Beberapa hari yang lalu, seorang teman blogger, Bang Kresnoadi empunya blog keriba-keribo berulang tahun. Sebagai teman yang baik, gue minta tolong carikan jodoh. Yakaliiiiiii. Gue mengucapkan selamat kepada dia. Di Twitter, di blognya, dan di tulisan ini.

Dia kini sedang mengadakan GA. Buat yang nggak tau apa itu GA. GA adalah Gue Alien. Oke, ngaco. GA adalah Give Away. Nah, kalian ikutan juga, gih.

Sebelumnya, kalian harus baca e-book Teka-Teki miliknya terlebih dahulu. Atau biar lengkap dan jelas, baca aja postingan-nya yang INI.


“Selamat ulang tahun, Bang. Terus berkarya dan makin keren! Pokoknya sukses.”
Read More
ASRI,” panggilnya. 

Namaku Asri. Aku berkenalan dengannya pada bulan Maret 2013. Waktu sore yang mendung itu, di sebuah mal daerah Mangga Dua, Jakarta Utara. Dia seorang cowok bertubuh kurus, tetapi menurutku wajahnya cukup tampan. Suaranya halus dan kalem, sepertinya dia anak baik-baik. Begitulah penilaian pertamaku. 

Hari-hari setelah pertemuan itu, kami semakin akrab. Dari yang kuperhatikan, dia ternyata benar-benar baik, terutama saat memperlakukan teman. Aku tak salah menilai orang. Aku bahkan merasa diperlakukan seperti pacarnya sendiri, sebab aku terasa begitu spesial baginya. Yang mulai aku sadari, dia hobi menulis. Tak jarang dia curhat kepadaku. 

Sepertinya aku mulai suka terhadapnya. Apakah ini tidak terlalu cepat? Kepada orang yang baru saja kukenal pula. Apakah perasaan ini sungguh nyata? Aku tuh baru sebatas kagum, suka, atau malah udah cinta, ya? Entahlah, aku bingung. Lagian, perasaan seperti itu mungkin akan terasa lebih indah bila aku hanya merasakannya dan tak peduli tentang definisinya. Aku pun membatin, Sialan engkau, Yog! Iya, cowok itu bernama Yoga. Sayangnya, perasaan ini hanya bisa kupendam. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku saat ini kepadanya. 

Karena keseringan menjadi pendengar yang baik, dia malah bercerita tentang seorang perempuan. Bukan aku, tapi perempuan lain. Kukira, dia juga menyukaiku karena nyaman bersamaku. Namun, mengapa sekarang dia malah bercerita tentang orang lain? Selama ini aku dianggap apa? Hanya sahabat? Teman curhat? Sungguh tega dirinya. Dia dengan santainya bercerita tentang masa pendekatannya tanpa peduli perasaanku. Dia bahkan bercerita pula kalau ingin menyatakan cinta ke gadis itu. 

Devi, nama perempuan yang kini menjadi pacarnya. Yoga akhirnya mulai mengenalkanku kepadanya. Sering dia mengajakku bertemu Devi. Cukup manis, sih, memang. Tapi aku entah mengapa tidak suka dengan sifat kekanak-kanakannya itu. Cara berpikirnya masih kurang dewasa, bahkan bisa kubilang terlalu manja. Ah, kenapa aku jadi cemburu seperti ini? Wajarkah jika aku protes seperti ini? 

Apalagi di setiap kali berduaan denganku, si Yoga malah lebih sibuk dengan ponsel pintarnya. Tepatnya dia sedang berkomunikasi dengan pacarnya itu. Aku tidak dipedulikannya lagi. Dia sudah jarang bercerita kepadaku. Aku sangat merindukannya. Dia juga mulai malas menulis. Mimpi menjadi penulis ternyata hanyalah omong kosong. Aku bingung, mengapa aku sepeduli ini kepadanya? 

Hingga suatu hari, akhirnya mereka putus. Senang sekali aku mendengar kabar itu. Aku dijadikan tempat curhatnya lagi. Tapi aku pun mulai sadar, kenapa dia baru ingat sama aku sekarang? Dia pun mendadak berubah melankolis. Aku malah kasihan terhadapnya. Dia galau hampir sebulan lamanya. Susah payah dia melewati masa kelamnya itu. Tapi berkat putus, Yoga mulai banyak berubah. Dia sepertinya menjadi lebih dewasa. Terlihat jelas dari tulisan-tulisannya yang bijak itu (atau dia sok bijak saja?). Dia sepertinya juga belajar apa itu ketulusan. Ah, tahu apa aku soal ketulusan? 

“Gue bakal menulis dalam keadaan apa pun,” ujar Yoga kesal ketika sedang bercerita denganku. 

Kini, jumlah tulisan di blognya ada seratusan lebih. Dia mulai konsisten menulis. Benar-benar tak kusangka kalau impian menjadi “penulis” itu sedang dia coba wujudkan. Meski tak punya pacar, dia juga terlihat baik-baik saja dan bahagia. Mulai sekarang aku tak peduli dianggap apa olehnya. Sahabat, teman curhat, pacar, atau apa pun deh itu, aku tidak akan ambil pusing. Yang penting aku cukup bahagia bersamanya. Apakah ini rasanya cinta yang tulus? 

Namun, apakah aku dapat mengerti arti cinta dan ketulusan? Aku mungkin tidak paham apa-apa mengenai hal itu. Terkadang, aku juga masih belum mengerti mengapa ia memanggilku dengan nama Asri. Apakah tidak ada nama lain yang lebih baik? Apa karena aku hanya sebuah laptop, sehingga ia memberikan nama yang mirip dengan mereknya itu? Tapi begitulah kenyataannya. Namaku adalah Asri. Aku bukanlah manusia, aku cuma benda mati. Aku yang saat ini digunakan untuk menulis cerita fiksi dengan sudut pandang sebuah laptop.
Read More
Sabtu dan Minggu kemarin adalah jadwal kopdar dua komunitas blogger yang gue ikuti. KK dan JB. Tepatnya tanggal 10 dan 11 Januari 2015. Namun, sangat disayangkan, hari Sabtu gue kuliah. Jadi, gue hanya bisa mengikuti yang hari Minggu.

Ini adalah kopdar pertama buat gue. Oke, sebagai blogger gue merasa gagal. Karena belum pernah kopdar bersama teman-teman blogger yang lain. Karena ini adalah pertama kalinya. Jantung gue berdebar-debar. Diibaratkaan, seperti pertama kalinya nge-date sama cewek. Biasa, jomblo emang gitu. Kelamaan nggak dipeluk cewek aja, pas meluk guling rasanya seneng banget. Pedih.
H-2 kopdar, gue dapet informasi dari ketua kelas. Bahwa, hari Minggu harus masuk kuliah. PARAH!!! MASA NGGAK JADI KOPDAR?!
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home