Keisengan Bulan Januari

29 comments
Pada bulan Januari lalu, saya perhatikan banyak yang membuat tulisan “30 Hari Bercerita”. Baik itu ia yang menuliskannya di blog, maupun di caption Instagram. Ketika itu, saya sendiri justru memilih tidak membuka aplikasi Instagram selama sebulan. Alasannya, sih, karena lagi irit kuota dan berusaha mengurangi kegiatan membuka media sosial. Lalu sebagai gantinya, saya juga mesti bikin tiga puluh tulisan. Ya, saya berusaha mencoba menerima tantangan itu.



Bedanya, tulisannya itu saya pendam sendiri saja dan tidak dipublikasikan. Saya sangat sadar kalau diri saya nggak bisa menulis langsung jadi. Entah mengapa, saya memiliki kebiasaan untuk mengendapkannya beberapa lama. Barulah setelah itu saya baca ulang, edit, baca ulang lagi, edit lagi, begitu terus berulang-ulang sampai saya sreg. Bagi saya ini terasa bodoh, sebab untuk betul-betul menarik dibaca pasti memakan banyak waktu dalam menyuntingnya. 

Namun, banyak yang berpendapat kalau mengedit memang jauh lebih lama daripada menulis itu sendiri. Menulis draf awal, kan, yang penting bisa membuang segala kata-kata yang ada di kepala tersebut. Urusan kalimatnya bagus, enak dibaca, dan tersusun rapi belakangan saja. Saya pun sepakat dalam hal ini. Oleh sebab itu, saya nggak pengin terburu-buru menyajikan tulisan yang masih terasa mentah.

Mungkin yang akan jadi pertanyaan ialah, terus di mana tantangannya kalau tulisanmu nggak ditampilkan? Bisa dibilang, saya merasa tertantang karena ingin mengalahkan diri saya sendiri. Bukan sebagai bukti kepada pembaca bahwa saya rajin atau pujian apalah itu. Toh, yang penting saya tetap menulis sehari sekali dalam bulan Januari. Biar diri saya sendiri saja yang tahu. 

Sesudah itu, datanglah persoalan lain, yakni jenis tulisan apa yang ingin saya buat? Kalau terlalu acak dan tidak memiliki tema itu kok kurang menantang. Kalau kayak begitu, ya setiap hari saya juga sudah sering menuliskannya di catatan ponsel atau bloknot. Lalu, terpilihlah salah satu tema: musik. Awalnya, saya memang pengin menuliskan lagu-lagu yang belakangan ini sedang saya sukai. Saya juga mau belajar mengulas. Saya pun telah menyiapkan beberapa daftar lagu untuk ditulis. Sayangnya, ternyata cukup banyak orang yang telah membahas lagu pada hari pertama itu. Saya kemudian membatalkannya begitu saja. Saya merasa cemen banget. Banyak alasan. Sok beda. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Tanggal 1 Januari sudah memasuki waktu malam, tapi saya belum tahu harus mencari tema lain dan dalam keadaan bingung untuk menulis. Syukurnya, pada pukul 23.00 atau menjelang tidur saya kepikiran untuk membuat puisi. Sajak itu cukup pendek dan nggak sampai sepuluh baris. Begitu kelar, tiba-tiba tercetuslah ide untuk bikin puisi dalam sebulan ini. Ya, meskipun sebenarnya saya sempat kepikiran pengin menulis cerpen atau fiksi kilat sehari satu. Tapi pas saya pikir-pikir ulang, sepertinya gagasan itu terlalu berat. Mungkin lain waktu deh. Lagian, dalam urusan menulis saya termasuk orang yang paling kesulitan saat menciptakan puisi ketimbang cerpen. Ini bisa menjadi tantangan sekaligus cara belajar buat saya. Pilihan pun telah ditentukan. Mantap.

Jadilah saya bikin puisi setiap hari. Seminggu pertama lancar banget. Bahkan, tiga puisi awal sempat saya unggah ke blog ini dengan judul Sajak Tahun Baru. Minggu kedua saya mulai tersendat. Bingung rasanya mau bikin puisi apa dan bagaimana biar bagus, sebab biasanya inspirasi untuk menulis sajak datangnya pas saya lagi sedih banget atau terlalu bahagia. Pokoknya dalam keadaan yang nggak wajar. Jika kondisinya lagi biasa-biasa saja, sungguh susah banget taik.

Terus, kebanyakan puisi yang saya buat pasti 1-2 bait aja. Jarang banget saya bisa bikin tiga bait atau lebih. Minggu ketiga saya semakin merangkai kata yang ala kadarnya. Asalkan ada rimanya, saya anggap itu udah bagus. Asli, itu pemikiran yang tolol sekali. Akhirnya, puisi-puisi saya seragam. Kurang eksperimen. Nggak ada perubahan dan terlalu mengandalkan rima. Menulis karena dipaksakan begitu menyebalkan juga, ya.

Sejak merasa jengkel akan puisi tersebut, bukannya berhenti mengikuti tantangannya, saya malah mulai mencari-cari referensi di internet. Entah mengapa saya merasa begitu bodoh atau udah kadung ikutan dan nggak mau menyerah. Sebelumnya, saya telah membaca dan memiliki buku-buku puisi Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, dan Adimas Immanuel. Lalu berkat internet, saya menemukan puisi yang tidak mengandalkan rima. Ada beberapa penyair yang akhirnya saya suka puisi-puisinya. Tapi dari semua itu, saya paling naksir sama puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo. Terutama dua sajak berikut ini. 

DEWA TELAH MATI 

Tak ada dewa di rawa-rawa ini 
Hanya gagak yang mengakak malam hari 
Dan siang terbang mengitari bangkai 
pertapa yang terbunuh dekat kuil. 

Dewa telah mati di tepi-tepi ini 
Hanya ular yang mendesir dekat sumber 
Lalu minum dari mulut 
pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri. 

Bumi ini perempuan jalang 
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa 
ke rawa-rawa mesum ini 
dan membunuhnya pagi hari. 


LAHIR SAJAK

Malam yang hamil oleh benihku 
Mencampakkan anak sembilan bulan 
ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu 
membawa dosa pertama di keningnya. 

Tangisnya akan memberitakan 
kelaparan dan rinduku, sakit dan matiku. 
Ciumlah tanah 
yang menerbitkan derita.
Dia  adalah nyawamu. 


Setelah membaca beragam puisi yang tidak melulu ketergantungan akan bunyinya, saya pun dapat lebih luwes menuliskan puisi sampai Januari berakhir. Saya juga nggak menyangka kalau belasan puisi saya itu, kelak saya pilihkan yang terbaik, saya revisi, saya minta tolong kepada teman-teman WIRDY untuk memberikan penilaian, dan saya kirim ke salah satu media. Walaupun sepertinya puisi saya itu ditolak, seenggaknya saya telah berhasil menantang diri saya lebih dari yang saya kira. 

Bermula dari iseng-iseng ikut tantangan “30 Hari Menulis”, eh saya malah punya stok puisi dan ide tulisan. Tulisan saya yang membahas musik itu pun akhirnya saya lanjutkan kembali. Lalu jadilah tulisan Musik sebagai Teman Menulis dan Musik sebagai Teman Membaca. Ada gunanya juga tantangan kayak gitu. Mungkin ke depannya saya pengin menantang diri lagi seperti pada bulan Januari. Apa kira-kira yang akan terjadi nantinya? Melahirkan buku kumpulan cerita barangkali? Siapa yang tahu? Semoga saja nggak malas.

Dan, untuk menutup tulisan ini, lebih baik saya tampilkan dua buah puisi sisaan bulan Januari lalu deh. Itu pun kalau masih pantas disebut puisi. Mau gimana lagi, puisi-puisi terbaiknya (tentu saja penilaian menurut saya sendiri) sudah saya kirimkan ke media itu. Jadi adanya hanya remah-remah begini. 

Kenapa Menulis Puisi? 

“Kenapa kau menulis puisi?” tanyamu, ketika kita sedang berdiskusi. 
Aku pun bergeming cukup lama. 
Hingga akhirnya menjawab, “Aku suka menciptakan rima.” 

“Tapi puisi tak hanya soal itu,” katamu tidak puas. 
“Apa jawabanku harus lebih jelas?” 

Kau mengangguk dan menanti kejujuran
yang keluar dari mulutku. 
Tapi lidahku malah mendadak beku. 

“Kalau kau tidak ingin menjawabnya, tak apa-apa.” 
“Karena puisi bisa mengisi pikiran dan jiwaku yang hampa.”


Di Ujung Lidah 

Di ujung lidahku 
tak akan ada kata yang terucap. 
Ia telah dibawa pergi kuda berpacu. 

Di ujung lidahmu 
tak akan ada makna yang terbaca. 
Ia telah dibungkam oleh penyanyi layar kaca. 

Di ujung lidah kita 
keheningan akhirnya bertemu. 
Menjadi ciuman ganas yang mendangkalkan ilmu. 

--

Gambar saya pinjam dari https://pixabay.com/id/model-tahun-kesedihan-sedih-depresi-2373083/
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

29 comments

  1. Menantang diri sendiri.
    Seperti seru dan pasti bisa bikin kita lebih berkembang.
    Kayaknya aku juga mau nyoba deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bikin lebih berkembang, itu udah jelas, sih. Karena melakukan sesuatu yang lebih dari biasanya. Selamat mencoba, Mas~

      Delete
  2. gue malah setelah baca tulisan lu ini jadi nyadar, kalo tulisan gue ya gitu-gitu aja. enggak berkembang. tapi gue nyaman-nyaman aja sih. apa ini yang disebut zona nyaman gitu ya? ahhaha
    mungkin nanti pengen nyoba juga sih nih, nulis bertema seperti itu. tapi bukannya emang yang bikin puisi itu lebih gampang ditulis ketika suasana hati sedang sedih ataupun kebangetan seneng, kalo lagi biasa-biasa aja malah kurang ngalir idenya. gue masih susah sih nulis puisi yg harus fokus gitu harus jadi ketika itu juga. wehehe

    ini menurut gue doang atau emang elu ini terlalu perfectionist gitu, yog?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Standar menulis orang beda-beda, kan. Selagi nyaman mah tulis terus aja. Nanti zona nyamannya bisa berkembang dengan sendirinya. Mungkin saya yang malah nggak nyaman kalau gitu-gitu mulu. Jadi penginnya coba-coba dalam menulis. Haha.

      Hm, emang iya, ya? Saya nggak sadar kalau diri saya ini perfeksionis. Kayaknya tergantung keadaan deh. Kalo ikut lomba dan dikejar tenggat biasanya tulisan saya minim pengeditan dan apa adanya. Kalo tulisan blog, kan, lebih bebas mau posting kapan saja. Nah, saya pengin menyajikan konten yang terbaik karena blog ini rumah saya. Biar tamunya pada betah gitu. Tapi entahlah~

      Delete
  3. Kalo saya sih ada inspirasi trus tulis langsung jadi
    Jarang di edit lagi

    Wah hebat y Om yoga ini bisa bikin puisi
    Bikin puisi itu lumayan sulit loh bagi saya
    Dlu sih pas SMA sering banget bikin puisi
    Eh sekarang malah nulis2 yang g jelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kebiasaan saya yang begitu, Nik. Perlu mengendapkan tulisan. Wahaha, saya masih belajar juga ini, sih. Hebat dari mana? Itu yang saya tampilkan juga masih kurang baik.

      Delete
  4. Keren, saya sendiri kagak bisa memainkan rasa dalam kata-kata. Mungkin karena orangnya gak pedulian kali yak *lho. Makanya bener itu, yang penting posting dulu edit mah belakangan wkwkwk. Btw, bang yoga ikut kopdar 30 hari bercerita kah kemaren kah di taman ismail marzuki?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ikut, Sep. Saya kan nggak posting cerita, sebab tulisannya saya pendam. Hahaha.

      Delete
  5. beberapa waktu ini agak nyendat nulis
    entah apa lagi musim flu ya
    sering juga udah keposting malah hancur
    di situ merasa jengkel apalagi kalau tak ada koneksi
    jujur, kalau fiksi aku harus banyak belajar
    apalagi menulis puisi dan cerpen
    setaun pun belum pasti jadi -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa orang, kan, punya keunggulan masing-masing. Bloger pun begitu, mana yang lebih mereka kuasai dalam menulis. Ada yang jago mengulas, tapi menulis fiksi kesulitan. Lancar saat menulis keseharian, tapi sering mandek saat bikin ulasan.

      Ya kali sampai setahun~ Hm, semua orang awalnya juga nggak bisa kan, Mas? Dengan latihan dan kemauan untuk belajar menulis fiksi, lama-lama bisa kok. Ehehe.

      Delete
  6. Berani menantang diri sendiri cukup buat takjub.
    Apa salahnya mencoba hal baru kan?
    Btw saya juga suka coba nulis menyusun kata gitu, tapi kadang masih ragu, apa tulisannya bisa disebut puisi/sajak apa engga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak ada salahnya. Selagi yang dicoba itu bukan hal-hal buruk yang merugikan orang lain. Hahaha.

      Kalo gitu, coba minta pendapat temenmu yang mengerti tentang sajak aja, Han.

      Delete
  7. Jadi, gambar yang kamu pinjam kapan dikembalikan, Yog? #EH

    ReplyDelete
  8. Waktu itu pernah ikut tantangan menulis 7 hari. Temanya ada, tantangannya betul-betul terasa karena untuk di posting di blog. Bahkan puisi pertama gue lahir berkat tantangan itu. Hehehe.
    Kalau boleh tau di kirim ke media yang mana, bang? Kali aja gue juga tertarik buat ngirim ke media tersebut. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ikut tantangan kayak gitu emang suka nggak menyangka bisa menuliskan hal-hal baru~ Kirim yang puisi? Saya kirim ke media online, Basabasi.

      Delete
  9. Aku juga suka nulis puisi, tapi ya gitu. Yang berima. menurutku lebih enak dibaca aja, Yog. Belum pernah ngirim ke media besar sih cuma sempat sekali aku kirim ke media kampus dan alhamdulillahnya lolos. Lumayan dapet fee :D

    sebenernya aku ada project bareng temen. Tapi ternyata nggak jalan, tapi kayaknya nanti bakal berlanjut lagi deh kalo stok puisinya udah lumayan banyat. Apa aku publish juga ya di blog? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, selera itu mah, Rul. Saya lama-lama bosen yang berima terus. Merasa begitu-begitu aja. Jadi saya perlu belajar bikin puisi bagus tanpa rima. Wqwq. Boleh-boleh aja, itu hakmu~ Bebas mau diisi apa saja. Ehe.

      Delete
  10. jangan kan 30 hari menulis cerita. deadline 1 tulisan aja, 3 minggu kemudian baru selesai -__-")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau nggak bisa, mending jangan dipaksakan, Lam. :(

      Delete
  11. Apalagi kalau keadaan lagi biasa-biasa aja? Itu susah banget taik! Hahahahaha exactly is it trueee! Emang paling susah kalau bikin puisi tapi jiwa dan hati bener-bener dalam keadaan stabil. Butuhnya ya dalam keadaan emosional gitu ya kan? Huhuuuu. Semangaaat deh! Semangat nulisnya sampai jadi hujan tulisan :D

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, buat saya kalo lagi stabil itu apa yang ditulis nanti bakalan kurang rasanya. Ketika emosi ikut campur, tentu lebih menarik. Ehe.

      Delete
  12. Kalo kamu dari puisi, saya masih drai cara lama. Twit. ide apapun yg muncul ya langsung di twit, di like sendiri, entar tau-tau udha kekumpul dan dikembangin jaid tulisan.

    saya udh lama nggak berpuisi, bulan lalu diajakin untuk ikutan lomba puisi, dan kaku bnget. masih ketergantungan ama rima. dan bisa dipastikan gak mungkin menang. malah, bukan puisi lebih mirip fiksi kilat. nampaknya emang harus merutinkan berpuisi agar terasah kayak si mayang yg rutin di kaskus bikin puisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga kadang-kadang begitu, Haw. Tapi sekarang udah mengurangi main Twitter. Jadi bikin catatannya langsung di ponsel atau buku tulis kalo lagi di rumah.

      Males yak ketergantungan sama rima gitu. Sekarang saya lagi belajar buat bikin lebih bebas dan nggak usah mikirin irama, sih. Semoga aja bisa terbiasa. Nggak kamu doang, kok. Saya juga pernah jadinya malah fiksi kilat. Wqwq.

      Widih, si Mayang rajin juga ahaha.

      Delete
  13. memang hidup harus ada tantangan ya mas. Dan saya gk bisa menilai puisi diatas sarat penuh makna, kecuali punya mas, hehe gk bisa saya nilai karna gak tau itu puisi ya? hehe

    pokoknya saya gk tau puisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cari tau kalau nggak tahu, Mas. Hidup terkadang memang mencari jawaban atas apa yang belum kita mengerti. :p

      Delete
  14. Aku ga ngerti puisi sih yog. Buatku yaaa, puisi itu aku anggab bagus (untuk diri sendiri mksdnya), kalo aku bisa ngerti makna puisinya. Intinya ga terlalu ribet dan banyak kiasan :D. Kalo kelamaan mikir isi dr puisinya, malah capek sendiri :p.

    Oke juga sih idemu, menantang diri sendiri utk membuat tulisan yg baru. Aku juga sadar kalo cara menulisku ga berkembang. Tapi mau fokus utk memperbaiki tulisan, kok ya skr blm bisa. Krn msh ada urusan kantor yg hrs didahulukan :( .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa orang memang lebih suka yang begitu, Mbak. Makanya Aan Mansyur pernah kesal sama penyair yang menulis puisi kepada sesamanya. Pembaca awam tentu bingung. Hehe.

      Prioritas Mbak mah emang udah banyak. Ada kantor, keluarga juga. Wajar, sih. Kalo saya, kan, masih sendiri dan banyak yang perlu dicoba. Wqwq.

      Delete
  15. Keren bisa bikin puisi .. 👍
    Tak mudah loh itu, apalagi bikin puisi yang yang isinya ngga sinkron dengan mood batin pikiran kita sebenarnya saat itu ....

    Sukses,ya.
    Lanjutkan ..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.