Bagaimana Saya Mulai Menghargai Karya Sendiri

I

Merayakan puisi

Saya senang menulis, tapi kerap merasa inferior buat mempromosikan tulisan saya, lebih-lebih dalam menjual karya. Mengingat tulisan saya sempat beberapa kali ditolak media (khususnya puisi), saya kira itu bisa menjadi pengaruh yang amat kuat. Saking capeknya dengan penolakan, sampai-sampai saya pernah berpikir bahwa tulisan saya itu sampah dan tak layak mendapatkan tempat. Namun, semenjak salah seorang kawan baik menegur saya, dan dia entah mengapa menjadi orang yang paling marah setiap kali saya mengatakan karya tersebut sebagai produk gagal, saya sepertinya perlu berpikir ulang mengenai hal itu.



 

Apalagi baru-baru ini saya melihat ada seorang gadis di Twitter yang menjual foto selfie-nya di suatu platform dan banyak yang berminat memberikan dukungan. Berdasarkan hasil penelusuran iseng saya, ternyata dia berhasil memperoleh uang 10 jutaan cuma dalam jangka waktu kurang dari seminggu. Itu kok rasanya saya tak ingin kalah dari gadis tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa sepercaya diri itu menjual foto diri yang memamerkan belahan dada tanpa ada usaha berlebih selain nekat memasang muka tembok, sementara saya justru minder mengomersialkan tulisan yang jelas-jelas dibikin dengan sepenuh hati, berbulan-bulan berusaha mengonsepkan gagasan, memikirkan ide-ide terbaik, serta melakukan olah batin, hingga akhirnya menjadi satu naskah utuh?

Kala itu, saya benar-benar marah dan menganggap bahwa dunia terasa tak adil. Saya kira, beberapa pekarya lain yang menjual hasil desain, komik, fotografi berkonsep, video tutorial, film pendek, pemikiran dalam bentuk podcast, atau apa punlah yang layak disebut sebagai karya seni, akan merasa dipermainkan juga oleh kenyataan semacam itu. Para pekerja kantoran dan pengusaha mikro yang sudah berjuang mati-matian demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sepertinya bakalan murka jika mengetahui penghasilan bulanan mereka teramat jauh dibandingkan pemasukan gadis itu dalam seminggu.

Sebelumnya, saya tentu sudah pernah menemukan kejanggalan semacam itu berdasarkan jumlah likes di Instagram. Saya heran sekali, kenapa foto pemandangan dan ilustrasi yang sangat indah itu biasanya cuma meraih tombol hati sekitar ratusan (bisa kurang dari itu), sedangkan foto cewek seksi bisa meraih ribuan (lebih dari itu)? Apakah konten yang vulgar-vulgar selalu menarik minat, khususnya bagi para lelaki mata keranjang? Lalu, kini saya menemukan hal yang lebih gila lagi, yaitu ada sebagian orang yang ternyata bersedia berlangganan OnlyFans sekian dolar setiap bulannya demi melihat foto maupun video eksklusif dari perempuan-perempuan binal yang mereka sukai.

Kadang-kadang dunia ini terasa sangat konyol (dibikin tipo huruf “y” jadi “t” juga boleh). Orang-orang yang penghasilannya pas-pasan ini kok bisa rela mengeluarkan uangnya demi foto gadis seksi, dan membuat gadis yang selfie-nya menggunakan iPhone keluaran terbaru itu semakin bertambah tajir? Aneh sekali, bukan?

Di sisi lain, sebagian dari mereka kudu berpikir ulang beribu-ribu kali untuk membeli karya para seniman—khususnya penulis yang sebagaimana kita tahu penghasilannya jauh dari kata aman. Atas dasar itulah, saya akhirnya mesti menggerutu begini sembari berusaha menjual karya terbaru saya: Merayakan Puisi, walaupun saya sebetulnya malu menyebut teks-teks itu sebagai puisi. Tapi, saya mencoba mengamini perkataan Nicanor Parra, yang kerap disebut sebagai Bapak Antipuisi, pada salah satu sajaknya: “Tulislah apa yang kau mau, dengan gaya apa pun yang kausuka. Dalam puisi, segalanya diperbolehkan. Hanya dengan kondisi begini tentunya, kau mesti memperbaiki halaman yang kosong.

Jadi, kamu boleh menamakan naskah saya itu sebagai antipuisi, atau anggap saja saya menjual omong kosong. Paling tidak, pikir saya, diri saya ini hanya berusaha menjual suatu produk yang memang sejak dulu sudah diminati orang-orang, yakni buku. Berhubung tulisan-tulisan di dalam buku lazimnya bisa menambah wawasan, menghibur, mengajak pembaca merenung, mewakilkan perasaan pembaca, dan seterusnya, berarti tak ada yang salah dengan menjual buku (sekalipun digital), kan?

 


 

II

Kolaborasi bikin kover dan edisi revisi

Kurang lebih seminggu yang lalu saya baru saja promosi naskah Merayakan Puisi (dengan kover ala kadarnya bikinan sendiri) di Instagram, dan kini saya ternyata mesti kembali membicarakan edisi revisinya. Berkat pos pada hari itu, siapa sangka saya jadi bisa mengobrol dengan beberapa teman tentang naskah dan penerbitan indie, lebih-lebih mendapatkan ajakan kolaborasi dari Antar Jihad—kawan bloger yang  sudah saling mengenal dan termasuk akrab sejak 2015. Dia katanya bersedia membuatkan kover buku puisi saya. Tanpa perlu berpikir panjang, saya tentu langsung menerima ajakan tersebut dan kami melanjutkan obrolan via WhatsApp.

Tata (begitulah nama panggilannya) bertanya kepada saya terkait gambaran singkat isi naskah itu agar dia bisa mengonsepkan desainnya. Saya berusaha menjelaskan semampunya, bahkan menawarkan dia untuk membaca kumpulan nonsens itu.

“Kalau boleh, mau dong gua,” ujarnya, setelah bilang bahwa penjelasan saya atas naskah itu menarik.

Saya mengirimkan failnya, lalu Tata meminta waktu buat membaca naskahnya terlebih dulu. Hingga beberapa hari kemudian, dia mengabarkan saya kalau desainnya sudah jadi. Tata memberi saya dua pilihan, dan kover inilah yang saya pilih.

 


“Pemilihan background hitam karena gua merasa puisi-puisi lu ini dark banget,” katanya. “Penuh hal-hal pahit dan getir.” Tata lantas menjelaskan filosofi desain itu secara lebih lanjut. Katanya, lilin ini biasa dijadikan simbol perayaan sebagaimana judul yang saya pilih. Sementara fon serif yang bergelombang itu sengaja dipakai demi memberikan kesan santai ataupun ringan.

“Jadi, meski tema besarnya kepahitan hidup, cara penyampaian lu tetap ringan dan keren.”

Seusai membaca seluruh penjelasan dan melihat hasil finalnya, mata saya otomatis berkaca-kaca saking terharunya. Kover saya jadi keren banget begini. Saya kira kover yang bagus pasti bisa menjadi poin plus di mata pembaca.

Selama ini saya terbiasa membuat karya seorang diri dan merasa belum sanggup jika mesti menyewa seorang desainer grafis. Namun, beruntunglah saya memiliki teman yang jago di bidang itu, terlebih lagi dia menawarkan kolaborasi. Makasih banyak, Ta!

Namun, buat sementara ini, saya belum bisa mencetaknya menjadi buku fisik. Saya baru bisa menjualnya secara digital di KaryaKarsa atau langsung menghubungi saya lewat surel: ketikyoga@gmail.com.

 

III

 

Berbagai upaya demi bertahan hidup 

Selain ajakan kolaborasi bikin kover itu, saya dan segelintir teman lain sempat membahas penerbitan indie karena mereka tahu saya pernah memiliki impian bisa memegang buku yang di kovernya tertulis nama “Yoga Akbar S.” dalam bentuk fisik, bukan cuma versi digital seperti yang sudah-sudah. Mereka memberikan saya rekomendasi beberapa penerbit yang biayanya cukup terjangkau, bahkan bisa mencetak satuan. Tentu saja hal itu membuat saya tergoda, tetapi setelah sadar bahwa sementara ini sedang masa-masa krisis, saya tak punya pilihan lain selain menundanya suatu hari kelak.

Menerbitkan buku di penerbit bukanlah suatu prioritas untuk sekarang ini, sebab niat saya menjual karya ini jelas mencari pemasukan tambahan lantaran saat dagang makanan omsetnya sangat menurun hingga 50%. Sekalipun mungkin hal semacam ini tidak banyak membantu, paling tidak saya sudah berupaya melakukan semampunya dari berbagai cara yang ada.

Saya sadar, bahkan sangat sadar, kalau usaha yang paling masuk akal dalam mencari pemasukan tentunya dengan bekerja dan menerima gaji bulanan. Namun, semenjak saya terpapar virus dan anosmia pada awal Juli itu, sampai hari ini saya belum berani mengambil pekerjaan lepas sama sekali, lebih-lebih mencari pekerjaan tetap—yang konon syaratnya mesti memiliki sertifikat vaksin.

Mulanya, saat baru saja sembuh setelah isolasi dua minggu, saya sudah berkomitmen begini: “Nanti setelah kesehatan saya benar-benar pulih dan batuknya hilang, saya ingin lekas mendapatkan vaksin.” Sekitar 40 hari kemudian, tepatnya pada akhir Agustus, saya sudah merasa benar-benar fit dan kebetulan juga didaftarkan vaksin oleh tetangga saya. Tanpa ragu, saya langsung mengambil kesempatan tersebut. Di benak saya, berarti sebulan kemudian saya akan dapat suntikan kedua alias sudah vaksin secara penuh. Itu artinya saya bisa segera mencari pekerjaan lagi.

Tapi kenyataan seringnya tak bisa ditebak, karena saya rupanya mendapatkan vaksin jenis AZ, bukan Sinovac, yang mana saya baru memperoleh suntikan kedua sekitar tiga bulan kemudian pada pertengahan November. Meski demikian, saya berpikir bahwa masih bisa mencari pekerjaan lepas atau paruh waktu selama tiga bulan sembari menunggu jadwal vaksin kedua itu. Saya lantas bertanya kepada sebagian teman, tapi jawaban mereka mayoritas juga senasib dengan saya. Sejujurnya, saya baru tahu kalau beberapa dari mereka juga termasuk dirumahkan, belum bekerja lagi, selain menjadi kurir lepas pengantar makanan atau dagang kecil-kecilan.

Ketika saya lagi bingung mesti bertanya kepada siapa lagi, ternyata ada salah satu tawaran kerja sama di blog yang bayarannya lumayan, senilai dengan jatah makan versi hemat dalam seminggu. Sekitar seminggu kemudian ada juga seorang kawan yang menyarankan saya untuk mencoba bekerja lepas di rumah makan atau restoran. Dia bilang, biasanya mereka mencari karyawan tambahan, baik itu menjadi pramusaji ataupun tukang cuci piringnya. Saya tak tahu apakah pada masa pandemi begini lowongan pekerjaan lepas semacam itu masih ada, tapi entah mengapa saya mendadak teringat dengan penulis idola saya, Roberto BolaƱo, yang pernah bekerja sebagai tukang cuci piring demi bertahan hidup. Saya rasanya jadi kepengin menjajalnya juga.

Namun, lagi-lagi nasib baik tidak berpihak kepada saya lantaran saya tiba-tiba terkena parosmia sekitar tiga minggu setelah divaksin, padahal awalnya penciuman saya sudah kembali normal. Ini betul-betul membingungkan buat saya. Apakah itu efek dari vaksin AZ yang konon dosisnya sangat kuat itu? Hm, saya kira itu bukanlah akibat vaksin, melainkan efek jangka panjang Covid.

Saya dapat berpikir begitu karena menemukan kasus serupa pada dua orang teman, yang bilang 2-3 bulan setelah terpapar virus itu, hidungnya juga bermasalah sekalipun mulanya sudah sempat normal. Berbeda dengan saya yang langsung mengambil vaksin setelah satu bulan sembuh, mereka justru menunggu sampai tiga bulan sebagaimana anjuran sebagian dokter demi memprioritaskan para warga yang belum pernah terpapar virus laknat itu. Jadi, parosmia ini memang bisa menyerang sebagian orang yang sebelumnya pernah terpapar. Jika sebagian orang ada yang mengalami batuk tak kunjung sembuh, tubuh jadi cepat lelah, anosmia berkepanjangan, atau gejala lainnya, saya dan dua orang teman itu justru mengalami parosmia sialan ini.

Bagi yang belum tahu, parosmia ini merupakan penyakit yang bikin penciuman kita menjadi kacau. Biasanya terjadi ketika orang itu menghirup aroma makanan. Karena dalam kasus saya, bau parfum, sabun, sampo, dan wewangian lainnya masihlah harum. Misalnya, sewaktu saya sedang makan telur ataupun ayam goreng, bukannya tercium bau sedap dan gurih, yang muncul malah bau busuk, tengik, atau sampah terbakar. Alhasil, selama dua minggu ini saya coba-coba menghirup segala aroma yang ada dari setiap makanan. Sejauh ini, hanya tahu, tempe, sayur, buah, roti, dan biskuit saja yang baunya normal. Kalau beef burger, bakso, dan beberapa jenis daging sapi lain yang telah diolah, di hidung saya ini baunya tidak semenyengat ayam dan telur yang bikin mual. Meski begitu, dua makanan itu masih dapat saya toleransi dan kudu menelannya dengan penuh perjuangan, sedangkan segala jenis makanan sea food saya pasti kewalahan dan bakalan muntah.

Niat saya buat bekerja paruh waktu di restoran itu tentu saja gagal. Saya sementara ini tak bisa dekat-dekat dengan makanan, sebab takut mual jika menghirup beberapa jenis makanan yang menyengat itu. Pilihan saya sekarang ini sepertinya hanya bekerja kantoran yang jauh dari makanan. Hm, atau saya cukup bersabar sembari menunggu kesembuhan indra penciuman ini, paling tidak sampai nanti memperoleh dosis vaksin kedua.

Tapi berhubung saya anaknya tidak betah tanpa melakukan usaha apa pun, jadilah saya berniat lagi mengumpulkan naskah-naskah yang tercecer di berbagai platform, kemudian bermaksud menyuntingnya, dan menghimpunnya menjadi sebuah buku digital. Pada awalnya, niat saya jelas mengumpulkan cerpen-cerpen karena jenis tulisan itulah yang paling saya geluti belakangan ini. Sialnya, tema dalam cerpen-cerpen saya itu terlalu acak (ada yang tentang percintaan, keluarga, masa pandemi), sehingga saya mesti menambahkan 5-7 cerita untuk setiap satu jenis tema demi memperkuat benang merahnya. Oleh sebab itulah, saya akhirnya beralih pada puisi, yang sekalipun tidak satu tema tapi terasa lebih mudah dikelompokkan. Saya hanya perlu membaginya dalam dua bagian, yakni puisi yang saya tulis pada periode sebelum hiatus maupun setelahnya.

 

IV

Menentukan harga sebuah karya dan lebih menghargai karya sendiri

“Jika kau berniat mencari uang tambahan, kenapa harga jualnya murah?”

Kira-kira seperti itulah tanggapan salah seorang teman—yang tidak perlu saya sebutkan namanya—ketika dia mengetahui bahwa harga buku digital yang saya pajang di etalase KaryaKarsa hanya berkisar dari 10.000-30.000.

Saat saya menentukan harga sebuah karya, terus terang saja sampai sekarang ini selalu merasa dilema. Bagaimana tidak dilema, karena saya belum bisa menjual bentuk fisiknya, melainkan cuma versi digital. Jika harga buku fisik di toko-toko buku biasanya senilai 35.000-100.000 tergantung ketebalan naskah ataupun ketenaran sang penulis, itu tandanya saya mesti mengurangi biaya cetaknya dalam penentuan sebuah harga buku.

Berdasarkan hasil riset saya akan ongkos cetak sebuah buku, jika buku itu setebal 100-200 halaman (saya tentukan dari jumlah halaman di buku-buku yang saya jual), ongkos cetaknya kira-kira 15.000-25.000. Oleh karena itulah, kala saya ingin menghargai kumpulan cerpen saya yang hampir 200 halaman dan seumpama dicetak harganya sekitar 50.000, itu berarti saya mesti mengurangi harganya 25.000 supaya tidak terlalu mahal. Begitu juga dengan kumpulan puisi. Jika semurah-murahnya naskah puisi di toko buku senilai 30 ribuan, saya terpaksa mengurangi sampai setengah dari harga jual buku fisiknya.

Apalagi sebagian naskah itu juga pernah saya terbitkan di blog terlebih dahulu. Mengingat mayoritas tulisan itu sudah pernah dibaca oleh pengunjung blog ini, bahkan sampai hari ini ada beberapa tulisan yang masih saya biarkan di blog, tidak saya kembalikan ke draf agar menghargai orang-orang yang telah membelinya, tentu menjadi suatu pertimbangan lagi.

Syukurlah saya memiliki seorang teman yang saya sebut di pembuka tulisan ini dan termasuk salah satu manusia yang paling menghargai karya saya, sampai-sampai dia berkata begini: “Aku enggak mau baca ulang tulisan kamu yang di blog. Ribet kan buka-buka arsipnya. Aku maunya yang sudah kamu edit jadi lebih bagus. Aku pokoknya mau beli tulisanmu yang berbentuk rapi dan jadi satu naskah.”

Ah, andai saja di dunia ini banyak orang sepertinya, mungkin para penulis ini hidupnya betulan bisa sejahtera.

Tapi saya lagi-lagi tak mau berharap terlalu banyak di dunia kepenulisan. Saya cuma ingin menganggap usaha-usaha saya untuk mengomersialkan sebagian tulisan yang saya anggap layak mendapatkan apresiasi lebih dari para pembaca ini semata-mata karena iseng, bukan karena kemauan yang sangat kuat, sebab saya takut berujung kecewa dan mengutuk jalan hidup yang saya pilih ini. Setidaknya, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Tak ingin menyalahkan media-media yang pernah saya kirimkan dan menolak tulisan saya. Tak ingin menyalahkan pembaca yang mungkin tidak menyukai tulisan saya, khususnya puisi.

Sejauh yang saya ketahui tentang kegiatan menulis ini, tugas saya hanyalah terus berlatih demi menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik. Siapa tahu saja suatu hari nanti dapat melahirkan karya yang ciamik dan meraih penghargaan, sehingga orang-orang yang sempat meremehkan saya jadi mulai menghargai karya saya. Walaupun saya sadar diri sekarang ini masih seorang medioker dan demi sampai ke titik sana pasti jalannya teramat panjang dan berliku, yang terpenting saya masih bisa terus bersenang-senang lewat menulis dan mulai menghargai karya sendiri. Kalau diri sendiri saja tak bisa menghargainya, bagaimana dengan pembaca? Jadi, lewat tulisan ini saya bermaksud mengingatkan diri sendiri untuk lebih menghargai karya yang telah saya ciptakan.

7 Comments

  1. Saya sendiri pasti akan berpikir karya ini gagal saat tak berguna dan hanya jadi sampah, tetapi balik lagi bagaimanapun itu juga hasil kerja keras saya kenapa gak dihargai, hemm.

    ReplyDelete
  2. Halo bang!

    Good luck buat karya barunya yah! Semoga juga parosmia ataupun long covid-nya juga cepat ilang.. Aku baru tau kalau vaksin AZ itu jarak vaksinnya 3 bulan.. Lama bener ya..

    Deket-deket ini, aku juga mulai berpikir untuk mencari pekerjaan tetap.. Sayang kemampuanku dalam dunia pertes-tesan kerja kurang begitu baik, lebih seneng yang experience-based gitu.. Malah curhat ya disini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih doanya, Bang. :D

      Iya, karena dosisnya lebih kuat daripada vaksin jenis lain, makanya sengaja jaraknya dibikin cukup jauh.

      Bisa kan kerja tetap berdasarkan pengalaman, Bang. Tinggal tunjukin aja itu kemampuannya.

      Delete
  3. penilaian karya memang kadang subyektif
    tergantung sudut pandang
    yang penting udah berani mengeluarkan karya itu sudah baik
    daripada jadi draft terus heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat saya sekarang memang mending nekat keluarin, terus bertumbuh dari karya sebelumnya, daripada sering menunda-nunda dan akhirnya tidak bikin apa-apa.

      Delete
  4. Aku udh beli tadi šŸ˜. Jujur sbnrnya aku ga terlalu bisa menikmati puisi, tapi aku pernah bilang dulu, kalo puisimu ga kayak puisi2 rumit yg aku ga suka itu šŸ˜„. Baca puisi yoga, aku lebih bisa nangkep maksudnya apa. Bercerita ttg apa . Toh yg penting, suatu karya itu sebaiknya memang bisa dimengerti ama pembaca kan? Kalo terlalu 'tinggi' bahasanya, sampe yg baca bingung sendiri ini maksud intinya apaaaa, kok menurutku jadi karya terlalu ekslusif ya. Hanya dimengerti segelintir orang :p.

    Tapi ntahlaaah, bisa jadi aku aja yg terlalu males mengartikan puisi2 orang terkenal :p.

    Btw, aku mau baca dulu karyamu :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak udah beli karya saya, Mbak Fanny. :D

      Mayoritas pernah terbit di blog ini, sih, dan tambahan puisi barunya hanya beberapa. Tapi semoga bisa tetap menikmati sekaligus memahami rangkaian kata-katanya.

      Iya, ada yang pernah bilang puisi itu inklusif sekaligus eksklusif. Ada sajak-sajak yang bisa mengajak pembaca buat menyelami makna teksnya, ada pula yang cuma bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu. Haha.

      Selamat membaca~ :D

      Delete

—Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap sudah blogwalking.