Disalin dari halaman terakhir jurnal harian milik Agil Febrian.



--

Belakangan ini aku berada di kondisi mental yang gawat banget. Efek dari batin yang menderita berlebihan selama pandemi, sering kali di kepalaku terlintas pikiran lebih baik mampus aja ketimbang hidup dalam rasa cemas yang tak berujung ini. Aku pun mulai memikirkan berbagai cara untuk melenyapkan diri.

Dari sekian banyak pikiran yang keterlaluan buruk itu, aku entah mengapa jadi teringat dengan salah satu kepingan buku kumpulan esai dan aforisme karya Arthur Schopenhauer yang membahas tentang bunuh diri. Aku lantas iseng menerjemahkan secara asal dan mencoba menulis ulangnya, sehingga beginilah kira-kira yang dia coba sampaikan:

Secara umum akan ditemukan situasi di mana teror kehidupan datang untuk melebihi teror kematian seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, teror kematian menawarkan perlawanan yang cukup besar: mereka berdiri tegap bagaikan seorang penjaga di pintu gerbang.

Mungkin tak ada satu pun manusia yang ingin menyudahi hidupnya sendiri jika tujuannya murni negatif, untuk menghentikan eksistensinya secara tiba-tiba. Meski begitu, ada suatu hal positif di dalamnya juga: penghancuran tubuh. Ini merupakan suatu pencegahan, sebab tubuh adalah bentuk fenomenal dari keinginan untuk hidup.

Perlawanan dengan penjaga itu bagaikan sebuah peraturan, bagaimanapun, tidak sesulit kelihatannya bagi kita jika sudi menengoknya dari kejauhan: alasannya adalah pertentangan antara penderitaan batin dan fisik. Karena ketika kita berada dalam rasa sakit fisik yang hebat atau kronis, kita tidak lagi peduli dengan semua masalah lain; yang kita khawatirkan cuma pulih. 

Dengan cara yang sama, penderitaan batin yang hebat membuat kita tidak dapat merasakan kesakitan fisik; kita malah membencinya. Memang, jika itu harus melebihi yang lainnya pasti akan menjadi gangguan berguna, suatu interval dalam penderitaan batin. Inilah yang membuat bunuh diri terasa lebih mudah: karena rasa sakit fisik yang terkait dengannya telah kehilangan semua signifikansi di mata seseorang yang mengalami penderitaan batin yang berlebihan.

*

Pandanganku pribadi dalam tulisan itu, mengapa ada sebagian manusia yang berpikir lebih baik mati aja ketimbang meneruskan hidup, sebab dia berpikir ataupun merasa kalau bunuh diri itu sakitnya paling cuma sebentar, setelahnya dia bisa tenang selamanya. Dia tak perlu lagi merasakan gangguan kecemasan, tak perlu takut menghadapi masa depan yang sekilas tampak suram, tak perlu memikirkan keadaan negaranya yang bobrok, tak usah melihat kejahatan-kejahatan di seluruh dunia ini, dan tentunya dapat terbebas dari penderitaan yang selama ini dia rasakan.

Jika ada seseorang yang hidupnya terlalu sering dirundung kesialan, bukankah dia mulai berpikir bahwa hidup tak lagi layak untuk dijalani? Apakah seandainya dia mencoba bertahan, pada kemudian hari keadaannya itu bisa berubah lebih baik? Bagaimana kalau di depan sana yang menantinya adalah keburukan belaka? Lantas, hidup gunanya buat apa lagi?

Namun, sebagai orang yang sejak kecil mendapat didikan agama tentang bunuh diri itu dosa, kita hidup enggak cuma di dunia ini (masih ada akhirat), apa pun yang kita perbuat di sini bakal dipertanggungjawabkan kelak; tentu ada suatu pencegahan dari dalam diriku.

Sebagaimana yang sering diucapkan oleh orang-orang taat beragama maupun yang tercantum di kitab suci, kita ini mesti percaya sama Tuhan bahwa Dia tak akan membebani seseorang, melainkan yang sesuai dengan kesanggupannya.

Nah, yang menjadi pertanyaanku, anggaplah orang itu telah berusaha sanggup dan sekuat mungkin, husnuzan kepada Tuhan, menemukan alasan untuk bertahan; sedangkan di sisi lain, bagaimana kalau orang-orang di sekitarnya yang justru menambah beban itu? Mereka-mereka ini, termasuk keluarganya sendiri, kurang paham sama kesehatan mental? Bukannya membuat si penderita lebih baik, cukup dengan mendengarkan permasalahannya tanpa menghakimi, melainkan memberikan ujaran-ujaran ataupun khotbah-khotbah sampah yang justru memperparah penderitaannya? Bagaimana kalau dia jadi semakin membenci dirinya sendiri? Dia pun sulit percaya lagi sama orang lain. Dunia terasa sangat jahat baginya. Tak ada yang membutuhkannya lagi.

Padahal, jauh di lubuk hatinya, dia hanya ingin hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Dia juga ingin kehadirannya diterima selayaknya manusia lain. Tidak dipandang sebagai sampah atau manusia gagal yang tak berguna. Sampai-sampai batinnya menjerit. Sehingga dia harus mengurung diri demi memulihkan segala sakit (meliputi fisik, pikiran, dan hati) pada dirinya itu.

Lalu, dalam kesendiriannya itu dia akhirnya bisa menangis demi batinnya terasa lebih plong. Hingga dia berhenti menangis. Sialnya, rasa terkutuk dalam dirinya itu masih belum lenyap juga. Sampai dia mulai menangis lagi. Sampai dia berhenti menangis karena kelewat lelah dan ketiduran.

Setelah terbangun, dia merasa sedikit bersyukur sama Tuhan yang alangkah hebatnya menciptakan alam mimpi. Semacam dunia paralel yang memberikannya pelarian sementara. Meskipun teramat singkat, dia di sana disuguhkan kegembiraan yang nyaris mustahil bisa diperoleh di kenyataan. Yang seakan-akan membuatnya percaya bahwa hidup masih pantas dijalani. 

Walaupun dia cenderung pesimis lantaran membaca tulisan Schopenhauer, tak ingin banyak berharap tentang ini dan itu, barangkali suatu hari kelak kebahagiaan di dalam mimpinya itu berpindah ke dunia yang baginya terasa jahanam ini.

Aku sesungguhnya sedang menulis tentang apa dan siapa? Apakah ini fiksi atau nyata? Apakah tentang orang lain atau diriku sendiri? Apakah ini catatan bunuh diri, jurnal harian untuk menyembuhkan diri, atau semacam curahan hati orang nelangsa cenderung depresi yang kerap dianggap sepele?

Apa pun itu, aku ingin saat ini ada seorang perempuan berparas manis yang bisa memeluk dan menenangkanku seraya berkata, “Aku tahu bertambahnya umur itu sering menjengkelkan. Apalagi jika hidupmu pada usia 27 ini masih terasa memble. Namun, aku berharap dengan kehadiranku di sini, aku bisa sedikit mengubah cara pandangmu dalam melihat dunia, lalu kamu bersedia menjalani hidup lebih lama lagi.”