I
Botol wiski itu berdiri di meja dapur seperti monumen kecil untuk sebuah kekalahan. Isi cairannya tinggal separuh, berwarna cokelat keemasan yang muram terkena cahaya lampu kuning 15 watt. Di sampingnya, dua gelas berembun masih menyimpan sisa es batu yang meleleh.
Gelas-gelas itu tampak tolol sekaligus intimidatif, seolah-olah sedang menatapmu sambil berkata bahwa rasa sakit sering kali tidak butuh penonton, ia hanya butuh waktu untuk mengendap.
Kau mengingatnya seperti seseorang yang mencoba membaca peta di dalam ruangan gelap. Kau adalah tragedi yang terlambat dicatat sejarah. Dulu kau berpikir bahwa kalian bisa saling menyelamatkan. Tapi belakangan kau paham: beberapa orang tidak tenggelam karena air, mereka tenggelam karena tidak tahu harus berpegangan pada apa.
“Sebulan kemudian kau akan baik-baik saja tanpaku,” ujarnya waktu itu. Tak kurang, tak lebih. Seolah-olah kesedihan punya tanggal kedaluwarsa yang bisa kalian sepakati.
Tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan bagaimana seseorang yang berada di fase depresi mampu merapikan kamar setelah kekasihnya minggat. Dinding-dinding itu juga menyimpan jeritan yang terlalu pelan untuk didengar tetangga. Kalian menjadi biasa dengan hal-hal yang setengah matang: dilema yang dipeluk erat-erat seperti duri yang sengaja dibiarkan menancap di telapak tangan.
Waktu berjalan dengan cara yang aneh ketika kalian sedang terluka. Ia membuat tubuhmu tampak seperti sesuatu yang fana dan mudah hancur, bagai sebaris puisi yang kau tulis di kaca berembun, lalu hilang sebelum sempat kubaca tuntas. Kau mengingatkanku pada bayi dalam keranjang bambu yang pasrah dihanyutkan arus sungai dalam cerita-cerita kitab suci, atau patung-patung batu yang lupa cara menangis karena terlalu lama terkena air hujan dan kotoran burung.
Kalian pernah percaya pada harapan yang membentang. Namun, pada akhirnya, kalian hanya dua orang lemah yang lumpuh di hadapan ingatan masing-masing. Hari ini, kau tidak melakukan apa-apa. Kemarin juga sama. Hanya membuang-buang waktu dengan menulis puisi di langit-langit kamar, menenggak zat-zat memabukkan, dan membiarkan luka menyembuhkan dirinya sendiri.
II
Kau salah tentang satu hal: aku tidak sedang berusaha membaca peta di ruangan gelap. Aku sedang menghafal segala tata letak agar kelak, ketika lampu ini benar-benar padam, mataku tak perlu lagi berpura-pura mencari jalan keluar.
Botol wiski ini memang separuh kosong, tapi di mataku, ia adalah satu-satunya hal jujur yang tersisa. Ia tidak menjanjikan hari esok akan membaik, ia hanya berjanji akan menemaniku menghabiskan malam ini tanpa berpura-pura menjadi pahlawan yang bisa menyelamatkan hidupku. Kau, kawanku, bahkan tak sudi menenggak segelas wiski yang sudah kutuangkan, sehingga aku harus minum keduanya.
Kau malah bilang aku seperti patung batu yang lupa cara menangis. Tapi kau tidak tahu betapa beratnya menjadi mereka: harus tetap berdiri kokoh, padahal di dalam sana isinya telah pecah menjadi beribu keping pasir. Air mata tidak selalu menetes ke luar, kadang ia memilih mengalir ke dalam, membasahi luka-luka yang sengaja kututup rapat agar tetangga tak perlu repot-repot bertanya.
Tentang kalimatnya yang bilang aku akan baik-baik saja dalam sebulan, ya aku tahu ia berbohong, dan ia pun tahu aku tak akan mampu. Bahasa memang benda yang berbahaya: ia bisa berpura-pura menjadi janji, lalu berubah menjadi duri, atau bahkan paku, yang menancap di telapak tangan.
Kami hanya dua orang penakut yang sepakat memberi nama pada tanggal kedaluwarsa sebuah luka, sebab menghadapi ketidakpastian tanpa ujung jauh lebih menakutkan daripada menghadapi kepergiannya. Jadi, biarkan aku di sini. Merapikan kamar ini bukan karena aku telah sembuh, tapi karena aku ingin menyapu sisa-sisa diriku yang berceceran di lantai.
Aku tidak sedang tenggelam karena tak tahu harus berpegangan pada apa. Aku hanya sedang belajar melepaskan pegangan, sebab terkadang, berhenti melawan arus adalah satu-satunya cara untuk tidak merasa sakit lagi.
Di kaca berembun itu, ataupun di langit-langit kamar, aku tidak sedang menulis puisi. Aku sedang mengajari jari-jariku berpisah dengan afeksi yang dulu akrab dan gemar memelukku. Dan kau, penonton di luar sana, segera tutuplah pintumu. Di sini, wiski ini sedang meminumku habis-habis, sebab ia ingin aku cepat belajar membiasakan diri dengan sepi yang tak lagi memiliki nama.
--
Salah satu gambar diedit menggunakan chat GPT.



0 Comments
—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.