Menyadur Ingatan Nenek

Selain bahasa Inggris, dalam dua tahun terakhir ini saya iseng belajar beberapa bahasa di Duolingo seperti Jepang, Thailand, Vietnam, Mandarin, serta Spanyol. Saya gampang menyerah dalam bahasa Thailand, Vietnam, dan Mandarin lantaran tak punya alasan kuat buat apa saya mempelajarinya. Keisengan itu muncul hanya karena ada segelintir teman di gim online yang berasal dari sana dan memakai bahasa tersebut. Namun, setelah saya coba dasar-dasarnya justru sudah tergolong sulit. Jika saya pikir-pikir ulang, ketika mengobrol bersama kawan di Discord, kami tentu lebih sreg menggunakan bahasa Inggris. Itulah yang membuat saya berhenti. Saya lantas menyerah juga dalam bahasa Jepang sewaktu pusing melihat dan menghafalkan huruf-huruf kanji.
 
Akhirnya, Spanyol merupakan satu-satunya bahasa yang masih bertahan saya pelajari sampai hari ini, meski progresnya terbilang sangat lambat. Setidaknya, sewaktu saya menonton serial Money Heist, ada kata-kata yang saya mengerti tanpa harus membaca subtitle, dan kala itulah ada sedikit kebanggaan di dalam diri. Nah, hasil belajar kurang lebih selama setahun itu lantas bikin saya iseng menyadur atau mengisahkan ulang cerita ringkas di Duolingo yang tadinya berbahasa Spanyol menjadi bahasa Indonesia.
 
 

 
 
Ingatan Nenek 
 
Lina sedang memandangi album foto yang berisi beberapa potret kakeknya bersama Lusi—yang tidak lain tidak bukan merupakan neneknya. Saat Lina merasa betapa serasinya mereka berdua, dia pun spontan bertanya kepada neneknya, “Bagaimana, sih, momen saat Kakek melamarmu, Nek?”
 
Lusi terdiam belasan detik. Wajahnya tampak sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu, dan setelah bilang “Ah, aku ingat”, dia akhirnya meluncurkan cerita berikut: “Waktu itu kami berdua sedang berkendara mobil mengelilingi kota. Di tengah perjalanan, dia berujar tentang sesuatu yang mengejutkan dan mendadak memberhentikan mobilnya. ‘Ada barang yang perlu kuambil,’ katanya lebih lanjut.”
 
“Apakah itu sebuah cincin?” kata Lina, memotong pembicaraan.
 
“Bukan. Dia mengambil sebuah koper dan langsung bergegas kembali ke mobil.”
 
“Sepertinya Kakek sangat antusias, ya.”
 
“Begitu dia menyetir lagi, dia rupanya membawaku ke gunung.”
 
“Wah, betapa romantisnya kalian.”
 
Lusi kembali melanjutkan ceritanya bahwa ketika itu mereka benar-benar mengebut, dan kala itulah dia sadar ada banyak mobil yang mengejar mereka berdua.
 
“Oh, tidak,” kata Lina.
 
“Kami langsung keluar jalur, lalu kakekmu bilang begini: Bawa koperku dan kaburlah. Kita harus melindungi dokumen-dokumen di dalamnya.”
 
“Dokumen apa, Nek?”
 
“Ya, dokumen di dalam koper.”
 
Lina pun menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sembari protes kalau dia tak paham sama sekali dengan cerita yang dituturkan neneknya.
 
“Ah, tunggu. Sepertinya yang barusan bukanlah cerita yang tepat. Itu mah momen ketika aku dan kakekmu sedang bekerja sebagai mata-mata.”
 
Lina melongo mendengar ucapan itu.
 
“Aduh, lupakan saja apa yang barusan kuceritakan. Maklum, aku sudah tua dan nyaris pikun.”
 
--
 
PS: Narasi dan percakapan aslinya tentu jauh lebih singkat ketimbang versi saya. Saya sengaja memodifikasinya demi berlatih sekalian mengasah kemampuan menulis yang rasanya kian tumpul akibat terlalu sibuk dengan realita. Saya bahkan sudah lupa caranya menulis panjang hingga seribu kata lantaran belakangan ini yang saya tulis bentuknya selalu puisi hasil meracau alias omong kosong. Semoga saja setelah ini saya bisa lebih banyak menghasilkan teks seperti dulu.
 
Gambar aslinya berasal dari Pixabay dan saya edit sesuka hati.

4 Comments

  1. Hebat Yog, masih semangat untuk belajar bahasa asing. Saya mentok di bahasa Indonesia aja. Coba Bahasa Inggris juga masih bebal buat paham. Jadinya belum bisa banyak.

    Cerita Menyadur Ingatan Nenek berujung lucu ya, namanya nenek-nenek, ujung-ujungnya pasti pikun. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sejak doyan baca buku digital (kisaran 2018) emang mulai membiasakan baca bahasa asing, khususnya Inggris, Din. Bahasa selain itu, murni iseng aja. Siapa sangka malah berlanjut nih yang Spanyol. Haha.

      Hampir setiap cerita ringkas di Duolingo ini pasti ujungnya lucu/konyol.

      Delete
  2. Hahahahah, si nenek, ini antara fakta atau beneran cerita khayalan karena kepikunan nya yaa , πŸ˜„πŸ˜˜.

    Gapapa Yog, walo mungkin agak beda Ama aslinya, tp tetep menarik dibaca. Yg penting pada akhirnya cerita terjemahan itu tetap mudah dimengerti toh.

    Kalo soal belajar bahasa, aku memang udah nyerah Ama bahasa yg hurup nya aja pake aksara sendiriπŸ˜‚. Aku lebih milih yg masih pakai aksara latin deh πŸ˜…. Jadi ga ribet ngapalin hurup segala hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya. Faktor U bikin ingetan si Nenek ini blur.

      Iya, Mbak Fanny. Saya berusaha memakai kata-kata yang mudah dimengerti juga, sih.

      Asli itu emang susah banget kalau harus menghafal aksaranya juga.

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.