Bermula dari seseorang di Twitter yang bikin utas tentang mengeset ulang budaya Indonesia dengan menampilkan berbagai video lawas—di antaranya terdapat iklan Tory Cheese Cracker dan permen Milkita, video hoaks manusia yang dikutuk jadi ikan pari, video lip sync Sinta dan Jojo, serta Briptu Norman, dan acara MTV musik; saya pun terpicu untuk menonton salah satu klip video yang dia bagikan, yakni Project Pop – Bukan Superstar.

Berhubung durasi maksimal video di Twitter hanya 2 menit 20 detik, saya tentu harus melihat keseluruhan klip video tersebut di Youtube. Selama menontonnya, saya baru sadar sudah lama sekali tidak mendengarkan musik Project Pop. Mungkin banyaknya referensi musik dari luar negeri telah membuat saya lupa dengan lagu-lagu di negara sendiri. Sekalinya mendengarkan, paling-paling tak jauh dari Efek Rumah Kaca, The Trees and The Wild, Jirapah, Melancholic Bitch, dan My Violaine Morning. 

Jadilah saat itu juga saya spontan mendengarkan seluruh lagu Project Pop yang terdapat di Youtube. Dari daftar lagu yang saya nikmati itu, ternyata ada beberapa lagu yang sewaktu didengarkan malah memunculkan kisah-kisah masa lalu. Meskipun saya sadar banyak cerita tak penting karena sebagian besarnya adalah memori tolol dari masa SMP, saya tetap ingin menuliskannya satu per satu.





Bukan Superstar 



Yang pertama kali muncul di kepala adalah serial komedi Abdel dan Temon Bukan Superstar. Jika tak salah ingat, acara ini tayang pada saat saya kelas dua SMP (2008). Tokoh Temon yang sering sekali menjadi bahan tertawaan dan bernasib apes seakan-akan tak jauh berbeda dengan kondisi saya kala itu. Kalau Temon kerap diledek karena giginya yang tonggos dan kurang ganteng, sementara saya lantaran bertubuh paling pendek dan kurus di kelas. Beberapa teman sekelas gemar berkata kepada saya: ada anak SD nyasar dan belum pantas masuk SMP. Lalu, setiap kali upacara pastilah saya yang berdiri paling depan. Belum lagi kadang-kadang teman yang di belakang suka menjaili saya dengan menyentil kuping atau menarik (semacam menjambak dengan agak pelan) beberapa helai rambut yang tidak tertutup topi. 

Setiap kali saya ingin membalas perlakuan mereka, ada rasa takut yang selalu menghalanginya. Ini semua karena saya tak pernah bisa lupa dengan kejadian jahanam saat kelas satu. Jadi, suatu kali saya pernah muak banget ditindas (biasanya ditoyor kepala) dan berusaha melawan salah seorang teman sekelas yang hobi mengusik. Dia terkejut mendapati saya yang gantian memukul kepalanya, kemudian tiba-tiba mengancam saya, “Awas lu nanti sepulang sekolah!” 

Saya tak ambil pusing ancaman tersebut dan berniat pulang sekolah seperti biasanya tanpa harus kabur. Lagi pula hari itu jadwal saya piket. Tak mungkin dia rela menunggu saya cuma buat membalas hal remeh, yang memang sepantasnya dibalas karena dia jahil duluan. Singkat cerita, sekelarnya piket dan saya ingin menuruni tangga (kelas saya berada di lantai 3), tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menjinjing kerah seragam saya hingga kaki saya tidak menapak tanah. Saya juga tak bisa melihat sosoknya. Dia segera membawa saya ke depan toilet cowok. Di sana, ada teman sekelas yang tadi mengancam saya. Saya pun langsung mengerti apa yang bakal terjadi. 

Saya sudah tak begitu ingat apa saja yang terjadi hari itu selain kepala saya ditempeleng terus-menerus sampai rasanya pengin nangis (saya menahan air mata sebisa mungkin karena tak ingin dipecundangi lebih dari ini). Orang yang menjinjing saya adalah kakak kelas yang tubuhnya tinggi dan besar. Saya tak akan bisa menang melawannya. Saya cuma bisa pasrah. Hari itu, saya akhirnya belajar satu hal, bahwa dengan sejumlah uang siswa tajir bisa membayar kakak kelasnya untuk merundung seseorang yang kere dan lemah seperti saya.

Selain perisakan, saya memang tak akan pernah bisa membuang rasa minder ketika berada di antara mereka—kalangan elite. Ada beberapa pertemanan di sana yang termasuk pilih-pilih berdasarkan kasta. Dari uang saku sekolah saja kami berbeda jauh. Saya dapat jatah dari orang tua sehari 7.000, sedangkan beberapa dari mereka tujuh kali lipatnya alias 50 ribu. Dengan kondisi itu, saya terpaksa menutup diri. Mungkin karena itulah teman akrab saya hanya segelintir.

Lirik “tapi kenyataan aku bukan siapa-siapa” amatlah mewakilkan perasaan saya selama bersekolah di sana. Meski begitu, lirik lanjutannya “kuingin engkau mencintaiku apa adanya” secara tak langsung menjadi harapan saya yang terkabul pada kelas tiga. Setelah kenaikan kelas, saya merasa kondisinya mulai berubah perlahan-lahan. Perundungan terhadap saya menurun drastis. Mental saya juga sudah ditempa jadi lebih kuat untuk selalu melawan para penindas itu. Sebagian teman yang awalnya meremehkan (mereka tak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi tatapan dan ucapannya tampak selalu mengejek) pun mulai menghargai saya yang ternyata bisa berprestasi—sewaktu Try Out persiapan UN saya masuk ke kelas favorit tiga kali berturut-turut. Mungkin nilai-nilai saya akhirnya mampu membungkam mereka. Mungkin mereka juga mulai bisa mencintai keadaan saya dan mau berteman tanpa memandang kelas sosial.

Ku bukan superstar, kaya dan terkenal. Ku bukan saudagar yang punya banyak kapal. Ku bukan bangsawan, ku bukan priayi. Aku hanyalah orang yang ingin dicintai. 


Pacarku Superstar 



Barangkali ini kisah lanjutan dari lagu Bukan Superstar. Bedanya, ini tentang menaksir perempuan, tepatnya seorang kakak kelas. Berhubung keadaan saya ketika SMP sudah tergambar jelas dari kisah sebelumnya, maka lirik “hanya tak mudah bagi diriku untuk ikuti gaya hidupnya. Semua orang suka padanya, berat rasanya” benar-benar cocok buat saya yang bisa-bisanya menaksir cewek manis, pintar, dan kaya—yang jelas-jelas jadi primadona sekolah. 

Walaupun saat itu saya belum memiliki Facebook untuk bisa memperhatikan kehidupannya dari jauh (biasanya para penggemar mencari tahu kabar idolanya lewat internet), tapi cukup dengan tak sengaja melihat dia sepulang sekolah dijemput menggunakan mobil sedan sudah bisa menjelaskan segalanya. Saya tak punya pilihan lain selain sadar diri.

Mengenang terlalu banyak momen nelangsa zaman SMP rasanya kurang patut bagi diri saya sekarang. Seakan-akan saya ini seorang retrofili. Jadi, alangkah baiknya saya mengingat hal-hal yang belum lama terjadi saja tentang menggemari sesosok idola. Tapi, idola yang saya maksud bukan seperti Tsubasa Honda, Lalisa Manoban, Charita Utami, Mary Elizabeth Winstead, dan sebagainya. Dia ini termasuk orang biasa yang sesungguhnya masih bisa saya raih. 

Dia berada jauh di sana, dan aku di rumah... memandang kagum pada dirinya dalam InstaStory

Sekitar sembilan bulan silam saya pernah rutin menonton InstaStory seorang gadis aduhai. Tak perlu munafik kalau saya mengaguminya berdasarkan parasnya yang jelita. Namun, saya terpesona karena dia juga berprestasi di bidang kesukaan saya. Siapa sangka kekaguman itu semakin bertumbuh sejak dia mengucapkan terima kasih atas kalimat dukungan saya pada hari dia terpilih sebagai None Jakarta. Lebih-lebih kami kebetulan juga pernah berjumpa dua kali di suatu kafe.

Persoalannya, saya sering merasa kurang percaya diri sewaktu mendekati gadis yang kelas sosialnya berbeda. Biarpun keadaan saya sudah lebih baik dari zaman SMP, tapi tetap saja tampak jelas perbedaan di antara kami. Anggaplah dia ketika memesan menu di kafe tidak perlu berpikir lama dan fokus saja dengan makanan ataupun minuman yang ingin disantap; sedangkan saya mesti menyesuaikan isi dompet, belum lagi nanti ada momen di mana saya perlu menghitung PPN, membandingkan dengan makanan pinggiran jalan, dan seterusnya.

Selain itu, saya menduga usia kami terpaut agak jauh. Dia kira-kira seumuran dengan adik saya—beda lima tahun. Hingga akhirnya asumsi itu bertambah jelas sewaktu salah seorang kawan memberi tahu saya kayaknya dia baru lulus SMA. Saya kala itu, sih, sempat merasa cuek sama umurnya, bahkan pernah nekat mengucapkan selamat ulang tahun via pesan salah satu media sosial.

Jika hari itu dia membalas pesan saya, diam-diam saya berjanji kepada diri sendiri supaya tidak minder-minder lagi ke depannya. Peduli setan dengan rentang usia yang beda jauh, Farsya manisnya memukau dan saya suka. Yang terpenting dia juga sudah 17 tahun ke atas. Ini hal yang normal, kan?

Sialnya, dia tidak membalas ucapan saya. Mungkin balasan “terima kasih” pada hari kemenangannya itu cuma basa-basi. Kalau direnungkan, ternyata kejadian ini terasa lebih bangsat ketimbang kisah saya ketika SMP yang langsung mundur seribu langkah sebelum berjuang. Saya harusnya mafhum, memang enggak mungkin seorang biasa bisa mendekati seorang superstar. Baguslah saya telah berhenti mengaguminya sejak 2020. Terus, mengapa saya menuliskan cerita ini? Oh, tentu hanya untuk mengenang kegagalan diri sendiri yang menakjubkan. 


Dangdut is the Music of My Country 



Siapa tidak mengakui perbedaan, tidak pernah diajari di sekolahan. Semua orang macam-macam diciptakan, cakep atau jelek semua punya perasaan

Kalau ngaku ngerti tentang persatuan, mengapa adu domba mudah dilakukan? Kenapa semua mudah hilang kesabaran? Kenapa semua mudah diprovokasikan? 

Lirik barusan terasa cocok bagi para pengguna Twitter yang doyan ribut-ribut. Apalagi ingatan saya menolak lupa mengenai mbak-mbak yang merasa cakep dan seenak jidat mengejek lawan debatnya, “Mending lu diem, jelek.” Apakah dia kehabisan cara buat memenangkan perdebatan, sampai-sampai harus menghina fisik lawannya? Memiliki paras cantik dan punya pengikut banyak (khususnya para cowok yang selalu membelanya) seolah-olah membuatnya berkuasa di dunia maya. 

Tapi, masa bodohlah soal itu, saya mending lebih fokus dengan lirik yang ini: Apakah yang dapat menyatukan kita? Salah satunya dengan musik. Dangdut is the music of my country

Saat lirik itu dinyanyikan, saya lantas terkenang masa SMP lainnya, tepatnya ketika saya dan beberapa teman di rumah bisa menonton konser Project Pop secara langsung dan gratis untuk pertama kalinya di Lapangan Pasir, Senayan.

Berawal dari ketidaksengajaan kami sehabis joging pagi di Gelora Bung Karno, Bayu—salah satu kawan saya—mengajak kami ke Lapangan Pasir untuk melihat orang-orang yang lagi main sepak bola. Sebelum direnovasi seperti sekarang, dulu di area Senayan terdapat empat lapangan (dua untuk voli, dua untuk sepak bola) yang beralaskan pasir, sehingga kami dan mungkin beberapa masyarakat menyebutnya Lapangan Pasir.

Di tengah perjalanan, saya seperti mendengar salah satu lagu Project Pop dan bertanya kepada kawan yang lain apakah mereka juga mendengarnya. Alih-alih menjawab, salah satu teman saya malah berteriak, “Eh, ada panggung noh di Lapangan Pasir!” seraya berlari menuju ke sana. Sadar bahwa ada konser yang tengah berlangsung, kami semua pun bergegas menghampiri area panggung, lalu setibanya di sana segera ikutan bernyanyi dan joget bersama. 

Berbeda dengan kawan di sekolah, teman-teman di rumah yang merangkap tetangga bisa dibilang sangat mengasyikkan. Ini bukan berarti tak ada kata-kataan di antara kami, melainkan saling mencela merupakan hal yang wajar bagi kami. Karena kami melakukannya sebagai tanda keakraban. Bukan ada perasaan ingin berkuasa sebagaimana yang terjadi di SMP saya. Sekalipun ada tetangga yang tergolong tajir, rasanya pun tak ada sekat yang memisahkan pertemanan kami. Susah maupun senang tetap kami lewati bersama. Misalnya, saat kami habis main bola di Senayan dan terlalu letih untuk berjalan kaki, mestinya kan kami naik angkot di Palmerah, terus turun di dekat rumah. Tapi yang akhirnya terjadi: kami mencegat mobil pikap dan memilih mengompreng. Sebab kami sadar kalau ada beberapa kawan yang uangnya tak cukup buat membayar ongkosnya maupun yang benar-benar kehabisan uang. 

Lantas, bagaimana dengan teman yang punya duit lebih? Kenapa dia tidak mengongkosi teman yang lain? Saya tak tahu apakah kami dulu setolol itu, lebih senang mengompreng karena gratis dan terasa menantang, atau alasan entah apa. Namun, seingat saya si orang tajir itulah yang kelak menggunakan uangnya buat mentraktir kami es teh dan Chuba balado. Itulah masa-masa menyenangkan yang tak akan pernah bisa luput dari ingatan. Masa di mana hari ini kami bertengkar, lalu besok tiba-tiba sudah baikan lagi.

-- 

Gambar saya comot dari Pixabay.