Kala saya duduk di bangku SD, sekitar tahun 2000-2006, musik-musik yang biasa saya dengarkan adalah Slank, Iwan Fals, Peterpan (yang kini telah berganti nama menjadi Noah), Dewa, dan Sheila on 7. Saya cuma bisa menikmati lagu-lagu lokal. Saat itu, saya memang tidak tahu mengenai musik-musik luar negeri atau yang berbahasa Inggris, sebab dulu referensi saya sangat terbatas. Saya hanya bisa mengenal musik dari televisi atau radio. Pada zaman itu, internet terbilang masih cukup langka. Warnet-warnet pun kalau tidak salah baru menyediakan permainan Counter Strike. Jarang sekali yang sudah ada online games.

Syukurnya, saat memasuki SMP saya dijejali banyak lagu luar oleh teman-teman di kelas. Saya tidak tahu mereka mengetahui lagu-lagu tersebut dari mana. Entah karena mereka terbiasa membaca majalah musik, sudah mengenal internet, atau mungkin saya saja yang memang kurang pergaulan. Terlepas dari hal itu, yang penting saya jadi berkenalan dengan musik-musik baru. Saya mulai mengetahui Linkin Park (yang sebelumnya ternyata sudah saya dengarkan ketika bermain Winning Eleven di PlayStation 1), Blink 182, Green Day, My Chemical Romance, dan Thirty Seconds to Mars. 





Saya selalu mendapatkan informasi ataupun rekomendasi lagu-lagu luar negeri dari seorang teman. Tidak pernah saya mendengarkannya sendiri lantas menyukainya sebelum diberi tahu sama sekali oleh orang lain. Hingga suatu hari, muncul sebuah anime yang bercerita tentang dunia ninja di Global TV, yakni Naruto.

Berawal dari film animasi itu, saya bisa mengenal sebuah lagu yang entah mengapa sampai saat ini masih menjadi favorit. Bisa dikatakan, saya jarang menonton filmnya karena jam tayangnya bentrok dengan jam pulang sekolah: pukul 14.00. Satu episodenya berdurasi sekitar 30 menit, sedangkan jarak dari sekolah ke rumah sekitar 15-20 menit jika dijemput oleh ayah saya menggunakan motor. Kalau saya naik angkot plus jalan kaki, tentu bisa 30 menit atau lebih. 

Saya kerap kali menonton Naruto selama 5-10 menit saja (belum kalau dipotong iklan). Setelah itu film habis dan saya jadi kesal. Bahkan, tak jarang saya hanya disuguhkan lagu penutup anime tersebut. 

Don't try to live so wise 
Don't cry 'cause you're so right 
Don't dry with fakes or fears 
'Cause you will hate yourself in the end

Saking seringnya mendengarkan lagu itu, saya jadi terngiang-ngiang akan frasa “don’t cry”. Saya pas SMP memang belum mahir berbahasa Inggris (malahan sampai sekarang juga masih pasif), tapi setidaknya saya sudah mengerti arti “don’t cry” itu. Jangan menangis. Meskipun saya sering ketinggalan untuk menonton filmnya, nggak perlulah sedih-sedihan. Toh, berakhirnya film animasi itu tetap bisa saya nikmati lagunya. Saya pun otomatis jadi lebih menyukai lagu itu ketimbang filmnya sendiri.

Saking candunya akan lagu tersebut, akhirnya saya harus ke warnet demi bisa mendengarkan lagunya. Saya belum memiliki ponsel kala itu. Ponsel ayah saya pun belum ada mp3. Jadi, warnet adalah satu-satunya cara untuk mendengarkan lagu OST. Naruto. Sayangnya, begitu sudah di warnet dan saat saya ingin cari di Indowebster (situs pemutar musik yang pernah hits pada zamannya) kok malah nggak ada. Ketololan itu terjadi karena saya mengetiknya: “lagu Naruto – Don’t Cry”. Ya, saya nggak tahu penyanyi ataupun judul lagunya. Modal nekat yang berakhir memalukan. 

Namun, tak lama setelah itu saya pun tahu judulnya. Keesokan harinya, di sekolah saya menyimak obrolan teman-teman tentang Naruto pada jam istirahat. Walaupun saya sering nggak nyambung karena ketinggalan episodenya, setidaknya saya mendapatkan informasi mengenai judul lagu tersebut. Ada salah seorang teman yang bertanya, “Lagu Naruto yang pas habis judulnya apaan, sih?” 

Saya langsung membatin, Eh, ada yang nggak tahu juga ternyata. Gue nggak sendirian

“Yang episode keberapa?” respons teman lainnya. 

Teman yang bertanya itu kemudian bilang pokoknya ada “don’t-cry-don’t-cry” gitu. Salah satu teman yang sudah memiliki ponsel canggih, lalu memutar lagu itu sambil memastikan, “Yang ini, bukan?” 

“Betul, yang itu.” 

“Akeboshi – Wind.” 

Akhirnya, misteri pun terpecahkan.

Akeboshi - Wind (OST. Naruto)




Memasuki SMK, saya akhirnya memiliki ponsel berkat menabung bertahun-tahun dan mendapatkan sedikit tambahan uang dari orang tua. Lagu Wind tentu saja masuk ke daftar lagu saya. Pernah suatu waktu saya coba untuk mendengarkan lagu itu sambil membaca buku pelajaran. Sepanjang lagu itu melantun, entah bagaimana ada rasa nyaman menikmati dentingan piano dan permainan drumnya. Sejak itulah saya semakin menggemari lagu Wind dan menjadikannya sebagai teman membaca sampai saat ini. 


Setelah membuat tulisan Musik sebagai Teman Menulis, saya merasa kurang lengkap kalau tidak melanjutkannya dengan tulisan ini. Saya paham betul kalau proses menulis dan membaca tidak dapat terpisahkan. Supaya melengkapi tulisan sebelumnya, ya saya mesti bikin tulisan ini. Walaupun sebetulnya lagu-lagu pada tulisan teman menulis tersebut dapat juga didengarkan untuk teman membaca.

Namun, saya pikir tidak ada salahnya kalau mendengarkan lagu-lagu yang lain dan sekalian berbagi referensi. Selain itu, lumayan juga buat nambah-nambah tulisan di blog.

Berbeda dengan lagu yang saya dengarkan ketika menulis, yang mana mesti instrumental agar tidak terganggu konsentrasinya. Nah, kalau untuk teman membaca, saya masih bisa fokus meskipun mendengarkan lagu yang terdapat lirik. Yang penting, lagu-lagu itu liriknya berbeda bahasa dengan tulisan yang sedang saya baca. 

Sejauh ini, saya membaca tulisan—baik itu novel, cerpen, puisi, komik, ataupun artikel di internet—yang dominan berbahasa Indonesia. Jadi, saya cukup mendengarkan lagu-lagu yang berbahasa asing agar tetap fokus membaca. Selain lagu Wind yang sudah saya bahas di pembuka tulisan, inilah daftar lagu yang menemani saya membaca. 


Folder5 - Believe (OST One Piece)



Setelah Naruto, One Piece menjadi anime berikutnya yang saya tonton. Lagu Believe yang saya dengarkan pertama kali adalah versi bahasa Indonesia. Saya merasa aneh dengan liriknya. Karena tidak puas, saya pun mencari versi aslinya di internet. Yang tentu saja lebih enak didengar. Menurut saya, lagu Believe ini memiliki semangat di dalamnya.

Watashi wa tsuite yuku kara atsui KIMOCHI~ 

Apa yang terpikirkan saat mendengar atau membaca kata “kimochi”? Apakah langsung terbayang perempuan JAV yang mendesah saat sedang bersanggama? Ya, kimochi memang berarti membara atau panas. Namun, ini panasnya lebih ke sebuah semangat, bukan panas karena lagi sange

Terlebih lagi lirik Believe in Wonderland itu jelas sekali maknanya. Membuat kita percaya akan negeri impian. Ketika saya membaca tulisan yang surealis atau absurd, lagu ini bisa membuat saya untuk mempercayainya saja dan nggak perlu pusing memikirkannya. Apalagi tempo dalam lagu ini cukup cepat, maka proses membaca saya pun bisa jadi lebih cepat dari biasanya.


Rusa Militan - Black Sun




Zaman kuliah adalah masa ketika saya perlahan-lahan mengurangi musik yang bergenre hardcore. Sejak salah seorang teman menjejalkan saya musik bergenre folk, saya jadi lebih nyaman mendengarkan musik yang kalem-kalem. Hardcore entah kenapa malah terlalu bising di kuping. 

Dari beberapa musik folk seperti Float, Payung Teduh, serta Banda Neira, saya pun akhirnya berkenalan dengan Rusa Militan (band folk dari Bandung) lewat lagunya yang berjudul Senandung Senja. Ketika sangat menyukai sebuah lagu, apalagi berasal dari Indonesia, saya otomatis segera mencari lagu-lagu lainnya.

Sedihnya, lagu-lagu yang ada di Youtube baru sedikit dan saya merasa kurang terpuaskan. Lalu saya sempat berpikir kalau Senandung Senja adalah lagu mereka yang terbaik. Tapi tak lama setelah itu, saya kudu menarik lagi kalimat itu dari pikiran saya. Semua itu disebabkan oleh lagu Black Sun. Walaupun sampai saat ini saya nggak tahu liriknya, tapi musiknya betul-betul memikat telinga.

“Rusa Militan itu suara alam,” ujar Mario—selaku vokalis yang merangkap gitaris, pada salah satu video musik yang saya tonton. 

Band ini ternyata betul-betul menyuguhkan musik seperti yang mereka cita-citakan. Suara alam yang ingin mereka tampilkan sungguh tersampaikan ke pendengar, sebab lagu ini seolah-olah membawa saya ke alam bebas.

Petikan gitar akustik yang asyik. Gesekan biolanya pun terasa begitu syahdu. Apalagi ada bunyi xilofon yang terdengar unik. Suara dari tamborin—biasa disebut kecrekan—juga menambah daya pikatnya. Paduan kesemua alat musik itu menghasilkan energi yang mendamaikan hati. Ketenangan yang mereka ciptakan di lagu ini pokoknya cocok sekali untuk teman membaca.


Fleet Foxes - Helplessness Blues




Masih menyambung tentang Rusa Militan, saya menemukan mereka meng-cover lagu Mykonos dari band Fleet Foxes. Merasa haus, penasaran, serta ketagihan akan musik folk, saya pun langsung mencari tahu lebih lanjut tentang band ini dan mulai mendengarkan lagu dalam versi aslinya. Lagu mereka rupanya keren-keren. Saya seakan menemukan harta karun sesudah mendengarkan musik mereka. Nah, yang paling menjadi favorit saya adalah lagu Helplessness Blues. Mendengarkan lagu ini sungguh bikin tenteram, hingga proses membaca pun jadi lebih menyenangkan.

I was raised up believing
I was somehow unique
Like a snowflake distinct among snowflakes,
unique in each way you can see


The Paper Kites - Bloom




Sebuah cerita yang dibuka dengan matahari atau pagi atau bangun tidur, itu pasti terasa sangat klise dan membosankan. Namun, kebosanan itu tidak hadir dalam lagu ini. Sweet, satu kata itulah yang paling pantas untuk menggambarkan lagu ini. Liriknya terasa romantis dan tidak menye-menye. Saya seakan-akan dibawa ke sebuah pagi yang menakjubkan, di mana malamnya saya dapat tidur nyenyak dan bermimpi indah. Intinya, lagu ini seperti menawarkan harapan akan hari yang baru. 

Selain petikan gitarnya yang aduhai, lagu Bloom juga terdapat siulan yang menambah rasa mantapnya. Walaupun belum bisa menggantikan siulan Wind of Change dari band Scorpions yang benar-benar menempel, seenggaknya siulan dalam lagu ini tetap asyik bagi saya. 


Blackpink - Boombayah




Sejujurnya, saya tidak menyukai drama Korea maupun film sejenisnya, sebab hidup sudah terlalu banyak penderitaan dan nggak perlu ditambah drama lagi. Walaupun dengan menonton drama saya bisa melarikan diri dari realitas, tapi saya malas terbuai akan hal-hal terlalu romantis di film drama tersebut. Bahkan, saya sempat membenci segala hal yang berbau Korea. 

Namun, kebencian itu luntur setelah menonton film Miracle in Cell No. 7 dan Oldboy. Sayangnya, saya masih belum tergoda untuk mendengarkan lagu-lagunya. Saya masih ingat ketika Indonesia dibanjiri lagu-lagu boyband dan girlband. Banyak yang nggak menyukai kehadiran mereka. Beberapa teman dekat saya sewaktu SMK pun sangat menghindari musik-musik sejenis itu. Saya mau tidak mau jadi terpengaruh. Dan musik kesukaan kami adalah genre hardcore. Meski musik hardcore akhirnya tergantikan dengan folk, tapi gagasan akan tidak sukanya lagu Korea itu terus melekat di otak.

Syukurnya, saya cepat tersadar kalau mendengarkan musik itu jangan dibatas-batasi segala. Oleh karena itu, ketika akhir tahun 2016 ada salah satu following (saya lupa siapa) yang menyebarkan tautan di Twitter: Blackpink – Boombayah, lalu ia memuji musik dan koreografinya yang bagus. Saya, sih, menyukai thumbnail-nya, yaitu perempuan yang memakan permen karet dan membuatnya jadi balon. Saya pun mencoba untuk memutar videonya.

Video musik yang saya tonton itu seperti menawarkan hal baru. Saya baru tahu kalau lagu Korea juga ada rapnya. Berkat pandangan dan pemikiran yang baru, saya nggak pengin lagi asal menilai suatu lagu sebelum mendengarkannya terlebih dahulu. Lagian saya pikir, bernyanyi sambil menari itu juga susah.

Saya awalnya sempat mengira kalau tarian-tarian empat perempuan itu bagaikan tarian pemanggil hujan atau upacara menyembah Raja Kadal. Meskipun demikian, saya lama-lama kok membatin, Ya Allah, pengin joget. Secara tidak langsung, berarti saya menyukai musiknya. Jika saya membaca tulisan yang berbahasa Inggris, saya kira lagu berbahasa Korea ini bisa jadi alternatif untuk menemani bacaan. Ya, daripada konsentrasi saya buyar karena tetap mendengarkan lagu yang juga bahasa Inggris. 


Blackpink - As If It's Your Last



Saya agak kurang sreg sama lagu Blackpink lainnya, tapi lagu terbarunya yang berjudul As If It's Your Last ini menurut saya lebih oke dari Boombayah. Apalagi di lagu ini saya jadi lebih sadar akan kecantikan salah satu personelnya yang berwajah paling beda, yaitu Lisa.

Saking terpesonanya, saya pun jadi ikut menyanyikan lirik yang bagian Lisa, Majimak codot. Ma-ma-majimak codot~ 

Begitu, sih, yang saya dengar. Tapi sesudah saya membaca liriknya, ternyata yang benar ialah Majimakcheoreom. Ma-ma-majimakcheoreom. Apa pun lirik dan artinya itu, saya tidak begitu peduli. Pokoknya selama musiknya enak didengar bagi saya sudah cukup. Saya juga belum tahu, sih, selanjutnya akan menyukai girlband-girlband Korea lainnya atau tidak. Saya sudah telanjur jatuh cinta sama Lisa Blackpink. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

“Tapi yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Lisa abadi. 



--

Sumber gambar:

- Perempuan membaca buku: Pixabay
- Lisa: https://pm1.narvii.com/6502/247a4e0ad1190b554157702d0fb8c9034824c60c_hq.jpg