di beberapa tempat memang ada peraturannya tersendiri. Seperti di bioskop atau perpustakaan yang tidak boleh berisik.

Lalu di blog pun semacam ada peraturannya sendiri. Dengan adanya fitur moderasi komentar, maka komentar-komentar yang ditampilkan itu terserah yang punya blog. Kalau itu spam, terdapat link aktif, atau dia tidak suka, berarti dia berhak menghapusnya. Saya termasuk orang yang membebaskan pembaca berkomentar apa saja. Saya tidak perlu repot-repot memoderasinya karena tidak setiap waktu bisa membuka blog. Kalau memang ada sebuah spam, toh saya tinggal menghapusnya nanti.

Kembali ke persoalan komentar di blog, saya merasa punya keasyikan khusus saat membaca komentar yang masuk di blog ini. Begitu juga saat saya memberikan komentar di blog orang lain. Saya mungkin senang mengekspresikan diri dalam berkomentar di blog. Beberapa tulisan bagus sering bikin saya mengomentari ini dan itu. Pokoknya apa yang menempel di kepala saya setelah membacanya. Yang paling sering saya lakukan adalah, saya bisa ikutan curhat kala membaca tulisan seseorang yang bagus.

Menurut saya, bagus tidak melulu soal diksinya yang menarik dan gaya bercerita yang bikin pembaca betah. Bisa saja karena tulisan itu memiliki sebuah “rasa” di dalamnya. Mungkin saya belum pernah mengalami kejadian yang dikisahkannya itu, tapi saat membaca ceritanya seolah-olah saya ikut merasakan apa yang orang itu tulis. Dia menulis karena hanya ingin bercerita dan tidak berharap bagus, tapi pembaca sering takjub dibuatnya. Ada beberapa orang semacam itu yang membuat pembaca jadi terhipnotis dan tiba-tiba mengetikkan sebuah curhatan panjang di dalam komentarnya.

Sebuah tulisan bagus memang memunculkan keinginan untuk berkomentar dan membawa-bawa pengalaman pribadi dalam komentarnya. Namun, ada juga yang beberapa kali memaksa saya menuliskan makian di komentarnya (biasanya terjadi ketika membaca tulisan fiksi dan saya tertipu). Dan, tidak jarang juga yang membuat saya bungkam. 

Kalau mengingat tahun 2015, masa di mana saya benar-benar aktif ngeblog, saya pernah dikomentarin seorang teman saat kopdar, “Tiap blogwalking kok kayaknya ada aja komentarnya Yoga. Ke blog ini, ada Yoga. Ke blog itu, ada juga Yoga. Rajin bener dah.”

Saat itu saya pun tertawa dan menjawab, “Nggak rajin juga, sih. Gue cuma ngerasa asyik aja blogwalking, terus ngasih komentar deh. Mungkin itu cara gue mengapresiasi tulisannya biar dia semangat nulis.” Karena itulah, dulu saya bikin kesimpulan kalau sebuah komentar bisa memotivasi bloger dan menambah semangat menulisnya.

Namun, perlahan-lahan pemikiran saya bergeser sebab adanya komentar yang saya bahas di awal tulisan. Saya tidak akan menyinggungnya lagi. Saya saat ini cuma berpikir, kenapa dari dulu (pertama mengenal blogwalking) sampai sekarang, saya memiliki keasyikan sendiri dalam berkomentar di blog orang lain?

Apakah itu memang cara saya untuk menikmati sebuah tulisan blog? Kayaknya, sih, begitu. Saya memilih berkomentar karena ada keinginan berkomentar. Mungkin sama halnya seperti silent reader yang menikmati tulisan orang lain dengan diamnya. Mereka memilih diam karena hanya ingin jadi pembaca yang tidak menunjukkan dirinya kepada si penulis. Padahal, saya termasuk silent reader pada beberapa blog khusus. Kemudian, saya juga memilih untuk lebih menunjukkan diri menjadi orang yang sering berkomentar.

Dalam memberikan sebuah komentar, biasanya saya langsung mengetikkannya begitu saja dan menekan publish tanpa memperhatikan salah ketik. Terus, entah bagian yang ingin saya komentari itu penting atau tidak, saya juga merasa cuek. Misalnya saat membaca ulasan buku atau film, tapi saya belum membaca atau menontonnya. Saya sering tidak mengomentari soal kisah di buku atau film yang diulasnya itu. Saya lebih suka mengomentari hal-hal yang dia kaitkan dalam kehidupan pribadinya.

Sebagai contoh saat membaca tulisan Icha yang membahas tentang film Marlina, Pengenang Bioskop dalam Empat Babak. Saya akui kalau saya memang belum menonton filmnya. Dan entah kenapa tidak ingin mengomentari kisah Marlina itu. Saya justru mengomentari tentang Icha yang diberikan uang oleh kakaknya, tentang asyiknya menonton sendirian, dan tentang bagaimana rasanya kejar-kejaran dengan waktu tayang film kala kita masih di perjalanan menuju bioskop. Saya tidak berusaha berbeda, tapi memang itulah yang ingin saya komentari. Setelah saya pikir ulang, kok komentar saya gitu, sih? Namun, kalimat itu sudah terketik dan terkirim. Saya tidak perlu menghapusnya.

Selanjutnya, saya juga tidak begitu memedulikan kalau sudah ada yang berkomentar sejenis. Ya, saya biasanya memberikan komentar tanpa melihat-lihat dulu komentar orang lain. Membaca komentar orang lain di blog seseorang seringnya saya lakukan sesudah berkomentar. Kecuali saya agak bingung mau komentar apa atau terlupa dengan bagian-bagian dalam tulisan itu. Tapi kalau saya sudah bingung, acapkali saya tidak akan meninggalkan komentar. Berkomentar bukanlah sebuah keharusan. Dan sepertinya, ada tulisan-tulisan yang memang tidak perlu dikomentari dan cukup dibaca saja.

Seperti saat menuliskan Sajak Seorang Pecundang, misalnya. Saya tidak mengharapkan adanya komentar karena tulisan itu awalnya tidak ingin saya tampilkan kolom komentarnya, bahkan tulisannya juga tidak ingin dibaca oleh orang lain. Namun, ketika itu saya nggak tahu harus bagaimana menuliskannya kalau dalam bentuk esai atau cerpen. Sajak rasanya sudah cukup mewakilkan keresahan saya dan bisa bersembunyi di balik diksi-diksinya. Jadilah tulisan itu saya publikasikan dan tetap saya sediakan kolom komentar. Ternyata, masih ada orang yang berkomentar di tulisan sajak itu, malah ada juga yang ikutan bikin sajak.

Melihat kolom komentar di tulisan itu, saya memperhatikan ada beberapa bloger yang biasanya rutin berkomentar di blog saya, tapi tidak meninggalkan komentar di tulisan itu. Saya tiba-tiba merasa bahagia. Berarti, orang itu berkomentar hanya ketika dirinya ingin. Meskipun ada kemungkinan dia belum membacanya, tapi saya mengira dia tidak ingin sok tau soal sajak yang saya buat itu atau terdapat hal lainnya yang menjadi alasan dia tidak berkomentar.

Saya pikir, memang begitulah sebaiknya. Selama ini saya selalu berkomentar karena sebuah keinginan. Kalau lagi nggak pengin, ya nggak usah komentar. Terlepas dari nanti saya dianggap tidak mau gantian mengunjungi blognya, ya itu terserah penilaian mereka. Oleh karena itu, saya juga tidak mau pembaca blog ini mengharuskan dirinya berkomentar di setiap tulisan saya. Berkomentarlah ketika kamu memang menginginkannya. Jangan sampai terpaksa berkomentar. Apalagi merasa nggak enakan. Melakukan hal yang terpaksa bukankah tidak enak?

Jadi, apa komentarmu setelah membaca tulisan ini? Atau lebih baik tidak perlu berkomentar? Itu pilihanmu. Begitu juga dengan pilihan saya yang tidak berkomentar dan malah terinspirasi bikin tulisan di blog (walau akhirnya tidak jelas begini) setelah membaca tulisan Bayu.