Apa Identitasmu, Puisi atau Prosa?

I

Aku memandangi dinding kamarku yang terbebas dari segala poster ataupun lukisan surealis. Aku menolak menjadi lelaki pemberontak—atau menjadi rebel sebagaimana istilah yang gemar digaungkan anak muda sekarang. Jika ayahku adalah seorang revolusioner, aku akan tetap mengenakan kemeja flanel rapi dan bekerja di kantor yang AC-nya 19 derajat Celcius. Aku tak mau menjadi penerusnya. Andaikan ayahku seorang penyair, aku ingin membeli gunting paling tajam untuk mencincang puisi-puisinya dan mengolahnya menjadi prosa, atau cukup merobek-robeknya dan membuangnya ke tempat sampah dapur.


Barangkali dia akan berkata, “Kau anak yang tak tahu terima kasih.” Aku lantas bertanya balik kepadanya: Bagaimana seseorang bisa belajar mencintai puisi jika ia dilempar ke dunia ini tanpa pernah mengisi formulir persetujuan untuk terlahir dan menjalani hidup yang tidak sesuai dengan identitasnya?

Aku kini berdiri di depan cermin toilet, tetapi tidak ada wajahku ataupun wajah puisi di sana. Hanya ada sesosok lelaki misterius dan fragmen prosa yang sedang lupa alamat rumahnya sendiri. Apakah identitas prosa adalah barang termahal yang dipajang di etalase toko kelontong dan tak sanggup kubeli?

Apa pun itu, lelaki misterius di dalam cermin itu bukanlah aku. Aku hanyalah seorang kurir dokumen yang belum mendapatkan ongkos pengganti bensin, atau aku adalah seorang karakter yang dicuri dari sebuah novel Amerika Latin versi terjemahan bahasa Inggris. Mungkin aku adalah kata-kata tanpa tubuh yang jatuh dari meja kerja tanpa komputer dan monitor.

Aku sebetulnya ingin hidup tanpa identitas. Namun, petugas sensus gemar menagih nama lengkap, nomor KTP, dan surat keterangan bersyukur. Mereka mengurung diri kita di dalam lubang tikus bernama individualisme, sambil merayakan hidup dengan berswafoto.

Baru-baru ini, aku sempat menulis tentang puisi bukanlah tempat untuk bersembunyi. Menulis puisi adalah tindakan menggandakan diri menjadi seribu orang yang tak kenal lelah, sebuah teks yang kehilangan ciri khas penulisnya, sebuah nama yang melayang-layang di antara sinyal telepon dan udara dingin pukul tiga pagi.

Aku hanya ingin segera menutup tulisan ini, sementara di luar sana, sisa-sisa puisiku masih terus menjelma debu yang tak punya tujuan hidup dan membuatku harus terus-menerus memakai masker.


II


Di balik remuknya hari, ada getar sunyi yang tak terucap, sebuah arsip kenangan yang ingin pecah atau meledak. Hidup, katamu, adalah tumpukan utang yang membeku saat malam-malam jahanam menjelang tidur. Karier merupakan sebuah bayangan yang menari di ambang kegelapan. Dan romansa, bahkan menjadi pembunuhan hebat yang nyaris tak meninggalkan jejak. Kini hanya secuil harapan yang masih kau genggam erat, yang kelak mampu mengurai benda mati menjadi makna dan menyembunyikan kesusahanmu dalam bait-bait tak kasatmata.

Di dalam terowongan hidup ini, kau seperti berjalan di rahim gelap yang menyimpan segala keraguan. Setiap langkah adalah perjudian dan kau terpaksa mempertaruhkan sisa-sisa napas. Lilin di tanganmu bukan lagi sekadar api, melainkan penanda waktu yang berdetak lambat, mencatat setiap denyut di antara keberanian dan ketakutan. Bau aneh pun menguar, serupa aroma busuk kenangan yang enggan pergi. Oksigen menipis, menyesakkan ruang yang perlahan dihapus oleh dimensi dan waktu. Lalu, kau akan melihatnya sebagai percakapan panjang dengan diri sendiri, sebuah monolog yang tak berkesudahan.

Bisikan-bisikan masa lalu bersembunyi di setiap celah bayangan. Mereka adalah metafora dari janji-janji ataupun mimpi-mimpi yang kauhancurkan sendiri. Namun, langkahmu tak surut, serupa pelari maraton yang kehabisan tenaga dan tak punya pilihan selain terus melaju. Ada desakan dari dalam diri, sebuah keharusan untuk tetap bergerak, meski tak tahu ke mana arah tujuannya.

Waktu, sebuah ilusi yang kau patahkan dengan setiap pijakan. Bukan lagi satuan jam atau menit, melainkan detak jantung yang berpacu. Kau tak peduli seberapa lama harus merangkak, seberapa jauh harus berjalan dalam kegelapan. Lilin itu, sebuah sumpah, sebuah ikatan tak terlihat yang mengikatmu pada janji. Mungkin ada percakapan tak terucap dengan Tuhan, dengan semesta, atau dengan diri sendiri di terowongan itu. Sebuah dialog yang hanya kau yang mengerti, tentang arti bertahan dan mencari.

Kelak, setelah cahaya matahari atau bulan mulai menyinari tubuhmu, barulah lilin itu akan padam dengan sendirinya dan menjadi sebuah penanda dari awal babak baru. Kematian tata cahaya bukanlah akhir kisah yang tragis. Setidaknya, hingga saat itu tiba, kau akan terus menjadi seorang penyair yang selalu menuliskan hidupnya dalam kegelapan dan berada di ambang batas maut. Maka, berhentilah bertanya tentang identitasmu, puisi atau prosa? Kau sejatinya bisa menjadi keduanya sekaligus.

0 Comments