Usia 27

8 comments
Disalin dari halaman terakhir jurnal harian milik Agil Febrian.



--

Belakangan ini aku berada di kondisi mental yang gawat banget. Efek dari batin yang menderita berlebihan selama pandemi, sering kali di kepalaku terlintas pikiran lebih baik mampus aja ketimbang hidup dalam rasa cemas yang tak berujung ini. Aku pun mulai memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan diri.

Dari sekian banyak pikiran yang keterlaluan buruk itu, aku entah mengapa jadi teringat dengan salah satu kepingan buku kumpulan esai dan aforisme karya Arthur Schopenhauer yang membahas tentang bunuh diri. Aku lantas iseng menerjemahkan secara asal dan mencoba menulis ulangnya, sehingga beginilah kira-kira yang dia coba sampaikan:

Secara umum akan ditemukan situasi di mana teror kehidupan datang untuk melebihi teror kematian seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, teror kematian menawarkan perlawanan yang cukup besar: mereka berdiri tegap bagaikan seorang penjaga di pintu gerbang.

Mungkin tak ada satu pun manusia yang ingin menyudahi hidupnya sendiri jika tujuannya murni negatif, untuk menghentikan eksistensinya secara tiba-tiba. Meski begitu, ada suatu hal positif di dalamnya juga: penghancuran tubuh. Ini merupakan suatu pencegahan, sebab tubuh adalah bentuk fenomenal dari keinginan untuk hidup.

Perlawanan dengan penjaga itu bagaikan sebuah peraturan, bagaimanapun, tidak sesulit kelihatannya bagi kita jika sudi menengoknya dari kejauhan: alasannya adalah pertentangan antara penderitaan batin dan fisik. Karena ketika kita berada dalam rasa sakit fisik yang hebat atau kronis, kita tidak lagi peduli dengan semua masalah lain; yang kita khawatirkan cuma pulih. 

Dengan cara yang sama, penderitaan batin yang hebat membuat kita tidak dapat merasakan kesakitan fisik; kita malah membencinya. Memang, jika itu harus melebihi yang lainnya pasti akan menjadi gangguan berguna, suatu interval dalam penderitaan batin. Inilah yang membuat bunuh diri terasa lebih mudah: karena rasa sakit fisik yang terkait dengannya telah kehilangan semua signifikansi di mata seseorang yang mengalami penderitaan batin yang berlebihan.

*

Pandanganku pribadi dalam tulisan itu, mengapa ada sebagian manusia yang berpikir lebih baik mati aja ketimbang meneruskan hidup, sebab dia berpikir ataupun merasa kalau bunuh diri itu sakitnya paling cuma sebentar, setelahnya dia bisa tenang selamanya. Dia tak perlu lagi merasakan gangguan kecemasan, tak perlu takut menghadapi masa depan yang sekilas tampak suram, tak perlu memikirkan keadaan negaranya yang bobrok, tak usah melihat kejahatan-kejahatan di seluruh dunia ini, dan tentunya dapat terbebas dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.

Jika ada seseorang yang hidupnya terlalu sering dirundung kesialan, bukankah dia mulai berpikir bahwa hidup tak lagi layak untuk dijalani? Apakah seandainya dia mencoba bertahan, pada kemudian hari keadaannya itu bisa berubah lebih baik? Bagaimana kalau di depan sana yang menantinya adalah keburukan belaka? Lantas, hidup gunanya buat apa lagi?

Namun, sebagai orang yang sejak kecil mendapat didikan agama tentang bunuh diri itu dosa, kita hidup enggak cuma di dunia ini (masih ada akhirat), apa pun yang kita perbuat di sini bakal dipertanggungjawabkan kelak; tentu ada suatu pencegahan dari dalam diriku.

Sebagaimana yang sering diucapkan oleh orang-orang taat beragama maupun yang tercantum di kitab suci, kita ini mesti percaya sama Tuhan bahwa Dia tak akan membebani seseorang, melainkan yang sesuai dengan kesanggupannya.

Nah, yang menjadi pertanyaanku, anggaplah orang itu telah berusaha sanggup dan sekuat mungkin, husnuzan kepada Tuhan, menemukan alasan untuk bertahan; sedangkan di sisi lain, bagaimana kalau orang-orang di sekitarnya yang justru menambah beban itu? Mereka-mereka ini, termasuk keluarganya sendiri, kurang paham sama kesehatan mental? Bukannya membuat si penderita lebih baik, cukup dengan mendengarkan permasalahannya tanpa menghakimi, melainkan memberikan ujaran-ujaran ataupun khotbah-khotbah sampah yang justru memperparah penderitaannya? Bagaimana kalau dia jadi semakin membenci dirinya sendiri? Dia pun sulit percaya lagi sama orang lain. Dunia terasa sangat jahat baginya. Tak ada yang membutuhkannya lagi.

Padahal, jauh di lubuk hatinya, dia hanya ingin hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Dia juga ingin kehadirannya diterima selayaknya manusia lain. Tidak dipandang sebagai sampah atau manusia gagal yang tak berguna. Sampai-sampai batinnya menjerit. Sehingga dia harus mengurung diri demi memulihkan segala sakit (meliputi fisik, pikiran, dan hati) pada dirinya itu.

Lalu, dalam kesendiriannya itu dia akhirnya bisa menangis demi batinnya terasa lebih plong. Hingga dia berhenti menangis. Sialnya, rasa terkutuk dalam dirinya itu masih belum lenyap juga. Sampai dia mulai menangis lagi. Sampai dia berhenti menangis karena kelewat lelah dan ketiduran.

Setelah terbangun, dia merasa sedikit bersyukur sama Tuhan yang alangkah hebatnya menciptakan alam mimpi. Semacam dunia paralel yang memberikannya pelarian sementara. Meskipun teramat singkat, dia di sana disuguhkan kegembiraan yang nyaris mustahil bisa diperoleh di kenyataan. Yang seakan-akan membuatnya percaya bahwa hidup masih pantas dijalani. 

Walaupun dia cenderung pesimis lantaran membaca tulisan Schopenhauer, tak ingin banyak berharap tentang ini dan itu, barangkali suatu hari kelak kebahagiaan di dalam mimpinya itu berpindah ke dunia yang baginya terasa jahanam ini.

Aku sesungguhnya sedang menulis tentang apa dan siapa? Apakah ini fiksi atau nyata? Apakah tentang orang lain atau diriku sendiri? Apakah ini catatan bunuh diri, jurnal harian untuk menyembuhkan diri, atau semacam curahan hati orang nelangsa cenderung depresi yang kerap dianggap sepele?

Apa pun itu, aku ingin saat ini ada seorang perempuan berparas manis yang bisa memeluk dan menenangkanku seraya berkata, “Aku tahu bertambahnya umur itu sering menjengkelkan. Apalagi jika hidupmu pada usia 27 ini masih terasa memble. Namun, aku berharap dengan kehadiranku di sini, aku bisa sedikit mengubah cara pandangmu dalam melihat dunia, lalu kamu bersedia menjalani hidup lebih lama lagi.”
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

8 comments

  1. Baca ini saya jadi ingat diri saya tujuh tahun lalu, dimana bunuh diri adalah sesuatu yang muncul di kepala saya hampir setiap hari. Nggak mau komentar banyak, tapi saya berharap siapapun tokoh yang diceritakan dalam tulisan ini, semoga lekas membaik, walau sulit. Cliche memang.

    Albert Camus pernah bilang dalam A Happy Death, bahwa pada akhirnya dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk hidup di bandingkan untuk bunuh diri.

    ReplyDelete
  2. Teror kehidupan sangat menarik dan disisi yang lain sangat menganggu pikiran saya. Karena cukup moment of truth, kalo orang yang merasa feeling empty itu kebanyakan karena teror kehidupan.

    Ngomongin eksistensi, saya pernah baca cerpen: "semua orang di dunia tidak menganggap penting di luar dari dirinya." Makanya, kadang ada momen untuk mempertanyakan eksistensi kita di dunia tuh apa? Impactnya ke orang seperti apa? Bahkan, pertanyaan klise macam kalo saya mati, yang nangis tuh siapa-siapa saja?

    ReplyDelete
  3. Aku bersyukur, setidaknya siapapun yang kamu tulis di atas, masih mau mengingat kalo bunuh diri itu dosa :( . Walopun aku hanya diceritain oleh guru agama ttg hukuman saat di alam kubur terhadap orang bunuh diri, ntah bener seperti itu ato ga, tapi cukup bikin aku mikirin bunuh diri aja udah ngeri.

    Aku tau sih Yog, hidup itu keras, apalagi cobaannya.. Tapi ada yg bilang, cobaan ato sakit itu membersihkan dosa. Kadang berharap sesakit apapun yg dirasain saat ini, bisa berbuah manis di alam lainnya nanti.

    Aku percaya kejahatan ato kebaikan ada hukumannya. Aku percaya hidup itu bagai roda. Yg terpenting iman ga pernah longgar sedikitpun. Cuma itu toh yg bisa kita jadiin pegangan di saat lemah ..

    Aku ga terlalu bisa menghibur, tapi aku pendengar dan pembaca yg baik :D. Apapun masalah yg dihadapi, belajarlah utk ga peduli dengan kata orang yg berefek negatif ke kita. Fokus Ama diri sendiri. Ato jadiin perkataan kasar itu cambukan buat kita membuktikan kalo kita ga seperti itu.

    ReplyDelete
  4. Setelah baca cerita ini baru sadar juga , ternyata dulu juga pernah ingin bunuh diri di usia antara 7-8 tahun ggr gakuat sama ribetnya hidup saat itu, dulu mikir "kalo aku bunuh diri waktu kan aku belum balligh usia 9 tahun untuk cewek, jadi pasti masuk surga, karna katanya dosanya belum dihitung" tapi gajadi karena aku dulu masih punya cita-cita dan sayang orang tua.

    Alhamdulillah makin kesini, makin sadar dan yakin kalau ujian tiap orang pasti sesuai kapasaitas dan kemampuannya, dan pasti ada jalannya, selain itu setiap orang pasti akan memiliki peran-peran di kehidupan, entah kecil atau besar. Dosen juga pernah berpesan, semakin kita menerima dan bersyukur dengan hidup yang kita jalani, perasaan ingin mengakhiri hidup perlahan akan hilang. dan itu memang kurasain. Alhamdulillah sudah gaada.

    Dan ternyata, beberapa temen dekat yang pernah bercerita keluh kesahnya, beberapa ada yang pernah ingin mengakhiri hidup, sampai aku berfikir, apakah perasaan ini sebenarnya wajar?

    ReplyDelete
  5. Saya pernah membaca buku tentang detik-detik menuju bunuh diri. Terdengar mengerikan, tapi begitulah intinya. Hati yang hampa, begitulah kira2 judul terjemahannya. Bercerita tentang seorang perempuan yang ingin bunuh diri, dia adalah anak dari seorang pembunuh. Mentalnya sudah rapuh, ditambah pula orang-orang di sekitarnya malah mengejek dan memojokkannya. Saya rasa memang faktor yang paling mendukung kesehatan mental seseorang, ya orang2 terdekatlah.Inti cerita di buku tersebut, ia bertemu dengan partner bunuh dirinya di sebuah web 'bunuh diri'. Seram juga ya kalo itu beneran ada.

    Huaa saya malah ikutan sharing bacaan mengenai bunuh diri hihi

    Btw saya udah lama jadi pembaca gelap disini, entah kenapa baca postingan ini jadi pengen komen. Semangat kak, setiap pertambahan usia kadang berasa bertambah pula beban pikiran. Kecuali anak kecil dan lansia­čśů

    Usia yang rentan degradasi kesehatan mental adalah usia produktif. Termasuk saya juga, sesekali pernah nyelip perasaan yang abcsgxksjgeh, intinya gak bisa dijelaskanlah yah. Salah satu cara meminimalisir angka depresi yang berujung bundir adalah dengan menulis. Itu sih menurutku, cara merapikan pikiran agar tetap waras. Huhu dinanti tulisan selanjutnya :)

    ReplyDelete
  6. Salah seorang yang terdekat dalam hidupku, pernah ada di fase depresi dan ingin mengakhiri hidupnya. Aku tidak punya pengalaman apapun dan bingung, siapa orang yang bisa dituju untuk meminta pendapat yang benar, karena waktu itu keadaan kesehatan mental hanya dianggap sebagai kondisi seseorang kurang iman dan tidak dekat pada Sang Pencipta.

    Untungnya aku teringat, salah satu teman blogger ada yang melakukan terapi ke psikolog. Saat itu juga aku DM dan bertanya, apa yang dibutuhkan seseorang seperti ini?
    Jawabannya waktu itu, "Kami hanya butuh didengar dan ditemani, tidak butuh diceramahi atau dihakimi". Dan aku bersyukur cara ini bisa membantuku untuk menyelamatkan niat orang itu.

    One thing for sure, kesehatan mental adalah hal yang penting. Ini bukan perkara seseorang kurang iman. Jadi aku berharap untuk siapapun yang sedang lelah, terima kasih sudah berjuang, perjuangan kalian sungguhlah tak bernilai harganya.

    ReplyDelete
  7. Pandemi ini membuat semua orang kewalahan.
    Semoga kamu baik-baik saja dan bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, di samping itu kisah nyata atau bukan saya hanya ingin menyampaikan semangat saja :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Berkomentarlah karena ingin, bukan cuma basa-basi biar dianggap udah blogwalking.